Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Ketentuan Beramal Dengan Hadis Dhaif

Sebagaimana ketentuan dengan hadis nabawi yang mempunyai banyak tingkatan dan karakter yang berbeda-beda seperti shahih, hasan, dan dhaif. Hadis shahih mempunyai tingkatan tertinggi dalam pembagian hadis nabawi, kemudian hasan dan pada akhirnya dhaif maka hadis dhaif juga terdapat sangat banyak pembagian. Hadis-hadis dhaif tidak semua boleh diamalkan dan juga tidak semua harus ditinggalkan seperti kekeliruan pemahanan sebagian orang. Imam al-Bukhari adalah imam muhaqqik dalam bidang hadis beliau mengarang kitab shahih Bukhari yang di dalamnya terdapat hadis-hadis shahih, namun beliau juga mengarang kitab adabul Mufrad yang didalamnya terdapat hadis dhaif, hal ini membuktikan bahwa hadis dhaif tidak mutlak ditinggalkan tetapi boleh juga diamalkan. Diantara ketentuan beramal dengan hadis dhaif adalah:


1. Boleh beramal dengan hadis dhaif pada fadhail amal, untuk mengambil nasehat, dan tentang kisah-kisah bukan pada masalah I’tiqat dan bukan pada hukum-hukum seperti halal-haram
2. Hadis yang dhaif tersebut bukanlah terlalu dhaif seperti perawinya orang yang banyak kebohongan.
3. Hadis tersebut masih dalam katagori dalil-dalil yang umum
4. Jangan mengi’tikat sebut amalannya dengan hadis tersebut



شروط العمل بالضعيف عند المحققين
ذكر الحافظ ابن حجر للعمل بالضعيف شروطا

الاول ان يكون في الفضائل العملية ونوحها كما تقدم

الثاني ان يكون الضعف غير شديد فيخرج من انفرد من الكذابين والمتهمين بالكذب ومن فحش غلطه

 الثالث ان يندرج تحت اصل معمول به

Share artikel ini :
Dapatkan update topik terbaru via email dengan mendaftarkan alamat email anda di form di bawah ini:

Setelah memasukkan email dan klik subscribe, cek email lalu ikuti link verifikasi.

belum ada komentar untuk Ketentuan Beramal Dengan Hadis Dhaif