Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Maksud Fadhilah 27 Derajat dalam Shalat Berjamaah


Rasulullah saw bersabda dalam satu hadis:
الصلاة الحماعة افضل من صلاة الفذ بسبع وعشرين درجة
Shalat jamaah lebih Baik 27 derajat dari pada shalat sendirian
(H.R Bukhari-Muslim)

Maksud 27 derajat dalam hadis di atas sebagaima yang ditafsir oleh para ulama adalah sebagi berikut:
1. Fadhilah memenuhi panggilan muazzin untuk shalat
2. Fadhilah mendapatkan Takbiratul Ihram pada awal waktu
3. Fadhilah melangkah ke mesjid dengan ketenangan (keihklasan)
4. Fadhilah menunggu jama’ah
5. Fadhilah mendapatkan doa dan kesaksian malaikat
6. Fadhilah memenuhi panggilan iqamah
7. Fadhilah keselamatan dari gangguan setan
8. Fadhilah menunggu Takbiratul Ihram imam
9. Fadhilah mendapatkan Takbiratul Ihram beserta Imam
10. Fadhilah meluluskan saf dan mengisi saf yang kosong
11. Fadhilah menjawab imam pada kata سمع الله لمن حمده
12. Fadhilah terpelihara dari lupa pada kebisaan dengan sebab shalat jama’ah
13. Fadhilah mengingatkan imam jika lupa
14. Fadhilah menghasilkan khusyuk dan terpelihara dari kelalaian
15. Fadhilah memperbagus kelakuan shalat
16. Fadhilah mendapat perlindungan dari malaikat
17. Fadhilah membaguskan tajwid Al-quran
18. Fadhilah memelihara rukun dan sunat ab’ad
19. Fadhilah menampakkan syiar Islam
20. Fadhilah karena benci Setan pada perkumpulan (jama’ah) dalam beribadah
21. Fadhilah saling tolong-menolong dalam berbuat ta’at
22. Fadhilah sifat rajin bagi pemalas, menghilangkan su’uzan (buruk sangka) bagi orang yang meninggalkan shalat  dan menghilangkan sifat kemunafikan.
23. Fadhilah niat mejawab salam untuk imam
24. Fadhilah mendapat keberkahan dalam melakukan doa dan zikir bersama yang terpelihara dari kekurangan
25. Fadhilah terbentuknya kasih sayang dengan jiran (tetangga) dan memberi tahu mereka dengan masuknya waktu shalat
26. Fadhilah mendengar bacaan imam
27. Fadhilah membaca Amin beserta imam yang bersamaan dengan Amin para malaikat.

Salah satu Fadhilah yang sangat besar pula yaitu," Barang siapa yang shalat berjamaah, dan beriringan takbiratul ihramnya  dengan imam Selama 40 hari niscaya Allah swt akan melepaskan nya dari kemunafikan (meninggalkan dunia dalam keadaan selamat iman). Wallahua'lam.


Sumber : I’anatut Thalibin juz II hal. 3 cet. Haramain.

Beberapa Fatwa Sesat Ibnu Taimiyah yang Menentang dengan Kebanyakan Para Ulama



  1.  Suami berkata kepada isterinya علي الطلاق (lazim atasku talak). menurut ibnu taimiyah talak tidak jatuh akan tetapi suami dikenakan kafarah sumpah. Padahal tidak ada satu pun Ulama Ahlussunnah yang berpendapat seperti itu.
  2. Suami yang menalak isteri di saat haid (mentruasi) tidak jatuh talaknya. Begitu juga talak dalam masa suci dengan catatan telah melakukan hubungan badan.
  3. Meninggalkan shalat secara sengaja tidak wajib qadha.
  4.  Wanita yang sedang mentruasi dibolehkan tawaf di al-bait dan tidak dikenakan kafarah.
  5. Talak tiga jatuh satu, Ibnu Taimiyah sebelum mengeluarkan fatwa tersebut, sudah pernah menukil ijmak bahwa talak tiga jatuh tiga.
  6. Barang yang diambil dari harta tijarah (perniagaan) itu sudah dipadai untuk zakat meskipun bukan dengan nama zakat.
  7. Benda cair yang jatuh bangkai seperti tikus itu tidak bernajis.
  8. Orang yang sedang berhadas besar boleh mengerjakan shalat sunat diwaktu malam
  9. Syarat yang ditetapkan oleh si wakif (pelaku wakaf) itu tidak dii’tibar. (diterima) jika seseorang mewakaf sesuatu kepada seseorang yang bermazhab Syafi’i maka boleh menyalurkan kepada orang yang bermazhab Hanafi, begitu juga sebaliknya.
  10. Menyalahi ijmak tidak kufur dan tidak fasik.
  11. Zat Allah tersusun dari berbagai juzu’ (bahagian) dan zat Allah berhajat kepada beberapa bahagian tersebut seperti berhajatnys kull kepada juz’i.
  12. Al-Qur'an baharu pada zat Allah.
  13. Alam qadim dengan satu nok (bahagian)
  14. Allah berjisim (bertubuh), berjihat (ada arah), berpindah-pindah.
  15. Neraka fana.
  16.  Nabi Muhammad Saw tidak ada kehormatan dan tidak boleh tawassul dengannya.
  17. Para Nabiyullah tidak maksum (boleh salah).
  18. Musafir untuk menziarahi makam Nabi SAW merupakan maksiat dan tidak boleh mengqashar   shalat.
  19. Kitab taurat dan injil tidak diganti lafadnya akan tetapi yang diganti hanya maknanya.


Referensi: Ibnu Hajar al-Haitami Fatawa Hadisiyah, (Surabaya: Imarah), hal 85.

Kewajiban Ihdad Bagi Wanita Yang Meninggal Suaminya

Ihdad Bagi Wanita

A. Pengertian Ihdad

Salah satu kewajiban bagi seorang perempuan yang suaminya telah meninggal, selain ber-iddah adalah ber-Ihdad.
Ihdad secara bahasa adalah menegah, sedangkan secara istilah adalah menegah diri dari dua perkara, yaitu:
  1. Berhias,
    yaitu dengan meninggalkan/atau tidak memakai pakaian yang dicelupkan (berwarna) baik terbuat dari sutera atau lainnya. Tidak memakai perhiasan emas, perak dan sejenisnya, tidak memakai anting telinga, cincin atau sejenisnya, yang kesemuanya membawaki kepada bertambahnya kecantikan atau kebagusansi perempuan.
    Tidak boleh memakai beberapa perkara (mulai perhiasan dari emas, perak, dst) di atas adalah pada waktu siang hari, adapun pada malam hari, maka hanya dimakruhkan jika bukan karena hajat, adapun karena hajat, maka tidak dimakruhkan pula memakai yang demikian pada malam hari.
    Sedangkan pakaian yang dicelupkan (berwarna) keharamannya berlaku pada siang dan malam harinya.
    Keluar dari ketentuan tidak boleh memakai pakaian yang di atas adalah pakaian yang dicelupkan (berwarna) yang terbuat dari Qatun (kapas) atau kain wool (bulu domba), maka boleh untuk dipakai oleh perempuan yang sedang melakukan ihdad.
    Selanjutnya, yang tidak boleh dihiasi oleh perempuan yang ber-ihdad adalah hanya pada tubuhnya, adapun selain tubuhnya maka hukumnya boleh, seperti tempat tidur atau kursi perempuan misalnya.
  2. Wangi-wangian,
    perempuan yang sedang menjalani masa ihdad juga di wajibkan untuk menahan diri dari memakai wangi-wangian baik pada badan, pakaian atau makanan, atau celak yang yang tiada di haramkan, adapun memakai celak yang diharamkan seperti memakai celak dari jenis tanaman bakung (aloe-ing), maka haram secara mutlak.
    Keharaman memakai wangi-wangian berlaku baik pada malam hari atau pada siang harinya.
    Dhabit atau ketentuan Wangi-wangian yang haram digunakan adalah wangi-wangian yang diharamkan bagi orang yang ber-ihram dan tidak mewajibkan fidiyah saat memakainya. Wajib pula untuk segera meninggalkannya di saat mau memasuki masa iddah.

B.  Waktu Ihdad

Waktu pelaksaan ihdad adalah selama masa iddah perempuan tersebut, yaitu selama 4 bulan 10 hari, pada seluruh waktunya, baik siang atau malam, kecuali perhiasan emas, perak, luk-luk, cincin, anting telinga, maka boleh untuk digunakan pada malam hari, tetapi tetap dimakruhkan.

C. Hal-hal yang dilarang Pada Saat Ihdad

  1. Memakai baju berwarna.
  2. Memakai wangi-wangian.
  3. Memakai perhiasan (emas, perak, luk-luk dan sejenisnya)
  4. Memakai minyak rambut kepala, tidak haram pada seluruh tubuh.
  5. Memakai celak.
  6. Dan lain sebagainya, yang dapat membuatnya terlihat cantik dan menarik perhatian orang lain.

D. Hukum Ihdad

Hukum ihdad bagi perempuan yang meninggal suami adalah wajib selama masa iddah, sedangkan bagi perempuan yang ber-iddah bukan karena suaminya meninggal, tetapi karena ba’in dengan sebab khulu’, pasakh, atau talak 3, demikian juga talak raj’i, jika perempuan tersebut tidak mengharap kembali dengan lelaki mantan suaminya, maka hukumnya adalah sunat, selama tidak lebih dari 3 hari. Perempuan juga dibolehkan untuk ber-ihdad seandainya yang meninggal adalah bapak, anak atau ajnabi, dengan catatan perempuan tersebut merasa gundah dengan sebab meninggalnya orang tersebut.

Kewajiban lainnya bagi perempuan yang ber-iddah dan ber-ihdad adalah menetap dalam rumah yang ditinggali oleh suaminya tersebut, maksudnya rumah dimana perempuan tersebut berada ketika suaminya meninggal (rumah yang mereka tinggali), jika memang rumah tersebut layak baginya. Dan dibolehkan bagi perempuan tersebut untuk keluar rumah pada siang hari untuk berbelanja seumpama makanan, benang atau mencari kayu bakar, tidak boleh pada malam hari. Tetapi dibolehkan kepada perempuan tersebut untuk keluar pada malam hari dengan tujuan kepada tetangga yang rumahnya berseblahan (melengket) dengan rumah perempuan tersebut untuk beberapa keperluan, atau sekedar berbicara, dengan syarat melakukan hal (kadar lamanya perempuan dirumah tetangganya) tersebut masih dikategorikan kepada adat. Syarat selanjutnya, tidak ada orang lain dirumah perempuan tersebut yang bisa diajak bicara. Dan yang terakhir dia harus kembali dan bermalam dirumahnya.
Hukum keluar rumah bagi perempuan yang ber-iddah dan ber-ihdad adalah haram dan dosa besar, sebagimana yang telah disebutkan oleh Ibnu hajar dalam kitab Azzawajir. Adapun perempuan yang tertalak raj’i, maka boleh untuk keluar rumah dengan izin suaminya yang menceraikannya, atau karena keperluan sebagaimana yang telah disebutkan. Wallahua’lam.

Sumber:
Ibrahim Al Bajuri, Hasyiyah bajuri hal 175-177.
Zainuddin Al Malibary, Fathul Muin, hal 43-46 jilid 4.

DOWNLOAD Pengajian Syarah AYYUHAL WALAD asuhan ABU MUDI

Bulan Ramadhan 2015 di Pondok Pesantren Mudimesra diadakan pengajian kitab Syarah Ayyuhal Walad ba'da subuh yang diasuh oleh yang mulia Abu Syech Hasanoel Basri ( Abu Mudi ).

 Kitab Ayyuhal Walad  pada dasarnya adalah jawaban Imam Al-Ghazali terhadap sepucuk surat dari murid Beliau, dimana dalam surat tersebut murid Imam Al-Ghazali meminta kepada Imam agar sudi kiranya menulis sepucuk surat yang merupakan wasiat khusus bagi dirinya.

Inilah salah satu nasehat Imam Al-Ghazali dalam kitab tersebut "Wahai anakku menasehati adalah mudah sedangkan menerimanya susah, janganlah engkau beramal dengan ilmu yang zahir saja dan jangan beramal ilmu batin saja, seseorang yang tidak beramal dengan ilmunya seperti seseorang yang punya senjata lengkap tapi diterkam oleh singa yang buas", dan Nabi SAW berkata :

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم 
إن اشد الناس عذابا يوم القيامة عالم لم ينفعه الله بعلمه

Sesungguhnya azab yang sangat pedih bagi orang berilmu tapi tidak bermamfa’at dengan ilmunya.

Pengajian ini tamat pada tanggal 11-07-2015, sangat banyak ilmu yang bisa kita ambil dalam kitab ini, berbagai macam wasiat Imam Al-Ghazali sangat pantas untuk kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari kita, bagi anda yang ingin mendownload pengajian kitab Syarah Ayyuhal Walad yang diasuh oleh yang mulia Abu Syech Hasanoel Basri ( Abu Mudi ) maka bisa klik disini (Youtube ) atau disini ( Arcchive ).

Download Pengajian Kitab JAUHAR MAKNUN mp3

Salah satu kitab balaghah yang menjadi kitab kurikulum di dayah di Aceh dan pesantren lainnya di Nusantara adalah kitab Nadham Jauhar Maknun fi Tsalatsati al-funun (Ma`ani, Bayan dan Badi`) . Kitab ini berbentuk nadham karangan Syeikh Abdur Rahman al-Akhdhari. terdiri dari 291 bait. kitab ini merupakan ringkasan dari kitab Talkhish fi Balaghah karangan Khatib Khazwaini sebagaimana beliau terangkan sendiri dalam bait jauhar maknun. Kitab ini sempat beliau beri syarah sendiri dalam satu syarah yang lebih besar dari kitab asalnya, Talkhish Khazwaini.
ulama lain yang juga mensyarahnya adalah Syeikh Ibrahim bin Abi `ilaq az-Zabidy, Syeikh Ahmad Mubarakk al-Qusanthini, Ulama lain yang mensyarah kitab ini adalah Syeikh Ahmad Damanhuri, Syeikh al-Azhar ke 10 yang kemudian di beri hasyiah oleh Syeikh Makhluf bin Muhammad al-Badawi yang saat ini banyak di pakai di berbagai lembaga pendidikan di dunia. Di dayah di Aceh, kitab syarah Jauhar Maknun ini di pelajari tepatnya pada kelas 5, bersamaan dengan kitab al-Mahalli 'ala Minhaj Thalibin dalam bidang fiqh.

Bagi yang ingin rekaman pengajian kitab Syarah Jauhar Maknun ini, bisa mendownloadnya pada link di bawah ini mulai dari halaman pertama sampai khatam.
Pengajian ini adalah pengajian ba'da shalat ashar di Balee Beuton, Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga yang di ajarkan oleh Waled Tarmizi al-Yusufi. Beliau adalah salah satu guru di LPI MUDI Mesjid Raya yang saat ini merupakan pimpinan LPI Najmul Hidayah al-Aziziyah, Cot Merak, Samalanga yang berjarak hanya sekitar 2 km dari MUDI.
Majlis Balee Beuton di Dayal LPI MUDI merupakan majlis khusus dewan guru. Untuk shubuh di isi oleh ABU MUDI sendiri, kitab yang di kaji adalah Tuhfatul Muhtaj dan Ihya Ulumiddin.
Pukul 08.00-10.30 di isi oleh Abi Zahroel Fuadi, dengan kitab kajian, Hasyiah Bujairimi 'ala Syarah Manhaj, ...Sedangkan ba'da Ashar di isi oleh Waled Tarmizi al-Yusufi. Kitab yang di kaji untuk waktu sore khusus kitab alat. Beberapa kitab yang sudah khatam dalam beberapa tahun ini adalah kitab Syarah Ahmad Shawi fi ilmi Bayan, Ghayah Wushul syarah Lubbil Ushul karangan Syaikhul Islam, Musthashfa fi Ushul Fiqh karangan Hujjatul islam Imam Ghazali, Syarah Syamsiah fi Ilmi Mantiq dan Syarah Jauhar Maknun fi ilmi Balaghah.

Kahatam Pengajian syarah Jauhar Maknun pada tanggal 16 sya'ban 1436 H / 03 juni 2015 asuhan Waled Tarmizi al-Yusufi.

Kitab Nadham Jauhar Maknun bisa di download di SINI
Bagi yang ingin mendownload file pengajian Syarah Jauhar Maknun, silahkan di klik link di bawah ini:


donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja