Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Kisah Taubat Si Pemabuk Berat

Manusia selain para rasul dan nabi tidak ada yang luput dari kesalahan, baik itu kesalahan terang-terangan atau bukan. Akan tetapi, sebesar apapun kesalahan hamba kepada Allah kalau bertaubat dengan sebenar-benarnya maka tidak akan disia-siakan. Hal ini telah dialami oleh mantan pemabuk ‘Atabah bin al-Ghulam.berikut ini kisah perjalanan taubat beliau.

‘Atabah itu orang berbuat fasiq, ia dikenal pemabuk berat dikalangan masyaraka luas, pada Suatu hari, ia menghadiri majlis pengajian Syekh Hasan Basri. Metode pengajian Syeh mula-mula dibaca ayat al-Qur’an oleh muridnya. Ayat yang dibaca saat itu:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

Artinya: belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun kepada mereka, dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasiq. (QS. Al-Hadid:16).

Syeh dalam menafsir ayat tersebut memberi nasehat yang amat dalam sehingga para jamaah bercucuran air mata. Seorang pemuda di antara mereka yang bernama ’Atabah al-Ghulam bangun berkata kepada Syeh. “Hai imamul mukminin apakah Allah menerima taubat orang fasik seperti ku ini. Syeh menjawab: iya, Allah menerima taubatmu walaupun kefasikanmu itu seperti ‘Atabah al-Ghulam. Setelah mendengar perkataan Syeh, mukanya pucat, menggigil ketakutannya, menangis histeris lalu jatuh pingsan. Setelah sembuh, ia menghampiri syeh, kemudian syeh membaca beberapa syair:

أيا شاب لرب العرش عاص أتدري ماجزاء ذوى المعاصى سعير للعصاة بها ثبور فويل يوم يؤخذ بالنواصى فان تصبر على النيران فاعص وإلا كن عن العصيان قاصى وفيما قد كسبت من الخطايا أهنت النفس فاجهد فى الخلاص

Wahai pemuda yang bermaksiat bagi empunya arasy, apakah kamu tau balasan orang-orang maksiat ? neraka Sa’ir diperuntukkan bagi orang orang yang berbuat maksiat, padahari itu dipegang ubun-ubunnya maka jika kamu sanggup menahan panas api maka maksiatlah. Jika tidak, jauhilah neraka dan pada kesalahan yang kamu kerjakan berarti kamu lecehkan jiwa maka bersungguh dalam kelepasan.

Mendengar syair itu, dia kembali menangis dan pingsan tersungkur ke tanah, setelah sembuh dia kembali bertanya: hai Syeh apakah zat yang mulia menerima taubat saya? Syeh berkata: tidak diterima taubat hamba yang bengis melainkan oleh tuhan yang pemaaf kemudian ‘Atabah mengangkat kepala memohon tiga perkara kepada Allah. Yang pertama. Wahai tuhanku jika engkau menerima taubatku dan engkau ampuni kesalahanku maka tingkatkan paham dan daya hafalanku sehingga saya hafal ilmu dan Qur’an yang saya dengar. Kedua. Muliankanlah aku dengan suara yang merdu sehingga orang yang mendengar bacaanku bertambah lembut hati walaupun hatinya itu keras. Doa ketiga. berikan rizki yang halal untukku dari arah yang tidak disangka-sangka. permintaannya itu diterima Allah sehingga bertambah paham dan hafalannya. Apabila ia membaca al-Qur’an maka orang-orang yang mendengar lantunannya semua bertaubat kepada Allah dan setiap hari beliau meletakkan mangkuk besar dirumahnya yang diisi dengan kuah daging dan roti, pekerjaan ini beliau lakukan sampai akhir hayatnya. Beginilah kondisi orang yang bertaubat karena Allah tidak menyia-nyiakan balasan orang yang beramal baik.


Referensi: Kitab Sab’iyat Fi Mawa’idhul Bariyat, Hal 4-5.



Share artikel ini :
Dapatkan update topik terbaru via email dengan mendaftarkan alamat email anda di form di bawah ini:

Setelah memasukkan email dan klik subscribe, cek email lalu ikuti link verifikasi.

belum ada komentar untuk Kisah Taubat Si Pemabuk Berat