Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Fatwa Imam Ramli, Hukum Membaca Fatihah Setelah Shalat

Salah satu amaliyah yang lazim kita temukan di kalangan masyarakat adalah seringanya membaca surat al-Fatihah dalam berbagai ibadat dan acara. Diantaranya selesai berdoa setelah shalat, baik dibaca bersama-sama maupun sendirian. Lalu apakah amalan demikian punya landasan dalam syarat? dan bagaimana jawaban para ulama terhadap masalah ini.
Ternyata masalah ini sudah pernah di tanyakan dahulu kepada seorang ulama besar di Mesir yang diakui keilmuannya sehingga di gelari dengan asy-Syafii Shaghir, yaitu Imam Syams Ramli anak dari Imam Ramli Kabir. Lalu bagaimana jawaban beliau, berikut nash jawaban beliau beserta terjemahannya yang kami ambil dari kitab Fatwa beliau yang di cetak bersamaan dengan Fatawa Kubra Fiqhiyah Imam Ibu Hajar al-Haitami.

(سُئِلَ) عَنْ قِرَاءَةِ الْفَاتِحَةِ عَقِبَ الدُّعَاءِ بَعْدَ الصَّلَوَاتِ هَلْ لَهَا أَصْلٌ فِي السُّنَّةِ أَمْ هِيَ مُحْدَثَةٌ لَمْ تُعْهَدْ فِي الصَّدْرِ الْأَوَّلِ، وَإِذَا قُلْتُمْ مُحْدَثَةٌ فَهَلْ هِيَ حَسَنَةٌ أَوْ قَبِيحَةٌ وَعَلَى تَقْدِيرِ الْكَرَاهَةِ هَلْ يُثَابُ قَائِلُهَا أَمْ لَا؟
(فَأَجَابَ) بِأَنَّ لِقِرَاءَةِ الْفَاتِحَةِ عَقِبَ الدُّعَاءِ بَعْدَ الصَّلَوَاتِ أَصْلًا فِي السُّنَّةِ، وَالْمَعْنَى فِيهِ ظَاهِرٌ لِكَثْرَةِ فَضَائِلِهَا، وَقَدْ قَالَ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - «فَاتِحَةُ الْكِتَابِ مُعَلَّقَةٌ فِي الْعَرْشِ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ» وَفِيهَا مِنْ الصِّفَاتِ مَا لَيْسَ فِي غَيْرِهَا حَتَّى قَالُوا إنَّ جَمِيعَ الْقُرْآنِ فِيهَا وَهِيَ خَمْسٌ وَعِشْرُونَ كَلِمَةً تَضَمَّنَتْ عُلُومَ الْقُرْآنِ لِاشْتِمَالِهَا عَلَى الثَّنَاءِ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِأَوْصَافِ كَمَالِهِ وَجَمَالِهِ وَعَلَى الْأَمْرِ بِالْعِبَادَاتِ وَالْإِخْلَاصِ فِيهَا وَالِاعْتِرَافِ بِالْعَجْزِ عَنْ الْقِيَامِ بِشَيْءٍ مِنْهَا إلَّا بِإِعَانَتِهِ - تَعَالَى، وَعَلَى الِابْتِهَالِ إلَيْهِ فِي الْهِدَايَةِ إلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ، وَعَلَى بَيَانِ عَاقِبَةِ الْجَاحِدِينَ، وَمِنْ شَرَفِهَا أَنَّ اللَّهَ - تَعَالَى - قَسَمَهَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ عَبْدِهِ وَلَا تَصِحُّ الْقِرَاءَةُ فِي الصَّلَاةِ إلَّا بِهَا وَلَا يَلْحَقُ عَمَلٌ بِثَوَابِهَا وَبِهَذَا الْمَعْنَى صَارَتْ أُمَّ الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَأَيْضًا فَلِكَثْرَةِ أَسْمَائِهَا، وَكَثْرَةُ الْأَسْمَاءِ تَدُلُّ عَلَى شَرَفِ الْمُسَمَّى، وَلِأَنَّ مِنْ أَسْمَائِهَا أَنَّهَا سُورَةُ الدُّعَاءِ وَسُورَةُ الْمُنَاجَاةِ وَسُورَةُ التَّفْوِيضِ وَأَنَّهَا الرَّاقِيَةُ وَأَنَّهَا الشِّفَاءُ وَالشَّافِيَةُ لِقَوْلِهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - «إنَّهَا لِكُلِّ دَاءٍ» وَقَالُوا إذَا عَلَّلْت أَوْ شَكَيْت فَعَلَيْك بِالْفَاتِحَةِ فَإِنَّهَا تَشْفِي
(فتاوى الرملي ج1 ص 161)

Pertanyaan :

Imam Ramli Rahimahullah, ditanyakan tentang membaca surat al-fatihah yang mengiringi doa setelah shalat, apakah memiliki dalil dari sunnah? atau ia merupakan satu amalan yang baru yang tidak ada dasarnya pada masa dahulu? Dan jika ia merupakan amalan baru apakah ia tergolong ke dalam amal yang baik atau amal keji (tercela)? dan apabila ia tergolong ke dalam urusan yang makruh apakah dianjurkan untuk bertaubat kepada orang yang membacanya?

Jawaban :

Sesungguhnya membaca fatihah yang mengiringi doa setelah shalat memiliki landsan dalam sunnah, sedangkan alasannya sangat jelas karena fatihah memiliki fadhilah yang amat banyak. Rasulullah SAW. bersabda: "Surat al-Fatihah Kitab tergantung di Arasy, tidak ada hijab dengan Allah."
Dan di dalamnya terkandung beberapa sifat yang tidak ada dalam surat yang lain, sehingga para ulama berpendapat bahwa seluruh kandungan al Quran tercantum dalam surat al Fatihah. Surat al-Fatihah terdiri dari 25 kalimat yang mengandung seluruh ilmu al Quran, karena dalam al-Fatihah mencakupi sanjungan dan pujian kepada Allah Azza wa Jalla dengan segala sifat kesempurnaan dan keindahan-Nya, al fatihah juga mengandung perintah untuk beribadah serta ikhlas dalam beribadah, dan pengakuan dengan lemah dalam melaksanakan ibadah kecuali dengan pertolongan Allah, dan al-Fatihah juga mengandung permohonan kepada Allah dalam memperoleh petunjuk ke jalan yang benar dan lurus, dan juga mencakupi konsekuwensi terhadap orang-orang yang mengingkarinya.
Sebagian dari kemuliaan surat al-Fatihah yaitu sesungguhnya Allah SWT. membagi al Fatihah di antaraNYa dan hamba-Nya,dan hanya sah shalat dengan adanya pembacaan al-Fatihah dan tidak ada satu amalan yang sebanding dengan fahala Fatihah, dengan alasan inilah al-Fatihah disebut sebagai Ummul Quran, dan juga karena banyaknya nama sebutan baginya juga menjadi satu alasan kemuliaanny karena banyaknya nama menunjuki kepada mulianya sesuatu,dan karena sebagian dari nama-nama surat al Fatihah yaitu : surat doa, surat munajah (curhatan), surat tafwidh (berserah diri), dan al Fatihah juga bisa digunakan untuk meruqyah, serta bisa menjadi sebagai obat. Karena Rasulullah SAW. bersabda : "al Fatihah menjadi obat bagi segala penyakit." Dan para ulama pun berkata : "bila engkau sakit atau mengaduh/mengeluh engkau mesti membaca Fatihah, karena ia bisa menyembuhkannya."

ilmu mawarist: Anak Laki Laki

Anak laki laki adalah orang yang paling istimewa dalam menerima warisan, ia tidak terhalang oleh seorangpun dan dapat menghalangi banyak orang, dan juga ia bersatu sebagai ashabah, orang yang mengambil seluruh sisa harta, jika seseorang wafat, lalu ia meninggalkan seorang anak laki laki, maka ia mengambil seluruh harta, jika anak laki laki yg ditinggalkan lebih dari satu, maka harta dibagi rata diantara mereka, jika setelah wafat harta tak kunjung dibagi, lalu salah seorang dari anak laki laki tersebut wafat juga, maka ia tetap berhak mendapat harta warisan, meskipun ia telah wafat ketika pembagian harta, karena yang ditinjau adalah keberadaan pewaris ketika meninggal mayat, bukan ketika pembian harta, beda halnya dengan kasus jika si anak laki laki lebih duluan meninggal dari ayahnya, maka ia dan keturunannya tidak mendapatkan harta dari ayah samasekali, hal ini dalam istilah adat aceh disebut dengan istilah patah tutu, istilah ini hakikatnya adalah terhalangnya cucu laki laki karena adanya anak laki laki.

Referensi: Kanzurraghibin Juz 3 Hal 141 Cet Dar Fikr

فَصْلٌ الْأَبُ وَالِابْنُ وَالزَّوْجُ لَا يَحْجُبُهُمْ أَحَدٌ عَنْ الْإِرْثِ (وَابْنُ الِابْنِ) وَإِنْ سَفَلَ (لَا يَحْجُبُهُ) مِنْ جِهَةِ الْعَصَبَةِ (إلَّا الِابْنَ أَوْ ابْنَ ابْنٍ أَقْرَبَ مِنْهُ) وَيَحْجُبُهُ أَصْحَابُ فُرُوضٍ مُسْتَغْرِقَةٍ، كَأَبَوَيْنِ وَبِنْتَيْنِ أَخْذًا مِمَّا سَيَأْتِي أَنَّهَا تَحْجُبُ كُلَّ عَصَبَةٍ



KISAH SAAT LAHIRNYA IMAM SYAFI'I


 .

Macam-macam ruh dan kondisinya

Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati hal ini sangat jelas firman Allah SWT :


كُلّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahala kalian”. (Surat Ali `Imran: 185).

Kata  "mati" atau "kematian" tidak akan dikatakan kecuali apabila ruh telah berpisah dari jasad, namun kali ini kami akan berbagi  sedikit tentang kondisi pencabutan ruh. Di dalam Hasyiah Ianatuttalibin syeh sayyid Abu Bakar syata menyebutkan pada permasalahan shalat jenazah, segala arwah itu dapat dibagi kepada lima macam:

1,Ruh para ambiya
2.Ruh para syhada (orang-orang syahid)
3.Ruh orang-orang ta'at
4.Ruh orang-orang bermaksiat dari orang beriman
5.Ruh segala orang kafir.

Setiap kelima pembagian tersebut memiliki berbagai macam keberagamannya saat dicabut oleh Allah SWT melalui malaikat izrailnya.
Adapun ruh para ambiya keluar dari jasadnya dengan bentuk seperti  jasad disertai dengan bau miski dan kafur ( wangian yang sangat harum) ruh tersebut menuju surganya Allah memakan makanan lezat dan kenikmatan lainnya, di waktu malamnya ruh para ambiya ini menetap pada tempat yang dipenuhi lampu-lampu hias yang indah dan anggun.
 Adapun ruh para syuhada apabila keluar dari jasadnya maka Allah jadikan ruh mereka menetap diatas satu burung yang hijau yang membawa ruh-ruh tersebut mengelilingi sungai-sungai di surga Allah SWT, memakan dan minum dengan penuh kenikmatan, diwaktu malam meraka menetap disuatu tempat yang indah bola lampunya bergantungan terbuat dari emas.
Selanjutnya  ruh orang-orang ta'at dari kalangan mu'min akan Allah pertempatkan dalam kebun surganya para ruh tersebut tidak makan dan tidak bernikmat-nikmat melainkan hanya melihatnya saja, namun seperti kita ketahui melihat nikmatnya saja itu sudah merupakan nikmat terbesar bagi kita, semoga Allah memberi kebaikan kepada semua kita saat pencabutan ruh nantinya.
Keempat adalah ruh orang yang maksiat kepada Allah dari kalangan orang mukmin ruh meraka akan Allah tempatkan diantara langit dan bumi layaknya seperti kapas yang  berterbangan. Semoga Allah menjauhkan kita semua dari bahagian ini, Amin.
kelima, ruh orang-orang kafir akan ditempatkan diatas burung yang hitam dan berada dalam satu penjara di bawah bumi yang ketujuh badannya melengket dengan bumi dan mereka akan merasakan kesakitan yang luar biasa, sehingga hal ini bisa dirasakan oleh jasadnya dialam kubur sana.

Referensi : Hasyiah I'anatuttalibin Juz 2 Hal 107 Cet, Haramain

(واعلم) أن الأرواح على خمسة أقسام: أرواح الأنبياء، وأرواح الشهداء، وأرواح المطيعين، وأرواح العصاة من المؤمنين، وأرواح الكفار.
فأما أرواح الأنبياء: فتخرج عن أجسادها، وتصير على صورتها مثل المسك والكافور، وتكون في الجنة، تأكل، وتتنعم، وتأوي بالليل إلى قناديل معلقة تحت العرش.
وأرواح الشهداء: إذا خرجت من أجسادها فإن الله يجعلها في أجواف طيور خضر تدور بها في أنهار الجنة، وتأكل من ثمارها، وتشرب من مائها، وتأوي إلى قناديل من ذهب معلقة في ظل العرش، هكذا قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم -.
وأما أرواح المطيعين من المؤمنين: فهي في رياض الجنة، لا تأكل ولا تتنعم، لكن تنظر في الجنة فقط.
وأما أرواح العصاة من المؤمنين: فبين السماء والأرض في الهواء.
وأما أرواح الكفار: فهي في أجواف طيور سود في سجين، وسجين تحت الأرض السابعة، وهي متصلة بأجسادها، فتعذب أرواحها، فيتألم بذلك الجسد.
كالشمس: في السماء الرابعة، ونورها في الأرض، كما أن أرواح المؤمنين في عليين، متنعمة ونورها متصل بالجثة.


Ngopi ? jangan lupa niatkan ibadah

Deskripsi Masalah:

Tentunya kopi dan teh tidak asing lagi di telinga masyarakat khususnya di dunia pesantren dan begitu pula kopi dan teh sering di sajikan di majelis pengajian khususnya di Indonesia bahkan di dalam suatu makalah Habib Ahmad Bin hasan Alattas mengatakan bahwa Said Ahmad bin Ali Bahri Alqadimi beliau bernah berjumpa sama kanjeng nabi Beliau Sayyid mengatakan kepada nabi SAW, ya Rasulullah saya mau mendengarkan hadis langsung sama engkau tanpa perantara maka nabi menjawab saya akan memberikan Engkau tiga hadist salah satunya:

مازال ريح قهوة البن في الإنسان تستغفرله الملائكة

“ malaikat akan senatiasa memohon ampun untuk orang yang selalu beraroma kopi di mulutnya”

Para peneliti mengemukakan bahwa minuman kopi juga berkhasiat dan berenergi disamping itu kopi mempunyai aroma yang menarik juga mempunyai cita rasa tersendiri. Sejarah mencatat bahwa kopi pertama kali di temukan oleh bangsa Etophia yang bertempat di benua Afrika kurang lebih pada tahun 1000 M.

Pertanyaan:

Bagaimanakah niat yang di anjurkan dan menikmati kopi dan teh?

Jawaban:

Disebutkan dalam kitab Anniyat bahwasanya niat minum kopi dan teh ada lima :

1. Mengikuti perbuatan sebahagian ulama salaf dalam minum kopi dan teh
2. Sebagai pembangkit dalam menjalani ibadah
3. Menampakan kesenangan bagi seumpama rumah yang dikunjungi
4. Mengaplikasi adab dan sunnah minum


الاقتداء ببض السلف الصالح في شربهم له النشاط للعبادة إدخال السرور لصاحب البيت المزار تطبيق الآداب والسنن للشرب


Referensi: kitab Anniyat halaman 136 Cet Darul shalih mesir karangan Alhabib Sa’ad Muhammad bin Alawy Al Aidarusy Alhadramy wafat pada tahun 1432 hijriah

Pentingnya kelurusan niat dalam sebuah pernikahan

Deskripsi masalah:

Pernikahan merupakan salah satu hal yang sangat di cintai Allah dan Rasul  bahkan nabi Muhammad SAW peRnah bersabda  dalam satu hadist :

تناكحوا تكثروا فإني مباه بكم الأمم يوم القيامة 

“menikahlah kalian dan perbanyaklah keturunan karena sesungguh nya  saya bangga dengan sebab  kalian ummat  pada hari  hari  kiamat”

 Tentunya dalam menghadapi pernikahan sangat di utamakan niat  yang luhur yang di ridhai oleh Allah dan doa yang mustajabah, bukan semata untuk melepaskan hawa nafsu. Berikut ini penulis akan mencoba menukil redaksi dalam kitab Anniyat tentang anjuran untuk memperbaiki niat dan beberapa doa doa yang mustajabah.


للشخ العارف بالله علي بن أبي بكر السكران  ( نويت بهذا التزويج ونويت محبة الله عز وجل , والسعي في تحصيل الولد لبقاء جنس الإنسان  ونويت محبة رسول الله في تكثير مباهاته لقوله صلى الله عليه وسلام ( تناكحوا تكاثروا فإني مباه بكم الأمم يوم القيامة )
نويت بهذا التزويج وما يصدر مني من قول وفعل التبرك بدعاء الولد الصالح وطلب الشفاعة بموته  صغيرآ  إذا مات قبلي ونويت بهذا التزويج الحصن من الشيطان وكسر التوقان  وكسر غوائل  وغض البصر  وقلة الوسواس, تويت حفظ الفرج من الفواحش
نويت  بهذا التزويج ترويح النفس وإيناسها بالمجالسة  والنظر والملاعبة  وإراحة القلب وتقوية له على العبادة. نويت به تفريغ القلب عن تدبير المنزل والتكفل  بشغل الطبخ والكنس  والفرش, وتنظيف  الأواني وتهيئة أسباب المعيشة
ونويت به مجاهدة النفس ورياضتها بالرعاية والولاية والقيام بحقوق الأهل  والصبر على أخلاقهن واحتمال الأذى منهن  والسعىي في إصلاحهن  وإرشادهن إلى طريق الخير  والإجتهاد في طلب الحلال لهن  والأمر بتربية الأولاد وطلب الرعاية من الله على ذلك  والتوفيق له والانطراح بين يديه, والافتقار إليه في تحصيله , ونويت هذا كله لله تعالى
نويت هذا وغيره من جميع ما أتصرف فيه وأقوله وأفعله في هذا التزويج لله تعالى
نويت بهذا التزويج مانوى به عبادك الصالحون والعلماء العاملون,  اللهم وفقنا كما وفقتهم  وأعنا كما أعنتهم , وأتمم لنا تقصيرنا وتقبل منا ولاتكنا إلى أنفسنا طرفة عين, وأصلح لنا ذلك بمنك وكرمك في خير وعافية
اللهم اغفرلنا  وارحمنا وارض عنا وتقبل منا وأدخلنا الجنة ونجنا من النار  وأصلح لنا شأننا كله
اللهم اجعل لي في هذا التزويج  وفي جميع أشيائي العون والبركة  والسلامة  وسلمني من أن تشغلني عنك وأن لاتحول بيني وبين طاعتك, واجعل لي فيه الكفاف والعفاف
اللهم إني وحركتي وسكوني  وديعة فاحفظني أينما كنت , تولني بتوليتك التي توليت بها عبادك الصالحين
اللهم أعنا ووالدينا  وأولادنا وأزواجنا ومشائخنا  وإخواننا, وجميع قرابا تنا وأرحامنا , وجميع أصحاب الحقوق, ومن له أدنى حق
اللهم أعنا وإياهم على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك يارب العالمين
اللهم اهدنا ووفقنا وإياهم يارب العلمين , اللهم أحينا وإياهم على الكتاب والسنة يا ذا الجلال والإكرام, اللهم إنا نسألك لنا و لهم القبول منا وما قربنا  إليك آمين
وصل  بجلالك على أشرف المرسلين محمد خاتم النبيين وعلى آله وصحبه وسلام . والحمد لله رب العالمين

Referensi : kitab Anniyat halaman 76 cetakan darul shalih mesir karangan Alhabib Sa’ad Muhammad bin Alawy Al Aidarusy Alhadramy.  Yang ditahkik oleh doctor Lukmanul Hakim Al indonesia.





BERDIRI MEMULIAKAN ULAMA

Deskripsi masalah :

Ulama merupakan warisan nabi Ulama insan terlebih yang menyambungkan risalah Rasulullah SAW dalam dakwah dan setiap pengajian mereka. Karena itu memuliakan Ulama merupakan hal yang sangat penting. Banyak cara yang bisa dilakukan dalam memliakan Ulama atau orang-orang yang memiliki kelebihan dalam bidang agama diantaranya dengan mencium tangannya dan sebagainya yang ini semua merupakan adab kepada mereka dan memiliki kesunnahan.

Pertanyaan :

Bagaimanakah hukum berdiri memuliakan Ulama seperti yang biasa dilakukan para thullab ?

Jawaban :

Memuliakan Ulama yang bertujuan memuliakannya dengan cara berdiri ini hukumnya sunnah dan mendapat pahala dari Allah SWT selama tidak ada unsur ria dan membanggakan diri.

Hasyiah Ianatuttalibi Juz 3 Hal 305

ويسن تقبيل يد الحي لصلاح أو نحوه من الأمور الدينية، كعلم وزهد، ويكره ذلك لغني أو نحوه من الأمور الدنيوية، كشوكة ووجاهة، ويسن القيام لأهل الفضل إكراما، لا رياء وتفخيما.
اه.






Macam-macam hukum menangis bagi mayat

Deskripsi masalah :

Kematian akan dirasakan oleh setiah makhluk Allah yang bernyawa, kesedihan juga tentunya akan dialami oleh setiap yang ditinggalkan baik itu keluarganya atau taulan atau  lainnya. Ini merupakan hal yang lumrah karena kasih sayangnya insan sesama insan.

Pertanyaan :

Apa hukumnya menangis bagi mayat ?

Jawaban :

Hukum menangis kepada orang yang telah meninggal terdapat rincian sebagai berikut :
1.Boleh, Bila tangisan itu karena takut kepada mati dan bagaimana keadaannya usai mati nanti di yaumul qiyamah.

2.Sunat, hukum ini menangis karena  yang wafat itu seorang ulama, tokoh islam, orang salih.

3. Makruh, Menangis kepada mayat karena tidak dapat menyambung hubungan silaturahmi dan kebaikan kebaikan .

4 Haram, menangis karena tidak menerima dengan takdir Allah SWT dan tidak merelakannya.

Referensi :

Qulyubi Juz 1 Hal 401 Cet Beirut 2005

(تنبيه) إن كان البكاء على الميت لخوف عليه من هول يوم القيامة ونحوه فلا بأس به، أو لمحبة ورقة كطفل فكذلك، لكن الصبر أجمل، أو لصلاح وبركة وشجاعة وفقد نحو علم فمندوب، أو لفقد صلة وبر وقيام بمصلحة فمكروه، أو لعدم تسليم للقضاء وعدم الرضا به فحرام.



Biografi Syeikh Abdul Karim al-Jily

Dalam beberapa postingan kami ada beberapa postingan yang menyebut tentang Kitab Insan Kamil fi ma’rifatil al-Awakhir wal awail. sebuah kitab sufi karangan Syeikh Abdul Karim bin Ibrahim al-Jily (wafat 805 H). Maka ada baiknya juga kami membuat postingan tentang profil beliau secara singkat.

Al-Jliy ini adalah nisbah kepada Jilam, satu kota di Iran, ada yang menyebutnya dengan al-Jily, ada juga dengan al-Jilani dan ada juga dengan al-Kailany. Dalam sejarah Islam, banyak memang tokoh yang dinisbahkan kepada Kota Jilan, dalam penisbatan tersebut ada yang menyebutnya dengan al-Jilani dan ada juga dengan al-Jily. Namun sebagian ahli sejarah membedakan kedua nisbah tersebut. Jika dinisbahkan kepada Kota Jilan maka disebut dengan Jilani namun jika dinisbahkan kepada salah seorang dari kota Jilan maka disebut dengan al-Jily. Haji Khalifah dalam kitabnya Kasyf Dhunun menyebutkan bahwa Syeikh Abdul Karim al-Jily merupakan keturunan Syeikh Abdul Qadir al-Jailani (wafat 561 H). Beliau dilahirkan tahun awal muharram tahun 767 H (1365 M) di kota Bagdad. Kemudian beliau keluar dari Bagdad dalam rangka mencari ilmu. Pengembaraan beliau ini sampai ke Zabid, Yaman dan berguru kepada salah seorang ulama Sufi terkemuka di sana, Syeikh Ismail Jabarti. Tahun 799 H beliau ke Makkah dan bertemu dengan para ulama sufi di sana. Tahun 809 H beliau mengembara ke Kota Kairo dan berkumpul dengan ulama al-Azhar. Pada tahun yang sama beliau juga menuju ke kota Gazza, Palestina. Kemudian karena kerinduan kepada sanga guru di Zabid, beliau kembali ke Zabid Yaman, menjenguk guru beliau Syeikh Islamil Jabarti pada tahun 805 H,setahun sebelum wafat guru beliau tersebut. Setelah wafat gurunya, beliau masih menetap di Zabid hingga akhirnya menyelesaikan salah satu kitab yang bernama Insan Kamil. Setelah itu beliau menziarahi beberapa kota lain di negri Yaman. Beliau juga sempat bertemu dengan mengambil faedah ilmu dari pendiri Thariqat Naqsyabandiyah, Syeikh Khawajah Bahauddin Muhammad bin Syah Naqsyabandi (wafat 827 H).

Para ahli sejarah berbeda pendapat tentang wafatnya beliau. Menurut Haji Khalifah beliau wafat tahun 805 H. Menurut Syeikh Abdaruddin al-Ahdal beliau wafat tahun 826 H. Sedangkan menurut oreantalis Inggris, Reynold A. Nicholson, beliau wafat sekitar tahun 820 H. Sedangkan menurut Louis Massignon, beliau wafat tahun 832 H/1428 M di Zabid dan dimakankan di sana.
Kitab Karya Syeikh Abdul Karim al-Jily

Syeikh Abdul Karim al-Jili memiliki beberapa karangan, antara lain;
1. Munadharah Ilahiyah
2. al-Kahf war Raqim
3. Jannatul Ma'arif wa Ghayah al-Murid wal 'Arif
4. Qamus al-Aqdam wan Namus al-A'dham
5. Qasidah Ainiyah
6. Quthb al-Ajaib wa Falak al-Gharaib
7. Mataib al-Wujud
8. Kamalat Ilahiyah fi Shifat al-Muhammadiyah
9. KItab Insan Kami
10. Dll

sepuluh macam binatang penghuni surga

Surga adalah tempat indah yang disediakan Allah kepada hamba-Nya yang bertaqwa semasa hidup di dunia. Tak bisa dipungkiri bahwa keindahan surga membuat semua orang punya keinginan yang kuat untuk menempatinya kelak meski dalam hidupnya jarang untuk beribadat kepada-Nya, walau pada kenyataan tidak semua orang kelak bisa memasuki surga.
Uniknya, ternyata yang menjadi ahli surga bukan hanya dari kalangan manusia semata. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa ada 10 binatang yang kelak akan menjadi ahli surga. Berikut nama-nama hewan yang kelak menjadi penghuni surga ;

1. Unta Nabi Shaleh as
2. Anak lembu Nabi Ibrahim as
3. Kibas Nabi Ismail as
4. Sapi Nabi Musa as
5. Ikan Nabi Yunus as
6. Keledai Nabi ‘Uzair as
7. Semut Nabi Sulaiman as
8. Burung Hud-hud Ratu Balqis
9. Unta Nabi Muhammad saw
10. Anjing ashabul kahfi yang kemudian diubah rupanya menjadi seekor kibas.
Tentang nama hewan tersebut timbul perbedaan pendapat dikalangan ulama. Ada yang berpendapat bahwa namanya adalah Qithmir, ada yang berpendapat bahwa namanya adalah Turam dan ada juga yang berpendapat bahwa namanya adalah Huban.


Referensi
Daqaiqul Akhbar hal 29. Cet. haramain
ماقال مقاتل عشرة من الحيوانات تدخل الجنة ناقة صالح و عجل إبراهيم و كبش إسماعيل و بقرة موسى و حوت يونس و حمار عزيز و نملة سليمان و هدهد بلقيس و ناقة محمد عليهم السلام و كلب أصحاب الكهف يصير الله تعالى فى صورة الكبش و يدخله الجنة




Syarat Syarat Sah Jumat

Shalat jumat merupakan ibadah waiib yang rutin dilakukan seminggu sekali, yaitu pada hari jumat, shalat pada hari sayyidul ayyam ini sama halnya dengan shalat shalat yang lain, dari segi syarat dan rukun, bahkan mempunyai syarat lebih dibandingkan dengan shalat pada umumnya.
Pertanyaan:

Apakah syarat syarat sah jumat ?

Jawab: 

Syarat sah shalat jumat ada enam yaitu:

1. Dilakukan secara berjamaah, wajib berjamaah pada rakaat pertama, baik sebagai imam atau makmum, bagi orang yang tidak mendapatkan minimal satu rakaat, maka berniat sebagai shalat jumat, kemudian ketika imam selesai, maka ia meneruskan sebagai shalat dhuhur, kemudian jamaah juga dilakukan minimal berjumlah empat puluh orang hingga akhir shalat, jika salah satu dari mereka berhadats atau keluar dari jamaah, maka batallah shalat seluruhnya.

2. Dilakukan minimal empat puluh orang, jamaah jumat harus dilakukan minimal empat puluh orang, termasuk didalamnya imam, makmum, orang sakit tidak termasuk orang yang bermusafir.

3. Dilaksanakan pada pemukiman penduduk, yakni jumat harus dilakukan dalam wilayah yang masih dianggap dalam kawasan pemukiman penduduk, walaupun berada dipnggir desa, tidak boleh dilaksanakan di hutan atau di tempat yang sunyi dari pemukian.

4. Dilakukan pada waktu dhuhur, jumat merupakan pengganti daripada shalat dhuhur, maka dilakukan pada waktu dhuhur, dua rakaat shalat dan dua rukun khutbah wajib dilakukan pada waktu dhuhur, bagi orang yang tidak melaksanakan jumat, maka tidak sah melakukan shalat dhuhur jika masih tersisa waktu yang cukup untuk melakukan shalat jumat, jika dalam suatu daerah penduduk tidak melakukan shalat jumat, dan menggantinya dengan shalat dhuhur, maka shalat mereka tidak sah.

5. Shalat dilakukan setelah khutbah, berbeda dengan shalat dua hari raya yang dilkakukan sebelum khutbah, shalat jumat harus dikakukan selesai dua rukun khutbah.

6. Dilakukan secara beriringan antara khutbah dan shalat.

Referensi: kitab Fathul mu'in Juz 2 Hal 57 Cet Haramain



saksikan Juga Pengajian Tastafi bersama Aba Nisam dengan Tema:

Akibat Fasah Nikah [Aba Helmi Bin Imran]






donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja