Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Uwais Al Qarni Sosok Yang Dikenal Di Langit Dan Tak Dikenal Di Bumi

Dikisahkan oleh Ibnu Ibbad Ar Rundi dalam kitab Syarah Al Hikam seorang manusia yang bermana Uwais Al Qarni beliau adalah sebaik-baik aulia pada masa tabi’in.

Seorang sangat hina didepan manusia yang berambut pirang dan terdapat dua lingkaran putih dibadannya sebesar dirham. ejekan serta hinaan dari manusia kerab ia dapatkan dalam kesehariannya, karena ia seorang yatim dan miskin hidup sebatang kara dengan bundanya yang tercinta, pada suatu hari ia mendapatkan hadiah dua pakaian dari ulama Kufah Karena Uwais sering mengahadiri majelis ilmu sebelum manusia mengenalnya, maka pada waktu itu mereka menuduh Uwais dengan tuduhan pencuri, menurut mereka Uwais sangatlah tidak mungkin ia mempunyai pakaian hingga dua lembar karena ia sangat miskin kecuali dengan cara mencuri. Kemudian setelah itu ia tidak lagi menghadiri majlis ilmu lebih-lebih setelah kalifah Umar bin Khatab menyerukan di mimbar pidatonya dengan menanyakan siapa di antara mereka yang bernama Uwais Al Qarni dengan menyebutkan beberapa ciri-ciri yang pernah diucapkan Rasulullah saw.

Uwais Al Qarni anak yang yatim menjalani kehidupan bersama ibundanya, ia sangat taat dan berbakti kepada ibunya, pada hari kiamat nanti ketika hamba-hamba Allah masuk surga sedangkan Uwais Al qarni diperintahkah untuk berhenti supaya ia memberi syafaat bagi manusia yang belum masuk surga ,maka manusia masuk surga atas syafaat Uwais Al Qarni sebanyak kabilah muzar terutama bagi mereka yang berbakti kepada dua orang tuanya.

Rasulullah saw telah berpesan kepada sahabat Umar bin Khatab dan Ali bin Abi Thalib tentang kemuliaan Uwais Al Qarni serta Rasulullah SAW menyebut ciri-cirinya, bahwa Uwais seorang lelaki berkulit sawo matang dibadan tepat dibahu bawah sebelah kiri terdapat dua bintik putih sebesar uang dirham yang merupakan bekasan dari penyakit lepra yang ia derita dan setelah ia berdoa kepada Allah swt, lalu Allah menyembuhkannya. Diantara ciri-cirinya juga ia berambut perang, bermata biru, dada mempunyai bidang yang lebar, kepalanya selalu menunduk ke bawah dan selalu meletakkan tangan kanannya diatas tangan kirinya ketika berjalan, ibadahnya sangat khusyuk dengan memanjangkan sujudnya dan membaca Al Quran dengan meneteskan air mata, jika bersumpah maka Allah akan menampakkan sumpahnya. ‘’Wahai Umar dan Ali jika kalian berjumpa dengan Uwais Al qarni mintalah ampun supaya Allah mengampuni kedua kalian’’ Sabda Rasulullah saw.Hal ini merupakan alahkah mulianya sosok Uwais Al Qarni.

Berdasarkan pesan baginda Rasulullah saw, sahabat Umar dan Ali mencari sosok yang mulia Uwaisy Al Qarni tersebut. Umar bin Khatab selalu memberi aba-aba ketika musim haji siapakah diantara mereka yang bernama Uwais Al Qarni?, pada waktu itu tiba-tiba diantara mereka ada yang memberi kabar tentang Uwais, bahwa ia adalah pengembala yang sedang menjaga ternak jamaah haji yang berada di perbatasan kota Mekah, maka dengan segera Umar dan Ali pergi menuju ke tempat tersebut, sesampai pada tempat yang telah dikabarkan tersebut, mereka melihat seseorang yang sedang mengembala kambing dengan ciri-ciri yang pernah didengarnya dari Rasulullah saw, maka tidak lain itulah sosok Uwais Al Qarni majhul (tidak dikenal) di bumi dan ma’ruf (terkenal) di langit. 

Kemudian terjadi perbincangan panjang antara Umar, Ali dan Uwais Al qarni.
Umar dan Ali : ‘’wahai fulan sipakah namamu ?
Uwais : Saya Abdullah (hamba Allah).
Umar dan Ali : ya memang kita semua hambanya Allah, akan tetapi siapakah namamu yang telah yang diberikan ibumu ?
Uwais : (Tidak menjawab)
Umar dan Ali : Rasulullah semasa hidupnya pernah berpesan kepada kami tentang ciri-ciri seseorang yang mulia bernama Uwais Al Qarni.
Uwais : Mudah-mudahan itu bukan aku wahai khalifah
Umar dan Ali : wahai fulan kami ingin membuktikan sabda Rasulullah saw padamu sudikah engkau menyebutkannya, sedangkan ini adalah perbuatan yang wajib kita lakukan
Uwais : Jika demikian aku menjawab ‘’ya memang saya Uwais Al Qarni sebagai bukti ini pesan Rasulullah saw yang wajib kita buktikan.
Umar dan Ali : wahai Uwais doakan keampunan bagi kami dan setelah ini kapan kita boleh bertemu kembali ?
Uwais : Baiklah, tetapi Wahai Umar dan Ali aku tidak akan membuat perjanjian antara kalian untuk bertemu lagi, sebaiknya kita berpisah saja supaya aku tidak dikenal oleh seorangpun setelah ini ( lalu ia menyerahkan binatang ternak pada pemiliknya dan pergi ).

Maka itulah perbincangan anatar Umar,Ali dan Uwais Al Qarni seorang aulia pada tabi’in yang tidak ingin dikenal oleh manusia walaupun sekaliber khalifah Umar dan Ali. Dalam riwayat disebutkan ketika Uwais Al Qarni meninggal dunia tiba-tiba saja sudah banyak manusia yang tidak dikenal telah melayatkannya dan melakukan fardhu kifayah sehingga orang-orang setempat pulang dengan harapan keesokan harinya mereka menziarahi kuburnya. Tetapi yang terjadi sebaliknya yaitu kuburnya menghilang tidak ada dari mereka mengetahuinya.

Kitab Syarh Al hikam Hal.14, Syarah Ibnu ibbad Arundi
Berikut pidato Abiya Muhammad tentang  Uwais Qarni


Orang Kafir Memandikan Jenazah Muslim

Diskripsi masalah:

Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati, namun kita tidak mengetahui kapan dan dimana akan menemui ajal, kadangkala ajal menjemput kita ketika sedang berada di kampung halaman, namun tidak tertutup kemungkinan kita meninggal di perantauan, bagaimanakah jika kita meninggal di lingkungan mayoritas non muslim dan dimandikan oleh mereka ?

Pertanyaan:

Bolehkah yang memandikan mayit itu dari kalangan non muslim ?

Jawaban:

Memandikan mayit tujuannya adalah untuk membersihkan si mayit (nadhafah) sekalipun yang memandikan bukan ahli bagi niat (nonmuslim) karena berdasarkan pendapat kuat tidak disyaratkan niat dari orang yang memandikan sehingga boleh dimandikan oleh non muslim.

Referensi:

(قوله وىكفى غسل كافر) اى للمىت وذلك لحصول المقصودمن غسله وهوالنظافةوان لم ىكن اهلاللنىةلان نىةالغاسل لاتشترط على الاصح
Ianatuttalibin hal 109 juz 2 cetakan haramain.


(ولاتجب نىةالغاسل)اى لاتشترط فى صحةالغسل(فى الاصح)لان القصدبغسل المىت النظافة وهى لا تتوقف على نىة.والثانى يجب لانه غسل واجب كغسل الجنابة فينوى عندافاضةالماءالقراح الغسل الواجب او غسل المىت ذكره فى شرح المهذب
Kitab Al mahalli hal 376 juz 1 cet Darul fikri.

Hikmah Basuhan Setiap Anggota Wudhu

Deskripsi masalah:

Wudhu merupakan ibadah wajib sebelum shalat, juga merupakan syarat bagi shalat, setiap perbuatan wudhu, mempunyai beberapa faedah tersendiri, Antara Lain:

1.Basuh dua tangan,memasukkan air ke dalam hidung(mazmazah),memasukkan air ke hidung(istunsyaq) hikmahnya adalah untuk mengetahui sifat sifat air apakah masih bisa di gunakan atau tidak baik segi warna nya atau rasa dan bau.Sebahagian ulama mengatakan di syariatkan membasuh ke dua tangan untuk makan makanan dari surga nantinya,begitu pula mazmazah(memasukkan air ke hidung) bertujuan untuk bisa berkalam dengan Allah azza wajalla,Instinsyaq di syariatkan juga karena dengannya akan dapat mencium bau bau surga.

2.membasuh muka,hikmahnya untuk melihat zat Allah swt di akhirat kelak,

3.membasuh dua tangan untuk bisa memakai pernak pernik surga berupa gelang dan sebagainya.

4.menyapu kepala agar bisa memakai mahkota esok di akhirat.

5.membasuh telinga untuk bisa mendengar kalamullah

6.membasuk kaki,hikmahnya untuk bisa berjalan ke syurganya .

Referensi: Al Bajuri Juz 1 Hal 55.

(فاىدة) الحكمة فى ندب غسل الكفىن والمضمضة الخ...

Thalaq Adalah Perbuatan Yang Dibenci Allah

Deskripsi masalah

Talaq(perceraian) secara etimologi adalah melepaskan ikatan nikah dengan lafad-lafad yang bisa menjatuhkan talaq.
Talak merupakan pekerjaan yang boleh tapi mendapat kemarahan dari Allah SWT.

Pertanyaan

Apa alasannya sehingga Allah begitu marah terhadap perceraian ?

Jawaban

Kita ketahui bersama tujuan utama (maksud a'zam ) dari pernikahan adalah menyambung keturunan ,nah dengan melakukan talak ini seseorang telah memutuskan tali keturunan kedua karena dengan perceraian dapat menyakiti hati istri dan anak yang ditinggalkannya.

Referensi :Ianatuttalibin hal 4 jilid 4 cet haramain:

والطلاق اشد بغضا الى الله من غىره لما فىه من قطع النسل الذى هوالمقصودالاعظم من النكاح ولما فىه من اىذاءالزوجة واهلها واولادها.

Donwload Kitab Bid’ah Idhafiyah DR. Ali Saif Ashry

Salah satu topik yang selalu diperdebatkan  kaum wahabi adalah masalah bid’ah. Kaum wahabi berusaha membid’ahkan beberapa amalan umat muslim yang telah direkomendasikan oleh ulama semenjak dahulu. Mereka mengatakan bahwa amalan yang didalamnya terdapat unsur-unsur yang dasarnya dibolehkan seperti tahlilan, yasinan dll merupakan bid’ah idhafiyah. Banyak para ulama yang telah menuliskan kitab yang membahasa masalah bid’ah, menolak bid’ah ala kaum wahabi salafi. Salah satu karya yang baik yang khusus membahas bid’ah idhafiyah adalah Kitab Bi’dah Idhafiyah karya DR. Syeikh Shaif Ashry. Kitab ini pada dasarnya merupakan disertasi beliau untuk mendapatkan gelar Doktor. Beliau telah melahirkan beberapa karangan yang berisi pembelaan terhadap aqidah Ahlussunnah W al Jamaah. Selain itu beliau juga aktif di media sosial fb yaitu https://www.fb/saif.alasri  . Video pengajian dan ceramah beliau juga banyak di youtube.Beliau juga menjadi salah satu nara sumber dalam muktamar Ahlussunnah Wal Jamaah beberapa waktu lalu di Chehnya.

Bagi yang berminat dengan file pdf kitab ini silahkan donwload DI SINI

Doa-Doa Yang Dianjurkan Ketika Musibah Datang


Musibah adalah cobaan Allah kepada hamba-hamba-Nya dalam bentuk perkara yang tidak disukai hamba namun Rida terhadap keputusan Allah tersebut karena mereka yakin kalau apa yang Allah berikan adalah yang terbaik buat mereka.


Terlepas dari kepada siapa Allah memberikan musibah tersebut, tentu sebagai orang beriman yakin terhadap apa yang telah diajarkan Rasulullah kepada kita semua untuk bersabar terhadap musibah yang sedang menimpa. Berikut sedikit ulasan tentang anjuran do'a bagi orang-orang yang sedang tertimpa musibah berdasarkan hadits Rasulullah.

Dianjurkan bagi seseorang yang sedang ditimpa musibah, musibah pada dirinya sendiri, keluarga atau hartanya meskipun musibahnya ringan untuk memperbanyak membaca:

إنا لله وإنا إليه راجعون أللهم أجرني في مصيبتي واخلف علي خيرًا منها

Artinya : "sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nyalah kami kembali. Ya Allah, berikanlah fahala (kesabaran) kepadaku terhadap musibah yang sedang menimpa diriku dan gantikanlah kebaikan kepadaku daripada musibah ini".

Karena Allah berjanji kepada siapa saja yang mau membaca do'a tersebut dikala musibah datang, bahwa rahmat dan kasih sayang senantiasa tercurah kepada mereka dan sesungguhnya mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk. Dan karena hadits riwayat Imam Muslim pun mengatakan bahwa siapa saja yang membaca do'a tersebut bahwa Allah pasti memberikan fahala dan menggantikannya dengan kebaikan.

Ibn Khubair berpendapat bahwa khusus kepada umat ini (umat Muhammad) diberikan sesuatu ketika musibah yang tak pernah diberikan kepada umat sebelumnya yaitu "Innalillah wa Inna Ilaihi raji'un". Bila memang do'a tersebut pernah diberikan kepada umat sebelumnya, sungguh Nabi Ya'qub AS akan mengucapkannya dan beliau tidak akan mengatakan:

يآسفى على يوسف

"Aduhai dukacitaku terhadap Yusuf". (QS 12: 84)


Semoga Allah senantiasa menjadikan kita dalam golongan orang-orang yang bersabar dalam keadaan sempit dan menjadi orang-orang yang bersyukur dalam kesenangan dan kebahagiaan. amin ya rabbal 'alamin.

Referensi: I'anah al Thalibin Juz 2, Hal 147

ويتأكد لمن ابتلي بمصيبة - بميت، أو في نفسه، أو أهله، أو ماله، وإن خفت  أن يكثر إنا لله وإنا إليه راجعون اللهم أجرني في مصيبتي، واخلف علي خيرا منها


Hukum Shalat Jenazah Bagi Orang Yang Terlambat Hadir

Deskripsi masalah:

Shalat Jenazah adalah shalat yg dikerjakan sebanyak 4 kali takbir waktu mengerjakannya saat ada seorang muslim yang meninggal dunia. Hukum melakukan shalat jenazah adalah fardhu kifayah atau kewajiban yg dituntut kepada orang banyak (muslim) tetapi bila sebagian orang sudah melaksanakannya maka gugurlah kewajiban bagi yang lainnya.

Pertantanyaan:

Bolehkah kita menshalati jenazah yang sudah di shalatkan orang karena kita terlambat hadir ?

Bagaimanakah hukum mengulangi (i'adah) shalat jenazah ?

Jawaban:

Boleh (sunnah), jenazah yang sudah di shalatkan bila ada orang yang terlambat datang maka sunnah bagi orang tersebut untuk menshalatinya bahkan bila ada orang yang datang lagi juga disunnahkan untuk menyalatinya lagi, orang yang melakukan shalat jenazah pada kali kedua dan ketiga harus meniatkan shalat fadhu dan mendapatkan fahala shalat fardhu (kifayah) sebagaimana yang didapatkan oleh orang yang melakukannya pada kali pertama, namun yang terlebih afdhal (bagi orang yang terlambat datang) melakukannya di kuburan (sesudah jenazah dimakamkan) karena mengikuti Nabi.

Adapun bagi orang yang sudah melakukan shalat jenazah tidak disunnahkan mengulanginya lagi walau secara berjamaah, bila diulangi lagi akan mendapatkan fahala sunnah sebagian ulama berpendapat hukumnya khilaf aula (makruh).

Referensi:

Tuhfatul Muhtaj, Juz 3, Hal 228.

وَإِذَا صَلَّى عَلَيْهِ فَحَضَرَ مَنْ لَمْ يُصَلِّ صَلَّى) نَدْبًا لِأَنَّهُ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - «صَلَّى عَلَى قُبُورٍ جَمَاعَةً وَمَعْلُومٌ أَنَّهُمْ إنَّمَا دُفِنُوا بَعْدَ الصَّلَاةِ عَلَيْهِمْ» وَمِنْ هَذَا أَخَذَ جَمْعٌ أَنَّهُ يُسَنُّ تَأْخِيرُهَا عَلَيْهِ إلَى بَعْدَ الدَّفْنِ وَتَقَعُ فَرْضًا فَيَنْوِيهِ وَيُثَابُ ثَوَابُهُ وَإِنْ سَقَطَ الْحَرَجُ بِالْأَوَّلِينَ لِبَقَاءِ الْخِطَابِ بِهِ نَدْبًا وَقَدْ يَكُونُ ابْتِدَاءُ الشَّيْءِ سُنَّةً وَإِذَا وَقَعَ وَقَعَ وَاجِبًا كَحَجِّ فِرْقَةٍ تَأَخَّرُوا عَمَّنْ وَقَعَ بِإِحْرَامِهِمْ الْإِحْيَاءُ الْآتِي (وَمَنْ صَلَّى) نُدِبَ لَهُ أَنَّهُ (لَا يُعِيدُ عَلَى الصَّحِيحِ) وَإِنْ صَلَّى مُنْفَرِدًا لِأَنَّ صَلَاةَ الْجِنَازَةِ لَا يَنْتَفِلُ بِهَا

(قَوْلُهُ وَتَقَعُ فَرْضًا) أَيْ تَقَعُ صَلَاةُ مَنْ لَمْ يُصَلِّ فَرْضًا كَالْأُولَى نِهَايَةٌ وَمُغْنِي (قَوْلُهُ سَقَطَ إلَخْ) عِبَارَةُ النِّهَايَةِ وَالْمُغْنِي لَا يُقَالُ سَقَطَ الْفَرْضُ بِالْأُولَى فَامْتُنِعَ وُقُوعُ الثَّانِيَةِ فَرْضًا لِأَنَّا نَقُولُ السَّاقِطُ بِالْأُولَى حَرَجُ الْفَرْضِ لَا هُوَ وَأَوْضَحَ ذَلِكَ السُّبْكِيُّ - رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى - فَقَالَ فَرْضُ الْكِفَايَةِ إذَا لَمْ يَتِمَّ بِهِ الْمَقْصُودُ بَلْ تَجَدَّدَ مَصْلَحَتُهُ بِتَكَرُّرِ الْفَاعِلَيْنِ كَتَعَلُّمِ الْعِلْمِ وَحِفْظِ الْقُرْآنِ وَصَلَاةِ الْجِنَازَةِ إذْ مَقْصُودُهَا الشَّفَاعَةُ لَا يَسْقُطُ بِفِعْلِ الْبَعْضِ وَإِنْ سَقَطَ الْحَرَجُ وَلَيْسَ كُلُّ فَرْضٍ يَأْثَمُ بِتَرْكِهِ مُطْلَقًا اهـ.

Mahalli juz 1,hal 348, Cet Darul Ihya Al Kutub

((وَإِذَا صَلَّى عَلَيْهِ فَحَضَرَ مَنْ لَمْ يُصَلِّ صَلَّى) «لِأَنَّهُ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - صَلَّى بَعْدَ الدَّفْنِ» كَمَا تَقَدَّمَ، وَمَعْلُومٌ أَنَّ الدَّفْنَ إنَّمَا كَانَ بَعْدَ صَلَاةٍ، وَتَقَعُ الصَّلَاةُ الثَّانِيَةُ فَرْضًا كَالْأُولَى وَسَوَاءٌ كَانَتْ قَبْلَ الدَّفْنِ أَمْ بَعْدَهُ جَزَمَ بِهِ فِي الرَّوْضَةِ كَأَصْلِهَا فَيَنْوِي بِهَا الْفَرْضَ كَمَا ذَكَرَهُ فِي شَرْحِ الْمُهَذَّبِ عَنْ الْمُتَوَلِّي (وَمَنْ صَلَّى لَا يُعِيدُ) أَيْ لَا تُسْتَحَبُّ لَهُ الْإِعَادَةُ. (عَلَى الصَّحِيحِ) وَالثَّانِي تُسْتَحَبُّ فِي جَمَاعَةٍ لِمَنْ صَلَّى مُنْفَرِدًا، كَذَا فِي الرَّوْضَةِ وَأَصْلِهَا، وَفِيهِ تَوْجِيهُ النَّفْيِ بِأَنَّ الْمُعَادَةَ تَكُونُ تَطَوُّعًا، وَهَذِهِ الصَّلَاةُ لَا تَطَوُّعَ فِيهَا، وَنَقَضَهُ فِي شَرْحِ الْمُهَذَّبِ بِصَلَاةِ النِّسَاءِ مَعَ الرِّجَالِ عَلَى الْجِنَازَةِ فَإِنَّهَا تَقَعُ نَافِلَةً فِي حَقِّهِنَّ، وَهِيَ صَحِيحَةٌ، وَقَالَ فِيهِ عَلَى الصَّحِيحِ لَوْ صَلَّى ثَانِيًا صَحَّتْ صَلَاتُهُ، وَإِنْ كَانَتْ غَيْرَ مُسْتَحَبَّةٍ وَتَقَعُ نَفْلًا.

Bahaya Seorang Perempuan Yang Murka Kepada Suami

Dikisahkan ada seseorang pemuda pada masa Bani Israil yang tertimpa sakit yang parah namun dia mempunyai seorang ibu yang sangat sayang kepadanya, melihat anaknya dalam kondisi sakit parah tersebut,sehingga dia menazar: Jika Allah memberi kesembuhan terhadapnya maka ia akan keluar dari dunia selama 7 hari dan malam, ternyata sesudah ibunya menazar Allah SWT memberikan kesembuhan kepada pemuda tersebut (anaknya), padahal ketika itu ibunya belum menyempurnakan nazarnya,maka tatkala pada suatu malam ia bermimpi bahwa ada orang yang mendatanginya dan berkata: sempurnakanlah nazarmu supaya Allah tidak menimpakanmu dengan musibah yang berat. 

Maka manakala tiba di pagi harinya dia langsung memanggil anaknya dan bercerita tentang kejadian mimpi yang semalam, kemudian memerintahkan anaknya agar menggalikan kubur di tempat pengakaman umum supaya dikuburkan dalam kubur tersebut karena menunai hak nazarnya,maka di saat anak telah melakukan hal tersebut, kemudian turunlah ibunya kedalam kubur itu seraya ia berkata: wahai tuhanku,penghuluku, dan yang menguasai daku telah saya lakukan kepayahan dan kesanggupanku ini serta telah saya sempurnakan nazarku maka jagalah aku dari segala mara-bahayamu, maka setelah itu anak menguburkan ibunya dan kemudian dia pulang. tiba-tiba ibunya sedang di dalam kubur ternyata dia melihat dari sisi kepalanya ada lobang dan cahaya yang terbentang. manakala ia meneliti kedalam lobang tersebut nampaklah sebuah taman yang di dalamnya ada 2 perempuan, lalu kedua perempuan itu memanggilnya: wahai perempuan kemarilah, maka diapun mendatangi tempat ke dua perempuan itu yang sedang duduk di kolam yang lapang, kemudian dia memberi salam kepada keduanya, malah mereka tidak menjawab salam, kemudian dia ”bertanya: kenapa kalian tidak menjawab salamku?
keduanya menjawab: sesungguhnya salam adalah ta’at namun kami terhalang menjawabnya.
Di saat dia sedang duduk di sisi keduanya, terbanglah 2 ekor burung yang 1 mengibas sayap diatas kepala salah satu keduanya, sedangkan burung lain mematuk yang lain dengan paruhnya.
“Kemudian dia bertanya kepada perempuan pertama, dengan apa kamu peroleh karomah ini?
Perempuan pertama menjawab: di saat aku bersama suamiku di dalam dunia aku selalu mematuhinya dan dikala aku meninggal dunia ia meridhaiku, oleh sebab itu Allah SWT memuliakanku dengan ini karamah.

Kemudian ia bertanya kepada perempuan yang kedua:apa sebabnya kamu terkena dengan musibah ini?
Perempuan kedua menjawab: sebenarnya aku adalah seorang perempuan yang solehah selama di dalam dunia,namun aku memiliki seorang yang selalu berbuat maksiat terhadapnya dan saat aku meninggal dunia dia marah kepadaku ,akibat kemarahan suamiku maka Allah menyiksaku dengan ini siksaan, maka aku sangat berharap apabila kamu kembali kedalam dunia agar menjumpai suamiku untuk meminta maaf dari segala kesalahanku yang pernah aku lakukan di dalam dunia, supaya ia memaafkan dan meridhai aku. ketika telah sampai 7 hari berkata oleh kedua perempuan tersebut: berdirilah dan kembalilah kedalam kubur mu karena anakmu telah datang untuk mencarimu, tatkala ia memasuki kuburnya diketika itu anaknya sedang menggalikan kubur, kemudian dia mengeluarkan ibunya dan membawa pulang kepada rumahnya.

Maka tersebarlah berita dia telah menyempurnakan nazarnya kemudian datanglah manusia termasuk suami si perempuan yang disiksa dalam kubur untuk menziarahinya,lalu dia menceritakan kepada suami perempuan itu tentang hal istrinya, dengan mendengar cerita tersebut sehingga suaminya memaafkan atas kesalahan dosa istrinya. maka ketika tiba pada waktu malam seorang perempuan yang menazar tersebut bermimpi bertemu dengan istri pemuda itu, dia berkata aku sudah terlepas dari pada siksa kubur dengan sebab engkau, semoga Allah membalas kebaikan kepadamu dan memaafkan segala dosamu.


Referensi: Kitab An-Nawadir halaman (17-18)

Hukuman Liwat

Ulama berbeda pendapat mengenai efek jera yang diberikan kepada orang yang melakukan liwat (berhubungan sesama jenis). Sebahagian ulama berpendapat: hukuman kepada pelaku liwat seperti hukum zina. Jika pelaku muhsan maka dirajam dan jika bukan muhsan dicambuk seratus kali. pendapat ini dikemukakan oleh Sa’id bin Musayyab, ‘Atak bin Abi Rubah, Hasan, Kutadah dan Nakh’i, Imam suri, Auza’i dan Imam Syafi’I berpendapat seperti demikian. Dihikayahkan pula dari Abi Yusuf, Muhammad bin hasan hukuman kepada korban liwat dicambuk seratus kali. Dan diisolasi (diusir) dari balad setahun laki-laki atau perempuan, muhsan atau bukan.

Sebahagian ulama berpendapat: hukuman liwat dirajam baik si muhsan atau bukan. Pendapat lain Imam Syafi’i: pelaku dan korban liwat dibunuh mati. Menurut al-Hafiz: Empat khalifah islam (Abu Bakar, Ali, Abdullah bin Zubir dan Hisyam bin Abdul Malik) membakar orang berbuat liwat.

قال البغوي: اختلف أهل العلم في حد اللوطي، فذهب إلى أن حد الفاعل حدُّ الزنا: إن كان محصنًا يرجم، وإن لم يكن محصنًا يجلد مائة. وهو قول: سعيد بن المسيب، وعطاء بن أبي رباح، والحسن، وقتادة، والنخعي. وبه قال الثوري؛ والأوزاعي؛ وهو قول الشافعي. ويحكى أيضًا عن أبي يوسف، ومحمد بن الحسن. وعلى المفعول به عند الشافعي على هذا القول جلد مائة، وتغريب عام رجلًا كان أو امرأة، محصنًا كان أو غير محصن. وذهب بعضهم إلى أن اللوطي يرجم محصنًا كان أو غير محصن. والقول الآخر للشافعي أنه يقتل الفاعل والمفعول به وقال الحافظ: حَرَقَ اللوطيةَ بالنار، أربعة من الخلفاء: أبو بكر، وعلي، وعبد الله بن الزبير، وهشام بن عبد الملك

Referensi: Tahqiq fatawa An-Nawawi, Juz. 1, hal. 184

Azab Dan Nikmat Kubur Bagi Jenazah Yang Tenggelam Di Laut.

Deskripsi masalah:

Nikmat kubur merupakan karunia yang diberikan Allah bagi hamba-hambanya yang patuh terhadapNya, begitu juga dengan azab yang akan diberikan Allah bagi hamba-hamba yang melanggar perintah-Nya.

Pertanyaan:

Bagaimanakah Allah menyiksa atau memberi nikmat jenazah yang tidak dimakamkan..?

Nikmat dan azab kubur akan Allah berikan kepada roh namun demikian Allah akan memberi nikmat kepada si mayit walau badannya telah hancur lebur atau tenggelam dalam laut, juga Allah akan memberi nikmat kepada si manyit walau tubuhnya telah hancur atau dimakan serigala karna hal tersebut secara logika merupakan sesuatu yang mungkin dan wajib dipercaya dan dipatuhi.
Adapun yang sering kita dengar-dengar ‘’azab kubur dan nikmat kubur’’ itu karena dilihat kebiasaan, namun secara hakikat setiap manyit yang disiksa oleh Allah atau yang diberikan nikmat maka dimanapun mayit itu berada tetap akan tersiksa atau mendapatkan nikmat walau tidak dimakamkan.

و عذاب القبر للروح والبدن ولا يمنع من ذالك كون الميت قد تفرقت أجزاؤه أو أكلته السباع أو حيتان البحر أو نحو ذالك، فإن ذلك أمر ممكن عقلا وقد ورد به الشرع فوجب إعتقاده وقبوله—-(تنبيه) إنما أضيف العذاب والنعيم إلى القبر لأنه الغالب وإلا فكل ميت أراد الله تعالى عذابه أو نعيمه ناله ما أراده له قبر أو لم يقبر أو يقال قبر كل ميت بحسبه.

Tanwirul Qulub, hal 59 Cet Al-hidayah.

Tuhfatul Murid (syarah jauharah tauhid), hal 100 cet Toha Putra.


Tabligh Di Belakang Imam

Deskripsi Masalah:

Shalat jamaah merupakan suatu ibadah yang sangat besar pahalanya di sisi Allah, bahkan dalam sebagian mazhab, hukum shalat jamaah adalah fardhu 'ain, jamaah shalat fardhu terkadang mencapai jumlah yang sangat banyak, sehingga tidak lagi sampai suara imam kepada makmum, maka  dibutuhkan seorang muballigh, yaitu orang yang meneruskan takbir intiqal imam, sehingga makmum mengetahui perbuatan shalat imam.

Apa hukumnya tabligh di belakang imam dan hukum salat si muballigh?

Jawab:

Imam dianjurkan menjihar takbir ihram, tasmi’ dan salam dan i’lam (memberi tau) kepada makmum. Imam yang suaranya sampai kepada makmum yang berada di dalam mesjid maka hukum tabligh makruh. Adapun suara imam yang tidak terjangkau kepada orang-orang shalat maka disunnatkan tabligh dengan ketentuan si muballigh itu tidak meniatkan takbir ihramnya sebagai iblagh saja, jika diniatkan, maka salatnya menjadi batal.

Referensi: Muhammad Mutawalli as-syakrawi, Al-Fatawa, Cet Maktabah Tauqifiyyah, Hal 210.

على الإمام أن يجهر بالتكبير والتسميع والسلام والإعلام من خلفه فمن كان صوته يصل إلى من في المسجد, فالتبليغ مكروه وأما إن كان صوت الإمام لايصل الى المصلين فيستحب التبليغ على ألا يقصد المبلغ بتكبيرة الإحرام الإبلاغ فقط وإلا فسدت صلاته



Bolehkan Wanita haid Menulis Al-Quran Atau Mushaf ?

Deskripsi Masalah:

Al Quran adalah kitab suci ummat Islam, yang sangat dianjurkan bagi setiap muslim untuk membacanya dengan menjaga adap dan kesopanan supaya Al Quran menjadi syafaat pada hari kiamat bagi pembacanya, namun jika tidak menjaga kesopanan maka Al Quran akan melaknat pembacanya kemudian ia akan mendapatkan siksa pada kiamat nanti.

Pertanyaan:

Namun bolehkan menulis Al Quran bagi seseorang yang sedang junub atau berhadas kecil ?

Jawaban:

Menurut pendapat yang Shahih Boleh menulis Al-Quran baik seseorang dalam keadaan berhadas besar (Seperti Haid) atau berhadas kecil dengan tidak mengangkatnya, tetapi jika ia mengangkat tulisan tersebut maka hukumnya haram.

Kitab Tibyanul Fi Adabi Hamlatil Quran Hal 105 (Cet: darul Kutub Islamiyah):
اذا كتب الحنب او المحدث مصحافا, ان كان يحمل الورقة اويسمها حال الكتابة فحرام, وان لم يحملها ففيه ثلاث اوجه , الصحيح : جوازه والثاني تحريمه والثالث يجوز للمحدث ويحرم على الحنب

Hukum Nikah


Secara fitrah laki-laki suka kepada perempuan sebagaimana perempuan suka kepada laki-laki. Suka sama suka tersebut kadang-kadang berujung kepada pernikahan dan tidak sedikit pula yang gagal kepelaminan dengan bermacam-macam faktor, seperti: faktor ekonomi, tidak ada restu orang tua.


Pertanyaan:

Apakah nikah masuk kategori amalan akhirat atau amalan dunia?

Jawab:

jika nikah diniatkan mengikuti rasulullah SAW atau memperoleh keturunan yang shalih, iffah jiwa, menjaga kemaluan, mata, menjaga hati dan lain seumpamanya maka dia itu masuk amalan akhirat dan mendapat pahala. Dan jika tidak diniatkan demikian, hukumnya mubah dan masuk kategori amalan dunya, tidak memperoleh pahala bagi yang melakukannya dan tidak pula berdosa.



Referensi: Fatawa An-Nawawi, Jld. I, Hal 179.

ان قصد به شيئًا من الطاعات، بأن قصد الاقتداء برسول الله - صلى الله عليه وسلم -، أو تحصيلَ ولد صالح، أو إعفافَ نفسه، وصيانةَ فرجه، وعينه، وقلبه، ونحو ذلك، فهو من أعمال الآخرة وُيثابُ عليه، وإن لم يقصد به شيئًا من ذلك فهو مباح من أعمال الدنيا وحظوظ النفس، ولا ثواب فيه، ولا إِثم (٢)، والله أعلم.

Cara Mudah Menghitung Haidh

Deskripsi Masalah :

Haid adalah darah yang keluar dari rahim perempuan melalui vagina, minimal umur seorang wanita yang sudah mengeluarkan darah haid adalah 9 tahun ( Tahun Qamariah ). Haidh yang keluar kadang -kadang sehari 3 jam misalnya, lalu keluar lagi dihari berikutnya.

Pertanyaan :

Bagaimana cara mengetahui batas minimal dan maksimal keluar darah yang dikategorikan dalam darah haidh ?

Jawaban :

1. Batas Minimal Haidh

Minimal waktu haid adalah sehari semalam ( 24 Jam ) dengan ketentuan darah tersebut keluar secara ittisal ( terus menerus ), maksud ittisal disini jika seandainya dimasukkan kapas kedalam vagina maka kapas itu akan kotor dengan darah, bukan maksud ittisal disini adalah darah tersebut mesti keluar banyak sehingga perlu dicuci.

2. Batas Maksimal Haidh

Maksimal waktu haid adalah 15 hari dan 15 malam ( 360 jam ), tidak ada ketentuan harus ittisal pada poin ini , boleh ittisal boleh tidak, akan tetapi jika darah tersebut keluar tidak ittisal maka masa yang keluar haid dalam jangka 360 jam harus ada minimal 24 jam saat dijumlahkan.

Misalnya : Keluar darah tanggal 1 adalah 5 jam lalu bersih, tanggal 6 adalah 5 jam lalu bersih, tanggal 11 adalah 5 jam lalu bersih, tanggal 14 adalah 9 jam lalu bersih, maka ini adalah darah haid karena saat dijumlahkan hasilnya 24 jam darah keluar dalam kurun waktu 15 hari.

jika darah yang keluar tidak ittisal ( dalam jangka 360 jam ) tidak mencapai batas minimal ( 24 jam )maka ini bukan darah haid tetapi darah fasid.

Misalnya : Keluar darah tanggal 1 adalah 5 jam lalu bersih, tanggal 6 adalah 5 jam lalu bersih, tanggal 11 adalah 5 jam lalu bersih, tanggal 15 adalah 5 jam lalu bersih, maka ini bukan darah haid karena saat dijumlahkan hasilnya 20 jam darah keluar dalam kurun waktu 15 hari.

Referensi :


(باب الحيض) وما يذكر معه من الاستحاضة والنفاس (أقل سنه تسع سنين) قمرية تقريبا، فلو رأت الدم قبل تمام التسع بما لا يسع
حيضا وطهرا فهو حيض، أو بما يسعهما فلا. (وأقله) زمنا (يوم وليلة) أي قدر ذلك متصلا كما يؤخذ ذلك من مسألة تأتي آخر الباب. (وأكثره خمسة عشر) يوما (بلياليها) وإن لم يتصل أخذا من المسألة الآتية، وغالبه ستة أو سبعة كل ذلك بالاستقراء من الإمام الشافعي - رضي الله عنه - (وأقل طهر بين الحيضتين) زمنا (خمسة عشر) يوما لأن الشهر لا يخلو عادة عن حيض وطهر، وإذا كان أكثر الحيض خمسة عشر يوما لزم أن يكون أقل الطهر كذلك

Kanzu al-Raghibin syarah Minhaj Hal 99 Juz 1 Cet Dar Ihya.


(قوله: وأقله) أي الحيض.
وقوله: يوم وليلة أي قدرهما مع اتصال الحيض، وهو أربع وعشرون ساعة.
والمراد بالاتصال أن يكون نحو القطنة بحيث لو أدخل تلوث، وإن لم يخرج الدم إلى ما يجب غسله في الاستنجاء.
(قوله: وأكثره) أي الحيض.
وقوله: خمسة عشر يوما أي بلياليها، وإن لم يتصل، لكن بشرط أن تكون أوقات الدماء مجموعها أربع وعشرون ساعة فإن لم يبلغ مجموعها ما ذكر كأن دم فساد، وهو مع نقاء تخلله حيض،

Ianatutthalibin Hasyiah Fathul Muin Hal 72 Juz 1 Cet Haramain.

Hak Dan Kewajiban Korban Perkosaan

Deskripsi Masalah:

Zina adalah hubungan intim yang terjadi di luar nikah dan dilakukan secara sukarela, baik dilakukan atas dasar saling suka maupun dilakukan secara sepihak, yang dikenal dengan dengan perkosaan, oleh karena demikian, dalam syariat islam tidak sama perlakuan penzina dan korban asusila, penzina dihukum dengan di cambuk seratus kali jika penzina berstatus lajang, dan di rajam jika penzina berstatus muhsan ( pernah melakukan hubungan intim yang sah sebelumnya).

Pertanyaan:

Apakah ia berhak mahar ?

Jawab:
ia berhak mendapatkan mahar dari pemerkosa dengan mahar misil (mahar standar yang dibandingkan dengan anggota keluarganya yang lain).

 و(لا تضمن منفعة البضع ) وهو الفرج ( إلا بتفويت ) بالوطء فيضمنه بمهر المثل كما سيأتي ولا يضمن بالفوات لأن اليد لا تثب عليه بل اليد على منفعته للمرأة بدليل أن السيد يزوج أمته المغصوبة ولا يؤجرها لأن يد الغاصب حائلة.
(مغني المحتاج ص 286 ج2 الشاملة)

Ucapan Terakhir Imam Syafi’i Mejelang Wafat

Imam Asyafi’i adalah seorang mujtahid yang memiliki kepribadian yang sangat luhur, diantaranya, beliau adalah seorang yang alim dan zuhud yang sederhana dalam bersikap dan berbicara. Ketaqwaannya kepada Allah SWT senantiasa mewarnai kehidupannya. Dalam pandangan Beliau bahwa tidak ada orang yang hina di dunia ini melainkan mereka yang mau menjual harga dirinya demi mendapatkan kedudukan di dunia ini.
 Beliau berkata “cukuplah mareka dengan secuil roti kasar, karena setelah mati nanti mareka hanya membutuhkan sebidang ruang sempit tanpa tikar’’ ringkasnya, As-Syafii sangat menganjurkan agar dalam hidup ini harus bersifat qana’ah (merasa cukup dengan apa yang diberikan Allah dan tidak rakus).

Sehingga di kisahkan, bahwa Imam Al-Muzani sahabat Imam Asyafi’i berkata ; ‘’saya menjenguk Imam Asyafi’i saat sakit menjelang wafatnya, kemudian saya bertanya kepadanya; ’’ wahai Abu Abdillah bagaimana keadaanmu? “, beliau mengangakat kepalanya lantas berkata ; ‘’ Aku akan berpisah dengan sahabat-sahabatku , pergi dari dunia ini dan bertemu dengan kejelekan amalku, kemudian aku akan menghadap Allah, aku tidak tau apakah ruhku akan pergi ke syurga sehingga aku mengucapkan selamat kepadanya, ataukah ke Neraka sehinga aku menolaknya ‘’, selajutnya beliau menangis. Dalam riwayat yang lain di ceritakan, bahwa salah seorang murid Beliau yang bernama Muzani datang menjenguk disaat menjelang akhir hayatnya di dunia ini dan pemulaan bangkitnya di akhirat. Saat itu Imam Asyafi’I hanya bisa berbaring di pembaringannya , imam Muzani bertanya padanya , ‘’ bagaimana keadaanmu?’’ Beliau menjawab, ‘’Aku merasa sebentar lagi meninggalkan dunia ini dan berpisah dengan sahabat-sahabatku, segelas anggur kematian telah aku teguk dan hanya pada Allah aku kembali. Sungguh demi Allah Aku tidak tau kemana ruhku akan berjalan. Ke Surgakah atau ke Neraka ? jika kesurga maka aku akan selamat jika ke Neraka maka aku akan celaka .’’ setelah berkata demikian beliau menangis sambil melantunkan bait-bait berikut:

Kalau hatiku mengeras dan jalanku mulai menyempit, Aku hanya bisa berharap rintihan ampunan-Mu.
Dosa-dosaku amat besar, namun jika Aku bandingkan dengen ampunan-Mu ya Rabb, ampunan-Mu jauh lebih besar.
Enggkau senantiasa melimpahkan ampunan atas segala dausa dan Engkau tiada pernah bosan dalam memberi ampunan.


Apakah Penyakit Ambeien (Wasir) Membatalkan Puasa

Diskripsi Masalah :

Memasukan benda ('ain) ke dalam rongga yang terbuka seperti dubur dan lainnya adalah sesuatu yang membatalkan puasa, jika hal ini dilakukan dengan sengaja maka wajib bagi seorang muslim yang sedang berpuasa menahan diri atau imsak (tidak makan misalnya) hingga waktunya berbuka, karena menjaga kehormatan bulan Ramadhan .

Namun jika seseorang yang berpuasa terkena penyakit Ambeien (Wasir), karena Ambeiennya keluar kemudian ia memasukkannya kembali dengan jari ke dalam duburnya.

Pertanyaan :

Apakah memasukkan Ambien kembali kedalam dubur bisa membatalkan puasa ? .Layaknya memasukkan benda (’ain) yang disebutkan di atas.

Jawab :

Pendapat yang kuat (Asah) Tidak membatalkan puasa dengan memasukkannya  dengan jari, Karena Ambeien adalah penyakit yang berdampak mudharat menurut syara’.

Referensi :

Mughni Muhtaj Jilid 1 hal 429 Dar Fikr:

لو خرجت مقعدة المبسور فردها قصدا أنه يفطر والأصح كما في التهذيب والكافي أنه لا يفطر لاضطراره إليه كما لا يبطل طهر المستحاضة بخروج الدم

Jika keluar Ambien kemudian dimasukkannya kembali secara sengaja, maka ia dapat membatalkan puasa, tetapi pendapat yang kuat sebagaimana dalam kitab Tazhib dan Al-Kafi tidak membatalkan puasa kerena mudharat sebagaimana tidak batal wudhu mustakhazah karena keluar darah.

Tuhfah Muhtaj jilid 3 hal 444 Dar Fikr:

و لو خرجت مقعدة مبسور لم يفطر بعودها وكذا ان أعادها

Jika keluar Ambien kemudian dimasukkannya kembali, maka  tidak membatalkan puasa.

Fathul Mu’in dan Hasyiah Ianatuth Thalibin ilid 2 hal 259 Dar Fikr:

ولو خرجت مقعدة مبسور: لم يفطر بعودها، وكذا إن أعادها بأصبعه، لاضطراره إليه. ومنه يؤخذ - كما قال شيخنا - أنه لو اضطر لدخول الاصبع إلى الباطن لم يفطر، وإلا أفطر وصول الاصبع إليه

Jikalau keluar Ambien kemudian dimasukkannya kembali tidak membatalkan puasa.

قوله: وكذا إن أعادها بأصبعه) أي وكذلك لا يفطر إن أعادها بواسطة أصبعه

Demikian juga tidak membatalkan puasa walaupun dimasukkannya (Ambeien) dengan jarinya.

Status Puasa Dalam Kondisi Jima'

Di bulan Ramadhan, terkadang kita tidur setelah subuh tanpa membersihkan mulut sebelumnya, sedangkan ketika bangun untuk melaksanakan shalat subuh, masih ada makanan yang tersisa di dalam mulut, demikian juga orang yang bersenggama di malam hari, tanpa disadari, ternyata terbangun di pagi hari masih dalam kondisi berjima, masih sahkah puasa keduanya ?


Pertanyaan :

Bagaimana status puasa orang yang mulutnya masih tersisa makanan, dan status puasa orang yang sedang bersetubuh sedangkan fajar telah terbit.

Jawaban :

Puasa orang tersebut sah apabila ia langsung mengeluarkan makanannya sebelum ada yang masuk ke dalam jaufnya, demikian pula orang yang sedang bersetubuh juga tetap sah jika ia langsung melepasnya dengan spontan ketika ia sadar bahwa fajar telah terbit.

ولو طلع الفجر و في فمه طعام فلفظه قبل ان ينزل شيء لجوفه صح صومه , وكذا لو كان مجامعا عند ابتداء طلوع الفجر فنزع في الحال اي عقب طلوعه فلا يفطر وان انزل , لأن النزع ترك للجماع , فان لم ينزع حالا لم ينعقد الصوم وعليه القضاء و الكفارة .(اعانة الطالبين, طه فوتر, الجزء الثاني, الصفحة 234)

“Seandainya fajar terbit, sedangkan mulutnya masih berisi makanan kemudian melepih(mengeluarkan) sebelum ada yang masuk kedalam jaufnya maka puasanya tetap sah. Demikian pula bila fajar mulai terbit ia masih dalam persetubuhan lalu dengan spontan ia melepasnya maka puasa tidak batal sekalipun inzal, karena dengan melepasnya berarti ia telah meninggalkan persetubuhan. Jika tidak dilepas dengan spontan maka puasanya tidak dianggap oleh syara’ dan ia diwajibkan mengkadhanya dan membayar kafarah.

(I’anatut Thalibin, cet. Toha Putra, juz. 2, hal 234)

Hukum Shalat Dan Memandikan Jenazah Kafir

Deskripsi masalah:

Sahalat jenazah merupakan fardhu kifayah bagi seluruh ummat Islam dalam sebuah daerah sehingga bila seseorang diantara kaum Muslim meninggal dunia dan tidak ada yang menyalatinya maka seluruh ummat Islam dalam daerah tersebut berdosa begitu pula hukum memandikannya.

Pertanyaan:

Bagaimanakah hukum shalat dan memandikan jenazah kafir?

Jawaban:

Menyalati jenazah si kafir(zimmi atau harbi) walau masih kecil hukumnya haram dan shalatnya tidak sah karena tujuan dari shalat jenazah adalah untuk meminta keampunan terhadap si mayat, sedangkan orang kafir mustahil mendapatkan keampunan dari Allah.
Adapun hukum memandikan jenazah kafir tidak wajib ( boleh ) karna tujuan dari memandikan jenazah adalah untuk memuliakan mayat dan kafir bukan bagian dari orang yang harus dimuliakan.




Referensi:

Kitab Mahalli juzu' 1, hal 394 cet Haramain.

وَتَحْرُمُ) الصَّلَاةُ (عَلَى الْكَافِرِ) حَرْبِيًّا كَانَ أَوْ ذِمِّيًّا، قَالَ تَعَالَى: {وَلا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا} [التوبة: ٨٤] (وَلَا يَجِبُ غُسْلُهُ) عَلَى الْمُسْلِمِينَ ذِمِّيًّا كَانَ أَوْ حَرْبِيًّا، لَكِنْ يَجُوزُ لَهُمْ وَقَدْ غَسَّلَ عَلِيٌّ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - أَبَاهُ، رَوَاهُ، أَبُو دَاوُد وَغَيْرُهُ، وَضَعَّفَهُ الْبَيْهَقِيُّ، وَضَمَّ فِي شَرْحِ الْمُهَذَّبِ إلَى الْمُسْلِمِينَ غَيْرَهُمْ فِي الشِّقَّيْنِ وَإِلَى الْغُسْلِ التَّكْفِينَ وَالدَّفْنَ فِي الْجَوَازِ لِلْمُسْلِمِ وَيُقَاسُ بِهِ غَيْرُهُ وَسَوَاءٌ فِي الْجَوَازِ الْقَرِيبُ وَالْأَجْنَبِيُّ، وَسَيَأْتِي فِي الزِّيَادَةِ أَنَّ الْقَرِيبَ الْكَافِرَ أَحَقُّ مِنْ الْمُسْلِمِ.

قَوْلُهُ: (وَتَحْرُمُ) أَيْ وَلَا تَصِحُّ عَلَى الْكَافِرِ وَلَوْ حُكْمًا كَالطِّفْلِ، لِأَنَّ مَنْ لَمْ يَبْلُغْ مِنْهُمْ يُعَامَلُ فِي الدُّنْيَا مُعَامَلَةَ الْكُفَّارِ، وَالصَّحِيحُ أَنَّهُمْ فِي الْآخِرَةِ فِي الْجَنَّةِ خَدَمًا لِأَهْلِهَا، وَمَحَلُّ الْحُرْمَةِ فِيمَنْ تَحَقَّقَ كُفْرُهُ، وَإِلَّا فَكَالْمُسْلِمِ

قَوْلُهُ: (قَالَ تَعَالَى: {وَلا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ} [التوبة: ٨٤] إلَخْ) أَيْ وَلِأَنَّ غُفْرَانَ الشِّرْكِ مُحَالٌ، وَالْمَقْصُودُ مِنْ الصَّلَاةِ الدُّعَاءُ قَوْلُهُ: (أَوْ حَرْبِيًّا) لِأَنَّ الْغُسْلَ كَرَامَةٌ، وَلَيْسَ الْكَافِرُ مِنْ أَهْلِهَا.


Nihayatul Muhtaj jilid 2, hal 567, cet Darul kutub.

  وَتَحْرُمُ الصَّلَاةُ (عَلَى الْكَافِرِ) وَلَوْ ذِمِّيًّا لِقَوْلِهِ تَعَالَى {وَلا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا} [التوبة: ٨٤] ؛ وَلِأَنَّ الْكَافِرَ لَا يَجُوزُ الدُّعَاءُ لَهُ بِالْمَغْفِرَةِ لِقَوْلِهِ تَعَالَى {إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ} [النساء: ٤٨] (وَلَا يَجِبُ غُسْلُهُ) عَلَى أَحَدٍ بَلْ يَجُوزُ وَإِنْ كَانَ حَرْبِيًّا إذْ لَا مَانِعَ؛ لِأَنَّهُ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أَمَرَ عَلِيًّا بِغُسْلِ أَبِيهِ، لَكِنْ ضَعَّفَهُ الْبَيْهَقِيُّ وَكَانَ لَهُ أَمَانٌ، وَإِنَّمَا لَمْ يَجِبْ لِأَنَّهُ كَرَامَةٌ وَتَطْهِيرٌ وَلَيْسَ هُوَ مِنْ أَهْلِهِمَا، وَسَوَاءٌ فِي الْجَوَازِ الْقَرِيبُ وَغَيْرُهُ وَالْمُسْلِمُ وَغَيْرُهُ، وَقَوْلُ الشَّارِحِ: وَضَمَّ فِي شَرْحِ الْمُهَذَّبِ إلَى الْمُسْلِمِينَ غَيْرَهُمْ فِي الشِّقَّيْنِ أَرَادَ بِهِ وُجُوبَ الْغُسْلِ وَجَوَازَهُ، فَكَمَا لَا يَجِبُ عَلَى الْمُسْلِمِينَ وَيَجُوزُ لَهُمْ فَالْكُفَّارُ كَذَلِكَ.

I`rab lafadh فقط

berikut ini beberapa metode i'rab lafadh Faqadh, antara lain:

1. فاء litazyin lafhd (تزيين للفظ )  sedangkan قط isim fiil bermakna حسب , كافى  dan irabnya sebagai hal (الحال)
2. فاء sebagai jawab dari syarath muqaddar. قط khabar dari mubtada yang dibuang maka taqdirnya adalah اذا عرفت ذالك فهي حسبك
3. فاء sebagai jawab dari syarath muqaddar قط tersebut merupakan isem fiel amar bermakna انته. Atau isem fiel mudhare` dengan makna يكفى . Maka taqdirnya adalah:
اذا عرفت ذالك فانته عن طلب غيرها atau فيكفى عن طلب غيرها اذا عرفت ذالك

Catatan:

I`rab yang telah masyhur dikalangan santri bahwa قط adalah dharaf dipertanyakan dengan beberapa alasan:

1. I`rab yang demikian tidak tersebut dalam kitab-kitab nahu mu`tabar. I`rab demikian hanya tersebut dalam kitab Tahrirul Aqwal syarah kitab `awamil Jarjany.

2. Pada قط tidak dapat diterapkan makna dharaf, karena dharaf menunjuki kepada zaman atau tempat, sedangkan قط tidak menunjuki kepada tempat atau zaman.

3. Memang ada dharaf yang hampir serupa dengan قط yaitu قطُّ dengan dibina atas dhummah dan bertasydid serta kebiasaannya terkhusus pada kalam nafi dan berfungsi untuk istighra` zaman madhy. Selain itu pada dharaf قطُّ tidak dapat masuk fa padanya sedangkan قط ini terdapat pada nafi dan isbat dan boleh masuk الفاء padanya.


Referensi:

1. Hasyiah Al Khudary jilid 1 hal 83 cet. Al haramain
2. Hasyiah Al Ajhury `ala Syarah Az Zarqany `ala Baiquny hal 56 cet. Haramain
3. Hasyiah Ad Dusuqy `ala Mughny Labib jilid 1 hal 187 cet.Abdul Hamid Ahmad Hanafi Mesir

Nash kitab:

1. Hasyiah Al Khudary jilid 1 hal 83 cet. Al haramain

قوله: (فقط) الفاء زائدة لتزيين اللفظ، وقط بمعنى حسب حال من اللام أي حال كونها حسبك أي كافيتك عن طلب غيرها. وقيل: الفاء في جواب شرط مقدر، وقط خبر لمحذوف، أو اسم فعل بمعنى انته أي إذا عرفت ذلك فهي حسبك أو فاتته عن طلب غيرها

2. Hasyiah Ad Dusuqy `ala Mughny Labib jilid 1 hal 187 cet.Abdul Hamid Ahmad Hanafi Mesir

(قوله ان تكون بمعنى حسب) اى وتلزمها الفاء فيقال اخذت درهما فقط وهى زائدة لازمة عند المصنف كما ان فاء فحسب زائدة عند ابن السيد فمعنى اخذت درهما فقط اخذت درهما واكتفيت به ورابطة للجواب بشرط مقدر عند السعد لان قط عنده اسم بمعنى انته

Hikmah Menyapu Dua Sepatu

Diskripsi Masalah:

Agama islam merupakan agama yang sempurna di antara agama lain. Karena dalam agama islam, telah mencakup berbagai aturan tentang praktek ibadat yang berkenaan tentang hal syarat, rukun, batal dan sah maka hal yang demikian tidak bisa diubah karena sudah ada ketetapan dalam agama islam. Dan agama islam pula memberi kan rukhsah (keringanan)kepada orang orang tidak mampu mengerjakan ibadat seperti menyapu dua sepatu bagi musafir dan mukim ( orang yang tinggal tetap di tempat ia berdomisili )

Pertanyaan:

Apakah hikmah menyapu dua sepatu ?

Jawaban:

Tersebut dalam redaksi kitab karangan ustad Syaihk Ali Ahmad Al-Jarjawi salah satu ulama Azhar beliau mengatakan bahwasanya hikmah syari’ ( Allah ) menjadikan cara menyapu pada zahir (atas sepatu ) bukan menyapu batin ( tapak sepatu) karena zahir dua sepatu adalah sesuatu yang bisa di lihat, sedangkan batin sepatu bersentuhan dengan tanah, maka zahir dua sepatu tersebut lebih sesuai secara akal.

والحكمة فى أن الشارع جعل المسح على ظاهرهما دون باطنىهما لان الظاهر هو المرئ أمام العين والباطن مباشر بللأرض  فكان المسح علي ظاهرهما معقولا موافقا

Kitab Hikmah Tasri’ Wa Falasaf juz 1 halaman 161 cetakan Haramain tanpa tahun


Sejarah Asal Mula Menstruasi Pada Perempuan

Setiap wanita sudah barang tentu tak asing lagi dengan kata menstruasi tersebut, terutama bagi yang sudah mengalaminya sebagai salah satu batasan awal seorang perempuan mendapat status baligh dalam islam.

Menstruasi adalah peristiwa keluarnya sel telur yang tidak dibuahi bersamaan dengan lapisan dinding rahim yang banyak mengandung pembuluh darah. Menstruasi diawali dengan matangnya kelenjar indung telur sehingga menghasilkan sel telur. Pada saat itu juga rahim (uterus) dipersiapkan untuk kehamilan, yaitu dengan menebalnya dinding rahim yang di dalamnya banyak mengandung sel darah.

Selanjutnya sel telur yang diproduksi di indung telur (ovarium) keluar menuju saluran telur (tuba fallopi atau oviduk). Dari saluran telur kemudian sel telur menuju rahim.

Jika dalam perjalanan sel telur tidak dibuahi oleh sperma, sel telur akan keluar menuju vagina (liang peranakan) bersamaan dengan luruhnya dinding rahim yang banyak mengandung sel darah secara perlahan-lahan. Kejadian itulah yang disebut dengan menstruasi.

Menstruasi yang dialami oleh setiap wanita berbeda-beda. Ada yang jumlahnya sehari semalam bahkan ada yang sampai 15 hari dan 15 malam, namun kebanyakan perempuan mengalami masa menstruasi dalam masa 6-7 hari, bahkan ada juga perempuan yang tidak mengalami menstruasi sama sekali dalam hidupnya. Terlepas dari perbedaan-perbedaan tersebut, pernahkah kita bertanya tentang asal mula menstruasi itu terjadi pada seorang perempuan.?

Berikut ini penulis akan mengemukakan cuplikan kisah singkat dalam Turats Salaf Al Shalih tentang asal mula menstruasi pada seorang wanita.

Kejadian itu bermula saat Siti Hawa diturunkan oleh Allah ke dunia ini akibat mudah terpengaruh dengan godaan iblis untuk makan buah khuldi yang sudah mendapatkan larangan Allah untuk memakannya saat masih berada dalam Surga. Ketika Iblis sudah berhasil dengan rayuannya, Siti Hawa pun berkehendak untuk meraih buah khuldi tersebut untuk dimakan. Saat buah itu berhasil dipetik, tanpa sengaja getahnya jatuh mengalir ke atas Siti Hawa dan Allah berfirman kala itu, " Demi Keagungan dan Kemegahan-Ku, darahmu akan mengalir seperti mengalirnya getah pohon khuldi ini". Sejak kejadian itu, Siti Hawa senantiasa mengalami menstruasi dalam beberapa hari di setiap bulan ketika ia telah diturunkan Allah ke bumi ini, Karena saat di Surga, dia tak pernah mengalami menstruasi sama sekali, sebagai bentuk teguran Allah atas pelanggaran yang dilakukan Siti Hawa.



Donwload Kitab Tentang Jender Wanita

Kitab Qauli fi mar`ah (kataku untuk wanita) karangan Syaikhul Islam Daulah Turki Usmani, Syaikh Mustafa as-Shabri, pengarang kitab yang menolak pemahaman-pemahaman sekuler dan modernisasi agama, Mauqif Aqal wa Ilmi wa 'alam min Rabbil alamin wa 'ibadihil mursalin.

Kitab Qauli fi mar`ah ini menjawab ide-ide persamaan jender wanita dan laki-laki yang di hembuskan oleh musuh-musuh Islam. Syeikh Mustafa Shabri sebagai ulama yang menyaksikan keruntuhan Daulah Islam Turki Ustmani mengetahui bagaimana ide-ide sekuler tentang wanita dihembuskan musuh-musuh Islam ke dalam dada umat Islam.

Beberapa masalah yang beliau angkat dalam kitab ini adalah poligami, hijab wanita, masalah ta'aruf sebelum pernikahan, dan masalah pergaulan bebas..

Bagi yang ingin memiliki koleksi file pdf kitab ini, silahkan donwload di SINI.


Tata Cara Melakukan Shalat Jenazah

Deskripsi Masalah:

Shalat jenazah adalah sebagian dari ibadah yang sangat di perintah Allah, shalat jenazah hukumnya fardhu kifayah maka bila ada sebagian orang dalam suatu daerah melakukan shalat jenazah maka orang-orang islam lainnya dalam daerah tersebut akan ikut terlepas dari perintah Allah. namun walaupun hukum shalat jenzah adalah fardhu kifayah akan tetapi mengetahui tentang tata cara melakukan shalat jenazah sangat penting dalam kehidupan maka pada kesempatan kali ini kami akan menuliskan tatacara melaksanakan shalat jenazah.

Tata cara melakukan shalat jenazah:

1. Niat

Niat dalam sebuah ibadat adalah syarat sahnya ibadat tersebut begitu pula niat dalam shalat jenazah merupakan syarat sahnya shalat jenazah, waktu untuk berniat dalam shalat jenazah sama seperti waktu niat dalam shalat yang lain yaitu ketika takbiratul ihram. Lafadz niat shalat jenazah laki-laki berbeda dengan shalat jenazah perempuan, shalat jenazah bayi laki-laki berbeda dengan shalat jenazah perempuan sebagaimana yang telah kami tuliskan di bawah ini:

Lafaz niat solat jenazah mayat lelaki:

أُصَلِّي عَلَى هَذَا اْلمَيِّتِ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةِ للهِ تَعَالَى

“Sahaja aku shalat atas mayat lelaki ini empat takbir fardhu kifayah karena Allah ta’ala”.

Lafaz niat shalat jenazah mayat perempuan:

أُصَلِّي عَلَى هَذِهِ اْلمَيْتَةِ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةِ للهِ تَعَالَى

“Sahaja aku shalat atas mayat perempuan ini empat takbir fardhu kifayah karena Allah ta’ala”.

Lafaz niat shalat jenazah mayat kanak-kanak Lelaki:

أُصَلِّى عَلَى هَذَا اْلمَيِّتِ الطِفْلِ اَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةِ للهِ تَعَالَى

“Sahaja aku shalat atas mayat kanak-kanak lelaki empat takbir fardhu kifayah karena Allah Ta’ala”.

Lafaz niat shalat jenazah mayat kanak-kanak perempuan:

أُصَلِّى عَلَى هَذِهِ اْلمَيْتَةِ الطِفْلَةِ اَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةِ للهِ تَعَالَى

“Sahaja aku sembahyang atas mayat kanak-kanak perempuan ini empat takbir fardhu kifayah karena Allah Ta’ala”.

Dalam melakukan shalat jenazah tidak wajib menyebutkan nama jenazah dan bila disebutkan ternyata salah, maka shalatnya tidak sah seperti kita meniatkan shalat jenazah kepada si Zaid ternyata manyatnya adalah Hasan maka shalatnya tidak sah. Dan bila tidak diketahui jenis kelamin jenazah yang sedang di shalati maka boleh diniatkan shalat kepada orang yang diniatkan imam.

2. Takbir empat kali

Shalat jenazah sangat berbeda dengan shalat-shalat yang lain, shalat fardhu yang lain yang dihitung adalah rakaatnya, sedangkan shalat jenazah yang dihitung adalah takbirnya, bacaan shalat jenazah juga berbeda dengan shalat yang lain sebegaimana yang akan kami jelaskan dibawah ini :

Pada takbir pertama langsung membaca surat Al-fatihah sesudah takbiratul ihram tidak disunnahkan membaca doa iftitah, ta’awudz, dan surah, kecuali pada shalat jenazah ghaib atau shalat di atas kubur maka disunnahkan membaca doa iftitah, ta’awuzd dan surah.

Pada takbir yang kedua membaca shalawat kepada Rasululla, diantara shalawat yang sempurna dalam bacaan shalat jenazah adalah :

أَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اَلِ إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اَلِ إِبْرَاهِيْمَ فِى الْعَالمَيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْد.

Pada takbir yang ketiga membaca doa untuk jenazah, doa yang dibaca dalam shalat jenazah berbeda-beda di antaranya adalah:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا وَصَغِيرِنَا وَكَبِيرِنَا وَذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا، اللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى الْإِسْلَامِ وَمَنْ تَوَفَّيْتهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى الْإِيمَانِ اللَّهُمَّ هَذَا عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدَيْكَ خَرَجَ مِنْ رَوْحِ الدُّنْيَا وَسَعَتِهَا وَاتِّسَاعِهَا وَمَحْبُوبِهِ وَأَحِبَّائِهِ فِيهَا إلَى ظُلْمَةِ الْقَبْرِ وَمَا هُوَ لَاقِيهِ، كَانَ يَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا أَنْتَ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُولُكَ، وَأَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ، اللَّهُمَّ إنَّهُ نَزَلَ بِكَ وَأَنْتَ خَيْرُ مَنْزُولٍ بِهِ، وَأَصْبَحَ فَقِيرًا إلَى رَحْمَتِكَ وَأَنْتَ غَنِيٌّ عَنْ عَذَابِهِ، وَقَدْ جِئْنَاكَ رَاغِبِينَ إلَيْكَ شُفَعَاءَ لَهُ، اللَّهُمَّ إنْ كَانَ مُحْسِنًا فَزِدْ فِي إحْسَانِهِ، وَإِنْ كَانَ مُسِيئًا فَاغْفِرْ لَهُ وَتَجَاوَزْ عَنْهُ، وَلَقِّهِ بِرَحْمَتِكَ رِضَاكَ، وَقِه فِتْنَةَ الْقَبْرِ وَعَذَابَهُ، وَأَفْسِحْ لَهُ فِي قَبْرِهِ، وَجَافِ الْأَرْضَ عَنْ جَنْبَيْهِ، وَلَقِّهِ بِرَحْمَتِكَ الْأَمْنَ مِنْ عَذَابِكَ حَتَّى تَبْعَثَهُ آمِنًا إلَى جَنَّتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Jika jenazahnya anak-anak maka maka doa yang dibaca adalah:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا وَصَغِيرِنَا وَكَبِيرِنَا وَذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا، اللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى الْإِسْلَامِ وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى الْإِيمَانِ اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ فَرَطًا لِأَبَوَيْهِ فِي الْآخِرَةِ. وَسَلَفًا وَذُخْرًا وَعِظَةً وَاعْتِبَارًا وَشَفِيعًا وَثَقِّلْ بِهِ مَوَازِينَهُمَا وَأَفْرِغِ الصَّبْرَ عَلَى قُلُوبِهِمَا وَلَا تَفْتِنْهُمَا بَعْدَهُ وَلَا تَحْرِمْهُمَا أَجْرَهُ

Doa yang dibaca pada takbir yang keempat:

اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلَا تَفْتِنَّا بَعْدَهُ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ

3. Salam

Salam dalam shalat jenazah juga merupakan bagian rukun sebagaimana dalam shalat-shalat yang lain maka keluar dari shalat jenazah tanpa salam mengakibatkan tidak sahnya shalat.

Orang Yang Mukim Bermakmum Pada Orang Yang Sedang Shalat Jamak-Qashar

Deskripsi Masalah:

Shalat adalah kewajiban yang diwajibkan pada malam Isra’ terhadap setiap kaum Muslimin yang telah baligh dan berakal. Ia adalah Ibadah pertama yang diwajibkan, dan urutan kedua dalam rukun islam, dalam rukun Islam, amal pertama yang akan diperhitungkan di hari kiamat dan juga merupakan wasiat terakhir Baginda Rasulullah SAW. kepada umatnya tercinta, apalagi bila dilakukan dengan berjama’ah karena shalat berjama’ah memiliki keutamaan dibanding shalat sendirian 27 derajat sebagaimana yang tertera dalam hadist.


Pertanyaan :

Bolehkah orang yang mukim berjamaah mengikuti orang yang sedang shalat qashar ?

Jawaban :

Diperbolehkan bagi orang yang mukim bermakmum pada orang musafir yang sedang shalat jamak qashar dan si mukim wajib menyempuranakan shalatnya, kemudian disunnatkan bagi imam untuk memberitau bahwa ia adalah orang yang sedang ber-musafir dan memerintahkan si mukim agar menyempurnakan shalatnya.

Referensi :

Majmu’ Syarah Muhazzab Juz 5, Hal 339, Cet Darul Kutub I’lmiah

(فَرْعٌ) 
إذَا صَلَّى مُسَافِرٌ بمسافرين ومقيمين جاز ويقصر الامام والمسافرين وَيُتِمُّ الْمُقِيمُونَ وَيُسَنُّ لِلْإِمَامِ أَنْ يَقُولَ عَقِبَ سَلَامِهِ أَتِمُّوا فَإِنَّا قَوْمُ سَفَرٍ


Bahrul Mazhab Fi Furu’ Syafi’I Juz 2, Hal 342, Cet Darul Kutub

(فرع ) 
 وإن صلى مسافر بمقيمين ومسافرين فإنه يصلي والمسافرون ركعتين، وهذا كما قال: إذا صلى مسافر بمقيمين أو مسافرين فإنه يصلي والمسافرون ركعتين إذا نووا القصر، وأما المقيمون يلزمهم الإتمام فإذا فرغ الإمام يستحب أن يقول لهم الإمام: أتموا لما روي أن النبي - صلى الله عليه وسلم - أقام عام الفتح بمكة أياماً يصلي ركعتين ركعتين ويقول لهم: "أتموا يا أهل مكة فإنا قوم سفر"، وهذا لأنهم أو بعضهم لا يعلمون ذلك

Hukum Menerima Sedekah Orang Yang Berpura-Pura Miskin

Bersedekah adalah perbuatan yang sangat dianjurkan dalam Islam bahkan sangat banyak hadis dan ayat-ayat Al-Quran yang menganjurkan kita untuk bersedekah. Namun fenomena sekarang banyak sekali kita temui yang menerima sedekah adalah orang-orang yang tidak berhak menerimanya Karena mereka adalah orang kaya yang ber-akting menjadi sosok yang meminta belas kasihan dari orang lain padahal sebenarnya kehidupan mereka sangat mencukupi Bahkan mareka sangat layak menjadi orang yang memberi sedekah.

Pertanyaan :

Bagaimanakah hukum mengambil sedekah karna pura-pura miskin ?

Jawaban :

Memberikan sesuatu kepada seseorang karna menganggap dia orang miskin atau orang yang saleh padahal sebenarnya dia orang kaya dan bukan orang saleh, maka orang tersebut haram mengambilnya begitu pula memberi hadiah kepada seseorang yang tidak berhak menerimanya maka hukum mengambil hadiah tersebut adalah haram.

Referensi :

Nihayatul Muhtaj jilid 6, hal 199, cet Darul Fikri

وَمَنْ أَعْطَى لِوَصْفٍ يَظُنُّ بِهِ كَفَقْرٍ أَوْ صَلَاحٍ أَوْ نَسَبٍ أَوْ عَلِمَ وَهُوَ فِي الْبَاطِنِ بِخِلَافِهِ أَوْ كَانَ بِهِ وَصْفٌ بَاطِنًا بِحَيْثُ لَوْ عَلِمَ لَمْ يُعْطِهِ حُرِّمَ عَلَيْهِ الْأَخْذُ مُطْلَقًا ، وَيَجْرِي ذَلِكَ فِي الْهَدِيَّةِ أَيْضًا فِيمَا يَظْهَرُ ، بَلْ الْأَوْجَهُ إلْحَاقُ سَائِرِ عُقُودِ التَّبَرُّعِ بِهَا كَوَصِيَّةٍ وَهِبَةٍ وَنَذْرٍ وَوَقْفٍ

Mahalli jilid 3 hal 205 cet Haramain.

فَصْلٌ صَدَقَةُ التَّطَوُّعِ سُنَّةٌ لِمَا وَرَدَ فِيهَا مِنْ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ ، ( وَتَحِلُّ لِغَنِيٍّ وَكَافِرٍ ) قَالَ فِي الرَّوْضَةِ يُسْتَحَبُّ لِلْغَنِيِّ التَّنَزُّهُ عَنْهَا وَيُكْرَهُ لَهُ التَّعَرُّضُ لِأَخْذِهَا وَفِي الْبَيَانِ لَا يَحِلُّ لَهُ أَخْذُهَا مُظْهِرَ الْفَاقَةِ ، وَهُوَ حَسَنٌ وَفِي الْحَاوِي الْغَنِيُّ بِمَالٍ ، أَوْ بِصَنْعَةٍ سُؤَالُهُ حَرَامٌ ، وَمَا يَأْخُذُهُ حَرَامٌ عَلَيْهِ انْتَهَى.

قَوْلُهُ : ( وَمَا يَأْخُذُهُ حَرَامٌ عَلَيْهِ ) أَيْ عِنْدَ شَيْءٍ مِمَّا تَقَدَّمَ ، أَوْ عِنْدَ فَقْدِ صِفَةٍ أَعْطَى لِأَجْلِهَا قَالَ شَيْخُنَا : وَحَيْثُ حَرُمَ لَا يَمْلِكُ مَا أَخَذَهُ ، وَيَجِبُ رَدُّهُ إلَّا إذَا عَلِمَ الْمُعْطِي بِحَالِهِ فَيَمْلِكُهُ ، وَلَا حُرْمَةَ إلَّا إنْ أَخَذَهُ بِسُؤَالٍ أَوْ إظْهَارِ فَاقَةٍ فَيَمْلِكُهُ مَعَ الْحُرْمَةِ ، وَفِي شَرْحِ شَيْخِنَا وَحَيْثُ أَعْطَاهُ عَلَى ظَنِّ صِفَةٍ وَهُوَ فِي الْبَاطِنِ بِخِلَافِهَا وَلَوْ عَلِمَ بِهِ لَمْ يُعْطِهِ لَمْ يَمْلِكْ مَا أَخْذَهُ ، ثُمَّ قَالَ : وَيَجْرِي ذَلِكَ فِي سَائِرِ عُقُودِ التَّبَرُّعِ كَهِبَةٍ وَهَدِيَّةٍ وَوَقْفٍ وَنَذْرٍ وَوَصِيَّةٍ فَرَاجِعْهُ

donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja