Hikmah di Balik Diwajibkan Mandi Setelah Keluar Mani


Dalam Islam, kondisi setelah keluarnya mani disebut dengan junub. Junub adalah suatu keadaan yang menghalangi seseorang dari ibadah tertentu seperti salat, membaca Al-Qur’an, thawaf, i’tikaf dan ibadah-ibadah lain yang disyaratkan untuk suci. Maka karena itu, mandi dari janabah menjadi sarana untuk kembali kepada kondisi suci, baik secara lahir maupun batin.

Dari sisi kebersihan mandi janabah mengajarkan kepada kita pentingnya menjaga tubuh dari kotoran sisa setelah berhubungan suami istri atau keluarnya mani. Islam sangat menekankan kebersihan mulai dari pakaian tempat tinggal apalagi tubuh seorang muslim. Dalam konteks kesehatan, mandi setelah aktivitas tersebut juga membantu menyegarkan tubuh, membersihkan kulit, serta mengurangi potensi berkembangnya bakteri atau kuman yang berasal dari kotoran sisa setelah berhubungan suami istri.


Apabila kita tinjau dari sisi syariat yang mewajibkan mandi setelah keluar mani sebagaimana dalam kitab Hikmah At-Tasyri’ karangan Syaikh ‘Ali bin Ahmad halaman 46 beliau menegaskan bahwa:

وأما المني فهو عبارة عن مادة مكونة من جميع أجزاء الجسم، ولذا نرى الجسم يتأثر بخروجه ولا يتأثر بخروج البول.

“Mani adalah satu substansi atau satu unsur yang terbentuk dari seluruh bagian dari jisem atau badan. Dan karena itu keluar mani dapat memberikn efek kepada jisem/badan, beda halnya dengan keluar baul/kencing”.


Maka orang yang berlebihan/terlalu banyak dalam hal mengeluarkan mani atau berjimak dapat melemahkan kekuatan badannya dan dapat menyebabkan malas dan tidak ada kekuatan dalam beribadah, maka mandi dapat mengembalikan kekuatan yang pernah hilang dengan sebab keluar mani kepada badan. 


Salah satu sahabat Nabi Muhammad Saw yaitu Abu zhar Al-Ghifari pernah berkata:

قال أبو ذر رضي الله عنه : لما اغتسل من الجنابة كأنه ألقيت عني حملا، وإن هذا الحمل الثقيل مجموع أمرين الأول : زوال الكسل عن الجسم، وأن الكسل في أثقل الأحمال. والثاني : أن الإنسان إذا كان طاهرا من الجنابة، وكان نائما مثلا صعدت روحه إلى العالم العلوي، وشاهدت غرائب وأسرار صنع الخالق، وأما إذا كان جنبا فإن روحه تحتجب عن مشاهدة هذه الغرائب والأسرار، لأن الطهارة هي المبرر لصعودها واختلاطها بعالم الملائكة الطاهرين.

“Disaat aku mandi dari janabah seolah-olah aku telah membuang beban yang ada pada diriku, dan beban yang berat ini adalah kumpulan dari dua perkara: 


  1. Hilang malas dari tubuh dan malas tersebut merupakan beban yang paling berat.
  2. Seorang manusia apabila iya suci dari janabah, dan iya tertidur jiwanya akan naik ke alam yang tinggi dan akan menyaksikan keajaiban-keajaiban dan rahasia ciptaan Allah Swt. dan apabila iya berjunub maka ruhnya akan terhalang untuk melihat keajaiban-keajaiban dan rahasia ciptaan Allah Swt, karena suci dapat menjadi satu alasan agar dapat naiknya ruh dan bergaulnya ruh dengan alamnya para malaikat yang suci”.


Referensi: Hikmah At-Tasyri’ karangan Syaikh ‘Ali bin Ahmad halaman 46

Posting Komentar

0 Komentar