Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Mengungkap Penyimpangan Dr. Ismail Kassim

Beberapa tahun terakhir Sheikh Dr. Ismail H. Kassim sering berkunjung ke Aceh bahkan ke beberapa dayah sebagai tamu di mana beliau tetap disambut sebagaimana lazimnya tamu kehormatan. Walaupun dari awal kunjungannya saat itu Ulama Aceh sudah mulai menaruh kecurigaan terhadap beliau, pada saat pertamakali kedatangannya ke Aceh waktu itu, guru murshid jemaah Pertubuhan Rahmatan Lil ‘Alamin (Perahmat) di seluruh Malaysia tersebut belum menampakkan wujud aslinya.


Dan seiring dengan perjalanan waktu sedikit demi sedikit penyimpangannya semakin nampak, akhirnya semenjak dari itu Abu MUDI mengirim tim untuk menyelidikinya secara lebih dalam agar tidak salah dalam mengambil kesimpulan, pada tanggal 06 Februari 2016 Syekh Ismail mengadakan seminar di Hotel Oasis Lueng Bata Banda Aceh dan dalam seminar tersebut Syekh Ismail mengundang Abu MUDI dan sepuluh dewan guru, namun Abu MUDI mengirimkan 8 orang TIM LAJNAH untuk mengikuti dan memantau seminar tersebut. Dalam seminar tersebut Syekh Ismail Qasim banyak mengeluarkan kata-kata yang menyimpang dan sangat marah ketika dikritisi bahkan mengancam kafir bila menolak ilmu LA ILAHA ILLALLAH yang beliau bawakan.

Berikut beberapa pernyataan Syekh Ismail Qasim dalam acara tersebut:
  1. Bila hanya dengan memuji dengan lidah, maka manusia tersebut hanya muslim dan bahkan hanya muslim yang munafiq, namun jika dia memuji dengan Qalbu, maka dia baru dikatakan Mukmin.
  2. (Pernyataan pertama) Ilmu ini sudah hilang selama 800 tahun.
  3. (Pernyataan kedua) ilmu ini disembunyikan selama 700 tahun, dan ilmu ini diajarkan oleh syaikh Abdul Qadir al-Jailani, dan diteruskan tapi tidak disebarkan, hanya diajarkan di gunung-gunung dan di hutan, barulah sekarang diajarkan kembali dan dikembangkan kepada masyarakat.  
  4. Dalam tiap tiga bulan syaikh Abdul Qadir al-Jailani mengutus 40 khalifah keseluruh dunia.
  5. Dalam menafsirkan Al-Quran, tidak boleh menggunakan kitab tafsir, tapi merujuk kepada penafsiran para Aulia Allah. Seperti dalam bukunya halaman 57 dalam menafsirkan surat Al-Baqarah ayat 8. “mengapa Allah SWT menurunkan ayat-ayat menafikan Iman para sahabat dan kaum muslimin” padahal dalam tafsir ayat ini diturunkan kepada kaum Munafiq.
  6. Sebagian para sahabat munafik berdasarkan surat Al-Baqarah ayat 8.
  7. Ketika menyampaikan Ilmu Syahadah ini, maka bukan saya yang menyampaikan, tetapi Allah sendiri yang menyampaikan. Bahkan ketika saya menyampaikan ilmu ini kepada suatu majlis, maka Rasul pun boleh datang ajar LA ILA HA ILLALLAH.
  8. Menafsirkan Alquran adalah perbuatan yang menyempitkan makna Al-Quran, dan sebanyak 50 mufassir mati dalam keadaan mengenaskan karena menyempitkan makna Al-Quran, oleh karena itu, para Aulia, termasuk Syaikh Abdul Qadir al-jailani tidak berani menafsirkan ma’na Al-Quran.
  9. Tidak boleh merujuk kepada kitab, tapi merujuk kepada Al-Quran, Hadis dan Ahlul Bait.
  10. Hadis tentang berpegang kepada Al-Quran dan hadist adalah palsu, hadis mursal, jadi yang Shahih adalah berpegang kepada Al-Quran dan keluargaku (Ahlul Bait).
  11. Para sahabat selain Ali dan Abu Bakar menjadi munafiq karena memperlihatkan zikir saat nabi mengatakan جددو ايمانك.
  12. Tak dapat dekat dengan Allah dengan Ibadat. Contoh, Syaitan, beribadah ribuan tahun tapi dilaknat oleh Allah, dan Malikat, beribadat ribuan tahun, tapi tak dapat naik ke atas ‘arasy untuk bertemu Allah dan terbakar saat mencoba untuk naik. Hanya dengan ilmu Syahadah yang dapat mendekatkan diri kepada Allah.
  13. Tanpa ilmu Syahadah, maka manusia tak dianggap beriman kepada Allah.
  14. Seluruh nabi selain nabi Muhammad sudah syirik kepada Allah melalui akal, Qalbu, Ruh dan sirri namun tidak syirik melalui jasad. Dan Allah melarang seluruh nabi untuk melakukan syirik, ini karena seluruh manusia termasuk nabi punya potensi untuk syirik.
  15. Orang yang tidak mempelajari ilmu Syahadah maka wajib dibunuh dan halal darahnya, berdasarkan hadist “dan bunuhkan mereka hingga mereaka bersaksi".
  16. Tak boleh mengartikan Ilah dan Rabb dengan makna tuhan, karena tuhan adalah hantu. Dan ilah dan Rabb berbeda makna.
  17. Allah menciptakan akal pada manusia bukan untuk belajar Ilmu Hadis, Tauhid dan ilmu-ilmu lain, tapi untuk belajar ilmu Syahadah.
  18. Rasulullah mempelajari ilmu syahadah selama 13 tahun.
  19. Rasulullah mengajarkan 4 macam syirik kepada sahabat selama 13 tahun, baru kemudian disuruh beribadah kepada Allah SWT.
  20. Tujuh Puluh Bab Syahadah yang diajarkan oleh Nabi kepada sahabat.
  21. Al-Quran bukan untuk dibaca, tapi untuk dipegang, dan mashaf yang ada sekarang ini bukanlah Al-Quran.
  22. Pengajian di Pondok Pesantren itu tidak ada syahadah.
  23. Kenapa di pesantren Ulama tidak mengajar ilmu syahadah karena ulama tidak dilantik oleh Allah, Allah hanya lantik Rasul SAW dan ahli bait untuk mengajar ilmu syahadah, orang lain tidak boleh ajar, karena dalam darah daging mereka tidak ada penyaksian, hanya dalam darah daging ahli bait ada penyaksian Allah dan Rasul SAW.
  24. Negara yang tidak terima ilmu ini maka setelah enam bulan akan hancur.
  25. Kafir dan kufur ada beda, kafir menolak Allah, orang kufur menolak ayat Allah, orang Muslim menolak ayat Allah.
  26. Siapa yang tidak belajar ilmu La Ilaha Illallah maka ia tiada iman kepada Allah, melainkan sudah belajar ilmu La Ilaha Illallah.
  27. Yang mengatakan “aku beriman” dengan mulut tanpa belajar ilmu La Ilaha Illallah mereka sedang masuk dalam kekufuran.
  28. Allah maha hadi maha adil, yang menunjukkan jalan ihdina siratal mustaqim, yaitu ilmu La Ilaha Illallah, di jalan itu saja ada iman di jalan lain, di jalan lain minta maaf, di jalan lain hanya Islam saja, dengan Islam tidak boleh sampai kepada Allah SWT.

Setelah berita ini tersebar lalu ditemukan juga rekaman-rekaman Syekh Ismail Kassim yang menyimpang, seperti dibawah ini :
https://www.youtube.com/watch?v=hzq7Hvs73eg&feature=youtu.be
https://www.youtube.com/watch?v=_WXSGgf3Z3k
https://www.youtube.com/watch?v=jqOy8LFcgLY

Link Syekh Ismail Kassim:
Web http://www.rahmatanlilalamin.org.my/

Semoga dengan penemuan ini ada keputusan dari pihak berwenang (MPU) untuk melarang Syekh Ismail Kassim datang ke Aceh.

Solusi Jika Terlanjur Makan Babi

Terlanjur / tidak sengaja makan daging babi, Bagaimana cara menyamak nya ?

Berikut ini Solusi jika tidak sengaja anda memakan daging babi.

Deskipsi Masalah:

Pak Martin memiliki banyak harta dan pak Martin sangat berkeinginan untuk mengajak keluarganya keluar negeri, tak lama kemudian keinginannya terkabul dan akhirnya pak Martin dan keluarganya berangkat keluar negeri, setiba di bandara pak somat merasa lapar, lalu pak Martin dan keluarga mendatangi sebuah restoran, karena terlalu lapar pak Martin langsung masuk dalam restoran, rupanya rentoran yang pak Martin masuk menyediakan danging babi, Tanpa bertanya lagi beliau menghabiskan makanan yang di hidangkan. Akhirnya saat sudah keluar dari restoran beliau baru tau bahwa makanan yang dipesan tadi memang terbuat dari daging babi, jadi apa yang harus dilakukan pak Martin yang sudah terlanjur makan babi ????

Jawaban :

Bila seseorang memakan najis mughalladhah, seperti babi, maka mulutnya wajib disamak (menyucikan tujuh kali dengan air salah satunya dicampur dengan tanah), Tidak wajib menyamak tempat keluar kotoran (Dubur / Anus kita tidak wajib disamak) bila daging babi yang keluar sudah berubah , tapi bila daging babi yang keluar masih utuh, maka wajib menyamak lubang dubur /Anus tempat keluar kotoran tersebut.

Referinsi :
Asnal Mathalib syarah Raudhah attalib jld 1, hal 21. Cetakan D.K.I.

ولو ارتضع من كلبة فالقياس أيضا كذلك لأن حكم التغليظ لا ينسحب على المخرجين بدليل أنه لو أكل لحم كلب لم يجب غسله عند الاستنجاء سبعا وإن وجب غسل الفم سبعا ت.

"Dan jikalau meminum susu anjing, maka kiasnya juga seperti itu (tidak wajib samak ketika istinjak), karena tidak dihukumkan lagi kepada najis mughalladhah bila sudah masuk usus. Sama halnya bila seseorang memakan najis babi, niscaya tidak wajib menyamak ketika istinjak ( buang air besar ), sekalipun wajib menyamak mulutnya."


Tuhfatul muhtaj jld 1, hal 311. Cetakan Maktabah Tijariyah Kubra Mesir.

لو أكل مغلظا ثم خرج منه لم يجب تسبيع المخرج، وقد يقال ذاك إذا وصل لمحل الإحالة وهو المعدة فليتأمل سم وقوله وقد يقال إلخ هذا قياس ما مر في القيء (قوله فعلى الثاني إلخ) قد يقال بل وعلى الأول لا بد من الاستثناء؛ لأنا وإن قلنا بالتنجيس لا نقول بوجوب تطهير الملاقي للمغلظ بل الملاقي للملاقي.

"Bila seseorang memakan najis mughalladhah, kemudian najis tersebut keluar, maka tidak wajib menyucikan tempat keluar tujuh kali, begitu juga bila sudah sampai dalam perut."

Wallahu A'alam Bisshawab.

Dalil-Dalil Karamah Yang Terjadi Pada Para Aulia Allah

Aulia adalah jamak dari wali , pengertian dari wali Allah adalah manusia yang mengenal sifat kesempurnaan bagi Allah swt dan selalu mengerjakan taat kepada Allah dan menjauhkan dari maksiat atau segera bertaubat jika terlanjur dalam kesalahan, atau makna dari wali juga manusia yang menyerahkan urusannya kepada Allah swt. Maka bagi para wali tersebut diberikan oleh Allah tanda-tanda yang disebut dengan karamah ( ada yang menyebutnya keramat ) .

Sedangkan makna karamah adalah :

اَمْرٌ خَارِقٌ لِلعَادَة يَظْهَرُ عَلَى يَدِ عَبْدٍ ظَاهِرٍ الصَّلَاحِ مُلْتَزِمِ لِمُتَابعَة نَبِي بِشَرِيْعَتِهِ مَصْحُوب بِصَحِيْحِ الْاعْتِقَادِ

"Sesuatu yang menyalahi kebiasaan terjadi pada tangan hamba Allah yang shaleh yang selalu mengikuti syariat nabi saw dan mempunyai i’tiqat yang benar."

Adapun beberapa dalil-dalil tentang karamah yang dimiliki para aulia adalah :

1. Dalam al-Quran surat al-Imran ayat 37 dikisahkan tentang Maryam yaitu Allah menciptakan Maryam dengan pertumbuhan yang baik dan cepat hingga Allah menjadikannya serolah-olah sudah berumur satu tahun padahal umaunya baru sehari. Dan Maryam tinggal bersama nabi Zakaria serta tiada orang lain bersamanya akan tetapi disana teredapat buah-buahan musim dingin pada musim panas dan buah-buahan musim panas pada musim dingin. Ini adalah karamah yang terjadi pada aulia Allah swt.

2. Kisah Ashabul kahfi jumlah mereka tujuh yang bersembunyi di dalam gua untuk menyelamatkan imamnya sedangkan mereka tidur di dalamnya selama 369 tahun tidak makan dan minum ketika mereka bangun mereka tetap dalam keadaan sehat.

3. Karamah yang ketiga kisah yang terdapat dalam al-Quran seorang aulia Allah bernama Asif al-Balqiya ia adalah salah satu mentri raja Sulaiman as, karamah yang beliau miliki adalah bisa memindahkan singgasana ratu Balqis dalam sekedip mata.

4. Karamah yang terjadi pada sahabat rasul saw yaitu Umar bin Khatab ra beliau bisa melihat musuh dari jarak jauh ketika itu beliau berkata ‘’wahai tentara menujulah kalian kegunung !’’ maka ketika itu para tentara mendengar suara Umar dari jarak jauh kemudian mereka menuju ke gunung dan menyerang musuh serta mendapat kemenangan berkat pertolongan dari Allah swt.

5. Pernah diriwayatkan juga bahwa Abdullah bin Syaqiq (tabi’in) , pada ketika beliau berjalan di bawah awan maka beliau berkata ‘’Aku bersumpah demi Allah sesungguhnya sekarang akan turun hujan! ‘’ niscaya pada waktu itupun akan turun hujan segera dengan izin Allah swt.
Maka inilah dalil-dalil karamah yang terdapat pada aulia Allah, maka dengan uraian singkat di atas mudah-mudahan bisa menghilangkan keraguan jika ada yang mengatakan bagi para aulia atau selain rasul saw tidak memilki karamah. Dari uraian di atas ada sebagian terdapat dalam al-Quran dan hadis yang intinya karamah adalah ada bagi hamba Allah yang terpilih.

Referensi kitab Tuhafatul Murid ala Jauharah Tauhid hal.95-96 Karangan Syaikh Islam Ibrahim bin Muhammad al-Bajuri .

Wallahu 'Alam Bisshawab.

Bahaya Ideologi Wahabi

Wahabi
Banyak dampak negatif yang timbul dengan berkembangnya ideologi wahabi. Mari kita jaga saudara kita dari terjangkit aqidah kaum khawarij ini. Di bawah ini kami sebutkan beberapa bahaya yang bisa timbul dari aqidah wahabi tersebut antara lain;

1. Menimbulkan perpecahan ummat

Semenjak dari dulu umat islam Indonesia hidup dengan kompak dan damai namun setelah hadirnya sebuah kelompok yang sering disebut dengan Wahabi yang memiliki fatwa-fatwa ganjil dan memvonis bid’ah dan sesat bahkan syirik terhadap amalan-amalan yang sudah diamalankan oleh umat Islam di Nusantara semenjak dahulu seperti tahlilan, yasinan, tawassul, ziarah kubur dll. Hal ini menimbulkan perpecahan dalam masyarakat bahkan juga dalam satu keluarga.

2. Akan menimbulkan anggapan sesat kepada mayoritas ulama terdahulu

Kaum wahabi dengan vonis sesat mereka terhadap ulama Asya’irah dan Maturidiyah akan berakibat kepada umat ini akan berburuk sangka dan hilangnya rasa hormat kepada mayoritas ulama terdahulu. Ulama Asya’irah merupakan mayoritas ulama umat ini semenjak dahulu sebagaimana Imam Subki sebutkan dalam thababat beliau bahwa maoritas ulama mazhab empat merupakan golongan Asya’irah Maka dengan adanya pemahaman bahwa Asya’irah merupakan golongan sesat maka mayoritas ulama dahulu merupakan orang-orang sesat. Ulama-ulama sekaliber Imam Nawawi, Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, al-Haitami, as-Subki, al-Baihaqi, al-Baqilani dll merupakan ulama-ulama Asyairah. Bahkan kaum wahabi dengan secara jelas menuliskan dalam kitab mereka bahwa aqidah imam Nawawi, Imam Sayuthi, Imam Baihaqi adalah sesat.


3. Mengurangi rasa hormat kepada Rasulullah dan keluarga beliau

Beberapa aqidah dan fatwa kaum wahabi yang bisa berakibat kepada mengurangi rasa hormat kepada Rasulullah dan keluarga beliau adalah;

  1. Haramnya memperingati kelahiran Rasulullah
  2. Haramnya memuji Rasulullah
  3. Haramnya membaca saiyidina sebelum nama Rasulullah
  4. Mengkafirkan ayah bunda Rasulullah
  5. Haramnya membaca shalawat yang menurut mereka tidak bersumber dari Rasulullah, seperti shalawat yang dibacakan oleh shahabat, tabi’in dan para ulama lain.

4. Menimbulkan paham Tajsim

Pemahaman kaum wahabi yang memahami nash-nash mutasyabihat secara dahirnya saja akan berakibat kepada pahaman tajsim, yaitu meyakini bahwa Allah memiliki jasad sebagaimana manusia. Hal ini karena banyak nash-nash mutasyabihat yang kalau diartikan secara dhahir saja akan menimbulkan pemahaman bahwa Allah memiliki tangan, wajah, kaki, betis, lambung, mata, jiwa, bertempat di atas Arasy dan bersifat dengan datang dan naik turun. Bahkan ada fatwa kaum wahabi bahwa Allah berbentuk dalam amrad dan panjang Allah 60 hasta. [1]

5. Menghilangkan situs-situs Islam

Keyakinan wahabi yang mengharamkan ziarah kubur secara mutlak dan menganggap kuburan-kuburan para ulama sebagai sumber kesyirikan yang harus dimusnahkan akan melahirkan ide-ide untuk menghancurkan makam-makam para ulama yang sering di ziarahi umat. Hal ini terbukti dalam sejarah. Berbagai bangunan di atas kuburan di Baqi’ di hancurkan oleh wahabi ketika mereka menguasai Madinah. Saat ini kita juga bisa melihat kaum ISIS dan para ekxtrimis wahabi lainnya yang ada di Timur Tengah saat ini, mereka menghancurkan makam-makam para ulama yang ada di Suriah, Iraq dan Yaman dan wilayah-wilayah lain yang sempat mereka kuasai. Bahkan mereka juga turut menghancurkan mesjid-mesjid yang di dalamnya terhadapt makam para ulama. Lebih kejam lagi, mereka menghancurkannya dengan mengebomnya hingga hancur rata dengan tanah.

6. Mengancam keutuhan NKRI

Kaum wahabi tidak segan-segan dalam menghukumkan kafir dan syirik terhadap orang lain yang tidak sepaham dengam mereka, tak kecuali kepada pemerintah yang tidak menjalankan syariat Islam. Tak jarang kita mendengar teriakan thaghut kepada pemerintah karena berdasarkan Pancasila. Maka akidah wahabi akan menjadi benih yang membahayakan bagi keutuhan NKRI. Di belahan dunia lain, rata-rata gerakan pemberontakan di negara Islam di dalangi oleh idelogi ekstrim wahabi.

7. Melahirkan gerakan ekstrem/radikal

Ideologi wahabi yang dengan mudahnya memvonis bid’ah dan syirik berbagai macam amalan umat Islam lain, akan dengan mudah memunculkan paham ekstrem dan radikal. Karena sudah terlebih dahulu divonis sebagai pelaku syirik maka mereka tidak akan segan untuk membunuhnya apalagi disertai dengan dorongan anggapan menghilangkan kemusyrikan. Memerangi kemusyrikan akan mendapatkan pahala besar dan bila gugur akan mendapat pahala syahid.


8. Akan tertuduh sebagai golongan Syiah.

Salah satu hal yang baru yang berkembang saat ini adalah tuduhan sebagai “pengikut syiah” yang dilontarkan oleh golongan pendukung wahabi terhadap bagi golongan yang tidak sejalan dengan pandangan mereka. Mereka juga membuat image bahwa banyak amalan-amalan kaum aswaja yang berasal dari kaum syiah. Hal ini bertujuan untuk menarik simpati masyarakat awam karena golongan syiah memang sudah lumrah dikenal sebagai golongan sesat. Sehingga ketika masyarakat awam sudah termakan dengan isu syiah maka akan semakin mudah menjatuhkan vonis sesat.
.................................................................................................
1. Majmu Fatawa al-Allamah Abdul Aziz ibnu Baz, Dar al-Ifta,jilid 4,fatwa no,2331,hal.368

Bagi yang ingin menambahkan lagi bahaya wahabi silahkan di tambahkan di kotak komentar. Bagi fans wahabi, kalau kepanasan juga di perbolehkan untuk komentar..

Hukum Menyewa Orang Baca Al-Qur'an di Kuburan

Bolehkah Meyewa Seseorang Untuk Membaca Al-Quran di Kuburan ?

Diskipsi Masalah :
Kebiasaan masyararakat yang Ahlusunnah wal Jamaah telah turun-temurun jika ada keluarganya yang meninggal dunia mereka menyewa orang membaca al-Quran hal ini telah biasa dilakukan sejak lama akan tetapi ada sekelompok orang sekarang bersikap usil (wahabi atau pengikut Abdul Wahab). Mereka melarang membaca al-Quran tersebut bahkan mengatakan bid’ah serta pelakunya akan masuk neraka, vonis model ini sangatlah tidak bijak seolah-olah selain dari kelompok mereka tidak akan masuk surga sama sekali dan hanya merekalah yang memilki sugra itu, padahal hukum membaca al-Quran boleh kapan saja dan dimana saja.

Pertanyaan :
Bolehkan menyewa pembaca al-Quran di kuburan ?

Jawaban :
Boleh menyewanya dan hukum membaca al-quran dikuburan adalah sunat seperti ditempat-tempat yang lainnya.

Referensi:
Fathul Mu’in juz 3 hal. 112-113 (Cet. Haramain)


قال شيخنا في شرح المنهاج يصح الاستئجار لقراءة القرآن عند القبر و مع الدعاء بمثل ما حصل له من الأجر له أو لغيره عقبها

Tuhfatul Muhtaj dan Hasyiah Syarwani Wal ‘Ubady juz 6 hal. 180-181 (Cetakan Beirut)

وَيَصِحُّ الِاسْتِئْجَارُ لِقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ عِنْدَ الْقَبْرِ أَوْ مَعَ الدُّعَاءِ بِمِثْلِ مَا حَصَلَ مِنْ الْأَجْرِ لَهُ أَوْ بِغَيْرِهِ عَقِبَهَا عَيَّنَ زَمَانًا أَوْ مَكَانًا أَوْ لَا .
حاشية الشرواني
(قَوْلُهُ لِقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ عِنْدَ الْقَبْرِ إلَخْ) عِبَارَةُ الْمُغْنِي وَالرَّوْضِ مَعَ شَرْحِهِ (فَرْعٌ) الْإِجَارَةُ لِلْقِرَاءَةِ عَلَى الْقَبْرِ مُدَّةً مَعْلُومَةً أَوْ قَدْرًا مَعْلُومًا جَائِزَةٌ لِلِانْتِفَاعِ بِنُزُولِ الرَّحْمَةِ حَيْثُ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَكُونُ الْمَيِّتُ كَالْحَيِّ الْحَاضِرِ سَوَاءٌ أَعْقَبَ الْقِرَاءَةَ بِالدُّعَاءِ لَهُ أَوْ جَعَلَ أَجْرَ قِرَاءَتِهِ لَهُ أَمْ لَا فَتَعُودُ مَنْفَعَةُ الْقِرَاءَةِ إلَى الْمَيِّتِ فِي ذَلِكَ وَلِأَنَّ الدُّعَاءَ يَلْحَقُهُ وَهُوَ بَعْدَهَا أَقْرَبُ إجَابَةً وَأَكْثَرُ بَرَكَةً وَلِأَنَّهُ إذَا جَعَلَ أَجْرَهُ الْحَاصِلَ بِقِرَاءَتِهِ لِلْمَيِّتِ فَهُوَ دُعَاءٌ بِحُصُولِ الْأَجْرِ لَهُ فَيَنْتَفِعُ بِهِ فَقَوْلُ الشَّافِعِيِّ إنَّ الْقِرَاءَةَ لَا تَصِلُ إلَيْهِ مَحْمُولٌ عَلَى غَيْرِ ذَلِكَ اهـ.(قَوْلُهُ أَوْ مَعَ الدُّعَاءِ إلَخْ) أَيْ لِلْمَيِّتِ أَوْ الْمُسْتَأْجِرِ اهـ نِهَايَةٌ (قَوْلُهُ أَوْ مَعَ الدُّعَاءِ) عَطْفٌ عَلَى عِنْدَ الْقَبْرِ وَكَذَا قَوْلُهُ بَعْدُ أَوْ بِحَضْرَةِ الْمُسْتَأْجِرِ أَيْ أَوْ عِنْدَ غَيْرِ الْقَبْرِ مَعَ الدُّعَاءِ وَ (قَوْلُهُ لَهُ) أَيْ لِلْقَارِئِ مُتَعَلِّقٌ بِحَصَلَ وَ (قَوْلُهُ أَوْ بِغَيْرِهِ) عَطْفٌ عَلَى بِمِثْلِ أَيْ كَالْمَغْفِرَةِ رَشِيدِيٌّ وَسَمِّ (قَوْلُهُ أَوْ بِغَيْرِهِ) يَنْبَغِي أَنْ يُعَيِّنَ لَهُ لِيَصِحَّ الِاسْتِئْجَارُ وَتُرْفَعُ الْجَهَالَةُ اللَّهُمَّ إلَّا أَنْ يُقَالَ الدُّعَاءُ هُنَا غَيْرُ مَعْقُودٍ عَلَيْهِ وَإِنَّمَا الْمَعْقُودُ عَلَيْهِ الْقِرَاءَةُ وَالدُّعَاءُ تَابِعٌ وَلَعَلَّ هَذَا أَوْجَهُ نَعَمْ فِي قَوْلِهِ وَأُلْحِقَ بِهَا إلَخْ يَنْبَغِي تَعْيِينُ الذِّكْرِ وَالدُّعَاءِ؛ لِأَنَّهُ الْمَعْقُودُ عَلَيْهِ اهـ سَيِّدُ عُمَر
حاشية ابن قاسم العبادي
(قَوْلُهُ عِنْدَ الْقَبْرِ إلَخْ) عِبَارَةُ شَرْحِ الرَّوْضِ سَوَاءٌ أَيْ فِي جَوَازِ الْإِجَارَةِ لِلْقِرَاءَةِ عَلَى الْقَبْرِ أَعْقَبَ الْقِرَاءَةَ بِالدُّعَاءِ لَهُ أَوْ جَعَلَ أَجْرَ قِرَاءَتِهِ لَهُ أَمْ لَا اهـ (قَوْلُهُ أَوْ مَعَ الدُّعَاءِ) عَطْفٌ عَلَى عِنْدَ الْقَبْرِ وَكَذَا قَوْلُهُ بَعْدُ أَوْ بِحَضْرَةِ الْمُسْتَأْجِرِ ش


Wallahu A'lam Bisshawab.

Defenisi dan Pembagian Hukum Akal

Abu Keumala
Hukum dari sisi hakimnya terbagi kepada tiga, hukum akal, hukum adat dan hukum syara'. Kali ini kita akan membahas apa itu hukum akal dan pembagiannya yang kami kutip dari buku Risalah Makrifah Abu Keumala.

Dalam kitab Ummul Barahin, definisi dan pengertian hukum Akal adalah:

عبارة عما يدرك العقل ثبوته اونفيه من غير توقف علي تكرار ولاوضع واضع

Artinya: ‘ibarat (pertimbangan) dari pada sesuatu yang diperoleh ‘akal adanya sesuatu itu, ataupun yang diperoleh tidak adanya sesuatu, yang tidak perlu kepada berulang-ulang dan tidak perlu kepada menetapkan lainnya.

Maka hukum yang disandarkan kepada ‘Akal itu, atau pernah disebutkan hukum ‘Akal terdapat hanya tiga perkar, yaitu


  1. WAJIB, yaitu sesuatu yang tidak pernah terbayang dalam ‘akal tidak adanya sesuatu itu (mesti ada). Seperti sebuah batu, mesti bergerak atau tetap dalalam satu waktu, ‘Akal tidak akan menerima kalau keduanya itu tidak ada, atau berhimpun bergerak dan tetap dalam satu ketika, akal juga tidak akan menerimanya.
  2. MUSTAHIL yaitu sesuatu yang tidak pernah terbayang pada ‘akal adanya sesuatu itu (mesti tidak ada). Seperti sebuah batu, bergerak dan tetap ia dalam satu ketika sekaligus atau keduanya tidak ada pada batu itu sama sekali. Hal ini tidak mungkin terjadi dan akal tidak akan menerima adanya yang demikian itu selama-lamanya.
  3. JAIZ, yaitu sesuatu yang dapat diterima oleh akal adanya atau tidaknya sesuatu. Seperti batu itu bergerak ia pada satu waktu atau tetap ia pada waktu yang lain. Hal yang demikian boleh saja pada akal, tidak ada keberatan apa-apa.


Imam Al-allamah Al Hudhudi berkata:
Dan ketahuilah, sesungguhnya ma’rifah dan mengetahui bagian-bagian hukum ‘akal yang tiga ini, dan diulang-ulang supaya jinak dan mudah dimengerti, adalah yang sangat prinsipil (cukup penting) bagi orang yang ingin kemenangan dan berma’rifah kepada Allah, dan rasulNya, bahkan lebih dari itu, kata Imam Al Haramain dan oleh satu jama’ah: sesungguhnya MA’RIFAH bagian-bagian hukum ‘akal yang tiga ini, adalah batang tubuh ‘akal itu sendiri, sehingga barang siapa yang tidak mengetahuinya, maka dia tidak berakal. (lihat Asy-Syarqawiy ‘Alal Hudhudiy, hal. 33 s/d 36).

Kemudian, jika kita perhatikan dengan cermat, tentang pertimbangan ‘akal dan pendapatnya, sering kita dapati dua macam, yaitu :


  1. Mudah dan ringan sekali (disebut Dharuriy). Seperti sebuah benda padat, umpamanya batu, mengambil lapang ia dari udara yang kosong ini, menurut besar/kecilnya benda itu atau kita sebut, 1 + 1 = . . . mudah sekali dia dapat ; 2.
  2. Sulit dan agak berat (disebut Nadhariy). Seperti tuhan itu wajib wujud dan kekal selama-lamanya atau kita sebut 7 x 2 – 4 : 2 + 9 = . . . agak lama sedikit kita pikirkan, baru dapat ; 14.

Inilah yang kita bicarakan wajib bernadhar dan berpikir, tentang wujud Tuhan dan KekuasaanNya.
Jadi dengan mempergunakan akal untuk bernadhar dan berpikir, nyatalah kepada setiap mukallaf, apa yang wajib pada Tuhan, apa yang mustahil, dan apa yang jaiz padaNya.

Demikian pula kepada RasulNya, apa yang wajib, apa yang mustahil, dan apa yang jaiz pada diri mereka. Setelah ber-ma'rifah yang demikian yang penuh, disebutlah ia ‘arif dengan Allah dan ‘arif dengan RasulNya.

Risalah Ma'rifah Karangan TGk. Syihabuddin Syah (Abu keumala hal. 20 s/d 22)

Fatwa Abuya Muda Waly: Nikah Pada Qadhi Ketika Tidak Ada Wali


soal :

Seorang laki-laki membawa perempuan pada malam hari maksud hendak menyerahkan diri keduanya kepada tuan qadhi supaya di nikahkan, apakah hukumnya?

Jawaban:

hukum berjalan dua itu haram kalau tidak ada mahramnya atau perempuan lainnya yang kepercayaan nashnya dalam kitab fathul mu`in juzuk 2 nomor 283 :

أن يخرج معها محرم، أو زوج، أو نسوة ثقات، ولو إماء، وذلك لحرمة سفرها وحدها، وإن قصر

Dan tentang hukum nikah dengan perempuan itu asal jauh tempat qadhi itu dari tempat walinya dua marhalah maka sah nikahnya kalau tidak jauh dua marhalah maka batil nikah itu karena tidak boleh qadhi menjadi wali ketika itu.


Pertanyaan dari Singkil
Fatawa Abuya Muda Wali al-Khalidy, Hal 8 Cet. Nusantara Bukit Tinggi


Hikmah Berbeda-beda Jumlah Raka’at Shalat

Mengapa shalat shubuh hanya dua raka’at ?
 Karena pada waktu ini kebanyakan manusia sedang dalam keadaan tidak bersemangat(segar), maka cukuplah dua raka’at.

Mengapa shalat dhuhur dan ‘ashar empat raka’at ?
 Karena waktu ini kebalikan dari waktu shubuh, semua manusia dalam keadaan fit dan segar bugar.

Mengapa shalat maghrib hanya tiga raka’at ?
 Karena shalat ini dikerjakan dalam waktu yang tenggang(penghubung antara siang dan malam), dan karena terjadinya di penghujung siang.

Kemudian shalat ‘isya mengapa empat raka’at ?
 Karena pada waktu ini biasanya semua orang kosong dari kegiatan dan kesibukan.

Coba kita perhatikan tukang kebun, dengan keahliannya ia mengurus tanaman, termasuk menyiram tanaman tersebut. Mulai dari dasar benihnya hingga besar. Ia menyiram benih tanamannya dengan takaran air yang sesuai dan pantas bagi benih tersebut. Apabila air yg ia siram melebihi ataupun kurang dari kebutuhan benih maka ia tidak akan dapat memanennya. dan bila mungkin ia memanennya, hasil yang ia dapatkan tidak akan maksimal seperti yang ia cita-citakan.

Maka demikianlah cara Allah SWT menetapkan bilangan raka’at-raka’at sembahyang. Untuk memberikan bandingan seberapa besar kedekatan manusia kepada Allah SWT. dan seberapa teguh ketetapan iman dalam hati manusia tersebut.

Referensi : Syeikh Ali Ahmad al-Jurjawi,kitab hikmah at-tasyri’ wafalsafatihi,juz.1,hal.85,cet.dar al-fikr.

فالشارع الحكيم فرض ركعتين في الصبح و اربعا في الظهر و مثلها في العصر و ثلاثا في المغرب و اربعا في العشاء و جعل هذا الترتيب بهذا التفاوت ليكون المرء قريبا من الله بحيث يرهقه من امره عسرا بزيادة الركعات على هذا المقدار . ومعلوم ان المرء أدى الصلاة بهذه الصورة لم يجد تبعا في العبادة ولم تفته مصلحته المعاشية.

Wallahu 'Alam Bisshawab.

Isim Yang Tidak Menerima Sharaf ( Isim Ghairu Munsharif )

Isim ghairu munsharif (Isim Tegah Sharaf) adalah isim yang tidak menerima tanwin dan tidak menerima jar dengan kasrah, tetapi dijar dengan fathah. Ta'rif-nya (Pengertiannya) menurut kitab Mutammimah Al-jurumiyyah adalah sebagai berikut:

الاسم الذي لاينصرف مافيه علتان من علل تسع او واحدة تقوم مقام العلتين
• Isem tegah sharaf adalah isem yang ada padanya dua ‘illat dari ‘illat yang sembilan atau satu ‘illat yang bertempat pada tempat dua ‘illat. 'ilat disini adalah alasan atau perkara-perkara yang membuat isim tersebut tidak munsharih (tidak bertanwin dan tidak di Jar dengan baris kasrah).
‘Illat sembilan yaitu:
a. Jama’
b. Wazan fi’il
c. ‘Adal
d. Taknist
e. Ma’rifah
f. Murakkab Majazi
g. Alif dan nun ziyadah
h. ‘Ajamiyah
i. Sifat
‘Illat sembilan dihimpun oleh sebuah perkataan syair:

اجمع وزن عادلا انث بمعرفة ركب وزد عجمة فالوصف قد كملا
Syairnya dalam bahas Aceh : “Gata himpon gata timang supaya senang hate gata, gata meukawen ngon yang jroh budi supaya suci hate gata.”

Pembahasan 'Ilat-'Ilat diatas:

1. Jama’
Jama’ syaratnya harus diatas shigaht muntahal jumu’ yaitu shigat مفاعل
Ex:
مساجد, دراهم, غنائم
Atau shighat مفاعيل
Ex:
مصابيح, محاريب
Jama’ adalah ‘illat yang dapat menegah saraf dengan sendirinya dan ia bertempat pada tempat dua ‘illat; dari sisi keadaannya adalah jama’ itu pada posisi satu ‘illat yang kembali kepada makna. Dari sisi keadaannya diatas shighat yang tiada jenis bandingan baginya pada mufrad itu pada posisi ‘illat yang lain yang kembali kepada lafadh.

2. Wazan fi’il
Maksudnya adakala:
a. Isem itu diatas wazan yang dikhususkan untuk fi’il.
Ex:
شمر, ضرب, انطلق
Apabila dijadikan sebuah nama dari demikian contoh di atas.
b. Awal isim terdapat ziyadah fi’il dan isim itu sama dengan fi’il pada wazannya.
Ex:
احمد, يزيد, تغلب, نرجس

3. ‘Adal
‘Adal adalah keluar isim dari shighatnya yang asliyah adakala secara tahqiq; dengan bahawa ditunjuki oleh dalil tidak tegah saraf atas keluarnya isem dari shighatnya yang asliyah kepada shighat yang lain.
Ex:
احاد, موحد, ثناء, مثنى, ثلاث, مثلث, رباع, مربع
Dan seterusnya hingga sepuluh. Maka itu semua di’adalkan dari lafaadh bilangan asal yang diulang-ulangkan.
Maka asal : جاء القوم احاد adalah جاؤا واحد واحد
Dan asal : جاء القوم مثنى adalah جاؤا اثنين اثنين
dan seperti demikian pada contoh semisalnya.
Dan adakala keluar dari shighat aslinya secara tidak tahqiq; dengan bahwa tidak ditunjuki oleh dalil tidak tegah saraf atas adanya ‘adal pada isem itu akan tetapi waktu didapat udah tegah saraf dan tidak ada padanya kecuali ‘illat ‘alamiyah, maka para ulama mentakdirkan padanya ‘adal karena untuk memelihara kaedah dari lobang (kekosongan).
Contoh isem ‘adal yang secara takdir seperti isem alam yang diatas wazan fi’il.
Ex:
عمر, زفر, زحل
Itu semua waktu didengar dari orang arab udah tegah saraf dan tidak ada padanyan ‘illat yang dhahir kecuali ‘alamiyah maka para ulama mentakdirkan padanya ‘illat ‘adal.
عمر di’adal dari عامر, زفر di’adal dari زافر, زحل di’adal dari زاحل

4. Taknist
Taknist terbagi kepada tiga:

a. Taknist dengan alif
Taknist dengan alif tegah saraf secara muthlaq (tidak ada kecualinya) apakah ia isim nakirah atau ma’rifah mufrad atau jama’ atau isim atau mufrad, apakah alif itu alif maqsurah seperti: حبلى, مرضى dan ذكرى atau ia alif mamdudah seperti: اشياء, زكرياء, حمراء, صحراء.
Taknist dengan alif adalah ‘illat yang dapat menegahkan saraf dengan sendirinya dan bertempat pada tempat dua ‘illat. Dari segi dirinya taknist itu adalah ‘illat lafdhi. Dari segi luzum alif dengan sekira-kira tidak sah membuangnya dengan keadaan apapun itu adalah ‘illat ma’nawi.

b. Taknist dengan taa
Taknist dengan taa tegah saraf beserta ‘alamiyah apakah itu ‘alam (nama) bagi muzakkar seperti: طلحة, atau bagi mu’annast seperti: فاطمة.

c. Taknist maknawi
Taknist maknawi seperti taknist dengan taa; tegah saraf beserta ‘alamiyah akan tetapi dengan syarat:
i. Isim itu lebih diatas tiga huruf.
Ex: سعاد
ii. Isim itu tiga huruf tapi berbaris tengah.
Ex: سقر
iii. Isim itu tiga huruf, tidak berbaris tengah, tapi ajamiyah.
Ex: جوز
iv. Isim itu tiga huruf, tidak berbaris tengah, tapi yang dinaqal dari muzakkar ke muannast, sebagaimana seorang perempuan diberi nama dengan nama زيد.

Apabila tidak ada syarat-syarat yang telah tertera diatas seperti: دعد, هند, maka boleh saraf dan tinggal saraf. Tinggal saraf itu lebih bagus.

5. Ma’rifah
Ma’rifah maksudnya ‘alamiyah (Nama Sesuatu). Ia tegah saraf beserta wazan fi’il seperti: احمد, يزيد beserta ‘adal seperti: عمر, زفر beserta taknist, beserta murakkab majazi, dan beserta alif dan nun ziyadah seperti: عثمان dan beserta ‘ajamiyah seperti: ابراهيم.

6. Murakkab
Murakkab maksudnya murakkab majazi yang disudahi dengan selain ويه.
Ex: بعلبك dan حضر موت. Dan tegah saraf hanya beserta ‘alamiyah.

7. Alif dan nun ziyadah
Alif dan nun ziyadah tegah saraf beserta ‘alamiyah seperti: عمران. عثمان dan beserta sifat seperti: سكران.

8. Ajamiyah
Ajamiyah maksudnya kalimat itu dari wadha’ ‘ajamiyah (diciptakan lafal tersebut oleh orang non-Arab/ diluar bahasa Arab) seperti: ابراهيم, اسمعيل, اسحق. Semua nama nabi itu ‘ajamiyah kecuali empat : محمد, صالح, شعيب, هود. Dan disyaratkan pada ‘ajamiyah isim itu adalah ‘alam pada bahasa ‘ajam (sudah dijadikan sebuah nama), karena itu disarafkan lafadh لجام dan seumpamanya. Dan disyaratkan juga lebih atas tiga huruf, karena itu disarafkan lafadh نوح dan لوط.

9. Sifat
Sifat tegah saraf beserta tiga perkara:
a. ‘Adal sebagaimana yang telah terdahulu pada مثنى dan ثلاث
b. Alif dan nun ziyadah dengan syarat sifat itu diatas wazan فعلان dan muannastnya tidak diatas wazan فعلانة
Ex: سكران muannastnya سكرى , dan seumpama ندمان itu menerima saraf karena muannastnya ندمانة jika ia dari kata-kata المنادمة
c. Wazan fi’il dengan syarat diatas wazan افعل dan muannastnya tidak dengan taa seperti: احمر karena muannastnya حمراء. Dan seumpama أرمل menerima saraf karena muannastnya أرملة. Dan boleh mensaraf isim tegah saraf karena munasabah (menyesuaikan kata) seperti qiraah nafi’ سلاسلا وقواريرا قواريرا dan karena dharurah sya’ir.

Referensi : Kitab Kawakibud Dhurriyah Syarah Mutammimah Al-Jurumiyyah Halaman 37-45.

Wallahu 'Alam Bisshawab.

Menerima Lebih Saat Pembayaran Hutang, Apakah Dikategorikan Kepada Riba?

Menerima Lebih Saat Pembayaran Hutang, Apakah Dikategorikan Kepada Riba
Deskripsi masalah.
Riba secara bahasa bermakna: ziyadah (tambahan). Dalam pengertian lainjuga bermakna tumbuh dan membesar. Sedangkan menurut istilah Syari’ adalah pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal secara bathil.

Pertanyaan.
Bagaimana hukumnya bila seseorang menerima pembayaran hutang yang  dilebihkan dari hutang asal, apakah hal seperti ini termasuk Riba ?

Jawaban
Berikut rincian hukumnya:

  1. Haram, bila bayaran lebih tersebut  dijanjikan dalam akad, seperti memberi pinjaman kepada seseorang dengan syarat dia mau membayar lebih, maka ini termasuk dalam Riba
  2. Boleh, bila tidak ada persyaratan dalam akad, bahkan dari pihak orang yang menerima pinjaman, disunatkan untuk membayar lebih, dan bagi orang yang memberi pinjaman boleh/sah memiliki bayaran lebih tersebut  dengan tanpa lafadh karena itu sama dengan hadiah yang mana boleh dimiliki tanpa akad.


وجاز لمقرض نفع يصل له من مقترض كرد الزائد قدرا أو صفة والأجود في الرديء بلا شرط في العقد بل يسن ذلك لمقترض لقوله صلى الله عليه وسلم: "إن خياركم: أحسنكم قضاء" [البخاري رقم: 2305, مسلم رقم: 1601] , ولا يكره للمقرض أخذه كقبول هديته ولو في الربوي.
والأوجه أن المقرض يملك الزائد من غير لفظ لأنه وقع تبعا وأيضا فهو يشبه الهدية وأن المقترض إذا دفع أكثر مما عليه وادعى أنه إنما دفع ذلك ظنا أنه الذي عليه: حلف ورجع فيه.
وأما القرض بشرط جر نفع لمقرض ففاسد لخبر: "كل قرض جر منفعة فهو ربا" [رواه الحارث ابن أبي أسامة في مسنده عن علي كرم الله وجهه الجامع الصغير رقم: 6336] وجبر ضعفه: مجيء معناه عن جمع من الصحابة.

Referinsi : Fathul Mu’in ‘Ala Qurratul ‘an jld 3, hal 53, cet haramain


donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja