Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Cara Mensucikan Najis Mughalladhah


Pak Salam adalah seorang pengusaha kuliner di Jakarta, sebelum ia beragama islam, salah satu menu favorit di restorannya adalah soto babi, namun setelah ia memeluk islam, ia beralih menjadi pengusaha restoran halal, ia tidak lagi menjual soto babi sebagai menu favoritnya, dan memilih makanan halal sebagai menu andalannya, yang menjadi kendala adalah, banyak peratan di dapur restoran yang dulu ia gunakan untuk memasak babi tidak bisa ia gunakan lagi, tentu karena telah berkena najis babi yang digolongkan kedalam najis mu’aladhah, sedangkan untuk membeli peralatan baru,tentu membutuhkan dana yang sangat besar, bagaimanakah cara Pak Salam mensucikan peralatan dapur yang terkena najis babi tersebut ?


Dalam hukum fiqh, babi dan anjing termasuk dalam najis mughalladhah, segala sesuatu yang berasal dari kedua hewan tersebut dihukumi dalam najis, baik bulu, daging, liur, kotoran, kencing, hingga bekas air yang ia minum jika tidak mencapai dua qullah, cara mensucikan najis mu’aladhah adalah dengan membasuh benda yang terkena najis sebanyak tujuh kali, salah satu nya dengan air yang bercampur dengan tanah tanah dengan kadar sekurang kurangnya dapat membuat air menjadi keruh. Air yang bercampur dengan tanah boleh pada basuhan yang pertama, kedua ketiga dan seterusnya, Tanah yang memadai disini adalah tanah yang memenuhi syarat pada bab tayammum, yaitu tanah yang suci, tidak bercampur dengan najis, bukan tanah kapur ataupun tanah berpasir, basuhan air tanah harus meratai seluruh benda yang bernajis, jika air tanah tidak mencapai seluruh bagian yang bernajis , maka proses samak tidak sah, demikian juga basuhan air yang enam kali, ini semua dilakukan setelah hilangnya ain najis dari berda tersebut, jika ain najis hilang pada basuhan ke enam misalnya, maka enam kali basuhan tersebut dianggap satu kali, jadi hanya membasuh enam kali lagi salah satunya degan air tanah.

Pembagian Air Untuk Bersuci

Pembagian Air Untuk Bersuci
Air merupakan salah satu nikmat Allah yang besar dengan segala manfaatnya. Selain untuk keperluan utama makhluk hidup, air juga memiliki peran penting dalam agama dalam kaitan pelaksanaan ibadah. Banyak ibadah yang dikaitkan dengan keadaan seseorang harus suci. Demikian juga dalam kaitan halal haram dalam makanan juga terpengaruh dengan suci atau tidak. Bahkan kesucian juga punya pengaruh dalam bab penikahan. Sedangkan dalam proses untuk mendapatkan kesucian tersebut tidak bisa lepas dari air. Karena air adalah alat utama untuk bersuci. Hanya dalam kondisi tertentu saja bisa digantikan benda lain yaitu tanah dengan cara bertayamun dengan ketentuannya tersendiri.

Namun tidak semua air bisa digunakan untuk bersuci. Air yang bersih belum tentu suci. Ada katagori air tertentu yang bisa digunakan untuk bersuci atau hanya boleh untuk konsumsi, tapi tidak boleh digunakan untuk bersuci. Pembagian air dari sisi penggunaanya untuk bersuci terbagi kepada tiga; [1]
  1. Air suci menyucikan (thuhur), yaitu air yang ia bersifat dengan suci. Air yang suci bisa dikonsumsi, dan bila terkena benda lain tidak akan menyebabkan benda tersebut bernajis. Selain suci, air ini juga bisa digunakan untuk menyucikan, baik untuk mandi wajib atau sunat, berwudhuk maupun untuk menghilangkan najis. Air suci menyucikan ini juga disebut dengan air muthlaq. Maksudnya adalah air yang dalam penyebutannya hanya cukup dengan kata “air” saja tidak perlu pengaitan yang lain, walaupun kadang juga dikaitkan dengan tempatnya, misalnya air laut, air sumur, air aqua dll.
  2. Air suci tetapi tidak menyucikan (thahir ghair thuhur), yaitu air yang hanya bersifat suci sehingga hanya bisa dikonsumsi dan tidak akan menyebabkan benda lain bernajis bila terkena air tersebut. Yang termasuk dalam jenis air ini adalah :
    • Air musta’mal yaitu air bekas yang telah dipakai untuk menyucikan anggota wajib, yaitu basuhan pertama ketika berwudhuk dan mandi. Air musta’mal ini bila dikumpulkan sehingga mencapai dua qullah maka air tersebut akan suci menyucikan. [2] Termasuk juga air musta’mal adalah air bekas menyucikan najis, namun air ini baru dihukumi suci dengan syarat; [3]
      1. Tidak berubah salah satu sifatnya.
      2. Tidak bertambah volumenya setelah berpisah dari benda yang disucikan (misalnya kain) dengan memperkirakan kadar yang terisap pada kain tersebut.
      3. Haruslah air yang disiramkan keatas barang yang bernajis. Kalau sebaliknya, misalnya setelah menuangkan air dalam ember kemudian dimasukkan kain bernajis, maka air dalam ember tersebut langsung bernajis juga.
      4. Barang yang dicuci tersebut suci dengan siraman air tersebut.
    • Air yang bercampur dengan benda suci sehingga berubah sifatnya (warna, bau atau rasa). Perubahan air yang berpengaruh menghilangkan sifat menyucikannya hanyalah bila berubah dengan barang yang memiliki katagori di bawah ini;
      1. Tidak bisa terbedakan air dengan bahan tersebut ketika sudah bercampur air (mukhalith). Sedangkan bercampur dengan bahan yang masih bisa terbeda dengan air (mukhalith) maka tidaklah menghilangkan sifat thuhurnya, misalnya bercampur dengan minyak.
      2. Bahan tersebut bukanlah bahan yang sangat terikat dengan air (yastaghna ‘anhu), misalnya bercampur dengan gula, kopi dll. Sedangkan bila bercampur dengan bahan yang memiliki keterikatan dengan air (la yastaghna ‘anhu) contohnya berubah dengan tanah, lumut tanah, atau dengan garam maka tidaklah menghilangkan sifat thuhurnya.
  3. Air bernajis, yaitu air yang telah terkena najis yang tidak dimaafkan (ghair ma’fuan ‘anh). Air ini tidak bisa digunakan sebagai alat bersuci, dan bila terkena benda lain, maka benda tersebut akan bernajis. Untuk air yang tidak sampai dua qullah (216 liter) akan bernajis dengan hanya terkena najis yang tidak dimaafkan, walaupun air tersebut tidak berubah sama sekali. Sedangkan untuk air yang mencapai dua qullah (216 liter) maka hanya akan bernajis saat terkena najis bila salah satu sifat air tersebut berubah.

----------------------------------------------------------------------------------------------------
1. Dalam Kitab Fathul Qarib air dibagi kepada empat, dengan adanya pembagian pada air suci menyucikan, makruh dan yang tidak makruh. Di sini tidak kami klasifikasikan demikian karena air yang makruh tersebut hanya pada daerah yan beriklim panas saja.
2. Sayyid Bakri Syatha, Hasyiah I’anah Thalibin, Jld I (Haramaian, tt) h. 28
3. Syeikh Ibrahim al-Bajuri, Hasyiah al-Bajuri, Jld I (Haramain, tt) h. 31




Download Kitab Fatawa Kubra Fiqhiyah Ibnu Hajar al-Haitami

 Fatawa Kubra Fiqhiyah Ibnu Hajar al-Haitami
Salah satu ulama mutaakhirin dalam mazhab Syafii yang dikenal produktif dalam menulis adalah Syaikhul Islam Ibnu Hajar al-Haitami. Beliau banyak meninggalkan karya dalam berbagai bidang disiplin ilmu. Salah satu karya beliau yang masih dijadikan rujukan sampai saat ini adalah kitab kumpulan fatwa-fatwa beliau yang dikumpulkan oleh murid beliau. Kitab sebanyak empat jilid ini dinamai Fatawa Kubra Fiqhiyah, berisi jawaban-jawaban terhadap pertanyaan yang datang kepada beliau tentang hukum fiqh. Umumnya jawaban Ibnu Hajar al-Haitami berisi ulasan panjang dan bahkan ada yang menjadi satu risalah khusus yang beliau beri judul tersendiri.
Kitab Fatawa Kubra Fiqhiyah sangat penting untuk memahami berbagai macam kasus fiqh yang terjadi dalam masyarakat. Terdiri dari empat jilid, setiap pertanyaan telah dikelompokkan dalam setiap kitabnya masing-masing.

Bagi yang ingin memiliki flle pdf kitab Fatawa Kubra Ibnu Hajar al-Haitami ini, silahkan DOWNLOAD jilid 1, jilid 2, jilid 3, Jilid 4.  
Sedangkan file syamelanya (box) bisa di download di website Syamela

Cetakan ini dilengkapi dengan Fatawa Imam Ramli Kabir pada pinggirnya.

Kisah Sahabat Nabi: Abdurrahman bin Auf, "Manusia Bertangan Emas"

bertangan emas
Abdurrahman bin Auf termasuk kelompok delapan orang yang mula-mula masuk Islam. Ia juga tergolong sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira oleh Rasulullah masuk surga dan termasuk enam orang sahabat yang bermusyawarah dalam pemilihan khalifah setelah Umar bin Al-Khathab. Di samping itu, ia adalah seorang mufti yang dipercayai Rasulullah berfatwa di Madinah selama beliau masih hidup.

Pada masa Jahiliyah, ia dikenal dengan nama Abd Amr. Setelah masuk Islam, Rasulullah memanggilnya Abdurrahman bin Auf. Ia memeluk Islam sebelum Rasulullah menjadikan rumah Al-Arqam sebagai pusat dakwah. Ia mendapatkan hidayah dari Allah dua hari setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq memeluk Islam.

Seperti kaum Muslimin yang pertama-tama masuk Islam lainnya, Abdurrahman bin Auf tidak luput dari penyiksaan dan tekanan dari kaum kafir Quraisy. Namun ia tetap sabar dan tabah. Abdurrahman turut hijrah ke Habasyah bersama kawan-kawan seiman untuk menyelamatkan diri dan agama dari tekanan Quraiys.

Tatkala Rasulullah SAW dan para sahabat diizinkan Allah hijrah ke Madinah, Abdurrahman menjadi pelopor kaum Muslimin. Di kota yang dulu bernama Yatsrib ini, Rasulullah mempersaudarakan orang-orang Muhajirin dan Anshar. Abdurrahman bin Auf dipersaudarakan dengan Sa'ad bin Rabi Al-Anshari.

Sa'ad termasuk orang kaya diantara penduduk Madinah, ia berniat membantu saudaranya dengan sepenuh hati, namun Abdurrahman menolak. Ia hanya berkata, "Tunjukkanlah padaku di mana letak pasar di kota ini!"

Sa'ad kemudian menunjukkan padanya di mana letak pasar. Maka mulailah Abdurrahman berniaga di sana. Belum lama menjalankan bisnisnya, ia berhasil mengumpulkan uang yang cukup untuk mahar nikah. Ia pun mendatangi Rasulullah seraya berkata, "Saya ingin menikah, ya Rasulullah," katanya.
"Apa mahar yang akan kau berikan pada istrimu?" tanya Rasul SAW.
"Emas seberat biji kurma," jawabnya.
Rasulullah bersabda, "Laksanakanlah walimah (kenduri), walau hanya dengan menyembelih seekor kambing. Semoga Allah memberkati pernikahanmu dan hartamu."

Sejak itulah kehidupan Abdurrahman menjadi makmur. Seandainya ia mendapatkan sebongkah batu, maka di bawahnya terdapat emas dan perak. Begitu besar berkah yang diberikan Allah kepadanya sampai ia dijuluki 'Sahabat Bertangan Emas'.
Pada saat Perang Badar meletus, Abdurrahman bin Auf turut berjihad fi sabilillah. Dalam perang itu ia berhasil menewaskan musuh-musuh Allah, di antaranya Umar bin Utsman bin Ka'ab At-Taimy. Begitu juga dalam Perang Uhud, dia tetap bertahan di samping Rasulullah ketika tentara Muslimin banyak yang meninggalkan medan perang.

Abdurrahman bin Auf adalah sahabat yang dikenal paling kaya dan dermawan. Ia tak segan-segan mengeluarkan hartanya untuk jihad di jalan Allah. Pada waktu Perang Tabuk, Rasulullah memerintahkan kaum Muslimin untuk mengorbankan harta benda mereka. Dengan patuh Abdurrahman bin Auf memenuhi seruan Nabi SAW. Ia memelopori dengan menyerahkan dua ratus uqiyah emas.

Mengetahui hal tersebut, Umar bin Al-Khathab berbisik kepada Rasulullah, "Sepertinya Abdurrahman berdosa karena tidak meninggalkan uang belanja sedikit pun untuk keluarganya."
Rasulullah bertanya kepada Abdurrahman, "Apakah kau meninggalkan uang belanja untuk istrimu?"
"Ya," jawabnya. "Mereka kutinggalkan lebih banyak dan lebih baik daripada yang kusumbangkan."
"Berapa?" tanya Rasulullah.

"Sebanyak rezeki, kebaikan, dan pahala yang dijanjikan Allah."
Pasukan Muslimin berangkat ke Tabuk. Dalam kesempatan inilah Allah memuliakan Abdurrahman dengan kemuliaan yang belum pernah diperoleh siapa pun. Ketika waktu shalat tiba, Rasulullah terlambat datang. Maka Abdurrahman bin Auf yang menjadi imam shalat berjamaah. Setelah hampir selesai rakaat pertama, Rasulullah tiba, lalu shalat di belakangnya dan mengikuti sebagai makmum. Sungguh tak ada yang lebih mulia dan utama daripada menjadi imam bagi pemimpin umat dan pemimpin para nabi, yaitu Muhammad saw.

Setelah Rasulullah wafat, Abdurrahman bin Auf bertugas menjaga kesejahteraan dan keselamatan Ummahatul Mukminin (para istri Rasulullah). Dia bertanggung jawab memenuhi segala kebutuhan mereka dan mengadakan pengawalan bagi ibu-ibu mulia itu bila mereka bepergian.
Suatu ketika Abdurrahman bin Auf membeli sebidang tanah dan membagi-bagikannya kepada Bani Zuhrah, dan kepada Ummahatul Mukminin. Ketika jatah Aisyah ra disampaikan kepadanya, ia bertanya, "Siapa yang menghadiahkan tanah itu buatku?"
"Abdurrahman bin Auf," jawab si petugas.
Aisyah berkata, "Rasulullah pernah bersabda, 'Tidak ada orang yang kasihan kepada kalian sepeninggalku kecuali orang-orang yang sabar."

Begitulah, doa Rasulullah bagi Abdurrahman bin Auf terkabulkan. Allah senantiasa melimpahkan berkah-Nya, sehingga ia menjadi orang terkaya di antara para sahabat. Bisnisnya terus berkembang dan maju. Semakin banyak keuntungan yang ia peroleh semakin besar pula kedermawanannya. Hartanya dinafkahkan di jalan Allah, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Walau termasuk konglomerat terbesar pada masanya, namun itu tidak memengaruhi jiwanya yang dipenuhi iman dan takwa.

Berbahagialah Abdurrahman bin Auf dengan limpahan karunia dan kebahagiaan yang diberikan Allah kepadanya. Ketika meninggal dunia, jenazahnya diiringi oleh para sahabat mulia seperti Sa'ad bin Abi Waqqash dan yang lain. Dalam kata sambutannya, Khalifah Ali bin Abi Thalib berkata, "Engkau telah mendapatkan kasih sayang Allah, dan engkau berhasil menundukkan kepalsuan dunia. Semoga Allah selalu merahmatimu." Amin.

Bid’ah Hasanah Ulama Salaf dan Khalaf

ahlul bid'ah hasanah1. Bid’ah Hasanah imam Abu Hanifah Shalat 300 rakaat tiap malam.
Al-‘Aththar dalam kitab at-Tadzkirah mengatakan :

كان ابو حنبفة يصلي في كل ليلة ثلاثمائة ركعة فمر يوما على جمع من الصبيان فقال بعضهم لبعض : هذا يصلي في كل ليلة الف ركعة ولا ينام بالليل. فقال ابو حنيفة : نويت ان اصلي في كل ليلة الف ركعة وان لا انام بالليل

“ Abu Hanifah diriwayatkan melakukan shalat 300 rakaat setiap malam. Suatu hari ia berjalan melewati sekelompok anak kecil, maka seorang dari mereka berkata kepada temannya : “ Inilah orang yang melakukan shalat tiap malam 1000 rakaat dan tidak pernah tidur tiap malam”. Imam Abu Hanifah berkata: “ aku berniat shalat 1000 rakaat pada setiap malam, dan tidak berencana tidur”.
(Iqamah al-Hujjah, al-Kanawi : 80)

2. Bid’ah Hasanah Imam Malik, Shalat 800 rakaat setiap hari.

قَالَ أَبُوْ مُصْعَبٍ وَأَحْمَدُ بْنُ إِسْمَاعِيْلَ مَكَثَ مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ سِتِّيْنَ سَنَةً يَصُوْمُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا وَكَانَ يُصَلِّي فِي كُلِّ يَوْمٍ ثَمَانَمِائَةٍ رَكْعَةً

“Abu Mush’ab dan Ahmad bin Ismail berkata: Malik bin Anas berpuasa sehari dan berbuka sehari selama 60 tahun dan ia salat setiap hari 800 rakaat ” (Thabaqat al-Hanabilah, Ibnu Abi Ya’la, 1/61///0)

3. Bid’ah Hasanah Imam asy-Syafi’i, Melafadhkan Niat.

أخبرنا ابن خزيمة ، ثنا الربيع قال : « كان الشافعي إذا أراد أن يدخل في الصلاة قال : بسم الله ، موجها لبيت الله مؤديا لفرض الله عز وجل الله أكبر »

“Mengabarkan kepadaku Ibnu Khuzaimah, mengabarkan kepadaku Ar-Rabi’, ia berkata :” Imam Syafi’i ketika akan masuk dalam Shalat beliau mengucapkan : “Bismillah Aku menghadap ke Baitullah, menunaikkan kewajiban kepada Allah. Allahu Akbar.” (Al-Mu’jam, Ibnu Al-Muqri : 317)

4. Bid’ah Hasanah Mus’ab bin Tsabit bin Abdillah bin Zubair, Shalat 1000 rakaat setiap hari.

مُصْعَبُ بْنُ ثَابِتِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ الزُّبَيْرِ وَكَانَ مُصْعَب يُصَلِّي فِي الْيَوْمِ وَالَّلْيَلَةِ أَلْفَ رَكْعَةٍ وَيَصُوْمُ الدَّهْرَ

“Mush’ab bin Tsabit bin Abdillah bin Zubair, ia salat dalam sehari semalam 1000 rakaat ” (Shifat ash-Shafwah, Ibnu Jauzi, 2/197 dan al-Ishabah, al-Hafidz Ibnu Hajar, 2/326)

5. Ali Zainal Abdin, Sholat 1000 Rakaat Setiap hari.

ذُوْ الثَّفَنَاتِ عَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ عَلِي بْنِ أَبِي طَالِبٍ زَيْنُ الْعَابِدِيْنَ سُمِّيَ بِذَلِكَ لأَنَّهُ كَانَ يُصَلِّى كُلَّ يَوْمٍ أَلْفَ رَكْعَةٍ فَصَارَ فِي رُكْبَتَيْهِ مِثْلُ ثَفَنَاتِ الْبَعِيْرِ

“Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib (hiasan ahli ibadah), disebut demikian karena ia salat dalam sehari semalam sebanyak 1000 rakaat, sehingga di lututnya terdapat benjolan seperti unta” (Tahdzib al-Asma’, al-Hafidz al-Mizzi, 35/41)

6. Abu Qilabah, Shalat 400 rakaat setiap hari.

وَقَالَ أَحْمَدُ بْنُ كَامِلٍ الْقَاضِي: حُكِيَ أَنَّ أَبَا قِلاَبَةَ كَانَ يُصَلِّي فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ أَرْبَعَمِائَةٍ رَكْعَةً

“Qadli Ahmad bin Kamil berkata: Diceritakan bahwa Abu Qilabah shalat dalam sehari semalam sebanyak 400 rakaat ” (Tadzkirah al-Huffadz, al-Hafidz adz-Dzahabi, 2/120)

7. Sebagian ulama salaf mengganti shalat Tahiyyatul Masjid dengan ucapan :

سبحان الله والحمد لله ولااله الا الله والله اكبر

Dibaca sebanyak empat kali di saat mereka tidak sempat melakukan shalat Tahiyyatul masjid. Sebagaimana telah disebutkan oleh imam Nawawi dalam kitab al-Adzkarnya mukasurat: 32.

8. Bid’ah Hasanah Ibnu Mas’ud, Majlis setiap hari kamis.
Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi (Imam besar wahabi Takfiri) mengatakan :

والمقصود بيان ما نحن عليه من الدين وأنه عبادة الله وحده لا شريك له فيها بخلع جميع الشرك، ومتابعة الرسول فيها نخلع جميع البدع إلا بدعة لها أصل في الشرع كجمع المصحف في كتاب واحد وجمع عمر رضي الله عنه الصحابة على التراويح جماعة وجمع ابن مسعود أصحابه عل القصص كل خميس ونحو ذلك فهذا حسن والله أعلم

“ Maksudnya adalah menjelaskan apa yang kami lakukan dari agama dan yang merupakan ibadah kepada Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya, di dalamnya melepas semua bentuk kesyirikan dan mengikuti Rasul, kami melepas semua bentuk bid’ah kecuali bid’ah yang memiliki asal dalam syariat seperti mengumpulkan mushaf dalam satu kitab dan pengumpulan Umar ra kepada para sahabat atas shalat tarawih dengan berjamaah, dan pengumpulan Ibnu Mas’ud kepada para sahabatnya atas majlis kisah-kisah setiap hari kamis dan semisalnya, semua ini adalah baik wallahua’lam“ (Ar-Rasail asy-Syahsyiyyah, Muhammad bin Abdul Wahhab jilid 5 risalah yang keenam belas halaman : 103)

9. Bid’ah Hasanah imam Mujahid, Doa masuk rumah yang kosong.
Al-Hafidz Ibnu Katsir mengatakan :

روى الثوري عن عبد الكريم الجزري عن مجاهد : اذا دخلت بيتا ليس فيه احد فقل : بسم الله والحمد لله السلام علينا وعلى عباد الله الصالحين

“ Sufyan ast-Tsauri meriwayatkan dari Abdul Karim al-Jazri dari Mujahid, “ Jika kamu hendak masuk rumah yang kosong, maka ucapkanlah “ Bsimillah wal hamdu lillah, as-salaamu ‘alaina wa ‘ala ‘ibadillahish shaalihin “. (Tafsir Ibnu Katsir : 4/406)

10. Bid’ah Hasanah Ma’ruf al-Khurkhi, Melazimkan (Mewajibkan) dirinya shalat 100 raka’at setiap hari sabtu, disetiap satu rakaat ia membaca surat al-Ikhlas 10 kali. (Thabaqat al-Hanabilah : 2/488)

11. Bid’ah Hasanah Khalid bin Mi’dan. Al-Hafidz Ibn Rajab al-Hanbali mengatakan, “ Sesunggguhnya Khalid bin Mi’dan membaca tasbih setiap harinya sebanyak 40.000 kali selain membaca al-Quran “. Lihat kitab Jami’ al-Ulum : 1/446

12. Bid’ah Hasanah Bisyr bin Mufadhdhal. Beliau melakukan shalat setiap harinya sebanyak 400 rakaat. Lihat kitab Tadzkirah al-Huffadz, adz-Dzahabi : 1/309

13. Bid’ah Hasanah Ya’qub bin Yusuf al-Muthawwa’i. Wirid beliau setiap harinya membaca surat Qulhuwallahu Ahad (al-Ikhlash) sebanyak 31.000 kali atau terkadang 41.000 kali. Lihat sanad sahihnya dalam kitab al-Bidayah wa a n-Nihayah, Ibn Katsir : 11/84.

14. Bid’ah Hasanah Ubaid bin Umair. Beliau jika berada di pagi hari atau sore hari selalu mengucapkan doa berikut ini:

اللهم اني اسألك عند حضرة صلاتك وقيام دعاتك ان تغفر لي وترحمني

“ Ya Allah sesungguhnya aku memohon ketika menghadap/melakukan shalatmu dan menegakkan seruanmu untuk Engkau mengampuni dan merahmatiku “. Lihat kitab Mushannaf Ibnu Abi Syaibah : 7/37

15. Bid’ah Hasanah Urwah bin Zubair. Beliau ketika hendak makan selalu mengucapkan :

سبحانك ما احسن ما تبتلينا سبحانك ما احسن ما تعطينا ربنا ورب آبائنا الاولين

“ Maha suci Engkau, alangkah baiknya apa yang telah Engkau uji pada kami, dan alangkah baiknya apa yang telah Engkau berikan pada kami wahai Tuhan kami, Tuhan para nenek moyang kami yang terdahulu “. Kemudian beliau mengucapkan bismillah dan meletakkan tangannya. Lihat kitab Muhsannaf Ibnu Abi Syaibah: 6/73

16. Bid’ah Hasanah Ma’ruf al-Kurkhi. Dalam kitab Thabaqat al-Hanabilah disebutkan bahwasanya beliau melazimkan shalat setiap hari sabtu 100 rakaat, dan di setiap rakaatnya membaca surat al-Ikhlash 10 kali. Lihat kitab Thabaqat al-Hanabilah : 2/488

Dan sungguh sangat banyak lagi bid’ah hasanah yang dilakukan para ulama kita sejak masa salaf hingga saat ini.
Wallahua’lam.

Keutamaan dan Hikmah Menuntut Ilmu

keutamaan  menuntut ilmu
LbmMudi- Menuntut ilmu adalah ibadah yang sangat agung lagi mulia. Keutamaan ilmu dan orang yang menuntut ilmu sudah begitu jelas sebagaimana yang telah disebutkan, baik dalam al-Quran maupun hadits Nabi. Dan perlu diketahui bahwa ilmu yang mendapat pujian dalam al-Quran maupun sunnah adalah ilmu tentang syari’at Allah, ilmu yang menjelaskan tentang bagaimana beribadah kepada Allah, ilmu tentang halal dan haram dan lainnya. Adapun selain ilmu syar’i, maka hukumnya tergantung pada sejauh mana manfaat ilmu tersebut bagi Islam dan kaum muslimin. Jika kita mengetahui keutamaan ilmu ini, pasti akan semakin semangat untuk belajar Islam. Jika keutamaannya semakin membuat seseorang dekat dengan Allah, diridhai malaikat dan membuat penduduk langit, bumi tunduk, maka itu sudah jadi keutamaan yang luar biasa.

1. Yang paling takut pada Allah hanyalah orang yang berilmu
Hal ini bisa direnungkan dalam ayat:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. Fathir: 28).

Ibnu Katsir ra berkata dalam menafsirkan ayat tersebut, “Sesungguhnya yang paling takut pada Allah dengan takut yang sebenarnya adalah para ulama (orang yang berilmu). Karena semakin seseorang mengenal Allah Yang Maha Agung, Maha Mampu, Maha Mengetahui dan Dia disifati dengan sifat dan nama yang sempurna dan baik, lalu ia mengenal Allah lebih sempurna, maka ia akan lebih memiliki sifat takut dan akan terus bertambah sifat takutnya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 308).
Para ulama berkata:

من كان بالله اعرف كان لله اخوف
“Siapa yang paling mengenal Allah, dialah yang paling takut pada Allah.”

2. Keutamaan menuntut ilmu tercakup dalam hadits berikut:

عَنْ كَثِيرِ بْنِ قَيْسٍ قَالَ كُنْتُ جَالِسًا مَعَ أَبِى الدَّرْدَاءِ فِى مَسْجِدِ دِمَشْقَ فَجَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا أَبَا الدَّرْدَاءِ إِنِّى جِئْتُكَ مِنْ مَدِينَةِ الرَّسُولِ -صلى الله عليه وسلم- لِحَدِيثٍ بَلَغَنِى أَنَّكَ تُحَدِّثُهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَا جِئْتُ لِحَاجَةٍ. قَالَ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِى السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِى الأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِى جَوْفِ الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ »

Dari Katsir bin Qais, ia berkata, aku pernah duduk bersama Abu Darda’ di Masjid Damasqus, lalu datang seorang pria yang lantas berkata, “Wahai Abu Darda’, aku sungguh mendatangi dari kota Rasul saw (Madinah Nabawiyah) karena ada suatu hadis yang telah sampai padaku di mana engkau yang meriwayatkannya dari Rasulullah saw. Aku datang untuk maksud mendapatkan hadis tersebut. Abu Darda’ lantas berkata, sesungguhnya aku pernah mendengar Nabi saw bersabda, “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya di antara jalan menuju surga. Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya sebagai tanda ridha pada setiap penuntut ilmu. Sesungguhnya orang yang berilmu dimintai ampun oleh setiap penduduk langit dan bumi, hingga ikan yang berada dalam air. Sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu dibanding ahli ibadah adalah seperti perbandingan bulan di malam badar dari bintang-bintang lainnya. Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya Nabi tidaklah mewariskan dinar dan tidak pula dirham. Barangsiapa yang mewariskan ilmu, maka sungguh ia telah mendapatkan keberuntungan yang besar.” (HR. Abu Daud no. 3641).

Ada Ulama yang berpendapat tentang kelebihan Ilmu:

ولو لم يكن في العلم الا القرب من رب العالمين والالتحاق بعالم الملائكة وصحبة الملأ الاعلى لكفى به فضلا وشرفا فكيف وعز الدنيا والآخرة منوط به ومشروط بحصوله

“Seandainya keutamaan ilmu hanyalah kedekatan pada Rabbul ‘alamin (Rabb semesta alam), dikaitkan dengan para malaikat, berteman dengan penduduk langit, maka itu sudah mencukupi untuk menerangkan akan keutamaan ilmu. Apalagi kemuliaan dunia dan akhirat senantiasa meliputi orang yang berilmu dan dengan ilmulah syarat untuk mencapainya”

3. Orang yang Dipahamkan Agama, Itulah Orang yang dikehendaki kebaikan.
Dari Mu’awiyah, Nabi saw bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037).

Maksud Fakih di sini adalah orang yang banyak mengetahui masalah agama, jadi seseorang yang ingin Allah kehendaki kepada kebaikan, maka Allah akan memberinya pemahaman agama, karena mengetahui ilmu agama (alim) adalah salah satu kebaikan paling besar.

4. Akan Terus Hidup Setelah Mati.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda:

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seorang manusia mati maka terputuslah darinya amalnya kecuali dari tiga hal; dari sedekah jariyah atau ilmu yang diambil manfaatnya atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)

5. Ilmu Menghidupkan Hati Seperti Hujan yang Menyuburkan Tanah.

Dari Abu Musa, Nabi saw Bersabda:

مَثَلُ مَا بَعَثَنِى اللَّهُ بِهِ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ الْغَيْثِ الْكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا ، فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ قَبِلَتِ الْمَاءَ ، فَأَنْبَتَتِ الْكَلأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ ، وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتِ الْمَاءَ ، فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ ، فَشَرِبُوا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا ، وَأَصَابَتْ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى ، إِنَّمَا هِىَ قِيعَانٌ لاَ تُمْسِكُ مَاءً ، وَلاَ تُنْبِتُ كَلأً ، فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقِهَ فِى دِينِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِى اللَّهُ بِهِ ، فَعَلِمَ وَعَلَّمَ ، وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا ، وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ

“Perbandingan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengannya adalah bagai ghaits (hujan yang bermanfaat) yang mengenai tanah. Maka ada tanah yang baik, yang bisa menyerap air sehingga menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rerumputan yang banyak. Di antaranya juga ada tanah yang ajadib (tanah yang bisa menampung air, namun tidak bisa menyerap ke dalamnya), maka dengan genangan air tersebut Allah memberi manfaat untuk banyak orang, sehingga manusia dapat mengambil air minum dari tanah ini. Lalu manusia dapat memberi minum untuk hewan ternaknya, dan manusia dapat mengairi tanah pertaniannya. Jenis tanah ketiga adalah tanah qi’an (tanah yang tidak bisa menampung dan tidak bisa menyerap air). Inilah perbandinag orang yang memahami agama Allah, bermanfaat baginya ajaran yang Allah mengutusku untuk membawanya. Dia mengetahui ajaran Allah dan dia mengajarkan kepada orang lain. Dan demikianlah orang yang tidak mengangkat kepalanya terhadap wahyu, dia tidak mau menerima petunjuk yang Allah mengutusku untuk membawanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Bukhari membawakan hadis ini dalam kitab shahihnya pada Bab “Orang yang berilmu dan mengajarkan ilmu”. Imam Nawawi membawakan hadis ini dalam Shahih Muslim pada Bab “Perbandinagan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutus Nabi saw dengannya”.
Imam Nawawi menjelaskan: “Adapun makna hadis dan maksudnya, di dalamnya terdapat perbandingan bagi petunjuk Nabi saw dengan ghaits (hujan yang bermanfaat). Juga terdapat kandungan dalam hadis ini bahwa tanah itu ada tiga macam, begitu pula manusia.

Jenis pertama adalah tanah yang bermanfaat dengan adanya hujan. Tanah tersebut menjadi hidup setelah sebelumnya mati, lalu dia pun menumbuhkan tanaman. Akhirnya, manusia pun dapat memanfaatkannya, begitu pula hewan ternak, dan tanaman lainnya dapat tumbuh di tanah tersebut.
Begitu pula manusia jenis pertama, dia mendapatkan petunjuk dan ilmu. Dia pun menjaganya (menghafalkannya), kemudian hatinya menjadi hidup dan dia pun mengamalkan dan mengajarkan ilmu yang dia miliki pada orang lain. Akhirnya, ilmu tersebut bermanfaat bagi dirinya dan juga bermanfaat bagi yang lainnya.

Jenis kedua adalah tanah yang tidak mendatangkan manfaat bagi dirinya sendiri, namun bermanfaat bagi orang lain. Tanah ini menahan air sehingga dapat dimanfaatkan oleh yang lain. Manusia dan hewan ternak dapat mengambil manfaat darinya.

Begitu pula manusia jenis kedua. Dia memiliki ingatan yang bagus. Akan tetapi, dia tidak memiliki pemahaman yang cerdas. Dia juga kurang bagus dalam menggali faidah dan hukum. Dia pun kurang dalam melakukan ketaatan dan mengamalkannya. Manusia jenis ini memiliki banyak hafalan. Ketika orang lain yang membutuhkan yang sangat haus terhadap ilmu, juga yang sangat ingin memberi manfaat dan mengambil manfaat bagi dirinya, dia datang menghampiri manusia jenis ini, maka dia pun mengambil ilmu dari manusia yang punya banyak hafalan tersebut. Orang lain mendapatkan manfaat darinya, sehingga dia tetap dapat memberi manfaat pada yang lainnya.

Jenis ketiga adalah tanah tandus yang tanaman tidak dapat tumbuh di atasnya. Tanah jenis ini tidak dapat menyerap air dan tidak pula menampungnya untuk dimanfaatkan orang lain. Begitu pula manusia jenis ketiga. Manusia jenis ini tidak memiliki banyak hafalan, juga tidak memiliki pemahaman yang bagus. Apabila dia mendengar, ilmu tersebut tidak bermanfaat baginya. Dia juga tidak bisa menghafal ilmu tersebut agar bermanfaat bagi orang lain.” (Syarah Muslim, 15: 47-48).

Demikianlah beberapa Kelebihan dari orang yang berilmu, semoga kita selalu jadi orang yang mau mencari Ilmu dan mengamalkannya, sehingga bermanfaat di dunia dan akhirat. Wallahua’alm.

Berbagai Sumber

Pengertian, Pembagian dan Hikmah dari Puasa Tatawu' (sunat)

Puasa sunatSecara etimologi puasa Tatawu' adalah Qurbah (sesuatu untuk mendekatkan diri kepada Allah swt dengan ibadah yang bukan Fardhu).
Puasa adalah alat yang paling baik untuk membersihkan jiwa, memecahkan syahwat, melunakkan hati dan sebagai keadaban dari anggota jawarih bagi ibadah. Punya pahala yang besar dan balasan yang tidak terhingga.

Puasa Tatawu’ (puasa sunat) punya kelebihan yang tidak terhingga, yang hanya diketahui oleh Allah swt, dan karena itulah Allah menyandarkan puasa dalam hadis Qudsi kepada dirinya sendiri, berbeda dengan ibadah-ibadah lain yang disandarkan kepada pemiliknya sendiri.
Allah berfirman dalam hadis Qudsi ” setiap amalan anak adam bagi dirinya sendiri kecuali puasa. Karena puasa bagiku dan akulah yang akan membalasnya kepada anak adam”.
Dalam sebuah hadis disebutkan ”barang siapa yang puasa sehari karena Allah, niscaya Allah akan menjauhkannya dari api neraka selama 70 tahun”.

Pembagian puasa

Secara garis besar puasa sunat dibagi kepada tiga pembagian:
  1. Puasa yang berulang-ulang selama setahun
    maksudnya hanya ada setahun sekali. Seperti puasa Arafah, puasa‘asyura, puasa Tasu’a dan puasa Tarwiyah.
    Puasa Arafah adalah puasa hari ke 9 zulhijjah bagi orang yang tidak berhaji, puasa tarwiyah adalah puasa ke 8 zulhijjah. Adapun puasa Tasu’a dan Asyura adalah hari ke 9 (tasu’a) dan ke 10 (asyura) dari bulan Muharam.
    Puasa Arafah bisa jadi kafarah (penebus) dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Sedangkan Asyura jadi kafarah dosa Cuma pada tahun yang lalu.
    Kenapa Arafah 2 tahun dan Asyura Cuma setahun?
    Alasannya, karena Arafah adalah puasa yang hanya terkhusus diperdapatkan pada umat Muhammad, sedangkan Asyura tidak khusus tetapi ada pada zaman dan umat nabi Musa. Nabi Muhammad saw sendiri adalah Seafdhal-afdhal dari segala nabi dan rasul, makanya Arafah punya keistimewaan jadi kafarah dosa setahun lalu dan setahun akan datang.
  2. Puasa yang berulang-ulang dengan berulangnya minggu
    seperti puasa hari senin dan kamis. Puasa hari senin lebih Afdhal dari hari kamis, karena beberapa alasan seperti: Nabi saw dilahirkan pada hari senin, diangkat kepada Rasul juga hari senin, dan bahkan wafat pada hari senin.
    Hikmah berpuasa pada hari senin dan kamis adalah karena pada hari tersebut amalan hamba didatangkan kepada Allah swt.
    Amalan seorang hamba yang diangkat kelangit terjadi dua kali sehari yaitu amalan siang diangkat pada waktu asar dan amalan malam hari diangkat pada waktu subuh oleh malaikat yang berbeda. Kemudian pada setiap hari senin dan kamis didatangkan kepada Allah swt.
    Diangkat kelangit pada setiap minggu tidak bertentangan dengan diangkatnya amalan pada malam nisfu Sya’ban, karena pengangkatan amalan pada malam nisfu sya’ban adalah amalan secara jumlah selama setahun. Karena itulah nabi menyukai puasa pada saat diangkatnya amalan baik pada hari kamis dan senin atau malam nisfu sya’ban.
  3. Puasa yang berulang-ulang dalam sebulan
    seperti puasa pada hari-hari putih, yaitu puasa pada hari ke 13, 14 dan 15 setiap bulan.
    Banyak hadis sahih yang memerintahkan untuk berpuasa pada hari putih tersebut. Hikmahnya bepuasa 3 hari pada hari putih sama pahalanya dengan puasa selama sebulan penuh. Sehingga seseorang yang berpuasa pada hari putih sama seperti telah berpuasa setahun penuh. Kecuali pada hari ke 13 bulan zulhijjah, karena bertepatan dengan hari Tasyrik, maka diharamkan berpuasa dan diganti dengan hari yang ke 16.
    Menurut Imam Jalalul Bulqaini, gugur kesunahannya karena bertepatan dengan hari tasyrik dan tidak diganti dengan hari ke 16. Wallahua’alam.

Hasyiyah I'anahtutalibin hal. 299, 230, 231, juzuk 2, cet. Darul Fikri.

Pendapat Qadim Imam Syafi'i yang Lebih Kuat dari Jadid

beramal dengan pendapat qadim wajibPada dasarnya, setelah ada pendapat jadid kita tidak boleh beramal atau berpegang dengan pendapat qadim. Kecuali pada tempat-tempat yang telah di Tashih oleh para Mujtahid sesudah Imam Syafi'i kepada boleh beramal dengan pendapat qadim tersebut, maka hukum beramal dengan pendapat qadim adalah boleh bahkan wajib.

Berikut ini kami nukil pendapat-pendapat qadim yang telah ditashih dan wajib beramal dengannya.
  1. Pendapat qadim tidak wajib menjauhi najis dari air banyak (dua kulah). Pendapat jadid wajib menjahui dari najis pada air dua kulah.
  2. Pendapat qadim tidak bernajis air yang mengalir bila jatuh najis kecuali berubah. Pendapat jadid akan bernajis air tersebut walau tidak berubah
  3. Pendapat qadim tidak batal wudhuk dengan sebab menyentuh mahram. Pendapat jadid akan batal wudhuk dengan sebab menyuntuh mahram.
  4. Pendapat qadim haram makan kulit bangkai yang telah disamak. Pendapat jadil halal makan kulit bangkai yang disamak
  5. Pendapat qadim disunatkan taswib (baca: ashshalatu khairum minan naum) pada azan subuh. Pendapat jadid tidak disunatkan.
  6. Pendapat qadim Panjang waktu magrib hingga terbenam syafa’ merah. Pendapat jadid waktu magrib Cuma kadar untuk bersuci, menutup aurat, azan, iqamah dan shalat lima rakaat.
  7. Pendapat qadim sunat mendahului isya pada awal waktu. Pendapat jadid sunat mentakhirkan shalat isya pada akhir waktu.
  8. Pendapat qadim tidak disunatkan membaca surat pada 2 rakaat yang akhir (rakaat dua dan tiga). Pendapat jadid disunatkan membaca surat pada 2 rakaat yang terakhir.
  9. Pendapat qadim sunat jihar membaca amin bagi makmum pada shalat jahriyah. Pendapat jadid tidak disunatkan jihar.
  10. Pendapat qadim Sunat membuat garis di depan orang shalat jika tiada syahas (seperti dinding). Pendapat jadid tidak sunat membuat garis di depan orang shalat.
  11. Pendapat qadim boleh mengikuti munfarid (orang yang shalat sendirian) pada pertengahan shalat. Pendapat jadid tidak boleh boleh demikian.
  12. Pendapat qadim makruh memotong kuku mayat. Pendapat jadid tidak makruh kecuali bagi orang ihram.
  13. Pendapat qadim tidak disyaratkan sampai haul bagi wajib zakat pada barang tambang jahilillyah (rikaz). Pendapat jadid disyaratkan demikian.
  14. Pendapat qadim wali wajib megganti puasa wajib mayat. Pendapat jadid tidak wajib digantikan.
  15. Pendapat qadim boleh mensyaratkan tahahul dari ihram jika sakit. Pendapat jadid tidak boleh.
  16. Pendapat qadim Boleh bagi syarik (orang yang mempunyai hak bersama) untuk merehab barang yang rusak. Pendapat jadid tidak boleh dan cukup dengan ganti rugi.
  17. Pendapat qadim Mahar (mahar kawin) yang rusak harus diganti dhammatul yad (ganti yang ditetapkan syara') artinya kalau barang tersebut misil termasuk misil (bisa ditimbang, ditakar) wajib diganti barang sejenisnya dan kalau mutakawam (dihargakan) wajib dihargakan dengan harga yang stantar. Pendapat jadid digantikan dengan dhammatul a'di (yang disebutkan dalam akad)
  18. Pendapat qadim Sayid wajid dihad karena berzina dengan budak perempuannya yang masih mahramnya. Pendapat jadid tidak wajib dihad. Wallahua'lam.

(Bughyah Mustarsyidin, Hal. 8.   Sayid Abdurrahman bin Husain Lahir 1250 H, wafat 1320 H )


Definisi dan Pembagian Ruh

Ulama berbeda pendapat tentang ruh, mayoritas kaum Ahlussunnah wal Jamaah mengatakan, “ lebih baik kita memadai tentang penyebutan dan pembahasan ruh, karena ruh adalah bagian dari rahasia Allah, yang tidak diketahui oleh satupun makhluk Allah”.
Dalam satu riwayat disebutkan, kalau Nabi saw pernah ditanya tentang hakikat ruh, saat itu nabi tidak menjawab, karena tidak ada perintah untuk menjelaskannya. Dalam ayat Al-quran surat Isra’ ayat 85 disebutkan,:” mereka bertanya tentang hakikat ruh, katakan olehmu (muhammad), Ruh adalah urusan Allah swt”. Maka alangkah baiknya jika kita tidak membahas tentang bagaimana hakikat ruh itu sebenarnya, karena menghormati (taadduban) dengan Rasulullah saw.

Dari golongan ulama yang mendefinisikan ruh tersebut, ada sekitar 1000 pendapat tentang hakikat ruh. Jumhur mutakallimun memberi definisi: satu bentuk yang halus yang bercampur dengan badan, seperti bercampur air dengan ranting yang hijau. Dan menurur Ahlussunnah wal jamaah ruh tersebut kekal tidak fana.

Menurut satu kaum minoritas dari ulama Mutakallimin ruh tersebut adalah satu ‘arad yaitu wasaf Hayah (kehidupan), yang dengannya bisa menghidupkan tubuh (jasad) manusia. Sedangkan menurut ulama Sufiyyah dan Falasafah, Ruh tersebut bukan Jisim (yang berbentuk) dan bukan ‘Arad (wasaf tidak berbentuk), tetapi adalah Jauhar yang tidak mengambil tempat, yang berhubungan dengan badan (maksudnya hubungan yang mengatur kehidupan badan), ruh tersebut tidak masuk kedalam badan dan tidak pula keluar.

Pembagian Ruh

Ruh Umat Manusia terbagi kepada 5, yaitu:
  1. Ruh para Anbiya (nabi-nabi Allah):
    Ruh tersebut saat keluar dari tubuh para Anbiya akan jadi seperti Miski dan Kafur, berada dalam surga, makan, bernikmat-nikmat. Pada malam hari akan turun dan masuk ke dalam Qanadil yang digantungkan di bawah Arasy.
  2. Ruh para Syuhada (yang syahid karena Allah):
    jika mereka keluar dari tubuh, Allah akan memasukkan mereka ke dalam rongga satu burung yang hijau, yang berputar-putar di sekeliling sungai-sungai dalam surga.
  3. Ruh orang yang ta’at dari mukminin,
    jika keluar dari tubuh akan berada di taman surga, tidak makan dan tidak bernikmat-nikmat, tetapi hanya melihat ke dalam surga.
  4. Ruh orang yang maksiat dari mukminin,
    jika mereka keluar dari tubuh, mereka akan berada di udara di antara bumi dan langit.
  5. Ruh orang Kafir,
    jika keluar dari tubuh, mereka akan dimasukkan ke dalam rongga burung yang hitam dalam neraka sijjin. Neraka sijjin berada di bawah lapiasan bumi yang ke tujuh. Ruh tersebut bersambung dengan tubuh si kafir, saat di azab ruh, maka akan ikut menyakiti tubuh. Perbandingannya seperti matahari yang ada pada langit ke empat, sedangkan cahayanya tembus ke bumi. Wallahua’alam.

Hasyiyah I’anatuttalibin juzuk 2 halaman 122-123, cet. Darul Fikri.

Download Kitab Idhah Dalil fi Qath’i Hujaj Ahli at-Ta’thil karangan Ibnu Jamaah

Kitab Idhah Dalil fi Qath’i Hujaj Ahli at-Ta’thil karangan Ibnu Jamaahكتاب إيضاح الدليل في قطع حجج أهل التعطيل
Salah satu topik pembicaan dengan kaum wahabi adalah pembahasan tentang nash-nash mutasyabihat. Para ulama Ahlussunnah sepakat ada dua metode yang ditempuh oleh ulama dalam memahami nash mutasyabihat. Ulama salaf mentafwidhkannya; yaitu menyerahkan pemahamannya kepada Allah setelah memalingkannya dari makna dhahir (takwil ijmali). Sedangkan ulama khalaf, setelah memalingkan nash tersebut dari makna dhahir, mereka menentukan salah satu makna yang cocok dengan kecusian Allah sebagai tuhan (takwil tafshili).

Sedikit tulisan kami tentang topik ini bisa di baca di Takwil dan Tafwidh menurut Ulama Salaf dan Khalaf dan  Mengapa ulama Khalaf melakukan takwil?
 Sedangkan kaum wahabi, mereka bersikeras memaknai nash tersebut secara dhahir dan hakikat tidak boleh ditakwil sama sekali, kemudian untuk menghindari diri terjatuh dalam kaum mujassimah secara shareh, mereka mengatakan tanpa mengetahui tamsil dan kaifiyat. Namun mereka juga tak dapat menghindar harus mentakwil beberapa nash mutasyabihat seperti surat al-Hadid ayat 4, Thaha ayat 46, surat Qaf ayat 16, al-Baqarah ayat 19 dll. Inilah kebingungan kaum wahabi dalam memahami nash mutasyabihat. Menolak takwil secara mutlak pada sebagian nash dan terpaksa menerapkan takwil pada sebagian nash yang lain.

Kitab Idhah Dalil merupakan salah satu kitab yang bagus untuk memahami nash mutasyabihat tersebut. Kitab ini dikarang oleh Syaikhul Islam Muhammad bin Ibrahim bin Sa’dullah bin Jamaah yang lebih dikenal dengan Ibnu Jamaah (639 H- 728 H)
Dalam kitab ini Imam Ibnu Jamaah menjelaskan bagaimana pemahaman ulama salaf dan khalaf. Selanjutnya beliau menerangkan satu persatu nash-nash mutasyabihat dalam al-quran dan hadits disertai takwilnya berdasarkan ulama khalaf.

Kitab ini ditahqiq oleh seorang ulama Suria, Syeikh Wahbi Sulaiman Ghawaji al-Bani (bukan al-Bani salafi/wahabi). Pentahqiq juga menguraikan dengan panjang lebar dalam muqaddimahnya tentang topik ini.
Bagi yang ingin memiliki file pdf kitab ini silahkan di download di SINI , atau langsung ke Archive sedangkan file syamelanya (box) bisa di download di SINI, atau langsung ke web syamela

Taklid pada Masalah Tauhid, Bolehkah?

Taklid pada Masalah Tauhid
Wajib kepada setiap Muslim yang Mukallaf untuk mengetahui itikad 50, dan pada setiap akidah tersebut wajib pula untuk mengetahui dalil Ijmali dan Tafshilinya. Wajib di sini bermakna dosa bila tidak dikerjakan.
Wajib mengetahui dalil Tafshili merupakan pendapat dari sebagian para Ulama, sedangkan menurut Jumhur Ulama Tauhid memadai dengan dalil Ijmali.

Contoh dari dalil Tafshili misalnya, seseorang ditanyakan “apa dalil wujud-nya Allah?”. Dia menjawab: “ini makhluk”. Kemudian ditanyakan lagi kepadanya: ”makhluk ini menunjuki kepada wujud allah dari aspek mungkin wujudnya atau dari aspek wujud dan tidak wujudnya”. Saat dia menjawab pertanyaan tersebut dengan baik dan benar, maka dia telah dianggap mengetahui dalil Tafshili. Sedangkan jika dia tidak dapat menjawabnya, maka syara’ cuma menganggapnya mengetahui dalil Ijmali. Demikianlah analogi singkat perbedaan dalil Ijmali dan Tafshili.

Sedangkan taklid adalah mengetahui itikad 50 dengan tidak mengetahui dalil Ijmali dan Tafshilinya.
Ulama berbeda pendapat tentang boleh dan tidaknya Taklid, sebagian dari mereka mengatakan tidak boleh Taklid, dan menghukum orang yang Taklid tersebut kepada kafir. Golongan Ulama yang tidak membolehkan Taklid seperti Imam Sanusi dan Ibnul Arabi. Walaupun demikian, ada beberapa riwayat yang menyebutkan kalau Imam Sanusi merevisi pendapat tersebut dan mengakui tentang kebolehan Taklid. Namun pengarang kitab Kifayatul Awam mnegakui kalau beliau tidak menemukan satupun dalam kitab Imam Sanusi yang membolehkan Taklid.

Pernyataan pengarang Kifayatul Awam yang tidak melihat dalam kitab Imam Sanusi tentang kebolehan taklid tidak serta merta menafikan tentang adanya pendapat tersebut dari Imam Sanusi, karena boleh jadi ada kitab Imam Sanusi yang tidak dilihat oleh beliau, demikian menurut Syaikh Imam Bajuri dalam Hasyiyah Kifayatul Awam.

Perbedaan dalil Tafsili dan Ijmali

Dalil Tafsili adalah dimana seseorang dengan berpegang pada dalil tersebut sanggup untuk menjelaskan bagaimana sebuah dalil mengarah/tertuju kepada maksud(tujuan) atau sanggup menolak/membedakan syubhat( kesamaan) di antara dalil-dalil tersebut, sehingga sanggup untuk membedakan sebuah dalil yang secara ekplisit cocok dan sangat pantas kepada sebuah hukum, padahal sebenarnya dalil itu bukan untuk hukum tersebut, dan sanggup untuk menjawab semua debatan yang datang kepada dalil tersebut. Sedangkan dalil Ijmali adalah tidak sanggup melakukan satu atau semua hal yang telah di sebutkan( Tahqiqul kalam ‘ala kifayatil awam/15).

Hukum Menulis al-Quran di kuburan

Deskripsi Masalah
Salah satu peninggalan yang banyak ditemukan di Aceh adalah batu nisan terukir rapi dan indah dengan tulisan kaligrafi Arab. Di antara kaligrafi tersebut ada yang merupakan ayat-ayat al-Quran, terutama pada kuburan para ulama. Bagaimanakah hukum menuliskan kalam al-Quran di kuburan?

menulis alquran di batu nisan

Jawaban:
Terjadi perbedaan pendapat para ulama tentang hukum menulis kalimat al-quran pada kuburan. Mayoritas ulama Mazhab Syafii berpendapat makruh. Imam al-Azra’i menyatakan bahwa hukumnya adalah haram, beliau memberikan alasan bahwa kalau dituliskan lafadh al-quran akan membawaki kepada melecehkan al-Quran dengan sebab terinjak atau bercampurnya dengan najis atau lendir mayit ketika digalikan kembali untuk ditanam mayat yang lain.

Pendapat Imam al-Azra’i mendapat banyak penolakan dari kebanyakan para ulama lain. Imam Syarwani menyatakan, bahwa yang mu’tamad (kuat) adalah sebagaimana ithlaq ashhab bahwa penulisan tersebut hukumnya adalah makruh, baik dituliskan lafadh al-quran ataupun bukan. Beliau menyatakan bahwa efek penulisan al-quran yang di takutkan oleh Imam al-Azra’i yaitu akan mengotori lafadh al-quran, bukanlah sesuatu yang pasti.

Selain itu penulisan al-Qur-an di kuburan sama halnya dengan menuliskan al-Ismu al-A’dham sebagai pertanda pada badan hewan yang akan di kurbankan (udhiyyah), walaupun berakibat akan mengotori lafadh mulia tersebut, karena maksud dari penulisan lafadh tersebut bukanlah sebagai al-Ismu al-A’dham namun lebih kepada sebagai tanda dan tabaruk. Sehingga hukumnya boleh, baik ditakutkan hewan tersebut akan bernajis atau tidak. Maka penulisan al-Qur-an dikuburan bisa disamakan dengan penulisan al-Ismu al-A’dham pada kaki binatang, karena tidak dikasadkan al-Quran tapi hanyalah bertujuan untuk tafaul. Maka demikian juga halnya dalam penulisan lafadh al-quran di kuburan para ulama. Hal ini bertujuan sebagai tafa`ul dan tanda bahwa pemilik makam tersebut merupakan seorang yang shalih dan ulama.

Mazhab Maliki memiliki perbedaan dengan mazhab Syafi’i dari segi tulisan al-Quran, mereka menyatakan hukumnya haram, sedangkan menulis untuk mengingat nama atau tanggal kematian maka hukumnya makruh. Sedangkan ulama mazhab Hanbali memakruhkan tulisan tanpa perincian.

Kesimpulan tentang hukum menulis al-Quran dikuburan ada dua pendapat, pertama haram. Pendapat ini dikemukakan oleh Imam al-Azra’i dan Zarkasyi dengan alasan dapat mendatangkan najis dan merendahkan al-Quran. Pendapat kedua makruh. Pendapat ini adalah pendapat kebanyakan ulama dengan dalil keumuman pembahasan Ashabil wujuh yang memakruhkan tulisan diatas kuburan secara mutlaq serta mengkiyaskannya dengan masalah al-Ismu al-A’dham yang dituliskan pada kaki hewan qurban. Jadi pendapat inilah mungkin yang diamalkan kebanyakan masyarakat sekarang. Wallahu A’lam.!!

Fathul Jawad jilid 1 hal 370 Darul Kutub Ilmiyah.
Hasyiah Jamal Jld 3 hal 236 Darul Kutub Ilmiyah.
Tuhfatul Muhtaj Jilid 3 hal 207 Darul Fikri.

Empat Macam Perkara yang Hanya Ada (Khususiat) Pada Baginda Nabi Saw

    angan-angan kosong
  1. Mubahat (Takhfifat)
    memudahkan beberapa perkara, karena untuk meringankan. Seperti memutuskan hukum semata-mata dengan ilmu bahkan pada Had-had Allah swt secara ittifaq (tidak ada khilaf), berbeda dengan selain Nabi pada boleh dan tidaknya memutuskan hukum dengan ilmu terjadi khilaf, dan pendapat yang membolehkan mengharuskan bukan pada Had Allah swt. Nabi juga boleh menghukum dan naik saksi kepada dirinya sendiri, anak-anaknya, nabi juga boleh mengambil tanah larangan bagi dirinya sendiri, sekalipun mengambil tanah larangan tersebut tidak pernah terjadi dari Nabi saw, diterima persaksian orang lain yang naik saksi kepada nabi saw. Nabi juga boleh mengambil makanaan orang lain jika berhajat kepada makanan tersebut. Dan kita wajib untuk memberikan makanan tersebut kepada nabi saw. Keringanan lain adalah pada masalah wudhu’, Nabi dengan sebab tertidur tidak membatalkan wudhu’. Dan masih banyak lagi keringanan-keringanan lain yang sebagian besarnya tidak digunakan oleh Nabi saw.
  2. Muharramat (Yang diharamkan)
    maksudnya beberapa perkara yang dihramkan kepada nabi saw tapi tidak kepada selain beliau. Seperti diharamkan menerima sedekah tatawu’ (sunat), dan seperti nabi diharamkan melihat mata benda orang lain dalam keadaan lama (mengintip). Dan beberapa perkara lain, karena nabi maksum maka sudah pasti perkara-perkara haram tersebut tidak dilakukan oleh Nabi saw.
  3. Wajibat (yang wajib)
    maksudnya wajib kepada nabi tapi tidak kepada selain Nabi. Seperti shalat dhuha, shalat witir, bersiwak saat hendak shalat, berkurban. Dan lain sebagainya.
  4. Fadhail wal Ikram (Kelebihan-kelebihan untuk memuliakan)
    maksudnya perkara-perkara tersebut hanya ada pada Nabi saw, dan tujuannya adalah semata-mata untuk memuliakan Nabi saw. Seperti Nabi dibolehkan untuk lebih dari empat orang. Pernikahan pada hak Nabi adalah semata-mata untuk Ibadah, untuk memuliakan Nabi saw, berbeda dengan pernikahan kita. Karena itulah semakin banyak pernikahan Nabi saw, maka semakin banyak pula lah ibadah dan kemuliaan tersebut. Istri-istri Nabi juga punya kelebihan dibandingkan dengan perempuan pada umumnya, baik dari segi pahala atau ‘iqab. Istri-istri Nabi jadi Ummul Mukminin adalah untuk memuliakan, seperti Nabi sendiri jadi Bapak Bagi seluruh kamu laki-laki dan perempuan. Kita juga diharamkan untuk berbicara kepada istri-istri nabi, kecuali di belakang hijab. Wanita paling Afdhal di muka bumi ini adalah Maryam binti Imran, kemudian Fathimah Zuhra binti Muhammad saw. Kemudian khadijah Kubra dan kemudian Aisyah binti Abu bakar. Keempat wanita ini termasuk kepada Wanita-wanita yang terbaik diantara yang baik, di dalam surga kelak sebagaimana dalam beberapa riwayat. Wallahua’lam.

Sumber : Hasyiyah Syarqawi 'ala Tuhfathut Thulab Syarhi Tangkihul Lubab, hal 249 jilid 2 Cet. DKI.

Metode penyusunan kitab-kitab Figh klasik

metode penyusunan kitab figh klasik dan salafiFigh merupakan salah satu disiplin ilmu syar’i yang sangat penting keberadaannya setelah Tauhid. Jika dengan Tauhid seseorang akan mengenal Tuhan, maka dengan ilmu Figh seseorang akan tahu bagaimana cara beribadah kepada Tuhan, baik ibadah yang Wajib atau lainnya.

Dalam ilmu Figh seseorang akan tahu cara bersuci, shalat, jual beli, menikah dan lain-lain. Secara garis besar Figh dibagi kepada empat bagian, yaitu: Ibadah, Muamalah, Munakahat dan Jinayat. Ulama-ulama terdahulu saat menyusun kitab Figh punya satu ketentuan yang tidak baku, maksudnya tidak harus seperti selalu seperti demikian walaupun rata-rata dan kebanyakan akan menerapkan metode tersebut.

Dalam kitab-kitab Figh klasik, pembahasan pertama yang dibahaskan adalah masalah Ibadah, karena Ibadah merupakan suatu amalan yang langsung berhubungan dengan Allah swt. Maka tidak mengherankan jika kitab-kitab figh klasik selalu dimulai dengan Bab Shalat, atau Bab Thaharah (bersuci), karena Thaharah merupakan Wasail (perantara) dalam beribadah. Kemudian dilanjutkan dengan Muamalah, karena kepentingan manusia pada umumnya kepada Muamalah sangat besar dibandingkan kepada lainnya. Ini wajar mengingat manusia merupakan makhluk sosial yang sangat membutuhkan kepada sesama, baik dalam hal ekonomi atau lainnya.

Setelah dua bagian tersebut, para Ulama membuat batas pada tengah-tengahnya dengan Ilmu Faraid, sebelum melanjutkan kepada dua bagian terakhir. Alasannya sederhana, karena ilmu Faraid merupakan setengah dari ilmu figh. Disebut setengah ilmu figh karena setengah Faraid ada pada orang yang masih hidup (Waris) dan setengahnya ada pada orang yang telah meningal (Muwarris). Maka tidak mengherankan jika kita biasa menjumpai masalah Faraid pada tengah-tengah kitab Figh.

Bagian yang ketika dari ilmu Figh adalah Munakahat, karena biasanya setelah manusia memunaikan syahwat perut (Muamalah), mereka akan berhajat kepada syahwat Faraj (kemaluan) yang mana jalan menghalalkannya adalah dengam pernikahan. Bagian terakhir dalam disiplin ilmu Figh adalah Jinayat (Pembunuhan dan yang berhubungan dengannya) yang di dalamnya termasuk pembahasan Syahadah (persaksian) dan Aqdhiyyah (metode qadhi/hakim dalam memutuskan sengketa), ini dkarena tabiat manusia juga, karena manusia biasanya setelah memenuhi syahwat perut dan kemaluan mereka akan bertengkar, yang mana pertengkaran tersebut terkadang sampai kepengadilan dan membutuhkan saksi.

Terakhir, ke empat bagian dalam ilmu Figh tersebut ditutup dengan Bab ‘Itqu (Memerdekakan/membebaskan hamba sahaya). Hal ini bukan kebetulan, tapi sesuatu yang sudah direncanakan. Musannif berharap dengan menutup pembahasan seluruh isi kitab Figh dengan Bab kemerdekaan hamba sahaya, akan merdekanya seluruh manusia dari api Neraka di akhirat kelak. Wallahua’lam.

Sumber : Hasyiyah Al-Bajuri

donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja