Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Download Kitab Dakwah Wahabi Karya Abu Teupin Raya

Banyak ulama di dunia Islam yang telah menuliskan kitab untuk menolak aqidah kaum wahabi, di mulai dari abang kandung pendiri wahabi, Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahab yang menuliskan kitab Shawa’id Ilahiyah yang menolak pemahaman adiknya, Muhammad bin Abdul Wahab. Ulama Nusantara juga tidak ketinggalan menuliskan kitab radd atas wahabi, sebut saja Wakil Rais Akbar dan Pendiri Nahdlatul Ulama, KH Muhammad Faqih Maskumambang menuliskan kitab An-Nushush al-Isamiyyah fi Radd al-Wahhabiyyah. Ulama Aceh juga tidak ketinggalan dalam membentengi paham khawarij ini. Abon Abdul Aziz dikenal sebagai seorang ulama yang sangat kuat dalam mendokritkan kesalahan wahabi kepada para murid-murid beliau. Salah satu ulama Aceh yang menulis karangan tentang kesalahan kaum wahabi adalah Abu Muhammad Ali Irsyad Teupin Raya.

Abu Muhammad Ali Teupin Raya semasa mudanya
Beliau dilahirkan pada tahun 1921 M di Desa Kayee Jatoe pemukiman Teupin Raya, Kecamatan Glumpang Tiga Kabupaten Pidie. Beliau dilahirkan dari orang tua laki-laki yang bernama Muhammad Irsyad, sedangkan ibunya bernama Aisyah, keluarga dari turunan bapaknya adalah keturunan dari Panglima Doyen dari Aceh Besar. Sedangkan dari keluarga ibunya berasal dari keluarga ulama dari Lapang Lhoksukon yang hijrah ke Teupin Raya, maka dari darah pasangan kedua orang tuanya, mengalir darah bangsawan dan darah ‘ulama. Beliau belajar kepada beberapa ulama di Aceh dan juga belajar di Universitas al-Azhar, Kairo.


Beliau merupakan pendiri lembaga pendidikan Darussa’dah yang memiliki banyak cabang di seluruh wilayah Aceh. Selain itu beliau juga seorang pemikir, penulis dan kaligrafer yang produktif, sampai akhir hayatnya beliau telah menulis 28 judul kitab karangan yang terdiri 39 jilid buku. Yang berkisar dari ilmu pelajaran bahasa arab, logika, filsafat, fikih, falak, tafsir, terjemahan dan sejarah Islam. Beliau juga beliau juga ahli dalam ilmu falak.
Salah satu karya beliau yang berharga adalah kitab Dakwah Wahabiyah yang mengupas sejarah kelam wahabi dan kesalahan-kesalahan mereka. Bagi yang ingin mendonwload file pdf kitab tersebut silahkan di download di SINI.

Fatwa Ibnu Shalah; Bolehkan membaca al-quran dan menghadiahkan pahalanya kepada orang meninggal?

Salah satu amalan mayoritas umat Islam yang selalu divonis bid’ah dan sesat oleh kaum wahabi salafi adalah menghadiahkan pahala bacaan al-quran kepada mayat yang biasa disebut dengan tahlilan. Ibnu Shalah yang merupakan salah satu guru Imam Nawawi pernah ditanyakan tentang hukum membaca al-quran kemudian menghadiahkan pahalanya kepada kaum muslim yang telah meninggal? Bagaimana jawaban Ibnu Shalah sebagai seorang ulama besar yang memiliki ilmu yang banyak. Mari kita simak jawaban Ibnu Shalah rahimahullah.

مسألة هل يجوز للانسان أن يقرأ القرآن ويهديه لوالديه ولأقاربه خاصة ولأموات المسلمين عامة وهل تجوز القراءة من القرب والبعد على القبر خاصة

Pertanyaan:

Apakah boleh bagi manusia membaca al-quran dan menghadiahkannya kepada kedua orang tuanya dan kerabatnya secara khusus dan bagi semua kaum muslimin yang telah meninggal secara umum? Apakah boleh membaca al-quran dari jauh atau dekat kubur secara khusus?

أجاب رضي الله عنه أما قراءة القرآن ففيه خلاف بين الفقهاء والذي عليه عمل أكثر الناس تجويز ذلك وينبغي أن يقول إذا أراد ذلك اللهم أوصل ثواب ما قرأته لفلان ولمن يريد فيجعله دعاء ولا يختلف في ذلك القريب والبعيد

Beliau menjawabnya:

Masalah membaca al-quran terjadi perbedaan pendapat para fuqaha. Yang telah diamalkan kebanyakan manusia adalah membolehkan hal tersebut. Dan sepatutnya bila ingin dikerjakan di ucapkan “Ya Allah sampaikan pahala bacaanku kepada si fulan" dan bagi siapa saja yang ia inginkan. Pembacaan al-quran seperti demikian tidak berbeda antara dekat atau jauh.

Fatawa wa Masail Ibnu Shalah, Jld. I, hal. 192, Dar Ma’rifah, thn 1986


Kesimpulan dari jawaban Ibnu Shalah adalah masalah membaca al-quran kemudian menghadiahkan pahalanya kepada orang yan telah meninggal merupakan masalah khilafiyah dikalangan para fuqaha`. Sebagian fuhaqa mengatakan tidak sampai namun sebagian yang lain berpendapat sampai. Mayoritas umat Islam masa Ibnu Shalah mengamalkan hadiah pahala kepada mayat. Karena adanya khilafiyah tersebut, beliau juga memberikan satu solusi sehingga amalan tersebut tidak lagi diperselisihkah. Yaitu setelah membaca al-quran di lanjutkan dengan berdoa kepada Allah supaya Allah sampaikan pahala bacaan al-qurannya kepada mayat. Kebolehan berdoa untuk mayat tidak diperselisihkan oleh para ulama. Menurut fuqaha` yang menyatakan bahwa hadiah pahala bacaan al-quran tidak sampai kepada mayat, bila yang diamalkan adalah berdoa untuk mayat setelah membaca al-quran maka mereka juga mengakuinya sebagai amalan yang bisa bermanfaat untuk mayat. Solusi ini masih diamalkan oleh masyarakat di Indonesia yang melakukan tahlilan, setelah membaca berbagai macam ayat al-quran, salah satu dari mereka membacakan doa supaya pahala bacaan tersebut Allah sampaikan kepada mayat, yang diaminkan oleh semua yang hadir.
Jawaban ini senada dengan jawaban beberapa ulama lain yang pernah kami tulis sebelumnya.

  1. Tahlilan Menurut Imam al-Qurafi
  2. Hukum Tahlilan
  3. Penjelasan Syeikh Wahbah Zuhaili tentang Hadiah Pahala kepada Orang Meninggal
  4. Pandangan Syeikh Ali Jum'ah Tentang Hadiah Amalan dan Bacaan al-Quran Bagi Mayat
  5. Hukum Membaca al-quran di Kuburan
  6. Bacaan al-quran bagi mayat menurut Imam Syafii

Fatawa Ibnu Hajar al-Haitami, Apa Hikmah Najisnya Anjing? Racun Ular Bernajiskah?

Salah satu hewan yang dihukumi najis mughalladhah adalah anjing. Cara menyucikan najis anjing adalah dengan menyamaknya, yaitu membasuh tujuh kali basuhan air, salah satunya telah dicampur dengan tanah yang suci. Tentang dalil dan cara menyucikan najis anjing bisa dibaca dalam tulisan kami sebelumnya cara menyucikan najis mughalladhah. Lalu apa hikmah dibalik Allah menghukumi anjing sebagai hewan bernajis? Syaikhul Islam Ibnu Hajar al-Haitami pernah ditanyakan tentang hal ini, yang diikuti dengan pertanyaan tentang najiskan racun hewan berbisa seperti ular?. Berikut jawaban beliau;


وسئل - أمدنا الله من مدده - ما الحكمة في تنجس الكلب؟
وهل سم الحيات ونحوها نجس؟
فأجاب - أفاض الله علي من فيض مدده - الحكمة في تنجس الكلب التنفير مما كان يعتاده أهل الجاهلية من القبائح كمؤاكلة الكلاب، وزيادة إلفها ومخالطتها مع ما فيها من الدناءة والخسة المانعة لذوي المروآت وأرباب العقول من معاشرة من تحلى بهما ومن ثم حرم الجلوس على نحو جلد النمور والسباع لأن ذلك كان فعل المتكبرين من الجاهلية؛ فنهى الشارع عن التأسي بهم في ذلك فلما لم يكن في التأسي بهم هنا ما ليس فيه من الدناءة ثم كان ثم حرمة ونجاسة، وهنا حرمة فقط. وسم نحو الحيات نجس كما صرح به جمع متقدمون ومتأخرون والله سبحانه وتعالى أعلم بالصواب


Ditanyakan terhadap Ibnu Hajar Al-Haitami: Apakah hikmah dibalik Allah menghukumi Anjing sebagai hewan bernajis ?
dan Apakah racun ular dan hewan sejenisnya adalah najis ?

Beliau menjawab: Hikmah dibalik bernajisnya anjing adalah untuk menghindari apa yang telah menjadi kebiasaan jahiliyah yang melakukan perbuatan keji seperti makan anjing, dan bermain-main dengan anjing. Hal tersebut merupakan perbuatan keji dan hina dan kondisi tersebut sangat menentang dengan sikap orang yang memiliki muruah dan karisma untuk bergaul dengan orang-orang yang memiliki sikap tersebut, karena itu diharamkan duduk diatas kulit macan dan binatang buas lainnya., karena hal tersebut merupakan perbuatan orang takabbur, maka agama melarang mengikuti tingkah laku mereka.
Sedangkan racun ular dan umpanya adalah najis sebagaimana diterangkan oleh ulama Mutaqaddimun dan Mutaakhirun. Wallahu A’lam.

Fatawa Fiqhiyah Kubra Ibn Hajar al-Haitami, Jld. 1 hal 28. Cet. Dar Fikr tt

Kesimpulannya, hikmah Allah menghukumkan najisnya anjing adalah supaya umat muslim menjauhi bersentuhan dengan anjing yang bisa meruntuhkan muruah dan kehormatan seseorang. 
Sedangkan hukum racun hewan berbisa seperti ular adalah najis.

Pengakuan Ulama Mazhab Hanbali Modern Terhadap Mazhab Asy’ari

Sungguh Abi Ya’la di ikuti oleh al-Allamah Kuwait pada abad 20 ini yaitu Syeikh Khalaf ad-Dahiyan al-Hanbali tentang masuknya golongan Asya’irah dalam golongan ahli hadits. Beliau berkata dalam ta’liqatnya terhadap syarah as-Safarini “golongan Asya’irah dan Maturidiyah tidak menolak hadits dan tidak pula mengabaikannya, mereka mentafwidhnya atau mentakwilnya. Mereka semua adalah ahli hadits, maka ketiganya (Asya’irah, Maturidiyah dan Ahlu Hadits) merupakan satu golongan dan karena kesepakatan mereka terhadap hadits-hadits dan mengikutinya, sebaliknya dengan golongan yang lain, mereka hanya berhukum dengan akal dan meninggalkan dalil naqal (ayat dan hadits), mereka merupakan ahli bid’ah dan sesat dan menyalahi kebenaran serta merupakan golongan yang jahil”.(Tabshir al-Qani’ hal. 75)

Ungkapan ini bukanlah hanya sebagai ungkapan manis semata dengan seseorang, namun merupakan satu kebenaran, karena kebanyakan para pensyarah hadits adalah ulama Asya’irah, maka bagaimana bisa mereka bukan ahli hadits?

Maka coba perhatikan kalam para pembesar ulama mazhab Hanbali yang kaum Najdiyah sendiri berguru kepada kitab mereka. Dan perhatikan pula kalam kaum salafi modern dalam menyesatkan Asya’irah dan mengeluarkan mereka dari Ahlussunnah.

Sungguh salah satu ulama Mazhab Hanbali zaman ini telah menerangkan pandangan Mazhab Hanbali terhadap golongan Asya’irah yaitu Syiekh al-Allamah Shalih al-Asmari, beliau berkata dalam fatawa beliau yang masyhur “sungguh para pemuka ulama Mazhab Hanbali telah menetapkan bahwa golongan Asya’irah dan Maturidiyah berada dalam golongan Ahlussunnah wal Jamaah yang telah dijanjikan keselamatannya”.

Ini merupakan manhaj Imam Ahmad dan ulama Mazhab Hanbali yaitu enggan mengkafirkan kaum muslimin dan enggan menghalalkan darah mereka serta tidak mau mengeluarkan golongan yang berbeda pendapat dengannya dalam perkara yang parsial – baik dalam masalah i’tikad maupun dalam fiqh- dari golongan Ahlussunnah. Bila mesti dilakukan (mengeluarkan satu golongan dari Ahlussunnah) maka mesti dengan rincian yang mendalam dan dalil yang qath’i.

Berkata Imam az-Zahabi “saya melihat kalimat Imam al-Asy’ari yang mengagumkan diriku yang diriwayatkan oleh imam Baihaqi, saya mendengar Aba Hazim al-‘Abdawi, saya mendengar Zahir bin Ahmad as-Sarkhasi berkata “ketika dekat ajal Abu Hasan Asya’irah di rumahku di Baghdad, beliau memanggilku, maka aku mendatangi beliau, beliau berkata “bersaksilah atasku bahwa saya tidak mengkafirkan seorangpun dari ahli kiblat, karena semuanya masih menyembah kepada tuhan yang satu, dan semua ini merupakan perbedaan pada ibarat”.

Saya (Imam Zahabi) berkata “demikianlah saya beragama dan demikian juga guru saya Ibnu Taimiyah di akhir-akhir harinya, beliau berkata “saya tidak mengkafirkan seseorangpun dari umat ini, Nabi bersabda “tiada yang memelihara wudhuk kecuali ia adalah seorang mukmin, maka siapa yang masih shalat dengan wudhuk maka ia masih mukmin” (az-Zahabi, siyar a’lam nubala)

Sumber; Syeikh Musthafa Hamdu ‘Ulaiyan al-Hanbali, as-Sadah Hanabilah wa Ikhtilafihim ma’a Salafiyah Mu’asharah, hal. 212-213 cet. I, Dar Nur, Oman, thn 2014

Ulama Mazhab Hanbali; Mazhab Asy’ari disepakati Ahlussunnah Waljamaah

Kitab Sadah Hanabilah wa ikhtilafihim ma'a Salafiyah Mu'asharah
Sering kita temukan kaum yang menyesatkan golongan Asya’irah. Dalam website donwload kitab yang dibuat oleh kaum wahabi salafi, golongan Asya’irah mereka masukkan kedalam golongan sesat yang mereka sediakan kitab rudud ala mereka, mereka menyamakannya dengan golongan syiah, nashrani dan yahudi. Di Arab Saudi yang merupakan negara asal mula paham wahabi salafi, doktrin bahwa Asya’irah adalah golongan sesat telah mereka tanamkan dalam buku-buku pelajaran sekolah dasar warga Saudi.

Kita juga sering mendengar bahwa kaum wahabi salafi mengaku bermazhan Hanbali. Namun banyak ulama mazhab Hanbali yang tidak mengakui firqah ini. Kalangan ulama Hanbali mengakui golongan Asya’irah sebagai golongan Ahlussunnah.
Berikut ini kami terjemahkan sebagian penjelasan kitab Sadah Hanabilah wa Ikhtilafihim ma’a Salafiyah Mu’asharah (pemuka mazhab Hanbali dan perbedaan mereka dengan Salafi modern) yang di karang oleh ulama mazhab Hanbali, Syeikh Mustafa Hamdu ‘Ulya.

Mazhab Asy’ari adalah mazhab yang disepakati oleh Ahlussunnah.

Imam Subki menegaskan bahwa mazhab Asy’ari bukanlah mazhab baru, namun penegasan dan penertiban terhadap aqidah ulama salaf. Beliau berkata dalam kitab Tabaqah Syafi’yah juz II hal. 254:
“Ketahuilah bahwasannya Imam Asy’ari tidak menciptakan pemikiran dan mazhab baru, tetapi beliau hanya menegaskan mazhab salaf, serta keyakinan para sahabat Rasulullah. Maka penisbatan kepada Imam Asy’ari adalah hanya karena usaha beliau telah berupaya mengokohkan akidah atas dasar-dasar pemahaman ulama salaf dan berpegang kepada mazhab ulama salaf. Beliau membangun hujjah dan dalil mazhab salaf sehingga beliau menjadi panutan dalam hal ini sehingga orang yang mengikuti metode beliau dalam membawakan dalil-dalil disebut golongan Asy’ari”.

Imam Subki menegaskan bahwa Aqidah Asy’ari merupakan aqidah yang diikuti oleh ahli Mazhab yang empat, beliau mengungkapkan dalam kitab Mui’d an-ni’am wa Mubid an-niqam, hal 62:
“Mereka pengikut Mazhab Hanafi, Mazhab Syafi’i, Mazhab Maliki, dan para pemuka Mazhab Hanbali pada masalah akidah berada pada satu jalur, mereka sepakat atas akidah Ahlussunnah yang beragama kepada Allah dengan metode Syeikh sunnah Abu Hasan al-Asy’ari”. Kemudian beliau berkata: “secara umum, akidah Imam Asy’ari juga merupakan kandungan dari akidah Abu Ja’far ath-Thahawi yang juga merupakan akidah yang diterima oleh ulama semua sebagai sebuah aqidah yang benar.”

Habib Abdullahbin Alwi Al-Haddad menyatakan bahwa aqidah Asyairah adalah aqidah Ahlusunnah dan merupakan aqidahnya para sahabat, akidah keluarga nabi, akidah para saiyid yang mulia, dan aqidahnya para ulama-ulama sufi.

Sungguh kaum salafi modern telah berlebihan dan bersungguh-sungguh dalam menolak mazhab Asya’irah, seolah-olah mazhab Asya’irah adalah musuh utama bagi Islam dan kaum muslim. Mereka telah menyibukkan diri mereka dan para pelajar untuk membahas perkara mutasyabihat. Mereka telah mengembalikan manusia kepada pembahasan filsafat yang sempit yang kadang hanya bermanfaat pada kurun dahulu. Mereka telah mentuhmah Mazhab Asya’irah dengan semua dosa besar dan kecil. Semua itu terjadi hanya karena sedikitnya ilmu mereka terhadap pendapat Asya’irah dan ulama mazhab Hanbali.

Di antara kitab-kitab yang menolak syubhat-syubhat yang dilontarkan terhadap Mazhab Asya’irah adalah;

  1. Mazhab Asya’irah fi al-aqidah baina al-Haqaiq wa al-auham karangan Syeikh Muhammad Shalih bin Ahmad al-Gharsi
  2. Kitab Aqa’id Asya’irah fi hiwar Hadi` ma’a Syubhat al-Munawi`in karangan Syeikh al-Idliby, kitab ini merupakan salah satu kitab yang terbagus yang menolak kitab karangan Safar Hiwali yang menolak Aqdiah Asya’ariyah
  3. Kitab Durar al-alfadh al-‘awali fi radd ‘ala maujan wa Hawali karangan Syeikh Ghaus al-Ghaliby
  4. Kitab Ahlussunnah wal Jama’ah karangan Syeikh Sa’id Fudah.

Sumber : Syeikh Mustafa Hamdu ‘Ulaiyan al-Hanbali, Kitab SADATUL HANABILAH WA IKHTILAFIHIM MA’A SALAFIYAH MU’ASHARAH, hal 243, Cet. I, dar Nur thn. 2014

Fatwa Ibnu Hajar; Hukum membuang najis ke arah kiblat?

Kompas Kiblat
Salah satu hukum yang telah makruf kita ketahui adalah haram menghadap kiblat ketika buang air besar dan kecil. Lalu apakah keharaman ini juga berlaku untuk semua membuang najis ke arah kiblat. Syeikhul Islam Ibnu Hajar al-Haitami, pernah di tanyakan tentang hal ini. Simak jawaban beliau dalam kitab Fatawa Fiqhiyah Kubra beliau yang merupakan kitab kumpulan fatwa-fatwa beliau yang dikumpulkan oleh salah satu murid beliau.


وسئل - رضي الله عنه - هل يحرم إخراج النجس للقبلة كالقيء والفصد؟ أو هو خاص بالبول والغائط؟
فأجاب بقوله: هو خاص بالبول والغائط، فشرط عدم الساتر الشرعي في غير المكان المعد لقضاء الحاجة، وأما الفصد والقيء ونحوهما للقبلة فلا حرمة فيها، لأن استقذارها ليس كاستقذار البول والغائط ومن ثم أباحوا الفصد في المسجد في إناء - إذا أمن تلويثه - ولم يبيحوا البول فيه في إناء - وإن أمن تلويثه - وعللوه بأن البول أقذر ولذا عفي عن قليل الدم وكثيره في صور ولم يعف عن شيء من البول، والغائط أولى منه بذلك والله سبحانه وتعالى أعلم


Ditanyakan kepada beliau: Apakah haram hukumnya mengeluarkan najis dengan menghadap bagi kiblat, seperti muntah dan bekam? atau (keharamannya) hanya khusus pada buang air kecil dan besar?

Beliau menjawab: Keharaman menghadap kiblat hanya khusus pada buang air kecil dan besar, itupun dengan ketentuan bila tiada penutup atau bukan di wc. Sedangkan bekam dan muntah menghadap kiblat tidak diharamkan, karena kejijikannya tidak sebanding buang air kecil dan besar, karna itu dibolehkan berbekam di dalam mesjid jika dipastikan tidak mengotori mesjid, dan tidak dibolehkan buang air kecil dalam mesjid walaupun dipastikan tidak mengotori mesjid. Ulama memberikan alasan, air kecil lebih menjijikkan, oleh karena itu dimaafkan sedikit darah dan banyaknya darah pada beberapa masalah namun tidak dimaafkan sedikitpun air seni. Sedang air besar lebih menjijikkan lagi.
Fatawa Fiqhiyah Kubra Ibn Hajar al-Haitami, Jld. 1 hal 51 Dar Fikr

Kesimpulan dari jawaban beliau adalah hukum membuang najis selain buang air kecil dan besar ke arah kiblat tidaklah haram. Keharamannya hanya khusus untuk buang air kecil dan besar saja karena najis keduanya lebih menjijikkan dari pada najis yang lain.

Hukum Memindahkan Rukun Qauli Dalam Shalat


Deskripsi masalah.

Sebagaimana yang kita maklumi, ibadah sembahyang mempunyai beberapa rukun yang mesti dilaksanakan dengan baik dan sempurna. Kegagalan seseorang melakukan rukun sembahyang dengan baik dan sempurna walaupun satu rukun daripadanya, dapat menyebabkan sembahyangnya tidak sah. Rukun-rukun sembahyang itu pula ada yang dilakukan dengan hati yaitu niat, ada juga yang dilakukan dengan gerakan anggota tubuh dan badan (rukun fi’li) seperti berdiri betul, ruku', sujud dan lain-lain, dan ada juga yang dilakukan dengan gerakan lisan atau membaca bacaan tertentu (rukun qauli) seperti membaca takbiratul ihram, membaca surah al-Fatihah pada setiap rakaat dan lain-lain lagi.

Pertanyaan :

Mengenai rukun yang dilakukan dengan gerakan lisan atau membaca bacaan tertentu (rukun qauli) bolehkah memindahkan rukun Qauli tersebut pada bukan tempatnya seperti membaca fatihah pada ruku’ ,,,??

Jawaban :

Boleh memindahkan rukun qauli kecuali salam dan takbiratul ihram seperti membaca fatihah pada ruku’ atau membaca bacaan i’tidal pada sujud maka perpindahan tersebut tidak menyebabkan batal salat dalam pendapat Asah, walau dengan sengaja dan di sunnatkan sujud sahwi dalam pendapat Asah karna meninggalkan sesuatu yang di perintahkan, akan tetapi jikalau membaca surat sebelum fatihah ketika berdiri tidak di sunnatkan sujud sahwi karna berdiri merupakan tempat untuk baca surat.

(وَلَوْ نَقَلَ رُكْنًا قَوْلِيًّا) لَا يُبْطِلُ فَخَرَجَ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَتَكْبِيرُ التَّحَرُّمِ بِأَنْ كَبَّرَ يَقْصِدُهُ وَحِينَئِذٍ لَا نَظَرَ فِيهِ خِلَافًا لِلْإِسْنَوِيِّ (كَفَاتِحَةٍ فِي رُكُوعٍ أَوْ) جُلُوسِ (تَشَهُّدٍ) آخِرٍ أَوْ أَوَّلَ وَتَقْيِيدُ شَارِحٍ بِالْآخِرِ لَيْسَ فِي مَحَلِّهِ وَكَتَشَهُّدٍ فِي قِيَامٍ أَوْ سُجُودٍ (لَمْ يُبْطِلْ عَمْدُهُ فِي الْأَصَحِّ) لِأَنَّهُ غَيْرُ مُخِلٍّ بِصُورَتِهَا بِخِلَافِ الْفِعْلِيِّ (وَيَسْجُدُ لِسَهْوِهِ فِي الْأَصَحِّ)

Tuhfah muhtaj Juz 2 Hal 176

. (وَلَوْ) (نَقَلَ رُكْنًا قَوْلِيًّا) غَيْرَ مُبْطِلٍ فَخَرَجَ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَتَكْبِيرَةُ الْإِحْرَامِ بِأَنْ كَبَّرَ بِقَصْدِهِ (كَفَاتِحَةٍ فِي رُكُوعٍ أَوْ) جُلُوسِ (تَشَهُّدٍ) آخَرَ أَوْ أَوَّلَ، وَقَوْلُ بَعْضِ الشُّرَّاحِ أَوْ تَشَهُّدٍ آخَرَ لَيْسَ بِقَيْدٍ، أَوْ نَقْلِ تَشَهُّدٍ أَوْ بَعْضِ ذَلِكَ إلَى غَيْرِ مَحَلِّهِ، أَوْ نَقْلِ قِرَاءَةٍ مَنْدُوبَةٍ كَسُورَةٍ إلَى غَيْرِ مَحَلِّهَا (لَمْ تَبْطُلْ بِعَمْدِهِ فِي الْأَصَحِّ) ؛ لِأَنَّهُ غَيْرُ مُخِلٍّ بِصُورَتِهَا بِخِلَافِ الْفِعْلِيِّ (وَ) عَلَى الْأَصَحِّ (يَسْجُدُ لِسَهْوِهِ) وَلِعَمْدِهِ أَيْضًا (فِي الْأَصَحِّ) لِتَرْكِهِ التَّحَفُّظَ الْمَأْمُورَ بِهِ فِي الصَّلَاةِ فَرْضِهَا وَنَفْلِهَا أَمْرًا مُؤَكَّدًا كَتَأَكُّدِ التَّشَهُّدِ الْأَوَّلِ.
نَعَمْ لَوْ قَرَأَ السُّورَةَ قَبْلَ الْفَاتِحَةِ لَمْ يَسْجُدْ كَمَا قَالَهُ ابْنُ الصَّبَّاغِ؛ لِأَنَّ الْقِيَامَ مَحَلُّهَا فِي الْجُمْلَةِ، وَقِيَاسُهُ أَنَّهُ لَوْ صَلَّى عَلَى النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَبْلَ التَّشَهُّدِ لَمْ يَسْجُدْ؛ لِأَنَّ الْقُعُودَ مَحَلُّهَا فِي الْجُمْلَةِ.

Nihayatul muhtaj ila syarhil minhaj Jilid 2 hal 73

Status Puasa Orang Pingsan

Deskripsi Masalah :

Saat kita puasa mungkin ada hal-hal yang akan berpengaruh kepada status puasa kita ( sah atau tidak ), seperti pingsan, pingsan saat puasa akan berdampak kepada sahnya puasa atau tidak sah.

Pertanyaan :

1. Bagaimana penjelasan tentang orang pingsan saat puasa, apakah batal puasanya secara mutlak atau ada rinciannya ?

2. Kenapa wajib qadha jika memang pingsan dalam kondisi tertentu akan mengakibatkan batal puasa ?

Jawaban :

1. Pingsan saat puasa tidak mengakibatkan batal puasa secara mutlak, tetapi puasa akan batal jika pingsan dalam kondisi khusus ( pingsan sepanjang hari ), jika pingsan tidak sepanjang hari maka puasa tidak batal ( sah ).

2. Wajib qadha puasa sebab pingsan karena pingsan dikategorikan dalam sakit, tidak puasa karena sakit maka wajib qadha sesuai dengan ayat 184 surat al-Baqarah.

Referensi :

( والأظهر ) وفي الروضة المذهب ( أن الإغماء لا يضر إذا أفاق لحظة من نهاره ) أي لحظة كانت اتباعا لزمن الإغماء من الإفاقة فإن لم يفق ضر

Mughni Muhtaj Juz 1 Hal 433 Cet Dar al-Fikr


والمغمى عليه يجب عليه القضاء مطلقا بتعد أو غيره لأن الإغماء مرض وهو يوجب القضاء قرره شيخنا.

قوله ( وإغماء)  لأنه نوع من المرض فاندرج تحت قوله تعلى فمن كان منكم مريضا ( البقرة ؛ 184)

Hasyiah Bujairimi 'ala syarh Manhaj Thullab Juz 2 Hal 105 Cet Dar Kutub Islamiyyah.
 

Pahala Sedekah si kafir

Lbm.Mudi- Sedekah merupakan hal yang sangat dianjurkan dalam agama yang mulia dan benar ini. Banyak sekali ayat-ayat Alquran dan hadis yang menjelaskan tentang kelebihan dan fadhilah sedekah. Selain memperoleh pahala dan keampunan dosa di akhirat, manfaat dari sedekah juga bisa diperoleh secara langsung di dunia ini. Misalnya, terjalin hubungan sosial yang erat antar sesama, mendapat ketenangan jiwa karena telah membagi kebahagian, dan yang paling utama adalah digandakan sepuluh kali lipat dari yang telah diberikan.

Semua keutamaan dan manfaat yang diperoleh dari sedekah sebagaimana kami sebutkan di atas hanya berlaku jika orang yang bersedekah tersebut adalah beragama islam, tidak selainnya. Kafir tidak akan mendapat pembalasan yang mulia diakhirat nanti walaupun sepanjang hidupnya dihiasi dengan kebaikan. Allah sendiri bejanji bahwa mungkin saja dosa-dosa hambanya akan diampuni kecuali bila hamba itu menyekutukan Allah swt. Lalu bagaimanakah sebenarnya status dari sedekah yang dilakukan oleh seseorang yang bukan Islam?

Untuk mengetahui hal tersebut, di bawah ini kami nukilkan sedikit matan yang menjelaskan tentang sedekah yang dilakukan orang kafir dalam kitab Majmu’ Syarah al-Muhazzab :

(فرع) لا يصح من كافر أصلي ولا مرتد صلاة ولو صلي في كفره ثم أسلم لم نتبين صحتها بل هي باطلة بلا خلاف أما إذا فعل الكافر الاصلي قربة لا يشترط النية لصحتها كالصدقة والضيافة وصلة الرحم والاعتاق والقرض والعارية والمنحة واشباه ذلك فان مات على كفره فلا ثواب له عليها في الآخرة لكن يطعم بها في الذنيا ويوسع في رزقه وعيشه وان أسلم فالصواب المختار أنه يثاب عليها في الآخرة للحديث الصحيح

“Tidak sah orang kafir yang asli dan orang yang murtad melakukan shalat. Jika ia shalat dalam kondisi kekufuran, kemudian masuk islam niscaya tidak dinyatakan sah dengan tidak ada khilaf Ulama. Adapun apabila orang kafir tersebut melakukan satu qurbah, tidak disyaratkan niat untuk sah, seperti sedekah, perjaman tamu, silaturrahmi, memerdekakan hamba, memberi hutang, memberi pinjaman, atau pemberian lain yang serupa demikian, Maka jika ia mati dalam kekufurannya tidak akan memperoleh pahala di akhirat. Akan tetapi ia akan mendapatkan makanan dengan sebab itu di dunia ini, di luaskan rezekinya dan kehidupannya. Jika ia masuk islam maka pendapat kuat yang terpilih ia akan memperoleh pahala di atas seluruh amalannya di akhirat karena ada hadis yang Shahh”.

Dari redaksi di atas bias dipahami bahwa sedekah ataupun perbuatan yang baik lainnya yang dilakukan si kafir akan mendapat balasan secara langsung di dunia dengan mendapat keluasan dalam hal rezeki dan penghidupannya. Adapun di akhirat ia tidak memperoleh apa-apa, kecuali jika ia masuk islam sebelum meninggal, maka pahala dari amalan yang telah ia kerjakan akan bisa diambilnya kembali di akhirat kelak. Wallahu A’lam.


Hukum Lamaran Sebelum Pernikahan

Deskripsi masalah :
manusia dan hewan merupakan makhluk ciptakan Allah swt, dan kepada keduanya Allah berikan nafsu. Jika pada hewan hanya ada nafsu semata-mata, manusia terdapat akal untuk mengimbanginya. Salah satu bentuk keinginan manusia adalah menyalurkan hasrat biologis dengan metode yang halal yaitu menikah.

Peertanyaan :
Apa hukum lamaran sebelum menikah?

Jawaban:
Hukum khitbah/lamaran adalah sunat, maksudnya disunatkan bagi pihak laki-laki untuk meminang si perempuan sebelum terjadinya akad nikah, dan disunatkan juga untuk membaca khutbah sebelum lamaran dan sebelum ijab nikah. Sebagaimannya khutbah pada umumnya, maka disunatkan untuk dimulai dengan memuji kepada Allah kemudian membaca shalawat dan salam kepada Rasulullah saw, wasiat takwa kepada Allah, dan kemudian mengucapkan
“saya datang kepada kalian untuk meminang saudara kalian” atau “saya datang kepada kalian untuk meminang anak gadis kalian”, adapun bila diwakilkan pada orang lain untuk meminang, seperti orang tuanya, maka diucapkan “saya datang kepada kalian untuk meminang saudara kalian untuk anak saya, dan lain sebagainya”.

Haram mengkhitbah wanita yang sedang dalam masa iddah, baik iddah talak raj’i (satu atau dua) atau iddah talak bain (tiga), baik iddahnya dengan sebab talak, fasah (membatalkan akad nikah), atau karena meninggal suaminya. Dan boleh menyindir (kata-kata yang tidak menunjuki secara jelas kepada keinginan untuk menikah) wanita yang menjalani masa iddah bukan karena talak raj’i, contohnya seperti mengatakan “kamu cantik”, dan lainnya.

Seseorang yang menalak istrinya dengan talak tiga maka tidak diperbolehkan untuk meminang istri tersebut melainkan sudah menikah dengan dengan orang lain (muhallil), dan sudah lalu iddah dengan muhallil tersebut. Dan diharamkan melamar perempuan yang telah dilamar oleh orang lain karena ada hadis Rasulullah yang diriwayat oleh imam Bukhari dan imam Muslim:

وَلَا يَخْطُبَ الرَّجُلُ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيهِ حَتَّى يَتْرُكَ الْخَاطِبُ قَبْلَهُ أَوْ يَأْذَنَ لَهُ الْخَاطِبُ

Artinya : tidak boleh untuk meminang perempuan yang telah dipinang oleh orang lain melainkan telah ditinggalkan/putus hubungan oleh peminang terdahulu, atau diizinkan untuk dipinang oleh peminang terdahulu.

Referensi :
I’anatut thalibin jilid 3 hal 264

ويسن خطبة بضم الخاء من الولي له أي للنكاح الذي هو العقد بأن تكون قبل إيجابه فلا تندب أخرى من المخاطب قبل قبوله كما صححه في المنهاج بل يستحب تركها خروجا من خلاف من أبطل بها كما صرح به شيخنا وشيخه زكريا رحمهما الله لكن الذي في الروضة وأصلها ندبها.
وتسن خطبة أيضا قبل الخطبة وكذا قبل الإجابة فيبدأ كل بالحمد والثناء على الله تعالى ثم بالصلاة والسلام على رسول الله صلى الله عليه وسلم ثم يوصي بالتقوى ثم يقول في خطبة الخطبة: جئتكم راغبا في كريمتكم أو فتاتكم وإن كان وكيلا: قال: جاءكم موكلي أو جئتكم عنه خاطبا كريمتكم فيخطب الولي أو نائبه كذلك ثم يقول لست بمرغوب عنك.
ويستحب أن يقول قبل العقد أزوجك على ما أمر الله به عز وجل من إمساك بمعروف أو تسريح بإحسان.
فروع يحرم التصريح بخطبة المعتدة من غيره رجعية كانت أو بائنا بطلاق أو فسخ أو موت.
ويجوز التعريض بها في عدة غير رجعية وهو: كأنت جميلة ورب راغب فيك.
ولا يحل خطبة المطلقة منه ثلاثا حتى تتحلل وتنقضي عدة المحلل إن طلق رجعيا وإلا جاز التعريض في عدة المحلل.
ويحرم على عالم بخطبة الغير والإجابة له خطبة على خطبة من جازت خطبته وإن كرهت وقد صرح لفظا بإجابته إلا بإذنه له من غير خوف ولا حياء أو بإعراضه: كأن طال الزمن بعد إجابته ومنه سفره البعيد.

donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja