Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Kapan Disunnahkan Takbiran Hari Raya Qurban ?

Deskripsi masalah:

Bunyi takbiran berkumandang itulah tandanya malam kemenangan ummat islam telah tiba, seluruh kota muslim dan pedalaman desa terdengar suara yang sama ,bagaimana tidak takbiran merupakan satu hal yang di sunnahkan di malam hari raya baik idul fitri maupun idhul adha.
Pertanyaan :

kapankah disunnahkan memulai takbiran hari raya ?

Jawaban :

Dalam hal ini berbeda hari raya berbeda pula tentang waktu kesunnahan memulai takbirannya , jika itu hari raya fitri di sunnahkan mengumandangkan takbir mulai terbenam matahari (malam hari raya) sampai imam memasuki dalam shalat hari raya.
Sedangkan untuk idhul adha di sunnahkan mulai dari subuh hari a'rafah (9 zulhijjah ) sampai ashar akhir hari tasyrik (11 12 dan 13 zulhijjah) mengiringi setiap shalat lima waktu ( shalat fardhu ).

kitab kifayatul akhyar juz 1 hal 150 maktabah syamela

ويكبر من غروب الشمس ليلة العيد إلى أن يدخل الإمام في الصلاة وفي الأضحى خلف الصلوات الفرائض من صبح يوم عرفة إلى العصر من آخر أيام التشريق)
يستحب التكبير بغروب الشمس ليلتي العيد الفطر والأضحى ولا فرق في ذلك بين المساجد والبيوت والأسواق ولا بين الليل والنهار وعند ازدحام الناس ليوافقوه على ذلك




Tanggung-Jawab Sebagai Hamba Allah SWT [Abiya Muhammad Baidhawi]




Doa-Doa Selama Sepuluh Zulhijjah

Banyak amaliyah yang bisa dilakukan selama sepuluh hari dari awal bulan Zulhijjah sebagaimana yang diamalkan oleh para ulama terdahulu. Di antaranya adalah memperbanyak doa, tahlil dan takbir. Selama sepuluh hari tersebut merupakan waktu-waktu yang mustajabah doa, maka alangkah baik bila kita memperbanyak doa-doa kita di sepuluh hari ini melebihi hari biasanya. Dalam dalam satu hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas :
وجاء أنه يستجاب في هذه العشر الدعاء؛ كما روي عن أبي موسى الأشعري رضي الله تعالى عنه: أن الأيام المعلومات هي تسع ذي الحجة غير يوم النحر، وأنه لا يُرد فيهن الدعاء؛ وكيف يرد فيهن الدعاء وفيهن يوم عرفة الذي روي أنه أفضل أيام الدنيا، فيما اخرجه ابن حبان فى صحيحه من خديث جابر رضي الله عنه

“Telah datang riwayat bahwa doa dipenuhi pada sepuluh hari ini sebagaimana diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari, bahwa hari yang ma’lum (aiyam ma’lumat) adalah sembilan hari Zulhijjah tidak termasuk hari nahar (10 Zulhijjah), pada hari-hari tersebut doa tidak akan di tolak, bagaimana doa akan di tolak sedangkan pada hari tersebut ada hari Arafah yang merupakan hari yang paling afdhal di dunia sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban”. (Kanz Najah hal 280)

Di hari-hari tersebut juga dituntut memperbanyak tahlil (membaca Laa ilaaha illAllah) dan takbir. Dalam satu hadits dari Ibnu Abbas;

ما من أيام أفضل عند الله تعالى من هذه الأيام أيام العشر، فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير، فإنها أيام تهليل وتكبير وذكر لله عز وجل، وأن صيام يوم فيها بعدلِ صيام سنة، والعمل فيهن يضاعف بسعمائة؛

“Tiada hari yang paling afdhal di sisi Allah daripada sepuluh hari ini, maka perbanyaklah pada hari itu tahlil dan takbir, karena hari itu adalah hari tahlil dan takbir dan mengingat Allah, dan berpuasa pada hari-hari itu sebanding dengan puasa setahun dan beramal pada hari itu akan digandakan sebanyak 900 kali”. (H.R Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman no 3481)

Doa Selama Sepuluh Hari Zulhijjah.

Sebagian ulama shaleh mengatakan bahwa dalam sepuluh hai zulhijjah di tuntut untuk membaca doa ini setiap hari sebanyak 10 kali, yaitu ;


لا إله إلا الله عَدَدَ اللَّيَالِي وَالدُّهُوْر. لا إله إلا الله عَدَدَ الأيّامِ وَالشُّهُوْرِ. لا إله إلا الله عَدَدَ أمْوَاجِ الْبُحُوْرِ. لا إله إلا الله عَدَدَ أضْعَافِ اْلأُجُوْرِ. لا إله إلا الله عَدَدَ القَطْرِ وَالْمَطَر. لا إله إلا الله عَدَدَ أوْرَاقِ الشَّجَرِ. لا إله إلا الله عَدَدَ الشَّعْرِ والوَبَر. لا إله إلا الله عَدَدَ الرَّمْلِ وَاْلحَجَر. لا إله إلا الله عَدَدَ الزَّهْرِ وَالثَّمَر. لا إله إلا الله عَدَدَ أنْفاسِ الْبَشَر. لا إله إلا الله عَدَدَ لَمْحِ اْلعُيُوْن. لا إله إلا الله عَدَدَ مَا كَانَ وَمَا يَكُوْن. لا إله إلا الله تَعالى عَمَّا يُشْرِكُوْن. لا إله إلا الله خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُوْن لا إله إلا الله فِي اللَّيْلِ إذَا عَسْعَسْ. لا إله إلا الله فِي الصُّبْحِ إذَا تَنَفَّس. لا إله إلا الله عَدَدَ الرِّياحِ فِي اْلبَرَارِي وَالصُّخُوْر. لا إله إلا الله مِنْ يَوْمِنا هَذا إلى يَوْمِ يُنْفَخُ فِي الصُّوَر. لا إله إلا الله عَدَدَ خَلْقِهِ أجْمَعِيْنَ. لا إله إلا الله مِنْ يَوْمِنَا هَذا إلى يَوْمِ الدِّيْن

Syeikh Abdul Hamid dalam Kanz Najahnya mengatakan bahwa dalam tulisan yang beliau dapatkan, tidak disebutkan sumber dan sanad doa tersebut, namun hanya disebutkan bahwa doa tersebut memiliki fadhilah yang banyak.

Imam Thabrani meriwayatkan dalam Mu’jam Kabirnya bahwa barang siapa membawa doa di bawah ini selama sepuluh hari di awal Zulhijjah sebanyak 10 kali maka ia akan mendapatkan keampunan atas dosanya yang lalu dan yang akan datang.


لا إلَه إلا الله عَدَدَ الدُّهُوْر، لا إلَه إلا الله عَدَدَ أمْوَاجِ الْبُحُوْرِ، لا إلَه إلا الله عَدَدَ النَّبَاتِ وَالشَّجَر، لا إلَه إلا الله عَدَدَ الْقَطْرِ وَالْمَطَر، لا إلَه إلا الله عَدَدَ لَمْحِ الْعُيُوْن، لا إله إلا الله خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُوْن، لا إله إلا الله مِنْ يَوْمِنَا هَذا إلى يَوْمِ يُنْفَخُ في الصًّوَر

Syeikh Abdul Hamid Kudus menjelaskan bahwa, yang lebih baik adalah membaca kedua doa tersebut, namun bila ingin mengamalkan salah satunya saja, maka lebih baik di pilih yang terakhir ini karena sudah di pastikan warid dari Rasulullah.


Juga bisa di baca doa di bawah ini menurut kemudahan mulai dari awal Zuhijjah hingga hari Raya 10 Zulhijjah, berfaedah untuk meringankan utang.


اللهم) فرَجَكَ القَرِيْبَ (اللهم) سِتْرَكَ الْحَصِيْنَ (اللهم) مَعْرُوْفَكَ الْقَدِيْمَ (اللهم) عَوَائِدَكَ الْحَسَنَةَ (اللهم) عَطَاكَ الْحَسَنَ الْجَمِيْلَ، يَا قَدِيْمَ الإحْسَان إحْسَانَكَ الْقَدِيْمَ، يَا دَائِمَ الْمَعْرُوْفِ مَعْرُوْفَكَ الدَّائِمَ

Syeikh Abdul Hamin Kudus menjelaskan bahwa doa ini beliau temukan dalam beberapa kitab para ulama di nisbahkan kepada Syeikh Khattab al-Makki al-Maliki.

Syarif Maul al-Ainain dalam kitabnya Na’at al-Bidayat Wa Taushif an-Nihayat menyebutkan bahwa salah satu doa yang berfaedah bila di perbanyak membacanya dalam sepuluh hari awal bulan Zulhijjah adalah doa yang Rasulullah ajarkan kepada sebagian shahabat beliau;


حَسْبِيَ اللهُ وَكَفَى، سَمِعَ اللهُ لِمَنْ دَعَا، لَيْسَ وَرَاءَهُ مُنْتَهَى، مَنْ تَوَكّلَ عَلى اللهِ كُفِي، وَمَن اعْتَصَمَ بِاللهِ نَجَا

Untu hari Arafah (9 Zulhijjah) bisa di tambahkan doa di hari Arafah;

لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك وله الحمد، وهو على كل شيء قديرٌ

Ada beberapa hadits yang menunjuki kelebihan mengamalkannya dan akan lebih baik jika di baca hingga mencpai seribu kali.


Referensi:

Syeikh Abdul Hamid Kudus, Kanz Najah wa Surur hal 276-285 cet. Dar Sanabil


Gundah Karena Maksiat [Abiya Muhammad Baidhawi]


DOA UNTUK ORANG KESURUPAN

Deskripsi Masalah:
Kesurupan atau masru' sudah tidak asing lagi di kalangan dayah (pesantren) terlebih bagi santriwati, itu terjadi semua akibat ulah mereka yang benci terhadap tegaknya agama Allah SWT, mereka yang menginginkan ilmu agama ini pudar ditelan masa sehingga berhujung dengan jahilnya manusia.
Pertanyaan :
Apa ada semacam doa yang dapat menyembuhkan dikala seseorang mengalami masru' (kesurupan) ?
Jawaban :
Doa buat orang kesurupan menurut dalam kitab Ianatuttalibin karya Syekh Sayyid Bakr Syat :
  1. Azan di telinga orang kesurupan 7 x
  2. Membaca surah Al fatihah 7 x
  3. Ma'uzatain (surat Al falaq dan An nas) 7 x
  4. Membaca ayat Al kursi dan surat At thariq
  5. Akhir surat Al hasyr.
  6. Akhir surat Assaffat.

Referensi:
Ianatuttalibinn juz 1 hal 267
(فائدة)
 من الشنواني ومما جرب لحرق الجن أن يؤذن في أذن المصروع سبعا، ويقرأ الفاتحة سبعا، والمعوذتين، وآية الكرسي، والسماء والطارق، وآخر سورة الحشر من * (لو أنزلنا هذا القرآن) * إلى آخرها، وآخر سورة الصافات من قوله: * (فإذا نزل بساحتهم) * إلى آخرها.
وإذا قرئت آية الكرسي سبعا على ماء ورش به وجه المصروع فإنه يفيق.

Hukum Qurban dengan Iuaran Siswa

Deskripsi Masalah
Jauh-jauh hari sebelum bulan Dzulqa’dah datang menyapa, banyak orang-orang yang mempunyai harta yang lebih atau bahkan masyarakat yang punya ekonomi rendah telah berencana untuk berqurban pada bulan mulia tersebut, karena selain membantu sesama, berqurban juga memperoleh pahala yang agung disisi Allah SWT. Niat yang mulia tersebut juga mengetuk hati kepala sekolah dan seluruh dewan guru di salah satu SMA ternama di Aceh utara. Mereka sepakat untuk mengumpulkan uang dengan jumlah tertentu yang memada untuk seekor hewan qurban. Dan untuk sekedar mengajarkan kebaikan kepada anak didiknya, kepala sekolah juga berinisiatif untuk mengutip iuran dari seluruh siswa yang mampu dengan masing-masing dari mereka wajib menyetor Rp 20.000 kepada ketua kelas, yang nantinya uang tersebut akan digunakan untuk membeli hewan qurban berupa seekor lembu yang sudah memenuhi kriteria hewan qurban serta akan dibagi kepada siswa-siswa yang kurang mampu, juga masyarakat sekitar yang tergolong miskin melalui kupon yang telah disediakan oleh pihak sekolah.

Pertanyaan
Apakah hewan yang dibeli dari iuran para siswa tersebut memadai sebagai qurban, mengingat seekor lembu hanya  untuk 7 orang saja????

Jawab
Penyembelihan hewan tersebut tidak memadai sebagai qurban dan bisa tidak dinamakan dengan qurban karena tidak memenuhi syarat qurban. Namun mereka tetap mendapatkan pahala sedekah biasa bukan pahala qurban.

Referensi
Tuhfatul Muhtaj, Hasyiyah Syarwani 9 : 406 cet. Darl al fikr
(قوله: بل ولو ذبحا عنهما شاتين إلخ)
 وكذا يقال فيما لو اشترك أكثر من سبعة في بقرتين مشاعتين أو بعيرين كذلك لم يجز عنهم
 ؛ لأن كل واحد لم يخصه سبع بقرة أو بعير من كل واحد من ذلك اهـ. مغني
I’anathul Al Thalibin 2 : 332 cet. Al-Haramain
ولو اشترك أكثر من سبعة في بدنة لم تجزئ عن واحد منهم

Adab Terhadap Kitab Ilmu Agama

Adab merupakan salah satu hal yang sangat diutamakan dalam menuntut ilmu. Para ulama mengatakan ;

ما فاز من فاز الا بالادب وما سقط من سقط الا بسوء الاداب

“Tidak berhasil orang-orang yang telah berhasil kecuali dengan adanya adab, dan tidak gagal orang yang gagal kecuali karena buruknya adabnya."

Salah satu adab yang harus tanamkan dalam jiwa semua penuntut ilmu adalah adab kepada sumber ilmu. Sumber ilmu itu adalah guru dan juga kitab ilmu. Salah satu keistimewaan para santri dayah tradisional adalah adanya doktrin yang kuat untuk menghormati kedua sumber ilmu.
Namun, harus kita akui, adab kita santri semakin hari semakin pudar di kikis perkembangan zaman, terutama adab kita terhadap kitab-kitab para ulama, walaupun bila dibandingkan dengan para pelajar dari beberapa lembaga selain dayah, penghormatan santri terhadap kitab masih lebih besar.
Kitab sebagai salah satu komponen sumber ilmu juga sangat perlu dihormati dan dimuliakan. Dengan adanya penghormatan terhadap kitab, diharapkan kita akan mendapatkan keberkahan dari ilmu yang kita dapat.
Kita semua menyadari bahwa kualitas keilmuan kita semakin hari semakin rendah. Salah satu faktor penyebab ini, selain dari minat belajar yang semakin rendah, adalah kurangnya penghormatan kitab kepada ilmu. Bila kita membaca sejarah para ulama terdahulu tentang penghormatan mereka kepada ilmu, maka kita akan merasa takjub dan akan kita dapati betapa jauhnya akhlaq kita dari akhlaq mereka.
Syeikh Muhammad Awamah dalam kitabnya Ma’alim Irsyadiyah li Shin’ah Thalibil Ilm, menceritakan bahwa ketika beliau belajar di Madrasah Sya’baniyah di Kota Halab (Aleppo, Suriah), beliau membawa sebuah kitab ditangan kirinya, kemudian datang guru beliau, Syeikh Ahmad Qalasy, mengambil kitab tersebut dari tangan kiri beliau dan meletakkannya pada tangan kanan beliau, dan berkata “Allahumma atini kitabi biyamini/Ya Allah datangkanlah kitabku dari sebelah kananku’’.

Beberapa hal yang termasuk dalam penghormatan kita terhadap kitab ilmu antara lain;

1. Membaca kitab dalam keadaan suci.

Satu hal yang sangat perlu diperhatikan adalah supaya selalu dalam keadaan suci ketika membaca kitab. Ibnu Asakir mencerikan kisah Abu Ustman Ashabuni beliau berkata "saya tidak pernah sama sekali masuk kedalam kamar kitab, dan tidak pernah meriwayakan hadits, dan tidak pernah mengadakan satu majlis ilmu dan duduk mengajar kecuali dalam keadaan suci”. Imam az-Zarnuji dalam kitabnya Ta'lim al-Muta'allim mengatakan "sebagian dari memuliakan ilmu adalah memuliakan kitab, maka sepatutnya bagi pelajar ilmu tidak mengambil kitab kecuali dalam keadaan suci. Dihikayahkan dari Imam Syamsul Aimmah al-Halwani bahwa beliau berkata "hanyasanya saya capai ilmu ini dengan memuliakannya, saya tidak pernah mengambil kitab kecuali dalam keadaan suci". Syeikh Syamsul Aimmah Sarkhasi pernah sakit perut, sedangkan beliau sedang mengulang kitab, maka beliau berwudhuk dalam semalam sampai tujuh belas kali, karena beliau tidak akan mengulang pelajaran kecuali dalam keadaan suci. Hal ini karena ilmu merupakan nur, sedangkan wudhuk juga nur, maka dengan wudhuk akan menambah nur ilmuya.

2. Duduk dengan hormat di depan kitab.

Duduk dengan hormat adakala dengan bersila atau tawaruk merupakan salah satu adab terhadap kitab yang sedang kita baca. Apalagi saat berada dalam majlis pengajian, maka sangat dituntut untuk duduk dengan sopan. Jangan mendirikan kaki saat duduk. Duduk dengan tidak sopan dalam majlis ilmu berarti tidak menghormati kitab dan juga tidak hormat pada guru serta majlis ilmu tersebut. Jangan juga menjulurkan kaki ke arah kitab.

3. Meletakkan kitab di tempat yang agak tinggi.

Kitab sebagai sumber ilmu tidak boleh diletakkan ditempat yang rendah seperti di lantai, baik ketika sedang belajar atau bukan. Maka merupakan satu hal yang sangat bagus bila para santri membudayakan memakai meja kecil ketika belajar, baik ketika belajar diruang kelas maupun ketika mutha’ah sendiri. Kalaupun tidak ada meja ketika menghadiri pengajian, maka sepatutnya kitab diletakkan di pangkuan, jangan dilantai.

4. Menjaga lembaran kitab jangan berserakan

Lembaran kitab yang sudah lusuh atau tidak digunakan lagi, jangan dibiarkan terletak dan berserakan dilantai atau tanah. Sering kita lihat kitab-kitab yang sudah tidak ada pemiliknya lagi berserakan di lantai bahkan di tanah. Ada baiknya bila masih bisa dipergunakan maka diletakkan ditempat tertentu yang lebih mulia. Bila sudah tidak mungkin dipergunakan maka sebaiknya dibakar saja untuk menjaga kehormatannya.

5. Menjaga kertas yang bertuliskan nash kitab

Saat ini dengan kemudahan penulisan dengan komputer dan printernya maka sangat mudah nash-nash kitab kita print dalam lembaran kertas. Namun hal yang sangat disayangkan adalah lembaran-lembaran yang bertuliskan nash-nash kitab para ulama tersebut kadang dibiarkan berjatuhan atau kadang dibuang kedalam tong sampah bersama dengan kotoran lain. Hal ini juga merupakan sikap kurangnya menghormati ilmu. Termasuk juga yang harus kita jaga adalah lembaran ujian yang didalamnya tertulis nash-nash kitab para ulama.

6. Meletakkan kitab menurut kemulian ilmunya.

Bila kita meletakkan kitab diatas kitab lain, maka sangat dianjurkan untuk memperhatikan sususan tingkatan kitab yang kita letakkan tersebut. Kitab yang berisi ilmu yang paling mulia harus diletakkan paling atas, kemudian disusul dengan kitab ilmu yang mulia di bawahnya dan seterusnya. Urutan kitab menurut kemulian ilmunya adalah; mashhaf al-quran, kitab matan hadis dengan lebih mendahulukan kitab shahih Bukhari kemudian shahih Muslim, kitab tafsir al-Quran, kitab tafsir hadits, kitab ushuluddin (tauhid), kitab ushul fiqh, kitab nahu, kitab sharaf, ilmu balaghah (ma’ani, bayan dan badi’), kitab syair-syair Arab, kitab ilmu Arudh.
Bila kitab dalam ilmu yang sama, maka diletakkan menurut kemulian pengarangnya, bila mushannifnya sama-sama kemuliannya maka didahulukan kitab yang lebih dahulu dan kitab yang lebih banyak digunakan oleh para ulama shaleh.

7. Jangan melipat pinggir kitab

Terkadang untuk memberi tanda batasan pelajaran kita melipat pinggir lembaran kitab. Hal ini merupakan hal yang kurang baik, karena akan mempercepat lusuhnya lembaran kitab. Maka yang lebih baik adalah memberi tanda batasan belajar dengan lembaran kertas lain.

8. Tidak meletakkan benda lain diatas kitab.

Kadangkala kita lihat sebagian kita meletakkan barang-barang lain diatas kitab, padahal meletakkan kitab lain yang kemuliaannya dibawahnya saja dilarang, apalagi bila meletakkan benda yang tidak punya kemuliaan sama sekali, seperti misalnya handpone, kunci kereta, rokok, korek dll

9. Memulai membaca kitab dengan membaca doa

Akan terlebih menambah barakah bila membaca kitab dimulai dengan membaca ta’awuzd, basmalah, hamdalah, shalawat kepada Rasulullah dan berdoa gurunya, mushannif kitab, orang tuanya, diri sendiri, untuk para hadirin (bila membaca kitab untuk orang lain) dan untuk seluruh kaum muslimin. Hal demikian dilakukan setiap kali kita memaca kitab, baik ketika ruang kelas, dihadapan guru, ataupun ketika muthala’ah sendiri dikamar.

10. Menyudahi membaca kitab dengan doa

Satu hal yang sangat bagu juga, bila setelah selesai membaca kitab, kita sudahi dengan membaca doa, semoga ilmu yang baru saja kita dapatkan, menjadi ilmu yang barakah bagi kita, menetap dalam hati kita, mampu kita ingat saat kita butuhkan.

Semoga dengan menjaga adab terhadap kitab yang kita pelajari, akan menambah barakah bagi ilmu kita, terlebih lagi untuk zaman ini, minat belajar kita rendah sehingga ilmu hanya sedikit yang bisa kita dapatkan. Semoga sedikit ilmu yang kita dapatkan tersebut penuh dengan barakah sehingga betul-betul bermanfaat untuk akhirat kita. Kita juga berharap dengan adanya perhormatan kita terhadap kitab, Allah berkenan membukankan pintu ilmu bagi kita, sehingga memudahkan kita dalam belajar, cepat memahami ilmu dan setiap ilmu yang kita dapati menetap dalam hati kita. Tulisan ini kami tulis dengan mengutip dari kitab-kitab para ulama, sebagai renungan bagi penulis sendiri terhadap rendahnya penghormatan kita terhadap ilmu saat ini, semoga kita mampu menghayati hal ini dan diberi kemampuan oleh Allah untuk memperbaiki kekurangan kita sendiri. Amin Ya Rabbal Allamin.

Tingkatan Keikhlashan Dalam Beramal.

Ikhlas merupakan salah sat hal yang dituntut bagi seorang muslim ketika melakukan sebuah amalan, karena ikhlas merupakan penentu bagi amal, apakah ia diterima atau tidak, ikhlas dan riya merupakan dua sifat yang berlawanan. Semakin besar keikhlasan dalam beramal, maka semakin besar pula manfaat di akhirat kelak yang akan kita dapatkan dari amal kita di dunia ini. Beramal tanpa keikhlasan bisa berakibat mengurangi bahkan menghapus pahala amalan kita. Keikhlasan seseorang tentu berbeda-beda.

Para ulama membagi ikhlash kepada tiga tingkatan;

  1. Ikhlas tingkat tinggi (‘ulya) yaitu seorang hamba yang beramal ibadah murni hanya karena Allah, untuk menjunjung tinggi perintahnya dan memenuhi hak ibadahnya sebagai hamba tanpa ada mengharapkan balasan surga dan juga bukan karena takut azab Allah bila tidak beramal. Ini adalah keikhlasan para anbiya dan aulia Allah.
  2. Ikhlas tingkat pertengahan (wushta) yaitu: seseorang melakukan amalan ibadah karena demi memperoleh pahala dan karena menghindar dari siksa.
  3. Ikhlas tingkat rendah (dunya) yaitu seorang yang beramal supaya diberi kemulian oleh Allah di dunia dan selamat dari mara bahaya, misalnya seseorang yang membaca surat al-waqi’ah supaya diberi kemudahan rikzi dan membaca ayat Kursi supaya terhindar dari maha bahaya.

Beramal dengan maksud salah satu dari tiga hal diatas masih dikatagorikan sebagai ikhlash, namun hanya tingkatnya saja yang berbeda-beda. Jadi bila kita kita beramal disertai dengan niat suapay Allah memberikan kemudahan di dunia berarti amalan kita masih ikhlash walaupun masuk dalam katagori ketiga, semoga mampu kita tingkatkan ke tingkat ke dua. Sedangkan selain dari tiga tersebut semuanya sudah masuk dalam katagori riya yang bisa berakibat kepada amal kita tidak diterima oleh Allah. Semoga kita mampu beramal dengan ikhlash dan bersih dari sifat riya..Amiin

Referensi;

Tuhfatul Murid ‘ala Jauharah Tauhid, hal 40 Cet. Dar Kutub Islamiyah


Bagaimanakah Kriteria Hewan Qurban

Deskripsi Masalah
Berqurban adalah salah suatu ritual ibadah yang diperintahkan oleh Allah tujuannya tidak lain melainkan untuk bertaqarub (mendekakkan) diri kepada Allah penyembelihannyapun dilakukan pada bulan Dzullhijjah bertepatan pada Hari Raya Idul Adha hingga akhir hari tasyriq, ritualnyapun dalam penyembelihan ada yang bermacam macam ada yang menyembelih kambing, sapi dan lain sebagainya, tentunya kita harus jeli dalam memilih hewan yang akan kita jadikan sebagai hewan qurban .

Pertanyaan
Bagaimanakah Kriteria Hewan yang Dijadikan Sebagai Hewan Qurban ?

Jawaban
Syeihk Sulaiman Al-Bujairimi yang wafat pada Tahun 1221 Hijriah memberi komentar dalam kitab nya Hasyiah Al-Bujarimi, syarat yang dijadikan hewan qurban adalah binatang ternak sesuai firman Allah dalam Alquran, bagi tiap-tiap umat telah kami syariatkan penyembelihan (qurban) supaya mereka menyebut Nama Allah ketika menyembelih binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka.dan karena berkurban itu merupakan Ibadah yang berkaitan dengan hewan maka praktek qurbanpun dikhususkan dengan binatang ternak seperti zakat dan umur domba satu tahun atau rontok giginya sebelum genab satu tahun dan sapi dan kambing usia kedua nya dua tahun dan unta yang berumur lima tahun .

Referensi
Hasyiah Bujairimi Halaman 396 Juz 4 cetakan Darul Kutub Ilmiyah
وشرطها) أي التضحية (نعم) إبل وبقر وغنم إناثا كانت أو خناثى أو ذكورا ولو خصيانا لقوله تعالى {ولكل أمة جعلنا منسكا ليذكروا اسم الله على ما رزقهم من بهيمة الأنعام} [الحج: 34] ولأن التضحية عبادة تتعلق بالحيوان فاختصت بالنعم كالزكاة (و) شرطها (بلوغ ضأن سنة أو إجذاعه و) بلوغ (بقر ومعز سنتين وإبل خمسا)
Kemudian beliau melanjutkan perkataan nya, dan syarat keselanjutnya terbebas dari kecacatan yang dapat mengurangi daging dan lemak maka tidak mengapa kalau hilangnya tanduk dan pecahnya tanduk karena yang demikian tidak mengurangi daging.

Hasyiah Bujairimi Halaman 398 Juz 4 cetakan Darul Kutub Ilmiyah
 (و)
شرطها (فقد عيب) في الأضحية (ينقص مأكولا) منها من لحم وشحم وغيرهما فتجزئ فاقدة قرن ومكسورته كسرا لم ينقص المأكول

Kemudian beliau melanjukkan perkataannya dan syarat keselanjutnya adalah niat ketika menyenbelih hewan qurban ataupun sebelum menyembelih ketika mentakyinkan (menentukan) hewan untuk dijadikan qurban sama seperti niat pada zakat baik qurban wajib maupun sunat.

Hasyiah Bujairimi Halaman 399 Juz 4 cetakan Darul Kutub Ilmiyah 
و) شرطها (نية) لها (عند ذبح أو) قبله عند (تعيين) لما يضحي به كالنية في الزكاة سواء أكان تطوعا أم واجبا

Bahkan Imam Rafi’I yang wafat pada tahun 623 Hijriah berkomentar dalam kitabnya Syarah Kabir, bahwasanya ulama telah menyepakati bahwa binatang yang dijadikan sebagai binatang qurban itu dikhususkan dengan bintang ternak 

Syarh Kabir Halaman 60 Juz 12 Cet Darul Kutub Ilmiyah
الأول: ما يذبح، وتختص التضحية بالأنعام إجماعا، وقد قال تعالى: {ويذكروا اسم الله في أيام معلومات على ما رزقهم من بهيمة الأنعام} [الحج: 28].
والأنعام: هي الإبل والبقر والغنم، ولم يؤثر عن النبي -صلى الله عليه وسلم-، ولا عن أصحابه -رضي الله عنهم- التضحية بغيرها.
ووجه أيضا: أن التضحية [عبادة] (1) تتعلق بالحيوان، فتختص بهذه الأنواع، كالزكاة، ويجزىء فيها الذكر والأنثى بالاتفاق، وبالقياس على العقيقة

Al- Mausuuah Al- Fiqhiah Halaman 12 Juz 7 Cet Waziratul Auqaf Alquwait

وعند الفقهاء الأنعام هي الإبل والبقر والغنم سميت نعما لكثرة نعم الله تعالى فيها على خلقه بانمو والولادة واللبن والصوف والوبر والشعر وعموم الانتفاع



Hukum Mengqaza Puasa Setelah 15 Sya’ban

Deskripsi Masalah
Dalam setahun umat Muslim diharamkan puasa selama 5 hari yaitu 2 hari raya dan 3 hari Tasyrik (11,12,13 Zulhijjah), namun dalam Fiqh Syafiiyah ada beberapa hari yang juga diharamkan melakukan puasa yaitu setelah nisfu atau 16 Sya’ban hingga seterusnya akhir bulan Sya’ban. Dan hari ragu tentang nampak hilal (30 Sya’ban), Namun pelarangan tersebut bukan mutlak puasa, tetapi hukumnya berobah jika mempunyai sebab seperti qaza dan nazar.

Pertanyaan
1. Puasa apa saja yang dibolehkan setelah nisfu sya’ban ?
2. Apakah boleh mengqaza puasa Ramadhan yang tertinggal pada hari tersebut 16 s/d 30 Sya’ban ?

Jawaban
1. Puasa yang dilarang setelah nisfu sya’ban adalah puasa sunat, kecuali tidak lagi haram jika puasa sunat tersebut telah menjadi kebiasaan seperti seorang yang telah rutin berpuasa Senin-Kamis, Puasa Nabi Daud (Sehari berpuasa dan sehari berbuka), telah berpuasa dari 1 Sya’ban, dan mengqaza Puasa Sunat dan juga dibolehkan puasa wajib seperti qaza Ramadhan, puasa nazar bahkan hal ini hukumnya wajib.
2. Mengqaza puasa Rmadhan yang Tertinggal hukumnya boleh bahkan wajib.

Referensi
Kitab Fathul Mui’n Juz II Hal .273 (Haramain)


( تتمة )
 يحرم الصوم في أيام التشريق والعيدين وكذا يوم الشك لغير ورد وهو يوم ثلاثي شعبان وقد شاع الخبر بين الناس برؤية الهلال ولم يثبت وكذا بعد نصف شعبان ما لم يصله بما قبله أو لم يوافق عادته أو لم يكن عن نذر أو قضاء ولو عن نفل

Hasyiah Ibnu Qasim Izzi Juz II Hal.294-296 (Haramain)


(يحرم صوم خمسة ايام العيدان)
اي صوم يوم عيد الفطر وعيد الاضحى (و ايام التشريق) وهي (الثلاثة) التى بعد يوم النحر (ويكره)تحريما (صوم يوم الشك بلاسبب يقضى صومه واشار المصنف صور هذا السبب بقوله (الا ان يوافق عادة له) في تطوعه كمن عادته صيام يوم فوافق صومه يوم الشك ايضا عن قضاء ونذر ويوم الشك هويوم الثلاثين من شعبان اذالم ير الهلال ليلتها مع الصحو وتحدث الناس برؤيته ولم يعلم غدل رأه اوشهدبرؤيته صبيان اوعبيد اوفسقة    


Hukum Qurban Dengan Uang

Deskripsi Masalah
Dewasa ini seiring perkembangan zaman banyak hal yang terjadi diluar apa yang telah diajarkan dalm syara' (kitab-kitab klasik) ada hal yang bertentangan dan ada juga yang sejalan dengan agama, seperti halnya praktek qurban dengan uang bukan dengan binatang ternak.

Pertanyaan
Bagaimanakah qurban dengan uang/harga?

Jawaban
Dana yang terkumpul tidak untuk menyembelih hewan qurban melainkan dibagikan dalam bentuk uang. Praktek ini sama dengan qurban berupa uang, hukumnya tidak sah sebagai qurban, karena qurban harus dilaksanakan dalam bentuk penyembelihan hewan ternak yang telah ditentukan syara’.
uraian
Qurban dalam Bahasa Arab dikenal dengan udhhiyah, udhiyah adalah nama atas binatang ternak yang disembelih dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. maka jelas bahwa uang tidak bisa dikategorikan sebagai qurban. Qurban hanya khusus terhadap binatang-binatang yang telah ditentukan syara’ yaitu bitatang ternak yang dianggap cukup sebagai qurban diantaranya adalah unta, sapi dan kambing. Dengan demikian uang tidak bisa diganti menjadi qurban. Karena syarat qurban terkhusus tiga jenis hewan tersebut.
Dana yang terkumpul tidak untuk membeli hewan qurban melainkan dibagikan dalam bentuk uang. Praktek ini sama dengan qurban berupa uang, dan secara jelas tidak sah sebagai qurban, karena qurban harus dilaksanakan dalam bentuk penyembelihan hewan ternak. Hanya saja bila dana yang terkumpul tersebut tidak digunakan untuk membeli hewan qurban, dana tersebut dibagikan kepada fakir dan miskin hanya menjadi shadaqah biasa tidak bisa menjadi qurban.

Referensi
1. Zainu Ad-Din Ibn Najim, Bahjru RāIq, jld II, (Maktabah Syamilah Ishdar 3.8 V. 10600, 2009), h. 238
قيد المصنف بالزكاة لأنه لا يجوز دفع القيمة في الضحايا والهدايا والعتق لأن معنى القربة إراقة الدم وذلك لا يتقوم وكذلك الإعتاق لأن معنى القربة فيه إتلاف الملك ونفي الرق وذلك لا يتقوم.
Artinya: Musannif menqaidkan dengan zakat karena sesungguhnya, tidaklah memberi harga udhiyah dan hidayah dan memerdekakan hamba, karena makna qurbah adalah menumpahkan darah, karena demikian menumpahkan darah maka tidaklah dihargakan begitu juga Karena qurbah pada memerdakan hamba adalah menghilangkan milik, dan mengapuskan req (sifat kehambaan), karena demikian tidak boleh dihargakan.

2. Ibrahim al-Bājurī, al-Bājurī, jld II (Indonesia: haramen), h. 295
وهي أى الأضحية اسم لما يذبح من النعم أى التي هي الإبل والبقر والغنم فشرط الأضحية أن تكون من النعم التي هي هذه الثلاثة.

Artinya: satu nama bagi sembelihan dari binatang ternak yaitu unta dan lembu dan kambing, maka disyaratkan berqurban adalah dari hewan ternak yang tiga tersebut.
Udhiyah

Wakil untuk Membeli Hewan Qurban

Deskripsi Masalah
Dalam kehidupan sosial hidup saling bantu membantu telah sangat terjalin antar masyarakat, mulai dari kerja sama bagian yang dapat memberi manfaat untuk umum sampai untuk manfaat individu layaknya seperti mewakilkan orang lain untuk membelikan hewan qurban .

Pertanyaan 
Bolehkah mewakilkan orang lain untuk membelikan hewan qurban ?

Jawaban
Boleh, dalam hal ini pernah ditanyakan terhadap seorang syech tentang berlakunya kebiasaan ahli negeri indonesia yang mewakilkan kepada orang lain untuk membeli binatang ternak dan menyembelih hewan di mekkah, jawabannya boleh dan sah melakukan yang demikian.

Referensi
Kitab Ianatuttalibin juz 2 hal 381
(سئل)
 رحمه الله تعالى: جرت عادة أهل بلد جاوى على توكيل من يشتري لهم النعم في مكة للعقيقة أو الأضحية ويذبحه في مكة، والحال أن من يعق أو يضحي عنه في بلد جاوى فهل يصح ذلك أو لا؟ أفتونا.
(الجواب) نعم، يصح ذلك، ويجوز التوكيل في شراء الأضحية والعقيقة وفي ذبحها، ولو ببلد غير بلد المضحي والعاق كما أطلقوه فقد صرح أئمتنا بجواز توكيل من تحل ذبيحته في ذبح الأضحية، وصرحوا بجواز التوكيل أو الوصية في شراء النعم وذبحها، وأنه يستحب حضور المضحي أضحيته.
ولا يجب


donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja