Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Hadits Jariyah Dalam Pandangan Ulama


Tentang permasalahan hadits jariyah sungguh telah santer ditelinga kaum muslimin, sebagian kelompok sesat dalam islam yang menganut faham tajsim menjadikan hadits ini sebagai dalil bahwa Allah SWT berada dilangit, padahal telah jelas dalam aqidah Ahlussunnah wal Jamaah kalau Allah SWT tidak bertempat, para Ulama dahulu tidak pernah mengatakan Allah dilangit dan menjadikan hadits ini sebagai dalilnya, sebut saja salah satunya adalah Mujaddid ke 3 dalam islam yaitu Abu Hasan Al-Asy’ari,
dan patut juga diketahui bahwa Imam Muslim dalam kitabnya Sahih Muslim tidak menulis hadits ini dalam bab Aqidah akan tetapi menulisnya dalam bab Furu’, ini membuktikan bahwa hadits jariyah bukanlah dalil bagi ilmu tauhid sebagai legalitas untuk pernyataan “Allah SWT berada dilangit


Pertanyaan:
  1. Sebenarnya bagaimana pandangan Ulama terhadap hadits ini dari sisi istidlal?
  2. Bagaimana inplisit (fahaman) hadits ini dilihat dari sudut Aqidah?

Jawaban :
  1. Hadits ini dalil bagi ilmu fiqih bukan ilmu tauhid dalam masalah budak yang dimerdekakan itu mesti mukmin (dalam ilmu fiqh budak yang dimerdekakan tidak boleh kafir).
  2. Hanya menguji budak tersebut apakah beriman tentang adanya Allah/tidak.

Sungguh sangat menarik bila kita berbicara masalah istidlal dari sebuah nash Ayat/Hadits, karena ini merupakan point penting yang perlu kita garis bawahi dalam mengambil sebuah kesimpulan berdasar perkataan Allah SWT / Rasulullah SAW,
mari kita lihat tulisan dibawah ini ( Imam Mawaridi kitab Hawi Kabir jilid 13 Hal 411 Cet Dar Al-Fikr ):

(مسألة:)
قال الشافعي رحمه الله تعالى: (لم أعلم أحدا ممن مضى من أهل العلم ولا ذكر لي عنه ولا بقي من خالف في أن من ذوات النقص من الرقاب ما لا يجزئ ومنها ما يجزئ)


قال الماوردي: وأصل هذا أن الله تعالى أطلق تحرير الرقبة في كتابه بقوله {فتحرير رقبة} أطلقها ولم يصفها فأجمع من تقدم الشافعي وعاصره على أن عموم الإطلاق غير مستعمل وأن من الرقاب ما يجزئ ومنها ما لا يجزئ فكان العموم مخصوصا وخالف داود من بعد فقال: العموم مستعمل وجميع الرقاب تجزئ من معيب وسليم وناقص وكامل تمسكا بالعموم واحتجاجا بالتسوية بين الصغير والكبير مع اختلافهما في النقص والكمال، وهذا خطأ مدفوع بإجماع من تقدمه، ولما روي أن رجلا آتي رسول الله - صلى الله عليه وسلم - برقبة سوداء فقال: يا رسول الله علي عتق رقبة أفأعتق هذه؟ فقال لها رسول الله - صلى الله عليه وسلم - (أين الله؟) فأشارت إلى السماء فقال لها (من أنا؟) فأشارت إليه. وإلى السماء تعني رسول الله - صلى الله عليه وسلم - فقال: أعتقها فإنها مؤمنة فدل سؤال السائل عنها وامتحان النبي - صلى الله عليه وسلم - لها على أن العموم مخصوص وأن من الرقاب ما يجزئ ومنها ما لا يجزئ فبطل به قول داود أن كل الرقاب تجزئ، ولأن الله تعالى أطلق في الكفارة ذكر العتق والإطعام ثم كان عموم الإطعام مخصوصا في أن لا يجزئ منه إلا مقدر ولا يجزئ ما انطلق عليه الاسم من إطعام لقمة وكسرة، وكذلك العتق يجب أن يكون مخصوص العموم بما يقتضيه مقصود التحرير.


Artinya : Imam Syafii berkata “ Tidak pernah saya dapatkan para Ulama dahulu yang beda pendapat tentang sebagian budak ada yang boleh dimerdekakan dan ada yang tidak boleh dimerdekakan"


Imam Mawaridi berkomentar : Dasar pendapat sebagian budak ada yang boleh dimerdekakan dan ada yang tidak boleh dimerdekakan adalah perkataan Allah SWT dalam Al-Quran secara mutlak “merdekakan budak” tidak disfatkan budak yang bagaimana, maka Imam Syafii dan Ulama lainnya terjadi konsensus ( ijmak ) bahwa ayat tersebut tidak diaplikasikan/diterapkan secara mutlak dan sesungguh budak itu ada yang boleh dimerdekakan dan ada yang tidak boleh dimerdekakan, maka ayat tersebut tergolong dalam ‘am makhsus , lalu berbedalah pendapat Daud ( Ulama sesudah Imam Syafii ) beliau berkata “ayat tersebut diaplikasikan secara umum/kolektif dan seluruh budak boleh dimerdekakan karena berdasar umum ayat dan berdalil dengan persamaan budak kecil/besar padahal beda keduanya dari sisi kekurangan dan kesempurnaan”. Pendapat Daud ini adalah pendapat salah yang tertolak dengan ijmak Ulama sebelumnya. Manakala dalam satu riwayat tertulis bahwa seseorang mendatangi Rasulullah SAW dengan seorang budak yang hitam, lalu oarang tersebut berkata “ Ya Rasulallah saya ada kewajiban memerdekakan seorang budak, apakah boleh saya merdekakan budak ini ( budak hitam yang dibawanya tadi ) ?, Rasul SAW bertanya kepada budak tersebut Dimana Allah SWT ? si budak mengisyarah ke langit, lalu Rasul SAW bertanya lagi Saya siapa ? si budak mengisyarah kepada Rasul SAW dan ke langit maksudnya si budak dia ( Nabi Muhammad SAW ) adalah utusan Allah SWT, lalu Rasul SAW berkata merdekakanlah dia karena dia termasuk budak yang mukmin”, maka pada riwayat ini berdasar dari pertanyaan orang tadi tentang perihal budak dan pertanyaan Nabi SAW kepada budak itu menunjukkan bahwa Ayat yang Umum tentang memerdekakan budak itu bermakna khusus dan sesungguh budak itu ada yang boleh dimerdekakan dan ada yang tidak boleh, maka salahlah pendapat Daud yang menyatakan seluruh budak boleh dimerdekakan.

Dari tulisan kitab Hawi Kabir diatas jelas bahwa Ulama dahulu menjadikan Hadits Jariyah tersebut sebagai dalil dalam masalah fiqih yaitu masalah memerdekakan budak, Imam Mawaridi mengatakan Hadits tersebut menunjukkan bahwa keumuman ayat ke 3 Surat Al-Mujadalah tentang memerdekakan budak itu bermakna khusus sehingga nyatalah kebenaran ijmak Ulama bahwa ayat tersebut tidak diaplikasikan/diterapkan secara mutlak dan sesungguh budak itu ada yang boleh dimerdekakan dan ada yang tidak boleh dimerdekakan. Hadits jariyah ini dijadikan dalil bahwa budak yang dimerdekakan itu mesti budak muslim.

Perlu juga diketahui bahwa Abu Husain Al-Yamani juga menjadikan hadist jariyah ini sebagai dalil dalam masalah Fiqh tentang masalah budak, beliau mengatakan dalam kitabnya yaitu kitab Al-Bayan fi Mazhab Al-Imam Syafii jilid 10 hal 364 Cet Dar Al-Minhaj Muwafiq li Al-Mathbu’ :

. وهذا يقتضي أن كل رقبة واجبة لا يجزئ فيها إلا مؤمنة

Artinya : Hadits ini mengkhendaki seluruh budak yang wajib tidak boleh dimerdekakan kecuali mukmin

Bahkan Imam Mazhab kita yaitu Imam Syafii juga menjadikan hadits jariyah sebagai dalil dalam ilmu Fiqh yaitu budak yang dimerdekakan mesti budak muslim ( Al-Um Jilid 5 Hal 298 Muwafiq li Al-Matbu’) .

Imam Ramli Kabir mengatakan dalam kitabnya ( kitab Hasyiyah Ramli ‘ala Asnal Mathalib Jilid 3 Hal 363 Cet Dar Al-Kutub ):

[فصل الموسر يكفر في الظهار بالعتق]
....... قوله ولأن الزكاة لا يجوز صرفها لكافر) فكذا الكفارة بجامع التطهير «ولحديث الذي

Artinya : Fasal tentang orang merdeka yang membayar kafarah zihar dengan memerdekakan budak, kata Musannif “karena sesungguh zakat tidak boleh diberikan untuk kafir” begitu juga kafarah dengan persamaan untuk menyucikan karena hadits....... ( Hadits Jariyah ).

Syek Kamaluddin mengatakan dalam kitab Najmul Wahhaj syarah Minhaj Jilid 8 Hal 65 Cet Dar Al-Minhaj Muwif li Al-Matbu’ :

واحتج الشافعي على التقييد بحديث معاوية بن الحكم: أنه سال النبي صلى الله عليه وسلم أن عليه عتق رقبة فهل تعتق عليه هذه الجارية؟ فقال لها رسول الله ملى الله عليه وسلم: (أين الله؟) قالت: في السماء، فقال: (من أنا؟) فقالت: رسول الله صلى الله عليه وسلم، قال: (أعتقها فإنها مؤمنة) ولو كان يجزئه غير المؤمنة .. لقال: أعتق أي رقبة شئت.

Artinya : Imam Syafii berdalil bahwa maksud budak adalah budak mukmin dengan hadits Mu’awiyah ( hadits tentang jariyah ), Bertanya ia kepada Rasulullah SAW bolehkah saya memerdekakan budak ini, Nabi SAW bertanya kepada budak Dimana Allah ? budak berkata fi as-sama', lalu Nabi SAW bertanya lagi Saya siapa ? budak menjawab Utusan Allah SWT, Nabi berkata Merdekakanlah karena dia adalah mukmin. Seandainya budak yang dimerdekakan boleh non mukmin maka Nabi SAW sungguh berkata “merdekakanlah budak apa saja !”

Imam Rafii mengatakan kitab Fathul Aziz syarah Wajiz jilid 12 Hal 268 Cet Dar Al-Kutub Muwafiq li Al-Matbu’ :

ذهب الجمهور، ومنهم مالك، والشافعي، وأحمد في مشهور مذهبه، والأوزاعي: إلى أن عتق الرقبة الكافرة في كفارة اليمين لا يجزىء، ولا تسقط الكفَّارة به.
احتج الجمهور بما رواه مسلم، والنَّسَائِيُّ عن معاوية بن الحكم قال: كانت لي جارية فَأتيت النبيَّ
= -صلى الله عليه وسلم- فَقُلْتُ: عليَّ رقبة. أفأعتقها فَقَالَ لَهَا رَسُولُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَينَ اللهُ؟ فَقَالَتْ: فِي السَّمَاءِ فقال: مَنْ أَنَا؟ فَقَالَتْ: أَنْتَ رَسُولُ اللهِ. فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "اعْتِقهَا فَإنَّهَا مُؤْمِنَةٌ".
ووجه الدلالة: أن النبي -صلى الله عليه وسلم- أَخَّرَ الجواب عن السائل، حتى علم ما عليه تلك الرقبة من الإِيمان أو الكفر، فلما تأكد له إيمانها أجابه -صلى الله عليه وسلم- بأن يعتقها، وقال له: "فَإنَّهَا مُؤمِنَةٌ"، فلو لم يكن وصف الإِيمان له دخل في إجزاء العتق، لما كان لهذا التأخير فائدة، ومثل ذلك يجلُّ عنه مقام الرسول -صلى الله عليه وسلم-.
وأيضاً فإنه عليه الصلاة والسلام علَّق عتقها على الإِيمان، وتعليق ذلك يدل على أن الإِيمان علَّة الإِجزاء؛ لأن تعلُّق الحكم بالمشتق مؤذن بأن مبدأ الاشتقاق علة فيه.
وقالوا: إن الرقبة في الآية، وان كانت مطلقة غير مقيدة بوصف الإِيمان إلا أن هذا الحديث يصلح أن يكون مقيداً لها، فيكون المقصود من الرقبة فيها: هي الرقبة المؤمنة

Artinya : Jumhur Fuqaha ( termasuk Imam Malik, Imam Syafii, Imam Ahmad, Imam Auza’i ) berpendapat tidak boleh memerdekakan budak kafir untuk kafarah yamin. Mereka berdalil dengan Hadits yang diriwayat oleh Imam Muslim dan Imam An-Nasai dari Mu’awiyah, Berkata ia saya memiliki seorang budak lalau saya mendatangi Nabi SAW, saya berkata “saya wajib memerdekakan budak bolehkah saya memerdekakan budak ini, Nabi SAW bertanya kepada budak Dimana Allah ? budak berkata fi as-sama', lalu Nabi SAW bertanya lagi Saya siapa ? budak menjawab Utusan Allah SWT, Nabi berkata Merdekakanlah karena dia adalah mukmin”.
Sisi dalilnya adalah Sesungguh Nabi SAW menjawab pertanyaan pada akhir pembicaraan sehingga diketahuikan apakah budak tersebut mukmin atau kafir, maka manakala diketahuikan bahwa budak itu mukmin Rasul SAW menjawab boleh memerdekakannya, Nabi SAW berkata “ budak itu mukmin” jika seandainya keimanan itu bukan barometer untuk boleh dimerdekakan maka memberi jawaban oleh Nabi SAW pada akhir itu tidak ada faedah. Dan juga Nabi SAW mengaitkan merdeka dengan iman, kait demikian menunjukkan sesungguh iman itu alasan boleh memerdekakan, karena mengaitkan hukum dengan musytaq maka illahnya adalah musytaqmin. Dan mereka Fuqaha mengatakan sesungguh kata “budak” dalam ayat ke 3 surat Al-Mujadalah walau tidak dikaitkan dengan iman namun hadits ini menjadi kait baginya sehingga maksud “budak” dalam ayat adalah budak mukmin.

Dari beberapa Nash kitab diatas sangat jelas bagi kita bahwa para Ulama mengistidlal tentang sifat budak yang akan dimerdekakan dari hadits jariyah tersebut, tentu mereka sangat faham dengan konteks hadits yang mereka jadikan dalil untuk sebuah permasalahan.

Kesimpulan:
Walau teks hadits berbeda-beda, namun yang ingin kami sampaikan disini bahwa Ulama menjadikan hadits ini sebagai dalil dalam ilmu Fiqh, dalam ilmu Tauhid hadits ini tidak dijadikan dalil lebih lagi dalil untuk menyatakan Allah dilangit.

Pemahaman hadits ini dilihat dari sudut Aqidah

Dilihat dari sisi aqidah dalam hadits tersebut Nabi SAW hanya ingin mengetahui apakah budak tersebut beriman atau tidak.
Imam Imam Rafii mengatakan dalam kitab Fathul Aziz syarah Wajiz Jilid 9 Hal 297 Cet Dar Al-Kutub Muwafiq li Al-Matbu’ :

قال صاحب "التتمة": وإنما جعلت الإشارة إلى السَّماء دليلاً على إيمانها؛ لأنهم كانوا عَبَدة الأصنام، فأفهمت الإشارة البراءة منْها.

Artinya: Pengarang kitab Tatimmah mengatakan bahwasanya dijadikan isyarah si budak kelangit sebagai bukti keimanannya kepada Allah, karena mereka budak dahulunya penyembah patung.

Jadi tidak benar bila dikatakan Allah dilangit berdasar hadits jariyah tersebut, dalam hadits hanya menunjukkan budak tersebut beriman kepada Allah SWT.

kemudian Abu Faraj mengatakan dalam kitab Al-Baz Al-Asyhab Al-Mungqaz ‘ala Mukhalifi Al-Mazhab Hal 94 Cet Dar Al-Jinan :

قلت : قد ثبت عند العلماء ان الله تعالى لا يحويه السماء والأرض و لا تضمه الأقطار وإنما عرف بإشارتهم تعظيم الخالق عندها

Artinya: Saya berkata “Sungguh telah tetap disisi Ulama bahwa Allah SWT tidak diliputi oleh langit dan bumi, dan hanyasanya diketahuikan dari isyarah budak kelangit yaitu si budak mengagungkan Sang Pencipta ( Allah SWT ).

Ulama telah berpendapat bahwa Allah tidak berada dilangit atau dibumi, dan dalam hadits jariyah ketika sibudak menunjuk kelangit itu artinya si budak mengangungkan Allah SWT.

Kesimpulan:

Ketika dilihat dari segi ketauhidan pada hadits jariyah maka kita ketahui berdasar pernyataan Ulama bahwa tidak menunjukkan Allah itu berada dilangit, kita wajib beriktiqad Allah tidak bertempat, karena itulah aqidah yang benar dalam islam, cukup bagi kita pernyatan Ulama, jangan kita beristidlal dengan Ayat/Hadits jika memang ilmu yang kita miliki belum mapan karena nantinya akan berujung kepada kesalahan yang fatal, seandai pun memang kita mencoba melihat sisi istidlal maka lihatlah jalur yang telah ditempuh oleh Ulama karena merekalah pewaris ilmu para Ambiya.

Referensi lainnya:

أين الله قالت في السماء قال من أنا قالت أنت رسول الله قال أعتقها فإنها مؤمنة هذا الحديث من أحاديث الصفات وفيها مذهبان تقدم ذكرهما مرات في كتاب الإيمان أحدهما الإيمان به من غير خوض في معناه مع اعتقاد أن الله تعالى ليس كمثله شيء وتنزيهه عن سمات المخلوقات والثاني تأويله بما يليق به فمن قال بهذا قال كان المراد امتحانها هل هي موحدة تقر بأن الخالق المدبر الفعال هو الله وحده وهو الذي إذا دعاه الداعي استقبل السماء كما إذا صلى المصلي استقبل الكعبة وليس ذلك لأنه منحصر في السماء كما أنه ليس منحصرا في جهة الكعبة بل ذلك لأن السماء قبلة الداعين كما أن الكعبة قبلة المصلين أو هي من عبدة الأوثان العابدين للأوثان التي بين أيديهم فلما قالت في السماء علم أنها موحدة وليست عابدة للأوثان قال القاضي عياض لا خلاف بين المسلمين قاطبة فقيههم ومحدثهم ومتكلمهم ونظارهم ومقلدهم أن الظواهر الواردة بذكر الله تعالى في السماء كقوله تعالى أأمنتم من في السماء أن يخسف بكم الأرض ونحوه ليست على ظاهرها بل متأولة عند جميعهم

Imam Nawawi kitab Syarah Sahih Muslim Jilid 5 Hal 27 Cet Darl Al-Makrifah Beirut Lebanon.

Share artikel ini :
Dapatkan update topik terbaru via email dengan mendaftarkan alamat email anda di form di bawah ini:

Setelah memasukkan email dan klik subscribe, cek email lalu ikuti link verifikasi.

6 komentar untuk Hadits Jariyah Dalam Pandangan Ulama

Ada beberapa pertanyaan yg muncul setelah saya bc artikel yang aneh ini
Pertama: di awal dikatakan bahwa akidah ahlussunnah wal jamaah menyatakan bahwa Allah tidak bertempat dan para ulama tidak mengatakan Allah di langit. Tapi si jariyah mengatakan bahwa Allah di langit, si jariyah menunjuk tangannya ke langit (isyarat ke langit) berarti si jariyah bukan mukmin tapi dia orang sesat yang menganut paham tajsim?
Kedua: kenapa Rasulullah tidak menegur si jariyah karna dia sesat dan mujassimah? Kenapa Rasulullah tidak menjelaskan bahawa akidah ahlussunnah wal jamaah menyatakan bahwa Allah tidak bertempat? Ini masalah akidah yang tidak boleh tawar menawar, baik budak atau orang merdeka baik orang badui ,orang arab berpendidikan harus tw kebenaran akidah.
Ketiga: pada kesimpulan dinyatakan ini hadits dalam masalah fikih, coba liat kutipan terakhir dari shahih muslim syarah imam nawawi yang tidak diterjemahkan, di sinan dijelaskan bahwa hadits ini termasuk diantara hadits-hadits sifat (pembahasan sifat salah satu bidang akidah), kutipan itu juga menjelaskan ada dua pendapat dalam hal ini, bukankah ini pembahsan akidah? Kenapa anda-anda tidak amanah dalam menyempaikan ilmu?
Keempat: banyak alumni mudi yang dah master bahkan doktor. Tapi kenapa disetiap artikel tidak mencerminkan anda-anda seorang master atau doktor? Tidak adil dan amanah dalam menilai maslah, tidak objektif dalam menganalisa setiap masalah? Seperti artikel ini, artikel tentang keimanan orang tua nabi dll banyak sekali. Please sportif lah…

This comment has been removed by the author.

Wahai anonymous, pada artikel diatas jelas tertulis :


قال صاحب "التتمة": وإنما جعلت الإشارة إلى السَّماء دليلاً على إيمانها؛ لأنهم كانوا عَبَدة الأصنام، فأفهمت الإشارة البراءة منْها.

Artinya : Pengarang kitab Tatimmah mengatakan bahwasanya dijadikan isyarah si budak kelangit sebagai bukti keimanannya kepada Allah, karena mereka budak dahulunya penyembah patung.


kemudian Abu Faraj mengatakan dalam kitab Al-Baz Al-Asyhab Al-Mungqaz ‘ala Mukhalifi Al-Mazhab Hal 94 Cet Dar Al-Jinan :

قلت : قد ثبت عند العلماء ان الله تعالى لا يحويه السماء والأرض و لا تضمه الأقطار وإنما عرف بإشارتهم تعظيم الخالق عندها

Artinya : Saya berkata “Sungguh telah tetap disisi Ulama bahwa Allah SWT tidak diliputi oleh langit dan bumi, dan hanyasanya diketahuikan dari isyarah budak kelangit yaitu si budak mengagungkan Sang Pencipta ( Allah SWT ).

Jadi pertanyaan 1,2 anda itu sudah terjawab.

pertanyaan ke 3 itu artinya anda tidak faham dengan teks Syarah Sahih Muslim Jilid 5 Hal 27 Cet Darl Al-Makrifah Beirut Lebanon, krn dua pendapat pada nash mutasybihat itu masih aswaja, pertama ditakwil dan kedua ditafwidh ( takwil ijmali ), jika anda belum faham tentang takwil maka silakan baca http://lbm.mudimesra.com/2014/04/takwil-dan-tafwidh-menurut-ulama-salaf.html /

satu lagi,, tunjukkan pribadimu !, jangan anonymous, he he.

terserah aswaja kah wahabi kah tapi teks hadits muslin syarah imam nawawi itu menunjukkan kesimpulan anda tidak tepat hadits ini hanya dalil dalam bidang fikih saja
bagaimana anda menjawab terhdap nash hadits yg menunjukkan bahwa si jariyah menjawab dengan kata "fis sama'" dilangit bukan dengan isyarah menunjuk ke atas, bukan kah si jariyah telah menyatakan seperti pendapat wahabi (Allah di langit)?Rasul tidak menegurnya padahal ini persolaan akidah

Wahai Anonymous,, apakah anda tidak baca matan dari kitan syarah shahih muslim diatas, ini matannya :

لا خلاف بين المسلمين قاطبة فقيههم ومحدثهم ومتكلمهم ونظارهم ومقلدهم أن الظواهر الواردة بذكر الله تعالى في السماء كقوله تعالى أأمنتم من في السماء أن يخسف بكم الأرض ونحوه ليست على ظاهرها بل متأولة عند جميعهم

Sudah sangat jelas bahwa " fi as-sama' " itu tidak diartikan secara dhahir.

Tidak ada khilaf dalam islam bahwa

Izinkan saya ikut bicara.

Di dalam ayat :
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

Allah telah menafikan persamaan diri Nya dengan sesuatu apapun, termasuk dalam hal tempat tinggal.

Jikapun Nabi tidak mengajari jariyah tersebut pada saat itu tentang jawaban si jariyah yang menjawab fi sama' maka ayat tersebut sudah mengajari si jariyah tersebut.

Dan secara logika :
Ayat ini كل شيء هالك إلا وجهه
Jika semuanya binasa termasuk langit. Maka Allah kehilangan tempat tinggalnya. Maka mustahil Allah bertempat dilangit

Ulama2 dahulu bukan orang bodoh dalam memahami Ayat dan Hadits. Jadi jangan dulu vonis benar diri sendiri jika pendapat kita belum sesuai dengan fatwa2 mereka. Malahan ilmu kita blum sebesar biji wijen jika dibandingkan ilmu mereka.