Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Setelah Ber-amal, Sudahkan Engkau Muhasahab ?


Lbm.mudimesra.com  Artikel ini kami tulis karena merenungi tetesan tinta Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin sebagai wejangan untuk umat Islam. Diantara untaian hikmah, beliau menerangkan bagi kita makna dari dari kehidupan dunia yang fana ini dan seterusnya kita beramal bukan hanya karena sekedar melepaskan diri dari suatu kewajiban akan tetapi amalan yang sempurna adalah yang bisa memperhambakan diri manusia bagi Allah SWT sang maha pencipta.

Muhasabah setelah beramal atau mengerjakan perintah Allah adalah sesuatu yang sangat urgen bagi penempuh jalan akhirat sedangkan makna muhasabah sendiri ialah mengira hasil dari suatu pekerjaan baik perbuatan dunia maupun akhirat. Para pedagang, penjahit, pelaut mengira untung-rugi pada setiap sore hari mereka, namun penempuh jalan akhirat mempunyai titipan berat dalam masalah ini, artinya manusia ini bukan hanya memperbanyak amalan akan tetapi harus juga menilai bagaimana kualitas amal bagi menempuh jalan akhirat kelak.

Imam Al Ghazali berkata :

اعلم ان العبد كما يكون له وقت في اوله النهار يشارط فيه نفسه على سبيل التوصية بالحق فينبعي ان يكون له في اخر النهار ساعة يطالب فيها النفس ويحاسبها على جميع حركاتها وسكناتها كما يفعل التجار في الدنيا مع الشركاء في اخر كل سنة او شهر او يوم حرصا منهم على الدنيا وحوفا من ان يفوتهم منها

Ketahuilah ! sesungguhnya manusia semestinya meninggalkan catatan wasiat pada setiap harinya maka kewajiban juga melalukan pengiraan terhadap sertiap gerak-gerik mereka, tidak bedanya dengan dengan pedangang yang mengira untung-rugi pada tiap tahun,bulan bahkan setiap hari.

ومعني المحاسبة مع الشريك ان ينظر في رأس المال وفي الربح والخسران ليتبين له الزيادة من النقصان فأن كان من فضل حاصل استوفاه وشكره وان كان من خسران طالبه بضمانه وكفله تداركه في المستقبل فكذالك رأس مال العبد في دينه الفرائض وربحه النوافل والفضائل وخسرانه المعاصي وموسم

Makna muhasabah para pedangan bersama dengan teman syarikatnya baik modalnya dan untung –rugi supaya mereka mengetahui hasil yang didapatkan, jika mendapat keuntungan supaya biasa meraih lebih dari itu namun jika rugi supaya bisa menempel kerugian tersebut. Seperti itu juga para hamba sebagai pemodal negeri akhirat, berkewajiban juga untuk melalukan perkiraan baik dan buruk karena jika baik maka kewajiban bersyukur karena karunia-NYA tetapi jika kurang baik maka segera dalam bertaubat.


ينبغي ان يحاسب نفسه على الانفاس وعلى معصية بالقلب والجوارح في كل ساعة ولو رمى العبد بكل معصية حجرا في داره لامتلأت داره في مدة يسيرة قريبة من عمره ولكنه يتساهل في حفظ المعاص والمعاصى والملكان يحفظان عليه ذالك (احصاه الله ونسوه

Kewajiban bagi setiap jiwa melakukana pehitungan tentang kejahatan yang pernah dilakukannya pada tiap-tiap saat. “jika seseorang melemparkan batu kerumahnya karena menghitung maksiat yang pernah ia kerjakan maka sungguh dalam waktu singkat batu akan memenuhi rumahnya karena banyak dan sering manusia ini dalam berbuat maksiat’’ 

Pada Akhirnya Imam Al Ghazali RMH berkomentar : ‘’Allah ta’ala serta para malaikat tidak pernah lupa menghitung perbuatan manusia walaupun manusia selalu lupa apa yang pernah ia kerjakan’’
Maka dengan nasehat dan untaian hikmah Imam Al Ghazali dalam Ihya Ulumiddin semoga Allah memberikan kita taufiq dan hidayah dalam melalukan jalan akhirat sehingga kita bukan hanya melalukan ibadah tetapi berkewajiban juga melakukan perhitungan amalan yang pernah kita lalukan, jika baik maka seyogianya bersyukur namun jika kurang baik supaya bisa diperbaiki pada hari-hari selanjutnya Amin. ..


Referensi : Kitab Ihya Ulumiddin Juz 4 hal.557-558 (Cet.Darul Misri)


Kekuatan Muslim Dalam Membangun Agama [Tu H M.Yusuf Bin Abdul Wahab]



Share artikel ini :
Dapatkan update topik terbaru via email dengan mendaftarkan alamat email anda di form di bawah ini:

Setelah memasukkan email dan klik subscribe, cek email lalu ikuti link verifikasi.

2 komentar untuk Setelah Ber-amal, Sudahkan Engkau Muhasahab ?

Assalamualaikum Admin LBM MUDI,
Ana mau bertanya, mungkin ini diluar pembahasan muhasabah diatas,
Pertanyaan nya adalah masalah fidyah shalat orang yang sudah meninggal,
Dan masalah asnif zakat fi sabilillah,. Siapa sebenarnya fi sabilillah di zaman sekarang, karena zaman sekarang tidak kita jumpai lagi yang berperang di jalan Allah, apakah mengaji dan mengajar ngaji di sebut fi sabilillah? Mohon penjelasan nya...
Assalamualaikum

Wa'alaikum salam Wr Wb
sebelumnya terimakasih telah mengunjungi blog kami dan bertanya pada kami
untuk masalah fidyah salata bisa natum lihat di blog kami berikut
http://lbm.mudimesra.com/2013/01/fidiyah-shalat-orang-yang-meninggal.html
untuk kategori senif zakat fisabilillah tidak bisa kita namakan kepada penuntut ilmu, sebif fisabilillah adalah orang yang berperang dijalan Allah, jika memang pada masa sekarang tidak ada yang kita jumpai orang yang berperang dijalan Allah ditempat kita maka cukup diberikan kepada senif-senif yang lain yang bukan fisabililah.
pelajar yang mengaji ilmu agama tidak bisa mengambil zakat dengan senif fisabilillah, jika memang dia bersifat dengan senif yang lain maka dia boleh mengambilnya.
lebih dan kurang kami ucapkan terimakasih.