Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Bolehkah perempuan haid memandikan mayat?

Deskripsi masalah:

Salah satu hal yang harus di tajhizkan terhadap jenazah adalah memandikannya, memandikan mayit merupakan fardhu kifayah terhadap orang yang ditinggalkannya, dimana tujuan dari pekerjaan ini adalah untuk membersihkan si mayat yang akan di masukkan ke liang lahat nantinya.

Pertanyaan:

Apakah diperbolehkan terhadap orang yang sedang haid memandikan jenazah?

Jawaban:

Dalam mazhab syafi’ dan hambali dibolehkan terhadap orang berjunub atau berhaid memandikan mayit (tidak dimakruhkan) karena maksud dari memandikan jenazah itu sendiri adalah membersihkan mayit yang bisa dilakukan walau oleh orang berjunub dan haid dan tidak disyaratkan terhadap si ghasil (yang memandikan) harus dalam keadaan suci.

- Hasyiyah Al-bajuri 1/246 :

ولا يكره لنحو جنب غسله

- Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah 39/414-415 :

ذهب الحنفية والشافعية والحنابلة إلى جواز أن يغسل الجنب والحائض الميت بلا كراهة لأن المقصود هو التطهير، وهو حاصل بالجنب والحائض، ولأنه لا يشترط في الغاسل الطهارة وذهب المالكية إلى كراهة غسل الجنب للميت لأنه يملك طهره ولا يكره تغسيل الحائض لأنها لا تملك طهرها . وروي عن أبي يوسف أنه كره للحائض الغسل لأنها لو اغتسلت لنفسها لم تعتد به فكذا إذا غسلت



Mengenal Kitab Tuhfatul Muhtaj

Kitab Tuhfatul Muhtaj ini merupakan kitab fiqh karangan Syaikhul Islam Ibnu Hajar al-Haitami merupakan syarah atas kitab Minhajul Thalibin Imam Nawawi. Sebagaimana telah maklum bahwa kitab Minhaj Imam Nawawi ini merupakan salah satu kitab matan fiqh yang terpopuler semenjak masa Imam Nawawi hingga sekarang. Para ulama berlomba-lomba berkhidmat kepada kitab ini. Ada yang hanya mempelajari dan mengajarinya saja, ada yang juga menghafalnya, ada yang meringkasnya atau mensyarahnya.
Di antara sekian banyak kitab fiqh mukhtashar, kitab Minhaj merupakan kitab yang mukhtashar yang paling banyak di syarah oleh para ulama. Di antara syarah kitab Minhaj yang paling populer adalah kitab Tuhfatul Muhtaj karangan Syeikhul Islam Ibnu Hajar al-Haitami. Tuhfah menjadi kitab fiqh karangan ulama mutaakhirin yang paling populer bersama dengan Nihayatul Muhtaj karangan Imam Jamal Ramli.
Kitab tuhfah merupakan kitab fiqh aliyah yang hanya dipelajari oleh para pelajar yang telah mempelajari kitab-kitab fiqh lain yang lebih kecil. Maka majlis pengajian Tuhfah merupakan majlis para ulama. Maka untuk zaman ini memang jarang para pelajar yang belajar sampai kitab Tuhfah kecuali hanya menelaahnya sendiri saja. KH. Sirajuddin Abbas menceritakan bahwa majlis kitab Tuhfah di Padang yang di asuh oleh KH. Sa’ad Munka di hadiri oleh para ulama-ulama besar Padang seperti Syeikh Abbas Lawas Bukit Tinggi, Syeikh Abdul Wahed Tabek Gadang, Syeikh Sulaiman ar-Rasuli, Syeikh Yahya al-Khalidi Magek Bukit Tinggi dll.

Kitab Tuhfah ini tergolong unik. Beberapa hal yang unik yang perlu kita ketahui dari kita Tuhfahtul Muhtaj antara lain;
  • 1. Selesai dikarang dalam waktu yang relatif singkat.
Kitab Tuhfatul Muhtaj dikarangan oleh Ibnu Hajar dalam waktu yang singkat, beliau memulainya pada 12 Muharram 958 H dan selesai pada 27 Zulqa’dah 958 H, hanya sepuluh bulan, satu masa yang sangat singkat untuk satu karya sebesar Tuhfah. Perbedaan sangat terlihat jauh ketika kita membandingkan dengan syarah Minhaj lain yaitu Nihayatul Muhtaj yang selesai dalam masa sepuluh tahun (mulai bulan Zul qa’dah 963 H/1555 M dan selesai pada malam jumat 19 jumadil akhir 973 H/1565 M) dan Mughni Muhtaj yang selesai dalam jangka waktu empat tahun (959 H – 963 H). Ibnu Hajar dalam kitab Tuhfah banyak mengambil dai hasyiah guru beliau, Syeikh Abdul Haq atas Syarah Minhaj karangan Imam al-Mahalli.
  • 2. Ibaratnya yang sulit

Karena masa penulisan yang sangat cepat, maka ibarat kitab Tuhfah tergolong sangat sulit. Bila kita membandingkan itab Tuhfatul Muhtaj dengan dua syarah Minhaj yang setingkat dengannya, Nihayatul Muhtaj dan Mughnil Muhtaj, maka kita akan dapati perbedaan yang sangat jauh. Di mana ibarat kitab Tuhfah sangat sulit dan rumit. Murid Ibnu Hajar sendiri, Saiyid Umar menyatakan bahwa guru beliau Ibnu Hajar berupaya menulis Tuhfah dengan bahasa yang ringkas karena mengharap mudah di ambil faedah oleh para pelajar, namun ternyata bahasa Ibnu Hajar di anggap terlalu ringkas sehingga baru mudah dipahami setelah menguasai pendapat-pendapat manqul dari ulama mutakaddimin dan kritikan-kritikan ulama mutaakhirin dan istilah-istilah mereka. Karena itu, beberapa para ulama berusaha menuliskan kitab khusus yang membuka tabir istilah-istilah Syeikh Ibnu Hajar dalam kitab Tuhfah. Beberapa kitab yang menjelaskan istilah kitab Tuhfah adalah ‘Uqud ad-Durar fi mushthalahat Tuhfah Ibn Hajar karangan Syeikh Sulaiman Kurdi, Fawaid al-Madaniyahfi man Yufta bi qaulihi min aimmah asy-Syafi’iyah yang kemudian di ringkas oleh ulama asal Malabar, India, Syeikh Ahmad Kuya Ali asy-Syaliyati dengan nama ‘Awaid Diniyah fi Talkhish al-Fawaid Madaniyah juga karagan Syeikh Sulaiman Kurdi, Tazkiratul Ikhwan fi Mushthalah Tuhfah karangan murid Syeikh Sulaiman Kurdi yaitu Syeikh Muhammad bin Ibrahim ‘Aliji al-Qulhani (di cetak oleh penerbit Dar Shalih Mesir, tahun 2017), ulama asal Dangestan, Syarah Khutbah Tuhfah karangan al-Allamah Jarhazi, dan Risalah fi Mushthalahat at-Tuhfah karangan Imam Jarhazi. ini belum termasuk kitab-kitab yang dikarang setelahnya yang umumnya merupakan kutipan dari kitab Syeikh Sulaiman Kurdi dan Tazkirah Ikhwan karya murid beliau, Syeikh Muhammad Ibrahim ‘Alijy.

  • 3. Menjadi rujukan utama ulama mutaakhirin.

Kitab Tuhfah bersama Nihayatul Muhtaj karangan Imam Jamal Ramli merupakan rujukan utama dalam bidang bidang fiqh Mazhab Syafii. Kedua isi kitab ini menghiasai hampir semua kitab-kitab fiqh mazhab Syafii yang dikarang setelahnya. Bahkan sebagian ulama melarang berfatwa menyalahi kedua kitab ini.
Para ulama sepakat bahwa hukum yang di sepakati oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami dan Imam Ramli merupakan hukum yang paling kuat. Namun para ulama berbeda pendapat tentang siapa yang lebih di dahulukan bila terjadi perbedaan pendapat antara Imam Ibnu Hajar al-Haitami dengan Imam Ramli.
Ulama Negri Hadharamaut, Syam, Akrad, Daghistan, kebanyakan ulama Yaman dan beberapa negri lainnya lebih mendahulukan Imam Ibnu Hajar al-Haitami. Sedangkan ulama Negri Mesir atau mayoritas ulama Mesir dan sebagian ulama Yaman lebih mendahulukan pendapat Imam Ramli bahkan masyhur berita bahwa para ulama Mesir telah berjanji tidak akan berfatwa dengan menyalahi pendapat Imam Ramli. Dalam beberapa hal yang berbeda pendapat dengan Imam Ibnu Hajar al-Haitami, Imam Ramli mengikuti pendapat bapak beliau, Imam Syihab Ramli.
Imam Sya`rani ketika menceritakan riwayat Imam Syihab Ramli menerangkan “Allah ta`ala menjadikan para fuqaha` tetap pada pendapat beliau (Syihab Ramli) baik di timur dan barat, di Mesir, Syam dan Hijaz, mereka tidak menyalahi pendapat Imam Syihab Ramli.
Imam Sulaiman Kurdi menyebutkan “mudah-mudahan hal ini terjadi sebelum muncul Imam Ibnu Hajar al-Haitami, manakala muncul Imam Ibnu Hajar al-Haitami, para ulama Nengri Syam dan Hijaz tidak menyalahi pendapat Imam Ibnu Hajar”.
Namun ada juga beberapa ulama Mesir yang lebih mendahulukan Imam Ibnu Hajar, bahkan Syeikh Ali Syabramallisi, ulama Mesir yang memberi hasyiah pada kitab Nihayah Muhtaj karangan Imam Ramli, pada mulanya lebih menekuni kitab Tuhfah Imam Ibnu Hajar al-Haitami. Hingga pada satu malam beliau bermimpi bertemu dengan Imam Ramli, beliau berkata “hidupkanlah kalamku ya Ali, Allah akan menghidupkan hatimu” maka semenjak saat itu Imam Ali Syibramalisi menekuni kitab Nihayah Muhtaj sehingga beliau menulis hasyiah atas kitab Nihayah Muhtaj yang terkenal sampai saat ini. Imam Qalyubi yang juga ulama Mesir (yang memberi hasyiah terhadap kitab Syarh al-Mahalli `ala Minhaj Thalibin) pada beberapa tempat juga lebih mengunggulkan pendapat Imam Ibnu Hajar al-Haitami.
Sedangkan ulama Haramain (Makkah dan Madinah) pada mulanya lebih mengunggulkan pendapat Imam Ibnu Hajar al-Haitami. Kemudian datanglah para ulama Negri Mesir ke Haramain. Mereka menerangkan dan mentaqrirkan pendapat mu`tamad imam Ramli dalam majlis pengajaran mereka sehingga mu`tamad Imam Ramli juga masyhur di Makkah dan Madinah, hingga akhirnya para ulama yang menguasai dan memahami kedua pendapat Imam Ibnu Hajar al-Haitami dan Imam Ramli menerima keduanya tanpa mengunggulkan salah satunya.
Kesepakatan Imam Ibnu Hajar dan Imam Ramli memiliki kedudukan yang kuat dalam Mazhab Syafii, bahkan syeikh Sa`id Sunbul al-Makki mengatakan “tidak boleh bagi seorang mufti berfatwa dengan pendapat yang menyalahi pendapat Imam Ibnu Hajar dan Imam Ramli terutama kitab Tuhfah dan Nihayah walaupun sesuai dengan pendapat keduanya dalam kitab yang lain. Beliau mengatakan “sebagian para ulama dari daerah Zamazimah telah memeriksa kalam kitab Tuhfah dan Nihayah, maka beliau mendapati kedua kitab tersebut merupakan sandaran dan pilihan mazhab Syafii”.
Kitab Nihayatul Muhtaj, setelah selesai dikarang, telah dibacakan dihadapan muallifnya sendiri dari awal hingga khatam dengan di hadiri oleh 400 ulama yang mengkritisi dan mentashhih kitab beliau tersebut sehingga kesahihannya mencapai tingkat tawatur. Sedangkan kitab Tuhfah Ibnu Hajar al-Haitami telah dibacakan dihadapan muallifnya sendiri oleh para ulama para muhaqqiq yang jumlahnya sudah tidak terhitung lagi.
Secara umum pada masalah-masalah yang terjadi perbedaan pendapat antara Imam Ibnu Hajar al-Haitami dengan Imam Ramli, pendapat Imam Ramli lebih ringan dari pada pendapat mu`tamad Imam Ibnu Hajar. Beberapa ulama melakukan pengkajian khusus tentang perbedaan antara Imam Ibnu Hajar al-Haitami dengan Imam Ramli dan membukukannya dalam kitab khusus, antara lain kitab Busyra Karim karangan Syikh Sa’id Muhammad Ba’ashan, kitab Fathul ‘Ali bi Jam’i Bi Jam’i Khilaf Baina Ibn Hajar wa Ramli karangan Syeikh Umar bin Habib Ahmad Bafaraj Ba’alawi (dicetak oleh Dar Minhaj dengan tahqiqan dan ta’liq dari DR. Syifa Hasan Hitu, putri Syeikh Hasan Hitu, pendiri STAI Imam Syafii Cianjur).

  • 4. Banyaknya para ulama yang memberikan hasyiah

Tidak semua kitab-kitab yang besar mendapat perhatian para ulama dengan memberikan hasyiah. Namun kitab Tuhfahtul Muhtaj termasuk kitab yang menarik perhatian para ulama untuk memberi hasyiahnya. Hasyiah-hasyiah tersebut berisi penjelasan terhadap kalam Ibnu Hajar bahkan juga ada kritikan-kritikan terhadap Tuhfah sendiri atau jawaban terhadap kritikan orang terhadap ibadat Tuhfah. Ibnu Hajar sendiri juga memberikan hasyiah terhadap kitab beliau tersebut, dengan nama Thurfatul Faqir bi Tuhfatil Qadir, namun tidak sampai selesai. DR. Saiyid Musthafa bin Hamid Smith dalam mukaddimah munkhtashar Tuhfah karya beliau, mencatat ada sekitar 34 hasyiah terhadap kitab Tuhfatul Muhtaj. Itu tidak termasuk beberapa hasyiah dan ta’liqat ulama Negri Dangestan yang disebutkan oleh Syeikh Muhammad Ghudubiry dalam mukaddimah beliau terhadap tahqiq kitab Tazkiratul Ikhwan karangan Ibnu ‘Alijy yang tidak sempat di catat oleh DR. Mushtafa Smith.

Syeikh Ramadhan al Buthy; Hukum Telponan dengan Tunangan?

Hidup di akhir zaman banyak fitnah yang terjadi. Halal dan haram banyak disepelekan. Dalam hal pergaulan, kita lihat banyak generasi kita yang sudah mengikuti budaya barat. Salah satu hal yang saat ini sering kita temukan adalah saat ketika seorang laki-laki sudah tunangan, ia bagaikan sudah menikah. Bahkan orang tua mereka tidak mencegah mereka lagi untuk berdua-duan.
sebagian orang yang lain, kadang masih mampu menjaga diri untuk tidak bertemu. Namun dengan adanya alat komunikasi saat ini, godaan akan semain besar, mereka bisa berhubungan lewat telpon dan chatingan tanpa harus bertemu. Nah bagaimana hukumnya telponan atau chatingan dengan tunangan? Syeikh Sa’id Ramadhan al-Buthy pernah di tanyakan hal serupa dalam halaman website yang beliau asuh. Berikut nash pertanyaan dan jawaban beliau disertai terjemahannya;

الاتصال بالمخطوبة قبل العقد عليها
هل يجوز للخطيب أن يتصل هاتفيا بخطيبنه أيام الخطوبة ؟ ولكم جزيل الشكر
لا مانع من المحادثة فى الهاتف للخطبية وغيرها إذا كان الخطاب تحقيقا لحاجة مشروعة وبطريقة مذهبة منضبطة والخطيبة كغيرها من النساء ما دام عقد الزواج لم يوجد بعد

Apakah boleh laki-laki yang bertunangan berbicara lewat telepon dengan wanita tunangannya selama dalam masa pertunangan?

Baca juga; Hukum telponan dengan wanita non mahram

Jawaban;

Tidak ada larangan untuk berbicara lewat telpon baik dengan wanita tunangan atau bukan apabila pembicaraan tersebut karena adanya hajat yang dibenarkan oleh syara’ dan dengan jalur terjaga. Wanita tunangan sama seperti wanita lainnya sebelum adanya akad pernikahan.

Kesimpulannya.

Dari jawaban Syeikh Ramadhan al-Buthi tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam hal berbicara wanita tunangan masih sama dengan wanita lainnya. Telponan dengan mereka hanya dibolehkan untuk sekadar keperluan saja dan dengan syarat tidak menimpulkan fitnah. Yang dibolehkan dengan wanita tunangan hanyalah memandang wajah dan telapak tangannya saja, sedangkan menyentuh atau berdua-duan tetap hukumnya adalah haram. Maka ketika ditakutkan terjatuh ke dalam fitnah, segeralah menikah demi menjaga agama kita. Semoga Allah menjaga kita dari fitnah di akhir zaman ini.




Download Audio Tuhfatul Ikhwan fil Ilm Bayan

Salah satu kitab ilmu balaghah yang umumnya menjadi kitab muqarrar (kurikulum) di dayah-dayah di Aceh adalah Kitab Tuhfatul Ikhwan fil Ilmi Bayan karangan Imam Ahmad ad-Dardir (1127 H-1201 H). Kitab ini dipelajari sebelum santri mempelajari kitab Jauhar Maknun. Pembahasan dalam kitab Tuhfatul Ikhwan ini hanya terbatas pada ilmu Bayan saja yang mencakupi masalah majaz, tasybih dan kinayah. Selain itu pembahasan kitab majaz dalam kitab ini hanya dibatasi atas dasar satu pendapat saja, yaitu pendapat kaum. Hal ini menyebabkan kitab ini tidak tebal. Kitab ini disyarah oleh murid Syeikh Ahmad Dardir sendiri, Syeikh Ahmad Shawi (1175 H- 1241 H), pengarang kitab Hasyiah Shawi 'ala Jalalain. Selanjutnya, hasyiah Imam Shawi ini di beri hasyiah lagi oleh Imam Ali bin Husen al-Bulaqi. Selain syarahan Imam Ahmad Shawi kitab Imam Ahmad Dardir ini juga disyarah oleh beberapa ulama lain.
Bagi yang berminat mendengarkan pengajian kitab Tuhfatul Ikhwan fil Ilm Bayan, bisa mendownloadnya pada link di bawah ini, namun kami mohon maaf, karena pengajiannya menggunakan bahasa Aceh. Kitab cetakan yang dijadikan pegangan halaman dalam audio ini adalah cetakan Haramain, Surabaya.

  1. Halaman 1 - 10
  2. Halaman 10 - 12
  3. Halaman 12 - 14
  4. Halaman 14 - 16
  5. Halaman 16 - 19 (khatam)
Atau bisa juga langsung menuju ke www.archie.org 

Untuk file pdf kitab Tuhfatul Ikhwan bisa di download di SINI, sedangkan untuk hasyiah Imam Ahmad Shawi bisa di download di SINI


Fatwa Ulama : Hukum Bekerja Bagi Wanita


Pada era globalisasi ini, wanita yang bekerja untuk membiayai kehidupannya sendiri sudah menjadi hal yang biasa. Dengan adanya emansipasi wanita, maka sudah tidak heran jika banyak wanita yang dapat memenuhi kebutuhannya sendiri. Wanita tidak lagi dianggap sebagai manusia yang lemah dan hanya dapat menggantungkan dirinya pada kaum lelaki. Tidak seperti wanita pada era terdahulu, wanita hanya dapat bersembunyi di belakang punggung lelaki. Walaupun itu telah menjadi hal yang lumrah untuk wanita di era modern ini untuk menitih karirnya, tetapi banyak dijumpai wanita karir yang tidak dapat menyeimbangkan antara karir dan keluarga. Berprofesi sebagai wanita karir merupakan celah paling besar timbulnya dampak negatif dalam rumah tangga. Syaikh Sayyid Abdullah bin Mahfudh al-Haddad pernah ditanyakan tentang hal ini:


س : هل يجوز أن تعمل ولو كانت غير محتاجة للعمل ؟

الجواب : إن الشارع لا يمنعها من العمل في أي وقت و في أي حال . و لكن قواعد الشارع تطلب منها ألا تتعرض للعمل خارج بيتها إلا للحاجة ، بشرط أن تتجنب ما قد ينتج عن الاختلاط بالأجانب ، وخصوصا إذا كانت ذات زوج و أطفال ، فإن عملها المجيد هو خدمة بيتها و تربية أطفالها و رعايتهم و تنشئتهم على الاخلاق الاسلامية الحميدة . فعملها هذا يعدّ جهادا في سبيل الله ، كما أجاب بذلك رسول الله صلى الله عليه وسلم النسوة اللاتي سألنه و قلن له : ان الرجال يجاهدون و يحصلون على الشهادة فما مقابل ذلك للمرأة قال : ( إن مهنة احداكنّ في بيتها تدرك به عمل المجاهدين في سبيل الله ) ، و أورد في (الحلية) عن ابن عمر عن النبي صلى الله عليه و سلم بسند حسن : (المرأة في حملها إلى وضعها إلى فصالها كالمرابط في سبيل الله ، فإن ماتت فيما بين ذلك فلها أجر شهيد) ، و في لفظ آخر عن ابن عمر عن النبي صلى الله عليه و سلم قال : إن للمرأة في حملها الى وضعها الى فصالها من الأجر كالمرابط في سبيل الله ، فإن هلكت فيما بين ذلك فلها أجر شهيد).

أما عن العمل المناسب لها ، فكل عمل يبعدها عن الاختلاط بين الاجانب : كتدريس البنات و الاولاد الصغار فهو أنساب و أسلم . و كذلك الطب إذا كان مختصا بشؤون النساء والأطفال . والله أعلم

Pertanyaan :
Apa hukum bekerja bagi seorang wanita yang kebutuhannya telah dipenuhi oleh suami?

Jawaban :
Syari’ tidak mencegah wanita untuk bekerja kapanpun dan dalam kondisi apapun. Akan tetapi ketetapan syari’ menuntut para wanita agar tidak bekerja di luar rumah. Kecuali karena kebutuhan yang mendesak, dengan syarat ia terhindar dari sesuatu yang dapat menimbulkan bercampur-baur dengan lawan jenis yang ajnabi. Sedangkan bila wanita tersebut merupakan seorang ibu rumah tangga yang memiliki suami dan anak, maka pekerjaan yang paling baik baginya adalah mengurus rumah, mendidik dan menjaga anak-anaknya, serta memperbaiki dan mengajari mereka tentang akhlak-akhlak yang terpuji. Adapun karir wanita yang seperti ini digolongkan ke dalam jihad fi sabilillah. Sebagaimana Nabi saw. pernah menjawab pertanyaan para wanita: “para lelaki, mereka berjihad dan mereka memperoleh gelar syahid, lalu apa yang setara dengan jihad bagi kami perempuan?” Rasulullah saw bersabda: “karir kalian adalah di dalam rumah, kalian akan memperoleh amalan para mujahidin yang berperang di jalan Allah.” Dan telah warid satu hadits yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar dari Rasulullah saw dengan sanad yang hasan: “Wanita yang mengandung hingga melahirkan, ia sama seperti seseorang yang sedang berjuang di jalan Allah, bila ia meninggal dalam kondisi demikian maka ia memperoleh fahala orang yang mati syahid.”
Dalam lafadz yang lain diriwayatkan dari Ibnu Umar dari Nabi saw bersabda: bahwasanya wanita yang sedang mengandung hingga ia melahirkan dan hingga selesai fahalanya setara dengan fahala orang yang berjuang di jalan Allah, jika ia meninggal dalam kondisi sedang melahirkan, maka baginya fahala syahid.
Adapun karir yang pantas dan sesuai bagi seorang wanita adalah pekerjaan yang terhindar dari bercampur-baur dengan lawan jenis yang ajnabi: seperti mengajar anak perempuan, anak laki-laki yang masih kecil, pekerjaan yang demikian lebih sesuai dan lebih selamat bagi seorang perempuan. Dan begitu pula wanita yang berkarir sebagai dokter spesialis wanita dan anak-anak.

Kesimpulan :
Seorang wanita tidak dituntut bekerja di luar rumah kecuali karena kebutuhan yang mendesak, itupun baru dibolehkan bila terhindar dari bercampur baur dengan lawan jenis yang ajnabi. Pekerjaan yang paling baik bagi seorang wanita dan telah di akui oleh Nabi saw yaitu mengurus rumah dan suami, serta menjaga dan mendidik anak-anaknya tentang akhlak yang terpuji.

Wallahu a’lam.

14 Perbedaan Hadist Qudsi dan Al-Quran

Hadist Qudsi adalah hadist yang maknanya diriwayatkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Allah, sementara redaksinya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan inilah yang membedakan antara hadis qudsi dengan al-Quran. Dimana al-Quran adalah kalam Allah, yang redaksi berikut maknanya dari Allah ta’ala. Namun perbedaan keduanya bukan hanya ini saja, ada 14 perbedaan antara keduanya yang dijelaskan oleh Saiyid ‘Alawi bin ‘Abbas al-Maliki al-Hasani, ayahanda dari Abuya Saiyid Muhammad al-Maliki Rahimahullah.


  1. Hadist qudsi tidak mengandung nilai mu’jiz (dianggab sebagai mukjizat) karena itu Allah SWT tidak menjadikan membaca hadist Qudsi sebagai ibadah, sedangkan Al-Quran mengandung nilai mu’jiz dan membacanya dianggab sebagai ibadah.
  2. Orang yang sedang berhadast kecil tidak dilarang (tidak haram) menyentuh hadist qudsi, namun haram menyentuh Al-quran.
  3. Orang yang sedang berjunub (berhadast besar) tidak haram membaca hadist Qudsi tetapi haram membaca Al-Quran.
  4. Hadist Qudsi boleh diriwayatkan maknanya saja (al-riwayah bi al-ma’na) bagi orang yang paham dan mampu meriwayatkannya dengan lafadz yang tidak mengubah makna, sedangkan untuk  Al-Quran tidak boleh.
  5. Hadist Qudsi tidak boleh dibaca di dalam shalat, bahkan membatalkan shalat, sebaliknya dengan al-quran.
  6. Hadits Qudsi tidak dinamakan sebagai Al-Quran.
  7. Orang yang membaca hadist Qudsi tidak diberikan pahala yang sama seperti orang yang membaca Al-Quran, namun masih diberikan pahala membaca bagian dari ilmu syar`iyah saja.
  8. Hadist Qudsi tidak ada larangan menjualnya dan juga dimakruhkan secara ittifaq ulama, bahkan boleh, sedangkan Al-Quran ada khilafiyah para ulama tentang hukum menjualnya.
  9. Bagian dari hadist Qudsi tidak dinamakan ayat dan surat secara ittifaq ulama.
  10. Kedudukan dadist Qudsi adalah zhanny, karena hadist Qudsi diriwayatkan secara ahad, maka orang yang ingkar terhadap hadist Qudsi tidak dianggab kafir berbeda dengan Al-Quran yang qath'i dan kufur orang yang mengingkarinya.
  11. Hadist Qudsi kebanyakan maknyanya mengandung nasehat-nasehat dan kalam hikmah bukan hukum, berbeda dengan Al-Quran yang juga banyak berisi hukum-hukum.
  12. Hadist Qudsi dinisbahkan kepada Allah secara insya' karena Allah SWT yang mengucapkannya, dan dinisbahkan kepada Nabi Muhammad SAW secara ikhbar (menyampaikan) karena Nabi Muhammad SAW adalah orang yang menyampaikannya dari Allah SWT, berbeda dengan Al-Quran yang tidak di nisbahkan dan diidhafahkan kepada selain Allah SWT.
  13. Makna hadist Qudsi berasal dari Allah SWT secara mutlak yang diwahyukan melalui ilham atau mimpi atau juga melalui malaikat, sedangkan lafadznya berasal dari nabi Muhammad SAW ataupun dari malaikat, sedangkan Al-Quran, lafadz dan maknanya berasal dari Allah SWT yang disampaikan melalui wahyu yang nyata melalui malaikat.
  14. Hadist Qudsi diwahyukan oleh Allah SWT melalui ilham dan mimpi dan dituang kedalam relungan hati Rasulullah dan juga melalui lisan malaikat, sedangkan Al-Quran tidak diwahyukan kepada nabi Muhammad SAW kecuali melalui perantara malaikat.

Feferensi;
Kitab Majmu’ Fatwa wa al-Rasail, Sayyid ‘Alawi bin ‘Abbas al-Maliki al-Hasani, cet. Dar al-Kutub al-‘Alamiyah 1971, halaman 222


Fatwa Ulama : HukumTelponan Lawan Jenis Yang Bukan Mahram

Semakin dunia ini berkembang, maka teknologi juga akan terus berkembang menjadi semakin canggih, termasuk dibidang komunikasi. Jarak bukan lagi penghalang dalam berkomunikasi. Semua orang dapat berkomunikasi sekalipun tidak saling bertemu secara fisik. Telepon salah satunya, telepon adalah alat komunikasi yang masih digunakan hingga saat ini, sekalipun sudah ada media komunikasi lain yang lebih modern, efektif dan menyenagkan bahkan dengan biaya yang lebih murah. Namun tetap saja, telpon adalah komunikasi yang paling sering digunakan, karena dapat memberikan informasi secara langsung dan tak butuh waktu lama untuk menulis. Namun terkadang, pemakaian telepon itu sendiri juga tak terlepas dari hal hal yang tidak dibenarkan dalam agama, salah satunya adalah berbicara dengan lawan jenis yang bukan mahramnya.oleh karena itu Sayyid Abdullah bin Mahfudz al-haddad, pernah ditanyakan tentang hal ini. dalam kitabnya fatawa Tahummu al-Mar`ah beliau menjawab:

حكم تحدث الشاب مع الأجنبية عبر الهاتف
س : ما حكم لو قام شاب غير متزوج وتكلم مع شابة غير متزوجة في التلفون في غير حاجة؟
الجواب : اذا كان الإتصال بالتلفون لغير حاجة فإنه ينتج غيبة. وقد نهينا عن مواضع الريب قال تعالى ولكن لا تواعدوهن سرا الا ان تقولوا قولا معروفا البقرة : 235 و قد جاء هاذ في المعتدات ولكن يحسب حمله على غيرهن أيضا لمنع وخوف المواعدة السرية التي تنتخ عنها ما يحرم او يستقبح ، فإن كان لحاجة لا بأس ، كالحديث مباشرة في غير خلوة محرمة ، فإن كان لمجرد التلذذ فهو المحرم ، لأن الفتنة فيه أكبر و أعظم. والله أعلم.

Pertanyaan : bagaimana hukumnya seorang alki laki yang belum menikah berbicara lewat telepon dengan wanita yang belum menikah tanpa adanya hajat?

Jawab : Jika lawan jenis yang bukan mahram berhubungan melalui telepon tanpa ada hajat apapun maka akan menimbulkan kecurigaan dan fitnah. Dan kita dilarang untuk mendekat terhadap tempat-tempat yang dapat menimbulkan kecurigaan dan fitnah. 

Allah ta’ala berfirman dalam surat Al-Baqarah Ayat 150 :
… وَلكِنْ لا تُواعِدُوهُنَّ سِرًّا إِلاَّ أَنْ تَقُولُوا قَوْلاً مَعْرُوفاً ….
Artinya: Akan tetapi janganlah kamu Mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) Perkataan yang ma'ruf.

Ayat ini memang konteksnya sedang membicarakan tentang wanita wanita yang sedang beriddah namun
ayat ini juga dapat dijadikan sebagai dalil dan maknanya meluas kepada penerapan makna kepada terhadap wanita wanita selain wanita yang beriddah, untuk mencegah dan mennghindari laki-laki memberi janji secara rahasia untuk menikahi seorang wanita karena akan menimbukan sesuatu yang diharamkan atau sesuatu yang keji dan buruk.

Namun jika berbicara melalui telepon karena terdapat suatu hajat maka hal ini diperbolehkan, seperti mengobrol secara langsung dalam kondisi tidak melakukan khalwat yang diharamkan. Namun jika tujuan berbicara melalui telepon hanya untuk menikmati dan memuaskan nafsu maka ini tergolong kedalam perbuatan haram, karena fitnah dari itu semua adalah fitnah yang besar dan keji. 

Kesimpulan : dari pemaparan beliau diatas, dapat disimpulkan bahwa berbicara lewat telepon sama seperti berbicara langsung, maka dapat diketahui bahwa hukum lawan jenis berbicara melalui telepon tanpa adanya keperluan adalah haram. Namun bila adanya keperluan dan tidak adanya khalwat maka hukumnya boleh. 

Wallahu a`lam.


AIBKAH JIKA SUAMI MENGALAMI EJAKULASI DINI?

Deskripsi :

Saat ini sangat banyak perceraian yang terjadi bukan karena kemiskinan dan ketidak cukupan dalam rumah tangga, melainkan karena hubungan pribadi antara suami istri yang tidak sesuai harapan. Seperti istri merasa tidak puas karena penyakit impoten, ejakulasi dini dan lain sebagainya yang dialami oleh suami.
Ternyata yang menjadi tolak ukur kebahagiaan dalam sebuah rumah tangga bukan hanya pada harta semata, tetapi kenyamanan juga merupakan suatu hal yang sangat menentukan tentramnya sebuah rumah tangga. Termasuk juga hubungan yang dijalani oleh setiap pasangan suami istri.
Dalam konteks fiqih, ejakulasi dini biasa disebut dengan istilah ‘idzyauth atau juga 'adzwath yaitu orang yang air maninya keluar lebih dahulu sebelum pertemuan dua alat kelamin, sehingga sang istri tidak dapat merasakan ni’mat bersetubuh. Ejakulasi dini merupakan fenomena psikologis. Ejakulasi dini merupakan ketidak sempurnaan yang bisa menimpa lelaki manapun semenjak dahulu kala.  Ejakulasi dini bukanlah penyakit baru. Hanya istilahnya saja yang kini sering terdengar agak lebih keren.

Pertanyaan :

Bagaimana pandangan syara’ tentang ejakulasi dini? Apakah ejakulasi dini tergolong ke dalam salah satu ‘aib dalam pernikahan, sehingga boleh dijadikan sebagai alasan oleh istri untuk mengajukan cerai (fasakh nikah)?

Jawaban :
1.    Dalam pandangan islam berdasarkan pendapat yang mu’tamad ejakulasi dini bukanlah merupakan aib yang membolehkan istri untuk mengajukan cerai (fasakh).
Dalam kitab Tuhfatul Muhtaj diterangkan bahwa mereka yang terbiasa dengan ejakulasi dini haruslah berusaha untuk menjadi lebih baik. Karena pada hakikatnya ejakulasi dini adalah penyakit yang bisa disembuhkan. Entah dengan berolah raga ataupun mengatur pola makan dan lain sebagainya. Dengan demikian keutuhan rumah tangga masih layak dan bisa dipertahankan.

2.    Berbeda dengan kasus impoten ('unnah) sebagai penyakit yang sangat susah sekali disembuhkan
(المرض المأيوس منه زواله ) maka bagi seorang perempuan berhak mengundurkan diri sebagai seorang istri. Artinya jika ternyata seorang suami terbukti impoten (maksudnya impoten yang terjadi pada awalnya) maka seorang istri berhak memilih antara meneruskan perkawinannya atau membatalkannya. Akan tetapi ada baiknya bagi istri bersabar barang setahun barangkali ada sebab gangguan psikologis dari organ lain yang diharapkan bisa sembuh. Akan tetapi jika antara suami istri tersebut telah pernah bersetubuh walau hanya sekali, maka tidak dibolehkan lagi untuk mengajukan cerai (fasakh).


Referensi :
Kitab Tuhfahtul Muhtaj, Jilid 7, Halaman 406, Cet, Darul Fikri

وخرج بهذه الخمسة غيرها كالعذيوط بكسر أوله المهمل وسكون ثانيه المعجم وفتح التحتية وضمها ويقال عذوط كعتور، وهو فيهما من يحدث عند الجماع وفيه من ينزل قبل الإيلاج فلا خيار به مطلقا على المعتمد وسكوتهما في موضع على أن المرض المأيوس من زواله ولا يمكن معه الجماع في معنى العنة وإنما هو لكون ذلك من طرق العنة فليس قسما خارجا عنها ونقلهما عن الماوردي أن المستأجرة العين كذلك ضعيف لكن لا نفقة لها سيأتي الفسخ بالرق والإعسار ولا يشكل ثبوت الخيار بما ذكر مع ما مر أنه شرط للكفاءة وأن شرط الفسخ الجهل به لأن الفرض أنها أذنت في النكاح من معين أو من غير كفؤ فزوجها الولي منه بناء على أنه سليم فإذا هو معيب فيصح النكاح وتتخير هي وكذا هو كما يأتي (وقيل إن وجد) أحدهما (به) أي الآخر (مثل عيبه) قدرا ومحلا وفحشا (فلا) خيار لتساويهما حينئذ والأصح أنه يتخير وإن كان ما به أفحش لأن الإنسان يعاف من غيره ما لا يعاف من نفسه والكلام في غير المجنونين المطبق جنونهما لتعذر الفسخ حينئذ ولو كان مجبوبا بالباء وهي رتقاء فطريقان لم يرجحا منهما شيئا والذي اعتمده الأذرعي والزركشي أنه لا خيار وهو أوجه من اعتماد غيرهما ثبوته.




Tanda-Tanda Keikhlasan


Ikhlas adalah ruh amalan bagi setiap umat muslim, namun jika seseorang banyak melakukan amalan akan tetapi belum mendapatkan apa yang diinginkan, ketahuilah itu ada masalah dalam hati kecilnya,  salah satu masalah ialah tidak ikhlas atau ria mengharap pujian manusia dan keuntungan dunia,
Setiap sesuatu itu ada tanda  maka ikhlas juga ada tandanya sebagaimana dinyatakan oleh ulama sufi Zinnun al-Misri kutipan dalam kitab Tibyatul fi Adabi Hallati Quran halaman 22-23 karya Imam Nawawi.
وعن ذي النون رحمه الله تعالى قال ثلاث من علامات الإخلاص استواء المدح والدم من العام نسيان رؤية العمل في الأعمال اقتضاء ثواب الأعمال في الأخر

Tiga Tanda Orang Beramal  Dengan Ikhlas
  1. Dipuji atau dicela manusia baginya tetap sama saja
  2. Tidak mengingat-ingat amalan yang telah ia dikerjakan
  3. Mengharap balasan amalannya di akhirat nantinya 

Adab Seorang Guru ketika Hendak Mengajar

Sudah sepantasnya seorang guru dalam mengajarkan ilmunya mempunyai niat dan tujuan untuk melindungi para muridnya dari siksa api neraka. Sementara tugas kedua orangtua menyelamatkan anak-anaknya dari kesengsaraan hidup di alam dunia ini. Tugas seorang guru lebih berat daripada kedua orangtua. Bahkan, seorang guru adalah ayah yang sejati bagi murid-muridnya. Jika seorang ayah menjadi sebab atas keberadaan anak-anaknya pada kehidupan dunia yang fana’ ini, maka seorang guru justru menjadi sebab bagi bekal kehidupan murid-muridnya yang kekal di akhirat nanti.

Guru yang dimaksudkan di sini adalah guru yang mengajarkan ilmu-ilmu tentang akhirat (ukhrawi), atau ilmu-ilmu tentang dunia (duniawi) dengan tujuan keabadian negeri akhirat. Seorang guru dinilai membinasakan diri sendiri dan juga murid-muridnya jika ia mengajar hanya demi kepentingan dunia ini semata. Maka tentu untuk mencapai ini semua dibutuhkan adab bukan hanya dari murid saja, tetapi juga dari seorang guru. 

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh seorang guru:

1. Bersuci dari hadats besar atau kecil.
2. BerSuci dari kotoran walau bukan najis.
3. Memakai thib (wewangian).
4. Memakai pakaian yang paling nagus, yang layak menurut penduduk zamannya.
5. Semuanya diniatkan untuk membesarkan ilmu dan syari'at.

Dikisahkan bahwa Imam malik ketika datang manusia untuk meminta hadis, beliau mandi, memakai wangi-wangian, memakai pakaian bagus dan meletakkan ridak di atas kepala kemudian duduk di atas semacam pelaminan (tmpat yang tinggi) dan senantiasa mengasapi ruangan dengan wangi-wangian dan beliau berkata "aku mencintai untuk mengagungkan hadis rasulullah", kemudian beliau salat istikharah (jika bukan dalam waktu makruh).

(Nb. Melakukan seperti yang dilakukan imam malik Harus betul-betul dengan niat yang lurus. kalo tidak jangan, karna syaithan punya banyak cara untuk menyesatkan)

6. Berniat nasyrul ilmi, mengajarkan ilmu, menyiarkan faedah-faedah syara', menambah ilmu, menampakkan kebenaran, mengembalikan yang haq, berkumpul dalam zikir allah, meniatkan keselamatan kepada saudara-saudaranya dan berdoa bagi pendahulu yang shalihin.

7. bila keluar rumah berdoa dengan doa

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلِّ أَوْ أُضَلَّ أَوْ أُزِلَّ أَوْ أُزَلَّ أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ، عز جارك وجل ثناؤك ولا إله غيرك ثم يقول: بسم الله وبالله، حسبي الله توكلت على الله، لا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم اللهم اثبت جناني وأدر الحق على لساني.

" ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu daripada bahwa aku sesat atau disesatkan dan daripada bahwa aku menzalimi atau dizalimi dan daripada berbuat bodoh atau dibodohi. maha mulia perlindungan dan sanjungan engkau dan tidak ada tuhan selain engkau. Bismillah cukup bagiku allah, Teguhkan hatiku dan tampakkan kebenaran atas lidahku "

Dan terus mengingat allah sampai ketempat pengajian. Bila sudah sampai, memberi salam bagi yang hadir dan salat 2 raka'at , jika dalam masjid maka mutlak sunnah. Kemudian berdo'a memohon taufiq, i'anah pemeliharaan, duduk menghadap kiblat jika mungkin dengan penuh hormat, tenang dan tawadhuk dengan duduk bersila dsb daripada duduk yang tidak dimakruhkan dari segala bentuk duduk.

Jangan duduk iq'ak (memeluk lutut) dan jangan duduk seperti orang yang bersiap untuk bangun dan jangan mengangkat salah satu kaki diatas yang kaki yang lain. Dan tidak menjulur kaki tanpa ozor dan jangan meletakkan tangan di pinggang atau belakang punggung dan menjaga badan dripada merangkak dan pindah dari tempatnya.

Dan menjaga dua tangan dari bermain main. Dan jangan menyilangkan jari tangan dan mnjaga mata dari mengitarkan pandangan tanpa hajat.
Dan menghindari banyak senda gurau dan banyak tawa krna banyak tawa mengurangi wibawa dan kehormatan. sebagaiamana kata orang "siapa bercannda, akan diremehkan, dan siapa memperbanyak sesuatu akan dikenal dengan sesuatu tersebut".

Dan jangan mengajar ketika lapar dan haus, susah, marah, ngantuk, cemas, dingin yang bersangatan, dan panas yang menggaggu. Karena tidak mungkin memaksimalkan fikiran.


Wallahu a'lam bisshawab.......



الفصل الثاني
في آداب العالم في درسه
وفيه اثنا عشر نوعًا:
الأول: إذا عزم على مجلس التدريس تطهر من الحدث والخبث وتنظف وتطيب ولبس من أحسن ثيابه اللائقة به بين أهل زمانه قاصدًا بذلك تعظيم العلم وتبجيل الشريعة.
كان مالك رضي الله عنه إذا جاءه الناس لطلب الحديث اغتسل وتطيب ولبس ثيابًا جددًا ووضع رداءه على رأسه ثم يجلس على منصة ولا يزال يبخر بالعود حتى يفرغ، وقال: أحب أن أعظم حديث رسول الله - صلى الله عليه وسلم -.
ثم يصلي ركعتي الاستخارة إن لم يكن وقت كراهة وينوي نشر العلم وتعليمه وبث الفوائد الشرعية وتبليغ أحكام الله تعالى التي اؤتمن عليها وأمر ببيانها والازدياد من العلم وإظهار الصواب والرجوع إلى الحق والاجتماع على ذكر الله تعالى والسلام على إخوانه من المسلمين والدعاء للمسلمين وللسلف الصالحين.
الثاني: إذا خرج من بيته دعا بالدعاء الصحيح عن النبي - صلى الله عليه وسلم - وهو: اللهم إني أعوذ بك أن أضل أو أضل، أو أزل أو أزل، أو أظلم أو أظلم، أو أجهل أو يجهل علي، عز جارك وجل ثناؤك ولا إله غيرك ثم يقول: بسم الله وبالله، حسبي الله توكلت على الله، لا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم اللهم اثبت جناني وأدر الحق على لساني.
ويديم ذكر الله تعالى إلى أن يصل إلى مجلس التدريس فإذا وصل إليه سلم على من حضر وصلى ركعتين إن لم يكن وقت كراهة فإن كان مسجدًا تأكدت الصلاة مطلقًا، ثم يدعو الله تعالى بالتوفيق والإعانة والعصمة.
ويجلس مستقبل القبلة إن أمكن بوقار وسكينة وتواضع وخشوع متربعًا أو غير ذلك مما لم يكره من الجلسات، ولا يجلس مقعيًا ولا مستوفزًا ولا رافعًا إحدى رجليه على الأخرى، ولا مادًا رجليه أو إحداهما من غير عذر، ولا متكئًا على يده إلى جنبه وراء ظهره.
وليصن بدنه عن الزحف والتنقل عن مكانه ويديه عن العبث والتشبيك بها، وعينيه عن تفريق النظر من غير حاجة، ويتقي المزاح وكثرة الضحك فإنه يقلل الهيبة ويسقط الحشمة كما قيل: من مزح استخف به ومن أكثر من شيء عرف به.
ولا يدرس في وقت جوعه أو عطشه أو همه أو غضبه أو نعاسه أو قلقه، ولا في حال برده المؤلم وحره المزعج؛ فربما أجاب أو أفتى بغير الصواب، ولأنه لا يتمكن مع ذلك من استيفاء النظر.

تَذْكِرَةُ السَّامِعِ والمُتَكَلِّم في أَدَب العَالِم والمُتَعَلِّم
للشيخ العالم بدر الدين أبو عبد الله
محمد بن إبراهيم بن سعد الله
ابن جماعة الكناني

donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja