Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Mahram Dengan Sebab Keturunan

Mahram adalah orang yang haram dinikahi, hukum menikah dengan mahram jikapun dilakukan tidak sah, dalam islam, mahram terbagi kepada tiga kelompok yaitu dengan sebab keturunan, perkawinan dan sepersusuan, bagian yang pertama ini, kami akan menguraikan sedikit tentang mahram yang disebabkan karena faktor keturunan, yaitu haram melakukan perkawinan karena ada hubungan darah.



Semua mahram karena faktor keturunan ada tujuh kelompok yaitu:

1. Ibu
Ibu yang dimaksud disini adalah orang yang melahirkan kita, atau orang yang melahirkan orang yang melahirkan kita ( nenek ).

2. Anak perempuan
Anak perempuan adalah wanita yang kita lahirkan atau kita melahirkan orang yang melahirkannya, jadi termasuk juga anak perempuan cucu perempuan dan seterusnya.

3. Saudara perempuan
Saudara perempuan adalah
wanita yang dilahirkan oleh kedua orang tua kita atau salah satu dari mereka, jadi terbenar juga saudara seayah dan saudara seibu.

4. Saudara ibu yang perempuan
Saudara perempuan ibu, baik saudara kandung, saudara se-ayah dan saudara se-ibu.

5. Saudara ayah yang perempuan
Saudara perempuan ayah, baik saudara kandung, saudara se-ayah dan saudara se-ibu.

6. Anak dari saudara perempuan
Yaitu anak perempuan dari saudara kita yang perempuan, baik saudara perempuan kandung, se-ayah atau se-ibu.

7. Anak dari saudara laki laki
Yaitu anak perempuan dari saudara kita yang laki-laki, baik saudara laki-laki kandung, se-ayah atau se-ibu.


Referensi: Fathul Qarib Hal 111 Juz 2 cet Haramain

Download Kitab Bidayatul Muhtaj ala Minhaj-Ibnu Syuhbah

Download Kitab Bidayatul Muhtaj ala Minhaj-Ibnu Syuhbah

Foto Abi Medan.Salah satu kitab matan fiqh utama dalam mazhab Syafii adalah kitab Minhaj Thalibin karangan Imam Nawawi. Kitab ini mendapat sambutan luar biasa dari para ulama dari dahulu hingga sekarang. Banyak ulama yang mensyarah kitab Minhaj ini. Dalam tulisan sebelumnya Donwload Syarah-syarah Minhaj, kami telah menampilkan link untuk download beberapa kitab syarah Minhaj yang telah kami temukan. Alhamdulillah, sekarang kami telah tersedia file pdf kitab syarah Minhaj yang untuk pertama kali baru saja di terbitkan oleh penerbit Darl Minhaj, Jeddah, Saudi Arabia, yaitu kitab Bdayatul Muhtaj karangan Imam al-Faqih Qadhi Muhammad bin Abi Bakar al-Asady yang lebih dikenal dengan nama Ibnu Qadhi Syuhbah (798 – 874 H).
Dalam mensyarahkan kitab Minhaj, beliau menerangkan bahwa sebelumnya beliau beristikharah untuk mensyarahkan kitab Minhaj Imam Nawawi. Kitab Bidayah Muhtaj ini ukurannya hampir sama dengan kitab al-Ujalah Muhtaj karangan Syeikh Sirajuddin bin Mulaqqin yang hanya membatasi penjabaran dan sebagian dalilnya. Beliau meninggalkan beberapa kekeliruan yang ada dalam kitab al-Ujalah dan kadang juga mengkritisi pendapat Syaikhani (Imam Rafii dan Imam Nawawi).
Bagi yang ingin mendownloadnya silahkan di download di bawah ini

COVER
JILID 1
JILID 2
JILID 3
JILID 4

Cara Tayammum Jika Air Tidak Cukup Untuk Bersuci

Deskripsi Masalah :

Banyak orang yang menyangka bahwa dalam madzhab Al-Syafi’iyyah, berwudhu itu harus memakai air yang jumlahnya mencakupi seluruh anggota wudhuk. Kalau kurang dari itu, mereka menganggap tidak boleh dipakai buat berwudhu, karena tidak cukup di perguakan untuk bersuci secara sempurna.
Sehingga pada beberapa kesempatan, ada sebagian orang yang tidak mau berwudhu kecuali jika air itu banyak atau mencukupi seluruh anggota wudhuknya.

Pertanyaan:

Jika seseorang mempunyai air, namun tidak cukup dipergunakan untuk bersuci secara sempurna, wajibkah dipergunakan untuk bersuci terlebih dahulu kemudian tayamum atau langsung ia lakukan tayamum ?

Jawaban:

Tidak boleh langsung menyegera tayamum, namun baginya wajib menggunakan air tersebut untuk berwudhu, sekalipun air tidak menyempurnakan seluruh anggotanya. Kemudian bertayamum sebagai pengganti anggota yang belum terbasuh, jumlah tayammum yang dilakukan menurut jumlah anggota yang tidak cukup air, misalnya air hanya cukup untuk membasuh muka da dua tangan, maka perlu dilakukan dua kali tayammum untuk menggantikan basuhan pada kepala dan kaki, beda halnya dengan tayammum yang dilakukan karena tidak ada air sama sekali, maka cukup dilakukan satu kali.

Tuhfatul Muhtaj A’la Syarah Minhaj hal 355 juz 1 cet Darul Fikri:

(وَلَوْ وَجَدَ) مُحْدِثٌ أَوْ جُنُبٌ (مَاءً) وَمِنْهُ بَرْدٌ أَوْ ثَلْجٌ قَدَرَ عَلَى إذَابَتِهِ أَوْ تُرَابًا (لَا يَكْفِيهِ فَالْأَظْهَرُ وُجُوبُ اسْتِعْمَالِهِ) لِلْخَبَرِ الصَّحِيحِ «إذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ» ، وَإِنَّمَا لَمْ يَجِبْ شِرَاءُ بَعْضِ الرَّقَبَةِ فِي الْكَفَّارَةِ؛ لِأَنَّهُ لَيْسَ بِرَقَبَةٍ وَبَعْضُ الْمَاءِ مَاءٌ، وَلَوْ لَمْ يَجِدْ تُرَابًا وَجَبَ اسْتِعْمَالُهُ جَزْمًا وَلَا يُكَلَّفُ مَسْحَ الرَّأْسِ بِنَحْوِ ثَلْجٍ لَا يَذُوبُ وَلَمْ يَجِدْ مِنْ الْمَاءِ مَا يُطَهِّرُ الْوَجْهَ وَالْيَدَيْنِ لِعَدَمِ تَصَوُّرِ اسْتِعْمَالِهِ قَبْلَ التَّيَمُّمِ الْمَذْكُورِ فِي قَوْلِهِ (وَيَكُونُ) اسْتِعْمَالُهُ وُجُوبًا عَلَى الْمُحْدِثِ وَالْجُنُبِ (قَبْلَ التَّيَمُّمِ) ؛ لِأَنَّ التَّيَمُّمَ لِعَدَمِ الْمَاءِ فَلَا يَصِحُّ مَعَ وُجُودِهِ نَعَمْ التَّرْتِيبُ فِي الْمُحْدِثِ وَاجِبٌ وَفِي الْجُنُبِ الَّذِي عَلَيْهِ أَصْغَرُ أَيْضًا أَمْ لَا مَنْدُوبٌ فَيُقَدِّمُ أَعْضَاءَ وُضُوئِهِ، ثُمَّ رَأْسَهُ، ثُمَّ شِقَّهُ الْأَيْمَنَ، ثُمَّ الْأَيْسَرَ، وَإِنَّمَا لَمْ يَجِبْ ذَلِكَ لِعُمُومِ الْجَنَابَةِ لِجَمِيعِ بَدَنِهِ فَلَا مُرَجِّحَ يَقْتَضِي الْوُجُوبَ، وَمِنْ ثَمَّ لَوْ فَعَلَ مَا ذُكِرَ مِنْ تَقْدِيمِ أَعْضَاءِ الْوُضُوءِ، ثُمَّ وَجَدَ بَعْضَ مَاءٍ يَكْفِيهِ فِي فَرْضٍ ثَانٍ أَيْضًا وَجَبَ صَرْفُهُ إلَى الْجَنَابَةِ؛ لِأَنَّ أَعْضَاءَ الْوُضُوءِ حِينَئِذٍ قَدْ ارْتَفَعَتْ جَنَابَتُهَا فَكَانَ غَيْرُهَا أَحَقَّ بِصَرْفِ الْمَاءِ إلَيْهِ لِيُزِيلَ جَنَابَتَهُ نَعَمْ يَنْبَغِي أَخْذًا مِمَّا قَالُوهُ فِي النَّجِسِ

Lihat juga ibarat lainTuhfatul muhta:

(وَلَا تَرْتِيبَ بَيْنَهُمَا) أَيْ التَّيَمُّمِ وَغُسْلَ الصَّحِيحِ (لِلْجُنُبِ) وَالْحَائِضِ وَالنُّفَسَاءِ أَيْ لَا يَجِبُ ذَلِكَ؛ لِأَنَّ الْأَصْلَ لَا يَجِبُ فِيهِ ذَلِكَ فَأَوْلَى بَدَلُهُ، وَإِنَّمَا وَجَبَ تَقْدِيمُ الْغُسْلِ إذَا وَجَدَ مَاءً لَا يَكْفِيهِ؛ لِأَنَّ التَّيَمُّمَ هُنَا لِلْعِلَّةِ وَهِيَ مُسْتَمِرَّةٌ وَثَمَّ لِفَقْدِ الْمَاءِ فَوَجَبَ اسْتِعْمَالُهُ أَوَّلًا لِيُوجَدَ الْفَقْدُ عِنْدَ التَّيَمُّمِ وَالْأَوْلَى تَقْدِيمُ التَّيَمُّمِ لِيُزِيلَ الْمَاءُ أَثَرَ التُّرَابِ وَبَحَثَ الْإِسْنَوِيُّ نَدْبَ تَقْدِيمِ مَا يُنْدَبُ تَقْدِيمُهُ فِي الْغُسْلِ فَفِي جُرْحٍ بِرَأْسِهِ يَغْسِلُ صَحِيحَهُ، ثُمَّ يَتَيَمَّمُ، ثُمَّ يَغْسِلُ بَاقِيَ بَدَنِهِ

Al- Mahalli hal 80 juz 1 cet Darul Ihya Kutub al-Arabiah:

(ولو وجد ماء لا يكفيه فالأظهر وجوب استعماله) في بعض أعضائه محدثا كان أو جنبا ونحوه. (ويكون قبل التيمم) عن الباقي لئلا يتيمم ومعه ماء. والثاني لا يجب استعماله، ويعدل إلى التيمم مع وجوده، ولو لم يجد ترابا وجب استعماله قطعا. وقيل فيه القولان، ولو لم يجد إلا ترابا لا يكفيه للوجه واليدين وجب استعماله قطعا، وقيل فيه القولان.

Amalan Melancarkan Rizki

Mencari rizki merupakan usaha untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga, namun terkadang kita mendapat kesulitan dalam berusaha, sehingga kebutuhan tak mencukupi, para ulama terdahulu memiliki beberapa tips dan doa agar kita diberi kelancaran rizki oleh Allah SWT, Habib Abu Bakar bin Smith memiliki beberapa kiat agar dimudahkan rizki yaitu:

1. Shalat dengan penuh khidmat dan khusyu’.

2. Membaca surat al-Waqi’ah di malam hari.

3. Membaca surat Yasin dan Tabarak di waktu pagi.

4. Mendatangi masjid sebelum dikumandangkan adzan.

5. Selalu dalam keadaan suci (jika ia batal langsung memperbarui wudhunya).

6. Melaksanakan shalat sunnah Fajar dan Witir di rumah.

7. Memakmurkan masjid ba’da shalat Shubuh hingga keluarnya matahari dengan i’tikaf di dalamnya dan memperbanyak bacaan: “Yaa Kaafiy yaa Mughniy yaa Fattah yaa Razzaaq.”

Sedangkan dari Imam Syafi’i radhiyallaahu 'anhu mengatakan bahwa: 4 hal yang dapat menarik rizki:

1) Qiyamullail.

2) Memperbanyak istighfar di waktu sahur ( tengah malam dan sebelum fajar ).

3) Senang bersedekah dan membaca dzikir di awal siang hari dan di akhirnya.



الحبيب زين بن سميط


مِن أقوى الأسباب الجالبة للرزق كما ذكره العارفون:

1.   إقامة الصلاة بالتعظيم والخشوع ،

2.   وقراءة سورة الواقعة خصوصاً بالليل ، وسورة ( يس ) و ( تبارك ) وقت الصبح ،

3.   وحضور المسجد قبل الأذان ،

4.   والمُداومة على الطهارة ،

5.   وأداء سنة الفجر والوتر في البيت ،

6.   وعمارة ما بعد صلاة الصبح إلى طلوع الشمس عُكوفاً في المسجد ، وقول : ( يا كافي يا مغني يا فتاح يا رزاق ) بالتكرير.


وعن الإمام الشافعي رحمه الله : أربعة تَـجلب الرزق:


1.   قيام الليل.

2.   وكثرة الإستغفار بالأسحار.

3.   وتعاهد الصدقة ، والذكر أول النهار وآخره.

Kisah Tsa'labah Pengembala Kambing Yang Ingkar Zakat



Tsa’labah salah satu sahabat Nabi yang dikenal rajin ke jum’at, shalat jama'ah di mesjid. Namun selesai salat, beliau buru-buru pulang. Kebiasaannya itu menjadi tanda tanya bagi Rasulullah saw. Suatu hari setelah jama'ah. Rasulullah saw.  melihat Tsa’labah buru-buru keluar dari masjid. Tsa’labah dapat teguran dari Rasulullah saw.  ''wahai Tsa’labah ! Kenapa anda melakukan perbuatan orang-orang munafik'' ?. Dengan takzim Tsa’labah menjawab : “Sesungguhnya saat ini di rumah ada seorang yang menunggu saya ya Rasul, ia (istrinya) menunggu bergantian memakai baju untuk melaksanakan shalat. Saya hanya memiliki sehelai kain untuk dipakai secara bergantian. Ketika saya shalat, maka istri saya akan bersembunyi hingga saya kembali.” Tsa’labah menjelaskan dengan sejujurnya. Rasulullah saw sangat terkesan dengan Tsa’labah lalu memberi izin pulang.

Selang beberapa hari, Tsa’labah menemui Rasulullah SAW. Untuk meminta didoakan agar diberi harta oleh Allah SWT. Rasul menjawab: “celaka kamu hai Tsa’labah, sedikit harta kamu bersyukur itu lebih baik dari pada banyak tapi tidak sanggup kamu bersyukur”. Merasa belum puas, Tsa’labah kembali menjumpai rasul agar didoakan. hai Tsa’labah, apakah saya ini tidak bisa menjadi suri teladan bagi mu, demi Allah yang jiwaku dalam kekuasaannya, apakah kamu ingin gunung-gunung jadi emas dan perak berjalan bersama ku? untuk mengikutiku. Masih belum puas, Tsa’labah kembali mendatangi rasul seraya meminta: ''demi Allah yang telah mengutus kamu dengan membawa kebenaran jika Allah memberi harta kepada ku akan saya berikan kepada orang yang membutuhkannya''. Lantaran terus didesak akhirnya Rasulullah memanjatkan doa :
اللهم  ارزق ثعلبة مالا
Ya Allah berikan harta kepada Tsa’labah

Kemudian Rasul menyedekahkan Tsa’labah seekor kambing . Kambing itu semakin berkembang, sehingga ia merasa kota Madinah sudah sempit dengan kambing-kambingnya lalu berpindah lokasi dari kota ke sebuah lembah Madinah. Hari demi hari kambing terus bertambah bagaikan ulat sehingga Tsa’labah hanya shalat dhuhur dan ashar yang sempat berjama'ah dengan Rasulullah SAW sedangkan shalat yang lain dilakukan di tempat gembalaan. Kambing terus bertambah membuat lembah itu terasa sempit sehingga harus bergeser lagi ke lembah yang semakin jauh.  Ia hanya sempat shalat jumat bersama Rasulullah SAW. kambingnya terus-terus bertambah banyak, maka beliau terus bergeser dari kota sehingga tidak turun lagi ke Madinah untuk menunaikan shalat jumat. Di hari jum’at Tsa’labah hanya bertanya kepada orang-orang yang dia jumpai tentang berita-berita di Madinah. Suatu hari rasul menyebut-nyebut Tsa’labah. Kemana Tsa’labah dan apa yang dilakukan sekarang? para sahabat menjawab: ''wahai Rasulullah! Tsa’labah sekarang sedang sibuk karena kambingnya sudah tidak muat di lembah. kata Rasul: celaka Tsa’labah, celaka Tsa’labah. Tatkala turun ayat zakat. Rasulullah SAW mengutus seorang dari bani Salim dan satu orang bani Juhainah untuk mengambil zakat, bagaimana cara mereka mengambil zakat. Kalian pergi menemui Tsa’labah bin hatib dan seorang bani Salim ambillah zakat dari keduanya. Mereka menemui Tsa’labah lalu meminta zakat dan membaca surat Rasulullah SAW. Kata Tsa’labah: ini hanya pajak, ini hanya pajak. silahkan kalian pulang. kemudian mereka kembali lagi kepada Tsa’labah lalu mereka pergi dengan tangan kosong. Setelah itu mereka menemui seseorang dari bani Salim untuk mengambil zakat darinya. Salim dengan tulus menyalurkan zakat untanya. Setelah itu mereka pergi menjumpai orang lain untuk mengambil zakat, tidak ada diantara mereka yang menghalangi. kemudian kembali lagi kepada Tsa’labah. Kata Tsa’labah: coba saya lihat surat kalian. Setelah dibaca, Tsa’labah berkata:. ''Ini hanya pajak. Ini hanya pajak, silahkan anda pulang''. Ketika mereka dilihat Rasulullah SAW. Beliau berkata sebelum mereka angkat bicara: ''celaka Tsa’labah'' kemudian Rasulullah SAW berdoa kebaikan kepada salim lalu mereka melaporkan kepada Rasulullah yang diperbuat Tsa’labah kemudian diturunkan surat At Taubat ayat 75 dibawah ini.

وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ آتَانَا مِنْ فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ الصَّالِحِينَ
Artinya : Dan diantara mereka (orang munafik) ada orang yang telah berjanji kepada Allah, "Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian dari karunia-Nya kepada kami, niscaya kami akan bersedekah dan niscaya kami termasuk orang-orang yang saleh.

Kemudian Tsa’labah sadar atas kesalahan yang dilakukan, kambing yang dikenakan zakat kepadanya diantar langsung kepada Rasul akan tetapi beliau tidak menerima dengan mengatakan: ''Allah telah melarang saya menerima darimu. Ini amalanmu, saya telah memerintah kamu tetapi tidak engkau taati''. Setelah Rasulullah SAW  wafat, Tsa’labah membawa kambingnya kepada Abu Bakar. Beliau juga tidak menerima. Kemudian dibawa kepada Sayyidina Umar . Beliau juga tidak menerima. Akhirnya pada masa khalifah sayyidina Usman, Tsa’labah meninggal dalam keadaan suil khatimah. Na’uzubillah.

Hasyiah Shawi Ala Tafsir Jalalain dan Hasyiah Baidhawi
 Juz 2, Hal.199 Cet. Haramain


KISAH BAL’AM BIN BA’URA SEORANG ULAMA DUNIA

Bal’am salah satu ulama muslim Bani Israil yang hidup dalam kalangan orang kafir. Kelebihan yang Allah berikan kepadanya antara lain bisa melihat arasy sedang ia berada di bumi. Ia salah satu orang  yang mustajabah doa. Apapun yang diminta dengan begitu cepat terpenuhi. Dalam majlis pengajiannya disediakan dua belas ribu tempat tinta bagi murid-muridnya yang menulis ilmu beliau akan tetapi dipenghujung kehidupan terbujuk dengan harta benda dunia, akhirnya mendapat azab di dunia yaitu ditarik lidah keluar sampai ke dadanya. Berikut kisah yang diutarakan Ibnu Abbas. Suatu hari Nabi Musa hendak memerangi kaum Jabarin, beliau telah sampai dan  menempati bumi kan’anin salah satu kawasan Syam, datang Bal’am menemui nabi Musa as.

Setelah Kaum Jabarin mengetahui kekuatan nabi Musa. Mereka mengadu kepada Bal’am: wahai Bal’am ! Musa itu orang kuat, tentaranya banyak. Kedatangannya ke negeri ini untuk mengusir dan membunuh kami kemudian menyerahkan negeri kami kepada Bani Israil. Anda itu kan orang yang mustajabah doa maka berdoalah kepada tuhan-Mu agar menolak mereka dari kami. Bal’am menjawab: celaka kalian, Musa itu nabi Allah, dijaga para malaikat dan orang-orang beriman. Bagaimana mungkin saya berdoa memudharatkan mereka. Saya diilhami Allah akan ilmu yang tidak diberikan kepada kalian. Jika saya lakukan itu, maka dunia dan akhiratku hilang. Permintaan Jabarin ditolak Bal’am. Akan tetapi, mereka bersikeras dan mendesak Bal’am untuk berdoa. Saya tidak berdoa sebelum melihat dalam tidurku  apa yang diperintah Allah buatku. Pada malam itu, Bal’am bermimpi yang isinya: wahai Bal’am jangan kamu berdoa untuk memudharat orang beriman.

Keesokan harinya menyampaikan isi mimpinya kepada kaum Jabarin: “saya telah meminta kepada tuhanku apa yang kalian ingin.  akan tetapi, ditolak. kemudian untuk memuluskan niat mereka kepada Bal’am, diberikan Bal’am berupa hadiah yang menggiurkan. Ternyata hadiah itu diterimanya. Setelah itu Kaum Jabarin kembali menemui Bal’am. Kata Bal’am kepada mereka: “hingga saya diperintah, saya telah meminta kepada tuhanku tetapi tidak diperintahkan aku dengan apa-apa. Kata mereka: Jika tuhan menbencimu berdoa, sungguh ia telah melarang kamu sebagaimana telah dilarang pada kali pertama. Senantiasa mereka bertazarruk kepada Bal’am sehingga mereka memfitnahnya.

Setelah terfitnah, Bal’am menaiki seekor keledai menuju ke gunung Husban untuk melihat laskar Bani Israil dengan  menaiki seekor keledai. tidak jauh keledai itu berjalan tiba-tiba menderum. Bal’am turun memukul kendaraannya itu. Keledai itu berjalan lagi.  tidak lama kemudian kembali menderum. Bal’am turun lagi untuk memukul keledainya dan seperti itu terjadi beberapa kali. Allah mengizinkan keledai berbicara. Ucapan keledai jadi hujjah. “Celaka kamu hai Bal’am kemana kamu pergi. Apakah kamu tidak melihat malaikat dihapanku sedang menolak saya kebelakang?  Celaka kamu, kamu berjalan kepada nabiyullah dan orang beriman lalu kamu berdoa mudharat atas mereka. Bal’am tidak menggubris. Allah memuluskan keledai itu berjalan hingga sampai puncak gunung husban. Di situ Bal’am berdoa mudharat kepada nabi Musa. Tatkala berdoa dengan keburukan, Allah memalingkan lisannya kepada kaumnya. Ketika berdoa kebaikan kepada kaumnya  Allah memalingkan kepada kaum Bani Israil.

kaumnya berkata: hai Bal’am apakah kamu tau apa yang telah kamu lakukan? Kamu berdoa manfaat kepada mereka dan mudharat kepada kami. Jawabnya: ini tidak aku kuasai tapi ini Allah yang mengusai. Saat itu, lidahnya menjulur keluar sampai ke dada seperti lidah anjing. Sekarang saya telah hilang dunia dan akhirat dan yang tinggal hanyalah tipuan. Akan saya beri tau kalian cara mengalahkan tentara nabi musa: pilihlah wanita-wanita cantik diantara kalian, hiasi mereka dan berikan kepada mereka barang-barang dagang kemudian suruh mereka berjualan di tenda-tenda laskar Bani Israil. Intruksikan mereka agar tidak menegah laki-laki yang merayu mereka. Jika laskar Musa berzina dengan wanita kita itu sudah cukup. Perintah itu mereka lakukan. tatkala wanita-wanita itu memasuki laskar, melintas seorang wanita kan’anin  dihadapan pembesar Bani Israil dan ia pimpinan suku syama’un bin ya’qub. Melihat wanita cantik itu tiba –tiba berdiri sambil memegang tangan wanita itu karena terpesona dengan kecantikannya kemudian menghadap nabi Musa seraya berkata: saya menduga, anda akan berkata: ini haram atasmu. Jawab beliau: ya itu haram buat mu maka jangan hampiri. Katanya: demi Allah kami tidak patuh kepadmu. Kemudian dia membawa masuk wanita itu kedalam sebuah kemah maka terjadilah perzinaan. dihari itu, mereka ditimpakan penyakit ta’un Maka matilah mereka sebanyak tujuh puluh ribu orang.

Kejadian yang dialami Bal’am, Allah utarakan dalam alquran surat al-‘Araf:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ .(175) وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ (176)

Artinya: dan bacakanlah (Muhammad) kepada mereka, berita orang yang telah kami berikan ayat-ayat kami kepadanya, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda) maka jadilah dia termasuk orang yang sesat (175). Dan sekiranya kami menghendaki niscaya kami tinggikan (derajatnya) dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti keinginannya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya dijulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya ia menjulurkan lidahnya pula. Demikian perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir(176).

Referensi: Hasyiah Shawi ‘ala Tafsir Jalalain, Juz.II, hal 132.

Usaha Hamba Tidak Berpengaruh Tanpa Qudrah dan Iradah ALLAH


Tulisan ini hadir ke hadapan para pengunjung setia website Lajnah Bahtsul Masail MUDI, karena mengingat fenomena yang terjadi dikalangan masyarakat kita saat ini bahwa ada sebahagian kalangan yang meyakini bahwa manusia memiliki otoritas mutlak untuk mengubah nasib mereka sendiri tanpa butuh kepada pertolongan allah SWT, atau mereka beranggapan bahwa qudrah dan iradah Allah tidak berlaku dalam penentuan nasib seseorang. Mereka menjadikan surat al-ra’du : 11 sebagai dalil yang memperkuat statemen mereka.

Tato Wajibkah Untuk Dihilangkan ?


Deskripsi   :

Dalam fiqh Tato dikatakan dengan (الْوَشْمُ) yang diartikan menusuk jarum didalam kulit sehingga keluarnya darah yang membeku di dalam kulit sehingga  nampak seumpama warna biru atau hijau, ulama menghukum memakainya adalah haram.

Tato model sekarang ada 2 macam :
  1. Permanen, adalah tato yang tintanya di dalam kulit,model ini sulit untuk menghilangkanya dan sah untuk wuzuk/junub karena sampai air di bagian kulit.
  2. Non permanen adalah tato yang tintanya ada diluar kulit mudah untuk menghilangkanya, model ini tidak sah berwudhu' atau mandi junub karena tidak sampai air ke kulit

Hukum membuat keduanya haram.

Pertanyaan : 

Bagaimana hukum orang yang menato pada anggota wudhu' atau pada keseluruhan badanya  apakah sah wudhu' atau mandi junubnya ?  Dan wajibkah menghilangkannya jika ia telah bertaubat ?

Jawaban   :

Sah wudhu' dan mandi junubnya, serta berdosa menato pada tubuhnya, sedangkan yang wajib ketika ia bertaubat adalah menghilangkan tato bila tiada mudharat, karena perbuatan tersebut tidak boleh.
Namun bila mudharat yang timbul adalah suatu yang membolehkan tayamum jika menghilangkannya maka tidak wajib untuk dihilangkan.

Penjelasan  :

Tato adalah darah di dalam kulit yang nampak berwarna biru dan hijau  dengan sebab menusuk jarum kedalam kulit. Pada permasalahan tato dapat di tafsilkan sebagai berikut :

  • Bila dilakukan oleh orang yang mukallaf dengan pilihannya tanpa ada paksaan,mengetahui akan haram dengan tiada keperluaan pada menatonya dan kuasa untuk menghilangkannya maka wajib dihilang,bila susah menghilangkannya maka tidak wajib.
  • Bila  ia melakukannya  pada masa kecilnya atau dasar paksaan orang lain ,tidak mengetahui akan haram atau karena keperluan dan dikhawatirkan akan menimbul bahaya (Yang membolehkan tayamum) maka tidak wajib dihilangkan dan sah sembahyang dan imam.


Referensi 
Bujairimi alaa al-Khathib Juz IV hal. 55

 ( الْوَشْمُ ) وَهُوَ غَرْزُ الْإِبْرَةِ فِي الْجِلْدِ حَتَّى يَخْرُجَ الدَّمُ ثُمَّ يَذُرَّ عَلَيْهِ نَحْوَ نِيلَةٍ لِيَخْضَرَّ أَوْ يَزْرَقَّ ا هـ ا ج .قَوْلُهُ : ( فَفِيهِ التَّفْصِيلُ الْمَذْكُورُ  وَهُوَ أَنَّهُ إذَا فَعَلَهُ مُكَلَّفٌ مُخْتَارٌ عَالِمٌ بِالتَّحْرِيمِ بِلَا حَاجَةٍ وَقَدْرَ عَلَى إزَالَتِهِ لَزِمَتْهُ ، وَإِلَّا فَلَا .فَإِذَا فُعِلَ بِهِ فِي صِغَرِهِ أَوْ فَعَلَهُ مُكْرَهًا أَوْ جَاهِلًا بِالتَّحْرِيمِ أَوْ لِحَاجَةٍ وَخَافَ مِنْ إزَالَتِهِ مَحْذُورَ تَيَمُّمٍ فَلَا تَلْزَمُهُ إزَالَتُهُ وَصَحَّتْ صَلَاتُهُ وَإِمَامَتُهُ ، وَعُلِمَ مِنْ ذَلِكَ أَنَّ مَنْ فَعَلَ الْوَشْمَ بِرِضَاهُ فِي حَالِ تَكْلِيفِهِ ، وَلَمْ يَخَفْ مِنْ إزَالَتِهِ مَحْذُورَ تَيَمُّمٍ مَنَعَ ارْتِفَاعَ الْحَدَثِ عَنْ مَحَلِّهِ لِتَنَجُّسِهِ وَإِلَّا عُذِرَ فِي بَقَائِهِ مُطْلَقًا وَحَيْثُ لَمْ يُعْذَرْ فِيهِ وَلَاقَى مَاءً قَلِيلًا أَوْ مَائِعًا أَوْ رَطْبَا نَجَّسَهُ ، كَذَا أَفْتَى بِهِ الْوَالِدُ شَرْحُ م ر .

kitab Qurratul 'Ain bifatawaa Ismail Zain hal. 49
سؤال . ماقولكم فيمن غرز فى أعضاء وضوءه او فى سائر بدنه بالإبرة مثلا ووضع محله نحو حبر للتلوين والتصوير فإذا التحم بعد ذلك فهل يصح وضوؤه وكذلك غسله اولا ؟ الجواب : نعم يصح وضوؤه وغسله مع كونه إثما بذلك الفعل يجب عليه التوبة وإزالته ان لم يؤد الى ضرر لأنه نوع من الوشم ففعله غير جائز ولكن الوضوء والغسل معه صحيحان للضرورة لأنه داخل الجلد ملتحم عليه فلا يمنع صحة الوضوء والغسل لكونه داخل البشرة والصلاة معه صحيحة للضرورة.
Hasyiah Ia'anatu at-Thalibiin Juz I hal.107 (Haramain)

( تتمة ) تجب إزالة الوشم وهو غرز الجلد بالإبرة إلى أن يدمى ثم يذر عليه نحو نيلة فيخضر لحمله نجاسة هذا إن لم يخف محذورا من محذورات التيمم السابقة في بابه أما إذا خاف فلا تلزمه الإزالة مطلقا 
وقال البجيرمي إن فعله حال عدم التكليف كحالة الصغر والجنون لا يجب عليه إزالته مطلقا وإن فعله حال التكليف فإن كان لحاجة لم تجب الإزالة مطلقا وإلا فإن خاف من إزالته محذور تيمم لم تجب وإلا وجبت ومتى وجبت عليه إزالته لا يعفى عنه ولا تصح صلاته معه 
ثم قال وأما حكم كي الحمصة فحاصله أنه إن قام غيرها مقامها في مداواة الجرح لم يعف عنها ولا تصح الصلاة مع حملها وإن لم يقم غيرها مقامها صحت الصلاة ولا يضر انتفاخها وعظمها في المحل ما دامت الحاجة قائمة وبعد انتهاء الحاجة يجب نزعها 
فإن ترك ذلك من غير عذر ضر ولا تصح صلاته 















Hal - Hal Yang Disunnahkan Berwudhu'


  1. Hendak membaca Al-Quran, namun jika sampai menyentuhnya wajib  berwudhu'
  2. Hendak mendengarkan riwayat hadis
  3. Belajar ilmu agama
  4. Hendak masuk mesjid
  5. Hendak berzikir
  6. Hendak melakukan sa’i
  7. Hendak Wuquf dipadang Arafah
  8. Menziarahi nabi Muhammad saw
  9. Hendak berkhutbah selain khutbah jumat, seperti khutbah hari raya
  10. Hendak tidur
  11. Henak azan atau iqamah
  12. Hendak memandikan jenazah
  13. Hendak makan
  14. Hendak melakukan jimak
  15. Setelah muntah
  16. Setelah mnyentuh bulu kemaluan
  17. Setelah menyentuh dua pelir
  18. Karena menyentuh pangkal paha
  19. Karena menyentuh gadis kecil (belum balig), amrad, dan orang berpenyakit lepra atau kusta
  20. Karena menyentuh orang yahudi
  21. Karena ingin melakukan bekam
  22. Setelah Melihat sesuatu yang membangkitkan syahwat
  23. Karena berbicara yang haram seperti mengupat,fitnah dan mencela
  24. Seletah tertawa terbahak-bahak
  25. Setelah marah
  26. Setelah membawa atau menyentuh mayat
  27. Setelah memotong kuku atau kumis
  28. Setelah mencukur rambut



Referensi :

Fathul Mu’in Juz 1 Hal 62-63 (Haramain)

يندب الوضوء من مس نحو العانة وباطن الألية والأنثيين وشعر نبت فوق ذكر وأصل فخذ ولمس صغيرة وأمرد وأبرص ويهودي ومن نحو فصد ونظر بشهوة ولو إلى محرم وتلفظ بمعصية وغضب وحمل ميت ومسه وقص ظفر وشارب وحلق رأسه 

Hasyiah Ia'natut Thalibin Juz 1 Hal 62 (Haramain)

ويندب للمرء الوضوء فخذ لدي مواضع تأتي وهي ذات تعدد قراءة قرآن سماع رواية ودرس لعلم والدخول لمسجد وذكر وسعي مع وقوف معرف زيارة خير العالمين محمد وبعضهم عد القبور جميعها وخطبة غير الجمعة اضمم لما بدي ونوم وتأذين وغسل جنابة إقامة أيضا والعبادة فاعدد وإن جنبا يختار أكلا ونومه وشربا وعودا للجماع المجدد ومن بعد فصد أو حجامة حاجم وقيء وحمل الميت واللمس باليد له أو لخنثى أو لمس لفرجه ومس ولمس فيه خلف كأمرد وأكل جزور غيبة ونميمة وفحش وقذف قول زور مجرد وقهقهة تأتي المصلي وقصنا لشاربنا والكذب والغضب الردي


Status Anak Dari Orang Tua Beda Agama

Deskripsi Masalah:

Di dalam ayat Al-Qura’an Al-Baqarah ayat 221 Allah SWT menegaskan bahwa tidak boleh mengawini orang-orang yang berlainan agama dalam artian tidak sah seorang laki-laki yang muslim untuk menikahi wanita dari agama musyrik begitu pula tidak sah wanita muslimah menikahi dengan laki-laki non muslim,hal ini di khususkan kepada selain kafir kitabi.
Adapun terhadap kafir kitabi maka Allah menghalalkan menikah dengan mereka, dengan dalil  Allah ta'ala berfirman:

اليوم أحل لكم الطيبات وطعام الذين أوتوا الكتاب حل لكم وطعامكم حل لهم والمحصنات من المؤمنات والمحصنات من الذين أوتوا الكتاب من قبلكم إذا ءاتيتموهن أجورهن محصنين غير مسافحين ولا متخذي أخدان ومن يكفر بالإيمان فقد حبط عمله وهو في الآخرة من الخاسرين (سورة المائدة: 5)

Maknanya: "Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang ahli kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar maskawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak pula menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi ". (Q.S. Al Maidah:5).

Pernikahan dengan perempuan Ahli Kitab ini juga pernah di lakukan oleh para sahabat Nabi SAW, di antaranya: Utsman ibn 'Affan menikah dengan Ibnatul Farafishah al Kalabiyyah, seorang nasrani kemudian masuk Islam. Thalhah ibn Ubaidillah menikahi perempuan dari Bani Kulayb nasrani atau yahudi. Hudzaifah ibn al Yaman menikahi seorang perempuan yahudi. (Semua diriwayatkan oleh al Bayhaqi dengan sanad yang sahih)

Namun Ahlul Kitab pada masa sekarang ini sungguh jauh lebih berbeda dengan Ahlul kitab yang ada pada  masa Nabi SAW. Semua Ahlul Kitab masa sekarang sudah jelas-jelas musyrik atau menyekutukan Allah dengan mengatakan babwa  Uzair itu anak Allah (menurut Yahudi) dan Isa itu anak Allah (menurut Nasrani).

Intinya pada masa sekarang seorang yang muslim/muslimah menikahi dengan orang yang kafir secara umumnya tidak sah,melainkan ada ditempat-tempat khusus yang memang masih ada kafir kitabi yang Asli seperti pada masanya Nabi Muhammad SAW.

Pertanyaan:

Bagaimanakah status anak yang lahir daripada orang tua yang berbeda agama (orang muslim menikahi dengan yang non muslim) menurut perspektif ulama syafi’iah ?

Jawaban:

Anak yang lahir dari orang tua yang berlainan agama (islam dan bukan islam) maka di hukumi kepada orang islam, hal ini telah di jelaskan dalam (kitab ia’natutthalibin juz 1 hal 93) :   

ويتبع في الدين أعلاهما فلو تولد بين مسلم وكافرة فهو مسلم لأن الإسلام يعلو ولا يعلى عليه. إعانة الطالبين ١/٩3

Dalam Hasyiah Al-Bajuri jilid 1 hal 38
يتبع الفرع فى انتساب ابا5* و الام فى الرق و الحرية * و الزكاة و الدين الاعلى

و اللذى اشد في جزاء وادية * و اخس الاصلين رجسا و ذبحا * و نكاحا و الاكل و الاضحية 

donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja