Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

KEMUNAFIKAN WAHABI ; Anti Maulid Nabi Tapi Merayakan Maulid Muhammad Ibn Abdil Wahhab Dan Shalih Utsaimin

Anti Maulid Nabi Tapi Merayakan Maulid Muhammad Ibn Abdil Wahhab Dan Shalih Utsaimin

Perayaan maulid Nabi SAW, adalah suatu acara yang telah dilaksanakan oleh umat Islam semenjak dahulu dan diakui oleh para ulama-ulama besar dari dahulu hingga sekarang. Namun orang-orang yang anti maulid sangat kelewatan sehingga menuduh perayaan maulid sebagai sebuah bid`ah dan mengikuti kaum Nasrani. Seharusnya kalaupun mereka tidak mengakui bahwa perayaan maulid sebagai satu amalan yang baik, seharusnya mereka bersikaf inshaf dan menghargai perbedaan pendapat, karena para ulama dari golongan selain mereka membolehkannya dan menganggapnya sebagai satu kebaikan. Sedangkan kemungkaran hanya boleh diingkari dan dicegah apabila maksiat tersebut termasuk kemaksiatan yang disepakati.
Salah satu fakta kebrobrokan tingkah laku wahabi yang tidak terbantahkan adalah merayakan haul dan maulid Muhammad Abdul Wahhab dan Shalih Utsaimin secara meriah dan besar-besaran ditengah gencarnya serangan mereka terhadap pencinta Rasulullah yang merayakan hari kelahiran Beliau SAW.
Pada bulan Januari 2010 lalu, ‘Haul’ Shalih Utsaimin mereka adakan di sebuah hotel di Kairo di bawah naungan Duta Besar Saudi di Kairo, Hisham Muhyiddin. Rangkaian acara haul itu dibuka dengan pembacaan ayat-ayat al-Quran, dilanjutkan sambutan-sambutan berisi pujian terhadap almarhum. Sambutan pertama disampaikan Ketua yayasan ar-Rusyd sekaligus Presiden Asosiasi Penerbit Saudi, yang memuji peran Syekh Shalih Utsaimin dalam penyebaran agama Islam. Sambutan selanjutnya disampaikan Abdullah, putra Utsaimin, kemudian Atase Kebudayaan Saudi Muhammad bin Abdul Aziz Al-Aqil. Yang disebutkan belakangan ini banyak mengulas manakib Shalih Utsaimin dengan menjelaskan tahun lahir dan wafatnya. “Perayaan ini adalah sedikit yang bisa kami persembahkan untuk mendiang Utsaimin,” ujarnya. Acara haul ditutup dengan saling tukar tanda kehormatan antara Yayasan ar-Rusyd, Yayasan Utsaimin, Atase Kebudayaan dan Deputi Menteri Kebudayaan dan Informasi. (Majalah Cahaya Nabawiy edisi 96 Juli 2011/Sya’ban 1432 H)
Ini adalah sebuah fakta yang sangat ironi dan menjadi pembuktian bahwa sebenarnya wahabi adalah pembenci sunnah dan penjunjung tinggi bid'ah dhalalah.
Wahabi mengatakan maulid nabi itu haram, namun ternyata wahabi mengadakan peringatan maulid Muhammad Bin Abdul Wahhab dan maulid Shalih Utsaimin.

Wahabi Memperingati Maulid Untuk Al-Utsaimin Tapi Tidak Untuk Nabi Muhammad SAW.
Islam sama sekali tak bisa dilepaskan dari sosok Baginda Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah insan yang menerima wahyu dari Allah SWT untuk memberikan pencerahan kepada umat manusia dengan agama yang sempurna ini. Tiada sosok yang patut diagungkan di muka bumi melebihi Baginda Nabi SAW. Segenap keindahan fisik dan budi pekerti terdapat dalam figur Baginda Rasulullah SAW. Mencintai Baginda Nabi (saw) adalah bagian dari mencintai Allah SWT. Beliau bersaba: Yang Artinya “Barangsiapa mencintaiku, maka ia benar-benar telah mencintai Allah SWT. Barangsiapa menaatiku, maka ia benar-benar telah taat kepada Allah SWT.”
Namun WAHABI melarang keras pengkultusan dan pengagungan terhadap diri Baginda Nabi SAW, akan tetapi mereka sendiri pada saat yang sama melakukan pengkultusan serupa terhadap diri Shalih Utsaimin. Mereka membid’ahkan peringatan Maulid Nabi dan haul seorang ulama atau wali, akan tetapi belakangan mereka juga menghelat haul atau maulid untuk Shalih Utsaimin dengan nama ‘HAFLAH TAKRIM'. Lihat betapa ganjilnya sikap kelompok Wahabi ini ?
Begitu pentingnya perayaan untuk Utsaimin ini sampai- sampai seorang pengagumnya menggubah sebuah syair:
واللهِ لَوْ وَضَعَ اْلأَناَمُ مَحَافِلاَ # مَاوَفَتِ الشَّيْخَ اْلوَقُورَحَقَّهُ

“Demi Allah, Seandainya segenap manusia membuat banyak perayaan untuk Shalih Utsaimin, hal itu tidaklah mampu memenuhi hak beliau (Utsaimin)”.
Syair itu menunjukkan pengkultusan yang berlebihan orang-orang Wahabi terhadap Shalih Utsaimin. Pengagungan yang kebablasan juga mereka berikan kepada pendiri aliran Wahabi, Muhammad bin Abdul Wahab.

Dikisahkan seorang Mahasiswa Universitas Riyadh pernah memprotes dosennya, Dr. Abdul Adhim al- Syanawi, karena memuji Rasulullah SAW. Sang dosen menanyakan, "apa penyebab si mahasiswa membenci Nabi Muhammad SAW ?" Mahasiswa itu menjawab, "Bahwa yang memulai perang kebencian adalah Baginda Nabi sendiri." (sambil menyitir hadits seputar fitnah yg muncul dari Nejd, tempat kelahiran Muhamad bin Abdul Wahab). “Kalau begitu, siapa yang kamu cintai ?” tanya sang dosen. Lalu si mahasiswa menjawab bahwa, "yang saya cintai adalah Syekh Muhammad bin Abdul Wahab." Selanjutnya sang dosen menanyakan alasan kecintaan mahasiswanya itu. “Karena Syekh Muhammad Abdul Wahab menghidupkan sunnah dan menghancurkan bid’ah,” Jawab mahasiswa itu. (kisah ini dicatat Ibrahim Abd al-Wahid al- Sayyid,dalam kitabnya, Kasf al- Litsam ‘an Fikr al-Li’am hlm.3-4.)

Dalam sebuah hadits, rasulullah bersabda,

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ لَمَّا وَلَّى رَجُلٌ غَائِرُ الْعَيْنَيْنِ نَاتِئُ الْجَبِينِ كَثُّ اللِّحْيَةِ مُشْرِفُ الْوَجْنَتَيْنِ مَحْلُوقُ الرَّأْسِ قَالَ النَّبِيُّ إِنَّ مِنْ ضِئْضِئِ هَذَا قَوْمًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ مُرُوقَ السَّهْمِ مِنْ الرَّمِيَّةِ يَقْتُلُونَ أَهْلَ الْإِسْلَامِ وَيَدَعُونَ أَهْلَ الْأَوْثَانِ لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لَأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ. متفق عليه

Diriwayatkan dari Abi Sa’id al-Khudri tatkala seorang laki-laki dari Najd yang kedua matanya cekung, dahinya menonjol, jenggotnya lebat, kedua pipinya dekat dan kepalanya gundul pergi, Nabi SAW bersabda: “Dari keturunan laki-laki ini akan lahir suatu kaum yang membaca al-Qur’an, tetapi al-Qur’an tidak melewati kerongkongannya. Mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari sasaran. Mereka akan membunuh kaum Islam, tetapi membiarkan pemuja berhala. Seandainya aku menjumpai mereka, tentu aku bunuh mereka seperti membunuh kaum ‘Ad. (Hadits Muttafaqun Alaih)

Sungguh benar sabda Baginda Nabi SAW. Yang dalam salah satu hadits beliau mengisyaratkan bahwa akan ada fitnah (Wahabi) yang bakal muncul dari Najed. Isyarat itu menjadi nyata semenjak munculnya Muhammad bin Abdul Wahab dari Najed yang dengan bantuan kolonial Inggris mencabik-cabik syariat Islam. Wallahu a’lam bisshawab..(al-Faqir)


Peringatan Ulama Besar Yaman tentang Kitab Insan Kamil al-Jily

Makam Imam Al-Haddad
Beberapa hari yang lalu MPU Aceh telah mengeluarkan fatwa tentang kitab-kitab ghair mu'tabarah. selain kitab-kitab wahabi dan syiah, beberapa kitab ulama sufi yang bisa salah dipahami oleh kalangan yang tidak ahli dalam bidang sufi juga digolongkan kedalam kitab-kitab ghairu mu'tabarah. Diantara kitab yang digolongkan kedalam golongan ghair mu'tabarah adalah adalah kitab Kitab Insan Kamil fi ma’rifatil al-Awakhir wal awail karangan Syeikh Abdul Karim bin Ibrahim al-Jily, yang saat ini sedang giat disebarkan oleh sebagian pihak di Aceh. mungkin timbul sedikit pertanyaan, apakah pernah ulama-ulama terkemuka dahulu melarang menelaah kitab-kitab tersebut? Berikut ini kami tampilkan penjelasan Imam Abdullah al-Haddad (wafat 1132 H/1720 M), seorang ulama besar asal Tarim, Hadramaut, Yaman yang sudah tidak asing lagi dan disepakati sebagai seorang waliyullah. Berikut ini penjelasn beliau dalam kitab Risalah Muawanah;

وعليك بالإكثار من قراءة كتب الحديث والتفسير ومن مطالعة كتب القوم عامة فإن ذلك فتح عام وسلوك تام كما قال بعض العارفين.

ولكن ينبغي لك أن تحترز عما يشتمل من رسائلهم على الأمور الغامضة والحقائق المجردة وهذه الأشياء توجد في أكثر مؤلفات الشيخ ابن عربي وفي شيء من رسائل الإمام الغزالي كالمعراج والمضنون به. وقد ذكر الشيخ زروق في "تأسيس القواعد" قاعدة في التحذير من الكتب التي تجري هذا المجرى فراجعها إن شئت، ولم يذكر في جملتها مؤلفات الشيخ عبد الكريم الكيلاني، لأنه متأخر ومؤلفاته عن آخرها مما ينبغي الاحتراز عنها إيثاراً للسلامة.

فإن قال قائل لا بأس علي في مطالعة هذه الكتب،لأني آخذ ما أفهمه وأسلم لما لا أفهمه لقائله

قيل له) قد أنصفت، ونحن إنما نخشى عليك مما تفهمه أن تفهمه على غير وجهه فتضل عن سواء السبيل، كما وقع ذلك لأقوام عكفوا على مطالعة هذه الكتب فصاروا في زندقة وإلحاد، وقالوا بالحلول والاتحاد، فلا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم

dan perbanyaklah membaca kitab-kitab hadits, tafsir, dan menelaah kitab-kitab para ulama secara umum, karena hal tersebut merupakan futuh yang umum dan suluk yang sempurna sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian arifin.

namun sepatutnya kami menjauhi kitab-kitab mereka yang mengandung perkara-perkara yang rumit dan hakikat semata-mata. Hal seperti itu banyak kita jumpai dalam kitab-kitab karangan Syeikh Ibnu Arabi dan pada sebagian kecil risalah-risalah Imam Ghazali seperti kitab al-i'raj dan al-madhnun bih. Syeikh Zaruq dalam kitabnya Ta`sis al-Qawaed menyebutkan satu qaedah tentang anjuran menjauhi kitab-kitab seperti ini, maka lihatkan jika kamu kehendaki. Beliau tidak menyebutkan sebagian darinya kitab-kitab karangan Syeikh Abdul Karim al-Kailani (al-Jily) karena beliau lebih tertakhir masanya, karangan-karangan beliau termasuk kitab-kitab yang sepatutnya dihindari demi keselamatan.

maka jika orang berkata "tidak mengapa bagi saya untuk menelaah kitab-kitab tersebut, karena saya hanya akan mengambil apa yang sanggup saya pahami dan menyerahkan hal yang tidak saya pahami kepada pemilik ucapannya."

Dijawab untuknya; sungguh kamu sudah bersikap objektif, namun kami takut pada masalah yang kamu pagami ternyata kamu pahami tidak dengan semestinya, maka kamu akan tersesat dari jalan yang benar, sebagaimana yang telah terjadi terhadap sekelompok kaum yang menelaah kitab-kitab tersebut, kemudian mereka menjadi zindiq dan tersesat dan berkeyakinan hulul dan ittihad, maka tiada daya dan tiada upaya kecuali hanya dengan Allah yang Maha tinggi


Risalah Mu’awanah, Imam Abdullah al-Haddad, hal 49-50 Dar Hawi 1994

Hukum Menghimpun Antara Dua Khutbah Dan Shalat Jum’at Satu Kali Tayammum

Deskripsi Masalah :

Salah satu sumber daya alam yang sangat dibutuhkan oleh semua makhluk hidup khususnya manusia di dunia ini adalah air, karena manfaat yang dihasilkan oleh air sangatlah banyak, antaranya makhluk hidup memanfaatkan air untuk bertahan hidup, sedangkan kita selaku manusia hamba Allah demi mengharapkan ridha dari-Nya, memiliki tanggung jawab setiap hari yaitu berta’abbud kepada-Nya, salah satu kewajiban yang paling utama adalah shalat lima waktu dalam keadaan suci, alat untuk bersuci adalah air. Seandainya kita sedang dalam keadaan kekurangan air, maka syara’ membolehkan kita untuk bertayammum sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.

 Pertanyaan :

Apakah boleh menggabungkan di antara dua khutbah dan shalat jum’at dengan tayammum yang satu?

Jawaban :

Tidak boleh, karena tayammum merupakan alat bersuci yang dhaif(lemah), maka tidak dapat menghimpun dua ibadah fardhu.

Referensi  :

Kitab Qurratul ‘Ain Bifatawi Ismail Azzain, Hal. 59, Cet. Maktabah Albarakah

 سؤال :
هل يجوز ان يجمع بين الخطبتين وصلاة الجمعة بتيمم واحد او لا ؟
الجواب :
والله الموافق للصواب : ان التيمم لكونه طهارة ضعيفة فلا يجمع به بين فرضين, وحينئذ فلا يجوز ان يجمع بين خطبتين وصلاة الجمعة بتيمم واحد , بل يتيمم للخطبتين و تيمم للصلاة . والله سبحانه وتعالى اعلم


 .


Baca juga kajian terkait tayammum di http://lbm.mudimesra.com/2017/02/cara-tayammum-jika-air-tidak-cukup-untuk-bersuci.html

Orang Berjunub Memandikan Mayit

Deskripsi masalah :

Memandikan mayit merupakan salah satu hal fardhu yang harus di selenggarakan, proses pemandian ini biasanya dilakukan oleh orang-orang yang membidangi bagian ini, Namun karena kondisi yang buru-buru saat hendak memandikan mayit pak Amat tak sempat mandi besar untuk dirinya terlebih dulu.

Pertanyaan :

Bagaimana hukumnya seseorang memandikan mayit dalam kondisi berhadas besar?

Jawaban :

Menurut pendapat dari  Imam Abi Hanifah dan Imam Syafi'i dan Imam Hambali dibolehkan kepada orang berjunub dan orang haid memandikan mayit dengan tanpa makruh dengan alasan maksud dari memandikan mayit itu sendiri adalah menyucikan.
Sedangkan menurut imam malik boleh memandikan beserta makruh.

- kitab Al mausu'ah fiqhiyyah hal 413 juz 39 syamella

ذهب الحنفية والشافعية والحنابلة إلى جواز أن يغسل الجنب والحائض الميت بلا كراهة لأن المقصود هو التطهير، وهو حاصل بالجنب والحائض، ولأنه لا يشترط في الغاسل الطهارة وذهب المالكية إلى كراهة غسل الجنب للميت لأنه يملك طهره ولا يكره تغسيل الحائض لأنها لا تملك طهرها . وروي عن أبي يوسف أنه كره للحائض الغسل لأنها لو اغتسلت لنفسها لم تعتد به فكذا إذا غسلت

-Raudhatuttalibin Juz 2 hal 108

قلت: يجوز للجنب والحائض غسل الميت بلا كراهة. ولو ماتا غسلا غسلا



Orang yang pertama merayakan maulid

Deskripsi masalah

Rabi’ul awal adalah salah satu diantara bulan-bulan islam yang mempunyai keistemewaan tersendiri dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain. Betapa tidak, Bulan tersebut merupakan bulan lahirnya Baginda Rasulullah SAW sebagai rahmat bagi alam semesta, tepatnya Senin pagi, 12 Rabi’ul awal tahun gajah atau bertepatan dengan 20 April 571 M. Sebagai umat Islam, kita dianjurkan untuk merayakan hari kelahiran Beliau  dengan  memperbanyak bacaan shalawat dan jamuan makanan pada bulan tersebut  sebagai simbol rasa syukur kita terhadap Nikmat Allah sekaligus kecintaan kita kepada Baginda Rasul itu sendiri. Tak heran bila dalam setiap bulan tersebut lantunan shalawat tidak pernah sunyi menghiasi angkasa diseluruh penjuru dunia. Tradisi perayaan Maulid tersebut  sudah berlangsung  dari tahun ke tahun hingga sekarang ini.

Pertanyaan:

Siapakah orang yang pertama kali mengadakan maulid Nabi Muhammad SAW???

Jawaban:

Orang yang pertama kali merayakan maulid Nabi Muhammad adalah Abu Sa’id Al-Muzhaffar dengan perayaan besar-besaran kala itu, menurut penuturan orang yang pernah menghadiri perayaan tesebut, bahwa dalam jamuan makan tersebut terdapat  5000 kepala kambing bakar, 10.000 ayam, 100 kuda, 100.000 roti mentega, dan 30.000 piring kue.

baca juga kisah abuya sayyid Alwi almaliki tentang maulid di lbm.mudimesra.com/2016/12/kisah-orang-yang-mengatakan-bahwa-maulid-nabi-bidah-sayyiah.html

Referensi

I’anatut Thalibin 3 : 364 cet. haramain


وقال ابن الجوزي: من خواصه أنه أمان في ذلك العام، وبشرى عاجلة بنيل البغية والمرام، وأول من أحدثه من الملوك الملك المظفر أبو سعيد صاحب أربل، وألف له الحافظ ابن دحية تأليفا سماه التنوير في مولد البشير النذير، فأجازه الملك المظفر بألف دينار وصنع الملك المظفر المولد، وكان يعمله في ربيع الأول ويحتفل به احتفالا هائلا، وكان شهما شجاعا، بطلا عاقلا، عالما عادلا، وطالت مدته في ملك إلى أن مات وهو محاصر الفرنج بمدينة عكا سنة ثلاثين وستمائة، محمود السيرة والسريرة.
قال سبط ابن الجوزي في مرآة الزمان: (حكى) لي بعض من حضر سماط المظفر في بعض المواليد فذكر أنه عد فيه خمسة آلاف رأس غنم شواء، وعشرة آلاف دجاجة، ومائة ألف زبدية وثلاثين ألف صحن حلوى، وكان يحضر عنده في الموالد أعيان العلماء والصوفية، فيخلع عليهم، ويطلق لهم البخور، وكان يصرف على الموالد ثلاثمائة ألف دينار.

Imam Zainuddin al-Malibari, Pengarang Kitab Fathul Mu’in dan Ulama Penggerak Jihad.


Salah satu nama yang tidak asing bagi para pelajar mazhab Syafii adalah Zainuddin al-Malaibari. Itulah nama bagi penyarang kitab Fathul Mu’in, sebuah kitab fiqih yang sangat populer bagi kalangan pelajar pertengahan. Kitab Fathul Muin merupakan kitab kurikulum tingkatan menengah di seluruh pesantren di Indonesia dan beberapa negara lainnya.


Nama lengkap beliau adalah Syeikh Zainuddin Ahmad bin Qadhi Muhammad al-Ghazali bin Syeikh Zainuddin al-Makhdum Kabir bin Syeikh Qadhi Ali bin Syeikh Qadhi Ahmad al-Ma’bari Asy-Syafii al-Asy’ari al-Funnani al-Malaibari.
Beliau dilahirkan di Chombal dalam wilayah Malaibar atau yang sekarang dikenal dengan Kerala, negara bagian bagian barat daya. Dilahirkan tahun 938 H/1532 M.
Imam Zainuddin al-Malaibari berasal dari keluarga al-Makhdum, satu keluarga yang diperkirakan sampai ke Malaibar, India pada abad ke 7 H/15 M. Keluarga ini didirikan oleh Syeikh Qadhi Zainuddin Ibrahim Ahmad yang merupakan paman dari Syeikh Zainuddin Kabir, sang kakek. Keluarga al-Makhdum menjadi panutan bagi masyarakat Ponnan dan Malaibar secara menyeluruh, bukan hanya bagi umat Islam tetapi juga menjadi panutan bagi masyarakat yang bukan muslim. Keluarga la-Makhdum memiliki peran yang besar dalam penyebaran ilmu agama dan ilmu Arabiyah di Negri India. Sampai sekarang keluarga al-Makhdum dikenal sebagai keluarga yang penuh dengan ilmu fiqh, dakwah dan adab. Menurut ahli sejarah, asal usul keluarga al-makhdum berasal dari Negri Yaman. Mereka meninggalkan negrinya dalam rangka berdakwah hingga sampai ke Negri Malaibar.

Sebagian kalangan yang menuliskan biografi beliau, seperti Imam al-Laknawi dalam kitab Nazhatul Khawatir, Syeikh Umar Ridha dalam kitab Mu’jam Muallifin, dan Az-Zarkaly dalam kitab al-A’lam, menyebutkan nama ayah beliau adalah Syeikh Abdul Aziz al-Malaibar. Namun nama ayah beliau yang sebenarnya sebagaimana beliau tulis sendiri dalam kitab beliau al-Ajwibah al-Ajibah ‘an As`ilah al-Gharibah adalah Syeikh Muhammad al-Ghazali. Sedangkan Syeikh Abdul Aziz sendiri merupakan paman Syeikh Zainuddin ini.
Ayah beliau, Syeikh Muhammad al-Ghazali merupakan seorang ulama yang wara’ dan masyhur, ahli dalam ilmu hadits, tafsir dan kalam dan merupakan qadhi di Malaibar Selatan, dan juga merupakan pendiri mesjid jamik Chombal. Ibu beliau juga merupakan seorang wanita shalihah yang berasal dari keluarga yang dikenal keshalihannya.
Kakek beliau yang juga bernama Zainuddin - sehingga dikenal dengan Syeikh Zainuddin Kabir sedangkan cucu beliau dengan Zainuddin Saghir - sangat mencintai ulama sufi terlebih lagi Imam Ghazali, sehingga beliau menamai salah satu anaknya dengan nama Muhammad al-Ghazali yang merupakan ayah dari Syeikh Zainuddin. Kakek beliau memiliki banyak karangan. Salah satunya adalah Nadham dalam ilmu akhlak, Hidayah Atqiya` yang kemudian disyarah oleh anak beliau Syeikh Abdul Aziz al-Makhdumi dengan nama Maslak al-Atqiya wa Manhaj al-Ashfiya, disyarah oleh Saiyid Abu Bakar Syatha dengan nama Kifayatul Atqiya wa Manhaj al-Ashfiya dan juga disyarah oleh ulama Nusantara, Syeikh Nawawi al-Bantani dengan nama Sulam Fudhala’ li Khatimah Nubala`.  Syeikh Zainuddin Kabir juga mengarang nadham yang mengajak umat dan para raja berjihad melawan kafir Portugis.
Syeikh Zainuddin Shagir Memulai membaca ilmu dasar-dasar dalam agama kepada ayahanda dan ibunda beliau. Kemudian beliau menuju ke daerah Ponnan untuk belajar kepada paman beliau Syeikh Abdul Aziz yang mengajar di Mesjid Jamik di sana.

Imam Zainuddin al-Malaibari tidak mencukupkan perjalanan ilmiyah beliau hanya di negrinya saja, namun beliau memperluas rihlah ilmiyah beliau hingga mencapai jazirah Arab dan Hijaz sambil menunaikan ibadah haji dan umrah. Beliau menetap dalam waktu lebih kurang 10 tahun dan berguru kepada beberapa ulama besar di tanah Haramain. Di antara guru-guru beliau di Haramain adalah;

  1.  Syeikh Islam Ibnu Hajar al-Haitami, merupakan guru yang paling beliau cintai sehingga dalam kitab Fathul Muin beliau menyebutkan kata “syaikhuna/guku kami” secara mutlak untuk Ibnu Hajar al-Haitami.
  2. Syeikh Islam Izzuddin Abdul Aziz Az-Zamzami
  3. Syeikhul Islam Abdurrahman bin Zayad, mufti Negri Hijaz dan Yaman
  4. Syeikh Islam Saiyid Abdurrahman ash-Shafawi
  5. Imam Zainul Abidin Abu Makarim Muhammad bin Tajul Arifin Abi Hasan ash-Shiddiqi al-Bakri, yang merupakan murid dari Syaikhul Islam Zakaria al-Anshari.

Guru beliau, Syeikhul Islam Ibnu Hajar al-Haitami sangat mengagumi kecerdikan Imam Zainuddin. Para ahli sejarah menyebutkan bahwa Ibnu Hajar al-Haitami pernah mengunjungi Malaibar, India dan menetap beberapa waktu di Mesjid Jamik Ponnani tempat Syeikh Zainuddin mengajar.
Ketika beliau menetap di Haramain, beliau banyak menggunakan kesempatan untuk meminta fatwa kepada beberapa  ulama besar masa itu seperti kepada Syeikh Islam Syamsuddin Muhammad bin Ahmad ar-Ramli (w. 1004 H), Syeikh Muhammad Khatib asy-Syarbini (w. 979 H), Imam Abdullah Bamakhramah (w. 972 H), Imam Abdurrauf bin Yahya al-Makki yang juga murid dari Syeikhul Islam Ibnu Hajar al-Haitami. Pertanyan-pertanyan tersebut beliau kumpulkan dalam satu kitab yang beliau namakan dengan al-Ajwibah al-Ghaliyah fi al-As`ilah al-Gharibah.
Beliau mendapat talqin zikir jali dan khafi dari guru beliau Imam Muhammad bin Abi Hasan al-Bakri dan mengambil thariqat Qadiriyah dari beliau pada tahun 966 H/1587 M, tepat sebelum fajar hari jumat pada 10 Ramadhan.
Diantara ulama besar yang semasa dengan beliau dalam belajar adalah Syeikh Abu Bakar Salim al-Hadhrami, Syeikh Aidarus al-Ahmadiabadi, Imam Mula Ali Qari, Syeikh Ibnu Abdullah Saqqaf al-Hadhrami dll.

Murid-murid beliau.


Syeikh Zainuddin al-Malaibari merupakan salah satu pengkhadam Mazhab Syafii. Beliau mengajar ilmu syar’iyah dan ilmu Arabiyah di Mesjid Jamik Ponnani dalam masa 63 tahun. Dari halaqah beliau ini, lahirlah beberapa ulama besar, antara lain;
1.    Syeikh Abdurrahman al-Makhdum kabir al-Ponani
2.    Syeikh Jamaluddin bin bin Syeikh Usman al-Ma’bari al-Ponnani
3.    Syeikh Jamaluddin bin Syeikh Abdul Aziz al-Makhdum al-Ponnani
4.    Qadhi Usman Labba al-Qahiri
5.    Syeikh Qadhi Usman al-Qahiri
6.    dll

Karya-karya beliau.


    Selain mengajar, Syeikh Zainnuddin juga mengarang beberapa kitab dalam bahasa Arab. Di antara karya-karya beliau adalah;
1.    Irsyadul Ibad ila Sabil Rasyad, kitab yang berisi fiqh, aqidah dan tashawuf. Dalam kitab Fathul Mu’in, Syeikh Zainuddin sempat menyebutkan nama kitab Irsyadul Ibad ini.
2.    Ihkam Ahkam Nikah, kitab ini juga sempat beliau singguh dalam fathul muin pada awal kitab Nikah. Kitab ini pernah di cetak di Malaibar
3.    Qurratul ain bi muhimmat ad-din, yang merupakan matan dari Fathul Mu’in. Kitab ini disyarah oleh ulama Nusantara, Syeikh Nawawi al-Bantani dengan nama Nihayah al-Zain fi Irsyad al-Mubtadiin.
4.    Fathul Muin Syarh Qaurratul ain, kitab ini selesai dikarang tahun 982 H.
5.    Tuhfatul Mujahidin fi ba’dh akhbar Burtughaliyin, berisi tentang kelebihan berjihad dan sedikit sejarah kaum kafir di Malaibar dan sejarah perlawanan umat Islam terhadap penjajah Portugis, kitab ini selesai dikarang tahun 985 H. Kitab ini telah diterjemahkan kedalam berbagai bahasa dunia, sperti Inggris, Spanyol, Jerman, Prancis, Ceska, Persia, Urdu, Tamil, Gujarat dan kanada.
6.    Manhaj al-Wadhih syarah kitab beliau sendiri Ihkam Ahkam nikah, salah satu naskah manuskripnya ada di Universitas malik Suud Saudi Arabiya
7.    al-Ajwibah al-Ajibah ‘an As`ilah al-Gharibah
8.    Mukhtashar Syarah Shudur fi Ahwal al-mauta wal qubur Imam Suyuthi
9.    al-Jawahir fi Uqubah Ahli Kabair
10.    al-Fatawa al-Hindiyah

Kedudukan beliau dalam mazhab Syafii.

    Walaupun nama dan pendapat beliau tidak pernah disebut oleh ulama yang membahas seputar masalah perbedaan ulama muta`akhirin Syafii’iyah seperti Syeikh Sulaiman Kurdi, pengarang kitab Fawad Madaniyah fi man Yufta biqaulihi min Muta`akhiri Syafi’iyah, dimana beliau banyak menyebutkan tentang murid Ibnu Hajar al-Haitami yang lain seperti Syeikh Abdurrauf al-Makki, namun Syeikh Zainuddin al-Malaibary mendapat kedudukan yang besar dalam barisan ulama muta`akhirin Syafi`iyah. Hal ini dapat dilihat dari penerimaan dan pujian dari para ulama mazhab Syafii lain terhadap kitab beliau Fathul muin. Kitab Fathul muin dijadikan pelajaran di perbagai negara yang bermazhab Syafii seperti Mesir, India, Indonesia, Malaysia, Makkah, Madinah, Syam, Bagdad, Srilanka dll. Di Aceh, seluruh Dayah menggunakan kitab Fathul Muin dengan Hasyiah I’anah Thalibin sebagai kitab kurikulum setelah kitab Fathul Qarib dan Hasyiah al-Bajuri.
    Dalam kitab Fathul Muin, beliau lebih banyak cenderung kepada tarjih Imam Ibnu Hajar al-Haitami dari pada tarjih Imam Ramli.     Selain dikaji, kitab Fathul Muin juga di beri hasyiah oleh beberapa ulama, di antara hasyiahnya adalah;
1.    I’anathuth Thalibin karangan Saiyid Bakri Syatha. Kitab ini merupakan hasyiah dari fathul muin yang paling populer
2.    I’anathul musta’in syarh ‘ala Fathul muin karangan Syeikh Syahir Ali bin Ahmad bin Sa’id Bashabarin (wa. 1304 H)
3.    Tarsyihul mustafidin syarh ‘ala fath muin karangan Sayyid Alawi bin Saiyid Ahmad as-Saqqaf (w. 1335H/1916 M).
4.    Hasyiah ‘ala Fathul Muin karangan Maulana Ahmad asy-Syirazi al-Malaibari (w. 1326 H) terdiri atas 3 jilid
5.    Hasyiah ‘ala Fathul Muin karangan Syeikh Qanit Syihabuddin Ahmad Kuya asy-Syaliyati (w. 1374 H)
6.    Tansyith al-Muthali’in syarah ‘ala Fath Mu’in, karangan Syeikh Maulawi Ali bin Syeikh Arif billah Maulana Syeikh Abdurrahman an-Naqsyabandi at-Tanuri (w. 13347 H), belum sempurna.
7.    Syarah ‘ala Fath Mu’in karangan Syeikh Maulana Zainuddin al-Makhdumi al-Kahir al-Funnani (w.1304 H), terdiri atas 3 jilid.
8.    Ta’liq Kabir ‘ala Fath Mu’in, karangan Syeikh Ahmad bin Muhammad al-Balankuty (w. 1341 H)
9.    Dll

Anti Penjajahan


Syeikh Zainuddin al-Malaibar juga merupakan seorang ulama yang sangat anti kepada penjajahan Portugis kala itu. Beliau sangat mencintai tanah airnya dan berupaya menyadarkan kaumnya akan pentingnya mencintai tanah air. Beliau juga menciptakan nasyid-nasyid yang mendendangkan kecintaan kepada tanah air dan membangkitkan ruh jihad melawan kaum kafir.  Untuk tujuan itu beliau mengarang Kitab Tuhfatul Mujahidin fi Ba’dh Akhbar al-Burtuthaliyin.
Dalam kitab ini beliau menjelaskan sedikit tentang hukum dan dorongan untuk berjihad, sejarah perkembangan Islam di Malaibar, sedikit tentang adat istiadat kaum kafir di Malaibar, dan sejarah masuknya kaum kafir Eropa ke Malaibar serta bagaimana buruk dan kejamnya perlakuan mereka terhadap kaum muslimin. Beliau menghadiahkan kitab tersebut kepada Sultan Ali I bin Adil Syah, sultan di India Selatan masa itu.
Kitab ini mejadi sebuah kitab yang sangat bernilai karena menggerakkan perlawanan kepada kaum penjajah Portugis dan juga merupakan kitab pertama yang menceritakan sejarah Malaibar dahulu.
Dalam kitab Tuhfatul Mujahidin, Syeikh Zainuddin al-Malaibar juga menyebutkan bagaimana Portugis menguasai hampir seluruh Kerajaan di Islam di India dan wilayah Asia Tenggara. Beliau menyebutkan beberapa raja Muslim yang mampu merebut kembali benteng-bentang yang dibangun oleh Portugis, diantaranya adalah Sulthan al-Mujahid Ali al-Asyi yang tidak lain merupakan Sultan Kerajaan Aceh Darussalam, Sultan Ali Mughayat Syah, yang berhasil melepaskan Sumatra dari cengkraman Portugis. [1]

Wafat

Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ahli sejarah tentang tahun wafat beliau. Menurut Jirji Zaidan yang diikuti oleh Carl Brockelmann dan az-Zarkali, beliau wafat tahun 987 H/1579 M. Namun pendapat ini sanga tidak tepat, karena dalam kitab Tuhfatul Mujahidin, Syeikh Zainuddin al-Malaibar juga menceritakan kejadian-kejadian yang terjadi pada tahun 991 H/1583 M. Menurut pendapat yang kuat, beliau meninggal tahun 1028 H sebagaimana disebutkan oleh ahli sejarah India, Syeikh Muhammad Misliyar dalam kitabnya, Tuhfatul Akhyar fi Tarikh Ulama Malaibar.
Beliau dimakankan di dekat mesjid Jamik di Kungippalli, propinsi Chombal berdampingan dengan kubur istri beliau. Kubur beliau diziarahi oleh kaum muslim dari berbagai daerah.

[1] Tuhfatul Mujahidin, hal 287

Hukum Menjual Ayam Untuk Nyabung

Deskripsi masalah:

Tradisi pemeulöt  manok (laga ayam) memang sudah terjadi sejak  zaman dahulu, pekerjaan maksiat ini akrab kali dilakukan oleh mereka yang kurang mengerti dalam ilmu agama.Kebanyakan ayam yang  akan di laga di peroleh dari hasil pembelian dari peternak ayam dimanapun mereka berada.

Pertanyaan :

Bagaimana hukumnya menjual ayam kepada seseorang  yang bertujuan untuk melagakannya?

Jawaban :

Bila ditinjau dari haram halal penjualan barang pada dasarnya terdapat perincian sebagai berikut :

     - Bila kita meyakini atau dhan bahwa si pembeli membeli barang dengan bertujuan bermaksiat maka hukum menjualnya haram.

     - Bila kita waham (curiga yang sedikit) maka dimakruhkan untuk mejualnya.
Maka dalam hal menjual ayam kepada orang yang bertujuan melagakan ayam tersebut hukumnya haram.


- Kitab Fathul mu’in Juz 3 Hal 29



 (و) حرم أيضا: (بيع نحو عنب ممن) علم أو (ظن أنه يتخذه مسكرا) للشرب والامرد ممن عرف بالفجور به) والديك للمهارشة،الكبش، للمناطحة، والحرير لرجل يلبسه، وكذا بيع نحو المسك لكافر يشتري لتطييب الصنم، والحيوان لكافر علم أنه يأكله بلا ذبح، لان الاصح أن الكفار مخاطبون بفروع الشريعة كالمسلمين عندنا، خلافا لابي حنيفة - رضي الله تعالى عنه - فلا يجوز الاعانة عليهما، ونحو ذلك من كل تصرف يفضي إلى معصية يقينا أو ظنا، ومع ذلك يصح




donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja