Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Perbedaan Ayat Makkiyyah Dan Madaniyyah

Al Quran diturunkan dalam dua masa, yakni masa sebelum nabi hijrah ke Madinah (ketika nabi menetap di Mekkah) ini yang dinamakan dengan ayat Al makki karena nisbatnya kepada mekkah. Adapun yang kedua masa disaat nabi sudah hijrah ke Madinah dimana ayat ayat Allah yang turun disaat itu dinamakan ayat Al madani karena nisbatnya kepada kota Madinah. Ayat Makki dalam Alquran jika dikalkulasikan sekitar 19/30 nya Al Quran, sedangkan ayat Madani sekitar 11/10 nya Al Quran.

Jumlah surat Makki dan Madani 

Adapun surat-surat Madani dalam Al Quran adalah : Surah Al Baqarah, Ali Imran, Annisa’, Al Ma’idah, Al Anfal, At-Taunah, Al Hajj, An Nur, AL Ahzab, Al Qital, AL Fath, Al hujurat, Al Hadid, Al Mujadalah, Al Hasyr, Al Mumtahinah, As-shaf, Al Jumu’ah, Al Munafiqun, At Taghabun, At Thalaq, At Tahrim dan surah Iza Jaa Nashrullahi Wal Fath (An Nashr). Selain surat-surat ini semuanya tegolong dalam surat Makki.

Perbedaan Makki dan Madani

Secara Umum ayat Makki dan Madani itu bisa dibedakan dengan 3 hal :

1. Ayat-ayat Makki secara global lebih pendek-pendek dibandingkan ayat Madani, hal itu terbukti surat Madani itu bahwa surat Madani yang lebih dari 11/30 nya Al Quran, jumlah ayat-ayatnya hanya 1456, yang mana ayat-ayat itu seperempatlebih sedkit dari seluruh ayat Al Quran.

2. Khitab (pembicaraan) terhadap orang banyak pada ayat-ayat madani biasanya dikhitabkan dengan ( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا) sangat sedikit dengan khitab (يَا أَيُّهَا النَّاسُ). Adapun ayat-ayat Makki sebalik demikian dan tidak pernah dijumpai dalam surat-surat Makki yang dimulai dengan (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا). Adapun dalam surat Madani ada dijumpai (يَا أَيُّهَا النَّاسُ) sebanyak tujuh kali.

3. Ayat-ayat Makki tidak dirincikan pembinaan hukum akan tetapi pad ayat-ayat itu di bahas tentang maksud awal agama yaitu mengesakan Allah SWT, dalil-dalil wujud Allah dan memberi kabar takut tentang azab, kondisi hari kiamat dan mengajak ummat agar berakhlak yang baik.


Anjuran Berprasangka Baik Bagi Orang Meninggal

Deskripsi Masalah:

Setiap jiwa pasti merasakan kematian, Al Qur’an surat Ali Imran ayat 185 jelas menyatakan hal ini. Dalam sajak Aceh disebutkan “Haros ta udep Wajeb Ta matee” (Hidup hal yang jaiz sedangkan kematian hal yang wajib). Seseorang yang telah berpulang kepada Allah SWT, tidak ada seorangpun yang mengetahui keadaanya (baik atau tidak) selain Allah SWT.

Petanyaan:

Bagaimana anjuran sikap (prasangka) seorang mukmin terhadap mukmin lainnya yang meninggal?

Jawaban:

Islam menganjurkan untuk berprasangka baik (dengan menganggap pengampunan dan rahmat Allah) terhadap orang meninggal dunia. Hal ini seperti yang tersebut dalam sebuah hadist Rasulullah SAW :

لا يموتن أحدكم إلا وهو يحسن الظن بالله تعالى

“Tidak meninggal salah satu kalian  kecuali kalian perbagus
 sangkaan dengan Allah ta’ala” (HR.Muslim)

-Mahalli Juz 1 Hal 374 Cet, Haramain


(وليحسن ظنه بربه سبحانه وتعالى) روى مسلم عن جابر قال: سمعت النبي - صلى الله عليه وسلم - يقول قبل موته بثلاث: «لا يموتن أحدكم إلا وهو يحسن الظن بالله تعالى» أي يظن أنه يرحمه ويعفو عنه.
ويستحب لمن عنده تحسين ظنه وتطميعه في رحمة الله تعالى.


Paha Termasuk Aurat?

A. Menutup aurat di depan khalayak ramai hukumnya wajib, karena beberapa dalil yaitu :

1. Firman Allah SWT dalam surah al-A’raf 28 :


وَإِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً قَالُوا وَجَدْنَا عَلَيْهَا آبَاءَنَا 

2. Hadits Ibnu Abbas :

(كانوا يطوفون البيت عراة فهي فاحشة)

3. Hadits Sy. Ali bin Abi Thalib :

(لا تبرز فخذك ولا تنظر الى فخذ حى ولا ميت)

B. Menurut pendapat kuat, menutup aurat ketika sendiri hukumnya wajib, karena hadits Sy. Ali diatas. Pendapat lain menyatakan tidak wajib karena alasan bahwa kewajiban menutup aurat supaya terhindar dari pandangan manusia. Dalam kondisi sendirian maka aurat tidak wajib ditutupi ketika tidak ada yang melihat.

C. Menutup aurat  didalam shalat hukumnya juga wajib karena hadits

لا يقبل الله الصلاة حائض الا بخمار

“Allah tidak akan menerima shalat orang yang baligh kecuali dengan adanya penutup”

Hadits ini diriwayat oleh Abu Daud dan Tirmidzi. Menurut beliau status hadits ini adalah hasan sahih. Imam al-Hakim juga meriwayat hadits ini dalam al-Mustadrak dan beliau berkata hadits ini shahih berdasarkan syarat Muslim.

Maksud حائض disini adalah orang yang telah baligh. Interpretasi ini karena alasan bahwa seseorang biasanya memasuki masa baligh ketika sampai batasan usia haidh.
Menutup aurat merupakan salah satu syarat shalat, bila aurat terbuka walaupun sedikit maka shalat menjadi batal. Baik shalat dikerjakan ditempat sunyi maupun dihadapan orang banyak. Bila seseorang telah selesai shalat, lalu menyadari bahwa ada bagian aurat yang terbuka, maka wajib mengulang kembali shalat yang telah dikerjakan berdasarkan pendapat mazhab. Namun, bila ada probabilitas bahwa auratnya terbuka ketika selesai shalat maka tidak wajib lagi di replay dengan tanpa khilaf.

D. Batasan aurat dalam shalat

Batasan aurat laki-laki terdapat 5 pendapat :

1. Shahih manshus : aurat laki-laki adalah bagian tubuh yang terletak antara pusat dan lutut. Syeikh Abu Hamid berkata, Imam Syafi’i menyebutkan bahwa aurat laki-laki yang merdeka dan budak adalah antara pusat dan lutut. Sedangkan bagian pusar dan lutut sendiri bukanlah merupakan aurat seperti keterangan dalam al-Um dan al-Imla’.

2. قيل : keduanya adalah aurat
3. قيل : pusat adalah aurat, sedangkan lutut bukan aurat
4. قيل : sebalik pendapat ketiga
5. قيل : yang menjadi aurat hanya qubul dan dubur seperti  di-hikayah oleh Imam Rafi’i dari Abi Sa’id al-Ishthikhary. Ini adalah pendapat syadz lagi mungkar.

Batasan aurat perempuan dalam shalat adalah seluruh badan kecuali muka dan telapak tangan sampai pergelangan.

E. Menjawab Kesalahpahaman Interpretasi Hadits Aisyah Ra

Dalam hadits Aisyah disebutkan :

حَدَّثَنَا يَحْيَي بْنُ يَحْيَي، وَيَحْيَي بْنُ أَيُّوبَ، وَقُتَيْبَةُ، وَابْنُ حُجْرٍ، قَالَ يَحْيَي بْنُ يَحْيَي: أَخْبَرَنَا، وقَالَ الْآخَرُونَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ يَعْنُونَ ابْنَ جَعْفَرٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي حَرْمَلَةَ، عَنْ عَطَاءٍ، وَسُلَيْمَانَ ابني يسار، وأبي سلمة بن عبد الرحمن، أن عائشة، قَالَتْ: " كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُضْطَجِعًا فِي بَيْتِي، كَاشِفًا عَنْ فَخِذَيْهِ أَوْ سَاقَيْهِ، فَاسْتَأْذَنَ أَبُو بَكْرٍ فَأَذِنَ لَهُ وَهُوَ عَلَى تِلْكَ الْحَالِ، فَتَحَدَّثَ، ثُمَّ اسْتَأْذَنَ عُمَرُ، فَأَذِنَ لَهُ وَهُوَ كَذَلِكَ، فَتَحَدَّثَ ثُمَّ اسْتَأْذَنَ عُثْمَانُ، فَجَلَسَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسَوَّى ثِيَابَهُ، قَالَ مُحَمَّدٌ: وَلَا أَقُولُ ذَلِكَ فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ، فَدَخَلَ فَتَحَدَّثَ فَلَمَّا خَرَجَ، قَالَتْ عَائِشَةُ: دَخَلَ أَبُو بَكْرٍ فَلَمْ تَهْتَشَّ لَهُ وَلَمْ تُبَالِهِ، ثُمَّ دَخَلَ عُمَرُ، فَلَمْ تَهْتَشَّ لَهُ وَلَمْ تُبَالِهِ، ثُمَّ دَخَلَ عُثْمَانُ فَجَلَسْتَ وَسَوَّيْتَ... أخرجه مسلم فى باب فضائل عثمان

Sebagian kalangan, seperti Malikiyyah dll, berpendapat bahwa paha tidak termasuk bagian aurat karena dasar ini hadits. Imam Nawawi berkata : Hadits ini tidak dapat dijadikan hujjah dalam masalah batasan aurat, karena didalamnya masih ada keraguan disisi perawi bagian tubuh mana yang terbuka, apakah paha atau betis.

Referensi : Al-Majmu’ Syarah Muhazzab Juz 4 Halaman 186-193 Dar Kutub al-Ilmiyyah
Shahih Muslim Juz 8 Halaman 181 Dar al-Hadits al-Qahirah


Doa Terhindar Sakit Mata


Sebagian objek yang sangat  menaruh perhatian dalam islam adalah terhadap dunia kesehatan. Hal ini dikarenakan sehat merupakan modal utama untuk bekerja, beribadah dan melaksanakan aktivitas lainnya. Anjuran dalam Islam yang selalu menekankan agar setiap orang memakan makanan yang baik dan halal di situ membuktikan Islam begitu menjaga setiap pemeluknya. Salah satu organ tubuh  yang sangat penting di dalam tubuh manusia adalah mata Karena itu banyak orang yang berusaha untuk selalu menjaga kesehatan mata, Akan tetapi nampaknya masih banyak orang yang belum sanggup menjaga keutuhan matanya, hal ini Terbukti dari banyaknya korban yang harus menggunakan alat pembantu lainnya untuk melihat.

Usaha selalu dilakukan dengan maksimal, doa juga harus selalu dilangitkan. Mengenai  hasil merupakan hak prerogatif  dari Allah SWT, oleh karena itu nabi Muhammad SAW memberikan  amalan agar mata selalu terjaga, yaitu dengan membaca  disaat  muadzin  membaca “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”  :

مَرْحَبًا بِحَبِيبِي وَقُرَّةِ عَيْنِي مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم
“Selamat datang kekasih dan penyejuk mataku, Muhammad bin Abdullah"

lalu mengecup dua jari jempolnya dan diletakkan (diusapkan) ke kedua matanya,

Nabi Muhammad SAW bersabda :

مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ يَقُولُ : أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ مَرْحَبًا بِحَبِيبِي وَقُرَّةِ عَيْنِي مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ يُقَبِّلُ إبْهَامَيْهِ ، وَيَجْعَلُهُمَا عَلَى عَيْنَيْهِ لَمْ يَعْمَ ، وَلَمْ يَرْمَدْ أَبَدًا

“Barangsiapa yang mendengar bacaan muadzin “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”, lalu ia berdoa “Marhaban bihabibiy waqurrati ainiy Muhammadibni Abdillah Saw.”, lalu mengecup dua jari jempolnya dan diletakkan (diusapkan) ke kedua matanya, maka ia tidak akan mengalami buta dan sakit mata selamanya.”

Sumber : Ianatutthalibin Juz 2 Hal 234 Cet, Haramain

Baca Juga :

- Azan ketika mengubur mayat

 http://lbm.mudimesra.com/2012/07/azan-ketika-mengubur-mayat.html

- Asal usul Tashwib

http://lbm.mudimesra.com/2018/12/asal-usul-tashwib-saat-azan.html

Kewajiban Memandikan Mayat Tenggelam

Deskripsi Masalah:

Pada dasarnya setiap muslim memiliki kewajiban terhadap saudara sesama muslim yang meninggal dunia. Kewajiban yang harus segera dilaksanakan adalah mengurus jenazahnya. Termasuk diantara hal yang pelu di tajhiz dari mayat adalah memandikannya. Maksud dari memandikan jenazah adalah membersihkan badan mayat dari kotoran dan najis. Namun dalam suatu kondisi, terkadang mayat diperdapatkan dalam kondisi sudah bersih dengan air seperti halnya mayat tenggelam.

Pertanyaan:

Bagaimanakah status jenazah yang tenggelam dan ditemukan dalam keadaan sudah bersih, apakah masih berkewajiban terhadap ummat muslim untuk memandikannya kembali?

Jawaban:

Menurut pendapat Shahih berkewajiban terhadap ummat muslim untuk memandikan jenazah tenggelam seperti kasus diatas, walaupun didapatkan dalam keadaan bersih. Karena memandikan jenazah itu diperintahkan diatas yang ditinggalkan. Jadi, kewajiban baru akan gugur bila proses memandikan dilaksanakan dengan perbuatan al ghasil (orang yang memandikan).

- Al Mahalli Juz 1 Hal 376 Cet, Haramain


(ولا تجب نية الغاسل) أي لا تشترط في صحة الغسل (في الأصح) لأن القصد بغسل الميت النظافة، وهي لا تتوقف على نية. والثاني يجب لأنه غسل واجب كغسل الجنابة فينوي عند إفاضة الماء القراح الغسل الواجب أو غسل الميت ذكره في شرح المهذب (فيكفي) على الأصح (غرقه) عن الغسل (أو غسل كافر) له (قلت:) كما قال الرافعي في الشرح (الصحيح المنصوص وجوب غسل الغريق، والله أعلم) لأنا مأمورون بغسل الميت فلا يسقط الفرض عنا إلا بفعلنا.

                



MUJADDID DARI MASA KEMASA

Makna Mujaddid  adalah seseorang yang diutus oleh Allah Swt untuk memperbarui kembali  ajaran-ajaran islam yang sudah sempat pudar dan ditinggalkan, dan membedakan kembali antara yang benar (sunnah) dan yang salah (bid’ah). Memperbarui  di sini bukanlah bermakna mendatangkan hal-hal baru dalam agama. Ini  tentu tidak boleh, karena hal tersebut merupakan bid’ah dhalalah dalam  agama. Tetapi tajdid adalah bermakna mengembalikan keadaan agama seperti  waktu baru kemunculannya, yakni zaman Nabi SAW. Sebagai contoh, kalau  ada sebuah baju sudah lusuh dan pudar, lalu kita bersihkan dan seterusnya kita beri warna sesuai dengan warna aslinya, maka itu  dinamakan kita telah memperbaharui baju tersebut sehingga nampak bersih  dan berwarna seperti sediakalanya..
Mujaddid ini  sendiri akan diutus seratus tahun atau seabad sekali oleh Allah Swt.  Dan kehadiran Mujaddid ini merupakan  bukti  ungkapan Rasululah di masa  dulu  memalui sebuah Hadistnya  “ Sesunguhnya Allah akan mengutus bagi  umat seseorang yang akan memperbarui ajaran agama umat tersebut”. (HR.  Hakim dan Baihaqi).

Berikut nama-nama Mujaddid dari masa kemasa:

1. Umar bin Abdul Aziz.
2. Muhammad bin Idris yaitu pendiri mazhab Syafie.
3. Al-Qazi Abul Abbas Ahmad bin Umar bin Sarij al-Baghdady.
4. Abu Hamid Ahmad bin Muhammad al-Isfarany. sebagian pendapat Sahal bin Sulaiman as-Sakluki.
5. Hijjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin al-Ghazaly.
6. Al-Imam Abu Qasim Abdul Karim bin Muhammad Arrafi’i.
7. Taqiuddin Muhammad bin
8. As-Suraj Umar bin Ruslan Al-Bulqainy.
9. Jalalussuyuthy.
10. Syamsul Muhammad bin Ahmad ar-Ramli
11. Sayyid Abdil Qadir bin Abi Bakar al-Aydrus al-Khuzramy, sebagian pendapat Sayyid Muhammad bin Rasulul barzanjy al-Madany.
12. As-Syihab Ahmad bin Umar Addayraby al-Mishry. Sebagian pendapat Abdurraauf al-Basybaisy al-Mishry.
13. Al-Alamah Abdullah bin hijazi as-Syarqawi al-Mishry.

 (وقيل الجميع) : أي كل من السيوطي والشيخ زكريا هذا. والمراد بالمجدد هو من يحيي ما أندرس من الدين، ويبين السنة من البدعة، وهوالمشار إليه في الحديث الصحيح: «إن الله يبعث لهذه الأمة من يجدد لها دينها» رواه أبو داود والحاكم والبيهقي . وكان في المائة الأولى عمر بن عبدالعزيز، وفي الثانية إمامنا أبو عبدالله محمد بن إدريس الشافعي ، وفي الثالثة القاضي أبو العباس أحمد بن عمر بن سريج البغدادي، وفي الرابعة الشيخ أبو حامد أحمد بن محمد الإسفرائيني شيخ العراقيين وقيل أبو سهل محمد بن سليمان الصعلوكي ، وفي الخامسة حجة الإسلام أبو حامد محمد بن الغزالي، وفي السادسة الإمام أبو القاسم عبدالکریم بن محمد الرافعي، وفي السابعة تقي الدين محمد بن دقيق العيد القوصي، وفي الثامنة السراج عمر بن رسلان البلقيني، وفي التاسعة الجلال السيوطي، وفي العاشرة الشمس محمد بن أحمد الرملي، وفي الحادية عشر السيد عبد القادر بن أبي بكر العيدروس الحضرمي وقيل السيد محمد بن رسول البرزنجي المدني، وفي الثانية عشر الشهاب أحمد بن عمر الديربي المصري وقيل عبدالرءوف البشبيشي المصري، وفي الثالثة عشر العلامة عبدالله بن حجازي الشرقاوي المصري كما رجاه لنفسه.

Rujukan : Hasyiah al-Fawaid Janiyyah Syaikh Yasin al-Fadani al-Makki Hal 73 Cet,
Darur rasyid.




Berharganya Ilmu Ketimbang Harta

Setiap manusia pasti mengiginkan kehidupan yang  sempurna,  yang  jauh dari  segala prolematika dan lika-liku kehidupan.Tetapi, tidak sedikit di antara manusia  yang menjadikan  standar kebahagiaan dalam hidupnya adalah bergelimang dengan material dan kekayaan. Pada dasarnya segala pemberian dari Allah SWT kepada hambanya berupa harta yang banyak dan  kekayaan yang berlelimpah  itu juga merupakan  salah satu bentuk ujian  yang Allah swt berikan kepada hambanya ,  seperti dalam firmannya:

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ
وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَ


“Adapun manusia apabila Tuhannya Mengujinya lalu dimuliakanya dan diberinya Kesenangan, maka dia berkata, Tuhanku telah memuliakanku. Adapun bila tuhannya mengujinya, lalu membatasi rizkinya, maka dia berkata “ Tuhanku menghinaku “. ( Qs. Al-Fajr [ 89 ]: 15-17 )

Maksudnya, tidaklah setiap orang yang dimuliakan dan diberi nikmat oleh Allah di dunia itu Allah benar-benar memberikan nikmat kepadanya. Bisa jadi hal itu merupakan ujian dan cobaan dari Allah bagi manusia. Dan tidaklah setiap yang  Allah sempitkan rizkinya, dengan memberikan rizki sekedar kebutuhannya dan tidak dilebihkan, berarti Allah menghinanya. Akan tetapi, Allah menguji hambanya dengan kenikmatan sebagai mana Allah juga menguji hambanya dengan kesulitan (kesempitan) .  
Oleh karena itu, para sahabat terdahulu mereka tidak mau kalau ilmu agamanya itu ditukar dengan harta benda. Mereka tidak mau kalau ilmu agama  yang mereka miliki  ditukar dengan sesuatu yang lebih rendah nilainya.  Dengan berbagai macam alasannya , diantaranya adalah 

فإن العلم يبقى والمال يفنى
"Ilmu itu Abadi, sedang harta adalah Musnah"

Dan juga  seperti apa yang dikemukakan oleh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib:

رضينا قسمة الجبار فينا لنا علم وللأعداء مال
 فإن المال يفني عن قريب وإن العلم يبقي لا يزال 

Kami rela, bagian Allah untuk kami
Ilmu untuk kami, harta buat musuh kami
Dalam waktu singkat, harta jadi musnah
Namun ilmu, abadi tak akan sirna.

( Ta'lim Muta'alim...Hal.25 )

Rasulullah SAW Menegah Dirinya Dari 3 Hal

Diutusnya Rasulullah SAW ke muka bumi membawa risalah paling utama, yakni Menyempurnakan akhlak manusia hal ini sesuai dengan hadist :


" إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق"

Hanyasanya aku diutuskun untuk menyempurnakan akhlak manusia”

Dalam hadist ini jelas yang bahwa inti dari diutusnya Rasulllah SAW untuk memperbaiki akhlak manusia, sehingga sang penyempurna akhlak itupun memiliki akhlak yang terpuji. Termasuk diantara akhlak Rasul sebagaimana tertera dalam hadist yang terdapat dalam kitab Syamail Muhammadiyah Rasulullah menegah dirinya dari melakukan 3 hal:

1. Berdebat (Al Mira’)

Rasulullah SAW meninggalkan perdebatan walau itu dalam hal kebenaran, dalam satu hadist disebutkan :

“Orang yang meninggalkan perdebatan akan disiapkan satu rumah disurga nantinya”

Di dalam kesempatan belajar sesudah subuh tadi (12 Muharram 1441 H), Abi MUDI menjelaskan banyak para Habaib yang tidak ingin berdebat secara lansung, hal ini karena mereka mengikuti akhlak mulia kakek mereka Baginda Rasulullah SAW. Walaupun mereka yang mau megikuti debat juga ada alasan tersendiri.

2. Memperbanyak (al Iktsar)

Al iktsar yang dimaksudkan disini adalah Nabi tidak mempoerbanyak terhadap harta dan kalam, sehingga Rasulullah tidak berkalam kecuali kalam itu kalam yang bermanfaat. Dalam masalah harta pun demikian, sehingga pernah disaat datang orang membawa buah mentimun kepada Rasul, Rasul memberikan segenggam emas kepadanya. Para muhibbin, disini dapat dilihat yang bahwa diri Rasulullah tidak terikat dengan harta apalagi ingin memiliki harta yang banyak.

3. Meninggalkan hal tak penting (Taraka Ma la Ya’nih)

Meninggalkan yang penting yang dimaksudkan disini adalah meninggalkan urusan yang tidak penting dalam agama dan dunia. Di dalam satu hadist Rasulullah SAW bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ

“Di antara tanda kebaikan keIslaman seseorang: jika dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (Hadits hasan, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 2318)

Banyak sekali akhlak mulia dari baginda Rasulullah SAW yang belum diteladani, Semoga dengan pertolongan Allah, Rasulullah bisa dijadikan suri tauladan kita semua. Amin
                                                                   
                                                                             
                                                                                                Lbm.mudimesra.com



Pembahasan Lafadh إنما

Di dalam sebuah hadist yang sudah tidak asing lagi bagi semua kalangan. Hadist ini bisa didapatkan didalam kitab Shahih Bukhari, Shahih muslim dan kitab sunan yang empat yang berbunyi (إنما الأعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ) ternyata memiliki pembahasan yang unik dan keren pada lafadh ( إنما ) yang perlu kita pahami dan mengetahuinya antara lain adalah :

1. Imam Nawawi mengutip  pendapat dari pada para ulama mutaqaddimin yang mengatakan [1]   yang bahwa lafal tersebut ( إنما ) pemakaianya iuntuk hasar. Bahkan menurut riwayat dari syaikh Yasin al-fadani mengatakan bahwa pendapat yang kuat dari para ulama menyebutkan lafadh tersebut ( إنما ) memang penciptaanya ( موضوعة ) untuk pemaham hasar.

2. Menurut imam Karmani, Imam Barmawi dan abu Zar’ah mengatakan sepakat para ulama kepada susunan dari lafadh tersebut ( إنما  ) memang berfaidah kepada hasar. Akan tetapi yang menjadi perselisihan pendapat para ulama adalah pada cara lafadh itu ( إنما ) menghasarkan suatu kalam. Sehingga timbul beberapa pendapat, yaitu :
1) Sebahagian ulama berkata dari mantuk lafal tersebut menunjukkan kepada hasar.
2) Sebahagian lain berpendapat bukan dari mantuknya lafal, akan tetapi dari mafum lafalnya yang menunjukkan kepada hasar.

3) Dan yang lain berkata karena dari segi umum mubtada dan khusus khabar yang menjadi sebab lafal ini ( إنما ) berfungsi kepada hasar.

قال الكرمانى والبرماوى وأبو زرعة : التركيب مفيدللحصر باتفاق المحققين وإنما اختلف في وجه الحصر فقيل دلالة إنما عليه بالمنطوق أو المفهوم على الخلاف المعروف .

Sumber : kitab Al-fawaidul Janiah Hasyiyah Al-mawahibul As-saniyah, hal:112 Cet-Dar’ Rasyad )


[1] Kitab Albustani imam Nawawi.


Mubah Dapat Menghilangkan Sifat ‘Adil

Mubah adalah perbuatan yang boleh dilakukan dan ditinggalkan dalam artian  tidak berdosa dengan melakukan dan meninggalkannya. Namun ada beberapa perbuatan mubah apabila salah dalam melakukannya bisa berefek kepada hilangnya sifat adil dari seseorang dan juga berdosa. Berikut ini adalah beberapa perbuatan mubah yang dapat menghilangkan ‘adalah yang kami kutip dari kitab Hasyiah Al Bajuri 'ala Ibnu qasim Al-Ghazi:

1. Mencium istrinya ditempat yang ada manusia 
2. Mencium ‘ammah (budak perempuan) ditempat ada manusia. 
3. Memanjangkan kaki disisi orang yg dihormati. 
4. Memanjangkan kaki disisi orang tua. 
5. Memperbanyak hikayah (cerita) yang dapat menertawakan manusia 

- Hasyiah Al-Bajuri  Juz 2 Hal 350 Cet Haramain

Batas kekayaan yang mewajibkan haji


donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja