Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Fatwa ulama: Membaca صدق الله العظيم dalam shalat

Deskripsi masalah:

Dalam setiap selesai membaca Al quranul karim kebiasaan manusia  membaca صدق الله العظيم di akhir penutupannya. Dalam shalat, Al-fatihah dan surat yang dibacakan sesudahnya juga merupakan sebagian ayat dari Al'quran.

Pertanyaan:

1.Apakah hukum membaca صدق الله العظيم setelah membacakan surat dalam shalat?

2.Bila dibaca apakah dapat membatalakan shalat ?

3.Apakah bacaan ini termasuk mengadakan hal-hal buruk dalam agama (bid’ah qabihah) ?

Jawaban:

Membaca  صدق الله العظيم setelah membaca surat boleh dan tidak dapat membatalkan shalat karena itu termasuk zikir yang bukan pembicaraan manusia akan tetapi ini termasuk dalam bid’ah yang tidak ada pada masa Rasulullah SAW. Pada dasarnya yang namanya bid’ah itu qabihah (buruk) selama tidak ada dalil yang menyatakan itu bid’ah hasanah. 

Pengucapan lafad صدق الله العظيم ini tidak sama dengan pengucapan doa ketika ayat-ayat rahmat dan menuntut tolong ketika ayat azab, tidak sama juga seperti pengucapan بلى وأنا على ذلك من الشاهدين pada ketika membaca ayat  اليس الله باحكم الحكمين  karena pengucapan ini termasuk hal yang khusus, bukan seperti  pengucapan صدق الله العظيم yang umum kepada semua ayat Al qur’an, maka karena itu, pengucapan ini jelas qabih (buruk) .  Wallahua’lam bisshawab.

Referensi : Kitab Fatawa Al I’raqiyyi Hal 150 Cet, Darul fathi



Perbedaan Isim Fa’il dan sifat Musyabihat

A. Pengertian isem fai’il

اسم الفاعل : صفة تؤخذ من الفعل المعلوم لتدل على معنى وقع من الوصوف بها او قام به على وجه الحدوث لا الثبوت ككاتب ومجتهد.
Isem fai’il adalah sifat yang diambilkan dari fi’il yang maklum (ma'ruf) supaya menunjuki atas makna yang terjadi dari mausuf atau yang berdiri dengannya atas wajah hudust bukan tsubut, seperti كاتب dan مجتهد .

B. Pengertian sifat musyabihat

الصفة المشبهة : صفة تؤخذ من الفعل اللازم للدلالة على معنى قائم بالموصوف بها على وجه الثبوت لا على وجه الحدوث, كحسن وكريم وصعب.

Sifat musyabihat adalah sifat yang diambilkan dari fi’il lazim supaya mendilalah (indikasi) diatas makna yang berdiri dengan mausuf atas wajah tsubut bukan atas wajah hudust, seperti حسن, كريم dan صعب .

C. Perbedaan isem fa’il dan sifat musyabihat

Perbedaan isem fa’il dan sifat musyabihat ada 5 faktor :

1. Sifat musyabihat menunjuki atas sifat yang tsubut, sedangkan isem fa’il menunjuki atas sifat yang tajaddud.

2. Isem fai’il terjadi pada salah satu zaman yang tiga, sedangkan sifat musyabihat itu bagi makna yang kekal lagi yang hadhir kecuali sifat musyabihat ada disana qarinah yang menunjuki atas khilaf hadhir, seperti

كان سعيد حسنا فقبح.

3. Sifat musyabihat dishighatkan dari fi’il lazim secara qiyasi dan tidak dishighatkan dari fi’il muta’addi kecuali sima’i, seperti رحيم dan عليم.

4. Sifat musyabihat tidak lazim berlakunya atas wazan fi’il mudhari’ pada harakatnya dan sukunnya kecuali apabila dishighatkan dari selain fi’il tsulatsi mujarrad. Sedangkan isem fa’il wajib padanya demikian secara muthlak.

5. Sifat musyabihat boleh diidhafah kepada fa’il bahkan dianggap bagus, seperti حَسَنِ الخُلْق asalnya حَسَنٌ خُلُقُهُ.
Sedangkan isem fa’il tidak boleh diidhafah kepada fa’il, maka tidak boleh kita katakan خليلٌ مُصِيبُ السَهْمِ الهَدفِ artinya مصيبٌ سهمُهُ الهدف.

Referensi:

Jami’ durus, Cet. Darul fikri, hal. 115, 120, 124, 125

Keistimewaan hari dalam seminggu

Berkata sebagian ulama yang bahawasanya bumi dan langit itu diciptakan oleh Allah SWT pada hari Ahad, maka hikmatnya bagi orang yang hendak membangun suatu rumah atau bangunan lainnyauntuk dapat membangun pada hari tersebut.

Kemudian Allah ciptakan Matahari dan bulan pada hari senin dimana sifat keduanya itu berjalan dari arah timur ke arah barat, maka bagi yang hendak berpergian alangkah baiknya untuk bersafar pada hari senin.

Selanjutnya Allah menciptakan segala hewan didarat maupun dilaut pada hri selasa kemudian Allah perbolehkan untuk menyembelihnya (menumpahkan darahnya), hikmatnya orang yang berencana mendonorkan darahnya atau membekam maka yang terbaik dilakukan pada hari selasa.

Pada hari rabu Allah menciptakan segala sungai dan laut dan memperboleh untuk menikmatinya dengan meminumnya, maka terhadap orang yang ingin meminum obat agar dapat meminunya pada hari rabu.

Tepatnya dihari Kamis Allah menciptakan surga dan neraka dan menjadikan surga sebagai tempat keperluan bagi manusia dan menjadikan neraka kelepasan baginya, maka terhadap orang yang ingin ditunaikan hajatnya  dari seseorang yang lain untuk dapat memintanya pada hari kamis

Terakhir Allah ciptakan Nabi Adam AS dan pasangannya siti Hawa pada hari jum'at dan mengawininya pada hari tersebut, maka terhadap orang yang ingin menempuh nikah baiknya melaksanakan pada hari jum'at.

Wallahua'lam bisshawab

Sumber : Kitabussaba'ti  fi mawa'izil bariyyati Hal 39-40

simak juga pemaparannya di :
https://www.youtube.com/watch?v=_woGyYjcmLI


kebaikan mengkonsumsi halal dan kemudharatan haram

Makanan halal merupakan makanan yang wajib kita konsumsi hal ini sangat jelas hadist dari Rasulullah SAW yang bahwa:

طلب الحلال فرىضة على كل مسلم
    "mencari makanan halal itu fardhu diatas tiap orang muslim"

Disamping itu mengkonsumsi makanan halal juga mendapat kelebihan-kelebihan dari Allah SWT, sama halnya seperti mengkunsumsi makanan haram yang membawa kemudharatan kepada jasmani dan rohani. Adapun kelebihan dari mengkonsumsi makanan  halal dan mudharat dari makanan haram menurut penulis dapatkan dari kitab mukhtasar ihyal ulumiddin adalah:
1. Orang yang mengkonsumsi makanan halal selama empat puluh hari maka Allah akan mencahayakan hatinya dan Allah berikan kepadanya gudang hikmah kedalam qalbunya, dalam satu hadist riwayat yang lain disebutkan akan Allah berikan kezuhudan kepadanya.

من اكل الحلال اربعىن ىوما نور الله قلبه واجري ىنابع الحكمة من قلبه
"orang yang makan makanan halal dalam empat puluh hari, maka Allah cahayakan hatinya dan memberikan gudang hikmat dalam hatinya"

2. Doa orang yang menkonsumsi makanan halal di ijabahkan oleh Allah SWT,ini juga terdapat dalam hadist Rasullullah.

ان سعدا سأل رسول الله صلى الله عليه وسلم أن ىسأل الله أن ىجعله مستجاب الدعوة فقال أطب طعمك تستجاب دعوتك
sa'ad menanyakan kepada Rasulullah SAW Supaya Rasulullah meminta kepada Allah SWT agar diterimakan doanya, Rasulullah SAW bersabda : "Perbaguskan makananmu niscaya diterimakan doamu"

Adapun kemudharatan yang ditimbulkan dari makana  haram adalah :
1.Segala malaikat yang berada diatas Baitul maqdis menyeru menyeru tiat-tiap malam kepada kepada orang yang makan haram : "tidak diterimakan bagi kalian amalan yang wajib dan sunat"
2.Orang yang mengkunsumsi makanan haram tidak akan diterimakan shalatnya oleh Allah SWT selama  makan tersebut masih berkekalan padanya.
3.Neraka  terlebih layak bagi pemakan haram.
Ini hanya sebagian kecil yang penulis terjemahkan dari kitab mukhtasar ihya ulumiddin intinya banyak sekali manfaat  bagi badan dan rohani kita seandainya kita mengkonsumsi makan halal dan mudharat dari makanan haram.

Referensi : Mukhtasar ihya ulumuddin Hal 114 Cet, Dar Assalam

https://www.youtube.com/watch?v=8NLzXaOVx1s



Fatwa ulama: hukum menggauli istri lewat dubur saat haid

Deskripsi masalah:

Dalam islam segala sesuatu itu diatur sehingga dikatakan islam ini menjadi rahmat terhadap pemeluknya inilah perbedaan agama islam dengan agama lainnya yang hanya mengatur seputar ketuhannya saja. Dalam islam semua diatur sampai kepada hak biologis pemeluknya, sebatas mana yang diperbolehkan dan tidak. Dalam berhubungan badan, kita ketahui bersama tidak diperkenankan menggauli istri  (lewat faraj) saat istri sedang haid. Hal ini karena larangan Al qur’an yang tentunya membawa kemudharatan kepada setiap pelanggarnya.

Pertanyaan :

Bagaimana hukumnya menggauli istri saat haid lewat jalan belakang ( dubur) ?

Jawaban:

Dalam satu hadist disebutkan Rasululullah SAW bersabda :

لا تأتوا النساءفى أحشاشهنَّ 
 "Jangan kalian setubuhi istri-istri kalian dalam kekecian"

Maksud Al hasshi disini maknanya adalah dubur, bahkan dalam Al quran Allah SWT berfirman :


(فَأتُوْاهُنَّ مِنْ حَيْثُ أمَرَكُمُ اللَه ) 
"Setubuhi istri-istri kalian pada tempat yang diperintahkan Allah" QS Al baqarah 222

Dalam ayat lain Allah berfirman :

(فَأتُوْاحَرْثَكَم أنَّى شِئتُمْ) 
"Setubuhi istri-istri kalian bagaimana kalian kehendaki" QS. Al baqarah 222-223

Maksud kata al hars disini adalah faraj, dinamakan faraj dengan al hars karena faraj itu tempat bercocok tanam . Karena dalil ini, ijmak para ulama haram menggauli istri lewat belakang (dubur). Tidak diperkenankan pula terhadap istri mematuhi suaminya pada masalah ini karena berdasarkan hadist Rasulullah SAW :

 لاَطَاعَةَ لمَخلوْق فِى مَعْصية الخَالِق
"Tidak ada ketaatan pada makhluk dalam bermaksiat pada sang pencipta"

Adapun menggauli istri dengan gaya dari arah belakang (doggy style) ke dalam faraj maka dibolehkan. karena ayat :

(فَأتُوْاحَرْثَكَم أنَّى شِئتُمْ) 
 "Setubuhi istri-istri kalian bagaimana kalian kehendaki" QS. Al baqarah 222-223

Artinya diperbolehkan menggauli lewat depan, belakang, dalam posisi berdiri, dan duduk, dan segala gaya lainnya, tidak diperkenankan kedalam dubur karena dubur itu tempat kotor sedangkan islam agama yang bersih dan mencintai kebersihan.
Begitu pula diharamkan menggauli istri dalam lubang anus saat istri sedang berhaid alasannya karena karena kedua tempat ini (faraj dan anus) sama-sama diharamkan Allah SWT dan Rasulnya.
Para dokter mengemukakan penyakit yang ditimbulkan dengan sebab melakukan perbuatan keji ini salah satunya adalah AIDS.
Banyak hadist-hadist yang melarang menggauli istri lewat dubur salah satunya:
Hadist Abdullah bin umar Rasulullah SAW bersabda:

 هِي اللوطية الصغريَ
"Menggauli istri lewat dubur termasuk liwat kecil"

Dalam hadist lain Rasulullah SAW bersabda :

"Orang yang menggauli istrinya sedang berhaid, atau dalam duburnya, atau seseorang yang mendatangi pendeta lalu membenarkanya, maka mereka telah ingkar terhadap yang diturunkan kepada Muhammad SAW"  HR.Ahmad, Turmizi, Nasai dan Ibnu majah.

Wallahua'lam bisshawab.

Referensi: Kitab Fatawa Tahurrul mar'ah Hal 36-37 Cet, Darl Fath


Bolehkah perempuan haid memandikan mayat?

Deskripsi masalah:

Salah satu hal yang harus di tajhizkan terhadap jenazah adalah memandikannya, memandikan mayit merupakan fardhu kifayah terhadap orang yang ditinggalkannya, dimana tujuan dari pekerjaan ini adalah untuk membersihkan si mayat yang akan di masukkan ke liang lahat nantinya.

Pertanyaan:

Apakah diperbolehkan terhadap orang yang sedang haid memandikan jenazah?

Jawaban:

Dalam mazhab syafi’ dan hambali dibolehkan terhadap orang berjunub atau berhaid memandikan mayit (tidak dimakruhkan) karena maksud dari memandikan jenazah itu sendiri adalah membersihkan mayit yang bisa dilakukan walau oleh orang berjunub dan haid dan tidak disyaratkan terhadap si ghasil (yang memandikan) harus dalam keadaan suci.

- Hasyiyah Al-bajuri 1/246 :

ولا يكره لنحو جنب غسله

- Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah 39/414-415 :

ذهب الحنفية والشافعية والحنابلة إلى جواز أن يغسل الجنب والحائض الميت بلا كراهة لأن المقصود هو التطهير، وهو حاصل بالجنب والحائض، ولأنه لا يشترط في الغاسل الطهارة وذهب المالكية إلى كراهة غسل الجنب للميت لأنه يملك طهره ولا يكره تغسيل الحائض لأنها لا تملك طهرها . وروي عن أبي يوسف أنه كره للحائض الغسل لأنها لو اغتسلت لنفسها لم تعتد به فكذا إذا غسلت



Mengenal Kitab Tuhfatul Muhtaj

Kitab Tuhfatul Muhtaj ini merupakan kitab fiqh karangan Syaikhul Islam Ibnu Hajar al-Haitami merupakan syarah atas kitab Minhajul Thalibin Imam Nawawi. Sebagaimana telah maklum bahwa kitab Minhaj Imam Nawawi ini merupakan salah satu kitab matan fiqh yang terpopuler semenjak masa Imam Nawawi hingga sekarang. Para ulama berlomba-lomba berkhidmat kepada kitab ini. Ada yang hanya mempelajari dan mengajarinya saja, ada yang juga menghafalnya, ada yang meringkasnya atau mensyarahnya.
Di antara sekian banyak kitab fiqh mukhtashar, kitab Minhaj merupakan kitab yang mukhtashar yang paling banyak di syarah oleh para ulama. Di antara syarah kitab Minhaj yang paling populer adalah kitab Tuhfatul Muhtaj karangan Syeikhul Islam Ibnu Hajar al-Haitami. Tuhfah menjadi kitab fiqh karangan ulama mutaakhirin yang paling populer bersama dengan Nihayatul Muhtaj karangan Imam Jamal Ramli.
Kitab tuhfah merupakan kitab fiqh aliyah yang hanya dipelajari oleh para pelajar yang telah mempelajari kitab-kitab fiqh lain yang lebih kecil. Maka majlis pengajian Tuhfah merupakan majlis para ulama. Maka untuk zaman ini memang jarang para pelajar yang belajar sampai kitab Tuhfah kecuali hanya menelaahnya sendiri saja. KH. Sirajuddin Abbas menceritakan bahwa majlis kitab Tuhfah di Padang yang di asuh oleh KH. Sa’ad Munka di hadiri oleh para ulama-ulama besar Padang seperti Syeikh Abbas Lawas Bukit Tinggi, Syeikh Abdul Wahed Tabek Gadang, Syeikh Sulaiman ar-Rasuli, Syeikh Yahya al-Khalidi Magek Bukit Tinggi dll.

Kitab Tuhfah ini tergolong unik. Beberapa hal yang unik yang perlu kita ketahui dari kita Tuhfahtul Muhtaj antara lain;
  • 1. Selesai dikarang dalam waktu yang relatif singkat.
Kitab Tuhfatul Muhtaj dikarangan oleh Ibnu Hajar dalam waktu yang singkat, beliau memulainya pada 12 Muharram 958 H dan selesai pada 27 Zulqa’dah 958 H, hanya sepuluh bulan, satu masa yang sangat singkat untuk satu karya sebesar Tuhfah. Perbedaan sangat terlihat jauh ketika kita membandingkan dengan syarah Minhaj lain yaitu Nihayatul Muhtaj yang selesai dalam masa sepuluh tahun (mulai bulan Zul qa’dah 963 H/1555 M dan selesai pada malam jumat 19 jumadil akhir 973 H/1565 M) dan Mughni Muhtaj yang selesai dalam jangka waktu empat tahun (959 H – 963 H). Ibnu Hajar dalam kitab Tuhfah banyak mengambil dai hasyiah guru beliau, Syeikh Abdul Haq atas Syarah Minhaj karangan Imam al-Mahalli.
  • 2. Ibaratnya yang sulit

Karena masa penulisan yang sangat cepat, maka ibarat kitab Tuhfah tergolong sangat sulit. Bila kita membandingkan itab Tuhfatul Muhtaj dengan dua syarah Minhaj yang setingkat dengannya, Nihayatul Muhtaj dan Mughnil Muhtaj, maka kita akan dapati perbedaan yang sangat jauh. Di mana ibarat kitab Tuhfah sangat sulit dan rumit. Murid Ibnu Hajar sendiri, Saiyid Umar menyatakan bahwa guru beliau Ibnu Hajar berupaya menulis Tuhfah dengan bahasa yang ringkas karena mengharap mudah di ambil faedah oleh para pelajar, namun ternyata bahasa Ibnu Hajar di anggap terlalu ringkas sehingga baru mudah dipahami setelah menguasai pendapat-pendapat manqul dari ulama mutakaddimin dan kritikan-kritikan ulama mutaakhirin dan istilah-istilah mereka. Karena itu, beberapa para ulama berusaha menuliskan kitab khusus yang membuka tabir istilah-istilah Syeikh Ibnu Hajar dalam kitab Tuhfah. Beberapa kitab yang menjelaskan istilah kitab Tuhfah adalah ‘Uqud ad-Durar fi mushthalahat Tuhfah Ibn Hajar karangan Syeikh Sulaiman Kurdi, Fawaid al-Madaniyahfi man Yufta bi qaulihi min aimmah asy-Syafi’iyah yang kemudian di ringkas oleh ulama asal Malabar, India, Syeikh Ahmad Kuya Ali asy-Syaliyati dengan nama ‘Awaid Diniyah fi Talkhish al-Fawaid Madaniyah juga karagan Syeikh Sulaiman Kurdi, Tazkiratul Ikhwan fi Mushthalah Tuhfah karangan murid Syeikh Sulaiman Kurdi yaitu Syeikh Muhammad bin Ibrahim ‘Aliji al-Qulhani (di cetak oleh penerbit Dar Shalih Mesir, tahun 2017), ulama asal Dangestan, Syarah Khutbah Tuhfah karangan al-Allamah Jarhazi, dan Risalah fi Mushthalahat at-Tuhfah karangan Imam Jarhazi. ini belum termasuk kitab-kitab yang dikarang setelahnya yang umumnya merupakan kutipan dari kitab Syeikh Sulaiman Kurdi dan Tazkirah Ikhwan karya murid beliau, Syeikh Muhammad Ibrahim ‘Alijy.

  • 3. Menjadi rujukan utama ulama mutaakhirin.

Kitab Tuhfah bersama Nihayatul Muhtaj karangan Imam Jamal Ramli merupakan rujukan utama dalam bidang bidang fiqh Mazhab Syafii. Kedua isi kitab ini menghiasai hampir semua kitab-kitab fiqh mazhab Syafii yang dikarang setelahnya. Bahkan sebagian ulama melarang berfatwa menyalahi kedua kitab ini.
Para ulama sepakat bahwa hukum yang di sepakati oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami dan Imam Ramli merupakan hukum yang paling kuat. Namun para ulama berbeda pendapat tentang siapa yang lebih di dahulukan bila terjadi perbedaan pendapat antara Imam Ibnu Hajar al-Haitami dengan Imam Ramli.
Ulama Negri Hadharamaut, Syam, Akrad, Daghistan, kebanyakan ulama Yaman dan beberapa negri lainnya lebih mendahulukan Imam Ibnu Hajar al-Haitami. Sedangkan ulama Negri Mesir atau mayoritas ulama Mesir dan sebagian ulama Yaman lebih mendahulukan pendapat Imam Ramli bahkan masyhur berita bahwa para ulama Mesir telah berjanji tidak akan berfatwa dengan menyalahi pendapat Imam Ramli. Dalam beberapa hal yang berbeda pendapat dengan Imam Ibnu Hajar al-Haitami, Imam Ramli mengikuti pendapat bapak beliau, Imam Syihab Ramli.
Imam Sya`rani ketika menceritakan riwayat Imam Syihab Ramli menerangkan “Allah ta`ala menjadikan para fuqaha` tetap pada pendapat beliau (Syihab Ramli) baik di timur dan barat, di Mesir, Syam dan Hijaz, mereka tidak menyalahi pendapat Imam Syihab Ramli.
Imam Sulaiman Kurdi menyebutkan “mudah-mudahan hal ini terjadi sebelum muncul Imam Ibnu Hajar al-Haitami, manakala muncul Imam Ibnu Hajar al-Haitami, para ulama Nengri Syam dan Hijaz tidak menyalahi pendapat Imam Ibnu Hajar”.
Namun ada juga beberapa ulama Mesir yang lebih mendahulukan Imam Ibnu Hajar, bahkan Syeikh Ali Syabramallisi, ulama Mesir yang memberi hasyiah pada kitab Nihayah Muhtaj karangan Imam Ramli, pada mulanya lebih menekuni kitab Tuhfah Imam Ibnu Hajar al-Haitami. Hingga pada satu malam beliau bermimpi bertemu dengan Imam Ramli, beliau berkata “hidupkanlah kalamku ya Ali, Allah akan menghidupkan hatimu” maka semenjak saat itu Imam Ali Syibramalisi menekuni kitab Nihayah Muhtaj sehingga beliau menulis hasyiah atas kitab Nihayah Muhtaj yang terkenal sampai saat ini. Imam Qalyubi yang juga ulama Mesir (yang memberi hasyiah terhadap kitab Syarh al-Mahalli `ala Minhaj Thalibin) pada beberapa tempat juga lebih mengunggulkan pendapat Imam Ibnu Hajar al-Haitami.
Sedangkan ulama Haramain (Makkah dan Madinah) pada mulanya lebih mengunggulkan pendapat Imam Ibnu Hajar al-Haitami. Kemudian datanglah para ulama Negri Mesir ke Haramain. Mereka menerangkan dan mentaqrirkan pendapat mu`tamad imam Ramli dalam majlis pengajaran mereka sehingga mu`tamad Imam Ramli juga masyhur di Makkah dan Madinah, hingga akhirnya para ulama yang menguasai dan memahami kedua pendapat Imam Ibnu Hajar al-Haitami dan Imam Ramli menerima keduanya tanpa mengunggulkan salah satunya.
Kesepakatan Imam Ibnu Hajar dan Imam Ramli memiliki kedudukan yang kuat dalam Mazhab Syafii, bahkan syeikh Sa`id Sunbul al-Makki mengatakan “tidak boleh bagi seorang mufti berfatwa dengan pendapat yang menyalahi pendapat Imam Ibnu Hajar dan Imam Ramli terutama kitab Tuhfah dan Nihayah walaupun sesuai dengan pendapat keduanya dalam kitab yang lain. Beliau mengatakan “sebagian para ulama dari daerah Zamazimah telah memeriksa kalam kitab Tuhfah dan Nihayah, maka beliau mendapati kedua kitab tersebut merupakan sandaran dan pilihan mazhab Syafii”.
Kitab Nihayatul Muhtaj, setelah selesai dikarang, telah dibacakan dihadapan muallifnya sendiri dari awal hingga khatam dengan di hadiri oleh 400 ulama yang mengkritisi dan mentashhih kitab beliau tersebut sehingga kesahihannya mencapai tingkat tawatur. Sedangkan kitab Tuhfah Ibnu Hajar al-Haitami telah dibacakan dihadapan muallifnya sendiri oleh para ulama para muhaqqiq yang jumlahnya sudah tidak terhitung lagi.
Secara umum pada masalah-masalah yang terjadi perbedaan pendapat antara Imam Ibnu Hajar al-Haitami dengan Imam Ramli, pendapat Imam Ramli lebih ringan dari pada pendapat mu`tamad Imam Ibnu Hajar. Beberapa ulama melakukan pengkajian khusus tentang perbedaan antara Imam Ibnu Hajar al-Haitami dengan Imam Ramli dan membukukannya dalam kitab khusus, antara lain kitab Busyra Karim karangan Syikh Sa’id Muhammad Ba’ashan, kitab Fathul ‘Ali bi Jam’i Bi Jam’i Khilaf Baina Ibn Hajar wa Ramli karangan Syeikh Umar bin Habib Ahmad Bafaraj Ba’alawi (dicetak oleh Dar Minhaj dengan tahqiqan dan ta’liq dari DR. Syifa Hasan Hitu, putri Syeikh Hasan Hitu, pendiri STAI Imam Syafii Cianjur).

  • 4. Banyaknya para ulama yang memberikan hasyiah

Tidak semua kitab-kitab yang besar mendapat perhatian para ulama dengan memberikan hasyiah. Namun kitab Tuhfahtul Muhtaj termasuk kitab yang menarik perhatian para ulama untuk memberi hasyiahnya. Hasyiah-hasyiah tersebut berisi penjelasan terhadap kalam Ibnu Hajar bahkan juga ada kritikan-kritikan terhadap Tuhfah sendiri atau jawaban terhadap kritikan orang terhadap ibadat Tuhfah. Ibnu Hajar sendiri juga memberikan hasyiah terhadap kitab beliau tersebut, dengan nama Thurfatul Faqir bi Tuhfatil Qadir, namun tidak sampai selesai. DR. Saiyid Musthafa bin Hamid Smith dalam mukaddimah munkhtashar Tuhfah karya beliau, mencatat ada sekitar 34 hasyiah terhadap kitab Tuhfatul Muhtaj. Itu tidak termasuk beberapa hasyiah dan ta’liqat ulama Negri Dangestan yang disebutkan oleh Syeikh Muhammad Ghudubiry dalam mukaddimah beliau terhadap tahqiq kitab Tazkiratul Ikhwan karangan Ibnu ‘Alijy yang tidak sempat di catat oleh DR. Mushtafa Smith.

Syeikh Ramadhan al Buthy; Hukum Telponan dengan Tunangan?

Hidup di akhir zaman banyak fitnah yang terjadi. Halal dan haram banyak disepelekan. Dalam hal pergaulan, kita lihat banyak generasi kita yang sudah mengikuti budaya barat. Salah satu hal yang saat ini sering kita temukan adalah saat ketika seorang laki-laki sudah tunangan, ia bagaikan sudah menikah. Bahkan orang tua mereka tidak mencegah mereka lagi untuk berdua-duan.
sebagian orang yang lain, kadang masih mampu menjaga diri untuk tidak bertemu. Namun dengan adanya alat komunikasi saat ini, godaan akan semain besar, mereka bisa berhubungan lewat telpon dan chatingan tanpa harus bertemu. Nah bagaimana hukumnya telponan atau chatingan dengan tunangan? Syeikh Sa’id Ramadhan al-Buthy pernah di tanyakan hal serupa dalam halaman website yang beliau asuh. Berikut nash pertanyaan dan jawaban beliau disertai terjemahannya;

الاتصال بالمخطوبة قبل العقد عليها
هل يجوز للخطيب أن يتصل هاتفيا بخطيبنه أيام الخطوبة ؟ ولكم جزيل الشكر
لا مانع من المحادثة فى الهاتف للخطبية وغيرها إذا كان الخطاب تحقيقا لحاجة مشروعة وبطريقة مذهبة منضبطة والخطيبة كغيرها من النساء ما دام عقد الزواج لم يوجد بعد

Apakah boleh laki-laki yang bertunangan berbicara lewat telepon dengan wanita tunangannya selama dalam masa pertunangan?

Baca juga; Hukum telponan dengan wanita non mahram

Jawaban;

Tidak ada larangan untuk berbicara lewat telpon baik dengan wanita tunangan atau bukan apabila pembicaraan tersebut karena adanya hajat yang dibenarkan oleh syara’ dan dengan jalur terjaga. Wanita tunangan sama seperti wanita lainnya sebelum adanya akad pernikahan.

Kesimpulannya.

Dari jawaban Syeikh Ramadhan al-Buthi tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam hal berbicara wanita tunangan masih sama dengan wanita lainnya. Telponan dengan mereka hanya dibolehkan untuk sekadar keperluan saja dan dengan syarat tidak menimpulkan fitnah. Yang dibolehkan dengan wanita tunangan hanyalah memandang wajah dan telapak tangannya saja, sedangkan menyentuh atau berdua-duan tetap hukumnya adalah haram. Maka ketika ditakutkan terjatuh ke dalam fitnah, segeralah menikah demi menjaga agama kita. Semoga Allah menjaga kita dari fitnah di akhir zaman ini.




Download Audio Tuhfatul Ikhwan fil Ilm Bayan

Salah satu kitab ilmu balaghah yang umumnya menjadi kitab muqarrar (kurikulum) di dayah-dayah di Aceh adalah Kitab Tuhfatul Ikhwan fil Ilmi Bayan karangan Imam Ahmad ad-Dardir (1127 H-1201 H). Kitab ini dipelajari sebelum santri mempelajari kitab Jauhar Maknun. Pembahasan dalam kitab Tuhfatul Ikhwan ini hanya terbatas pada ilmu Bayan saja yang mencakupi masalah majaz, tasybih dan kinayah. Selain itu pembahasan kitab majaz dalam kitab ini hanya dibatasi atas dasar satu pendapat saja, yaitu pendapat kaum. Hal ini menyebabkan kitab ini tidak tebal. Kitab ini disyarah oleh murid Syeikh Ahmad Dardir sendiri, Syeikh Ahmad Shawi (1175 H- 1241 H), pengarang kitab Hasyiah Shawi 'ala Jalalain. Selanjutnya, hasyiah Imam Shawi ini di beri hasyiah lagi oleh Imam Ali bin Husen al-Bulaqi. Selain syarahan Imam Ahmad Shawi kitab Imam Ahmad Dardir ini juga disyarah oleh beberapa ulama lain.
Bagi yang berminat mendengarkan pengajian kitab Tuhfatul Ikhwan fil Ilm Bayan, bisa mendownloadnya pada link di bawah ini, namun kami mohon maaf, karena pengajiannya menggunakan bahasa Aceh. Kitab cetakan yang dijadikan pegangan halaman dalam audio ini adalah cetakan Haramain, Surabaya.

  1. Halaman 1 - 10
  2. Halaman 10 - 12
  3. Halaman 12 - 14
  4. Halaman 14 - 16
  5. Halaman 16 - 19 (khatam)
Atau bisa juga langsung menuju ke www.archie.org 

Untuk file pdf kitab Tuhfatul Ikhwan bisa di download di SINI, sedangkan untuk hasyiah Imam Ahmad Shawi bisa di download di SINI


Fatwa Ulama : Hukum Bekerja Bagi Wanita


Pada era globalisasi ini, wanita yang bekerja untuk membiayai kehidupannya sendiri sudah menjadi hal yang biasa. Dengan adanya emansipasi wanita, maka sudah tidak heran jika banyak wanita yang dapat memenuhi kebutuhannya sendiri. Wanita tidak lagi dianggap sebagai manusia yang lemah dan hanya dapat menggantungkan dirinya pada kaum lelaki. Tidak seperti wanita pada era terdahulu, wanita hanya dapat bersembunyi di belakang punggung lelaki. Walaupun itu telah menjadi hal yang lumrah untuk wanita di era modern ini untuk menitih karirnya, tetapi banyak dijumpai wanita karir yang tidak dapat menyeimbangkan antara karir dan keluarga. Berprofesi sebagai wanita karir merupakan celah paling besar timbulnya dampak negatif dalam rumah tangga. Syaikh Sayyid Abdullah bin Mahfudh al-Haddad pernah ditanyakan tentang hal ini:


س : هل يجوز أن تعمل ولو كانت غير محتاجة للعمل ؟

الجواب : إن الشارع لا يمنعها من العمل في أي وقت و في أي حال . و لكن قواعد الشارع تطلب منها ألا تتعرض للعمل خارج بيتها إلا للحاجة ، بشرط أن تتجنب ما قد ينتج عن الاختلاط بالأجانب ، وخصوصا إذا كانت ذات زوج و أطفال ، فإن عملها المجيد هو خدمة بيتها و تربية أطفالها و رعايتهم و تنشئتهم على الاخلاق الاسلامية الحميدة . فعملها هذا يعدّ جهادا في سبيل الله ، كما أجاب بذلك رسول الله صلى الله عليه وسلم النسوة اللاتي سألنه و قلن له : ان الرجال يجاهدون و يحصلون على الشهادة فما مقابل ذلك للمرأة قال : ( إن مهنة احداكنّ في بيتها تدرك به عمل المجاهدين في سبيل الله ) ، و أورد في (الحلية) عن ابن عمر عن النبي صلى الله عليه و سلم بسند حسن : (المرأة في حملها إلى وضعها إلى فصالها كالمرابط في سبيل الله ، فإن ماتت فيما بين ذلك فلها أجر شهيد) ، و في لفظ آخر عن ابن عمر عن النبي صلى الله عليه و سلم قال : إن للمرأة في حملها الى وضعها الى فصالها من الأجر كالمرابط في سبيل الله ، فإن هلكت فيما بين ذلك فلها أجر شهيد).

أما عن العمل المناسب لها ، فكل عمل يبعدها عن الاختلاط بين الاجانب : كتدريس البنات و الاولاد الصغار فهو أنساب و أسلم . و كذلك الطب إذا كان مختصا بشؤون النساء والأطفال . والله أعلم

Pertanyaan :
Apa hukum bekerja bagi seorang wanita yang kebutuhannya telah dipenuhi oleh suami?

Jawaban :
Syari’ tidak mencegah wanita untuk bekerja kapanpun dan dalam kondisi apapun. Akan tetapi ketetapan syari’ menuntut para wanita agar tidak bekerja di luar rumah. Kecuali karena kebutuhan yang mendesak, dengan syarat ia terhindar dari sesuatu yang dapat menimbulkan bercampur-baur dengan lawan jenis yang ajnabi. Sedangkan bila wanita tersebut merupakan seorang ibu rumah tangga yang memiliki suami dan anak, maka pekerjaan yang paling baik baginya adalah mengurus rumah, mendidik dan menjaga anak-anaknya, serta memperbaiki dan mengajari mereka tentang akhlak-akhlak yang terpuji. Adapun karir wanita yang seperti ini digolongkan ke dalam jihad fi sabilillah. Sebagaimana Nabi saw. pernah menjawab pertanyaan para wanita: “para lelaki, mereka berjihad dan mereka memperoleh gelar syahid, lalu apa yang setara dengan jihad bagi kami perempuan?” Rasulullah saw bersabda: “karir kalian adalah di dalam rumah, kalian akan memperoleh amalan para mujahidin yang berperang di jalan Allah.” Dan telah warid satu hadits yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar dari Rasulullah saw dengan sanad yang hasan: “Wanita yang mengandung hingga melahirkan, ia sama seperti seseorang yang sedang berjuang di jalan Allah, bila ia meninggal dalam kondisi demikian maka ia memperoleh fahala orang yang mati syahid.”
Dalam lafadz yang lain diriwayatkan dari Ibnu Umar dari Nabi saw bersabda: bahwasanya wanita yang sedang mengandung hingga ia melahirkan dan hingga selesai fahalanya setara dengan fahala orang yang berjuang di jalan Allah, jika ia meninggal dalam kondisi sedang melahirkan, maka baginya fahala syahid.
Adapun karir yang pantas dan sesuai bagi seorang wanita adalah pekerjaan yang terhindar dari bercampur-baur dengan lawan jenis yang ajnabi: seperti mengajar anak perempuan, anak laki-laki yang masih kecil, pekerjaan yang demikian lebih sesuai dan lebih selamat bagi seorang perempuan. Dan begitu pula wanita yang berkarir sebagai dokter spesialis wanita dan anak-anak.

Kesimpulan :
Seorang wanita tidak dituntut bekerja di luar rumah kecuali karena kebutuhan yang mendesak, itupun baru dibolehkan bila terhindar dari bercampur baur dengan lawan jenis yang ajnabi. Pekerjaan yang paling baik bagi seorang wanita dan telah di akui oleh Nabi saw yaitu mengurus rumah dan suami, serta menjaga dan mendidik anak-anaknya tentang akhlak yang terpuji.

Wallahu a’lam.

donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja