Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Fatwa ulama: Membaca صدق الله العظيم dalam shalat

Deskripsi masalah:

Dalam setiap selesai membaca Al quranul karim kebiasaan manusia  membaca صدق الله العظيم di akhir penutupannya. Dalam shalat, Al-fatihah dan surat yang dibacakan sesudahnya juga merupakan sebagian ayat dari Al'quran.

Pertanyaan:

1.Apakah hukum membaca صدق الله العظيم setelah membacakan surat dalam shalat?

2.Bila dibaca apakah dapat membatalakan shalat ?

3.Apakah bacaan ini termasuk mengadakan hal-hal buruk dalam agama (bid’ah qabihah) ?

Jawaban:

Membaca  صدق الله العظيم setelah membaca surat boleh dan tidak dapat membatalkan shalat karena itu termasuk zikir yang bukan pembicaraan manusia akan tetapi ini termasuk dalam bid’ah yang tidak ada pada masa Rasulullah SAW. Pada dasarnya yang namanya bid’ah itu qabihah (buruk) selama tidak ada dalil yang menyatakan itu bid’ah hasanah. 

Pengucapan lafad صدق الله العظيم ini tidak sama dengan pengucapan doa ketika ayat-ayat rahmat dan menuntut tolong ketika ayat azab, tidak sama juga seperti pengucapan بلى وأنا على ذلك من الشاهدين pada ketika membaca ayat  اليس الله باحكم الحكمين  karena pengucapan ini termasuk hal yang khusus, bukan seperti  pengucapan صدق الله العظيم yang umum kepada semua ayat Al qur’an, maka karena itu, pengucapan ini jelas qabih (buruk) .  Wallahua’lam bisshawab.

Referensi : Kitab Fatawa Al I’raqiyyi Hal 150 Cet, Darul fathi



Perbedaan Isim Fa’il dan sifat Musyabihat

A. Pengertian isem fai’il

اسم الفاعل : صفة تؤخذ من الفعل المعلوم لتدل على معنى وقع من الوصوف بها او قام به على وجه الحدوث لا الثبوت ككاتب ومجتهد.
Isem fai’il adalah sifat yang diambilkan dari fi’il yang maklum (ma'ruf) supaya menunjuki atas makna yang terjadi dari mausuf atau yang berdiri dengannya atas wajah hudust bukan tsubut, seperti كاتب dan مجتهد .

B. Pengertian sifat musyabihat

الصفة المشبهة : صفة تؤخذ من الفعل اللازم للدلالة على معنى قائم بالموصوف بها على وجه الثبوت لا على وجه الحدوث, كحسن وكريم وصعب.

Sifat musyabihat adalah sifat yang diambilkan dari fi’il lazim supaya mendilalah (indikasi) diatas makna yang berdiri dengan mausuf atas wajah tsubut bukan atas wajah hudust, seperti حسن, كريم dan صعب .

C. Perbedaan isem fa’il dan sifat musyabihat

Perbedaan isem fa’il dan sifat musyabihat ada 5 faktor :

1. Sifat musyabihat menunjuki atas sifat yang tsubut, sedangkan isem fa’il menunjuki atas sifat yang tajaddud.

2. Isem fai’il terjadi pada salah satu zaman yang tiga, sedangkan sifat musyabihat itu bagi makna yang kekal lagi yang hadhir kecuali sifat musyabihat ada disana qarinah yang menunjuki atas khilaf hadhir, seperti

كان سعيد حسنا فقبح.

3. Sifat musyabihat dishighatkan dari fi’il lazim secara qiyasi dan tidak dishighatkan dari fi’il muta’addi kecuali sima’i, seperti رحيم dan عليم.

4. Sifat musyabihat tidak lazim berlakunya atas wazan fi’il mudhari’ pada harakatnya dan sukunnya kecuali apabila dishighatkan dari selain fi’il tsulatsi mujarrad. Sedangkan isem fa’il wajib padanya demikian secara muthlak.

5. Sifat musyabihat boleh diidhafah kepada fa’il bahkan dianggap bagus, seperti حَسَنِ الخُلْق asalnya حَسَنٌ خُلُقُهُ.
Sedangkan isem fa’il tidak boleh diidhafah kepada fa’il, maka tidak boleh kita katakan خليلٌ مُصِيبُ السَهْمِ الهَدفِ artinya مصيبٌ سهمُهُ الهدف.

Referensi:

Jami’ durus, Cet. Darul fikri, hal. 115, 120, 124, 125

Keistimewaan hari dalam seminggu

Berkata sebagian ulama yang bahawasanya bumi dan langit itu diciptakan oleh Allah SWT pada hari Ahad, maka hikmatnya bagi orang yang hendak membangun suatu rumah atau bangunan lainnyauntuk dapat membangun pada hari tersebut.

Kemudian Allah ciptakan Matahari dan bulan pada hari senin dimana sifat keduanya itu berjalan dari arah timur ke arah barat, maka bagi yang hendak berpergian alangkah baiknya untuk bersafar pada hari senin.

Selanjutnya Allah menciptakan segala hewan didarat maupun dilaut pada hri selasa kemudian Allah perbolehkan untuk menyembelihnya (menumpahkan darahnya), hikmatnya orang yang berencana mendonorkan darahnya atau membekam maka yang terbaik dilakukan pada hari selasa.

Pada hari rabu Allah menciptakan segala sungai dan laut dan memperboleh untuk menikmatinya dengan meminumnya, maka terhadap orang yang ingin meminum obat agar dapat meminunya pada hari rabu.

Tepatnya dihari Kamis Allah menciptakan surga dan neraka dan menjadikan surga sebagai tempat keperluan bagi manusia dan menjadikan neraka kelepasan baginya, maka terhadap orang yang ingin ditunaikan hajatnya  dari seseorang yang lain untuk dapat memintanya pada hari kamis

Terakhir Allah ciptakan Nabi Adam AS dan pasangannya siti Hawa pada hari jum'at dan mengawininya pada hari tersebut, maka terhadap orang yang ingin menempuh nikah baiknya melaksanakan pada hari jum'at.

Wallahua'lam bisshawab

Sumber : Kitabussaba'ti  fi mawa'izil bariyyati Hal 39-40

simak juga pemaparannya di :
https://www.youtube.com/watch?v=_woGyYjcmLI


kebaikan mengkonsumsi halal dan kemudharatan haram

Makanan halal merupakan makanan yang wajib kita konsumsi hal ini sangat jelas hadist dari Rasulullah SAW yang bahwa:

طلب الحلال فرىضة على كل مسلم
    "mencari makanan halal itu fardhu diatas tiap orang muslim"

Disamping itu mengkonsumsi makanan halal juga mendapat kelebihan-kelebihan dari Allah SWT, sama halnya seperti mengkunsumsi makanan haram yang membawa kemudharatan kepada jasmani dan rohani. Adapun kelebihan dari mengkonsumsi makanan  halal dan mudharat dari makanan haram menurut penulis dapatkan dari kitab mukhtasar ihyal ulumiddin adalah:
1. Orang yang mengkonsumsi makanan halal selama empat puluh hari maka Allah akan mencahayakan hatinya dan Allah berikan kepadanya gudang hikmah kedalam qalbunya, dalam satu hadist riwayat yang lain disebutkan akan Allah berikan kezuhudan kepadanya.

من اكل الحلال اربعىن ىوما نور الله قلبه واجري ىنابع الحكمة من قلبه
"orang yang makan makanan halal dalam empat puluh hari, maka Allah cahayakan hatinya dan memberikan gudang hikmat dalam hatinya"

2. Doa orang yang menkonsumsi makanan halal di ijabahkan oleh Allah SWT,ini juga terdapat dalam hadist Rasullullah.

ان سعدا سأل رسول الله صلى الله عليه وسلم أن ىسأل الله أن ىجعله مستجاب الدعوة فقال أطب طعمك تستجاب دعوتك
sa'ad menanyakan kepada Rasulullah SAW Supaya Rasulullah meminta kepada Allah SWT agar diterimakan doanya, Rasulullah SAW bersabda : "Perbaguskan makananmu niscaya diterimakan doamu"

Adapun kemudharatan yang ditimbulkan dari makana  haram adalah :
1.Segala malaikat yang berada diatas Baitul maqdis menyeru menyeru tiat-tiap malam kepada kepada orang yang makan haram : "tidak diterimakan bagi kalian amalan yang wajib dan sunat"
2.Orang yang mengkunsumsi makanan haram tidak akan diterimakan shalatnya oleh Allah SWT selama  makan tersebut masih berkekalan padanya.
3.Neraka  terlebih layak bagi pemakan haram.
Ini hanya sebagian kecil yang penulis terjemahkan dari kitab mukhtasar ihya ulumiddin intinya banyak sekali manfaat  bagi badan dan rohani kita seandainya kita mengkonsumsi makan halal dan mudharat dari makanan haram.

Referensi : Mukhtasar ihya ulumuddin Hal 114 Cet, Dar Assalam

https://www.youtube.com/watch?v=8NLzXaOVx1s



Fatwa ulama: hukum menggauli istri lewat dubur saat haid

Deskripsi masalah:

Dalam islam segala sesuatu itu diatur sehingga dikatakan islam ini menjadi rahmat terhadap pemeluknya inilah perbedaan agama islam dengan agama lainnya yang hanya mengatur seputar ketuhannya saja. Dalam islam semua diatur sampai kepada hak biologis pemeluknya, sebatas mana yang diperbolehkan dan tidak. Dalam berhubungan badan, kita ketahui bersama tidak diperkenankan menggauli istri  (lewat faraj) saat istri sedang haid. Hal ini karena larangan Al qur’an yang tentunya membawa kemudharatan kepada setiap pelanggarnya.

Pertanyaan :

Bagaimana hukumnya menggauli istri saat haid lewat jalan belakang ( dubur) ?

Jawaban:

Dalam satu hadist disebutkan Rasululullah SAW bersabda :

لا تأتوا النساءفى أحشاشهنَّ 
 "Jangan kalian setubuhi istri-istri kalian dalam kekecian"

Maksud Al hasshi disini maknanya adalah dubur, bahkan dalam Al quran Allah SWT berfirman :


(فَأتُوْاهُنَّ مِنْ حَيْثُ أمَرَكُمُ اللَه ) 
"Setubuhi istri-istri kalian pada tempat yang diperintahkan Allah" QS Al baqarah 222

Dalam ayat lain Allah berfirman :

(فَأتُوْاحَرْثَكَم أنَّى شِئتُمْ) 
"Setubuhi istri-istri kalian bagaimana kalian kehendaki" QS. Al baqarah 222-223

Maksud kata al hars disini adalah faraj, dinamakan faraj dengan al hars karena faraj itu tempat bercocok tanam . Karena dalil ini, ijmak para ulama haram menggauli istri lewat belakang (dubur). Tidak diperkenankan pula terhadap istri mematuhi suaminya pada masalah ini karena berdasarkan hadist Rasulullah SAW :

 لاَطَاعَةَ لمَخلوْق فِى مَعْصية الخَالِق
"Tidak ada ketaatan pada makhluk dalam bermaksiat pada sang pencipta"

Adapun menggauli istri dengan gaya dari arah belakang (doggy style) ke dalam faraj maka dibolehkan. karena ayat :

(فَأتُوْاحَرْثَكَم أنَّى شِئتُمْ) 
 "Setubuhi istri-istri kalian bagaimana kalian kehendaki" QS. Al baqarah 222-223

Artinya diperbolehkan menggauli lewat depan, belakang, dalam posisi berdiri, dan duduk, dan segala gaya lainnya, tidak diperkenankan kedalam dubur karena dubur itu tempat kotor sedangkan islam agama yang bersih dan mencintai kebersihan.
Begitu pula diharamkan menggauli istri dalam lubang anus saat istri sedang berhaid alasannya karena karena kedua tempat ini (faraj dan anus) sama-sama diharamkan Allah SWT dan Rasulnya.
Para dokter mengemukakan penyakit yang ditimbulkan dengan sebab melakukan perbuatan keji ini salah satunya adalah AIDS.
Banyak hadist-hadist yang melarang menggauli istri lewat dubur salah satunya:
Hadist Abdullah bin umar Rasulullah SAW bersabda:

 هِي اللوطية الصغريَ
"Menggauli istri lewat dubur termasuk liwat kecil"

Dalam hadist lain Rasulullah SAW bersabda :

"Orang yang menggauli istrinya sedang berhaid, atau dalam duburnya, atau seseorang yang mendatangi pendeta lalu membenarkanya, maka mereka telah ingkar terhadap yang diturunkan kepada Muhammad SAW"  HR.Ahmad, Turmizi, Nasai dan Ibnu majah.

Wallahua'lam bisshawab.

Referensi: Kitab Fatawa Tahurrul mar'ah Hal 36-37 Cet, Darl Fath


Bolehkah perempuan haid memandikan mayat?

Deskripsi masalah:

Salah satu hal yang harus di tajhizkan terhadap jenazah adalah memandikannya, memandikan mayit merupakan fardhu kifayah terhadap orang yang ditinggalkannya, dimana tujuan dari pekerjaan ini adalah untuk membersihkan si mayat yang akan di masukkan ke liang lahat nantinya.

Pertanyaan:

Apakah diperbolehkan terhadap orang yang sedang haid memandikan jenazah?

Jawaban:

Dalam mazhab syafi’ dan hambali dibolehkan terhadap orang berjunub atau berhaid memandikan mayit (tidak dimakruhkan) karena maksud dari memandikan jenazah itu sendiri adalah membersihkan mayit yang bisa dilakukan walau oleh orang berjunub dan haid dan tidak disyaratkan terhadap si ghasil (yang memandikan) harus dalam keadaan suci.

- Hasyiyah Al-bajuri 1/246 :

ولا يكره لنحو جنب غسله

- Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah 39/414-415 :

ذهب الحنفية والشافعية والحنابلة إلى جواز أن يغسل الجنب والحائض الميت بلا كراهة لأن المقصود هو التطهير، وهو حاصل بالجنب والحائض، ولأنه لا يشترط في الغاسل الطهارة وذهب المالكية إلى كراهة غسل الجنب للميت لأنه يملك طهره ولا يكره تغسيل الحائض لأنها لا تملك طهرها . وروي عن أبي يوسف أنه كره للحائض الغسل لأنها لو اغتسلت لنفسها لم تعتد به فكذا إذا غسلت



Mengenal Kitab Tuhfatul Muhtaj

Kitab Tuhfatul Muhtaj ini merupakan kitab fiqh karangan Syaikhul Islam Ibnu Hajar al-Haitami merupakan syarah atas kitab Minhajul Thalibin Imam Nawawi. Sebagaimana telah maklum bahwa kitab Minhaj Imam Nawawi ini merupakan salah satu kitab matan fiqh yang terpopuler semenjak masa Imam Nawawi hingga sekarang. Para ulama berlomba-lomba berkhidmat kepada kitab ini. Ada yang hanya mempelajari dan mengajarinya saja, ada yang juga menghafalnya, ada yang meringkasnya atau mensyarahnya.
Di antara sekian banyak kitab fiqh mukhtashar, kitab Minhaj merupakan kitab yang mukhtashar yang paling banyak di syarah oleh para ulama. Di antara syarah kitab Minhaj yang paling populer adalah kitab Tuhfatul Muhtaj karangan Syeikhul Islam Ibnu Hajar al-Haitami. Tuhfah menjadi kitab fiqh karangan ulama mutaakhirin yang paling populer bersama dengan Nihayatul Muhtaj karangan Imam Jamal Ramli.
Kitab tuhfah merupakan kitab fiqh aliyah yang hanya dipelajari oleh para pelajar yang telah mempelajari kitab-kitab fiqh lain yang lebih kecil. Maka majlis pengajian Tuhfah merupakan majlis para ulama. Maka untuk zaman ini memang jarang para pelajar yang belajar sampai kitab Tuhfah kecuali hanya menelaahnya sendiri saja. KH. Sirajuddin Abbas menceritakan bahwa majlis kitab Tuhfah di Padang yang di asuh oleh KH. Sa’ad Munka di hadiri oleh para ulama-ulama besar Padang seperti Syeikh Abbas Lawas Bukit Tinggi, Syeikh Abdul Wahed Tabek Gadang, Syeikh Sulaiman ar-Rasuli, Syeikh Yahya al-Khalidi Magek Bukit Tinggi dll.

Kitab Tuhfah ini tergolong unik. Beberapa hal yang unik yang perlu kita ketahui dari kita Tuhfahtul Muhtaj antara lain;
  • 1. Selesai dikarang dalam waktu yang relatif singkat.
Kitab Tuhfatul Muhtaj dikarangan oleh Ibnu Hajar dalam waktu yang singkat, beliau memulainya pada 12 Muharram 958 H dan selesai pada 27 Zulqa’dah 958 H, hanya sepuluh bulan, satu masa yang sangat singkat untuk satu karya sebesar Tuhfah. Perbedaan sangat terlihat jauh ketika kita membandingkan dengan syarah Minhaj lain yaitu Nihayatul Muhtaj yang selesai dalam masa sepuluh tahun (mulai bulan Zul qa’dah 963 H/1555 M dan selesai pada malam jumat 19 jumadil akhir 973 H/1565 M) dan Mughni Muhtaj yang selesai dalam jangka waktu empat tahun (959 H – 963 H). Ibnu Hajar dalam kitab Tuhfah banyak mengambil dai hasyiah guru beliau, Syeikh Abdul Haq atas Syarah Minhaj karangan Imam al-Mahalli.
  • 2. Ibaratnya yang sulit

Karena masa penulisan yang sangat cepat, maka ibarat kitab Tuhfah tergolong sangat sulit. Bila kita membandingkan itab Tuhfatul Muhtaj dengan dua syarah Minhaj yang setingkat dengannya, Nihayatul Muhtaj dan Mughnil Muhtaj, maka kita akan dapati perbedaan yang sangat jauh. Di mana ibarat kitab Tuhfah sangat sulit dan rumit. Murid Ibnu Hajar sendiri, Saiyid Umar menyatakan bahwa guru beliau Ibnu Hajar berupaya menulis Tuhfah dengan bahasa yang ringkas karena mengharap mudah di ambil faedah oleh para pelajar, namun ternyata bahasa Ibnu Hajar di anggap terlalu ringkas sehingga baru mudah dipahami setelah menguasai pendapat-pendapat manqul dari ulama mutakaddimin dan kritikan-kritikan ulama mutaakhirin dan istilah-istilah mereka. Karena itu, beberapa para ulama berusaha menuliskan kitab khusus yang membuka tabir istilah-istilah Syeikh Ibnu Hajar dalam kitab Tuhfah. Beberapa kitab yang menjelaskan istilah kitab Tuhfah adalah ‘Uqud ad-Durar fi mushthalahat Tuhfah Ibn Hajar karangan Syeikh Sulaiman Kurdi, Fawaid al-Madaniyahfi man Yufta bi qaulihi min aimmah asy-Syafi’iyah yang kemudian di ringkas oleh ulama asal Malabar, India, Syeikh Ahmad Kuya Ali asy-Syaliyati dengan nama ‘Awaid Diniyah fi Talkhish al-Fawaid Madaniyah juga karagan Syeikh Sulaiman Kurdi, Tazkiratul Ikhwan fi Mushthalah Tuhfah karangan murid Syeikh Sulaiman Kurdi yaitu Syeikh Muhammad bin Ibrahim ‘Aliji al-Qulhani (di cetak oleh penerbit Dar Shalih Mesir, tahun 2017), ulama asal Dangestan, Syarah Khutbah Tuhfah karangan al-Allamah Jarhazi, dan Risalah fi Mushthalahat at-Tuhfah karangan Imam Jarhazi. ini belum termasuk kitab-kitab yang dikarang setelahnya yang umumnya merupakan kutipan dari kitab Syeikh Sulaiman Kurdi dan Tazkirah Ikhwan karya murid beliau, Syeikh Muhammad Ibrahim ‘Alijy.

  • 3. Menjadi rujukan utama ulama mutaakhirin.

Kitab Tuhfah bersama Nihayatul Muhtaj karangan Imam Jamal Ramli merupakan rujukan utama dalam bidang bidang fiqh Mazhab Syafii. Kedua isi kitab ini menghiasai hampir semua kitab-kitab fiqh mazhab Syafii yang dikarang setelahnya. Bahkan sebagian ulama melarang berfatwa menyalahi kedua kitab ini.
Para ulama sepakat bahwa hukum yang di sepakati oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami dan Imam Ramli merupakan hukum yang paling kuat. Namun para ulama berbeda pendapat tentang siapa yang lebih di dahulukan bila terjadi perbedaan pendapat antara Imam Ibnu Hajar al-Haitami dengan Imam Ramli.
Ulama Negri Hadharamaut, Syam, Akrad, Daghistan, kebanyakan ulama Yaman dan beberapa negri lainnya lebih mendahulukan Imam Ibnu Hajar al-Haitami. Sedangkan ulama Negri Mesir atau mayoritas ulama Mesir dan sebagian ulama Yaman lebih mendahulukan pendapat Imam Ramli bahkan masyhur berita bahwa para ulama Mesir telah berjanji tidak akan berfatwa dengan menyalahi pendapat Imam Ramli. Dalam beberapa hal yang berbeda pendapat dengan Imam Ibnu Hajar al-Haitami, Imam Ramli mengikuti pendapat bapak beliau, Imam Syihab Ramli.
Imam Sya`rani ketika menceritakan riwayat Imam Syihab Ramli menerangkan “Allah ta`ala menjadikan para fuqaha` tetap pada pendapat beliau (Syihab Ramli) baik di timur dan barat, di Mesir, Syam dan Hijaz, mereka tidak menyalahi pendapat Imam Syihab Ramli.
Imam Sulaiman Kurdi menyebutkan “mudah-mudahan hal ini terjadi sebelum muncul Imam Ibnu Hajar al-Haitami, manakala muncul Imam Ibnu Hajar al-Haitami, para ulama Nengri Syam dan Hijaz tidak menyalahi pendapat Imam Ibnu Hajar”.
Namun ada juga beberapa ulama Mesir yang lebih mendahulukan Imam Ibnu Hajar, bahkan Syeikh Ali Syabramallisi, ulama Mesir yang memberi hasyiah pada kitab Nihayah Muhtaj karangan Imam Ramli, pada mulanya lebih menekuni kitab Tuhfah Imam Ibnu Hajar al-Haitami. Hingga pada satu malam beliau bermimpi bertemu dengan Imam Ramli, beliau berkata “hidupkanlah kalamku ya Ali, Allah akan menghidupkan hatimu” maka semenjak saat itu Imam Ali Syibramalisi menekuni kitab Nihayah Muhtaj sehingga beliau menulis hasyiah atas kitab Nihayah Muhtaj yang terkenal sampai saat ini. Imam Qalyubi yang juga ulama Mesir (yang memberi hasyiah terhadap kitab Syarh al-Mahalli `ala Minhaj Thalibin) pada beberapa tempat juga lebih mengunggulkan pendapat Imam Ibnu Hajar al-Haitami.
Sedangkan ulama Haramain (Makkah dan Madinah) pada mulanya lebih mengunggulkan pendapat Imam Ibnu Hajar al-Haitami. Kemudian datanglah para ulama Negri Mesir ke Haramain. Mereka menerangkan dan mentaqrirkan pendapat mu`tamad imam Ramli dalam majlis pengajaran mereka sehingga mu`tamad Imam Ramli juga masyhur di Makkah dan Madinah, hingga akhirnya para ulama yang menguasai dan memahami kedua pendapat Imam Ibnu Hajar al-Haitami dan Imam Ramli menerima keduanya tanpa mengunggulkan salah satunya.
Kesepakatan Imam Ibnu Hajar dan Imam Ramli memiliki kedudukan yang kuat dalam Mazhab Syafii, bahkan syeikh Sa`id Sunbul al-Makki mengatakan “tidak boleh bagi seorang mufti berfatwa dengan pendapat yang menyalahi pendapat Imam Ibnu Hajar dan Imam Ramli terutama kitab Tuhfah dan Nihayah walaupun sesuai dengan pendapat keduanya dalam kitab yang lain. Beliau mengatakan “sebagian para ulama dari daerah Zamazimah telah memeriksa kalam kitab Tuhfah dan Nihayah, maka beliau mendapati kedua kitab tersebut merupakan sandaran dan pilihan mazhab Syafii”.
Kitab Nihayatul Muhtaj, setelah selesai dikarang, telah dibacakan dihadapan muallifnya sendiri dari awal hingga khatam dengan di hadiri oleh 400 ulama yang mengkritisi dan mentashhih kitab beliau tersebut sehingga kesahihannya mencapai tingkat tawatur. Sedangkan kitab Tuhfah Ibnu Hajar al-Haitami telah dibacakan dihadapan muallifnya sendiri oleh para ulama para muhaqqiq yang jumlahnya sudah tidak terhitung lagi.
Secara umum pada masalah-masalah yang terjadi perbedaan pendapat antara Imam Ibnu Hajar al-Haitami dengan Imam Ramli, pendapat Imam Ramli lebih ringan dari pada pendapat mu`tamad Imam Ibnu Hajar. Beberapa ulama melakukan pengkajian khusus tentang perbedaan antara Imam Ibnu Hajar al-Haitami dengan Imam Ramli dan membukukannya dalam kitab khusus, antara lain kitab Busyra Karim karangan Syikh Sa’id Muhammad Ba’ashan, kitab Fathul ‘Ali bi Jam’i Bi Jam’i Khilaf Baina Ibn Hajar wa Ramli karangan Syeikh Umar bin Habib Ahmad Bafaraj Ba’alawi (dicetak oleh Dar Minhaj dengan tahqiqan dan ta’liq dari DR. Syifa Hasan Hitu, putri Syeikh Hasan Hitu, pendiri STAI Imam Syafii Cianjur).

  • 4. Banyaknya para ulama yang memberikan hasyiah

Tidak semua kitab-kitab yang besar mendapat perhatian para ulama dengan memberikan hasyiah. Namun kitab Tuhfahtul Muhtaj termasuk kitab yang menarik perhatian para ulama untuk memberi hasyiahnya. Hasyiah-hasyiah tersebut berisi penjelasan terhadap kalam Ibnu Hajar bahkan juga ada kritikan-kritikan terhadap Tuhfah sendiri atau jawaban terhadap kritikan orang terhadap ibadat Tuhfah. Ibnu Hajar sendiri juga memberikan hasyiah terhadap kitab beliau tersebut, dengan nama Thurfatul Faqir bi Tuhfatil Qadir, namun tidak sampai selesai. DR. Saiyid Musthafa bin Hamid Smith dalam mukaddimah munkhtashar Tuhfah karya beliau, mencatat ada sekitar 34 hasyiah terhadap kitab Tuhfatul Muhtaj. Itu tidak termasuk beberapa hasyiah dan ta’liqat ulama Negri Dangestan yang disebutkan oleh Syeikh Muhammad Ghudubiry dalam mukaddimah beliau terhadap tahqiq kitab Tazkiratul Ikhwan karangan Ibnu ‘Alijy yang tidak sempat di catat oleh DR. Mushtafa Smith.

Syeikh Ramadhan al Buthy; Hukum Telponan dengan Tunangan?

Hidup di akhir zaman banyak fitnah yang terjadi. Halal dan haram banyak disepelekan. Dalam hal pergaulan, kita lihat banyak generasi kita yang sudah mengikuti budaya barat. Salah satu hal yang saat ini sering kita temukan adalah saat ketika seorang laki-laki sudah tunangan, ia bagaikan sudah menikah. Bahkan orang tua mereka tidak mencegah mereka lagi untuk berdua-duan.
sebagian orang yang lain, kadang masih mampu menjaga diri untuk tidak bertemu. Namun dengan adanya alat komunikasi saat ini, godaan akan semain besar, mereka bisa berhubungan lewat telpon dan chatingan tanpa harus bertemu. Nah bagaimana hukumnya telponan atau chatingan dengan tunangan? Syeikh Sa’id Ramadhan al-Buthy pernah di tanyakan hal serupa dalam halaman website yang beliau asuh. Berikut nash pertanyaan dan jawaban beliau disertai terjemahannya;

الاتصال بالمخطوبة قبل العقد عليها
هل يجوز للخطيب أن يتصل هاتفيا بخطيبنه أيام الخطوبة ؟ ولكم جزيل الشكر
لا مانع من المحادثة فى الهاتف للخطبية وغيرها إذا كان الخطاب تحقيقا لحاجة مشروعة وبطريقة مذهبة منضبطة والخطيبة كغيرها من النساء ما دام عقد الزواج لم يوجد بعد

Apakah boleh laki-laki yang bertunangan berbicara lewat telepon dengan wanita tunangannya selama dalam masa pertunangan?

Baca juga; Hukum telponan dengan wanita non mahram

Jawaban;

Tidak ada larangan untuk berbicara lewat telpon baik dengan wanita tunangan atau bukan apabila pembicaraan tersebut karena adanya hajat yang dibenarkan oleh syara’ dan dengan jalur terjaga. Wanita tunangan sama seperti wanita lainnya sebelum adanya akad pernikahan.

Kesimpulannya.

Dari jawaban Syeikh Ramadhan al-Buthi tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam hal berbicara wanita tunangan masih sama dengan wanita lainnya. Telponan dengan mereka hanya dibolehkan untuk sekadar keperluan saja dan dengan syarat tidak menimpulkan fitnah. Yang dibolehkan dengan wanita tunangan hanyalah memandang wajah dan telapak tangannya saja, sedangkan menyentuh atau berdua-duan tetap hukumnya adalah haram. Maka ketika ditakutkan terjatuh ke dalam fitnah, segeralah menikah demi menjaga agama kita. Semoga Allah menjaga kita dari fitnah di akhir zaman ini.




Download Audio Tuhfatul Ikhwan fil Ilm Bayan

Salah satu kitab ilmu balaghah yang umumnya menjadi kitab muqarrar (kurikulum) di dayah-dayah di Aceh adalah Kitab Tuhfatul Ikhwan fil Ilmi Bayan karangan Imam Ahmad ad-Dardir (1127 H-1201 H). Kitab ini dipelajari sebelum santri mempelajari kitab Jauhar Maknun. Pembahasan dalam kitab Tuhfatul Ikhwan ini hanya terbatas pada ilmu Bayan saja yang mencakupi masalah majaz, tasybih dan kinayah. Selain itu pembahasan kitab majaz dalam kitab ini hanya dibatasi atas dasar satu pendapat saja, yaitu pendapat kaum. Hal ini menyebabkan kitab ini tidak tebal. Kitab ini disyarah oleh murid Syeikh Ahmad Dardir sendiri, Syeikh Ahmad Shawi (1175 H- 1241 H), pengarang kitab Hasyiah Shawi 'ala Jalalain. Selanjutnya, hasyiah Imam Shawi ini di beri hasyiah lagi oleh Imam Ali bin Husen al-Bulaqi. Selain syarahan Imam Ahmad Shawi kitab Imam Ahmad Dardir ini juga disyarah oleh beberapa ulama lain.
Bagi yang berminat mendengarkan pengajian kitab Tuhfatul Ikhwan fil Ilm Bayan, bisa mendownloadnya pada link di bawah ini, namun kami mohon maaf, karena pengajiannya menggunakan bahasa Aceh. Kitab cetakan yang dijadikan pegangan halaman dalam audio ini adalah cetakan Haramain, Surabaya.

  1. Halaman 1 - 10
  2. Halaman 10 - 12
  3. Halaman 12 - 14
  4. Halaman 14 - 16
  5. Halaman 16 - 19 (khatam)
Atau bisa juga langsung menuju ke www.archie.org 

Untuk file pdf kitab Tuhfatul Ikhwan bisa di download di SINI, sedangkan untuk hasyiah Imam Ahmad Shawi bisa di download di SINI


Fatwa Ulama : Hukum Bekerja Bagi Wanita


Pada era globalisasi ini, wanita yang bekerja untuk membiayai kehidupannya sendiri sudah menjadi hal yang biasa. Dengan adanya emansipasi wanita, maka sudah tidak heran jika banyak wanita yang dapat memenuhi kebutuhannya sendiri. Wanita tidak lagi dianggap sebagai manusia yang lemah dan hanya dapat menggantungkan dirinya pada kaum lelaki. Tidak seperti wanita pada era terdahulu, wanita hanya dapat bersembunyi di belakang punggung lelaki. Walaupun itu telah menjadi hal yang lumrah untuk wanita di era modern ini untuk menitih karirnya, tetapi banyak dijumpai wanita karir yang tidak dapat menyeimbangkan antara karir dan keluarga. Berprofesi sebagai wanita karir merupakan celah paling besar timbulnya dampak negatif dalam rumah tangga. Syaikh Sayyid Abdullah bin Mahfudh al-Haddad pernah ditanyakan tentang hal ini:


س : هل يجوز أن تعمل ولو كانت غير محتاجة للعمل ؟

الجواب : إن الشارع لا يمنعها من العمل في أي وقت و في أي حال . و لكن قواعد الشارع تطلب منها ألا تتعرض للعمل خارج بيتها إلا للحاجة ، بشرط أن تتجنب ما قد ينتج عن الاختلاط بالأجانب ، وخصوصا إذا كانت ذات زوج و أطفال ، فإن عملها المجيد هو خدمة بيتها و تربية أطفالها و رعايتهم و تنشئتهم على الاخلاق الاسلامية الحميدة . فعملها هذا يعدّ جهادا في سبيل الله ، كما أجاب بذلك رسول الله صلى الله عليه وسلم النسوة اللاتي سألنه و قلن له : ان الرجال يجاهدون و يحصلون على الشهادة فما مقابل ذلك للمرأة قال : ( إن مهنة احداكنّ في بيتها تدرك به عمل المجاهدين في سبيل الله ) ، و أورد في (الحلية) عن ابن عمر عن النبي صلى الله عليه و سلم بسند حسن : (المرأة في حملها إلى وضعها إلى فصالها كالمرابط في سبيل الله ، فإن ماتت فيما بين ذلك فلها أجر شهيد) ، و في لفظ آخر عن ابن عمر عن النبي صلى الله عليه و سلم قال : إن للمرأة في حملها الى وضعها الى فصالها من الأجر كالمرابط في سبيل الله ، فإن هلكت فيما بين ذلك فلها أجر شهيد).

أما عن العمل المناسب لها ، فكل عمل يبعدها عن الاختلاط بين الاجانب : كتدريس البنات و الاولاد الصغار فهو أنساب و أسلم . و كذلك الطب إذا كان مختصا بشؤون النساء والأطفال . والله أعلم

Pertanyaan :
Apa hukum bekerja bagi seorang wanita yang kebutuhannya telah dipenuhi oleh suami?

Jawaban :
Syari’ tidak mencegah wanita untuk bekerja kapanpun dan dalam kondisi apapun. Akan tetapi ketetapan syari’ menuntut para wanita agar tidak bekerja di luar rumah. Kecuali karena kebutuhan yang mendesak, dengan syarat ia terhindar dari sesuatu yang dapat menimbulkan bercampur-baur dengan lawan jenis yang ajnabi. Sedangkan bila wanita tersebut merupakan seorang ibu rumah tangga yang memiliki suami dan anak, maka pekerjaan yang paling baik baginya adalah mengurus rumah, mendidik dan menjaga anak-anaknya, serta memperbaiki dan mengajari mereka tentang akhlak-akhlak yang terpuji. Adapun karir wanita yang seperti ini digolongkan ke dalam jihad fi sabilillah. Sebagaimana Nabi saw. pernah menjawab pertanyaan para wanita: “para lelaki, mereka berjihad dan mereka memperoleh gelar syahid, lalu apa yang setara dengan jihad bagi kami perempuan?” Rasulullah saw bersabda: “karir kalian adalah di dalam rumah, kalian akan memperoleh amalan para mujahidin yang berperang di jalan Allah.” Dan telah warid satu hadits yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar dari Rasulullah saw dengan sanad yang hasan: “Wanita yang mengandung hingga melahirkan, ia sama seperti seseorang yang sedang berjuang di jalan Allah, bila ia meninggal dalam kondisi demikian maka ia memperoleh fahala orang yang mati syahid.”
Dalam lafadz yang lain diriwayatkan dari Ibnu Umar dari Nabi saw bersabda: bahwasanya wanita yang sedang mengandung hingga ia melahirkan dan hingga selesai fahalanya setara dengan fahala orang yang berjuang di jalan Allah, jika ia meninggal dalam kondisi sedang melahirkan, maka baginya fahala syahid.
Adapun karir yang pantas dan sesuai bagi seorang wanita adalah pekerjaan yang terhindar dari bercampur-baur dengan lawan jenis yang ajnabi: seperti mengajar anak perempuan, anak laki-laki yang masih kecil, pekerjaan yang demikian lebih sesuai dan lebih selamat bagi seorang perempuan. Dan begitu pula wanita yang berkarir sebagai dokter spesialis wanita dan anak-anak.

Kesimpulan :
Seorang wanita tidak dituntut bekerja di luar rumah kecuali karena kebutuhan yang mendesak, itupun baru dibolehkan bila terhindar dari bercampur baur dengan lawan jenis yang ajnabi. Pekerjaan yang paling baik bagi seorang wanita dan telah di akui oleh Nabi saw yaitu mengurus rumah dan suami, serta menjaga dan mendidik anak-anaknya tentang akhlak yang terpuji.

Wallahu a’lam.

14 Perbedaan Hadist Qudsi dan Al-Quran

Hadist Qudsi adalah hadist yang maknanya diriwayatkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Allah, sementara redaksinya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan inilah yang membedakan antara hadis qudsi dengan al-Quran. Dimana al-Quran adalah kalam Allah, yang redaksi berikut maknanya dari Allah ta’ala. Namun perbedaan keduanya bukan hanya ini saja, ada 14 perbedaan antara keduanya yang dijelaskan oleh Saiyid ‘Alawi bin ‘Abbas al-Maliki al-Hasani, ayahanda dari Abuya Saiyid Muhammad al-Maliki Rahimahullah.


  1. Hadist qudsi tidak mengandung nilai mu’jiz (dianggab sebagai mukjizat) karena itu Allah SWT tidak menjadikan membaca hadist Qudsi sebagai ibadah, sedangkan Al-Quran mengandung nilai mu’jiz dan membacanya dianggab sebagai ibadah.
  2. Orang yang sedang berhadast kecil tidak dilarang (tidak haram) menyentuh hadist qudsi, namun haram menyentuh Al-quran.
  3. Orang yang sedang berjunub (berhadast besar) tidak haram membaca hadist Qudsi tetapi haram membaca Al-Quran.
  4. Hadist Qudsi boleh diriwayatkan maknanya saja (al-riwayah bi al-ma’na) bagi orang yang paham dan mampu meriwayatkannya dengan lafadz yang tidak mengubah makna, sedangkan untuk  Al-Quran tidak boleh.
  5. Hadist Qudsi tidak boleh dibaca di dalam shalat, bahkan membatalkan shalat, sebaliknya dengan al-quran.
  6. Hadits Qudsi tidak dinamakan sebagai Al-Quran.
  7. Orang yang membaca hadist Qudsi tidak diberikan pahala yang sama seperti orang yang membaca Al-Quran, namun masih diberikan pahala membaca bagian dari ilmu syar`iyah saja.
  8. Hadist Qudsi tidak ada larangan menjualnya dan juga dimakruhkan secara ittifaq ulama, bahkan boleh, sedangkan Al-Quran ada khilafiyah para ulama tentang hukum menjualnya.
  9. Bagian dari hadist Qudsi tidak dinamakan ayat dan surat secara ittifaq ulama.
  10. Kedudukan dadist Qudsi adalah zhanny, karena hadist Qudsi diriwayatkan secara ahad, maka orang yang ingkar terhadap hadist Qudsi tidak dianggab kafir berbeda dengan Al-Quran yang qath'i dan kufur orang yang mengingkarinya.
  11. Hadist Qudsi kebanyakan maknyanya mengandung nasehat-nasehat dan kalam hikmah bukan hukum, berbeda dengan Al-Quran yang juga banyak berisi hukum-hukum.
  12. Hadist Qudsi dinisbahkan kepada Allah secara insya' karena Allah SWT yang mengucapkannya, dan dinisbahkan kepada Nabi Muhammad SAW secara ikhbar (menyampaikan) karena Nabi Muhammad SAW adalah orang yang menyampaikannya dari Allah SWT, berbeda dengan Al-Quran yang tidak di nisbahkan dan diidhafahkan kepada selain Allah SWT.
  13. Makna hadist Qudsi berasal dari Allah SWT secara mutlak yang diwahyukan melalui ilham atau mimpi atau juga melalui malaikat, sedangkan lafadznya berasal dari nabi Muhammad SAW ataupun dari malaikat, sedangkan Al-Quran, lafadz dan maknanya berasal dari Allah SWT yang disampaikan melalui wahyu yang nyata melalui malaikat.
  14. Hadist Qudsi diwahyukan oleh Allah SWT melalui ilham dan mimpi dan dituang kedalam relungan hati Rasulullah dan juga melalui lisan malaikat, sedangkan Al-Quran tidak diwahyukan kepada nabi Muhammad SAW kecuali melalui perantara malaikat.

Feferensi;
Kitab Majmu’ Fatwa wa al-Rasail, Sayyid ‘Alawi bin ‘Abbas al-Maliki al-Hasani, cet. Dar al-Kutub al-‘Alamiyah 1971, halaman 222


Fatwa Ulama : HukumTelponan Lawan Jenis Yang Bukan Mahram

Semakin dunia ini berkembang, maka teknologi juga akan terus berkembang menjadi semakin canggih, termasuk dibidang komunikasi. Jarak bukan lagi penghalang dalam berkomunikasi. Semua orang dapat berkomunikasi sekalipun tidak saling bertemu secara fisik. Telepon salah satunya, telepon adalah alat komunikasi yang masih digunakan hingga saat ini, sekalipun sudah ada media komunikasi lain yang lebih modern, efektif dan menyenagkan bahkan dengan biaya yang lebih murah. Namun tetap saja, telpon adalah komunikasi yang paling sering digunakan, karena dapat memberikan informasi secara langsung dan tak butuh waktu lama untuk menulis. Namun terkadang, pemakaian telepon itu sendiri juga tak terlepas dari hal hal yang tidak dibenarkan dalam agama, salah satunya adalah berbicara dengan lawan jenis yang bukan mahramnya.oleh karena itu Sayyid Abdullah bin Mahfudz al-haddad, pernah ditanyakan tentang hal ini. dalam kitabnya fatawa Tahummu al-Mar`ah beliau menjawab:

حكم تحدث الشاب مع الأجنبية عبر الهاتف
س : ما حكم لو قام شاب غير متزوج وتكلم مع شابة غير متزوجة في التلفون في غير حاجة؟
الجواب : اذا كان الإتصال بالتلفون لغير حاجة فإنه ينتج غيبة. وقد نهينا عن مواضع الريب قال تعالى ولكن لا تواعدوهن سرا الا ان تقولوا قولا معروفا البقرة : 235 و قد جاء هاذ في المعتدات ولكن يحسب حمله على غيرهن أيضا لمنع وخوف المواعدة السرية التي تنتخ عنها ما يحرم او يستقبح ، فإن كان لحاجة لا بأس ، كالحديث مباشرة في غير خلوة محرمة ، فإن كان لمجرد التلذذ فهو المحرم ، لأن الفتنة فيه أكبر و أعظم. والله أعلم.

Pertanyaan : bagaimana hukumnya seorang alki laki yang belum menikah berbicara lewat telepon dengan wanita yang belum menikah tanpa adanya hajat?

Jawab : Jika lawan jenis yang bukan mahram berhubungan melalui telepon tanpa ada hajat apapun maka akan menimbulkan kecurigaan dan fitnah. Dan kita dilarang untuk mendekat terhadap tempat-tempat yang dapat menimbulkan kecurigaan dan fitnah. 

Allah ta’ala berfirman dalam surat Al-Baqarah Ayat 150 :
… وَلكِنْ لا تُواعِدُوهُنَّ سِرًّا إِلاَّ أَنْ تَقُولُوا قَوْلاً مَعْرُوفاً ….
Artinya: Akan tetapi janganlah kamu Mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) Perkataan yang ma'ruf.

Ayat ini memang konteksnya sedang membicarakan tentang wanita wanita yang sedang beriddah namun
ayat ini juga dapat dijadikan sebagai dalil dan maknanya meluas kepada penerapan makna kepada terhadap wanita wanita selain wanita yang beriddah, untuk mencegah dan mennghindari laki-laki memberi janji secara rahasia untuk menikahi seorang wanita karena akan menimbukan sesuatu yang diharamkan atau sesuatu yang keji dan buruk.

Namun jika berbicara melalui telepon karena terdapat suatu hajat maka hal ini diperbolehkan, seperti mengobrol secara langsung dalam kondisi tidak melakukan khalwat yang diharamkan. Namun jika tujuan berbicara melalui telepon hanya untuk menikmati dan memuaskan nafsu maka ini tergolong kedalam perbuatan haram, karena fitnah dari itu semua adalah fitnah yang besar dan keji. 

Kesimpulan : dari pemaparan beliau diatas, dapat disimpulkan bahwa berbicara lewat telepon sama seperti berbicara langsung, maka dapat diketahui bahwa hukum lawan jenis berbicara melalui telepon tanpa adanya keperluan adalah haram. Namun bila adanya keperluan dan tidak adanya khalwat maka hukumnya boleh. 

Wallahu a`lam.


AIBKAH JIKA SUAMI MENGALAMI EJAKULASI DINI?

Deskripsi :

Saat ini sangat banyak perceraian yang terjadi bukan karena kemiskinan dan ketidak cukupan dalam rumah tangga, melainkan karena hubungan pribadi antara suami istri yang tidak sesuai harapan. Seperti istri merasa tidak puas karena penyakit impoten, ejakulasi dini dan lain sebagainya yang dialami oleh suami.
Ternyata yang menjadi tolak ukur kebahagiaan dalam sebuah rumah tangga bukan hanya pada harta semata, tetapi kenyamanan juga merupakan suatu hal yang sangat menentukan tentramnya sebuah rumah tangga. Termasuk juga hubungan yang dijalani oleh setiap pasangan suami istri.
Dalam konteks fiqih, ejakulasi dini biasa disebut dengan istilah ‘idzyauth atau juga 'adzwath yaitu orang yang air maninya keluar lebih dahulu sebelum pertemuan dua alat kelamin, sehingga sang istri tidak dapat merasakan ni’mat bersetubuh. Ejakulasi dini merupakan fenomena psikologis. Ejakulasi dini merupakan ketidak sempurnaan yang bisa menimpa lelaki manapun semenjak dahulu kala.  Ejakulasi dini bukanlah penyakit baru. Hanya istilahnya saja yang kini sering terdengar agak lebih keren.

Pertanyaan :

Bagaimana pandangan syara’ tentang ejakulasi dini? Apakah ejakulasi dini tergolong ke dalam salah satu ‘aib dalam pernikahan, sehingga boleh dijadikan sebagai alasan oleh istri untuk mengajukan cerai (fasakh nikah)?

Jawaban :
1.    Dalam pandangan islam berdasarkan pendapat yang mu’tamad ejakulasi dini bukanlah merupakan aib yang membolehkan istri untuk mengajukan cerai (fasakh).
Dalam kitab Tuhfatul Muhtaj diterangkan bahwa mereka yang terbiasa dengan ejakulasi dini haruslah berusaha untuk menjadi lebih baik. Karena pada hakikatnya ejakulasi dini adalah penyakit yang bisa disembuhkan. Entah dengan berolah raga ataupun mengatur pola makan dan lain sebagainya. Dengan demikian keutuhan rumah tangga masih layak dan bisa dipertahankan.

2.    Berbeda dengan kasus impoten ('unnah) sebagai penyakit yang sangat susah sekali disembuhkan
(المرض المأيوس منه زواله ) maka bagi seorang perempuan berhak mengundurkan diri sebagai seorang istri. Artinya jika ternyata seorang suami terbukti impoten (maksudnya impoten yang terjadi pada awalnya) maka seorang istri berhak memilih antara meneruskan perkawinannya atau membatalkannya. Akan tetapi ada baiknya bagi istri bersabar barang setahun barangkali ada sebab gangguan psikologis dari organ lain yang diharapkan bisa sembuh. Akan tetapi jika antara suami istri tersebut telah pernah bersetubuh walau hanya sekali, maka tidak dibolehkan lagi untuk mengajukan cerai (fasakh).


Referensi :
Kitab Tuhfahtul Muhtaj, Jilid 7, Halaman 406, Cet, Darul Fikri

وخرج بهذه الخمسة غيرها كالعذيوط بكسر أوله المهمل وسكون ثانيه المعجم وفتح التحتية وضمها ويقال عذوط كعتور، وهو فيهما من يحدث عند الجماع وفيه من ينزل قبل الإيلاج فلا خيار به مطلقا على المعتمد وسكوتهما في موضع على أن المرض المأيوس من زواله ولا يمكن معه الجماع في معنى العنة وإنما هو لكون ذلك من طرق العنة فليس قسما خارجا عنها ونقلهما عن الماوردي أن المستأجرة العين كذلك ضعيف لكن لا نفقة لها سيأتي الفسخ بالرق والإعسار ولا يشكل ثبوت الخيار بما ذكر مع ما مر أنه شرط للكفاءة وأن شرط الفسخ الجهل به لأن الفرض أنها أذنت في النكاح من معين أو من غير كفؤ فزوجها الولي منه بناء على أنه سليم فإذا هو معيب فيصح النكاح وتتخير هي وكذا هو كما يأتي (وقيل إن وجد) أحدهما (به) أي الآخر (مثل عيبه) قدرا ومحلا وفحشا (فلا) خيار لتساويهما حينئذ والأصح أنه يتخير وإن كان ما به أفحش لأن الإنسان يعاف من غيره ما لا يعاف من نفسه والكلام في غير المجنونين المطبق جنونهما لتعذر الفسخ حينئذ ولو كان مجبوبا بالباء وهي رتقاء فطريقان لم يرجحا منهما شيئا والذي اعتمده الأذرعي والزركشي أنه لا خيار وهو أوجه من اعتماد غيرهما ثبوته.




Tanda-Tanda Keikhlasan


Ikhlas adalah ruh amalan bagi setiap umat muslim, namun jika seseorang banyak melakukan amalan akan tetapi belum mendapatkan apa yang diinginkan, ketahuilah itu ada masalah dalam hati kecilnya,  salah satu masalah ialah tidak ikhlas atau ria mengharap pujian manusia dan keuntungan dunia,
Setiap sesuatu itu ada tanda  maka ikhlas juga ada tandanya sebagaimana dinyatakan oleh ulama sufi Zinnun al-Misri kutipan dalam kitab Tibyatul fi Adabi Hallati Quran halaman 22-23 karya Imam Nawawi.
وعن ذي النون رحمه الله تعالى قال ثلاث من علامات الإخلاص استواء المدح والدم من العام نسيان رؤية العمل في الأعمال اقتضاء ثواب الأعمال في الأخر

Tiga Tanda Orang Beramal  Dengan Ikhlas
  1. Dipuji atau dicela manusia baginya tetap sama saja
  2. Tidak mengingat-ingat amalan yang telah ia dikerjakan
  3. Mengharap balasan amalannya di akhirat nantinya 

Adab Seorang Guru ketika Hendak Mengajar

Sudah sepantasnya seorang guru dalam mengajarkan ilmunya mempunyai niat dan tujuan untuk melindungi para muridnya dari siksa api neraka. Sementara tugas kedua orangtua menyelamatkan anak-anaknya dari kesengsaraan hidup di alam dunia ini. Tugas seorang guru lebih berat daripada kedua orangtua. Bahkan, seorang guru adalah ayah yang sejati bagi murid-muridnya. Jika seorang ayah menjadi sebab atas keberadaan anak-anaknya pada kehidupan dunia yang fana’ ini, maka seorang guru justru menjadi sebab bagi bekal kehidupan murid-muridnya yang kekal di akhirat nanti.

Guru yang dimaksudkan di sini adalah guru yang mengajarkan ilmu-ilmu tentang akhirat (ukhrawi), atau ilmu-ilmu tentang dunia (duniawi) dengan tujuan keabadian negeri akhirat. Seorang guru dinilai membinasakan diri sendiri dan juga murid-muridnya jika ia mengajar hanya demi kepentingan dunia ini semata. Maka tentu untuk mencapai ini semua dibutuhkan adab bukan hanya dari murid saja, tetapi juga dari seorang guru. 

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh seorang guru:

1. Bersuci dari hadats besar atau kecil.
2. BerSuci dari kotoran walau bukan najis.
3. Memakai thib (wewangian).
4. Memakai pakaian yang paling nagus, yang layak menurut penduduk zamannya.
5. Semuanya diniatkan untuk membesarkan ilmu dan syari'at.

Dikisahkan bahwa Imam malik ketika datang manusia untuk meminta hadis, beliau mandi, memakai wangi-wangian, memakai pakaian bagus dan meletakkan ridak di atas kepala kemudian duduk di atas semacam pelaminan (tmpat yang tinggi) dan senantiasa mengasapi ruangan dengan wangi-wangian dan beliau berkata "aku mencintai untuk mengagungkan hadis rasulullah", kemudian beliau salat istikharah (jika bukan dalam waktu makruh).

(Nb. Melakukan seperti yang dilakukan imam malik Harus betul-betul dengan niat yang lurus. kalo tidak jangan, karna syaithan punya banyak cara untuk menyesatkan)

6. Berniat nasyrul ilmi, mengajarkan ilmu, menyiarkan faedah-faedah syara', menambah ilmu, menampakkan kebenaran, mengembalikan yang haq, berkumpul dalam zikir allah, meniatkan keselamatan kepada saudara-saudaranya dan berdoa bagi pendahulu yang shalihin.

7. bila keluar rumah berdoa dengan doa

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلِّ أَوْ أُضَلَّ أَوْ أُزِلَّ أَوْ أُزَلَّ أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ، عز جارك وجل ثناؤك ولا إله غيرك ثم يقول: بسم الله وبالله، حسبي الله توكلت على الله، لا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم اللهم اثبت جناني وأدر الحق على لساني.

" ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu daripada bahwa aku sesat atau disesatkan dan daripada bahwa aku menzalimi atau dizalimi dan daripada berbuat bodoh atau dibodohi. maha mulia perlindungan dan sanjungan engkau dan tidak ada tuhan selain engkau. Bismillah cukup bagiku allah, Teguhkan hatiku dan tampakkan kebenaran atas lidahku "

Dan terus mengingat allah sampai ketempat pengajian. Bila sudah sampai, memberi salam bagi yang hadir dan salat 2 raka'at , jika dalam masjid maka mutlak sunnah. Kemudian berdo'a memohon taufiq, i'anah pemeliharaan, duduk menghadap kiblat jika mungkin dengan penuh hormat, tenang dan tawadhuk dengan duduk bersila dsb daripada duduk yang tidak dimakruhkan dari segala bentuk duduk.

Jangan duduk iq'ak (memeluk lutut) dan jangan duduk seperti orang yang bersiap untuk bangun dan jangan mengangkat salah satu kaki diatas yang kaki yang lain. Dan tidak menjulur kaki tanpa ozor dan jangan meletakkan tangan di pinggang atau belakang punggung dan menjaga badan dripada merangkak dan pindah dari tempatnya.

Dan menjaga dua tangan dari bermain main. Dan jangan menyilangkan jari tangan dan mnjaga mata dari mengitarkan pandangan tanpa hajat.
Dan menghindari banyak senda gurau dan banyak tawa krna banyak tawa mengurangi wibawa dan kehormatan. sebagaiamana kata orang "siapa bercannda, akan diremehkan, dan siapa memperbanyak sesuatu akan dikenal dengan sesuatu tersebut".

Dan jangan mengajar ketika lapar dan haus, susah, marah, ngantuk, cemas, dingin yang bersangatan, dan panas yang menggaggu. Karena tidak mungkin memaksimalkan fikiran.


Wallahu a'lam bisshawab.......



الفصل الثاني
في آداب العالم في درسه
وفيه اثنا عشر نوعًا:
الأول: إذا عزم على مجلس التدريس تطهر من الحدث والخبث وتنظف وتطيب ولبس من أحسن ثيابه اللائقة به بين أهل زمانه قاصدًا بذلك تعظيم العلم وتبجيل الشريعة.
كان مالك رضي الله عنه إذا جاءه الناس لطلب الحديث اغتسل وتطيب ولبس ثيابًا جددًا ووضع رداءه على رأسه ثم يجلس على منصة ولا يزال يبخر بالعود حتى يفرغ، وقال: أحب أن أعظم حديث رسول الله - صلى الله عليه وسلم -.
ثم يصلي ركعتي الاستخارة إن لم يكن وقت كراهة وينوي نشر العلم وتعليمه وبث الفوائد الشرعية وتبليغ أحكام الله تعالى التي اؤتمن عليها وأمر ببيانها والازدياد من العلم وإظهار الصواب والرجوع إلى الحق والاجتماع على ذكر الله تعالى والسلام على إخوانه من المسلمين والدعاء للمسلمين وللسلف الصالحين.
الثاني: إذا خرج من بيته دعا بالدعاء الصحيح عن النبي - صلى الله عليه وسلم - وهو: اللهم إني أعوذ بك أن أضل أو أضل، أو أزل أو أزل، أو أظلم أو أظلم، أو أجهل أو يجهل علي، عز جارك وجل ثناؤك ولا إله غيرك ثم يقول: بسم الله وبالله، حسبي الله توكلت على الله، لا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم اللهم اثبت جناني وأدر الحق على لساني.
ويديم ذكر الله تعالى إلى أن يصل إلى مجلس التدريس فإذا وصل إليه سلم على من حضر وصلى ركعتين إن لم يكن وقت كراهة فإن كان مسجدًا تأكدت الصلاة مطلقًا، ثم يدعو الله تعالى بالتوفيق والإعانة والعصمة.
ويجلس مستقبل القبلة إن أمكن بوقار وسكينة وتواضع وخشوع متربعًا أو غير ذلك مما لم يكره من الجلسات، ولا يجلس مقعيًا ولا مستوفزًا ولا رافعًا إحدى رجليه على الأخرى، ولا مادًا رجليه أو إحداهما من غير عذر، ولا متكئًا على يده إلى جنبه وراء ظهره.
وليصن بدنه عن الزحف والتنقل عن مكانه ويديه عن العبث والتشبيك بها، وعينيه عن تفريق النظر من غير حاجة، ويتقي المزاح وكثرة الضحك فإنه يقلل الهيبة ويسقط الحشمة كما قيل: من مزح استخف به ومن أكثر من شيء عرف به.
ولا يدرس في وقت جوعه أو عطشه أو همه أو غضبه أو نعاسه أو قلقه، ولا في حال برده المؤلم وحره المزعج؛ فربما أجاب أو أفتى بغير الصواب، ولأنه لا يتمكن مع ذلك من استيفاء النظر.

تَذْكِرَةُ السَّامِعِ والمُتَكَلِّم في أَدَب العَالِم والمُتَعَلِّم
للشيخ العالم بدر الدين أبو عبد الله
محمد بن إبراهيم بن سعد الله
ابن جماعة الكناني

Khususiat Umat Nabi Muhammad SAW


Khususiat adalah suatu kelebihan atau keutamaan umat Nabi Muhammad SAW dibandingkan dengan Nabi terdahulu
Sebagian yang khususiat umat Nabi Muhammad ialah:
  1. Puasa bulan Ramadhan
  2. Allah melihat dengan pandangan kasih sayang kepada umat Nabi Muhammad pada awal Ramadhan
  3. Dihiasi syurga dalam bulan Ramadhan
  4. Bau mulut orang berpuasa lebih harum dari miski
  5. Malaikat mengucap istighfar bagi orang berbuka puasa
  6. Ikan-ikan meminta ampun ketika umat Nabi Muhammad ketika berbuka puasa
  7. Sunnah sahur
  8. Sunat mentakhirkan sahur
  9. Menyegera berbuka puasa
  10. Boleh makan/jimak hingga sebelum keluar fajar pada malam bulan Ramadhan
  11. Mengucap :وإنا لله وإنا إليه راجعون  ketika musibah
  12. Umat yang paling pertama masuk syurga
  13. Syariat wuzuk
  14. Tayammum
  15. Boleh makan kambing/biri-biri/domba
  16. Shalat lima waktu
  17. Membaca "amiin" sesudah Surat al-Fatihah
  18. Ruku' dalam shalat
  19. Shaf jamaah seperti shaf para malaikat
  20. Syariat shalat Jum'at
  21. Waktu-waktu istajabah doa pada hari Jum'at
  22. Tidak dipotong anggota badan ketika bernajis
    Hasyiah Jamal Juz II Hal. 328
(تنبيه)
من خصائص هذه الأمة صوم رمضان ونظر الله إليهم أوله وتزين الجنة فيه وخلوف أفواههم، واستغفار الملائكة لهم حين يفطرون، وعموم المغفرة لهم آخر ليلة من رمضان، واستغفار الحيتان لهم حين يفطرون، والسحور وتأخيره وتعجيل الفطر وإباحة الطعام، والجماع إلى الفجر، والاسترجاع عند المصيبة اهـ. شوبري.
وعبارة حج على الهمزية: من خصوصيات هذه الأمة أن أحدا لا يدخل الجنة قبلهم، ومنها: الوضوء على الكيفية المخصوصة، والتيمم، وإباحة الغنائم، وأن كل الأرض تصح الصلاة فيها، ويجوز جعلها مسجدا، ومجموع الصلوات الخمس، والتأمين خلف الفاتحة، والركوع وأن صفوفهم في صلاتهم كصفوف الملائكة، والجمعة وساعة الإجابة في يومها، ورمضان، ونظر الله لهم أوله، وتزيين الجنة فيه، وخلوف أفواههم أطيب عند الله من ريح المسك واستغفار الملائكة لهم حين يفطرون، وعموم المغفرة لهم آخر ليلة منه، واستغفار الحيتان لهم حين يفطرون، والسحور وتأخيره، وتعجيل الفطر، وإباحة الطعام، والجماع إلى الفجر، والاسترجاع عند المصيبة، ورفع أثقال التكليفات التي كانت على من قبلهم كتحتم القصاص حتى في الخطأ وقطع الأعضاء الخاطئة، وموضع النجاسة وقتل النفس في التوبة، والمؤاخذة بالخطأ، والنسيان وما استكرهوا عليه


Hari Yang Disunatkan Memotong Kuku





Pikiran yang jernih terletak pada badan yang sehat, kebersihan adalah salah satu fitrah yang menjadi kebutuhan manusia untuk melangsungkan kehidupan yang stabil. Tidak pernah alpa di dalam syariat Islam hal ini telah diatur sedemikian rupa, maka dalam literatur Islam sendiri para ulama telah mengkaji secara ilmiah dan dengan jalan tajarrubat (percobaan), ternyata banyak sekali syariat Islam yang menganjurkan kebersihan diri-sendiri, tempat tinggal hingga lingkungan  hidup, salah satunya adalah kebersihan badan mengenai anjuran memotong kuku, memotong kuku ini bagian dari sunnah Rasulullah SAW.
Artikel ini akan menjadi sedikit tambahan referensi serta pedoman  dalam sepak-terjang keseharian kita, manakah hari-hari yang afdhal untuk memotong kuku. Syaikh Ibrahim al Bajuri menjelaskan dalam tulisannya sebagai berikut :

ومثل يوم الجمعة فى سن ذلك يوم الخميس ويوم الاثنين دون بقية الايام

قَصُّ الْأَظَافِرِ يَوْمَ السَّبْتِ اٰكِلَةٌ * تَبْدُوْ وَفِيْمَا يَلِيْهِ يُذْهِبُ الْبَرَكَهْ

وَعَالِمٌ فَاضِلٌ يَبْدُوْ بِتَلْوِهِمَا  *  وَاِنْ يَكُنْ فِي الثُّلَاثَا فَاحْذَرِ الْهَلَكَهْ

وَيُوْرِثُ السُّوْءَ فِي الْأَخْلَاقِ رَابِعُهَا  *  وَفِي الْخَمِيْسِ الْغِنٰى يَأْتِىْ لِمَنْ سَلَكَهْ

وَالْعِلْمُ وَالْحِلْمُ زِيْدَا فِىْ عُرُوْبَتِهَا  *  عَنِ النَّبِيِّ رُوَيْنَا فَاقْتَفُوْا نُسُكَهْ
Hasyiah al-Bajuri Juz I Hal. 221


Hari - hari yang disunatkan memotong kuku
  • Hari Jum'at
  • Hari Kamis
  • Hari Senin
  1. Memotong kuku pada hari Sabtu menimbulkan penyakit yang menggrogoti badan
  2. Hari Ahad menyebabkan hilang berkah
  3. Hari Senin menjadi orang alim lagi ladhil (pintar dan utama)
  4. Hari Selasa menyebabkan kebinasaan
  5. Hari Rabu menyebabkan buruk akhlak
  6. Hari Kamis mendatangkan kekayaan
  7. Hari Jumat menambah ilmu dan sifat santun.

Makhruh hukumnya jika hanya memotong kuku satu tangan saja (memotong kuku tangan kanan tidak memotong kuku tangan kiri/memotong kuku tangan kiri saja tidak memotong kuku tangan kanan), begitu pula makhruh jika hanya memotong kuku kaki sebelahnya saja


Macam - Macam Tidur


(فائدة) 

النوم على سبعة أقسام نوم الغفلة ونوم الشقاوة ونوم اللعنة ونوم العقوبة ونوم الراحة ونوم الرحمة ونوم الحسرات أما نوم الغفلة فالنوم في مجلس الذكر ونوم الشقاوة النوم في وقت الصلاة ونوم اللعنة النوم في وقت الصبح ونوم العقوبة النوم بعد الفجر ونوم الراحة النوم قبل الظهر ونوم الرحمة النوم بعد العشاء ونوم الحسرات النوم في ليلة الجمعة اهـ من هامش الحصن الحصين

Allah menciptakan manusia dalam keadaan yang sangat sempurna, karena pada diri manusia terdapat dua unsur yang tidak dimilki oleh makhluk-makhluk lain yaitu aqal dan nafsu jika manusia dominan dipengaruhi akal niscaya ia naik tingkatan malaikat, namun jika sebaliknya dipengaruhi nafsu ia akan turun derajatnya akan lebih rendah dari hewan.
Sungguh Allah maha adil yang telah memberikan kita berbagai nikmat salah satunya Allah menciptakan waktu-waktu yang dianjurkan untuk istirahat diantara waktu-waktu untuk istirahat ada yang baik, namun ada juga yang kurang afdhal ini penjelasan A'lamah Syaikh Sulaiman bin Mansur, salah ulama bermazhab Syafi'i yang wafat pada tahun 1204 H.

Tidur Ada Tujuh Macam
1. Tidur lalai
2. Tidur celaka
3. Tidur laknat
4. Tidur siksaan
5. Tidur senang (istirahat)
6. Tidur rahmat
7. Tidur rugi

Penjelasan

1) Tidur lalai ialah tidur di majelis zikir/ilmu
2) Tidur celaka ialah tidur saat sudah waktu shalat
3) Tidur laknat ialah tidur di waktu subuh
4) Tidur siksaan ialah tidur sesudah fajar
5) Tidur senang (istirahat) ialah tidur sebelum zuhur
6) Tidur rahmat ialah tidur setelah Isya
7) Tidur rugi ialah tidur di malam Jum’at

Kitab Hasyiah Jamal Juz I Hal. 274

Hukum Menjawab Salam Penyiar Radio dan TV

Sering kali kita mendengar saat penyiar radio membuka acaranya, di mulai dengan memberi salam kepada semua pendengar radio. Namun dalam acara-acara tertentu, kadang juga penyiar memberikan salam kepada orang tertentu secara khusus. Hal yang sama juga kadang kita temukan pada pembawa acara di televisi. Lalu bagaimana status salam tersebut? Apakah sunat menjawabanya? Pertanyaan ini sudah di jawab oleh seorang ulama Yaman, Muhammad bin Salim bin Hafidh ibnu Syeikh Abi Bakar bin Salim dalam kitab Fatawa beliau yang di kumpulkan oleh anak beliua.

Berikut ini nash pertanyaan dan jawaban serta terjemahannya dari kami.



Apakah wajib menjawab salam yang dipancarkan dari stasiun radio bagi para pendengar sebagai kebiasaan yang terjadi ketika berlangsungnya siaran radio?

Jawab
Tidak wajib menjawab salam bagi pendengar radio. Hal ini karena (penyiar) yang memberi salam tidak ada kasad dari salamnya kepada orang yang ditentukan, karena tidak bisa dipastikan siapa saja yang mendengar radio tersebut, kemudian bahkan kadang yang mendengarnya adalah orang-orang yang tidak dituntut untuk menjawab salam seperti wanita ajnabiyah dan kafir, selain itu para ulama menyebutkan; disunatkan memberi salam ketika bertemu atau berpisah, sedangkan penyiar ini bukan orang yang baru datang atau berpisah.
Imam nawawi menyebutkan dalam kitab al-Azkar "berkata Abu Sa'ad al-Mutawalli dan lainny, apabila memanggil seseorang dari belakang satir atau belakang pagar kemudian ia berkata; assalamu 'alaikum ya fulan, ataupun ia menulis surat yang berisi as-salam alaikum hai fulan, atau ia mengirim utusan dan berkata kepada utusannya "sampaikan salamku kepada si fulan", kemudian sampai surat tersebut kepadanya atau utusan tersebut (telah menyampaikan salamnya) maka wajib baginya untuk menjawab salam tersebut. (al-Azkar hal 237 Dar Fikr)

Maka jika seandainya penyiar radio menentukan orang (yang dituju dengan salamnya) misalnya ia berkata "as-salam alaikum hai fulan" dengan keyakinan ia mendengar salamnya tersebut saat itu, dan ternyata memang ia mendengarnya maka pendengar tersebut wajib menjwab salamnya sebagaimana yang dipahami dari penjelasan yang telah disebutkan di atas. Wallahu a'lam.

Di tulis oleh Syeikh Muhammad bin Salim bin Hafidh ibnu Syeikh Abi Bakar bin Salim, semoga Allah memeliharanya, pada tanggal 12 Zul qa'dah 1376 H.

Fatawa al-Faqih asy-Syahid Ibn Hafidh, jilid 2 hal 391-392, Dar Maqasid

Kesimpulannya, tidak wajib menjawab salah penyiar radio dan pembaca acara TV baik acara tersebut live ataupun siaran ulang, kecuali salam yang diucapakan oleh penyiar kepada pendengar yang khusus dalam siaran langsung.

Hukum memberikan sedekah kepada pengemis

Deskripsi masalah:

Tak bisa dipungkiri bahwa pengemis sudah menjadi pemandangan umum yang menghiasi negeri ini. Dengan alasan ekonomi dan keadaan yang mendesak membuat mereka tak ada pilihan lain untuk hidup selain daripada mengemis. Mereka biasanya mangkal ditempat-tempat yang sering dilalui orang banyak seperti persimpangan kota, SPBU, dipinggir jalan dan tempat-tempat lain yang mereka anggap sangat tepat sebagai ladang untuk meminta-minta. Apalagi selama bulan puasa dan mendekati lebaran banyak para pengemis musiman menjamur disetiap sudut ibukota.

Pertanyaan:

Terlepas dari bagaimana latar belakang kehidupan mereka sehingga kemudian menjadi pengemis, bagaimanakah hukum memberikan uang kepada pengemis tersebut?

Jawaban:

Pada dasarnya, sunat memberikan sedekah kepada setiap orang. Namun, jika kita punya praduga yang kuat bahwa uang tersebut akan dipergunakan pada kemaksiatan maka hukum memberikannya adalah haram.


Referensi:

Tuhfatul muhtaj 6 : 340 cet. Darl fikr


والأصل في جوازها بل ندبها بسائر أنواعها الآتية قبل الإجماع الكتاب، والسنة وورد «تهادوا تحابوا» أي: بالتشديد من المحبة وقيل بالتخفيف من المحاباة وصح «تهادوا فإن الهدية تذهب بالضغائن» وفي رواية «فإن الهدية تذهب وحر الصدر» وهو بفتح المهملتين ما فيه من نحو حقد وغيظ نعم يستثنى من ذلك أرباب الولايات والعمال فإنه يحرم عليهم قبول الهبة والهدية بتفصيله الآتي في القضاء وقد بسطت ذلك في تأليف حافل ويحرم الإهداء
لمن يظن فيه صرفها في معصية

Hasyiyah Syarwani ‘ala Tuhfatil muhtaj 6 : 340 cet. Darl fikr


(قوله: والسنة) كخبر الصحيحين «لا تحقرن جارة لجارتها ولو فرسن شاة» أي ظلفها شرح منهج ومغني قال البجيرمي قوله لا تحقرن بابه ضرب مختار أي: لا تستصغرن هدية لجارتها ع ش



Mengapa ihdad (masa berkabung) kepada istri saja?

Deskripsi masalah:

Hidup tak selamanya indah seperti yang diharapkan oleh semua orang, kenyataan yang terjadi kadang tak sejalan dengan harapan, cobaan menjadi bagian yang menghiasi hidup manusia di alam semesta ini. Kematian merupakan bagian yang menjadi proses kehidupan yang harus dijalani oleh setiap orang, menjalani setiap garis takdir yang telah ditetapkan jauh sebelum manusia lahir ke dunia, berlapang dada dengan keadaan yang ada adalah langkah terbaik bagi setiap muslim tatkala cobaan datang menerpa dalam setiap ruang kehidupan. Meski meninggalkan luka dan kesedihan yang mendalam bagi yang ditinggalkan, namun tiada jalan lain selain sabar atas cobaan yang menimpa. Dalam tatanan hukum islam, menjadi sebuah keharusan yang tidak boleh tidak untuk dijalani oleh seorang istri yaitu ihdad ( masa berkabung ) selama masa iddah terhadap suaminya yang meninggal. Iddah adalah keadaan seorang istri untuk mencegah dirinya daripada berhias selama masa iddah berlangsung. Memakai pakaian yang dicelup warna yang dimaksudkan untuk perhiasan, menggunakan wewangian dan segala unsur mempercantik diri dan juga keluar rumah tanpa ada kebutuhan menjadi patokan hukum yang wajib dihindari oleh seorang istri dalam masa tersebut. Dan boleh baginya untuk melakukan ihdad terhadap kerabat/saudaranya yang meninggal atau bahkan ajnabi ( seperti meninggal ulama dan ahli ilmu ) dengan catatan tidak lebih dari tiga hari.

Pertanyaan:

Dalam islam, mengapa ihdad hanya berlaku dan diwajibkan bagi istri saja sedangkan suami tidak???

Jawaban:

Karena kodratnya seorang perempuan dalam pandangan agama adalah makhluk yang kurang akal dan lemah dalam berfikir sehingga dalam situasi tertentu dia tidak bisa bersabar dengan keadaan yang ada.


Referensi:

Mughni muhtaj Hal 104 Juz 5 maktabah syamela

تنبيه كلام المصنف يفهم أن الرجل ليس له الإحداد على قريبه ثلاثة أيام وهو كذلك وما قاله الإمام من أن التحزن في المدة لا يختص بالنساء منعه ابن الرفعة فإنه شرع للنساء لنقص عقلهن المقتضي عدم الصبر مع أن الشارع أوجب على النساء الإحداد دون الرجال

Hasyiyah Bujairimi ‘ala Al Khatib Juz 4 Hal 60

فلو تركت ذلك بلا قصد لم تأثم وخرج بالمرأة الرجل فلا يجوز له الإحداد على قريبه ثلاثة أيام لأن الإحداد إنما شرع للنساء لنقص عقلهن، المقتضي عدم الصبر




Alasan shalat jenazah tidak rukuk dan sujud

Deskripsi masalah:

Setiap terdengar kata-kata shalat tetap terbayang bagaimana aktivitas yang dilakukan dalam shalat mulai dari takbiratul ihram, rukuk ,sujud dan sebagainya. Namun aktivitas ini tidak diperdapatkan pada shalat jenazah sebagaimana dimaklumi bersama.

Pertanyaan :

Apakah alasannya shalat jenazah tidak ada rukuk dan sujud sebagaimana shalat-shalat lainnya?

Jawaban :

Alasan yang tertera dalam kitab Hasyiatul jamal 'alal manhaj karya syaikhul islam Zakaria Al anshari : Berkata Al-hafidh Ibnu hajar dalam kitab Fathul bari "Dalam shalat jenazah tidak diperdapatkan ruku' dan sujud supaya tidak terlintas di pikiran sebagian orang awam (jahil) bahwa shalat jenazah itu ibadat bagi mayat maka tersesatlah mereka"

-Kitab Hasyiah jamal 'ala manhaj Hal 169 Juz 2 syamela

قال الحافظ ابن حجر في فتح الباري وإنما لم يكن فيها ركوع ولا سجود لئلا يتوهم بعض الجهلة أنها عبادة للميت فيضل بذلك اهـ. بحروفه.


Imam Hasan Albashri pimpinan kalangan zuhud

Beliau wafat di Bashra Iraq pada tahun 110 Hijriyah. Jenazah beliau dishalati dan dimakamkan setelah pelaksanaan salat Jumat. Tepatnya beliau wafat pada hari Kamis menjelang malam. Sedangkan pada hari Rabu malamnya, sebagian auliya (para wali Allah), menyaksikan pintu-pintu langit terbuka, dan terdengar suara memanggil: Ketahuilah, bahwa Hasan Albashri akan menghadap Allah, dan Allah telah ridla kepadanya. Riwayat ini diberitakan oleh Imam Alhkhani. Imam Hasan Albashri terkenal sebagai pemimpin kalangan zuhhad atau para ahli zuhud yang menjauhi kehidupan dunia, kalangan ahli ibadah, kalangan ulama, dan kalangan sastrawan Arab. Tatkala Imam Hasan Albashri mendengar bahwa Hajjaj bin Yusuf, hulubalangnya Yazid bin Muawiyah membunuh shahabat Said bin Jubair, maka Imam Hasan Albashri berdoa: Wahai Dzat yang dapat melemahkan pelaku kedurjanaan, balaslah Hajjaj! Maka tidak selang tiga hari, terjadilah pembusukan pada badan Hajjaj bin Yusuf dan keluar ulat dari tubuhnya, lantas mati. Sayyidina Hasan Albashri termasuk kekasih Allah yang mendapat banyak keistimewaan, antara lain Allah melipat bumi untuk beliau, artinya jarak yang jauh menjadi sangat dekat tatkala beliau mendatanginya. Seringkali para ulama Makkah menemukan beliau shalat di Masjidil Haram, padahal beliau menetap di Bashra Iraq yang jaraknya ribuan kilo meter. Peristiwa semacam itu bukanlah di saat beliau menjalankan ibadah umrah. Tentu saja, kejadian semacam ini adalah salah satu bentuk keramat Imam Hasan Albashri yang diberkan oleh Allah. Karena beliau adalah salah satu dari para auliya kekasih-kekasih Allah. Jika para Nabi diberi mu`jizat oleh Allah berupa suatu kelebihan yang tidak dimiliki oleh manusia pada umumnya, contohnya mu`jizat Nabi Musa yang mampu membelah lautan hanya menggunakan sebuah tongkat, dan Nabi Sulaiman dapat memahami serta dapat berbicara dengan semua jenis binatang, sedangkan Nabi Muhammad SAW diberi kemapunan untuk menjawab ucapan salam dari pepohonan dan bebatuan, maka para wali Allah sebagai pengganti dan pewais para Nabi, juga diberi kelebihan oleh Allah berupa keramat, yaitu kemampuan lebih di luar kebiasaan manusia pada umumnya. Seperti halnya kemampuan lebih yang diberikan oleh Allah kepada Imam Hasan Albashri. Nabi SAW telah menyiratkan masalah ini dalam sabda beliau SAW yang artinya: Para Ulama dari kalangan ummatku, kedudukannya seperti para Nabi di kalangan Bani Israel. Mudah-mudahan kita dapat menjadi salah satu dari para ulama yang sekaligus sebagai auliya kekasih-kekasih Allah, atau jika belum mampu, maka semoga kita dapat berkhidmat kepada para ulama, jika belum mampu, mudah-mudahan kita dapat selalu mengikuti petunjuk para ulama, jika belum mampu maka setidaknya dapat menghormati para ulama, jika belum mampu, maka jangan sampai kita menyakiti para ulama, jika belum mampu, maka sekali-kali janganlah melawan para ulama apalagi sampai memusuhi mereka. Karena para ulama itu adalah pewaris para Nabi. 

Referensi: kitab Jami`u Karamatil Auliya karangan Syaikh Yusuf Annabhan

Fatwa Imam Ramli, Hukum Membaca Fatihah Setelah Shalat

Salah satu amaliyah yang lazim kita temukan di kalangan masyarakat adalah seringanya membaca surat al-Fatihah dalam berbagai ibadat dan acara. Diantaranya selesai berdoa setelah shalat, baik dibaca bersama-sama maupun sendirian. Lalu apakah amalan demikian punya landasan dalam syarat? dan bagaimana jawaban para ulama terhadap masalah ini.
Ternyata masalah ini sudah pernah di tanyakan dahulu kepada seorang ulama besar di Mesir yang diakui keilmuannya sehingga di gelari dengan asy-Syafii Shaghir, yaitu Imam Syams Ramli anak dari Imam Ramli Kabir. Lalu bagaimana jawaban beliau, berikut nash jawaban beliau beserta terjemahannya yang kami ambil dari kitab Fatwa beliau yang di cetak bersamaan dengan Fatawa Kubra Fiqhiyah Imam Ibu Hajar al-Haitami.

(سُئِلَ) عَنْ قِرَاءَةِ الْفَاتِحَةِ عَقِبَ الدُّعَاءِ بَعْدَ الصَّلَوَاتِ هَلْ لَهَا أَصْلٌ فِي السُّنَّةِ أَمْ هِيَ مُحْدَثَةٌ لَمْ تُعْهَدْ فِي الصَّدْرِ الْأَوَّلِ، وَإِذَا قُلْتُمْ مُحْدَثَةٌ فَهَلْ هِيَ حَسَنَةٌ أَوْ قَبِيحَةٌ وَعَلَى تَقْدِيرِ الْكَرَاهَةِ هَلْ يُثَابُ قَائِلُهَا أَمْ لَا؟
(فَأَجَابَ) بِأَنَّ لِقِرَاءَةِ الْفَاتِحَةِ عَقِبَ الدُّعَاءِ بَعْدَ الصَّلَوَاتِ أَصْلًا فِي السُّنَّةِ، وَالْمَعْنَى فِيهِ ظَاهِرٌ لِكَثْرَةِ فَضَائِلِهَا، وَقَدْ قَالَ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - «فَاتِحَةُ الْكِتَابِ مُعَلَّقَةٌ فِي الْعَرْشِ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ» وَفِيهَا مِنْ الصِّفَاتِ مَا لَيْسَ فِي غَيْرِهَا حَتَّى قَالُوا إنَّ جَمِيعَ الْقُرْآنِ فِيهَا وَهِيَ خَمْسٌ وَعِشْرُونَ كَلِمَةً تَضَمَّنَتْ عُلُومَ الْقُرْآنِ لِاشْتِمَالِهَا عَلَى الثَّنَاءِ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِأَوْصَافِ كَمَالِهِ وَجَمَالِهِ وَعَلَى الْأَمْرِ بِالْعِبَادَاتِ وَالْإِخْلَاصِ فِيهَا وَالِاعْتِرَافِ بِالْعَجْزِ عَنْ الْقِيَامِ بِشَيْءٍ مِنْهَا إلَّا بِإِعَانَتِهِ - تَعَالَى، وَعَلَى الِابْتِهَالِ إلَيْهِ فِي الْهِدَايَةِ إلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ، وَعَلَى بَيَانِ عَاقِبَةِ الْجَاحِدِينَ، وَمِنْ شَرَفِهَا أَنَّ اللَّهَ - تَعَالَى - قَسَمَهَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ عَبْدِهِ وَلَا تَصِحُّ الْقِرَاءَةُ فِي الصَّلَاةِ إلَّا بِهَا وَلَا يَلْحَقُ عَمَلٌ بِثَوَابِهَا وَبِهَذَا الْمَعْنَى صَارَتْ أُمَّ الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَأَيْضًا فَلِكَثْرَةِ أَسْمَائِهَا، وَكَثْرَةُ الْأَسْمَاءِ تَدُلُّ عَلَى شَرَفِ الْمُسَمَّى، وَلِأَنَّ مِنْ أَسْمَائِهَا أَنَّهَا سُورَةُ الدُّعَاءِ وَسُورَةُ الْمُنَاجَاةِ وَسُورَةُ التَّفْوِيضِ وَأَنَّهَا الرَّاقِيَةُ وَأَنَّهَا الشِّفَاءُ وَالشَّافِيَةُ لِقَوْلِهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - «إنَّهَا لِكُلِّ دَاءٍ» وَقَالُوا إذَا عَلَّلْت أَوْ شَكَيْت فَعَلَيْك بِالْفَاتِحَةِ فَإِنَّهَا تَشْفِي
(فتاوى الرملي ج1 ص 161)

Pertanyaan :

Imam Ramli Rahimahullah, ditanyakan tentang membaca surat al-fatihah yang mengiringi doa setelah shalat, apakah memiliki dalil dari sunnah? atau ia merupakan satu amalan yang baru yang tidak ada dasarnya pada masa dahulu? Dan jika ia merupakan amalan baru apakah ia tergolong ke dalam amal yang baik atau amal keji (tercela)? dan apabila ia tergolong ke dalam urusan yang makruh apakah dianjurkan untuk bertaubat kepada orang yang membacanya?

Jawaban :

Sesungguhnya membaca fatihah yang mengiringi doa setelah shalat memiliki landsan dalam sunnah, sedangkan alasannya sangat jelas karena fatihah memiliki fadhilah yang amat banyak. Rasulullah SAW. bersabda: "Surat al-Fatihah Kitab tergantung di Arasy, tidak ada hijab dengan Allah."
Dan di dalamnya terkandung beberapa sifat yang tidak ada dalam surat yang lain, sehingga para ulama berpendapat bahwa seluruh kandungan al Quran tercantum dalam surat al Fatihah. Surat al-Fatihah terdiri dari 25 kalimat yang mengandung seluruh ilmu al Quran, karena dalam al-Fatihah mencakupi sanjungan dan pujian kepada Allah Azza wa Jalla dengan segala sifat kesempurnaan dan keindahan-Nya, al fatihah juga mengandung perintah untuk beribadah serta ikhlas dalam beribadah, dan pengakuan dengan lemah dalam melaksanakan ibadah kecuali dengan pertolongan Allah, dan al-Fatihah juga mengandung permohonan kepada Allah dalam memperoleh petunjuk ke jalan yang benar dan lurus, dan juga mencakupi konsekuwensi terhadap orang-orang yang mengingkarinya.
Sebagian dari kemuliaan surat al-Fatihah yaitu sesungguhnya Allah SWT. membagi al Fatihah di antaraNYa dan hamba-Nya,dan hanya sah shalat dengan adanya pembacaan al-Fatihah dan tidak ada satu amalan yang sebanding dengan fahala Fatihah, dengan alasan inilah al-Fatihah disebut sebagai Ummul Quran, dan juga karena banyaknya nama sebutan baginya juga menjadi satu alasan kemuliaanny karena banyaknya nama menunjuki kepada mulianya sesuatu,dan karena sebagian dari nama-nama surat al Fatihah yaitu : surat doa, surat munajah (curhatan), surat tafwidh (berserah diri), dan al Fatihah juga bisa digunakan untuk meruqyah, serta bisa menjadi sebagai obat. Karena Rasulullah SAW. bersabda : "al Fatihah menjadi obat bagi segala penyakit." Dan para ulama pun berkata : "bila engkau sakit atau mengaduh/mengeluh engkau mesti membaca Fatihah, karena ia bisa menyembuhkannya."

ilmu mawarist: Anak Laki Laki

Anak laki laki adalah orang yang paling istimewa dalam menerima warisan, ia tidak terhalang oleh seorangpun dan dapat menghalangi banyak orang, dan juga ia bersatu sebagai ashabah, orang yang mengambil seluruh sisa harta, jika seseorang wafat, lalu ia meninggalkan seorang anak laki laki, maka ia mengambil seluruh harta, jika anak laki laki yg ditinggalkan lebih dari satu, maka harta dibagi rata diantara mereka, jika setelah wafat harta tak kunjung dibagi, lalu salah seorang dari anak laki laki tersebut wafat juga, maka ia tetap berhak mendapat harta warisan, meskipun ia telah wafat ketika pembagian harta, karena yang ditinjau adalah keberadaan pewaris ketika meninggal mayat, bukan ketika pembian harta, beda halnya dengan kasus jika si anak laki laki lebih duluan meninggal dari ayahnya, maka ia dan keturunannya tidak mendapatkan harta dari ayah samasekali, hal ini dalam istilah adat aceh disebut dengan istilah patah tutu, istilah ini hakikatnya adalah terhalangnya cucu laki laki karena adanya anak laki laki.

Referensi: Kanzurraghibin Juz 3 Hal 141 Cet Dar Fikr

فَصْلٌ الْأَبُ وَالِابْنُ وَالزَّوْجُ لَا يَحْجُبُهُمْ أَحَدٌ عَنْ الْإِرْثِ (وَابْنُ الِابْنِ) وَإِنْ سَفَلَ (لَا يَحْجُبُهُ) مِنْ جِهَةِ الْعَصَبَةِ (إلَّا الِابْنَ أَوْ ابْنَ ابْنٍ أَقْرَبَ مِنْهُ) وَيَحْجُبُهُ أَصْحَابُ فُرُوضٍ مُسْتَغْرِقَةٍ، كَأَبَوَيْنِ وَبِنْتَيْنِ أَخْذًا مِمَّا سَيَأْتِي أَنَّهَا تَحْجُبُ كُلَّ عَصَبَةٍ



KISAH SAAT LAHIRNYA IMAM SYAFI'I


 .

donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja