Dalam ajaran Islam, kewajiban bersuci (thaharah) sebelum melaksanakan ibadah seperti shalat memiliki dimensi yang luas, mulai dari aspek fisik hingga spiritual. Bersuci bukan sekadar rutinitas membersihkan badan, melainkan sebuah prasyarat agar ibadah diterima dan memberikan dampak positif bagi pelakunya.
Di dalam kitab hikmah tasyri' wal filsafah karangan syekh Ali bin Ahmad Al jarjawi di sebut kan: manusia apabila terkena kotoran pada bajunya atau anggota badannya ia akan merasakan jijik.
Begitu juga apabila seseorang hendak berencana menemui raja ia harus memakai pakaian yang bagus, wangi,dan bersih dari segala kotoran yang menempel di tubuhnya, sehingga raja tidak melihat pada orang tersebut suatu keadaan yang dapat membawaki kepada membenci nya. Maka bagaimana keadaan seorang hamba yang sangat membutuhkan kepada Tuhannya?
Allah SWT mewajibkan wudhuk dan mandi karena manusia apabila ia hendak menunaikan kewajibannya maka ia harus bersih dari segala kotoran dan hal-hal yang dapat membawaki kepada jijik manusia terhadapnya .
Di balik hikmah tersebut juga terdapat hikmah yang lain yaitu: Malaikat sangat membenci melihat manusia apabila mereka melakukan kewajiban dalam keadaan kotor dan bau.
Bagitu juga syare' memerintah untuk melakukan mandi sebelum berangkat ke mesjid untuk melaksanakan shalat Jum'at dan hari raya, Karena seluruh manusia dari segala penjuru berkumpul pada waktu tersebut untuk melakukan salat dalam keadaan berdempetan dan berdesakan .
Maka apabila mereka tidak membersihkan diri dan memakai wangi-wangian sebelum berangkat ke mesjid untuk melakukan salat hari raya naka orang lain salat berdekatan dengan atau di samping nya akan merasakan jijik dan tersakiti.
Selain itu, kewajiban bersuci juga mengandung hikmah yang sangat dalam dari sisi pembinaan jiwa dan pembiasaan diri terhadap kedisiplinan. Seorang muslim yang senantiasa menjaga wudhuknya akan terbiasa hidup dalam keadaan bersih dan teratur, sehingga hal ini membentuk karakter yang rapi dan penuh perhatian terhadap kebersihan. Kebiasaan ini tidak hanya berdampak pada ibadah semata, tetapi juga pada kehidupan sehari-hari, baik dalam pergaulan, pekerjaan, maupun dalam menjaga lingkungan di sekitarnya.
Di dalam kehidupan sosial, orang yang menjaga kebersihan akan lebih dihormati dan disenangi oleh orang lain. Sebaliknya, orang yang tidak memperhatikan kebersihan dirinya akan dijauhi karena menimbulkan rasa tidak nyaman bagi orang-orang di sekitarnya. Oleh karena itu, syariat bersuci ini juga mengandung nilai etika sosial yang sangat tinggi, yaitu menjaga perasaan orang lain agar tidak terganggu dengan keadaan diri kita. Islam sangat memperhatikan hal-hal semacam ini, karena agama ini bukan hanya mengatur hubungan antara hamba dengan Tuhannya, tetapi juga hubungan antar sesama manusia.
Selain itu, bersuci juga memberikan dampak positif bagi kesehatan tubuh manusia. Air yang digunakan dalam wudhuk dan mandi memiliki peran penting dalam membersihkan kotoran, debu, dan kuman yang menempel pada anggota tubuh. Dengan membersihkan anggota tubuh secara rutin, maka hal ini dapat mencegah timbulnya berbagai penyakit yang disebabkan oleh kotoran dan bakteri. Maka dapat dipahami bahwa syariat bersuci ini juga mengandung hikmah menjaga kesehatan manusia, sehingga ia dapat beribadah dengan baik dan menjalani aktivitasnya dengan lebih optimal.
Lebih jauh lagi, bersuci juga memiliki kaitan yang erat dengan kebersihan hati. Sebagaimana tubuh dibersihkan dari kotoran yang nampak, maka hati pun harus dibersihkan dari kotoran yang tidak nampak seperti iri, dengki, sombong, dan sifat-sifat tercela lainnya. Dengan demikian, bersuci menjadi simbol bahwa seorang hamba tidak hanya dituntut untuk bersih secara lahir, tetapi juga harus berusaha untuk bersih secara batin. Kedua hal ini saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan dalam mencapai kesempurnaan ibadah.
Lebih jauh lagi, bersuci juga memiliki kaitan yang erat dengan kebersihan hati. Sebagaimana tubuh dibersihkan dari kotoran yang nampak, maka hati pun harus dibersihkan dari kotoran yang tidak nampak seperti iri, dengki, sombong, dan sifat-sifat tercela lainnya. Dengan demikian, bersuci menjadi simbol bahwa seorang hamba tidak hanya dituntut untuk bersih secara lahir, tetapi juga harus berusaha untuk bersih secara batin. Kedua hal ini saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan dalam mencapai kesempurnaan ibadah.
Nabi Muhammad Saw bersabda dalam satu hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad di dalam kitab musnad : الطهور نصف الإمان yang artinya kebersihan itu sebagian dari pada iman. Maksud bersih di dalam hadits tersebut ialah bersih yang ma'nawi yaitu bersih hati dari segala sifat iri,dengki, takabur dan u'jub.
Karena seorang muslim apabila ia memiliki segala sifat tersebut maka imannya akan melemah. Begitu juga sebaliknya apabila ia tidak memiliki segala sifat tersebut maka iman nya akan sempurna .
Referensi: Kitab hikmatut tasyrik Wak filsafat, ali bin Ahmad Al jarjawi
Hal 59.



0 Komentar