Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Download Kitab Syarah dan Hasyiah Risalah Syamsiah fi `ilm Mantiq

Kitab Syarah dan Hasyiah Risalah Syamsiah fi `ilm MantiqIlmu mantiq merupakan ilmu yang mempelajari tata cara berpikir secara rasional. Hukum menuntut ilmu ini adalah fardhu kifayah. Ilmu mantiq yang kami maksud adalah mantiq yang bersih dari kalam filsafat. Sedangkan untuk ilmu mantiq yang bercampur dengan kalam filsafat, para ulama berbeda pendapat tentang hukum mempelajarinya, bahkan Imam Nawawi dan Ibnu Shalah mengharamkannya.

Salah satu kitab ilmu mantiq yang masyhur adalah kitab Risalah Syamsiah yang di karangan oleh Imam Najmuddin Umar bin Ali Ali Qazwainy yang di kenal dengan al-Katiby (wafat 493 H). kitab Syamsiah memiliki kelebihan dari kitab mantiq lainnya, dimana setiap permasalah yang di bawakan selalu disertakan dengan alasan bahkan pada saat di perlukan, alasan tersebut juga di berikan alasan yang lain atasnya hingga terlihat hukum dari permasalan tersebut cukup logis dan masuk akal, hal ini berbeda dengan kitab mantiq yang lain yang biasanya hanya menyebutkan kesimpulan dari satu permasalahan dengan hanya di sertai alasan sekedar. Karena kitab ini bermain dalam bidang logika maka sering kali harus mengerutkan dahi, berfikir dengan cermat dengan konsentrasi penuh untuk memahami alasan-alasan tersebut, perlu kecepatan dan kecermatan berfikir untuk dapat memahaminya.

Begitulah gambaran Risalah Syamsiah yang merupakan kitab Mantiq yang dulu Abuya Muda Wali al-Khalidy bacakan kepada murid-murid beliau di Bustanul Muhaqqiqin, Darussalam, Labuhan Haji. Tahun ini kitab tersebut menjadi kajian bagi guru LPI MUDI Mesra ba`da Ashar setiap harinya minus hari juma`t dan kamis yang di bacakan oleh salah satu guru senior LPI MUDI, Tgk. Tarmizi Muhammad Daud al-Yusufy yang lebih di kenal dengan panggilan Tgk. Ar yang saat ini telah mendirikan Dayah sendiri tak jauh dari Dayah MUDI Mesra, yaitu di Desa Cot Merak, dekat dengan lokasi wisata Batee Ileik dengan nama Dayah najmul Hidayah al-Aziziyah.

Kitab Risalah Syamsiah di syarah oleh banyak para ulama. Salah satu cetakan yang memuat beberapa syarah dan Hasyiah Risalah Syamsiah adalah syarah Syamsiah cetakan Kurdistan tahun 1323 H/1905 M.

Dalam cetakan ini terdiri dari matan syarah Risalah Syamsiah karangan Quthub ad-Din Muhammad bin Muhammad ar-Razi (wafat 766 H), Hasyiah Syarif Ali Jarjani (wafat 816 H), Hasyiah al-Allamah Abdul Hakim as-Sayalakuty, Hasyiah al-Allamah ad-Dusuqy, dan Hasyiah `Ishamuddin semuanya atas Syarah Quthub ar-Razi tersebut, namun Hasyiah Ishamuddin ini tidak di cetak sampai habis tetapi hanya pada jilid pertama saja sampai pada pembahasan Ta`rifat, sedangkan pada jilid ke dua tidak di sertakan lagi karena menurut penerbit penjelasan dalam hasyiah tersebut cudah memadai dengan penjelasan dalam hasyiah ad-Dusuqi. Kemudian juga disertai taqrirat dari ulama Azhar Syekh Abdur Rahman Syarbaini atas Hasyiah Syeikh Abdul Hakim. Semua kitab tersebut di cetak secara bersamaan dalam setiap lembarannya sehingga sangat membantu para pelajar untuk melihat penjelasan dari semua kitab. Pada akhir jilid dua juga di tambahkan Hasyiah al-Jalal ad-Dawani dan matan Risalah Syamsiah.

Pada muka jilid 1 penerbit sempat menjanjikan ikut menyertakan juga Syarah Sa`ad Taftazani`ala Syamsiah pada akhir kitab, namun akhirnya Syarah tersebut urung di cetak karena adanya permintaaan dari sebagian kalangan utuk menggantinya dengan matan Risalah Saymsiah saja karena mereka membutuhkan matan tersebut untuk di hafal, sedangkan untuk syarah tersebut telah di padai dengan syarah-syarah dan hasyiah yang lain.

Nah bagi yang berminat memiliki file pdf kitab Syarah dan Hasyiah Risalah Syamsiah fi `ilm Mantiq tersebut silahkan download di bawah ini:
Jilid 1 Jilid 2
atau bisa juga langsung di https://archive.org/details/al-shamsiya
Untuk rekaman mp3 pengajian tersebut, bisa di download di sini

Biografi Qadhi Abu Syuja' as-Syafi'iy pengarang Kitab Matan Taqrib

Qadhi Abu Syuja' as-Syafi'iyBagi pelajar fiqh Syafii, kitab Ghayah wa Taqrib atau yang lebih di kenal kitab Matan Taqrib merupakan kitab yang tidak asing lagi. Kitab ini menjadi kitab kurikulum bagi para pemula pelajar fiqh Syafii. Kitab ini merupakan kitab yang kecil yang lengkap mulai dari bab Thaharah hingga `itq. Kitab ini di karang ulama seorang ulama Syafii`yah yang hidup di abad ke 5 H.

Beliau adalah Ahmad bin al-Husen bin Ahmad al-Asbahaniy yang terkenal dengan panggilan al-Qadhi (Hakim) Abu Suja'. Beliau itu beliau juga di gelari dengan gelar (kuniyah) Abu Thayyib. Beliau belajar fiqih Syafii di Basrah lebih dari 40 tahun. {1}

Para ahli sejarah berbeda pendapat tentang tahun kelahiran dan wafat beliau. Salah seorang murid beliau Imam Ahmad bin Muhammad Abu Thahir as-Silafy (w. 576 H) dalam kitabnya Mu`jam Safar menuliskan bahwa beliau pernah menanyakan kepada Abu Suja` sendiri tentang tahun kelahiran beliau, Abu Suja` menjawab tahun 434 H di Basrah, sedangkan ayah beliau lahir di `Abbadan dan kakek beliau lahir di Asfihan (kota di Iran yang terletak sekitar 340 km dari ibu kota Iran, Taheran) {2}. Keterangan tersebut juga di kutip oleh Imam Yaqut bin Abdullah al-Hamawi dalam kitab beliau Mu`jam Buldan ketika menerangkan tentang Negri `Abbadan {3}. Dalam kitab tersebut tidak di sebutkan tahun wafat beliau.

Sedangkan dalam kitab A`lam karangan Zarkali di sebutkan beliau lahir tahun 533 H/1138 M dan wafat pada tahun 593 H/1197 M {4}, maka umur beliau berdasarkan keterangan ini adalah hanya 60 tahun. Hal sangat bertentangan dengan keterangan dalam Kitab Hasyiah al-Bajuri dan Hasyiah Bujairimi `ala Khatib yang menerangkan bahwa beliau memiliki umur panjang hingga 160 tahun. Dan keterangan ini juga sangat menentang dengan keterangan murid beliau sendiri Imam as-Silafi dalam kitab Mu`jam Safr, dimana beliau menyebutkan bahwa Abu Suja` sendiri pada tahun 500 H menyebutkan kepadanya bahwa beliau sudah mempelajari fiqih Mazhab Syafii selama 40 tahun lamanya, setelah itu Imam as-Silafi menyebutkan bahwa Abu Suja` masih hidup hingga masa yang tidak beliau ketahui.

Ada kemungkinan bahwa keterangan kitab al-A`lam karangan Zarlaki yang di kutip banyak penerbit yang menuliskan biografi Abu Suja` ketika menerbitkan kitab Matan taqrib, terjadi kesalahan ketika penulisan, mungkin yang sebenarnya adalah tahun kelahiran beliau 433 H, (hanya selesih setahun dengan keteragan murid abu Suja` sendiri, Imam as-Silafy) sehingga usia umur beliau tepat 160 sehingga sama dengan keterangan yang di sebutkan dalam Bujairimi dan Hasyiah Al-Bajuri. Wallu A`lam bish Shawab.

Dalam Kitab Kasyfun Dhunun di sebutkan tahun wafat beliau adalah 488 H tanpa di sebutkan tahun kelahiran {5}. Sedangkan Imam Tajuddin as-Subky dalam kitab Tabaqat Syafi`iyyah Kubra memasukkan beliau dalam golongan para ulama yang wafat pada setelah tahun 500 H.

KH.Sirajuddin Abbas menanggapi perbedaan ini mengatakan; ada kemungkinan bahwa beliau menghilang dari negrinya Asfahan, Persia pada tahun 488 H, sehingga orang mengatakan bahwa beliau telah meninggal. Orang tidak tahu bahwa beliau telah mengasingkan diri menjadi pelayan Masjid Madinah sampai wafatnya tahun 593 H {6}.

Para ahli sejarah menulis gelar beliau dengan Syihabuddin, hal ini sesuai dengan kebiasaan ahli sejarah yang memberi gelar Syihabuddin kepada para ulama yang bernama Ahmad dan gelar Syamsuddin kepada para ulama yang bernama Muhammad. Karena itu kita dapati para ahli sejarah menulis nama Imam Ramli Kabir dengan gelar Syihabuddin karena nama beliau adalah Ahmad dan menulis gelar Imam Ramli Shaghir dengan Syamsuddin karena nama beliau adalah Muhammad {7}.

Abu Suja' di kenal sebagai seorang imam ahli ibadah, shalih dan berilmu dan taat dalam agama. Beliau pernah menjabat sebagai qadhi dan kemudian menjadi menteri. Beliau menjabat menteri di umur 47 tahun, dimasa jabatannya tersebut beliau banyak menyematkan keadilan dan ilmu agama, beliau memiliki 10 pembantu yang berkeliling membagikan shadaqah kepada manusia. Masing-masing mereka membagikan 1.120 dinar yang akan di bagikan kepada orang yang berhak.

Kemudian beliau menempuh jalan zuhud meninggalkan kenikmatan duniawi, beliau hijrah ke Madinah dan menetap di Masjid Nabawi sebagai orang yang bertugas merapihkan tikar dan menyalakan lentera dan membersihkan Mesjid Nabawi serta menjadi pengkhadam Hujrah Rasulullah SAW. dan beliau jalankan tugas tersebut sampai akhir hayatnya {8}.

Beliau di karunia umur panjang hingga berusia 160 tahun dan dalam keadaan lanjut usi demikian, tidak ada satupun anggota badan beliau yang cedera. Orang – orang bertanya tentang sebab anggota badan beliau sehat hingga masa tua, beliau menjawabnya:

حفظنا ها فى الصغر فحفظها الله فى الكبر

Kami menjaganya (dari dosa) ketika masih muda maka Allah menjaganya ketika kami tua.

Beliau wafat dan dimakamkan di sebuah ruangan mushallah yang beliau bangun sendiri di dekat Masjid Nabawi di samping pintu Jibril.

Kitab Mukhtashar Ghayah wa Taqrib atau Matan Taqrib ini di syarah oleh beberapa ulama lain antara lain:
  1. Muhammad Ibnu Qasim al-Ghazi (w.928 H) dengan kitab beliau Fathul Qarib Mujib yang kemudian di beri hasyiah oleh Imam al-Bajuri. Kitab ini menjadi pelarajan kurikulum di seluruh pesantren di Indonesia. Selain Imam al-Bajuri, Fathul Qarib juga di beri hasyiah oleh ulama Indonesia, Syeikh Nawawi al-Bantani dengan nama kitab beliau Qut al-Habib al-Gharib, dan juga di beri hasyiah oleh Imam al-Azizy, al-Barmawy, dan al-Qalyuby.
  2. Ibnu Daqiq al-`Id.
  3. Imam Muhammad Khatib Syarbainy (w.977 H) dengan nama kitab beliau Iqna` yang kemudian di beri hasyiah oleh Imam Bujaurimi yang di kenal dengan nama Hasyiah Bujairimi `ala Khatib sebanyak 4 jilid besar. Selain itu kitab syarah ini juga di beri hasyiah oleh beberapa ulama lain seperti al-Mudabaghy, al-Ajhury, an-Nabrawy juga di beri taqrirat oleh Syeikh al-Bajuri dan Syeikh `Aush.
  4. Sayyid Taqiyuddin al-Hishni dengan nama kitab beliau Kifayatul Akhyar fi hill Ghayah al-Ikhtishar
  5.  Syeikh Taqiyuddin Abi Bakar Ibnu Qadhi `Ajalun (wafat 829 H) setelah mensyarahnya beliau juga kembali meringkasnya dan beliau tambahkan sedikit tentang perbedaan pendapat Imam Rafii dan Nawawi dengan nama kitab beliau `Umdatun Nadhar fi Tashhih Ghayah al-Ikhtishar{9}
  6. Syeikh Ahmad al-Akhshashy (w. 889 H) dengan kitab beliau yang bernama Syarah Mukhtashar Abi Suja`
  7. Syeikh Ahmad bin Muhammad al-Manufi (w. 931 H) kitab beliau beri nama al-A`naq kemudian beliau ringkas sendiri kembali dan beliau namai Tasynif al-Isma` bi Hill alfadh Abi Suja`
  8. Syeikh Waliyuddin al-Bashir (w.972 H) dengan kitab syarah beliau yang bernama an-Nihayah fi Syarh Syarh al-Ghayah.
  9. Ahmad bin Qasim al-Ubady (w.994 H) dengan syarah beliau yang bernama Fath Ghaffar bi Kasy Mukhbaat Ghayah al-Ikhtishar.
  10. DR. Mushtafa Daib al-Bugha dengan kitab beliau at-Tahzib fi Adillah Matn al-Ghayah wa Taqrib. Kitab ini berisi dalil baik dari ayat atau hadits dari setiap hukum yang ada dalam matan Taqrib.
Selain di syarah, kitab Matan Taqrib juga di gubah menjadi nadham oleh seorang ulama yang ahli dalam menggubah nadham yaitu Imam Syarafuddin `Imrithy (w. 989 H) dengan nama Nihayah Tadrib, Syeikh Ahmad al-Absyihy (w. 883 H), Syeikh Abdul Qadir bin al-Mudhaffar (w.892 H) Syeikh Ahmad bin Abdu salam al-Manufi (w. 931 H), Syeikh ad-Dausary (w. 1243 H).

Selain itu kitab sudah di terjemahkan dalam berbagai bahasa termasuk dalam bahasa bahasa Perancis pada tahun 1895 dan ke bahasa Jerman pada tahun 1987. {10}

kitab Matan Taqrib masih di pakai sampai saat ini, hal ini menunjukkan satu kelebihan bagi kitab tersebut, di mana walaupun kitab tersebut kecil dan telah melewati masa hampir satu abad namun masih di gunakan sebagai pegangan utama bagi pemula dalam belajar fiqh Syafii`yah.

Semoga Allah selalu melimpahkan barakah ilmu Abu Suja` kepada kita semua dan Allah memberikann taufiq dan hidayah kepada kita untuk mengikuti jejak beliau.

Amiin ya Rabbal `Alamin.
  1. As-Subki, Tajuddin bin `Ali bin Abdul Kafy, Thabaqat Syafi`iyyah Kubra, jld 6 hal 15 thn 1413 H
  2. Abu Thahir as-Silafy, Ahmad bin Muhammad, Mu`jam as-Safr, hl 25 Maktabah Tijariyah
  3. Al-Hamawy, Yaqut bin Abdullah, Mu`jam Buldan, jld 4 hl 74 Beirut, Dar Fikr
  4. Az-Zarkaly, al-A`lam, jld 1 hl 116 Dar al-`ilm lilmalayiin th 2002
  5. Haji Khalifah, Kasyfun Dhunun, jld 2 hl 1189 Beirut, Dar Turats Arabi
  6. KH. Sirajuddin Abbas, Thabaqat Syafi`yah Ulama Syafii dan kitab-kitabnya dari Abad ke Abad, hl 129 Pustaka Tarbiyah Baru th 2011
  7. Al-Bajuri, Ibrahim, Hasyiah al-bajuri `ala Fath Qarib jld 1 hal 10 Haramain
  8. Al-Bujairimi, Sulaiman bin Muhammad, Hasyiah Bujairimi `ala Khtaib, jld 1 hl 23 Dar Kutub Ilmiyah 1997
  9. Haji Khalifah, Kasyfun Dhunun, jld 2 hl 1189 Beirut, Dar Turats Arabi
  10. http://www.feqhweb.com/vb/t352.html

Referensi:
1. As-Subki, Tajuddin bin `Ali bin Abdul Kafy, Thabaqat Syafi`iyyah Kubra, thn 1413 H
2. Abu Thahir as-Silafy, Ahmad bin Muhammad, Mu`jam as-Safr, Maktabah Tijariyah
3. Al-Hamawy, Yaqut bin Abdullah, Mu`jam Buldan, Beirut, Dar Fikr
4. Az-Zarkaly, al-A`lam, Dar al-`ilm lilmalayiin th 2002
5. Haji Khalifah, Kasyfun Dhunun, Beirut, Dar Turats Arabi
6. KH. Sirajuddin Abbas, Thabaqat Syafi`yah Ulama Syafii dan kitab-kitabnya dari Abad ke Abad, Pustaka Tarbiyah Baru th 2011
7. Al-Bajuri, Ibrahim, Hasyiah al-bajuri `ala Fath Qarib, Haramain
8. Al-Bujairimi, Sulaiman bin Muhammad, Hasyiah Bujairimi `ala Khatib, Dar Kutub Ilmiyah th 1997
9. http://www.feqhweb.com/vb/t352.html



Membayar zakat hasil barang tambang dengan uang

zakat barang tambang
Sebelumnya pernah kami posting mengenai Membayar zakat emas dengan uang dan Membayar zakat fithrah dengan uang.
Saat ini di Aceh banyak penambang emas di beberapa kabupaten. Salah satu kewajiban penambang emas adalah membayar zakat. Namun kasus di lapangan mereka kebanyakannya membayar zakat dengan uang bukan dengan emas.

Pertanyaan.
1. Sahkan membayar zakat tambangan dengan uang?
2. Bagaimana kalau taqlid kepada mazhab Hanafi yang biasanya membolehkan membayar zakat dengan uang?

Jawaban
  1. Dalam Mazhab Syafii zakat hasil barang tambang wajib di keluarkan dengan hasil barang tambang (ma`dan) tersebut tidak boleh dengan uang., karena hanya zakat tijarahlah yang boleh di keluarkan dengan uang.
  2. Dalam mazhab Hanafi yang membolehkan mengeluarkan zakat dengan uang, hukum zakat hasil barang tambang lebih berat dari pada tiga mazhab yang lain. Zakat hasil barang tambang dalam mazhab Hanafi sama statusnya dengan harta rikaz (harta simpanan kaum kafir). Ada perbedaan besar dalam mazhab hanafi dengan tiga mazhab yang lain tentang jumlah kadar zakat ma’dan yang wajib dikeluarkan. Dalam mazhab hanafi zakat ma’dan wajib dikeluarkan sebagaimana harta ghanimah yaitu 1/5 (20%) (sedangkan dalam mazhab lain hanya 2,5 %) dan di bagikan sebagaimana pembagian harta ghanimah bukan seperti pembagian zakat. Maka pembagiannya harus seseuai dengan sistem pembagian gharta Ghanimah yang ada dalam Mazhab Hanafi

Referensi:
1. Majmuk Syarah Muhazzab jilid 6 hal 429 Cet. Dar kutub Ilmiyah

{ ولا يجوز أخذ القيمة في شئ من الزكاة لان الحق لله تعالى وقد علقه علي ما نص عليه فلا يجوز نقل ذلك إلى غيره كالاضحية لما علقها علي الانعام لم يجز نقلها إلى غيرها …
{ الشرح } اتفقت نصوص الشافعي رضى الله عنه انه لا يجوز اخراج القيمة في الزكاة وبه كذا في الاصل والصواب عليهن
قطع المصنف وجماهير الاصحاب وفيه وجه ان القيمة تجزئ حكاه وهو شاذ باطل ودليل المذهب ما ذكره المصنف …
(فرع)
قد ذكرنا أن مذهبنا انه لا يجوز اخراج القيمة في شئ من الزكوات وبه قال مالك وأحمد وداود الا ان مالكا جوز الدراهم عن الدنانير وعكسه وقال أبو حنيفة يجوز فإذا لزمه شاة فأخرج عنها دراهم بقيمتها أو اخرج عنها ماله قيمة عنده كالكلب والثياب
وحاصل مذهبه ان كل ما جازت الصدقة به جاز اخراجه في الزكاة سواء كان من الجنس الذى وجبت فيه الزكاة ام من غيره

2. Syarah Tahrir jilid 1 hal 374 Cet. Haramain

باب . بيان محال جواز أخذ القيمة فى الزكاة. لا يجوز أخذها إلا فى خمس مسائل فى (زكاة التجارة ) لأنها متعلقها (و) فى الجبران ...

3. Fiqh Mazahibil Arba’ah jilid 1 hal 474 Cet. Dar hadits

( الحنفية قالوا : المعدن والركاز بمعنى واحد وهو شرعا مال وجد تحت الأرض سواء كان معدنا خلقيا خلقه الله تعالى بدون أن يضعه أحد فيها . أو كان كنزا دفنه الكفار ولا يسمى ما يخرج من المعدن والركاز زكاة على الحقيقة لأنه لا يشترط فيهما ما يشترط في الزكاة
وتنقسم المعادن إلى أقسام ثلاثة : ما ينطبع بالنار ومائع وما ليس بمنطبع ولا مانع فالمنطبع ما كان كالذهب والفضة والنحاس والرصاص والحديد والمائع ما كان كالقار - الزفت - والنفط - زيت البترول " الغاز " - ونحوهما والذي ليس بمنطبع ولا مائع ما كان كالنورة والجواهر واليواقيت .
فأما الذي ينطبع بالنار فيجب فيه إخراج الخمس ومصرفه مصرف خمس الغنيمة المذكورة في قوله تعالى : { واعلموا أنما غنمتم من شيء فأن لله خمسة } الآية وما بقي بعد الخمس يكون للواجد إن وجد في أرض غير مملوكة لأحد كالصحراء والجبل وإنما يجب فيه الخمس إذا كان عليه علامة الجاهلية أما إن كان من ضرب أهل الإسلام فهو بمنزلة اللقطة ولا يجب فيه الخمس ولو اشتبه الضرب يجعل جاهليا أما إن وجده في أرض مملوكة ففيه الخمس المذكور والباقي للمالك ومن وجد في داره معدنا أو ركازا فإنه لا يجب فيه الخمس ويكون ملطا لصاحب الدار ولا فرق فيمن وجد الكنز والمعدن بين أن يكون رجلا أو امرأة حرا أو عبدا بالغا أو صبيا أو ذميا وأما المائع : كالقار والنفط والملح فلا شيء فيه أصلا ومثله ما ليس بمنطبع ولا مائع : كالنورة والجواهر ونحوهما فإنه لا يجب فيهما شيء ويستثنى من المائع الزئبق فإنه يجب فيه الخمس ويلحق بالكنز ما يوجد تحت الأرض من سلاح وآلات وأثاث ونحو ذلك فإنه يخمس على ما تقدم ولا شيء فيما يستخرج من البحر : كالعنبر واللؤلؤ والمرجان والسمك ونحو ذلك إلا إذا أعده للتجارة كما تقدم

4.DR. Wahbah Zuhaili- Fiqh Islami wa Adillatuh, jld 3 hl 1854 Dar Fikr

المطلب الثاني ـ زكاة المعادن والركاز:
اختلف الفقهاء في معنى المعدن، والركاز أو الكنز، وفي أنواع المعادن التي تجب فيها الزكاة، وفي مقادير الزكاة في كل من المعدن والركاز. فالمعدن هو الركاز عند الحنفية، وهما مختلفان عند الجمهور، والمعدن الواجب فيه الزكاة: هو الذهب والفضة عند المالكية والشافعية، وهو كل ما ينطبع بالنار عند الحنفية، ويشمل كل أنواع المعادن الجامدة والسائلة عند الحنابلة
وفي المعادن: الخمس لدى الحنفية، وربع العشر عند الشافعية والمالكية والحنابلة، وفي الركاز الخمس بالاتفاق، ويظهر ذلك من التفصيل الآتي، علماً بأن الواجب في المعادن زكاة عند الجمهور، غنيمة عند الحنفية، وأن الواجب في الركاز عند الجمهورغنيمة للمصالح العامة، ويصرف مصارف الزكاة عند الشافعية، ويشترط في المعدن بلوغ النصاب بالاتفاق، ولا يشترط في الركاز بلوغ النصاب عند الجمهور ويشترط ذلك عند الشافعية

Hukum menjual dan meminum ASI bagi orang dewasa

Hukum menjual dan meminum ASI bagi orang dewasa

Hukum menjual dan meminum ASI bagi orang dewasa adalah Boleh.

Referensi:
كتاب الحاوى الكبير ـ الماوردى
فصل : ولبن الآدميات بيعه وشربه وطهارته عندنا طاهر ، وشربه حلال ، وبيعه جائز
وقال أبو القاسم بن يسار الأنماطي من أصحابنا ، هو نجس لا يحل لغير الصغار شربه ، ولا يجوز بيعه
وهو مذهب تفرد به
وقال أبو حنيفة : هو طاهر وشربه جائز ، غير أن بيعه لا يجوز : استدلالا بأنه غير مبيع في العادة ، فلو جاز في الشرع لاختلفت فيه العادة ، ولأنه مما يستباح بعقد الإجارة فلم يجز بيعه كالمنافع ، ولأن لبن الآدميات وإن كان طاهرا فهو كالدموع والعرق ، فلما لم يجز بيع الدموع والعرق : وإن كان طاهرا لم يجز بيع اللبن وإن كان طاهرا
ودليلنا رواية أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله {صلى الله عليه وسلم} قال : إن الله تعالى إذا حرم شيئا حرم ثمنه . وروي إذا حرم أكل شيء حرم ثمنه " . فكان دليله أن ما لم يحرم أكله لم يحرم ثمنه . ولأنه لبن يحل شربه فجاز بيعه كلبن النعم طردا

روضة الطالبين وعمدة المفتين
فرع بيع لبن الآدميات صحيح
قلت ولنا وجه أنه نجس فلا يصح بيعه حكاه في الحاوي عن الأنماطي وهو شاذ مردود وسبق ذكره في كتاب الطهارة
والله أعلم

donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja