Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Pembagian Fi'il Ditinjau Dari Maf'ul-Bihnya (Objek)


Kalimah Fi’il adalah kata yang menunjukkan arti pekerjaan atau peristiwa yang terjadi pada suatu 
masa atau waktu tertentu (lampau, sekarang dan yang akan datang). Hampir seperti pengertian kata kerja dalam bahasa Indonesia, namun ada perbedaan sedikit. 


Contoh:
Bekerjalah اُفْعُــلْ Sedang/ akan bekerja يَفْــعُــلُ Telah bekerja فَــعَــلَ

Fi’il bila ditinjau dari maf’ul bihnya terbagi kepada sembilan:
1. Fi’il yang tidak muta’addi ashlan (pada asal), seperti fi’il yang menunjuki sebuah kejadian.
Ex:
حدث المطر, نبت لنا الزرع

2. Fi’il yang muta’adi kepada satu maf’ul dengan huruf.
Ex: 
غضبت من زيد, مررت عليه
Pembagian ini sama dengan pembagian yang pertama dinamakan dengan fi’il lazim dan qashir, tidak dinamakan dengan fi’il muta’addi pada istilah. Dan kadang-kadang bersambung dengan fi’il lazim beberapa urusan sehinggga ia muta’addi. Dan itu ada sepuluh yang disebutkan dalam kitab tinggi. 

3. Fi’il yang muta’addi kepada satu maf’ul dengan dirinya, seperti fi’il hawas (panca indera).
Ex:
شممته, ابصرته, سمعته

4. Fi’il yang muta’addi kepada satu maf’ul dengan dirinya pada satu kali dan dengan huruf pada kali yang lain.
Ex:
شكرته, شكرت له

5. Fi’il lazim pada satu kali dan muta’addi kepada dua maf’ul dengan dirinya pada kali yang lain.
Ex:
زدته دينارا, زاد الدينار, نقصته شيئا, نقص الشيء

6. Fi’il yang muta’addi kepada dua maf’ul; muta’addi kepada maf’ul yang kedua dengan dirinya pada satu kali dan dengan huruf pada kali yang lain 
Ex:
وزنته الدراهم, وزنت له الدراهم, زوجته هندا او بها

7. Fi’il yang muta’addi kepada dua maf’ul dengan dirinya, yang pertama adalah faa’il pada makna; dan dia adalah bab اعطى dan كسا.

8. Fi’il yang muta’addi kepada dua maf’ul yang mana asal keduanya adalah mubtada dan khabar, dan ini adalah bab ظن.

9. Fi’il yang muta’addi kepada tiga maf’ul, asal dua yang terakhir adalah mubtada dan khabar, dan yang pertama adalah ajnabi; dan dia adalah bab أعلم dan أرى


(Matamimah, Cet haramain, hlm.135) 


Hukum Shalat Makmum Jika Imam Berdehem Dalam Shalat

Deskripsi masalah : 

Dalam shalat kita selalu berusaha agar tidak ada hal-hal yang dapat membatalkan shalat, namun kadang-kadang kita belum tahu bahwa kita telah mengerjakan hal yang tidak boleh kita lakukan dalam shalat seperti berdehem. 

Pertanyaan : Bagaimanakah status shalat makmum jika imam berdehem dalam shalat ?

Jawaban :

Makmum bisa terus ikut imam yang berdehem jika memang masih mungkin kita tahsin dhan bahwa berdehem imam karena ada ozor.
 

Referensi : Majmuk Syarah Muhazzab Juz 4 Hal 79 Cet. Dar al-Fikr.

  وأما التنحنح فحاصل المنقول فيه ثلاثة أوجه الصحيح الذى قطع به المصنف والاكثرون ان بان منه حرفان بطلت صلاته والا فلا والثانى لا تبطل وان بان حرفان قال الرافعي وحكى هذا عن نص الشافعي والثالث ان كان فمه مطبقا لم تبطل مطلقا والا فان بان حرفان بطلت والا فلا وبهذا قطع المتولي وحيث ابطلنا بالتنحنح فهو ان كان مختارا بلا حاجة فان كان مغلوبا لم تبطل قطعاولو تعذرت قراءة الفاتحة الا بالتنحنح فيتنحنح ولا يضره لانه معذور وان أمكنته القراءة وتعذر الجهر الا بالتنحنح فليس بعذر علي أصح الوجهين لانه ليس بواجب ولو تنحنح امامه وظهر منه حرفان فوجهان حكاهما القاضى حسين والمتولي والبغوي وغيرهم أحدهما يلزمه مفارقته لانه فعل ما يبطل الصلاة ظاهرا واصحهما ان له الدوام على متابعته لان الاصل بقاء صلاته والظاهر أنه معذور والله اعلم

 


 

Hadis-Hadis Tentang Keimanan Orang Tua Rasulullah saw


 
Dewasa ini, ada banyak argumentasi yang  mengatakan dua orang tua nabi Muhammad saw dalam neraka. Semestinya, tuduhan tersebut tidak ditudingkan kepada ayahanda dan ibunda Rasul saw yang terhormat. Karena, itu adalah bentuk arogansi terhadap Rasul. Maka dalam hal ini, kami ingin melanjutkan pemaparan sebelumnya dalam hal membela dua orang tua nabi Muhammad saw dengan argumen yang ilmiah, kuat dan kokoh dalam filter Ahlisunnah Wal Jama’ah yang bahwa dua orang tua nabi Muhammad saw adalah ahli surga.
Adapun dalil-dalil hadis yang menyatakan tentang keimanan orang tua Nabi Muhammad saw sebagai ahli iman :

Hadis Pertama :
وروي ابن مَرْدُوِيَّةِ عن أَنَسٍ رضي الله عنه قال:قَرَأَ رَسُوْلَ الله صَلَّي الله عليه وسلم "لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ فَقَال عَلِي بْن طَالِبٍ رضي الله عنه :يَا رَسُولَ الله مَا مَعْنَى أَنفُسِكُمْ ؟ انا أَنفُسِكُمْ نَسَبًا وصَهْرًا وَحَسَبًا لَيْسَ فِيَّ وَلَا فِي اَبَائِ مِنْ اَدَمَ سِفاَحِ, كُلُّناَ نِكاَحٌ .

Diriwayatkan dari Ibnu Mardiyyah dari Anas ra berkata ia : Rasul saw membaca ( "لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ ") maka Saidina Ali ra bertanya pada Rasulullah saw : Apakah makna dari أَنفُسِكُمْ dalam ayat tersebut wahai Rasulullah saw,lantas rasul menjawab aku keturunanku,kerabatku,leluhurku tidak termasuk dalam dari keturunan hasil zina ,semua dalam keadaan nikah yang sah.

Hadis Kedua :
وَرَوَي الطبرني عَنِ ابْن عَبَاس رضي الله عنهما مرْفُوعًا:مَا وَلَدَني سِفَاحُ الَجاهِلِيَّةِ وَ مَا وَلَدَني اِلَّا نِكَاحٌ كَنكاح اْلاِسَلَامِ
Riwayat dari daraqutni dari Ibnu Abbas hadis secara marfu’ : tidak dilahirkanku dari darah yang jahiliah , dan tidak dilahirkan aku kecuali dalam ikatan nikah Islam.

وَرَوَي البيهاقي, وَابْن عَسَاكِرِ عَن اَنَسٍ رضي الله عنه قال:خَطَبَ النَّبِي صلي الله عليه وسلم فقال اَنَا محمد بْنِ عبد الله بْنِ المطلب بْنِ هَاشِمٍ بْنِ عبد مَنَافٍ بْنِ قُصَي بْنِ كِلَابِ بْنِ مرة بْنِ كَعَبِ بْنِ لُؤَي بْنِ غَالِبِ بْنِ فَهَرِ بْنِ ماَلِكِ بْنِ النِضَر بْنِ كِنَانَةِ بْنِ خريمة بْنِ مدركة بْنِ اِليَاسٍ بْنِ مُضَر بْنِ نِزَارٍ , وَمَا اِفْتَرَقَ النَّاسُ فِرْقَيْنِ اِلاَّ جَعَلَنِي الله فِي خَيْرِهِمَا فَأَخْرَجْتُ مِنْ أَبوي, فَلَم يَصِبنِي شَيٌء مِن عَهْرِ الْجَاهِلِيَّةِ , وخَرَجتُ مِن نِكَاحٍ, وَلَم أَخرُج مِن سِفَاحٍ مِن لَدُنِ اَدَمَ حَتى اِنُتَهَيُت اِلَي أَبِي وأُمِّي فَأَناَ خيرُكُم نفسا و خَيْرُكمْ اَباً

Diriwayatkan oleh Baihaqi dan Ibnu A’sakir dari Anas ra berkata ia : rasulullah saw berkhutbah beliau bersabda : Aku Muhammad bin Abdillah bin Abdil Muthalib bin Hasyim bin Abdil Manaf bin Qusai bin Kilab bin Murah bin Ka’ab bin Luai bin Galib bin Fahar bin Malik bin Nazar bin Kinanah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudzar bin Nizar. Tidaklah terbagi dua kelompok kecuali aku adalah yang terbaik diantaranya maka aku dilahirkan dari orang tuaku dan aku tidak pernah terkena dengan kotoran jahiliyah. Aku dilahirkan dari pernikahan yang sah , dan aku tidak dilahirkan dari Adam hingga sampai kepada Ayahku dan ibuku. Aku adalah sebaik-baik manusia dan aku mempunyai ayah yang terbaik.

Hadis Ketiga :
Dalam Surat A-Syu’ara pada ayat 218-219
الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِ
Allah yang melihat engkau ketika engkau berdiri (untuk salat). Dan melihat perobahan gerak-gerikmu diantara orang-orang yang sujud.
Para mufassir mentafsirkat ayat tersebut di dalam komentarnya

اَنَّ نُوْرَهُ صلي الله عليه وسلم يَتَقَلَّبُ مِنْ سَاجِدٍ اِلَى سَاجِدٍ , اي مِنْ مُصَلٍّ اِلَى مُصَلٍّ
Nur nabi Muhammad saw berpindah dari ahli sujud kepada ahli sujud (ahli iman)

Hadis Keempat :
وَرَوَي اَبُوْ جَعْفَرِ النُّحَاسِ عَنِ ابْنِ عَبَّاٍس رَضَيَ الله عنهما اَنّهُ قَالَ تَقَلَّبَ فِي الظُّهُوْرِ حَتَّي اَخْرَجَ نَبِيَّا.

Diriwayat oleh Abu Ja’far Nuhas diambilkan dari Ibnu Abbas berkata : sesunnguhnya nur nabi Muhammad saw berpindah pada setiap seingga lahirlah beliau.

Hadis Kelima :
عن ابن رضي الله عنهما لَمْ أَزَلْ الله يَنْقَلُنِي مِنْ اَصْلاَبِ طَيَّبَةٍ اِلَى اَرْحَامٍ طًاهِرَة ٍ
Dari Ibnu Abbas ra sesunnguhnya Allah memindahkan nur-ku dari sulbi-sulbi yang yang suci kepada rahim yang suci.
 
Hadis Keenam :
وقوله صلي الله عليه وسلم فَاَنَا خَيَّارٌ مِنْ خَيَّارٍ اِلَي خَيَّارِ . فَاَنَا خَيْرُكُمْ نَفْسًا خَيْرُكُمْ اَبًا
Sabdanya saw Aku adalah orang yang terpilih dari pada yang terpiih dan Aku adalah sebaik-baik manusia dan aku mempunyai sebai-baik ayah (Abdullah).
Hadis ini sangat jelas bahwa beliau mempunyai ayah yang baik, bukan kafir karena orang-orang kafir disebutkan dalam Al-Quran adalah golongan najis disegi I’tiqatnya sebagai mana terdapat dalam surat At-Taubah ayat 28.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَس
Wahai orang-orang yang beriman sesunguhnya orang musyrik adalah najis (Kufur i’tikatnya)

Hadis Ketujuh :
وقوله صلي الله عليه وسلم لَمْ أَزَلْ انْقَلُ مِنْ أَصْلاَبِ الطَّاهِيْرِنَ اِلَى اَرْحَامِ الطَّاهِرَاتِ
Sabda nabi Muhammad saw senantiasa aku berpindah dari segala sulbi yang suci kepada rahim yang suci.



Tanggapan Para Ulama Terhadap Tudingan Ayah Dan Ibu Nabi Muhammad saw Dalam Neraka.
Dalil golongan yang menyatakan orang tua Nabi masuk neraka adalah hadits riwayat Imam Muslim dari Hammad :
أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أَبِي قَالَ فِي النَّارِ فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ فَقَالَ إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ
Artinya : Bahwasanya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah “ Ya, Rasulullah, dimana keberadaan ayahku ?, Rasulullah menjawab : “ dia di neraka” . maka ketika orang tersebut hendak beranjak, rasulullah memanggilnya seraya berkata “ sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka “.
 
Imam Suyuthi menerangkan bahwa Hammad perawi hadis di atas diragukan oleh para ahli hadits dan hanya diriwayatkan oleh Imam Muslim. Padahal banyak riwayat lain yang lebih kuat darinya seperti riwayat Ma’mar dari Anas, al-Baihaqi dari Sa’ad bin Abi Waqosh :
اِنَّ اَعْرَابِيًّا قَالَ لِرَسُوْلِ الله اَيْنَ اَبِي قَالَ فِي النَّارِ قَالَ فَأَيْنَ اَبُوْكَ قَالَ حَيْثُمَا مَرَرْتَ بِقَبْرِ كَافِرٍ فَبَشِّرْهُ بِالنَّارِ
Artinya : Sesungguhnya A’robi berkata kepada Rasulullah SAW''dimana ayahku ? Rasulullah SAW menjawab : “ dia di neraka”, si A’robi pun bertanya kembali'' dimana AyahMu ? Rasulullah pun menawab “ sekiranya kamu melewati kuburan orang kafir, maka berilah kabar dengan neraka'' Riwayat di atas tanpa menyebutkan ayah Nabi di neraka.
Ma’mar dan Baihaqi disepakati oleh ahli hadits lebih kuat dari Hammad, sehingga riwayat Ma’mar dan Baihaqi harus didahulukan dari riwayat Hammad.



Rujukan :
Kitab Sadad ad-Din wa Sidad ad-Dain fi itsbat Najah wa Darajat lil Walidain hal. 104-126
Karya Sayed Muhammad bin Rasul Barzanji
Kitab Minahul Makiyyah Fi Syarhi Hamziyyah hal.102-103
Karya Ibnu Hajar Al-Haitami

Membela Ayah dan Ibu Nabi Muhammad saw

Membela Ayah dan Ibu Nabi Muhammad sawBagi saudaraku seiman dan seagama bahwasanya akhir-akhir ini ada sekelompok yang menamakan dirinya salaf padahal sebenarnya mereka tidak mewakili salaf (tiga kurun yang pertama). Karena hakikatnya ahli kurun yang pertama tidak pernah mengkafirkan sesama Islam apalagi mengkafirkan dua orang tua Nabi Muhammad saw, akan tetapi kelompok ini (pengikut Al-Bani) renan mengkafirkan banyak umat Islam dan bahkan mengatakan dua orang tua nabi Muhammad saw dalam neraka. Nauzubillah.

Maka dalam hal ini sepatutnya kita membela dua orang dengan argumen yang ilmiah yang kuat dan kokoh dalam kaca mata agama kita berlandasan aqidah Ahlisunnah Wal Jama’ah, yang bahwa dua orang tua nabi Muhammad saw adalah ahli surga.
Berikut ini adalah dalil-dalilnya :



Dalil Dalil ayat Al-Quran:
Surat Al-Baqarah ayat 128

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَآ إِنَّكَ أَنتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
Artinya: ya tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-MU,dan anak cucu kami sebagai umat yang berserah diri kepada-MU dan tunjukilah kepada kami cara-cara melakukan ibadah kami dan terimalah taubat kami. Sungguh, engkaulah yang maha penerima taubat lagi maha penyayang.

Surat Ibrahim ayat 37

رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ الصَّلاَةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
Artinya: Ya Tuhan kami sesungguhnya kami telah mendapatkan sebagian keturunan kami di lembah tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya tuhan (jadikan mereka itu) orang yang mendirikan shalat maka jadikanlah hati sebagian dari manusia yang cenderung kepada mereka,dan berikanlah mereka rizki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.

Surat Ibrahim ayat 40 :
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء
Artinya: Ya Tuhanku jadikan aku dan anak cucuku orang yang tetap mendirikan shalat, ya tuhan kami terimalah doa’ku

Surat Al-Hajj ayat 78:

وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ مِّلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمينَ مِن قَبْلُ وَفِي هَذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاء عَلَى النَّاسِ فَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلاكُمْ فَنِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ
Artinya: dan berjihatlah kami di jalan Allah dengan jihat yang sebenar benarnya. Dia tidak memilih kamu dan tidak menjadikan kesukaran kamu di dalam agama ikutlah agama nenek moyangmu Ibrahim as. Dia (Allah) telah menanamkan kamu orang orang musli sejak dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Quran) ini , agar rasul (Muhammad) itu menjadi saksi atas dirimu dan agar kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia.Maka laksanakanlah salat dan tunaikanlah zakat, dan berpegang teguhlah kepada Allah.Dan ialah pelindungmu , dia sebaik-baik pelindung dan penolong.

Penjelasan:
Dalam beberapa ayat di atas dinyatakan bahwa doa nabi Ibrahim kepada seluruh keturunannya dengan lafaz mutakallim maa gairih sehingga ayah dan ibu nabi Muhammad saw adalah termasuk golongan yang menyerahkan diri kepada Allah, menjaga baitullah, pendiri shalat dan ini menunjukkan bahwa ayah dan bunda nabi Muhammad saw tergolong dalam orang-orang beriman.

Rujukan:
Kitab Sadad ad-Din wa Sidad ad-Dain fi itsbat Najah wa Darajat lil Walidain hal. 104-126
Karya Sayed Muhammad bin Rasul Barzanji

Kitab Minahul Makiyyah Fi Syarhi Hamziyyah hal.102-103
Karya Ibnu Hajar Al-Haitami

Hukum Bagi Pengeroyokan Massa

Hukum Bagi Pengeroyokan Massa
Akhir-akhir Ini tersebar berita dan video di dunia maya suatu yang melanggar Norma -Norma Kemanusiaan, kejadian ini sebenarnya sangat meresahkan, karena selain tidak sesuai dengan agama Islam dan juga sangat menentang dengan hukum negara.
Pencuri adalah salah satu fenomena yang kerap terjadi di masyarakat apalagi kalangan masyarakat yang jauh dari ilmu agama. Hal ini mungkin disebabkan faktor ekomoni, sosial atau dimulai dari pergaulan. Mereka yang profesinya dan pekerjaannya mencuri ini, kerap terjadi pengeroyokan oleh massa, karena massa marah tidak bisa menahan emosi dan pada akhirnya pencuri tersebut babak belur bahkan sampai tewas dikeroyok massa.
Lalu bagaimanakah hukum pembunuhan dengan cara pengeroyokan massa tersebut?

Pertanyaan :
Bagaimana hukum dalam Islam terhadap sekelompok massa yang menghilangkan nyawa satu orang ?

Jawaban :
Jika sekarang pencuri yang mencuri, kewajiban kepada pemerintah memberi hukuman bagi pencuri tersebut sebagaimana dalam Islam dengan potong tangan sebagaimana dalam Surat Al Maidah ayat 38:

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Artinya : Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Sedangkan jika sudah terjadi pembunuhan oleh massa, dalam Islam hukuman bagi jamaah yang membunuh satu orang maka hukuman bagi jamaah tersebut diqishas atau hukuman mati bagi semua yang terlibat pengeroyokan tersebut sedangkan Syara’ memberlakukan hukum ini supaya manusia menahan diri dari melakukan pembunuhan.

Kitab Kanzul Ragibin Juz 4 Hal. 109 Cet. Beirut

(وَيُقْتَلُ الْجَمْعُ بِوَاحِدٍ) ، كَأَنْ أَلْقَوْهُ مِنْ شَاهِقٍ أَوْ فِي بَحْرٍ أَوْ جَرَحُوهُ جِرَاحَاتٍ مُجْتَمِعَةً أَوْ مُتَفَرِّقَةً (وَلِلْوَلِيِّ الْعَفْوُ عَنْ بَعْضِهِمْ عَلَى حِصَّتِهِ مِنْ الدِّيَةِ بِاعْتِبَارِ الرُّءُوسِ) ، وَعَنْ جَمِيعِهِمْ عَلَى الدِّيَةِ فَتُوَزَّعُ عَلَى عَدَدِهِمْ فَعَلَى الْوَاحِدِ مِنْ الْعَشَرَةِ عُشْرُهَا، وَسَوَاءٌ كَانَتْ جِرَاحَةُ بَعْضِهِمْ أَفْحَشَ أَوْ عَدَدُ جِرَاحَاتِ بَعْضِهِمْ أَكْثَرَ أَمْ لَا، وَلَوْ كَانَتْ جِرَاحَةُ بَعْضِهِمْ ضَعِيفَةً لَا تُؤَثِّرُ فِي الزُّهُوقِ كَالْخَدْشَةِ الْخَفِيفَةِ فَلَا اعْتِبَارَ بِهَا.
Dan hukuman qishas bagi suatu kelompok yang membunuh satu orang seperti mencampakkannya dari tempat yang tinggi atau ke dalam laut atau melukainya dengan luka yang banyak baik pada tempat yang sama atau pada tempat yang berbeda-beda.

Nihayatul Muhtaj Ila Syarhi Minhaj Juz 7 Hal. 316 Cet. Darul Fikri

(ويقتل الجمع بواحد) وإن تفاضلت الجراحات في العدد والفحش والأرش حيث كان لها دخل في الزهوق سواء أقتلوه بمحدد أم بمثقل كأن ألقوه من شاهق أو في بحر؛ لأن القصاص عقوبة يجب للواحد على الواحد فيجب له على الجماعة كحد القذف ولأنه شرع لحقن الدماء، فلو لم يجب عند الاشتراك لاتخذ ذريعة إلى سفكها.
.
Dan hukuman qishas bagi suatu kelompok yang membunuh satu orang walaupun lebih kurang dalam melukai baik jumlahnya maupun efeknya karena sekalian pelaku bertindak dalam menghilangkan nyawa korban.

Syarah Ibnu Qasim Izzi Juz 2 hal.206 Cet. Haramain

(وتقْتَلُ الْجَمْاعُة بِالواحِد) ان كافأهم وكان فعل كل واحد منهم لو انفرد كان قاتلا

Dan dibunuhkan satu kelompok dengan sebab membunuh satu orang, jika korban tersebut sederajat dengan pembunuh karena jika pembunuh hanya satu orang ia terlibat dalam kejadian tersebut


Takbir di Hari Raya

Takbir di Hari RayaSalah satu syiar dalam malam hari raya (hari raya idul fithri dan idul adha) adalah bertakbir.
Takbir pada hari raya terbagi dua jenis, yaitu:
  1. Takbir Mursal
    Takbir mursal adalah takbir yang dilakukan bukan mengiringi shalat baik shalat fardhu ataupun shalat sunat.
    Takbir mursal dimulai dari terbenamnya matahari malam hari Raya sampai saat imam melakukan takbiratul ihram shalat hari Raya bila hari Raya Idul Fitri. Takbir mursal disunatkan bagi laki-laki dan perempuan, orang musafir dan orang hadir baik dirumah, dipasar dijalan, dan di Mesjid.
  2. Takbir Muqayyad
    Sedangkan Takbir muqayyad adalah takbir yang dibaca setelah shalat, baik shalat fardhu dan shalat sunat, shalat qadha dan shalat jenazah.
    Adapun waktu pembacaan takbir muqayyad yaitu setelah subuh hari Arafah sampai Ashar akhir hari Tasyriq.
Adapun lafadh takbir yaitu:

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلهَ إلاَّ اللهَ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أكبَرُ، وَلِلّهِ الْحَمْدُ، اللهُ أَكبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً، لاَ إِلهَ إلاَّ اللهَ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَّمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لا اله الا الله ولا نعبد الا اياه مخلصين له الدين ولو كره الكافرون

Selain itu setelah bertakbir juga disunatkan bershalawat kepada Rasulullah, keluarga beliau dan shahabat, dan keturunan beliau.

Sumber: kitab Fathul Qarib, hal, 226-228. Jilid I. Cet. Al-Haramain.



Hukum mengucapkan Selamat Hari Raya

hukum mengucap selamat hari raya
Insya Allah besok kita semua akan merayakan hari raya idul fitri 1437 H. Salah satu hal yang lumrah dilakukan oleh kaum muslimin adalah mengucapkan selamat (tahniah) kepada saudara yang lain.

Namun belakangan muncul sebagian orang yang memvonis bahwa mengucap selamat hari raya adalah perbuatan bid'ah yang tidak boleh dilakukan.

Nah bagaimanakah hukumnya mengucapkan selamat hari raya? Benarkah bahwa mengucapkan selamat hari raya adalah bid'ah?

Imam al-Qamuli mengatakan:

لم أر لأحد من أصحابنا كلامًا في التهنئة بالعيد والأعوام والأشهر كما يفعله بعض الناس؛ لكن نقل الحافظ المنذري عن الحافظ المقدسي أنه أجاب عن ذلك: بأن الناس لم يزالوا مختلفين فيه؛ والذي أراه أنه مباح لا سُنّةٌ ولا بدعة

Saya tidak melihat ada kalam ulama kita tentang mengucapkan selamat hari raya, tahun baru, bulan baru sebagaimana yang telah dikerjakan oleh sebagian manusia, tetapi al-Hafidh al-Munziri mengutip dari al-Hafidh al-Maqdisi bahwa beliau menjawabnya “para ulama berbeda pendapat tentangnya, sedangkan pendapatku adalah mubah bukan sunnah dan bukan pula bid’ah”.

Sedangkan al-Hafidh Ibnu Hajar al-Asqalani setelah melihat jawaban al-Munziri beliau menjawabnya bahwa “hal tersebut adalah disyariatkan”.

Imam Ibnu Hajar al-Hafidh membawakan hujjah bahwa Imam Baihaqi membuat satu bab dalam kitab beliau dengan judul “hadits-hadits yang diriwayatkan tentang ucapan manusia kepada sesamanya dengan taqabbalAllahu minna wa minka. Beliau membawa beberapa hadits dan atsar yang dhaif namun secara keseluhurannya bisa dijadikan hujjah.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani mengatakan: dan kebolehan mengucapkan selamatan secara umum ketika datangnya nikmat atau selamat dari bencana dengan dalil disunatkan sujud syukur.
Dalil lain yang menunjuki bolehnya mengucapkan selamat adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim yang menceritakan kisah diterimanya taubat Ka’ab bin Malik ketika beliau tidak ikut perang Tabuk. Ketika datang kabar bahwa taubat beliau sudah diterima, beliau segera datang menemui Rasulullah SAW, kemudian bangunlah shahabat Nabi, Thalhah bin Ubaidillah dan mengucapkan selamat dan perbuatan beliau tidak diingkari oleh Rasulullah . [1]

Imam Suyuthi menuliskan satu risalah tentang mengucapkan selamatan ini dengan judul Wushul al-Amani bi Ushul at-Tahani yang berada dalam kumpulan kitab beliau Hawi lil Fatawi. Beliau membawakan beberapa hadits yang menceritakan kisah para shahabat yang mengucapkan selamat. Beliau mengelompokkanya dalam tahniah untuk satu kelebihan dan manaqib seseorang, tahniah untuk diterimanya taubat, tahniah untuk kesembuhan dari sakit, tahniah untuk kesempurnaan ibadah haji, tahniah untuk pulang dari ibadah haji, peperangan, tahniah untuk pernikahan, tahniah untuk kelahiran anak, tahniah untuk kedatangan bulan Ramadhan, tahniah untuk hari raya, tahniah untuk pakaian baru, tahniah untuk pagi dan sore. [2]

Pengarang kitab al-Mukhtar dari Mazhab Hanafi mengatakan :

إن التهنئة بالعيد بلفظ " يتقبل الله منا ومنكم " لا تنكر

“Bahwa mengucapkan selamat pada hari raya dengan lafadh – yataqabbalullAhu minna wa minkum/semoga Allah menerima amal kami dan kamu, tidak di ingkari”.

al-Muhaqqiq Ibnu Amir mengatakan :

بل الأشبه أنها جائزة مستحبة في الجملة

“Bahkan menurut yang kuat secara umum hal tersebut merupakan perkara yang boleh dan disunnahkan.

kemudian beliau membawa beberapa atsar shahih dari shahabat yang berkenaan dengan hal tersebut. Beliau juga mengatakan bahwa lafadh yang sering digunakan di negri Syam dan Mesir adalah :

عيد مبارك عايك
Semoga Allah berikan hari raya yang penuh barakah untuk kamu

Imam Malik pernah ditanyakan tentang seseorang yang mengucapkan taqabbalAllahu minna wa minkum, beliau menjawabnya;
ما أعرفه ولا أنكره
“Saya tidak mengetahuinya dan tidak pula mengingkarinya”.

Ibnu Habib menjelaskan maksud perkataan Imam Malik yaitu beliau tidak mengetahui sunnahnya dan tidak pula mengingkari orang yang mengerjakannya karena perkataan tersebut adalah perkataan yang bagus karena merupakan doa kebaikan. Bahkan Syeikh asy-Syaibi mengatakan bahkan hukumnya bisa menjadi wajib karena meninggalkannya akan menimbulkan fitnah dan memutuskan persaudaraan.

Ibnu Qudamah dalam kitab beliau, Mughni mengatakan bahwa Imam Ahmad mengatakan :

ولا بأس أن يقول الرجل للرجل يوم العيد : تقبل الله منا ومنك

dan tidak mengapa mengucapkan bagi orang lain di hari raya “taqabbalAllahu minna wa minkum”. [3]

Kesimpulannya, mengucapkan selamat ketika datangnya nikmat merupakan hal yang disunatkan, dan sunnah mendokannya supaya nikmat tersebut dikekalkan. Juga disunatkan untuk bersalaman bagi sesama jenis atau dengan yang mahramnya. Adapun bersalaman dengan berbeda jenis atau dengan amrad maka hukumnya adalah haram. Maka hari raya tidaklah diragukan lagi merupakan satu nikmat yang Allah berikan, karena adanya keampunan Allah yang besar bagi orang yang berpuasa selama sebulan Ramadhan.

------------------------------------------------------------------------------------------

  1. Syeikh Badul Hamid Qudus, Kanz Najah wa surur fi ad’iyah allati tasyrah shudur, hal 271. Dar Sabail
  2. Imam Suyuthi, Hawi lil Fatawi, jilid 1 hal 78 Dar Kutub ILmiyah
  3. Mausu’ah Fiqhiyah Kuwaitiyah, Jlid 14 hal 99 Dar Salasil

Tahukah Anda, bahwa Malam Hari Raya adalah Malam Mustajabah Doa

Umumnya di malam hari raya kita melihat masyarakat merayakannya dengan hati senang dengan berkumpul-kumpul, menhidupkan lampu indah atau kembang api, dan membakar lilin bagi anak-anak. Jarang terbesit dalam benak kita bahwa makam hari raya disunnahkan untuk dihidupkan dengan memperbanyak ibadah. 
Sebenarnya malam hari Raya termasuk malam yang memiliki banyak kelebihan, termasuk malam yang afdhal dimana siapa yang menghidupkan malam hari Raya Allah akan menghidupkan hati mereka dimana banyak hati yang telah mati. artinya dimana manusia mencintai dunia dan enggan melakukan amalan akhirat karena mati hatinya, Allah menghidupkan hati orang-orang yang menghidupkan malam hari Raya, Allah memberikan kemudahan dalam beribadah, beramal akhirat bagi mereka-meraka yang menghidupkan malam hari Raya hal ini sebagaimana sabda Rasullah SAW.

وعن أمامة رضي الله تعالى عنه قال : مَنْ أَحْيا لَيْلَتي العِيدِ أَحْيا الله قَلْبهُ يَوْمَ تَمُوتُ القُلُوبُ.

Artinya: Barangsiapa menghidupkan malam hari Raya maka Allah akan mengidupkan hatinya pada hari dimana banyak hati yang telah mati. (HR. Imam Tabrani).


Selain itu malam hari Raya termasuk juga salah satu malam yang diterima doa oleh Allah SWT. Sebagaimana hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Syafii :

بلغنا أنه كان يقال إن الدعاء يستجاب في خمس ليال في ليلة الجمعة وليلة الأضحى وليلة الفطر وأول ليلة من رجب وليلة النصف من شعبان

Artinya: Telah sampai riwayat kepada kami bahwa dikatakan doa dikabulkan pada lima malam, yaitu pada malam Jum`at, malam hari raya adha, malam hari raya fithri, awal malam bulan Rajab dan malam nishfu Sya`ban”.  [1]

Hal yang senada dengan hadis di atas berkaitan tentang lima malam tidak tertolak doa adalah riwayat yang menceritakan bahwa Umar bin Abdul Aziz mengirim surat kepada pegawai beliau di Bashrah, Beliau mengirim surat kepada pegawai beliau di Bashrah.

عليك بأربع ليال من السنة فإن الله يفرغ فيهن الرحمة إفراغا أول ليلة من رجب وليلة النصف من شعبان وليلة الفطر وليلة الأضحى.

Artinya: “Lazimkanlah empat malam dalam setahun karena sesungguhnya Allah memenuhi padanya dengan rahmat Nya, yaitu awal malam dari Rajab, malam nishfu Sya’ban, malam ‘idul-fithri, malam ‘idul-adha”. [2]

Dari beberapa riwayat di atas sangat jelas bahwa malam hari raya termasuk malam yang lebih, maka sudah semestinya kita mepergunakan waktu pada malam hari Raya untuk beribadah kepada Allah dan berdoa, karena pada malam hari Raya adalah termasuk malam yang mustajabah doa. Mari kita menghidupkan malam hari raya, jangan salah mengartikan malam hari raya, sebagaimana sebagian orang salah mengartikan malam hari raya sehingga anjuran Rasulullah untuk beribadah dan berdoa malam hari raya ditinggalkan kosong dari amalan, padahal malam yang berkah penuh makna. Oleh karena demikian dalam tulisan ini kami menukilkan pendapat para Ulama amalan-amalan dalam menghidupkan malam hari raya berdasarkan petunjuk Rasulullah. Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang Shalih. Amin....

Amalan dimalam Hari Raya

Beberapa amalan yang bisa kita lakukan di malam hari raya antara lain:
1. Shalat sunat
2.Shalat isya dan subuh secara berjamaah.
Imam al-Hifni berkata, sekurang-kurang menghidupkan malam bisa hasil dengan shalat isya berjamaah dan punya azam untuk shalat shubuh secara berjamaah. Namun yang dimaksud di sini adalah menghidupkan sebagian besar malam hari raya dengan beribadah, shalat, zikir dll untuk mendapatkan fadhilah yang besar. [3]
3. Berdoa, karena malam hari raya merupakan malam yang mustajabah doa.
4. Memperbanyak takbir dan tahlil, taqdis dan tahmid

Dalam satu hadits Rasulullah bersabda :

زيّنوا العيدين بالتهليل والتقديس، والتحميد والتكبير

Hiasilah dua hari rayamu dengan tahlil, taqdis (menyucikan Allah), tahmid dan takbir (H.R. ad-Dailami) 

Imam Zuhri berkata, Anas berkata bahwa Nabi berkata bahwa siapa yang mengucapkan pada malam dua hari raya :
لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك وله الحمد يُحيي ويُميت، وهو حيّ لا يموت، بيده الخير وهو على كل شيء قدير
sebelum shalat hari raya, maka akan Allah nikahkan ia dengan 400 bidadari dan seolah-olah ia telah memerdekankan 400 budak, dan Allah akan memerintahkan kepada para malaikat untuk membangun kota baginya dan ditanamkan berbagai pepohonan hingga hari kiamat. 
Imam az-Zuhri berkata, saya tidak pernah meninggalkannya setelah mendengarnya dari Imam Anas, berliau berkata, saya tidak pernah meninggalkannya setelah mendengarnya dari Rasulullah. [4]
5. Istighfar
Imam al-Wanai mengatakan bahwa siapa saja yang beristighfar setelah shalat subuh 100 kali maka tidak akan tersisa dosa dalam buku catatannya. [5]


---------------------------------------------------------------------
1. Imam Syafii, al-Umm, Juz. I, cet. I (Beirut: Dar al-Fikr, 2009) hal. 254 
2. Syaikhul Islam Ibnu Hajar al-Haitami,  Kitab Ittihaf Ahl al-Islam bi Khushushiyat ash-Shiyam, (Maktabah Thaiyibah) hal 376 
3. Abdul Hamid Ibn Muhammad Ali Ibn Abdul Qadir, Kanzun Najah Was-Surur, hal 269. Cet. Darul Al-Hawi
4. Kanzun Najah Was-Surur, hal 269
5. Kanzun Najah Was-Surur, hal 269
6. Kanzun Najah Was-Surur, hal 271


Download Kitab-Kitab Syarah Hikam

Syarah Hikam
Salah satu kitab tasawuf yang masyhur dan banyak dipelajari oleh berbagai kalangan adalah kitab Hikam karangan Ibnu Athaillah as-Sakandari. Kitab ini mendapat sambutan yang luar biasa dari para ulama hingga sekarang, sehingga banyak para ulama yang mensyarah kitab tersebut.
Dalam bulan puasa ini, di LPI MUDI Mesjid Raya, kitab yang dikaji pada pengajian ba'da shubuh adalah syarah al-Hikam Ghaits al-Mawahib karangan Ibnu Abbad an-Nafri ar-Raundi. Namun kali ini di isi oleh anak tertua Abu MUDI, Abi Zahrul Mubarak yang lebih dikenal oleh santri MUDI dengan panggilan Abi.
Pengajian bersama Abi Zahrul bisa di ikuti secara langsung ba'da shubuh selama Ramadhan ini di halaman http://alhikam.mudimesra.com. Sedangkan untuk siaran ulang bisa di ikuti di http://radio.mudimesra.com.

Kami berusaha mengumpulkan beberapa link donwload untuk beberapa syarah kitab Hikam. Berikut ini beberapa link donwload file pdf bagi beberapa syarah Kitab Hikam yang sudah kami temukan. In Sya Allah akan terus kami tambahkan ketika kami temukan file pdf baru bagi syarah-syarah Hikam yang lainnya.

  1. غيث المواهب العالية فى شرح الحكم العطائية - ابن عباد النفزي  Ghaitsu al-Mawahib al-Aliyah fi Syarh Hikam Athaiyah, Syarah Hikam karangan Ibnu Abbad an-Nafri ar- Rundi (733-792 H/1333-1390 M). Kitab beliau bernama Ghaits Mawahib 'Aliyah fi Syarh Hikam Athaillah. Cetakan Markaz Ahram, Kairo, Cetakan I, tahun 1988 , Download 
  2. Syarah Hikam karangan Syeikh Abdullah bin Hijazi asy-Syarqawi (Cetakan Dar Ihya Kutub Arabiyah Isa Halabi tahun 1920. Di tengahnya adalah Syarah Ibnu Abbad yang telah kami sebutkan pada no. I. Download 
  3. إيقاظ الهمم فى شرح الحكم -  ابن عجيبة الحسنى  Iqadhul Himam karangan Syeikh Ahmad bin Muhammad bin Ajibah al-Hasani(1162-1224 H/1748-1809 H).  Cet. Dar Ma'arif, Kairo Download 
  4.  تنبيه ذوى الهمم فى شرح الحكم العطائية - الشيخ زروق Syarah Hikam karangan Syeikh Ahmad bin Ahmad bin Isa al-Burnusi az-Zaruq Syeikh al-Maliki  (846-899 H). Tahqiq Syeikh Abdul Halim Mahmud Cet. Dar Sya'b, Kairo. Download 
  5. شرح الحكم العطائية - محمد حياة السندى Syarah Hikam 'Athaillah karangan Syeikh Huhammad Hayah as-Sindi al-Madani (w.1163 H)Cet. Maktabah Ma'arif, thn 2010 Tahqiq Syeikh Nizar Hammadi. Download 
  6.  Talkhis al-Hikam Syarah Hikam karangan Syeikh Nuruddin al-Birifkani Donwload 
  7. Syarah wa Tahlil Hikam karangan Syeikh Said Ramadhan al-Buthi. Donwload    
  8.  الأذواق النقشبندية فى شرح الحكم العطائية - محمد باسم دهان al-Azwaq an-Naqsyabandiyah fi Syarh Hikam al-Athaiyah karangan Syeikh Muhammad Basam HDahan salah satu ulama Negri Suriah saat ini. Download 
  9. كشف الغطاء شرح وترتيب ونظم حكم karangan Syeikh Muhammad Khalil al-Khatib Download 
Inilah beberapa syarah Hikam yang kami temukan link donwloadnya. In Sya Allah, jika kami temukan yang baru akan kami tambahkan...

Profil Syaikh Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari (Pengarang Kitab al-Hikam)

profil syaikh ibnu Ataillah assakandari alhikam
Makam Syaikh Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari 
Nama lengkapnya adalah Syaikh Ahmad ibn Muhammad ibn ‘Atha’illah as-Sakandari. Ia lahir di Iskandariah (Mesir) pada 648 H/1250 M, dan meninggal di Kairo pada 709 H/1309 M. julukan al-Iskandari atau as-Sakandari dari merujuk kota kelahirannya. Keluarga Ibnu Atha’ adalah keluarga yang terdidik dalam lingkungan agama, kakek dari jalur nasab ayahnya adalah seorang ulama fikih pada masanya. Tajuddin remaja sudah belajar pada ulama tingkat tinggi di Iskandariah seperti al-Fakih Nasiruddin al-Mimbar al-Judzami.
Kota Iskandariah pada masa Ibnu Atha’ memang salah satu kota ilmu di semenanjung Mesir, karena Iskandariah banyak dihiasi oleh banyak ulama dalam bidang fikih, hadits, usul, dan ilmu-ilmu bahasa arab, tentu saja juga memuat banyak tokoh-tokoh tasawuf dan para Auliya’ Shalihin.

Sejak kecil, Ibnu Atha’illah dikenal gemar belajar. Ia menimba ilmu dari beberapa syaikh secara bertahap. Gurunya yang paling dekat adalah Abu Al-Abbas Ahmad ibnu Ali Al-Anshari Al-Mursi, murid dari Abu Al-Hasan Al-Syadzili, pendiri Tarikat Al-Syadzili. Dalam bidang fikih ia menganut dan menguasai Mazhab Maliki, sedangkan di bidang tasawuf ia termasuk pengikut sekaligus tokoh tarikat Al-Syadzili. Ia dikenal sebagai master atau syaikh ketiga dalam lingkungan Tarikat Syadzili setelah pendirinya Abu Al-Hasan Asy-Syadzili dan penerusnya, Abu Al-Abbas Al-Mursi. Dan Ibnu Atha'illah inilah yang pertama menghimpun ajaran-ajaran, pesan-pesan, doa dan biografi keduanya, sehingga khazanah tarikat Syadziliyah tetap terpelihara.

Ibnu Atha’illah tumbuh sebagai seorang fakih, sebagaimana harapan dari kakeknya. Namun kefakihannya terus berlanjut sampai pada tingkatan tasawuf. Hal mana membuat kakeknya secara terang-terangan tidak menyukainya. Ibnu Atha’ menceritakan dalam kitabnya “Lathaiful minan” : “Bahwa kakeknya adalah seorang yang tidak setuju dengan tasawuf, tapi mereka sabar akan serangan dari kakeknya.
Di sinilah guru Ibnu Atha’ yaitu Abul Abbas al-Mursi mengatakan: “Kalau anak dari seorang alim fikih Iskandariah (Ibnu Atha’illah) datang ke sini, tolong beritahu aku”, dan ketika aku datang, al-Mursi mengatakan: “Malaikat jibril telah datang kepada Nabi bersama dengan malaikat penjaga gunung ketika orang quraisy tidak percaya pada Nabi. Malaikat penjaga gunung lalu menyalami Nabi dan mengatakan: ” Wahai Muhammad.. kalau engkau mau, maka aku akan timpakan dua gunung pada mereka”. Dengan bijak Nabi mengatakan : ” Tidak… aku mengharap agar kelak akan keluar orang-orang yang bertauhid dan tidak musyrik dari mereka”. Begitu juga, kita harus sabar akan sikap kakek yang alim fikih (kakek Ibnu Atha’illah) demi orang yang alim fikih ini”. Pada akhirnya Ibn Atha’ memang lebih terkenal sebagai seorang sufi besar. Namun menarik juga perjalanan hidupnya, dari didikan yang murni fikih sampai bisa memadukan fikih dan tasawuf.
Oleh karena itu sejarah menyebutkan riwayat hidup Atha’illah menjadi tiga masa:

Masa pertama

Masa ini dimulai ketika ia tinggal di Iskandariah sebagai pencari ilmu agama seperti tafsir, hadits, fikih, usul, nahwu dan lain-lain dari para alim ulama di Iskandariah. Pada periode itu beliau terpengaruh pemikiran-pemikiran kakeknya yang mengingkari para ahli tasawuf karena kefanatikannya pada ilmu fikih, dalam hal ini Ibnu Atha’illah bercerita: “Dulu aku adalah termasuk orang yang mengingkari Abu al-Abbas al-Mursi, yaitu sebelum aku menjadi murid beliau”. Pendapat saya waktu itu bahwa yang ada hanya ulama ahli dzahir, tapi mereka (ahli tasawuf) mengklaim adanya hal-hal yang besar, sementara dzahir syariat menentangnya”.


Masa kedua

Masa ini merupakan masa paling penting dalam kehidupan sang guru pemburu kejernihan hati ini. Masa ini dimulai semenjak ia bertemu dengan gurunya, Abu al-Abbas al-Mursi, tahun 674 H, dan berakhir dengan kepindahannya ke Kairo. Dalam masa ini sirnalah keingkarannya terhadap ulama’ tasawuf. Ketika bertemu dengan al-Mursi, ia jatuh kagum dan simpati. Akhirnya ia mengambil Thariqah langsung dari gurunya ini.

Ada cerita menarik mengapa ia beranjak memilih dunia tasawuf ini. Suatu ketika Ibn Atha’ mengalami goncangan batin, jiwanya tertekan. Dia bertanya-tanya dalam hatinya : “apakah semestinya aku membenci tasawuf. Apakah suatu yang benar kalau aku tidak menyukai Abul Abbas al-Mursi ?. setelah lama aku merenung, mencerna akhirnya aku beranikan diriku untuk mendekatnya, melihat siapa al-Mursi sesungguhnya, apa yang ia ajarkan sejatinya. Kalau memang ia orang baik dan benar maka semuanya akan kelihatan. Kalau tidak demikian halnya biarlah ini menjadi jalan hidupku yang tidak bisa sejalan dengan tasawuf.

Lalu aku datang ke majlisnya. Aku mendengar, menyimak ceramahnya dengan tekun tentang masalah-masalah syara’. Tentang kewajiban, keutamaan dan sebagainya. Di sini jelas semua bahwa ternyata al-Mursi yang kelak menjadi guru sejatiku ini mengambil ilmu langsung dari Tuhan. Dan segala puji bagi Allah, Dia telah menghilangkan rasa bimbang yang ada dalam hatiku”.

Maka demikianlah, ketika ia sudah mencicipi manisnya tasawuf hatinya semakin tertambat untuk masuk ke dalam dan lebih dalam lagi. Sampai-sampai ia punya dugaan tidak akan bisa menjadi seorang sufi sejati kecuali dengan masuk ke dunia itu secara total, menghabiskan seluruh waktunya untuk sang guru dan meningalkan aktivitas lain. Namun demikian ia tidak berani memutuskan keinginannya itu kecuali setelah mendapatkan izin dari sang guru al-Mursi.

Dalam hal ini Ibn Athailah menceritakan : “Aku menghadap guruku al-Mursi, dan dalam hatiku ada keinginan untuk meninggalkan ilmu dzahir. Belum sempat aku mengutarakan apa yang terbersit dalam hatiku ini tiba-tiba beliau mengatakan: “Di kota Qous aku mempunyai kawan namanya Ibnu Naasyi’. Dulu dia adalah pengajar di Qous dan sebagai wakil penguasa. Dia merasakan sedikit manisnya tariqah kita. Kemudian aku menghadapnya dan berkata: “Tuanku… apakah sebaiknya aku meninggalkan tugasku sekarang ini dan berkhidmat saja pada tuan?”. Beliau memandangku sebentar kemudian berkata: “Tidak demikian itu tariqah kita. Tetaplah dengan kedudukan yang sudah di tentukan Allah padamu. Apa yang menjadi garis tanganmu akan sampai padamu juga”.

Setelah bercerita semacam itu yang sebetulnya adalah nasehat untuk diriku beliau berkata: “Beginilah keadaan orang-orang al-Siddiqiyyin. Mereka sama sekali tidak keluar dari suatu kedudukan yang sudah ditentukan Allah sampai Dia sendiri yang mengeluarkan mereka”. Mendengar uraian panjang lebar semacam itu aku tersadar dan tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Dan alhamdulillah Allah telah menghapus angan kebimbangan yang ada dalam hatiku, sepertinya aku baru saja melepas pakaianku. Aku pun rela tenang dengan kedudukan yang diberikan oleh Allah”.

Masa ketiga

Masa ini dimulai semenjak kepindahan Ibn Atha’ dari Iskandariah ke Kairo. Dan berakhir dengan kepindahannya ke Allah swt pada tahun 709 H. Masa ini adalah masa kematangan dan kesempurnaan Ibnu Atha’illah dalam ilmu fikih dan ilmu tasawuf. Ia membedakan antara Uzlah dan khulwah. Uzlah menurutnya adalah pemutusan (hubungan) maknawi bukan hakiki, lahir dengan makhluk, yaitu dengan cara si Salik (orang yang uzlah) selalu mengontrol dirinya dan menjaganya dari perdaya dunia. Ketika seorang sufi sudah mantap dengan uzlah-nya dan nyaman dengan kesendiriannya ia memasuki tahapan khalwah. Dan khalwah dipahami dengan suatu cara menuju rahasia Tuhan, khalwah adalah perendahan diri dihadapan Allah dan pemutusan hubungan dengan selain Allah swt.
Menurut Ibnu Atha’illah, ruangan yang bagus untuk ber-khalwah adalah yang tingginya, setinggi orang yang berkhalwat tersebut. Panjangnya sepanjang ia sujud. Luasnya seluas tempat duduknya. Ruangan itu tidak ada lubang untuk masuknya cahaya matahari, jauh dari keramaian, pintunya rapat, dan tidak ada dalam rumah yang banyak penghuninya. Ibnu Atha’illah sepeninggal gurunya Abu al-Abbas al-Mursi tahum 686 H, menjadi penggantinya dalam mengembangkan Tariqah Syadziliah. Tugas ini ia emban di samping tugas mengajar di kota Iskandariah. Maka ketika pindah ke Kairo, ia bertugas mengajar dan ceramah di Masjid al-Azhar.

Ibnu Hajar berkata: “Ibnu Atha’illah berceramah di Azhar dengan tema yang menenangkan hati dan memadukan perkatan-perkatan orang kebanyakan dengan riwayat-riwayat dari salafus shalih, juga berbagai macam ilmu. Maka tidak heran kalau pengikutnya berjubel dan beliau menjadi simbol kebaikan”. Hal senada diucapkan oleh Ibnu Tagri Baradi : “Ibnu Atha’illah adalah orang yang shalih, berbicara di atas kursi Azhar, dan dihadiri oleh hadirin yang banyak sekali. Ceramahnya sangat mengena dalam hati. Dia mempunyai pengetahuan yang dalam akan perkataan ahli hakikat dan orang orang ahli tariqah”. Termasuk tempat mengajar beliau adalah Madrasah al-Mansuriah di Hay al-Shaghah. Beliau mempunyai banyak anak didik yang menjadi seorang ahli fiqih dan tasawuf, seperti Imam Taqiyyuddin al-Subki, ayah Tajuddin al-Subki, pengarang kitab “Tabaqah al-syafi’iyyah al-Kubra”.

Karamah Syaikh Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari

  1. Di dalam kitab “Jami’u Karamatil Aulia” pada jilid 1 halaman 525, cetakan “Darul Fikr”, Bairut, Libanon diterangkan tentang karamah Syaikh Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari, Di antara karamah Syaikh Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari adalah sebagai berikut:

    Suara Syaikh terdengar dari dalam Kubur. Pada suatu hari Syaikh Al-Kamal Ibnu Al-Hammam berziarah ke makam Syaikh Ibnu ‘Athaillah. Kemudian di sisi makam beliau, Al-Kamal Ibnu Al-Hammam membaca surat Hud sampai pada ayat:

    فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ

    Artinya: “Maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia”. (Q.S. Hud {11}: 105)
    Tiba-tiba Syaikh Ibnu ‘Athaillah dari dalam kuburnya menjawab dengan suara yang tinggi (keras) : “Wahai Kamal ! Tidak ada di antara kita yang celaka”.

    Karena menyaksikan karamah Syaikh Ibnu ‘Athaillah yang agung itu, kemudian Ibnu Hammam berwasiat (kepada sahabat-sahabatnya) apabila beliau meninggal nanti supaya jenazahnya dimakamkan di sana, di dekat makam Syaikh Ibnu ‘Athaillah.
  2. Pada suatu ketika salah seorang murid Syaikh Ibnu ‘Athaillah berangkat haji. Kemudian di sana si murid melihat sang guru (Syaikh Ibn Athaillah) sedang melakukan tawaf. Dia juga melihat sang guru sedang berada di belakang maqam Ibrahim. Begitupula di tempat sa’i dan di Padang Arafah.

    Kemudian, ketika pulang haji, dia bertanya kepada teman-teman di kampung halamannya tentang gurunya apakah beliau pergi haji atau tidak? Jawab mereka: Tidak. Mendengar jawaban itu, kemudian langsung dia pergi ke rumah gurunya. Sesampainya di sana, dia mengucapkan salam. Setelah itu, sang guru bertanya kepadanya: Siapa saja yang engkau lihat dalam perjalanan ibadah hajimu? Jawab dia: Ya, tuanku. Aku melihat tuanku berada di sana. Kemudian, sang guru tersenyum dan berkata: Orang besar bisa memenuhi alam jagad raya. Seandainya seorang Wali Quthub berdoa di kamar tempat penyepiannya, maka sudah barang tentu Allah akan mengabulkan doanya.

Karangan Syaikh Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari

Sebagai seoarang sufi yang alim Ibn Atha’ meninggalkan banyak karangan lebih kurang sebanyak 22 kitab lebih. Mulai dari sastra, tasawuf, fiqh, nahwu, mantiq, falsafah sampai khitabah. Kitabnya yang paling masyhur sehingga telah menjadi terkenal di seluruh dunia Islam ialah kitabnya yang bernama al-Hikam, yang telah diberikan komentar (Syarahan) oleh beberapa orang ulama di kemudian hari dan yang juga telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa asing lain, termasuklah bahasa Melayu dan bahasa Indonesia. Beberapa kitab lainnya yang ditulis adalah Al-Tanwir fi Isqath Al-Tadbir, Unwan At-Taufiq fi’dab Al-Thariq, Miftah Al-Falah dan Al-Qaul Al-Mujarrad fil Al-Ism Al-Mufrad. Yang terakhir ini merupakan tanggapan terhadap ibnu Taimiyyah mengenai persoalan tauhid.

Salah satu karangan fenomenalnya Syaikh Ibnu Atha’illah adalah kitab Al-Hikam dengan sandaran utama pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Guru besar spiritualisme ini menyalakan pelita untuk menjadi penerang bagi setiap salik, menunjukkan segala aral yang ada di setiap kelokan jalan, agar kita semua selamat menempuhnya.

Kitab Al-Hikam merupakan ciri khas pemikiran Ibnu Atha’illah, khususnya dalam paradigma tauhid dantasawuf. Di antara para tokoh sufi yang lain seperti Al-Hallaj, Ibnul Arabi, Abu Husen An-Nuri, dan para tokoh sufisme falsafi yang lainnya, kedudukan pemikiran Ibnu Atha’illah bukan sekedar bercorak tasawuf falsafi yang mengedepankan teologi. Tetapi diimbangi dengan unsur-unsur pengamalan ibadah dan suluk, artinya di antara syari’at, tarikat dan hakikat ditempuh dengan cara metodis. Corak Pemikiran Ibnu Atha’illah dalam bidang tasawuf sangat berbeda dengan para tokoh sufi lainnya. Ia lebih menekankan nilai tasawuf pada ma’rifat.

Menurut keterangan Syaikh Zarruq, kitab ini tidak ditulis sendiri oleh Syaikh Ibn Athaillah, namun didiktekan kepada muridnya yang bernama Syaikh Taqiyuddin al-Subki, seorang ahli fikih dan kalam yang terkenal akan ketelitian dan kejujurannya.
Kitab karyanya yang lain adalah Miftah al-Falah wa Mishbah al-Arwah, yang berisi penjelasan tentang metode zikir. Di dalamnya beliau memaparkan beberapa jenis zikir dan Asma Allah yang cocok untuk berbagai kondisi murid.
Kitab At-Tanwir fi Isqath at-Tadbir merupakan penjelasan ajaran Tarikat Syadiziliyyah tentang berbagai bentuk kebajikan, seperti ikhlas, harapan, cinta, dan sebagainya.
Lathaif al-Minan merupakan kitab yang menjelaskan biografi dua tokoh Tarekat Syadziliyyah dan ajaran-ajarannya, yakni biografi Syaikh Abu Hasan al-Syadzili dan Syaikh Abu Abbas al-Mursi. Di dalamnya juga dipaparkan keterangan tentang Wali Allah dan beberapa amalan utama (zikir, hizib dan doa) dua Wali Allah tersebut.
Kitab Al-Qash al-Mujarrad fi Ma’rifat al-Ism al-Mufrad, yang menyajikan pembahasan ringkas Asma al-Husna, dengan pemaparan teori menafisika Asma al-Husna.
Kitab Taj al-Arus al-Hawi li Tahdzib an-Nufus, berisi kutipan-kutipan dari al-Hikam, at-Tanwir dan Lathaif.

Wafatnya Syaikh Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari

Tahun 709 H adalah tahun kemalangan dunia ini. Karena tahun tersebut wali besar yang tetap abadi nama dan kebaikannya ini harus beralih ke alam barzah, lebih mendekat pada Sang Pencipta. Namun demikian madrasah al-Mansuriyyah cukup beruntung karena di situlah jasad mulianya berpisah dengan sang nyawa. Ribuan pelayat dari Kairo dan sekitarnya mengiring kekasih Allah ini untuk dimakamkan di pemakaman al-Qarrafah al-Kubra.


donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja