Asal Usul Ilmu Nahwu dan Sharaf, Simak Sejarah Lengkapnya !



Tanah Arab merupakan tempat tumbuh dan berkembangnya bahasa Arab. Pada masa jahiliah dan permulaan islam, bangsa Arab masih hidup dengan berpindah-pindah tempat. Mereka memiliki dialek bahasa tersendiri, sehingga pada musim haji dan perdagangan tiba bangsa Arab kala itu membutuhkan satu bahasa yang sanggup dimengerti oleh seluruh suku yang ada di Arab, akhirnya dengan berbagai metode yang ditempuh terciptalah satu bahasa yang diistilahkan dengan bahasa pergaulan atau Lughah Musytarikah di mana bahasa Quraisy saat itu yang menjadi pedoman penerapan kaidah kebahasaan

Pada masa itu orang Arab sangat menjaga kualitas bahasanya, mereka selalu berinteraksi sesuai dengan kaidah sastra arab saat itu, orang-orang setelahnya juga menjaga kefasihan bahasa sesuai aturan yang telah dibuat oleh orang sebelumnya, orang tua maupun anak-anak juga sangat menjaga sastra bahasa Arab hingga dengan hadirnya Nabi Muhammad SAW dan diturunkan Alquran dengan kualitas bahasa yang cukup baik menjadikan inspirasi dan motivasi bangsa arab untuk menjaga kefasihan bahasa.

Namun setelah Rasulullah wafat dan Islam mulai tersebar ke semenanjung Arabiah sepeti Romawi Persia dan India, interaksi orang arab dengan orang ajam semakin kental yang mengakibatkan munculnya kesalahan dalam berbahasa arab yang disebut dengan lahn. Mereka berinteraksi menyalahi undang-undang bahasa Arab membaca kasrah pada kalimat yang semestinya di dhummahkan, membaca dhummah pada yang semestinya nasabkan.

Menurut sebagian pakar sejarah masalah ini baru mendapat perhatian yang serius pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib, ada satu kisah saat Abu Aswad Ad-Duali sedang menatap indahnya langit di malam hari yang bertabur bintang-bintang, putrinya berkata saat itu satu ungkapan kagum akan pemandangan langit tetapi dalam bentuk pertanyaan, ia berkata ما احسنُ السماء (apa yang membuat langit begitu indah)”, Abu Aswad menjawab “نجومها ( bintang-bintangnya)”, putrinya berketus “ aku sedang mengungkapkan kekagumanku, kenapa engkau jawab” kemudian Abu Aswab berkata “harusnya engkau katakan : ما احسنَ السماء dengan fatah bukan dhummah”. Di sinilah awal mula ketakutan Abu Aswad terhadap kekuatan bahasa yang makin lemah, kaidah-kaidah bahasa mulai pudar, keindahannya mulai hilang, bahkan satu kisah yang sangat membuat Abu Aswad Ad-Duali gelisah yaitu kesalahan dalam membaca alquran,  di mana ada seseorang saat itu membaca انّ اللّه بريء من المشركين ورسولِه dengan membaca kasrah huruf lam pada ورسولِه yang sebenarnya berharkat fatah, ini adalah kesalahan yang cukup fatal, hingga masalah ini sampai ke telinga Saidina Ali R.A. 

Kemudian Ali bin Abi Thalib bersama sahabatnya Abu Aswad Ad-Duali membuat kaidah-kaidah yang bisa dijadikan pedoman oleh orang ajam maupun orang Arab tersebut. Beliau membuat pembagian kalimat, idhafah, imalah, ta’ajjub, dan istifham dengan tujuan membetulkan harakat. Saidina Ali R.A mengajarkan kepada Abu Aswad dengan berkata “انح هذا النحو” hingga pada akhirnya dinamakan ilmu ini dengan ilmu nahwu. 

Setelah benar pengucapan harkat kalimat mulailah timbul masalah baru yaitu kesalahan dalam kosa kata, di sinilah Saidina Ali R.A dan Abu Aswad membuat satu kaidah lain yang membahas seputar bentuk kata yang dinamakan dengan ilmu Sharaf sekarang. Mulai dari sinilah awal mula terbentuknya ilmu bahasa Arab.  Ilmu bahasa arab mencakup didalam-Nya 12 ilmu yang berbeda dimana yang paling menonjol adalah ilmu Nahwu dan Sharaf. Ilmu Sharaf sendiri lebih fokus pada pembahasan perubahan kata dari satu bentuk ke bentuk yang lain agar menemukan makna yang dimaksud. Menurut sebagian ulama pada awal mulanya ilmu Sharaf bersatu dengan ilmu nahwu hingga keduanya terpisah menjadi dua fan ilmu yang berbeda, 

Banyak perselisihan ulama dalam membenarkan siapa yang pertama kali menyusun ilmu sharaf, banyak argumen yang dikemukakan oleh para ulama ada yang mengatakan bahwa sayidina Ali R.A dan Abu Aswad Ad Duali lah yang mencetuskan ilmu sharaf  karena beliau bersama dengan sahabatnya Abu Aswad Ad-Duali yang pertama kali mengoreksi kesalahan pengucapan bahasa arab pada zamannya. namun di dalam kitab hasyiah As-Shabban ‘Ala Al-Asymuni mayoritas para ulama menyimpulkan bahwa penemu ilmu sharaf adalah Mu’az bin Muslim Al-Harra’ yang berasal dari Kuffah wafat tahun 187 H/803M, beliau adalah seorang ulama besar dalam bidang ilmu bahasa arab, juga menulis kitab namun sayang hampir semua kitabnya musnah tak tersisa sehingga tidak satu pun teks naskah kitab beliau yang ditemukan sekarang. Saidina Ali R.A dan Abu aswad ibaratnya hanya menggambar kerangka untuk sebuah rumah, dan disempurnakan bahkan dibangun bangunan tersebut oleh Mu'az bin Muslim Al-Harra’. Bisa digaris bawahi beliaulah yang memisahkan antara ilmu nahwu dan sharaf, menyempurnakan dan membuat kaidah-kaidah dalam ilmu sharaf.
 
Referensi : 

Hasyiah As-Shabban ‘Alal ‘Asymuni jilid 1, hal 16
Qawaidul asasiyah Lil Lughatil Arabiah hal 5-6
Syarah Dikangkudzi ‘Ala Murahil Arwah hal 7

Posting Komentar

0 Komentar