Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Fi’il mudhari’

Fi'il mudhari’ adalah suatu kalimat yang terfahami kepada perbuatan yang terjadi pada zaman hal (masa sedang berbicara) dan zaman mustaqbal (masa yang akan terjadi) tanpa terkhusus.
Hal-hal yang dapat menkhususkan zaman fiil mudhari':

1. Terkhusus zaman mustaqbal apabila masuk pada fiil mudhari' beberapa kalimat, antara lain:

السين , سوف , لا النافية , أدوات الشرط , أدوات النصب , الترجى , لو المصدرية

2. Terkhusus zaman hal apabila masuk pada fi'il muzarek beberapa kalimat, antara lain:

الآن , الساعة , آنفًا , لام الإبتداء , النفى بليس , إن , م

Kadang-kadang fi'il mudhari' juga bisa berzaman madhi apabila masuk:

لم , لمّا , لولا الإمتناعية


 - Kawakibud Durriyat, Juz 1, Hal 12 Cet , Haramain


Fatwa Imam Syafi'i Dengan Pendapat Jadid Mengikuti Budaya Mesir ?

Dalam mazhab syafii, ada dua qaul yang dikenal dengan qaul Jadid dan Qadim, pendapat jadid adalah pendapat yang dikemukakannya di Mesir atau dalam perjalanan menuju Mesir, sedangkan pendapat Qadim adalah pendapat yang beliau kemukakan di Iraq. Dalam hal ini, ada sebagian pihak yang berpendapat bahwa bahwa imam Syafii mengeluarkan qaul Jadid karena menyesuaikan diri dengan adat istiadat yang ada di Mesir, bukan karena faktor penambahan dalil yang menjadi landasan hukum pendapat Jadid.

Pertanyaan:

Apakah benar bahwa perubahan pendapat Imam Syafii dari Qadim ke Jadid karena faktor budaya setempat?

Jawaban:

Tidak benar imam syafiie mengasas mazhab jadid untuk menyesuaikan diri dengan adat istiadat mesir, namun timbulnya mazhab jadid karena bertukar pikiran sang imam dengan ulama-ulama lain ketika ia berada di mekkah, bahkan yang tertera dalam kitab kitab mazhab syafii adalah bagi sang imam ada dua mazhab, mazhab iraq yaitu mazhab qadim yang diajarkan kepada murid uridnya disana dan ia mengarang beberapa kitab, kemudian ketika ia pindah ke mesir, tatkala sampai di mekkah ia bertukar pendapat dengan beberapa ulama lain, sehingga banyak pendapat pendapat qadim yang telah difatwanya dirujuk kembali, pendapat pendapat inilah yang kemudian menjadi pendapat jadid, pendapat jadid dibnetuk oleh imam syafii sebelum keberangkatannya ke mesir, ada yang berkatasebelum keberangkatannya ke mekkah, namun yang pasti, pendapat jadid adalah pendapat yang diterapkannya di mesir, tentu terlepas dari kaitannya dari irak atau mesir, namun karena bertambahnya ilmu imam dengan sebab bertukar pendapat.
Ini bukan tanpa alasan, berikut beberapa alasan pendapat jadid bukan karena mengikuti budaya:

1. Jika perubahan mazhab karena budaya, sungguh imam tidak akan menarik kitab-kitabnya yang dikarang di Irak dan mengharamkan kepada umat untuk mempelajarinya dengan kata beliau:

ليس في حل من روي عني القديم
Tidaklah halal seseorang meriwayatkan pendapat qadim dariku. (Bahrul Muhid, Imam Zarkasyi jilid 4 hal 584)

Kalau sendainya pendapat jadid karena faktor budaya Mesir, tentunya Imam Syafii akan membiarkan murid-muridnya yang di Iraq untuk mengikuti pendapat qadim beliau, bahkan tentunya Imam Syafii akan punya pendapat yang berbeda-beda bagi muridnya menurut asal daerah masing-masing, namun kenyataannya tidak demikian.

2. Jika memang seperti dakwaan mereka, maka para ashab Imam Syafii yang ada di Irak akan berfatwa sesuai mazhab qadim, dan ashab yang di mesir akan berfatwa seperti pendapat qadim, padahal fakta sebaliknya, ashab Imam Syafii yang di Iraq juga berfatwa dengan pendapat Jadid.

3. Para imam mazhab yang lebih mengetahui tentang imam Syafii tidak penah satupun dari mereka yang mengatakan perubahan mazhab karena mengikuti adat, apakah para mutaakhirin lebih mengenal terhadap imam daripada ashab imam sendiri ? bahkan ketika para shab memilih pendapat imam yang qadim, mereka tidak menisbahkannya kepada imam, tetapi mereka memilihnya karena kuat dalilnya.

4. Para ulama-ulama mazhab Syafii dengan jelas mengataklan tidak boleh mengitu pendapat qadim walaupun bagi penduduk Iraq, maka bagaimana orang-orang yang datang kemudian mengatakan perubahan Qadim ke Jadid karena faktor budaya Mesir?

5. jika memang benar pendapat imam di Mesir karena budaya, maka para pengikutnya diluar mesir tidak akan mengikutinya, padahal sangat banyak murid imam Syafii yang berasal dari luar mesir mengikuti pendapat jadid yang disusunnya di Mesir bahkan penduduk Irak sekalipun, kitab al-um yang menjadi rujukan dasar mazhab Syafii bagi semua daerah, maka pendapat jadid adalah yang sahih dan wajib beramal atasnya baik untuk penganut Mazhab Syafii di Mesir atau di luar Mesir.

Alangkah mengherankan, orang yang mengatakan Imam Syafii berfatwa dengan pendapat jadid karena mengikuti adat mesir, hanya karena ingin memperoleh fatwa yang mudah-mudah walaupun bertentangan dengan dalil, dan mereka juga mendakwa fatwa jadid adalah sarana untuk mempermudah penduduk Mesir padahal mereka tidak mengatahui bahwa pendapat imam di Mesir berdasarkan dalil-dalil yang kuat dibandingkan fatwa Imam Syafii di Iraq, bahkan umumnya pendapat qadim cenderung lebih mudah dibandingkan mazhab jadid.

Sayyid Alawi bin Abdul Qadir, Madhal ila mazhab syafiiyah Hal 378

Hukum Minum kopi di kedai Non Muslim

Deskripsi Masalah:

Kopi adalah minuman yang diminati oleh kebanyakan masyarakat di Indonesia. Disamping ada nilai filosofinya, kopi juga bisa menjadi minuman untuk mengawali imajinasi kita. Budaya ngopi di kedei kopi sudah berakar kuat di Nusantara.

Pertanyaan:

1. Bagaimanakah hukum Minum kopi di kedai kopi Non Muslim?

Jawaban:

1. Hukum Minum kopi di kedai Non muslim makruh.
Bagi kita ummat Islam Makruh hukumnya memakai bejana org kafir, pakaian mereka, dan sesuatu yg mengiringi anggota tubuh bawah mereka, seperti sandal.
Memakai harta kafir yg mengiringi/menyentuh kulit kita itu bersangatan Makruh.
Sedangkan memakai bejana mereka itu Makruhnya lebih ringan.

-Hasyiah syarwani. Jld 1. Cet darul fikri. Hal. 136

ﻜﺮﻩ اﺳﺘﻌﻤﺎﻝ ﺃﻭاﻧﻲ اﻟﻜﻔﺎﺭ ﻭﻣﻠﺒﻮﺳﻬﻢ ﻭﻣﺎ ﻳﻠﻲ ﺃﺳﺎﻓﻠﻬﻢ ﺃﻱ ﻣﻤﺎ ﻳﻠﻲ اﻟﺠﻠﺪ ﺃﺷﺪ ﻭﺃﻭاﻧﻲ ﻣﺎﺋﻬﻢ ﺃﺧﻒ.




KEUTAMAAN BERSEDEKAH

lbmmudi.com Bersedekah adalah sebuah kemuliaan yang sangat berharga, karena sedekah dapat menghapus dosa sebagai mana air yang dapat memadamkan api, dengan bersedekah kita akan mendapat naungan dariNya di hari akhirat, bersedekah akan memberikan keberkahan pada harta yang kita miliki, Allah akan melipat gandakan pahala orang-orang yang bersedekah dan masih banyak keutamaan-keutamaan lainnya.
Mengenai hal ini ada sebuah hadist dari Ibnu abbas R.A yang menceritakan tentang seorang wanita dari bani israil yang mempunyai seorang suami yang merantau, dan suaminya mempunyai seorang ibu yang pada awal nya menyayangi nya, namun akhirnya mertuanya membencinya sehingga merekayasa selembar surat perceraian yang diberikan kepada menantunya dan perempuan tersebut juga memiliki dua orang anak dari suamiya yang ia cintai, kemudia wanita tersebut beserta anak-anaknya pulang ke keluarganya, dan pada masa itu mereka memiliki seorang raja yang membenci memberi makan kepada orang miskin, didalam perjalanan pulang wanita itu bertemu dengan orang miskin yang meminta sedikit bantuan kepadanya yang sedang memakan roti, kemudia wanita itu bertanya kepada orang miskin tersebut, “apakah anda tau yang bahwa raja mengharamkan memberi makan orang miskin?” Orang itu menjawab,” ia saya tau, akan tetapi saya akan binasa jika engkau tidak berikan sedikit makanan kepadaku” dan akhirnya wanita itu memberi makanan kepadanya, setelah wanita itu berpesan agar tidak memberitau kepada seorang pun. Maka orang miskin itu pergi dan tiba-tiba berjumpa dengan penjaga kerajaan, penjagapun bertanya kepadanya “ dari mana kamu mendapatkan dua roti itu?”
si miskin menjawa “dari seorang wanita”, kemudian penjagapun mencari wanita itu dan menjumpainya.
Maka penjaga bertanya “apakah benar kamu yang memberikan dua roti ini
wanita itu menjawab “iya”
penjaga melanjutkan pertanyaan nya, “apakah kamu tidak tahu yang bahwa raja mengharamkan nya?” wanita itu menjawab ”saya tau”
penjaga; mengapa kamu memberikannya?
wanita; karena saya kasihan.
kemudia pengawal membawa wanita itu kepada raja, dan rajapun bertanya kepadanya,
raja:”apakah kamu belum tau yang bahwa saya mengharamkannya?
wanita: saya tau
raja: kenapa kamu memberikannya?
wanita: karena saya kasihan dan saya berharap tidak ada yang tahu.
maka rajapun menyuruh algojo untuk memotong kedua tangannya atas dua roti yang telah ia berikan dan eksikusipun berjalan dengan lancar.
Akhirnya wanita itu pulang dengan kedua buah hatinya yang ia miliki, didalam perjalanan pulang wanita itu meyuruh salah satu anaknya untuk mengambil air di sungai karena haus, maka tiba-tiba sianak tergelincir dan jatuh kesungai maka ibunya panik sehingga menyuruh anak satunya lagi agar membantu saudaranya yang tenggelam, pada akhirnya keduanya pun hilang didalam sungai, Ibunya tidak bisa berbuat apa-apa lantaran tidak punya tangan. Maka tinggalah wanita itu seorang diri dengan luka diatas duka, maka tiba-tiba muncul seseorang dan berkata kepada wanita itu,”wahai hamba Allah, saya melihat anda begitu sedih. Dan wanita itu meminta sepucuk doa dari orang itu setelah wanita itu menceritakan kisahnya, dan orang itu memberikan dua pilihan kepadanya, apakah kamu menginginkan kedua tangan mu atau kedua anak mu? Tanpa ragu wanita itu menjawab, saya ingin anakku kembali. Dan akhirnya orang itu mendoakannya dan tiba-tiba munculah anaknya, dan kedua tangannya. Kemudia orang itu berkata, “ saya adalah utusan Allah yang diutus bagimu, kedua tangan adalah dua roti dan dua anak adalah fahalamu dariAllah yang telah kamu bantu orang miskin dan kesabaranmu atas cobaan yang menimpa dirimu, ketahuilah suamimu tidak menceraikan mu maka pulanglah kepada suamimu, dia ada dirumah dan sesungguhnya mertuamu sudah mati, maka pulanglah wanita itu. Dan terpenuhi segala urusan.

- Ianatuttalibin Hal 209 Cet, Haramain


Teks Ratib Al Athos


Ratib Al Athos adalah bacaan doa dan wirid karya Al Habib Umar bin Abdurrahman Al Attas. Ratib ini berisi doa doa mustajab dan ampuh yang berasal dari AlQuran dan hadits Nabi Muhammad SAW. Pengarang ratib Al-Athos ini adalah seorang waliyullah yang memiliki derajat tinggi dan kemuliaan disisi ALLAH SWT.  Ia adalah ulama asal hadraumut yang dilahirkan pada tahun 229H. meski sejak kecil kedua matanya buta, namun ia memiiki kecerdasan luar biasa dan mampu menghafal apapun hanya dengan pendengarannya. ia juga memiliki nasab yang bersambung langsung kepada Rasulullah SAW.

Nasab dan silsilah beliau adalah Umar bin Abdurrahman bin Agil bin Salim bin Ubaidullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Syeikh al Ghauts Abdurrahman as-Seggaf bin Muhammad Maulah Dawilah bin Ali bin Alawi al Ghoyur bin Sayyidina al Faqih al Muqaddam Muhammad bin Ali binl Imam Muhammad Shahib Mirbath bin Ali bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidullah bin Imam al Muhajir Ahmad bin Isa bin Muhammad an Naqib binl Imam Ali al Uraidhi bin Jaafar as Shadiq binl Imam Muhammad al Baqir binl Imam Ali Zainal Abidin binl Imam Hussein as Sibith bin Imam Ali bin Abi Thalib dan bin Batul Fatimah az-Zahra binti Rasullullah S.A.W. Baca juga : mukjizat Nabi Musa Sebelu meninggal, ia telah meninggalkan banyak sekali karya dan salah satu yang utama adalah ratib al athas ini. terdapat banyak sekali manfaat dan kegunaan bagi siapa saja yang istiqomah dalam membaca dan mengamalkan ratib al attas ini.

Semua wirid dan dzikir yang ada didalamnya juga diambil langsung dan dirangkum oleh Habib Umar Al attas dari Al Qur'an dan hadist Nabi. sehingga tak heran jika membacanya akan mendatangkan pahala dan rahmat dari ALLAH SWT. Bahkan berkata sebagian ulama ahli salaf bahwa diantara keutamaan ratib al athos ini bagi mereka yang tetap mengamalkannya, adalah dipanjangkan umur, mendapat Husnul-Khati  mah, menjaga segala kepunyaannya di laut dan di bumi dan senantiasa berada dalam perlindungan Allah. Jadi langsung saja dibawah ini teks bacaan ratib al athos lengkap dalam bahasa arabnya.

Bacaan Ratib Al Atos Lengkap
 اَلْفَاتِحَةُ اِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ, اَعُوذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ (بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ.اَلْحَمْدُلِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ...) الخرسُوْرَةُ الْفَاتِحَة اَعُوْذُبِا للهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَا نِ الرَّجِيْمِ (3x) ( لَوْاَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَاَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللهِ وِتِلْكَ اْلاَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ. هُوَاللهُ الَّذِيْ لاَاِلَهَ اِلاَّ هُوَعَالِمُ اْلغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَالرَّحْمَنُ الرَّحِيْمُ هُوَاللهُ الَّذِيْ لآ اِلَهَ اِلاَّ هُوَاْلمَلِكُ اْلقُدُّوْسُ السَّلاَمُ اْلمُؤْمِنُ اْلمُهَيْمِنُ اْلعَزِيْزُاْمجَبَارُ اْلمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللهِ عَمَّايُشْرِ كُوْنَ هُوَاللهُ اْمخَالِقُ اْلبَارِئُ اْلمُصَوِّرُلَهُ اْلاَسْمَاءُ اْمحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَافِى السَّمَوَاتِ وِاْلاَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيْزُاْمحَكِيْمِ ) اَعُوْذُبِاللهِ السَّمِيْحِ اْلعَلِيْمِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ (3x) اَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّا مَّاتِ مِنْ شَرِّمَا خَلَقَ (3x) بِسْمِ اللهِ الَّذِيْ لاَيَضُرُّمَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى اْلاَرْضِ وَلاَفِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ (3x) بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ.وَلاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ اِلاَّبِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ (عَشْرًا) بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ (3x) بِسْمِ اللهِ تَحَصَّنَّا بِاللهِ.بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْنَا بِا للهِ (3x) بِسْمِ اللهِ آمَنَّابِاللهِ. وَمَنْ يُؤْ مِنْ بِاللهِ لاَخَوْفٌ عَلَيْهِ (3x) سُبْحَانَ اللهِ عَزَّاللهِ. سُبْحَانَ اللهِ جَلَّ اللهِ (3x) سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ.سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ (3x) سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُلِلَّهِ وَلآ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ (اَرْبَعًا) يَالَطِيْفًا بِخَلْقِهِ يَاعَلِيْمًا بِخَلْقِهِ يَاخَبِيْرًا بِخَلْقِهِ. اُلْطُفْ بِنَايَالَطِيْفُ,يَاعَلِيْمُ يَاخَبِيْرً (3x) يَا لَطِيْفًا لَمْ يَزَلْ. اُلْطُفْ بِنَافِيْمَانَزَلْ اِنَّكَ لَطِيْفٌ لَمْ تَزَلْ. اُلْطُفْ بِنَاوَ الْمُسْلِمِيْنَ (3x) لآ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ (اَرْبَعِيْنَ مَرَّةً) مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ. حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ (سبعا) اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى مُحَمَّدٍ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ (10x) اَسْتَغْفِرَاللهَ (اا مَرَّةً). تَائِبُوْنَ اِلَى اللهِ (3x) يَااَللهُ بِهَا.يَااَللهُ بِهَا يَااَللهُ بِحُسْنِ اْلخَاتِمَةِ (3x) غُفْرَا نَكَ رَبَّنَا وَاِلَيْكَ اْلمَصِيْرُ لاَيُكَلِفُ اللهُ نَفْسًا اِلاَّ وُسُعَهَا لَهَا مَا اكَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكَتَسَبَتْ رَبَّنَا لاَ تُؤَا خِذْنَا اِنْ نَسِيْنَا اَوْاَخْطَأْ نَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَا قَةَلَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْلَنَا وَارْحَمْنَا اَنْتَ مَوْلاَ نَا فَانْصُرْنَا عَلَى اْلقَوْمِ اْلكَا فِرِيْنَ.
 Kemudian membaca :

 اَلْفَاتِحَةُ اِلَى رُوْحِ سَيِّدِنَاوَ حَبِيْبِنَاوَ شَفِيْعِنَ رَسُوْلِ اللهِ ,مُحَمَّدِ بِنْ عَبْدِاللهِ , وَاَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَاَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ , اَنَّ اللهَ يُعْلىِ دَرَجَاتِهِمْ فِى اْلْجَنَّةِ وَ يَنْفَعُنَا بِاَسْرَارِ هِمْ وَاَنْوَارِهِمْ وَعُلُوْمِهِمْ فِى الدِّ يْنِ وَالدُّنْيَا وَاْلآ خِرَةِ وَيَجْعَلُنَا مِنْ حِزْ بِهِمْ وَيَرْزُ قُنَا مَحَبَّتَهُمْ وَيَتَوَفَّانَا عَلَى مِلَّتِهِمْ وَيَحْشُرُنَافِى زُمْرَ تِهِمْ . فِى خَيْرٍ وَ لُطْفٍ وَعَافِيَةٍ , بِسِرِ الْفَا تِحَةْ اَلْفَاتِحَةُ اِلَى رُوْحِ سَيِّدِنَا الْمُهَا جِرْ اِلَى اللهِاَحْمَدْ بِنْ عِيْسَى وَاِلَى رُوْحِ سَيِّدِنَااْلاُ سْتَاذِ اْلاَعْظَمِ اَلْفَقِيْهِ الْمُقَدَّمِ , مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيّ بَاعَلَوِيْ وَاُصُوْلِهِمْ وَفُرُوْعِهِمْ , وَذَوِىْ الْحُقُوْقِ عَلَيْهِمْ اَجْمَعِيْنَ اَنَّ اللهَ يَغْفُرُ لَهُمْ وَيَرْ حَمُهُمْ وَيُعْلِيْ دَرَجَاتِهِمْ فِى الْجَنَّةِ , وَيَنْفَعُنَا بِاَسْرَارِهِمْوَاَنْوَارِهِمْ وَعُلُوْ مِهِمْ فِى الدِّ يْنِ وَالدُّنْيَاوَاْلاَخِرَةِ . اَلْفَا تِحَةُ اَلْفَاتِحَةُ اِلَى رُوْحِ سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا وَبَرَكَاتِنَا صَاحِبِ الرَّاتِبِ قُطْبِ اْلاَنْفَاسِ اَلْحَبِيْبِ عُمَرْ بِنْ عَبْدِالرَّحْمَنِ الْعَطَّاسْ , ثُمَّ اِلَى رُوْحِ الشَّيْخِ عَلِيِّ بْنِ عَبْدِ اللهِ بَارَاسْ , ثُمَّ اِلَى رُوْحِ اَلْحَبِيْب عَبْدُالرَّحْمَنِ بِنْ عَقِيْل اَلْعَطَّاسْ , ثُمَّ اِلَى رُوْحِ اَلْحَبِيْب حُسَيْن بِنْ عُمَرْ اَلْعَطَّاسْ وَاِخْوَانِهِ ثُمَّ اِلَى رُوْحِ عَقِيْل وَعَبْدِ اللهِ وَصَا لِحْ بِنْ عَبْدُالرَّحْمَنِ اَلْعَطَّاسْ ثُمَّ اِلَى رُوْحِ اَلْحَبِيْب عَلِيِّ بْنِ حَسَنْ اَلْعَطَّاسْ ثُمَّ اِلَى رُوْحِ اَلْحَبِيْب اَحْمَدْ بِنْ حَسَنْ اَلْعَطَّاسْ وَاُصُوْلِهِمْ وَفُرُوْعِهِمْ وَذَوِى الْحُقُوْقِ عَلَيْهِمْ اَجْمَعِيْنَ اَنَّاللهَ يَغْفِرُ لَهُمْ وَيَرْ حَمُهُمْ وَيُعْلِى دَرَجَا تِهِمْ فِى الْجَنَّةِ وَيَنْفَعُنَا بِاَسْرَارِهِمْوَاَنْوَارِهِمْ وَعُلُوْ مِهِمْ وَنَفَحَا تِهِمْ فِى الدِّ يِنِ وَالدُّنْيَاوَاْلآخِرَةِ )اَلْفَا تِحَةْ( اَلْفَاتِحَةُ اِلَى اَرْوَحِ اْلاَوْالِيَاءِ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّا لِحِيْنَ . وَاْلاَ ئِمَّةِ الرَّاشِدِ يْنَ وَاِلَى اَرْوَاحِ وَالِدِيْنَا وَمَشَا يِخِنَا وَذَوِىالْحُقُوْقِ عَلَيْنَا وَعَلَيْهِمْ اَجْمَعِيْنَ , ثُمَّ اِلَى اَرْوَاحِ اَمْوَاتِ اَهْلِ هَذِهِ الْبَلْدَةِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَنَّ اللهَ يَغْفِرُلَهُمْ وَيَرْحَمُهُمْ وَيُعْلِى دَرَجَاتِهِمْ فِى الْجَنَّةِ وَيُعِيْدُ عَلَيْنَا مِنْ اَسْرَ ارِهِمْ وَانْوَ ارِهِمْ وَعُلُوْ مِهِمْ وَبَرَكَاتِهِمْ فِى الدِّ يْنِ وَالدُّ نْيَا وَاْلآ خِرَةِ . اَلْفَاتِحَةْ. اَلْفَاتِحَةُ بِالْقَبُوْلِ وَتَمَامِ كُلِّ سُوْلٍ وَمَأْمُوْلٍ وَصَلاَحِ الشَّأْنِ ظَا هِرًا وَبَا طِنًافِى الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ دَافِعَةً لِكُلِّشَرٍّجَالِبَةً لِكُلِّ خَيْرٍ , لَنَا وَلِوَ الِدِيْنَا وَاَوْلاَدِنَاوَاَحْبَا بِنَا وَمَشَا ئِخِنَا فِى الدِّ يْنِ مَعَ اللُّطْفِ وَالْعَا فِيَةِ وَعَلَى نِيَّةِ اَنَّ اللهَ يُنَوِّرُ قُلُوْ بَنَا وَقَوَ الِبَنَا مَعَ الْهُدَى وَالتَّقَى وَالْعَفَافِ وَالْغِنَى . وَالْمَوْتِ عَلَى دِيْنِ اْلاِسَلاَمِ وَاْلاِ يْمَانِ بِلاَ مِحْنَةٍوَلاَ اِمْتِحَانٍ , بِحَقِّ سَيِّدِ نَاوَلَدِ عَدْ نَانِ , وَعَلَى كُلِّ نِيَّةٍ صَالِحَةٍ .وَاِلَى حَضْرَةِ النَِّبيِّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ (اَلْفَاتِحَةْ(
Doa
بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمَنِ الرَّ حِيْمِ. اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَا لَمِيْنَ حَمْدًا يُوَافِى نِعَمَهُ وَيُكَافِىءُ مَزِيْدَهُ, يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِىْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَا نِكْ, سُبْحَا نَكَ لاَ نُحْصِيْ ثَنَا ءً عَلَيْكَ اَنْتَ كَمَا اَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ, فَلَكَ الْحَمْدُ حَتىَّ تَرْضَى, وَلَكَ الْحَمْدُ اِذَارَضِيْتَ, وَلَكَ الْحَمْدُ بَعْدَ الرِّضَى. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِى اْلاَوَّلِيْنَ وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنّا مُحَمَّدٍ فِى اْلآ خِرِيْنَ وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِى كُلِّ وَقْتٍ وَحِيْنٍ, وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِى الْمَلَإِ اْلاَ عْلَى اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ, وَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ حَتىَّ تَرِثَ اْلاَرْضَ وَمَنْ عَلَيْهَا وَاَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِيْنَ. اَللَّهُمَّ اِنَّا نَسْتَحْفِظُكَ وَنَسْتَوْ دِعُكَ اَدْيَا نَنَا وَاَنْفُسَنَا وَاَمْوَ الَنَا وَاَهْلَنَا وَكُلَّ ثَيْءٍ اَعْطَيْتَنَا. اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا وَاِيَّا هُمْ فِى كَنَفِكَ وَاَمَانِكَ وَعِيَاذِكَ, مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ مَرِيْدٍ وَجَبَّارٍ عَنِيْدٍ وَذِىْ عَيْنٍ وَذِيْ بَغْيٍ وَذِيْ حَسَدٍ وَمِنْ شَرِّ كَلِّ ذِيْ شَرٍّ, اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شّيْىءٍ قَدِيْرُ. اَللَّهُمَّ جَمِّلْنَا بِالْعَا فِيَةِ وَالسَّلاَ مَةِ, وَحَقِقْنَا بِااتَقْوَى وَاْلاِسْتِقَامَةِ وَاِعِذْنَا مِنْ مُوْ جِبَا تِ النَّدَا مَةِفِى اْلحَالِ وَاْلمَالِ, اِنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَاءِ. وَصَلِّ اللَّهُمَّ بِجَلاَلِكَ وَجَمَالِكَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ, وَارْزُقْنَا كَمَالَ اْلمُتَا بَعَةِ لَهُ ظَا هِرًا وَبَا طِنًا يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ, بِفَضْلِ سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ اْلعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ. وَسَلاَمُ عَلَى اْلمُرْسَلِيْنَ وَلْحَمْدُلِلَّهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ




Azan dalam keadaan duduk

Deskripsi masalah :

Kebanyakan tempat dilihat pengumandangan azan dilakukan muazzin dalam keadaan berdiri, dan sangat jarang dilantunkan muazzin dalam keadaan duduk atau lainnya.

Pertanyaan :

Apakah hukumnya azan sambil duduk ?

Jawaban :

Dituntut sunnahkan dalam mengumandangkan azan dalam keadaan berdiri berdasarkan Hadist Rasulullah SAW :

يا بلال قم فناد بالصلاة
“Ya Bilal,,Berdirilah maka panggillah untuk shalat”

Maka jika seseorang muazzin melantunkan azan tanpa berdiri beserta ia kuasa untuk berdiri hukumnya makruh.

- Asnal Mathalib Juz 1 Hal 127 Maktabah Syamelah
 يستحب (القيام) في الأذان والإقامة لخبر الصحيحين «يا بلال قم فناد بالصلاة» ولأنه أبلغ في الإعلام (والاستقبال) فيهما للقبلة لأنها أشرف الجهات ولأنه المنقول سلفا وخلفا (فلو تركهما) مع القدرة (كره) لمخالفته السلف والخلف (وأجزأه) لأن ذلك لا يخل بالأذان والإقامة (والاضطجاع) فيما ذكر (أشد كراهة) من القعود فيه



Biografi Imam Jalal al-Mahalli, pengarang Kitab al-Mahali syarh Minhaj

Bagi para pelajar mazhab Syafii, nama al-Mahalli sudah tidak asing lagi. Hal ini karena, salah satu karya beliau, Syarah al-Mahalli ‘ala Minhaj ath-Thalibin Imam Nawawi menjadi salah satu kitab  syarah Minhaj Imam Nawawi yang paling populer. Di Aceh, kepandaian seorang santri biasanya diukur dengan kemampuannya membaca dan menerangkan isi kandungan kitab yang nama aslinya adalah Kanz Raghibin ‘ala Minhaj ath-Thalibin ini.
Lalu bagaimana sebenarnya profil beliau? Nama lengkap beliau adalah Imam Jalaluddin Abu Abdullah Muhammad bin Syihabuddin Ahmad bin Kamaluddin Muhammad bin Ibrahim bin Ahmad bin Hasyim al-Abbas al-Anshari al-Mahalli. al-Mahalli ini adalah dinisbahkan kepada Mahallah Kubra. Kota al-Mahalla Kubra saat ini adalah kota industri dan pertanian besar di Mesir, yang terletak di tengah Delta Nil di tepi barat dari anak sungai Damietta. Kota ini dikenal dengan industri tekstilnya. Ini adalah kota terbesar di Provinsi Gharbia dan yang terbesar kedua di Delta Nil.
Beliau di lahirkan dibulan syawal tahun 791 H/1389 M di kota Cairo.

Guru-guru beliau;

Imam al-Mahalli belajar dari para ulama-ulama di masa beliau, diantara guru-guru beliau adalah;

  1. Imam Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abdul Daim an-Nu’aimi al-Asqalani al-Birmawi asy-Syafii (763-831 H). Dar beliau, Imam Mahalli belajar ilmu Fiqh, Ushul Fiqh dan ilmu Arabiyah. Imam Birmawi ini juga tinggal di Madrasah Baibarisiyah bersama Imam al-Mahalli, hal ini membuat Imam Mahalli punya kesempatan banyak untuk mengambil ifadah dari Imam Birmawi.
  2. Imam al-Faqih Burhanuddin Abu Ishaq Ibrahim bin Ahmad al-Bajuri yang lebih dikenal dengan Burhan al-Bajuri (750-825 H), dari beliau, Imam al-Mahalli mengambil ilmu Fiqh.
  3. Imam al-Muhaddis Jalal al-Mahalli Abu Fadhal Abdurrahman bin Umar bin Ruslam al-Kinani al-Asqalani al-Bulqini al-Mishri yang dikenal dengan Jalal al-Bulqini (763-824 H). Dari beliau, Imam Mahalli belajar ilmu hadits.
  4. Imam al-Muhaddits Waliyuddin Abu Zar’ah Ahmad bin Abdurrahim al-Iraqi (762-826 H). Dar beliau, Imam Mahalli belajar ilmu ulumul hadits.
  5. Imam al-Muhaddits Qadhi Qudha Izzuddin Abdul Aziz bin Muhammad bin Ibrahim bin Jamaah al-Kinani (694-767 H). Dari beliau, Imam Mahalli belajar ilmu ushul fiqh dan hadits.
  6. Syeikh Syihabuddin al-‘Ujaimi, cucu dari Ibnu Hisyam. Dari beliau, Imam al-Mahalli belajar ilmu Nahu.
  7. Syeikh Syamsuddin Muhammad bin Syihabuddin Ahmad bin Shaleh bin Muhammad bin Abdullah Syathanufi (wafat 873 H), dari beliau, Imam Mahalli belajar ilmu Nahu dan ilmu Arabiyah lainnya.
  8. Imam Nashiruddin Abu Abdullah Muhammad bin Anas bin Abi Bakar bin Yusuf ath-Thantadai al-Hanafi (wafat 809 H) dari beliau, Imam Mahalli belajar ilmu faraidh dan ilmu hisab.
  9. Imam Badaruddin Mahmud bin Muhammad bin Ibrahim bin Ahmad al-Aqsharai (wafat 825 H), dari beliau, Imam Mahalli belajar ilmu mantiq, jadal, bayan, ma’ani, arudh dan ushul fiqh.
  10. Imam Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Usman ath-Thai al-Bisathi al-Maliki (760-842 H), dar beliau, Imam Mahalli belajar ilmu tafsir, ushuluddin dan beberapa ilmu lainnya.
  11. Imam Alaiddin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Bukhari al-Hanafi (779-841 H).
  12. Syeikh Nidhamuddin Yahya bin Yusuf bin Muhammad Isa ash-Shairami al-Hanafi (777-833 H) dari beliau, Imam Mahalli beljar ilmu fiqh dan beberapa ilmu aqliyah.
  13. 13. Syeikh Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakar bin Khidir bin Musa ad-Dairi (788-862 H)
  14. Syeikh Majduddin al-Birmawi asy-Syafii
  15. Syeikh Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Khalil al-Ghuraqi asy-Syafii (816 H), dengan beliau Imam Mahalli belajar ilmu fiqh
  16. Syeikh Syihabuddin Ahmad bin Abi Ahmad Muhammad bin Abdillah al-Maghrawi al-Maliki (820 H)
  17. Syeikh Kamaluddin Abu Baqa Muhammad bin Musa bin Isa bin Ali bin Damiri (742-808 H)
  18. Syeikh Syihabuddin Abu Abbas Ahmad bin Imad bin Yusuf al-Aqfahasi al-Qahiri yang lebih dikenal dengan Ibnu Imad (750-808 H)
  19. Syeikh Badaruddin Muhammad bin Ali bin Umar bin Ali bin Ahmad ath-Thanbadi
  20. Syeikhul Islam Syihabuddin Asqalani (773-852 H), Imam Jalal Mahalli membaca sekalian Syarah alfiyah al-Iraqi kepada beliau dan mendapat izin untuk mengajarnya, dan dari beliaulah Imam Jalal Mahalli mendapatkan ilmu yang banyak dalam bidang hadits dan ulumul hadits.
  21. Syeikh Jamaluddin Abdullah bin Fadhlullah, dari beliau Imam Jalal Mahalli belajar ilmu hadits
  22. Syeikh al-Muhaddis Syarafuddin Abu Thahir Muhammad bin Muhammad bin Abdul Lathif asy-Syafii (737-821 H)
  23. Imam Syamsuddin Abi Khair Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Yusuf bin Jazri asy-Syafii (751-833 H) , seorang ulama yang terkenal dalam ilmu qiraah di zamannya.
  24. Syeikh Nashiruddin Muhammad bin Muhammad bin Mahmud al-Ajmi (wafat 855 H), Imam Jalal Mahalli membaca al-quran kepada beliau saat Imam Mahalli masih kecil.
  25. dll



Imam Jalal Mahalli dikenal sebagai imam yang alim dan tahqiq, ahli dalam bidang nadhar dan sangat cerdas, shahih zihinnya, sehingga para ulama yang semasa dengan beliau memberikan tamsilan terhadap akal beliau “ ان ذهنه يثقب الماس zihin (akal/kecerdasan) beliau mampu melubangi intan”. Beliaupun pernah berkata “pemahamanku tidak menerima tersalah”. Imam Sakhawi menghikayahkan bahwa Imam Kamaliyah bercerita bahwa beliau pernah melihat Imam al-Wana`i ketika berhadapan dengan Imam al-Mahalli bagaikan seorang anak-anak dengan mu’allimnya. Imam al-Mahalli juga dikenal sebagai seorang yang dihormati baik dikalangan khusus maupun dikalangan umum, dan penuh wibawa.
Beliau dikenal sebagai ulama yang hidup dengan shaleh dan wara` serta selalu menjalankan amar ma’ruf nahi munkar, ketika para pembesar kerajaan datang kepada beliau, beliau tidak berpaling kepada mereka dan bahkan tidak memberikan izin untuk masuk bagi mereka. Beliau selalu bersikap tegas pada kebenaran dan selalu mewasiatkan kebenaran kepada para pembesar pemerintah, qadhi dan lainnya dalam berbagai majlis, sedangkan mereka tunduk kepada Imam Mahalli. Pernah beliau ditawari jabatan hakim agung, namun beliau menolaknya dan mengatakan kepada raja bahwa beliau tidak mampu, bahkan kepada murid-muridnya beliau mengatakan tidak menerima jabatan tersebut karena beliau tidak sanggup menahan pedihnya api neraka. Pada beliau juga sering dhahir banyak karamah.
Beliau menjadi pengajar fiqh di Madrasah al-Burquqiyah setelah Imam Syihab al-Kaurani, juga mengajar di Madrasah al-Muaiyidah setelah wafatnya Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, sehingga nama beliau menjadi masyhur dan dikunjungi oleh umat dari jauh dengan tujuan meminta fatwa dan untuk tabarukan. Beliau juga dipercayakan menjaga beberapa wasiat dan wakaf dan beliaupun mengelolanya dengan baik.
Beliau hidup dalam keadaan serba kekurangan dalam hal pakaian dan kendaraan. beliau hidup dengan usaha tijarah kain, kemudian beliau menempatkan orang lain untuk duduk di toko beliau, sedangkan beliau hanya mengunjunginya sesekali saja, dan beliau fokus kepada mengajar dan menulis.
Beliau sempat menunaikan haji beberapa kali. Imam ‘Imad menyebutkan beliau sebagai “Imam Taftazaninya orang Arab”.

Kitab-kitab karya Imam Mahalli.

Imam al-Mahalli banyak menuliskan berbagai kitab dalam berbagai macam ilmu. Kitab-kitab beliau mendapat sambutan yang luar biasa dari para penuntut ilmu di masa beliau hingga sekarang, bahkan para masyayikh yang berada pada thabaqah guru-guru beliau juga ikut membacakan kitab karangan beliau. Kitab-kitab beliau dikenal karena tahqiq dan penguraian yang bagus. Imam Sakhawi menyebutkan bahwa tidak terhitung jumlah pelajar yang datang membacakan kitab dihadapan beliau, para pembesar ulama pun juga datang kepada beliau untuk mengambil ilmu dari beliau, sehingga dari beliau lahirlah para ulama yang banyak yang menjadi para pengajar pada masa beliau masih hidup. Walaupun demikian, beliau dikenal sebagai orang yang tidak segan-segan untuk merujuk kembali pendapat beliau bila menemukan kebenaran pada orang lain setelah hati-hati yang kuat.


Beberapa kitab karangan beliau adalah;

  • Kanz Raghibin Syarh Minhaj Thalibin, sebuah kitab fiqh syarah atas kitab Minhaj Imam Nawawi dan merupakan salah satu syarah minhaj yang banyak menjelaskan tentang khilafiyah dalam mazhab Syafii. Kitab ini di beri hasyiah oleh beberapa ulama, antara lain;

  1. Imam Syihabuddin Ahmad bin Ahmad bin Salamah al-Qalyubi (wafat 1069 H)
  2. Imam Syihabuddin Ahmad al-Burullusi Amirah (wafat 957 H), kedua hasyiah ini dicetak dalam satu cetaan dan biasa dikenal dengan Hasyiatani.
Kitab Kanz Raghibin dengan kedua hasyiahnya ini menjadi salah satu kitab rujukan yang dipelajari diberbagai lembaga pendidikan. Di Aceh, Kitab Kanz Raghibin dipelajari oleh santri Aliyah setelah tamat Fathul Muin, dan menjadi tolak ukur kemampuan seorang tengku dalam memahami kitab kuning.

  • al-Badr al-Thaliq fi Hall Jam’ al-Jawami’, kitab ushul fiqh syarah atas Jam’ul Jawamik karangan Ibn Subki. Selesai beliau karangan pada tahun 824 H, kitab ini medapat sambutan luar biasa dari para ulama, dan menjadi kitab syarah utama bagi kitab Jam’ul Jawamik. Kitab ini diberi hasyiah oleh beberapa ulama, antara lain;


  1. Hasyiah Syaikhul Islam Kamaluddin bin Abi Syarif (wafat 905 H) dengan nama ad-Durar al-Lawami’ , pernah dicetak di Fas, Maghribi tahun 1312 H, saat ini juga diterbitan olah penerbit di Saudi Arabiya dalam 5 jilid.
  2. Hasyiah Syeikh Zakaria al-Anshari (wafat 926 H), saat ini dicetak oleh penerbit DKI dan Maktabah ar-Rusyd, Saudi dalam 4 jilid.
  3. Hasyiah Syeikh Abdurrahman al-Banani (wafat 1198 H) 2 jilid
  4. Hasyiah Syeikh Hasan al-Athari (w. 1250 H), Hasyiah ini kemudian diberikan taqrirat oleh Syeikh al-Azhar, Syeikh Abdurrahman Syarbini. (2 jilid)
  5. Hasyiah al-Laqqani
  6. Hasyiah Syihabuddin al-Burullusi al-Amirah
  7. Ayatul Baiyinat karangan Imam Ibnu Qasil al-Abbadi (4 jilid)

  • Syarah Waraqat karangan Imam Haramain. Merupakan kitab ushul fiqih yang umumnya di pelajari sebagai materi dasar dalam bidang ushul fiqh. Kitab ini diberi hasyiah oleh beberapa ulama, antara lain;
  1. Hasyiah Nafahat ‘ala Syarh Waraqat karangan ulama Nusantara, Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, dan merupakan salah satu hasyiah terbaik atas kitab waraqat.
  2. Syeikh Ibnu Qasim al-Abbadi dengan dua hasyiah beliau, Syarah Kabir dan Syarah Shaghir.
  3. Syeikh Ahmad Dimyathi
  4. Syeikh Muhammad Shafti
  5. Syeikh Muhammad Shimbati
  6. Syeikh Syihabuddin Qalyubi

  • Tafsir Jalalain, kitab tafsir karangan beliau, mulai dari awal surat al-Kahfi hingga akhir al-quran, dan beliau meninggal sebelum menyempurnakannya, maka kemudian dilanjutkan hingga sempurna oleh Imam Suyuthi. Oleh karena itu kitab ii dikenal dengan nama Tafsir Jalalain (tafsir dua Imam Jalal, Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi). Kitab Tafsir Jalalain juga diberi hasyiah oleh beberapa ulama, antara lain;

  1. Hasyiah Shawi karangan Syeikh Ahmad Shawi, 4 jilid. Hasyiah Shawi ini merupakan hasyiah atas tafsir Jalalain yang paling populer.
  2. Hasyiah Futuhat Ilahiyah karangan Syeikh Abu Daud Sulaiman bin Umar al-Ujaili (w. 1204 H), 4 jilid.
  3. Qabs an-Nirain 'ala Tafsir Jalalain, karangan murid Imam Suyuthi sendiri, Syeikh Muhammad bin Abdurrahman al-Alqami asy-Syafii (wafat 961 H).
  4. Kaukab an-Niraian fi Alfadh Jalalain karangan Imam Athiyah al-Ajhuri (wafat 1190 H)
  5. Masratul Ainaini fi Hasyiah Jalalain, karangan Abu Hasan Saiyid Muhammad bin Khalil al-Masyisyi ath-Tharabilisi al-Hanafi al-Qawaqji (wafat 1305)
  6. Hasyiah al-Hifnawi ‘ala Jalalain karangan Imam Muhammad bin Abi Su’ud al-Mishri (wafat 1268 H)
  7. Dll

  • al-Anwar al-Mudhiyah
  • al-Qaul Mufid fi Nail as-Said
  • ath-Thibb an-Nabawi
  • Kitab fil Manasik
  • Kitab fl Jihad
  • Syarah Qawaid Ibn Hisyam
  • Syarah Tashil Ibn Malik
  • Hasyiah ala Syarh Jamik al-Mukhtashar
  • Hasyiah 'ala Jawahir Imam Asnawi
  • Syarah Syamsiah
  • dll, kitab dari no. 5 – 15, belum sempurna.


Murid-murid Imam Mahalli

Banyak para ulama yang lahir dari beliau;

  1. Syeikhul Islam Zakaria al-Anshari
  2. Imam Nuruddin Abu Hasan Ali as-Samhudi (wafat 911 H)
  3. Syeikh Burhanuddin Ibrahim bin Muhammad yang lebih dikenal dengan Ibnu Syarif (923 H)
  4. Syeikh Syihabuddin Abu Fath Ahmad bin Muhammad al-Absyihi
  5. Syeikh Khairuddin Abu Khair Muhammad bin MUhammad ar-Rumi al-Hanafi yang lebih dikenal dengan Ibnu Fara' (wafat 897 H)
  6. Syeikh Kamaluddin Abu Fadhal ath-Tharabulusi (wafat 877 H)
  7. Syeikh Shalahuddin Muhammad bin Jalaluddin Ibn Kamal ad-Dimyathi (wafat 877 H)
  8. Syeikh Syamsuddin Abu Barakat Muhammad bin Muhammad al-Asyhab (wafat 858 H)
  9. Syeikh Najmuddin Muhammad bin Syarafuddin Ibn Arab (wafat 831 H)
  10. Syeikh Syihabuddin Ahmad bin MUhammad al-Bairuti
  11. Syeikh IMaduddin Abu Fida' Ismail bin Ibrahim (wafat 861 H)
  12. Syeikh Syarafuddin Abdul Haq bin Syamsuddin as-Sinbathi (wafat 842 H)

Wafat

Imam Jalal Mahalli wafat pada subuh hari sabtu tahun 864 H bertepatan dengan tahun 1459 M di bulan Ramadhan dan shalati oleh jamaah shalat jenazah yang banyak.
Semoga Allah meridhai beliau dan memberikan taufiq dan hidayah kepada kita untuk mampu mengikuti jejak beliau serta Allah limpahkan barakah beliau ketika kita semua, Aminn.

Cara wudhu' bagi orang yang selalu berhadas

Deskripsi masalah:

Dalam islam segala sesuatu diatur, dan memberikan solusi terhadap pemeluknya, disinilah indahnya islam yang tidak pernah memberatkan pemeluknya, salah satunya pada permasalahan bersuci bagi orang-orang yang keluar hadast yang mana ini dapat menyebabkan runtuhnya wudhu'.

Pertanyaan:

Bagaimana cara berwudhu bagi orang yang selalu berhadats seumpama orang yang selalu menetes kencingnya (beser kencing) dan wanita yang istihadzah ?

Jawaban:

Khusus bagi mereka berdua (orang yang beser kencing dan wanita istihadzah) caranya adalah dengan membersihkan alat kelaminnya, lalu disumbat dengan seumpama kapas yg suci, lalu saat masuk waktu shalat barulah boleh berwudhu untuk mengerjakan shalat baik fardu maupun sunnah.
Dan ketentuan nya khusus utk mereka pula, satu kali wudhu untuk satu kali shalat baik fardu maupun sunnah.
Demikian hal nya dengan tayamum.

- Kitab Fathul Mu'in Juz 1 Hal 36 Cet Haramain

وخامسها: دخول وقت لدائم حدث كسلس ومستحاضة.
ويشترط له أيضا ظن دخوله فلا يتوضأ كالمتيمم لفرض أو نفل مؤقت قبل وقت فعله ولصلاة جنازة قبل الغسل وتحية قبل دخول المسجد وللرواتب المتأخرة قبل فعل الفرض.
لصلاة جمعة ويكفي واحد لهما لغيره ويجب عليه الوضوء لكل فرض كالتيمم وكذا غسل الفرج وإبدال القطنة التي بفمه والعصابة وإن لم تزل عن موضعها.
وعلى نحو سلس مبادرة بالصلاة فلو أخر لمصلحتها كانتظار جماعة أو جمعة وإن أخرت عن أول الوقت وكذهاب إلى مسجد لم يضره.


Yang perlu dijahui ketika jimak

Berikut adalah beberapa hal yang perlu dijauhi ketika jimak :

1. Melakukan senggama ketika wanita berhaid dan nifas

ان اتيان في الحيض يورث الجذام فى الولد

Sesungguhnya melakukan senggama ke dalam dubur akan melahirkan anak yang berpenyakit kusta

2. Melakukan senggama kedalam lobang dubur (pantat)

اما ادخال الذكر فيه فحرام وكانو في الجاهلية يفعلونه

Adapun melakukan senggama ke dalam dubur hukumnya haram dan itu perbuatan kafir jahiliah
Dan para ulama menyatakan janganlah sering-sering melakukan senggama jika karena bukan kerena hajat Sebagaimana kata Ibnu sina

اقلل نكاحك مااستطعت فانه ماء الحياة يصب في الارحام

Sedikitkanlah melakukan senggama Karena menyebabkan kekurangan air dalam tubuh sebab dipancarkan ke rahim.
Maksudnya Adalah ;
Jangan terlalu banyak melakukan senggama karena akan memendek umur atau kurang menyehatkan
Lakukanlah senggama pada ketika perut tidak terlalu lapar dan tidak terlalu kenyang.

Referensi:
U'sratu An - Nisak Hal. 90

Seputaran Tentang adab - Adab Bersenggama

lbm.mudimesra.com
Berikut adalah adab-adab dalam melakukan hubungan suami istri :

1. Dilarang menghadap kiblat sewaktu bersenggama
2. Hendak menutupi badan dengan sehelai kain

وكان المصطفي صلى الله عليه وسلم يغطى راءسه ويغض بصره ويقول للمراءة عليك السكينة
Rasulullah ketika bersenggama menutupi kepalanya dan memejam matanya tidak melihat kemaluan istrinya serta mengucapkan pada istrinya “Wahai Sayangku Tenang lah”

اذا جامع احدكم اهله فلا يتجردان تجرد العيرين الحديث
"Jika hendak bersenggama seseorang deng an istrinya jangan ia seperti keledai"

3. Melakukan muqaddimah jimak dengan melakukan ciuman, sentuhan dan kata kata rayuan, Sebagaimana dalam hadis Rasulullah Bersabda :

لا يقع احدكم على امرأته كما تقع البهيمة ليكن بينكما رسول قيل ما الرسول ؟ قال القبلة والكلام
Jangan setubuhi istri kalian seperti perlakuan binatang tetapi hendaklah diawali dengan perantaraan” Lantas sahabat bertanya "apakah perantaraan wahai Rasulullah", : Rasulullah Bersabda “Ialah dengan ciuman dan kata kata rayuan Indah

4. Makruh melakukan senggama diawal, tengah & akhir bulan karena setan mendatangi dan melakukan jimak pada malam-malam tersebut

5. Menurut Muawiyah Sunnah melakukan senggama hari jumat sebelum pergi jumat
Sebagaimana dalam hadits:

رحم الله من غسل واغتسل
Allah SWT Memberikan rahmat orang yang mandi hari Jum'at. (Termasuk mandi junub karena senggama yang halal)

6. Dan hendaklah melakukan senggama empat hari sekali namun jika tidak lakukanlah menurut hajat masing-masing

Referensi :
-U'sratu An - Nisak Hal. 87-88


donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja