Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Kriteria Ahlus sunnah Wal Jamaah

Kriteria Ahlus sunnah Wal Jamaah
Kriteria Ahlus sunnah Wal Jamaah sebagaimana yang telah diterangkan oleh Imam Ghazali dalam kitab beliau Ihya Ulumuddin dan kitab lainnya adalah:

1. Tentang ketuhanan :
  • Meyakini bahwa Allah adalah tuhan yang esa yang berhak disembah dengan segala sifat kesempurnaan-Nya yang tiada sama dengan makhluk.
  • Zat Allah dapat dilihat dengan mata kepala, dan orang-orang mukmin akan melihat-Nya dalam surga kelak.
  • Segala sesuatu yang terjadi merupakan atas kehendak-Nya namun pada makhluk terdapat ikhtiyari.
  • Menolak faham Tasybih (penyerupaan) Allah dengan makhluk.
  • Menolak faham Jabariyah (segala sesuatu atas kehendak Allah tanpa ikhtiayri dari makhluk)
  • Menolak faham Qadariyah (segala sesuatu atas kehendak makhluk tanpa taqdir dari Allah)

2. Tentang malaikat:
  • Malaikat itu ada dan jumlahnya tidak terhingga. Setiap malaikat memiliki tugasnya masing-masing, mereka selalu taat kepada perintah Allah.
  • Ummat islam hanya diwajibkan mengetahui sepuluh nama malaikat yang utama yang mempunyai tugasnya masing-masing.
  • Sehubungan dengan keimanan tentang adanya malaikat, ummat islam juga diwajibkan meyakini adanya jin, iblis dan syaithan.
3. Tentang kerasulan:
  • Meyakini bahwa semua Rasul adalah utusan-Nya yang diberikan mu`jizat kepada mereka sebagi tanda kebenaran mereka.
  • Rasulullah SAW penutup segala Nabi dan Rasul yang diutus kepada bangsa arab dan bangsa lainnya, kepada manusia dan jin.
  • Mencintai seluruh shahabat Rasulullah
  • Meyakini bahwa shahabat yang paling mulia adalah Sayidina Abu Bakar ash-Shiddiq kemudian Sayidina Umar kemudian Saiydina Utsman kemudian Saidina Ali Radhiyallahu ‘anhum.
  • Menghindari membicarakan masalah permusuhan sesama sahabat kecuali untuk menerangkan kebenaran dan bagaimana kaum muslimin menyikapinya.
  • Meyakini Ibunda dan Ayahanda Rasulullah masuk surga berdasarkan firman Allah QS. Al-Isra’ ayat 15 :
    وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا

    “dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS. Al-Isra` : 15)

    Kedua orang tua Nabi wafat pada zaman fatharah (kekosongan dari seorang Nabi/Rasul). Berarti keduanya dinyatakan selamat. Imam Fakhrurrozi menyatakan bahwa semua orang tua para Nabi muslim.

    Dengan dasar Al-Qur’an surat As-Syu’ara’ : 218-219 :

    الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ * وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ

    Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), dan (melihat pula) perobahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.

    Sebagian Ulama’ menafsiri ayat di atas bahwa cahaya Nabi berpindah dari orang yang ahli sujud (muslim) ke orang yang ahli sujud lainnya. Adapun Azar yang secara jelas mati kafir, sebagian ulama’ menyatakan bukanlah bapak Nabi Ibrahim yang sebenarnya tetapi dia adalah bapak asuhnya dan juga pamannya.

    Jelas sekali Rasulullah menyatakan bahwa kakek dan nenek moyang beliau adalah orang-orang yang suci bukan orang-orang musyrik karena mereka dinyatakan najis dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam At Taubah ayat 28

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ

    “Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis”

4. Tentang kitab:
  • Al quran, Taurat, Injil, Zabur adalah kitab-kitab yang diturunkan kepada Rasul-Nya sebagai pedoman bagi ummat.
  • Al Quran adalah kalam Allah dan bukan makhluk dan bukan sifat bagi makhluk.
  • Tentang ayat mutasyabihat, dalam Ahlussunnah ada dua pandangan para ulama:
    1. Ulama salaf (ulama yang hidup pada masa sebelum 500 tahun hijryah) lebih memilih tafwidh (menyerahkan kepada Allah) setelah Takwil Ijmali (umum/global) atau dikenal juga dengan istilah tafwidh ma’a tanzih yaitu memalingkan lafahd dari arti dhahirnya setelah itu menyerahkan maksud dari kalimat tasybih itu kepada Allah.
    2. Ulama khalaf (Ulama pada masa setelah 500 Hijriyah) lebih memilih ta`wil yaitu menghamal arti kalimat dengan sebalik arti dhahirnya dengan menyatakan dan menentukan arti yang dimaksudkan dari kalimat tersebut.
    Dalam menentukan langkahnya, Ulama Salaf dan Ulama Khalaf sama-sama berpegang pada surat: Ali Imran ayat: 7

    هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آَيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ

    Artinya : “Dia-lah yang menurunkan al-Kitab (al-quran) kepada kamu, di antara (isi) nya ada ayat-ayat muhkamat (jelas maksudnya) itulah pokok-pokok isi al-Quran dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat (tidak difahami maksudnya). Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat dari padanya untuk menimbulkan fitnah (karena mereka tidak menyadari telah terjerumus dalam ayat mutasyabihat) dan untuk mencari-cari penafsirannya,”

    [a]. dan tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya. Mereka berkata : "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi tuhan kami" dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (QS: Ali Imran. 7)

    [b].dan tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata : "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi tuhan kami" dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (QS: Ali Imran. 7)

    • Ulama Khalaf berpendapat bahwa kalimat الرَّاسِخُونَ di’athafkan kepada lafadh اللَّهُ dan jumlah يَقُولُونَ آَمَنَّا merupakan jumlah musta`nafah (permulaan baru) untuk bayan (menjelaskan) sebab iltimas takwil. Terjemahan [a] merupakan terjemahan berdasarkan pendapat Ulama Khalaf.
    • Ulama Salaf berpendapat bahwa kalimat الرَّاسِخُونَ merupakan isti`naf. Terjemahan [b] merupakan terjemahan berdasarkan pendapat Ulama Salaf.

5. Tentang kiamat:
  • Kiamat pasti terjadi, tiada keraguan sedikit pun.
  • Meyakini adanya azab kubur.
  • Kebangkitan adalah hal yang pasti.
  • Surga adalah satu tempat yang disediakan untuk hamba yang dicintai-Nya.
  • Neraka disediakan untuk orang-orang yang ingkar kepada-Nya.
  • Meyakini adanya hisab (hari perhitungan amalan).
  • Meyakini adanya tempat pemberhentian hamba setelah bangkit dari kubur.
  • Meyakini adanya Syafaat Rasulullah, ulama, syuhada dan orang-orang mukmin lainnya menurut kadar masing-masing.

6. Kewajiban ta`at kepada-Nya terhadap hamba-Nya adalah diketahui melalui lisan Rasul-Nya bukan melalui akal.
7. Tidak mengatakan seseorang ahli tauhid dan beriman telah pasti masuk surga atau neraka kecuali orang-orang yang telah mendapat pengakuan dari Rasulullah bahwa ia masuk surga.
8. Tidak mengada-ngadakan sesuatu dalam agama kecuali atas izin Allah.
9. Tidak menisbahkan kepada Allah sesuatu yang tidak diketahui.
10. Meyakini bahwa shadaqah dan doa kepada orang mati bermanfaat dan Allah memberi manfaat kepada mayat dengan shadaqah dan doa tersebut.
11. Meyakini adanya karamah orang-orang shaleh
12. Tidak mengkafirkan seorangpun dari ahli kiblat dengan sebab dosa yang mereka lakukan seperti zina, mencuri, minum khamar dll.
13. Masalah sifat dua puluh. Para ulama’ Ahl al-Sunnah Wa al-Jama`ah sebenarnya tidak membataskan sifat-sifat kesempurnaan Allah hanya kepada 20 sifat saja. Bahkan setiap sifat kesempurnaan yang layak bagi keagungan Allah, sudah pasti Allah wajib memiliki sekian sifat tersebut, sehingga sifat-sifat kamalat (kesempurnaan dan keagungan) Allah itu sebenarnya tidak terbatas pada sembilan puluh sembilan saja.

sumber:
Kriteria Ahlus sunnah Wal Jamaah.
Oleh: Abu mudi

hukum meruntuhkan mesjid lama

hukum meruntuhkan mesjid lama

Karena kondisi mesjid yang sudah tidak mampu lagi menampung para jamaah yang semakin banyak, maka pengurus masjid membangun masjid lain tanpa merusak mesjid lama. Setelah masjid baru selesai para jamaah berpindah kemesjid baru sehingga mesjid lama menjadi kosong.

Pada saat demikian bolehkan meruntuhkan mesjid lama?
Dan apakah hasil dari harta waqaf milik mesjid lama boleh dialihkan untuk mesjid baru?
jawaban:
Tidak boleh meruntuhkan mesjid lama.
dan hasil waqaf untuk mesjid yang sudah kosong atau runtuh, menurut pendapat yang kuat, hasil tersebut harus disimpan untuk mesjid tersebut bila masih ada harapan mesjid tersebut aktif kembali.
Sedangkan bila tidak, maka hasil tersebut dipergunakan untuk masjid lain yang lebih dekat.

Referensi:
1. Fathul Mu`in dan Hasyiah I'annatut thalibin 3 hal 181 cet.Haramain
2. Fatawy Kubra Ibnu Hajar 3 hal 287 cet.Dar Fikr
3. Hasyiah Qalyuby 3 hal 108 cet.Tohaputra
4. Tuhfatul Muhtaj 6 hal 324 cet,Dar Fikr
5. Fatawy Imam Ramli 3 hal 73 cet.Dar Fikr

Fathul Mu`in dan Hasyiah I'annatut thalibin 3 hal 213
ولا ينقض المسجد إلا إذا خيف على نقضه فينقض و يحفظ، أو يعمر به مسجد آخر إن رآه الحاكم.والاقرب إليه أولى، ولا يعمر به غير جنسه كرباط وبئر - كالعكس - إلا إذا تعذر جنسه والذي يتجه ترجيحه في ريع وقف المنهدم، أنه إن توقع عوده حفظ له، وإلا صرف لمسجد آخر. فإن تعذر صرف للفقراء، كما يصرف النقض لنحو رباط.

 قوله ولا ينقض المسجد ) أي المنهدم المتقدم ذكره في قوله فلو انهدم مسجد ومثل المنهدم المتعطل
 والحاصل ) أن هذا المسجد الذي قد انهدم أي أو تعطل بتعطيل أهل البلد له كما مر لا ينقض أي لا يبطل بناؤه بحيث يتمم هدمه في صورة المسجد المنهدم أو يهدم من أصله في صورة المتعطل بل يبقى على حاله من الانهدام أو التعطيل وذلك لإمكان الصلاة فيه وهو بهذه الحالة ولإمكان عوده كما كان
قوله: إلا إذا خيف على نقضه) هو بكسر النون أو ضمها بمعنى منقوضه من الحجارة والاخشاب، وعبارة المصباح، نقضت البناء نقضا من باب قتل، والنقض مثل قفل وحمل بمعنى المنقوض واقتصر الازهري على الضم، قال: النقض اسم البناء المنقوض إذا هدم، وبعضهم يتقصر على الكسر ويمنع الضم، والجمع نقوض.اهـ.

وقوله فينقض)، أي يبطل بناؤه بالحيثية السابقة.(وقوله ويحفظ)، أي نقضه.
وقوله أو يعمر به، أي بالنقض.
وقوله إن رآه الحاكم) أي رأى تعمير مسجد آخر به أصلح (قوله: والاقرب إليه أولى) أي وعمارة المسجد الاقرب إلى المنهدم أولى من غير الاقرب.قال ع ش: وبقي ما لو كان ثم مساجد متعددة واستوى قربه من الجميع، هل يوزع على الجميع أو يقدم الاحوج ؟ فيه نظر.والاقرب الثاني، فلو استوت الحاجة والقرب، جاز صرفه لواحد منها.اهـ.
قوله: ولا يعمر به غير جنسه) أي ولا يعمر بالنقض ما هو من غير جنس المسجد.
وقوله كرباط وبئر) تمثيل لغير جنس المسجد، (وقوله كالعكس): هو أن لا يعمر بنقض الرباط والبئر غير الجنس كالمسجد
قوله: إلا إذا تعذر جنسه) أي فإنه يعمر به غير الجنس (قوله: والذي يتجه ترجيحه الخ في سم ما نصه، الذي اعتمده شيخنا الشهاب الرملي أنه إن توقع عوده حفظ، وإلا صرفه لاقرب المساجد، وإلا فللاقرب إلى الواقف، وإلا فللفقراء والمساكين أو مصالح المسلمين.وحمل اختلافهم على ذلك.اهـ.
واعلم) أن الوقف على المسجد إذا لم يذكر له مصرف آخر بعد المسجد من منقطع الآخر، كما قال في الروض، وإن وقفها، أي الدار على المسجد صح، ولو لم يبين المصرف وكان منقطع الآخر إن اقتصر عليه ويصرف في مصالحه اهـ.وقد تقرر في منقطع الآخر أنه يصرف إلى أقرب الناس إلى الواقف، فقولهم هنا إنه إذا لم يتوقع عوده يصرف إلى مسجد آخر أو أقرب المساجد، يكون مستثنى من ذلك.فليتأمل.اهـ.
وقوله: وقف المنهدم) أي في الموقوف على المسجد المنهدم.قال في التحفة: أما غير المنهدم فما فضل من غلة الموقوف على مصالحه فيشتري له بها عقار ويوقف عليه، بخلاف الموقوف على عمارته يجب ادخاره لاجلها، أي إن توقعت عن قرب.اهـ.
وقوله إنه) أي المنهدم
وقوله إن توقع عوده) أي ترجى أنه يعود ويعمر كما كان.
وقوله حفظ) أي الريع، وهو جواب إن.
وقوله له،) أي للمنهدم بعد عوده (قوله: وإلا) أي وإن لم يتوقع عوده، (وقوله صرف) أي ذلك الريع.
وقوله لمسجد آخر) والاقرب أولى، كما علمت، (قوله: فإن تعذر) أي صرفه لمسجد آخر (قوله: صرف للفقراء) أي فقراء محل المسجد المنهدم (قوله: كما يصرف النقض لنحو رباط) أي كما يصرف نقض المسجد إذا تعذر تعمير مسجد آخر لنحو رباط كبئر، والتشبيه في كون الريع صرف لغير الجنس عند تعذر صرفه للجنس


Fatawa Kubra Fiqhiyyah jilid 4 hal 285 cet. Dar Fikr
وسئل عمن شرط في كتاب وقفه مبلغا في كل سنة لإمام مسجد فهل للناظر على المسجد صرف المبلغ في عمارته إذا صار خرابا أو لا ؟
وهل صرف مبلغ الإمام في مدة خراب المسجد وإن لم يباشر ؟
وهل له صرف المبلغ في ثمن حصر وقناديل وإذا قلتم لا فما حكم المبلغ المتحصل ؟

فأجاب رضي الله سبحانه وتعالى عنه بقوله قال الشيخان وغيرهما وتقدم عمارة عقار المسجد على حق الموقوف عليهم أي لما في ذلك من حفظ الوقف ومنه يؤخذ بالأولى أنه لو تعذر إعادة المسجد أو المنهدم منه إلا بصرف مبلغ الإمام وغيره صرفه في ذلك لما ذكر من العلة
وأما المسألة الثانية فقد قال الزركشي لو تولى وظيفة وأكره على عدم مباشرتها أفتى تاج الدين الفزاري باستحقاقه المعلوم والظاهر خلافه لأنها جعالة وهو لم يباشر ا هـ وفي فتاوى شيخنا شيخ الإسلام زكريا كفتاوى السراج البلقيني ما يوافق الأول لكن الأوجه الثاني
وأما المسألة الثالثة فالظاهر فيها أن مبلغ الإمام لا يصرف إلى نحو القناديل لأن إقامة الجماعة بالمسجد أقرب إلى غرض الواقف والشارع من وقوده وفرشه وأما غلة وقف المسجد المتعطل فقال الروياني كالماوردي تصرف للفقراء والمساكين وقال في محل آخر إنه منقطع فتصرف غلته لأقرب الناس إلى الواقف وقال المتولي يصرف لأقرب المساجد إليه وقال الإمام يحفظ لتوقع عوده وهو قياس ما ذكروه في غلة وقف الثغر ا هـ والذي يتجه ترجيحه إن رجى ( رجا ) توقع عوده ووجد موثوق به ( ذكرهم ) يحفظ وإلا فالذي يتجه ما ذكره المتولي وأما الزائد من غلة المسجد على ما يحتاج إليه فيدخر منه ما يعمره بتقدير هدمه ويشترى له بالباقي عقار أو نفقة لأنه أحفظ له بشيء من الموقوف على عمارته لما في ذلك من حفظ الوقف هذا حاصل ما ذكره ابن كج والقفال وإن نظر فيه الأذرعي .


Fatawa Imam Ramli jilid 4 hal 73 cet. dar Firk (dipinggir kitab Fatawa kubra Ibnu Hajar)
 سئل ) عما لو تعطل بتعطل البلد أو انهدام أو نحو ذلك فهل تصرف غلة وقفه حينئذ إلى الفقراء والمساكين كما قاله الماوردي وجزم به الروياني في البحر أو تصرف لأقرب الناس إلى الواقف كمنقطع الآخر كما قاله الروياني في محل آخر وحكاه الحناطي في فتاويه وجها أو تصرف في عمارة مسجد آخر ومصالحه ويكون المستحق لذلك أقرب المساجد إليه كما نقل عن المتولي أو تحفظ كما قاله الإمام لتوقع عوده كما في غلة وقف الثغر ؟
 فأجاب ) بأن الذي تحرر لي في هذه المسألة أنه إن توقع عوده حفظ له وهو ما قاله الإمام وإلا فإن أمكن صرفه إلى مسجد آخر صرف إليه وهو ما نقل عن المتولي وبه جزم في الأنوار وإلا فمنقطع الآخر فيصرف لأقرب الناس إلى الواقف وهو ما قاله الروياني في محل آخر وحكاه الحناطي فإن لم يكونوا صرف إلى الفقراء والمساكين أي أو مصالح المسلمين وهو ما قاله الماوردي وجزم به الروياني في البحر وحينئذ لا خلاف في المسألة


fatawa Kubra Fiqhiyyah jilid 4 hal 266 cet. Dar Fikr
 وسئل ) عما إذا تعطلت البئر والخابية والقنطرة والتدريس ونحوها فهل ينقل ما وقف عليها ؟
 فأجاب ) بقوله نعم إذا تعطل ذلك نقلت غلة الموقوف عليها إلى مثلها في جهة أخرى .

Hukum melihat aurat laki-laki dan perempuan

Hukum melihat aurat laki-laki dan perempuan

Mata merupakan salah satu nikmat Allah yang sangat besar. Dengan adanya mata kita bisa melihat segala kebesaran Allah ta`ala yang luar biasa. Tetapi bukan berarti mata merupakan nikmat yang bebas dipergunakan kemana saja.

Allah menciptakan mata supaya kita pergunakan pada kebaikan, untuk melihat mashaf, para ulama dan hal-hal yang baik lainnya. Bila mata salah dipergunakan maka akibatnya juga sangat fatal.

Salah satu hal yang dilarang untuk diarahkan pandangan mata kita kearah tersebut adalah aurat orang lain.
Nah dibawah ini beberapa ketentuan hukum tentang melihat aurat, baik aurat sendiri, orang lain, sama jenis atau berlainan jenis.

Bagi orang yang ingin meminang seorang wanita disunatkan untuk melihat wanita tersebut terlebih dahulu, walaupun wanita tersebut tidak mengizinkannya atau bersama syahwat ataupun takut timbul fitnah. Batasan yang dibolehkan untuk dipandang adalah wajah dan telapak tangan. Dengan memandang pada dua tempat tersebut, seseorang bisa mengetahui banyak hal tentang diri perempuan tersebut. Bahkan dibolehkan untuk memandangnya beberapa kali, Ini dibolehkan dengan tujuan supaya tidak terjadi penyesalan dikemudian hari (Hasyiah Qalyuby 3 hal 209)

Terhadap laki-laki yang telah baligh dilarang untuk memandang aurat wanita ajnaby yang telah sampai batasan yang disukai oleh laki-laki walaupun belum baligh. Larangan ini berlaku secara umum, apakah aurat yang masih ada pada diri wanita ataupun yang telah berpisah dengan wanita tersebut. Maka juga diharamkan memandang kuku atau rambut wanita yang telah dipotong, demikian juga darah wanita ajnaby, walaupun wanita tersebut sekarang telah kita nikahi.
Maka patokan anggota tersebut milik wanita ajnaby atau bukan adalah ketika anggota tersebut berpisah. Misalnya rambut istri kita yang dipotong sebelum kita nikahi, maka kita tidak boleh melihatnya.
Yang diharamkan disini adalah aurat wanita.

sedangkan bila bukan aurat wanita, misalnya gambar wanita, maka tidaklah haram, tetapi dengan ketentuan tidak menimbulkan syahwat, karena memandang sesuatu dengan syahwat merupakan hal yang haram walaupun bukan wanita, misalnya kita melihat batang pohon pisang yang telah dikupas dan terbayang pada kaki wanita sehingga menimbulkan syahwat, maka hal tersebut haram karena menimbulkan syahwat.

Dalam hal keharaman ini, anak laki-laki kecil yang cantik sama juga hukumnya dengan wanita, maka melihatnya juga sama hukumnya dengan melihat wanita.

Sedangkan anak perempuan yang masih kecil dan belum sampai batasan yang disukai oleh orang lain, maka dibolehkan melihat selain kemaluannya.

Terhadap laki-laki dibolehkan untuk memandang aurat mahramnya selain dari anggota tubuh antara pusat dan lutut.
Hal ini berdasarkan ayat Al quran surat An Nur ayat 31

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya:
Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara lelaki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

Adapun memandang sesama laki-laki, maka hal tersebut dibolehkan kecuali batasan lutut dan pusat. Hal ini berlaku pada selain amrad (anak laki-laki yang cantik), sedangkan memandang amrad hukumnya haram baik disertai syahwat atau tidak.

Terhadap sesama perempuan dibolehkan melihat tubuh wanita yang lain selain batasan pusat dan lulut. Tapi hukum ini berlaku bila sama-sama muslimah. Sedangkan terhadap kafir zhimmy tidak dibenarkan untuk melihat tubuh wanita muslimah, demikian menurut pendapat yang kuat, kecuali batasan-batasan yang biasa terlihat pada ketika bekerja.

Demikian juga, terhadap wanita dilarang untuk memandang laki-laki yang ajnaby. Adapun hadis yang mengisahkan bahwa Siti Aisyah ikut menonton permainan perang orang-orang Habsyah, hadis tersebut dimaksudkan kepada menonton pergerakan mereka tanpa memperhatikan badan mereka, demikian yang ditafsirkan oleh Imam Nawawy (Qalyuby jilid 3 hal 212)
Sedangkan terhadap mahramnya, maka terhadap wanita boleh melihat batasan selain pusat dan lutut.

Pada setiap hal yang telah diharamkan melihatnya, maka hukum menyentuhnya tentu lebih diharamkan lagi, karena menyentuh tersebut lebih parah dan bahaya dari memandang.
Keharaman hukum melihat diatas akan mendapat keringanan pada ketika berhajat misalnya dalam muamalah, maka terhadap penjual boleh melihat pembelinya yang wanita, ataupun untuk keperluan pengobatan, persaksian, dan belajar yang membutuhkan kepada melihatnya, tapi kesemuannya dibolehkan hanya kadar yang dibutuhkan.

Sedangkan terhadap suami dibolehkan untuk memandang seluruh tubuh istrinya, tetapi melihat kemaluan istri merupakan hal yang dimakruhkan, terlebih lagi bagian dalam kemaluannya.

Nisab zakat  zuru’ dan nabat

Nisab zakat zuru’ dan nabat

Nishab zuru' adalah 5 Usuk, atau 300 sha' (Al Mahalli Jilid II hal. 16).
Ukuran 1 sha' adalah 3,456 liter Sesuai dengan uraian sebelumnya Konsepsi Ukuran Sukatan Dalam Hukum Syar'i. Jadi nishab zuru' dengan liter adalah 1036,8 liter atau 518,4 bambu.
Ini adalah nishab zuru'/tanaman yang sudah siap pakai (sudah jadi beras).

Sedangkan nishab zuru' yang disimpan dalam bentuk asli (dengan tidak dikupas kulitnya) adalah
10 usuk atau 1036,8 bambu (Al Mahalli Jilid II hal.17).
Nisab ini berdasarkan 10 usuk padi dapat menghasilkan 5 usuk (518,4 bambu) beras. Sedangkan dari hasil penelitian yang kami lakukan, dengan menggiling padi kering sebanyak 1.180 bambu, menghasilkan beras 510 bambu atau 43,22 % dari jumlah padi.

Dari penelitian ini, penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa 1.200 bambu atau 11,57408 usuk padi dapat menghasilkan 518,4 bambu beras.
Maka nisab zakat padi adalah 1.200 bambu atau 7,5 Gunca, Berdasarkan 1 gunca 10 Naleh dan 1 Naleh 16 bambu..

Sementara nisab padi dengan ukuran berat tergantung pada berat padi dalam 1 bambu. Dari hasil penelitian penulis yang dilakukan pada 1.180 bambu padi kering didapatkan berat 1.261,2 kg. Jadi berat 1 bambu padi adalah 1,069 kg. maka jumlah nisab padi dengan ukuran berat adalah 1282,576 kg.

Kafarat Jimak Dalam Bulan Ramadhan

Kafarat Jimak Dalam Bulan Ramadhan

Merusakkan puasa ramadhan dengan jimak diwajibkan membayar kafarah, yaitu:
memerdekakan hamba yang Islam. Kalau tidak didapatkan hamba seperti sekarang ini yang tidak ada lagi hamba, maka diwajibkan berpuasa dua bulan berturut-turut.
Kemudian kalau berpuasapun tidak sanggup, maka diwajibkan memberi makanan kepada 60 orang miskin. Setiap orang miskin diberikan satu mud atau 0,864 liter. perbandingan dengan kilogram adalah 0,6912 kg. Dibulatkan menjadi 0,7 kg.
Jadi keseluruhan kafarat yang harus dikeluarkan adalah 42 kg atau 51,84 liter.
Lihat Konsepsi Ukuran Sukatan Dalam Hukum Syar'i.

Kafarat Sumpah

Kafarat Sumpah

Sumpah adalah mentahkikkan sesuatu (menguatkannya), dengan menyebut nama Allah atau sifat-sifat-Nya.
Apabila seseorang bersumpah, kemudian dilanggarkannya, maka diwajibkan membayar salah satu di antara tiga macam kafarah (denda pengampunan kesalahan), yaitu:
  1. Memberi makan makanan yang sah untuk fitrah kepada sepuluh orang miskin.
    Untuk setiap orang miskin diberikan satu mud atau 0,864 liter. atau 0,6912 kg, Dibulatkan menjadi 0,7 kg.
    lihat Konsepsi Ukuran Sukatan Dalam Hukum Syar'i
  2. Memberi pakaian kepada 10 orang miskin.
  3. Memerdekakan hamba yang Islam.
Bila ketiga hal tersebut juga tidak mampu maka wajib berpuasa tiga hari. Puasa tiga hari ini tidak wajib berturut-turut. 

donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja