Tiga Marhalah Menurut Pandangan Mazhab Syafi'i dan Mazhab Hanafi



Dalam Mazhab kita Syafi'i, salah satu dispensasi yang diberikan kepada orang musafir yang melakukan perjalanan mencapai dua marhalah yang lengkap dengan syarat-syarat tertentu adalah dibolehkan melaksanakan shalat dua rakaat saja yang pada dasarnya mesti dikerjakan secara sempurna empat rakaat(qasar).


Bahkan jika seorang musafir yang menempuh perjalanan tiga marhalah atau lebih, ibadah shalatnya akan lebih utama jika dikerjakan dua rakaat saja dibandingan empat rakaat seperti pada dasarnya karena alasan keluar dari khilaf Iman Abu Hanifah yang mewajibkan qasar jika menempuh perjalanan tiga marhalah. Hal ini sesuai dengan qaedah yang sudah membumi di kalangan para pelajar fiqh yaitu; 

‎الخروج من الخلاف مستحب

(Keluar dari khilaf hukumnya sunat). 

Sebagai redaksi lain yang menyebutkan secara tegas bahwa qasar lebih baik dibandingkan shalat secara sempurna ada dalam kitab Minhaj At-Thalibin karya Imam Nawawi pada bab shalat musafir.


Namun perlu dipahami bahwa dalam mengaplikasikan qaedah diatas sebagai alasan keluar dari khilaf hingga ibadah shalat secara qasar lebih utama, kita mesti memahami secara utuh bagaimana kedua mazhab (syafi' & Abu Hanifah) dalam menginterpretasikan diksi marhalah.


Rasulullah pernah melakukan jamak dan qasar  shalat saat menempuh perjalanan selama dua hari dengan jarak tempuh mencapai 90 KM (menurut satu pendapat). Saat itu Nabi menggunakan untanya yang membawa beban berat dengan menanggung barang-barang diatasnya. Hingga dengan durasi dua hari jarak tempuhnya hanya mencapai 4 barid ( sekitar 90 KM ) 


Oleh Imam Syafi'i tidak melihat perjalanan Nabi sebagai alasan membolehkan qasar dari sisi jumlah harinya tetapi yang menjadi sorotannya adalah jarak tempuh yang dihasilkan dalam waktu dua hari plus dengan kondisi untanya saat itu. Hingga dalam mazhab kita Syafi'i hukum kebolehan qasar tergantung pada jarak tempuhnya bukan pada lamanya perjalanan. Maka dua marhalah dalam mazhab syafii dengan perkiraan kondisi  tersebut adalah sekitar 90 KM dan tiga marhalah 145 KM hingga seterusnya.


Sedangkan dalam mazhab Abu Hanifah diksi "marhalah" diinterprestasikan sebagai durasi waktu bukan jarak tempuh. Artinya satu marhalah menurut mazhab hanafi maksudnya satu hari perjalanan. Tiga marhalah artinya tiga hari perjalanan menurut Abu Hanifah. 


Dalam masalah yang sama Abu Hanifah berpendapat hukum qasar bagi seorang musafir yang menempuh perjalanan tiga marhalah adalah wajib. Dan beliau tidak memperbolehkan qasar shalat bagi seorang musafir yang hanya menempuh perjalanan di bawah dua marhalah.  Perlu diketahui bahwa pendapat inilah yang disebut sebagai khilaf yang dipertimbangan dalam keutamaan mengqasarkan shalat jika menempuh perjalanan tiga marhalah. 


Kata Imam Namawi :


‎(والقَصْرُ أفْضَلُ مِنَ الإتْمامِ عَلى المَشْهُورِ إذا بَلَغَ ثَلاَثَ مَراحِلَ)، للخروج من خلاف من يوجب القصر


"Qasar lebih utama dibandingkan shalat secara sempurna berdasarkan pendapat kuat apabila perjalanan mencapai tiga marhalah, karena keluar dari khilaf ulama yang mewajibkannya"


Tiga marhalah yang dimaksudkan bukanlah sinonim dengan kata tiga marhalah dalam Mazhab Syafi'i  (145 KM). Tetapi istilah tiga marhalah yang dijadikan sebagai alasan keutamaan ibadah shalat qasar adalah perjalanan tiga hari dengan mengadopsikan istilah dalam Mazhab Abu Hanifah. 


Maka konteks keutamaan shalat secara qasar letaknya pada kasus musafir yang menempuh perjalanan durasi waktu tiga hari bukan bagi  musafir yang jarak tempuhnya melebihi 145 KM dengan memandang diksi tiga marhalah adalah sinonim dengan marhalah dalam istilah Mazhab Imam Syafi’i. 


Bahkan jika perjalanan ditempuh kurang dari tiga hari, lebih utama melaksanakan ibadah shalat empat rakaat (itmam) meskipun perjalananya melebihi 145 KM. Karena alasan yang sama yaitu keluar dari khilaf Iman Abu Hanifah yang tidak memperbolehkan qasar bagi musafir dibawah tiga marhalah (tiga hari).

Post a Comment

0 Comments