Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Rasulullah SAW Menegah Dirinya Dari 3 Hal

Diutusnya Rasulullah SAW ke muka bumi membawa risalah paling utama, yakni Menyempurnakan akhlak manusia hal ini sesuai dengan hadist :


" إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق"

Hanyasanya aku diutuskun untuk menyempurnakan akhlak manusia”

Dalam hadist ini jelas yang bahwa inti dari diutusnya Rasulllah SAW untuk memperbaiki akhlak manusia, sehingga sang penyempurna akhlak itupun memiliki akhlak yang terpuji. Termasuk diantara akhlak Rasul sebagaimana tertera dalam hadist yang terdapat dalam kitab Syamail Muhammadiyah Rasulullah menegah dirinya dari melakukan 3 hal:

1. Berdebat (Al Mira’)

Rasulullah SAW meninggalkan perdebatan walau itu dalam hal kebenaran, dalam satu hadist disebutkan :

“Orang yang meninggalkan perdebatan akan disiapkan satu rumah disurga nantinya”

Di dalam kesempatan belajar sesudah subuh tadi (12 Muharram 1441 H), Abi MUDI menjelaskan banyak para Habaib yang tidak ingin berdebat secara lansung, hal ini karena mereka mengikuti akhlak mulia kakek mereka Baginda Rasulullah SAW. Walaupun mereka yang mau megikuti debat juga ada alasan tersendiri.

2. Memperbanyak (al Iktsar)

Al iktsar yang dimaksudkan disini adalah Nabi tidak mempoerbanyak terhadap harta dan kalam, sehingga Rasulullah tidak berkalam kecuali kalam itu kalam yang bermanfaat. Dalam masalah harta pun demikian, sehingga pernah disaat datang orang membawa buah mentimun kepada Rasul, Rasul memberikan segenggam emas kepadanya. Para muhibbin, disini dapat dilihat yang bahwa diri Rasulullah tidak terikat dengan harta apalagi ingin memiliki harta yang banyak.

3. Meninggalkan hal tak penting (Taraka Ma la Ya’nih)

Meninggalkan yang penting yang dimaksudkan disini adalah meninggalkan urusan yang tidak penting dalam agama dan dunia. Di dalam satu hadist Rasulullah SAW bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ

“Di antara tanda kebaikan keIslaman seseorang: jika dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (Hadits hasan, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 2318)

Banyak sekali akhlak mulia dari baginda Rasulullah SAW yang belum diteladani, Semoga dengan pertolongan Allah, Rasulullah bisa dijadikan suri tauladan kita semua. Amin
                                                                   
                                                                             
                                                                                                Lbm.mudimesra.com



Pembahasan Lafadh إنما

Di dalam sebuah hadist yang sudah tidak asing lagi bagi semua kalangan. Hadist ini bisa didapatkan didalam kitab Shahih Bukhari, Shahih muslim dan kitab sunan yang empat yang berbunyi (إنما الأعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ) ternyata memiliki pembahasan yang unik dan keren pada lafadh ( إنما ) yang perlu kita pahami dan mengetahuinya antara lain adalah :

1. Imam Nawawi mengutip  pendapat dari pada para ulama mutaqaddimin yang mengatakan [1]   yang bahwa lafal tersebut ( إنما ) pemakaianya iuntuk hasar. Bahkan menurut riwayat dari syaikh Yasin al-fadani mengatakan bahwa pendapat yang kuat dari para ulama menyebutkan lafadh tersebut ( إنما ) memang penciptaanya ( موضوعة ) untuk pemaham hasar.

2. Menurut imam Karmani, Imam Barmawi dan abu Zar’ah mengatakan sepakat para ulama kepada susunan dari lafadh tersebut ( إنما  ) memang berfaidah kepada hasar. Akan tetapi yang menjadi perselisihan pendapat para ulama adalah pada cara lafadh itu ( إنما ) menghasarkan suatu kalam. Sehingga timbul beberapa pendapat, yaitu :
1) Sebahagian ulama berkata dari mantuk lafal tersebut menunjukkan kepada hasar.
2) Sebahagian lain berpendapat bukan dari mantuknya lafal, akan tetapi dari mafum lafalnya yang menunjukkan kepada hasar.

3) Dan yang lain berkata karena dari segi umum mubtada dan khusus khabar yang menjadi sebab lafal ini ( إنما ) berfungsi kepada hasar.

قال الكرمانى والبرماوى وأبو زرعة : التركيب مفيدللحصر باتفاق المحققين وإنما اختلف في وجه الحصر فقيل دلالة إنما عليه بالمنطوق أو المفهوم على الخلاف المعروف .

Sumber : kitab Al-fawaidul Janiah Hasyiyah Al-mawahibul As-saniyah, hal:112 Cet-Dar’ Rasyad )


[1] Kitab Albustani imam Nawawi.


Mubah Dapat Menghilangkan Sifat ‘Adil

Mubah adalah perbuatan yang boleh dilakukan dan ditinggalkan dalam artian  tidak berdosa dengan melakukan dan meninggalkannya. Namun ada beberapa perbuatan mubah apabila salah dalam melakukannya bisa berefek kepada hilangnya sifat adil dari seseorang dan juga berdosa. Berikut ini adalah beberapa perbuatan mubah yang dapat menghilangkan ‘adalah yang kami kutip dari kitab Hasyiah Al Bajuri 'ala Ibnu qasim Al-Ghazi:

1. Mencium istrinya ditempat yang ada manusia 
2. Mencium ‘ammah (budak perempuan) ditempat ada manusia. 
3. Memanjangkan kaki disisi orang yg dihormati. 
4. Memanjangkan kaki disisi orang tua. 
5. Memperbanyak hikayah (cerita) yang dapat menertawakan manusia 

- Hasyiah Al-Bajuri  Juz 2 Hal 350 Cet Haramain

Batas kekayaan yang mewajibkan haji


Air Musta’mal

Didalam ilmu fiqh pada bab thaharah biasanya menjelaskan tentang tata cara bersuci dan alat-alat yang bisa digunakan untuk bersuci, seperti air pada pembahasan wudhu’ dan debu pada tayamum. Pada pembahasan air pasti tidak luput dari pembahas yang  salah satunya ialah air yang musta’mal yang merupakan air yang suci akan tetapi tidak bisa digunakan untuk bersuci. Oleh karena itu, disini akan diuraikan sedikit tentang bagaimana air itu dikatagorikan sebagai air Musta’mal.

Syarat-syarat air suci menyucikan beralih namanya menjadi air musta’mal :

1. Air yang sedikit, yaitu air yang tidak mencapai dua qullatain atau sekitar 216 liter.
2. Air telah digunakan kepada hal yang sangat di perlukan, seperti berwuzuk dan mandi wajib.
3. Air yang telah terpisah dari anggota yang wajib di basuh bila pada wuzuk dan seluruh anggota badan pada surah mandi wajib.
4. Ketika memasukkan tangan kedalam air yang sedikit tidak meniatkan iqtiraf[1]


- Hasyiyah I'annatut Thalibin, Juz 1, Hal 28-29, Cet Haramain

واعلم أن شروط الاستعمال أربعة، تعلم من كلامه: قلة الماء واستعماله فيما لا بد منه، وأن ينفصل عن العضو، وعدم نية الاغتراف في محلها وهو في الغسل بعد نيته، وعند مماسة الماء لشئ من بدنه.
أما إذا نوى الاغتراف، أي قصد إخراج الماء من الإناء ليرفع به الحدث خارجه، فلا يصير الماء مستعملا.
ونية الاغتراف محلها قبل مماسة الماء فلا يعتد بها بعدها.


[1]  Iqtiraf ialah ketika memasukkan tangan kedalam air yang sedikit mengkasad/bertujuan untuk mengeluarkan air dari bejana dan melakukan proses bersuci diluar bejana bukan didalamnya.  


Puasa Hari Jumat

Deskripsi Masalah:

Berpuasa sama dengan sesorang telah menjaga hawa nafsunya,  banyak melakukan puasa akan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dalam Islam diperbolehkan berpuasa dihari apa saja selain hari-hari yang telah diharamkan Syara’ yaitu dihari pertama lebaran baik puasa atau haji dan 3 hari Tasyriq sesudah idul adha. Namun walaupun demikian terkadang ada juga hari yang hukumnya makhruh melakukan puasa dihari tersebut.

Pertanyaan:

Bagaimana hukum berpuasa dihari Jum’at

Jawaban:

Berpuasa dihari jum’at Hukumnya makruh bila puasa yang kita laksanakan itu :

- Puasa sunnah, bila puasa wajib baik qada nazar dan lainnya tidak dimakruhkan.
- Puasa yang dilakukan secara terasing, bila diringi dengan satu hari sebelumnya atau dengan hari sesudahnya tidak dimakruhkan

- Al-Mahalli juz 2 Hal 94 Cet, Haramain

(ويكره إفراد الجمعة وإفراد السبت) بالصوم قال - صلى الله عليه وسلم -: «لا يصوم أحدكم يوم الجمعة إلا أن يصوم قبله أو يصوم بعده» رواه الشيخان وقال: لا تصوموا يوم السبت إلا فيما افترض عليكم. رواه أصحاب السنن الأربعة وحسنه الترمذي وصححه الحاكم على شرط الشيخين.


Keajaiban Shalat Jama'ah

Imam al-Manawi berkata : Di antara hikmah disyariatkan shalat jama’ah adalah :
  1. Tercipta keakraban di antara sesama jama’ah. Oleh karena itu, anjuran utama pelaksanaan shalat jama’ah adalah dimesjid, hal ini dimaksudkan supaya tercipta persatuan sesama tetangga karena berjumpa disetiap waktu shalat.
  2. Supaya orang awam dapat belajar berbagai macam hukum jama’ah dari orang alim, karena status manusia berbeda-beda dalam hal ibadah. Karena shalat dikerjakan secara berjama’ah, maka keberkahan orang yang sempurna ibadah dapat mengalir kepada orang awam. 
Banyak hadits-hadits yang menerangkan kelebihan shalat jama’ah, di antaranya :

وقد ورد في فضلها أحاديث كثيرة، منها: الخبر المتفق عليه الآتي، ومنها: ما رواه الطبراني عن أنس: « من مشى إلى صلاة مكتوبة في الجماعة فهي حجة، ومن مشى إلى صلاة تطوع فهي مرة تافلة «

Diriwayatkan dari Imam Tabrani dari Shahabat Anas : “Barang siapa yang berjalan untuk menunaikan shalat fardhu secara berjama’ah, maka shalat tersebut diberi ganjaran sama seperti haji dan barang siapa yang melakukan shalat sunat secara berjama’ah maka ia akan mendapat pahala seperti melakukan umrah sunat” (HR. Tabrani dari Anas).

ومنها: ما رواه الترمذي عن أنس أيضا: « من صلى أربعين يوما في جماعة يدرك الكبيرة الأولى كتب له براهتان: براءة من النار، وبراءة من النفاق ».

Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Shahabat Anas : “Barang siapa yang shalat berjamaah selama 40 hari dan mendapat takbiratul pertama, maka ia dipastikan mendapat 2 kebebasan, yakni kebebasan dari neraka dan kebebasan dari kemunafikan” (HR. Tirmidzi dari Anas).

وفي المنح السنية على الوصية المتبولية للقطب الشعراني ما نصه: وقد كان السلف يعدون فوات صلاة الجماعة مصيبة. وقد وقع أن بعضهم خرج إلى حائط له يعني حديقة نخل فرجع وقد صلی الناس صلاة العصر، فقال: إنا لله، فانني صلاة الجماعة، أشهدكم على أن حائطى على المساكين صدقة.

Dalam kitab al-Minah as-Saniyyah ‘Ala al-Washiyyah al-Matbuliyyah disebutkan : “Ulama salaf menganggap luput shalat jama’ah sebagai musibah. Dahulu kala, ada sekelompok ulama pergi ke kebun kurma. Ketika kembali, mereka mendapati shalat jama’ah ashar sudah selesai dilaksanakan dan mereka tidak sempat mengikutinya. Lalu mereka berkata : “Inna lillahi, sungguh aku telah luput dari shalat jama’ah. Sekarang aku bersaksi kepada kalian semua bahwa kebun kurma milikku aku sedekahkan semuanya kepada orang miskin.””

. وفانت عبد الله بن عمر رضي الله عنهما صلاة العشاء في الجماعة، فصلى تلك الليلة حتى طلع الفجر جبرا لما فاته من صلاة العشاء في الجماعة.

“Suatu ketika, Sayyidina Abdullah bin Umar pernah tertinggal shalat jama’ah isya’, lalu beliau shalat sepanjang malam untuk menebus jama’ah isya’ yang beliau tinggalkan.”

Syeikh Ubaidillah bin Umar al-Qawaririy Rahimahullah berkata : “Selama ini aku tidak pernah meninggalkan shalat jama’ah. Hingga suatu ketika rumahku kedatangan tamu. Karena sibuk melayani tamu yang datang, aku terlambat melakukan shalat jama’ah isya’ di mesjid. Lalu aku bergegas keluar untuk berjama’ah. Ketika tiba di mesjid, ternyata shalat jama’ah telah selesai dikerjakan dan pintu mesjid telah dikunci. Lalu aku kembali kerumah dengan perasaan sedih. Aku teringat sebuah hadits yang menerangkan kelebihan shalat jama’ah, yaitu “Shalat berjama’ah lebih utama 27 derajat daripada shalat sendirian”. Kemudian aku shalat isya’ 27 kali sampai tertidur. Dalam tidur aku bermimpi sedang menunggangi kuda bersama sekelompok kaum. Mereka berada didepanku dan aku memacu kudaku untuk mengejar mereka tetapi tidak berhasil. Lalu aku menoleh kepada salah seorang dari mereka dan dia berkata : “Kamu tidak akan sanggup mengejar kami. Usahamu hanya membuat kudamu kelelahan. Aku menyahut, kenapa wahai saudaraku ? ia menjawab : “Karena kami shalat isya’ secara berjama’ah, sedangkan engkau shalat sendirian. Lalu aku terbangun dan merasakan kesedihan yang luar biasa”.

وقال بعض السلف: ما فاتت أحدا صلاة الجماعة إلا بذنب أصابه.

Sebagian ulama salaf berkata : “Seseorang tidak akan pernah meninggalkan shalat jama’ah kecuali karena suatu dosa yang telah dilakukannya”.

وقد كانوا يعزون أنفسهم سبعة أيام إذا فاتت أحدهم صلاة الجماعة وقيل: ركعة، ويعزون أنفسهم ثلاثة أيام إذا فاتهم التكبيرة الأولى مع الإمام، فاعلم ذلك يا أخي. اه.

Mereka akan berduka selama 7 hari bila luput sekali shalat jama’ah. Dikatakan : Jika luput satu raka’at. Dan berduka selama 3 hari bila tidak sempat mengikuti takbiratul ihram beserta imam. Renungilah nasehat ini wahai saudaraku.(fm)

Diterjemahkan dari kitab I’anatutthalibin Juz 2 Hal 5-6.



Legalitas Jadwal Imsak Pada Bulan Ramadhan

Salah satu pertanyaan yang sering muncul dalam masyarakat selama bulan ramadhan adalah tentang masalah imsak. Pertama mengenai legalitas, artinya apakah imsak menjadi bagian dari syariat atau hanya ciptaan para ulama semata? Kedua, tentang kapan persis waktunya?

Untuk menjawab beberapa pertanyaan diatas, berikut kami kutip fatwa Sayyid ‘Allamah Abdullah bin Mahfudh bin Muhammad al-Haddad al-‘Alawi dalam kitab al-Wajiz fi Ahkam as-Shiyam.

Pada dasarnya, seseorang berpuasa boleh makan dan melakukan hal lain pada waktu malam sampai terbit fajar. Namun, dalam selebaran jadwal waktu shalat yang biasanya banyak dibagikan gratis selama bulan Ramadhan di Indonesia, ditetapkan sebuah waktu khusus yang tidak ada di bulan-bulan lain. Waktu tersebut disebut “waktu imsak”. Waktu imsak ini ditetapkan beberapa menit sebelum waktu shalat subuh (waktu fajar). Menyikapi masalah ini, untuk alasan ihtiyadh atau kehati-hatian sudah sepatutnya kita mengindahkan seruan imsak tersebut.

Dalam al-Qur’an, Allah Swt menyebutkan :تلك حدود الله فلا تقربوها

Ayat ini mengindikasikan bahwa Allah membuat batas yang harus dijaga antara malam dan fajar. Maka selayaknya bagi orang puasa untuk menjaga batasan tersebut.

Berdasarkan survei yang kami lihat pada kebanyakan jadwal imsakiyah, tenggang waktu antara imsak dan azan subuh berkumandang adalah sekitar 5 menit, maka sepatutnya seorang menjaga tenggang waktu tersebut untuk tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Karena orang-orang yang terus makan sampai azan subuh berkumandang mereka adalah orang yang tidak menjungjung tinggi perintah Allah untuk menjauhi dan tidak mendekati batasan tersebut.

Adapun tentang hadits yang seolah-olah bertentangan dengan anjuran al-Qur’an diatas maka dipertanggungkan kepada 2 hal, yaitu azan yang pertama dan karena fajar berubah-ubah setiap hari. Maka waktu imsak juga ikut berubah. Jadi, bersungguh-sungguhlah untuk mengetahui tentang seluk beluk fajar dan bersikap hati-hatilah dengan mengambil imsak sesaat sebelumnya. Wallahu a’lam

Maksiat Dan Tidur Subuh Penyebab Fakir

Sungguh dosa yang dikerjakan adalah penyebab tertegah rezeki, lebih-lebih dosa yang dikerjakan adalah berbohong. Berbohong sangat berdampak besar bagi seseorang menjadi fakir.

Secara umum, dosa berefek kepada terhambatnya rezeki. Khusus pada berbohong tidak berefek pada terhambatnya rezeki saja, bahkan sampai bisa membuat seseorang jatuh miskin. Hal ini terbukti, dengan seseorang yang menipu orang lain di seluruh kehidupannya akhirnya ia akan terjatuh.
Orang yang bermodal bohong dalam mencari uang tidak lama kemudian ia akan jatuh miskin dan tidak memiliki apapun lagi. Khusus pada berbohong dapat berefek miskin ini ada hadist yang khusus.
Begitu juga tidur subuh dapat menghambat rezeki. Karena itu harus bangun di waktu subuh, walaupun dalam keadaan capek sekali.

Ini harus benar-benar dijaga. Apa lagi bagi seorang penuntut ilmu. Sedang belajar jangan sampai banyak penghambat rezeki. Jangan sampai seorang pelajar yang masih dalam perjalanan menuntut ilmu agama mesti menjadi buruh pada orang lain.

Banyak tidur juga dapat memberi dampak buruk seseorang menjadi miskin. Malam tidur, siang juga tidur, itu perbuatan yang tidak baik. Banyak tidur juga dapat menjadi penyebab miskinnya ilmu. Artinya, dua efek buruk sekaligus didapatkan sebab banyak tidur.
Berkatalah orang yang berkata “Kesenangan manusia itu pada memakai pakaian, dan mengumpulkan ilmu dengan kurang tidur.”

*Dikutip dari isi pengajian Ta`lim Muta'alim bersama Waled Tarmizi Al Yusufi


Kalimat Tauhid Dalam Al-Quran

Kalimat Lailahaillah atau kalimat tauhid merupakan kalimat agung yang diberikan pahala yang banyak bagi setiap yang menggerakkan lisannya dengan kalimat ini. Kalimat yang akan mendapat syafa'at dari baginda Rasulullah SAW bagi setiap pengamalnya dengan penuh keikhlasan, dan merupakan kunci surga ini banyak disebutkan dalam kitab suci Al Quranul Karim. Hal ini seperti perkataan Syaikh Fakhrurrazi didalam kitab Tanqihul qauli yang bahwasanya kalimat (لا إله إلاّ الله), di dalam Alquran pada 30 tempat. 

Terdapat dalam Surah al-baqarah ada 2, ali imran ada 4, annisa 1, al an'am ada 2, ar ra’du ada 1, thaha 3, al mukminin 1, qisasa 2, shafat 1, al mukmin 3, Muhammad 1, thaqabun 1, al a’raf 1, at taubah 2, yunus 1, hud 1, nahlu 1, al ambiya 2, namlu 1, fatir 1, zumar 1, dukhan 1, hasyir 2, muzammil 1.

 - Tanqihul Qauli Hal 3 Cet Haramain 


Perbedaan lafadh الشاذ , النادر dan الضعيف

Didalam kitab Klasik sering kita jumpai ketiga kalimat ini yaitu Syazd, Nadir dan Dhaif. Ketiganya hampir memilki substansi makna yang sama. Namun perlu diketahui  bahwa ketiganya  walaupun hampir memiliki makna ynag berdekatan akan tetapi terdapat perbedaan tersendiri. Berikut adalah perbedaan yang kami kutib dari kitab Syarh Al-Mathlub:

الشاذ هو الذي يكون وقوعه كثيرًا لكن مخالف للقياس

Syadz adalah sesuatu (kalimat) yang banyak di perdapatkan pada kalam akan tetapi sebalik (tidak sesuai) dengan Qias (undang-undang).

النادر هو الذي يكون وقوغه قليلا لكن على القياس

Nadir adalah sesuatu/kalimat yang sedikit di perdapatkan akan tetapi sesuai dengan qias.

الضعيف هو الذي لم يصل حكمه إلى الثبوت

Dhaif adalah sesuatu yang hukumnya tidak sampai kepada sebut. 

Referensi:  Syarah al Mathlub hal 14 


donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja