Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Download Kitab Fiqh Shiyam karya Syeikh Hasan Hitu


كتاب فقه الصيام تأليف الشيخ محمد حسن هيتو
Salah satu ulama mazhab Syafii zaman ini adalah Syeikh Hasan Hitu. Ulama
asal Suriah ini sangat teguh berpegang kepada mazhab Syafii dan sangat aktif dalam mengajar. Beliau mendirikan banyak lembaga pendidikan, salah satunya di Indonesia, STAI Imam Syafii di Cianjur, sebuah kampus dengan sistem pondok pesantren. Selain itu beliau juga banyak mengarang kitab, salah satunya kitab yang sedang beliau selesaikan adalah sebuah kitab ensiklopedi mazhab Syafii yang furu` ibadah saja sudah terdiri dari 40 jilid, semoga Allah memberikan kesempatan kepasa beliau untuk menyempurnakannya. Diantara kitab beliau yang sudah kami posting link donwloadnya adalah Kitab Ijtihad Wa Thabaqah Mujtahidi Syafi'iyah. Kitab lain karya beliau adalah Kitab Fiqh Shiyam, sebuah kitab yang membahas khusus masalah puasa, mulai dari sejarah puasa, hukum puasa, tsubut Ramadhan, syarat sah puasa dan yang membatalkannya, yang diharamkan dan yang disunatkan dalam puasa, dll.

Kitab tersebut bisa di donwload di SINI

Kitab lain yang khusus membahas tentang puasa yang pernah kami posting adalah Kitab Ittihaf Ahl al-Islam bi Khushushiyat ash-Shiyam karya Ibnu Hajar al-Haitami

Surat Apakah yang Dibaca Saat Shalat Witir?


Pertanyaan:
Seperti yang diketahui jika melaksanakan shalat maka disunatkan membaca surat al- ‘akla (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى)  al-kafirun, al-ikhlas dan ma’uzatain pada tiga rakaat shalat witir. Namun jika melakukan shlat witir melebihi tiga rakaat, apakah juga disunatkan membaca ayat tersebut sama halnya dengan melakukan tiga rakaat? dan apakah ada yang mengatakan demikian?

Jawaban:
Disunatkan membaca surat al-‘akla, al-kafirun, al-ikhlas dan ma’uzatain, ketentuan ini berlaku pada shalat tiga rakaat maupun lebih, baik tiga rakaat itu dilakukan sesudah salam dari dua rakaat atau sesudah salam dari empat, sesudah salam dari enam atau sesudah salam dari delapan rakaat. Sedangkan bila dikerjakan lima rakaat sekaligus, tujuh secara bersambung-sambung atau sembilan atau sebelas rakaat tanpa diselangi salam maka ketentuan di atas tidak berlaku.

Dalilnya:
  1. Nabi pada rakaat pertama shalat witir membaca surat al-‘akla, dirakaat kedua membaca al-kafirun, dirakaat ketiga al-ikhlas, dan ma’uzatain.
  2. Riwayat ‘Amrah dari ‘Aisyah berkata: Rasulullah pada dua rakaat membaca surat al-‘akla dan al-kafirun dan di rakaat ganjil dibaca al-ikhlas dan ma’uzataini.
  3. Riwayat Abu Daud dan Turmizi dari hadis Khasif bin Abdurrahman dari Abdul Aziz bin Jurez berkata: saya telah menanyakan kepada Aisyah: surat apa yang rasul baca pada shalat witir. Aisyah menjawab: pada rakaat pertama dibaca al-‘akla, pada rakaat kedua al-kafirunو pada rakaat yang ketiga surat al-ikhlas dan ma’uzataini.
  4. Abdurrahman bin Abza meriwayat dari Ubai bin Ka’ab bahwa Rasulullah salat witir membaca surat al-‘akla dan al-kafirun dan al-ikhlas.


Fatawa Bulqini Cet, Daru ibnu ‘affan, Hal 126

Rahasia kalimat Laa ilaaha illah( لا اله الا الله)

Kalimat La ailaaha illah merupakan satu kalimat yang suci dan mengandung nilai yang tinggi dalam pandangan Allah. Banyak sekali rahasia yang terkandung dalam kalimat thaiyibah ini. Berikut ini sedikit diantara rahasia-rahasia kalimat tauhid ini yang kami kutip dari kitab Tuhfatul Ikhwan fi Qiraah al-Mi’ad Fi ajab wa Sya’ban Wa Ramadhan (download kitab tersebut) karangan Syeikh Syihabuddin Ahmad bin Hijazi al-Fasyani;
1. Huruf yang terdapat dalam kalimat tersebut semunya huruf jaufiyah (huruf yang keluar dari rongga) tidak ada huruf syafawi (huruf bibir), Hal ini mengindikasikan bahwa mengucapkan kalimat ini mesti benar-benar dari dalam rongga. Rongga yang dimaksud disini adalah hati. Hal sebagaimana disampaikan oleh Rasulullah SAW:

اسعد الناس بشفاعتي يوم القيمة من قال لا اله ال الله خالصا مخلصا من قلبه

“Manusia yang paling bahagia dihari kiamat dengan mendapatkan syafaatku adalah orang yang mengucapkan kalimat La llaaha illAllah dengan penuh keikhlasan dari hati.”

Hadist ini jelas menerangkan bahwa orang yang mengucapkan kalimat La llaaha illAllah dengan penuh keikhlasan dalam lubuk hatinya maka ia akan menjadi orang yang paling bahagia di akhirat dengan mendapatkan syafaat Rasulullah.

2. Dalam kalimat Laa ilaaha illAllah semua hurufnya sunyi dari titik, tidak ada satu hurufpun yang bertitik (huruf mu’jam). Hal ini mengisyaratkan bahwa yang benar-benar disembah hanyalah Allah, lepas dari semua sembahan lain selain Allah. Rasulullah SAW bersabda:

اتانى جبريل فبشرنى ان من مات من امتك لا يشارك بالله شيأ دخل الجنة قلت وان زنى وان سرق قال وان زنى وان سرق

“Malaikat Jibril mendatangiku, ia membawa khabar gembira bagku “bahwa siapa saja dari kalangan umatmu yang meninggal dunia dengan tanpa menyekutukan Allah maka ia masuk surga”. Saya bertanya “walaupun ia berzina atau mencuri?” jibril menjawabnya “ya, walaupun ia penzina atau pencuri”.

Hadist ini mengisyaratkan bahwa setiap mukmin yang meninggal dunia dengan tanpa menyekutukan Allah maka ia pada akhirnya tetap akan Allah masukkan ke dalam surga, walaupun ia harus menjalani siksaan terlebih dahulu atas dosa-dosa yang pernah ia lakukan di dunia ini. Sedangkan orang yang mati dalam keadaan menyekutukan Allah, maka dosanya tidak akan Allah ampuni, ia kekal dalam neraka selama-lamanya. Sebagaimana firman Allah;

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

Sungguh Allah tidak akan mengampunkan dosa menyekutukanNya dan Dia akan mengampunkan dosa yang lainnya bagi orang yang Dia kehendaki (Q.S. an-Nisa ayat 48)

3. Pada kalimat Laa ilaaha illAllah terdiri dari 12 (dua belas). Hal ini mengisyarahkan bahwa dalam setahun terdiri dari 12 bulan. Empat bulan diantaranya merupakan bulan haram yang memiliki kelebihan dari bulan-bulan yang lain. Pada kalimat Laa laaha illAllah terdapat satu kalimat yang terdiri dari empat huruf yaitu lafadh Jalallah (lafadh Allah), satu hurufnya terpisah (huruf alif pafa awal kalimat Allah) dan tiga lainnya terangkai. Hal ini merupakan isyarah kepada empat bulan haram yang lebih mulia dari bulan lain, sebagaimana lafadh jalalah lebih mulia dari kalimat yang lain dalam kalimat Laa ilaaha illAllah tersebut, dan juga mengisyarahkan bahwa empat diantara bulan haram letaknya terpisah, yaitu bulan Rajab, terpisah dari tiga bulan haram lainnya yaitu Zulqa’dah, Zulhijjah dan Muharram.

4. Siang dan malam terdiri dari 24 jam dan kalimat لا اله الا الله محمد رسول الله juga terdiri dari 24 huruf. Setiap huruf dari kalimat لا اله الا الله محمد رسول الله dapat menghapus dosa satu jam. Sedangkan dua kalimat tersebut bisa menghapuskan dosa sehari semalam (24 jam).

Imam Sufyan bin Uyainah telah berkata: tidak ada nikmat yang paling afdhal yang diberikan oleh Allah kecuali nikmat mengenal serta memahami kalimat Laa liaaha illAllah dan kalimat Laa ilaaha illAllah di akhirat kelak bagaikan bagi manusia bagaikan air didalam dunia.”
Sufyan Tsuri pernah berkata: “ Kelezatan pengucapan لا اله الا الله di akhirat laksana kelezatan meminum air segar didalam dunia.
Imam Mujahid menafsirkan firman Allah;

وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً

Allah telah menyempurnakan nikmat kepadamu lahir dan batin (Q.S. Luqman 20)

menurut beliau maksud dari nikmat lahir batin tersebut adalah kalimat La llaaha illAllah.


5. Sesungguhnya setiap amalan perbuatan taat akan diangkat kelangit oleh para malaikat sedangkan amalan mengucapkan لا اله الا الله akan naik sendiri tanpa perantaraan para malaikat. Hal ini sebagaimana firman Allah:

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ

“Kalam yang mulia akan terangkat dengan sendirinya sedangkan amal shaleh yang lainnya diangkat (oleh para malaikat). (Q.S. Fathir 10).
Penjelasan demikian sebagaimana dihikayahkan oleh Imam ar-Razi.

6. Laa ilaaha illAllah Muhammad Rasulullah terdiri dari tujuh kalimat (kosa kata), demikian juga manusia punya tujuh anggota utama dan pintu neraka juga berjumlah tujuh. Maka setiap kata dari dua kalimat ini bisa menjadi penutup pintu neraka yang tujuh.

Sumber; Syeikh Syihabuddin Ahmad bin Hijazi al-Fasyani, Tuhfatul Ikhwan fi Qiraah al-Mi’ad Fi ajab wa Sya’ban Wa Ramadhan, hal. 54-55

Fatwa Imam Bughawi; Lupa Tasbih Dalam Rukuk Shalat Tasbih

Shalat tasbih merupakan salah satu shalat sunnah yang memiliki banyak kelebihan. Banyak hadits yang bisa dijadikan hujjah kesunnahan shalat tasbih. Tata pelaksaan shalat tasbih memang agak sedikit berbeda dengan shalat biasa, perbedaannya terletak pada tasbeh yang di baca sebanyak 75 kali dalam setiap rakaat. Tasbih tersebut dibaca masing-masing sepuluh kali pada rukuk, i’tidal, sujud, duduk dua sujud, duduk istirahat dan lima belas kali pada sebelum rukuk. Rincian tatacara pelaksanaannya bisa dibaca dalam tulisan kami di Tata cara pelaksanaan shalat Tasbih. Nah bagaimana bila tasbih tersebut tertinggal atau lupa di baca dalam satu rukun, apakah bisa baca kadar yang tinggal tersebut dalam rukun selanjutnya.
Imam al-Bughawi (W. 517 H) pernah ditanyakan hal serupa. Berikut pertanyaan dan jawaban beliau;

سئل شيخنا الامام اذا رفع رأسه من الركوع فى صلاة التسبيح قبل أن يأتي بالتسبيحات ؟

Imam Baghwi ditanyakan; Apabila seseorang bangun dari rukuk dalam shalat tasbih sebelum membaca tasbih, (bagaimana hukumnya?, apakah boleh diulang atau diqadha dalam rukun lain.)

لا يجوز ان يعود ويقضي تلك التسبيحات لأن الاعتدال ركن فصير لا يجوز مده وجوز فى صلاة التسبيح لورود السنة فلا نزيد على قدر ما ورد فيه السنة والسجود تطويله مستحب فيقضى فيه لانه ليس فى قضائه ترك سنة اخرى كما قال الشافعي لو ترك الجمعة فى الركعة من الجمعة قضاها مع المنافقين فى الثانية قال من صلى صلاة التسبيح اذا جلس بعد السجدتين فى الركعة الاولى يعقد مكبرا فاذا سبح يقوم غير مكبر اذ لم ترد سنة بخلافه لانه ليس محل التكبير ولا تكبير بعد الرفع من السجود الى القيام إلا واحدة قال ويحتمل أن يقال يكبر لأن هذا القعود الحق بسائر قعدات الصلاة فى التطويل والتسبيح فيلتحق بها فى التكبير


Beliau menjawab: ia tidak boleh kembali (ke tempat rukuk) dan tidak boleh juga mengkadha tasbih tersebut (ketika i’tidal setelah rukuk), karena i’tidal merupakan rukun yang pendek, tidak boleh memanjangkannya. Dalam shalat tasbih dibolehkan memanjangkan i’tidal hanya karena ada warid sunnah (yaitu hadits yang menerangkan tatacara shalat tasbih), maka (i‘tidak) tidak boleh dipanjangkan lagi lebih dari yang ada dalam sunnah (kadar bacaan sepuluh kali tasbih). Sujud merupakan rukun yang sunnah di panjangkan, maka karena itu, tasbih (yang lupa tadi) dikadha ketika sujud, karena tidak menyebabkan tertinggalnya sunat yang lain karena mengqadha tasbih (diwaktu sujud). Sebagaimana Imam Syafi’i pernah berkata: jika (imam pada shalat jum’at) meninggalkan membaca surat jumat, maka sunnah mengqadhanya beserta surat al-munafik pada raka’at kedua. Beliau berkata: barangsiapa yang shalat tasbih jika ia duduk sesudah dua sujud pada rakaat yang pertama (untuk membaca tasbih dalam duduk istirahat), maka ketika akan duduk sunnah bertakbir, dan jika telag selesai bertasbih (dalam duduk istirahat), maka ketika berdiri tidak (disunatkan) bertakbir, karena tidak datang sunnah sebaliknya, karena ia bukan berada pada posisi sunat bertakbir dan tabir sesudah duduk untuk berdiri kecuali sekali, dan boleh jadi juga kemungkinan sunat bertakbir karena duduk diqiyaskan dengan duduk yang lain dalam shalat tasbih dalam hal dipanjangkan dan sunat tasbih, maka demikian halnya juga disamakan dalam hal masalah takbir.

Fatawa Imam Baghawi, hal 78 cet Dar Ibn ‘Affan, th 2014



Kesimpulan jawaban Imam al-Baghawi adalah, bila tertinggal membaca tasbih dalam rukuk, maka jangan di kadha pada I’tidal karena I’tidal adalah rukun yang pendek, i'tidal dalam shalat tasbih hanya boleh dipanjangkan sekadar untuk membaca sepuluh tasbih saja, maka sunat tasbih yang tinggal tersebut di baca pada ketika sujud, apalagi sujud memang merupakan rukun yang sunat di panjangkan bacaannya.

Kisah Kelebihan Malam Nisfu Sya'ban


Malam Nisfu Sya'ban
Nisfu Sya’ban beberapa hari lagi akan hadir di depan mata, sangat banya kejadian luar biasa yang menakjubkan, hal ini menunjukkan kelebihan dari malam nisfu sya’ban, maka sangat banyak kejadian-kejadian yang diceritakan para ulama, di antaranya adalah kisah Nabi Isa AS yang di ceritakan oleh Imam Syeihk Syihabuddin Ahmad Ibn Salamah al-Qalyubi.

Diriwayatkan sesungguhnya lsa AS pernah berjalan di suatu tempat. Ketika itu, beliau melihat sebuah gunung yang amat tinggi. Maka beliau mendatanginya. Sesampainya di sana, beliau dapati puncak gunung itu berwarna putih, bahkan lebih putih dari susu, sehingga beliau mengelilinginya, dan beliau merasa kagum karena keindahannya. Seketika Allah mengwahyu kepada Nabi Isa “Wahai lsa, apakah engkau ingin tau tetang sesuatu yang lebih mengagumkan dari ini". Nabi Isa Menjawab :  "Ia Ya Rabbi".
Maka seketika puncak gunung itu terbelah, dan beliau melihat seorang yang telah tua memakai baju dari bulu dan di tangannya ada sebuah tongkat hijau, dan di antara kedua matanya ada buah anggur. Dia sedang berdiri dalam shalatnya, sehingga Nabi lsa AS menjadi heran melihat pemandangan seperti itu. Nabi Isa AS Bertanya : “Wahai orang tua, apa yang aku lihat ini?” orang tua itu menjawab : "ini adalah rizki bagiku setiap hari." Kemudian Nabi Isa bertanya kembali : "Sudah berapa lama engkau beribadah kepada Allah dalam batu ini?" Orang tua tersebut menjawab : "Aku telah beribadah kepada Allah selama 400 tahun". Nabi lsa AS berkata : "Wahai Tuhanku, aku tidak mengatakan apakah Engkau pernah menjadikan makhluk yang lebih mulia dari orang ini." Maka Allah menwahyukan : "Seorang dari umat Muhammad SAW, yang mendapati bulan Sya'ban, dan dia melakukan shalat di malam Nisfu Sya'ban, maka pahalanya lebih besar dari beribadah ini selama empat ratus tahun". Maka Nabi Isa AS berkata: Nabi Isa memohon, “mudah-mudahan Aku menjadi golongan Umat Nabi Muhammad SAW."

Rujukan : Dari kitab An-Nawadir: 22-23, Cet; Al-Haramen


Syarat Sah Shalat

Shalat merupakan rukun islam yang kedua. Shalat adalah ibadah yang paling sakral bagi umat islam. Sejarah mencatat bahwa shalat adalah ibadah yang langsung diterima oleh Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa mi’raj Nabi dari Baitul Maqdis ke Sidratul Muntaha, tanpa perantara apapun atau siapapun. Sedangkan ibadah-ibadah yang lain Allah perintahkan kepada nabi Muhammad dan Ummatnya melalui malaikat Jibril.

Dalam pelaksanaan ibadah shalat, ada beberapa syarat yang harus diperhatikan oleh setiap ummat islam, karna apabila syarat tersebut tidak terpenuhi akan menyebabkan shalat tidak sah, karna definisi dari syarat shalat adalah “sesuatu hal yang dapat meyebabkan sah atau tidaknya shalat, tetapi ia bukan bahagian dari pada shalat”.

 Adapun syarat-syarat tersebut adalah:
1. Suci badan dan pakaian dari pada hadats dan najis
2. Menutup aurat dengan pakaian yang suci
3. Berdiri pada tempat yang suci
4. Meyakini masuknya waktu shalat
5. Menghadap qiblat

Referensi:
Kitab fathul qarib, juz.1, hal. 72 (dar ibnu hazm, beirut)



شروط الصلاة
{فصل} (وشرائط الصلاة قبل الدخول فيها خمسة أشياء): والشروط جمع شرط، وهو لغةً العلامةُ، وشرعًا ما تتوقف صحة الصلاة عليه وليس جزأ منها. وخرج بهذا القيد الركن، فإنه جزء من الصلاة.
الشرط الأول (طهارة الأعضاء من الحدث) الأصغر والأكبر عند القدرة؛ أما فاقد الطهورين فصلاته صحيحة مع وجوب الإعادة عليه؛ (و) طهارة (النجس) الذي لا يعفى عنه في ثوب وبدن ومكان. وسيذكر المصنف هذا الأخير قريبا. (و) الثاني (ستر) لون (العورة) عند القدرة ولو كان الشخص خاليا أو في ظلمة. فإن عجز عن سترها صلى عاريا، ولا يومئ بالركوع والسجود، بل يتمهما، ولا إعادة عليه. ويكون ستر العورة (بلباس طاهر). ويجب سترها أيضا في غير الصلاة عن الناس وفي الخلوة إلا لحاجة من اغتسال ونحوه. وأما سترها عن نفسه فلا يجب لكنه يكره نظره إليها. وعورة الذكر ما بين سرته وركبته، وكذا الأَمة؛ وعورة الحُرَّة في الصلاة ما سوى وجهها وكفيها ظهرا وبطنا إلى الكوعين؛ أما عورة الحُرَّة خارجَ الصلاة فجميع بدنها، وعورتها في الخلوة كالذكر. والعورة لغةً النقص، وتطلق شرعا على ما يجب ستره، وهو المراد هنا وعلى ما يحرم نظره. وذكره الأصحاب في كتاب النكاح. (و) الثالث (الوقوف على مكان طاهر)؛ فلا تصح صلاة شخص يلاقي بعضُ بدنه أو لباسه نجاسةً في قيام أو قعود أو ركوع أو سجود. (و) الرابع (العلم بدخول الوقت) أو ظن دخوله بالاجتهاد؛ فلو صلى بغير ذلك لم تصح صلاته وإن صادف الوقت. (و) الخامس (استقبال القبلة) أي الكعبة. سميت قبلةً لأن المصلي يقابلها، وكعبةً لارتفاعها. واستقبالها بالصدر شرط لمن قدر عليه.



Pandangan Mufti Mazhab Hanbali Makkah Terhadap Ibnu Abdul Wahab

Wahabi merupakan sejarah kelam umat ini yang fitnahnya masih berlanjut hingga saat ini. Banyak para ulama yang telah menuliskan sejarah berdarah sekte ini semenjak masa pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahab. Para ulama dari empat mazhab menolak sekte ini. Dari kalangan ulama Hanabilah juga banyak yang telah membantah dan menolak paham wahabi ini. Di antara ulama Hanabilah yang menolak paham Muhammad bin Abdul Wahab adalah kalangan keluarnya sendiri, ayah kandungnya, Syeikh Abdul Wahab dan abang kandungnya, Syeikh Sulaiman. Mufti mazhab Hanbali di kota Makkah pada abad ke 13 hijriyah juga menulis dalam kitab sejarah ulama mazhab Hanbali tentang penolakan ayah dan abang kandung Muhammad bin Abdul Wahab terhadap aliran yang ia kembangkan saat itu.
Syeikh Muhammad bin Abdullah an-Najdi al-Hanbali (wafat 1295H) merupakan seorang ulama besar yang dalam mazhab Hanbali yang diakui kealimannya. Beliau lahir tahun 1232 H, lebih kurang sekitar 26 tahun meninggalnya pendiri wahabi, Muhammad bin Abdul Wahab (tahun 1206 H). Beliau menjadi mufti Mazhab Hanbali di kota suci Makkah al-Mukarramah. Dalam kitabnya as-suhub al-wabilah ‘ala dhawarih al-Hanabilah – sebuah kitab yang berisi biografi ulama-ulama mazhab Hanbli- ketika menuliskan biografi Syeikh Abdul Wahab, beliau menerangkan sedikit tentang penolakan Syeikh Abdul Wahab dan Syeikh Sulaiman terhadap dakwah Muhammad bin Abdul Wahab. Kitab tersebut bisa di download di website Archive
Berikut pernyataan beliau dalam kitab tersebut hal 275 tepatnya pada urutan ke 415 yang kami sertakan dengan terjemahannya;

وهو والد محمّد صاحب الدعوة التي انتشر شررها في الافاق، لكن بينهما تباين مع أن محمدًا لم يتظاهر بالدعوة إلا بعد موت والده، وأخبرني بعض من لقيته عن بعض أهل العلم عمّن عاصر الشيخ عبد الوهاب هذا أنه كان غضبان على ولده محمد لكونه لم يرض أن يشتغل بالفقه كأسلافه وأهل جهته ويتفرس فيه أن يحدث منه أمر، فكان يقول للناس: يا ما ترون من محمد من الشر، فقدّر الله أن صار ما صار

وكذلك ابنه سليمان أخو الشيخ محمد كان منافيًا له في دعوته ورد عليه ردًا جيدا بالآيات والآثار لكون المردود عليه لا يقبل سواهما ولا يلتفت إلى كلام عالم متقدمًا أو متأخرا كائنا من كان غير تقي الدين بن تيمية وتلميذه ابن القيم فإنه يرى كلامهما نصّا لا يقبل التأويل ويصول به على الناس وإن كان كلامهما على غير ما يفهم، وسمى الشيخ سليمان رده على أخيه "فصل الخطاب في الرد على محمّد بن عبد الوهاب" وسلّمه الله من شرّه ومكره مع تلك الصولة الهائلة التي أرعبت الأباعد،
فإنه كان إذا باينه أحد ورد عليه ولم يقدر على قتله مجاهرة يرسل إليه من يغتاله في فراشه أو في السوق ليلا لقوله بتكفير من خالفه واستحلاله قتله، وقيل إن مجنونًا كان في بلدة ومن عادته أن يضرب من واجهه ولو بالسلاح، فأمر محمدٌ أن يعطى سيفًا ويدخل على أخيه الشيخ سليمان وهو في المسجد وحده، فأدخل عليه فلما رءاه الشيخ سليمان خاف منه فرمى المجنون السيف من يده وصار يقول: يا سليمان لا تخف إنك من الآمنين ويكررها مرارا، ولا شك أن هذه من الكرامات ". ا.هـ


Beliau adalah ayah dari Muhammad, pemilik dakwah yang menyebarkan kerusakan ke seluruh alam, namun keduanya sangat berbeda, Muhammad tidak menyebarkan dakwahnya secara terang kecuali setelah wafat ayahandanya. Sebagian ahli ilmu yang semasa dengan Syaikh Abdul Wahhab memberitahukan kepadaku “ orang ini (ayahnya, Syeikh Abdul Wahab) sangat marah kepada anaknya Muhammad, karena ia tidak mau menekuni ilmu fiqh sebagaimana pendahulunya, dan ia berfirasat bahwa akan muncul dari anaknya suatu perkara. Beliaa berkata kepada orang-orang: “Hai, tidakkah kalian lihat keburukan yang ada pada Muhammad? kemudian Allah mentakdirkan untuk terjadi apa yang telah terjadi.
Demikian juga anak beliau yang lain, Syeikh Sulaiman, abang kandung Muhammad bin Abdul Wahab, beliau juga menentangnya dakwahnya, dan menolaknya dengan penolakan yang bagus dengan dalil ayat al-quran dan hadits, karena orang yang beliau hadapi (Muhammad bin Abdul Wahab) tidak akan menerima kecuali dengan keduanya, dan ia juga tidak mau peduli dengan perkataan para ulama, baik ulama terdahulu maupun ulama mutaakhirin selain Taqiyyudin Ibnu Taymiyah dan muridnya Ibn Qayyim, ia beranggapan bahwa kalam keduanya merupakan nash yang tidak menerima takwil dan ia menyampaikannya kepda ummat walaupun pemahaman keduanya bukan hal yang sepatutnya dipahami, dan Syaikh Sulaiman menamakan kitab penolakan beliau terhadap saudaranya tersebut dengan nama Fashl al-Khitab fi Radd ‘ala Muhammad bin Abdil Wahab. Allah menyelamatkan beliau dari keburukan dan tipudaya saudaranya dengan disertai upaya penyerangan yang menakutkan.
Karena Muhamnmad Ibn Abd Wahab jika ada orang yang menyalahinya dan menolak pahamnya, jika ia tidak mampu membunuhnya secara terang terangan, maka ia akan mengirim utusan untuk membunuhnya di tempat tidurnya, atau di pasar ditengah malam hari, karena ia beranggapan kafir orang yang tidak sependapat dengannya dan halalkan darahnya untuk dibunuh. Dikisahkan, ada orang gila di kota tersebut, biasanya ia akan menyerang siapa saja yang ada dihadapannya walau dengan pedang, kemudian Muhammad memerintahkan agar orang gila ini diberikan pedang, kemudian dimasukkan ke tempat Syaikh Sulaiman. Pada saat beliau sedang sendirian di mesjid, kemudian orang gila ini dimasukkan ke tempat beliau, lalu tatkala ia melihat Syaikh Sulaiman, ia merasa ketakutan dan membuang pedang dari tangannya, ia berkata kepada Syaikh Sulaiman “wahai Sulaiman, janganlah takut sesungguhnya engkau termasuk orang yang aman, dan ia mengulanginya beberapa kali. Dan tidak diragukan bahwa ini merupakan tanda karamah (Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahab).

Syeikh Muhammad bin Abdullah an-Najdi al-Hanbali, as-suhub al-wabilah ‘ala dhawarih al-Hanabilah, hal. 275 Maktabah Imam Ahmad


Fatwa Ibnu Hajar; Menggunakan Biji Tasbih

Buah Tasbih
Buah tasbih merupakan satu benda yang sudah lazim dipergunakan oleh para ulama untuk menghitung jumlah zikir. Namun sebagian golongan menganggap penggunaan buah tasbih untuk menghitung jumlah zikir merupakan perbuatan bid’ah yang para pelakunya diancam dengan siksa neraka. Syaikhul Islam Ibnu Hajar al-Haitami pernah ditanyan tentang hukum memakai biji tasbih.


وسئل) - رضي الله عنه - هل للسبحة أصل في السنة أو لا؟
فأجاب) بقوله: نعم، وقد ألف في ذلك الحافظ السيوطي؛ فمن ذلك ما صح عن ابن عمر  رضي الله عنهما - «رأيت النبي - صلى الله عليه وسلم - يعقد التسبيح بيده.» وما صح عن صفية: - رضي الله عنها - «دخل علي رسول الله - صلى الله عليه وسلم - وبين يدي أربعة آلاف نواة أسبح بهن، فقال: ما هذا يا بنت حيي. قلت: أسبح بهن، قال: قد سبحت منذ قمت على رأسك أكثر من هذا، قلت: علمني يا رسول الله قال: قولي سبحان الله عدد ما خلق من شيء.
» وأخرج ابن أبي شيبة وأبو داود والترمذي: «عليكن بالتسبيح والتهليل والتقديس ولا تغفلن فتنسين التوحيد، واعقدن بالأنامل فإنهن مسئولات ومستنطقات.» وجاء التسبيح بالحصى والنوى والخيط المعقود فيه عقد عن جماعة من الصحابة ومن بعدهم وأخرج الديلمي مرفوعا: نعم المذكر السبحة.
وعن بعض العلماء: عقد التسبيح بالأنامل أفضل من السبحة لحديث ابن عمر. وفصل بعضهم فقال: إن أمن المسبح الغلط كان عقده بالأنامل أفضل وإلا فالسبحة أفضل



Di tanyakan kepada Syaikh Ibnu Hajar Al-Haitami
Penggunaan biji tasbih apakah ada landasannya dalam sunnah ataupun tidak ?

Beliau menjawab:

iya (Penggunaan buah tasbih tersebut punya landasan dalam sunnah). Imam As-Suyuthi telah mengumpulkan hadis-hadis tersebut, diantaranya, Hadis sahih dari Ibnu Umar ‘’saya melihat Nabi Muhammad a’laihi salam menghitung bacaan tasbih dengan tangannya’’. Dan hadis sahih dari Shafiah r.a ‘’Rasul masuk menemuiku dan di hadapanku ada 4000 biji kurma yang saya gunakan untuk menghitung tasbih", maka Rasulullah pun bertanya “apa ini wahai anak perempuan Huyay?. Sayapun menjawab “saya gunakan pada saat bertasbih”. Rasulullah berkata “Sungguh bacaan tasbihku pada saat berdiri dekat kamu lebih banyak dari bacaan tasbihmu ini”, saya berkata “ajari saya wahai Rasullullah”, Rasulullah berkata “ucapkan subhanallah ‘adada ma khalaqa min syai`”. Dan meriwayat oleh Ibnu Abi Syaibah, Abu Daud dan Tirmizi “mestilah kalian bertasbih, bertahlil dan mentakdiskan Alllah dan janganlah kalian lalai maka kalian akan melupakan keesaan Allah, dan hitunglah dengan ujung-ujung jari maka semuanya akan ditanyakan”. Dan bertasbih menggunakan batu, biji kurma, dan benang yang di gulungkan telah diriwayatkan dari para shahabat dan orang sesudahnya. Imam Ad-Dailami meriwayatkan satu hadis marfu’ “alat berzikir yang paling bagus itulah biji tasbih”. Sebagian ulama berpendapat bahwa menghitung tasbih mengunakan ujung jari lebih utama dari pada menggunakan biji tasbih karna hadis Ibnu Umar. Sebagian ulama yang lain berpendapat bila menghitung menggunakan jari tidak akan keliru maka yang lebih utama adalah menggunakan jari, namun bila ditakutkan akan keliru maka lebih baik menggunakan biji tasbih.

Fatawa Fiqhiyah kubra jilid 1 hal. 152, Cet. dar Fikr


Kesimpulan dari jawaban Syaikhul Islam Ibnu Hajar adalah menggunakan biji tasbih untuk menghitung jumlah zikir bukanlah merupakan perbuatan bid’ah.


Surat Yang Sunnah dibaca Pada Shalat Witir

Surat Apakah Yang Sunnah Dibaca Pada Shalat Witir ?


Pertanyaan :
Shalat witir yang melebihi tiga rakaat, apakah disunatkan membaca surat al- ‘akla,  al-kafirun, al-ikhlas dan ma’uzatain di rakaat tiga  terakhir Sama halnya dengan witir yang hanya tiga rakaat? dan apakah ada dalil yang mengatakan demikian?

Jawaban:
Disunatkan membaca surat al-‘akla, al-kafirun, al-ikhlas dan ma’uzatain, ketentuan ini berlaku pada shalat witir tiga rakaat maupun lebih, baik tiga rakaat itu dilakukan sesudah salam dari dua rakaat atau sesudah salam dari empat, seusai salam dari enam atau sesudah salam dari delapan rakaat. Sedangkan bila dikerjakan lima rakaat sekaligus, atau tujuh rakaat secara bersambung-sambung atau sembilan atau sebelas rakaat tanpa diselangi salam maka ketentuan di atas tidak berlaku.

Dalilnya:
a. Nabi pada rakaat pertama shalat witir membaca surat al-‘akla, dirakaat kedua membaca al-kafirun, dirakaat ketiga al-ikhlas, dan ma’uzatain.

b. Riwayat ‘Amrah dari ‘Aisyah berkata: Rasulullah pada dua rakaat membaca surat al-‘akla dan al-kafirun dan di rakaat ganjil dibaca al-ikhlas dan ma’uzataini.

c. Riwayat Abu Daud dan Turmizi dari hadis Khasif bin Abdurrahman dari Abdul Aziz bin Jurez berkata: saya telah menanyakan kepada Aisyah: surat apa yang rasul baca pada shalat witir. Aisyah menjawab: pada rakaat pertama dibaca al-‘akla, pada rakaat kedua al-kafirun pada rakaat yang ketiga surat al-ikhlas dan ma’uzatain.

d. Abdurrahman bin Abza meriwayat dari Ubai bin Ka’ab bahwa Rasulullah salat witir membaca surat al-‘akla dan al-kafirun dan al-ikhlas.

Referensi : Fatawa Bulqini Cetakan, Darul ibnu ‘affan, Halaman 126.


Download Kitab Tashwir al-Mathlab fi Ta’bir bi Mazhab


تصوير المطلب فى تعبير بالمذهب 

دراسة تحليلية لظاهر تعبير المنهاج بالمذهب عبر شرح واف لعبارتين من التحفة وعبارة من شرح المحالي فى بيان الطرق والمذهب ويحتوى على ابحاث قيمة فى هذا الصدد تأليف الشيخ عبد البصير سليمان الثقافي الفلاكلي المليباري


Salah satu kitab pegangan wajib bagi pelajar mazhab Syafii adalah kitab Minhaj Thalibin karangan Imam Nawawi. Kitab ini merupakan ringkasan dari kitab al-Muharrar. Dalam kitab ini Imam Nawawi menggunakan beberapa istilah baru. Di antara beberapa istilah tersebut adalah mazhab, yaitu satu pendapat yang kuat dari khilaf Thuriq dalam mazha Syafii. Pembahasan masalah mazhab dan thariq dalam minhaj termasuk masalah yang rumit dan mendalam. Para pensyarah minhaj terutama Imam al-Jalal al-Mahalli telah menjelaskan setiap mazhab yang ada dalam kitab Minhaj dengan menampakkan thariq qatha’ dan thariq khilafnya serta asal usul khilafiyah tersebut.
Kitab Tashwir al-Mathlab fi Ta’bir bi Mazhab karangan Syeikh Abdul Bashir Sulaiman ats-Tsaqafi al-Malibari merupakan salah satu kitab yang menguraikan secara khusus istilah mazhab tersebut dengan mengacu kepada kitab-kitab Syarah Minhaj terutama kitab Tuhfatul Muhtaj karangan Ibnu Hajar al-Haitami dan Kitab al-Mahalli (Kanz Raghibin) karangan Imam al-Mahalli serta hasyiah-hasyiah dari kedua kitab tersebut.
Kitab ini di cetak bersamaan dengan kitab Syeikh Abdul Bashir yang lain, Sirrul Maknun fi Tafthir sabq ma’ fi Ghaslil Masnun yang menjelaskan ibarat kitab Fathul Mu’in bahwa batal puasa bila masuk air ke dalam rongga ketika mandi sunnah.
Bagi yang ingin memiliki file dpf kitab tersebut silahkan di download di SINI

donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja