Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Bolehkah Qurban Lembu Yang Dinazarkan Untuk Tujuh Orang ?

Deskripsi masalah:

Bulan Dzulhijjah yang tinggal beberapa hari membuat banyak orang dermawan ingin berbagi kebahagiaan dengan orang-orang yang hidup pas-pasan melalui qurban yang merupakan ibadah sunat dalam mazhab Syafi’I, seekor lembu atau bahkan lebih satu yang memadai 7 orang dalam setahun bukanlah sebuah beban bagi mereka, mengingat hartanya tidak akan berkurang hanya dengan seekor lembu saja. Namun, tak selamanya qurban itu bersifat sunat karena bila seseorang telah bernazar atau menjadikan seekor hewan sebagai hewan qurban maka hukumnya wajib untuk disembelih. Hal seperti inilah yang dialami pak Hakim, namun setelah bernazar untuk qurban seekor lembu diapun teringat akan keluarganya yang berjumlah 6 orang untuk diikutsertakan dalam berqurban dengan lembu nazar tersebut mengingat seekor lembu cukup untuk 7 orang.

Pertanyaan:

Bagaimanakah status hewan qurban wajib karena nazar berupa seekor lembu, apakah boleh diikursertakan 6 orang lagi untuk menyempurnakan bilangan 7 orang, karena seekor lembu memadai 7 orang?

Jawaban:

Tidak boleh mengikutsertakan orang lain dalam satu hewan qurban berupa lembu yang telah dinazarkan karena hewan tersebut bukan lagi miliknya dan sudah berpindah menjadi milik orang miskin.


Referensi:

Asnal Mathalib 3 : 342 cet. Darul Kutub Ilmiyyah

(فصل) لو (قال جعلت هذه) البدنة أو الشاة (أضحية أو هديا) أو هذه ضحية أو هدي (أو علي أن أضحي بها أو أهديها أو) علي أن (أتصدق بهذا المال أو الدراهم تعين) ذلك (ولو لم يقل لله وزال ملكه عنها، وإن نذر عتق عبد بعينه تعين عتقه لكن لا يزول ملكه) عنه (إلا بعتقه) ؛ لأن الملك فيه لا ينتقل بل ينفك عن الملك بالكلية وفيما ذكر ينتقل إلى المساكين كما مر في باب الهدي، ولهذا لو أتلف وجب تحصيل بدله كما سيأتي بخلاف العبد؛ لأنه المستحق للعتق وقد تلف ومستحقو ما ذكر باقون

Nihayatul Muhtaj 8 : 137 cet. Darl fikr, Beirut:

(ومن) (نذر) واحدة من النعم مملوكة له (معينة) وإن امتنعت التضحية بها كالمعيبة والفصيل لا نحو ظبية وإنما ألحقت بالأضحية في تعين زمنها دون الصدقة المنذورة لقوة شبهها بالأضحية لا سيما وإراقة الدم في زمنها أكمل فلا يرد أنها مشبهة بالأضحية وليست بأضحية (فقال لله علي) وكذا علي وإن لم يقل لله كما يعلم من كلامه في باب النذر (أن أضحي بهذه) أو هي أو هذه أضحية أو هدي أو جعلتها أضحية زال ملكه عنها بمجرد تعيينها كما لو نذر التصدق بمال بعينه و (لزمه ذبحها في هذا الوقت) أداء،



Pengajian Abi MUDI Di Malaysia Kitab Mathla'il Badrain




Kelebihan Sepuluh Hari Dzulhijjah

Salah satu nikmat yang Allah berikan kepada umat Islam adalah selalu diberikannya waktu-waktu terbaik untuk beribadah dan berdoa kepada Allah. Waktu tersebut terus berjalan dan berganti dengan waktu mustajabah yang lain. Setelah Ramadhan berlalu, Allah berikan bulan Syawal dimana di dalamnya disunnahkan puasa enam hari, dan sekarang masuk bulan Zulhijjah, di mana di bulan ini juga Allah berikan kelebihan yang besar.
Di antara hari-hari yang lebih dalam bulan Zulhijjah adalah sepuluh hari diawal bulan ini.
Dalam al-quran Allah juga bersumpah dengan malam sepuluh hari Zulhijjah, dalam al-Quran surat al-Fajr;

(والفجر . وليال عشر )

Demi fajar dan malam-malam yang sepuluh.

Selain itu, sepuluh hari Zulhijjah juga merupakan bagian dari empat puluh hari yang Allah janjikan kepada Nabi Musa as dalam firmanNya;

وَوَاعَدْنَا مُوسَى ثَلاثِينَ لَيْلَةً وَأَتْمَمْنَاهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيقَاتُ رَبِّهِ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً


Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi) (Q.S. al-A’raf; 142)

Selain juga juga merupakan penutup dari aiyam ma’lumat bagi musim haji yang Allah sebutkan dalam al-quran surat al-Baqarah ayat 197:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ

Haji adalah beberapa bulan yang telah dimaklumi. (Q.S. al-Baqarah ayat 197).

Maksud dari bulan-bulan yang ma’lum itu adalah Syawal, Zulqa’dah, dan sepuluh hari bulan Zulhijjah.
Sepuluh Zulhijjah juga hari yang dimaksudkan dengan kata aiyam ma’lumat dalam surat al-Hajj ayat 28 sebagai hari yang dianjurkan untuk memperbanyak mengingat Allah sebagai jalan mensyukuri nikmat yang Allah berikan hewan-hewan ternak.

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ


dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. (Q.S. al-Hajj ayat 27)

Manyoritas ulama mengemukakan hari hari ma’lumat adalah hari sepuluh Dzulhijjah. Diantara para ulama yang berpendapat demikian Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Atha, Mujahid, Ikrimah, Qatadah, nakh’i, dan juga pendapat Imam Abi Hanifah, Imam Syafii dan Ahmad yang masyhur.

Dalam satu hadits Rasulullah bersabda:

ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام" يعني أيام العشر قالوا: يا رسول الله ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: "ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجلا خرج بنفسه وماله لم رجع من ذلك بشيء


Tiada hari dimana perbuatan terpuji saat itu lebih dicintai Allah dari pada ini hari yaitu sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya: “ya Rasullah, tidak juga jihad?” Rasullah mejawab: tidak juga jihad di jalan Allah melainkan seorang laki-laki yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya kemudian tidak kembali lagi”. (H.R. Imam Bukhari)

Dalam hadits yang lain Rasulullah bersabda;

ما من أيام أفضل عند الله من أيام عشر ذي الحجة فقال رجل : يا رسول الله هو أفضل أم عدتهن جهاد في سبيل الله ؟ قال : هو أفضل من عدتهن جهادا في سبيل الله


Tiada dari hari-hari yang afdhal disisi Allah melebihi sepuluh hari Zulhijjah, para shahabat bertanya; ya Rasulullah, itu lebih afdhal atau berjihad selama sepuluh hari di jalan Allah? Rasulullah menjawa; dia lebih afdhal dari berjihad dengan bilangannya (10 hari) di jalan Allah.

Hadist ini menunjuki bahwa beramal pada sepuluh Dzulhijjah Allah lebih cinta dari pada beramal pada hari-hari dunia tanpa ada pengecualian. Maka jika beramal pada hari tersebut lebih afdhal dan dicintai di sisi Allah maka amaliyah pada hari tersebut menjadi amal yang lebih utama dari amaliyah pada hari lain walaupun dengan amalan yang lebih sendiri.

Juga diriwayatkan dri Ibu Abbas dengan sanad yang dhaif;

و العمل فيهن يضاعف بسبعمائة


Beramal pada hari-hari tersebut akan digandakan sebanyak 700 kali.


Ada beberapa riwayat yang berbeda-beda tentang kadar dilipatgandakan balasan amalan pada sepuluh zulhijjah. Dalam riwayat Imam Turmizi, Ibnu Majah, dari riwayat an-Nahhas dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabada ;


ما من أيام أحب إلى الله أن يتعبد له فيها من عشر ذي الحجة يعدل صيام كل يوم منها بسنة و كل ليلة منها بقيام ليلة القدر


Tiada dari hari yang lebih Allah cintai untuk beribadat daripada sepuluh Zulhijjah, puasa pada hari-hari tersebut sebanding dengan setahun, beribadat pada malamnya sebanding dengan beribadat pada malam Qadar”.

Diriwayatkan oleh Tsuwair bin Abi Fakhimah dari Mujahid dari Ibnu Umar bahwa beliau berkata :

ليس يوم أعظم عند الله من يوم الجمعة ليس العشر فإن العمل فيها يعدل عمل سنة


Tiada hari yang lebih besar di sisi Allah dari hari jum’at yang bukan dari sepuluh (Zulhijjah), karena beramal di sepuluh hari di bulan Zulhijjah sebanding dengan setahun.

Di riwayatkan oleh Abu Amr an-Naisaburi dalam kitab al-Hikayat dari Qatadan dan Ibnu Sirin keduanya berkata :

صوم كل يوم من العشر يعدل سنة


Berpuasa setiap hari di sepuluh (Bulan Zulhijjah) sebanding dengan setahun.

Juga diriwayatkan dari Saidina Anas bin Malik;

كان يقال في أيام العشر بكل يوم ألف يوم و يوم عرفة عشرة آلاف

Ada yang mengatakan tentang sepuluh hari Zulhijjah bahwa untuk setiap harinya sebanding dengan seribu hari dan hari Arafah sebanding dengan sepuluh ribu.

Selain itu banyak juga hadits yang menyebutkan kadar dilipatgandakan amalan di hari tersebut, namun banyak di antaranya merupakan hadits maudhu’ yang tidak layak untuk kita sebut.
Berkata Suhail dari ayahnya dari Ka’ab :

اختار الله الزمان و أحب الزمان إلى الله الأشهر الحرم و أحب الأشهر الحرم إلى الله ذو الحجة و أحب ذي الحجة إلى الله العشر الأول


Allah telah memilih waktu, dan waktu yang paling Allah cintai adalah bulan haram, dan dan bulan haram yang paling Allah cintai adalah bulan Zulhijjah dan hari-hari bulan Zulhijjah yang paling Allah cintai adalah sepuluh hari diawalnya.

Adapun anjuran untuk memperbanyak zikir pada hari-hari ini terdapat dalam al-Quran, firman Allah dalam surat al-Hajj ayat 28:

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ

dan mereka menyebut nama Allah pada hari-hari ma’lumat .

Menurut jumhur ulama, maksud dengan hari ma’lumat itu adalah 10 hari di awal Zulhijjah.
Dalam satu Hadits Rasulullah SAW bersabda:

ما من أيام أعظم و لا أحب إليه العمل فيهن عند الله من هذه الأيام العشر فأكثروا فيهن من التهليل و التكبير و التحميد


Tiada dari hari-hari besar dan yang lebih dicintai untuk beramal disisi Allah melebihi hari-hari sepuluh ini, maka perbanyaklah tahlil, takbir dan tahmid pada hari tersebut.(H.R. Imam Ahmad)



Referensi Kitab Lataiful Maarif halaman 458 &469 & 471 cet Darul Ibnu Khatsir .

Kapan Disunnahkan Takbiran Hari Raya Qurban ?

Deskripsi masalah:

Bunyi takbiran berkumandang itulah tandanya malam kemenangan ummat islam telah tiba, seluruh kota muslim dan pedalaman desa terdengar suara yang sama ,bagaimana tidak takbiran merupakan satu hal yang di sunnahkan di malam hari raya baik idul fitri maupun idhul adha.
Pertanyaan :

kapankah disunnahkan memulai takbiran hari raya ?

Jawaban :

Dalam hal ini berbeda hari raya berbeda pula tentang waktu kesunnahan memulai takbirannya , jika itu hari raya fitri di sunnahkan mengumandangkan takbir mulai terbenam matahari (malam hari raya) sampai imam memasuki dalam shalat hari raya.
Sedangkan untuk idhul adha di sunnahkan mulai dari subuh hari a'rafah (9 zulhijjah ) sampai ashar akhir hari tasyrik (11 12 dan 13 zulhijjah) mengiringi setiap shalat lima waktu ( shalat fardhu ).

kitab kifayatul akhyar juz 1 hal 150 maktabah syamela

ويكبر من غروب الشمس ليلة العيد إلى أن يدخل الإمام في الصلاة وفي الأضحى خلف الصلوات الفرائض من صبح يوم عرفة إلى العصر من آخر أيام التشريق)
يستحب التكبير بغروب الشمس ليلتي العيد الفطر والأضحى ولا فرق في ذلك بين المساجد والبيوت والأسواق ولا بين الليل والنهار وعند ازدحام الناس ليوافقوه على ذلك




Tanggung-Jawab Sebagai Hamba Allah SWT [Abiya Muhammad Baidhawi]




Doa-Doa Selama Sepuluh Zulhijjah

Banyak amaliyah yang bisa dilakukan selama sepuluh hari dari awal bulan Zulhijjah sebagaimana yang diamalkan oleh para ulama terdahulu. Di antaranya adalah memperbanyak doa, tahlil dan takbir. Selama sepuluh hari tersebut merupakan waktu-waktu yang mustajabah doa, maka alangkah baik bila kita memperbanyak doa-doa kita di sepuluh hari ini melebihi hari biasanya. Dalam dalam satu hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas :
وجاء أنه يستجاب في هذه العشر الدعاء؛ كما روي عن أبي موسى الأشعري رضي الله تعالى عنه: أن الأيام المعلومات هي تسع ذي الحجة غير يوم النحر، وأنه لا يُرد فيهن الدعاء؛ وكيف يرد فيهن الدعاء وفيهن يوم عرفة الذي روي أنه أفضل أيام الدنيا، فيما اخرجه ابن حبان فى صحيحه من خديث جابر رضي الله عنه

“Telah datang riwayat bahwa doa dipenuhi pada sepuluh hari ini sebagaimana diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari, bahwa hari yang ma’lum (aiyam ma’lumat) adalah sembilan hari Zulhijjah tidak termasuk hari nahar (10 Zulhijjah), pada hari-hari tersebut doa tidak akan di tolak, bagaimana doa akan di tolak sedangkan pada hari tersebut ada hari Arafah yang merupakan hari yang paling afdhal di dunia sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban”. (Kanz Najah hal 280)

Di hari-hari tersebut juga dituntut memperbanyak tahlil (membaca Laa ilaaha illAllah) dan takbir. Dalam satu hadits dari Ibnu Abbas;

ما من أيام أفضل عند الله تعالى من هذه الأيام أيام العشر، فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير، فإنها أيام تهليل وتكبير وذكر لله عز وجل، وأن صيام يوم فيها بعدلِ صيام سنة، والعمل فيهن يضاعف بسعمائة؛

“Tiada hari yang paling afdhal di sisi Allah daripada sepuluh hari ini, maka perbanyaklah pada hari itu tahlil dan takbir, karena hari itu adalah hari tahlil dan takbir dan mengingat Allah, dan berpuasa pada hari-hari itu sebanding dengan puasa setahun dan beramal pada hari itu akan digandakan sebanyak 900 kali”. (H.R Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman no 3481)

Doa Selama Sepuluh Hari Zulhijjah.

Sebagian ulama shaleh mengatakan bahwa dalam sepuluh hai zulhijjah di tuntut untuk membaca doa ini setiap hari sebanyak 10 kali, yaitu ;


لا إله إلا الله عَدَدَ اللَّيَالِي وَالدُّهُوْر. لا إله إلا الله عَدَدَ الأيّامِ وَالشُّهُوْرِ. لا إله إلا الله عَدَدَ أمْوَاجِ الْبُحُوْرِ. لا إله إلا الله عَدَدَ أضْعَافِ اْلأُجُوْرِ. لا إله إلا الله عَدَدَ القَطْرِ وَالْمَطَر. لا إله إلا الله عَدَدَ أوْرَاقِ الشَّجَرِ. لا إله إلا الله عَدَدَ الشَّعْرِ والوَبَر. لا إله إلا الله عَدَدَ الرَّمْلِ وَاْلحَجَر. لا إله إلا الله عَدَدَ الزَّهْرِ وَالثَّمَر. لا إله إلا الله عَدَدَ أنْفاسِ الْبَشَر. لا إله إلا الله عَدَدَ لَمْحِ اْلعُيُوْن. لا إله إلا الله عَدَدَ مَا كَانَ وَمَا يَكُوْن. لا إله إلا الله تَعالى عَمَّا يُشْرِكُوْن. لا إله إلا الله خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُوْن لا إله إلا الله فِي اللَّيْلِ إذَا عَسْعَسْ. لا إله إلا الله فِي الصُّبْحِ إذَا تَنَفَّس. لا إله إلا الله عَدَدَ الرِّياحِ فِي اْلبَرَارِي وَالصُّخُوْر. لا إله إلا الله مِنْ يَوْمِنا هَذا إلى يَوْمِ يُنْفَخُ فِي الصُّوَر. لا إله إلا الله عَدَدَ خَلْقِهِ أجْمَعِيْنَ. لا إله إلا الله مِنْ يَوْمِنَا هَذا إلى يَوْمِ الدِّيْن

Syeikh Abdul Hamid dalam Kanz Najahnya mengatakan bahwa dalam tulisan yang beliau dapatkan, tidak disebutkan sumber dan sanad doa tersebut, namun hanya disebutkan bahwa doa tersebut memiliki fadhilah yang banyak.

Imam Thabrani meriwayatkan dalam Mu’jam Kabirnya bahwa barang siapa membawa doa di bawah ini selama sepuluh hari di awal Zulhijjah sebanyak 10 kali maka ia akan mendapatkan keampunan atas dosanya yang lalu dan yang akan datang.


لا إلَه إلا الله عَدَدَ الدُّهُوْر، لا إلَه إلا الله عَدَدَ أمْوَاجِ الْبُحُوْرِ، لا إلَه إلا الله عَدَدَ النَّبَاتِ وَالشَّجَر، لا إلَه إلا الله عَدَدَ الْقَطْرِ وَالْمَطَر، لا إلَه إلا الله عَدَدَ لَمْحِ الْعُيُوْن، لا إله إلا الله خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُوْن، لا إله إلا الله مِنْ يَوْمِنَا هَذا إلى يَوْمِ يُنْفَخُ في الصًّوَر

Syeikh Abdul Hamid Kudus menjelaskan bahwa, yang lebih baik adalah membaca kedua doa tersebut, namun bila ingin mengamalkan salah satunya saja, maka lebih baik di pilih yang terakhir ini karena sudah di pastikan warid dari Rasulullah.


Juga bisa di baca doa di bawah ini menurut kemudahan mulai dari awal Zuhijjah hingga hari Raya 10 Zulhijjah, berfaedah untuk meringankan utang.


اللهم) فرَجَكَ القَرِيْبَ (اللهم) سِتْرَكَ الْحَصِيْنَ (اللهم) مَعْرُوْفَكَ الْقَدِيْمَ (اللهم) عَوَائِدَكَ الْحَسَنَةَ (اللهم) عَطَاكَ الْحَسَنَ الْجَمِيْلَ، يَا قَدِيْمَ الإحْسَان إحْسَانَكَ الْقَدِيْمَ، يَا دَائِمَ الْمَعْرُوْفِ مَعْرُوْفَكَ الدَّائِمَ

Syeikh Abdul Hamin Kudus menjelaskan bahwa doa ini beliau temukan dalam beberapa kitab para ulama di nisbahkan kepada Syeikh Khattab al-Makki al-Maliki.

Syarif Maul al-Ainain dalam kitabnya Na’at al-Bidayat Wa Taushif an-Nihayat menyebutkan bahwa salah satu doa yang berfaedah bila di perbanyak membacanya dalam sepuluh hari awal bulan Zulhijjah adalah doa yang Rasulullah ajarkan kepada sebagian shahabat beliau;


حَسْبِيَ اللهُ وَكَفَى، سَمِعَ اللهُ لِمَنْ دَعَا، لَيْسَ وَرَاءَهُ مُنْتَهَى، مَنْ تَوَكّلَ عَلى اللهِ كُفِي، وَمَن اعْتَصَمَ بِاللهِ نَجَا

Untu hari Arafah (9 Zulhijjah) bisa di tambahkan doa di hari Arafah;

لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك وله الحمد، وهو على كل شيء قديرٌ

Ada beberapa hadits yang menunjuki kelebihan mengamalkannya dan akan lebih baik jika di baca hingga mencpai seribu kali.


Referensi:

Syeikh Abdul Hamid Kudus, Kanz Najah wa Surur hal 276-285 cet. Dar Sanabil


Gundah Karena Maksiat [Abiya Muhammad Baidhawi]


DOA UNTUK ORANG KESURUPAN

Deskripsi Masalah:
Kesurupan atau masru' sudah tidak asing lagi di kalangan dayah (pesantren) terlebih bagi santriwati, itu terjadi semua akibat ulah mereka yang benci terhadap tegaknya agama Allah SWT, mereka yang menginginkan ilmu agama ini pudar ditelan masa sehingga berhujung dengan jahilnya manusia.
Pertanyaan :
Apa ada semacam doa yang dapat menyembuhkan dikala seseorang mengalami masru' (kesurupan) ?
Jawaban :
Doa buat orang kesurupan menurut dalam kitab Ianatuttalibin karya Syekh Sayyid Bakr Syat :
  1. Azan di telinga orang kesurupan 7 x
  2. Membaca surah Al fatihah 7 x
  3. Ma'uzatain (surat Al falaq dan An nas) 7 x
  4. Membaca ayat Al kursi dan surat At thariq
  5. Akhir surat Al hasyr.
  6. Akhir surat Assaffat.

Referensi:
Ianatuttalibinn juz 1 hal 267
(فائدة)
 من الشنواني ومما جرب لحرق الجن أن يؤذن في أذن المصروع سبعا، ويقرأ الفاتحة سبعا، والمعوذتين، وآية الكرسي، والسماء والطارق، وآخر سورة الحشر من * (لو أنزلنا هذا القرآن) * إلى آخرها، وآخر سورة الصافات من قوله: * (فإذا نزل بساحتهم) * إلى آخرها.
وإذا قرئت آية الكرسي سبعا على ماء ورش به وجه المصروع فإنه يفيق.

Hukum Qurban dengan Iuaran Siswa

Deskripsi Masalah
Jauh-jauh hari sebelum bulan Dzulqa’dah datang menyapa, banyak orang-orang yang mempunyai harta yang lebih atau bahkan masyarakat yang punya ekonomi rendah telah berencana untuk berqurban pada bulan mulia tersebut, karena selain membantu sesama, berqurban juga memperoleh pahala yang agung disisi Allah SWT. Niat yang mulia tersebut juga mengetuk hati kepala sekolah dan seluruh dewan guru di salah satu SMA ternama di Aceh utara. Mereka sepakat untuk mengumpulkan uang dengan jumlah tertentu yang memada untuk seekor hewan qurban. Dan untuk sekedar mengajarkan kebaikan kepada anak didiknya, kepala sekolah juga berinisiatif untuk mengutip iuran dari seluruh siswa yang mampu dengan masing-masing dari mereka wajib menyetor Rp 20.000 kepada ketua kelas, yang nantinya uang tersebut akan digunakan untuk membeli hewan qurban berupa seekor lembu yang sudah memenuhi kriteria hewan qurban serta akan dibagi kepada siswa-siswa yang kurang mampu, juga masyarakat sekitar yang tergolong miskin melalui kupon yang telah disediakan oleh pihak sekolah.

Pertanyaan
Apakah hewan yang dibeli dari iuran para siswa tersebut memadai sebagai qurban, mengingat seekor lembu hanya  untuk 7 orang saja????

Jawab
Penyembelihan hewan tersebut tidak memadai sebagai qurban dan bisa tidak dinamakan dengan qurban karena tidak memenuhi syarat qurban. Namun mereka tetap mendapatkan pahala sedekah biasa bukan pahala qurban.

Referensi
Tuhfatul Muhtaj, Hasyiyah Syarwani 9 : 406 cet. Darl al fikr
(قوله: بل ولو ذبحا عنهما شاتين إلخ)
 وكذا يقال فيما لو اشترك أكثر من سبعة في بقرتين مشاعتين أو بعيرين كذلك لم يجز عنهم
 ؛ لأن كل واحد لم يخصه سبع بقرة أو بعير من كل واحد من ذلك اهـ. مغني
I’anathul Al Thalibin 2 : 332 cet. Al-Haramain
ولو اشترك أكثر من سبعة في بدنة لم تجزئ عن واحد منهم

Adab Terhadap Kitab Ilmu Agama

Adab merupakan salah satu hal yang sangat diutamakan dalam menuntut ilmu. Para ulama mengatakan ;

ما فاز من فاز الا بالادب وما سقط من سقط الا بسوء الاداب

“Tidak berhasil orang-orang yang telah berhasil kecuali dengan adanya adab, dan tidak gagal orang yang gagal kecuali karena buruknya adabnya."

Salah satu adab yang harus tanamkan dalam jiwa semua penuntut ilmu adalah adab kepada sumber ilmu. Sumber ilmu itu adalah guru dan juga kitab ilmu. Salah satu keistimewaan para santri dayah tradisional adalah adanya doktrin yang kuat untuk menghormati kedua sumber ilmu.
Namun, harus kita akui, adab kita santri semakin hari semakin pudar di kikis perkembangan zaman, terutama adab kita terhadap kitab-kitab para ulama, walaupun bila dibandingkan dengan para pelajar dari beberapa lembaga selain dayah, penghormatan santri terhadap kitab masih lebih besar.
Kitab sebagai salah satu komponen sumber ilmu juga sangat perlu dihormati dan dimuliakan. Dengan adanya penghormatan terhadap kitab, diharapkan kita akan mendapatkan keberkahan dari ilmu yang kita dapat.
Kita semua menyadari bahwa kualitas keilmuan kita semakin hari semakin rendah. Salah satu faktor penyebab ini, selain dari minat belajar yang semakin rendah, adalah kurangnya penghormatan kitab kepada ilmu. Bila kita membaca sejarah para ulama terdahulu tentang penghormatan mereka kepada ilmu, maka kita akan merasa takjub dan akan kita dapati betapa jauhnya akhlaq kita dari akhlaq mereka.
Syeikh Muhammad Awamah dalam kitabnya Ma’alim Irsyadiyah li Shin’ah Thalibil Ilm, menceritakan bahwa ketika beliau belajar di Madrasah Sya’baniyah di Kota Halab (Aleppo, Suriah), beliau membawa sebuah kitab ditangan kirinya, kemudian datang guru beliau, Syeikh Ahmad Qalasy, mengambil kitab tersebut dari tangan kiri beliau dan meletakkannya pada tangan kanan beliau, dan berkata “Allahumma atini kitabi biyamini/Ya Allah datangkanlah kitabku dari sebelah kananku’’.

Beberapa hal yang termasuk dalam penghormatan kita terhadap kitab ilmu antara lain;

1. Membaca kitab dalam keadaan suci.

Satu hal yang sangat perlu diperhatikan adalah supaya selalu dalam keadaan suci ketika membaca kitab. Ibnu Asakir mencerikan kisah Abu Ustman Ashabuni beliau berkata "saya tidak pernah sama sekali masuk kedalam kamar kitab, dan tidak pernah meriwayakan hadits, dan tidak pernah mengadakan satu majlis ilmu dan duduk mengajar kecuali dalam keadaan suci”. Imam az-Zarnuji dalam kitabnya Ta'lim al-Muta'allim mengatakan "sebagian dari memuliakan ilmu adalah memuliakan kitab, maka sepatutnya bagi pelajar ilmu tidak mengambil kitab kecuali dalam keadaan suci. Dihikayahkan dari Imam Syamsul Aimmah al-Halwani bahwa beliau berkata "hanyasanya saya capai ilmu ini dengan memuliakannya, saya tidak pernah mengambil kitab kecuali dalam keadaan suci". Syeikh Syamsul Aimmah Sarkhasi pernah sakit perut, sedangkan beliau sedang mengulang kitab, maka beliau berwudhuk dalam semalam sampai tujuh belas kali, karena beliau tidak akan mengulang pelajaran kecuali dalam keadaan suci. Hal ini karena ilmu merupakan nur, sedangkan wudhuk juga nur, maka dengan wudhuk akan menambah nur ilmuya.

2. Duduk dengan hormat di depan kitab.

Duduk dengan hormat adakala dengan bersila atau tawaruk merupakan salah satu adab terhadap kitab yang sedang kita baca. Apalagi saat berada dalam majlis pengajian, maka sangat dituntut untuk duduk dengan sopan. Jangan mendirikan kaki saat duduk. Duduk dengan tidak sopan dalam majlis ilmu berarti tidak menghormati kitab dan juga tidak hormat pada guru serta majlis ilmu tersebut. Jangan juga menjulurkan kaki ke arah kitab.

3. Meletakkan kitab di tempat yang agak tinggi.

Kitab sebagai sumber ilmu tidak boleh diletakkan ditempat yang rendah seperti di lantai, baik ketika sedang belajar atau bukan. Maka merupakan satu hal yang sangat bagus bila para santri membudayakan memakai meja kecil ketika belajar, baik ketika belajar diruang kelas maupun ketika mutha’ah sendiri. Kalaupun tidak ada meja ketika menghadiri pengajian, maka sepatutnya kitab diletakkan di pangkuan, jangan dilantai.

4. Menjaga lembaran kitab jangan berserakan

Lembaran kitab yang sudah lusuh atau tidak digunakan lagi, jangan dibiarkan terletak dan berserakan dilantai atau tanah. Sering kita lihat kitab-kitab yang sudah tidak ada pemiliknya lagi berserakan di lantai bahkan di tanah. Ada baiknya bila masih bisa dipergunakan maka diletakkan ditempat tertentu yang lebih mulia. Bila sudah tidak mungkin dipergunakan maka sebaiknya dibakar saja untuk menjaga kehormatannya.

5. Menjaga kertas yang bertuliskan nash kitab

Saat ini dengan kemudahan penulisan dengan komputer dan printernya maka sangat mudah nash-nash kitab kita print dalam lembaran kertas. Namun hal yang sangat disayangkan adalah lembaran-lembaran yang bertuliskan nash-nash kitab para ulama tersebut kadang dibiarkan berjatuhan atau kadang dibuang kedalam tong sampah bersama dengan kotoran lain. Hal ini juga merupakan sikap kurangnya menghormati ilmu. Termasuk juga yang harus kita jaga adalah lembaran ujian yang didalamnya tertulis nash-nash kitab para ulama.

6. Meletakkan kitab menurut kemulian ilmunya.

Bila kita meletakkan kitab diatas kitab lain, maka sangat dianjurkan untuk memperhatikan sususan tingkatan kitab yang kita letakkan tersebut. Kitab yang berisi ilmu yang paling mulia harus diletakkan paling atas, kemudian disusul dengan kitab ilmu yang mulia di bawahnya dan seterusnya. Urutan kitab menurut kemulian ilmunya adalah; mashhaf al-quran, kitab matan hadis dengan lebih mendahulukan kitab shahih Bukhari kemudian shahih Muslim, kitab tafsir al-Quran, kitab tafsir hadits, kitab ushuluddin (tauhid), kitab ushul fiqh, kitab nahu, kitab sharaf, ilmu balaghah (ma’ani, bayan dan badi’), kitab syair-syair Arab, kitab ilmu Arudh.
Bila kitab dalam ilmu yang sama, maka diletakkan menurut kemulian pengarangnya, bila mushannifnya sama-sama kemuliannya maka didahulukan kitab yang lebih dahulu dan kitab yang lebih banyak digunakan oleh para ulama shaleh.

7. Jangan melipat pinggir kitab

Terkadang untuk memberi tanda batasan pelajaran kita melipat pinggir lembaran kitab. Hal ini merupakan hal yang kurang baik, karena akan mempercepat lusuhnya lembaran kitab. Maka yang lebih baik adalah memberi tanda batasan belajar dengan lembaran kertas lain.

8. Tidak meletakkan benda lain diatas kitab.

Kadangkala kita lihat sebagian kita meletakkan barang-barang lain diatas kitab, padahal meletakkan kitab lain yang kemuliaannya dibawahnya saja dilarang, apalagi bila meletakkan benda yang tidak punya kemuliaan sama sekali, seperti misalnya handpone, kunci kereta, rokok, korek dll

9. Memulai membaca kitab dengan membaca doa

Akan terlebih menambah barakah bila membaca kitab dimulai dengan membaca ta’awuzd, basmalah, hamdalah, shalawat kepada Rasulullah dan berdoa gurunya, mushannif kitab, orang tuanya, diri sendiri, untuk para hadirin (bila membaca kitab untuk orang lain) dan untuk seluruh kaum muslimin. Hal demikian dilakukan setiap kali kita memaca kitab, baik ketika ruang kelas, dihadapan guru, ataupun ketika muthala’ah sendiri dikamar.

10. Menyudahi membaca kitab dengan doa

Satu hal yang sangat bagu juga, bila setelah selesai membaca kitab, kita sudahi dengan membaca doa, semoga ilmu yang baru saja kita dapatkan, menjadi ilmu yang barakah bagi kita, menetap dalam hati kita, mampu kita ingat saat kita butuhkan.

Semoga dengan menjaga adab terhadap kitab yang kita pelajari, akan menambah barakah bagi ilmu kita, terlebih lagi untuk zaman ini, minat belajar kita rendah sehingga ilmu hanya sedikit yang bisa kita dapatkan. Semoga sedikit ilmu yang kita dapatkan tersebut penuh dengan barakah sehingga betul-betul bermanfaat untuk akhirat kita. Kita juga berharap dengan adanya perhormatan kita terhadap kitab, Allah berkenan membukankan pintu ilmu bagi kita, sehingga memudahkan kita dalam belajar, cepat memahami ilmu dan setiap ilmu yang kita dapati menetap dalam hati kita. Tulisan ini kami tulis dengan mengutip dari kitab-kitab para ulama, sebagai renungan bagi penulis sendiri terhadap rendahnya penghormatan kita terhadap ilmu saat ini, semoga kita mampu menghayati hal ini dan diberi kemampuan oleh Allah untuk memperbaiki kekurangan kita sendiri. Amin Ya Rabbal Allamin.

Tingkatan Keikhlashan Dalam Beramal.

Ikhlas merupakan salah sat hal yang dituntut bagi seorang muslim ketika melakukan sebuah amalan, karena ikhlas merupakan penentu bagi amal, apakah ia diterima atau tidak, ikhlas dan riya merupakan dua sifat yang berlawanan. Semakin besar keikhlasan dalam beramal, maka semakin besar pula manfaat di akhirat kelak yang akan kita dapatkan dari amal kita di dunia ini. Beramal tanpa keikhlasan bisa berakibat mengurangi bahkan menghapus pahala amalan kita. Keikhlasan seseorang tentu berbeda-beda.

Para ulama membagi ikhlash kepada tiga tingkatan;

  1. Ikhlas tingkat tinggi (‘ulya) yaitu seorang hamba yang beramal ibadah murni hanya karena Allah, untuk menjunjung tinggi perintahnya dan memenuhi hak ibadahnya sebagai hamba tanpa ada mengharapkan balasan surga dan juga bukan karena takut azab Allah bila tidak beramal. Ini adalah keikhlasan para anbiya dan aulia Allah.
  2. Ikhlas tingkat pertengahan (wushta) yaitu: seseorang melakukan amalan ibadah karena demi memperoleh pahala dan karena menghindar dari siksa.
  3. Ikhlas tingkat rendah (dunya) yaitu seorang yang beramal supaya diberi kemulian oleh Allah di dunia dan selamat dari mara bahaya, misalnya seseorang yang membaca surat al-waqi’ah supaya diberi kemudahan rikzi dan membaca ayat Kursi supaya terhindar dari maha bahaya.

Beramal dengan maksud salah satu dari tiga hal diatas masih dikatagorikan sebagai ikhlash, namun hanya tingkatnya saja yang berbeda-beda. Jadi bila kita kita beramal disertai dengan niat suapay Allah memberikan kemudahan di dunia berarti amalan kita masih ikhlash walaupun masuk dalam katagori ketiga, semoga mampu kita tingkatkan ke tingkat ke dua. Sedangkan selain dari tiga tersebut semuanya sudah masuk dalam katagori riya yang bisa berakibat kepada amal kita tidak diterima oleh Allah. Semoga kita mampu beramal dengan ikhlash dan bersih dari sifat riya..Amiin

Referensi;

Tuhfatul Murid ‘ala Jauharah Tauhid, hal 40 Cet. Dar Kutub Islamiyah


Bagaimanakah Kriteria Hewan Qurban

Deskripsi Masalah
Berqurban adalah salah suatu ritual ibadah yang diperintahkan oleh Allah tujuannya tidak lain melainkan untuk bertaqarub (mendekakkan) diri kepada Allah penyembelihannyapun dilakukan pada bulan Dzullhijjah bertepatan pada Hari Raya Idul Adha hingga akhir hari tasyriq, ritualnyapun dalam penyembelihan ada yang bermacam macam ada yang menyembelih kambing, sapi dan lain sebagainya, tentunya kita harus jeli dalam memilih hewan yang akan kita jadikan sebagai hewan qurban .

Pertanyaan
Bagaimanakah Kriteria Hewan yang Dijadikan Sebagai Hewan Qurban ?

Jawaban
Syeihk Sulaiman Al-Bujairimi yang wafat pada Tahun 1221 Hijriah memberi komentar dalam kitab nya Hasyiah Al-Bujarimi, syarat yang dijadikan hewan qurban adalah binatang ternak sesuai firman Allah dalam Alquran, bagi tiap-tiap umat telah kami syariatkan penyembelihan (qurban) supaya mereka menyebut Nama Allah ketika menyembelih binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka.dan karena berkurban itu merupakan Ibadah yang berkaitan dengan hewan maka praktek qurbanpun dikhususkan dengan binatang ternak seperti zakat dan umur domba satu tahun atau rontok giginya sebelum genab satu tahun dan sapi dan kambing usia kedua nya dua tahun dan unta yang berumur lima tahun .

Referensi
Hasyiah Bujairimi Halaman 396 Juz 4 cetakan Darul Kutub Ilmiyah
وشرطها) أي التضحية (نعم) إبل وبقر وغنم إناثا كانت أو خناثى أو ذكورا ولو خصيانا لقوله تعالى {ولكل أمة جعلنا منسكا ليذكروا اسم الله على ما رزقهم من بهيمة الأنعام} [الحج: 34] ولأن التضحية عبادة تتعلق بالحيوان فاختصت بالنعم كالزكاة (و) شرطها (بلوغ ضأن سنة أو إجذاعه و) بلوغ (بقر ومعز سنتين وإبل خمسا)
Kemudian beliau melanjutkan perkataan nya, dan syarat keselanjutnya terbebas dari kecacatan yang dapat mengurangi daging dan lemak maka tidak mengapa kalau hilangnya tanduk dan pecahnya tanduk karena yang demikian tidak mengurangi daging.

Hasyiah Bujairimi Halaman 398 Juz 4 cetakan Darul Kutub Ilmiyah
 (و)
شرطها (فقد عيب) في الأضحية (ينقص مأكولا) منها من لحم وشحم وغيرهما فتجزئ فاقدة قرن ومكسورته كسرا لم ينقص المأكول

Kemudian beliau melanjukkan perkataannya dan syarat keselanjutnya adalah niat ketika menyenbelih hewan qurban ataupun sebelum menyembelih ketika mentakyinkan (menentukan) hewan untuk dijadikan qurban sama seperti niat pada zakat baik qurban wajib maupun sunat.

Hasyiah Bujairimi Halaman 399 Juz 4 cetakan Darul Kutub Ilmiyah 
و) شرطها (نية) لها (عند ذبح أو) قبله عند (تعيين) لما يضحي به كالنية في الزكاة سواء أكان تطوعا أم واجبا

Bahkan Imam Rafi’I yang wafat pada tahun 623 Hijriah berkomentar dalam kitabnya Syarah Kabir, bahwasanya ulama telah menyepakati bahwa binatang yang dijadikan sebagai binatang qurban itu dikhususkan dengan bintang ternak 

Syarh Kabir Halaman 60 Juz 12 Cet Darul Kutub Ilmiyah
الأول: ما يذبح، وتختص التضحية بالأنعام إجماعا، وقد قال تعالى: {ويذكروا اسم الله في أيام معلومات على ما رزقهم من بهيمة الأنعام} [الحج: 28].
والأنعام: هي الإبل والبقر والغنم، ولم يؤثر عن النبي -صلى الله عليه وسلم-، ولا عن أصحابه -رضي الله عنهم- التضحية بغيرها.
ووجه أيضا: أن التضحية [عبادة] (1) تتعلق بالحيوان، فتختص بهذه الأنواع، كالزكاة، ويجزىء فيها الذكر والأنثى بالاتفاق، وبالقياس على العقيقة

Al- Mausuuah Al- Fiqhiah Halaman 12 Juz 7 Cet Waziratul Auqaf Alquwait

وعند الفقهاء الأنعام هي الإبل والبقر والغنم سميت نعما لكثرة نعم الله تعالى فيها على خلقه بانمو والولادة واللبن والصوف والوبر والشعر وعموم الانتفاع



Hukum Mengqaza Puasa Setelah 15 Sya’ban

Deskripsi Masalah
Dalam setahun umat Muslim diharamkan puasa selama 5 hari yaitu 2 hari raya dan 3 hari Tasyrik (11,12,13 Zulhijjah), namun dalam Fiqh Syafiiyah ada beberapa hari yang juga diharamkan melakukan puasa yaitu setelah nisfu atau 16 Sya’ban hingga seterusnya akhir bulan Sya’ban. Dan hari ragu tentang nampak hilal (30 Sya’ban), Namun pelarangan tersebut bukan mutlak puasa, tetapi hukumnya berobah jika mempunyai sebab seperti qaza dan nazar.

Pertanyaan
1. Puasa apa saja yang dibolehkan setelah nisfu sya’ban ?
2. Apakah boleh mengqaza puasa Ramadhan yang tertinggal pada hari tersebut 16 s/d 30 Sya’ban ?

Jawaban
1. Puasa yang dilarang setelah nisfu sya’ban adalah puasa sunat, kecuali tidak lagi haram jika puasa sunat tersebut telah menjadi kebiasaan seperti seorang yang telah rutin berpuasa Senin-Kamis, Puasa Nabi Daud (Sehari berpuasa dan sehari berbuka), telah berpuasa dari 1 Sya’ban, dan mengqaza Puasa Sunat dan juga dibolehkan puasa wajib seperti qaza Ramadhan, puasa nazar bahkan hal ini hukumnya wajib.
2. Mengqaza puasa Rmadhan yang Tertinggal hukumnya boleh bahkan wajib.

Referensi
Kitab Fathul Mui’n Juz II Hal .273 (Haramain)


( تتمة )
 يحرم الصوم في أيام التشريق والعيدين وكذا يوم الشك لغير ورد وهو يوم ثلاثي شعبان وقد شاع الخبر بين الناس برؤية الهلال ولم يثبت وكذا بعد نصف شعبان ما لم يصله بما قبله أو لم يوافق عادته أو لم يكن عن نذر أو قضاء ولو عن نفل

Hasyiah Ibnu Qasim Izzi Juz II Hal.294-296 (Haramain)


(يحرم صوم خمسة ايام العيدان)
اي صوم يوم عيد الفطر وعيد الاضحى (و ايام التشريق) وهي (الثلاثة) التى بعد يوم النحر (ويكره)تحريما (صوم يوم الشك بلاسبب يقضى صومه واشار المصنف صور هذا السبب بقوله (الا ان يوافق عادة له) في تطوعه كمن عادته صيام يوم فوافق صومه يوم الشك ايضا عن قضاء ونذر ويوم الشك هويوم الثلاثين من شعبان اذالم ير الهلال ليلتها مع الصحو وتحدث الناس برؤيته ولم يعلم غدل رأه اوشهدبرؤيته صبيان اوعبيد اوفسقة    


donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja