Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Pembagian Insya'

Insya' terbagi lima pembahagian : al-amr, an-nahy, Al-istifham, at-Tamanni dan an-nida'.

A.Istifham

Istifham adalah menuntut paham, dengan makna menanyakan khabar. Bilangaan yang tergolong dalam istifham ini banyak, sebagian darinya الهمزة ،هل، ما

Maksud dari Istifham ini bisa bermacam-macam :

1. Inkar, dinamakan pula dengan istifham Inkari, ketika itu maknanya menjadi nafyi dan sesudahnya manfi (yang ditiadakan), karena ini menyertai ( الا) seperti dalam ayat : فهل يهلك الا القوم الفاسقون

2. Taubikhi, dalam kata lain disebut Taqri'i, contohnya seperti :

أفعصيت أمري ، ان تعبدون ما تنحتون، أتدعون بعلا وتذرون أحسن الخالقين

3.Taqriri, Istifham Taqriri adalah membebankan Mukhatab (lawan bicara) untuk mengiqrar dan mengaku dengan perkara yang telah diakuinya, hal ini seperti dalam ayat:

الم نشرح لك صدرك،، الم يجدك يتيما فأوى

4.Targhib, seperti: (من ذ الذي يقرض الله قرضا حسنا) ، ( هل أدلكم على تجارة تنجيكم)

4.Doa, Doa sama seperti larangan yang membedakan adalah doa timbulnya dari bawah kepada yang diatas. Seperti: (أتهلكونا بما فعل السفهاء) Maksudnya Jangan engkau binasakan kami

B. Al-amr (perintah)

Termasuk dalam Insya' adalah al-amr, amr adalah menyuruh untuk berbuat bukan untuk meninggalkan. Adapun Sighat-Sighat nya adalah افعل ،،ليفعل،
Pada hakikatnya almr ini digunakan kepada Al-ijab (wajib mengerjakannya) , Namun terkadang bisa digunakan dalam berbagai makna yang lain secara Majaz :

1. An-Nadab (Sunnah), seperti firman Allah SWT   واذاقرئ القرآن فاستطعواله وأنصتوا

2. Al-ibahah (boleh) , seperti :  فكاتبوهم

Ketentuan imam Syafi'i disini maknanya kepada Ibahah, contoh lain:

                                                                واذا حللتم فاصطادوا

“Apabila telah kalian tahallul, berburulah kalian”

Kata فاصطادوا adalah perintah secara boleh.

3.Doa dari yang rendah kepada yang diatas seperti

رب اغفرلي

“Ya Allah ampunilah aku”
Kata اغفر adalah doa.

4.At-tahdid (hardik), seperti

اعلموا ما شئتم

"Perbuat kalian apa yang kalian kehendaki"

Dalam contoh ini, tidak mungkin yang dimaksudkan mempurbuat apa saja.

5.Ta'jiz (melemahkan) seperti :

فأتوا بسورة من مثله
Secara realita tidak mungkin maksudnya menuntut mereka, akan tetapi menampakkan kelemahannya.

6.Takzib (mendustai), seperti :

قل فأتو باالتورة فاتلوها

Katakan (Muhammad) maka kalian datangkan dengan tahrat maka kalian membacanya

قل هل شهاداءكم الذين يشهدون أن الله حرم هذا

“Katakan olehmu (muhammad) berapa banyak orang-orang yang bersaksi bahwa sungguh Allah mengharamkan ini”

C. An-nahyu (larangan)

Sebagian dari Insya' adalah Nahyu, Nahyu adalah menuntut tinggalkan perbuatan. Adapun sighatnya لاتفعل. Hakikat dari Nahyu untuk tahrim (mengharamkan), terkadang dimaksudkan untuk makna yang lain secara majaz :

1.Doa seperti ربنا لا تزغ قلوبنا

2. Irsyad (memberi petunjuk, seperti :لا تسألوا عن أشياء إن تبدو لكم تسؤكم

3. Taswiyah (menyamai), seperti :اصبروا او لا تصبروا

D. Tamanni

Termasuk pembahagian Insya' selanjutnya adalah Tamanni. Tamanni adalah menuntut hal yang dicintai yang diharapkan dan tidak terjadi kehasilannya, adakala karena Mustahil seper
ti dalam ayat :

يا ليتني كنت تربا
"Mudah-mudahanku itu tanah"

Adakala berpotensi mungkin akan tetapi tidak sanggup dicapainya seperti firman Allah SWT :

يا ليت لنا مثل ما أوتي قارون
"Mudah-mudahan kami, itu seperti yang didatangkan Qarun"

Adapun apabila urusan bagus yang diharapkan itu termasuk hal yang bisa diharapkan dinamakan Tarjiyyan, dan diredaksikan dengan ( عسى ) dan (لعل) seperti dalam Firman Allah SWT

لعل الله يحدث بعد ذلك امرا
“Mudahan Allah menjadikan sesudah itu Urusan”

عسى الله أن يأتي بالفتح
“Mudahan Allah mendatangkan kemenangan”

Ada beberapa kata yang menunjuki kepada Tamanni, Satu diantaranya asli yaitu ليت, dan tiga diantaranya merupakan gantian dan dijadikan Tamanni karena untuk balaghah (menjaga retorika bahasa), ketiganya yaitu : هل,.ولعل, هل Seperti dalam Ayat dibawah ini:

فهل لنا من شفعاء فيشفعوا لنا

فلو أن لنا كرة فنكون من المؤمنين

لعلي أعمل صالحا فيما تركت

-Qawaidul Asasiah Hal 23

Pakaian Yang Dicuci Menggunakan Air Musyammas

Deskripsi Masalah:

Dalam Fiqh telah ditentukan air yang bisa di gunakan untuk bersuci dan tidak, dalam Fiqh juga dijelasakan ada air yang hukumnya makruh apabila digunakan untuk badan dan tidak makruh apabila digunakan pada selain badan seperti mencuci pakaian dan sebagainya, itulah yang dinamakan air musyammas (air hasil panasan cahaya matahari)

Pertanyaan :

Bagaimanakah hukum memakai pakaian yang telah dicuci dengan air musyammas?

Jawaban :

Dalam permasalahan ini dapat dirincikan sebagai berikut:

1. Apabila pakaian tersebut dipakai dalam keadaan masih basah maka hukumnya makruh.
2. Apabila pakaian tersebut dipakai sesudah kering dan tidak lagi basah maka hukumnya boleh.

Adapun apabila pakaian yang telah kering tersebut basah kembali karena disebabkan oleh keringat yang hasil dari tubuh maka hukumnya tidak apa-apa( boleh ).

- Hasyiyah Al-Bajuri Juz 1 Hal 29 Cet, Haramain

ولو غسل ثوبه بالماء المشمس ثم لبسه فان كان ذلك حال رطوبته وحزارته كره والا فلا، ولاتعود الكراهة ان عرق فيه على المعتمد خلافا لما نقله المحشى عن القمولى وأقره

Kalimat تعالی Fi'il Atau Isim Fi'il ?

Deskripsi Masalah:

Mungkin masih ada diantara kita yang belum tahu ataupun masih ragu dalam memutuskan status kalimat تعالی. Pada kesempatan kali ini Lbm.mudimesra.com ingin berbagi sedikit ilmu tentang kalimat تعالی. Keraguan ini terjadi dikalangan pelajar disebabkan Kalimat تعالی ini ada yang mengatakan fi'il dan ada juga yang mengatakan isim fi'il.

Pertanyaan:

Pendapat manakah yang lebih relevan menurut konteks kitab Nahwu dan Sharaf ?

Jawaban:

Kalimat تعالی adalah fi'il, yakni fi'il madhi, bukan isim fi'il. Alasannya, kalimat تعالی menerima tanda fi'il madhi, yaitu ta fa'il yang berharkat atau dalam bahasa lain ta dhamir bariz muttashil. Adapun isim fi'il tidak menerima tanda fi'il, karena definisi daripada isim fi'il adalah:

اسم يقوم مقام الفعل فی المعنی والزمان والعمل ولکنه لا يَقبل علامةَ الفعل الذی يقوم مقامَه و لا يتأثر بالعوامل

Isim yang bertempat pada tempat fi'il, baik dari segi makna, zaman dan amalannya, namun tidak menerima tanda fi'il yang ditempatinya dan tidak berubah dengan masuk 'amil.

Didalam definisi diatas dijelaskan persamaan dan perbedaan antara fi'il dan isim fi'il. Persamaan keduanya ada 3, yaitu dari segi makna, zaman dan amal. Perbedaan keduanya ada dua, yaitu tidak menerima tanda fi'il dan tidak berubah bila dimasuki 'amil.
Dari definisi diatas dapat disimpulkan dua hal:

1. تعالی adalah fi'il, yakni fi'il madhi, karena kalimat تعالی menerima tanda fi'il madhi, yaitu ta fi'il yang berharkat. Contoh تبارکت ربنا و تعاليت Sebagaimana halnya نعم dan بئس merupakan fi'il madhi karena menerima tanda fi'il madhi, yaitu ta taknis. Contohnya : نِعمت

2. Pendapat yang mengatakan تعالی isim fi'il bukan fi'il dengan alasan berzaman sedangkan isim tidak, pendapat tersebut keliru. hal ini dikarenakan :

a. baik fi'il ataupun isim fi'il tetap memiliki zaman meskipun adanya zaman pada fi'il dan isim fi'il berbeda. Adanya zaman pada fi'il adalah secaraوَضعًا , sedangkan pada isim fi'il bukan secara وَضعًا

b. Bertashrif, yakni di atas wazan تَفَاعَلَ-يَتَفَاعَل.  Adapun isim fi'il tidak ada satu pun yang bertashrif. Bukti kalimat تعالی bertasrif (mempunyai tasrif) Qunut تبارکت ربنا و تعاليت Syarkawi 'ala Hud Hudi يتعالی الله Asmaul Husna المتعالی . Namun perlu di garis bawahi bahwa, meskipun kalimat تعالی adalah fi'il , bukan berarti تعالی yang dinisbatkan kepada Allah terjadi pada zaman madhi sedangkan pada zaman yang lain tidak, karena berdasarkan qaedah:

الفعل اذا أضيف الی الله تعالی تجرد عن الزمان و صار معناه الدوام

Fi'il bila disandarkan kepada Allah tidak lagi berzamanzaman sehingga maknanya menjadi kekal

Sumber rujukan :

- Referensi: Nahwu Al-Wafi Jilid 1 Hal 47
- Referensi: Kitab Kafrawi dan Nahwu Al-Wafi Jilid 1


Cincin Terukir lafadh Allah di bawa ke WC

Deskripsi Masalah:

Dunia persablonan, konveksi dan pengukiran yang semakin maju sehingga sangat mempermudah menyablon sesuatu sesuai dengan keinginan pemesan, Salah satunya yang sangat trending saat ini adalah pakaian, cincin yang bertuliskan lafadh Allah atau dzikrullah lainnya, dalam memakai baik pakaian atau cincin lumarah manusia tidak melepaskan kedua hal tersebut dengan alasan takut hilang dan lain sebagainya.

Pertanyaan :

Bagaiman hukum membawa baju atau cincin yang bertuliskan lafadh Allah ke kamar mandi?

Jawaban :

Hukumnya Makruh membawa apa saja yang bertulisan Allah / Dzikrurllah ke dalam kamar mandi atau WC, dan disunnahkan melepaskannya.

- Raudhatut Thalibin Wa Umdatul Muftin, Juz 1 Hal 66

ﻭﺍﺳﺘﺼﺤﺎﺏ ﻣﺎ ﻋﻠﻴﻪ ﺫﻛﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺨﻼﺀ ﻣﻜﺮﻭﻩ ﻻ ﺣﺮﺍﻡ



- Mughnil Muhtaj Syarh Minhaj Juz 1 Hal 155 Maktabah Syamilah

( ﻭﻻ ﻳﺤﻤﻞ ‏) ﻓﻲ ﺍﻟﺨﻼﺀ ‏( ﺫﻛﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ‏) ﺃﻱ ﻣﻜﺘﻮﺏ ﺫﻛﺮ ﻣﻦ ﻗﺮﺁﻥ ﺃﻭ ﻏﻴﺮﻩ ﺣﺘﻰ ﺣﻤﻞ ﻣﺎ ﻛﺘﺐ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﻓﻲ ﺩﺭﻫﻢ ﺃﻭ ﻧﺤﻮﻩ ﺗﻌﻈﻴﻤﺎ ﻟﻪ ﻭﺍﻗﺘﺪﺍﺀ ﺑﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﺈﻧﻪ ﻛﺎﻥ ﺇﺫﺍ ﺩﺧﻞ ﺍﻟﺨﻼﺀ ﻧﺰﻉ ﺧﺎﺗﻤﻪ ﻭﻛﺎﻥ ﻧﻘﺸﻪ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﺳﻄﺮ ﻣﺤﻤﺪ ﺳﻄﺮ ﻭ ﺭﺳﻮﻝ ﺳﻄﺮ ﻭ ﺍﻟﻠﻪ ﺳﻄﺮ ﺭﻭﺍﻩ ﺍﺑﻦ ﺣﺒﺎﻥ ﻓﻲ ﺻﺤﻴﺤﻪ ﻋﻦ ﺃﻧﺲ …
ﻭﺣﻤﻞ ﻣﺎ ﻋﻠﻴﻪ ﺫﻛﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺨﻼﺀ ﻣﻜﺮﻭﻩ ﻻ ﺣﺮﺍﻡ ﻭﻣﺜﻞ ﺫﻟﻚ ﺍﺳﻢ ﺭﺳﻮﻟﻪ ﻭﻛﻞ ﺍﺳﻢ ﻣﻌﻈﻢ ﻛﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻜﻔﺎﻳﺔ ﺗﺒﻌﺎ ﻟﻺﻣﺎﻡ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻤﺼﻨﻒ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﻨﻘﻴﺢ ﻭﻟﻌﻞ ﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺍﻷﺳﻤﺎﺀ ﺍﻟﻤﺨﺘﺼﺔ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻭﻧﺒﻴﻪ ﻣﺜﻼ ﺩﻭﻥ ﻣﺎ ﻻ ﻳﺨﺘﺺ ﻙ ﻋﺰﻳﺰ ﻭ ﻛﺮﻳﻢ ﻭ ﻣﺤﻤﺪ ﻭ ﺃﺣﻤﺪ ﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻣﺎ 
ﻳﺸﻌﺮ ﺑﺄﻥ ﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺍﻩ

- Fatawa Kubra Juz 1 Hal 35

(وسءل رضي الله هل يكره لداخل الخلاء حمل ما كتب عليه ذكر و هل يعم ما اذا قصد حمل الامتعة او لا كحمل المصحاف فى امتعة (فاجاب) بان الاوجاه الفرق بان المحدث انما منع من الحمل المخل باالتعظيم ولا

خلاف اذا كان المصحاف تابعا ومناط الكراهة هنا استصحاب ما عليه الذكر وادخال المكان الخسيس المقتضي لا متهاله والا خلال بتعظيمه وذلك حاصا وان لم يقصد.



Berhubungan Intim Dalam Masa Istri Menyusui

Deskripsi Masalah:

Hubungan biologis merupakan hal yang lumrah disalurkan oleh setiap insan yang telah melaksanakan berumah tangga, terkadang berhubungan badan ini terdapat larangan dari syara' yaitu disaat istri sedang menjalani mentruasi. Setelah melahirkan anak kebiasaan istri-istri mengeluarkan ASI untuk meningkatkan daya tahan tubuh sianak saat mengkonsumsinya, ada isu yang berkembang bahwa melakukan hubungan intim saat istri sedang menyusui memberi dampak akan buruknya kualitas ASI.

Pertanyaan:

1. Bagaimanakah hukum melakukan hubungan intim saat istri sedang menyusui?
2. Apakah benar isu yang mengatakan bahwa berhubungan intim saat istri sedang menyusui berdampak kepada buruknya kualitas ASI?

Jawaban:

1. Tidak ada larangan seorang suami melakukan hubungan intim dengan istrinya yang sedang hamil dan menyusui, karena hal tersebut tidak mengganggu kesehatan anak yang sedang menyusui.
2. Tidak benar, karena nabi pernah melihat bangsa Rum dan Farsi yang hamil sedangkan mereka  menyusui anaknya yang kecil, namun hal tersebut tidak memudharatkan anak yang sedang disusuinya


- Mughni Al-Muhtaj Juz 5 Hal 63 Cet, Syirkatul Quds 2012

ويسن أن لا يترك الجماع عند قدومه من سفره ولا يحرم وطء الحامل والمرضع

- Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah Juz 31 Hal 344

حكم الغيلة بالإرضاع أو الوطء
7 - كان العرب يكرهون وطء المرأة المرضع. وإرضاع المرأة الحامل ولدها، ويتقونه لأنهم كانوا يعتقدون أن ذلك يؤدي إلى فساد اللبن، فيصبح داء، فيفسد به جسم الصبي ويضعف، ولو كان هذا حقا لنهى عنه الرسول صلى الله عليه وسلم. قال صلى الله عليه وسلم: لقد هممت أن أنهى عن الغيلة، فنظرت في الروم وفارس، فإذا هم يغيلون أولادهم. فلا يضر أولادهم ذلك شيئا (2)

Berbagai Macam Penulisan Hamzah

Berikut ini adalah berbagai macam penulisan hamzah menurut yang tertera dalam kitab as-Salsal al-Madkhal karangan Syaikh Abu Hamid :

1. Apabila hamzah terletak pada permulaan kalimat,maka hamzah dituliskan dalam bentuk alif pada ketiga harkatnya Contohnya خ - أخت- أب

2. Apabila hamzah terletak pada pertengahan ,dan berbaris ,maka dituliskan sebagaimana yang dikehendaki harkatnya:

-Bila harkatnya fatah, maka dituliskan dalam bentuk Alif. Contohnya سال
-Bila harkatnya kasrah hamzahnya ditulis dalam bentuk Ya Contohnya سئم
-Bila harkatnya dhammah dituliskan dalam bentuk Waw. Contohnya لؤم

3. Apabila hamzah terletak pada pertengahan dan tidak berbaris,maka hamzah dituliskan sebagaimana yang dikhendaki harkat dibelakangnya.
-Bila harkat dibelakangnya fatah, hamzah ditulis dalam bentuk alif. Contohnya رأس
-Bila dibelakangnya kasrah, maka dalam bentuk ya. Contohnya ذئب
-Bila dibelakangnya dhammah,maka dalam bentuk Waw. Contohnya لؤم

4.Apabila hamzah terletak pada akhir kalimat dan harkat dibelakangnya berbaris maka dituliskan dalam bentuk yang sesuai dengan harkat sebelumnya.
-Bila harkat dibelakangnya fatah,hamzah ditulis dalam bentuk alif. Contohnya:قرأ
-Bila dibelakangnya kasrah, maka dalam bentuk Ya.Contohnya:فتئ
-Bila dibelakangnya dhammah, maka dalam bentuk Waw.Contohnya :طرؤ

5.Apabila hamzah terletak pada akhir kalimat,dan dibelakangnya sukun,maka tidak ditulis dalam bentuk apapun,karna ada harkatnya dan sukun sebelumnya.
Contohnya :خبء-دفء-برء

- Kitab as-Salsal al-Madkhal Hal 21 Cet, Haramain

Penjelasan Abi MUDI tendang tuduhan Nabi Pembunuh berdarah dingin :
https://www.youtube.com/watch?v=qTFHRfOoRJ0

Perempuan Yang Haram Dinikahi Menurut Islam

Berikut adalah klasifikasi perempuan yang tidak diperbolehkan menikahinya menurut yang tertera dalam kitab Hasyiah Syarqawi 'ala Tahrir karangan Syaikh al-‘Allamah ‘Abdullah bin Hijazi bin Ibrahim al-Syarqawi (1150-1226 H)

1. Lima orang Ibu, yaitu :

a. Ibu kandung
b. Ibu susu
c. Ibu istri
d. Ibu budak perempuan yang telah disetubuhi
e. Ibu perempuan yang diwatak secara syubhat

2. Lima anak perempuan, yaitu :

a. Anak kandung
b. Anak susu
c. Anak istri , apabila telah bersetubuh dengan ibunya
d. Anak budak perempuan yang telah disetubuhi
e. Ibu perempuan yang diwatak secara subhat

3. Enam perempuan yang disetubuhi, yaitu :

a. Perempuan yang disetubuhi oleh ayah dengan sebab nikah
b. Perempuan yang disetubuhi oleh ayah dengan sebab milik yamin(perbudakan)
c. Perempuan yang disetubuhi oleh ayah dengan sebab subhat
d. Perempuan yang disetubuhi oleh anak dengan sebab nikah
e. Perempuan yang disetubuhi oleh anak dengan sebab milik yamin(perbudakan)
f. Perempuan yang disetubuhi oleh anak dengan sebab subhat

4. Tiga orang saudari perempuan, yaitu :

a. Saudari kandung
b. Saudari sesusuan
c. Saudari perempuan istri (apabila dihimpunkan dalam masa yang sama)

5. Tiga khalah (bibi dari pihak ibu) yaitu :

a. Bibi sekandung
b. Bibi sesusuan
c. Bibi istri (apabila dihimpunkan dalam masa yang sama)

6. Tiga a’mmatun (bibi dari pihak bapak ), yaitu :

a. Bibi sekandung
b. Bibi sesusuan
c. Bibi istri (apabila dihimpunkan dalam masa yang sama)

7. Tiga anak perempuan dari saudara laki-laki, yaitu :

a. Anak perempuan saudara laki-laki sekandung
b. Anak perempuan saudara laki-laki sesusuan
c. Anak perempuan saudara laki-laki istri

8. Tiga anak perempuan dari saudari perempuan, yaitu :

a. Anak perempuan saudari perempuan sekandung
b. Anak perempuan saudari perempuan sesusuan
c. Anak perempuan saudari perempuan istri

Sedangkan yang lain dari yang telah tersebut diatas adalah mula’anatun, karena haram terhadap si laki-laki yang telah menuduhnya berzina menikahinya yang dipahamikan dari hadis nabi Muhammad SAW.

- Hasyiah Syarqawi 'ala Tahril Juz 2 Hal 216 Cet Haramain




Obat Hati

Di dalam kehidupan manusia hati mempunyai peranan yang sangat penting, karena baik buruknya semua yang dilakukan oleh seorang hamba sangat dipengaruhi oleh hati. Jika hati seseorang itu baik maka baik pula akhlaknya, begitu pula sebaliknya, sebagaiman sabda Rasulullah SAW“ Ketahuilah bahwa di dalam tubuh terdapat segumpal darah, apabila ia baik makan seluruh tubuh akan baik, dan apabila rusak maka seluruh tubuh akan rusak. Ketahuilah ia adalah hati ( H.R. Bukhari dan Muslim )
Oleh karena itu sudah selayaknya bagi kita untuk selalu menjaga hati agar tetap bersih dan sehat sebagaimana kita berupaya untuk menjaga kebersihan jasmani/ fisik kita, yaitu dengan mengetahui kemudian menghilangkan berbagai kotoran serta penyakit yang terdapat di dalam hati, agar hati selalu bersih dan baik berikut ada 5 tips sebagai penawar hati Menurut Sayyid Al-Jaliil Ibrahiim al-Khawwash dalam kitab Al Azdkar:

1. Membaca al-Quran dengan merenunginya
2. Mengosongkan perut dengan berpuasa
3. Bangun malam dengan beridah kepada Allah
4. Merendahkan diri pada Sang Pencipta Alam disepertiga malam
5. Bergaul dengan orang-orang shalih dan pilihan

- Al-Adzkar juz 1 Hal 107 Maktabah Syamilah

السيد الجليل صاحب الكرامات والمعارف، والمواهب واللطائف، إبراهيم
الخوَّاص رضي الله عنه: دواء القلب خمسة أشياء: قراءة القرآن بالتدبر، وخلاء البطن، وقيام الليل، والتضرّع عند السحر، ومجالسة الصالحين.



Perbedaan Antara تأمل ,فتأمل ,فليتأمل

Deskripsi:

Dalam mengaji kitab fikih, kita sering menemukan ibarat تأمل ,فتأمل ,فليتأمل apakah ada makna khusus tentang ibarat diatas atau hanya sebatas ibarat saja ?

Jawaban:

Imam Damamainni menyebutkan dalam kitab  مطلب الايقاظ antara tiga ibarat تأمل ,فتأمل ,فليتأمل, terdapat perbedaan, jika diibaratkan dengan تأمل, maka mengisyarah kepada jawaban yang diberikan adalah pendapat kuat, dan jika diibaratkan dengan فتأمل maka jawaban tersebut dhaif, sedangkan jika diibaratkan dengan فليتأمل  maka jawaban tersebut sangat dhaif

Referensi:

Kitab Mathlabul iaqadh Hal 48

Tentang Shalawat ?
Simak penjelasan Abiya MUDI :
https://www.youtube.com/watch?v=65dLTFJsI-E

Tashrif Isim Fael dan Isim Maf’ul

Deskipsi Masalah:

Dunia Tashrif merupakan hal awal yang harus diketahui bagi santri yang ingin membaca kitab gundul, berbicara tentang tashrif tashrif sepuluh merupakan pokok dasar yang harus diketahui, madhi, mudhari', masdar, isim fael, isim maful dan lainnya. Dalam Tashrif 10 ini kita melihat ada 2 kalimat yang berbeda saat pentasrifannya yaitu isim fael dan isim maful.

Pertanyaan:

Mengapa pada awal tasrif isem Fael di gunakan lafad (هو) sehingga di baca فهو فاعل, sedangkan pada tasrif isem maf’ul di gunakan lafal (ذاك) sehingga di baca وذاك مفعول?

Jawaban:

Hal ini ditambahkan dikarenakan fael ialah kalimat yang di marfu’kan, maka di pilih suatu lafad yang pemakaiannya marfu’ dari isim-isim yang mengisyarah bagi isem fael supaya di pahami waza’h fael. Sedangkan Maf’ul adalah kalimat yang di mansubkan,jadi di pilih lafal yang di mansubkan untuk isem maf’ul supaya di pahami waza’h maf’ul.

Mengapa tasrif isim fael ada 10 kalimat, sedangkan tasrif isim maf’ul ialah 7 kalimat?

Hal ini karena pemakaian pada kalam dan wujud isim fael lebih banyak ketimbang isim maf’ul, hal ini dikarenakan isem fael ada dari tashrif fiel muta’adi dan lazem, sedangkan isem maf’ul hanya dari fiel muta’adi saja kecuali dengan perantara huruf jar.

- Syarah Matlub, Hal 48 Cet Haramain
- Syarah Matlub Hal 42 Cet, Haramain

donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja