.

Takwil dan Tafwidh menurut Ulama Salaf dan Khalaf

Takwil dan tafwidhMenurut kaum wahabi, para ulama Asya’irah merupakan golongan sesat. menurut mereka salah satu sebab kesesatan Ulama Asya’irah adalah karena para ulama Asya’irah mentakwilkan nash-nash mutasyabihat. Bahkan mereka mengatakan bahwa para ulama Asya’irah telah melakukan ta’thil (meniadakan sifat pada Allah).

Maka kali ini kami ingin membahas seputar masalah takwil dan tafwidh. Salahkan para ulama Asya’irah melakukan takwil terhadap nash-nash mutasyabihat? dan apakah tidak ada di antara ulama salaf yang ikut mentakwil nash-nash mutasyabihat. Pembahasan tentang takwil dan tafwidh ini di perlukan sebelum kami membahas masalah kesalahan pemahaman tauhid Asma’ wa shifat yang merupakan salah satu bagian tri tauhid yang di dakwahkan kaum wahabi yang akan kami tampilkan nantinya sebagai sambungan dari tulisan sebelumnya, Kesesatan Pembagian Tauhid Rububiyah, Uluhiyah dan Asma wa Shifat. Sedikit tentang pandangan ulama salaf dan khalaf terhadap nash mutasyabihat pernah kami singguh dalam tulisan kami sebelumnya, Kriteria Ahlus sunnah wal Jamaah pada bagian tentang Kitab.

Sebenarnya masalah nash mutasyabihat merupakan masalah yang tidak sepatutnya di ajarkan kepada masyarakat awam, sebagaimana di terangkan oleh al-Hafidh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari ketika menafsirkan hadits Rasulullah SAW:

حدثوا الناس بما يعرفون أتحبون أن يكذب الله ورسوله

Berbicaralah dengan manusia dengan perkara yang bisa mereka pahami, apakah kami menyukai mendustakan Allah dan RasulNya. (H.R. Imam Bukhari)

Imam Ibnu Hajar al-asqalani mengatakan:

وفيه دليل على أن المتشابه لا ينبغي أن يذكر عند العامة... وضابط ذلك أن يكون ظاهر الحديث يقوي البدعة وظاهره في الأصل غير مراد فالامساك عنه عند من يخشى عليه الأخذ بظاهره مطلوب

Hadits ini menjadi dalil bahwa (nash) mutasyabihat tidak sepatutnya di sebut di depan orang awam. Patokannya adalah dhahir hadits tersebut malah menguatkan bid’ah dan dhahirnya yang asal tidak di maksudkan maka menahan diri (dari membicarakannya)- di kalangan orang-orang yang di takutkan akan memahaminya secara dhahir – merupakan satu hal yang di anjurkan (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari Jild 1 Hal 273, Dar hadits th 2004)

Namun, mengingat saat ini maraknya tulisan-tulisan di dunia maya yang menyudutkan dan bahkan menyatakan sesat kepada para ulama Asya’irah yang melakukan takwil terhadap nash mutasyabihat tersebut sehingga banyak masyarakat awam yang terpengaruh dengan tulisan-tulisan tersebut, maka kami mencoba ikut mengambil bagian dalam membela para ulama Asya’irah dari tuduhan kaum wahabi sesat dan mencoba menerangkan bagaimana kedudukan nash mutasyabihat dalam pandangan ulama salaf dan khalaf.

Pandangan para ulama salaf dan khalaf tentang nash mutasyabihat.


Para Ulama Ahlus sunnah dalam menanggapi nash mutasyabihat terdapat dua pendapat :


  1. Takwil Tafshily ; takwil ini di lakukan oleh mayoritas ulama khalaf dan sebagian ulama salaf (shahabat Rasulullah dan tabi’in).
  2. Tafwidh ; Tafwid ini di tempuh oleh mayoritas ulama salaf dan sebagian ulama khalaf. Tafwidh yang di tempuh oleh para ulama salaf adalah tafwidh ba’d takwil ijmal. Artinya para ulama salaf tetap memalingkan nash mutasyabihat dari makna dhahirnya kemudian menyerahkan makna yang di maksudkan kepada Allah ta’ala.


Adapun golongan yang sama sekali tidak mentakwilkannya tetapi menfsirkannya dengan makna dhahirnya maka mereka adalah golongan Musyabbihah (golongan yang menyerupakan Allah dengan makhluk) sebagaimana di jelaskan oleh Imam Zarkasyi dalam al-Burhan :

وقد اختلف الناس فى الوارد منها – يعنى المتشابهات – فى الآيات والأحاديث على ثلاث فرق :
أحدها : أنه لامدخل للتأويل فيها, بل تجرى على ظاهرها ولانؤول شيئا منها وهم المشبهة
الثانية : أن لها تأويلا ولكنا نمسك عنه مع تنزيه اعتقادنا عن الشبه والتعطيل ونقول لايعلمه إلا الله وهو قول السلف
والثالثة : أنها مؤولة وأولوها على ما يليق به
والأول باطل يعني مذهب المشبهة والأخران منقولان عن الصحبة

Artinya : Sungguh berbedalah pendapat para ulama tentang ayat dan hadits mutasyabihat mejadi tiga pendapat :
1. Tidak ada takwil sama sekali pada ayat tersebut, tetapi di berlakukan sebagaimana makna dhahirnya dan tidak di takwilkan sama sekali, mereka adalah kaum MUSYABIHAH (kaum yang menyerupakan Allah dengan makhluk)
2. Ada takwil tetapi kami menahan diri darinya (tidak menentukan makna yang di maksudkan) serta meyakini bersihnya Allah SWT dari serupa dan ta’thil (meniadakan sifat bagi Allah) dan kami berkata hanya Allah SWT yang mengetahui maknanya, ini pendapat Salaf
3. Ayat dan hadits tersebut di takwil dan para ulama mentakwilnya (diberi makna) berdasarkan makna layak dengan Allah SWT
Yang pertama BATHIL yaitu mazhab MUSYABIHAH sedangkan dua pendapat yang akhir juga di riwayatkan dari sahabat.(Imam Zarkasyi, al-Burhan fi Ulum al-Quran, Jilid 4 Hal 78, Beirut, Dar Ma’rifah th 1391 H)

Makna dan Pembagian Takwil.


Takwil merupakan derivasi dari kata أوّل yang secara etimologi artinya رجع (kembali).
secara terminologi Takwil adalah :

صرف اللفظ عن الظاهر بقرينة تقتضيه ذلك

memalingkan makna satu lafaz dari makna dhahirnya dengan di sertai indikasi yang menghendaki demikian.

Lafaz dipalingkan dari maknanya yang dhahir maka lafaz tersebut dinamakan lafaz muawwal. Makna hakikat merupakan makna yang dhahir dari satu lafadh, sedangkan makna majaz merupakan makna majaz merupakan makna muawwal. Satu lafadh baru boleh di beri makna majaz apabila ada satu indikasi yang yang menyebabkan tidak mungkin di terapkan makna hakikat, misalnya dalam kalam tersebut makna hakikat merupakan makna yang mustahil di terapkan dalam kalam tersebut.

Takwil yang berkenaan dengan nash mutasyabihat ini ada 2 :

1. Takwil ijmali

Takwil ijmali adalah memalingkan lafaz dari makna dhahir/hakikat (tidak memberi makna hakikat ) dan tidak juga memberi/menentukan makna murad (makna yang dimaksud ) tetapi meyerahkan makna yang di maksudkan kepada Allah SWT (tafwidh ). Implisitnya adalah tafwidh dilakukan setelah takwil ijmali.

2. Takwil Tafsili

Takwil tafsili adalah memalingkan lafaz dari makna dhahir/hakikat (tidak memberi makna hakikat) dan kemudian memberi/menentukan makna murad (makna yang dimaksud ).

Takwil ijmali adalah metode Takwil sebagian Salaf dan takwil Tafsili adalah metode takwil mayoritas Ulama khalaf dan sebagian ulama Salaf (seperti Ibnu Abbas, Sayyidina Mu’awiyah, Sayyidina ‘Ali dll.)

Ketika sebagian Salaf menerapkan metode takwil ijmali pada nash mutasyabihat. nash tersebut di palingkan dari makna dhahirnya karena makna dhahir tersebut merupakan satu hal yang mustahil bagi Allah, seperti kata أيد , di palingkan dari makna dhahirnya yaitu bermakna tangan tetapi tidak di beri makna yang di maksudkan dan hanya menyerahkan kepada Allah bagaimana maksud dengan makna yad tersebut dengan tetap meyakini bahwa di sisi Allah ada satu makna yang shahih dan layak dengan kebesaranNya sedangkan makna dhahir (tangan/jisim) dari yad tersebut merupakan makna yang mustahil bagi Allah . Hal yang seperti demikian dikenal dengan tafwidh ba’da ta’wil ijmaly.

Ketika seluruh Ulama khalaf dan sebagian Salaf menerapkan metode takwil tafsili pada nash mutasyabihat seperti ayat diatas maka hasilnya adalah kata أيد bukan bermakna tangan tapi maknanya Quwwah ( kekuasaan ).

Ulama salaf dan khalaf sepakat untuk memalingkan lafadh mutasyabihat tersebut dari makna dhahirnya, ini merupakan keyakinan bahwa Allah bersih dari sifat-sifat yang khusus pada makhluk (tanzih). Perbedaan keduanya hanya terjadi pada masalah apakah di berikan makna maksudnya ataupun tidak di beri makna tetapi di serahkan maksudnya kepada Allah ta`ala sendiri. Ulama salaf lebih memilih untuk tidak menentukan salah satu dari beberapa makna yang mungkin di terapkan pada nash tersebut. Sedangkan para ulama khalaf, di karenakan pada masa mereka sudah berkembang ahli bid’ah yang mensifati Allah dengan sifat makhluk, maka mereka menafsirkan nash mutasyabihat tersbeut dengan makna yang layak bagi Allah yang sesuai dengan qaedah bahasa Arab sendiri. Sikap yang di lakukan oleh para ulama khalaf ini bukanlah satu perkara bid’ah, karena kenyatannya takwil tafshily juga pernah di lakukan oleh sebagian ulama salaf seperti Saidina Ali, Saidina Mu’awwiyah, Ibnu Abbas dll sebagaimana di sebutkan oleh Imam ath-Thabari dalam tafsir beliau ketika menafsirkan ayat 47 surat az-Zariyat :

يقول تعالى ذكره: والسماء رفعناها سقفا بقوة. وبنحو الذي قلنا في ذلك قال أهل التأويل. ذكر من قال ذلك : حدثني عليّ، قال: ثنا أبو صالح، قال: ثني معاوية، عن عليّ، عن ابن عباس، قوله (وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ) يقول: بقوة.
حدثني محمد بن عمرو، قال: ثنا أبو عاصم، قال: ثنا عيسى; وحدثني الحارث، قال: ثنا الحسن، قال: ثنا ورقاء جميعا، عن ابن أبي نجيح، عن مجاهد، قوله (بِأَيْدٍ) قال: بقوة.
حدثنا بشر، قال: ثنا يزيد، قال: ثنا سعيد، عن قتادة (وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ) : أي بقوّة.
حدثنا ابن المثنى، قال: ثنا محمد بن جعفر، قال: ثنا شعبة، عن منصور أنه قال في هذه الآية (وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ) قال: بقوة.
حدثني يونس، قال: أخبرنا ابن وهب، قال: قال ابن زيد، في قوله (وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ) قال: بقوة.
حدثنا ابن حُمَيد، قال: ثنا مهران، عن سفيان (وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ) قال: بقوة.


Artinya: Berkatalah Allah ta`ala yang maha tinggilah perkataanNya; demi langit yang kami tinggikan atapnya dengan kekuatan (kami). penafsiran seumpama ini di sebutkan oleh ahli takwil. Golongan yang berpendapat demikian meriwayatkan; memberi hadits padaku oleh Ali, ...memberi hadits oleh Mu`awwiyah dari Saidina Ali dari Saidina Ibnu Abbas, firman Allah وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ, beliau berkata; maksudnya bi quwwah (dengan kekuatan).
memberi hadits akan kami oleh Muhammad bin Umar, ... dari Mujahid, firman Allah bi aydi, beliau mengatakan maksudnya bi quwwah (dengan kekuatan).
memberi hadits oleh basyar, ...dari Qatadah, firman Allah وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ maksudnya bi quwwah (dengan kekuatan). Memberi hadits akan kami oleh Ibnu Mutsanna ...dari Manshur ... (Tafsir Thabari, Jilid 22 Hal 438, Muassis ar-Risalah th 2000)

Dari nash Imam ath-Thabari tersebut jelas bahwa Saidina Ibnu Abbas juga melakukan takwil tafshily.

Imam Nawawi mengatakan dalam kitab Majmuk Syarh Muhazzab :

اختلفوا فى آيات الصفات وأخبارها هل يخاض فيها بالتأويل أم لا ؟ فقال قائلون تتأول على ما يليق بها, وهذا أشهر المذهبين للمتكلمين وقال آخرون : لا تتأول بل يمسك عن الكلام فى معناها ويوكل علمها الى الله تعالى ويعتقد مع ذلك تنزيه الله تعالى وانتفاء صفات الحوادث عنه فيقال مثلا نؤمن بأن الرحمن على العرش استوى, ولا نعلم حقيقة معنى ذلك والمراد به مع أنا نعتقد أن الله تعالى ليس كمثله شئ, وأنه منزه عن الحلول وسامت الحدوث, وهذه الطريقة السلف أو جماهريهم وهي أسلم

Artinya : Para Ulama berbeda pendapat tentang ayat-ayat dan hadits sifat (sifat Allah) apakah ditakwil ataupun tidak ? Maka berkata sebagian ulama nash tersebut ditakwil berdasarkan makna yang layak dengan Allah SWT. Ini merupakan pendapat yang paling masyhur diantara mazhab-mazhab mutakallimin, dan sebagian ulama lain berkata jangan ditakwil tetapi tahanlah dari pada membicarakan maknanya dan diserahkan maknanya kepada Allah dan mengiktiqad bersihnya Allah SWT dari sifat-sifat baharu, misalnya dikatakan kami beriman sesungguhnya Ar-rahman ‘ala arsy istawa dan kami tidak tahu hakikat makna demikian dan maksud demikian beserta kami mengi’tiqad sesungguhnya Allah SWT tidak serupa dengan sesuatu apapun dan sesungguhnya Allah SWT bersih dari tempat dan tanda hudus, ini thariqat Salaf atau mayoritas ulama Salaf dan jalan ini lebih aslam (selamat). (Imam Nawawi, Majmuk Syarh Muhazzab, Jld 1 hal 439 Dar Kutub Ilmiyah 2007)

Dalam Kitab Syarh Muslim beliau menyatakan :

اعلم أن لأهل العلم في أحاديث الصفات وآيات الصفات قولين أحدهما وهو مذهب معظم السلف أو كلهم أنه لا يتكلم في معناها بل يقولون يجب علينا أن نؤمن بها ونعتقد لها معنى يليق بجلال الله تعالى وعظمته مع اعتقادنا الجازم أن الله تعالى ليس كمثله شيء وأنه منزه عن التجسم والانتقال والتحيز في جهة وعن سائر صفات المخلوق وهذا القول هو مذهب جماعة من المتكلمين واختاره جماعة من محققيهم وهو أسلم والقول الثاني وهو مذهب معظم المتكلمين أنها تتأول على مايليق بها على حسب مواقعها وإنما يسوغ تأويلها لمن كان من أهله بأن يكون عارفا بلسان العرب وقواعد الأصول والفروع ذا رياضة في العلم


Atinya: Ketahuilah bahwa bagi para ahli ilmu tentang hadits-hadits dan ayat shifat (shifat Allah) ada dua pendapat; pertama mazhab mayoritas ulama salaf atau seluruh ulama salaf yaitu tidak membahas tentang maknanya tetapi mereka mengatakan wajib atas kita mengimaninya dan kita yakini ada satu makna yang layak dengan kebesaran dan keagungan Allah ta’ala beserta keyakinan kita yang bulat bahwa Allah ta’ala tidak serupa dengan apapun dan Allah ta’ala bersih dari berjisim dan berpindah dan menenpati arah dan sifat makhluk lainnya. ini adalah pendapat satu jamaah dari ulama mutakallimin dan juga di pilih oleh satu golongan dari para muhaqqiq mereka. ini adalah pendapat yang lebih semalat. Pendapat yang kedua yaitu pendapat mayoritas ulama mutakallimin nash tersebut di takwil dengan makna yang layak menurut posisinya dan takwil ini hanya di bolehkan bagi orang yang telah ahli yaitu ia telah menguasai lisan arab, qaedah ushul dan furu’ serta mahir dalam ilmu. (Imam Nawawi, Syarh Muslim Jilid 3 Hal 319, Dar Turast Arabi th 1392 H)

Imam Al-Alamah Badruddin bin Jamaah dalam kitab beliau Idhah Dalil mengatakan

واتفق السلف وأهل التأويل على أن ما لايليق من ذلك بجلال الرب تعلى غير مراد, واختلفوا فى تعيين ما يليق بجلاله من المعانى المحتملة, فسكت السلف عنه وأوله المتأولون

Artinya : Ulama Salaf dan Ahli takwil sepakat bahwa sesungguhnya Nash-Nash yang tidak layak dengan Allah SWT itu bukan yang dimaksudkan. Dan mereka berbeda pendapat dalam menentukan makna yang layak dengan Allah SWT, maka para Salaf dia (tidak menentukan makna yang di maksudkan), sedangkan ahli takwil menentukan maknanya.(Imam Ibnu Jamaah, Idhah ad-Dalil fi Qath’ Hujaj ahl Ta’thil, hal 105, Dar Salam th 1990)

Imam ‘Adi bin Musafir (w. 557 H) mengatakan

وتقرير مذهب السلف كما جاء من غير تمثيل ولا تكييف ولا تشبيه ولا حمل على الظاهر

Artinya : Uraian mazhab Salaf adalah sebagaimana yang datang dengan tidak tamsil (menyerupakan), tidak takyif (tidak menentukan kaifiyat), tidak tasybih (menyerupakan), dan tidak memberi makna dhahir. (I'tiqad Ahlus sunnah wal Jamaah hal 66)

Syaikh salamah Al-qadha’i Al-‘azami mengatakan

تنبيه مهم : اذا سمعت فى عبارات بعض السلف " انا نؤمن بأن له تعالى وجها لا كالوجوه ويدا لا كالأيدى" فلا تظن أنهم أرادوا أن ذاته العلية منقسمة إلى أجزاء وأبعاض, فجزء منها يد وجزء منها وجه غير أنه لا يشابه الأيدى والوجوه اللتى للخلق !! حاشاهم من ذلك وما هذا إلا التشبيه بعينه, وإنما أرادوا بذلك أن لفظ الوجه واليد قد استعمل فى معنى من المعانى, وصفة من الصفات التى تليق بالذات العلية كالعظمة والقدرة غير أنهم يتورعون عن تعيين تلك الصفة تهيبا من التهجم على ذلك المقام الأقداس.

Artinya : Pemberitahuan penting; Apabila engkau mendengar perkataan ulaam Salaf “ kami beriman sesungguhnya Allah SWT ada wajh tidak seperti segala wajh dan ada yad (arti yad secara lughat adalah tangan) tidak seperti segala yad” maka jangan engkau mengira sesungguhnya Salaf bermaksud bahwa Zat Allah SWT terbagi kepada beberapa juzuk, dan bgaian, sebagian juzuknya tangan, juzuk yang lian wajah tetapi tidak sama seperti tangan dan wajah bagi makhluk.! ! Mustahil mereka bersikpa demikian, ini tak lain adalah tasybih bi’ainih (diri tasybih), hanyasanya maksud mereka sesungguhnya lafaz wajh dan yad sungguh di pakai pada satu makna dari beberapa makna dan satu sifat dari beberapa sifat yang layak dengan zat Allah SWT seperti keagungan dan kekuuasaan namun mereka enggan untuk menentukan (salah satu) demikian sifat karena takut dari pada memasuki maqam Yang Mahma Suci. (Syeikh Salamah Qadha’i al-Azami asy-Syafii, Furqan al-Quran baina Shifat Khaliq wa Shifat al-Akwan, hal 80, Dar Ihya Turats Arabi, tt)

Maka dari uraian para ulama tersebut dapat di pahami bahwa antara ulama salaf dan khalaf sepakat bahwa nash-nash mutasyabihat tidak boleh di pahami dengan makna dhahirnya. Mereka sepakat bahwa wajib meyakini Allah bersih dari semua sifat-sifat yang khusus para makhluk (tanzih) seperti jisim. Perbedaan pendapat hanya terjadi pada masalah apakah di beri makna yang menjadi maksud dari nash tersebut ataupun tidak. Para ulama salaf tidak menentukan makna yang di maksudkan sedangkan ulama khalaf menafsirkannya menurut makna yang layak bagi Allah dengan penafsiran yang sesuai dengan qaedah ilmu Arabiyah. Takwil yang tidak boleh adalah takwil yang tidak sesuai dengan qaedah ilmu Arabiyah.

Wallahu A'lam bish shawab.

Referensi:


  1. Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari, Dar hadits th 2004
  2. Imam Zarkasyi, al-Burhan fi Ulum al-Quran, Beirut, Dar Ma’rifah th 1391 H
  3. Imam Ath-Thabari,Tafsir Thabari, Muassis ar-Risalah th 2000
  4. Imam Nawawi, Majmuk Syarh Muhazzab, Dar Kutub Ilmiyah 2007
  5. Imam Nawawi, Syarh Muslim, Dar Turast Arabi th 1392 H
  6. Imam Ibnu Jamaah, Idhah ad-Dalil fi Qath’ Hujaj ahl Ta’thil, Dar Salam th 1990
  7. Syeikh Salamah Qadha’i al-Azami asy-Syafii, Furqan al-Quran baina Shifat Khaliq wa Shifat al-Akwan, Dar Ihya Turats Arabi, tt



Download Pengajian Syarh Syamsiah - Ilmu Mantiq

Ilmu Mantiq adalah ilmu logika yang berfaedah untuk mempelajari bagaimana cara berpikir yang benar, ilmu ini mengajarkan rumus-rumus berpikir secara logika. Sampai saat ini, ilmu ini masih di ajarkan di Dayah-dayah salafi. Kitab yang di gunakan biasanya mulai dari yang paling rendah adalah kitab Mant Sulam Munawwaraq karangan Imam Abdur Rahman al-Akhdary, dan untuk tigkatan selanjutnya syarh-syarh Matn Sulam seperti Idhah Mubham karangan ulama besar al-azhar Syeikh Abdur Rahman ad-Damanhuri, Hasiah al-Bajuri `ala Mant Sulam juga karangan Syeikh al-Azhar Syeikh Ibrahim al-Bajuri, Hasyiah Shabban 'ala Syarh Malawi 'ala Mant Sulam. Selain itu di sebagian pesantren juga di ajarkan kitab isaghuji dengan syarh-syarhnya. Di LPI MUDI Mesjid Raya, semenjak tahun lalu, khusus untuk dewan guru di mulai pengajian kitab Syarh Syamsiah fil Mantiq. Sebelumnya kitab ini hanya di jadikan sebagai rujukan muthala'ah bagi kalangan santri atau dean guru yang giat muthal'ah, namun tidak di ajarkan dalam kelas khusus.
Yang menjadi guru dalam pengajian tersebut adalah Tgk. Tarmizi H.M. Daud al-Yusufi, salah satu guru senior di Dayah Mudi yang saat ini sudah mendirikan Dayah sendiri, LPI Najmul Hidayah al-aziziyah yang terletak di desa Cot Merak, Meunasah Subung, Kec. Samalanga yang terletak hanya sekitar 1 km dari Dayah Mudi Mesra sendiri. Lokasi pengajian di ruang pengajian dewan guru, Balee Beuton, komplek Dayah Mudi Mesra Putra.

Bagi yang ingin mendengar atau mengdownload pengajian tersebut silahkan ke website ARCHIVE .  
Namun kami mohon maaf, karena pengajian kitab ini dalam bahasa daerah yaitu bahasa Aceh.

File-file tersebut akan kami upload secara bertahap, namun ada beberapa pengajian yang tidak ada rekamannya karena tidak sempat di rekam dan ada juga yang file rekamannya yang hilang.

Download Terjemahan Fiqh Sirah Syeikh Sa'id Ramadhan al-Buthy

Donwload Kitab Fiqh Sirah Syeikh Sa'id Ramadhan al-ButhySalah satu kitab Syeikh Sa’id Ramadhan al-Buthi yang fenomenal adalah kitab Fiqh Sirah. Kitab ini menceritakan kisah hidup Rasulullah SAW dengan di sertai hikmah di balik perjalanan hidup Rasulullah SAW. Selain itu juga di lengkapi dengan sejarah para Khulafaur Rasyidin juga dengan d sertai hikmah kisah kehidupan mereka. Syeikh Sa’id Ramadhan al-Buthy memulai kitab beliau ini dengan menerangkan pentingnya mempelajari sirah Rasulullah dan beliau juga menceritakan perkembangan studi sirah Rasulullah semenjak dahulu hingga zaman ini. File kitab ini (dalam format pdf dan box) bisa di download dalam postingan kami sebelumnya yang khusus memuat beberapa kitab Syeikh Sa'id Ramadhan al-Buthi yang berjudul download kitab Syeikh Sa'id Ramadhan al-Buthi tepatnya kitab No. 33 . sudah Kitab ini telah banyak di terjemahkan ke dalam bahasa lain, tak terkecuali bahasa Indonesia. Nah bagi yang ingin memiliki file terjemahan tersebut silahkan download di bawah ini .



DOWNLOAD TERJEMAHAN FIQH SIRAH SYEIKH SA'ID RAMADHAN AL-BUTHI (FORMAT DJVU) 13 MB

DOWNLOAD TERJEMAHAN FIQH SIRAH SYEIKH SA'ID RAMADHAN AL-BUTHI (FORMAT PDF) 170 MB

Memahami Pengertian Ibadat/menyembah (benarkah berizarah, tawasol = menyembah kubur?)

Benarkan Ziarah Kubur itu SyirikSalah satu tuduhuan kaum wahabi salafi dan pengikut mereka kepada kaum Muslimin Aswaja adalah kuburiyun (penyembah kubur), pelaku amalan syirik, bid'ah, khurafat dan tuduhan keji lainnya. Vonis demikian memenuhi tulisan-tulisan mereka baik di buku-buku mereka maupun di dunia maya.
Tuduhan syirik merupakan tuduhan yang paling besar, karena tiada dosa yang paling besar melainkan syirik kepada Allah. Anehnya ketika kaum Kaum Ahlus sunnah wal Jamaah membalasnya dengan menyatakan bahwa dasar-dasar pemahaman mereka adalah sesat maka mereka sangat marah. Padahal tuduhan mereka lebih keji dari balasan sanggahan yang di lakukan oleh kaum ASWAJA. Mereka memvonis kaum kaum ASWAJA sebagai pelaku amalan syirik yang artinya kaum ASWAJA adalah kaum musyrik,(maka jangan heran bila melihat di beberapa negara di saat mereka mempunyai kekuasaan, mereka berani membunuh kaum muslimin sambil teriak Allahu Akbar, karena dalam keyakinan mereka, yang di bunuh tersebut adalah orang musyrik) tetapi ulama ASWAJA hanya membalasnya dengan menyatakan bahwa kaum wahabi adalah sesat. Ini menunjukkan kehatian-hatian ulama ASWAJA dalam memvonis kafir ahli bid'ah.

Kembali kepada vonis kaum wahabi bahwa kaum ASWAJA sebagai penyembah kubur dan pelaku amalan syirik karena mereka melakukan ziarah kubur dan bertawasol kepada para Anbiya dan aulia yang telah wafat. Kaum wahabi mengatakan bahwa melakukan ziarah kubur dan bertawasol kepada orang yang telah meninggal adalah menyembah kubur.
Benarkan berziarah dan bertawasol berarti menyembah kubur?
Maka untuk itu kami turunkan tuliskan makna ibadat (menyembah). Sehingga kita bisa melihat apakah benar tuduhan mereka bahwa orang yang berziarah adalah penyembah kubur?
Sebenarnya keyakinan bahwa berziarah kubur merupakan amalan syirik terbina atas keyakinan mereka tentang pembagian tauhid kepada tiga (rububiyah, uluhiyah dan asma was sifhat) . Menurut mereka kaum kafir memiliki tauhid yang di sebut tauhid Rububiyah, demikian juga orang yang berziarah adalah orang yang hanya memiliki tauhid Rububiyah dan tidak memiliki tauhid Uluhiyah.

Kaum yang meyakini pembagian tauhid kepada tiga (rububiyah, uluhiyah dan asma was sifhat) manakala melihat bahwa kaum musyrik bertaqarub kepada tuhan mereka dengan menyembelih, bernazar, berdoa, meminta pertolongan, bersujud dan ta’dhim kepada mereka, maka mereka menyangka bahwa diri melakukan perbuatan tersebutlah yang di nama kan ibadah. Maka menurut keyakinan mereka perbuatan-perbuatan tersebut bila terjadi untuk Allah maka di namakanlah tauhid dan jika terjadi kepada selain Allah maka di namakan sebagai syirik. Demikian juga mendatangi kubur dan bertwasol kepada ahli kubur berarti beribadat dan menyembah ahli kubur.

Maka atas dasar pemahaman tersebut, bila ada umat muslim yang melakukan nazar, meminta pertolongan, dan berdoa kepada selain Allah akan mereka hukumi sebagai kaum musyrik dan mereka anggap sebagai kaum yang hanya memiliki tauhid Rububiyah dan tidak memiliki tauhid uluhiyah. Atas dasar pemahaman inilah mereka menganggap ziarah kubur, bertawasol, istighastah dan tabaruk sebagai amalan yang mengandung kesyirikan.

Ini adalah pemahaman yang bathil yang terjadi karena tidak membedakan makna beribadat secara lughawi dan syar’i. Oleh karena maka kami merasa perlu juga menerangkan makna hakikat dari ibadat.

Makna ibadat secara etimologi dan terminologi

Ibnu Manzur dalam Lisanul Arab menyatakan :

اصل العبودية الخضوع والتذلل

asal ubudiyah adalah tunduk dan merendahkan diri.

Sedangkan pengertian ibadah secara syar'I adalah :


الاتيان باقصى غاية الخضوع قلبا باعتقاد ربوبية المخضوع له

melakukan sesuatu dengan setinggi tunduk dalam hati dengan di sertai keyakinan adanya sifat rububiyah pada zat tersebut (makhdhu’ lah).

Maka bila tanpa di sertai keyakinan bahwa adanya sifat keistimewaan rububiyah pada satu zat, tunduk kepada zat tersebut walaupun dengan cara sujud tidaklah di namakan ‘ibadah pada syara’.

Adapun sebab kekufuran kaum musyrik dengan sebab sujud, berdoa, bernazar kepada patung-patung tuhan mereka tak lain karena adanya keyakinan sifat rububiyah atau salah satu sifat khushusiyatnya pada patung-patung tersebut. Bukanlah sebab kufur mereka hanya dengan semata sujud atau meminta kepada patung-patung tersebut.

Bahkan sujud kepada zat lain tanpa keyakinan adanya sifat ketuhanan atau salah satu sifat ke istimewaannya padanya tidaklah di namakan ibadat sehingga bila di lakukan kepada selain Allah akan berarti ia melakukuan perbuatan kufur. Buktinya Allah ta’ala dalam al-quran menceritakan adanya sujud umat terdahulu kepada selain Allah yang merupakan perintahNya. Sedangkan Allah tidak akan pernah memerintahkan kepada kekufuran. Contohnya sujud para malaikat kepada Nabi Adam as (surat al-Baqarah ayat 34) dan juga sujud saudara Nabi Yusud kepada beliau (surat Yusuf ayat 100).

Imam Ibnu Katsir, ketika menafsirkan surat Yusuf ayat 100, menerangkan bahwa sujud sebagai penghormatan kepada tokoh yang di hormati di bolehkan dalam syariat umat terdahulu semenjak syariat Nabi Adam hingga syariat Nabi Isa as, kemudian di haramkan pada syariat Nabi Muhammad dan sujud hanya di bolehkan kepada Allah semata. Dalam satu hadits riwayat ketika pergi ke negri Syam, beliau melihat penduduk Syam sujud kepada pendeta mereka, maka ketika Mu`az pulang menghadap Rasulullah, langsung sujud kepada Rasulullah SAW, Rasulullah bertanya "apa ini Mu’az? Mu’az menjawab "saya melihat mereka sujud bagi pendeta mereka, sedangkan engkau lebih berhak untu di sujud bagi mu ya Rasulullah. Nabi menjawab "kalau seandainya saya memerintahkan untuk sujud bagi seseorang maka sungguh akan saya perintahan wanita untuk sujud kepada suaminya".
dalam hadits yang lain di sebutkan bahwa ketika Salman bertemu dengan Rasulullah di jalan kota Madinah, saat itu Salman baru saja memeluk Islam, Salman langsung sujud bagi Nabi. Nabi menjawab "jangan kamu sujud bagi ku ya Salman, dan sujudkan bagi zat yang maha hidup yang tidak akan pernah mati"

Dari kisah dalam hadits ini tersirat bahwa, semata-mata sujud tanpa ada keyakinan adanya sifat rububiyah padanya tidaklah menjadikan seseorang kufur, karena Rasulullah ketika melihat para shahabat sujud kepada beliau tidak mengatakan bahwa hal tersebut kufur tetapi hanya mengajarkan mereka.

Masalah ketauhidan tidak berbeda dalam semua syariat yang di bawa oleh para Rasul, semenjak dari Nabi Adam hingga Nabi Muhammad. Maka semua hal yang bisa menjadikan kufur adalah sama dalam semua syariat para Nabi. Selain itu Allah tidak pernah memerintahkan dan meridhai kufur. Sedangkan semata-mata sujud kepada selain Allah pernah Allah perintahkan pada umat terdahulu, seperti sujud para malaikat kepada Nabi Adam, sujud saudara Nabi Yusuf kepada Nabi Yusuf. Maka dapat di simpulkan bahwa semata-mata sujud tidaklah menjadikan seseorang syirik dan kufur selama tidak ada keyakinan adanya sifat ketuhanan pada zat tersebut.

Adapun kaum musyrikin, mereka menjadi kufur dengan sebab sujud kepada patung-patung sesembahan mereka karena ada keyakinan bahwa patung-patung tersebut memiliki sifat keistimewaan tuhan seperti mampu memberi manfaat dan mudharat secara tersendiri.

Dalam syariat kita umat Nabi Muhammad, para ulama memang menghukumi kufur dengan sebab sujud kepada berhala dan matahari. Hal ini di karenakan sujud kepada berhala merupakan tanda-tanda keingkarannya terhadap agama, sama halnya sebaliknya, seseorang akan di hukumi sebagai mukmin bila telah mengucap dua kalimat syahadat karena mengucap dau kalimat syahadat menjadi tanda keimanan seseorang.

Kaum musyrikin menjadi kufur dengan sebab sujud kepada berhala-berhala dan sesembahan mereka karena mereka meyakini bahwa sesembahan mereka mampu memberi manfa`at dan mudharat secara tersendiri. Mereka meng`ibaratkan Allah itu sebagai tuhan yang besar (Rabb Akbar) dan ketuhanan sesembahan mereka berada dibawah ketuhanan Allah. Dengan adanya sifat ketuhanan pada sesembahan mereka menurut mereka kehendak dari sesembahan tersebut wajib terpenuhi. Ini adalah syirik, karena syirik ialah meyakini ada beberapa zat yang memiliki sifat ketuhanan. Keyakinan demikian tidak ada pada umat Islam yang melakukan ziarah, tawasol dan tabaruk dll.

Dalam al-quran, Allah menerangkan bahwa kaum musyrik memiliki keyakinan adanya sifat ketuhanan pada sesembahan mereka.

Firman Allah yang mencela keyakinan kaum musyrik dalam surat an-Nisa 43 :

أَمْ لَهُمْ آلِهَةٌ تَمْنَعُهُمْ مِنْ دُونِنَا لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَ أَنْفُسِهِمْ وَلَا هُمْ مِنَّا يُصْحَبُونَ

Atau adakah mereka mempunyai tuhan-tuhan yang dapat memelihara mereka dari (azab) Kami. Tuhan-tuhan itu tidak sanggup menolong diri mereka sendiri dan tidak (pula) mereka dilindungi dari (azab) Kami itu?

istifham yang terdapat pada ayat adalah istifham inkari taubikhi yang bermakusd untuk mencela mereka atas apa yang mereka yakini .

Allah SAW menghikayahkan perkataan kaum Nabi Hud kepada Nabi Hud AS :

إِنْ نَقُولُ إِلَّا اعْتَرَاكَ بَعْضُ آلِهَتِنَا بِسُوءٍ

Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu (Q.S. Hud 54)

Dalam surat asy-Syu’ara 97-98 Allah menceritakan percakapan kaum kafir kepada tuhan mereka yang mereka yakini ada sifat ketuhanan pada mereka :

تَاللَّهِ إِنْ كُنَّا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (97) إِذْ نُسَوِّيكُمْ بِرَبِّ الْعَالَمِينَ

"Demi Allah: sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kamu dengan Tuhan semesta alam.". (Q.S. Asy-Syu’ara 97-98)

Maka dapat di pahami bahwa ibadah bukan semata-mata berbuat atau berkata yang dengannya patut untuk beribadah, akan tetapi ibadah ialah melakukan setiap perbuatan dan perkataan dengan niat menyembah untuk orang yang kita i`tiqatkan ada padanya ada sifat-sifat ketuhanan ataupun khususiyatnya.
Adapun jika perbuatan atau perkataan tersebut tanpa di sertai dari niat menyembah (ibadah) atau keyakinan ada padanya ada suatu khususiat ketuhanan, maka bukanlah ibadah. Sujud para malaikat bagi Nabi Adam `alaihi sallam manakala sunyi dari niat ibadah bagi Nabi Adam maka bukanlah syirik, tetapi taat bagi Allah, karena disertai dengan niat menjunjung tinggi perintah Allah ta`ala

Demikian juga sujud saudara Nabi Yusuf bagi beliau manakala sunyi dari niat ibadah tetapi hanya dengan niat menghormatinya maka ia bukanlah syirik, dan bukanlah menyembah bagi yusuf, walaupun sujud untuk menghormati itu haram menurut syariat kita umat Nabi Muhammad SAW.
Demikian lagi menta`dhimkan baitullah dengan cara bertawaf disekelilingnya dan mencium hajar aswad, maka karena sunyi dari niat menyembah bagi baitullah atau hajar Aswad bukanlah syirik, akan tetapi ia adalah taat bagi allah, karena menyertai dengan menjunjung tinggi perintahNya.

Demikian juga pada orang yang berziarah kubur dan bertawasol dan berdoa di kuburan tersebut, hal tersebut bukanlah syirik karena sama sekali tidak ada keyakinan di dalam hati mereka bahwa orang yang di dalam kubur tersebut memiliki kemampuan untuk memenuhi hajat mereka secara tersendiri.

Adapun lafadh tawasol yang di gunakan yang secara dhahir menunjuki meminta kepada mereka, ini sama halnya dengan lafadh-lafadh yang di gunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk meminta tolong kepada orang lain yang masih hidup. seorang mukmin yang telah mengimani bahwa Allah yang menciptakan manusia dan pekerjaan mereka maka sama sekali tidak ada ada keyakinan bahwa para anbiya dan aulia yang di jadikan tempat mereka bertawasol sama sekali tidak mampu memberi bekas secara tersendiri pada hajat mereka. Sama halnya keyakinan mereka terhadap makanan, sama sekali tidaklah mampu memberikan kekenyangan, obat-obatan, sama sekali tidak mampu memberi kesembuhan. Namun kesembuhan dan kekenyangan tersebut adalah murni ciptaan Allah semata, makan dan minum obat hanyalah sebab dhahiriyah saja. Demikian juga bertawasol kepada orang yang telah meninggal, karena di hadapan Allah, tidak ada beda sama sekali antara orang yang telah meninggal dengan orang yang masih hidup, keduanya sama sekali tidak mampu memberi bekas secara tersendiri. dan meyakini salah satu dari keduanya mampu memberi bekas dan memenuhi hajat manusia secara tersendiri adalah syirik.

Kesimpulan:
kaum muslimin Ahlus sunnah wal Jamaah ketika berziarah kubur, bertwasol, istighastah dan bertabaruk kepada para anbiya, syuhada tidaklah menjadikan mereka syirik karena kaum muslimin melakukan hal demikian tidak di sertai dengan keyakinan bahwa para nabiya dan ulama tersebut memiliki sifat-sifat ketuhanan sebagaimana yang di yakini oleh kaum musyrik kepada tuhan sembahan mereka. Maka tuduhan bahwa kaum muslimin yang melakukan ziarah dan tawasol kepada orang yang telah meninggal merupakan orang-orang yang hanya memiliki tauhid Rububiyah dan tidak memiliki tauhid uluhiyah merupakan tuduhan yang sesat dan bathil.

Kesesatan Tauhid Rububiyah, Uluhiyah dan Tauhid Asma' wa Shifat

Salah satu perkara aqidah yang gencar di dakwahkan oleh sebagian kalangan saat ini adalah pembagian tauhid kepada tiga; Rububiyah, Uluhiyah dan Asma` wa shifat. Pembagian tauhid tiga ini dilakukan oleh seorang insan yang lebih dikenal dengan nama Ibnu Taimiyyah sekitar abad ke-7 Hijriah sehingga perlu diketahui bahwasanya pembagian ini tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw, para salafush-shalih bahkan para ‘Ulama khalaf yang menjadi rujukan dan panutan ummat Islam sekalipun.

Memulai tulisan ini, alangkah baiknya bila kita sedikit menelisik tentang maksud dari tauhid tiga ini yang meliputi tauhid uluhiyyah, tauhid rububiyyah dan tauhid asma` wa al-shifat.

1. Tauhid ar-Rububiyyah

Yaitu tauhid yang dimiliki oleh orang Muslim dan orang musyrik. Dalam tauhid ini mengandung tauhid al-Khaliqiyyah (mengi’tiqad Allah Swt sebagai Pencipta), menyatakan Allah Swt penguasa langit dan bumi, dan hanya Allah Swt-lah yang mengurus keduanya.

Sekelompok insan ini mendasarkan tauhid ar-Rububiyah ini kepada firman Allah Swt dalam surat al-Mu`minun ayat 84-85 :

قُلْ لِمَنِ الْأَرْضُ وَمَنْ فِيهَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (84) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

"Katakanlah Kepunyaan siapakah bumi ini dan semua yang ada padanya jika kamu mengetahui?" Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah" Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak ingat?" (QS. al-Mukminun : 84-85)

dan juga firman Allah Swt dalam surat al-Ankabut ayat 61 :

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ

Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?" Tentu mereka akan menjawab: "Allah", maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar) (QS. al-Ankabut: 61)

Berdasarkan ayat-ayat tersebut, sekelompok insan ini berkomentar bahwa kaum kafir juga mengakui Allah Swt walaupun tauhidnya tidak sah karena mereka juga ikut menyembah berhala disamping pengakuan mereka kepada adanya Allah Swt.

2. Tauhid al-Uluhiyyah

Yaitu tauhid dalam penyembahan bahwa hanya Allah Swt semata yang disembah dan tiada menyekutukan-Nya dengan apapun.

3. Tauhid al-Asma` wa as-Shifat

Yaitu menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah Swt sebagaimana telah di tetapkan oleh al-Qur`an dan Rasul-Nya berdasarkan maknanya yang zhahir (walaupun membawaki kepada tajsim).

Ibnu Taimiyah di dalam kitabnya, Minhaj al-Sunnah menomentari tentang tauhidnya mayoritas kaum Muslimin dan 'Ulama Mutakallimin dari golongan al-Asya`irah dan lainnya :

وأخرجوا من التوحيد ما هو منه كتوحيد الإلهية وإثبات حقائق أسماء الله وصفاته ولم يعرفوا من التوحيد إلا توحيد الربوبية وهو الإقرار بأن الله خالق كل شيء وربه وهذا التوحيد كان يقر به المشركون الذين قال الله عنهم ولئن سألتهم من خلق السموات والأرض ليقولن الله (سورة لقمان).وقال تعالى قل من رب السموات السبع ورب العرش العظيم سيقولون الله الآيات ((سورة المؤمنون) وقال عنهم ومايؤمن أكثرهم بالله إلا وهم مشركون (سورة يوسف). قال طائفة من السلف يقول لهم من خلق السماوات والأرض فيقولون الله وهم مع هذا يعبدون غيره وإنما التوحيد الذي أمر الله به العباد هو توحيد الألوهية المتضمن لتوحيد الربوبية بأن يعبد الله وحده لا يشركون به شيئا

Mereka telah mengeluarkan bagian dari tauhid seperti tauhid Ilahiyah dan menyatakan adanya hakikat nama-nama Allah dan sifat-Nya. Mereka tiada mengetahui tauhid kecuali hanya tauhid Rububiyyah saja yaitu pengakuan bahwa Allah Swt adalah Pencipta segala sesuatu. Tauhid ini juga diakui oleh kaum kafir dimana Allah Swt berfirman tentang mereka : Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka "Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?" Tentu mereka akan menjawab "Allah" (QS. al-Ankabut: 61. Allah Swt juga berfirman "Katakanlah: "Siapakah Yang Mempunyai langit yang tujuh dan Yang Mempunyai 'Arsy yang besar? Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah Swt". (QS. al-Mukminun: 86-87)
dan juga firman Allah Swt: "Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah Swt melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah Swt (QS. Yusuf : 106). Sekelompok 'Ulama salaf berkata: "Allah Swt bertanya kepada mereka: "Siapa yang menciptakan langit dan bumi". Mereka menjawab: "Allah Swt", namun dalam keadaan demikian mereka juga masih menyembah selain Allah Swt dan tauhid yang Allah Swt perintahkan kepada hamba-Nya hanyalah tauhid Uluhiyyah yang juga mengandung tauhid Rububiyah dengan cara hanya menyembah Allah Swt dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun"


Ibnu Taimiyah juga berkata dalam kitab Risalah Ahl al-Shuffah:

توحيد الربوبية وحده لا ينفى الكفر ولا يكفى

"Tauhid Rububiyyah semata tidaklah menghilangkan kekufuran dan tidaklah memadai"

Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab (pencetus gerakan al-Wahhabiyyah) dalam kitabnya, Kasyf al-Syubhat, menyatakan :

وتحققت أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - إنما قاتلهم ليكون الدعاء كله لله والنذر كله لله والذبح كله لله والاستغاثة كلها لله وجميع أنواع العبادة كلها لله وعرفت أن إقرارهم بتوحيد الربوبية لم يدخلهم في الإسلام وأن قصدهم الملائكة والأولياء يريدون شفاعتهم والتقرب إلى الله بذلك هو الذي أحل دماءهم وأموالهم عرفت حينئذٍ التوحيد الذي دعت إليه الرسل وأبى عن الإقرار به المشركون

"Setelah kamu pastikan bahwa Rasulullah Saw memerangi kaum musyrik supaya berdoa hanya kepada Allah Swt, bernazar hanya kepada Allah Swt, menyembelih hanya kepada Allah Swt, meminta tolong hanya kepada Allah Swt dan sekalian ibadah hanya kepada Allah Swt dan telah kamu ketahui bahwa pengakuan mereka dengan tauhid Rububiyyah tidaklah memasukkan mereka dalam agama Islam dan tujuan mereka kepada para Malaikat dan para Auliya` adalah untuk meminta syafa’at mereka dan pendekatan diri kepada Allah Swt dengan cara demikian merupakan hal yang menghalalkan darah dan harta mereka. Dapatlah kamu ketahui ketika itu tauhid yang diajak oleh para Rasul dan enggan diakui oleh kaum musyrik".

Dari pernyataan-pernyataan tersebut, jelaslah kedua insan ini hendak mengatakan bahwa tauhid yang diajak oleh para Rasul adalah tauhid Uluhiyyah sedangkan tauhid Rububiyyah telah ada pada kaum kafir. Begitu juga dengan para ‘Ulama al-Asyar’irah yang hanya bertauhid dengan tauhid Rububiyyah saja, tidak bertauhid Uluhiyyah.

Kesalahan Pembagian Tauhid Rububiyah dan Uluhiyah

Salah satu hal yang menjadikan pembagian tauhid Rububiyyah dan Uluhiyyah ini adalah pembagian yang tidak masuk akal adalah pemisahan makna ilah dan rabb. Padahal pada dasarnya, kedua lafadz tersebut adalah lafadz yang maknanya saling melazimi karena ilah yang haq adalah rabb yang haq. Begitu juga sebaliknya, ilah yang bathil juga merupakan rabb yang bathil.

Hal ini terbukti dari beberapa ayat al-Qur`an dan hadits Rasul Saw yang sama sekali tidak membedakan pemakaian lafazh ilah dan rabb. Allah Swt berfirman yang menceritakan perjanjian manusia tentang ke-Tuhanan Allah Swt di alam ruh :

أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ

"Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (ke-Esaan Tuhan)" (QS. al-A’raf : 172)

Ayat ini menunjukkan bahwasanya pemakaian kata rabb untuk pengakuan ke-Tuhanan Allah Swt sama saja halnya dengan pemakaian kata ilah. Seandainya tidak sama, tentu saja lafazh perjanjiannya tidak akan memakai kata rabb dan akan dituntut untuk mengakui ke-Tuhanan Allah swt dengan pemakaian kata ilah.
Dalil lainnya yang menunjuki bahwa makna lafadz rabb dan ilah saling melazimi (tidak bisa terpisah) adalah pertanyaan Malaikat Munkar ‘as dan Nakir ‘as di dalam kubur dengan lafadz "من ربك" bukan dengan lafadz "من الهك" . Kalau memang makna dari lafadz Rabb dan Ilah berbeda, tentunya kedua Malaikat ‘as ini akan menanyakan "من الهك" atau akan menanyakan keduanya.

Oleh karena itu antara Uluhiyyah dan Rububiyyah tidak bisa dipisahkan maknanya sehingga pembagian tauhid ini tidak sah karena siapa saja yang telah mengakui Rububiyyah bagi satu zat, berarti ia juga telah mengakui Uluhiyyahnya zat tersebut.

Benarkan Kaum Kafir Ber-tauhid Rububiyyah?

Sekelompok insan pembagi tauhid tiga ini menyatakan bahwa kaum musyrik memiliki tauhid Rububiyyah. Ini merupakan hal yang sangat aneh karena kaum yang menyekutukan Allah Swt didakwa sebagai kaum yang ber-tauhid padahal dalil-dalil telah menunjukkan bahwa kaum kafir sama sekali tidak memiliki tauhid Rububiyyah.

Salah satu dalil yang sangat jelas untuk menunjuki bahwa para kafir itu tetap mensyirikkan tauhid Rububiyyah adalah pertanyaan Malaikat Munkar 'as dan Nakir 'as dalam kuburan dengan lafadz من ربك , "Siapa Rabb-mu?", jawaban kaum kafir adalah  لا ادرى , "Saya tidak tahu", sedangkan kaum mukmin akan menjawab "Allah Swt", sehingga dapatlah dipahami bahwa kekufuran kaum musyrik dalam Rububiyyah sama dengan kekufurannya terhadap Uluhiyyah.

Para Rasul sebagaimana mereka menentang kaum musyrikin yang beribadah kepada selain Allah Swt, mereka juga menentang keyakinan kaum musyrikin yang menetapkan sifat Rububiyyah kepada selain Allah Swt, seperti keyakinan kaum kafir akan terpenuhinya syafa’at (permintaan pertolongan) mereka di sisi Allah Swt dengan cara menyekutukan Allah Swt dengan tuhan-tuhan mereka ataupun seperti terpenuhinya kehendak tuhan-tuhan mereka dalam memberi manfaat dan kemudharatan bagi mereka. Ini menunjukkan bahwa sifat Rububiyyah yang ditetapkan oleh kaum kafir kepada Allah Swt adalah penetapan yang tidak sah sehingga kaum kafir tidak layak digolongkan dalam kelompok manusia yang bertauhid Rububiyyah.

Beberapa ayat al-Qur`an yang menunjuki bahwa para Rasul juga menentang penetapan sifat Rububiyyah Allah Swt oleh kaum musyrikin antara lain :

1. Dalam surat al-Anbiya, Allah Swt menghikayahkan perkataan Nabi Ibrahim ‘as :

قَالَ بَلْ رَبُّكُمْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الَّذِي فَطَرَهُنّ

"Nabi Ibrahim ‘as berkata : "Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya" (QS. al-Anbiya: 56)

2. Dalam surat al-An’am ayat 80, Allah Swt juga menghikayahkan perkataan Nabi Ibrahim ‘as kepada kaumnya :

أَتُحَاجُّونِّي فِي اللَّهِ وَقَدْ هَدَانِ وَلَا أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ رَبِّي شَيْئًا

"Apakah kamu hendak membantah tentang Allah Swt padahal sesungguhnya Allah Swt telah memberi petunjuk kepadaku. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah Swt kecuali di kala Tuhanku (Rabbi) menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu... " (QS. al-An’am : 80)

Kedua kandungan ayat ini ini adalah bukti nyata seruan Nabi Ibrahim ‘as kepada kaum musyrik untuk tidak menjadikan tuhan mereka sebagai sekutu bagi Allah Swt dengan keyakinan mereka bahwa tuhan mereka bisa memberi mudharat dan manfaat.

3. Dalam surat Yusuf ayat 39, Allah Swt menceritakan dakwah Nabi Yusuf ‘as ketika berada dalam penjara:

أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

"Manakah yang baik, tuhan-tuhan (Arbab, kata plural dari Rabb) yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?" (QS. Yusuf : 39)

4. Dalam surat an-Nazi’at ayat 24, Allah Swt menghikayahkan perkataan Fir’aun :

أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى

"Akulah tuhanmu yang paling tinggi" (Q.S. an-Nazi’at : 24)

Apakah masih dapat di katakan bahwa “kedua sahabat Nabi yusuf yang menyembah patung dan fir’aun itu mengakui dengan uluhiyyah Allah SWT ? sehingga bisa kita dakwakan bahwa kaum tauhid Raububiyah juga ada pada kaum kafir!

5. Dalam surat asy-Syu’ara` ayat, Allah menghikayahkan percakapan Nabi Musa dengan Fir’aun. Fir’aun berkata :

وَمَا رَبُّ الْعَالَمِينَ

"dan apa itu tuhan kamu?" (Q.S. As-Syu’ara 23)

Maka Nabi Musa AS menjawab :

رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا

"Tuhan langit dan bumi dan sesuatu antara keduanya"( Q.S. Asy-Syu’ara 24 )
Nabi Musa juga menjawab:

رَبُّكُمْ وَرَبُّ آبَائِكُمُ الْأَوَّلِينَ

"tuhan kamu dan tuhan segala bapak kamu yang terdahulu"(Q.S. Asy-Syu’ara 26)

6. Nabi Harun as menyeru kepada kaumnya yang menyembah patung anak lembu :

وَإِنَّ رَبَّكُمُ الرَّحْمَنُ

Dan sesungguhnya tuhan kamu itu Maha pengasih (bukan anak sapi ini) (Q.S. Thaha 90)

7. Allah ta"ala berfirman kepada Nabi Muhammad SAW :

قُلْ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِي رَبًّا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ

Katakanlah: "Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu…"(Q.S. al-An’am 64)

8. surat ali Imran 80 :

وَلَا يَأْمُرَكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرْبَابًا

dan Dia tidak menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan-tuhan.(Q.S. Al Imran 80)

9. dll

Seluruh ayat diatas juga menunjukan bahwa para Rasul juga menyeru kepada kaumnya untuk tidak menyekutukan Allah pada rububiyyah dan untuk tidak menetapkan sesuatu dari kekhususan rububiyyah kepada selain Allah. Hal ini menunjukan bahwa kaum musyrikin juga menyekutukan Allah dengan sesembahan mereka pada sifat-sifat keistimewaan Allah. Mereka memiliki beberapa Rabb (tuhan), maka bagaimana bisa di katakan bahwa kaum musyrik memiliki tauhid rububiyah, meyakini bahwa hanya ada satu rabbi.

Dan adapun ayat-ayat yang mereka jadikan sebagai hujjah untuk melegitimasikan pernyataan mereka bahwa orang musyrik mengakui tauhid rububiyyah maka ayat-ayat tersebut sama sekali tidak bisa menjadi hujjah untuk dakwaan mereka karena :


  1. Karena ayat-ayat tersebut khusus diturunkan kepada musyrikin arab pada masa Rasulullah SAW. Sedangkan dakwaan mereka umum untuk semua kaum musyrik.
  2. Berdasarkan kenyataan dilapangan dan dalam sejarah bahwa beberapa kelompok manusia mengingkari adanya Allah SWT seperti kelompok Atheis, golongan yang lain mengingkari ke-esaan Allah SWT seperti kaum tsanawiyyah yang mengatakan tuhan ada 2, tuhan kebaikan dan tuhan keburukan, dan ada juga kaum shabiah (para penyembah bintang) mereka menetapkan tadbir (pengaturan alam) kepada bintang-bintang sehingga bintang tersebut berhak untuk di sembah serta mengadukan berbagai keperluan padanya, mereka meyakini bahwa bintang mengatur segala kejadian dibumi seperti kebahagiaan seseorang, sengsara, sehat, sakit, dll.

Maka apakah bisa kita membenarkan bahwa mereka semua termasuk orang –orang yang bertauhid rububiyyah?

Begitu juga di dalam Al-quran telah tertera bahwa Namrud dan Fir’aun mendakwakan adanya sifat rububiyyah pada diri mereka, Namrud mengatakan:

أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ

"saya yang menghidupkan dan yang mematikan" (Q.S. al-Baqarah 258)

وَمَا رَبُّ الْعَالَمِينَ

"dan apa tuhan sekalian alam" (Q.S. Syu’ara` 23)

sedangkan Fir'aun mengatakan :

يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ مَا عَلِمْتُ لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرِي

"Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan (rabb) bagimu selain aku" (Q.S. al-Qashash 38)

dan ia juga berkata:

أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى

aku tuhan (rabb) kamu yang lebih tinggi (Q.S. an-naza’at 24)

Mereka semua sama sekali tidak mengenal rububiyyah apalagi mengakui dengan tauhid rububiyyah kepada Allah, bahkan sebaliknya mereka mendakwakan diri mereka sebagai Rabb yang memberi manfaat dan mudharat.

Allah SWT berkata tentang keadaan kaum musyrikin Arab:

وَهُمْ يَكْفُرُونَ بِالرَّحْمَنِ قُلْ هُوَ رَبِّي

mereka kufur dengan Allah, katakanlah Allah itu Rabbi (Q.S.Ar-Ra’du 30)

Maka dimana tauhid rububiyyah mereka?

Dari ayat-ayat yang telah kami uraikan diatas menunjukkan bahwa orang-orang musyrik menjadikan sembahan mereka sebagai sekutu bagi Allah, mereka menetapkan bahwa tuhan-tuhan mereka bisa memberi pertolongan (syafa’at) mereka menetapkan bahwa tuhan-tuhan mereka bisa berkehendak apapun terhadap manusia yang hidup dibumi ini, maka iktiqad mereka yang seperti ini adalah syirik pada Rububiyyah.
Selain itu, ketika jiwa manusia hanya akan tunduk dengan menyembah kepada zat yang telah ia akui sebagai pencipta dan pengatur alam, maka penyembahan kaum musyrik kepada selain Allah menunjuki bahwa keyakinan ke esaan pencipta dan pengatur alam dalam hati mereka bukan hanya kepada Allah semata, dengan kata lain tauhid Rububiyah sama sekali tidak ada dalam jiwa mereka. Karena manusia yang mengakui adanya sebagian sifat Rububiyah pada satu zat kemudian menyekutukannya maka manusia tersebut tidaklah dapat di katakan memiliki tauhid Rububiyah.


Kesimpulannya, dakwaan Ibnu Taimiyah dan pengikutnya bahwa sekalian kaum musyrik dari sekalian umat juga mengakui tauhid Rububiyah kepada Allah dan sesungguhnya mereka itu kafir hanya karena tidak memiliki tauhid uluhiyyah (menyembah selain Allah) dan bahwa para Rasul-rasul tidak mengajak umatnya kepada tauhid Raububiyah karena tauhid tersebut telah ada pada diri mereka tetapi yang di ajak oleh Rasul hanyalah untuk mengakui tauhid uluhiyah, merupakan dakwaan yang sesat serta menyalahi al-quran sendiri sebagaimana telah kita uraikan ayat-ayat al-quran yang menunjukkan bahwa kaum musyrik menyekutukan Allah dengan sesembahan mereka sebagian sifat-sifat kekhususan Allah SWT.

Pada hakikatnya pembagian tauhid kepada rububiyah dan uluhiyah adalah bertujuan untuk menggolongkan kaum muslimin yang melakukan ziarah, bertawasol ke kuburan para anbiya dan syuhada sebagai orang-orang musyrik yang hanya memiliki tauhid rububiyah dan tidak memilikii tauhid uluhiyah seperti layaknya kaum musyrik yang menurut mereka juga mengimani Allah tetapi menyembah selain Allah.
Baca juga Memahami Makna Ibadat
Bersambung ...(Tauhid Asma' wa Shifat)

Memuji Rasulullah SAW yang di larang

memuji Rasulullah
Menanggapi dakwaan kalangan yang memvonis sesat ummat Islam yang bergembira untuk memperingati dan merayakan maulid Nabi Muhammad saw yang membaca dan menghayati pembacaan kisah Nabi Muhammad saw yang dimulai dari kelahirannya, keturunannya, keluarganya, sifat dan karakteristiknya sampai pada perjuangannya yang sering dibacakan dari kitab-kitab seperti Al-Barzanji, Ad-Diba’i, Simtudh-Dhurar, Dhiyaul-Lami’ ataupun kitab-kitab kisah lainnya bahwa hal tersebut adalah sebuah pengkultusan kepada Nabi Muhammad saw sebagaimana pengkultusan ummat Nashrani kepada Nabi ‘Isa ‘as, maka hal itu adalah dakwaan yang sangat keliru dan memperlihatkan kedangkalan pemikiran mereka dalam menelisik dan memahami dalil-dalil yang dikemukakan oleh Syari’.

Imam Al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan dari Ibn ‘Abbas ra :

حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ سَمِعْتُ الزُّهْرِيَّ يَقُولُ أَخْبَرَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ سَمِعَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ عَلَى الْمِنْبَرِسَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ

“Ibn ‘Abbas ra mendengar ‘Umar ra berkhutbah di atas mimbar :”Aku mendengar Rasulullah saw bersabda :”Janganlah engkau memujiku (dengan berlebihan) seperti kaum Nashrani memuji anak laki-laki maryam karena aku hanyalah hamba Nya. Maka ucapkanlah bahwa Muhammad hanyalah seorang hamba Allah SWT dan utusan Nya”.

Resapilah maksud dari perkataan Nabi saw tersebut. Pengkultusan yang dilarang oleh Nabi Muhammad saw kepada dirinya adalah pengkultusan yang menyerupai pengkultusan ummat Nashrani kepada ‘Isa ‘as, yaitu anggapan mereka bahwa ‘Isa ‘as adalah anak Allah SWT yang berhak juga untuk disembah sebagai Tuhan.
Hal demikian tentu saja sangat jauh berbeda dengan lantunan puji-pujian kepada Nabi Muhammad saw yang terdapat dalam Kitab-Kitab kisah maulid Nabi saw tersebut. Pujian yang disematkan kepada Nabi saw tidaklah sampai mencabut status Nabi saw sebagai manusia biasa dan menganggapnya sebagai manifesto Tuhan di permukaan bumi ini.

Inilah yang di gambarkan oleh Imam al-Bushiri dalam qasidah Burdahnya :

دع ما ادعته النصارى فى نبيهم * واحكم بما شئت مدحا فيه واحتكم
فانسب إلى ذاته ما شئت من شرف * واسب إلى قدره ما شئت من عظم
فإن فضل رسول الله لـيس له * حـد فيغرب عنه نـاطق بفـم

Tinggalkan tuduhan orang nasrani .yang dilontarkan kepada Nabi mereka
Tetapkanlah untaian pijian kepada Nabi . Pujian apapun yang engkau suka
Nisbahkan kepad Zat Nabi . Segala kemuliaan yang engkau kehendaki
Nisbahkan kepada martabat Nabi . Segala keagungan yang engkau kehendaki
Karena keutamaan Rasul Allah Ta`ala . Tiada tepi batasnya
Sehingga mengurai mudah terasa Bagi lisan yang berkata

Adapun melantunkan syair pujian kepada Rasulullah SAW para shahabat Rasulullah sendiri juga melakukan hal yang serupa. Imam Muslim meriwayatkan satuhadits dari Hasan Bin Tsabit ra :

قَالَ عَمْرٌو : حدثنا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ ، عَنِ الزّهْرِئ ، عَنْ سَعِيد ، عَنْ أبِى هُرَيْرَةَ ؟ انَّ عُمَرَ مَرَّ بِحَسَّانَ وَهُوَ يُنْشدُ الشِّعْرَ فِى المَسْجد ، فَلَحَظَ إِلَيْهِ .فَقَاذَ : قَدْ كُنْتُ أنشِدُ وَفيه مَنْ هُوَ خَيْر مِنْكَ ، ثُمَّ التًفَتَ إِلَى أَبِى هُرَيْرَةً ، فَقَالَ : انْشُدُكَ اللّهَ ، اسمِعْتَ رَسُولَ الَلّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ :اجِبْ عنِّى ، اللهُمَّ إلِّدْهُ بِرُوح القُدُسِ لما ؟ قَالَ : اللّهُمَّ ، نَعَمْ

“Sesungguhnya ‘Umar ra menegur Hasan ra yang sedang melantunkan sya’ir di dalam Mesjid, maka Hasan ra berkata :”Sungguh aku telah melantunkan ini dihadapan orang yang lebih baik daripada engkau (yaitu Rasulullah saw). Kemudian Hasan ra berpaling kepada Abu Hurairah ra, maka berkatalah ia :”Bukankah saat melantunkan sya’ir ini Rasulullah saw mendengarkanku seraya berkata menjawabnya dariku :”Ya Allah, bantulah ia dengan (kekuasaan) Ruhul-Qudus?” Abu Hurairah ra menjawab :”Ya Allah,,, benar”.

Imam Al-Hakim rahimahullah meriwayatkan dari ‘Abbas bin ‘Abdul-Muththalib ra:

حدثنا أبو العباس محمد بن يعقوب ثنا أبو البختري عبد الله بن محمد بن شاكر ثنا زكريا بن يحيى الخزاز ثنا عم أبي زحر بن حصين عن جده حميد بن منهب قال : سمعت جدي خريم بن أوس بن حارثة بن لام رضي الله عنه يقول : هاجرت إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم منصرفه من تبوك فأسلمت فسمعت العباس بن عبد المطلب يقول : يا رسول الله إني أريد أن أمتدحك فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم : قل لا يفضفض الله فاك قال : فقال العباس :
( من قبلها طبت في الظلال و في مستودع حيث يخصف الورق )
( ثم هبطت البلاد لا بشر أنت و لا مضغة و لا علق )
( بل نطفة تركب السفين و قد ألجم نسرا و أهله الغرق )
( تنقل من صالب إلى رحم إذا مضى عالم بدا طبق )
( حتى احتوى بيتك المهين من خندق علياء تحتها النطق )
( و أنت لما ولدت أشرقت الأ رض و ضاءت بنورك الأفق )
( فنحن في ذلك الضياء و في النور و سبل الرشاد نخترق )

“,,,maka aku mendengar ‘Abbas bin ‘Abdul-Muththalib ra berkata :”Ya Rasulullah, sesungguhnya aku ingin menyanjungmu.” Rasul saw menjawab :”Katakanlah…”. Maka ‘Abbas ra membacakan sya’irnya tersebut...”
Selain itu, Allah sendiri dalam al-quran sangat banyak memuji kepribadian Rasulullah SAW, maka sangat mengherankan bila kaum wahabi melarang memuji Rasulullah SAW..

Download Kitab Naqdhu Risalah Tadmiriyah

Syeikh Sa'id Faudah
Syeikh Sa'id Faudah
Naqdhu Risalah Tadmiriyahsalah satu ulama zaman ini yang gigih mempertahankan aqidah Ahlus sunnah wal Jamaah adalah Syeikh Sa’id Faudah yang di gelari Saif sunnah (pedang sunnah). beliau merupakan salah satu generasi pemegang tonggak mazhab akidah Ahlussunnah Waljama’ah paham Asy’ari pada masa kontemporer saat ini. lahir di Yordania pada tahun 1967 M, adalah seorang peneliti dalam ilmu kalam dan sering menjadi pembicara dalam simposium, seminar keislaman yang membahas akidah Asy’ariyah di berbagai Negara. Seperti; Mesir, Syria, Turki, Kuwait, Belanda dan Malaysia tentunya di Negaranya sendiri pula.

Beliau banyak mengarang kitab sebagai penolak kaum bid`ah terutama kaum wahabi, bahkan juga kitab menolak pemikiran tokoh idola kaum wahabi, Ibnu Taimiyah. selain itu beliau juga banyak mengarang kitab dalam ilmu mantiq, ushul fiqh baik dalam berbentuk kitab ringkasan, syarah maupun tahqiq atas kitab ulama dahulu. Kematangan pemikirannya terbukti dengan aktif di kegiatan penelitian ilmiah selain produktif dalam berkarya, mensyarah dan mentahkik kitab klasik semacam Syarhu Shugro as-Shughro karya Imam Sanusi, Syarah Iqtishad fil I’tiqad-nya Imam al-Ghazali, Mukhtashor Khoridah al-Bahiyah, As-Syarhu al-Kabir ‘ala Aqidah at-Thahawiyah dan kitab lainnya dalam akidah ahlussunnah.

Beliau aktif berdakwah lewat media internet terutama website www.aslein.net , selain itu banyak juga video beliau di youtube.
salah satu kitab yang beliau karang tentang aqidah Ibnu Taimiyah adalah kitab Naqdhu ar-Risalah Tadmiriyah. Dalam muqaddimah kitab ini beliau menyatakan :
kitab Naqdhu ar-Risalah

Artinya : dan sungguh kebanyakan orang awam menyangka – ikutan mereka dalam hal ini adalah orang-orang yang di nisbahkan kepada ulama – bahwa para ulama kita yang terdahulu yang melawan pemikirian bersikap demikian Ibnu Taimiyah hanya kerna hasud kepada Ibnu Taimiyah, dan hanya untuk maksud pribadi mereka. Tetapi kenyataannya menurut kami adalah sebaliknya, dan kami bermaksud mengatakan bahwa mereka adalah maksum tetapi mereka menolong mazhab Ahlussunnah wal Jamaah yang ingin di hancurkan dan di ganti oleh Ibnu Taimiyah dengan mazhab Hasyawiyah dan karamiyah. (hal 6)

Bagi yang ingin mendownload kitab Naqdhu Risalah Tadmiriyah silahkan download DI SINI atau langsung saja menuju ke archive.org

Pengertian Bid'ah Menurut Ulama Ahlussunnah Wal Jamaah

Makna Bid`ah
Salah satu senjata utama kaum wahaby (khawarij zaman ini) adalah kata bid'ah. Dalam setiap pemahasan mereka tidak terlepas dari kata-kata bid'ah. Dengan jurus bid'ah pula mereka menyesatkan para ulama-ulama besar dan mayoritas kaum mulimin.
Dalam menafsirkan makna bid'ah mereka menolak penafsiran para ulama-ulama besar dan hanya menerima penafsiran yang di lakukan oleh tokoh-tokoh mereka (seperti al-bani, utsaimin, salih fauzan dll).

Karena itu, maka kami pihak LBM MUDI Mesjid Raya, merasa perlu membuat satu tulisan tentang pemahaman makna bid'ah berdasarkan pemahaman ulama Ahlus sunnah wal jamaah. Terlebih lagi banyak kalangan yang meminta kami untuk membahas masalah bid'ah.

PENGERTIAN BID'AH SECARA ETIMOLOGI (BAHASA)

Secara etimologi, bid'ah mempunyai 2 makna. Pertama, memulai dan mengerjakan hal yang baru tanpa ada didasari contoh.
Makna ini berasal dari perkataan :

أبْدعْتُ الشيءَ قولاً أو فِعلاً، إذا ابتدأتَه لا عن سابق مثال
(Aku memulai sesuatu perkataan atau perbuatan, apabila aku memulainya maka tidak ada keserupaan sebelumnya).

Sebagai contoh dari makna yang pertama adalah firman Allah SWT :

والله بديعُ السّمواتِ والأرض
“Allah SWT merupakan pencipta langit dan bumi”. (Q.S. Al-Baqarah : 117)

Pada ayat yang lain :

قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعاً مِنَ الرُّسُلِ
“Katakanlah (hai Muhammad saw): “Aku bukanlah yang pertama di antara Rasul-Rasul”. (Q.S. Al-Ahqaf : 9)

Selanjutnya, Syaikh Ahmad bin Hijazi Al-Fasyani rahimahullah mengutarakan bahwa bid'ah secara bahasa adalah :

ما كا ن مخترعا على غير مثال سابق
(Perkara baru tanpa didasari contoh sebelumnya).

Syaikh Muhammad bin Ya’qub Al-Fairus Al-Abadi mengungkapkan bahwa bid'ah adalah :

الامرالذى يكون اولا
(Suatu urusan yang pertama adanya).

Syaikh Muhammad bin Abubakar Ar-Razi mendefinisikan abda’a (bid'ah) sebagai berikut :

اخترعه لا على مثال
(Mengadakan sesuatu tanpa contoh).

Kalau kita menela’ah rataan makna bid'ah dalam kamus-kamus Bahasa ‘Arab, kita dapati bahwa kebanyakan para ahli lughah mendefinisikan bid'ah sebagai suatu perkara baru yang diciptakan tanpa didasari contoh terlebih dahulu. Sedangkan pencipta hal baru tersebut dinamai dengan mubdi’ ataupun mubtadi’.

PENGERTIAN BID'AH SECARA ETIMOLOGI (ISTHILAH)

Sedangkan secara terminologi Syari’at, dalam kalangan ‘Ulama Ahlus sunnahada dua cara pandang yang sedikit berbeda, namun kesimpulannya tetap sama.
Pertama para ulama yang menafsirkan makna bid'ah dengan definisi :


ما أحدث مما لا أصل له في الشريعة يدل عليه وأما ما كان له أصل من الشرع يدل عليه فليس ببدعة شرعا وإن كان بدعة لغة
“bid'ah adalah suatu pembaruan yang tidak mempunyai dalil sama sekali dalam Syari’at yang membenarkannya. Sedangkan pembaruan yang mempunyai dalil Syari’at yang membenarkannya maka bukan termasuk bid'ah menurut Syara’ walaupun dapat disebut bid'ah secara bahasa”.

Pengertian tersebut diutarakan oleh Syaikh ‘Abdurrahman bin Ahmad bin Rajab Al-Hanbali rahimahullah.

Berdasarkan defenisi ini maka semua bid'ah syar`i adalah sesat, karena maksud dengan bid'ah adalah semua yang tidak memiliki landasannya dalam agama. Maka bid'ah syar`i tidak di bagi lagi tetapi di hukumkan semua bid'ah adalah sesat karena bid'ah adalah lawan dari sunnah.

Adapun kalam para ulama yang jelas-jelas membagi bid'ah maka di maksudkan kepada bid'ah lughawi bukan bid'ah syar`i. Amalam-amalan yang di katakan oleh para ulama sebagai amalan bid'ah hasanah seperti perayaan maulid Nabi sebenarnya bukanlah bid'ah secara istilah syara` karena amalan tersebut memiliki landasannya dalam agama, tetapi ia hanya di katakan sebagai bid'ah pada lughah. Diantara para ulama yang dengan tegas menyatakan demikian antara lain al-Hafidh Ibnu Hajar al-Asqalani dan Imam Ibnu Hajar al-Haitami.

Maka berdasarkan defenisi ini, hadits Nabi   كل بدعة ضلالة   (Setiap bid'ah adalah sesat) masih dapat di maknai secara umum, yaitu semua yang di namakan bid'ah secara istilah syara` adalah sesat.
Kedua :para ulama yang mendefeniskan bid'ah ;

فعل ما لم يعهد في عصر رسول الله صلى الله عليه وسلم
“bid'ah adalah setiap perkara yang tidak dikenal pada zaman Rasululullah saw”.

Definisi ini diungkapkan oleh Syaikh ‘Izzuddin ‘Abdul-‘Aziz bin ‘Abdus-Salamrahimahullah.
Beranjak dari sudut pandang yang kedua ini, maka lafadz "bid'ah" dalam istilah syar`i dapat dipahami sebagai hal-hal apa saja yang belum ada ataupun tidak dikenal pada masa Rasulullah saw baik hal tersebut bisa saja dikategorikan sebagai hal baik, seperti mengumpulkan seluruh Alqur-an dalam satu mushaf, membukukan Hadits-Hadits Nabi Muhammad saw, mendirikan madrasah dan seterusnya ataupun dapat pula dikategorikan sebagai hal yang jelek, misalnya berkeyakinan sebagaimana keyakinannya sekte Al-Jabbariyah, Al-Qadariyah, Al-Murji’ah, mencampuradukkan pelajaran keagamaan dengan falsafah kafir, meninjau masuknya bulan puasa bukan dengan sistem rukyah, melaksanakan shalat Jum’at di rumah seorang diridan lain sebagainya. Bahkan perkara baru tersebut mencakup juga urusan keduniawian, seperti mengendarai sepeda motor, mobil, menggunakan internetan dan seterusnya.

Pandangan para ini dilandasi perkataan shahabat Saidina Umar yang di riwayatkan oleh Imam Al-Bukhari rahimahullah :

قَالَ عُمَرُ نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ
“Ini adalah bid'ah yang paling baik”.
Juga di landasi oleh hadits Rasulullah yang di riwayatkan oleh Imam Muslim :

من سن فى الإسلام سنة حسنة فله أجرها وأجر من عمل بها بعده من غير أن ينقص من أجورهم شىء ومن سن فى الإسلام سنة سيئة كان عليه وزرها ووزر من عمل بها من بعده من غير أن ينقص من أوزارهم شىء

Artinya : Barangsiapa merintis dalam Islam sunnah (perbuatan) yang baik maka baginya pahala dari perbuatan tersebut juga pahala dari orang yang melakukannya setelahnya tanpa mengurangi sedikitpun pahala mereka, dan barang siapa merintis dalam Islam sunnah (perbuatan) yang buruk maka baginya dosa dari perbuatannya dan juga dosa dari perbuatan orang yang melakukannya setelahnya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka. (H. R. Imam Muslim)

Dalam hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda :

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد
Barang siapa mencipatakan dalam urusan kami (agama) sesuatu yang bukan darinya maka ia tertolak (H.R. Imam Muslim)
Syeikh Abdu Rabbih al-Qalyuby mengatakan :

مفهومه من يحدث فى الدين ما هو منه فليس يردّ والمردود انما هو الذى لا أصل له فى الدين
Artinya: Mafhum hadits ini, seorang yang mengadakan sesuatu dalam agama perkara yang masih masih memiliki landasan dalam agama maka ia tidaklah tertolak, yang tertolak hanyalah perkara yang tidak ada dasarnya dalam agama.
Maka berdasarkan landasan ini, para ulama membagi bid'ah syar`i kepada dua; hasanah dan mazmumah dan berlaku baginya hukum yang lima (wajib, sunat, haram, makruh, dan mubah).
Atas dasar pemahaman ini, Imam Nawawi berkomentar terhadap hadits kullu bid'ah dhalalah:

قوله صلى الله عليه وسلم وكل بدعة ضلالة هذا عام مخصوص والمراد غالب البدع
Kata Nabi “setiap bid'ah adalah sesat” ini adalah `am makhkhsu, yang di maksudkan adalah kebanyakan bid'ah.

Bila kita sedikit menelisik redaksi matan dari “Kullu bid'ah dhalalah”, maka kita mengetahui bahwa pada riwayat tersebut terdapat lafadz yang bermakna universal, yaitu lafadz “kullu”. Namun, tidak semua lafadz “kullu” bermakna universal. Tidak sedikit pula yang bermakna “ba’dhun”(sebagian). Dengan kata lain, ada lafadz “kullu” yang bermakna jami’ dan ada juga yang bermakna majmu’. Hal ini tidak jarang dijumpai dalam lafadz-lafadz yang mengandung nilaibalaghah yang tinggi baik dalam Alqur-an maupun Hadits-Hadits Nabi Muhammad saw. Diantaranya :

1. Firman Allah SWT dalam Surat Al-Ahqaf ayat 25 :

تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِأَمْرِ رَبِّهَا فَأَصْبَحُوا لَا يُرَى إِلَّا مَسَاكِنُهُمْ كَذَلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ
“Yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali bekas tempat tinggal mereka. Demikianlah kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa”.

Dalam ayat tersebut, lafadz yang digunakan adalah lafadz “kullu”, namun tidak bermakna universal. Akan tetapi, makna lafadz “kullu” tersebut bermakna “ba’dhun”. Artinya, tidak semuanya dihancurkan pada masa itu, namun yang dihancurkan hanyalah kaum yang tidak beriman kepada Allah SWT.

2. Firman Allah SWT dalam Surat Al-Anbiya ayat 30 :

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”

Dalam ayat ini, lafadz “kullu” juga tidak digunakan dalam bentuk bermakna keseluruhan karena Allah SWT juga ada menciptakan makhluk hidup dari api, yaitu bangsa jin. Allah SWT berfirman dalam Surat Ar-Rahman ayat 15 :

وَخَلَقَ الْجَانَّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ
“Dan Dia menciptakan jin dari api yang menyala”.

3. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Kahfi ayat 79 :

أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدْتُ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا
“Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera”.

Dalam ayat yang mengisahkan perjalanan Nabi Musa ‘as dengan Nabi Khidir ‘as ini juga menunjuki bahwa lafadz “kullu” tersebut bermakna “ba’dhun” (sebagian). Hanya bahtera yang bagus sajalah yang dirampas oleh raja, sementara bahtera yang jelek tidak dirampas.

4. Surat Al-An`aam ayat 120:

خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ
“Dia yang menciptakan tiap-tiap sesuatu”.

Kata-kata “kullu syai-i” (tiap-tiap sesuatu) dalam ayat tersebut tidak dimaksudkan secara umum menyeluruh, karena Allah SWT tidak menciptakan dzat-Nya sendiri.

5. Surat An-Naml ayat 23 :

وَأُوتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ
“Dan dia (Ratu Balqis) dianugerahi tiap-tiap sesuatu”.

“Kullu” (tiap-tiap) dalam ayat tersebut tidak bermaksud umum, karena bila dimaksudkan umum maka akan timbul pemahaman bahwa Ratu Balqis dianugerahi tiap-tiap sesuatu termasuk juga kekayaan yang ada pada tangan Nabi Sulaiman ‘as, karena bila dikatakan tiap-tiap sesuatu dengan umum akan terbenar juga kepada kekayaan yang ada pada Nabi Sulaiman ‘as.

Dari beberapa ayat Alqur-an tersebut dapat disimpulkan bahwa pemakaian kalimat “kullu” kepada “sebagian” bukanlah suatu hal yang asing. Sehingga bukanlah satuhal yang janggal ketika Imam Nawawi mengatakan bahwa maksud hadits kulla bid'ah dhalalah adalah kebanyakan bid'ah bukan semua bid'ah.

Pembagian bid'ah

Banyak kalam para ulama terkemuka yang dengan tegas membagi bid'ah kepada baik dan tercela, antara lain :

1. Imam Syafii:
Imam Syafii membagi bid'ah kepada dua, sebagaimana yang di riwakatkan oleh Imam Baihaqy:

Pertama :

ما أحدث يخالف كتابا أو سنة أو أثرا أو إجماعا ، فهذه لبدعة الضلالة
“Pembaruan dari hal-hal yang bertentangan dengan Kitab, Sunnah, Atsar atau Ijma’, maka pembaruan ini adalah pembaruan yang menyesatkan”.

Kedua :

ما أحدث من الخير لا خلاف فيه لواحد من هذا ، فهذه محدثة غير مذمومة
“Pembaruan berupa kebaikan yang tidak bertentangan dengan salah satu tersebut, maka pembaruan ini adalah pembaruan yang tidak tercela”.


2. Sulthan Ulama Izzuddin bin Abdis Salam (w. 660 H):

البدعة فعل ما لم يعهد في عصر رسول الله صلى الله عليه وسلم. وهي منقسمة إلى بدعة واجبة، وبدعة محرمة، وبدعة مندوبة، وبدعة مكروهة، وبدعة مباحة، والطريق في معرفة ذلك أن تعرض البدعة على قواعد الشريعة: فإن دخلت في قواعد الإيجاب فهي واجبة، وإن دخلت في قواعد التحريم فهي محرمة، وإن دخلت في قواعد المندوب فهي مندوبة، وإن دخلت في قواعد المكروه فهي مكروهة، وإن دخلت في قواعد المباح فهي مباحة

bid'ah adalah perbuatan yang tidak ada pada masa Rasulullah SAW. Bid`ah terbagi kepada bid`ah wajib, bid`ah haram, bid`ah sunat, bid'ah mubah. Jalan mengetahui demikian adalah dengan menimbang bid'ah tersebut dengan qaedah Syara`. Maka bila masuk dalam qaedah wajib maka ia wajib, jika masuk dalam qaedah haram maka ia haram, jika masuk dalam qaedah sunat maka ia sunat, jika masuk dalam qaedah makruh maka makruh dan jika masuk dalam qaedah mubah maka ia mubah.


3. Ibnu Atsir (w. 606 H) :

البدعة بِدْعَتَان : بدعة هُدًى وبدعة ضلال فما كان في خلاف ما أمَر اللّه به ورسوله صلى اللّه عليه وسلم فهو في حَيِّزالذّم والإنكار وماكان واقعا تحت عُموم ما نَدب اللّه إليه وحَص عليه اللّه أو رسوله فهو في حيز المدح

bid'ah ada dua; bid'ah huda dan bid'ah dhalal (sesat). Maka perkara yang menyalahi perintah Allah dan RasulNya berada pada pihak yang di cela dan di ingkari. Sedangkan perkara yang berada di bawah keumuman yang di sunatkan oleh Allah dan di khususkan oleh Allah dan RasulNya maka ia masuk dalam pihak yang terpuji.


4. Imam Nawawi (w. 676 H)
Imam Nawawi, ulama besar dalam Mazhab Syafii yang mencapai derajat mujtahidtarjih, dalam kitab Tahzib al-Asma` wa al-Lughah :

البِدعة بكسر الباء في الشرع هي إحداث ما لم يكن في عهد رسول الله - صلى الله عليه وسلم - ،وهي منقسمة إلى: حسنة و قبيحة
bid'ah pada syara` adalah menciptakan sesuatu yang tidak ada pada masa Rasulullah SAW. bid'ah terbagi kepada hasanah dan qabihah.

5. Ibnu Abdil Bar (w. 463 H) :

وأما قول عمر نعمت البدعة في لسان العرب اختراع ما لم يكن وابتداؤه فما كان من ذلك في الدين خلافا للسنة التي مضى عليها العمل فتلك بدعة لاخير فيها و واجب ذمها والنهي عنها والأمر باجتنابها وهجران مبتدعها إذا تبين له سوء مذهب هو ما كان من بدعة لا تخالف أصلا لشريعة والسنة فتلك نعمت البدعة

Artinya :Adapun ucapan Saidina Umar, sebaik baik bid'ah, maka bid'ah dalam bahas Arab adalah mencipatakan dan memulai sesuatu yang belum pernah ada. Maka apabila bid'ah tersebut menyalahi sunnah yang sudah berlaku maka ia adalah bid'ah yang tidak ada kebaikan padanya dan wajib di cela dan di larang dan di perintahkan untuk di jauhi dan meninggalkan pelakunya bila telah nyata baginya keburukan alirannya. Sedangkan bid'ah yang tidak menyalahi dasar syariat dan sunnah maka itu adalah sebaik-baik bid'ah.

6. Al-Hafidh Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H)
Beliau berkata dalam kitab Fathul Bari :

والتحقيق أنها أن كانت مما تندرج تحت مستحسن في الشرع فهي حسنة وأن كانت مما تندرج تحت مستقبح في الشرع فهي مستقبحة وإلا فهي منقسم المباح وقد تنقسم إلى الأحكام الخمسة
Artinya :dan yang pasti bid'ah itu jika masuk di bawah yang di anggap baik dalam syara` maka ia adalah hasanah dan jika masuk di bawah yang di anggap buruk dalam syara maka ia adalah buruk dan jika tidak (tidak masuk dalam keduanya) maka ia bagian dari hal mubah dan bid'ah itu terbagi kepada hukum yang lima. 

7. Dll

Sebagaimana telah kami terangkan sebelumnya, bahwa sebagian ulama berpendapat bahwa bid'ah secara istilah syara` hanyalah perkara-perkara yang tidak memiliki landasannya dalam syara` sedangkan perkara baru yang memiliki landasan dalam syara` tidak di katakan bid'ah pada uruf syara` tetapi hanya di katakan bid'ah secara lughawi. Maka berdasarkan pemahaman ini, kata bid'ah hasanah yang dalam dalam kalam para pembesar ulama ketika membagi bid'ah pada hakikatnya adalah bukan bid'ah secara istilah syar`i.

Hal ini dapat di lihat langsung dari pendapat penjelasan beberapa ulama yang menyetujui bahwa semua bid'ah dalam istilah syara` adalah sesat antara lain:

1. Imam al-Hafidh Ibnu Hajar al-Asqalani.
والمحدثات بفتح الدال جمع محدثة والمرادبها ما أحدث وليس له أصل في الشرع ويسمى في عرف الشرع بدعة وما كان له أصل يدل عليه الشرع فليس ببدعة فالبدعة فيعرف الشرع مذمومة بخلاف اللغة فان كل شيء أحدث على غير مثال يسمى بدعة سواء كان محمودا أومذموما
dan yang di maksud dengan muhdats adalah perkara baru yang tidak ada dasarnya dalam syara` dan di namakan pada uruf syara` dengan bid'ah. sedangkan perkara yang memiliki landasan dalam syara` maka ia bukan bid'ah. maka bid'ah dalam istilah syara`adalah tercela berbeda dengan bid'ah pada lughat karena setiap perkara baru yang di lakukan tanpa contohnya di namakan bid'ah baik perkara itu terpuji atau tercela.

Dari kalam Ibnu Hajar al-Asqalani tersebut sangat jelas beliau menyatakan bahwa bid'ah dalam istilah syara` adalah sesat. Sedangkan al-Hafidh Imam Ibnu Hajar al-Asqalani sendiri merupakan salah satu ulama yang dengan tegas menyatakan bahwa perayaan maulid adalah bid'ah hasanah.

2. Ibnu Hajar al-Haitami (w. 974 H)
Dalam fatawa Haditsiyah beliau menyatakan :

وقول عمر رضي الله عنه في التراويح نعمت البدعة هي أراد البدعة اللغوية وهوما فعل على غير مثال كما قال تعالى) قل ما كنت بدعا من الرسل وليست بدعة شرعا فإن البدعة الشرعية ضلالة كما قالوا من قسمها من العلماء إلى حسن وغير حسن فإنما قسم البدعة اللغوية ومن قال كل بدعة ضلالة فمعناه البدعة الشرعية

Dan perkataan Saidina Umar tentang taraweh; sebaik-baik bid'ah adalah ini, maksudnya adalah bid'ah lughawi yaitu setiap perbuatan yang bukan atas contoh terdahulu sebagaimana dalam firman Allah: katakanlah tidak adalah aku yang pertama dari para Rasul (QS. Al-Ahqaf 9). Dan hal itu bukanlah bid'ah pada istilah syara` karena bid'ah syar`iyah adalah sesat sebagaimana kata Nabi. Para ulama yang membagi bid'ah kepada baik dantidak baik maka itu adalah pembagian bid'ah lughawiyah sedangkan para ulama yang menyatakan bahwa semua bid'ah sesat maka maksudnya adalah bid'ah syar`iyah.

Dalam kitab Fathul Mubin, Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan :

والحاصل ان البدعة الحسنة متفق على ندبها وهى ما وافق شيئا مما مر ولم يلزم من فعله محذور شرعي ...
Artinya :kesimpulannya bahwa bid'ah hasanah di sepakati kesunnahannya yaitu perkara yang sesuai dengan yang telah lalu (kami sebutkan) dan mengerjakannya tidak melazimi kepada yang di larang dalam syara`. 
Selanjutnya Imam Ibnu Hajar mengutip pernyataan guru Imam Nawawi, Abu Syamah tentang maulid sebagai contoh dari bid'ah hasanah.

3. Syeikh Muhammad Bakhit al-Muthi`i al-Hanafi (w. 1935 M).
Dalam kitab Ahsanul Kalam fima yata`allaqu bi sunnah wa al bid'ah min al-Ahkam beliau menyatakan :

أن البدعة شرعا هى التى حدث فعلها بعد زمنه صلى الله عليه وسلم ودخلت تحت نهي عام اقتضى التحريم او الكراهة وهى المذمومة شرعا والمحرمة هى التى تكون ضلالة ومذمومة عند الشارع وان البدعة التى قسمها العلماء إلى الأقسام المذكورة هى البدعة اللغوية وهى اعم من البدعة الشرعية لأن الشرعية قسم منها وليس كل ما لم يفعل فى زمنه صلى الله علييه وسلم بدعة مذمومة وضلالة خلافا لمن زعم ذلك

Artinya :bid'ah pada syara` adalah perkara yang di ciptakan pada masa setelah Rasulullah SAW dan masuk dalam larangan yang umum yang menghendakinya hukum haram atau makruh. bid'ah makruh tersebut tercela pada syara`. Sedangkan bid'ah yang harama adalah sesuatu yang sesat dan tercela dalam syara`. Dan bid'ah yang di bagi para ulama kepada beberapa pembagian tersbut adalah bid'ah lughawiyah, bid'ah lughawiyah lebih umum karena bid'ah syar`iyah adalah satu bagian darinya. Dan tidaklah setiap sesuatu yang tidak di kerjakan pada masa Rasulullah SAW termasuk bid'ah tercela dan sesat, sebalik dengan orang-orang yang mendakwa demikian.

Selanjutnya Syeikh Bakhit al-Muthi`i memasukkan azan pertama sebelum pelaksanaan shalat jumat kedalam bid'ah hasanah . Selain itu syeikh Muhammad Bakhit al-Muthi`i juga membolehkan perayaan maulid Nabi sebagaimana fatwa al-Hafidh Ibnu Hajar al-Asqalani, dan al-Hafidh Suyuthi.

Maka dari uraian di atas dapat di simpulkan bahwa dari dua metode pemahaman para ulama tersebut tidaklah kontradiksi bahkan menghasilkan kesimpulan yang sama yaitu setiap perkara yang baru yang menyalahi aturan syara` merupakan perbuatan bid'ah yang sesat dan tidak semua perbuatan yang tidak ada pada zaman Rasul di hukumi bid'ah yang sesat tetapi bila perbuatan tersebut memiliki landasan dalam agama maka ia termasuk dalam bagian dari agama di mana sebagian ulama menyebutkan dengan kata bid'ah hasanah.

Beranjak dari kedua sudut pandang para ‘Ulama Ahlus sunnah dalam menyikapi dan memahami ungkapan Nabi saw “kullu bid'ah dhalalah”, maka pada haqiqatnya mereka sepakat bahwasanya bid'ah yang dimaksud oleh Nabi Muhammad saw bid'ah yang tidak memiliki legalitas dalil Syar’i sekaligus diberi ganjaran dosa bagi para pelakunya. Hanya saja, yang melatarbelakangi perbedaannya adalah pendekatan pemahaman para ‘Ulama itu sendiri dalam menyimpulkan maksud dari ungkapan Nabi Muhammad saw tersebut. Sebagian menganalisanya secara global dan sebagian yang lain mengemukakannya secara terperinci.

Oleh sebab itu, setiap hal yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad saw maupun generasi Salafus-Shalih tidak bisa langsung dihukumi sebagai perkara bid'ah yang dhalalah. Akan tetapi harus dicermati terlebih dahulu apakah perkara tersebut mempunyai landasan Syari’at nya atau tidak. Bila dilandasi oleh dalil-dalil Syari’at yang membolehkannya ataupun tidak melarangnya, maka hal tersebut tidak pantas divonis bid'ah dalam Syara’ walaupun terbenar kepada bid'ah secara lughawi (bahasa). Dengan kata lain, bid'ah tersebut adakalanya dihukumi sebagai bid'ah hasanah (baik) dimana tetap akan diberi pahala bagi para pelakunya dan ada pula yang divonis sebagai bid'ah mazhmumah (tercela) yang diancam sesat dan masuk neraka bagi para pelakunya. Para pelaku bid'ah mazhmumah inilah yang disebut sebagai ahlul-bid'ah dalam Syari’at.
Semoga Allah memelihara kita dari perbuatan-perbuatan bid'ah dhalalah dan juga dari memvonis sesuatu dengan kata "BID'AH". Amiin Ya Rabbal Alamin.

---------------------------------------------------------------------
  1. Al-Majalis As-Saniyyah”, Syaikh Ahmad bin Hijazi Al-Fasyani, Bab “Al-Majlis Ats-Tsamin Wa Al-‘Isyrun Fi Al-Hadits Ats-Samin Wa Al-‘Isyrun”, Hal. 87, Cet. Toha Putra.
  2. “Al-Muhith”, Syaikh Muhammad bin Ya’qub Al-Fairus Al-Abadi, Juz. III, Hal. 3.
  3. “Mukhtar Ash-Shihah”, Syaikh Muhammad bin Abubakar Ar-Razi, Hal. 379.
  4. Syeikh Ali Jum`ah, al-Bayan lima Yasyghul al-Azhan, Juz I. Hal 142
  5. “Jaami’ Al-‘Uluum Wa Al-Hikam”, Syaikh ‘Abdurrahman bin Ahmad bin Rajab Al-Hanbali, Juz. I, Hal. 226, Cet. Dar Al-Ma’rifah, 1408 H.
  6. Fathul Bari, al-Hajar al-Asqalani, Juz XXIII, Hal. 253. Cet. Dar Ma`rifah th 1379 H
  7. Imam Ibnu Hajar al-Haitami, Fatawa Haditsiyah, Hal. 370 Cet. Dar Ihya Turast Arabi, th1998
  8. “Qawaa’id Al-Ahkaam Fii Mashaalih Al-Anaam”, Syaikh ‘Izzuddin ‘Abdul-‘Aziz bin ‘Abdus-Salam, “Fashl Fi Al-Bid’i”, Juz. II, Hal. 133, Cet. Dar Al-Kutub, 2010 M.
  9. “Shahih Al-Bukhari”, Imam Muhammad bin Isma’il Bin Ibrahim Bin Al-Mughirah Al-Bukhari, Bab “Man Qama Ramadhan”, Juz. III, Hal. 45, Cet. Dar Thauq An-Najah, 1422 H.
  10. Syeikh Abd Rabbih al-Qalyubi, Faidh al-Wahhab Juz IV, Hal. 113, Dar Qayumiyah Arabiyah th 1963
  11. Imam Nawawi, Syarh Shahih Muslim, Hal 324 th 1994 Dar Hadits
  12. “Al-Madkhal Ilaa As-Sunan Al-Kubra”, Imam Ahmad bin Al-Husain bin ‘Ali bin Musa Al-Baihaqi, Juz. I, Hal. 191.
  13. Qawaa’id Al-Ahkaam Fii Mashaalih Al-Anaam”, Syaikh ‘Izzuddin ‘Abdul-‘Aziz bin ‘Abdus-Salam, “Fashl Fi Al-Bid’i”, Juz. II, Hal. 133, Cet. Dar Al-Kutub, 2010 M.
  14. Ibnu Atsir, Nihayah Fi Gharib Hadits, Juz I, Hal. 101. Beirut, Maktabah Ilmiyah th 1979
  15. Imam Nawawi, Tahzib al-Asma` wa al-Lughah, Juz II, Hal. 276 . Dar Kutub Ilmiyah, th 2007
  16. Ibnu Abdil Bar, al-Istidzkar, Juz II, Hal. 267, Beirut, Dar Kutub Ilmiyah th 2000
  17. Ibnu Hajar al-Asqalabi, Fathul Bari, Juz IV. Hal 294, Kairo, Dar hadits th 2004
  18. Fathul Bari, al-Hajar al-Asqalani, Juz XXIII, Hal. 253. Cet. Dar Ma`rifah th 1379 H
  19. Imam As-Suyuthi, Al-Hawi Li Al-Fatawi, Bab Husn Al-Maqshud Fi ‘Amal Maulid, Hal. 229, Juz. I, Cet. Dar Al-Fikri, 2004.
  20. Imam Ibnu Hajar al-Haitami, Fatawa Haditsiyah, Hal. 370 Cet. Dar Ihya Turast Arabi, th1998
  21. Ibnu Hajar al-Haitami, Fathul Mubin bi Syarh Arba`in, Hal. 263, Dar Kutub Ilmiyah th 2007
  22. Imam Ibnu Hajar al-Haitami, Fathul Mubin bi Syarh Arba`in, Hal. 263 Cet. Dar Kutub Ilmiyah th 2007
  23. Syeikh Muhammad Bakhit al-Muthi`i, Ahsanul Kalam fima yata`alaqu bi al-sunnah wa al-bid'ah min al-Ahkam, Hal. 16, Kairo, Mathba`ah Kurdistan Ilmiyah th 1329
  24. Ahsanul Kalam fima yata`alaqu bi al-sunnah wa al-bid'ah min al-Ahkam, Hal. 59
  25. Ahsanul Kalam, Hal. 71
Lajnah Bahtsul Masail Pesantren MUDI Mesra (lbm MUDI mesra) Samalanga merupakan suatu lembaga resmi di LPI MUDI Mesra Samalanga yang lahir sebagai tindakan lanjut dari pelaksanaan Mubahatsah ‘Ulama yang diikuti oleh para alumni dan para ulama lain yang biasanya diadakan setiap tahun bertepatan dg acara haul Tgk.H.‘Abdul ‘Aziz,

Artikel terbaru

Artikel Terbaru Via Email
Dapatkan kiriman artikel terbaru dari lbm.mudimesra.com ke email Anda.!!!
Setelah memasukkan email dan klik subscribe, cek email lalu ikuti link verifikasi.

Profil

MUDI mesra

Majalah umdah

Komentarl terbaru

Terima kasih atas donasi anda paypalobjects
Lajnah Bahtsul Masail Lembaga Pendidikan Islam Mahadal Ulum Diniyah Islamiah.
Alamat: Jln. Iskandar Muda, Km 1,5 Desa Mediun Jok, Mesjid Raya, Kec. Samalanga, Kab.bireuen, Aceh.
   Religion Blogs    TopOfBlogs    Blog Directory    blog indonesia    Blogdigger Blog Search Engine    Increase Page Rank
   Online Marketing