Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Hal - Hal Yang Disunnahkan Berwudhu'


  1. Hendak membaca Al-Quran, namun jika sampai menyentuhnya wajib  berwudhu'
  2. Hendak mendengarkan riwayat hadis
  3. Belajar ilmu agama
  4. Hendak masuk mesjid
  5. Hendak berzikir
  6. Hendak melakukan sa’i
  7. Hendak Wuquf dipadang Arafah
  8. Menziarahi nabi Muhammad saw
  9. Hendak berkhutbah selain khutbah jumat, seperti khutbah hari raya
  10. Hendak tidur
  11. Henak azan atau iqamah
  12. Hendak memandikan jenazah
  13. Hendak makan
  14. Hendak melakukan jimak
  15. Setelah muntah
  16. Setelah mnyentuh bulu kemaluan
  17. Setelah menyentuh dua pelir
  18. Karena menyentuh pangkal paha
  19. Karena menyentuh gadis kecil (belum balig), amrad, dan orang berpenyakit lepra atau kusta
  20. Karena menyentuh orang yahudi
  21. Karena ingin melakukan bekam
  22. Setelah Melihat sesuatu yang membangkitkan syahwat
  23. Karena berbicara yang haram seperti mengupat,fitnah dan mencela
  24. Seletah tertawa terbahak-bahak
  25. Setelah marah
  26. Setelah membawa atau menyentuh mayat
  27. Setelah memotong kuku atau kumis
  28. Setelah mencukur rambut



Referensi :

Fathul Mu’in Juz 1 Hal 62-63 (Haramain)

يندب الوضوء من مس نحو العانة وباطن الألية والأنثيين وشعر نبت فوق ذكر وأصل فخذ ولمس صغيرة وأمرد وأبرص ويهودي ومن نحو فصد ونظر بشهوة ولو إلى محرم وتلفظ بمعصية وغضب وحمل ميت ومسه وقص ظفر وشارب وحلق رأسه 

Hasyiah Ia'natut Thalibin Juz 1 Hal 62 (Haramain)

ويندب للمرء الوضوء فخذ لدي مواضع تأتي وهي ذات تعدد قراءة قرآن سماع رواية ودرس لعلم والدخول لمسجد وذكر وسعي مع وقوف معرف زيارة خير العالمين محمد وبعضهم عد القبور جميعها وخطبة غير الجمعة اضمم لما بدي ونوم وتأذين وغسل جنابة إقامة أيضا والعبادة فاعدد وإن جنبا يختار أكلا ونومه وشربا وعودا للجماع المجدد ومن بعد فصد أو حجامة حاجم وقيء وحمل الميت واللمس باليد له أو لخنثى أو لمس لفرجه ومس ولمس فيه خلف كأمرد وأكل جزور غيبة ونميمة وفحش وقذف قول زور مجرد وقهقهة تأتي المصلي وقصنا لشاربنا والكذب والغضب الردي


Status Anak Dari Orang Tua Beda Agama

Deskripsi Masalah:

Di dalam ayat Al-Qura’an Al-Baqarah ayat 221 Allah SWT menegaskan bahwa tidak boleh mengawini orang-orang yang berlainan agama dalam artian tidak sah seorang laki-laki yang muslim untuk menikahi wanita dari agama musyrik begitu pula tidak sah wanita muslimah menikahi dengan laki-laki non muslim,hal ini di khususkan kepada selain kafir kitabi.
Adapun terhadap kafir kitabi maka Allah menghalalkan menikah dengan mereka, dengan dalil  Allah ta'ala berfirman:

اليوم أحل لكم الطيبات وطعام الذين أوتوا الكتاب حل لكم وطعامكم حل لهم والمحصنات من المؤمنات والمحصنات من الذين أوتوا الكتاب من قبلكم إذا ءاتيتموهن أجورهن محصنين غير مسافحين ولا متخذي أخدان ومن يكفر بالإيمان فقد حبط عمله وهو في الآخرة من الخاسرين (سورة المائدة: 5)

Maknanya: "Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang ahli kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar maskawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak pula menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi ". (Q.S. Al Maidah:5).

Pernikahan dengan perempuan Ahli Kitab ini juga pernah di lakukan oleh para sahabat Nabi SAW, di antaranya: Utsman ibn 'Affan menikah dengan Ibnatul Farafishah al Kalabiyyah, seorang nasrani kemudian masuk Islam. Thalhah ibn Ubaidillah menikahi perempuan dari Bani Kulayb nasrani atau yahudi. Hudzaifah ibn al Yaman menikahi seorang perempuan yahudi. (Semua diriwayatkan oleh al Bayhaqi dengan sanad yang sahih)

Namun Ahlul Kitab pada masa sekarang ini sungguh jauh lebih berbeda dengan Ahlul kitab yang ada pada  masa Nabi SAW. Semua Ahlul Kitab masa sekarang sudah jelas-jelas musyrik atau menyekutukan Allah dengan mengatakan babwa  Uzair itu anak Allah (menurut Yahudi) dan Isa itu anak Allah (menurut Nasrani).

Intinya pada masa sekarang seorang yang muslim/muslimah menikahi dengan orang yang kafir secara umumnya tidak sah,melainkan ada ditempat-tempat khusus yang memang masih ada kafir kitabi yang Asli seperti pada masanya Nabi Muhammad SAW.

Pertanyaan:

Bagaimanakah status anak yang lahir daripada orang tua yang berbeda agama (orang muslim menikahi dengan yang non muslim) menurut perspektif ulama syafi’iah ?

Jawaban:

Anak yang lahir dari orang tua yang berlainan agama (islam dan bukan islam) maka di hukumi kepada orang islam, hal ini telah di jelaskan dalam (kitab ia’natutthalibin juz 1 hal 93) :   

ويتبع في الدين أعلاهما فلو تولد بين مسلم وكافرة فهو مسلم لأن الإسلام يعلو ولا يعلى عليه. إعانة الطالبين ١/٩3

Dalam Hasyiah Al-Bajuri jilid 1 hal 38
يتبع الفرع فى انتساب ابا5* و الام فى الرق و الحرية * و الزكاة و الدين الاعلى

و اللذى اشد في جزاء وادية * و اخس الاصلين رجسا و ذبحا * و نكاحا و الاكل و الاضحية 

Seuntai Kisah Dari Sosok Asma Binti Abu Bakar

Asma binti Abu Bakar, adalah kakak perempuan se-ayah Ummul Mukminin Sayyidah Aisyah Ra, Ia lebih tua sepuluh tahun dari Aisyah, dan ia juga merupakan perawi hadist Rasulullah SAW, Sebanyak 56 hadist ia rawi, delapan belas di antaranya diriwayatkan kembali oleh Imam Bukhari, selebihnya diriwayatkan oleh perawi perawi hadist yang lain, Ia menikah dengan Zubair bin Awwam di kota Mekkah, kemudian Zubair menceraikannya di Madinah, lama setelah mereka mengarungi rumah tangganya, dan memiliki buah hati yang bernama Abdullah, Asma memiliki umur yang panjang, ia meninggal di mekkah tahun 73 H. walau demikian, di usianya yang tidak lagi muda, melebihi seratus tahun, namun giginya tidak tanggal, demikian pula ingatannya tidaklah hilang. Abdullah merupakan seseorang yang sangat alim, sebagian dari kepandaiannya yaitu ketika kanak kanak ia bertemu dengan Umar ibn Khattab, bersama dengan kanak kanak yang lain, mereka lari dari Sayyidina Umar hingga tinggallah Abdullah seorang diri, Umar bertanya kepadanya, kenapa engkau tidak lari wahai Abdullah ? ia menjawab, wahai amirul Mukminin ! aku tidak memiliki rasa ragu sehingga takut kepadamu, dan jika aku menyebabkan sempit jalanmu, aku akan melapangkannya, ia juga merupakan bayi yang pertama dalam islam yang lahir dari golongan muhajirin di Madinah dua puluh bulan setelah hijrah, Ia dilahirkan di Quba, dan Rasul mengunyah kurma untuknya, sehingga makanan pertama yang masuk ke mulutnya adalah kurma dan liur rasulullah saw, ia seorang yang gemar berpuasa, shalat malam, dan menyambung silaturrahim, ia juga memanjangkan sujudnya sehingga burung menyangkanya sebongkah tembok sehingga hinggap di atasnya, ia pernah meminum darah bekam Rasulullah tatkala ia menyuruhnya membuangnya, lalu rasulullah berkata kepadanya:

ويل لك وويل للناس

celaka bagimu dan bagi manusia, kamu kelak akan dibunuh, dan celakalah manusia karena telah membunuhmu, kemudian ia hidup dan meninggal dunia dibunuh oleh seorang musuh allah bernama Lujaj.

Referensi: Hasyiyah Ala Muhtashar Abi Jamarah Hal 32 Cet Maktabah Imaratullah Surabaya




Kisah Keberkahan Merayakan Maulid Nabi Muhammad Saw

Disebutkan dalam kitab Targhibul Musytaqin halaman 4 :

وَقَالَ عَبْدُاللهِ بْنُ عِيْسَى الْأَنْصَارِيُ كَانَتْ بِجِوَارِيْ اِمْرَأَةٌ صَالِحَةٌ وَلَهَا وَلَدٌ صَالِحٌ فَكَانَتْ فَقِيْرَةً لَاشَيْئَ لَهَا إِلَّا دِيْنَارٌ وَاحِدٌ مِنْ ثَمَنِ غَزْلِهَا فَمَاتَتْ وَكَانَ ذَلِكَ الْوَلَدُ يَقُوْلُ: هَذَا مِنْ ثَمَنِ غَزْلِ أُمِيْ وَاللهِ لَا أَصْرِفُهُ إِلَا فِيْ أَمْرِ الْآخِرَةِ

Syaikh Abdullah bin 'Isa al-Anshari berkata : Adalah tetanggaku seorang wanita yang sholehah. Dia mempunyai seorang anak lelaki yang sholeh. Wanita yang sholehah ini tidak mempunyai harta selain satu dinar hasil kerja tenunnya. Tatkala wanita tersebut meninggal dunia, anaknya yang sholeh tersebut berkata kepada dirinya : “Uang satu dinar ini adalah hasil kerja ibuku. Demi Allah, aku tidak akan membelanjakannya kecuali untuk perkara akhirat.”

وَخَرَجَ ذَاتَ يَوْمٍ فِيْ حَاجَةٍ لَهُ فَمَرَ بِقَوْمٍ يَقْرَؤُوْنَ الْقُرْآنَ وَعَمِلُوْا مَوْلِدَ النَّبِيِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ َسَلَّمَ فِيْ رَبِيْعِ الْأَوَّلِ فَجَلَسَ عِنْدَهُمْ وَسَمِعَ ذَلِكَ

Pada suatu hari, pemuda anak perempuan sholehah tersebut keluar karena suatu keperluan, dia melewati satu perkumpulan orang sedang membaca al-Quran dan mengadakan Maulid Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam pada bulan Rabi`ul Awwal. Lalu dia pun duduk bersama mereka dan mendengarkan Maulid tersebut.

ثُمَّ نَامَ فِيْ لَيْلَتِهِ فَرَأَى فِيْ مَنَامِهِ كَأَنَّ الْقِيَامَةَ قَدْ قَامَتْ وَكَأَنَّ مُنَادِيًا يُنَادِيْ: أَيْ فُلَانُ ‌بْنَ فُلَانٍ يَذْكُرُ جَمَاعَةً فَسَاقَهُمْ إِلَى الْجَنَةِ وَذَلِكَ الشَّابُّ مَعَهُمْ وَقَالَ الْمُنَادِيْ: إِنَّ اللهَ جَعَلَ لِكُلٍّ مِنْكُمْ قَصْرًا فِي‌ الْجَنَّةِ فَدَخَلَ ذَلِكَ الشَّابُّ قَصْرًا لَمْ ‌يَرَ أَحْسَنَ منه وَالْحُوْرُ الْعِيْنُ فِيْهِ كَثِيْرَةٌ وَعَلَى أَبْوَابِهِ خُدَّامٌ وَبَاقِي الْقُصُوْرِ أَلْطَفُ مِنَ الْقَصْرِ الَّذِيْ دَخَلَ فِيْهِ فَأَرَادَ الدُّخُوْلَ فِيْهِ فَلَمَّا هَمَّ بِالدُّخُوْلِ قَالَ لَهُ الْخَادِمُ : لَيْسَ هَذَا لَكَ وَإِنَّمَا هُوَ لِمَنْ عَمِلَ مَوْلِدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ َسَلَّمَ

Pada malamnya, pemuda tersebut bermimpi seolah-olah kiamat telah tiba dan seorang penyeru menyeru: "Di manakah si fulan anak si fulan", disebutnya nama-nama orang yang dalam satu rombongan lalu digiringlah mereka ke surga. Dan pemuda tersebut ikut bersama mereka.

Si penyeru tadi berkata: "Sesungguhnya Allah telah memberi bagi setiap kamu sebuah istana didalam surga." Dan masuklah si pemuda tadi ke dalam sebuah istana, tidak pernah dia melihat istana yang seumpamanya dari segi keindahannya, ia dipenuhi bidadari dan pada segala pintunya dijaga oleh khadam. Pemuda tersebut melihat bahwa ada istana lain yang lebih elok daripada istana yang ia masuki. Lalu dia pun berkehendak untuk memasukinya. Tatkala terbesit dihatinya untuk memasuki istana tersebut, berkatalah khadam kepadanya: "Ini bukanlah untukmu, sesungguhnya ini diperuntukkan bagi orang yang mengadakan Maulid Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam."

فَلَمَّا أَصْبَحَ ذَلِكَ الشَّابُّ صَرَفَ ذَلِكَ الدِّيْنَارَ عَلَى مَوْلِدِ النَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ َسَلَّمَ فَرْحًا بِرُؤْيَاهُ وَجَمَعَ الْفُقَرَآءَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ تَعَالَى وَيَقْرَؤُوْنَ الْقُرْآنَ وَمَوْلِدَ النَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ َسَلَّمَ وَقَصَّ‌ عَلَى الْجَمَاعَةِ رُؤْيَاهُ فَفَرِحُوْا بِذَلِكَ وَنَذَرَ أَنْ لَايَقْطَعَ مَوْلِدَ‌ النَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ َسَلَّمَ مَادَامَ حَيًّا

Keesokan harinya, pemuda tersebut menggunakan satu dinar (peninggalan ibunya) tersebut untuk mengadakan Maulid Nabi shallallaahu ‘alaih wasallam karena kegembiraannya dengan mimpinya itu. Diapun mengumpulkan para faqir miskin untuk berzikir kepada Allah, membaca al-Quran dan membaca Maulid Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Dia juga menceritakan tentang mimpinya itu kepada mereka, dan mereka merasa gembira mendengar ceritanya itu. Pemuda tersebut bernazar untuk tidak akan meninggalkan mengadakan Maulid Nabi shallallaahu ‘alaihi wasalla selama hayatnya.

ثُمَّ نَامَ فَرَأَى أُمَّهُ فِي الْمَنَامِ فِيْ هَيْئَةٍ حَسَنَةٍ وَفِيْ حُلَلٍ مِنْ حُلَلِ الْجَنَّةِ وَلَهَا رَائِحَةُ الْجَنَّةِ وَقَبَّلَ يَدَهَا وَهِيَ قَبَّلَتْ رَأْسَهُ وَقَالَتْ : جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا يَا وَلَدِيْ لَقَدْ أَتَانِيْ مَلَكٌ وَأَعْطَانِيْ هَذِهِ ‌الْحُلَلَ فَقَالَ لَهَا: مِنْ أَيْنَ لَكِ هَذِهِ الْكَرَامَةُ فَقَالَتْ: لِأَنَكَ قَدْ صَنَعْتَ بِالدِّيْنَارِ الَّذِيْ وَرِثْتَهُ مِنِّيْ مَوْلِدَ سَيِّدِ الْأَوَّلِيْنَ وَالْآخِرِيْنَ وَهَذَا جَزَاءُ مَنْ عَظَّمَ نَبِيَّهُ وَعَمِلَ مَوْلِدَهُ

Kemudiannya, si pemuda tidur. Dalam tidurnya dia bermimpi bertemu dengan ibunya. Ibunya berada dalam keadaan yang amat baik, berhias dengan segala perhiasan syurga dan berwangian dengan bau surga. Pemuda tersebut mencium tangan ibunya dan ibunya mengecup kepalanya lalu berkata: "Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, wahai anakku, malaikat telah datang kepadaku membawa segala perhiasan ini." Si pemuda bertanya kepada ibunya: "Dari manakah ibu memperoleh kemuliaan ini?" Sang ibu menjawab: "Karena engkau telah mempergunakan satu dinar yang engkau warisi dariku untuk mengadakan Maulid Junjungan orang-orang terdahulu dan orang-orang yang kemudian, dan inilah balasan bagi orang yang mengagungkan Nabinya dan mengadakan Maulid Baginda Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam". Wallaahu A'lam.

Rukun Shalat: Tasyahud

Deskripsi masalah:

Dalam mengerjakan shalat, perlu diketahui bagaimana cara melaksanakan shalat yang benar, setiap rukun tentu mempunyai ketentuan sendiri, yang berakibat pada sah atau tidaknya shalat seseorang, berikut ini kami akan menguraikan sedikit penjelasan tentang tasyahud yaitu:

Tasyahud terbagi dua:
1. Bacaan dan duduk tasyahud yang diiringi dengan salam merupakan rukun dalam shalat, atau yang biasa kita sebut dengan nama tasyahud akhir.
2. Sedangkan yang tidak diiringi dengan salam merupakan sunat dalam shalat, atau nama lainnya adalah tasyahud awal.

Duduk pada dua tasyahud ini sebenarnya boleh bagaimana pun bentuknya, asalkan sesuai dengan cara duduk yang telah ditentukan dalam sembahyang. Namun, disunatkan pada tasyahud awal yaitu duduk iftirasy, dan pada tasyahud akhir disunatkan duduk tawaruk.

1. Tasyahud akhir
Membaca dan duduk tasyahud akhir adalah rukun yang ke Sembilan dan ke sepuluh dalam shalat, duduk ini disunatkan dalam posisi tawaruk, yaitu tata caranya sama seperti duduk iftirasy, hanya saja kaki kirinya dikeluarkan dari bawah kaki kanannya, sedangkan pinggulnya dilengketkan ke lantai.
2. Tasyahud Awal
Duduk dan membaca tasyahud awal merupakan sebagian dari sunat ab’ad dalam shalat. Adapun posisi duduk yang disunatkan dalam tasyahud awal adalah duduk iftirasy.
Duduk iftirasy yaitu posisi seseorang duduk di atas mata kakinya, sedangka
n bagian belakang telapak kakinya menempel ke lantai, dan kaki kanannya ditegakkan dengan seluruh jari-jarinya di hadapkan ke arah kiblat.

Adapun bacaan tasyahud minimalnya yaitu seperti yang telah di jelaskan dalam kitab kanzul ar-raghibin(al mahalli), cet. Darul fikri, juz. 1, hal. 189:

وَأَقَلُّهُ: التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ سَلَامٌ عَلَيْك أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ سَلَامٌ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ

Dan bacaan yang paling sempurnanya ialah:

وَأَكْمَلُ التَّشَهُّدِ مَشْهُورٌ وَرَدَ فِيهِ أَحَادِيثُ اخْتَارَ الشَّافِعِيُّ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - مِنْهَا حَدِيثَ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - يُعَلِّمُنَا التَّشَهُّدَ فَكَانَ يَقُولُ: «التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ، السَّلَامُ عَلَيْك أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ


Kisah Orang Yang Mengatakan Bahwa Maulid Nabi Bid’ah Sayyi`ah



(Diceritakan oleh Sayyid Alawi Al-Maliki dari abahnya, Sayyid Abbas Al-Maliki Rahimahumallaahu ta'aalaa)


Sayyid Alawi Al-Maliki menceritakan bahwasanya abah beliau, Sayyid Abbas Al-Maliki memberi khabar kepada beliau sesungguhnya abah beliau (sayyid Abbas Al-Maliki) berada di Baitul Maqdis untuk menghadiri peringatan Maulid Nabi pada malam ‘ied Milad An-Nabawi, di mana saat itu dibacakan Maulid Al-Barzanji.
Saat itulah beliau melihat seorang pria tua beruban yang berdiri dengan khidmat penuh adab mulai dari awal sampai acara selesai. Kemudian beliau bertanya kepadanya akan sikapnya itu, yaitu berdiri sementara usianya sudah tua.

Lelaki tua itu bercerita bahwa dulu ia tidak mau berdiri pada acara peringatan Maulid Nabi dan ia memiliki keyakinan bahwa perbuatan itu adalah bid'ah sayyi'ah (bid'ah yang jelek).
Suatu malam ia bermimpi dalam tidurnya. Dia bersama sekelompok orang yg bersiap-siap menunggu kedatangan Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam, maka saat cahaya wajah beliau yang bagaikan bulan purnama muncul, sekelompok orang itu bangkit dengan berdiri menyambut kehadiran Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Namun hanya ia saja seorang diri yang tidak mampu bangkit untuk berdiri. Lalu Rasullullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: "Kamu tidak akan bisa berdiri" Saat ia bangun dari tidurnya ternyata ia dalam keadaan duduk dan tidak mampu berdiri. Hal ini ia alami selama 1 (satu) tahun.

Kemudian ia pun bernadzar jika Allah menyembuhkan sakitnya ini, ia akan berdiri mulai awal pembacaan Maulid Nabi sampai akhir bacaan, kemudian Allah menyembuhkannya.
Ia pun selalu berdiri (mulai awal pembacaan Maulid Nabi sampai akhir bacaan) untuk memenuhi nadzarnya karena ta’zhim (mengagungkan) beliau Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Referensi:

Kitab Al-Hadyuttaamm fii Mawaaridil Maulidinnabawiyyi Wa Maa I’tiida Fiihi Minal Qiyaam, hal 50-51, karya Sayyid Muhammad Ali bin Husein Al-Maliki Al-Makki (1287 H – 1367 H)


تَنْبِيْهٌ

Peringatan

حَكَى السَّيِّدُ عَلَوِي اَلْمَالِكِيُّ أَنَّ وَالِدَهُ اَلْمَرْحُوْمَ السَّيِّدَ عَبَّاسْ اَلْمَالِكِيَّ رَحِمَهُ اللهُ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ حَضَرَ فِيْ بَيْتِ الْمَقْدِسِ اِحْتِفَالًا نَبَوِيًّا لَيْلَةَ عِيْدِ الْمِيْلَادِ النَّبَوِيِّ تُلِيَ فِيْهِ مَوْلِدُ الْبَرْزَنْجِيِّ فَإِذَا رَجٌلٌ أَشْيَبُ قَامَ بِغَايَةِ الْأَدَبِ مِنْ أَوَّلِ الْمَوْلِدِ إِلَى نِهَايَتِهِ وَأَفَادَهُ لَمَّا سَأَلَهُ عَنْ سَبَبِ وُقُوْفِهِ مَعَ كِبَرِ سِنِّهِ بِأَنَّه كَانَ لَا يَقُوْمُ عِنْدَ ذِكْرِ الْمِيْلَادِ النَّبَوِيِّ وَيَعْتَقِدُ أَنَّهُ بِدْعَةٌ سَيِّئَةٌ فَرَأَى فِيْ نَوْمِهِ أَنَّهُ مَعَ جَمَاعَةٍ مُتَهَيِّئِيْنَ لِاسْتِقْبَالِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا طَلَعَ لَهُمْ بَدْرُ مُحَيَّاهُ وَنَهَضَ الْجَمِيْعُ لِاسْتِقْبَالِهِ لَمْ يَسْتَطِعْ هُوَ الْقِيَامَ لِذَلِكَ وَقَالَ لَهُ الرَّسُوْلُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْتَ لَا تَسْتَطِيْعُ الْقِيَامَ فَمَا اسْتَيْقَظَ إِلَّا وَهُوَ مُقْعَدٌ وَبَقِيَ عَلَى هَذَا الْحَالِ عَامًا فَنَذَرَ إِنْ شَفَاهُ اللهُ مِنْ مَرَضِهِ هَذَا يَقُوْمُ مِنْ أَوَّلِ قِرَاءَةِ الْمَوْلِدِ إِلَى غَايَتِهِ (نِهَايَتِهِ) فَعَافَاهُ اللهُ مِنْ ذَلِكَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِمًا بِوَفَاءِ نَذْرِهِ تَعْظِيْمًا لَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ



Wallaahu A'lam


Abu Dujanah

Alkisah, Ada salah satu sahabat Rasul yang bernama Abu Dujanah, ia dikenal sebagi orang yang sangat dekat dengan Rasul lullah SAW. Namun, Abu Dujanah tidak terbiasa dengan apa yang dilakukan oleh kebanyak sahabat, jika selesai Sholat subuh ia tidak menunggu sampai selesai dibacakan doa , tapi selalu bergegas pulang. Dan dalam sebuah kesempatan Nabi menegurnya, “Wahai Abu Dujanah, kenapa engkau tidak menunggu sampai dibacakannya doa?, tidakkah kau memiliki permintaan dan kebutuhan kepada Allah?” Abu Dujanah menjawab “iya Rasul ada,!” , Rasul berkata “lalu jika ada,mengapa engkau segera pulang?”. Abu Dujanahpun akhirnya menjelaskan “Bukannya aku tidak mau mendengarkan dan mengamini doamu ya rasul!, namun aku ini memiliki keluarga yang sangat miskin, tidak satupun makanan ada di rumahku, bahkan tidak jarang kami seharian menahan lapar. Sedangkan aku memiliki tetangga yang memiliki pohon korma yang batangnya condong ke rumahku, maka jika malam angin bertiup kencang, pasti buah-buahnya jatuh ke halaman rumahku!”.

Rasul berkata lagi “lalu apa masalahmu?” , Abu Dujanah meneruskan “ begini Ya Rasul, bahwa setiap malam anak-anakku menangis karena belum makan sepanjang hari”, pernah suatu hari usai solat subuh ku menunggu engkau, sampai mendengarkan engkau membacakan doa, namun yang terjadi ketika aku sampai di rumah aku lihat korma tetanggaku yang ada di halaman rumahku telah masuk ke dalam mulut anakku, maka segera aku ambil korma yang sedang dikunyahnya itu dengan jari ku, aku tidak mau mereka memakan yang bukan haknya, aku katakan kepada mereka “nak jangan kau permalukan ayahmu di akherat nanti, lantaran perbuatanmu ini, tidak akan kubiarkan nyawamu keluar dari jasadmu dalam keadaan memmbawa barang haram di dalam tubuhmu”. Si anakpun menangis karena sangat kelaparan, serta Abu Dujanah membawa kembali kurma tersebut kepada pemiliknya.

Mendengar kisah Abu Dujanah, Rasul dan para sahabat meneteskan air mata, sambil menangis Rasul memerintahkan Umar untuk mengumpulkan tetangga Abu Dujanah. Setelah terkumpul, Rasul berkata “Wahai kau pemilik pohon yang batangnya sampai ke rumah tetanggamu Abu Dujanah, kini aku beli pohon mu itu dengan 10 pohon korma di surga, yang akarnya dari permata hijau, pohonnya dari emas, dan dahannya darimutiara,dan di pohon itu terdapat bidadari sebanyak buah kuma yang ada di pohon tersebut!”. Si pemilik pohon yang belakangan diketahui sebagai seorang yang munafik ternyata menolaknya “saya tidak ingin menjualnya dengan harga yang kau janjikan di akhirat,tapi jika kau ingin membelinya maka saya menjualnya dengan harga tunai!”. Mendengar perkataan si munafik ini, Abu Bakar langsung maju ke hadapannnya “Hai fulan, ku beli pohon kormamu dengan 10 pohon korma terbaikku yang tidak ada bandingannya di kota Madinah.!”. Mendengar perkataan Abu Bakar maka senanglah si munafik tersebut Dan setujulah si munafik itu dengan Abu Bakar. Kemudian Abu Bakar menghadiahkan pohon kurma tersebut untuk Abu Dujanah. Maka Rasul mengatakan kepada Abu Bakar “Hai! Abu Bakar, Allah akan mengantikan kebaikanmu di akhirat nanti”. Maka senanglah Abu bakar, bahagilah Abu Dujanah, dan gembiralah si munafik.

Si munafikpun pulang, sesampainya di rumah sang munafik yang berhasil mendapatkan 10 pohon korma terbaik di kota madinah berkata kepada istrinya “:Wahai istriku, aku mendapatkan keuntungan yang banyak hari ini, ku telah menjual pohon korma kepada Abu bakar untuk Abu Dujanah dengan 10 pohon korma terbaik di kota ini, namun ingatlah wahai istriku!pohon yang kita jual itu tetap dalam kebun kita yang kita makan buahnya,dan tidak akan ada satu buahpun akan kuberikan kepada Abu Dujanah,” dengan sombongnya dan jahatnya sang suami dan istri ini mengingkari perjanjian dengan Nabi dan sahabat, pohon yang dijanjikan akan diberikan kepada Abu Dujanah tidak mau diberikan sepenuhnya.

Allah berkehendak lain, setelah mereka tidur keesokan harinya pohon korma yang ada di rumah si munafik telah berpindah ke halaman rumah Abu Dujanah dengan kudrah dan kekuasaan Allah, seolah-olah pohon itu tidak pernah ada di kebun si munafik sehingga tak ada bekas tanda-tanda dulu ada pohon kurma pada tempat itu hinnga heranlah si munafik. sungguh sangat luar biasa. Kisah ini membuktikan pohon berpindah sebagai salah satu bagian dari Mu’jizat Rasulullah SAW. Dijelaskan oleh para ulama bahwa pohon saja mau beriman dengan Rasul, maka sungguh amat sangat aneh mereka yang dengan akalnya tidak mau beriman kepada Rasulullah SAW.

Referensi: ‘Ianah al-Tholobin bab Luqatah.hal 252 dengan beberapa perubahan


Adab - Adab Pada Saat Qadha Hajat

Deskripsi Masalah:

Islam merupakan agama yang mengatur segala aspek kehidupan manusia, baik dalam hal ibadah, muamalah hingga qadha hajat diatur dalam islam, qadha hajat mempunyai adab adab dan etika tertentu, yang hukumnya sunnah untuk dikerjakan, dan mendapat pahala bagi pelakunya.

Pertanyaan:

 Bagaimanakah adab-adab dalam melakukan qadha hajat ?

Jawab:

Hal Yang diwajibkan Pada saat qadha hajat (kencing dan berak) adalah istinjak atau membersihkan semua bagian yang terkena najis baik dengan air maupun dengan tiga batu yang akan membersihkan najis tersebut namun jika seseorang memilih antara batu atau air maka air terlebih baik karena air bisa membersihkan i’n najis. Dan yang terlebih afdhal lagi jika seseorang memakai tiga batu kemudian dilajutkan dengan memakai air.

1. Masuk ke jamban dengan kaki kiri
2. Membaca doa masuk jamban:


اَلَّلهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الخُبْثِ وَالْخَبَائِثِ

Artinya : Ya Allah sesungguhnya aku memohon perlindungan pada MU dari-pada setan laki-laki dan setan perempuan.
3. Membaca doa keluar jamban:

اَلَّلهُمَّ طَهِّرْ قَلْبِي مِنَ النِّفَاقِ وَحَصِّنْ فَرْجِي مِنَ اْلفَوَاحِشِ

Artinya : Ya Allah sucikanlah hatiku dari kemunafikan dan lindungi kemaluanku dari keburukan (Zina).

4. Tidak memasukkan lafaz yang mulia seperti quran dan nama Allah
5. Haram Menghadap kiblat dan membelakanginya pada tempat terbuka jika tidak ada penghalang yang tingginya 2/3 hasta (Sekitar 15 Cm).
6. Tidak berbicara pada qada hajat kecuali jika ada hajat.
7. Tidak qadha hajat di dalam air yang tenang.
8. Tidak qadha hajat di bawah pohon berbuah walaupun belum berbuah.
9. Tidak menghadap dan membelakangi bulan maupun matahari.
10. Tidak qadha hajat pada tempat perkumpulan manusia.
11. Tidak qadha hajat pada tempat naungan atau tempat berteduh manusia.
12. Tidak qadha hajat pada jalan tempat lalu-lalang manusia.
13. Tidak melihat kepada najis yang sedang keluar.
14. Tidak melihat kemaluan.
15. Tidak melihat ke arah atas.
16. Tidak melihat ke kanan dan kiri.
17. Tidak mengerak-gerak tangannya.
18. Menjahui dari manusia supaya tidak terdengar suara keluarnya najis.
19. Menutup hidung supaya tidak mencium bau najis.
20. Tidak nampak dilihat oleh manusia maupun hewan seperti kucing.
21. Tidak qadha hajat pada tempat yang kencang tiupan angin karena menyebabkan was-was.
22. Tidak kencing sambil berdiri.
23. Tidak membuka kepala.
24. Mengangkat pakaiannya supaya tidak terkena najis.
25. Sunnah duduk di atas kaki kiri supaya mudah keluar kotoran.
26. Dan masih banyak lagi adab-adab yang lain terdapat dalam kitab-kitab mu’tabar.

Referensi : Kitab Fathul Mui’n Juz 1 hal. 110-111 Dan Kitab Fathul Qarib Juz 1 hal 60-66 (Haramain).



Fungsi Ilmu


Ilmu pengetahuan merupakan salah satu sarana bagi kita umat manusia untuk bisa menjalani kehidupan di permukaan bumi ini. Ilmu pengetahuan ditinjau dari kegunaannya terbagi dua, ada yang berguna hanya di dunia saja, dan ada ilmu selain berguna di dunia juga bermanfa’at di kehidupan selanjutnya yaitu negeri akhirat yang kekal.


Nah, oleh karena itu perlu bagi kita untuk mempelajari apa saja yang berkaitan dengan cara kita menjalani kehidupan atau dalam istilah dayah dikatakan dengan ilmu hal, baik ilmu hal tersebut berdasarkan berdasarkan pembagian ilmu yang pertama atau pun yang kedua yaitu ilmu yang menuntun kita ke tujuan yang sebenarnya.

Namun dalam hal ini, perlu kita ketahui bahwa ilmu yang kita butuhkan sebagai bekal untuk pulang ke negeri yang kekal mesti tetap dalam hati kita masing-masing agar dapat kita amalkan dengan tulus dan ikhlas. Karena ilmu agama hanya akan bertempat dan tetap di dalam hati yang kosong dari keburukan, karena hati yang kosong dari sifat tercela dan kehinaan akan memudahkan proses masuk dan menetapnya ilmu dalam hati seseorang. Maka sepintar apapun seseorang jika dalam hatinya dipenuhi dengan kebencian dan sifat-sifat tercela, tidak akan bersarang dan akan mudah hilang ilmu agama dari hatinya.

Referensi: Kitab Al-Jauhar Al-Maknun, Cetakan Al-Haramain, Halaman 11:

انّ العلم لا يستقرّ ولا يثبت الاّ في القلب تخلى عن الرذائل لمصادفته قلب خاليّا فيتمكّن, فانّ الحكمة اذا لم تجد القلب كذالك فانّها ترجع من حيث اتتْ.


Bolehkah Mengambil Upah Mengaji Al-Quran ?

Deskripsi Masalah:

Salah satu kebiasaan Nahdhiyyin ketika saudaranya meninggal adalah membaca al-Quran di kuburan, orang yang membacanya biasanya adalah orang yang berasal bukan dari sanak famili, sehingga diberikan sedikit upah sebagai imbalan kepadanya.

Pertanyaan:

Hukum mengupah orang yang mengaji maqbarah(kuburan) bolehkah? dan bolehkah mengambil ongkos ?

Jawab:

Hukum mengaji di kuburan boleh,dan berhak mengambil ujrah(ongkos)

Dalam kitab ia'natuttalibin menguraikan seseorang yang menyewa orang lain maka orang tersebut berhak mendapatkan ongkos dari orang yang disewa apabila pekerjaan tersebut ada kepayahan untuk melakukannya,sebagaimana orang yang menyewa seseorang untuk belajar ilmu agama dan mengajar Al-Qur'an baik seluruhnya atau sebagiannya, karena hadits:

 ان احق ما اخذتم اجرا كتاب الله

dan hadis boleh qiraah qur'an di kubur:

عن ابن عباس رضي الله عنه قال:ضرب بعض أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم خباءه على قبر وهو لا يحسب أنه قبر,فإذا فيه إنسان يقرأ سورة الملك حتى ختمها.فأتى النبي صلي الله عليه وسلم فأخبره,فقال رسول الله صلي الله عليه وسلم:"هي المانعة,هي المنجية,تنجيه من عذاب القبر".(رواه الترميذى وحسنه).

Nah pada permasalahan mengaji di kuburan biasanya dilakukan dalam masa 7 hari/malam atau kurang dari 7 hari yang pastinya ada kepayahan dan kelelahan maka lebih layak untuk menerima ujrah , namun menyewa / mengupah seseorang untuk membaca alqur'an yang pahala dihadiah pada orang yang meninggal hukumnya sah dan orang yang disewa berhaq mendapatkan upah / ongkos. bila memenuhi salah satu diantara 4 :

  1. Dibaca di samping kuburannya
  2. Tidak dibaca di samping kuburan akan tetapi disertai do'a setelah membacanya bahwa pahalanya dihadiahkan pada mayit tersebut.
  3. Dibaca di samping orang yang menyewa
  4. Atau dibaca serta disebut / diniatkan dalam hati. :


.قال شيخنا في شرح المنهاج يصح الإستئجار لقرأة القرأن عند القبر أو مع الدعاء بمثل ما حصل له من الأجر له أو لغيره عقبها عين زمانا أو مكانا أولا ونية الثواب له من غير دعاء له لغو خلافا لجمع أى قالوا أنه ليس بلغو فعليه تصح الإجارة ويستحق الأجرة وان اختار السبكي ما قالوه عبارة شرح الروض بعد كلام قال السبكي تبعا لابن الرفعة بعد حمله كلامهم على ما اذا نوى القارئ أن يكون ثواب قرأته للميت بغير دعاء على أن الذي دل عليه الخبر بالإستنباط أن بعض القرأن اذا قصد به نفع الميت نفعه إذ قد ثبت أن القارئ لما قصد بقرأته الملدوع نفعه.حاصل ما ذكره أربع صور إن كان قوله الأتي ومع ذكره في القلب صورة مستقلة وهي القرأة عند القبر والقرأة لا عنده لكن مع الدعاء عقبها والقرأة بحضرة المستأجر والقرأة مع ذكره في القلب وخرج بذلك القرأة لا مع أحد هذه الأربعة فلا يصح الإستئجار لها.إعانة الطالبين ٣/١١٢-١١٣

donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja