Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

ٍSyeikh Al-Buthi: Mendoakan Ridha Allah Bagi Khulafaurrasyidin di Celah Shalat Taraweh

Di sebagian daerah dalam shalat taraweh saat setiap empat rakaat mendoakan ridha bagi empat khulafaurrasyidin. Golongan ahli tukang bid’ah [wahabi] sangat anti dengan jenis perbuatan demikian. Namun tidak perlu dihiraukan mereka. Cukuplah bagi kita penjelasan-penjelasan ulama besar Ahlus sunnah wal Jamaah yang mampu memahami al-quran dan hadits dengan lebih luas. Salah satu ulama Ahlus sunnah zaman ini adalah almarhum Syeikh Sa’id Ramadhan al-Buthy. Beliau pernah ditanyakan hukum mendoakan ridha Allah bagi empat shahabat khulafaurrasyidin. Berikut pertanyaan dan jawaban beliau lengkap dengan terjemahannya.
755
 حكم الترضى عن الخلفاؤ بين ركعات التراويح
ما حكم رفع الصوت بالترضى عن الخلفاء الراشدين بين ركعات التراويح؟
لا بأس من الاعتماد على اي وسيلة لضبط الركعات التى صليت من التراويح,ولعل ذكر اسماء الخلفاء الأربعة والترضى عنهم عند اتمام كل اربع ركعات خير الوسائل إلى ذلك والقاعدة تقول للوسائل حكم الغايات فما لا يتحقق الواجب إلا به واجب وما لا يتحقق المندوب إلا به مندوب
استفتاءات الناس للإمام الشهيد البوطى على موقع نسيم الشام ص 128


Pertanyaan No. 755; Hukum mendoakan ridha Allah untuk para khulafaurrasyidin diantara salam shalat taraweh.
Apa hukum meninggikan suara dengan mendoakan ridha Allah untuk para khulafaurrasyidin diantara salam shalat taraweh.
Jawab; Tidak mengapa menyandarkan terhadap apapun untuk mengingat rakaat shalat taraweh yang sudah dikerjakan. Mudah-mudahan penyebutan nama khalifah yang empat dan mendoakan ridha Allah bagi mereka ketika sempurna setiap empat rakaat adalah sebaik-baik jalan untuk demikian. Qaedah menyebutkan bahwa bagi jalan berlaku hukum tujuan. Sesuatu yang tidak bisa wujud wajib kecuali dengannya maka ia juga wajib. Sesuatu yang tidak bisa wujud perbuatan sunat kecuali dengannya maka ia juga sunat.
Istifta` an-Nas li al-Imam asy-Syahid al-Buthi ‘ala Mauqi’ Nasimsyam hal 128

Kesimpulan jawaban Syeikh Buthi adalah, pembacaan doa ridha tersebut hukumnya dibolehkan. Pembacaan taradhdhi itu umumnya dilakukan pada setiap empat rakaat, berfungsi sebagai pengingat rakaat setiap kali mencapai empat rakaat. Sebenarnya boleh saja menjadikan apa saja sebagai pengingat rakaat shalat taraweh. Maka kita lihat dilapangan, masyarakat berbeda-beda bacaan zikir mereka pada setiap empat rakaat, menurut kebiasaan masing-masing daerah. Syeikh Buthy menyatakan bahwa mendoakan ridha Allah bagi empat shahabat pada setiap rakaat shalat taraweh merupakan salah satu jalan terbaik untukk mengingat jumlah rakaat. Penjelasan Syeikh Buthy ini sejalan dengan penjelasan Dar Ifta’ al-Mishriyah bahwa hal ini diserahkan kepada kebiasaan kaum muslimin sendiri. Bagi yang terbiasa membaca taradhdhi disetiap empat rakaat maka silahkan saja dibaca dan bagi yang tidak maka juga boleh untuk tidak membacanya.
Kitab Istifta` an-Nas li al-Imam asy-Syahid al-Buthi merupakan kumpulan jawaban Syeikh Buthi terhadap berbagai pertanyaan yang diajukan kepada beliau melalui website www.naseemalsham.com.

File pdf kitab tersebut bisa didownload di website http://www.naseemalsham.com
http://www.naseemalsham.com atau langsung ke DOWNLOAD

Share artikel ini :
Dapatkan update topik terbaru via email dengan mendaftarkan alamat email anda di form di bawah ini:

Setelah memasukkan email dan klik subscribe, cek email lalu ikuti link verifikasi.

belum ada komentar untuk ٍSyeikh Al-Buthi: Mendoakan Ridha Allah Bagi Khulafaurrasyidin di Celah Shalat Taraweh