Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Jihar Dan Sir Dalam Shalat

Shalat merupakan ibadah pokok umat islam dari semenjak masa kerasulan hingga kiamat tiba. Dengan melakukan shalat terlebih shalat berjamaah akan menunjukkan almamater kita sebagai umat islam, karena shalat juga menjadi salah satu media untuk mensyi'ar kan islam. Mungkin sebagian dari kita selaku umat islam pernah timbul satu pertanyaan, kalau misalkan shalat itu adalah media untuk mensyi'arkan islam, lantas kenapa semua shalat yang dikerjakan dalam sehari semalam tidak dilaksanakan secara jihar (membesarkan suara pada bacaan tertentu). Sebenarnya semua shalat yang lakukan alangkah indahnya kalau dikerjakan dalam keadaan jihar. Namun harapan seperti ini terhalang ketika Rasullah SAW mulai mensyari'atkan islam. Kaum kafir Quraisy menyiksa siapa saja yang beragama islam dan tindakan kaum kafir ini belum bisa di tentang karena jumlah kaum muslimin ketika diwajibkan shalat masih sedikit. Namun ternyata terdapat beberapa shalat yang masih bisa dilakukan dalam bentuk jihar, yaitu :

1. Shalat maghrib, maghrib dapat dilakukan secara sir karena pada waktu pelaksanaan shalat maghrib kaum kafir yahudi sibuk menyantap makan malamnya sehingga tidak sempat mengontrol keadaan kaum muslimin , maka waktu ini dipergunakan umat islam untuk membesarkan bacaan ketika melakukan shalat maghrib.

2. 'Isya dan subuh, waktu pelaksanaan kedua shalat ini adalah bertepatan dengan waktu beristirahat kaum musyrikin,mereka tidur ketika tibanya waktu shalat i’sya dan bangun ketika shalat subuh selesai dilaksanakan.

3. Shalat jum’at dan hari dua raya, kedua shalat ini mula-mula dikerjakan di kota madinah, karena kedua shalat ini dikerjakan secara berjamaah, maka umat islam dari pelosok jazirah arab berkumpul di kota madinah, sehingga kekuatan umat islam pada saat melakukan kedua shalat ini dalam jumlah yang banyak, dengan jumlah umat yang banyak dan bersatu , tiada istilah takut untuk mensyiarkan ibadah shalat. Beranjak dari kisah itulah, ibadah shalat yang dikerjakan ummat saat ini ada yang dilakukan secara sir dan ada pula yang dilakukan secara jihar.

- Tahrir Asy- syarqawi Hal. 195 Cet, Darul Fikri

Hikmah Dari Huruf-Huruf Bismillah

Hikmah Allah memulai bismillah dengan huruf “ba” bukan dengan huruf yang lain pada ismi dan alif digugurkan kemudian digantikan dengan “ba” yaitu dikarenakan huruf “ba” merupakan huruf syafawi (bibir) dan bibir hanya akan terbuka dengan huruf ba tidak dengan huruf yang lain, dan juga keturunan manusia menjawab” bala( ya)” ketika allah “menayakan alastu birabbikum” .

Dan pada bismillah dikasrahkan ba selamanya dikarenakan inkisar ( pecah/hancur) pada bentuk dan makna terdapat kemulyaan di sisi Allah SWT, sebagaimana firman Allah “ ana i’ndal munkatsirati qulubuhum” ( aku berada disisi orang yang hancur hatinya) berbeda dengan alif yang padanya ada ketinggian kebesaran dan panjang maka karena demikianlah alif digugurkan.

Dan Allah mengkhususkan namanya pada basmalah dengan lafal jalalah dan dengan arrahman dan arrahim supaya orang a’rif mengetahui demikianlah yang mesti kita tuntut berhakkan ,dan meminta pertolongan dengan nama nama tersebut pada segala urusan,karena nama tersebut mengindikasikan bahwa allah yang ma’bud bilhaq, empunya segala nikmat,yang memuliakan dan menghinakan seseorang, maka orang arif akan terbawa dengan kalimat kalimat bismillah kepada mahabbah ilahi, berpegang teguh dengan tali taufiq Allah SWT, dan selalu mnyibukkan dirinya dengan mengingat Allah.

-Hasyiah I’anatutthalibin Juz 1 Hal 5

والحكمة في أن الله سبحانه وتعالى جعل افتتاح البسملة بالباء دون غيرها من الحروف، وأسقط الألف من اسم، وجعل الباء في مكانها، أن الباء حرف شفوي تنفتح به الشفة ما لا تنفتح بغيره، ولذلك كان أول انفتاح فم الذرة الإنسانية في عهد ألست بربكم بالباء في جواب بلى، وأنها مكسورة أبدا.
فلما كانت فيها الكسرة، والانكسار في الصورة والمعنى، وجدت شرف العندية من الله تعالى، كما قال: أنا
عند المنكسرة قلوبهم بخلاف الألف، فإن فيها ترفعا وتكبرا وتطاولا، فلذلك أسقطت.
وخصت التسمية بلفظ الجلالة ولفظ الرحمن، ولفظ الرحيم، ليعلم العارف أن المستحق لأن يستعان به في جميع الأمور هو المعبود الحقيقي، الذي هو مولى النعم كلها، عاجلها وآجلها، جليلها وحقيرها.
فيتوجه العارف بجملته حرصا ومحبة إلى جناب القدس، ويتمسك بحبل التوفيق، ويشتغل سره بذكره والاستمداد به عن غيره

Doa Keberkahan Bagi Pengantin

Deskripsi Masalah:

Pernikahan adalah ibadah yang begitu suci dan mulia. Pernikahan tidak hanya mempersatukan dua insan laki-laki dan perempuan saja, akan tetapi juga dengan kedua keluarga. Maka jelasklah, restu dan juga ridha dari kedua orang tua adalah sesuatu yang harus dipatuhi dan diperhatikan.Oleh karenanya, doa yang paling penting adalah doa dari wali dari masing-masing dan segenap yang hadir kepada mereka mempelai agar berkahnya pernikahan yang dijalani.

Pertanyaan:

Apakah ada kesunnahan mengucapkan doa kepada pengantin baru ?

Jawaban:

Bagi Wali ataupun Orang lain yang menghadiri aqad nikah Disunnahkan untuk mendoakan suami (mempelai pria ) setelah selesai resepsi dengan doa بارك الله لك atau dengan lafadh بارك لك وجمع بينكما

-Hasyiah I'anatuttalibin Juz.3 Hal.273

(تتمة) يسن لمن حضر العقد من ولي وغيره الدعاء للزوج عقبه: ببارك الله لك، أو بارك عليك، وجمع بينكما في خير لصحة الخبر به.
ويدعو لكل منهما ببارك الله لكل واحد منكما في صاحبه وجمع بينكما في خير.


Taubat Orang Murtad

Nikmat yang paling besar seseorang yang di lahirkan dalam agama islam karna Islam adalah agama yang benar.  Dalam islam terhadap orang yang  berpindah agama Jakan di sebut dengan Murtad, Terhadap yang Murtad dan ingin bertaubat,  masuk Islam Maka Ada beberapa hal yang harus dilakukaannya yaitu :

1. Wajib untuk menyegerakan memeluk agama islam kembali dengan cara mengucap dua kalimat syahadat. Dan meninggalkan semua perkara yang menyebabkan murtad.

2. Menyesali setiap apa yang telah terjadi kemudian bercita-cita tidak akan kembali lagi perbuatan yang sama.

3. Wajib untuk mengqadha kewajiban syara' yang pernah di tinggalkan selama murtad. Maka apabila semuanya telah di kerjakan maka orang tersebut sudah di katagorikan orang yg kembali kepada ajaran islam . Perbedaan Taubat orang yang meningggalkan shalat dg murtad . Mendorong orang yg tinggal shalat untuk bertaubat itu sunat ,Sedangkan dosa orang murtad akan membawaki kekal dalam neraka ,Orang yang meninggalkan sembahyang tidak akan kekal dalam neraka.

- Hasyiah I'anatuttalibin Juz 4 Hal. 139 Cet, Toha putra

3 Orang memiliki Firasat Tinggi

Firasat adalah suatu kemampuan dari dalam diri seseorang untuk merasakan apa yang akan terjadi di dalam kehidupannya. Tidak semua orang mempunyai Firasat tinggi dalam dirinya, menurut Ibnu Mas’ud, ada tiga orang yang mempunyai firasat yang sangat tajam,yaitu :

1. Raja mesir ketika berkata kepada istrinya (berikanlah kepadanya tempat dan layanan yang baik)[QS;yusuf 21]

2. Wanita yang mengatakan kepada ayahnya mengenai keberadaan nabi musa AS [QS;Al-Qashash]

3. Abu bakar shiddiq RA ketika ia meminta Umar bin khattab RA untuk menggantikan dirinya sebagai khalifah

Sumber :Terjemahan Qishasul ambia

Simak : Nasehat Yang Menyejukkan !! Abiya Muhammad Baidhawi HM

https://www.youtube.com/watch?v=iFI2sLVJHxk

7 kemuliaan Duduk Bersama Orang Alim

Ada banyak kelebihan bagi seorang yang menuntut ilmu pengetahuan agama. Bahkan kelebihan dalam menuntut ilmu tak hanya di dapatkan oleh penuntut ilmu agama saja, melainkan juga didapatkan oleh seseorang yang duduk di dekat penuntut ilmu agama.

Di dalam kitab Bujairimi 'Alal khatib disebutkan, bahwa seseorang yang duduk disisi orang alim, sedangkan dia tidak mampu menghafal ilmu darinya, maka baginya itu mendapatkan 7 macam karamah.

1. Mendapati kelebihan orang-orang yang belajar.
Meskipun ia hanya duduk disamping seorang yang alim, dan tidak belajar darinya, namun dia tetap dikatakan sebagai seseorang yang belajar dan mendapatkan kelebihan-kelebihan orang-orang yang sedang belajar.

2. Tercegah dari segala macam dosa selama duduk disisi orang alim tersebut.
Setiap manusia pasti melakukan dosa dalam kehidupannya. Dosa tersebut ada yang dosa kecil maupun dosa yang besar. Bahkan, tidak mengingat Allah juga merupakan dosa bagi orang-orang tertentu seperti para Nabi dan Rasul. Nah, kalau kita mau duduk disisi orang alim, maka akan terhalang dari kemungkinan berbuatnya dosa.

3. Apabila keluar dari tempat itu untuk mencari ilmu, maka akan turun rahmat kepadanya.
Dalam setiap gerak langkahnya, ia juga akan mendapatkan rahmat, yaitu ketika berangkat dari tempat duduknya bersama orang alim tersebut untuk mencari ilmu pengetahuan.

4. Apabila duduk di halaqah ilmu, dan turun rahmat kepada mereka, maka dia juga mendapatkan bagian rahmat itu.
Rahmat yang turun kepada majlis yang mencari ilmu, juga akan turun kepadanya, meskipun dia tidak sedang belajar, hanya duduk saja.

5. Selama ia mendengar, dituliskan sedang mengerjakan perbuatan taat baginya.
Yang terpenting, ia harus selalu mendengar apapun ilmu pengetahuan yang mungkin disampaikan oleh seorang alim tersebut. Karna hanya mendengar saja, itu telah tercatat sebagai perbuatan taat baginya.

6. Apabila ia mendengar, namun berkecil hati karna tidak memahaminya, maka jadilah kesedihan hatinya itu sebagai perantara kepada hadirat Allah swt.
ketika tidak memahami pelajaran yang disampaikan, Allah ta'ala tidak meninggalkan kita. Allah akan memberikan kelebihan kepada orang-orang yang bersedih ketika tidak mampu memahami pelajaran. Kesedihan di hatinya akan menjadi perantara bagi dirinya kepada hadirat Allah swt.

7. Dia akan menyadari bahwa orang-orang muslim akan memuliakan orang alim dan orang-orang muslim akan mencela orang fasiq. Karenanya, hatinya akan condong kepada ilmu dan menjauhi kefasiqan.



Hikmah Dibalik Gerakan Shalat

Shalat merupakan ibadah rutinitas umat islam, tata cara pelaksanaannya telah diatur agama dengan sebaik mungkin. Namun jika diperhatikan tata cara pelaksanaan shalat, maka akan nampak sisi perbedaan pada tiap tahapan dalam mengerjakannya, dan pada tahapan tahapan tersebut memiliki hikmahnya masing-masing.

Berikut ini adalah alasan dan butir hikmah yang terkandung pada beberapa tahapan dalam pengerjaan shalat:

1. Sujud dilakukan dua kali dalam satu rakaat sedangkan rukun yang lain cuma dilakukan satu kali, alasannya adalah seorang mukmin ketika mengerjakan shalat, maka sujud dalam shalat tersebut akan mengingatkannya bahwa dia berasal dari tanah dan kedalam tanahlah kelak akan dikembalikan. Hal ini terjadi karena pada saat meletakkan dahi (menenempel dengan bumi) diketika sujud yang pertama seakan-akan kita berkata “ Dari tanahlah aku di ciptakan”. Pada ketika bangun dari sujud yang pertama seakan-akan kita berkata “Dari tanahlah aku di keluarkan”. Pada ketika sujud yang kedua seakan-akan kita berkata “ Kedalam tanahlah kelak aku akan dikembalikan”. Diketika bangkit dari sujud yang kedua seakan-akan hamba berkata “ Dari dalam tanahlah kelak aku akan di bangkitkan pada ketika hari kiamat tiba”.

2. Pada ketika salam berpaling kearah kanan terlebih dahulu selanjutnya baru kearah kiri. Keadaan seperti ini mengisyarahkan seakan-akan seorang mukmin berdoa “ Ya Allah, berikanlah buku amalanku disebelah kanan dan jangan kau beri buku amalan tersebut di sebelah kiri’.

3. Anjuran memebaca qunut pada shalat shubuh, alasannya adalah shalat terakhir yang dikerjakan nabi Muhammad SAW bersama Jibril pada awal diperintahkannya shalat lima waktu adalah shubuh. Diketika mengakhiri suatu perbuatan kita di anjurkan untuk membaca doa. Maka qunut yang isinya adalah do’a khusus diperintahkan untuk dibaca ketika shalat shubuh.

4. Mengangkat telunjuk ketika tasyahud, pada ketika tasyahud semua jari tetap pada posisinya kecuali jari telunjuk yang diangkat ketika bacaan الا الله. Hal ini dikarenakan didalam jari telunjuk terdapat urat yang langsung tersambung dengan hati. Maka ketika lisan mengucapkan lafal tauhid لا اله الا الله secara bersamaan telunjuk yang merupakan anggota badan bersama dengan hati ikut mentauhidkan Allah SWT.

5. Membaca سمع الله لمن حمده ketika bangun dari ruku’. Pada dasarnya ketika berpindah dari satu rukun kerukun lainnya disunatkan membaca takbir kecuali pada saat bangkit dari ruku’ dengan membaca سمع الله لمن حمده. Hal ini dikarenakan sebuah peristiwa yang dialami oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Abu Bakar R.A adalah salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang tidak pernah absen melakukan shalat berjamaah bersama Rasulullah SAW . Pada suatu hari Abu Bakar R.A hendak menghadiri shalat ashar berjamah, setibanya di mesjid beliau manyangka Shalat ashar berjamaah telah selesai dilaksanaakan. Melihat hal tersebut hati Abu Bakar menjadi gundah, maka ketika Abu Bakar memasuki mesjid beliau mendapati Rasulullah SAW sedang melakukan shalat berjamaah , dan ketika itu Rasulullah SAW membaca takbir untuk melakukan ruku’. Lantaran merasa senang masih sempat berjamaah, maka beliau membaca الحمد لله dan langsung takbir dibelakang rasullah. Ketika nabi sedang ruku’. turunlah malaikat Jibril AS dan berkata يا محمد سمع الله لمن حمده ucaplah kalimat tersebut. Maka rasullah langsung memebaca سمع الله لمن حمده ketika bangu dari ruku’. Sebelum terjadinya peristiwa ini Rasulullah SAW membaca takbir ketika bangkit dari ruku’.

6. Sesudah takbiratul ihram disunnahkan untuk meletakkan tangan dibawah dada dan sedikit condrong ke kiri. Alasannya dikarenakan hati manusia terletak sebelah kiri di bawah dada. Ketika tangan diletakkan tepat pada posisi hati, maka seakan-akan tangan ini menjaga iman yang ada didam hatinya.

Referensi :

- Kitab Tanqihul Qauli Hal 4 Cet, Haramain
- I’anatut Thalibin Juz 1 Hal 158 Cet, Haramain
- Hasyiah Al Bajuri juz 1 hal. 172 Cet, Haramain
- Tahrir Syarqawi Juz 1 Hal 199-200 Cet, Darul Fikri
- Tahrir syarqawi Juz 1 Hal 194 Cet. Darul Fikri

Simak juga : 




Klasifikasi Hukum Membaca Basmalah

Perkataan ulama yang mengatakan tuntutan membaca basmalah ialah pada hal-hal yang dianggap baik oleh agama yaitu perkara yang bukan haram lizati dan bukan makruh lizati juga bukan perkara yang hina dalam agama. Sehingga dapat diambil kesimpulan yang bahwa hukum membaca basmallah ada lima macam, yaitu :

1. WAJIB seperti dalam sembahyang menurut pendapat mazhab syafi’iyah.
2. SUNAT baik ‘ain seperti dalam wudhu’ dan mandi maupun kifayah seperti pada makan bersama dan bersetubuh antara suami istri.
3. HARAM pada perbuatan yang diharamkan li zatihi.
4. MAKRUH pada hal yang dimakruhkan li zatihi.
5. MUBAH pada hal yang boleh dalam agama yang tidak mulia seperti memindahkan barang ketempat lain.

- I’annatutthalibin Juz 1 Hal 3 Cet, Haramain

فيقال: البسملة مطلوبة في كل أمر ذي بال - أي حال - يهتم به شرعا، بحيث لا يكون محرما لذاته ولا مكروها كذلك، ولا من سفاسف الأمور - أي محقراتها - فتحرم على المحرم لذاته كالزنا، لا لعارض كالوضوء بماء مغصوب وتكره على المكروه لذاته كالنظر لفرج زوجته، لا لعارض كأكل البصل ولا تطلب على سفاسف الأمور، ككنس زبل، صونا لاسمه تعالى عن اقترانه بالمحقرات والحاصل أنها تعتريها الأحكام الخمسة: الوجوب، كما في الصلاة عندنا معاشر الشافعية - والاستحباب عينا: كما في الوضوء والغسل، وكفاية: كما في أكل الجماعة، وكما في جماع الزوجين، فتكفي تسمية أحدهما - كما قال الشمس الرملى أنه الظاهر - والتحريم في المحرم الذاتي، والكراهة في المكروه الذاتي، والإباحة في المباحات التي لا شرف فيها، كنقل متاع من مكان إلى آخر، كذا قيل.

Simak Juga :

https://www.youtube.com/watch?v=fJPyK19E_Zw















































3 Keutamaan Menikahi Gadis Perawan

Menikah termasuk salah satu dari sekian banyak sunnah–sunnah Rasulullah SAW, menikah juga termasuk diantara ibadat yang sejalur dengan hawa nafsu manusia, Pernikahan idealnya merupakan sebuah muara dari sungai cinta/kasih sayang dan paduan komitmen antar dua individu yang berbeda jenis. Dengan demikian, pernikahan dapat diharapkan menjadi tumpuan kebahagiaan bagi pasangan yang menjalaninya. Rasululah SAW menganjurkan bagi seorang mukmin yang berhajat dan mampu untuk  segera menikah, Sebagaimana dalam satu hadist Rasulullah SAW bersabda :

يا معشر الشباب: من استطاع منكم الباءة فليتزوج، فإنه أغض للبصر وأحصن للفرج. ومن لم يستطع فعليه بالصوم فإنه له وجاء أي قاطع لتوقانه

“Wahai para pemuda, barang siapa diantara kalian yang mampu untuk menikah, menikahlah. Karena menikah dapat menahan pandangan dan memelihara kemaluan. Dan barang siapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa  karena puasa dapat menekan syahwatnya”

Di antara kesunahan menikah adalah lebih mengutamakan gadis yang masih perawan dibandingkan yang sudah menjanda. Hal tersebut disebabkan oleh tiga faktor :

1. Istri yang perawan akan mencintai dan menyayangi suaminya yang pertama, karena watak seseorang lebih sayang dan rindu kepada cinta pertama. Sedangkan janda, kadang-kadang tidak menyukai sebagian sifat suaminya yang yang berbeda dengan mantan suaminya, sehingga dia akan membeci suaminya.
2. Istri yang perawan akan lebih sempurna untuk dicintai oleh suami.
3. Rasa cinta dan kasih sayang istri hanya tercurah untuk sang suami.

Referensi : Hasyiah I’anah attalibin juz 3 halaman 271


 قال البجيرمي: وفي البكارة ثلاث فوائد: إحداها أن تحب الزوج الأول وتألفه، والطباع مجبولة على الأنس بأول مأولف، وأما التي مارست الرجال فربما لا ترضى ببعض الأوصاف التي تخالف ما ألفته فتكره الزوج الثاني.
الفائدة الثانية أن ذلك أكمل في مودته لها.
الثالثة: لا تحن إلا للزوج الأول.


Simak juga Nasehat pernikahan :



Fungsi Na’at

Berikut ini merupakan beberapa fungsi dari na'at (sifat) :

1. Mengkhususkan (التخصيص) man’ut (yang diberi sifat) apabila yang menjadi man’ut ialah isem nakirah. Contohnyaجاء رجل صالح Maksud dengan takhsis (التخصيص) ialah menghilangkan keserupaan maknawiah yang terjadi pada nakirah dengan perantaraan wadha’ (peletakannya).

2. Memperjelas (التوضيح) man’ut apabila yang menjadi man’ut adalah isem makrifah. Contohnyaجاء زيد العالم Maksud dengan taudhih (التوضيح) adalah menghilangkan keserupaan lafdhi yang terjadi pada mkrifah dengan perantaraan ittafaq.

3. Memuji man’ut dengan memperjelas sifat yang sempurna pada man’ut. Contohnyaبسم الله الرحمن الرحيم

4. Mencela man’ut. Contohnya أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

5. Mengutarakan perasaan kasih sayang terhadap man’ut. Contoh يا الله ارحم عبدك المسكين

6. Memperkuat kalam. Contoh تلك عشرة كاملة

7. Ta’mim /meluaskan kalam.

8. Tafsil/mengurai kalam.

9. Ibham/menyamarkan kalam.

 10. Memberitahu pendengar bahwa sipembicara mengetahui dengan kondisi man’ut. 11. Tafsir/memperjelaskan kalam.

-al-Kawakib ad-durriyyah Syarah Mutammimah Al-Jarummiah Juz 2 Hal 218-219 Cet Haramain

Kewajiban Memenuhi Undangan Walimah

Deskripsi Masalah:

Dalam islam, disaat laki laki mau menjadikan seorang perempuan sebagai istrinya maka harus melalui jalur pernikahan. Umumnya, setelah nikah membuat resepsi/pesta atau walimatul ‘ursy dengan tujuan memberikan kabar gembira kepada kerabat atau keluarga, serta sebagai wujud dari rasa syukur kita terhadap Allah SWT. Islam tidak melarang ummatnya untuk melakukan sebuah resepsi pernikahan. Pada dasarnya wajib menghadiri walimah, bila tidak ada hal-hal yang menggugurkan kewajibannya.

Pertanyaan:

Apa sajakah kewajiban seseorang memenuhi undangan walimah?

Jawaban:

Terhadap yang diundang wajib hukumnya memenuhi undangan dengan syarat-syarat sebagai berikut:

1. Undangannya tidak terkhusus untuk orang kaya. Jika undangannya khusus untuk orang kaya maka hilang tuntutan memenuhi undangannya.

2. Diundang pada hari pertama yaitu undangan khusus. Orang yang bersangkutan yang mengundangnya atau melalui utusannya.

Maka jika yang mengundang membuka pintunya dan berkata, Hadirilah siapa saja yang mau, atau siapa yang mengkehendakinya, maka tdk wajib menghadirinya.
Kemudian jika diadakan pesta 3 hari tdk wajib memenuhi undangan pada hari ke2 dan makruh memenuhi pada hari ke3.

ﺎﻝ - ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ -: «اﻟﻮﻟﻴﻤﺔ ﻓﻲ اﻟﻴﻮﻡ اﻷﻭﻝ ﺣﻖ، ﻭﻓﻲ اﻟﺜﺎﻧﻲ ﻣﻌﺮﻭﻑ ﻭﻓﻲ اﻟﺜﺎﻟﺚ ﺭﻳﺎء ﻭﺳﻤﻌﺔ ﺭﻭاﻩ ﺃﺻﺤﺎﺏ اﻟﺴﻨﻦ اﻷﺭﺑﻌﺔ

Nabi Muhammad SAW bersabda : “pesta di hari pertama itu yang benar. Pada hari ke2 itu baik. Dan pada hari ke3 itu riya dan sum'ah. HR. Pengarang sunan-sunan yang empat”

4. Diundang bukan karena takut atau terobsesi dengan kedudukan, Tetapi karena ibadah atau kasih sayang.
Maka jika Diundang karena takut atau terobsesi dengan kedudukan, maka tidak dituntut memenuhi undangan.

5. Di tempat undangan tidak ada orang yang menyakitinya atau yang tidak pantas duduk dengannya seperti orang orang keji. Jika ada maka itu bisa menjadi alasan (dalam pandangan syara') untuk tidak memenuhi undangan.

6. Tiada kemungkaran di tempat undangan, seperti minum minuman keras, memainkan alat alat musik, dan menggunakan wadah wadah emas dan perak.
Jika kemungkaran itu hilang dengan kehadirannya maka hendaknya dia hadir untuk memenuhi undangan dan menghilangkan kemungkaran, berbeda halnya jika dia tidak mengetahuinya sehingga dia hadir maka dia melarang mereka. Dan apabila mereka tidak berhenti maka wajib keluar kecuali bila dia takut keluar, misalnya waktu malam solusinya dengan duduk tenang tanpa mneikmatinya. Jika kemungkaran merupakan perkara khilafiyah (kontradiktif) seperti minum tuak (terbuat dari selain anggur segar) maka haram hadir atas orang yang berprinsip itu haram.
Termasuk kemungkaran adalah tilam sutera, gambar makhluk hidup yang dilukis di atap, dinding, atau bantal yang didirikan atau tirai yang digantung atau baju yang dipakai baik yang dilantai, hamparan yang diinjak dan bantal untuk bertelekan (tiduran menyamping dengan satu tangan dilipat dan telapak tangan menyangga kepala) dan makhluk hidup tanpa kepala dan gambar gambar pohon.
Perbedaannya sesungguhnya sesuatu yang diinjak dan dilempar berarti hina dan remeh. Sedangkan sesuatu yang didirikan berarti mulia serupa dengan patung patung.
Haram menggambar makhluk hidup di tembok tembok dan atap atap. Begitu juga di tanah (lantai) dan tenunan baju menurut pendapat Shahih.

ﻗﺎﻝ - ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - «ﺃﺷﺪ اﻟﻨﺎﺱ ﻋﺬاﺑﺎ ﻳﻮﻡ اﻟﻘﻴﺎﻣﺔ اﻟﺬﻳﻦ ﻳﺼﻮﺭﻭﻥ ﻫﺬﻩ اﻟﺼﻮﺭ

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Manusia yang paling pedih siksaan
nya pada hari kiamat adalah orang orang yang mengambar gambar gambar ini” 

-Al-Mahalli Juz 3 Hal 296-298 Cet, Beirut

ﺇﻧﻤﺎ ﺗﺠﺐ) اﻹﺟﺎﺑﺔ (ﺃﻭ ﺗﺴﻦ) ﻛﻤﺎ ﺗﻘﺪﻡ (ﺑﺸﺮﻁ ﺃﻥ ﻻ ﻳﺨﺺ اﻷﻏﻨﻴﺎء) ﺑﺎﻟﺪﻋﻮﺓ ﻓﺈﻥ ﺧﺼﻬﻢ ﺑﻬﺎ اﻧﺘﻔﻰ ﻃﻠﺐ اﻹﺟﺎﺑﺔ ﻋﻨﻬﻢ ﺣﺘﻰ ﻳﺪﻋﻮ اﻟﻔﻘﺮاء ﻣﻌﻬﻢ (ﻭﺃﻥ ﻳﺪﻋﻮﻩ ﻓﻲ اﻟﻴﻮﻡ اﻷﻭﻝ) ﺃﻱ ﻳﺨﺼﻪ ﺑﺎﻟﺪﻋﻮﺓ ﺑﻨﻔﺴﻪ ﺃﻭ ﺑﻤﺮﺳﺎﻟﻪ، ﻓﺈﻥ ﻓﺘﺢ ﺩاﺭﻩ ﻭﻗﺎﻝ ﻟﻴﺤﻀﺮ ﻣﻦ ﺷﺎء ﺃﻭ ﻣﻦ ﺷﺎء ﻓﻼﻥ، ﻓﻼ ﺗﻄﻠﺐ اﻹﺟﺎﺑﺔ ﻫﻨﺎ، ﻭﻗﻮﻟﻪ ﻓﻲ اﻟﻴﻮﻡ اﻷﻭﻝ ﺃﻛﻤﻞ اﻟﻤﺮاﺩ
ﺑﺎﺷﺘﺮاﻃﻪ ﺑﻘﻮﻟﻪ، (ﻓﺈﻥ ﺃﻭﻟﻢ ﺛﻼﺛﺔ ﻟﻢ ﺗﺠﺐ ﻓﻲ اﻟﺜﺎﻧﻲ) ﻗﻄﻌﺎ ﻭاﺳﺘﺤﺒﺎﺑﻬﺎ ﻓﻴﻪ ﺩﻭﻥ اﺳﺘﺤﺒﺎﺑﻬﺎ ﻓﻲ اﻷﻭﻝ (ﻭﺗﻜﺮﻩ ﻓﻲ اﻟﺜﺎﻟﺚ) ﻗﺎﻝ - ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ -: «اﻟﻮﻟﻴﻤﺔ ﻓﻲ اﻟﻴﻮﻡ اﻷﻭﻝ ﺣﻖ، ﻭﻓﻲ اﻟﺜﺎﻧﻲ ﻣﻌﺮﻭﻑ ﻭﻓﻲ اﻟﺜﺎﻟﺚ ﺭﻳﺎء ﻭﺳﻤﻌﺔ» ﺭﻭاﻩ ﺃﺻﺤﺎﺏ اﻟﺴﻨﻦ اﻷﺭﺑﻌﺔ (ﻭﺃﻥ ﻻ ﻳﺤﻀﺮﻩ ﻟﺨﻮﻑ) ﻣﻨﻪ ﻟﻮ ﻟﻢ ﻳﺤﻀﺮﻩ (ﺃﻭ ﻃﻤﻊ ﻓﻲ ﺟﺎﻫﻪ) ﺑﻞ ﻳﻜﻮﻥ ﻟﻠﺘﻘﺮﺏ ﺃﻭ اﻟﺘﻮﺩﺩ ﻓﺈﻥ ﺃﺣﻀﺮﻩ ﺃﻱ ﺩﻋﺎﻩ ﻟﻠﺨﻮﻑ ﺃﻭ اﻟﻄﻤﻊ اﻟﻤﺬﻛﻮﺭﻳﻦ اﻧﺘﻔﻰ ﻋﻨﻪ ﻃﻠﺐ اﻹﺟﺎﺑﺔ. (ﻭﺃﻥ ﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﺛﻢ ﻣﻦ ﻳﺘﺄﺫﻯ) ﻫﻮ (ﺑﻪ ﺃﻭ ﻻ ﻳﻠﻴﻖ ﺑﻪ ﻣﺠﺎﻟﺴﺘﻪ
) ﻛﺎﻷﺭاﺫﻝ ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ، ﻓﻬﻮ ﻣﻌﺬﻭﺭ ﻓﻲ اﻟﺘﺨﻠﻒ (ﻭﻻ ﻣﻨﻜﺮ) ﻛﺸﺮﺏ ﺧﻤﺮ ﻭﺿﺮﺏ ﻣﻼﻩ ﻭاﺳﺘﻌﻤﺎﻝ ﺃﻭاﻧﻲ اﻟﺬﻫﺐ ﺃﻭ اﻟﻔﻀﺔ (ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﻳﺰﻭﻝ ﺑﺤﻀﻮﺭﻩ ﻓﻠﻴﺤﻀﺮ) ﺇﺟﺎﺑﺔ ﻟﻠﺪﻋﻮﺓ، ﻭﺇﺯاﻟﺔ ﻟﻠﻤﻨﻜﺮ ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﺰﻝ ﺑﺤﻀﻮﺭﻩ ﺣﺮﻡ اﻟﺤﻀﻮﺭ، ﻷﻧﻪ ﻛﺎﻟﺮﺿﺎ ﺑﺎﻟﻤﻨﻜﺮ، ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﻌﻠﻢ ﺑﻪ ﺣﺘﻰ ﺣﻀﺮ ﻧﻬﺎﻫﻢ، ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﻨﺘﻬﻮا ﻭﺟﺐ اﻟﺨﺮﻭﺝ ﺇﻻ ﺇﺫا ﺧﺎﻑ ﻣﻨﻪ ﺑﺄﻥ ﻛﺎﻥ ﺑﺎﻟﻠﻴﻞ، ﻓﻴﻘﻌﺪ ﻛﺎﺭﻫﺎ ﻭﻻ ﻳﺴﺘﻤﻊ ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻥ اﻟﻤﻨﻜﺮ ﻣﺨﺘﻠﻔﺎ ﻓﻴﻪ ﻛﺸﺮﺏ اﻟﻨﺒﻴﺬ ﺣﺮﻡ اﻟﺤﻀﻮﺭ ﻋﻠﻰ ﻣﻌﺘﻘﺪ ﺗﺤﺮﻳﻤﻪ (ﻭﻣﻦ اﻟﻤﻨﻜﺮ ﻓﺮاﺵ ﺣﺮﻳﺮ ﻭﺻﻮﺭﺓ ﺣﻴﻮاﻥ) ﻣﻨﻘﻮﺷﺔ (ﻋﻠﻰ ﺳﻘﻒ ﺃﻭ ﺟﺪاﺭ ﺃﻭ ﻭﺳﺎﺩﺓ) ﻣﻨﺼﻮﺑﺔ (ﺃﻭ ﺳﺘﺮ) ﻣﻌﻠﻖ (ﺃﻭ ﺛﻮﺏ ﻣﻠﺒﻮﺱ ﻭﻳﺠﻮﺯ ﻣﺎ ﻋﻠﻰ ﺃﺭﺽ ﻭﺑﺴﺎﻁ) ، ﻳﺪاﺱ (ﻭﻣﺨﺪﺓ) ﻳﺘﻜﺄ ﻋﻠﻴﻬﺎ (ﻭﻣﻘﻄﻮﻉ اﻟﺮﺃﺱ ﻭﺻﻮﺭ ﺷﺠﺮ) ، ﻭاﻟﻔﺮﻕ ﺃﻥ ﻣﺎ ﻳﻮﻃﺄ ﻭﻳﻄﺮﺡ ﻣﻬﺎﻥ ﻣﺒﺘﺬﻝ، ﻭاﻟﻤﻨﺼﻮﺏ ﻣﺮﺗﻔﻊ ﻳﺸﺒﻪ اﻷﺻﻨﺎﻡ (ﻭﻳﺤﺮﻡ ﺗﺼﻮﻳﺮ ﺣﻴﻮاﻥ) ﻋﻠﻰ اﻟﺤﻴﻄﺎﻥ ﻭاﻟﺴﻘﻮﻑ ﻭﻛﺬا ﻋﻠﻰ اﻷﺭﺽ، ﻭﻓﻲ ﻧﺴﺞ اﻟﺜﻴﺎﺏ ﻋﻠﻰ اﻟﺼﺤﻴﺢ ﻗﺎﻝ - ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - «ﺃﺷﺪ اﻟﻨﺎﺱ ﻋﺬاﺑﺎ ﻳﻮﻡ اﻟﻘﻴﺎﻣﺔ اﻟﺬﻳﻦ ﻳﺼﻮﺭﻭﻥ ﻫﺬﻩ اﻟﺼﻮﺭ» 




Hal Menarik Dibalik Nama Muhammad

Lafadz Muhammad ( محمّد ) dalam ilmu nahwu dinamakan ‘alam manqul dari isim maf’ul fi’il mubalaghah yaitu “ حمّد”, dikarenakan banyak sekali perkara-perkara yang terpuji terdapat pada diri Rasulullah SAW sehingga beliau dinamakan dengan nama "محمّد”. Nama Muhammad merupakan nama Rasulullah SAW di bumi, sedangkan nama beliau yang populer di langit yaitu “أحمد”, sebelum nabi kita dilahirkan dan di beri nama Muhammad terdapat lima belas orang yang bernama Muhammad (محمّد), sedangkan nama Ahmad (أحمد) tidak diperdapatkan sebelumnya. Terdapat beberapa hadist yang menganjurkan kepada kita untuk memberikan nama seseorang dengan nama muhammad (محمّد ) atau ahmad (أحمد) diantaranya ialah :

1. Hadist Qudsi dari riwayat abu na’im :

قال الله تعالى : لا أعذب أحدا تسمى بإسمك بالنار
Artinya : “ Berfirmanlah Allah ta’ala, tidak aku azab dengan neraka orang-orang yang namanya sama dengan nama engkau.”

2. Dalam riwayat lain :

قال الله تعالى : إنى آليت على نفسى أن لا يدخل النار مَن إسمه أحمد و محمّد
Artinya : “ Sesungguhnya aku bersumpah atas diriku bahwa tidak akan pernah masuk neraka orang-orang yang namanya Ahmad dan Muhammad.”

-Al-Kawakib ad-Durriyah ala Mutamimmah al-Ajrumiyah Juz 1 Hal 5 Cet, Haramain

Simak Juga :
https://www.youtube.com/watch?v=FVOUFKSU3ew

Perbedaan Qaedah Dan Dhabit

Pada dasarnya Qaedah dan dhabit memiliki pengertian yang sama. Namun para ulama generasi terakhir membuat perbedaaan antara keduanya. Mereka mendefinisikan Qaedah sebagai suatu ketentuan yang mencakup permasalahan yang banyak dalam bab yang banyak pula dalam fiqh. Contohnya seperti :الامور بمقاصدها Qaedah ini mencakup permasalahan ibadat, jinayat, akad, jihad, perbudakan dan lain-lain. Adapun dhabit adalah regulasi yang hanya memayungi permasalahan yang banyak dalam satu bab tertentu saja. Contohnya seperti :


لا تصوم المرأة تطوعا ال باذن الزوج أو كان مسافرا

Imam Suyuthi berkata : Qaedah menghimpun beberapa furu’ dalam bab yang bervariasi. Sedangkan dhabit menghimpun beberapa furu’ dalam bab yang satu.
Perbedaan Qaedah dan dhabit hanya terjadi menurut perspektif sebagian besar ulama saja. Hakikatnya, keduanya tidak memiliki perbedaan yang prinsipil. karena banyak ulama menyebut Qaedah fiqh, padahal pada esensinya adalah dhabit.

Referensi : Hasyiah Syeikh Zakaria ‘ala Jamil Jawami’ Juz 1 Halaman 7

Simak Juga :

https://www.youtube.com/watch?v=M7rXAT5CGhw

Bahaya Narkotika Bagi Kehidupan

Dewasa ini, penggunaan narkotika sudah sangat marak di tengah-tengah masyarakat khususnya anak muda. Narkotika bukan merupakan barang baru, tapi sudah dikenal dan digunakan sejak zaman dahulu kala. Baik sebagai obat-obatan atau pelengkap dalam ritual pemujaan.
Di samping mempunyai manfaat untuk pengobatan, narkotika seperti ganja, opium, dan kokain juga berbahaya bagi tubuh manusia apalagi jika dikonsumsi dalam jumlah berlebih.
Para ulama menyebutkan, Narkotika seperti ganja mempunyai 120 bahaya yang mengancam kehidupan dan agama. Seperti menyebabkan kelupaan, pusing, merusak akal, TBC, muntah, kusta dan banyak penyakit lain. Juga dapat menyebabkan terbuka rahasia, menimbulkan perbuatan keji, berkurang rasa malu, dan hilang kewibawaan.
Di antara bahaya yang paling dahsyat adalah dapat menyebabkan seseorang lupa mengucapkan syahadah ketika sakaratul maut. Padahal hal tersebut merupakan tujuan akhir dari seorang mukmin yang sangat mendambakan akhir dari kehidupannya dalam keadaan beriman kepada Allah SWT.

Referensi : Hasyiah I’anatutthalibin Juz 4 Hal 156 Cet, haramain

(قوله: والحشيشة) أي وككثير الحشيشة.واعلم: أن العلماء قد ذكروا في مضار الحشيشة نحو مائة وعشرين مضرة دينية ودنيوية: منها أنها تورث النسيان والصداع وفساد العقل والسل والاستسقاء والجذام والبرص وسائر الامراض وإفشاء السر وإنشاء الشر وذهاب الحياء وعدم المروءة وغير ذلك، ومن أعظم قبائحها أنها تنسي الشهادة عند الموت، وجميع قبائحها موجود في الافيون والبنج ونحوهما


Simak juga : 

https://www.youtube.com/watch?v=MBGivBGfvak


Seputar Lalat

Diantara banyak mahkluk hidup Yang telah di ciptakan oleh Allah swt ialah lalat, Dasar kata lalat dalam bahasa arab ialah ذباب , dasar kata-kata ذباب ialah ذب – أب , secara harfiah kata-kata ذب bermakna طرد artinya mengusir,sedangkan kata-kata أب bermakna رجع artinya kembali, kenapa demikian karena setiap kali lalat di usir maka ia akan kembali, lalat hanya bertahan hidup maksimal 40 hari, semua lalat kelak dalam neraka untuk mengazab penghuni neraka, lalat tidak pernah hinggab di tubuh dan pakaian Rasulullah saw, lalat merupakan makhluk yang paling bodoh karena dia akan menjatuhkan dirinya kedalam hal-hal yang membinasakannya, lalat bernama Abu Hamzah.

( Hasyiah I’anatut Thalibin Juz 1, Hal 105 Cet, Haramain )

قال بعضهم الذباب مركب من ذب آب أي طرد رجع لأنه كلماطرد رجع ولا يعيش أكثر من اربعين يوما وكله في النار لتعذيب اهلها لا لتعذيبه وكان لا يقع علي جسده صلي الله عليه وسلم ولا علا ثيابه وهو اجهل الخلق لانه يلقي نفسه علي ما فيه هلاكه وإسمه ابو همزة. انتهي...اعانة الطالبين ١ نمرة ١٠٦

Simak juga  : https://www.youtube.com/watch?v=v_IcW0EaEAw&list=PLDbOPgtehL-OQZn6iKZTwemzpXSobjD3S

Fi’il mudhari’

Fi'il mudhari’ adalah suatu kalimat yang terfahami kepada perbuatan yang terjadi pada zaman hal (masa sedang berbicara) dan zaman mustaqbal (masa yang akan terjadi) tanpa terkhusus.
Hal-hal yang dapat menkhususkan zaman fiil mudhari':

1. Terkhusus zaman mustaqbal apabila masuk pada fiil mudhari' beberapa kalimat, antara lain:

السين , سوف , لا النافية , أدوات الشرط , أدوات النصب , الترجى , لو المصدرية

2. Terkhusus zaman hal apabila masuk pada fi'il muzarek beberapa kalimat, antara lain:

الآن , الساعة , آنفًا , لام الإبتداء , النفى بليس , إن , م

Kadang-kadang fi'il mudhari' juga bisa berzaman madhi apabila masuk:

لم , لمّا , لولا الإمتناعية


 - Kawakibud Durriyat, Juz 1, Hal 12 Cet , Haramain


Fatwa Imam Syafi'i Dengan Pendapat Jadid Mengikuti Budaya Mesir ?

Dalam mazhab syafii, ada dua qaul yang dikenal dengan qaul Jadid dan Qadim, pendapat jadid adalah pendapat yang dikemukakannya di Mesir atau dalam perjalanan menuju Mesir, sedangkan pendapat Qadim adalah pendapat yang beliau kemukakan di Iraq. Dalam hal ini, ada sebagian pihak yang berpendapat bahwa bahwa imam Syafii mengeluarkan qaul Jadid karena menyesuaikan diri dengan adat istiadat yang ada di Mesir, bukan karena faktor penambahan dalil yang menjadi landasan hukum pendapat Jadid.

Pertanyaan:

Apakah benar bahwa perubahan pendapat Imam Syafii dari Qadim ke Jadid karena faktor budaya setempat?

Jawaban:

Tidak benar imam syafiie mengasas mazhab jadid untuk menyesuaikan diri dengan adat istiadat mesir, namun timbulnya mazhab jadid karena bertukar pikiran sang imam dengan ulama-ulama lain ketika ia berada di mekkah, bahkan yang tertera dalam kitab kitab mazhab syafii adalah bagi sang imam ada dua mazhab, mazhab iraq yaitu mazhab qadim yang diajarkan kepada murid uridnya disana dan ia mengarang beberapa kitab, kemudian ketika ia pindah ke mesir, tatkala sampai di mekkah ia bertukar pendapat dengan beberapa ulama lain, sehingga banyak pendapat pendapat qadim yang telah difatwanya dirujuk kembali, pendapat pendapat inilah yang kemudian menjadi pendapat jadid, pendapat jadid dibnetuk oleh imam syafii sebelum keberangkatannya ke mesir, ada yang berkatasebelum keberangkatannya ke mekkah, namun yang pasti, pendapat jadid adalah pendapat yang diterapkannya di mesir, tentu terlepas dari kaitannya dari irak atau mesir, namun karena bertambahnya ilmu imam dengan sebab bertukar pendapat.
Ini bukan tanpa alasan, berikut beberapa alasan pendapat jadid bukan karena mengikuti budaya:

1. Jika perubahan mazhab karena budaya, sungguh imam tidak akan menarik kitab-kitabnya yang dikarang di Irak dan mengharamkan kepada umat untuk mempelajarinya dengan kata beliau:

ليس في حل من روي عني القديم
Tidaklah halal seseorang meriwayatkan pendapat qadim dariku. (Bahrul Muhid, Imam Zarkasyi jilid 4 hal 584)

Kalau sendainya pendapat jadid karena faktor budaya Mesir, tentunya Imam Syafii akan membiarkan murid-muridnya yang di Iraq untuk mengikuti pendapat qadim beliau, bahkan tentunya Imam Syafii akan punya pendapat yang berbeda-beda bagi muridnya menurut asal daerah masing-masing, namun kenyataannya tidak demikian.

2. Jika memang seperti dakwaan mereka, maka para ashab Imam Syafii yang ada di Irak akan berfatwa sesuai mazhab qadim, dan ashab yang di mesir akan berfatwa seperti pendapat qadim, padahal fakta sebaliknya, ashab Imam Syafii yang di Iraq juga berfatwa dengan pendapat Jadid.

3. Para imam mazhab yang lebih mengetahui tentang imam Syafii tidak penah satupun dari mereka yang mengatakan perubahan mazhab karena mengikuti adat, apakah para mutaakhirin lebih mengenal terhadap imam daripada ashab imam sendiri ? bahkan ketika para shab memilih pendapat imam yang qadim, mereka tidak menisbahkannya kepada imam, tetapi mereka memilihnya karena kuat dalilnya.

4. Para ulama-ulama mazhab Syafii dengan jelas mengataklan tidak boleh mengitu pendapat qadim walaupun bagi penduduk Iraq, maka bagaimana orang-orang yang datang kemudian mengatakan perubahan Qadim ke Jadid karena faktor budaya Mesir?

5. jika memang benar pendapat imam di Mesir karena budaya, maka para pengikutnya diluar mesir tidak akan mengikutinya, padahal sangat banyak murid imam Syafii yang berasal dari luar mesir mengikuti pendapat jadid yang disusunnya di Mesir bahkan penduduk Irak sekalipun, kitab al-um yang menjadi rujukan dasar mazhab Syafii bagi semua daerah, maka pendapat jadid adalah yang sahih dan wajib beramal atasnya baik untuk penganut Mazhab Syafii di Mesir atau di luar Mesir.

Alangkah mengherankan, orang yang mengatakan Imam Syafii berfatwa dengan pendapat jadid karena mengikuti adat mesir, hanya karena ingin memperoleh fatwa yang mudah-mudah walaupun bertentangan dengan dalil, dan mereka juga mendakwa fatwa jadid adalah sarana untuk mempermudah penduduk Mesir padahal mereka tidak mengatahui bahwa pendapat imam di Mesir berdasarkan dalil-dalil yang kuat dibandingkan fatwa Imam Syafii di Iraq, bahkan umumnya pendapat qadim cenderung lebih mudah dibandingkan mazhab jadid.

Sayyid Alawi bin Abdul Qadir, Madhal ila mazhab syafiiyah Hal 378

Hukum Minum kopi di kedai Non Muslim

Deskripsi Masalah:

Kopi adalah minuman yang diminati oleh kebanyakan masyarakat di Indonesia. Disamping ada nilai filosofinya, kopi juga bisa menjadi minuman untuk mengawali imajinasi kita. Budaya ngopi di kedei kopi sudah berakar kuat di Nusantara.

Pertanyaan:

1. Bagaimanakah hukum Minum kopi di kedai kopi Non Muslim?

Jawaban:

1. Hukum Minum kopi di kedai Non muslim makruh.
Bagi kita ummat Islam Makruh hukumnya memakai bejana org kafir, pakaian mereka, dan sesuatu yg mengiringi anggota tubuh bawah mereka, seperti sandal.
Memakai harta kafir yg mengiringi/menyentuh kulit kita itu bersangatan Makruh.
Sedangkan memakai bejana mereka itu Makruhnya lebih ringan.

-Hasyiah syarwani. Jld 1. Cet darul fikri. Hal. 136

ﻜﺮﻩ اﺳﺘﻌﻤﺎﻝ ﺃﻭاﻧﻲ اﻟﻜﻔﺎﺭ ﻭﻣﻠﺒﻮﺳﻬﻢ ﻭﻣﺎ ﻳﻠﻲ ﺃﺳﺎﻓﻠﻬﻢ ﺃﻱ ﻣﻤﺎ ﻳﻠﻲ اﻟﺠﻠﺪ ﺃﺷﺪ ﻭﺃﻭاﻧﻲ ﻣﺎﺋﻬﻢ ﺃﺧﻒ.




KEUTAMAAN BERSEDEKAH

lbmmudi.com Bersedekah adalah sebuah kemuliaan yang sangat berharga, karena sedekah dapat menghapus dosa sebagai mana air yang dapat memadamkan api, dengan bersedekah kita akan mendapat naungan dariNya di hari akhirat, bersedekah akan memberikan keberkahan pada harta yang kita miliki, Allah akan melipat gandakan pahala orang-orang yang bersedekah dan masih banyak keutamaan-keutamaan lainnya.
Mengenai hal ini ada sebuah hadist dari Ibnu abbas R.A yang menceritakan tentang seorang wanita dari bani israil yang mempunyai seorang suami yang merantau, dan suaminya mempunyai seorang ibu yang pada awal nya menyayangi nya, namun akhirnya mertuanya membencinya sehingga merekayasa selembar surat perceraian yang diberikan kepada menantunya dan perempuan tersebut juga memiliki dua orang anak dari suamiya yang ia cintai, kemudia wanita tersebut beserta anak-anaknya pulang ke keluarganya, dan pada masa itu mereka memiliki seorang raja yang membenci memberi makan kepada orang miskin, didalam perjalanan pulang wanita itu bertemu dengan orang miskin yang meminta sedikit bantuan kepadanya yang sedang memakan roti, kemudia wanita itu bertanya kepada orang miskin tersebut, “apakah anda tau yang bahwa raja mengharamkan memberi makan orang miskin?” Orang itu menjawab,” ia saya tau, akan tetapi saya akan binasa jika engkau tidak berikan sedikit makanan kepadaku” dan akhirnya wanita itu memberi makanan kepadanya, setelah wanita itu berpesan agar tidak memberitau kepada seorang pun. Maka orang miskin itu pergi dan tiba-tiba berjumpa dengan penjaga kerajaan, penjagapun bertanya kepadanya “ dari mana kamu mendapatkan dua roti itu?”
si miskin menjawa “dari seorang wanita”, kemudian penjagapun mencari wanita itu dan menjumpainya.
Maka penjaga bertanya “apakah benar kamu yang memberikan dua roti ini
wanita itu menjawab “iya”
penjaga melanjutkan pertanyaan nya, “apakah kamu tidak tahu yang bahwa raja mengharamkan nya?” wanita itu menjawab ”saya tau”
penjaga; mengapa kamu memberikannya?
wanita; karena saya kasihan.
kemudia pengawal membawa wanita itu kepada raja, dan rajapun bertanya kepadanya,
raja:”apakah kamu belum tau yang bahwa saya mengharamkannya?
wanita: saya tau
raja: kenapa kamu memberikannya?
wanita: karena saya kasihan dan saya berharap tidak ada yang tahu.
maka rajapun menyuruh algojo untuk memotong kedua tangannya atas dua roti yang telah ia berikan dan eksikusipun berjalan dengan lancar.
Akhirnya wanita itu pulang dengan kedua buah hatinya yang ia miliki, didalam perjalanan pulang wanita itu meyuruh salah satu anaknya untuk mengambil air di sungai karena haus, maka tiba-tiba sianak tergelincir dan jatuh kesungai maka ibunya panik sehingga menyuruh anak satunya lagi agar membantu saudaranya yang tenggelam, pada akhirnya keduanya pun hilang didalam sungai, Ibunya tidak bisa berbuat apa-apa lantaran tidak punya tangan. Maka tinggalah wanita itu seorang diri dengan luka diatas duka, maka tiba-tiba muncul seseorang dan berkata kepada wanita itu,”wahai hamba Allah, saya melihat anda begitu sedih. Dan wanita itu meminta sepucuk doa dari orang itu setelah wanita itu menceritakan kisahnya, dan orang itu memberikan dua pilihan kepadanya, apakah kamu menginginkan kedua tangan mu atau kedua anak mu? Tanpa ragu wanita itu menjawab, saya ingin anakku kembali. Dan akhirnya orang itu mendoakannya dan tiba-tiba munculah anaknya, dan kedua tangannya. Kemudia orang itu berkata, “ saya adalah utusan Allah yang diutus bagimu, kedua tangan adalah dua roti dan dua anak adalah fahalamu dariAllah yang telah kamu bantu orang miskin dan kesabaranmu atas cobaan yang menimpa dirimu, ketahuilah suamimu tidak menceraikan mu maka pulanglah kepada suamimu, dia ada dirumah dan sesungguhnya mertuamu sudah mati, maka pulanglah wanita itu. Dan terpenuhi segala urusan.

- Ianatuttalibin Hal 209 Cet, Haramain


Teks Ratib Al Athos


Ratib Al Athos adalah bacaan doa dan wirid karya Al Habib Umar bin Abdurrahman Al Attas. Ratib ini berisi doa doa mustajab dan ampuh yang berasal dari AlQuran dan hadits Nabi Muhammad SAW. Pengarang ratib Al-Athos ini adalah seorang waliyullah yang memiliki derajat tinggi dan kemuliaan disisi ALLAH SWT.  Ia adalah ulama asal hadraumut yang dilahirkan pada tahun 229H. meski sejak kecil kedua matanya buta, namun ia memiiki kecerdasan luar biasa dan mampu menghafal apapun hanya dengan pendengarannya. ia juga memiliki nasab yang bersambung langsung kepada Rasulullah SAW.

Nasab dan silsilah beliau adalah Umar bin Abdurrahman bin Agil bin Salim bin Ubaidullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Syeikh al Ghauts Abdurrahman as-Seggaf bin Muhammad Maulah Dawilah bin Ali bin Alawi al Ghoyur bin Sayyidina al Faqih al Muqaddam Muhammad bin Ali binl Imam Muhammad Shahib Mirbath bin Ali bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidullah bin Imam al Muhajir Ahmad bin Isa bin Muhammad an Naqib binl Imam Ali al Uraidhi bin Jaafar as Shadiq binl Imam Muhammad al Baqir binl Imam Ali Zainal Abidin binl Imam Hussein as Sibith bin Imam Ali bin Abi Thalib dan bin Batul Fatimah az-Zahra binti Rasullullah S.A.W. Baca juga : mukjizat Nabi Musa Sebelu meninggal, ia telah meninggalkan banyak sekali karya dan salah satu yang utama adalah ratib al athas ini. terdapat banyak sekali manfaat dan kegunaan bagi siapa saja yang istiqomah dalam membaca dan mengamalkan ratib al attas ini.

Semua wirid dan dzikir yang ada didalamnya juga diambil langsung dan dirangkum oleh Habib Umar Al attas dari Al Qur'an dan hadist Nabi. sehingga tak heran jika membacanya akan mendatangkan pahala dan rahmat dari ALLAH SWT. Bahkan berkata sebagian ulama ahli salaf bahwa diantara keutamaan ratib al athos ini bagi mereka yang tetap mengamalkannya, adalah dipanjangkan umur, mendapat Husnul-Khati  mah, menjaga segala kepunyaannya di laut dan di bumi dan senantiasa berada dalam perlindungan Allah. Jadi langsung saja dibawah ini teks bacaan ratib al athos lengkap dalam bahasa arabnya.

Bacaan Ratib Al Atos Lengkap
 اَلْفَاتِحَةُ اِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ, اَعُوذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ (بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ.اَلْحَمْدُلِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ...) الخرسُوْرَةُ الْفَاتِحَة اَعُوْذُبِا للهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَا نِ الرَّجِيْمِ (3x) ( لَوْاَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَاَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللهِ وِتِلْكَ اْلاَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ. هُوَاللهُ الَّذِيْ لاَاِلَهَ اِلاَّ هُوَعَالِمُ اْلغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَالرَّحْمَنُ الرَّحِيْمُ هُوَاللهُ الَّذِيْ لآ اِلَهَ اِلاَّ هُوَاْلمَلِكُ اْلقُدُّوْسُ السَّلاَمُ اْلمُؤْمِنُ اْلمُهَيْمِنُ اْلعَزِيْزُاْمجَبَارُ اْلمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللهِ عَمَّايُشْرِ كُوْنَ هُوَاللهُ اْمخَالِقُ اْلبَارِئُ اْلمُصَوِّرُلَهُ اْلاَسْمَاءُ اْمحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَافِى السَّمَوَاتِ وِاْلاَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيْزُاْمحَكِيْمِ ) اَعُوْذُبِاللهِ السَّمِيْحِ اْلعَلِيْمِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ (3x) اَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّا مَّاتِ مِنْ شَرِّمَا خَلَقَ (3x) بِسْمِ اللهِ الَّذِيْ لاَيَضُرُّمَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى اْلاَرْضِ وَلاَفِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ (3x) بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ.وَلاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ اِلاَّبِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ (عَشْرًا) بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ (3x) بِسْمِ اللهِ تَحَصَّنَّا بِاللهِ.بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْنَا بِا للهِ (3x) بِسْمِ اللهِ آمَنَّابِاللهِ. وَمَنْ يُؤْ مِنْ بِاللهِ لاَخَوْفٌ عَلَيْهِ (3x) سُبْحَانَ اللهِ عَزَّاللهِ. سُبْحَانَ اللهِ جَلَّ اللهِ (3x) سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ.سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ (3x) سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُلِلَّهِ وَلآ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ (اَرْبَعًا) يَالَطِيْفًا بِخَلْقِهِ يَاعَلِيْمًا بِخَلْقِهِ يَاخَبِيْرًا بِخَلْقِهِ. اُلْطُفْ بِنَايَالَطِيْفُ,يَاعَلِيْمُ يَاخَبِيْرً (3x) يَا لَطِيْفًا لَمْ يَزَلْ. اُلْطُفْ بِنَافِيْمَانَزَلْ اِنَّكَ لَطِيْفٌ لَمْ تَزَلْ. اُلْطُفْ بِنَاوَ الْمُسْلِمِيْنَ (3x) لآ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ (اَرْبَعِيْنَ مَرَّةً) مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ. حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ (سبعا) اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى مُحَمَّدٍ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ (10x) اَسْتَغْفِرَاللهَ (اا مَرَّةً). تَائِبُوْنَ اِلَى اللهِ (3x) يَااَللهُ بِهَا.يَااَللهُ بِهَا يَااَللهُ بِحُسْنِ اْلخَاتِمَةِ (3x) غُفْرَا نَكَ رَبَّنَا وَاِلَيْكَ اْلمَصِيْرُ لاَيُكَلِفُ اللهُ نَفْسًا اِلاَّ وُسُعَهَا لَهَا مَا اكَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكَتَسَبَتْ رَبَّنَا لاَ تُؤَا خِذْنَا اِنْ نَسِيْنَا اَوْاَخْطَأْ نَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَا قَةَلَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْلَنَا وَارْحَمْنَا اَنْتَ مَوْلاَ نَا فَانْصُرْنَا عَلَى اْلقَوْمِ اْلكَا فِرِيْنَ.
 Kemudian membaca :

 اَلْفَاتِحَةُ اِلَى رُوْحِ سَيِّدِنَاوَ حَبِيْبِنَاوَ شَفِيْعِنَ رَسُوْلِ اللهِ ,مُحَمَّدِ بِنْ عَبْدِاللهِ , وَاَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَاَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ , اَنَّ اللهَ يُعْلىِ دَرَجَاتِهِمْ فِى اْلْجَنَّةِ وَ يَنْفَعُنَا بِاَسْرَارِ هِمْ وَاَنْوَارِهِمْ وَعُلُوْمِهِمْ فِى الدِّ يْنِ وَالدُّنْيَا وَاْلآ خِرَةِ وَيَجْعَلُنَا مِنْ حِزْ بِهِمْ وَيَرْزُ قُنَا مَحَبَّتَهُمْ وَيَتَوَفَّانَا عَلَى مِلَّتِهِمْ وَيَحْشُرُنَافِى زُمْرَ تِهِمْ . فِى خَيْرٍ وَ لُطْفٍ وَعَافِيَةٍ , بِسِرِ الْفَا تِحَةْ اَلْفَاتِحَةُ اِلَى رُوْحِ سَيِّدِنَا الْمُهَا جِرْ اِلَى اللهِاَحْمَدْ بِنْ عِيْسَى وَاِلَى رُوْحِ سَيِّدِنَااْلاُ سْتَاذِ اْلاَعْظَمِ اَلْفَقِيْهِ الْمُقَدَّمِ , مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيّ بَاعَلَوِيْ وَاُصُوْلِهِمْ وَفُرُوْعِهِمْ , وَذَوِىْ الْحُقُوْقِ عَلَيْهِمْ اَجْمَعِيْنَ اَنَّ اللهَ يَغْفُرُ لَهُمْ وَيَرْ حَمُهُمْ وَيُعْلِيْ دَرَجَاتِهِمْ فِى الْجَنَّةِ , وَيَنْفَعُنَا بِاَسْرَارِهِمْوَاَنْوَارِهِمْ وَعُلُوْ مِهِمْ فِى الدِّ يْنِ وَالدُّنْيَاوَاْلاَخِرَةِ . اَلْفَا تِحَةُ اَلْفَاتِحَةُ اِلَى رُوْحِ سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا وَبَرَكَاتِنَا صَاحِبِ الرَّاتِبِ قُطْبِ اْلاَنْفَاسِ اَلْحَبِيْبِ عُمَرْ بِنْ عَبْدِالرَّحْمَنِ الْعَطَّاسْ , ثُمَّ اِلَى رُوْحِ الشَّيْخِ عَلِيِّ بْنِ عَبْدِ اللهِ بَارَاسْ , ثُمَّ اِلَى رُوْحِ اَلْحَبِيْب عَبْدُالرَّحْمَنِ بِنْ عَقِيْل اَلْعَطَّاسْ , ثُمَّ اِلَى رُوْحِ اَلْحَبِيْب حُسَيْن بِنْ عُمَرْ اَلْعَطَّاسْ وَاِخْوَانِهِ ثُمَّ اِلَى رُوْحِ عَقِيْل وَعَبْدِ اللهِ وَصَا لِحْ بِنْ عَبْدُالرَّحْمَنِ اَلْعَطَّاسْ ثُمَّ اِلَى رُوْحِ اَلْحَبِيْب عَلِيِّ بْنِ حَسَنْ اَلْعَطَّاسْ ثُمَّ اِلَى رُوْحِ اَلْحَبِيْب اَحْمَدْ بِنْ حَسَنْ اَلْعَطَّاسْ وَاُصُوْلِهِمْ وَفُرُوْعِهِمْ وَذَوِى الْحُقُوْقِ عَلَيْهِمْ اَجْمَعِيْنَ اَنَّاللهَ يَغْفِرُ لَهُمْ وَيَرْ حَمُهُمْ وَيُعْلِى دَرَجَا تِهِمْ فِى الْجَنَّةِ وَيَنْفَعُنَا بِاَسْرَارِهِمْوَاَنْوَارِهِمْ وَعُلُوْ مِهِمْ وَنَفَحَا تِهِمْ فِى الدِّ يِنِ وَالدُّنْيَاوَاْلآخِرَةِ )اَلْفَا تِحَةْ( اَلْفَاتِحَةُ اِلَى اَرْوَحِ اْلاَوْالِيَاءِ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّا لِحِيْنَ . وَاْلاَ ئِمَّةِ الرَّاشِدِ يْنَ وَاِلَى اَرْوَاحِ وَالِدِيْنَا وَمَشَا يِخِنَا وَذَوِىالْحُقُوْقِ عَلَيْنَا وَعَلَيْهِمْ اَجْمَعِيْنَ , ثُمَّ اِلَى اَرْوَاحِ اَمْوَاتِ اَهْلِ هَذِهِ الْبَلْدَةِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَنَّ اللهَ يَغْفِرُلَهُمْ وَيَرْحَمُهُمْ وَيُعْلِى دَرَجَاتِهِمْ فِى الْجَنَّةِ وَيُعِيْدُ عَلَيْنَا مِنْ اَسْرَ ارِهِمْ وَانْوَ ارِهِمْ وَعُلُوْ مِهِمْ وَبَرَكَاتِهِمْ فِى الدِّ يْنِ وَالدُّ نْيَا وَاْلآ خِرَةِ . اَلْفَاتِحَةْ. اَلْفَاتِحَةُ بِالْقَبُوْلِ وَتَمَامِ كُلِّ سُوْلٍ وَمَأْمُوْلٍ وَصَلاَحِ الشَّأْنِ ظَا هِرًا وَبَا طِنًافِى الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ دَافِعَةً لِكُلِّشَرٍّجَالِبَةً لِكُلِّ خَيْرٍ , لَنَا وَلِوَ الِدِيْنَا وَاَوْلاَدِنَاوَاَحْبَا بِنَا وَمَشَا ئِخِنَا فِى الدِّ يْنِ مَعَ اللُّطْفِ وَالْعَا فِيَةِ وَعَلَى نِيَّةِ اَنَّ اللهَ يُنَوِّرُ قُلُوْ بَنَا وَقَوَ الِبَنَا مَعَ الْهُدَى وَالتَّقَى وَالْعَفَافِ وَالْغِنَى . وَالْمَوْتِ عَلَى دِيْنِ اْلاِسَلاَمِ وَاْلاِ يْمَانِ بِلاَ مِحْنَةٍوَلاَ اِمْتِحَانٍ , بِحَقِّ سَيِّدِ نَاوَلَدِ عَدْ نَانِ , وَعَلَى كُلِّ نِيَّةٍ صَالِحَةٍ .وَاِلَى حَضْرَةِ النَِّبيِّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ (اَلْفَاتِحَةْ(
Doa
بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمَنِ الرَّ حِيْمِ. اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَا لَمِيْنَ حَمْدًا يُوَافِى نِعَمَهُ وَيُكَافِىءُ مَزِيْدَهُ, يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِىْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَا نِكْ, سُبْحَا نَكَ لاَ نُحْصِيْ ثَنَا ءً عَلَيْكَ اَنْتَ كَمَا اَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ, فَلَكَ الْحَمْدُ حَتىَّ تَرْضَى, وَلَكَ الْحَمْدُ اِذَارَضِيْتَ, وَلَكَ الْحَمْدُ بَعْدَ الرِّضَى. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِى اْلاَوَّلِيْنَ وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنّا مُحَمَّدٍ فِى اْلآ خِرِيْنَ وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِى كُلِّ وَقْتٍ وَحِيْنٍ, وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِى الْمَلَإِ اْلاَ عْلَى اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ, وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ حَتىَّ تَرِثَ اْلاَرْضَ وَمَنْ عَلَيْهَا وَاَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِيْنَ. اَللَّهُمَّ اِنَّا نَسْتَحْفِظُكَ وَنَسْتَوْ دِعُكَ اَدْيَا نَنَا وَاَنْفُسَنَا وَاَمْوَ الَنَا وَاَهْلَنَا وَكُلَّ ثَيْءٍ اَعْطَيْتَنَا. اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا وَاِيَّا هُمْ فِى كَنَفِكَ وَاَمَانِكَ وَعِيَاذِكَ, مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ مَرِيْدٍ وَجَبَّارٍ عَنِيْدٍ وَذِىْ عَيْنٍ وَذِيْ بَغْيٍ وَذِيْ حَسَدٍ وَمِنْ شَرِّ كَلِّ ذِيْ شَرٍّ, اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شّيْىءٍ قَدِيْرُ. اَللَّهُمَّ جَمِّلْنَا بِالْعَا فِيَةِ وَالسَّلاَ مَةِ, وَحَقِقْنَا بِااتَقْوَى وَاْلاِسْتِقَامَةِ وَاِعِذْنَا مِنْ مُوْ جِبَا تِ النَّدَا مَةِفِى اْلحَالِ وَاْلمَالِ, اِنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَاءِ. وَصَلِّ اللَّهُمَّ بِجَلاَلِكَ وَجَمَالِكَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ, وَارْزُقْنَا كَمَالَ اْلمُتَا بَعَةِ لَهُ ظَا هِرًا وَبَا طِنًا يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ, بِفَضْلِ سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ اْلعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ. وَسَلاَمُ عَلَى اْلمُرْسَلِيْنَ وَلْحَمْدُلِلَّهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ




Azan dalam keadaan duduk

Deskripsi masalah :

Kebanyakan tempat dilihat pengumandangan azan dilakukan muazzin dalam keadaan berdiri, dan sangat jarang dilantunkan muazzin dalam keadaan duduk atau lainnya.

Pertanyaan :

Apakah hukumnya azan sambil duduk ?

Jawaban :

Dituntut sunnahkan dalam mengumandangkan azan dalam keadaan berdiri berdasarkan Hadist Rasulullah SAW :

يا بلال قم فناد بالصلاة
“Ya Bilal,,Berdirilah maka panggillah untuk shalat”

Maka jika seseorang muazzin melantunkan azan tanpa berdiri beserta ia kuasa untuk berdiri hukumnya makruh.

- Asnal Mathalib Juz 1 Hal 127 Maktabah Syamelah
 يستحب (القيام) في الأذان والإقامة لخبر الصحيحين «يا بلال قم فناد بالصلاة» ولأنه أبلغ في الإعلام (والاستقبال) فيهما للقبلة لأنها أشرف الجهات ولأنه المنقول سلفا وخلفا (فلو تركهما) مع القدرة (كره) لمخالفته السلف والخلف (وأجزأه) لأن ذلك لا يخل بالأذان والإقامة (والاضطجاع) فيما ذكر (أشد كراهة) من القعود فيه



Biografi Imam Jalal al-Mahalli, pengarang Kitab al-Mahali syarh Minhaj

Bagi para pelajar mazhab Syafii, nama al-Mahalli sudah tidak asing lagi. Hal ini karena, salah satu karya beliau, Syarah al-Mahalli ‘ala Minhaj ath-Thalibin Imam Nawawi menjadi salah satu kitab  syarah Minhaj Imam Nawawi yang paling populer. Di Aceh, kepandaian seorang santri biasanya diukur dengan kemampuannya membaca dan menerangkan isi kandungan kitab yang nama aslinya adalah Kanz Raghibin ‘ala Minhaj ath-Thalibin ini.
Lalu bagaimana sebenarnya profil beliau? Nama lengkap beliau adalah Imam Jalaluddin Abu Abdullah Muhammad bin Syihabuddin Ahmad bin Kamaluddin Muhammad bin Ibrahim bin Ahmad bin Hasyim al-Abbas al-Anshari al-Mahalli. al-Mahalli ini adalah dinisbahkan kepada Mahallah Kubra. Kota al-Mahalla Kubra saat ini adalah kota industri dan pertanian besar di Mesir, yang terletak di tengah Delta Nil di tepi barat dari anak sungai Damietta. Kota ini dikenal dengan industri tekstilnya. Ini adalah kota terbesar di Provinsi Gharbia dan yang terbesar kedua di Delta Nil.
Beliau di lahirkan dibulan syawal tahun 791 H/1389 M di kota Cairo.

Guru-guru beliau;

Imam al-Mahalli belajar dari para ulama-ulama di masa beliau, diantara guru-guru beliau adalah;

  1. Imam Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abdul Daim an-Nu’aimi al-Asqalani al-Birmawi asy-Syafii (763-831 H). Dar beliau, Imam Mahalli belajar ilmu Fiqh, Ushul Fiqh dan ilmu Arabiyah. Imam Birmawi ini juga tinggal di Madrasah Baibarisiyah bersama Imam al-Mahalli, hal ini membuat Imam Mahalli punya kesempatan banyak untuk mengambil ifadah dari Imam Birmawi.
  2. Imam al-Faqih Burhanuddin Abu Ishaq Ibrahim bin Ahmad al-Bajuri yang lebih dikenal dengan Burhan al-Bajuri (750-825 H), dari beliau, Imam al-Mahalli mengambil ilmu Fiqh.
  3. Imam al-Muhaddis Jalal al-Mahalli Abu Fadhal Abdurrahman bin Umar bin Ruslam al-Kinani al-Asqalani al-Bulqini al-Mishri yang dikenal dengan Jalal al-Bulqini (763-824 H). Dari beliau, Imam Mahalli belajar ilmu hadits.
  4. Imam al-Muhaddits Waliyuddin Abu Zar’ah Ahmad bin Abdurrahim al-Iraqi (762-826 H). Dar beliau, Imam Mahalli belajar ilmu ulumul hadits.
  5. Imam al-Muhaddits Qadhi Qudha Izzuddin Abdul Aziz bin Muhammad bin Ibrahim bin Jamaah al-Kinani (694-767 H). Dari beliau, Imam Mahalli belajar ilmu ushul fiqh dan hadits.
  6. Syeikh Syihabuddin al-‘Ujaimi, cucu dari Ibnu Hisyam. Dari beliau, Imam al-Mahalli belajar ilmu Nahu.
  7. Syeikh Syamsuddin Muhammad bin Syihabuddin Ahmad bin Shaleh bin Muhammad bin Abdullah Syathanufi (wafat 873 H), dari beliau, Imam Mahalli belajar ilmu Nahu dan ilmu Arabiyah lainnya.
  8. Imam Nashiruddin Abu Abdullah Muhammad bin Anas bin Abi Bakar bin Yusuf ath-Thantadai al-Hanafi (wafat 809 H) dari beliau, Imam Mahalli belajar ilmu faraidh dan ilmu hisab.
  9. Imam Badaruddin Mahmud bin Muhammad bin Ibrahim bin Ahmad al-Aqsharai (wafat 825 H), dari beliau, Imam Mahalli belajar ilmu mantiq, jadal, bayan, ma’ani, arudh dan ushul fiqh.
  10. Imam Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Usman ath-Thai al-Bisathi al-Maliki (760-842 H), dar beliau, Imam Mahalli belajar ilmu tafsir, ushuluddin dan beberapa ilmu lainnya.
  11. Imam Alaiddin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Bukhari al-Hanafi (779-841 H).
  12. Syeikh Nidhamuddin Yahya bin Yusuf bin Muhammad Isa ash-Shairami al-Hanafi (777-833 H) dari beliau, Imam Mahalli beljar ilmu fiqh dan beberapa ilmu aqliyah.
  13. 13. Syeikh Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakar bin Khidir bin Musa ad-Dairi (788-862 H)
  14. Syeikh Majduddin al-Birmawi asy-Syafii
  15. Syeikh Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Khalil al-Ghuraqi asy-Syafii (816 H), dengan beliau Imam Mahalli belajar ilmu fiqh
  16. Syeikh Syihabuddin Ahmad bin Abi Ahmad Muhammad bin Abdillah al-Maghrawi al-Maliki (820 H)
  17. Syeikh Kamaluddin Abu Baqa Muhammad bin Musa bin Isa bin Ali bin Damiri (742-808 H)
  18. Syeikh Syihabuddin Abu Abbas Ahmad bin Imad bin Yusuf al-Aqfahasi al-Qahiri yang lebih dikenal dengan Ibnu Imad (750-808 H)
  19. Syeikh Badaruddin Muhammad bin Ali bin Umar bin Ali bin Ahmad ath-Thanbadi
  20. Syeikhul Islam Syihabuddin Asqalani (773-852 H), Imam Jalal Mahalli membaca sekalian Syarah alfiyah al-Iraqi kepada beliau dan mendapat izin untuk mengajarnya, dan dari beliaulah Imam Jalal Mahalli mendapatkan ilmu yang banyak dalam bidang hadits dan ulumul hadits.
  21. Syeikh Jamaluddin Abdullah bin Fadhlullah, dari beliau Imam Jalal Mahalli belajar ilmu hadits
  22. Syeikh al-Muhaddis Syarafuddin Abu Thahir Muhammad bin Muhammad bin Abdul Lathif asy-Syafii (737-821 H)
  23. Imam Syamsuddin Abi Khair Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Yusuf bin Jazri asy-Syafii (751-833 H) , seorang ulama yang terkenal dalam ilmu qiraah di zamannya.
  24. Syeikh Nashiruddin Muhammad bin Muhammad bin Mahmud al-Ajmi (wafat 855 H), Imam Jalal Mahalli membaca al-quran kepada beliau saat Imam Mahalli masih kecil.
  25. dll



Imam Jalal Mahalli dikenal sebagai imam yang alim dan tahqiq, ahli dalam bidang nadhar dan sangat cerdas, shahih zihinnya, sehingga para ulama yang semasa dengan beliau memberikan tamsilan terhadap akal beliau “ ان ذهنه يثقب الماس zihin (akal/kecerdasan) beliau mampu melubangi intan”. Beliaupun pernah berkata “pemahamanku tidak menerima tersalah”. Imam Sakhawi menghikayahkan bahwa Imam Kamaliyah bercerita bahwa beliau pernah melihat Imam al-Wana`i ketika berhadapan dengan Imam al-Mahalli bagaikan seorang anak-anak dengan mu’allimnya. Imam al-Mahalli juga dikenal sebagai seorang yang dihormati baik dikalangan khusus maupun dikalangan umum, dan penuh wibawa.
Beliau dikenal sebagai ulama yang hidup dengan shaleh dan wara` serta selalu menjalankan amar ma’ruf nahi munkar, ketika para pembesar kerajaan datang kepada beliau, beliau tidak berpaling kepada mereka dan bahkan tidak memberikan izin untuk masuk bagi mereka. Beliau selalu bersikap tegas pada kebenaran dan selalu mewasiatkan kebenaran kepada para pembesar pemerintah, qadhi dan lainnya dalam berbagai majlis, sedangkan mereka tunduk kepada Imam Mahalli. Pernah beliau ditawari jabatan hakim agung, namun beliau menolaknya dan mengatakan kepada raja bahwa beliau tidak mampu, bahkan kepada murid-muridnya beliau mengatakan tidak menerima jabatan tersebut karena beliau tidak sanggup menahan pedihnya api neraka. Pada beliau juga sering dhahir banyak karamah.
Beliau menjadi pengajar fiqh di Madrasah al-Burquqiyah setelah Imam Syihab al-Kaurani, juga mengajar di Madrasah al-Muaiyidah setelah wafatnya Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, sehingga nama beliau menjadi masyhur dan dikunjungi oleh umat dari jauh dengan tujuan meminta fatwa dan untuk tabarukan. Beliau juga dipercayakan menjaga beberapa wasiat dan wakaf dan beliaupun mengelolanya dengan baik.
Beliau hidup dalam keadaan serba kekurangan dalam hal pakaian dan kendaraan. beliau hidup dengan usaha tijarah kain, kemudian beliau menempatkan orang lain untuk duduk di toko beliau, sedangkan beliau hanya mengunjunginya sesekali saja, dan beliau fokus kepada mengajar dan menulis.
Beliau sempat menunaikan haji beberapa kali. Imam ‘Imad menyebutkan beliau sebagai “Imam Taftazaninya orang Arab”.

Kitab-kitab karya Imam Mahalli.

Imam al-Mahalli banyak menuliskan berbagai kitab dalam berbagai macam ilmu. Kitab-kitab beliau mendapat sambutan yang luar biasa dari para penuntut ilmu di masa beliau hingga sekarang, bahkan para masyayikh yang berada pada thabaqah guru-guru beliau juga ikut membacakan kitab karangan beliau. Kitab-kitab beliau dikenal karena tahqiq dan penguraian yang bagus. Imam Sakhawi menyebutkan bahwa tidak terhitung jumlah pelajar yang datang membacakan kitab dihadapan beliau, para pembesar ulama pun juga datang kepada beliau untuk mengambil ilmu dari beliau, sehingga dari beliau lahirlah para ulama yang banyak yang menjadi para pengajar pada masa beliau masih hidup. Walaupun demikian, beliau dikenal sebagai orang yang tidak segan-segan untuk merujuk kembali pendapat beliau bila menemukan kebenaran pada orang lain setelah hati-hati yang kuat.


Beberapa kitab karangan beliau adalah;

  • Kanz Raghibin Syarh Minhaj Thalibin, sebuah kitab fiqh syarah atas kitab Minhaj Imam Nawawi dan merupakan salah satu syarah minhaj yang banyak menjelaskan tentang khilafiyah dalam mazhab Syafii. Kitab ini di beri hasyiah oleh beberapa ulama, antara lain;

  1. Imam Syihabuddin Ahmad bin Ahmad bin Salamah al-Qalyubi (wafat 1069 H)
  2. Imam Syihabuddin Ahmad al-Burullusi Amirah (wafat 957 H), kedua hasyiah ini dicetak dalam satu cetaan dan biasa dikenal dengan Hasyiatani.
Kitab Kanz Raghibin dengan kedua hasyiahnya ini menjadi salah satu kitab rujukan yang dipelajari diberbagai lembaga pendidikan. Di Aceh, Kitab Kanz Raghibin dipelajari oleh santri Aliyah setelah tamat Fathul Muin, dan menjadi tolak ukur kemampuan seorang tengku dalam memahami kitab kuning.

  • al-Badr al-Thaliq fi Hall Jam’ al-Jawami’, kitab ushul fiqh syarah atas Jam’ul Jawamik karangan Ibn Subki. Selesai beliau karangan pada tahun 824 H, kitab ini medapat sambutan luar biasa dari para ulama, dan menjadi kitab syarah utama bagi kitab Jam’ul Jawamik. Kitab ini diberi hasyiah oleh beberapa ulama, antara lain;


  1. Hasyiah Syaikhul Islam Kamaluddin bin Abi Syarif (wafat 905 H) dengan nama ad-Durar al-Lawami’ , pernah dicetak di Fas, Maghribi tahun 1312 H, saat ini juga diterbitan olah penerbit di Saudi Arabiya dalam 5 jilid.
  2. Hasyiah Syeikh Zakaria al-Anshari (wafat 926 H), saat ini dicetak oleh penerbit DKI dan Maktabah ar-Rusyd, Saudi dalam 4 jilid.
  3. Hasyiah Syeikh Abdurrahman al-Banani (wafat 1198 H) 2 jilid
  4. Hasyiah Syeikh Hasan al-Athari (w. 1250 H), Hasyiah ini kemudian diberikan taqrirat oleh Syeikh al-Azhar, Syeikh Abdurrahman Syarbini. (2 jilid)
  5. Hasyiah al-Laqqani
  6. Hasyiah Syihabuddin al-Burullusi al-Amirah
  7. Ayatul Baiyinat karangan Imam Ibnu Qasil al-Abbadi (4 jilid)

  • Syarah Waraqat karangan Imam Haramain. Merupakan kitab ushul fiqih yang umumnya di pelajari sebagai materi dasar dalam bidang ushul fiqh. Kitab ini diberi hasyiah oleh beberapa ulama, antara lain;
  1. Hasyiah Nafahat ‘ala Syarh Waraqat karangan ulama Nusantara, Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, dan merupakan salah satu hasyiah terbaik atas kitab waraqat.
  2. Syeikh Ibnu Qasim al-Abbadi dengan dua hasyiah beliau, Syarah Kabir dan Syarah Shaghir.
  3. Syeikh Ahmad Dimyathi
  4. Syeikh Muhammad Shafti
  5. Syeikh Muhammad Shimbati
  6. Syeikh Syihabuddin Qalyubi

  • Tafsir Jalalain, kitab tafsir karangan beliau, mulai dari awal surat al-Kahfi hingga akhir al-quran, dan beliau meninggal sebelum menyempurnakannya, maka kemudian dilanjutkan hingga sempurna oleh Imam Suyuthi. Oleh karena itu kitab ii dikenal dengan nama Tafsir Jalalain (tafsir dua Imam Jalal, Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi). Kitab Tafsir Jalalain juga diberi hasyiah oleh beberapa ulama, antara lain;

  1. Hasyiah Shawi karangan Syeikh Ahmad Shawi, 4 jilid. Hasyiah Shawi ini merupakan hasyiah atas tafsir Jalalain yang paling populer.
  2. Hasyiah Futuhat Ilahiyah karangan Syeikh Abu Daud Sulaiman bin Umar al-Ujaili (w. 1204 H), 4 jilid.
  3. Qabs an-Nirain 'ala Tafsir Jalalain, karangan murid Imam Suyuthi sendiri, Syeikh Muhammad bin Abdurrahman al-Alqami asy-Syafii (wafat 961 H).
  4. Kaukab an-Niraian fi Alfadh Jalalain karangan Imam Athiyah al-Ajhuri (wafat 1190 H)
  5. Masratul Ainaini fi Hasyiah Jalalain, karangan Abu Hasan Saiyid Muhammad bin Khalil al-Masyisyi ath-Tharabilisi al-Hanafi al-Qawaqji (wafat 1305)
  6. Hasyiah al-Hifnawi ‘ala Jalalain karangan Imam Muhammad bin Abi Su’ud al-Mishri (wafat 1268 H)
  7. Dll

  • al-Anwar al-Mudhiyah
  • al-Qaul Mufid fi Nail as-Said
  • ath-Thibb an-Nabawi
  • Kitab fil Manasik
  • Kitab fl Jihad
  • Syarah Qawaid Ibn Hisyam
  • Syarah Tashil Ibn Malik
  • Hasyiah ala Syarh Jamik al-Mukhtashar
  • Hasyiah 'ala Jawahir Imam Asnawi
  • Syarah Syamsiah
  • dll, kitab dari no. 5 – 15, belum sempurna.


Murid-murid Imam Mahalli

Banyak para ulama yang lahir dari beliau;

  1. Syeikhul Islam Zakaria al-Anshari
  2. Imam Nuruddin Abu Hasan Ali as-Samhudi (wafat 911 H)
  3. Syeikh Burhanuddin Ibrahim bin Muhammad yang lebih dikenal dengan Ibnu Syarif (923 H)
  4. Syeikh Syihabuddin Abu Fath Ahmad bin Muhammad al-Absyihi
  5. Syeikh Khairuddin Abu Khair Muhammad bin MUhammad ar-Rumi al-Hanafi yang lebih dikenal dengan Ibnu Fara' (wafat 897 H)
  6. Syeikh Kamaluddin Abu Fadhal ath-Tharabulusi (wafat 877 H)
  7. Syeikh Shalahuddin Muhammad bin Jalaluddin Ibn Kamal ad-Dimyathi (wafat 877 H)
  8. Syeikh Syamsuddin Abu Barakat Muhammad bin Muhammad al-Asyhab (wafat 858 H)
  9. Syeikh Najmuddin Muhammad bin Syarafuddin Ibn Arab (wafat 831 H)
  10. Syeikh Syihabuddin Ahmad bin MUhammad al-Bairuti
  11. Syeikh IMaduddin Abu Fida' Ismail bin Ibrahim (wafat 861 H)
  12. Syeikh Syarafuddin Abdul Haq bin Syamsuddin as-Sinbathi (wafat 842 H)

Wafat

Imam Jalal Mahalli wafat pada subuh hari sabtu tahun 864 H bertepatan dengan tahun 1459 M di bulan Ramadhan dan shalati oleh jamaah shalat jenazah yang banyak.
Semoga Allah meridhai beliau dan memberikan taufiq dan hidayah kepada kita untuk mampu mengikuti jejak beliau serta Allah limpahkan barakah beliau ketika kita semua, Aminn.

donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja