Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Takbir di Hari Raya

Takbir di Hari RayaSalah satu syiar dalam malam hari raya (hari raya idul fithri dan idul adha) adalah bertakbir.
Takbir pada hari raya terbagi dua jenis, yaitu:
  1. Takbir Mursal
    Takbir mursal adalah takbir yang dilakukan bukan mengiringi shalat baik shalat fardhu ataupun shalat sunat.
    Takbir mursal dimulai dari terbenamnya matahari malam hari Raya sampai saat imam melakukan takbiratul ihram shalat hari Raya bila hari Raya Idul Fitri. Takbir mursal disunatkan bagi laki-laki dan perempuan, orang musafir dan orang hadir baik dirumah, dipasar dijalan, dan di Mesjid.
  2. Takbir Muqayyad
    Sedangkan Takbir muqayyad adalah takbir yang dibaca setelah shalat, baik shalat fardhu dan shalat sunat, shalat qadha dan shalat jenazah.
    Adapun waktu pembacaan takbir muqayyad yaitu setelah subuh hari Arafah sampai Ashar akhir hari Tasyriq.
Adapun lafadh takbir yaitu:

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلهَ إلاَّ اللهَ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أكبَرُ، وَلِلّهِ الْحَمْدُ، اللهُ أَكبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً، لاَ إِلهَ إلاَّ اللهَ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَّمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لا اله الا الله ولا نعبد الا اياه مخلصين له الدين ولو كره الكافرون

Selain itu setelah bertakbir juga disunatkan bershalawat kepada Rasulullah, keluarga beliau dan shahabat, dan keturunan beliau.

Sumber: kitab Fathul Qarib, hal, 226-228. Jilid I. Cet. Al-Haramain.



Hukum mengucapkan Selamat Hari Raya

hukum mengucap selamat hari raya
Insya Allah besok kita semua akan merayakan hari raya idul fitri 1437 H. Salah satu hal yang lumrah dilakukan oleh kaum muslimin adalah mengucapkan selamat (tahniah) kepada saudara yang lain.

Namun belakangan muncul sebagian orang yang memvonis bahwa mengucap selamat hari raya adalah perbuatan bid'ah yang tidak boleh dilakukan.

Nah bagaimanakah hukumnya mengucapkan selamat hari raya? Benarkah bahwa mengucapkan selamat hari raya adalah bid'ah?

Imam al-Qamuli mengatakan:

لم أر لأحد من أصحابنا كلامًا في التهنئة بالعيد والأعوام والأشهر كما يفعله بعض الناس؛ لكن نقل الحافظ المنذري عن الحافظ المقدسي أنه أجاب عن ذلك: بأن الناس لم يزالوا مختلفين فيه؛ والذي أراه أنه مباح لا سُنّةٌ ولا بدعة

Saya tidak melihat ada kalam ulama kita tentang mengucapkan selamat hari raya, tahun baru, bulan baru sebagaimana yang telah dikerjakan oleh sebagian manusia, tetapi al-Hafidh al-Munziri mengutip dari al-Hafidh al-Maqdisi bahwa beliau menjawabnya “para ulama berbeda pendapat tentangnya, sedangkan pendapatku adalah mubah bukan sunnah dan bukan pula bid’ah”.

Sedangkan al-Hafidh Ibnu Hajar al-Asqalani setelah melihat jawaban al-Munziri beliau menjawabnya bahwa “hal tersebut adalah disyariatkan”.

Imam Ibnu Hajar al-Hafidh membawakan hujjah bahwa Imam Baihaqi membuat satu bab dalam kitab beliau dengan judul “hadits-hadits yang diriwayatkan tentang ucapan manusia kepada sesamanya dengan taqabbalAllahu minna wa minka. Beliau membawa beberapa hadits dan atsar yang dhaif namun secara keseluhurannya bisa dijadikan hujjah.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani mengatakan: dan kebolehan mengucapkan selamatan secara umum ketika datangnya nikmat atau selamat dari bencana dengan dalil disunatkan sujud syukur.
Dalil lain yang menunjuki bolehnya mengucapkan selamat adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim yang menceritakan kisah diterimanya taubat Ka’ab bin Malik ketika beliau tidak ikut perang Tabuk. Ketika datang kabar bahwa taubat beliau sudah diterima, beliau segera datang menemui Rasulullah SAW, kemudian bangunlah shahabat Nabi, Thalhah bin Ubaidillah dan mengucapkan selamat dan perbuatan beliau tidak diingkari oleh Rasulullah . [1]

Imam Suyuthi menuliskan satu risalah tentang mengucapkan selamatan ini dengan judul Wushul al-Amani bi Ushul at-Tahani yang berada dalam kumpulan kitab beliau Hawi lil Fatawi. Beliau membawakan beberapa hadits yang menceritakan kisah para shahabat yang mengucapkan selamat. Beliau mengelompokkanya dalam tahniah untuk satu kelebihan dan manaqib seseorang, tahniah untuk diterimanya taubat, tahniah untuk kesembuhan dari sakit, tahniah untuk kesempurnaan ibadah haji, tahniah untuk pulang dari ibadah haji, peperangan, tahniah untuk pernikahan, tahniah untuk kelahiran anak, tahniah untuk kedatangan bulan Ramadhan, tahniah untuk hari raya, tahniah untuk pakaian baru, tahniah untuk pagi dan sore. [2]

Pengarang kitab al-Mukhtar dari Mazhab Hanafi mengatakan :

إن التهنئة بالعيد بلفظ " يتقبل الله منا ومنكم " لا تنكر

“Bahwa mengucapkan selamat pada hari raya dengan lafadh – yataqabbalullAhu minna wa minkum/semoga Allah menerima amal kami dan kamu, tidak di ingkari”.

al-Muhaqqiq Ibnu Amir mengatakan :

بل الأشبه أنها جائزة مستحبة في الجملة

“Bahkan menurut yang kuat secara umum hal tersebut merupakan perkara yang boleh dan disunnahkan.

kemudian beliau membawa beberapa atsar shahih dari shahabat yang berkenaan dengan hal tersebut. Beliau juga mengatakan bahwa lafadh yang sering digunakan di negri Syam dan Mesir adalah :

عيد مبارك عايك
Semoga Allah berikan hari raya yang penuh barakah untuk kamu

Imam Malik pernah ditanyakan tentang seseorang yang mengucapkan taqabbalAllahu minna wa minkum, beliau menjawabnya;
ما أعرفه ولا أنكره
“Saya tidak mengetahuinya dan tidak pula mengingkarinya”.

Ibnu Habib menjelaskan maksud perkataan Imam Malik yaitu beliau tidak mengetahui sunnahnya dan tidak pula mengingkari orang yang mengerjakannya karena perkataan tersebut adalah perkataan yang bagus karena merupakan doa kebaikan. Bahkan Syeikh asy-Syaibi mengatakan bahkan hukumnya bisa menjadi wajib karena meninggalkannya akan menimbulkan fitnah dan memutuskan persaudaraan.

Ibnu Qudamah dalam kitab beliau, Mughni mengatakan bahwa Imam Ahmad mengatakan :

ولا بأس أن يقول الرجل للرجل يوم العيد : تقبل الله منا ومنك

dan tidak mengapa mengucapkan bagi orang lain di hari raya “taqabbalAllahu minna wa minkum”. [3]

Kesimpulannya, mengucapkan selamat ketika datangnya nikmat merupakan hal yang disunatkan, dan sunnah mendokannya supaya nikmat tersebut dikekalkan. Juga disunatkan untuk bersalaman bagi sesama jenis atau dengan yang mahramnya. Adapun bersalaman dengan berbeda jenis atau dengan amrad maka hukumnya adalah haram. Maka hari raya tidaklah diragukan lagi merupakan satu nikmat yang Allah berikan, karena adanya keampunan Allah yang besar bagi orang yang berpuasa selama sebulan Ramadhan.

------------------------------------------------------------------------------------------

  1. Syeikh Badul Hamid Qudus, Kanz Najah wa surur fi ad’iyah allati tasyrah shudur, hal 271. Dar Sabail
  2. Imam Suyuthi, Hawi lil Fatawi, jilid 1 hal 78 Dar Kutub ILmiyah
  3. Mausu’ah Fiqhiyah Kuwaitiyah, Jlid 14 hal 99 Dar Salasil

Tahukah Anda, bahwa Malam Hari Raya adalah Malam Mustajabah Doa

Umumnya di malam hari raya kita melihat masyarakat merayakannya dengan hati senang dengan berkumpul-kumpul, menhidupkan lampu indah atau kembang api, dan membakar lilin bagi anak-anak. Jarang terbesit dalam benak kita bahwa makam hari raya disunnahkan untuk dihidupkan dengan memperbanyak ibadah. 
Sebenarnya malam hari Raya termasuk malam yang memiliki banyak kelebihan, termasuk malam yang afdhal dimana siapa yang menghidupkan malam hari Raya Allah akan menghidupkan hati mereka dimana banyak hati yang telah mati. artinya dimana manusia mencintai dunia dan enggan melakukan amalan akhirat karena mati hatinya, Allah menghidupkan hati orang-orang yang menghidupkan malam hari Raya, Allah memberikan kemudahan dalam beribadah, beramal akhirat bagi mereka-meraka yang menghidupkan malam hari Raya hal ini sebagaimana sabda Rasullah SAW.

وعن أمامة رضي الله تعالى عنه قال : مَنْ أَحْيا لَيْلَتي العِيدِ أَحْيا الله قَلْبهُ يَوْمَ تَمُوتُ القُلُوبُ.

Artinya: Barangsiapa menghidupkan malam hari Raya maka Allah akan mengidupkan hatinya pada hari dimana banyak hati yang telah mati. (HR. Imam Tabrani).


Selain itu malam hari Raya termasuk juga salah satu malam yang diterima doa oleh Allah SWT. Sebagaimana hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Syafii :

بلغنا أنه كان يقال إن الدعاء يستجاب في خمس ليال في ليلة الجمعة وليلة الأضحى وليلة الفطر وأول ليلة من رجب وليلة النصف من شعبان

Artinya: Telah sampai riwayat kepada kami bahwa dikatakan doa dikabulkan pada lima malam, yaitu pada malam Jum`at, malam hari raya adha, malam hari raya fithri, awal malam bulan Rajab dan malam nishfu Sya`ban”.  [1]

Hal yang senada dengan hadis di atas berkaitan tentang lima malam tidak tertolak doa adalah riwayat yang menceritakan bahwa Umar bin Abdul Aziz mengirim surat kepada pegawai beliau di Bashrah, Beliau mengirim surat kepada pegawai beliau di Bashrah.

عليك بأربع ليال من السنة فإن الله يفرغ فيهن الرحمة إفراغا أول ليلة من رجب وليلة النصف من شعبان وليلة الفطر وليلة الأضحى.

Artinya: “Lazimkanlah empat malam dalam setahun karena sesungguhnya Allah memenuhi padanya dengan rahmat Nya, yaitu awal malam dari Rajab, malam nishfu Sya’ban, malam ‘idul-fithri, malam ‘idul-adha”. [2]

Dari beberapa riwayat di atas sangat jelas bahwa malam hari raya termasuk malam yang lebih, maka sudah semestinya kita mepergunakan waktu pada malam hari Raya untuk beribadah kepada Allah dan berdoa, karena pada malam hari Raya adalah termasuk malam yang mustajabah doa. Mari kita menghidupkan malam hari raya, jangan salah mengartikan malam hari raya, sebagaimana sebagian orang salah mengartikan malam hari raya sehingga anjuran Rasulullah untuk beribadah dan berdoa malam hari raya ditinggalkan kosong dari amalan, padahal malam yang berkah penuh makna. Oleh karena demikian dalam tulisan ini kami menukilkan pendapat para Ulama amalan-amalan dalam menghidupkan malam hari raya berdasarkan petunjuk Rasulullah. Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang Shalih. Amin....

Amalan dimalam Hari Raya

Beberapa amalan yang bisa kita lakukan di malam hari raya antara lain:
1. Shalat sunat
2.Shalat isya dan subuh secara berjamaah.
Imam al-Hifni berkata, sekurang-kurang menghidupkan malam bisa hasil dengan shalat isya berjamaah dan punya azam untuk shalat shubuh secara berjamaah. Namun yang dimaksud di sini adalah menghidupkan sebagian besar malam hari raya dengan beribadah, shalat, zikir dll untuk mendapatkan fadhilah yang besar. [3]
3. Berdoa, karena malam hari raya merupakan malam yang mustajabah doa.
4. Memperbanyak takbir dan tahlil, taqdis dan tahmid

Dalam satu hadits Rasulullah bersabda :

زيّنوا العيدين بالتهليل والتقديس، والتحميد والتكبير

Hiasilah dua hari rayamu dengan tahlil, taqdis (menyucikan Allah), tahmid dan takbir (H.R. ad-Dailami) 

Imam Zuhri berkata, Anas berkata bahwa Nabi berkata bahwa siapa yang mengucapkan pada malam dua hari raya :
لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك وله الحمد يُحيي ويُميت، وهو حيّ لا يموت، بيده الخير وهو على كل شيء قدير
sebelum shalat hari raya, maka akan Allah nikahkan ia dengan 400 bidadari dan seolah-olah ia telah memerdekankan 400 budak, dan Allah akan memerintahkan kepada para malaikat untuk membangun kota baginya dan ditanamkan berbagai pepohonan hingga hari kiamat. 
Imam az-Zuhri berkata, saya tidak pernah meninggalkannya setelah mendengarnya dari Imam Anas, berliau berkata, saya tidak pernah meninggalkannya setelah mendengarnya dari Rasulullah. [4]
5. Istighfar
Imam al-Wanai mengatakan bahwa siapa saja yang beristighfar setelah shalat subuh 100 kali maka tidak akan tersisa dosa dalam buku catatannya. [5]


---------------------------------------------------------------------
1. Imam Syafii, al-Umm, Juz. I, cet. I (Beirut: Dar al-Fikr, 2009) hal. 254 
2. Syaikhul Islam Ibnu Hajar al-Haitami,  Kitab Ittihaf Ahl al-Islam bi Khushushiyat ash-Shiyam, (Maktabah Thaiyibah) hal 376 
3. Abdul Hamid Ibn Muhammad Ali Ibn Abdul Qadir, Kanzun Najah Was-Surur, hal 269. Cet. Darul Al-Hawi
4. Kanzun Najah Was-Surur, hal 269
5. Kanzun Najah Was-Surur, hal 269
6. Kanzun Najah Was-Surur, hal 271


donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja