Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Taklid pada Masalah Tauhid, Bolehkah?

Taklid pada Masalah Tauhid
Wajib kepada setiap Muslim yang Mukallaf untuk mengetahui itikad 50, dan pada setiap akidah tersebut wajib pula untuk mengetahui dalil Ijmali dan Tafshilinya. Wajib di sini bermakna dosa bila tidak dikerjakan.
Wajib mengetahui dalil Tafshili merupakan pendapat dari sebagian para Ulama, sedangkan menurut Jumhur Ulama Tauhid memadai dengan dalil Ijmali.

Contoh dari dalil Tafshili misalnya, seseorang ditanyakan “apa dalil wujud-nya Allah?”. Dia menjawab: “ini makhluk”. Kemudian ditanyakan lagi kepadanya: ”makhluk ini menunjuki kepada wujud allah dari aspek mungkin wujudnya atau dari aspek wujud dan tidak wujudnya”. Saat dia menjawab pertanyaan tersebut dengan baik dan benar, maka dia telah dianggap mengetahui dalil Tafshili. Sedangkan jika dia tidak dapat menjawabnya, maka syara’ cuma menganggapnya mengetahui dalil Ijmali. Demikianlah analogi singkat perbedaan dalil Ijmali dan Tafshili.

Sedangkan taklid adalah mengetahui itikad 50 dengan tidak mengetahui dalil Ijmali dan Tafshilinya.
Ulama berbeda pendapat tentang boleh dan tidaknya Taklid, sebagian dari mereka mengatakan tidak boleh Taklid, dan menghukum orang yang Taklid tersebut kepada kafir. Golongan Ulama yang tidak membolehkan Taklid seperti Imam Sanusi dan Ibnul Arabi. Walaupun demikian, ada beberapa riwayat yang menyebutkan kalau Imam Sanusi merevisi pendapat tersebut dan mengakui tentang kebolehan Taklid. Namun pengarang kitab Kifayatul Awam mnegakui kalau beliau tidak menemukan satupun dalam kitab Imam Sanusi yang membolehkan Taklid.

Pernyataan pengarang Kifayatul Awam yang tidak melihat dalam kitab Imam Sanusi tentang kebolehan taklid tidak serta merta menafikan tentang adanya pendapat tersebut dari Imam Sanusi, karena boleh jadi ada kitab Imam Sanusi yang tidak dilihat oleh beliau, demikian menurut Syaikh Imam Bajuri dalam Hasyiyah Kifayatul Awam.

Perbedaan dalil Tafsili dan Ijmali

Dalil Tafsili adalah dimana seseorang dengan berpegang pada dalil tersebut sanggup untuk menjelaskan bagaimana sebuah dalil mengarah/tertuju kepada maksud(tujuan) atau sanggup menolak/membedakan syubhat( kesamaan) di antara dalil-dalil tersebut, sehingga sanggup untuk membedakan sebuah dalil yang secara ekplisit cocok dan sangat pantas kepada sebuah hukum, padahal sebenarnya dalil itu bukan untuk hukum tersebut, dan sanggup untuk menjawab semua debatan yang datang kepada dalil tersebut. Sedangkan dalil Ijmali adalah tidak sanggup melakukan satu atau semua hal yang telah di sebutkan( Tahqiqul kalam ‘ala kifayatil awam/15).

Share artikel ini :
Dapatkan update topik terbaru via email dengan mendaftarkan alamat email anda di form di bawah ini:

Setelah memasukkan email dan klik subscribe, cek email lalu ikuti link verifikasi.

belum ada komentar untuk Taklid pada Masalah Tauhid, Bolehkah?