Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Download Kitab-Kitab Syarah Hikam

Syarah Hikam
Salah satu kitab tasawuf yang masyhur dan banyak dipelajari oleh berbagai kalangan adalah kitab Hikam karangan Ibnu Athaillah as-Sakandari. Kitab ini mendapat sambutan yang luar biasa dari para ulama hingga sekarang, sehingga banyak para ulama yang mensyarah kitab tersebut.
Dalam bulan puasa ini, di LPI MUDI Mesjid Raya, kitab yang dikaji pada pengajian ba'da shubuh adalah syarah al-Hikam Ghaits al-Mawahib karangan Ibnu Abbad an-Nafri ar-Raundi. Namun kali ini di isi oleh anak tertua Abu MUDI, Abi Zahrul Mubarak yang lebih dikenal oleh santri MUDI dengan panggilan Abi.
Pengajian bersama Abi Zahrul bisa di ikuti secara langsung ba'da shubuh selama Ramadhan ini di halaman http://alhikam.mudimesra.com. Sedangkan untuk siaran ulang bisa di ikuti di http://radio.mudimesra.com.

Kami berusaha mengumpulkan beberapa link donwload untuk beberapa syarah kitab Hikam. Berikut ini beberapa link donwload file pdf bagi beberapa syarah Kitab Hikam yang sudah kami temukan. In Sya Allah akan terus kami tambahkan ketika kami temukan file pdf baru bagi syarah-syarah Hikam yang lainnya.

  1. غيث المواهب العالية فى شرح الحكم العطائية - ابن عباد النفزي  Ghaitsu al-Mawahib al-Aliyah fi Syarh Hikam Athaiyah, Syarah Hikam karangan Ibnu Abbad an-Nafri ar- Rundi (733-792 H/1333-1390 M). Kitab beliau bernama Ghaits Mawahib 'Aliyah fi Syarh Hikam Athaillah. Cetakan Markaz Ahram, Kairo, Cetakan I, tahun 1988 , Download 
  2. Syarah Hikam karangan Syeikh Abdullah bin Hijazi asy-Syarqawi (Cetakan Dar Ihya Kutub Arabiyah Isa Halabi tahun 1920. Di tengahnya adalah Syarah Ibnu Abbad yang telah kami sebutkan pada no. I. Download 
  3. إيقاظ الهمم فى شرح الحكم -  ابن عجيبة الحسنى  Iqadhul Himam karangan Syeikh Ahmad bin Muhammad bin Ajibah al-Hasani(1162-1224 H/1748-1809 H).  Cet. Dar Ma'arif, Kairo Download 
  4.  تنبيه ذوى الهمم فى شرح الحكم العطائية - الشيخ زروق Syarah Hikam karangan Syeikh Ahmad bin Ahmad bin Isa al-Burnusi az-Zaruq Syeikh al-Maliki  (846-899 H). Tahqiq Syeikh Abdul Halim Mahmud Cet. Dar Sya'b, Kairo. Download 
  5. شرح الحكم العطائية - محمد حياة السندى Syarah Hikam 'Athaillah karangan Syeikh Huhammad Hayah as-Sindi al-Madani (w.1163 H)Cet. Maktabah Ma'arif, thn 2010 Tahqiq Syeikh Nizar Hammadi. Download 
  6.  Talkhis al-Hikam Syarah Hikam karangan Syeikh Nuruddin al-Birifkani Donwload 
  7. Syarah wa Tahlil Hikam karangan Syeikh Said Ramadhan al-Buthi. Donwload    
  8.  الأذواق النقشبندية فى شرح الحكم العطائية - محمد باسم دهان al-Azwaq an-Naqsyabandiyah fi Syarh Hikam al-Athaiyah karangan Syeikh Muhammad Basam HDahan salah satu ulama Negri Suriah saat ini. Download 
  9. كشف الغطاء شرح وترتيب ونظم حكم karangan Syeikh Muhammad Khalil al-Khatib Download 
Inilah beberapa syarah Hikam yang kami temukan link donwloadnya. In Sya Allah, jika kami temukan yang baru akan kami tambahkan...

Profil Syaikh Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari (Pengarang Kitab al-Hikam)

profil syaikh ibnu Ataillah assakandari alhikam
Makam Syaikh Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari 
Nama lengkapnya adalah Syaikh Ahmad ibn Muhammad ibn ‘Atha’illah as-Sakandari. Ia lahir di Iskandariah (Mesir) pada 648 H/1250 M, dan meninggal di Kairo pada 709 H/1309 M. julukan al-Iskandari atau as-Sakandari dari merujuk kota kelahirannya. Keluarga Ibnu Atha’ adalah keluarga yang terdidik dalam lingkungan agama, kakek dari jalur nasab ayahnya adalah seorang ulama fikih pada masanya. Tajuddin remaja sudah belajar pada ulama tingkat tinggi di Iskandariah seperti al-Fakih Nasiruddin al-Mimbar al-Judzami.
Kota Iskandariah pada masa Ibnu Atha’ memang salah satu kota ilmu di semenanjung Mesir, karena Iskandariah banyak dihiasi oleh banyak ulama dalam bidang fikih, hadits, usul, dan ilmu-ilmu bahasa arab, tentu saja juga memuat banyak tokoh-tokoh tasawuf dan para Auliya’ Shalihin.

Sejak kecil, Ibnu Atha’illah dikenal gemar belajar. Ia menimba ilmu dari beberapa syaikh secara bertahap. Gurunya yang paling dekat adalah Abu Al-Abbas Ahmad ibnu Ali Al-Anshari Al-Mursi, murid dari Abu Al-Hasan Al-Syadzili, pendiri Tarikat Al-Syadzili. Dalam bidang fikih ia menganut dan menguasai Mazhab Maliki, sedangkan di bidang tasawuf ia termasuk pengikut sekaligus tokoh tarikat Al-Syadzili. Ia dikenal sebagai master atau syaikh ketiga dalam lingkungan Tarikat Syadzili setelah pendirinya Abu Al-Hasan Asy-Syadzili dan penerusnya, Abu Al-Abbas Al-Mursi. Dan Ibnu Atha'illah inilah yang pertama menghimpun ajaran-ajaran, pesan-pesan, doa dan biografi keduanya, sehingga khazanah tarikat Syadziliyah tetap terpelihara.

Ibnu Atha’illah tumbuh sebagai seorang fakih, sebagaimana harapan dari kakeknya. Namun kefakihannya terus berlanjut sampai pada tingkatan tasawuf. Hal mana membuat kakeknya secara terang-terangan tidak menyukainya. Ibnu Atha’ menceritakan dalam kitabnya “Lathaiful minan” : “Bahwa kakeknya adalah seorang yang tidak setuju dengan tasawuf, tapi mereka sabar akan serangan dari kakeknya.
Di sinilah guru Ibnu Atha’ yaitu Abul Abbas al-Mursi mengatakan: “Kalau anak dari seorang alim fikih Iskandariah (Ibnu Atha’illah) datang ke sini, tolong beritahu aku”, dan ketika aku datang, al-Mursi mengatakan: “Malaikat jibril telah datang kepada Nabi bersama dengan malaikat penjaga gunung ketika orang quraisy tidak percaya pada Nabi. Malaikat penjaga gunung lalu menyalami Nabi dan mengatakan: ” Wahai Muhammad.. kalau engkau mau, maka aku akan timpakan dua gunung pada mereka”. Dengan bijak Nabi mengatakan : ” Tidak… aku mengharap agar kelak akan keluar orang-orang yang bertauhid dan tidak musyrik dari mereka”. Begitu juga, kita harus sabar akan sikap kakek yang alim fikih (kakek Ibnu Atha’illah) demi orang yang alim fikih ini”. Pada akhirnya Ibn Atha’ memang lebih terkenal sebagai seorang sufi besar. Namun menarik juga perjalanan hidupnya, dari didikan yang murni fikih sampai bisa memadukan fikih dan tasawuf.
Oleh karena itu sejarah menyebutkan riwayat hidup Atha’illah menjadi tiga masa:

Masa pertama

Masa ini dimulai ketika ia tinggal di Iskandariah sebagai pencari ilmu agama seperti tafsir, hadits, fikih, usul, nahwu dan lain-lain dari para alim ulama di Iskandariah. Pada periode itu beliau terpengaruh pemikiran-pemikiran kakeknya yang mengingkari para ahli tasawuf karena kefanatikannya pada ilmu fikih, dalam hal ini Ibnu Atha’illah bercerita: “Dulu aku adalah termasuk orang yang mengingkari Abu al-Abbas al-Mursi, yaitu sebelum aku menjadi murid beliau”. Pendapat saya waktu itu bahwa yang ada hanya ulama ahli dzahir, tapi mereka (ahli tasawuf) mengklaim adanya hal-hal yang besar, sementara dzahir syariat menentangnya”.


Masa kedua

Masa ini merupakan masa paling penting dalam kehidupan sang guru pemburu kejernihan hati ini. Masa ini dimulai semenjak ia bertemu dengan gurunya, Abu al-Abbas al-Mursi, tahun 674 H, dan berakhir dengan kepindahannya ke Kairo. Dalam masa ini sirnalah keingkarannya terhadap ulama’ tasawuf. Ketika bertemu dengan al-Mursi, ia jatuh kagum dan simpati. Akhirnya ia mengambil Thariqah langsung dari gurunya ini.

Ada cerita menarik mengapa ia beranjak memilih dunia tasawuf ini. Suatu ketika Ibn Atha’ mengalami goncangan batin, jiwanya tertekan. Dia bertanya-tanya dalam hatinya : “apakah semestinya aku membenci tasawuf. Apakah suatu yang benar kalau aku tidak menyukai Abul Abbas al-Mursi ?. setelah lama aku merenung, mencerna akhirnya aku beranikan diriku untuk mendekatnya, melihat siapa al-Mursi sesungguhnya, apa yang ia ajarkan sejatinya. Kalau memang ia orang baik dan benar maka semuanya akan kelihatan. Kalau tidak demikian halnya biarlah ini menjadi jalan hidupku yang tidak bisa sejalan dengan tasawuf.

Lalu aku datang ke majlisnya. Aku mendengar, menyimak ceramahnya dengan tekun tentang masalah-masalah syara’. Tentang kewajiban, keutamaan dan sebagainya. Di sini jelas semua bahwa ternyata al-Mursi yang kelak menjadi guru sejatiku ini mengambil ilmu langsung dari Tuhan. Dan segala puji bagi Allah, Dia telah menghilangkan rasa bimbang yang ada dalam hatiku”.

Maka demikianlah, ketika ia sudah mencicipi manisnya tasawuf hatinya semakin tertambat untuk masuk ke dalam dan lebih dalam lagi. Sampai-sampai ia punya dugaan tidak akan bisa menjadi seorang sufi sejati kecuali dengan masuk ke dunia itu secara total, menghabiskan seluruh waktunya untuk sang guru dan meningalkan aktivitas lain. Namun demikian ia tidak berani memutuskan keinginannya itu kecuali setelah mendapatkan izin dari sang guru al-Mursi.

Dalam hal ini Ibn Athailah menceritakan : “Aku menghadap guruku al-Mursi, dan dalam hatiku ada keinginan untuk meninggalkan ilmu dzahir. Belum sempat aku mengutarakan apa yang terbersit dalam hatiku ini tiba-tiba beliau mengatakan: “Di kota Qous aku mempunyai kawan namanya Ibnu Naasyi’. Dulu dia adalah pengajar di Qous dan sebagai wakil penguasa. Dia merasakan sedikit manisnya tariqah kita. Kemudian aku menghadapnya dan berkata: “Tuanku… apakah sebaiknya aku meninggalkan tugasku sekarang ini dan berkhidmat saja pada tuan?”. Beliau memandangku sebentar kemudian berkata: “Tidak demikian itu tariqah kita. Tetaplah dengan kedudukan yang sudah di tentukan Allah padamu. Apa yang menjadi garis tanganmu akan sampai padamu juga”.

Setelah bercerita semacam itu yang sebetulnya adalah nasehat untuk diriku beliau berkata: “Beginilah keadaan orang-orang al-Siddiqiyyin. Mereka sama sekali tidak keluar dari suatu kedudukan yang sudah ditentukan Allah sampai Dia sendiri yang mengeluarkan mereka”. Mendengar uraian panjang lebar semacam itu aku tersadar dan tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Dan alhamdulillah Allah telah menghapus angan kebimbangan yang ada dalam hatiku, sepertinya aku baru saja melepas pakaianku. Aku pun rela tenang dengan kedudukan yang diberikan oleh Allah”.

Masa ketiga

Masa ini dimulai semenjak kepindahan Ibn Atha’ dari Iskandariah ke Kairo. Dan berakhir dengan kepindahannya ke Allah swt pada tahun 709 H. Masa ini adalah masa kematangan dan kesempurnaan Ibnu Atha’illah dalam ilmu fikih dan ilmu tasawuf. Ia membedakan antara Uzlah dan khulwah. Uzlah menurutnya adalah pemutusan (hubungan) maknawi bukan hakiki, lahir dengan makhluk, yaitu dengan cara si Salik (orang yang uzlah) selalu mengontrol dirinya dan menjaganya dari perdaya dunia. Ketika seorang sufi sudah mantap dengan uzlah-nya dan nyaman dengan kesendiriannya ia memasuki tahapan khalwah. Dan khalwah dipahami dengan suatu cara menuju rahasia Tuhan, khalwah adalah perendahan diri dihadapan Allah dan pemutusan hubungan dengan selain Allah swt.
Menurut Ibnu Atha’illah, ruangan yang bagus untuk ber-khalwah adalah yang tingginya, setinggi orang yang berkhalwat tersebut. Panjangnya sepanjang ia sujud. Luasnya seluas tempat duduknya. Ruangan itu tidak ada lubang untuk masuknya cahaya matahari, jauh dari keramaian, pintunya rapat, dan tidak ada dalam rumah yang banyak penghuninya. Ibnu Atha’illah sepeninggal gurunya Abu al-Abbas al-Mursi tahum 686 H, menjadi penggantinya dalam mengembangkan Tariqah Syadziliah. Tugas ini ia emban di samping tugas mengajar di kota Iskandariah. Maka ketika pindah ke Kairo, ia bertugas mengajar dan ceramah di Masjid al-Azhar.

Ibnu Hajar berkata: “Ibnu Atha’illah berceramah di Azhar dengan tema yang menenangkan hati dan memadukan perkatan-perkatan orang kebanyakan dengan riwayat-riwayat dari salafus shalih, juga berbagai macam ilmu. Maka tidak heran kalau pengikutnya berjubel dan beliau menjadi simbol kebaikan”. Hal senada diucapkan oleh Ibnu Tagri Baradi : “Ibnu Atha’illah adalah orang yang shalih, berbicara di atas kursi Azhar, dan dihadiri oleh hadirin yang banyak sekali. Ceramahnya sangat mengena dalam hati. Dia mempunyai pengetahuan yang dalam akan perkataan ahli hakikat dan orang orang ahli tariqah”. Termasuk tempat mengajar beliau adalah Madrasah al-Mansuriah di Hay al-Shaghah. Beliau mempunyai banyak anak didik yang menjadi seorang ahli fiqih dan tasawuf, seperti Imam Taqiyyuddin al-Subki, ayah Tajuddin al-Subki, pengarang kitab “Tabaqah al-syafi’iyyah al-Kubra”.

Karamah Syaikh Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari

  1. Di dalam kitab “Jami’u Karamatil Aulia” pada jilid 1 halaman 525, cetakan “Darul Fikr”, Bairut, Libanon diterangkan tentang karamah Syaikh Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari, Di antara karamah Syaikh Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari adalah sebagai berikut:

    Suara Syaikh terdengar dari dalam Kubur. Pada suatu hari Syaikh Al-Kamal Ibnu Al-Hammam berziarah ke makam Syaikh Ibnu ‘Athaillah. Kemudian di sisi makam beliau, Al-Kamal Ibnu Al-Hammam membaca surat Hud sampai pada ayat:

    فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ

    Artinya: “Maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia”. (Q.S. Hud {11}: 105)
    Tiba-tiba Syaikh Ibnu ‘Athaillah dari dalam kuburnya menjawab dengan suara yang tinggi (keras) : “Wahai Kamal ! Tidak ada di antara kita yang celaka”.

    Karena menyaksikan karamah Syaikh Ibnu ‘Athaillah yang agung itu, kemudian Ibnu Hammam berwasiat (kepada sahabat-sahabatnya) apabila beliau meninggal nanti supaya jenazahnya dimakamkan di sana, di dekat makam Syaikh Ibnu ‘Athaillah.
  2. Pada suatu ketika salah seorang murid Syaikh Ibnu ‘Athaillah berangkat haji. Kemudian di sana si murid melihat sang guru (Syaikh Ibn Athaillah) sedang melakukan tawaf. Dia juga melihat sang guru sedang berada di belakang maqam Ibrahim. Begitupula di tempat sa’i dan di Padang Arafah.

    Kemudian, ketika pulang haji, dia bertanya kepada teman-teman di kampung halamannya tentang gurunya apakah beliau pergi haji atau tidak? Jawab mereka: Tidak. Mendengar jawaban itu, kemudian langsung dia pergi ke rumah gurunya. Sesampainya di sana, dia mengucapkan salam. Setelah itu, sang guru bertanya kepadanya: Siapa saja yang engkau lihat dalam perjalanan ibadah hajimu? Jawab dia: Ya, tuanku. Aku melihat tuanku berada di sana. Kemudian, sang guru tersenyum dan berkata: Orang besar bisa memenuhi alam jagad raya. Seandainya seorang Wali Quthub berdoa di kamar tempat penyepiannya, maka sudah barang tentu Allah akan mengabulkan doanya.

Karangan Syaikh Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari

Sebagai seoarang sufi yang alim Ibn Atha’ meninggalkan banyak karangan lebih kurang sebanyak 22 kitab lebih. Mulai dari sastra, tasawuf, fiqh, nahwu, mantiq, falsafah sampai khitabah. Kitabnya yang paling masyhur sehingga telah menjadi terkenal di seluruh dunia Islam ialah kitabnya yang bernama al-Hikam, yang telah diberikan komentar (Syarahan) oleh beberapa orang ulama di kemudian hari dan yang juga telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa asing lain, termasuklah bahasa Melayu dan bahasa Indonesia. Beberapa kitab lainnya yang ditulis adalah Al-Tanwir fi Isqath Al-Tadbir, Unwan At-Taufiq fi’dab Al-Thariq, Miftah Al-Falah dan Al-Qaul Al-Mujarrad fil Al-Ism Al-Mufrad. Yang terakhir ini merupakan tanggapan terhadap ibnu Taimiyyah mengenai persoalan tauhid.

Salah satu karangan fenomenalnya Syaikh Ibnu Atha’illah adalah kitab Al-Hikam dengan sandaran utama pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Guru besar spiritualisme ini menyalakan pelita untuk menjadi penerang bagi setiap salik, menunjukkan segala aral yang ada di setiap kelokan jalan, agar kita semua selamat menempuhnya.

Kitab Al-Hikam merupakan ciri khas pemikiran Ibnu Atha’illah, khususnya dalam paradigma tauhid dantasawuf. Di antara para tokoh sufi yang lain seperti Al-Hallaj, Ibnul Arabi, Abu Husen An-Nuri, dan para tokoh sufisme falsafi yang lainnya, kedudukan pemikiran Ibnu Atha’illah bukan sekedar bercorak tasawuf falsafi yang mengedepankan teologi. Tetapi diimbangi dengan unsur-unsur pengamalan ibadah dan suluk, artinya di antara syari’at, tarikat dan hakikat ditempuh dengan cara metodis. Corak Pemikiran Ibnu Atha’illah dalam bidang tasawuf sangat berbeda dengan para tokoh sufi lainnya. Ia lebih menekankan nilai tasawuf pada ma’rifat.

Menurut keterangan Syaikh Zarruq, kitab ini tidak ditulis sendiri oleh Syaikh Ibn Athaillah, namun didiktekan kepada muridnya yang bernama Syaikh Taqiyuddin al-Subki, seorang ahli fikih dan kalam yang terkenal akan ketelitian dan kejujurannya.
Kitab karyanya yang lain adalah Miftah al-Falah wa Mishbah al-Arwah, yang berisi penjelasan tentang metode zikir. Di dalamnya beliau memaparkan beberapa jenis zikir dan Asma Allah yang cocok untuk berbagai kondisi murid.
Kitab At-Tanwir fi Isqath at-Tadbir merupakan penjelasan ajaran Tarikat Syadiziliyyah tentang berbagai bentuk kebajikan, seperti ikhlas, harapan, cinta, dan sebagainya.
Lathaif al-Minan merupakan kitab yang menjelaskan biografi dua tokoh Tarekat Syadziliyyah dan ajaran-ajarannya, yakni biografi Syaikh Abu Hasan al-Syadzili dan Syaikh Abu Abbas al-Mursi. Di dalamnya juga dipaparkan keterangan tentang Wali Allah dan beberapa amalan utama (zikir, hizib dan doa) dua Wali Allah tersebut.
Kitab Al-Qash al-Mujarrad fi Ma’rifat al-Ism al-Mufrad, yang menyajikan pembahasan ringkas Asma al-Husna, dengan pemaparan teori menafisika Asma al-Husna.
Kitab Taj al-Arus al-Hawi li Tahdzib an-Nufus, berisi kutipan-kutipan dari al-Hikam, at-Tanwir dan Lathaif.

Wafatnya Syaikh Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari

Tahun 709 H adalah tahun kemalangan dunia ini. Karena tahun tersebut wali besar yang tetap abadi nama dan kebaikannya ini harus beralih ke alam barzah, lebih mendekat pada Sang Pencipta. Namun demikian madrasah al-Mansuriyyah cukup beruntung karena di situlah jasad mulianya berpisah dengan sang nyawa. Ribuan pelayat dari Kairo dan sekitarnya mengiring kekasih Allah ini untuk dimakamkan di pemakaman al-Qarrafah al-Kubra.


Hukum Berbuka Puasa Bila Shafar (Bepergian) Setelah Fajar


Deskripsi masalah:
Umar berdomisili di Banda aceh. Bulan Ramadhan, Umar mengunjungi keluarga di bireun. setelah sahur dan berniat puasa, umar mempersiapkan bekal selama dalam perjalanan. Umar berangkat dari rumah kira-kira 30 Menit setelah shalat subuh. kira-kira Jam 06:30 WIB. Umar melihat pedagang makanan, krn tidak tahan melihat makanan lezat, maka umar membatalkan puasa. dalam pemahaman umar, orang yang mushafir boleh tidak berpuasa.

Pertanyaan:
Apa hukum membatalkan (berbuka) puasa bagi musafir/bepergian setelah fajar seperti kronologi diatas ?

jawaban:
Dalam kajian Fiqh Madzhab Syafi'i. perbuatan umar adalah haram ( tidak dibenarkan syara' ) seharusnya umar tetap wajib berpuasa sampai waktu berbuka, apapun alasannya. kecuali umar sakit dalam perjalanan tersebut.

Referensi :

1. Raudhatuthalibin jld 2 halaman 369:

ولو أصبح مقيما صائما ثم سافر، لم يجز له فطر ذلك اليوم.
وقال المزني: يجوز، وبه قال غيره من أصحابنا.
فعلى الصحيح: لو أفطر بالجماع، لزمته الكفارة. ولو نوى المقيم بالليل، ثم سافر ليلا، فإن فارق العمران قبل الفجر، فله الفطر، وإلا، فلا.
ولو أصبح المسافر صائما، ثم أقام في أثناء النهار، لم يجز له الفطر على الصحيح. ونقل صاحب «الحاوي» عن حرملة: أن له الفطر.
ولو أصبح المريض صائما، ثم برئ في النهار، فقطع كثيرون بتحريم الفطر عليه. وطرد صاحب «المهذب» فيه الوجهين، ولعله الأولى. ولو أصبح صائما في السفر، ثم أراد الفطر، جاز.

Artinya ; Bila seseorang bepergian/safar setelah subuh (setelah fajar), maka tidak dibenarkan atasnya berbuka (haram). Karena bila suatu ibadah berkumpul dalam hadir dan safar, maka kami mendahulukan ibadah tersebut agar dilakukan secara aturan hadir.


2. Tuhfatul muhtaj jld jld 3 vol 474 cet bairut:

وَلَوْ أَصْبَحَ صَائِمًا فَمَرِضَ أَفْطَرَ) لِوُجُوبِ سَبَبِ الْفِطْرِ قَهْرًا عَلَيْهِ وَيُشْتَرَطُ فِي حِلِّ الْفِطْرِ بِالْعُذْرِ قَصْدُ التَّرَخُّصِ عَلَى الْأَوْجَهِ كَمُحْصِرٍ يُرِيدُ التَّحَلُّلَ وَلِيَتَمَيَّزَ الْفِطْرُ الْمُبَاحُ مِنْ غَيْرِهِ وَرَجَّحَ الْأَذْرَعِيُّ مُقَابِلَهُ كَتَحَلُّلِ الصَّلَاةِ وَفِيهِ نَظَرٌ وَيُفَرَّقُ بِأَنَّ تَحَلُّلَهَا وَاقِعٌ مَعَ انْقِضَائِهَا وَلَيْسَ مُبْطِلًا لَهَا وَمَا هُنَا فِي أَثْنَاءِ الْعِبَادَةِ وَمُبْطِلٌ لَهَا فَتَعَيَّنَ إلْحَاقُهُ بِتَحَلُّلِ الْمُحْصِرِ وَسَيَأْتِي فِي قَوْلِ الْمَتْنِ فِي فَصْلِ الْكَفَّارَةِ وَكَذَا بِغَيْرِهَا أَنَّهُ صَرِيحٌ فِي الْوُجُوبِ (وَإِنْ) أَصْبَحَ صَائِمًا ثُمَّ (سَافَرَ فَلَا) يُفْطِرُ تَغْلِيبًا لِلْحَضَرِ؛ لِأَنَّهُ الْأَصْلُ وَلِأَنَّهُ بِاخْتِيَارِهِ.

(وَلَوْ أَصْبَحَ الْمَرِيضُ وَالْمُسَافِرُ صَائِمَيْنِ) بِأَنْ نَوَيَا لَيْلًا (ثُمَّ أَرَادَا الْفِطْرَ جَازَ) بِلَا كَرَاهَةٍ لِوُجُودِ سَبَبِ التَّرَخُّصِ وَإِنَّمَا امْتَنَعَ الْقَصْرُ بَعْدَ نِيَّةِ الْإِتْمَامِ؛ لِأَنَّهُ يَكُونُ تَارِكًا لِلْإِتْمَامِ الَّذِي الْتَزَمَهُ لَا إلَى بَدَلٍ وَهُنَا يَتْرُكُ الصَّوْمَ بِبَدَلٍ هُوَ الْقَضَاءُ قَالَ وَالِدُ الرُّويَانِيِّ وَلَهُمَا ذَلِكَ وَإِنْ نَذَرَا الْإِتْمَامَ؛ لِأَنَّ إيجَابَ الشَّرْعِ أَقْوَى مِنْهُ وَكَمَا لَوْ نَذَرَ مُسَافِرٌ الْقَصْرَ أَوْ الْإِتْمَامl


3. Ihya ‘ulumiddin jld 1 vol 260 cet haramain:

رخصة السابعة:الفطر،وهو في الصوم.فللمسافر أن يفطرإلا إذا أصبح مقيما ثم سافر فعليه إتمام ذلك اليوم.وإن أصبح مسافرا صائما ثم أقام فعليه الإتمام.وإن أقام مفطر فليس عليه الإمساك بقية النهار.وإن أصبح مسافرا على عزم الصوم لم يلزمه بل له أن يفطر إذا أراد، والصوم أفضل من الفطر.والقصر أفضل من الإتمام للخروج عن شبهة الخلاف،ولأنه ليس فى عهدة القضاء بخلاف المفطر فإنه في عهدة القضاء وربما يتعذر عليه ذلك بعائق فيبقى في ذمته،إلا إذا كان الصوم يضر به فالإفطار أفضل

Artinya : Rukhsah (toleran) ke tujuh adalah boleh buka puasa. Boleh berbuka bagi musafir, kecuali apabila berangkat safar setelah subuh (terbit fajar), maka wajib menyempurnakan puasa hari itu. begitu juga bila berangkat safar dalam keadaan berpuasa kemudian bermukim, dan jika dalam waktu safar dia berbuka lalu bermukim, maka tidak wajib imsak(puasa) pada hari tersebut. Kemudian Jika bepergian di waktu subuh dan berkeyakinan untuk berpuasa, maka tidak wajib atasnya menyempurnakan puasa bahkan boleh berbuka puasa.

Wallahu A'lam Bisshawab.

Fatwa Imam Ramli Seputar Masalah Puasa

Fatwa Imam Ramli Seputar Masalah Puasa

Beberapa Fatwa Imam Ramli Tentang Puasa:
  1. Seorang anak kecil meniatkan puasa ramadhan untuk esok hari. Sebelum terbit fajar ia menjadi orang baliqh. Apakah wajib atasnya mentajdid ( Membarukan / Mengulangi ) niat puasa karena niat tadi berubah kepada sunat atau tidak wajib mengulangi niatnya?

    Jawaban:
    Tidak wajib mentajdid karena niat tersebut sudah memadai kepada fardhu, berpijak atas pendapat rajih (kuat) niat fardhiah bukan suatu kewajiban bagi si baliqh.


    سئل عن صبي نوى صوم غد من رمضان فبلغ ليلا هل يجب عليه تجديد النية لأن تلك النية كانت منصرفة للنفل أم لا ؟ ( فأجاب ) بأنه لا يجب عليه تجديدها لأنها كافية في وقوع صومه فرضا بناء على الراجح من أن نية الفرضية غير واجبة على البالغ
  2. Sudah menjadi rutinitasnya berpuasa sehari dan buka sehari, dengan kata lain menselang seling. kebetulan hari buka itu jatuh senin atau kamis yang kedua hari ini disunatkan berpuasa. Bagi orang itu apakah lebih baik tidak berpuasa atau puasa yang lebih utama. dan apakah dia dianggap sudah keluar dari berpuasa sehari, buka sehari.

    Jawaban:
    yang lebih baik berpuasa dan dia tidak dianggap keluar dari puasa sehari dan buka sehari.

    سئل عمن يصوم يوما ويفطر يوما فوافق يوم فطره يوم الاثنين أو الخميس هل فطره أفضل أو صومه ولا يخرج بذلك عن صوم يوم وفطر يوم ؟ ( فأجاب ) بأن الأفضل صومه ولا يخرج به عما ذكر

  3. Apakah dimakruhkan bercelak bagi orang berpuasa?

    Jawaban:
    Tidak dimakruhkan


    سئل هل يكره اكتحال الصائم للخلاف فيه ؟ ( فأجاب ) بأنه لا يكره

  4. Apakah disunatkan mengkadha puasa senin dan kamis bagi yang tidak melakukannya.

    Jawaban:
    disunatkan kadha puasa senin dan kamis bagi yang tidak melakukannya.

    هل يسن قضاء يوم الاثنين والخميس إذا فاتا ولم يكن شرع في صومهما ؟ فأجاب  نعم يسن قضاؤهما

Referensi:
Fatawa Ramli, cet. Mauqik islam.
Wallahu 'Alam Bisshawab.

Download Kitab Fiqh Shiyam karya Syeikh Hasan Hitu


كتاب فقه الصيام تأليف الشيخ محمد حسن هيتو
Salah satu ulama mazhab Syafii zaman ini adalah Syeikh Hasan Hitu. Ulama
asal Suriah ini sangat teguh berpegang kepada mazhab Syafii dan sangat aktif dalam mengajar. Beliau mendirikan banyak lembaga pendidikan, salah satunya di Indonesia, STAI Imam Syafii di Cianjur, sebuah kampus dengan sistem pondok pesantren. Selain itu beliau juga banyak mengarang kitab, salah satunya kitab yang sedang beliau selesaikan adalah sebuah kitab ensiklopedi mazhab Syafii yang furu` ibadah saja sudah terdiri dari 40 jilid, semoga Allah memberikan kesempatan kepasa beliau untuk menyempurnakannya. Diantara kitab beliau yang sudah kami posting link donwloadnya adalah Kitab Ijtihad Wa Thabaqah Mujtahidi Syafi'iyah. Kitab lain karya beliau adalah Kitab Fiqh Shiyam, sebuah kitab yang membahas khusus masalah puasa, mulai dari sejarah puasa, hukum puasa, tsubut Ramadhan, syarat sah puasa dan yang membatalkannya, yang diharamkan dan yang disunatkan dalam puasa, dll.

Kitab tersebut bisa di donwload di SINI

Kitab lain yang khusus membahas tentang puasa yang pernah kami posting adalah Kitab Ittihaf Ahl al-Islam bi Khushushiyat ash-Shiyam karya Ibnu Hajar al-Haitami

Surat Apakah yang Dibaca Saat Shalat Witir?


Pertanyaan:
Seperti yang diketahui jika melaksanakan shalat maka disunatkan membaca surat al- ‘akla (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى)  al-kafirun, al-ikhlas dan ma’uzatain pada tiga rakaat shalat witir. Namun jika melakukan shlat witir melebihi tiga rakaat, apakah juga disunatkan membaca ayat tersebut sama halnya dengan melakukan tiga rakaat? dan apakah ada yang mengatakan demikian?

Jawaban:
Disunatkan membaca surat al-‘akla, al-kafirun, al-ikhlas dan ma’uzatain, ketentuan ini berlaku pada shalat tiga rakaat maupun lebih, baik tiga rakaat itu dilakukan sesudah salam dari dua rakaat atau sesudah salam dari empat, sesudah salam dari enam atau sesudah salam dari delapan rakaat. Sedangkan bila dikerjakan lima rakaat sekaligus, tujuh secara bersambung-sambung atau sembilan atau sebelas rakaat tanpa diselangi salam maka ketentuan di atas tidak berlaku.

Dalilnya:
  1. Nabi pada rakaat pertama shalat witir membaca surat al-‘akla, dirakaat kedua membaca al-kafirun, dirakaat ketiga al-ikhlas, dan ma’uzatain.
  2. Riwayat ‘Amrah dari ‘Aisyah berkata: Rasulullah pada dua rakaat membaca surat al-‘akla dan al-kafirun dan di rakaat ganjil dibaca al-ikhlas dan ma’uzataini.
  3. Riwayat Abu Daud dan Turmizi dari hadis Khasif bin Abdurrahman dari Abdul Aziz bin Jurez berkata: saya telah menanyakan kepada Aisyah: surat apa yang rasul baca pada shalat witir. Aisyah menjawab: pada rakaat pertama dibaca al-‘akla, pada rakaat kedua al-kafirunو pada rakaat yang ketiga surat al-ikhlas dan ma’uzataini.
  4. Abdurrahman bin Abza meriwayat dari Ubai bin Ka’ab bahwa Rasulullah salat witir membaca surat al-‘akla dan al-kafirun dan al-ikhlas.

Fatawa Bulqini Cet, Daru ibnu ‘affan, Hal 126


Rahasia kalimat Laa ilaaha illah (لا اله الا الله)

Rahasia kalimat Laa ilaaha illah
Kalimat La ailaaha illah merupakan satu kalimat yang suci dan mengandung nilai yang tinggi dalam pandangan Allah. Banyak sekali rahasia yang terkandung dalam kalimat thaiyibah ini. Berikut ini sedikit diantara rahasia-rahasia kalimat tauhid ini yang kami kutip dari kitab Tuhfatul Ikhwan fi Qiraah al-Mi’ad Fi ajab wa Sya’ban Wa Ramadhan (download kitab tersebut) karangan Syeikh Syihabuddin Ahmad bin Hijazi al-Fasyani;
  1. Huruf yang terdapat dalam kalimat tersebut semunya huruf jaufiyah (huruf yang keluar dari rongga) tidak ada huruf syafawi (huruf bibir), Hal ini mengindikasikan bahwa mengucapkan kalimat ini mesti benar-benar dari dalam rongga. Rongga yang dimaksud disini adalah hati. Hal sebagaimana disampaikan oleh Rasulullah SAW:

    اسعد الناس بشفاعتي يوم القيمة من قال لا اله ال الله خالصا مخلصا من قلبه

    Manusia yang paling bahagia dihari kiamat dengan mendapatkan syafaatku adalah orang yang mengucapkan kalimat La llaaha illAllah dengan penuh keikhlasan dari hati.

    Hadist ini jelas menerangkan bahwa orang yang mengucapkan kalimat La llaaha illAllah dengan penuh keikhlasan dalam lubuk hatinya, maka ia akan menjadi orang yang paling bahagia di akhirat dengan mendapatkan syafaat Rasulullah.
  2. Dalam kalimat Laa ilaaha illAllah semua hurufnya sunyi dari titik, tidak ada satu hurufpun yang bertitik (huruf mu’jam). Hal ini mengisyaratkan bahwa yang benar-benar disembah hanyalah Allah, lepas dari semua sembahan lain selain Allah. Rasulullah SAW bersabda:

    اتانى جبريل فبشرنى ان من مات من امتك لا يشارك بالله شيأ دخل الجنة قلت وان زنى وان سرق قال وان زنى وان سرق

    Malaikat Jibril mendatangiku, ia membawa khabar gembira bagku “bahwa siapa saja dari kalangan umatmu yang meninggal dunia dengan tanpa menyekutukan Allah maka ia masuk surga”. Saya bertanya “walaupun ia berzina atau mencuri?” jibril menjawabnya “ya, walaupun ia penzina atau pencuri”.

    Hadist ini mengisyaratkan bahwa setiap mukmin yang meninggal dunia dengan tanpa menyekutukan Allah maka ia pada akhirnya tetap akan Allah masukkan ke dalam surga, walaupun ia harus menjalani siksaan terlebih dahulu atas dosa-dosa yang pernah ia lakukan di dunia ini. Sedangkan orang yang mati dalam keadaan menyekutukan Allah, maka dosanya tidak akan Allah ampuni, ia kekal dalam neraka selama-lamanya. Sebagaimana firman Allah;

    إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

    Sungguh Allah tidak akan mengampunkan dosa menyekutukanNya dan Dia akan mengampunkan dosa yang lainnya bagi orang yang Dia kehendaki (Q.S. an-Nisa ayat 48)
  3. Pada kalimat Laa ilaaha illAllah terdiri dari 12 (dua belas). Hal ini mengisyarahkan bahwa dalam setahun terdiri dari 12 bulan. Empat bulan diantaranya merupakan bulan haram yang memiliki kelebihan dari bulan-bulan yang lain. Pada kalimat Laa laaha illAllah terdapat satu kalimat yang terdiri dari empat huruf yaitu lafadh Jalallah (lafadh Allah), satu hurufnya terpisah (huruf alif pafa awal kalimat Allah) dan tiga lainnya terangkai. Hal ini merupakan isyarah kepada empat bulan haram yang lebih mulia dari bulan lain, sebagaimana lafadh jalalah lebih mulia dari kalimat yang lain dalam kalimat Laa ilaaha illAllah tersebut, dan juga mengisyarahkan bahwa empat diantara bulan haram letaknya terpisah, yaitu bulan Rajab, terpisah dari tiga bulan haram lainnya yaitu Zulqa’dah, Zulhijjah dan Muharram.
  4. Siang dan malam terdiri dari 24 jam dan kalimat لا اله الا الله محمد رسول الله juga terdiri dari 24 huruf. Setiap huruf dari kalimat لا اله الا الله محمد رسول الله dapat menghapus dosa satu jam. Sedangkan dua kalimat tersebut bisa menghapuskan dosa sehari semalam (24 jam).

    Imam Sufyan bin Uyainah telah berkata: tidak ada nikmat yang paling afdhal yang diberikan oleh Allah kecuali nikmat mengenal serta memahami kalimat Laa liaaha illAllah dan kalimat Laa ilaaha illAllah di akhirat kelak bagi manusia bagaikan air didalam dunia.”
    Sufyan Tsuri pernah berkata: “ Kelezatan pengucapan لا اله الا الله di akhirat laksana kelezatan meminum air segar didalam dunia.
    Imam Mujahid menafsirkan firman Allah;

    وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً

    Allah telah menyempurnakan nikmat kepadamu lahir dan batin (Q.S. Luqman 20)

    Menurut beliau maksud dari nikmat lahir batin tersebut adalah kalimat La llaaha illAllah.
  5. Sesungguhnya setiap amalan perbuatan taat akan diangkat kelangit oleh para malaikat sedangkan amalan mengucapkan لا اله الا الله akan naik sendiri tanpa perantaraan para malaikat. Hal ini sebagaimana firman Allah:

    إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ


    Kalam yang mulia akan terangkat dengan sendirinya sedangkan amal shaleh yang lainnya diangkat (oleh para malaikat). (Q.S. Fathir 10).
    Penjelasan demikian sebagaimana dihikayahkan oleh Imam ar-Razi.
  6. Laa ilaaha illAllah Muhammad Rasulullah terdiri dari tujuh kalimat (kosa kata), demikian juga manusia punya tujuh anggota utama dan pintu neraka juga berjumlah tujuh. Maka setiap kata dari dua kalimat ini bisa menjadi penutup pintu neraka yang tujuh.
Sumber; Syeikh Syihabuddin Ahmad bin Hijazi al-Fasyani, Tuhfatul Ikhwan fi Qiraah al-Mi’ad Fi ajab wa Sya’ban Wa Ramadhan, hal. 54-55


Fatwa Imam Bughawi; Lupa Tasbih Dalam Rukuk Shalat Tasbih

Shalat tasbih merupakan salah satu shalat sunnah yang memiliki banyak kelebihan. Banyak hadits yang bisa dijadikan hujjah kesunnahan shalat tasbih. Tata pelaksaan shalat tasbih memang agak sedikit berbeda dengan shalat biasa, perbedaannya terletak pada tasbeh yang di baca sebanyak 75 kali dalam setiap rakaat. Tasbih tersebut dibaca masing-masing sepuluh kali pada rukuk, i’tidal, sujud, duduk dua sujud, duduk istirahat dan lima belas kali pada sebelum rukuk. Rincian tatacara pelaksanaannya bisa dibaca dalam tulisan kami di Tata cara pelaksanaan shalat Tasbih. Nah bagaimana bila tasbih tersebut tertinggal atau lupa di baca dalam satu rukun, apakah bisa baca kadar yang tinggal tersebut dalam rukun selanjutnya.
Imam al-Bughawi (W. 517 H) pernah ditanyakan hal serupa. Berikut pertanyaan dan jawaban beliau;

سئل شيخنا الامام اذا رفع رأسه من الركوع فى صلاة التسبيح قبل أن يأتي بالتسبيحات ؟

Imam Baghwi ditanyakan; Apabila seseorang bangun dari rukuk dalam shalat tasbih sebelum membaca tasbih, (bagaimana hukumnya?, apakah boleh diulang atau diqadha dalam rukun lain.)

لا يجوز ان يعود ويقضي تلك التسبيحات لأن الاعتدال ركن فصير لا يجوز مده وجوز فى صلاة التسبيح لورود السنة فلا نزيد على قدر ما ورد فيه السنة والسجود تطويله مستحب فيقضى فيه لانه ليس فى قضائه ترك سنة اخرى كما قال الشافعي لو ترك الجمعة فى الركعة من الجمعة قضاها مع المنافقين فى الثانية قال من صلى صلاة التسبيح اذا جلس بعد السجدتين فى الركعة الاولى يعقد مكبرا فاذا سبح يقوم غير مكبر اذ لم ترد سنة بخلافه لانه ليس محل التكبير ولا تكبير بعد الرفع من السجود الى القيام إلا واحدة قال ويحتمل أن يقال يكبر لأن هذا القعود الحق بسائر قعدات الصلاة فى التطويل والتسبيح فيلتحق بها فى التكبير


Beliau menjawab: ia tidak boleh kembali (ke tempat rukuk) dan tidak boleh juga mengkadha tasbih tersebut (ketika i’tidal setelah rukuk), karena i’tidal merupakan rukun yang pendek, tidak boleh memanjangkannya. Dalam shalat tasbih dibolehkan memanjangkan i’tidal hanya karena ada warid sunnah (yaitu hadits yang menerangkan tatacara shalat tasbih), maka (i‘tidak) tidak boleh dipanjangkan lagi lebih dari yang ada dalam sunnah (kadar bacaan sepuluh kali tasbih). Sujud merupakan rukun yang sunnah di panjangkan, maka karena itu, tasbih (yang lupa tadi) dikadha ketika sujud, karena tidak menyebabkan tertinggalnya sunat yang lain karena mengqadha tasbih (diwaktu sujud). Sebagaimana Imam Syafi’i pernah berkata: jika (imam pada shalat jum’at) meninggalkan membaca surat jumat, maka sunnah mengqadhanya beserta surat al-munafik pada raka’at kedua. Beliau berkata: barangsiapa yang shalat tasbih jika ia duduk sesudah dua sujud pada rakaat yang pertama (untuk membaca tasbih dalam duduk istirahat), maka ketika akan duduk sunnah bertakbir, dan jika telag selesai bertasbih (dalam duduk istirahat), maka ketika berdiri tidak (disunatkan) bertakbir, karena tidak datang sunnah sebaliknya, karena ia bukan berada pada posisi sunat bertakbir dan tabir sesudah duduk untuk berdiri kecuali sekali, dan boleh jadi juga kemungkinan sunat bertakbir karena duduk diqiyaskan dengan duduk yang lain dalam shalat tasbih dalam hal dipanjangkan dan sunat tasbih, maka demikian halnya juga disamakan dalam hal masalah takbir.

Fatawa Imam Baghawi, hal 78 cet Dar Ibn ‘Affan, th 2014



Kesimpulan jawaban Imam al-Baghawi adalah, bila tertinggal membaca tasbih dalam rukuk, maka jangan di kadha pada I’tidal karena I’tidal adalah rukun yang pendek, i'tidal dalam shalat tasbih hanya boleh dipanjangkan sekadar untuk membaca sepuluh tasbih saja, maka sunat tasbih yang tinggal tersebut di baca pada ketika sujud, apalagi sujud memang merupakan rukun yang sunat di panjangkan bacaannya.

Kisah Kelebihan Malam Nisfu Sya'ban

Malam Nisfu Sya'ban
Nisfu Sya’ban beberapa hari lagi akan hadir di depan mata, sangat banya kejadian luar biasa yang menakjubkan, hal ini menunjukkan kelebihan dari malam nisfu sya’ban, maka sangat banyak kejadian-kejadian yang diceritakan para ulama, di antaranya adalah kisah Nabi Isa AS yang di ceritakan oleh Imam Syeihk Syihabuddin Ahmad Ibn Salamah al-Qalyubi.

Diriwayatkan sesungguhnya lsa AS pernah berjalan di suatu tempat. Ketika itu, beliau melihat sebuah gunung yang amat tinggi. Maka beliau mendatanginya. Sesampainya di sana, beliau dapati puncak gunung itu berwarna putih, bahkan lebih putih dari susu, sehingga beliau mengelilinginya, dan beliau merasa kagum karena keindahannya. Seketika Allah mengwahyu kepada Nabi Isa “Wahai lsa, apakah engkau ingin tau tetang sesuatu yang lebih mengagumkan dari ini". Nabi Isa Menjawab :  "Ia Ya Rabbi".
Maka seketika puncak gunung itu terbelah, dan beliau melihat seorang yang telah tua memakai baju dari bulu dan di tangannya ada sebuah tongkat hijau, dan di antara kedua matanya ada buah anggur. Dia sedang berdiri dalam shalatnya, sehingga Nabi lsa AS menjadi heran melihat pemandangan seperti itu. Nabi Isa AS Bertanya : “Wahai orang tua, apa yang aku lihat ini?” orang tua itu menjawab : "ini adalah rizki bagiku setiap hari." Kemudian Nabi Isa bertanya kembali : "Sudah berapa lama engkau beribadah kepada Allah dalam batu ini?" Orang tua tersebut menjawab : "Aku telah beribadah kepada Allah selama 400 tahun". Nabi lsa AS berkata : "Wahai Tuhanku, aku tidak mengatakan apakah Engkau pernah menjadikan makhluk yang lebih mulia dari orang ini." Maka Allah menwahyukan : "Seorang dari umat Muhammad SAW, yang mendapati bulan Sya'ban, dan dia melakukan shalat di malam Nisfu Sya'ban, maka pahalanya lebih besar dari beribadah ini selama empat ratus tahun". Maka Nabi Isa AS berkata: Nabi Isa memohon, “mudah-mudahan Aku menjadi golongan Umat Nabi Muhammad SAW."

Rujukan : Dari kitab An-Nawadir: 22-23, Cet; Al-Haramen


Syarat Sah Shalat

Syarat Sah Shalat
Shalat merupakan rukun islam yang kedua. Shalat adalah ibadah yang paling sakral bagi umat islam. Sejarah mencatat bahwa shalat adalah ibadah yang langsung diterima oleh Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa mi’raj Nabi dari Baitul Maqdis ke Sidratul Muntaha, tanpa perantara apapun atau siapapun. Sedangkan ibadah-ibadah yang lain Allah perintahkan kepada nabi Muhammad dan Ummatnya melalui malaikat Jibril.

Dalam pelaksanaan ibadah shalat, ada beberapa syarat yang harus diperhatikan oleh setiap ummat islam, karena apabila syarat tersebut tidak terpenuhi akan menyebabkan shalat tidak sah, karna definisi dari syarat shalat adalah sesuatu hal yang dapat meyebabkan sah atau tidaknya shalat, tetapi ia bukan bahagian dari pada shalat”.

Adapun syarat-syarat tersebut adalah:
  1. Suci badan dan pakaian dari pada hadats dan najis
  2. Menutup aurat dengan pakaian yang suci
  3. Berdiri pada tempat yang suci
  4. Meyakini masuknya waktu shalat
  5. Menghadap qiblat

Referensi:
Kitab fathul qarib, juz.1, hal. 72 (dar ibnu hazm, beirut)


شروط الصلاة
{فصل} (وشرائط الصلاة قبل الدخول فيها خمسة أشياء): والشروط جمع شرط، وهو لغةً العلامةُ، وشرعًا ما تتوقف صحة الصلاة عليه وليس جزأ منها. وخرج بهذا القيد الركن، فإنه جزء من الصلاة.
الشرط الأول (طهارة الأعضاء من الحدث) الأصغر والأكبر عند القدرة؛ أما فاقد الطهورين فصلاته صحيحة مع وجوب الإعادة عليه؛ (و) طهارة (النجس) الذي لا يعفى عنه في ثوب وبدن ومكان. وسيذكر المصنف هذا الأخير قريبا. (و) الثاني (ستر) لون (العورة) عند القدرة ولو كان الشخص خاليا أو في ظلمة. فإن عجز عن سترها صلى عاريا، ولا يومئ بالركوع والسجود، بل يتمهما، ولا إعادة عليه. ويكون ستر العورة (بلباس طاهر). ويجب سترها أيضا في غير الصلاة عن الناس وفي الخلوة إلا لحاجة من اغتسال ونحوه. وأما سترها عن نفسه فلا يجب لكنه يكره نظره إليها. وعورة الذكر ما بين سرته وركبته، وكذا الأَمة؛ وعورة الحُرَّة في الصلاة ما سوى وجهها وكفيها ظهرا وبطنا إلى الكوعين؛ أما عورة الحُرَّة خارجَ الصلاة فجميع بدنها، وعورتها في الخلوة كالذكر. والعورة لغةً النقص، وتطلق شرعا على ما يجب ستره، وهو المراد هنا وعلى ما يحرم نظره. وذكره الأصحاب في كتاب النكاح. (و) الثالث (الوقوف على مكان طاهر)؛ فلا تصح صلاة شخص يلاقي بعضُ بدنه أو لباسه نجاسةً في قيام أو قعود أو ركوع أو سجود. (و) الرابع (العلم بدخول الوقت) أو ظن دخوله بالاجتهاد؛ فلو صلى بغير ذلك لم تصح صلاته وإن صادف الوقت. (و) الخامس (استقبال القبلة) أي الكعبة. سميت قبلةً لأن المصلي يقابلها، وكعبةً لارتفاعها. واستقبالها بالصدر شرط لمن قدر عليه


donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja