Shalat Jamak Qasar Bagi Sopir

Pertanyaan:

Bolehkah melakukan shalat jamak qasar bagi seseorang yang selalu dalam keadaan musafir seperti orang yang berprofesi sebagai sopir kendaraan umum?

Jawaban:

Orang yang selalu musafir disunnahkan untuk menyempurnakan shalatnya tanpa melakukan jama' qasar. Hal ini dilakukan untuk keluar dari khilaf Imam Ahmad Radhiallahu 'anhu yang mewajibkan untuk menyempurnakan shalatnya. Adapun tentang kewajiban melakukan puasa, bila berpotensi menimbul kemudharatan maka diperbolehkan untuk berbuka.

Referensi:

Al-Iqna' Fi Alfadhil Abi Syuja’ Jilid 1 Halaman 178 Cetakan Makatabah Darul Khair

تَنْبِيه( الصَّوْم لمسافر سفر قصر أفضل من الْفطر إِن لم يضرّهُ لما فِيهِ من بَرَاءَة الذِّمَّة وَالْقصر لَهُ أفضل من الْإِتْمَام إِن بلغ سَفَره ثَلَاث مراحل وَلم يخْتَلف فِي جَوَاز قصره فَإِن لم يبلغهَا فالإتمام أفضل خُرُوجًا من خلاف أبي
حنيفَة أما لَو اخْتلف فِيهِ كملاح يُسَافر فِي الْبَحْر وَمَعَهُ عِيَاله فِي سفينته وَمن يديم السّفر مُطلقًا فالإتمام لَهُ أفضل لِلْخُرُوجِ من خلاف من أوجبه كَالْإِمَامِ أَحْمد

Artinya: Berpuasa bagi musafir yang pendek (tidak melewati jarak 2 marhalah) lebih afdhal daripada berbuka jika tidak menimbul kemudharatan baginya. Dan meng-qasar shalat lebih baik daripada menyempurnakan, jika telah sampai batasan 3 marhalah, Dan tiada khilaf pendapat padanya. Maka jika tidak sampai tiga marhalah maka lebih diutamakan itmam (menyempurnakan) karena keluar dari khilaf Abu Hanifah. Adapaun pada pembahasan yang menjadi kontra versi ulama seperti pelayar yang mushafir dalam laut bersama keluarganya dalam kapal itu dan orang yang selalu musafir mutlaq seperti sa’i maka untuk menyempurnakan lebih baik ketimbang meng-qasar, karena keluar dari khilaf yang berpendapat wajib itmam seperti Imam Ahmad Radhiallahu a’nhu.

Wallahu a’lam

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Assalamualaikum tgk, ingin bertanya, Kasusnya :
    Perjalan Keluar dari wathan (kampung halaman) malam senin utk safar untuk belerja (153 km),perjalanan kembali jumat sore ke kampung halaman,
    Selama ditempat tujuan safar (tempat kerja) apa boleh menjamak shalat, krn menetap tidak lebih dari 4 hari.
    Dan perjalanan safar rutin dilakukan terus menerus berulang2 setiap senin dan pulang lagi jumat sore. Trima kasih tgk atas jawabannya

    BalasHapus