Warisan Berharga Ibnu Mas’ud untuk Anaknya


Abdullah bin Mas’ud atau yang kerap disapa dengan sebutan Ibnu Mas’ud adalah sosok sahabat rasulullah saw, yang taat beribadah, qana’ah dan tawaqqal kepada Allah SWT. Bukan sekedar sahabat beliau juga banyak meriwayatkan hadis dari Rasulullah saw, diantaranya;

من قرأ سورة الواقعة كل ليلة لم تصبه فاقة ابدا

( Barang siapa yang membaca surah Al-Waqi’ah tiap malam, maka ia tidak akan ditimpa kefakiran )

Ibnu Mas’ud adalah sahabat yang mengamalkan apa yang telah ia rāwi dan teguh terhadap pendirian. Sebagai bukti, mari kita tela’ah sebuah kisah yang menceritakan konsistennya terhadap suatu pendirian sehingga sangat banyak harta yang ia miliki, namun satu dirham pun tidak ia wariskan.

Abu Umar bin Abdil Bar dalam kitab tamhid dan ta’liq menukil sebuah kisah.

Suatu ketika sahabat Utsman bin Affan menjenguk Ibnu Mas’ud yang sedang sakaratul maut, dan bertanya :

Apa yang membuatmu menangis ?

Ibnu Mas’ud menjawab : dosaku.

Sahabat Utsman melanjutkan, apa yang engkau rindui?

Ibnu Mas’ud menjawab : rahmat tuhanku.

Sahabat Utsman kembali bertanya, apakah engkau membutuhkan dokter ?

Ibnu Mas’ud menjawab : tidak, dokter membuatku sakit.

Utsman bertanya lagi, apakah kami berikan semua hakmu?

Ibnu Mas’ud menjawab ; tidak perlu, semasa hidup, aku tidak menghiraukan hakku jadi kenapa saat hendak mati, engkau berikan hak itu untukku.

Utsman melanjutkan, apakah engkau tidak meninggalkan hak untuk anakmu.

“Jangan takut terhadap kefakiran yang menimpa anakku wahai utsman, karena aku memerintahkan mereka untuk membaca surah Al-Waqi’ah tiap malam sesuai yang aku dengar dari Rasulullah SAW” jawab Ibnu Mas’ud.

Dari kisah diatas, dapat kita petik beberapa pelajaran yang penting dari Ibnu Mas’ud yakni :

Apakah kita perlu memikirkan bagaimana kehidupan anak ke depan, akankah ia hidup bahagia, apakah ia akan memiliki banyak harta. Pertanyaan seperti ini tidak perlu lagi terlintas di pikiran kita, karena Allah SWT menanggung semua hak yang dibutuhkan oleh hamba.

Surah Al-Waqi’ah adalah sebuah media untuk melancarkan rezeki, dan barang siapa yang mengamalkannya tiap malam insya Allah tidak akan ditimpa kefakiran.

Dan beliau adalah sahabat yang menyetarakan antara ilmu dan amal. Ini adalah teladan yang patut ditiru, apalagi kita yang berposisi sebagai pelajar. Karena di era milenial sangat minim seorang pelajar menyetarakan antara ilmu dan amal.

Oleh karena demikian, mari kita teladani sosok Ibnu Mas’ud dalam menyetarakan ilmu dan amal agar kita tidak melahirkan azab dan dosa sebagaimana disinggung dalam kitab Zubad oleh Ibnu Ruslan:

فعالم بعلمه لم يعملن # معذب من قبل عباد الوثن

"Maka orang alim yang tidak pernah mengamalkan ilmunya akan terazab sebelum diazabnya para manusia penyembah berhala."


Referensi : 

Siraj At-Thalibin hal 326 cet DKI 


Lihat juga :

Tgk. Saifullah Ismail

Keagungan Rasulullah  Dalam Qasidah Banat Su'ad Karya Ka'ab bin Zuhair



Posting Komentar

0 Komentar