Bolehkah bersedekah kepada orang yang kita yakini tidak pernah sholat?


Sedekah ialah satu perbuatan memberi kepada orang lain secara ikhlas tanpa dibatasi waktu dan jumlah tertentu. Disamping ia adalah perbuatan sunnah, sedekah juga merupakan perbuatan taqarrub untuk mendekatkan posisi seorang hamba dengan Tuhan sang maha membalas kebaikan.

Sedekah itu sendiri umumnya terbagi dua, sedekah wajib yang biasanya dikategorikan sebagai zakat dan sedekah sunnah seperti memberikan sesuatu tanpa didasari hajat dan tuntutan.

Nah, bagaimana jika sedekah itu diberikan kepada orang yang selama ini kita yakini tidak pernah sholat, apakah sedekah itu akan sia-sia, atau imbasnya kita pemberi juga tidak akan mendapatkan nilai baik di sisi Tuhan?

Sebelum menerangkan sedekah sunnah lebih dulu kita membahas sedekah wajib (zakat). Di dalam kitab fathul ‘alam jilid 3 halam 492 diterangkan yang bahwa:

 وَلاَ يَصِحُّ دَفْعُ الزَّكَاةِ لِمَنْ بَلَغَ تَارِكًا لِلصَّلاَةِ اَوْ مُبَذِّرًا لِمَالِهِ بَلْ يَقْبِضُهَالَهُ وَلِيُّهُ

Tidak sah memberikan zakat kepada orang yang sudah baligh (mukallaf) yang meninggalkan sholat atau orang yang mubazirkan hartanya akan tetapi walinya yang berhak menerima zakat untuk orang tersebut.

Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan yang bahwasanya orang yang meninggalkan sholat masih dikategorikan sebagai mustahiq zakat, meski zakat tersebut ia terima melalui perpanjangan tangan wali atau tidak bisa diterima langsung olehnya.

Meninggalkan sholat disini adalah meninggalkan sholat dengan masih berkeyakinan sholat itu wajib, sedangkan untuk tipikal orang yang sudah berkeyakinan sholat itu tidak wajib (murtad) maka ia tidak berhak untuk menerima zakat karena sudah tidak termasuk dalam mustahiq zakat.

Adapun di dalam kitab fathul ‘alam jilid 3 halaman 493 diteruskan 

وَيَجُوْزُ دَفْعُهَالِفَاسِقٍ اِلاَّ إِنْ عُلِمَ أَنَّـهُ يُصَرِّفُهَا فِى مَعْصِيِّةٍ فَيَحْرُمُ وَتُجْزِئُ


Boleh memberikan zakat kepada orang yang fasiq (orang muslim yang masih suka melakukan kemaksiatan) kecuali apabila diketahui sesungguhnya ia mempergunakan pemberian zakat tersebut untuk maksiat maka haram.

Nah, adapun sedekah sunnah memberinya adalah hak dari si pemberi, tidak ada ketentuan atau tuntutan kepada siapa ia harus bersedekah, sebagaimana yang sudah kita ketahui orang yang mengerjakan perbuatan sunnah ia adalah raja atas perbuatannya, memberi boleh, tidak memberi juga tidak mengapa, namun biasanya orang yang bersedekah itu akan melihat kemana si penerima ini akan menyalurkan harta itu, maka oleh sebab itu lebih afdhal bersedekah kepada tempat yang kita yakini mempergunakan harta sedekah itu kepada kemaslahatan.

Adapun hikmah diberikan satu aturan kepada sedekah wajib (zakat) seperti tidak boleh langsung memberikan kepada orang yang tidak sholat tetapi harus memberi kepada walinya itu dikarenakan zakat adalah kewajiban bagi pemberi, maka dalam memberi tidak boleh semena-mena, harus seperti aturan yang sudah ditentukan agar zakatnya sah dan kewajibannya terlepas.


Posting Komentar

1 Komentar