Selama ini kita sering mendengar nasihat yang terdengar mutlak “pilih pasangan karena agamanya, bukan karena cantiknya”. Seolah-olah, jika hati lebih dulu tertarik pada penampilan, maka itu adalah tanda kekeliruan sejak awal. Tapi benarkah sesederhana itu? Dalam kenyataannya, banyak orang justru jatuh hati dari apa yang terlihat, lalu perlahan mengenal apa yang lebih dalam. Menariknya, sebagian ulama tidak serta-merta menafikan urutan ini. Ada ruang dalam pandangan mereka yang memandang ketertarikan fisik sebagai pintu awal bukan tujuan akhir. Tulisan ini mencoba mengajak pembaca melihat sisi yang jarang dibicarakan, bahwa memulai dari “cantik” bukan berarti mengabaikan “agama”, selama langkah berikutnya tidak berhenti di permukaan.
Untuk menegaskan pondasi utama dalam memilih pasangan, ada satu hadis yang sangat sering dijadikan rujukan:
Nabi SAW bersabda:
تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
Artinya:“Perempuan itu dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah yang beragama, niscaya engkau beruntung.” (HR. Bukhari-Muslim)
Dari Hadis di atas dapat dipahami bahwa, secara lumrah empat hal yang menjadi landasan seorang perempuan dinikahi. Namun, Rasulullah lebih memprioritaskan agamanya agar lebih terjamin kebahagiaan dan ketentraman di dalam rumah tangga. Ibnu Hajar al Asqalani menjelaskan bahwa seseorang yang beragama dan menjaga kehormatan diri sebaiknya menjadikan agama sebagai pedoman utama dalam menilai segala hal, terutama dalam urusan jangka panjang seperti pernikahan.
Terkait dasar memilih pasangan dari hadis tersebut, banyak ulama menjelaskan dalam berbagai kitab syarah hadis bahwa hal terpenting adalah menjadikan agama sebagai prioritas utama. Menanggapi hal ini, Imam Ahmad bin Hanbal memiliki sudut pandang yang sedikit berbeda, bukan berarti mengabaikan agama, tetapi beliau lebih menekankan adab dalam memilih pasangan, yaitu melihat ketertarikan terlebih dahulu (memastikan kecantikannya), lalu memastikan kualitas agamanya.
Kenapa Imam Ahmad menyuruh melihat cantik terlebih dahulu. Bukan karena fisik lebih penting. Tapi karena ada adab yang sering kita lupakan saat memilih. Lumrahnya saat seseorang mencari pasangan, kita sering punya banyak pertimbangan: paras, status, dan latar belakang. Semua terasa penting. Tapi sering kali yang paling menentukan justru diletakkan paling belakang yaitu ketertarikan.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةًۗ
Artinya:
“Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang.” (Ar-Rum [20] :21)
Terkait sabda Rasulullah “Pilihlah yang beragama, niscaya engkau beruntung." Bukan berarti yang lain tidak boleh dipertimbangkan. Tapi ada yang tidak boleh dikalahkan yakni agama. Karena yang beragama akan tahu hak pasangannya, menjaga dirinya, dan menjaga apa yang dititipkan padanya.
Hal ini berlandaskan firman Allah SWT:
فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ ....
Artinya:
“Wanita shalihah itu taat dan menjaga ketika tidak terlihat.” (An-Nisa’ [4]:34)
Persoalannya bukan karena kita tidak mengetahui. Tetapi sering kali tergoda untuk mendahulukan yang lain. Lalu datang satu nasihat yang sering disalahpahami.
Imam Ahmad berkata:
إذا خطب رجل امرأة سأل عن جمالها أولا، فإن حمد سأل عن دينها، فإن حمد تزوج، وإن لم يحمد يكون ردها لأجل الدين. ولا يسأل أولا عن الدين، فإن حمد سأل عن الجمال، فإن لم يحمد ردها. فيكون رده للجمال لا للدين.
Artinya: “Jika seorang laki-laki hendak melamar perempuan, sebaiknya ia menanyakan tentang kecantikannya terlebih dahulu. Jika dianggap baik (cocok), barulah ia menanyakan tentang agamanya. Jika agamanya juga baik, maka ia menikahinya. Jika tidak, ia menolaknya karena alasan agama. Jangan menanyakan agama lebih dulu. Jika agama ditanyakan lebih dulu lalu baik, kemudian menanyakan kecantikannya dan ternyata tidak sesuai, lalu ia menolak, maka penolakannya itu karena kecantikan, bukan karena agama.”
Ternyata yang dijaga bukan urutan memilih. Tapi adab dalam menilai. Karena yang paling berbahaya bukan salah memilih tapi meremehkan agama tanpa kita sadari.
Reff:
Sahih Bukhari & Muslim, Ibn Hajar al Asqalani, Fath al-Barri, Jld 9, h. 135
Ibnu najar, Syarah Muntaha al-Iradah, Jld 9 h. 14



0 Komentar