Fikih Klimatologi; Bagaimana Pelaksanaan Puasa pada Daerah yang Tidak Terbenam Matahari Sama Sekali?

Fikih Klimatologi; Bagaimana Pelaksanaan Puasa pada Daerah yang Tidak Terbenam Matahari Sama Sekali?


Puasa merupakan salah satu ibadah bagi umat muslim yang dilakukan dengan cara menahan diri dari lapar, haus dan aktivitas seksual, serta beberapa hal lainnya yang dapat membatalkan puasa mulai dari fajar hingga terbenamnya matahari. Ibadah puasa dibebankan kepada seluruh umat muslim yang berada di belahan dunia. Berpijak kepada pendapat bumi bulat dan agak sedikit lonjong  maka secara otomatis sinar matahari yang menyinari jagat raya ini tidak akan rata.

 

Matahari berputar pada tempatnya, dan bumi berputar mengelilingi matahari atau yang sering disebut dengan revolusi, selama   365 ¼ hari, bisa disimpulkan perputaran ini akan terjadi pergantian tahun, dan juga akan mengakibatkan bedanya waktu malam dan siang di suatu tempat, hal ini dipengaruhi oleh dekat dan jauhnya matahari dengan Daerah tersebut.

 

Fenomena ini tentunya berefek  kepada ibadah puasa. Bagaimana praktik dan tata cara pelaksanaan puasa jika siang lebih pendek waktunya ketimbang malam, atau malamnya lebih lama ketimbang siang,  atau bahkan bagaimana jika ada tempat yang memang tidak terbenam matahari sama sekali?

 

Jawaban:

Para ulama dalam kitab-kitab turats klasik memberikan solusi bagi masalah ini sebagai berikut:

Jika terbitnya fajar bersamaan dengan terbenamnya matahari ataupun durasi antara terbenam matahari dengan terbit fajar tidak cukup untuk makan yang bisa menguatkan puasa esok hari, maka waktu memulai puasa dan berbuka puasa mengikuti tempat terdekat. Adapun jika durasi malamnya mencukupi untuk makan yang bisa menguatkan puasa esok hari maka, wajib memulai puasa dengan waktu terbitnya fajar di tempat tersebut

 

Referensi:

1.       Tuhfatul Muhtaj, jilid 1, H. 424

لَوْ عُدِمَ وَقْتُ الْعِشَاءِ كَأَنْ طَلَعَ الْفَجْرُ كلمَا غَرَبَتْ الشَّمْسُ وَجَبَ قَضَاؤُهَا عَلَى الْأَوْجَهِ مِنْ اخْتِلَافٍ فِيهِ بَيْنَ الْمُتَأَخِّرِين وَلَوْ لَمْ تَغِبْ إلَّا بِقَدْرِ مَا بَيْنَ الْعِشَاءَيْنِ فَأَطْلَقَ الشَّيْخُ أَبُو حَامِدٍ أَنَّهُ يُعْتَبَرُ حَالُهُمْ بِأَقْرَبِ بَلَدٍ يَلِيهِمْ وَفَرَّعَ عَلَيْهِ الزَّرْكَشِيُّ وَابْنُ الْعِمَادِ أَنَّهُمْ يُقَدِّرُونَ فِي الصَّوْمِ لَيْلَهُمْ بِأَقْرَبِ بَلَدٍ إلَيْهِمْ، ثُمَّ يُمْسِكُونَ إلَى الْغُرُوبِ بِأَقْرَبِ بَلَدٍ إلَيْهِمْ وَمَا قَالَاهُ إنَّمَا يَظْهَرُ إنْ لَمْ تَسَعْ مُدَّةَ غَيْبُوبَتِهَا أَكَلَ مَا يُقِيمُ بِنْيَةَ الصَّائِمِ لِتَعَذُّرِ الْعَمَلِ بِهِ عِنْدَهُمْ فَاضْطَرَرْنَا إلَى ذَلِكَ التَّقْدِيرِ بِخِلَافِ مَا إذَا وَسِعَ ذَلِكَ وَلَيْسَ هَذَا حِينَئِذٍ كَأَيَّامِ الدَّجَّالِ لِوُجُودِ اللَّيْلِ هُنَا وَإِنْ قَصُرَ وَلَوْ لَمْ يَسَعْ ذَلِكَ إلَّا قَدْرُ الْمَغْرِبِ أَوْ أَكَلَ الصَّائِمُ قَدَّمَ أَكْلَهُ وَقَضَى الْمَغْرِبَ فِيمَا يَظْهَرُ

 

2.       Nihayah al-Muhtaj, jilid 1 H.369

]تَنْبِيهٌ] لَوْ عُدِمَ وقْتُ العِشاءِ كَأنْ طَلَعَ الفَجْرُ كَما غَرَبَتْ الشَّمْسُ وجَبَ قَضاؤُها عَلى الأوْجَهِ مِن اخْتِلافٍ فِيهِ بَيْنَ المُتَأخِّرِينَ ولَوْ لَمْ تَغِبْ إلّا بِقَدْرِ ما بَيْنَ العِشاءَيْنِ، فَأطْلَقَ الشَّيْخُ أبُو حامِدٍ أنَّهُ يُعْتَبَرُ حالُهُمْ بِأقْرَبِ بَلَدٍ إلَيْهِمْ، وفَرَّعَ عَلَيْهِ الزَّرْكَشِيُّ

Posting Komentar

0 Komentar