Bolehkan Menaati Perintah Manusia Pada Perkara Maksiat?



Ihsan adalah anak yang berusia 15 tahun, ia memiliki karakter yang sangat baik dan sopan santun karena ia menimba ilmu agama pada seorang ustadz, sehingga membuatnya mengetahui mana perkara yang halal dan yang haram, mana yang boleh dikerjakan dan tidak boleh. Suatu hari Ihsan sibuk mengerjakan PR di rumahnya, sehingga membuat ia hampir tidak melaksanakan shalat Ashar yang mana hanya tersisa waktu cukup mengerjakan shalat 4 raka’at, hal tersebut membuat ia bergegas berwudhuk kemudian melaksanakan shalat. Disaat ia hendak mulai bertakbir, tiba-tiba ayahnya pun memanggil dan memerintahnya membeli sesuatu.

Perintah dari ayahnya tersebut membuat Ihsan kebingungan mana yang harus ia kerjakan, mematuhi perintah orang tua ataupun meneruskan shalatnya yang merupakan perintah dari sang khalik, karena kedua-duanya adalah hal yang wajib untuk dipatuhi dan ditaati. Jika ia mematuhi perintah orang tua maka shalatnya akan tertinggal karena waktunya sudah sedikit dan seandainya ia melanjutkan shalat secara otomatis ia akan mengabaikan perintah orang tuanya. Dan apakah ia menjadi anak yang durhaka dengan tidak mematuhi perintah orang tuanya karena mengedepankan perintah agama? Jawabannya tidak, karena apabila kita mematuhi orangtua, sembahyang akan tertinggal. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah:

لا طاعة فى معصية إنما الطاعة في المعروف

“ Tidak boleh mematuhi perintah yang menyebabkan maksiat kepada Allah, kepatuhan hanya pada perbuatan ma’ruf ”.(HR. Bukhari)

Landasannya dari pada hadist sahabat Nabi yaitu Ali bin Abi Thalib.Ali bin Abi Thalib meriwayatkan hadist dari pada Nabi dan berkata: pada satu hari Nabi Muhammad SAW menyuruh satu kelompok tentara untuk mentaati terhadap perintah seorang pemuda dari pada kaum Ansar, tetapi kelompok tentara tersebut malah enggan terhadap perintahnya sehingga membuat pemuda tersebut marah dan berkata: bukankah Nabi memerintahkan kalian untuk mentaati perintahku.

Tentarapun menjawab : iya ….

Pemuda: sekarang kalian kumpulkan kayu sebanyak-banyaknya kemudian kalian bakar kayu tersebut. Merekapun  pergi mengumpulkan kayu dan kemudian membakarnya, disaat api telah membesar maka pemudapun berkata: sekarangaku perintahkan kalian untuk masuk kedalam api yang kalian bakar.

Ketika ingin masuk kedalam kobaran api merekapun saling memandang satu sama lain dan menahan dirinya untuk tidak masuk kedalam kobaran api tersebut. Kelompok Tentara berkata: kami ikuti agama Nabi Muhammad saw dan meninggalkan kekufuran karena takut terhadap api neraka, tetapi sekarang malah kamu perintahkan kami masuk kedalamnya.

Mereka tetap teguh pada pendirian masing-masing sehingga api pun padam dan pemuda tersebut tetap dalam kondisi marah. Ketika berita tersebut sampai kepada Nabi maka beliaupun segera menghampiri mereka dan berkata: seandainya kalian ikuti perintah masuk kedalam kobaran api tersebut maka kalian telah melanggar perintah syariat islam yaitu wajib memelihara nyawa dan sebagai hukumannya kalian akan dimasukkan kedalam api neraka Jahannam hingga hari kiamat.

Pada hadist tersebut memberikan pesan moral yang sangat penting bagi kita. Wajib bagi seseorang untuk menta’ati perintah orang tua, guru, dan pemimpin. Selama perintah tersebut tidak menentang dengan ajaran syari’at Islam. Seandainya perintah dari mereka menentang dengan syari’at Islam maka menta’ati perintah mereka hukumnya haram.

 

Referensi :

kitab Hasyiah Ala Mukhtasar Ibnu Abi Jamarah lil Bukhari hal: 167.

 

 

 

 

Posting Komentar

0 Komentar