Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Jawaban Syeikh Ismail Utsman Zain Tentang Hukum Kenduri di Rumah Kematian

Hukum Kenduri di rumah kematian
Salah satu hal yang tak hentinya di sesatkan oleh kaum wahaby/salafy adalah kenduri di rumah kematian, padahal masalah ini adalah masalah perdebatan yang sudah lama sekali di jawab oleh ulama-ulama Ahlus sunnah. Diantara ulama-ulama yang menjelaskan hal tersebut adalah Syeikh Ismail Utsman Zain (1352- 1414 H), seorang ulama asal Yaman yang menetap dan mengajar di Madrasah Saulatiyah, Makkah selama 23 tahun. Beliau merupakan seorang ulama yang memiliki nama besar dan di akui keilmuan beliau oleh para ulama-ulama yang lain. Murid-murid beliau tersebur di seluruh penjuru dunia, tak terkecuali di Indonesia, bahkan beliau mengarang satu Risalah, Al-ajwibah as-Sunniyah ‘an As’ilah al-Indonesiyyah yang merupakan jawaban dari beberapa pertanyaan dari muhibbin dari Indonesia.

salah satu yang ditanyakan dalam risalah tersebut adalah hukum kenduri di rumah kematian, kemudian Syeikh Ismail Utsman Zain memberikan uraian jawaban secara ringkas, uraian beliau yang lebih panjang ada dalam kitab beliau yang lain yaitu kitab Raf`ul al-Isykal wa Ibthal al-Mughalah fi Hukm al-Walimah min Ahl al-Mayyit ba’d al-Wafat. Di sini kami akan menampilkan jawaban Syeikh Ismail Zain tentang hukum kenduri di rumah kematian, semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan menjadi pelega bagi hati kaum muslimin yang memberikan kenduri di rumah kematian dari tuduhan-tuduhan kaum salafi wahaby yang gencar-gencarnya membid’ahkan dan menyesatkan kaum muslim yang lain.

السؤال الثالث): ما قولكم في إطعام الطعام تصدقا وضيافة من أهل الميت للمعزين. بعض علمائنا يقول حرام إن كان قبل الدفن، ومحمودا إن كان بعد الدفن. وبعضهم يقول حرام إن كان بحضرة الجنازة أي في مجلس واحد وإلا فلا. وبعضهم يقول حرام مطلقا، لأن أغلب الناس أنهم يطعمون من تركة الميت أو من مالهم ومن بعض تركة الميت.

فالجواب) والله الموفق للصواب: أن الإطعام المذكور تصدقا وضيافة كما ذكر في السؤال من القرب والمسحبات الشرعية، لأن الضيافة من مكارم الأخلاق ومن ثمرات الإيمان. وفي الحديث الصحيح: {فمن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم ضيفه}. والصدقة من أفضل القربات ومن الحسنات التي تنمو بالمضاعفات. قال الله تعالى {مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّئَةُ حَبَّةٍ وَاللّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاء} الآية. وقال تعالى: {وَأَقْرَضُوْا اللهَ قَرْضًا حَسَنًا} الآية. وسواء كانت الصدقة عن الميت فإن ثوابها يصل إليه بالإجماع أو كانت للمتصدق نفسه فهي من أعماله الصالحة التي تكون في كفة حسناته وحيث كانت بنية الميت فيشترط أن تكون من بالغ عاقل جائز التصرفات.

واعلم أن الوليمة من أهل الميت للمعزّين وغيرهم تعتبر من الأعمال الصالحة ومن أنواع البر فهي محمودة شرعًا، ما لم تكن من مال القاصرين. وقد أُلّفتْ في هذا الشأن رسالة مفيدة تسمى "رفع الإشكال وإبطال المغالاة في حكم الوليمة من أهل الميت بعد الوفاة"، فهي وافية بالمقصود حكما ودليلا، رواية ودراية. وحاصلها أن الأصل في الوليمة الإستحباب والإستحسان شرعًا، ولا تخرج عن هذا الأصل إلا لعارض. ولا فرق في ذلك بين كونها قبل الدفن أو بعده كما في الرسالة المذكورة
.
وأما قول السائل: "بعض علمائنا يقول حرام إن كان قبل الدفن ومحمود إن كان بعد الدفن وبعضهم يقول حرام إن كان بحضرة الجنازة أي في مجلس واحد وإلا فلا. وبعضهم يقول حرام مطلقا، لأن أغلب الناس أنهم يطعمون من تركة الميت أو من مالهم ومن بعض تركة الميت". فنقول إن بعض العلماء القائلين بهذا التفصيل والتقسيم وكذلك القائلون بالإطلاق فالجميع ليس لهم على ما يقولونه دليل ولا تعليل، وإنما ذلك مجرد آراء هي عند الإنصاف لا تصدر عن عامي فضلا عن عالم. وأعظم من ذلك قول السائل: "وبعضهم يقول حرام إن كان بحضرة الجنازة أي في مجلس واحد وإلا فلا". فهذا القول من العجائب والغرائب أن يصدر من شخص يقال إنه من العلماء. وقد قال الله تعالى: {وَلاَ تَقُولُواْ لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلاَلٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُواْ عَلَى اللّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللهِ الْكَذِبَ لاَ يُفْلِحُونَ. مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ}. عافانا الله تعالى من ذلك وجنبنا أسباب المهالك.
وأما كون الوليمة أو بعضها من تركة الميت، فإذا كانت برضا الورثة البالغين ومن نصيبهم فلا مانع من ذلك كما قدمنا، لأن التركة بعد وفاة الميت هي ملك الورثة، فلهم أن يطعموا منها أو من غيرها. هذا ما تيسر لي من الجواب باختصار. ومن أراد المزيد فعليه بالرسالة المذكورة آنفا، فإن فيها ما يكفي ويشفي. ونسأل الله تعالى أن يجعلنا ممن يستمعون القول فيتبعون أحسنه، ولا يجعلنا ممن يقفون ما ليس لهم به علم. وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم تسليما كثيرا والحمد لله رب العالمين.


Soal yang ketiga.
Bagaimana pendapatmu tentang memberi makanan dari keluarga mayat untuk bersadaqah dan menjamu bagi orang yang berta`ziah?

Sebagian ulama kita mengatakan haram jika sebelum di kuburkan mayat, dan terpuji (mamduh) jika setelah di kuburkan mayat. Sebagian yang lain mengatakan haram jika di hadapan jenazah maksudnya dalam satu majlis sedangkan bila bukan demikian maka tidak haram. Sebagian ulama yang lain mengatakan haram mutlak karena kebanyakan manusia menyediakan makanan dari harta peninggalan mayat atau dari harta mereka dan sebagian lagi dari harta peninggalan mayat!

Jawab.
Allah yang memberi taufiq kepada kebenaran. Menyediakan makanan tersebut sebagai shadaqah dan menjamu sebagaimana dalam soal merupakan sebagian dari perbuatan qurbah yang perbuatan sunat dalam syara`, karena dhiyafah (menjamukan) termasuk dari akhlak yang mulia dan merupakan kehasilan dari keimanan. Tersebut dalam satu hadits; barangsiapa beriman dengan Allah dan RasulNya maka hendaklah ia memuliakan tamu. Shadaqah termasuk dari seafdhal-afdhal qurbah dan termasuk kebaikan yang dibalas dengan balasan yang berganda. Allah berfirman: Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allahadalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. (Q.S.al-Baqarah ayat 261) dan Allah juga berfirman : … mereka meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik…(Q.S. al-Hadid ayat 18).

Sama hukumnya shadaqah itu untuk mayat(di niatkan pahalanya untuk mayat), maka pahalanya bisa sampai kepada mayat berdasarkan ijmak para ulama atau shadaqah tersebut untuk diri orang bershadaqah maka ini termasuk dalam amalan shalih yang berada dalam neraca kebaikan (kelak di akhirat) Apabila diniatkan untuk si mayat maka disyaratkan harus dilakukan oleh orang yang baligh yang boleh mempergunakan harta (ahli tasharruf)

Ketahuilah bahwa kenduri dari keluarga mayat untuk orang yang ta`ziyah dan yang lain termasuk dalam amalan shalih dan bagian kebaikan maka perbuatan ini terpuji dalam pandangan syara` selama bukan berasal dari harta orang yang kurang (maksudnya harta orang yang tidak memiliki wewenang sendiri dalam menggunakan harta seperti anak-anak, orang gila, safih, dan muflis) dan sungguh saya telah mengarang satu risalah yang berfaedah yang bernama “Raf`ul al-Isykal wa Ibthal al-Mughalah fi Hukm al-Walimah min Ahl al-Mayyit ba’d al-Wafat”. Risalah ini merupakan satu kitab yang memenuhi tujuan baik dalil atau illatnya baik secara riwayat ataupun dirayah.

Kesimpulannya, bahwa asal dalam kenduri adalah sunat dan merupakan perbuatan baik dalam syara` dan tidak akan keluar dari asal ini kecuali karena ada faktor luar (‘aridhy) dan hal ini tidak ada bedanya baik dilaksanakan kenduri tersebut sebelum di tanam mayat ataupun setelahya sebagaimana kami sebutkan dalam risalah tersebut.

Adapun perkataan penanya:
Sebagian ulama kita mengatakan haram jika sebelum di kuburkan mayat, dan terpuji jika setelah di kuburkan mayat. Sebagian yang lain mengatakan haram jika di hadapan jenazah maksudnya dalam satu majlis sedangkan bila bukan demikian maka tidak haram. Sebagian ulama yang lain mengatakan haram mutlak karena kebanyakan manusia menyediakan makanan dari harta peninggalan mayat atau dari harta mereka dan sebagian lagi dari harta peninggalan mayat!

Maka kami menjawab:
Sungguh sebagian kalangan ulama yang mengatakan dengan rincian dan pembagian ini dan juga yang mengatakan secara mutlak maka tidak ada dalil maupun alasan (ta’lil) bagi mereka. Itu semua hanyalah semata-mata pendapat belaka yang sebenarnya bila mau bersikaf adil pendapat seperti demikian tidak akan keluar dari orang awam apalagi orang yang alim.

Dan yang lebih parah lagi adalah pendapat yang mengatakan bahwa haram jika di hadapan jenazah maksudnya dalam satu majlis dan jika bukan di hadapan jenazah maka tidak haram. Pendapat ini adalah pendapat yang aneh dan gharib yang tidak akan keluar dari seseorang yang dikatakan sebagai ulama.

Allah berfirman:
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta "ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka azab yang pedih.(Q.S. an-Nahl ayat 116-117)

Semoga Allah menjaga kita dari hal demikian dan dari sebab-sebab kebinasaan.

Adapun bila seluruh kenduri tersebut atau sebagiannya berasal dari harta peninggalan si mayat maka jika ada ridha dari ahli waris yang telah baligh dan di ambil dari bagian mereka maka tidak ada hal yang menjadi penghalangnya(maksudnya tidak adahal yang menyebabkannya haram) sebagaimana telah kami sebutkan terdahulu, karena harta peninggalan setelah wafat menjadi milik ahli waris, maka mereka boleh saja memberikanya dari harta tersebut atau dari harta yang lain.

Inilah kemudahan bagi kami dalam menjawab dengan ringkas. Barangsiapa yang menginginkan uraian yang lebih maka silahkan melihat Risalah kami yang kami sebutkan barusan, karena disana ada jawaban yang memadai dan menyejukkan.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk dalam golongan orang-orang yang mendengar perkataan dan mengikuti yang paling baik. Dan jangan di jadikan kita termasuk dalam golongan orang yang menahan hal yang sama sekali tidak ada ilmunya bagi mereka.

Dan Rahmat sejahtra atas penghulu kita Sayyidina Muhammad dan keluarga beliau dan shahabat beliau dan sejatra yang banyak. wal hamdulillahi Rabbil Alamin.
Al-ajwibah as-Sunniyah ‘an As’ilah al-Indonesiyyah, Syeikh Ismail Utsman Zain al-Yamani al-Makky

Maka dari uraian panjang Syeikh Ismail Zain tersebut dapatkan kita simpulkan tentang hukum kenduri di rumah kematian.
  1. Boleh bahkan sunat, selama tidak di ambil dari harta peninggalan yang menjadi hak ahli waris yang belum baligh, baik diambil dari harta warisan yang menjadi bagian ahli waris yang telah baligh atau di ambil dari hartanya pribadi ahli waris ataupun hasil dari shadaqah pihak-pihak yang lain
  2. Bila menggunakan harta orang-orang yang belum baligh, antara lain harta ahli peninggalan mayat yang ahli warisnya anak-anak yang belum baligh maka hukumnya haram, hal ini karena orang yang mengelola harta anak-anak tidak boleh menggunakan harta tersebut untuk hal-hal yang tidak membawa keuntungan bagi harta tersebut termasuk tidak boleh digunakan untuk bersadakah.
  3. Hukum melakukan kenduri kematian ini sama saja hukumnya baik dilakukan setelah mayat di kebumikan ataupun sebelumnya.

Share artikel ini :
Dapatkan update topik terbaru via email dengan mendaftarkan alamat email anda di form di bawah ini:

Setelah memasukkan email dan klik subscribe, cek email lalu ikuti link verifikasi.

belum ada komentar untuk Jawaban Syeikh Ismail Utsman Zain Tentang Hukum Kenduri di Rumah Kematian