Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Maksiat Dan Tidur Subuh Penyebab Fakir

Sungguh dosa yang dikerjakan adalah penyebab tertegah rezeki, lebih-lebih dosa yang dikerjakan adalah berbohong. Berbohong sangat berdampak besar bagi seseorang menjadi fakir.

Secara umum, dosa berefek kepada terhambatnya rezeki. Khusus pada berbohong tidak berefek pada terhambatnya rezeki saja, bahkan sampai bisa membuat seseorang jatuh miskin. Hal ini terbukti, dengan seseorang yang menipu orang lain di seluruh kehidupannya akhirnya ia akan terjatuh.
Orang yang bermodal bohong dalam mencari uang tidak lama kemudian ia akan jatuh miskin dan tidak memiliki apapun lagi. Khusus pada berbohong dapat berefek miskin ini ada hadist yang khusus.
Begitu juga tidur subuh dapat menghambat rezeki. Karena itu harus bangun di waktu subuh, walaupun dalam keadaan capek sekali.

Ini harus benar-benar dijaga. Apa lagi bagi seorang penuntut ilmu. Sedang belajar jangan sampai banyak penghambat rezeki. Jangan sampai seorang pelajar yang masih dalam perjalanan menuntut ilmu agama mesti menjadi buruh pada orang lain.

Banyak tidur juga dapat memberi dampak buruk seseorang menjadi miskin. Malam tidur, siang juga tidur, itu perbuatan yang tidak baik. Banyak tidur juga dapat menjadi penyebab miskinnya ilmu. Artinya, dua efek buruk sekaligus didapatkan sebab banyak tidur.
Berkatalah orang yang berkata “Kesenangan manusia itu pada memakai pakaian, dan mengumpulkan ilmu dengan kurang tidur.”

*Dikutip dari isi pengajian Ta`lim Muta'alim bersama Waled Tarmizi Al Yusufi


Kalimat Tauhid Dalam Al-Quran

Kalimat Lailahaillah atau kalimat tauhid merupakan kalimat agung yang diberikan pahala yang banyak bagi setiap yang menggerakkan lisannya dengan kalimat ini. Kalimat yang akan mendapat syafa'at dari baginda Rasulullah SAW bagi setiap pengamalnya dengan penuh keikhlasan, dan merupakan kunci surga ini banyak disebutkan dalam kitab suci Al Quranul Karim. Hal ini seperti perkataan Syaikh Fakhrurrazi didalam kitab Tanqihul qauli yang bahwasanya kalimat (لا إله إلاّ الله), di dalam Alquran pada 30 tempat. 

Terdapat dalam Surah al-baqarah ada 2, ali imran ada 4, annisa 1, al an'am ada 2, ar ra’du ada 1, thaha 3, al mukminin 1, qisasa 2, shafat 1, al mukmin 3, Muhammad 1, thaqabun 1, al a’raf 1, at taubah 2, yunus 1, hud 1, nahlu 1, al ambiya 2, namlu 1, fatir 1, zumar 1, dukhan 1, hasyir 2, muzammil 1.

 - Tanqihul Qauli Hal 3 Cet Haramain 


Perbedaan lafadh الشاذ , النادر dan الضعيف

Didalam kitab Klasik sering kita jumpai ketiga kalimat ini yaitu Syazd, Nadir dan Dhaif. Ketiganya hampir memilki substansi makna yang sama. Namun perlu diketahui  bahwa ketiganya  walaupun hampir memiliki makna ynag berdekatan akan tetapi terdapat perbedaan tersendiri. Berikut adalah perbedaan yang kami kutib dari kitab Syarh Al-Mathlub:

الشاذ هو الذي يكون وقوعه كثيرًا لكن مخالف للقياس

Syadz adalah sesuatu (kalimat) yang banyak di perdapatkan pada kalam akan tetapi sebalik (tidak sesuai) dengan Qias (undang-undang).

النادر هو الذي يكون وقوغه قليلا لكن على القياس

Nadir adalah sesuatu/kalimat yang sedikit di perdapatkan akan tetapi sesuai dengan qias.

الضعيف هو الذي لم يصل حكمه إلى الثبوت

Dhaif adalah sesuatu yang hukumnya tidak sampai kepada sebut. 

Referensi:  Syarah al Mathlub hal 14 


Wajibkah Menyegera Mandi Janabah?

Deskripsi Masalah:

Setiap yang berhadas besar diwajibkan untuk mandi rafa' hadas, hal ini karena salah satu syarat ibadat seperti shalat disyaratkan bersih dari hadas besar dan kecil. Namun karena faktor malas atau lainnya terkadang  seseorang sering memperlambat untuk mandi janabah. Tak jarang pula yang sampai keluar waktu shalat karena keterlambatannya itu.

Pertanyaan:

Bagaimanakah hukum memperlambat mandi junub dan apakah mandi wajib itu harus disegerakan?

Jawaban:

Hukum asal mandi wajib  tidak wajib disegerakan. Namun wajib disegerakan jika waktu shalat sudah sempit, Dalam kondisi ini kewajiban menyegera mandi  itu bukan karena mandinya akan  tetapi karena kewajiban mengerjakan shalat dalam waktunya.

- I'anah at-Thalibin Juz 1 Hal 86 Cet, Darl Fikr 

و) الطهارة (الثانية الغسل) هو لغة سيلان الماء على الشيء وشرعا سيلانه على جميع البدن بالنية ولا يجب فورا وان عصى بسببه) 
بخلاف نجس عصى بسببه  (قوله ولا يجب فورا) اى ولا يجب الغسل على الفور والمراد أصالة فلا يرد ما لو ضاق وقت الصلاة عقب الجنابة او انقطاع الحيض فانه يجب فورا لا لذاته بل لإيقاع الصلاة فى وقتهاv


Anjuran Bersikap Zuhud (Abu Mudi) Simak di Link :


Bolehkah Mengajari Al-Quran Terhadap Anak Non Muslim?

Deskripsi Masalah:

Dalam kehidupan yang serba keberagaman, sosial menjadi salah satu hal yang harus diprioritaskan demi menjaga kerukunan dalam beragama, budaya kunjung mengunjung antara dua orang beda agama pun akrab terjadi.  Tak sebatas orang tua, anak-anak non Muslim pun dalam kesehariannya terkandang sering main kerumah disaat anak muslim sedang belajar Al quran.

Pertanyaan:

Apakah boleh terhadap guru atau orang tua dari anak yang Muslim mengajarkan kepada anak Non Muslim ?

Jawaban:

Berkata Ashab dari Imam As-syafi'i : Jangan ditegah orang kafir untuk mendengar bacaan Al-Quran yang ditegah itu jika mereka menyentuh Al-Quran. Adapun tentang kebolehan mengajari Al Quran kepada mereka terdapat rincian sebagai berikut:

Jika diharapkan anak tersebut masuk islam maka boleh mengajarinya Al-Quran
Jika tidak diharapkan masuk islam maka tidak diperbolehkan mengajarinya.

- Majmu' Syarah Muhazzab Juz 2 Hal 71 Cet, Darl Fikr

قال أصحابنا : لا يمنع الكافر سماع القرآن ، ويمنع مس المصحف ، وهل يجوز تعليمه القرآن؟ ينظر إن لم يرج إسلامه لم يجز ، وإن رجي جاز في أصح الوجهين ، وبه قطع القاضي حسين ، ورجحه البغوي وغيره ، والثاني : لا يجوز ، كما لا يجوز بيعه المصحف وإن رجي إسلامه . قال البغوي : وحيث رآه معاندا لا يجوز تعليمه بحال ، وهل يمنع التعليم؟ فيه وجهان حكاهما المتولي والروياني . هما أصحهما يمنع


Al Quran Qadim atau makhluk?
Simak penjelasan Abu MUDI di Link b

https://www.youtube.com/watch?v=esp3bGTG3aw


Fatawa Ulama: Hukum Menundukkan Badan dan Bertumpu Untuk Membantu Berdiri Dari Duduk Istirahat Atau Tasyyahud Awwal

Deskripsi Masalah:

Salah satu masalah yang terjadi kontroversial dalam masyarakat adalah kelakuan  orang yang membungkuk dan bertumpu didepan lutut untuk membantu berdiri dari duduk istirahat atau tasyahhud awwal, kondisi ini menyerupai ruku' bagi orang shalat sambil duduk. Sebagian kalangan mempermasalahkan hal ini dan menganggap bisa membatalkan shalat dengan alasan menambah rukun.

Pertanyaan:

Bagaimanakah hukum sebenarnya dari masalah ini??

Jawaban : 

Sebelumnya harus diketahui bahwa bertumpu didepan lutut untuk membantu berdiri dari duduk hukumnya sunnah. Bertumpu seperti ini tidak membatalkan shalat, walaupun sekilas terlihat seperti ruku' bagi orang yang shalat sambil duduk. Karena yang membatalkan shalat adalah menambah rukun, sedangkan kondisi seperti ini tidak menyerupai rukun apapun bagi orang shalat sambil berdiri. Membungkukkan badan hanya dapat membatalkan shalat bila dilakukan oleh orang shalat sambil duduk.

- Fatawa Bin Hamid, Karangan Syeikh Muhammad Bin Hamid Bin Umar Bin Muhammad Bin Saqqaf As-Saqqafi Ash-Shafi, Hal 254-255


لو أراد القيام من جلسة الاستراحة اعتمد على يديه أمامه

مسأله : وما قولكم فيمن أراد القيام من جلسة الاستراحة أو التشهد فاعتمد على يديه من جهة أمامه بحيث صار کراکع من قعود فهل تبطل صلاته أم لا ؟ فإني قد رأيت كثيرة من طلبة العلم إذا أراد القيام بماذكر اعتمد على يديه من جانبيه أو تكلف الاعتماد عليها من أمامه لكن بين فخذيه، وكأنه  فرار من أن يكون كهيئة الرائع من الجلوس التي نبه عليها ابن حجر في «التحفة» فبينوا لنا ما فيها في هذا المقام لا زلتم نفعا للخاص والعام.
الجواب : أن الصلاة لا تبطل والحال ما ذكر من اعتماد المصلي مع قيامه من نحو جلوس تشهد على يديه وإن صار کراکع من جلوس؛ لأن الاعتماد على بطن راحتيه وأصابعها مع قيامه مما ذكر بتلك الهيئة من جعله يديه أمام ركبتيه سنة له ، وليس من السنة اعتماده على ظهور الأصابع وحرف الكف؛ بأن يقبضها كعاجن دقيق، ومن قال يقوم کعاجن بالنون - فالمراد بذلك التشبيه هو مثله في أصل الاعتماد من الانحناء من الأمام كهيئة العاجن لا في صفته من ضم أصابعه كما في «التحفة» من نفي اعتبار الصفة المذكورة فقط ، والدليل والعلة هما قول «التحفة» : (لأنه أعون
وأشبه بالتواضع مع ثبوته عنه ) وجعل اليدين بالجانبين أو بين الركبتين ينافي طرفي العلة المذكورة
وأما الهيئة التي بحثها ابن حجر وجعلها من مبطلات الصلاة لكونها من نوع زيادة ركن فيها حيث قال : (ومنه أن ينحني الجالس إلى أن تحاذي جبهته ما أمام ركبتيه ولو لتحصیل تورکه او افتراشه المندوب ... إلخ).. فهي كما لا يخفى في غير ما إذا كان لقيام وغير ما شرع له . على أنهم اغتفروا الجلوس القصير بعد الهوي من الاعتدال، وعللوا بأنه معهود وبذلك تعرف أن ما هنا أولى من ذلك لذلك، بل عملهم في الاعتياد بها ذكر في النهوض من السجود کالصريح فيما ذكرته؛ للعلم بندب وضع اليدين محاذيين للمنكبين في السجود ويقوم منه كذلك ، ولم نر أحدة عند القيام ينحيها إلى الجانبين، بل لم نر أحدة من يقتدى به يعمل بها ذكرت في سؤالك .
ثم إنك قد علمت ما مر حمل من قال : يقوم کالعاجن - بالنون لا الزاي - على اعتبار أصل الاعتماد لا صفته ، فلا تغفل والله أع

Simak Pengajian TASTAFI bersama Abu MUDI:




Hukum Khatib Mengangkat Tangan Ketika Doa Khutbah

Deskripsi masalah :

Para ulama sepakat bahwa salah satu adab dalam berdo’a adalah mengangkat dua tangan, namun perlu di ketahui bahwa tidak selamanya dalam berdoa harus demikian. Sebab , dalam beberapa kondisi  Rasulullah SAW menganjurkan berdo’a  dengan hal yang berbeda dengan sebelumnya seperti ketika dalam berkhutbah.

Pertanyaan :

Bagaimana hukum mengangkat tangan ketika berdoa dalam rukun khutbah jumat ?

Jawaban :

Makruh hukumnya, karena Nabi Muhammad SAW  tidak mengangkat tangan kecuali pada khutbah shalat istisqa’ (Shalat minta hujan).

- Fathul bari Juz 3 Hal 208 Cet, Dar al alamiyah linasyri wa tauzi’

قوله وعن يونس عن ثابت يونس هو بن عبيد وهو معطوف على الإسناد المذكور والتقدير وحدثنا مسدد أيضا عن حماد بن زيد عن يونس وقد أخرجه أبو داود عن مسدد أيضا بالإسنادين معا وأخرجه البزار أيضا من طريق مسدد وقال تفرد به حماد بن زيد عن يونس بن عبيد والرجال من الطريقين كلهم بصريون قوله فمد يديه ودعا في الحديث الذي بعده فرفع يديه كلفظ الترجمة وكأنه أراد أن يبين أن المراد بالرفع هنا المد لا كالرفع الذي في الصلاة وسيأتي في كتاب الدعوات صفة رفع اليدين في الدعاء فإن في رفعهما في دعاء الاستسقاء صفة زائدة على رفعهما في غيره وعلى ذلك يحمل حديث أنس لم يكن يرفع يديه في شيء من دعائه إلا في الاستسقاء وأنه أراد الصفة الخاصة بالاستسقاء ويأتي شيء من ذلك في الاستسقاء أيضا إن شاء الله تعالى 


Nilai Positif Bersin bagi Tubuh

Deskripsi Masalah:

Bersin adalah cara tubuh menyingkirkan iritan pada hidung seperti debu. Pilek dan alergi sering kali membuat kita bersin.Terkadang terlintas dalam pikiran, bersin tidak berdampak sehat bagi tubuh sehingga akrab kali terdengar ucapan suruhan minum obat bagi yang bersin, bahkan terkadang ada sebagian kita yang menganggap bersin itu hal yang memalukan.

Pertanyaan:

1. Benarkah bersin tidak  berdampak positif bagi tubuh?
2. Jika itu tidak menyehatkan tubuh, lantas kenapa disaat bersin dianjurkan menyucapkan Alhamdulillah?

Jawaban:

1. Tidak benar, karena dari bersin itu terdapat nilai positif yang terpuji dalam agama yaitu meringankan badan dimana dengan ini seseorang akan gemar dalam berbeuat taat dan melemahkan syahwat (keinginan).

2. Karena dampak dari bersin hal terpuji, berkata para Ulama “inilah hikmat dari disunnahkan bersyukur dengan mengucapkan Alhamdulillah saat bersin”


- Ianatuttalibin Juz 4 Hal 192 Cet, Haramain

قوله: فإنه) أي التشميت سنة، لما رواه أبو هريرة رضي الله عنه عن النبي - صلى الله عليه وسلم - قال: إن الله يحب العطاس ويكره التثاؤب، فإذا عطس أحدكم وحمد الله تعالى، كان حقا على كل مسلم سمعه أن يقول له يرحمك الله، وأما التثاؤب فإنما هو من الشيطان، فإذا
تثاءب أحدكم فليرده ما استطاع، فإن أحدكم إذا تثاءب ضحك منه الشيطان.
قال العلماء: والحكمة في ذلك أن العطاس سببه محمود، وهو خفة الجسم التي تكون لقلة الاخلاط وتخفيف الغذاء، وهو أمر مندوب إليه، لانه يضعف الشهوة ويسهل الطاعة، والتثاؤب بضد ذلك.





Hubungan Usaha Dan Tawakkal

Usaha dan doa, merupakan dua perkara yang selalu dikerjakan oleh orang yang beriman, berdoa sebagai wujud minta tolong kepada pencipta, dan usaha sebagai realisasi dari permintaanya, antara keduanya saling melengkapi , sehingga ada pepatah yang mengatakan “ berdoa tanpa usaha bohong, usaha tanpa doa sombong” , namunj bagaimanakah hubungan keduanya dalam kacamata agama, apakah keduanya saling berkaitan atau saling menentang,

Pertanyaan ?

Bagaimanakah hubungan antara usaha dan tawakkal menurut agama ?

Jawaban

Syaikh Ibrahim bajuri dalam kitabnya Tuhfatul Murid menjelaskan, terjadi perbedaan pendapat ulama antara keutamaan usaha dan tawakkal, sebagian ulama berpendapat, usaha lebih baik dari tawakkal, karena dengan berusaha kita tidak mengharap pemberian manusia, tidak merendahkan diri dkalangan manusia untuk memperoleh pemberian mereka, sehingga lebih focus dalam beribadah kepada Allah, pengertian usaha disini adalah :

مباشرة الاسباب بالاختيار

Artinya melakukan sebab secara ihtiar

Sedangkan sebagian ulama berpendapat, tawakkal lebih baik dari bekerja, karena dengan bertawakkal kita lebih luang waktu untuk beribadah kepadanya, lebih kuat harapan kepada Allah dalam memenuhi kebutuhan, dan lebih aman dari fitnah harta dan perhitungan di hari kiamat, tawakkal adalah

Berpegang teguh kepada Allah tanpa mempedulikan asbab namun mungkin untuk melakukannya, misalnya, seseorang yang mungkin untuk berdagang, ia punya modal dan dan tempat untuk berdagang, namun ia tidak berdagang, lebih memilih untuk beribadah sambil meyakini bahwa Allah akan memenuhi segala kebutuhannya, maka orang yang seperti ini lebih baik menurut sebagian ulama,

Sedangkan pendapat yang kuat adalah, lebih utama bertawakkal dan berusaha ditinjau dari pribadi seseorang, jika ia mampu bersabar dalam kesulitan hidup, tidak terikat hatinya dengan harta orang lain, dan senantiasa bisa damai tanpa adanya rasa cemas, tetap focus beribadah, maka tawakkal lebih baik baginya, namun jika hatinya was was saat tidak bekerja, akan terjerumus kedalam mencuri dan meminta minta, maka baginya lebih baik bekerja daripada tawakkal, bahkan terkadang tawakkal hukumnya wajib baginya.

Perbedaan pandangan ini terjadi jika antara bekerja dan tawakkal adalah hal yang kontradiktif, namun jika kita beranggapan tawakkal dan berusaha adalah dua hal yang tidak menentang, bahkan saling melengkapi satu sama lain, maka tidak ada yang lebih unggul antara keduanya, karena berbeda sudut pandang.

- Ibrahim Al Bajuri,Tuhfatul Murid Ala Jauharah Tauhid Hal 127 Cet, Haramain

Hikmah Puasa Sunnah Senin Kamis

Salah satu puasa yang disunnahkan dan konsisten dilakukan Rasulullah SAW adalah puasa senin dan kamis hal ini sesuai dalam hadits Rasulullah SAW bersabda:

كان يتحرى صومهما. وقال: «تعرض الأعمال يوم الاثنين والخميس فأحب أن يعرض عملي. وأنا صائم» رواهما الترمذي

"Nabi senantiasa melakukan puasa pada senin kamis" kemudian berkata: Amalan diangkat pada hari senin dan kamis, aku mencintai amalanku diangkat dan aku sedang berpuasa" (HR. Turmizi)

Hikmah berpuasa pada hari senin dan kamis adalah karena pada hari tersebut amalan hamba didatangkan kepada Allah SWT. Amalan yang didatangkan kepada Allah yang dimaksudkan disini adalah amalan setiap hamba dalam seminggu. Adapun catatan malaikat terhadap amalan manusia dicatat setiap hari dan malamnya. Berpuasa hari senin lebih Afdhal dari hari kamis, karena beberapa alasan seperti: Nabi SAW dilahirkan pada hari senin, diangkat kepada Rasul juga hari senin, dan bahkan wafat pada hari senin.

Amalan seorang hamba yang diangkat kelangit terjadi dua kali sehari yaitu amalan siang diangkat pada waktu asar dan amalan malam hari diangkat pada waktu subuh oleh malaikat yang berbeda. Kemudian pada setiap hari senin dan kamis didatangkan kepada Allah swt.
Diangkat kelangit pada setiap minggu tidak bertentangan dengan diangkatnya amalan pada malam nisfu Sya’ban, karena pengangkatan amalan pada malam nisfu sya’ban adalah amalan secara jumlah selama setahun. Karena itulah nabi menyukai puasa pada saat diangkatnya amalan baik pada hari kamis dan senin atau malam nisfu sya’ban. .[1]

- Minhajutthalibin Juz 2 Hal 92 Cet, Darl Fikr Beirut

باب صوم التطوع (يسن صوم الاثنين والخميس) لأنه - صلى الله عليه وسلم - كان يتحرى صومهما. وقال: «تعرض الأعمال يوم 
الاثنين والخميس فأحب أن يعرض عملي. وأنا صائم» رواهما الترمذي  

-Hasyiah Qalyubi Wa 'Umayrah Juz 2 Hal 92, Cet, Darl Fikr Beirut

قوله: (تعرض الأعمال) أي أعمال الأسبوع على الله تعالى، وأما العرض على الملائكة بمعنى كتابتهم له فإنه في كل يوم وليلة. وأما العرض على الله في نصف شعبان كل سنة فلجملة أعمال السنة وكل ذلك لإظهار العدل وإقامة الحجة إذ لا يخفى على الله من شيء في الأرض ولا في السماء. قوله: (الاثنين) سمي بذلك لأنه ثاني أيام إيجاد المخلوقات غير الأرض،







[1] Hasyiyah I'anahtutalibin hal. 299, 230, 231, juz 2, cet. Darul Fikri.



donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja