Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Fatwa Syaikh Ali Jum'ah Besalaman dengan selain Mahram

Deskripsi Masalah
Dalam keseharian kita tak terlepas dari interaksi dengan sesama jenis maupun beda jenis, dan tanpa kita sadari dalam berinteraksi dengan lain jenis tidak hanya melalui kata-kata dan sikap juga termasuk dalm sentuhan, baik dalam bentuk salaman ataupun lainnya.
Pertanyaan
Apa hukumnya bersalaman dengan wanita ditempat kerja dalam keadaan wudhu’?
Ada dua pertanyaan pada masalah tersebut

  1. Batalkah wudhu’ jika bersalaman dengan wanita?
  2. Bolehkah bersalaman dengan wanita ditempat kerja?

Jawaban

  1. Ulama Hanafiah berpendapat tidak membatalkan wudhu jika bersalaman dengan wanita. Dan Ulama Mutaakhirin dari mazhab Syafi'i berpendapat bersalaman dengan wanita membatalkan wudhu’
  2. Dan pada masalah bersalaman dengan wanita ajnabi adalah haram, yang dimaksud dengan wanita ajnabi adalah wanita yang bukan mahram, wanita yang dikategorikan mahram adalah yang tidak boleh untuk dinikahi oleh muslim lakki-laki dalam keadaan apapun seperti ibu, saudara perempuan, anaka perempuan, bibi dari pihak ayah dan ibu, nenek, cucu, mertua wanita, menantu wanita, keponakan perempuan, ibu sepersusuan dan anak tiri, mereka yang telah disebutkan dalam surat An-Nisa’ ayat 23.

Tidak boleh bersalaman dengan wanita ajnabi ditempat kerja dan dimanapun serta kapanpun. Wanita ajnabi seperti rekan kerja, teman belajar, tetangga, sepupu perempuan dll yang tidak termasuk mahram seperti yang telah dijelaskan diatas.
Siapa saja yang bersalaman dengan wanita ajnabi maka dia telah melakukan perbuatan haram dan meyalahi sunnah nabi cucu adnan, karena nabi tidak pernah bersalaman dengan wanita ajnabi sekalipun, dan ketika Nabi bermuamalah dengan wanita, Nabi bermuamalah dengan mengisyarahkan dengan tangannya.
Nabi SAW bersabda berkenaan dengan bersalaman dengan ajnabi
“Hendak dipaku kepalamu dengan jarum dari besi lebih baik daripada engakau bersentuhan dengan wanita yang tidak halal bagimu”
Refrensi:
Al-Kalamu At-Thayib Fatawa 'Ashriyyah. Hal 17-18
مس يد المرأة
السؤال: ما حكم مصافحة النساء فى العمل وأنا على وضوء واقوم بالصلاة فهل مصافحة النساء تبطل الوضوء؟
الجواب: هنا قضيتان, القضية الاولى: مصافحة النساء هل تبطل الوضوء ام لا؟
ذهب جماعة منهم أبو حنيفة الى أنها لا تبطل الوضوء.
وذهب آخرون منهم الشافعية إلى انها تبطل الوضوء
وخروجا من الخلاف إذا حدث من اللمس بالمصافحة او غيرها, فإننا نتوضأ.
القضية الثانية: هل يجوز مصافحة النساء الأجنبيات فى العمل؟ لاتجوز مصافحة النساء الأجنبيات- وهن من لسن بمحارم, والنساء المحارم هن من لا يجوز للمسلم التزوج بهن مطلقا كالام والأخت والبنت والعمة والخالة والجدة والأحفاد من البنات وأم الزوجة وزوجة الإبن, وبنت الأخ و بنت الأخت والأم من الرضاع وبنت الزوجة ون مذكورات فى اية النساء رقم 23
لاتجوز مصاحة الأجنبيات فى العمل او فى أي مكان أو زمان والأجنبيات كالزميلة فى العمل او الدراسة أو الجارة أو إبنة العم أو العمة أو الخال أو الخالة وغيرهن ممن لسن بمحارم كما أسلفنا.
ومن صلفح هؤلاء الأجنبيات فقد وقع فى الحرام, وخالف سنة النبي العدنان, لأن النبي صلي الله عليه وسلم ما صافح إمرأة قط, وعندما كان يبايع النساء كان يبايعهن بالإشارة بيده الشريفة صلي الله عليه وسلم.
ويقول صلي الله عليه وسلم محذرا وحاظرا من هذه المصافحة:
لأن يطعن فى رأس أحدكم بمخيط من حديد خير له من أن يمس امرأة لاتحل له.

Waktu-waktu Membayar Fitrah

Deskripsi Masalah

Zakat Fitrah merupakan salah satu kewajiban yang mesti ditunaikan oleh setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan setelah melalui bulan yang penuh berkah yaitu Ramadhan Mubarak dengan menahan segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa.

Dinamakan dengan zakat fitrah karena zakat ini wajib ditunaikan pada hari terakhir berbuka puasa di bulan Ramadhan atau yang biasa di sebut dengan malam hari Raya Fitri.

Zakat fitrah merupakan penempel bagi kekurangan puasa, sama halnya dengan sujud sahwi yang ada dalam shalat yaitu sebagai penempel sesuatu yang lupa. Demikian yang telah di jelaskan oleh guru dari imam Syafi’i’ Syaikh Waqi’ .

Pertanyaan

Kapankah Zakat Fitrah ini ditunaikan ?

Jawaban


  1. Boleh ditunaikan di hari pertama Ramadhan
  2. Wajib menunaikan Zakat Fitrah setelah terbenam matahari akhir bulan Ramadhan hingga sebelum terbenam matahari esoknya (hari raya pertama)
  3. Adapun yang lebih baik ditunaikan sebelum keluar untuk melaksanakan shalat 'ied
  4. Makruh bila ditunaikan setelah shalat 'ied, kecuali karena ozor seperti menunggu kerabat yang berhak menerima zakat atau seseorang yang lebih membutuhkan
  5. Haram jika menunda zakat fitrah melewati hari raya pertama.


Referensi

Kitab I’anatuth Thalibin, Cetakan Haramain, Juzuk 2, Halaman 174


(قوله: نعم، يسن الخ) استدراك على كراهة التأخير (والحاصل) أن للفطرة خمسة أوقات: وقت جواز، ووقت وجوب، ووقت فضيلة، ووقت كراهة، ووقت حرمة.
فوقت الجواز أول الشهر.
ووقت الوجوب إذا غربت الشمس.
ووقت فضيلة قبل الخروج إلى الصلاة.
ووقت كراهة إذا أخرها عن صلاة العيد إلا لعذر من انتظار قريب،
أو أحوج ووقت حرمة إذا أخرها عن يوم العيد بلا عذر .

Nama Simayit dalam Shalat ghaib (salah)

Deskripsi Masalah:

Shalat jenazah merupakan amalan fardhu kifayah yang mesti dilakukan di saat meninggalnya insan yang beriman,kadang dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk shalat secara hadhir (di hadapan mayit) maka dalam kondisi ini syara' membolehkan untuk shalat jenazah ghaib.

Pertanyaan:
apakah dalam shalat jenazah ghaib di haruskan untuk menyebutkan nama si mayit?

Jawaban:
Dalam shalat jenazah ghaib wajib kepada si mushalli (orang yang shalat jenazah) untuk mengkhususkan nama si mayit, dan tidak diwajibkan untuk mengenalnya, berbeda halnya dalam mengerjakan shalat jenazah hadhir yang tidak mewajibkan niat nama simayit dan tidak pula disyaratkan mengenalnya.


Mughni Muhtaj juz 2 hal 21

(ولا يجب تعيين الميت) الحاضر باسمه كزيد وعمرو ولا معرفته كما في المحرر
وأما تعيينه الذي يتميز به عن غيره كأصلي على هذا، أو الحاضر، أو على من يصلي عليه الإمام فلا بد منه
أما الغائب فيجب تعيينه في الصلاة عليه بالقلب كما قاله ابن عجيل اليمني

Tuhfatul Muhtaj juz 3 hal 133

(ولا يجب تعيين الميت) ولا معرفته بل يكفي أدنى مميز كعلى هذا أو من صلى عليه الإمام
واستثناء جمع الغائب فلا بد من تعيينه بالقلب أي باسمه ونسبه وإلا كان استثناؤهم فاسدا يرده تصريح البغوي الذي جزم به الأنوا
ر وغيره بأنه يكفي فيه أن يقول على من صلى عليه الإمام وإن لم يعرفه



Kisah Inspiratif “Abu Dujanah”

Alkisah, Ada salah satu sahabat Rasul yang bernama Abu Dujanah, ia dikenal sebagai orang yang sangat dekat dengan Rasullullah SAW. Namun, Abu Dujanah tidak terbiasa dengan apa yang dilakukan oleh kebanyak sahabat, jika selesai Sholat subuh ia tidak menunggu sampai selesai dibacakan doa, tapi selalu bergegas pulang.
Dan dalam sebuah kesempatan Nabi menegurnya,
“Wahai Abu Dujanah, kenapa engkau tidak menunggu sampai dibacakannya doa?, tidakkah kau memiliki permintaan dan kebutuhan kepada Allah?”
Abu Dujanah menjawab “iya Rasul ada!” ,
Rasul berkata “lalu jika ada, mengapa engkau segera pulang?”.
Abu Dujanah pun akhirnya menjelaskan “Bukannya aku tidak mau mendengarkan dan mengamini doamu ya Rasul!, namun aku ini memiliki keluarga yang sangat miskin, tidak satupun makanan ada di rumahku, bahkan tidak jarang kami seharian menahan lapar. Sedangkan aku memiliki tetangga yang memiliki pohon korma yang batangnya condong ke rumahku, maka jika malam angin bertiup kencang, pasti buah-buahnya jatuh ke halaman rumahku!”.
Rasul berkata lagi “lalu apa masalahmu?” ,
Abu Dujanah meneruskan “ begini Ya Rasul, bahwa setiap malam anak-anakku menangis karena belum makan sepanjang hari”, pernah suatu hari usai shalat subuh ku menunggu engkau, sampai mendengarkan engkau membacakan doa, namun yang terjadi ketika aku sampai di rumah aku lihat korma tetanggaku yang ada di halaman rumahku telah masuk ke dalam mulut anakku, maka segera aku ambil korma yang sedang dikunyahnya itu dengan jari ku, aku tidak mau mereka memakan yang bukan haknya, aku katakan kepada mereka “nak jangan kau permalukan ayahmu di akhirat nanti, lantaran perbuatanmu ini, tidak akan kubiarkan nyawamu keluar dari jasadmu dalam keadaan membawa barang haram di dalam tubuhmu”. Si anakpun menangis karena sangat kelaparan, serta Abu Dujanah membawa kembali kurma tersebut kepada pemiliknya.

Mendengar kisah Abu Dujanah, Rasul dan para sahabat meneteskan air mata, sambil menangis Rasul memerintahkan Umar untuk mengumpulkan tetangga Abu Dujanah. Setelah terkumpul, Rasul berkata “Wahai kau pemilik pohon yang batangnya sampai ke rumah tetanggamu Abu Dujanah, kini aku beli pohon mu itu dengan 10 pohon korma di surga, yang akarnya dari permata hijau, pohonnya dari emas, dan dahannya dari mutiara,dan dipohon itu terdapat bidadari sebanyak buah kurma yang ada di pohon tersebut!”. Sipemilik pohon yang belakangan diketahui sebagai seorang yang munafik ternyata menolaknya “saya tidak ingin menjualnya dengan harga yang kau janjikan di akhirat, tapi jika kau ingin membelinya maka saya menjualnya dengan harga tunai!”.
Mendengar perkataan si munafik ini, Abu Bakar langsung maju ke hadapannnya “Hai fulan, ku beli pohon kormamu dengan 10 pohon korma terbaikku yang tidak ada bandingannya di kota Madinah.!”. Mendengar perkataan Abu Bakar maka senanglah simunafik tersebut dan setujulah si munafik itu dengan Abu Bakar. Kemudian Abu Bakar menghadiahkan pohon kurma tersebut untuk Abu Dujanah. Maka Rasul mengatakan kepada Abu Bakar “Hai! Abu Bakar, Allah akan mengantikan kebaikanmu di akhirat nanti”. Maka senanglah Abu bakar, bahagialah Abu Dujanah, dan gembiralah simunafik.

Si munafikpun pulang, sesampainya di rumah sang munafik yang berhasil mendapatkan 10 pohon korma terbaik di kota madinah berkata kepada istrinya “Wahai istriku, aku mendapatkan keuntungan yang banyak hari ini, aku telah menjual pohon korma kepada Abu bakar untuk Abu Dujanah dengan 10 pohon korma terbaik di kota ini, namun ingatlah wahai istriku! pohon yang kita jual itu tetap dalam kebun kita yang kita makan buahnya, dan tidak akan ada satu buahpun akan kuberikan kepada Abu Dujanah,” dengan sombongnya dan jahatnya sang suami dan istri ini mengingkari perjanjian dengan Nabi dan sahabat, pohon yang dijanjikan akan diberikan kepada Abu Dujanah tidak mau diberikan sepenuhnya.

Allah berkehendak lain, setelah mereka tidur keesokan harinya pohon korma yang ada di rumah si munafik telah berpindah ke halaman rumah Abu Dujanah dengan qudrah dan kekuasaan Allah, seolah-olah pohon itu tidak pernah ada di kebun si munafik sehingga tak ada bekas tanda-tanda dulu ada pohon kurma pada tempat itu hinnga heranlah si munafik. sungguh sangat luar biasa.

Kisah ini membuktikan pohon berpindah sebagai salah satu bagian dari Mu’jizat Rasulullah SAW. Dijelaskan oleh para ulama bahwa pohon saja mau beriman dengan Rasul, maka sungguh amat sangat aneh mereka yang dengan akalnya tidak mau beriman kepada Rasulullah SAW.

Dari kitab ‘Ianah al-Thalibin bab Luqatah.hal 252 dengan beberapa perubahan

donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja