Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Air Musta’mal

Didalam ilmu fiqh pada bab thaharah biasanya menjelaskan tentang tata cara bersuci dan alat-alat yang bisa digunakan untuk bersuci, seperti air pada pembahasan wudhu’ dan debu pada tayamum. Pada pembahasan air pasti tidak luput dari pembahas yang  salah satunya ialah air yang musta’mal yang merupakan air yang suci akan tetapi tidak bisa digunakan untuk bersuci. Oleh karena itu, disini akan diuraikan sedikit tentang bagaimana air itu dikatagorikan sebagai air Musta’mal.

Syarat-syarat air suci menyucikan beralih namanya menjadi air musta’mal :

1. Air yang sedikit, yaitu air yang tidak mencapai dua qullatain atau sekitar 216 liter.
2. Air telah digunakan kepada hal yang sangat di perlukan, seperti berwuzuk dan mandi wajib.
3. Air yang telah terpisah dari anggota yang wajib di basuh bila pada wuzuk dan seluruh anggota badan pada surah mandi wajib.
4. Ketika memasukkan tangan kedalam air yang sedikit tidak meniatkan iqtiraf[1]


- Hasyiyah I'annatut Thalibin, Juz 1, Hal 28-29, Cet Haramain

واعلم أن شروط الاستعمال أربعة، تعلم من كلامه: قلة الماء واستعماله فيما لا بد منه، وأن ينفصل عن العضو، وعدم نية الاغتراف في محلها وهو في الغسل بعد نيته، وعند مماسة الماء لشئ من بدنه.
أما إذا نوى الاغتراف، أي قصد إخراج الماء من الإناء ليرفع به الحدث خارجه، فلا يصير الماء مستعملا.
ونية الاغتراف محلها قبل مماسة الماء فلا يعتد بها بعدها.


[1]  Iqtiraf ialah ketika memasukkan tangan kedalam air yang sedikit mengkasad/bertujuan untuk mengeluarkan air dari bejana dan melakukan proses bersuci diluar bejana bukan didalamnya.  


Puasa Hari Jumat

Deskripsi Masalah:

Berpuasa sama dengan sesorang telah menjaga hawa nafsunya,  banyak melakukan puasa akan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dalam Islam diperbolehkan berpuasa dihari apa saja selain hari-hari yang telah diharamkan Syara’ yaitu dihari pertama lebaran baik puasa atau haji dan 3 hari Tasyriq sesudah idul adha. Namun walaupun demikian terkadang ada juga hari yang hukumnya makhruh melakukan puasa dihari tersebut.

Pertanyaan:

Bagaimana hukum berpuasa dihari Jum’at

Jawaban:

Berpuasa dihari jum’at Hukumnya makruh bila puasa yang kita laksanakan itu :

- Puasa sunnah, bila puasa wajib baik qada nazar dan lainnya tidak dimakruhkan.
- Puasa yang dilakukan secara terasing, bila diringi dengan satu hari sebelumnya atau dengan hari sesudahnya tidak dimakruhkan

- Al-Mahalli juz 2 Hal 94 Cet, Haramain

(ويكره إفراد الجمعة وإفراد السبت) بالصوم قال - صلى الله عليه وسلم -: «لا يصوم أحدكم يوم الجمعة إلا أن يصوم قبله أو يصوم بعده» رواه الشيخان وقال: لا تصوموا يوم السبت إلا فيما افترض عليكم. رواه أصحاب السنن الأربعة وحسنه الترمذي وصححه الحاكم على شرط الشيخين.


Keajaiban Shalat Jama'ah

Imam al-Manawi berkata : Di antara hikmah disyariatkan shalat jama’ah adalah :
  1. Tercipta keakraban di antara sesama jama’ah. Oleh karena itu, anjuran utama pelaksanaan shalat jama’ah adalah dimesjid, hal ini dimaksudkan supaya tercipta persatuan sesama tetangga karena berjumpa disetiap waktu shalat.
  2. Supaya orang awam dapat belajar berbagai macam hukum jama’ah dari orang alim, karena status manusia berbeda-beda dalam hal ibadah. Karena shalat dikerjakan secara berjama’ah, maka keberkahan orang yang sempurna ibadah dapat mengalir kepada orang awam. 
Banyak hadits-hadits yang menerangkan kelebihan shalat jama’ah, di antaranya :

وقد ورد في فضلها أحاديث كثيرة، منها: الخبر المتفق عليه الآتي، ومنها: ما رواه الطبراني عن أنس: « من مشى إلى صلاة مكتوبة في الجماعة فهي حجة، ومن مشى إلى صلاة تطوع فهي مرة تافلة «

Diriwayatkan dari Imam Tabrani dari Shahabat Anas : “Barang siapa yang berjalan untuk menunaikan shalat fardhu secara berjama’ah, maka shalat tersebut diberi ganjaran sama seperti haji dan barang siapa yang melakukan shalat sunat secara berjama’ah maka ia akan mendapat pahala seperti melakukan umrah sunat” (HR. Tabrani dari Anas).

ومنها: ما رواه الترمذي عن أنس أيضا: « من صلى أربعين يوما في جماعة يدرك الكبيرة الأولى كتب له براهتان: براءة من النار، وبراءة من النفاق ».

Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Shahabat Anas : “Barang siapa yang shalat berjamaah selama 40 hari dan mendapat takbiratul pertama, maka ia dipastikan mendapat 2 kebebasan, yakni kebebasan dari neraka dan kebebasan dari kemunafikan” (HR. Tirmidzi dari Anas).

وفي المنح السنية على الوصية المتبولية للقطب الشعراني ما نصه: وقد كان السلف يعدون فوات صلاة الجماعة مصيبة. وقد وقع أن بعضهم خرج إلى حائط له يعني حديقة نخل فرجع وقد صلی الناس صلاة العصر، فقال: إنا لله، فانني صلاة الجماعة، أشهدكم على أن حائطى على المساكين صدقة.

Dalam kitab al-Minah as-Saniyyah ‘Ala al-Washiyyah al-Matbuliyyah disebutkan : “Ulama salaf menganggap luput shalat jama’ah sebagai musibah. Dahulu kala, ada sekelompok ulama pergi ke kebun kurma. Ketika kembali, mereka mendapati shalat jama’ah ashar sudah selesai dilaksanakan dan mereka tidak sempat mengikutinya. Lalu mereka berkata : “Inna lillahi, sungguh aku telah luput dari shalat jama’ah. Sekarang aku bersaksi kepada kalian semua bahwa kebun kurma milikku aku sedekahkan semuanya kepada orang miskin.””

. وفانت عبد الله بن عمر رضي الله عنهما صلاة العشاء في الجماعة، فصلى تلك الليلة حتى طلع الفجر جبرا لما فاته من صلاة العشاء في الجماعة.

“Suatu ketika, Sayyidina Abdullah bin Umar pernah tertinggal shalat jama’ah isya’, lalu beliau shalat sepanjang malam untuk menebus jama’ah isya’ yang beliau tinggalkan.”

Syeikh Ubaidillah bin Umar al-Qawaririy Rahimahullah berkata : “Selama ini aku tidak pernah meninggalkan shalat jama’ah. Hingga suatu ketika rumahku kedatangan tamu. Karena sibuk melayani tamu yang datang, aku terlambat melakukan shalat jama’ah isya’ di mesjid. Lalu aku bergegas keluar untuk berjama’ah. Ketika tiba di mesjid, ternyata shalat jama’ah telah selesai dikerjakan dan pintu mesjid telah dikunci. Lalu aku kembali kerumah dengan perasaan sedih. Aku teringat sebuah hadits yang menerangkan kelebihan shalat jama’ah, yaitu “Shalat berjama’ah lebih utama 27 derajat daripada shalat sendirian”. Kemudian aku shalat isya’ 27 kali sampai tertidur. Dalam tidur aku bermimpi sedang menunggangi kuda bersama sekelompok kaum. Mereka berada didepanku dan aku memacu kudaku untuk mengejar mereka tetapi tidak berhasil. Lalu aku menoleh kepada salah seorang dari mereka dan dia berkata : “Kamu tidak akan sanggup mengejar kami. Usahamu hanya membuat kudamu kelelahan. Aku menyahut, kenapa wahai saudaraku ? ia menjawab : “Karena kami shalat isya’ secara berjama’ah, sedangkan engkau shalat sendirian. Lalu aku terbangun dan merasakan kesedihan yang luar biasa”.

وقال بعض السلف: ما فاتت أحدا صلاة الجماعة إلا بذنب أصابه.

Sebagian ulama salaf berkata : “Seseorang tidak akan pernah meninggalkan shalat jama’ah kecuali karena suatu dosa yang telah dilakukannya”.

وقد كانوا يعزون أنفسهم سبعة أيام إذا فاتت أحدهم صلاة الجماعة وقيل: ركعة، ويعزون أنفسهم ثلاثة أيام إذا فاتهم التكبيرة الأولى مع الإمام، فاعلم ذلك يا أخي. اه.

Mereka akan berduka selama 7 hari bila luput sekali shalat jama’ah. Dikatakan : Jika luput satu raka’at. Dan berduka selama 3 hari bila tidak sempat mengikuti takbiratul ihram beserta imam. Renungilah nasehat ini wahai saudaraku.(fm)

Diterjemahkan dari kitab I’anatutthalibin Juz 2 Hal 5-6.



Legalitas Jadwal Imsak Pada Bulan Ramadhan

Salah satu pertanyaan yang sering muncul dalam masyarakat selama bulan ramadhan adalah tentang masalah imsak. Pertama mengenai legalitas, artinya apakah imsak menjadi bagian dari syariat atau hanya ciptaan para ulama semata? Kedua, tentang kapan persis waktunya?

Untuk menjawab beberapa pertanyaan diatas, berikut kami kutip fatwa Sayyid ‘Allamah Abdullah bin Mahfudh bin Muhammad al-Haddad al-‘Alawi dalam kitab al-Wajiz fi Ahkam as-Shiyam.

Pada dasarnya, seseorang berpuasa boleh makan dan melakukan hal lain pada waktu malam sampai terbit fajar. Namun, dalam selebaran jadwal waktu shalat yang biasanya banyak dibagikan gratis selama bulan Ramadhan di Indonesia, ditetapkan sebuah waktu khusus yang tidak ada di bulan-bulan lain. Waktu tersebut disebut “waktu imsak”. Waktu imsak ini ditetapkan beberapa menit sebelum waktu shalat subuh (waktu fajar). Menyikapi masalah ini, untuk alasan ihtiyadh atau kehati-hatian sudah sepatutnya kita mengindahkan seruan imsak tersebut.

Dalam al-Qur’an, Allah Swt menyebutkan :تلك حدود الله فلا تقربوها

Ayat ini mengindikasikan bahwa Allah membuat batas yang harus dijaga antara malam dan fajar. Maka selayaknya bagi orang puasa untuk menjaga batasan tersebut.

Berdasarkan survei yang kami lihat pada kebanyakan jadwal imsakiyah, tenggang waktu antara imsak dan azan subuh berkumandang adalah sekitar 5 menit, maka sepatutnya seorang menjaga tenggang waktu tersebut untuk tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Karena orang-orang yang terus makan sampai azan subuh berkumandang mereka adalah orang yang tidak menjungjung tinggi perintah Allah untuk menjauhi dan tidak mendekati batasan tersebut.

Adapun tentang hadits yang seolah-olah bertentangan dengan anjuran al-Qur’an diatas maka dipertanggungkan kepada 2 hal, yaitu azan yang pertama dan karena fajar berubah-ubah setiap hari. Maka waktu imsak juga ikut berubah. Jadi, bersungguh-sungguhlah untuk mengetahui tentang seluk beluk fajar dan bersikap hati-hatilah dengan mengambil imsak sesaat sebelumnya. Wallahu a’lam

Maksiat Dan Tidur Subuh Penyebab Fakir

Sungguh dosa yang dikerjakan adalah penyebab tertegah rezeki, lebih-lebih dosa yang dikerjakan adalah berbohong. Berbohong sangat berdampak besar bagi seseorang menjadi fakir.

Secara umum, dosa berefek kepada terhambatnya rezeki. Khusus pada berbohong tidak berefek pada terhambatnya rezeki saja, bahkan sampai bisa membuat seseorang jatuh miskin. Hal ini terbukti, dengan seseorang yang menipu orang lain di seluruh kehidupannya akhirnya ia akan terjatuh.
Orang yang bermodal bohong dalam mencari uang tidak lama kemudian ia akan jatuh miskin dan tidak memiliki apapun lagi. Khusus pada berbohong dapat berefek miskin ini ada hadist yang khusus.
Begitu juga tidur subuh dapat menghambat rezeki. Karena itu harus bangun di waktu subuh, walaupun dalam keadaan capek sekali.

Ini harus benar-benar dijaga. Apa lagi bagi seorang penuntut ilmu. Sedang belajar jangan sampai banyak penghambat rezeki. Jangan sampai seorang pelajar yang masih dalam perjalanan menuntut ilmu agama mesti menjadi buruh pada orang lain.

Banyak tidur juga dapat memberi dampak buruk seseorang menjadi miskin. Malam tidur, siang juga tidur, itu perbuatan yang tidak baik. Banyak tidur juga dapat menjadi penyebab miskinnya ilmu. Artinya, dua efek buruk sekaligus didapatkan sebab banyak tidur.
Berkatalah orang yang berkata “Kesenangan manusia itu pada memakai pakaian, dan mengumpulkan ilmu dengan kurang tidur.”

*Dikutip dari isi pengajian Ta`lim Muta'alim bersama Waled Tarmizi Al Yusufi


Kalimat Tauhid Dalam Al-Quran

Kalimat Lailahaillah atau kalimat tauhid merupakan kalimat agung yang diberikan pahala yang banyak bagi setiap yang menggerakkan lisannya dengan kalimat ini. Kalimat yang akan mendapat syafa'at dari baginda Rasulullah SAW bagi setiap pengamalnya dengan penuh keikhlasan, dan merupakan kunci surga ini banyak disebutkan dalam kitab suci Al Quranul Karim. Hal ini seperti perkataan Syaikh Fakhrurrazi didalam kitab Tanqihul qauli yang bahwasanya kalimat (لا إله إلاّ الله), di dalam Alquran pada 30 tempat. 

Terdapat dalam Surah al-baqarah ada 2, ali imran ada 4, annisa 1, al an'am ada 2, ar ra’du ada 1, thaha 3, al mukminin 1, qisasa 2, shafat 1, al mukmin 3, Muhammad 1, thaqabun 1, al a’raf 1, at taubah 2, yunus 1, hud 1, nahlu 1, al ambiya 2, namlu 1, fatir 1, zumar 1, dukhan 1, hasyir 2, muzammil 1.

 - Tanqihul Qauli Hal 3 Cet Haramain 


Perbedaan lafadh الشاذ , النادر dan الضعيف

Didalam kitab Klasik sering kita jumpai ketiga kalimat ini yaitu Syazd, Nadir dan Dhaif. Ketiganya hampir memilki substansi makna yang sama. Namun perlu diketahui  bahwa ketiganya  walaupun hampir memiliki makna ynag berdekatan akan tetapi terdapat perbedaan tersendiri. Berikut adalah perbedaan yang kami kutib dari kitab Syarh Al-Mathlub:

الشاذ هو الذي يكون وقوعه كثيرًا لكن مخالف للقياس

Syadz adalah sesuatu (kalimat) yang banyak di perdapatkan pada kalam akan tetapi sebalik (tidak sesuai) dengan Qias (undang-undang).

النادر هو الذي يكون وقوغه قليلا لكن على القياس

Nadir adalah sesuatu/kalimat yang sedikit di perdapatkan akan tetapi sesuai dengan qias.

الضعيف هو الذي لم يصل حكمه إلى الثبوت

Dhaif adalah sesuatu yang hukumnya tidak sampai kepada sebut. 

Referensi:  Syarah al Mathlub hal 14 


Wajibkah Menyegera Mandi Janabah?

Deskripsi Masalah:

Setiap yang berhadas besar diwajibkan untuk mandi rafa' hadas, hal ini karena salah satu syarat ibadat seperti shalat disyaratkan bersih dari hadas besar dan kecil. Namun karena faktor malas atau lainnya terkadang  seseorang sering memperlambat untuk mandi janabah. Tak jarang pula yang sampai keluar waktu shalat karena keterlambatannya itu.

Pertanyaan:

Bagaimanakah hukum memperlambat mandi junub dan apakah mandi wajib itu harus disegerakan?

Jawaban:

Hukum asal mandi wajib  tidak wajib disegerakan. Namun wajib disegerakan jika waktu shalat sudah sempit, Dalam kondisi ini kewajiban menyegera mandi  itu bukan karena mandinya akan  tetapi karena kewajiban mengerjakan shalat dalam waktunya.

- I'anah at-Thalibin Juz 1 Hal 86 Cet, Darl Fikr 

و) الطهارة (الثانية الغسل) هو لغة سيلان الماء على الشيء وشرعا سيلانه على جميع البدن بالنية ولا يجب فورا وان عصى بسببه) 
بخلاف نجس عصى بسببه  (قوله ولا يجب فورا) اى ولا يجب الغسل على الفور والمراد أصالة فلا يرد ما لو ضاق وقت الصلاة عقب الجنابة او انقطاع الحيض فانه يجب فورا لا لذاته بل لإيقاع الصلاة فى وقتهاv


Anjuran Bersikap Zuhud (Abu Mudi) Simak di Link :


Bolehkah Mengajari Al-Quran Terhadap Anak Non Muslim?

Deskripsi Masalah:

Dalam kehidupan yang serba keberagaman, sosial menjadi salah satu hal yang harus diprioritaskan demi menjaga kerukunan dalam beragama, budaya kunjung mengunjung antara dua orang beda agama pun akrab terjadi.  Tak sebatas orang tua, anak-anak non Muslim pun dalam kesehariannya terkandang sering main kerumah disaat anak muslim sedang belajar Al quran.

Pertanyaan:

Apakah boleh terhadap guru atau orang tua dari anak yang Muslim mengajarkan kepada anak Non Muslim ?

Jawaban:

Berkata Ashab dari Imam As-syafi'i : Jangan ditegah orang kafir untuk mendengar bacaan Al-Quran yang ditegah itu jika mereka menyentuh Al-Quran. Adapun tentang kebolehan mengajari Al Quran kepada mereka terdapat rincian sebagai berikut:

Jika diharapkan anak tersebut masuk islam maka boleh mengajarinya Al-Quran
Jika tidak diharapkan masuk islam maka tidak diperbolehkan mengajarinya.

- Majmu' Syarah Muhazzab Juz 2 Hal 71 Cet, Darl Fikr

قال أصحابنا : لا يمنع الكافر سماع القرآن ، ويمنع مس المصحف ، وهل يجوز تعليمه القرآن؟ ينظر إن لم يرج إسلامه لم يجز ، وإن رجي جاز في أصح الوجهين ، وبه قطع القاضي حسين ، ورجحه البغوي وغيره ، والثاني : لا يجوز ، كما لا يجوز بيعه المصحف وإن رجي إسلامه . قال البغوي : وحيث رآه معاندا لا يجوز تعليمه بحال ، وهل يمنع التعليم؟ فيه وجهان حكاهما المتولي والروياني . هما أصحهما يمنع


Al Quran Qadim atau makhluk?
Simak penjelasan Abu MUDI di Link b

https://www.youtube.com/watch?v=esp3bGTG3aw


Fatawa Ulama: Hukum Menundukkan Badan dan Bertumpu Untuk Membantu Berdiri Dari Duduk Istirahat Atau Tasyyahud Awwal

Deskripsi Masalah:

Salah satu masalah yang terjadi kontroversial dalam masyarakat adalah kelakuan  orang yang membungkuk dan bertumpu didepan lutut untuk membantu berdiri dari duduk istirahat atau tasyahhud awwal, kondisi ini menyerupai ruku' bagi orang shalat sambil duduk. Sebagian kalangan mempermasalahkan hal ini dan menganggap bisa membatalkan shalat dengan alasan menambah rukun.

Pertanyaan:

Bagaimanakah hukum sebenarnya dari masalah ini??

Jawaban : 

Sebelumnya harus diketahui bahwa bertumpu didepan lutut untuk membantu berdiri dari duduk hukumnya sunnah. Bertumpu seperti ini tidak membatalkan shalat, walaupun sekilas terlihat seperti ruku' bagi orang yang shalat sambil duduk. Karena yang membatalkan shalat adalah menambah rukun, sedangkan kondisi seperti ini tidak menyerupai rukun apapun bagi orang shalat sambil berdiri. Membungkukkan badan hanya dapat membatalkan shalat bila dilakukan oleh orang shalat sambil duduk.

- Fatawa Bin Hamid, Karangan Syeikh Muhammad Bin Hamid Bin Umar Bin Muhammad Bin Saqqaf As-Saqqafi Ash-Shafi, Hal 254-255


لو أراد القيام من جلسة الاستراحة اعتمد على يديه أمامه

مسأله : وما قولكم فيمن أراد القيام من جلسة الاستراحة أو التشهد فاعتمد على يديه من جهة أمامه بحيث صار کراکع من قعود فهل تبطل صلاته أم لا ؟ فإني قد رأيت كثيرة من طلبة العلم إذا أراد القيام بماذكر اعتمد على يديه من جانبيه أو تكلف الاعتماد عليها من أمامه لكن بين فخذيه، وكأنه  فرار من أن يكون كهيئة الرائع من الجلوس التي نبه عليها ابن حجر في «التحفة» فبينوا لنا ما فيها في هذا المقام لا زلتم نفعا للخاص والعام.
الجواب : أن الصلاة لا تبطل والحال ما ذكر من اعتماد المصلي مع قيامه من نحو جلوس تشهد على يديه وإن صار کراکع من جلوس؛ لأن الاعتماد على بطن راحتيه وأصابعها مع قيامه مما ذكر بتلك الهيئة من جعله يديه أمام ركبتيه سنة له ، وليس من السنة اعتماده على ظهور الأصابع وحرف الكف؛ بأن يقبضها كعاجن دقيق، ومن قال يقوم کعاجن بالنون - فالمراد بذلك التشبيه هو مثله في أصل الاعتماد من الانحناء من الأمام كهيئة العاجن لا في صفته من ضم أصابعه كما في «التحفة» من نفي اعتبار الصفة المذكورة فقط ، والدليل والعلة هما قول «التحفة» : (لأنه أعون
وأشبه بالتواضع مع ثبوته عنه ) وجعل اليدين بالجانبين أو بين الركبتين ينافي طرفي العلة المذكورة
وأما الهيئة التي بحثها ابن حجر وجعلها من مبطلات الصلاة لكونها من نوع زيادة ركن فيها حيث قال : (ومنه أن ينحني الجالس إلى أن تحاذي جبهته ما أمام ركبتيه ولو لتحصیل تورکه او افتراشه المندوب ... إلخ).. فهي كما لا يخفى في غير ما إذا كان لقيام وغير ما شرع له . على أنهم اغتفروا الجلوس القصير بعد الهوي من الاعتدال، وعللوا بأنه معهود وبذلك تعرف أن ما هنا أولى من ذلك لذلك، بل عملهم في الاعتياد بها ذكر في النهوض من السجود کالصريح فيما ذكرته؛ للعلم بندب وضع اليدين محاذيين للمنكبين في السجود ويقوم منه كذلك ، ولم نر أحدة عند القيام ينحيها إلى الجانبين، بل لم نر أحدة من يقتدى به يعمل بها ذكرت في سؤالك .
ثم إنك قد علمت ما مر حمل من قال : يقوم کالعاجن - بالنون لا الزاي - على اعتبار أصل الاعتماد لا صفته ، فلا تغفل والله أع

Simak Pengajian TASTAFI bersama Abu MUDI:




donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja