AIBKAH JIKA SUAMI MENGALAMI EJAKULASI DINI?

Deskripsi :

Saat ini sangat banyak perceraian yang terjadi bukan karena kemiskinan dan ketidak cukupan dalam rumah tangga, melainkan karena hubungan pribadi antara suami istri yang tidak sesuai harapan. Seperti istri merasa tidak puas karena penyakit impoten, ejakulasi dini dan lain sebagainya yang dialami oleh suami.
Ternyata yang menjadi tolak ukur kebahagiaan dalam sebuah rumah tangga bukan hanya pada harta semata, tetapi kenyamanan juga merupakan suatu hal yang sangat menentukan tentramnya sebuah rumah tangga. Termasuk juga hubungan yang dijalani oleh setiap pasangan suami istri.
Dalam konteks fiqih, ejakulasi dini biasa disebut dengan istilah ‘idzyauth atau juga 'adzwath yaitu orang yang air maninya keluar lebih dahulu sebelum pertemuan dua alat kelamin, sehingga sang istri tidak dapat merasakan ni’mat bersetubuh. Ejakulasi dini merupakan fenomena psikologis. Ejakulasi dini merupakan ketidak sempurnaan yang bisa menimpa lelaki manapun semenjak dahulu kala.  Ejakulasi dini bukanlah penyakit baru. Hanya istilahnya saja yang kini sering terdengar agak lebih keren.

Pertanyaan :

Bagaimana pandangan syara’ tentang ejakulasi dini? Apakah ejakulasi dini tergolong ke dalam salah satu ‘aib dalam pernikahan, sehingga boleh dijadikan sebagai alasan oleh istri untuk mengajukan cerai (fasakh nikah)?

Jawaban :
1.    Dalam pandangan islam berdasarkan pendapat yang mu’tamad ejakulasi dini bukanlah merupakan aib yang membolehkan istri untuk mengajukan cerai (fasakh).
Dalam kitab Tuhfatul Muhtaj diterangkan bahwa mereka yang terbiasa dengan ejakulasi dini haruslah berusaha untuk menjadi lebih baik. Karena pada hakikatnya ejakulasi dini adalah penyakit yang bisa disembuhkan. Entah dengan berolah raga ataupun mengatur pola makan dan lain sebagainya. Dengan demikian keutuhan rumah tangga masih layak dan bisa dipertahankan.

2.    Berbeda dengan kasus impoten ('unnah) sebagai penyakit yang sangat susah sekali disembuhkan
(المرض المأيوس منه زواله ) maka bagi seorang perempuan berhak mengundurkan diri sebagai seorang istri. Artinya jika ternyata seorang suami terbukti impoten (maksudnya impoten yang terjadi pada awalnya) maka seorang istri berhak memilih antara meneruskan perkawinannya atau membatalkannya. Akan tetapi ada baiknya bagi istri bersabar barang setahun barangkali ada sebab gangguan psikologis dari organ lain yang diharapkan bisa sembuh. Akan tetapi jika antara suami istri tersebut telah pernah bersetubuh walau hanya sekali, maka tidak dibolehkan lagi untuk mengajukan cerai (fasakh).


Referensi :
Kitab Tuhfahtul Muhtaj, Jilid 7, Halaman 406, Cet, Darul Fikri

وخرج بهذه الخمسة غيرها كالعذيوط بكسر أوله المهمل وسكون ثانيه المعجم وفتح التحتية وضمها ويقال عذوط كعتور، وهو فيهما من يحدث عند الجماع وفيه من ينزل قبل الإيلاج فلا خيار به مطلقا على المعتمد وسكوتهما في موضع على أن المرض المأيوس من زواله ولا يمكن معه الجماع في معنى العنة وإنما هو لكون ذلك من طرق العنة فليس قسما خارجا عنها ونقلهما عن الماوردي أن المستأجرة العين كذلك ضعيف لكن لا نفقة لها سيأتي الفسخ بالرق والإعسار ولا يشكل ثبوت الخيار بما ذكر مع ما مر أنه شرط للكفاءة وأن شرط الفسخ الجهل به لأن الفرض أنها أذنت في النكاح من معين أو من غير كفؤ فزوجها الولي منه بناء على أنه سليم فإذا هو معيب فيصح النكاح وتتخير هي وكذا هو كما يأتي (وقيل إن وجد) أحدهما (به) أي الآخر (مثل عيبه) قدرا ومحلا وفحشا (فلا) خيار لتساويهما حينئذ والأصح أنه يتخير وإن كان ما به أفحش لأن الإنسان يعاف من غيره ما لا يعاف من نفسه والكلام في غير المجنونين المطبق جنونهما لتعذر الفسخ حينئذ ولو كان مجبوبا بالباء وهي رتقاء فطريقان لم يرجحا منهما شيئا والذي اعتمده الأذرعي والزركشي أنه لا خيار وهو أوجه من اعتماد غيرهما ثبوته.



Posting Komentar

2 Komentar

  1. ada doa mengenai ejakulasi dini menurut islam ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. maksudnya doa untuk menghindari ejakulasi dini?
      penanganan masalah ini sebagaiknya di tanyakan kepada ahlinya...

      Hapus