Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Menarik Kembali Pinjaman Lahan Kuburan

Deskripsi Masalah:

Dalam tatanan masyarakat, terkadang ada orang yang sangat miskin, sehingga tidak punya lahan untuk menguburkan keluarganya, namun ia memiliki tetangga yang baik dan dermawan yang mau meminjamkan tanahnya untuk dikuburkan jenazah yang meninggal, di kemudian hari, terjadi perselisihan antara mereka, yang menyebabkan tetangga tersebut menarik kembali pinjaman tanah kuburan yang ia pinjamkan tadi.

Pertanyaan:

Bolehkah kita ruju’ dari tanah yang kita pinjamkan untuk dikuburkan jenazah ?

jawaban:

Menurut Syeh Zainuddin Bin Muhammad Al Ghazali Al Malibari dalam karia ilmiahnya ” fathul mu’in” mengatakan: boleh ruju’ pada meminjamkan tanah untuk dikuburkan manyat sebelum manyat ditimbun tanah meskipun manyat sudah diletakkan ke dalam kubur.

Dan tidak boleh ruju’ jika manyat sudah ditimbun , sehingga baru boleh ruju’ jika manyat sudah busuk (hancur) .mengenai hal ini syeh sibran malalasi berpendapat: tertegah bagi kita untuk ruju’ dari pinjaman bagi manyat -manyat yang tidak busuk, seperti manyat Nabi dan orang syahid dan seseurupa dengan keduanya, seperti manyat orang alim , orang yang rajin membaca Al-Qura’an dan orang yang senantiasa azan karena Allah.

Referensi

Fathul mu’in Juz 1 Hal 133 cet. Haramain

(و) جاز (لكل) من المعير والمستعير (رجوع) في العارية، مطلقة كانت أو مؤقتة، حتى في الاعارة لدفن ميت قبل مواراته بالتراب، ولو بعد وضعه في القبر، لا بعد المواراة، حتى يبلى

Hasyiah ianatuttalibin Juz 1 Hal 133 cet. Haramain.

قوله: لا بعد المواراة أي ليس له الرجوع بعد المواراة، وقوله حتى يبلى، أي يندرس قال سم، قضيته امتناع الرجوع مطلقا فيمن لا يندرس، كالنبي، والشهيد.


Istiqamah Dan Baik Akhlak Adalah Jalan Menuju Surga [Tu H M.Yusuf Bin Abdul Wahab]


Cara Mengusap Dua Sepatu

Deskripsi Masalah:

Islam adalah agama yang memiliki karakter al-basathah yaitu mudah. Oleh karena itu, ajaran islam dan pembebanan-pembebanan yang diwajibkan kepada umatnya bisa dilaksanakan dalam kondisi apa pun. Salah satu di antara kemudahan-kemudahan itu adalah diperbolehkannya mengusap sepatu ketika berwudhu dalam kondisi-kondisi tertentu seperti dalam perjalanan.



Adapun syarat-syarat mengusap sepatu ialah:

• Ketika memakai sepatu tersebut, ia harus sudah dalam kondisi suci atau berwudhu terlebih dahulu
• Sepatu harus menutup bagian kaki yang wajib dibasuh, yaitu telapak sampai dengan mata kaki
• Sepatu harus terbuat dari bahan yang tebal
• Mengusap sepatu tidak diperbolehkan melebihi masa yang telah ditentukan. Yaitu untuk masa safar diberlakukan selama tiga hari tiga malam, sedangkan untuk muqim diberlakukan sehari semalam saja
• Tidak melepasnya sesudah diusap


Referensi:
Fathul Muin Juz 1 Hal 41 Maktabah Haramain.

و خامسها غسل رجليه بكل كعب من كل رجل، للآية.
أو مسح خفيهما بشروطه. ويجب غسل باطن ثقب وشق

Ianah Thalibin Hal 41 Juz 1.
وقوله: بشروطه أي المسح على الخفين، وهي لبسهما على طهارة كاملة، وأن يكون
 الخف طاهرا، وأن يكون قويا يمكن متابعة المشي عليه، وأن يكون ساترا لمحل ما يجب غسله.

Kewajiban Berbaik Sangka Terhadap Sahabat Rasul SAW [Abu Syaikh Hasanoel Basri HG]



Tanda-Tanda Tertutup Mata Hati

Syaik ibnu Atthahillah Assakandary di dalam kitabnya Al Hakim merumuskan :

من علامات موت القلب عدم الحزن على ما فات من الموافقات وترك الندم على ما فعلته من وجود الزلات

“ Diantara tanda matinya hati adalah tidak ada perasaan sedih bila terlewatkan kesempatan beralamal dan tidak ada penyesalan atas bermacam pelanggaran yang telah engkau kerjakan .”

Berdasarakan kalama hikmah tersebut dapat disimpulkan bahwa hati apabila hati masih hidup , maka akan merasa sedih dan gundah terhadap kesempatan beramal taat yang terlewatkan dan akan merasa menyesal terhadap pelanggaran-pelanggaran yang telah di kerjakan. Akan tetapi bila mana hati itu telah tertutup, maka mempunyai dua tanda : 

1. Tidak merasa gundah dengan kesempatan beramal yang sudah lewat.
2. Tidak merasa menyesal dengan pelanggaran ( maksiat) yang sudah dikerjakan.

Selanjutnya, Syaik Ibnu Atthaillah As-Shakandary RA telah merumuskan di dalam kalam hikmah beliau yang lain , sebagai berikut :

اجتهادك فيما ضمن لك وتقصرك فيما طلب منك دليل على انطماس البصيرة منك

“ Kegiatan ( Bersungguh-sungguh ) engkau pada menghasilkan sesuatu yang telah terjamin untuk engkau dan di samping itu , engkau meninggalkan sesuatu dimana engkau di tuntut ( pada mengerjakannya) adalah menunjukakan atas (telah) butanya mata hati engkau.”

Sebelum memaparkan keterangan dari kalam tersebut, maka terlebih dahulu kita harus ketahui beberapa perkataan yang tertera di dalamnya:

1. Perkatan " اجتهاد “ maksudnya ialah bersungguh sungguh tanpa kenal lelah dan letih, dimana seluruh kekuatan kita kerahkan untuk memperoleh sesuatu yang tertuju, jadi, tidak di maksudkan di sini seperti di dalam fiqh islam.

2. Perkataan “ تقصير “ maksudnya ialah meninggalkan sesuatu yang di maksud (dituntut) yang disebabkan oleh kelalaian dan kurang perhatian atas tidak mengerjakan sesuatu secara sempurna seperti yang di perintahkan.

3. Perkataan “ البصيرة “  di sini berbeda dengan perkataan  Syaik Athaillah As-Sakandari dalam definisinya sebagai berikut :

عين فى القلب تدرك الأمور المعنوية كما أن البصر يدرك اللأمور المحسوسة

البصيرة “ atau biasa disebut dengan mata hati ialah sesuatu yang disebut dengan mata di dalam hati yang dapat menanggkap segala sesuatu yang sifatnya maknawiyah ( sesuatu yang tidak bias di tanggakap oleh panca indra yang lima) sebagaimana bahwasanya “ البصر “ merupakan mata jasmani, yang dapat menangkap segala sesuatu yang bersifat hisi ( di tangakap oleh panca indra yang lima ).
Penjelasan kalam hikmah.

Kalam hikmah ini memberikan pengertian kepada kita agar kita jangan memperdulikan dalam mencari rezeki yang telah dijamin oleh Allah SWT. Kita boleh saja berusaha mencari rezeki, bahkan seterusnya mencari rezeki yang halal.

Bahkan dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda :

من بات كالا من طلب الحلال بات مغفورا له

“ Barang siapa tidur dalam keadaan letih dan lelah dalam mencari rezeki yang halal, maka ia tidur dalam keadaan diampuni dosa-dosanya.”

Namun dalam mencari rezeki, jangan sampai kita meninggalkan semua kewajiban yang telah Allah perintahkan , karena hal itu akan mengakibatkan kita akan tertutup mata hati, sebagaimana yang dimaksud dari kalam hikmah tersebut.

Padahal Allah SWT dengan karunia dan kebaikannya telah menjamin rezeki hambanya sebagaimana firman Allah dalam Alquran pada surat Al Angkabut ayat 60 :

و كأين من دابة لا تحمل رزقها الله يرزقها وإياكم وهو السميع العليم

“ Dan berapa banyak binatang yang tidak membawa rezeki sendiri, Allah yang member rezeki kepadanya dan kepada kamu, dan Ia maha mendengar dan maha mengetahui.”

Dan dalam ayat lain Allah berfirman :

وأمر أهلك بالصلاة واصطبر عليها لا نسألك رزقا نحن نرزقك والعاقبة للتقوى

“ Dan perintahkan pengikut ( keluarga ) untuk sembahyang dan tetap mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Hanya kami yang memberikan rezeki kepadamu, dan akibat (yang baik) adalah untuk orang yang memelihara diri dari kejahatan.

Dua ayat ini memberikan pengertian kepada kita bahwa dalam masalah rezeki, kita tidak boleh susah sebab, sudah ada dalam jaminan Allah, asal saja kita berusaha sesuai dengan ketentuan kita masing-masing.
Dan apabila masah rezeki sudah jelas persoalannya, maka imbalan dari pada itu ialah, Allah SWT menuntut kepada kita untuk melaksanakan amal ibadah berupa kewajiban-kewajiban dan mengerjakan amalan kebaikan-kebaikan seperti yang telah di gariskan oleh agama. 

Dengan amal ibadah kita dapat sampai kebaikan akhirat yang kekal dan dengan amal ibadah kita dapat dekat dengan Allah SWT.

Dan dalam ayat lain Allah berfirman:

مآ أريد منهم من رزق ومآ أريد أن يطعمون إن الله هو الرزاق ذو القوة المتين

“ Aku tidak menghendaki sedikitpun rezeki dari mereka dan aku tidak menghendaki mereka supaya mereka memberi aku makan, sungguh Allah dialah pemberi rezeki, yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.”

Dalam ayat tersebut jelas, bahwasanya Allah tidak membutuhkan rezeki dari makhluk ciptaannya, namun ia menciptakan makhluknya ( manusia dan jin ) hikmahnya yaitu untuk berbuat amalan kebaikan dan senantiasa menyembah kepadanya.
Namun alangkah sayangnya, zaman sekarang banyak kita melihat orang-orang lebih mementingkan usahanya dari pada hubungannya dengan Rabbnya sehinnga mereka meninggalkan kewajiban-kewajiban yang telah Allah perintahkan kepada mereka.
Mereka memiliki penglihatan, tetapi tidak mereka gunakan untuk membaca kalam Allah, mereka memiliki pendengaran, namun mereka malah mempergunakan untuk mendengar music, mereka memiliki mulut yang bias mereka gunakan untuk berbicara namun mereka sangat jauh dari zikir Allah dan Istighfar kepadanya.Inilah orang-orang yang termasuk kedalam golongan Ghafilun ( Orang-orang yang lalai dari mengingat Allah).

ايك يا اخوانى “ ( Takutlah wahai saudaraku ) terhadap kelelaian yang seperti itu, karena akan menjadiakan kita jauh dari keridhaan Allah dan dekat dengan kemurkaan Allah SWT. Namun “ عليك بالتوبة “ Lazimkan lah wahai saudaraku, dengan bertaubat dan meminta ampun kepadanya, karena dengan itu kita akan mendapatkan kebahagian yang hakiki, kebahagiaan yang di idam-idamkan oleh semua orang yang beriman, surga jannatunn naim.

آمين يا رب العالمين

SYEKH NURUDDIN : HUBUNGAN ANTARA SYARIAT, MAKRIFAT DAN HAKIKAT 1



Takbir Intiqalat Si Masbuq Sesudah Salam Imam

Deskripsi masalah:

Masbuq merupakan orang yang terlambat dalam sholat beserta imam, kita sudah cukup mengerti pula yang namanya masbuk harus mentadarruk (menambahkan) rakaat tergantung pada rakaat ke berapa dia mengikuti imam, namun kadang sebagian kita ada yang kurang mengerti dalam hal takbir intiqalat dalam rangka menambahkan rakaat yang belum kita kerjakan sesudah salam dari imam.

Pertanyaan:

Apakah setiap si masbuk harus melafadkan takbir intiqalat itu atau tidak ?

Jawaban:

Dalam hal ini ulama fiqh berbeda pendapat namun menurut pendapat yang kuat terdapat rinciannya,jika duduknya seseorang juga merupakan duduknya dalam keadaan sholat munfaridan (sendiri) seperti halnya mendapatkan si imam pada rakaat yang ke dua pada sholat magrib otomatis tahiyatu awal si makmum terdapat pada tahiyatul akhirnya imam maka yang demikian dianjurkan untuk takbir intiqalat sebaliknya apabila duduknya si masbuq bukan pada posisi duduk jika shalat secara terasing maka tidak ada anjuran takbir.

Referensi : Minhajuttalibin juz 1 hal 293 cet Darul fikri

(وَإِذَا سَلَّمَ الْإِمَامُ قَامَ الْمَسْبُوقُ مُكَبِّرًا إنْ كَانَ) جُلُوسُهُ مَعَ الْإِمَامِ (مَوْضِعَ جُلُوسِهِ) لَوْ كَانَ مُنْفَرِدًا بِأَنْ أَدْرَكَهُ فِي ثَانِيَةِ الْمَغْرِبِ أَوْ ثَالِثَةِ الرُّبَاعِيَّةِ. (وَإِلَّا) أَيْ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ جُلُوسُهُ مَعَ الْإِمَامِ مَوْضِعَ جُلُوسِهِ لَوْ كَانَ مُنْفَرِدًا، كَأَنْ أَدْرَكَهُ فِي ثَانِيَةِ الرُّبَاعِيَّةِ أَوْ ثَالِثَةِ الْمَغْرِبِ. (فَلَا) يُكَبِّرُ عِنْدَ قِيَامِهِ (فِي الْأَصَحِّ) وَالثَّانِي يُكَبِّرُ لِئَلَّا يَخْلُوَ الِانْتِقَالُ عَنْ ذِكْرٍ، وَالسُّنَّةُ لِلْمَسْبُوقِ أَنْ يَقُومَ عَقِبَ تَسْلِيمَتَيْ الْإِمَامِ، وَيَجُوزُ أَنْ يَقُومَ عَقِبَ الْأُولَى فَلَوْ مَكَثَ بَعْدَهُمَا فِي مَوْضِعِ جُلُوسِهِ لَمْ يَضُرَّ، أَوْ فِي غَيْرِهِ بَطَلَتْ صَلَاتُهُ.

Setelah Ber-amal, Sudahkan Engkau Muhasahab ?

Artikel ini kami tulis karena merenungi tetesan tinta Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin sebagai wejangan untuk umat Islam. Diantara untaian hikmah, beliau menerangkan bagi kita makna dari dari kehidupan dunia yang fana ini dan seterusnya kita beramal bukan hanya karena sekedar melepaskan diri dari suatu kewajiban akan tetapi amalan yang sempurna adalah yang bisa memperhambakan diri manusia bagi Allah SWT sang maha pencipta.
Muhasabah setelah beramal atau mengerjakan perintah Allah adalah sesuatu yang sangat urgen bagi penempuh jalan akhirat sedangkan makna muhasabah sendiri ialah mengira hasil dari suatu pekerjaan baik perbuatan dunia maupun akhirat. Para pedagang, penjahit, pelaut mengira untung-rugi pada setiap sore hari mereka, namun penempuh jalan akhirat mempunyai titipan berat dalam masalah ini, artinya manusia ini bukan hanya memperbanyak amalan akan tetapi harus juga menilai bagaimana kualitas amal bagi menempuh jalan akhirat kelak.

Imam Al Ghazali berkata :

اعلم ان العبد كما يكون له وقت في اوله النهار يشارط فيه نفسه على سبيل التوصية بالحق فينبعي ان يكون له في اخر النهار ساعة يطالب فيها النفس ويحاسبها على جميع حركاتها وسكناتها كما يفعل التجار في الدنيا مع الشركاء في اخر كل سنة او شهر او يوم حرصا منهم على الدنيا وحوفا من ان يفوتهم منها

Ketahuilah ! sesungguhnya manusia semestinya meninggalkan catatan wasiat pada setiap harinya maka kewajiban juga melalukan pengiraan terhadap sertiap gerak-gerik mereka, tidak bedanya dengan dengan pedangang yang mengira untung-rugi pada tiap tahun,bulan bahkan setiap hari.

ومعني المحاسبة مع الشريك ان ينظر في رأس المال وفي الربح والخسران ليتبين له الزيادة من النقصان فأن كان من فضل حاصل استوفاه وشكره وان كان من خسران طالبه بضمانه وكفله تداركه في المستقبل فكذالك رأس مال العبد في دينه الفرائض وربحه النوافل والفضائل وخسرانه المعاصي وموسم

Makna muhasabah para pedangan bersama dengan teman syarikatnya baik modalnya dan untung –rugi supaya mereka mengetahui hasil yang didapatkan, jika mendapat keuntungan supaya biasa meraih lebih dari itu namun jika rugi supaya bisa menempel kerugian tersebut. Seperti itu juga para hamba sebagai pemodal negeri akhirat, berkewajiban juga untuk melalukan perkiraan baik dan buruk karena jika baik maka kewajiban bersyukur karena karunia-NYA tetapi jika kurang baik maka segera dalam bertaubat.

ينبغي ان يحاسب نفسه على الانفاس وعلى معصية بالقلب والجوارح في كل ساعة ولو رمى العبد بكل معصية حجرا في داره لامتلأت داره في مدة يسيرة قريبة من عمره ولكنه يتساهل في حفظ المعاص والمعاصى والملكان يحفظان عليه ذالك (احصاه الله ونسوه)

Kewajiban bagi setiap jiwa melakukana pehitungan tentang kejahatan yang pernah dilakukannya pada tiap-tiap saat. “jika seseorang melemparkan batu kerumahnya karena menghitung maksiat yang pernah ia kerjakan maka sungguh dalam waktu singkat batu akan memenuhi rumahnya karena banyak dan sering manusia ini dalam berbuat maksiat’’ 

Pada Akhirnya Imam Al Ghazali RMH berkomentar: ‘’Allah ta’ala serta para malaikat tidak pernah lupa menghitung perbuatan manusia walaupun manusia selalu lupa apa yang pernah ia kerjakan’’
Maka dengan nasehat dan untaian hikmah Imam Al Ghazali dalam Ihya Ulumiddin semoga Allah memberikan kita taufiq dan hidayah dalam melalukan jalan akhirat sehingga kita bukan hanya melalukan ibadah tetapi berkewajiban juga melakukan perhitungan amalan yang pernah kita lalukan, jika baik maka segoyogianya bersyukur namun jika kurang baik supaya bisa diperbaiki pada hari-hari selanjutnya Amin.

Referensi : Kitab Ihya Ulumiddin Juz 4 hal.557-558 (Cet.Darul Misri)
Bab Muhasabah Ba’da Amal

saksikan penjelasan penjelasannya di saluran kami: cara taubat dari harta haram

Membalikkan Telapak Tangan Ketika Qunut

Salah satu amaliah masyarakat ahlussunnah wal jamaah di indonesia adalah berdoa, berdoa dirasa seperti perbuatan wajib disaat mengakhiri dan menutup setiap kegiatan, baik ketika mangakhiri majlis pengajian, shalawat, zikir, kenduri atau setelah shalat berjama'ah. Tentu amaliah yang dilakukan secara berjama'ah ini punya beberapa kegiatan yang belakangan dianggab mengada ngada. Salah satunya adalah membalikkan telapak tangan saat berdoa untuk dijauhkannya bala, dan ini sudah dilakukan oleh masyarakat indonesia sejak lama. Namun hikmah apa yang didapatkan dari membalikkan telapak tangan saat berdoa agar dijauhkannya bala?

Syaikh ibnu hajar dan syaikh Ramli, dua ulama besar yang sering dijadikan rujukan utama didalam mazhab Syafi'iyah, berpendapat "setiap orang yang berdoa, baik disaat qunut ataupun doa yang lain, jika sedang berdoa agar dijauhkan dari bala, dianjurkan untuk menghadapkan zahir (punggung) telapak tangannya ke arah langit (membalikkan telapak tangan) sekalipun doa tersebut berbentuk thalab (tuntutan) seperti

اللهم اسقنا غيثاًمغيثاً ...........الخ

Karena maksud dengan doa agar dijauhkannya bala adalah setiap doa yang punya maksud agar tidak diberikan bala oleh Allah SWT."

Rasulullah Besabda:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَسْقَى، فَأَشَارَ بِظَهْرِ كَفَّيْهِ إِلَى السَّمَاءِ

“Bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memohon hujan,lalu beliau berisyarah dengan kedua punggung tangannya mengahadap ke arah langit.”(Shahih Muslim, no.895)

Selain itu, membalikkan telapak tangan ini dilakukan juga karena ittiba' (mengikuti perbuatan) Nabi, juga karena bertujuan sebagai isyarah agar dijauhkan dari bala sebagaimana kebalikan dari tujuan menghadapkan batin telapak tangan kearah langit sebagai istyarah menerima setiap pemberian Allah dari setiap doa yang dipanjatkan oleh orang mukmin. Ini juga sebagai simbol permohonan agar keadaan buruk yang sedang menimpa lekas berubah atau agar tidak terjadi bala' pada dirinya.

Fathul Bari Li Ibnu Hajar, Juz : 2 Hal : 158

قال العلماء السنة في كل دعاءلرفع البلاء أن يرفع يديه جاعلا ظهور كفيه إلى السماء وإذا دعا بسؤال شيء وتحصيله أن يجعل كفيه إلى السماء انتهى وقال غيره الحكمة في الإشارة بظهور الكفين في الاستسقاء دون غيره للتفاؤل بتقلب الحال ظهرا لبطن كما قيل في تحويل الرداء أو هو إشارة إلى صفة المسئول وهو نزول السحاب إلى الأرض

(مسألة: ك): نقل الخطيب عن فتاوي الرملي أنه لا يسنّقلب الكفين في دعاء القنوت عند قوله: وقنا شر ما قضيت،إذ الحركة في الصلاة غير مطلوبة بل يكره،وجزم الشوبري و ح ل بندبه قالا: لأن محل كراهة الحركة فيما لم يرد،والمفهوم من ظاهر كلام ابن حجر وصريح كلام (م ر): أن كل داع في قنوت الصلاة أو في غيرها إن دعا برفع ما نزل به من بلاء جعل ظهر كفيه إلى السماء من أول القنوت إلى آخره،أي قنوت كان وإن كان بصيغة الطلب،كاللهم اسقنا غيثاًمغيثاًالخ،لأن المراد بقولهم برفع بلاء أي إذا كان المقصود منه رفع البلاء،ويؤيده التصريح بندب رفع اليدين في حال الثناء مع أنه لا دعاء فيه.
بغية المسترشدين
و في رفع ظهر اليدين الى السماء في الدعاء للإتباع رواه مسلم وحكمته أن القصد رفع البلاء بخلاف القاصد حصول شيئ يجعل بطن يديه الى السماء.
الشرقاوي ١/ ٢٩١
Tonton juga berbagai penjelasan Abu Mudi di saluran Youtube kami Lajnah Pengembangan Dakwah MUDI Mesra Samalanga

Haji, Umrah, Zakat Dan Sedakah Dengan Harta Haram

Sebahagian orang mengelola harta haram atau syubhat dengan jumlah besar sehingga dia jadi miliander. Tidak ada kendala kemana dia bepergian. Yang menjadi persoalan. Apakah diwajibkan haji kepadanya. Apabila dikerjakan apakah hajinya sah dan jatuh kepada haji islam? apabila bersedekah dan menunaikan zakat dengan harta itu diberi pahala?

Jawab:

konsekwensi harta haram wajib dikembalikan ke pemilik, selama harta itu masih ada padanya maka setiap waktu yang dia lewati dalam keadaan berdosa. Ibadah haji, zakat harta, zakat badan tidak dituntut kepada pemegang harta haram kecuali dia itu mempunyai harta halal. Karena dia itu dikira fakir

Sedangkan harta dari syubhat, bila dimaksud syubhat dari haram seperti kata orang alim: “itu halal” dan kata orang alim yang lain: “haram.” Jika mentaqlid pendapat haram maka hukumnya jelas haram. Dan jika mentaqlid pendapat halal maka berlaku hukum-hukum syar’i seperti wajib haji, zakat dan lain-lain. karena harta itu mamluk (kepuyaannya). Jika ia orang yang war’a lebih baik meninggalkannya. 

Jika maksud dengan syubhat yaitu tidak dipastikan halalnya seperti mengambil dari orang yang mayoritas hartanya haram seperti dari penjual arak. Maka boleh mengambil, komsumsi dan bermuamalah dan juga berlaku hukum-hukum syar’i seperti wajib zakat, haji, umrah, fitrah dan lain sebagainya.

orang berhaji,umrah, dan mengeluarkan fitrah dari harta haram atau syubhat maka haji dan umrahnya sah dan jatuh ke haji islam karena haji tidak terkait dengan harta sama sekali. Haji hanya terikat dengan badan dan amal-amal karena ihram,tawaf, sa’i, wukuf di arafah, lempar jamarah,cukur dan semua perkataan-perkataan dalam haji itu sunat. Adapun bersedekah dengan harta haram, tidak dibolehkan karena harta itu wajib dikembalikan kepada pemiliknya bahkan kalau beriktikad diberi pahala bersedekah dengan harta haram berarti dia telah kufur. 

(سئل) في رجل عنده مال حرام، أو من شبهة، فهل يجب عليه الحج، وإذا حج منه، هل يصح حجه ويسقط عنه فرض الإسلام، وهل إذا تصدق منه يثاب، وهل تجب فيه الزكاة؟أجاب اعلم وفقك الله تعالى أن المال الحرام يجب رده على مالكه وكل ما مر عليه زمن يكون آثما ببقائه عنده، فلا يطالب من عنده المال الحرام لا بحج، ولا غيره، ولا زكاة مال، ولا زكاة بدن؛ لأنه فقير حيث لم يكن عنده غيره، وأما المال الذي من شبهة، فإن كان المراد به شبهة الحرام، كأن قال بحله عالم، وبحرمته آخر، فإن قلد القائل بالحرمة، فقد علم حكمه، وإن قلد القائل بالحل جرت فيه سائر الأحكام كوجوب الحج والزكاة، وغير ذلك؛ لأنه مال مملوك وإن كان الورع تركه، وإن كان المراد بالشبهة بحيث لا يقطع بحله، كأخذ من مال ممن أكثر ماله حرام، ومال من يبيع الخمر، ومن يتعاطى الحرام، فهذا الورع تركه، ولكن يجوز أخذه، وأكله، والتعامل مع مالكه، وتجري فيه الأحكام الشرعية من وجوب الزكاة فيه، والحج والعمرة والفطرة وغير ذلك، ومع ذلك من حج من مال حرام، أو شبهة صح حجه وعمرته ووقع عن فرض الإسلام؛ لأن الحج لا تعلق له بالمال أصلا، وإنما تعلقه بالبدن والأعمال؛ لأن الإحرام والطواف والسعي، والوقوف بعرفة، ورمي الجمار، والحلق والتقصير، وجميع الأقوال التي في الحج سنة، نعم لو وجب عليه دم من دماء الحج واشترى دما بعين المال الحرام لم يجزه، وبقي الدم في ذمته، فإن اشتراه في ذمته، ثم دفع المال الحرام لم تبرأ ذمته، ولكن الدم يجزيه عن الدم الواجب، ولا شك أن المال الحرام لا يجوز التصدق به؛ لأنه يجب رده على مالكه، بل نقل بعض العلماء أنه لو اعتقد أنه يثاب بالمال الحرام، وتصدق به أنه يكفر، نعم قد يقال: فيه نوع سرور بدخوله على المتصدق عليه، ولكن هذا لا يقاوم إثم ترك الواجب، ولا تجب فيه زكاة، ولا تستحب؛ لما علم من وجوب رده على مالكه؛ لأن الزكاة تتعلق ببعض المال، ويصح ستر العورة به في الصلاة، وتصح الصلاة وإن كان لابسه آثما بلبسه؛ لأن أفعال الصلاة، وأقوالها خارجة عن اللباس. نعم الإمام أحمد رضي الله عنه لا تصح العبادة عنده بالحرام لشدة ورعه، والله أعلم

Referensi: Muhammad bin Muhammad, Fatawa al-khalili ‘ala mazhab syafi’i, Juz.I, Cet, Taba’ah Misriyah, hal 115

Saksikanlah saluran Youtube kami oleh Guru kita Abu Mudi:
Banyak Manusia Mencari Yang Haram


Pembagian Mustahiq Zakat


Deskripsi masalah :
Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan dalam Kitab-Nya yang mulia tentang kelompok orang-orang yang berhak menerima zakat : 

إِنَّمَا الصَّدَقٰتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالمَسٰكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Artinya: “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS At-Taubah : 60)

Pertanyaan : 

Bagimanakah pengertian masing-masing senif tersebut…?

Jawab :

Pengertian fakir dan miskin dalam konteks zakat 

1. Fakir adalah orang yang tidak memiliki harta atau pekerjaan yang tidak mencukupi kebutuhan pokoknya (sandang, pangan dan kebutuhan lain dalam keluarga ) seperti orang yang kebutuhanya 10 namun pemasukannya hanya dua atau tiga. Tergolong dalam fakir orang yang memiliki harta namun harta tersebut tidak bersamanya dan berada ditempat yang jauh ( 2 marhalah / batas yang membolehkan kashar shalat) maka orang yang macam ini berhak mengambil zakat kadar sampai harta tersebut bersamanya. Termasuk orang fakir orang yang memiliki usaha namun usaha tersebut tidak layak baginya sehingga ia meninggalkannya, dan orang yang lagi menuntuntut ilmu agama sehingga ia tidak bisa bekerja. Adapun orang yang melakukan amal sunnah sehingga tidak bisa bekerja bukan sebagian dari fakir maka tidak berhak mengambil zakat, begitu juga orang mencukupi dengan nafakah dari keluarganya atau karabatnya maka tergolong kedalam fakir.

2. Miskin adalah orang yang memiliki harta atau pekerjaan namun tidak mencukupi kebutuhan pokonya seperti kebutuhan sepuluh namun hanya memiliki delapan, maka dengan 8 tersebut tidak mecukupi kebutuhan yang layak keluarganya. Perlu diketahui bahwa orang yang tidak bekerja karna malas, padahal jika mau bekerja dia akan bisa mecukupi kebutuhannya maka orang tersebut tidak berhak menerima zakat karna tidak tergolong dalam miskin.

3. Al amil (Pengurus zakat) adalah orang yang diberi tugas oleh petua kampung atau kepala daerah untuk mengurus persoalan zakat seperti mengumpulkan dan membagikannya kepada mustahiqqin.

4. Muaalaf dalah orang kafir yang baru masuk islam dan imannya masih lemah atau dia sudah memiliki iman yang kuat dalam islam namun ia mempunyai pengaruh di kalangan masyarakatnya sehingga dengan diberikan zakat kepadanya ada harapan menarik simpati masyarakatnya yang lain untuk masuk Islam. Tergolong dalam muallaf Orang Islam yang melindungi kaum muslimin dari gangguan dan keburukan orang-orang kafir atau Orang Islam yang membela kepentingan kaum muslimin dari kaum muslim yang lain yang dari golongan anti zakat atau pemberontak dan orang-orang non Islam maka orang2 tersebut berhak menerima zakat dengan syarat islam.

5. Ar-riqab adalah budak yang dijanjikan merdeka oleh tuannya apabila sudah melunasi sebagian jumlah tebusan yang ditentukan dengan cara angsuran. Tujuan diberikan zakat untuk membantu melunasi tanggungannya terhadap tuanya.

6. Al gharim (Orang berhutang) adalah orang-orang yang mempunyai beban hutang kepada orang lain. Hutang tersebut ada kalanya ia pergunakan untuk kepentingan dirinya yang bukan pada maksiat dan ia belum mampu membayar sedangkan temponya sudah sampai. atau untuk mendamaikan dua kelompok yang bertikai, tergolong dalam gharim juga Orang yang berhutang untuk kemaslahatan umum, seperti berhutang untuk membangun masjid, sekolah, jembatan dan lain-lain atau berhutang untuk membayar hutang orang lain. 

7. Sabilillah adalah orang-orang yang berperang di jalan Allah dan tidak mendapatkan gaji. Sabilillah berhak menerima zakat untuk semua kepentingan perang, tunjangan nafkah keluarganya yang diambilkan dari zakat muali ia berangkat sampai kembali pulang. yang berhak memberikan zakat untuk sabilillah adalah imam (penguasa) bukan pemilik zakat. 

8. Ibnu Sabil adalah musafir yang akan bepergian atau yang sedang melewati tempat adanya harta zakat dan membutuhkan biaya perjalanan dan perjalanan yang ia lakukan bukan perjalanan pada maksiat.


Refeensi : 

1. iaanatuttalibin hal 190-194, cet haramain.
2. tuhfatul muhtaj hal 190-203, cet daarul ihya.
3. Kanzul gharibin (Mahalli) hal 196-199, cet haramain.

Saksikan saluran youtube kami tentang zakat:
  1. zakat jasa / gaji tidak wajib 
  2. zakat fitrah menurut imam syafi'i dan imam hanafi
  3. tentang zakat hasil tambak


Cara Makan Yang Baik

Semua orang mengkomsumsi makanan dari anak-anak, remaja sampai orang tua. Makanan sesuatu yang tak dapat dipisahkan terutama makanan pokok untuk bisa bertahan hidup. Di dalam Islam ada regulasi (aturan) makan yang dianjurkah, nah yang menjadi pertanyaan apakah shahih dari nabi Muhammad SAW di ketika makan, beliau memerintah memperkecil suapan dan memperhalus kuyahan atau disunatkan cara demikian?

Jawab:

Tidak sahih dari nabi SAW. Cara seperti itu disunatkan bila dapat bersahabat dengan orang-orang yang duduk bersamanya dan kasad demikian untuk mengajari adab kepada mereka atau jumlah makanan sedikit dan dia dalam kondisi lemah atau dalam keadaan kenyang dan mengetahui bila dia mengangkat tangan maka orang lain yang ingin m
akan juga mengangkatnya atau ada maksud-maksud baik yang lain.

مسألة: هل صح أن النبي صلى الله عليه وآله وسلم أمر بتصغير اللقمة في الأكل، وتدقيق المضغ، أو يُستحب ذلك؟. الجواب: لم يصحَّ في ذلك شيءٌ، وهو مستحب إِذا كان فيه رفق بجلسائه وقصد بذلك تعليمَهم الأدبَ، أو كان في الطعام قلةٌ وكان ضعيفًا، أو كان شبعان وعرف أنه إِذا رفع يده يرفع غيره ممن له حاجة في الأكل، أو نحوَ ذلك من المقاصد الصالحة

Referensi: Fatawa an-Nawawi, Cet, Darul Basyair, hal.104

Simak juga saluran Youtube kami dengan tema Pancasila Bertentangan Dengan Tasawuf ? [Tu H M.Yusuf Bin Abdul Wahab]

Cabang Pohon Yang Menjulur Ke Kebun Orang Lain

Deskripsi Masalah :

Sering kita lihat pohon dalam kebun orang lain cabangnya masuk kedalam kebun kita, kadang permasalahan ini mengakibatkan kesenjangan antara pemilik kebun, maka beranjak dari itu kami akan sedikit memberikan pandangan fiqih dalam masalah seperti diatas.

Pertanyaan :

Bagaimana hukum cabang kayu yang condrong ke kebun orang lain ?

Jawaban :


1. Boleh kita suruh kepada pemilik pohon untuk menggeserkan cabang yang condong itu dari kebun kita.

2. Jika dia tidak mau maka kita geserkan sendiri.

3. Jika tidak bisa kita geserkan maka boleh kita memotongnya.

Bughyatul Mustarsyidin:

و لو انتشرت اغصان شجرة او عروقها الى هواء ملك الجار اجبر صاحبها على تحويلها فان لم يفعل فللجار تحويلها ثم قطعها ولو بلا اذن حاكم كما فى التحفة و ان كانت قديمة بل لو كانت لهما مع الارض ................الى ان قال : و ان منعت الضوء عن الجار

Tuhfah Juz 5 Hal 222 Cet Maktabah Tijariyah

وَلَوْ خَرَجَتْ أَغْصَانُ أَوْ عُرُوقُ شَجَرَتِهِ أَوْ مَالَ جِدَارُهُ إلَى هَوَاءٍ مُشْتَرَكٍ بَيْنَهُ وَبَيْنَ جَارِهِ أَوْ مَا يَسْتَحِقُّ جَارُهُ مَنْفَعَتَهُ بِنَاءً عَلَى أَنَّهُ يُخَاصِمُ وَسَيَأْتِي مَا فِيهِ فِي الْإِجَارَةِ وَإِنْ رَضِيَ مَالِكُ الْعَيْنِ أَجْبَرَهُ عَلَى تَحْوِيلِهَا عَنْهُ فَإِنْ امْتَنَعَ وَلَمْ يُمْكِنْ تَحْوِيلُهَا فَلَهُ قَطْعُهَا وَهَدْمُهُ وَلَوْ بِلَا إذْنِ حَاكِمٍ خِلَافًا لِابْنِ الرِّفْعَةِ وَلَوْ أَوْقَدَ تَحْتَهَا نَارًا فَاحْتَرَقَتْ لَمْ يَضْمَنْهَا عَلَى مَا قَالَهُ الْبَغَوِيّ وَيَتَعَيَّنُ حَمْلُهُ عَلَى مَا إذَا لَمْ يُقَصِّرْ كَأَنْ عَرَضَتْ رِيحٌ أَوْصَلَتْهَا إلَيْهَا وَلَمْ يُمْكِنْهُ طَفْؤُهَا.

Mughni Juz 3 Hal 186 Cet Dar Kutub

: لِلشَّخْصِ تَحْوِيلُ أَغْصَانِ شَجَرَةٍ لِغَيْرِهِ مَالَتْ إلَى هَوَاءِ مِلْكِهِ الْخَالِصِ أَوْ الْمُشْتَرَكِ امْتَنَعَ مَالِكُهَا مِنْ تَحْوِيلِهَا، وَلَهُ قَطْعُهَا وَلَوْ بِلَا إذْنِ قَاضٍ إنْ لَمْ يُمْكِنْ تَحْوِيلُهَا، وَلَا يَصِحُّ الصُّلْحُ عَلَى بَقَاءِ
Kunjungi juga video masalah wanita berhaidh yang menetap dalam mesjid di https://www.youtube.com/watch?v=3qm8maH9puc&t=8s

donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja