Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Istilah istilah kitab Minhaj ath-Thalibin karangan Imam Nawawi

Kitab Minhajuth ThalibinSalah satu kitab mukhtashar dalam bidang ilmu fiqih dalam mazhab Syafii yang popular adalah kitab Minhajuth Thalibin karangan Imam Nawawi. Kitab ini merupakan ringkasan dari kitab al-Muharrar karangan Imam ar-Rafii. Imam Rafii di kenal sebagai ulama yang pertama sekali melakukan pentarjihan dari beberapa pendapat dalam mazhab yang telah ada baik dari pendapat Imam Syafii sendiri atau dari para Ashhabil wujuh. Kemudian hal tersebut di lanjutkan oleh Imam Nawawi dengan ada beberapa penambahan-penambahan istilah baru dari Imam Nawawi

Alasan Imam Nawawi meringkas kitab al-Muharrar adalah karena kitab tersebut merupakan sebuah kitab yang penting sebagai pegangan bagi mufti dan pelajar Mazhab Syafii, namun bentuknya agak tebal sehingga menyulitkan kebanyakan orang untuk menghafalnya. Atas dasar itulah Imam Nawawi meringkas kitab al-Muharrar. Walaupun merupakan ringkasan, kitab al-Minhaj tidaklah mengurangi makna yang terkandung dalam al-Muharrar. Imam Nawawi berhasil meringkas kitab Muharrar dengan ukuran setengah lebih sedikit.
Selain meringkasnya, Imam Nawawi juga memberikan beberapa tambahan dalam kitab Minhaj tersebut yang beliau sebutkan sebagai “nafais mustjadat”.

Beberapa Nafais Mustajadat yang merupakan tambahan Imam Nawawi adalah:
  1. Menyebutkan kait-kait pada beberapa masalah yang tidak di sebutkan oleh Imam Rafii dalam kitabnya al-Muharrar karena beliau padai kait tersebut di sebutkan dalam kitab yang lebih besar.
  2. Menyebutkan pendapat kuat pada sekitar lebih kurang 50 tempat, sedangkan hukum yang Imam Rafii sebutkan pada masalah tersebut bukan berdasarkan pendapat yang kuat.
  3. Menggantikan lafadh-lafadh yang gharib dan yang menimbulkan pemahaman keliru yang ada dalam kitab al-Muharrar dengan lafadh lain yang lebih terang maknanya dan lebih ringkas.
  4. Menerangkan pendapat dari satu masalah baik pendapat qaul (pendapat Imam Syafii) dan wajah (pendapat Ashhabil Wujuh), thariq, nash serta menerangkan martabat khilafnya masing-masing. Berbeda dengan Imam Rafii kadang-kadang menyatakan tentang kedudukan suatu khilaf apakah berasal dari qaul atau dari wajah, kadang beliau mengatakan Azhar Wajhain atau Ashah Qaulain namun kadang juga hanya menyebutkan Azhar atau Ashah saja tanpa ada keterangan apakah berasal dari wajah atau qaul.
  5. Beberapa pembahasan-pembahasan tambahan yang bagus yang sebelumnya tidak ada dalam kitab Muharrar. Imam Nawawi menandai masalah yang beliau tambahkan ini pada awalnya di muali dengan kalimat “qultu” dan di akhiri dengan “Wallhu A`lam”. Penamakaian kata tersebut kadang juga beliau gunakan pada saat mengistidrak tarjih Imam Rafii.
  6. Ada beberapa lafadh yang penting yang Imam Nawawi tanbahkan dalam beberapa pembahasan.

Dalam menerangkan qaul dan wajah serta martabat khilaf Imam Nawawi menggunakan istilah-istilah baru yang dari istilah tersebut dapat di ketahui bahwa pendapat tersebut apakah pendapat Imam Syafii atau pendapat Ashabil Wujuh serta dapat di ketahui bagaimana kedudukan muqabilnya, apakah kuat juga atau tidak.
Istilah-istilah Imam Nawawi tersebut adalah:
  1. Al-Adhhar
  2. Al-Masyhur
  3. Al-Ashah
  4. Ash-Shahih
  5. Al-Mazhab
  6. An-Nash
  7. Al-Jadid
  8. Al-Qadim atau fi Qaul Qadim
  9. Qila
  10. Fi Qaul
Penjelasan lebih lanjut tentang istilah-istilah tersebut akan kami paparkan satu persatu dalam tulisan selanjutkan. Semoga Allah memenuhi hajat kami ini. Amiin.

Wazifah Abuya Muda Wali al-Khalidy an-Naqsyabandi al-Asyi karangan Abu Keumala

Berikut ini kami sajikan wazifah atau rutinitas sehari-hari Abuya Muda Wali al-Khalidi yang di tulis oleh satu satu murid beliau, Tgk. Syihabuddin yang lebih di kenal dengan panggilan Abu Keumala. Tulisan ini kami ambil dari salah satu anak Abu Keumala yang juga merupakan salah satu guru di LPI MUDI MESRA yang kemudian melanjutkan pendidikan ke Negri Yaman dan saat ini sudah mendirikan pesantren di propinsi Sumatra Utara. Tulisan ini diketik kembali oleh salah satu guru LPI MUDI yang juga merupakan salah satu anggota LBM MUDI mesra saat ini, pada tahun 2009 pada saat ia bertugas mengajar di Dayah Ihyaul Ulum al-Aziziyah.

MUQADDIMAH
Abu Keumala
Penulis Wazifah Abuya
Abuya Muda Wali al-Khalidy
Abuya Muda Wali
Lahirnya wazifah Abuya yang sangat mulia ini kedalam sebuah bentuk yang berasal dari permintaan adinda Prof. DR. H. Muhibbuddin Waly (anak abuya sendiri), Alhamdulillah saya terima permintaannya dengan menulis wazifah-wazifah Abuya yang dimaksud, sepanjang yang saya ketahui dan yang saya lihat selama saya mendampingi Abuya di Darussalam Labuhan Haji

Saya menyadari bahwa wazifah Abuya yang saya uraikan ini hanyalah sebagiannya saja, sedangkan wazifah lathifah yang lengkap dan sempurna yang ada pada diri pribadi Abuya yang mulia tidak mungkin dapat diliputi keseluruhannya oleh sebuah pena yang pendek lagi kecil dan tintanya yang sedikit serta waktunya yang terbatas pula.

Semoga dengan adanya tulisan tentang wazifah Abuya ini dapat kiranya dimanfaatkan oleh murid murid Abuya pada umumnya dan oleh anak cucu Abuya pada khususnya, apalagi anak cucu yang tidak pernah bermuwajjahah (bertatap muka) denagn Abuya.
Jika uraian ini sejalan dengan apa yang dimaksud, maka saya ucapkan Alhamdulillah dan jika tidak, saya ucapkan Asta`firullah.

Akhirnya saya menghimbau marilah kita semua mengikuti jejak langkah sesuai dengan kemampuan yang ada pada kita masing – masing Insya Allah.

Medan, 25 November 1997
Wassalam bil ma`arif
H.Syihabuddin Syah (TGK.Keumala)

WAZHIFAH ABUYA

HARI AHAD
Setelah fajar terbit, Abuya sudah berada di dalam Mushallanya yang terletak dalam Baitul Taklif untuk mempersiapkan diri menghadapi Shalat Shubuh. Setelah masuk waktu beliau melaksanakan Shalat berjama`ah dengan murid–murid laki-laki dan perempuan yang memang sudah menunggu sebelumnya .
Seusai Shalat Shubuh dan Wirid yang biasanya dilakukan dan do`anya, jama`ah yang mengikuti Abuya meninggalkan mushalla menuju kepada kegiatannya masing-masing. Sedangkan Abuya masih tetap duduk di mushallanya menghadap kiblat.

Wirid Abuya
Disinilah Abuya mulai berwirid khusus yang mengandung do`a dan munajat, tasbih, dan taqdis, tahmid, tahlil dan takbir. Selain itu dirangkai pula dengan bermacam–macam bentuk bacaan Shalawat kepada baginda Rasulullah SAW. Dalam wirid ini juga, Abuya merangkaikan pula dengan berbagai Hizbul Auliya antara lain Hizbun nashar, Hizbul bahar (Asy Syazili) Hizbun Nawawy, Hizbul al-ustad Al Bayyuni, Al Jaljalud dan Hizbun lainnya.

Abuya mengucap zikir, doa, dan munujat ini dengan suara sirriyah dan jahriyah yang memilukan hati bagi barang mukmin yang mendengarkanya. Abuya mengucapkan semua zikir ini diikuti oleh seluruh anggota tubuhnya ikut bergerak seirama dengan suaranya dan sesuai dengan makna dan maksud munajat yang diucapkan, yang menyangkut dengan kasih sayang serta rahmat Allah dan yang menyangkut dengan amarah serta siksa Allah kepada orang kafir dan maksiat kepadaNYa. Menurut kebiasaan yang kami perhatikan, setiap harinya Abuya mengakhiri wiridnya dengan doa pada jam 10.00 siang .

BUSTANUL MUHAQQIQIN
Setelah selesai berwirid Abuya mempersiapkan diri dengan sarapan pagi dan mengenakan pakaian sebagai guru besar untuk menuju ruangan Bustan (ruangan Abuya mengajar) yang diiringi oleh beberapa orang khadam. Sesampai Abuya di pintu ruangan, semua murid yang telah menungggu di ruangan berdiri pada tempatnya masing–masing sehingga Abuya duduk diatas kursinya. lalu satu demi satu murid menjabat tangan Abuya dan kembali ketempatnya. Perlu diketahui bahwa kitab– kitab pelajaran yang akan diajarkan sudah tersedia diatas meja Abuya, yang terdiri dari:
  1. Kitab Tuhfatul Muhtaj (Al Fiqh)
  2. Kitab Jam`ul jawami`( ushul Fiqh)
  3. Kitab Syuruh Talkhis(Al Ma`ani)
  4. Kitab Asy Syamsiyah (Mantiq)
  5. Kitab Hikam Ibn `Athaillah (At Tauhid Wat Tashawuf)
Dengan penuh khidmat Abuya mulai mengajar dengan bertanya halaman kitab yang bakal Abuya ajarkan dan kalimat di mulai bacaanya.

Ruangan Bustan berukuran ± 8×9 m, di dalamnya paling depan terletak sebuah meja besar 1,5x1 m dan kursi pusing khusus untuk Abuya, dan didepan meja Abuya terletak beberapa meja kecil dan kursi yang tersedia untuk murid- murid.

Abuya mulai mengajar
Abuya mengajar dengan 2 metode;
  1. Abuya membaca dan menjelaskan seperlunya, kemudian Abuya meminta kepada murid–muridnya untuk mempersoalkan (i`tiradh) atas masalah yang sedang dibicarakan.
  2. Murid yang membacakan serta menjelaskan, kemudian diminta kepada murid–murid yang lain untuk mengi`tiradhkannya atas masalah yang sedang dibacakannya itu termasuk Abuya sendiri.

Akhir i`tiradh semua masalah tersebut, Abuya sendiri yang mengatakan cukup. Cara Abuya mengajar demikian, khusus pada kitab Tuhfatul Muhtaj, sedangkan kitab- kitab yang lain Abuya baca sendiri dan memberi penjelasan yang cukup.

Demikianlah majlis ta`lim yang dipimpin Abuya mulai jam 10.00 -1.00 siang. Bustan ditutup Abuya diantarkan kembali ke Baitul Ta`lif untuk melaksanakan Shalat Dhuhur berjama`ah.

Abuya Istirahat

Abon Abdul Aziz Shaleh
Abon Abdul Aziz Shaleh
Seusai Shalat Dhuhur Abuya makan siang pada hidangan yang telah disediakan di Baitul Ta`lif, Abuya kemudian berbaring dalam keadaan santai. Pada saat istirahat inilah saya (Tgk.Syihabuddin keumala, lebih terkenal dengan Abu Keumala) dan Tgk Abdul Aziz Samalanga (pimpinan Dayah MUDI MESRA Samalanga ) mengambil kesempatan untuk memohon keterangan dan penjelasan tentang masalah yang musykil kami rasakan, seraya kami menunjukkan kepada Abuya Kitab Al Mahalli, lalu Abuya memberikan penjelasan yang cukup dan memuaskan. Pada saat kami melihat Abuya dalam keadaan ayung–ayungan kami memohon diri untuk menuju kebilik kami sendiri dan Abuya tidur.

Menjelang waktu Shalat Ashar Abuya bangun dari istirahatnya mengasuh diri untuk melaksanakan Shalat Ashar di Baitul Ta`lif. Usai Shalat Ashar serta wirid dan doanya, Abuya keluar ke Raudhah Riyahin, sebuah kebun bunga yang terletak tidak jauh dari Baitut Ta`lif, sebelah selatan dari menara dan menara ini berdiri di sebelah selatan Abu Syik Salim (Ayah Abuya sendiri).

Raudhah yang dimaksud 3x4 m persegi yang ditanami sekelilingnya bunga–bunga laping, para tamu yang ingin bertemu dengan Abuya dapat langsung menemui beliau di Raudhah ini (waktu bertamu siang hari). Beberapa saat kemudian Abuya bangun untuk meninjau Darun yang ditentukan seraya diringi oleh beberapa orang khadam, panglima dan tamu-tamu. Dalam peninjauan ini Abuya memberikan petunjuk kepada penghuni Darun yang beliau tinjau tentang ketertiban, kebersihan, keamanan dan perbaikan lainnya. Akhirnya Abuya dan pengikutnya kembali ke Raudhah. seterusnya di Raudhah ini Abuya mengajar kitab-kitab kecil kepada murid-murid kelas satu atau kelas dua untuk mendapatkan barakah melalui Abuya, sambil menantikan waktu Shalat Maghrib beliau berdialog dengan para tamu tentang masalah– masalah agama.

SHALAT MAGHRIB (MALAM SENIN)
Seusai shalat maghrib berjamah beserta doanya, jamaah kembali ke tempatnya masing masing dan Abuya meneruskan wiridnya sebagaimana biasanya sampai waktu shalat isya, dan seterusnya selesai Shalat isya Abuya duduk di Baitut Ta`lif yang biasanya sudah ada jamaah tamu yang dekat maupun yang jauh untuk menanyakan masalah–masalah agama, terutama sekali mengenai amal Thariqah, yang demikian itu berakhir sampai jam 12.00 WIB malam. Selanjutnya meninggalkan Baitut Ta`lif menuju ke rumah ummi yang telah ditentukan bahagiannya. Demikianlah Wazifah Abuya sampai kepada waktu Shalat Shubuh hari senin (Wazifah Abuya 1x24 jam ).

HARI SENIN
Wazifah Abuya dimulai dengan Shalat Shubuh berjamaah kemudian berwirid sampai jam 09,00. Selanjutnya beliau mengasuh, kemudian Abuya bersiap-siap untuk menuju ruangan Bustanul Muhaqqiqin. Abuya mengajar sebagaimana biasa sampai dengan jam 01.00 siang. Kemudian beliau kembali ke Baitut Ta`lif untuk melaksanakan Shalat Dhuhur berjamaah. Pada saat inilah Abuya mengasuh dan istirahat sampai masuk waktu Shalat Ashar. Setelah selesai upacara Shalat Ashar beliau meninjau Darun sebagaimana biasa bila dianggap perlu dan berakhir di Raudhah. Disinilah Abuya istirahat dengan menjawab pertanyaan yang diajukan kepada beliau, dibarengi soal jawab tentang agama dan mengajar anak–anak yang sebelumnya telah menunggu Abuya. Keadaan demikian berlalu sampai menjelang shalat Maghrib.

SHALAT MAGHRIB (MALAM SELASA )
Selesai Shalat maghrib dan wirid- wiridnya, Abuya istirahat beberapa saat selanjutnya beliau memberi ijazah Thariqah Naqsyabandi kepada murid laki-laki baik yang tinggal di Darus Salam maupun yang datang dari luar Darus Salam, hal ini berjalan sampai waktu Shalat isya. Seusai Shalat isya Abuya langsung memberikan ceramah yang menyangkut soal Thariqah dan tawajjuh serta dikaitkan dengan amalan suluk. Ada juga yang memberikan cermah dari khalifah–khalifah yang telah abuya tentukan termasuk penulis sendiri (Abu Keumala). Selama acara ini juga diadakan soal jawab yang menyangkut dengan soal Thariqah dan lain lain, yang demikian berlalu sekurang kurangnya sampai jam 12.00 malam, dan selanjutnya Abuya meninggalkan majlis menuju kerumah ummi yang telah ditetapkan untuk beristirahat sampai menjelang waktu Shalat Shubuh.

SHALAT SHUBUH (HARI SELASA )
Wafizah Abuya pada pagi hari selasa sampai menjelang waktu maghrib berjalan sebagaimana wazifah pada hari senin meskipun disana sini terdapat perbedaan yang tidak diperhitungkan .

SHALAT MAGHRIB (MALAM RABU)
Wazifah Abuya pada malam rabu juga tidak berbeda dengan wazifah dengan wazifah Abuya pada malam selasa kecuali pada pemberian ijazah Thariqah kepada murid-murid perempuan, baik yang tinggal di Darussalam maupun yang diluar. Selesai acara tersebut Abuya meninggalkan ruangan menuju kerumah ummi yang telah ditentukan untuk beristirahat.

SHALAT SHUBUH (HARI RABU )
Wafizah Abuya pada pagi hari rabu sejak pagi hari sampai menjelang shubuh hari kamis bersamaan dengan wazifah hari selasa kecuali pemberian ijazah yang dikhususkan pada malam selasa dan malam rabu.

SHALAT SHUBUH (HARIKAMIS)
Wazifah Abuya pada hari kamis sejak selesai shalat shubuh sampai selesai mengajar di Bustanul Muhaqqiqin dan Shalat Shubuh berjamaah sama gengan wazifah Abuya sebelumnya. Selesai Shalat Dhuhur Beliau istirahat dan bersiap-siap meninggalkan Darus Salam untuk menuju Kampung pauh, Labuhan Haji, tempat letaknya rumah kediaman Ummi Pauh (Ibunda Tgk. Amran Waly). Keberangkatan Abuya ini dari Darussalam menuju Kampung Pauh diantarkan oleh beberapa orang pengasuh dan panglima. Kiranya perlu diketahui jarak antara Darussalam dengan Kampung Pauh ±3km. Abuya tiba di Kampung Pauh menjelang Shalat `Ashar dan beliau Shalat `Ashar berjama`ah.

SHALAT `ASHAR (HARI KAMIS)
Seusai Shalat `Ashar biasanya Abuya memberi ceramah kepada murid-muridnya yang telah hadir menunggu Abuya sebelumnya. Ceramah dan petunjuk-petunjuk ini beliau sampaikan sampai menjelang Shalat maghrib.

SHALAT MAGHRIB (MALAM JUM`AT)
Setelah Shalat maghrib dan wirid seperlunya Abuya istirahat sampai menjelang Shalat Isya. Selanjutnya seusai Shalat Isya Abuya memberikan penjelsan tentang ilmu Thariqah dan memberikan jawaban kepada murid-murid yang bertanya. Waktu soal–jawab ini berjalan penuh khidmat dan merasa kepuasan semua pihak, sehingga berakhir pada jam 11.00 atau lebih. Selanjutnya Abuya istirahat .

SHALAT SHUBUH (HARI JUM`AT)
Sebagaimana biasanya Abuya melaksanakan Shalat Shubuh dan wirid-wiridnya, berakhir sampai dengan jam 10.00 siang. Lalu Abuya mengasuh diri dan bersiap siap untuk menghadiri upacara Shalat Jum`at di Masjid Kampung Pauh. Setibanya Abuya bersama rombongan di masjid dan muezzin mulai azan pertama. Setelah azan dan jamaah melaksanakan dua rakaat Shalat sunat qabliyah.

ABUYA BERKHUTBAH
Setelah Abuya naika mimbar dan memberi salam lalu beliau duduk, kemudian azan kedua dimulai dan setelah azan kedua selesai Abuya bangun menyampaijan khutbahnya

Kaifiat khutbahnya; Mula-mula Abuya menyampaikan serangkaian nasehat dan petunjuk agama pada masalah yang dihadapi oleh masyaradat muslimin dengan bahasa Indonesia. Kemudian baru Abuya memulai membaca khutbah yang pertama dalam bahasa arab penuh, tanpa campuran dengan bahasa Indonesia. Lalu Abuya duduk antara dua khutbah dan selanjutnya beliau bangun untuk membaca khutbah yang kedua hingga selesai .

SHALAT JUM`AT
Abuya mengimami shalat jum`at sebagaimana yang ma`ruf dilakukan oleh kaum Ahlus sunnah Wal Jama`ah. Selesai Shalat jum`at, Abuya dan rombongan kembali ke rumah kediamannya di Kampung Pauh dan makan siang.
Kami rasa perlu dicatat kaifiat Abuya makan. Setelah selesai hidangan makanan dihidangkan, penulis melihat piring makanan yang disediakan dihadapan Abuya lebih besar dari pada piring makanan yang lain dan di atas makanan itu telah dibubuhi lauk pauknya. Lalu para hadirin dipersilahkan untuk memulainya.
Penulis memperhatikan dengan sungguh-sungguh kaifiyat Abuya makan. Ia memulai dengan Basmalah lalu memegang makanan yang tersedia dihadapannya, sesuap Abuya memulai makan, berceritalah ia tentang keramat para Shahabat dan rahmat tuhan kepad para aulia–auliaNya sambil beliau menyuapkan makanan ke mulutnya dengan suapan kecil. Demikianlah santapan makanan berjalan, jama`ah mendengarkan cerita Abuya sambil menyuapkan makanan seperluanya. Sedang Abuya asyik bercerita dan tidak pernah menghadap ke piring makanan yang ada dihadapannya, seakan akan kita melihat makanan yang ia makan itu bukan untuk kenyang akan tetapi sekedar hilang lapar saja.
Pada saat Abuya meliahat jama`ah sekelilingnya sudah merasa puas dengan makanan dihapannya lalu Abuya membasuh tangannya dan diikuti oleh para jama`ah sekaligus cerita Abuya di akhiri. Selanjutnya penulis memperhatikan makanan yang masih banyak tersisa dihadapan Abuya diangkat dan seterusnya panitia membagi-bagikan sebagia mengambil berkah dari makanan tersebut. Demikianlah penulis memperhatikan kaifiat makan Abuya, bukan saja pada tempat ini tetapi juga pada tempat yang lain juga demikian, bukan satu kali tetapi puluhan kali selama penulis mengikuti rombongan Abuya. Maka dapat dikatakan bahwa rohaniyah Abuya sudah cukup kenyang, oleh karena itu kenyang jasmaninya tidak diperhitungkan, sehingga dapat kita lihat Abuya tidak begitu serius menghadapi makanan. Setelah upacara makan bersama berakhir, abuya beristirahat dan para jama`ah bubar menuju ketempatnya masing – masing.

SHALAT `ASHAR (HARI JUM`AT)
Setelah Shalat `Ashar berjam`ah dilaksanakanserta wirid-wirid dan doanya, Abuya duduk istirahat bersama jam`ah seraya memberikan ceramah ringan. Dalam kempatan ini pula Abuya menerima tamu-tamunya yang berkunjung untuk menemuinya. Acara ini sampai menjelang waktu shalat maghrib.

SHALAT MAGHRIB (MALAM SABTU)
Seusai Shalat maghrib dan doanya, Abuya istirahat sampai waktu shalat isya. Selanjutnya wazifah Abuya setelah shalat Isya sampai jam istirahat hampir bersamaan dengan wazifahnya pada malam jum`at.

SHALAT SHUBUH (HARI SABTU)
Seusai Shalat Shubuh berjama`ah bersamaan dengan wirid dan doanya, jamaah meninggalkan mushalla. Abuya melanjutkan wiridnya sebagaimana biasanya sampai ± jam 10.00 siang. Disinilah Abuya istirahat dan mengasuh untuk mengisikan waktu selanjutnya, kemudian Abuya bersama pengikut menuju ke sebuah Madrasah Tarbiyah yang terletak di kedai Labuahan Haji yang jauhnya ±1/2km, untuk memberi ceramah tauhid khusus dalam bidang nafi dan istbat, yang mana sebelumnya telah berkumpul murid-murid yang dekat maupun yang jauh untuk mengikuti ceramah tersebut. Lalu Abuya memulai kuliahnya dengan membaca sebaris dua kitab yang menyangkut dengan masalah tauhid yang akan dibahaskan. Majlis ini dibebaskan soal jawab dan masing masing para hadirin juga dibenarkan mengeluarkan pendapatnya, sehingga sewaktu-waktu majlis ta`lim ini menjadi forum diskusi yang hangat. Majlis ini berlalu sampai jam 01.00 siang. Setelah majlis ini ditutup dengan doa, Abuya dan pengikutnya menuju ke Masjid Kampung pauh untuk melaksanakan Shalat Dhuhur berjamaah dan seusai Shalat Dhuhur beserta wiridnya abuya menuju kerumah kediamannya kembali untuk makan siang bersama. Selanjutnya Abuya bersiap siap untuk kembali ke Darussalam. Dan Abuya berangkat bersama pengikutnya menuju Darussalam, Abuya tiba diDarussalam menjelang ashar.

SHALAT `ASHAR (HARI SABTU)
Seuasai Shalat `ashar bersama dengan wirid-wiridnya, Abuya memasuki rumah ummi yang telah ditentukan untuk beristirahat sampai menjelang Shalat maghrib. Kemudian selanjutnya setelah shalat maghrib Abuya berwirid, biasanya sampai waktu shalat isya.

SHALAT ISYA
Setelah Shalat isya beserta wiridnya, di sinilah Abuya menerima tamu-tamunya yang datang dari yang jauh maupun yang dekat, yang telah menunggu Abuya selama dua malam sebelumnya (selama Abuya di Kampung Pauh). Acara ramah tamah ini diisikan dengan bermacam-macam persoalan agama yang sesuai dengan maksud dan tujuan tamu yang hadir. Acara ini berlalau biasanya sampai jam 11.00 malam, dan Abuya beristirahat di rumah kediaman ummi yang telah ditentukan sampai menjelang waktu shubuh.

Demikianlah sebagian wazifah Abuya yang dapat saya (Tgk. Keumala) ikuti untuk waktu 7x24 jam, sedangkan wazifah yang lathifah lainnya tidak mungkin diliputi oleh sebuah pena yang amat kecil dan tintanya yang amat terbatas pula. Wazifah yang mulia sudah menjadi suatu tabiat yang melekat pada pribadi Abuya. Buktinya saya telah melihat sendiri keadaan yang demikian selama bertahun-tahun. Untuk kebenaran catatan wazifah Abuya ini, ratusan murid Darussalam dan ribuan manusia yang telah mengenal Abuya secara dekat, telah menyaksikannya sendiri secara musyahadah.
Perlu diketahui bahwa wazifah Abuya ini kadangkala terjadi pergeseran pelaksanaannya justru mengingat waktu dan tempat, situasi dan kondisi.
Atas semua kekurangan liputan saya ini, Allah menyediakan ampunanNya kepada Tgk. Keumala. InnAllaha Ghafurur Rahim

Selanjutnya Kejadian–kejadian yang dapat menunjuki kelebihan Abuya Muda Wali al-Khalidi




Thalaq via surat, sms, messenger, atau sejenisnya.

talak
Bagaimana hukumnya seseorang yang menuliskan lafadh thalaq, misalnya ia menuliskan via sms, email atau surat “saya thalaq kamu”?

Jawaban.
Rincian hukum menulis lafadh thalaq adalah sebagai berikut:
  • Bila tidak ikut di lafadhkan maka hanya jatuh thalaqnya bila ia meniatkan untuk thalaq karena semata-mata menulis lafadh thalaq adalah kinayah thalaq yang memerlukan niat. Sedangkan bila tidak diniatkan apapun maka tidak jatuh thalaqnya.



  • Bila ketika menulisnya ia juga ikut melafadhkannya maka:


    • Jatuh thalaq bila tidak ada niat apapun atau berniat melakukan (insya`) thalaq.
    • Tidak jatuh bila ia bermaksud sekedar membaca tulian tersebut tanpa niat untuk mentalak istrinya.


    Referensi:
    Al-Mahalli `ala Minhaj jilid 3 hal 329 Cet. Haramain
    (ولو كتب ناطق طلاقا) كأن كتب زوجتي طالق، (ولم ينوه فلغو) وتكون كتابته لتجربة القلم أو المداد أو غير ذلك، وفي وجه أن الكتابة صريحة كالعبارة يقع بها الطلاق، (وإن نواه فالأظهر وقوعه) لأن الكتابة طريق في إفهام المراد كالعبارة، وقد اقترنت بالنية والثاني لا يقع لأنها فعل والفعل لا يصلح كناية عن الطلاق، لو أخرجها من بيته ونوى الطلاق، وقطع قاطعون بالأول وآخرون بالثاني

    Nihayatul Muhtaj jilid 6 hal 436 Cet. Dar Kutub Ilmiyah
    (ولو) (كتب ناطق) أو أخرس (طلاقا) (ولم ينوه فلغو) إذ لا لفظ ولا نية (وإن نواه) ومثله كل عقد وحل وغيرهما ما عدا النكاح ولم يتلفظ بما كتبه (فالأظهر وقوعه) لإفادتها حينئذ، وإن تلفظ به ولم ينوه عند التلفظ ولا الكتابة وقال إنما قصدت قراءة المكتوب فقط صدق بيمينه
    (قوله: وقال إنما قصدت قراءة إلخ) بخلاف ما لو قصد الإنشاء أو أطلق

    Tuhfatul Muhtaj jilid 8 hal 22 Dar Fikr
    (ولو كتب ناطق) أو أخرس (طلاقا، ولم ينوه فلغو) إذ لا لفظ ولا نية (وإن نواه) ومثله كل عقد وحل وغيرهما ما عدا النكاح ولم يتلفظ بما كتبه (فالأظهر وقوعه) لإفادتها حينئذ، وإن تلفظ به ولم ينوه عند التلفظ ولا الكتابة، وقال: إنما قصدت قراءة المكتوب فقط صدق بيمينه






    Download Kitab Fawaid Madaniyah Fi Man Yufta Bi Qaulihi min Aimmah Syafi`iyyah الفوائد المدنية فيمن يفتى بقوله من الأئمة الشافعية

    Fawaid Madaniyah Fi Man Yufta Bi Qaulihi min Aimmah Syafi`iyyahSalah satu kitab yang penting untuk di baca bagi kalangan pelajar Mazhab Syafii adalah kitab Fawaid Madaniyah fi man yufta bi qaulihi min Mutaakhiri al-aimmah asy-Syafi`iyyah karangan Syeikh Sulaiman al-Kurdy (1127-1194 H/1715-1780 M).
    Kitab Fawaid Madaniyah menerangkan bagaimana memahami perbedaan pendapat para ulama khususnya ulama muta`akhirin, sedikit tentang kelebihan Imam Syafii, kedudukan Imam Rafii dan Nawawi dalam Mazhab Syafii
    , cobaan-cobaan yang menimpa Imam Ibnu Hajar al-Haitami, bagaimana menanggapi penolakan seorang ulama terhadap pendapat ulama yang lain, kebolehan mengutip pendapat dari kutub yang mu`tamad, urutan para Imam Mazhab yang harus di dahulukan ketika perjadi perbedaan pendapat dan kitab-kitab mereka, masalah beramal dengan pendapat dhaif, martabat Syeikhul Islam Zakaria al-Anshari, Ibnu Hajar, Imam Ramli dan Imam Khatib Syarbaini, juga di sebutkan beberapa masalah yang musykil dalam kitab Tuhfah dan Nihayah, masalah ifta` dan taqlid, masalah qaul qadim Imam Syafii dan hal-hal yang lain yang sangat di butuhkan oleh palajar Mazhab Syafii.

    Kitab ini pernah di cetak pada tahun 1357 H/1938 M, namun dalam cetakan tersebut banyak kekurangan hal serupa juga terjadi pada cetakan 70 tahun selanjutnya, bahkan makin parah dengan adanya beberapa kalimat yang gugur dan beberapa kesalahan dalam penulisan.

    Sebagian penulis mengira bahwa kitab Fawaid Madaniyah ini belum pernahh di cetak sama sekali, di antara penulis yang beranggapan demikian adalah DR. Akram Yusuf Umar al-Qawasimy dalam kitabnya al-Madkhal ila Mazhab Imam Syafii yang selesai beliau tulis untuk mengambil gelar doctor pada tahun 2002.

    Kitab ini kemudian di ringkas oleh seorang ulama besar negri Malibar, India, Syeikh Ahmad Kuya bin Ali asy-Syaliaty al-Malibari (1302-1374 H/1884-1954 M) dengan nama kitab beliau Awaid Diniyah fi Talkhish Fawaid Madaniyah, tentang kitab ini pernah kami muat berita dan link donwloadnya dalam postingan kami Download Kitab Al-`Awaid Diniyah Fi Talkhish Fawaid Madaniyah

    Sebelumnya kami telah mencoba untuk mencari kitab Fawaid Madaniyah baik dalam bentuk kitab asli maupun file scannya, namun kami hanya menemukan ringkasannya, hal tersebut sedikit mengobati keinginan hati untuk membaca kitab Fawaid Madaniyah.

    Namun memiliki kitab Awaid Diniyah saja tanpa memiliki kitab asalnya terasa belum lengkap, karena itu kami selalu berusaha untuk mecari kitab Fawaid Madaniyah baik dalam bentuk kitab asli maupun file hasil scan.

    Alhamdulillah, sekarang kitab Fawaid Madaniyah telah beredar filenya versi pdf hasil scan yang di cetak oleh percetakan dar Nur Shabah dan Jaffan Wa Jabi dengan tahun percetakan 2011 yang merupakan cetakan pertama.
    Cetakan ini di tahqiq oleh Bassam Abdul Wahab al-Jaby, atas usaha keras pentahqiq akhirnya kitab ini bisa nikmati.
    Nah bagi yang berminat memiliki file pdf kitab ini silahkan download langsung Disini atau langsung aja ke الفوائد المدنية فيمن يفتى بقوله من الأئمة الشافعية


    Fadhilah dan Amaliyah Hari ‘Asyura

    Bulan Muharram merupakan bulan yang memiliki nilai lebih dalam Islam. Selain merupakan bulan pertama dalam penanggalan hijriyah, bulan Muharram juga termasuk dalam salah satu bulan haram (bulan-bulan haram : Zulhijjah, Zulqa`dah, Muharram, dan Rajab).
    Selain itu, dalam bulan Muharram ada satu hari yang memiliki fadhilah yang lebih, yaitu hari Asyura tepatnya pada 10 Muharram.

    Banyak peristiwa-peristiwa penting yang terjadi pada hari tersebut di samping fadhilah-fadhilah (keutamaan) yang terdapat di dalamnya. Oleh karena itu, sangat dianjurkan untuk meningkatkan amalan kebaikan di hari ‘Asyura melebihi hari-hari yang lain. Semoga Allah Swt selalu melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada kita semua untuk bisa melaksanakan perintah-Nya dan sanggup menjalankan ibadah khususnya di hari ‘Asyura yang penuh berkah ini. Aamiiin Yaa Rabbal ‘Aalamiiin…

    Amalan utama yang sangat dianjurkan dilakukan pada hari ‘Asyura adalah :
    1. Puasa
    Bulan Muharram merupakan bulan yang sangat baik untuk berpuasa setelah bulan Ramadhan. Dalam satu hadits riwayat Imam Muslim Rasulullah bersabda:
    افضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم وافضل الصلاة بعد الفريضة صلاة الليل

    Yang paling Afdhal berpuasa setelah bulan Ramadhan adalah bulan Allah Muharram, dan yang paling utama shalat setelah shalat fardhu adalah shalat malam.

    Dalam bulan Muharram ada satu hari yang istimewa tepatnya pada 10 Muharram yang lebih dikenal dengan Hari Asyura. Pada hari Asyura disunatkan berpuasa. Dalam beberapa riwayat hadits, cukup banyak kelebihan dan fadhilah-fadhilah berpuasa di hari ‘Asyura, antara lain adalah :

    Diampunkan dosa selama satu tahun, banyak hadits Nabi SAW yang menerangkan hal ini antara lain hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

    سئل عن صوم يوم عاشوراء ؟ فقال يكفر السنة الماضية
    Nabi pernah di tanyakan tentang puasa Asyura, beliau menjawab “puasa Asyura menghapuskan dosa setahun yang telah lalu”. (H. R. Imam Muslim)

    Dalam hadits riwayat Imam Nasai dari Abi Qatadah ra :

    عن أبي قتادة قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم صوم عاشوراء كفارة سنة
     “Dari Abi Qatadah ra, Rasulullah Saw bersabda : “Puasa ‘Asyura dapat menghapuskan dosa selama setahun”.(H. R. Imam Nasai)

    Imam Baihaqi dalam Fadhail Auqat mengutip Syaikh al-Imam yang mengatakan: bahwa jika dosanya telah dihapuskan dengan ibadah yang lain, maka kelebihan puasa ‘Asyura baginya adalah ditinggikan derajatnya.

    Diberikan kepadanya pahala 1000 orang haji dan ‘umrah dan pahala 10.000 orang syahid, sebagaimana hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra :

    ومن صام يوم عاشوراء أعطي ثواب ألف حاج ومعتمر ، ومن صام يوم عاشوراء أعطي ثواب عشرة آلاف شهيد
    “Barang siapa yang berpuasa di hari ‘Asyura maka diberikan pahala 1000 orang yang haji, 1000 orang yang ‘umrah dan 10.000 orang syahid”.

    (Imam Baihaqi) Pada dasarnya, puasa ‘Asyura adalah puasanya orang Yahudi karena mengikuti Nabi Musa as yang berpuasa di hari tersebut sebagai ungkapan rasa syukur atas penyelamatan Allah Swt terhadapnya. Oleh karena itu disunatkan berpuasa di hari Tasu’a (9 Muharram) atau di hari ke-11 Muharram supaya tidak menyerupai ibadah puasa kaum Yahudi. Di samping itu, juga sebagai langkah hati-hati agar terhindar dari salahnya penetapan hari ‘Asyura yang disebabkan oleh kekeliruan dalam hitungan awal bulan Muharram. Nabi Muhammad saw bersabda :
    سمعت عبد الله بن عباس يقول حين صام النبي صلى الله عليه وسلم يوم عاشوراء وأمرنا بصيامه قالوا يارسول الله إنه يوم تعظمه اليهود والنصارى فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم " فإذا كان العام المقبل صمنا يوم التاسع " فلم يأت العام المقبل حتى توفي رسول الله صلى الله عليه وسلم
    “Aku mendengar ‘Abdullah bin ‘Abbas ra, ia berkata : “Ketika Nabi Saw berpuasa pada hari ‘Asyura (10 Muharram) dan beliau juga memerintahkan kami untuk berpuasa, maka para Shahabat ra bertanya :”Wahai Rasulullah, sesungguhnya hari ‘Asyura adalah hari yang diagungkan oleh kaum Yahudi dan Nashrani”. Nabi Saw menjawab :”Apabila datang tahun depan, kita akan berpuasa pada hari Tasu’a (9 Muharram).”. Maka tidak datanglah tahun depan hingga Rasul Saw wafat”. (HR. Imam Abu Daud).  

    2. Melapangkan nafakah terhadap keluarga
    Rasulullah Saw bersabda dalam sebuah hadits :
    من وسع فيه على عياله وأهله من ماله وسع الله عليه سائر سنته
    “Barang siapa yang meluaskan belanja atas keluarganya di hari ‘Asyura maka Allah Swt akan meluaskan (kelapangan hidupnya) sepanjang tahun itu”.

    Doa-doa pada hari Asyura

    Imam Ibnu Hajar al-Asqalany mengataka siapa saja yang membaca doa ini pada hari Asyura /10 Muharram, maka Allah tidak akan mematikan hatinya.
    سُبْحَانَ اللَّهِ مِلْءَ الْمِيزَانِ وَمُنْتَهَى اْلعِلْمِ وَمَبْلَغَ الرِّضَا وَزِنَةَ الْعَرْشِ. وَاْلحَمْدُ للهِ مِلْءَ الْمِيزَانِ وَمُنْتَهَى اْلعِلْمِ وَمَبْلَغَ الرِّضَا وَزِنَةَ الْعَرْشِ. وَاللهُ اَكْبَرُ مِلْءَ الْمِيزَانِ وَمُنْتَهَى اْلعِلْمِ وَمَبْلَغَ الرِّضَا وَزِنَةَ الْعَرْشِ لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَي مِنَ اللهِ إِلاَّ اِلَيْهِ. سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ الشَّفْعِ وَالْوِتْرِ وَعَدَدَ كَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ كُلِّهَا. وَاْلحَمْدُ للهِ عَدَدَ الشَّفْعِ وَالْوِتْرِ وَعَدَدَ كَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ كُلِّهَا. وَاللهُ اَكْبَرُ عَدَدَ الشَّفْعِ وَالْوِتْرِ وَعَدَدَ كَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ كُلِّهَا. أَسْأَلُكَ السَّلَامَةَ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَلَا حَوْلَا وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ اْلعَلِيُّ اْلعَظِيْمُ. وَصَلَّى اللهُ عَلَي سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ وَاْلحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ.
    Imam Ajhury mengatakan siapa saja yang membaca doa ini sebanyak 70 x maka Allah pelihara dirinya dari keburukan dalam tahun tersebut.
    حَسْبِيَ اللهُ وَنِعْمَ اْلوَكِيْلُ نِعْمَ اْلمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ

    Selanjutnya terdapat pula beberapa peristiwa penting dan bersejarah yang terjadi dalam bulan Muharram ini, diantaranya ialah :
    1. Hari diciptakan langit dan bumi.
    2. Hari diciptakannya gunung dan bintang.
    3. Hari diciptakannya Lauh dan Qalam.
    4. Hari diciptakan Nabi Adam as dan Hawa.
    5. Hari diciptakan surga.
    6. Hari dimasukkan Nabi Adam as ke dalam surga.
    7. Hari kelahirannya Nabi Ismail as, yaitu anak Nabi Ibrahim as yang sudah lama diharapkan.
    8. Hari dilepaskannya Nabi Ibrahim as dari api oleh Raja Namrud.
    9. Hari tenggelamnya Fir’aun.
    10. Hari kesembuhan penyakit yang sudah lama diderita oleh Nabi Ayyub as.
    11. Hari penerimaan taubat Nabi Adam as.
    12. Hari kema’afan Nabi Daud as.
    13. Hari dilepaskannya Nabi Yusuf as dari penjara.
    14. Hari dikeluarkannya Nabi Yunus as dari perut ikan.
    15. Hari kembalinya kerajaan Nabi Sulaiman as setelah 40 hari dalam kekuasaan iblis.
    16. Hari diangkatnya Nabi Idris as ke langit untuk mengunjungi surga dan lainnya.
    17. Hari berakhirnya dunia (hari kiamat).
    18. Dan lain-lain. 
    Dari peristiwa-peristiwa bersejarah tersebut, dapat ditarik sebuah kesimpulan umum bahwa sangat banyak kasih sayang Allah Swt yang tercurahkan di bulan Muharram terutama pada hari ‘Asyura, maka dari itu sangat disayangkan jika kita melewati hari ‘Asyura dengan sia-sia tanpa amalan dan peningkatan ibadah kepada Allah Swt.
    Semoga Allah Swt memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua untuk selalu beribadah dan patuh terhadap perintah-Nya. Semoga!

    Referensi: Taqrirat `ala Hasyiah I`anatuth Thalibin, Sayyid Abi Bakar Syatha jilid 2 hal 267 Cet. Haramain

    Zakat Sarang Walet

    zakat sarang walet Salah satu usaha yang membuahkan hasil yang menggiurkan adalah usaha walet, walaupun saat ini harga sarang burung ini menurun drastis. Dengan walet, Allah telah banyak memberikan kekayaan bagi pengusaha walet. Maka salah satu topik yang sering di tanyakan adalah kewajiban membayar zakat pada hasil walet tersebut. Maka kali ini kami akan memposting hukum tentang kewajiban zakat pada sarang burung walet.

    Pada masa Rasulullah SAW memang belum di temukan pemanfaatan sarang wallet, sehingga tidak akan ada hadits atau atsar shahabat yang menerangkan kewajiban zakat pada sarang wallet ataupun menafikannya. Maka untuk mengetahui wajib atau tidaknya sarang burung wallet kita harus melihat kepada beberapa komoditi lain yang juga hasil dari hewan yang telah ada pada masa Rasulullah SAW di jazirah Arab, misalnya wol, madu dan susu yang banyak di perdapatkan pada masa Nabi.
    Namun tidak di temukan satu riwayatpun baik berupa perbuatan maupun perkataan Nabi yang mengisyaratkan kepada wajibnya zakat pada susu dan telur, kalau seandainya wajib pasti akan ada riwayat yang menyebutkannya sebagaimana ada riwayat Nabi yang menerangkan kewajiban zakat pada tanaman kurma dan anggur.

    Kewajiban zakat hanya berlaku kepada komoditi yang memang ada nashnya dari Rasulullah SAW secara shareh atau atau isyarah. Maka kewajiban zakat tidak dapat di berlakukan secara umum kepada seluruh komoditi yang memiliki nilai produktif.

    Karena ada dugaan ada hadist dan karena berpegang kepada pendapat shahabat Abu Bakar, maka Imam Syafii dalam satu riwayat dalam qaul qadim beliau berpendapat wajib zakat pada madu. Hal ini berdasarkan hadits yang menceritakan Bani Syababah memberikan madu kepada Rasulullah SAW.

    عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ بَنِي شَبَابَةَ بَطْنٌ مِنْ فَهْمٍ كَانُوا يُؤَدُّونَ إِلَى رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم مِنْ نَحْلٍ كَانَ عَلَيْهِمُ الْعُشْرَ مِنْ كُلِّ عَشْرِ قِرَبٍ قِرْبَةً…

    Di riwayatkan dari Amr bin Syu`aib dari bapak beliau dari kakek beliau; sesungguhnya Bani Syababah – satu marga dari faham (yang menempati daerah Thaif) memberikan kepada Rasulullah SAW madu sebanyak satu qirbah dari sepuluh qirbah yang mereka miliki. (H.R. Abu Daud dan Baihaqi)

    Namun hadits ini di anggap dhaif oleh para ulama, kalaupun di anggap shahih, pemberian tersebut bukanlah atas nama zakat tetapi hanyalah pemberian shadaqah tathawu`, atau pemberian sebagai imbalan karena Rasulullah SAW memberikan hak khusus untuk mengelola wadi Salbah. Pada masa Saidina Umar, mereka tidak lagi menyerahkan madu kepada Saidina Umar karena hak pengelolan lembah tersebut beliau cabut dari mereka. Ini membuktikan bahwa pemberian madu oleh Bani Syababah kepada Nabi merupakan imbalan atas hak pengelolaan lembah tersebut. Karena kalau seandainya wajib zakat pada madu pasti Saidina Umar akan memerintahkan untuk mengambilnya walaupun mereka tidak lagi mengelola lembah salabah.

    Namun dalam qaul Jadid nya, Imam Syafii merujuk pendapat beliau tentang kewajiban zakat pada madu, karena semua hadits dan atsar shahabat yang mengisyaratkan kewajiban zakat pada madu adalah hadits dhaif. Selain itu dalam qaul jadid, mazhab Shahabat tidak dapat di jadikan hujjah. Maka hal ini di kembalikan kepada asal yaitu tidak di wajibkan zakat kecuali pada barang yang ada tersebut dalam nash.

    Kesimpulannya, sarang wallet tidak di kenakan kewajiban zakat

    karena tidak ada nash yang menerangkan kewajibannya baik secara shareh maupun secara qiyas, karena kewajiban zakat hanya berlaku pada komoditi yang tersebut dalam nash atau kepada komoditi lain yang dapat di qiyaskan kepada komoditi yang ada dalam nash.

    Referensi:
    1. Abu Ishaq asy-Syirazi- Muhazzab jld 1 hl 214 Dar Fikr

     واختلف قوله في العسل (فقال في القديم) يحتمل ان تجب فيه ووجهه ما روي أن بني شبابة - بطن من فهم - كانوا يؤدون إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم من نحل كان عندهم العشر من عشر قرب قربة
     (وقال في الجديد) لا تجب لأنه ليس بقوت فلا يجب فيه العشر كالبيض

    2. Imam Nawawi-Majmuk Syarah Muhazzab jld7 hl 7 Dar Kutub Ilmiyah

     قال البيهقي وحديث معاذ ابن جبل وأبي موسى الأشعري رضي الله عنهما أعلى وأولى أن يؤخذ به يعني روايتهما إن النبي صلى الله عليه وسلم قال لما لما بعثهما إلى اليمن " لا تأخذا في الصدقة إلا من هذه الأصناف الأربعة الشعير والحنطة والتمر والزبيب " (وأما) المذكور عن ابن عباس فضعيف أيضا والأثر المذكور عن أبي بكر الصديق رضي الله عنه ضعيف أيضا ذكره الشافعي وضعفه هو وغيره واتفق الحفاظ على ضعفه واتفق أصحابنا في كتب المذهب على ضعفه
     قال البيهقي ولم يثبت في هذا إسناد تقوم به حجة قال والأصل عدم الوجوب فلا زكاة فيما لم يرد فيه حديث صحيح أو كان في معنى ما ورد به حديث صحيح
    (وأما) حديث بني شبابة في العسل فرواه أبو داود والبيهقي وغيرهما من رواية عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده بإسناد ضعيف قال الترمذي في جامعه لا يصح عن النبي صلى الله عليه وسلم في هذا كبير شئ فقال البيهقي قال الترمذي في كتاب العلل قال البخاري ليس في زكاة العسل شئ يصح فالحاصل أن جميع الآثار والأحاديث التي في هذا الفصل ضعيفة

    3. Imam Nawawi-Majmuk Syarah Muhazzab jld7 hl 7 Dar Kutub Ilmiyah

    (وأما) العسل ففيه طريقان (أشهرهما) وبه قال المصنف والا كثرون فيه القولان (الصحيح) الجديد لا زكاة (والقديم) وجهان (والثاني) القطع بأن لا زكاة فيه وبه قطع الشيخ أبو حامد والبندنيجي وآخرون ومن الأصحاب من قال لا تجب في الجديد وفي القديم قولان والمذهب لا تجب لعدم الدليل على الوجوب قال أصحابنا والحديث المذكور ضعيف كما سبق قالوا ولو صح لكان متأولا ثم اختلفوا في تأويله فقيل يحمل على تطوعهم به وقيل إنما دفعوه مقابلة لما حصل لهم من الاختصاص بالحمى ولهذا امتنعوا من دفعه إلى عمر رضي الله عنه حين طالبهم بتخلية الحمى لسائر الناس



    Sejarah Kehidupan Abu Ibrahim Lamno (Abu BUDI)

    Abu Ibrahim LamnoTgk. H. Ibrahim bin Ishaq atau yang lebih akrab dipanggil dengan ABU BUDI lahir digampong Meukhan Kacamatan Jaya Kabupaten Aceh Barat (sekarang sudah menjadi Aceh Jaya), tepatnya pada bulan muharram 1357 H. bertepatan dengan tahun 1936 M. Beliau merupakan putra pertama dari 6 bersaudara dari pasangan Tgk. Ishaq dengan Hj. Halimah.

    Dengan berkat bimbingan dan asuhan kedua orang tua tercinta dan ma’unah Allah SWT. beliau tumbuh menjadi balita yang terbilang lasak, gesik, tangkas, lincah dan selalu ingin bergerak dan tidak pernah diam ada saja yang ingin di perbuatnya, melihat tingkah yang demikian aktif akhirnya mengundang motivasi orang tua untuk menggantikan nama Beliau yang sebelumnya bernama RAZALI dengan nama IBRAHIM. Itulah sebuah nama yang di peruntukkan untuk jasad ABU BUDI yang diberi nama oleh Habib Bruy yang bermukim digampong Teumareum yang boleh dikatakan sangat selektif dalam menyandangkan sebuah nama.

    Pendidikan

    Abu Ibrahim LamnoHari-hari berlalu yang kadang-kadang diisi dengan tangisan untuk mempersenjatai dirinya dan tanpa terasa ia telah mengakhiri masa balita, pada saat itu pula beliau telah mulai mereguk ilmu agama yang berguru pada Abu Ramli yang kemudian menjadi salah seorang se-sepuh yayasan dayah BUDI pada awal pendiriannya, bahkan putra pertama beliau kini menduduki papan teratas dalam organisasi kepengurusan yayasan Dayah BUDI, yang akrab dipangil dengan sebutan ABA ASNAWI. Pada tahun 1946, tepatnya di awal kemerdekaan, ABU BUDI tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengisi hikmah kemerdekaan. Beliau mulai mengecap ilmu pendidikan pada Sekolah Rakyat (SR) digampong Kuala Daya selama 2 tahun, lalu pindah ke SR Lamno dan sekaligus mondok di Pesantren Bustanul Aidarusiyah di bawah pimpinan Tgk. H. Aidarus yang merupakan salah satu Dayah yang terbilang tua di Aceh. Di usia yang begitu pagi, dalam jiwa beliau sudah terpatri semangat untuk mengaplikasikan, atau menyerap ilmu pendidikan agama dan pendidikan umum secara berseimbangan. Ini mungkin suatu isyarah bahwa beliau cederung berpendapat “ilmu pengetahuan baginya adalah segala-galanya”. Konseb itu di bangun dengan ilmu pengetahuan baginya sudah duluan menjelma dan ilmu pengetahuan dijadikan bagian integral dalam kehidupannya.

    Setelah mengakhiri Pendidikan Dasar 4 tahun dikampung halamannya, tepat pada tahun 1949 beliau berangkat hijrah ke Labuhan Haji-Aceh Selatan dan membekali diri di Dayah Darussalam di bawah Pimpinan ABUYA SYECH H. MUHAMMAD WALY AL-KHALIDY. Sosok tubuh yang kecil dengan perawakan tegas serta penuh wibawa yang terkemas dengan alakadar ilmu dan tatakrama serta etika yang mulia kini telah berbaur dan berhadapan dangan orang-orang yang belum pernah beliau kenal, orang-orang yang belum pernah ditegur dan disapa. Begitulah goresan hari-hari pertama beliau berada di Labuhan Haji tercatat mulai awal keberangkatan hingga mengakhiri pendidikan disana ternyata 8 tahun beliau mengantongi ilmu pengetahuan di Labuhan Haji.

    Kendatipun sudah berbagai ilmu telah menempati ruang dadanya, namun beliau belum merasa puas/cukup dengan apa yang dimilikinya. Sehingga pada tahun 1959 timbul semangat kepermukaan untuk menggeluti dangan kelezatan ilmunya, seraya membuka dan mentala’ah kitab-kitab gundul yang menjadi seperangkap kitab-kitab pelajaran yang dipelajari pada Lembaga Pendidikan Islam Ma’had ‘Ulum Diniyah Islamiyah (MUDI MESRA) Samalanga yang bertampuk sebagai pimpinan kala itu Tgk. H. Abdul Aziz atau yang lebih terkenal dengan sebutan ABON Samalanga.

    Masih bisa dihitung dengan mematahkan jemari untuk mengetahui berapa lama ABU BUDI menimba ilmu di Samalanga, lebih kurang 4 tahun lamanya. Namun walau dalam kurun waktu yang singkat, konon itulah masa mencapai puncak kejayaan ilmunya saat membenahi diri di Pesantren MUDI yang kini menempati peringkat pertama Santri terbanyak di Aceh. Kendatipun sudah berganda tahun Beliau menyelam mencari mutiara ilmu pengetahuan yang berlainan tempat dan suasana, namun semangat yang megerakkan jiwanya untuk memburu ilmu tak kunjung padam, menjelang masa-masa untuk mengakhiri pendidikan di Samalanga Beliau membolak-balikkan pilihan yang berwira-wiri dihadapannya, akhirnya menentukan satu alternatif bahwa Pendidikan Tarbiyah Islamiah dibawah Asuhan Tgk. Zakarya Labaisati yang terletak di Desa Malalo tepatnya ditepi Danau Singkarak Padang Panjang Sumatra Barat sebagai tempat terakhir Beliau membenahi diri sejak tahun 1963 s/d 1967.

    Dari uraian tersebut diatas sangat mudah untuk merakalkulasikan berapa lamakah ABU BUDI menyibukkan diri dengan pendidikan Dayah untuk memperkaya ilmunya. Berapa banyak ara melintang, hambatan, tantangan yang menghadangnya, betapa sabar dan tabahnya Beliau dalam menghadapi kepahitan, kesengsaraan dan penderitaan dalam berjuang. Dari berbagai peristiwa yang Beliau alami cenderung terarah untuk membenarkan pendapat yang mengatakan “penderitaan dalam perjuangan merupakan modal demi untuk keberhasilan”. Menurut informasi dari berbagai sumber, beliau terkenal tegas dengan siapa saja dan tak pernah sembunyi-sembunyi dalam memegang prinsip, Beliau tegar menghadapi berbagai tantangan dan cobaan, Beliau juga mempunyai pandangan jauh kedepan, tidak berlebihan Beliau kita katakan berjiwa altraitis dan mempunyai dedikasi yang tinggi, semangat seperti ini patut kita kenang dan kita teladani untuk dapat kita inteprestasikan/aplikasikan dalam hidup dan kehidupan kita sehari-hari.

    MENDIRIKAN DAYAH BUDI
    Masih dalam tahun yang sama yaitu 1967 Beliau mendirikan dan memimpin Yayasan Dayah Bahrul ‘Ulum Diniyah Islamiyah (BUDI MESJA) sampai akhir hayatnya. Beliau berkeluarga dengan bengawan di Gampongnya yang bernama Hj. Sunainiyah binti Tgk. Ahmad pada tahun 1968 (maaf tanggal dan bulan tidak ditemukan lagi). Kini ABU BUDI tidak sendiri lagi, Beliau adalah pemimpin keluarga yang mesti bertanggung jawab kepada putra-putrinya, naluri kebapakannya mulai tumbuh sejak beliau berumur 20 tahun, bahtera keluarga didayung dengan sangat sederhana, jiwanya damai dan penuh qana’ah (mensyukuri apa adanya) fenomena seperti ini tidak pernah sirna dari jiwanya sampai akhir hayatnya Selama memimpin dayah BUDI, Beliau selalu aktif dalam menjalankan tugas-tugasnya sebagaimana layaknya tangung-jawab seorang pemimpin. Berbagai pengalaman, tenaga dan waktu selalu dimanfa’atkan untuk mencapai tujuan yang mulia, bahkan hampir semua bentuk kepedulian dan loyalitas yang di milikinya, semua yang dituangkan demi kemajuan pendidikan seraya menunjukkan eksitensi yang besar agar tercapai semua program yang menunjang pendidikan di Dayah BUDI.

    Beliau adalah figur pemimpin yang aktif, kreatif, kapabel, aseptabel, dan konsten dalam memangku berbagai jabatan, dengan semangat perjuagan dan kegigihan serta kesungguhan Beliau, nama Dayah BUDI melambung tinggi dan tercium kemana-mana, hal ini terbukti dengan sejumlah Santriwan dan Santriwati yang mondok disana, mereka datang dari berbagai pelosok Nusantara, bahkan dari Negara tetangga (MALAYSIA) yang berdomisili di Dayah yang didirikannya.

    Dari hari ke-hari ABU BUDI berkiprah sepertinya tidak mengenal lelah dalam menderma-baktikan diri di Dayah BUDI hinga wajar dan pantas saja Dayah BUDI kini bisa tampil beda dengan mengandalkan aset yang di milikinya, tidak berlebihan kalau Dayah BUDI kini memiliki aset yang terbesar di tanah rencong ini, semua potensi yang dimilikinya akan dikontribusikan untuk kepentingan bersama, untuk kepentingan agama dan kesenambungan jalannya roda pendidikan di Dayah yang di pimpinnya. Kerena berulang kali beliau menceritakan dihadapan murid-muridnya Beliau bercita-cita hendaknya Dayah BUDI ini bisa bertahan sampai Nabi Isa AS turun dari langit. Kalimat yang bernada seperti ini diwujudkan dalam wanta-wanti menjelang kepergiannya.

    Dalam memimpin Dayah, Abu BUDI tidak hanya fokus pada kualitas pendidikan, tetapi beliau juga memperhatikan perkembangan ekonomis dayah. Beberapa kekayaan/aset Dayah BUDI yang berhasil dihimpunkan selama kepimpinan Beliau adalah :
    1. Kebun karet seluas 26 Hektar
    2. Kebun rambutan seluas 40 Hektar
    3. Tambak udang 2 Hektar
    4. 1 (satu) unit Truek roda empat
    5. 1 (satu) kilang padi dengan kapisitas 8 (Delapan) Ton per-hari.
    6. 100 Hektar lahan tidur, menurut rencana semasa hidup Beliau, akan ditanami kelapa sawit.

    Dengan aset yang dimiliki, nama Dayah BUDI melambung tinggi bahkan tepat untuk dicontohi oleh Pesantren-pesantren lain sebagaimana komentar Bapak Syamsudin Mahmud (Gebenur Aceh Kala Itu) di harian serambi Indonesia.

    Hal ini terwujud kerja-sama yang baik diantara pimpinan dan bawahan dan kerja keras santriwan maupun santriwati dengan cara bergotong-royong secara aplus-aplusan yang dikeordinir langsung oleh Beliau. Pada suatu kutika pernah Beliau turun tangan langsung ikut membabat semak-belukar bersama murid-muridnya sebagaimana yang diceritakan oleh (Alm) Tgk. Muhammad Badawy selaku bendaharawan BUDI saat itu, keperdulian Beliau terhadab perkembangan Dayah BUDI sangat besar, tidak sedikit tenaganya terkuras untuk kepentigan orang banyak, agama, nusa dan bangsa. Sering sekali nampak ekspresi wajah dengan dahi yang berkerut untuk melahirkan ide dan argumern yang cemerlang, keberadaan Dayah BUDI dari berbagai sisi kehidupan Beliau memang tidak dapat dipisahkan, ibarat uang logam yang tidak dapat dipisahkan antara satu sisi dengan sisi yang lainnya.

    MURID ABU BUDI LAMNO

    Abu lamno di kenal sebagai ulama yang gigih mencetak kader ulama. Beberapa ulama yang merupakan hasil didikan Abu lamno antara lain:

    1. Tgk. H. Asnawi Ramli Pimpinan Dayah BUDI sekarang ini sebagai pengganti Abu Ibrahim Lamno.
    2. Tgk. H. Syamaun Risyad Lc. Pimpinan Dayah ‘Ulumudin – Cunda Aceh Utara
    3. Drs. Tgk .H. Mukhtar Wahab Pimpinan Dayah Darussa’adah – Teping Raya Pidie
    4. Tgk. H. Anwar Pimpinan Dayah Miftahul’Ulum – Tanoh Mirah Aceh Utara
    5. Tgk. Hasballah Ali Pimpinan Dayah Darutthalibin – Nisam Aceh Utara
    6. Tgk. H. M. Amin Pimpinan Dayah Darul Kamaliyah – Keumala pidie
    7. Tgk. H. M . Jamil Ibrahim Pimpinan Dayah Jeumala Amal – Lueng putu pidie
    8. Tgk. H. Ramli Pimpinan Dayah Ruhul Islam – Krueng Manee Aceh Utara
    9. Tgk. H . Athailah Ishaq Pimpinan Dayah Yayasan Ulee Titie – Siron Aceh Besar
    10. Tgk. Sofyan Pimpinan Dayah Babul ’Ulum – Teunom Aceh Barat
    11. Tgk. H. Hasboh Isa Pimpinan Dayah Raudhatul Islam – Geudong Aceh Utara
    12. Tgk. Amri Ahmad Pimpinan Dayah Ruhul Islam – Tanah Luas Aceh Utara
    13. Tgk. Walidin Pimpinan Dayah RUDI – Tanah Luas Aceh Utara
    14. Tgk. Sunarni Pimpinan Dayah Nidaul Islam – Lampung Barat
    15. Tgk. H. Mustafa Thayib Pimpinan Dayah Al-Azhar – Simpang Mulieng Aceh Utara
    16. Tgk. Usman Ishaq Pimpinan Dayah NUDI – Meurah Mulia Aceh Utara
    17. Tgk. Mustafa Thayib Pimpinan Dayah Sayed Mustafa – Karang Panjang Jambi
    18. Tgk. H. Muhammad Dahlan Pimpinan Dayah Darul Mudaris – Meurah Mulia Aceh Utara
    19. Tgk. Syarifudin Ibas Pimpinan Dayah Babul ’Ulum – Samatiga Aceh Barat
    20. Tgk. Hilmi Pimpinan Dayah Yayasan Al-Anshar – Krung sabe Aceh Jaya
    21. Tgk. Nazaruddin Pimpinan Dayah – Pante Pisang Peusangan Bireuen
    22. Tgk. H. Abdurrani Pimpinan Dayah Babul Huda – Aceh Barat
    23. Tgk. H. Bukhari Pimpinan Dayah BUDI Muthmainnah – Ulee Kareng Banda Aceh
    24. Tgk. Azmi Syah Pimpinan Dayah Nurussalam – Abdya
    25. Tgk. Muhammad Yunus Pimpinan Dayah Miftahul Jannah – Wayla Induk
    26. Tgk. Abdul Malek Pimpinan Dayah Miftahul ’Ulum – Wayla Barat
    27. Tgk. Muslem Pimpinan Dayah Syamsul Fata – Wayla Barat
    28. Tgk. Jalaluddin Basyah Pimpinan Dayah Babul Huda – Keluang Aceh Jaya
    29. Tgk. Marzuki Pimpinan Dayah MUDI Meska – Kuala Daya Aceh Jaya
    30. Tgk. Rahimudin Pimpinan Dayah Darul ‘Amilin – Patek Aceh Jaya
    31. Tgk. H. Muslem Pimpinan Dayah Darunnizam – Teunom Aceh Barat
    32. Tgk. H. Muhammad Syam Pimpinan Dayah Babul ‘Ulum – Teunom Aceh Jaya
    33. Tgk. Zulkifli Ahmad Pimpinan Dayah MUDI – Abdya
    34. Tgk. Abdurrazy Pimpinan Dayah Darul Ilham – Labuhan Haji Aceh Selatan
    35. Tgk. H. Ibrahim Pimpinan Dayah Darul Yaqin – Banda Sakti
    36. Tgk. Abdul Munir Pimpinan Dayah Bahrul’Ulum Al-Waliyah – Nibong
    37. Tgk. Burhanuddin Pimpinan Dayah BUDI Malikussaleh – Idi Cut Aceh Timur
    38. Tgk. Adnan Pimpinan Dayah Babul ’Ulum – Muara Batu
    39. Tgk. H. Abdurrazak Lc. Pimpinan Dayah Daruzzahidin – Lamce Aceh Besar
    40. Tgk. Sanusi Pimpinan Dayah Darul Huda – Lhokseumawe
    41. Tgk. Jalaluddin Pimpinan Dayah Qiraatul Huda – Sawang Aceh Utara
    42. Tgk. Yahya Pimpinan Dayah Subulusalam – Kuta Cane Aceh Tenggara
    43. Tgk. Atlibas Dami Pimpinan Dayah DAMI – Simpang Ulim Aceh Timur
    44. Tgk. Burhanuddin Pimpinan Dayah Bayanul Huda – Perlak Aceh Timur
    45. Tgk. Asnawi Pimpinan Dayah Serambi Mekah – Idi Aceh Timur
    46. Tgk. Muhammad Negro Pimpinan Dayah NUDI – Sungai Mas Aceh Barat
    47. Tgk. Agustiawan Jamal Pimpinan Dayah Bustanul Muta’Alimin – Aceh Besar
    48. Tgk. Ihsan Zulkifli Bukhari Pimpinan Yayasan Dayah Darul ‘Alimin (YADDA) –Aceh Besar,
    49. Tgk. Rahmat Sadli Pimpinan Dayah Babarrahmah – Lamblang Trieng Aceh Besar
    50. Tgk. Said Khaidir Pimpinan Dayah BUDI Ihsani – Bakauhulu Lb. Haji Aceh Selatan
    51. Tgk. A. Razi Pimpinan Dayah Darul Ilham – Sawah Liat Lb. Haji Aceh Selatan
    52. Tgk. Ja’far Pimpinan Dayah Sirajul Ibad – Rhot Tengah Meukek Aceh Selatan

    PIMPINAN DAN KETUA ORMAS
    Disamping Beliau sibuk sebagai Pimpinan Dayah, ABU BUDI juga aktif dalam berorganisasi kemasyarakatan, sosial dan politik, diantaranya : pada tahun 1978 Beliau menjabat ketua BHA (Badan Harta Agama) Kecamatan Jaya dan ketua Inshafuddin Aceh Barat, sedangkan jabatan lain yang masih Beliau pimpin sampai saat ABU menghembus nafas terakhir adalah ketua IPHI (Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia) Kecamatan Jaya, ketua DPC PERTI Aceh Barat dan ketua DPC PPP Aceh Barat.

    WAFATNYA ABU BUDI
    Tepat pada hari Rabu tanggal 14 Mei 1997 M. bertepatan dengan 7 muharram 1418 H. pukul 23.00 WIB (11 malam) ABU berpulang kerahmatullah dalam usia 61 tahun, yang diduga akibat sesak nafas. Dengan meninggalkan seorang istri yang bernama Hj. Sunainiah binti Tgk. Ahmad juga meninggalkan 2 orang putra dan 2 orang putri. Masing-masing, Tgk. Nabhani 27 tahun, Afifuddin 12 tahun, Chairiati 22 tahun dan Nunul Hidayati 5 tahun. Namun kedua orang putri Beliau juga telah berpulang kerahmatullah saat musibah gempa Tsunami tahun 2004 yang silam.

    Pimpinan Dayah BUDI yang juga ketua DPC PPP Aceh Barat tersebut menghembuskan nafas terakhir dirumah kediamannya Gampong Jangeut Kec. Jaya Kab. Aceh Jaya, yang disaksikan oleh Istri, Anak dan Dewan Guru Dayah BUDI.

    Lalu langit diatas bumi Teuku Umar yang terbalut mendung hitam saat itu seolah-olah turut berduka dan sedih mengiringi kepergiannya. Komplek Dayah BUDI tempat Beliau mewarisi ilmunya sejak 30 tahun yang lalu larut dalam kepiluan, ribuan masyarakat berdatangan mengucapkan belasungkawa serta irigan do’a buat ABU tercinta.

    Abu BUDI LAMNO
    Jenazah Abu Ibrahim Lamno
    Menjelang detik detik terakhir ajal menjemputnya ABU sempat menitipkan amanah/wasiat kepada keluarga, Dewan Guru dan Santri yang menjenguknya di malam yang runyam itu “ JAGALAH PESANTREN INI BAIK-BAIK” Demikianlah wanta-wanti yang diulang-ulanginya sebagaimana yang di hikayahkan oleh Tgk. Atlibas Dami (Staf Pengajar Dayah BUDI).

    Adapun bentuk kegiatan ABU di Dayah yang dapat mencium ajalnya adalah mulai pembukaan pengajian santri yang baru naik kelas III Tsanawiyah dan kelas II ‘Aliah, setelah ABU menyelesaikan tugas yang mulia, ABU pun beranjak pulang kerumah yang terpaut sekitar 100 Meter, begitu tiba di rumah ABU mengeluh sakit sambil mengurut dada, seluruh angota keluarga, Dewan Guru dan Santri cemas, secepatnya mereka mejemput pertologan Mentri dan Dokter terdekat, namun ketika kedua Dokter dan Mentri tiba ternyata ABU telah berpulang kerahmatullah. Demikianlah desir-bisikan Dokter Handoko dan Dr. Sri Wahyuni sebelum meninggalkan rumah duka.

    Kubah Maqam Abu Ibrahim Lamno
    Maqam Abu Ibrahim Lamno
    Berita kepulangan ABU begitu cepat menyebar, gelombang masyarakat tak pernah henti berdatangan walau acara pemakaman selesai pada pukul 16.30WIB (04.30 sore) dihari yang pilu itu, bahkan karena meledaknya masyarakat yang berdatagan shalat jenazah yang dilangsungkan di Mesjid Komplek Dayah BUDI terpaksa digilirkan belasan kali. Gubernur Aceh Syamsudin Mahmud bersama Danrem 012/Teuku Umar, Kapolda, Kajari, Ketua MUI (Alm) H. soefyan Hamzah dan belasan pejabat tingkat I tiba di rumah duka sekitar pukul 15.00 WIB, sedangkan Bupati Kepala Daerah tingkat II Aceh Barat (Alm) Drs. T. H. Rosman, Dandim 0105, Kapolres dan sejumlah pejabat yang lain tiba terlebih dahulu dari rombogan Gebernur. Semua para pejabat Pimpinan Pesantren, ‘Alim Ulama yang larut dalam lembah duka tidak akan kembali sebelum prosesi pemakaman selesai, kemudian dalam geyuran hujan lebat yang seolah-olah turut larut dalam kepiluan ikut mengantar Almarhum ABU BUDI yang diturunkan ketempat peristirahatan terakhir disamping rumahnya sekitar pukul 16;30 WIB.

    Keharuan yang dalam menyertai keberangkatan sang tokoh, itulah ABU BUDI. Sosok Ulama yang sederhana, qana’ah, kharisma, teguh pendirian, memiliki pandangan yang luas sarta tidak pernah mengenal lelah dalam menderma-baktikan hidupnya demi kepentigan agama, nusa dan bangsa, selalu istiqamah dalam memegang erat prinsip-prinsip hidup yang diyakini kebenarannya, yang benar dikatakan benar, yang salah dikatakan salah, yang hitam dikatakan hitam dan yang putihpun tetap dikatakan putih

    dayah budi mesra pasca tsunami 2004
    dayah budi mesra pasca tsunami 2004
    Inilah biografi singkat tentang (Alm.) ABU BUDI yang pantas kita jadikan perhatian, panutan dan suri-tauladan bagi kita semua terutama sekali bagi kita semua untuk mengikuti jejak beliau. Semoga Allah melimpahkan barakah ilmu beliau kepada kita semua dan semoga Allah melahirkan ABU BUDI yang lain di bumi Aceh tercinta ini khususnya dan Nusantara ini umumnya.




    Amaliyah pada akhir dan awal tahun

    Amaliyah pada akhir dan awal tahunSebentar lagi tahun 1434 H akan berakhir dan tahun baru 1435 H akan datang. Kesempatan menjalani tahun baru berarti Allah masih memberikan nikmatNya berupa umur panjang yang merupakan satu nikmat yang wajib disyukuri.
    Cara mensyukuri nikmat Allah adalah dengan menggunakan nikmat tersebut pada tempat tujuan penciptaannya. Untuk mensyukuri nikmat umur yang Allah berikan maka kita harus menggunakan umur tersebut untuk beribadah kepada Allah. Maka di akhir tahun dan di awal tahun baru sangatlah dianjurkan untuk memperbanyak doa dan amalan sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

    Berikut ini beberapa amalan yang kami kutip dari kitab para ulama yang dapat diamalkan dalam mengakhiri tahun ini dan menyambut tahun baru, semoga Allah mengampunkan dosa kita dalam tahun yang telah lalu dan Allah memberikan tahun kedepan sebagai tahun yang penuh rahmat dan jauh dari tipu daya syaithan, sehingga kita sempat menjalaninya dengan beribadah kepada Allah dengan niat yang ikhlas.
    Amiin Ya Rabbal Alamiin.

    Doa Akhir tahun

    Doa ini di baca sebanyak tiga kali

    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
    (اَللّهُمَّ) مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ فِي هَذِهِ السَّنَةِ مِمَّا نَهَيْتَنِى عَنْهُ فَلَمْ اَتُبْ مِنْهُ وَلَمْ تَرْضَهُ، وَنَسِيْتُهُ وَلَمْ تَنْسَهُ، وَحَلِمْتَ عَلَيَّ مَعَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِي؛ وَدَعَوْتَنِي إِلَى التَّوْبَةِ مِنْهُ بَعْدَ جُرْأَتِي عَلَى مَعْصِيَّتِكَ فإِنِّي أَسْتَغْفِرُكَ مِنْهُ فَاغْفِرْ لِي
    (اَللّهُمَّ) وَمَا عَمِلْتُ مِنْ مِمَّا تَرْضَاهُ وَوَعَدْتَنِي عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَأَسْأَلُكَ اَللّهُمَّ يَا كَرِيْمُ يَا ذَالْجَلاَلِ والإِكْراَم أَنْ َتَتَقَبَّلَهُ مِنِّي، وَلَا تَقْطَعَ رَجَائِي مِنْكَ يَا كَرِيْمُ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ؛ وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

    Amalan Awal tahun

    1. Puasa

    Salah satu amalan yang dapat dilaksanakan pada awal hari pertama bulan Muharram adalah puasa.
    Al-Hafidh Ibnu Hajar al-Asqalani meriwayatkan :

    من صام آخر يوم من ذي الحجة وأوّل يوم من المحرّم جعله الله تعالى له كفارة خمسين سنة، وصوم يوم من المحرم بصوم ثلاثين يومًا

    Barang siapa berpuasa pada akhir dari bulan Zulhijjah dan awal dari bulan Muharram akan Allah jadikan baginya keampunan lima tahun dan puasa sehari di bulan Muharram bagaikan puasa 30 hari.

    Bulan Muharram adalah bulan yang sangat di anjurkan untuk berpuasa terlebih lagi di sepuluh awal bulan Muharram, terutama pada hari Tasu`a (9 Muharram) dan Asyura (10 Muharram). Bahkan bulan Muharram adalah bulan yang lebih utama untuk berpuasa setelah bulan Ramadhan.

    2. Doa-doa di awal tahun
    Banyak doa yang warid dari Rasulullah dan yang di amalankan oleh para ulama pada awal tahun, antara lain:

    Membaca ayat kursi sebanyak 360 kali disertai dengan basmalah pada setiap kali bacaan, kemudian dilanjutkan dengan membaca doa di bawah ini:

    اللّهُمَّ يَا مُحَوِّلَ الأَحْوَالِ حَوِّلْ حَالِيْ إِلَى أَحْسَنِ الأَحْوَالِ بِحَوْلِكَ وَقُوَّتِكَ يَا عَزِيْزُ يَا مُتَعَال، وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّم

    Imam Sayyid Zaini Dahlan mengatakan bahwa beliau selalu mengamalkan amalan tersebut setiap awal tahun dan sangat berfaedah sebagai benteng dari syaithan. Guru beliau Syeikh Usman ad-Dimyathy juga selalu mengamalkan amalan tersebut.

    Syeikh Hasan al-`idawy al-Hamzawy mengatakan bahwa faedah amalan tersebut adalah memelihara pengamalnya dalam setahun tersebut dari hal-hal yang ia benci.

    Membaca doa di bawah ini sebanyak tiga kali :

    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ ، الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (اَللّهُمَّ) صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تَمْلَأُ خَزَائِنَ اللهِ نُوْرًا، وَتَكُوْنُ لَنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ فَرَجًا وَفَرَحًا وَسُرُوْرًا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. (اَللّهُمَّ) أَنْتَ الْأَبَدِيُّ الْقَدِيْمُ الْأَوَّلُ، وَعَلَى فَضْلِكَ اْلعَظِيْمِ وَكَرِيْمُ جُوْدِكَ الْعَمِيْمُ الْمُعَوَّلُ، وَهَذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلَ، أَسْأَلُكَ الْعِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَائِهِ، وَالْعَوْنَ عَلَى هَذِهِ النَّفْسِ الْأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ، وَاْلاِشْتِغَالِ بِمَا يُقَرِّبُنِي إلَيْكَ زُلْفَى، يَا ذَا الْجَلَالِ وَاْلإكْرَامِ، وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ.

    Doa ini berfaedah memelihara manusia dari gangguan syaithan pada tahun tersebut.

    Doa Nabi Khidir as.
    Disebutkan dalam satu riwayat bahwa Imam Ghazali menceritakan : saya berada di Makkah pada awal hari tahun baru Hijriyah, saya melakukan thawaf Baitil Haram. Kemudian tergores dalam hati saya supaya bisa melihat Nabi Khidir as pada hari tersebut, kemudian Allah mengilhami saya untuk berdoa, maka saya berdoa supaya Allah menghimpunkan saya dengan Nabi Khidir pada hari tersebut. Belum selesai saya berdoa tampaklah bagiku Nabi Khidir di tempat Thawaf, sayapun berthawaf bersama beliau dan mengerjakan apa yang beliau kerjakan, dan mengikuti bacaannya sehingga selesai thawaf, kemudian saya duduk sambil melihat rumah yang mulia (ka`bah) kemudian beliau berpaling kepada saya dan berkata “hai Muhammad, apa yang membuatmu meminta kepada Allah untuk menghimpunkan saya dengan dirimu pada hari ini di tanah haram yang mulia ini”? Saya menjawab “Ya Sayyidi, hari ini adalah tahun baru, saya mencintai mengikuti engkau dalam menghadapi tahun baru dengan ibadat dan tadharu’mu”. Nabi Khidir menjawab “ya”. Kemudian beliau berkata “rukuklah dengan rukuk yang sempurna”. Maka saya segera berdiri dan shalat sebagaiman beliau perintahkan, ketika selesai dari shalat beliau berkata “berdoalah dengan doa ma’tsur ini yang menghimpunkan bagi kebaikan dan barakah”. Doa tersebut adalah :

    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ ، الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. (اَللّهُمَّ) إنِّي أسْأَلُكَ بِكَ أَنْ تُصَلِّيَ وَتُسَلِّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى سَائِرِ الْأنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى آلِهِمْ وَصَحْبِهِمْ أجْمَعِيْنَ، وَأنْ تَغْفِرَ لِي مَا مَضَى وَتَحْفِظَنِي فِيْمَا بَقِيَ يَا أرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. (اَللّهُمَّ) هَذِهِ سَنَةٌ جَدِيْدَةٌ مُقْبِلَةٌ لَمْ أعْمَلُ فِي ابْتِدَائِهَا عَمَلاً يُقَرِّبُنِي إلَيْكَ زُلْفَى غَيْرَ تَضَرُّعِي إلَيْكَ؛ فَأسْألُكَ أنْ تُوَفِّقَنِي لِمَا يُرْضِيْكَ عَنِّي مِنَ الْقِيَامِ بِمَا لَكَ عَلَيَّ مِنْ طَاعَتِكَ، وَألْزَمْتَنِيَ الْإخْلَاصَ فِيْهِ لِوَجْهِكَ اْلكَرِيْمِ فِي عِبَادَتِكَ، وَأسْألُكَ إتْمَامَ ذَلِكَ عَلَيَّ بِفَضْلِكَ وَرَحْمَتِكَ (اَللّهُمَّ) إنِّي أسْأَلُكَ خَيْرَ هَذِهِ السَّنَةِ الْمُقْبِلَةِ؛ يُمْنَهَا وَيُسْرَهَا، وَأَمْنَهَا وَسَلَامَتَهَا، وَأعُوْذُ بِكَ مِنْ شُرُوْرِهَا وَصُدُوْدِهَا، وَعُسْرِهَا وَخَوْفِهَا وَهَلَكَتِهَا، وَأرْغَبُ إلَيْكَ أنْ تَحْفِظَ عَلَيَّ فِيْهَا دِيْنِيَ الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أمْرِي وَدُنْيَايَ الَّتِي فِيْهَا مَعَاشِي، وَتُوَفِّقَنِي فِيْهَا إلَى مَا يُرْضِيْكَ عَنِّي فِي مِعَادِي، يَا أكْرَمَ اْلأكْرَمِيْنَ، وَيَا أرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ (دَعْوَاهُمْ فِيْهَا سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيْهَا سَلَامٌ، وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ أنِ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ)

    Salah satu doa yang berfaedah memelihara diri dari syaithan dalan setahun adalah doa bawah ini, dibaca setiap hari dari hari pertama Muharram hingga sepuluh Muharram sebanyak tiga kali:

    اَللّهُمَّ إنَّكَ قَدِيْمٌ وَهَذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أقْبَلَ، وَسَنَةٌ جَدِيْدَةٌ قَدْ أقْبَلَتْ، نَسْألُكَ مِنْ خَيْرِهَا وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا، وَنَسْتَكْفِيْكَ فَوَاتَهَا وَشُغْلَهَا، فَارْزُقْنَا الْعِصْمَةَ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، اَللّهُمَّ إنَّكَ سَلَّطْتَ عَلَيْنَا عَدُوًّا بَصِيْرًا بِعُيُوْبِنَا، وَمُطَّلِعًا عَلَى عَوْرَاتِنَا، مِنْ بَيْنِ أيْدِيْنَا وَمِنْ خَلْفِنَا، وَعَنْ أيْمَانِنَا وَعَنْ شَمَائِلِنَا، يَرَانَا هُوَ وَقَبِيْلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا نَرَاهُمْ، اَللّهُمَّ آيِسْهُ مِنَّا كَمَا آيَسْتَهُ مِنْ رَحْمَتِكَ، وَقَنِّطْهُ مِنَّا كَمَا قَنَّطْتَهُ مِنْ عَفْوِكَ، وَبَاعِدْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُ كَمَا حُلْتَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ مَغْفِرَتِكَ، إنَّكَ قَادِرٌ عَلَى ذَلِكَ، وَأنْتَ الْفَعَّالُ لِمَا تُرِيْدُ، وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

    Referensi:
    Syeikh Abdul Hamid Qudus, Kanz Najah wa al-Surur fi Ad`iyyah allati Tusyrih al-Shudur.

    Sumber Abu MUDI

    Doa akhir tahun yang lebih panjang bisa di download di SINI.

    donasi
    donasi

    selengkapnyaAMALAN SUNAT

    selengkapnyaDownload

    selengkapnyaDOA

    selengkapnyaAswaja