Syeikh Abdurrauf as-Singkili : Hukum Bersumpah Untuk Melakukan Maksiat

Syamsuddin Muhammad bin Ahmad al-Syarbini al-Khatib mendefinisikan sumpah dalam kitab Iqna'nya : 

الأيمان بفتح الهمزة جمع يمين وأصلها في اللغة اليد اليمنى وأطلقت على الحلف لأنهم كانوا إذا تحالفوا يأخذ كل واحد منهم بيد صاحبه
وفي الاصطلاح تحقيق أمر غير ثابت ماضيا كان أو مستقبلا نفيا أو إثباتا ممكنا كحلفه ليدخلن الدار أو ممتنعا كحلفه ليقتلن الميت صادقة كانت أو كاذبة مع العلم بالحال أو الجهل به

Sumpah adalah memastikan sesuatu yang belum pasti baik yang telah lalu atau yang akan datang, baik mengingkari atau menetapkan sesuatu yang mungkin terjadi seperti seseorang bersumpah untuk masuk rumah, atau tidak mungkin terjadi seperti seseorang bersumpah untuk membunuh mayat, baik sesuatu tersebut jujur atau dusta serta mengetahui kondisinya atau tidak. [1]
Masyarakat dalam bersumpah berbagai macam, ada yang bersumpah untuk meyakinkan orang lain, ada yang bersumpah ketika bercanda, bahkan ada yang bersumpah akan melakukan maksiat. Diantara macam-macam sumpah ini yang menjadi pertanyaan ialah tentang bagaimana hukum bersumpah untuk melakukan maksiat?

Syeikh Abdurrauf as-Singkili yang lebih dikenal dengan Tgk. Syiah Kuala, dalam kitabnya Mir`ah Thullab menjawab hal ini. Berikut soal dan jawaban beliau. 

Soal :

Jika bertanya seseorang, apa hukum apabila seseorang bersumpah atas mengerjakan maksiat, adakah ia berdosa dengan demikian itu atau tiada? 

Jawab:

Apabila bersumpah ia atas yang demikian itu niscaya adalah ia daruhaka dan lazimlah atas menjadikan dirinya kena sumpah serta kafarat, dan jikalau bersumpah ia atas meninggalkan sunat atau berbuat yang makruh niscaya sunat baginya menjadikan dirinya kena sumpah dan wajiblah atasnya kafarat dengan kena sumpah itu, dan jikalau bersumpah ia atas 'akas masalah ini niscaya makruh baginya menjadikan dirinya kena sumpah, maka jika dijadikannya dirinya kena sumpah pada masalah ini, niscaya wajib atasnya kafarat.[2]

Kesimpulan jawaban beliau adalah jika seseorang bersumpah untuk melakukan maksiat, maka ia harus melanggar sumpah serta membayar kafarat. Dan kalau bersumpah untuk tidak melakukan sunat atau untuk melakukan perbuatan makruh, maka disunatkan baginya untuk melanggar sumpah dan wajib membayar kafarat dengan sebab melanggar sumpah tersebut. Dan kalau seseorang bersumpah kebalikan yang diatas, maka makruh hukumnya melanggar sumpah, dan jika seandainya ia melanggar sumpah, maka wajib baginya kafarat.

[1]Iqna' fi halli alfaz Aby Syuja', jilid 2, hal 620, cet dar al-khair
[2] Mir`ah Thullab Hal 473

Kepandaian Abon Muchtar Menurut Pandangan ABU MUDI




Posting Komentar

0 Komentar