Silaturahmi merupakan salah satu ajaran penting dalam Islam yang menekankan pentingnya menjaga hubungan baik antaranggota keluarga dan sesama manusia. Dalam ajaran Islam, menjaga tali kekerabatan tidak hanya dipandang sebagai bentuk etika sosial, melainkan juga sebagai bagian dari ketakwaan kepada Allah.
Al-Qur’an mengajarkan agar manusia bertakwa kepada Allah dan menjaga hubungan kekeluargaan, karena Allah senantiasa mengawasi setiap perbuatan manusia. Hal ini menunjukkan bahwa silaturahmi memiliki dimensi spiritual yang kuat, bukan sekadar hubungan sosial biasa.
Rasulullah saw. juga menegaskan bahwa menjaga hubungan kekeluargaan merupakan ciri keimanan seseorang. Orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir diperintahkan untuk menyambung tali silaturahmi. Dengan demikian, kualitas hubungan seseorang dengan keluarganya dapat menjadi indikator dari penghayatan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupannya.
Selain menjadi tanda keimanan, silaturahmi juga memiliki berbagai keutamaan dalam kehidupan manusia. Dalam hadis Nabi disebutkan bahwa siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya hendaknya menjaga hubungan kekeluargaan. Makna keluasan rezeki tidak hanya terbatas pada bertambahnya harta, tetapi juga mencakup keberkahan hidup, ketenangan batin, serta kemudahan dalam berbagai urusan. Adapun makna dipanjangkan umur dapat dipahami sebagai bertambahnya keberkahan usia sehingga kehidupan seseorang menjadi lebih bermanfaat.
Islam juga mengajarkan bahwa silaturahmi harus dijaga tanpa memandang perbedaan keyakinan. Hal ini tergambar dalam kisah seorang sahabat perempuan yang bertanya kepada Rasulullah mengenai ibunya yang belum memeluk Islam, apakah ia tetap harus berbuat baik dan menjalin hubungan dengannya. Rasulullah menjawab bahwa ia tetap diperintahkan untuk menjaga hubungan baik dengan ibunya. Hadis ini menunjukkan keluasan ajaran Islam dalam menanamkan nilai kasih sayang, penghormatan, dan hubungan kemanusiaan.
Momentum Idul Adha menjadi salah satu waktu yang sangat relevan untuk menghidupkan kembali nilai-nilai silaturahmi. Hari raya ini tidak hanya identik dengan ibadah kurban, tetapi juga dengan semangat berbagi, kepedulian sosial, dan mempererat hubungan antaranggota keluarga serta masyarakat. Tradisi berkumpul bersama keluarga, saling mengunjungi, saling memaafkan, dan berbagi daging kurban mencerminkan implementasi nyata dari ajaran silaturahmi dalam kehidupan umat Islam.
Dengan demikian, silaturahmi dalam momentum Idul Adha bukan hanya tradisi budaya, melainkan manifestasi dari ajaran Islam yang memiliki landasan kuat dalam Al-Qur’an dan hadis. Melalui silaturahmi, hubungan sosial menjadi harmonis, persaudaraan semakin erat, serta nilai ketakwaan dan kemanusiaan dapat tumbuh secara seimbang dalam kehidupan masyarakat.
Referensi:
1. Alquran
Al-quran, Surah An-Nisā’ ayat 1.
وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
2. Hadist
Kitab: Al-Musnad al-Mawḍū‘ī al-Jāmi‘ li al-Kitab al-‘Asharah, karya Ṣuhayb ‘Abd al-Jabbār, juz 5, hal 421. c
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَتَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
3. Hadist
Kitab ihya ulumud ad-din karya al-imam al-ghazali, Juz 2, hal 210, cet bairut.
حديث أسماء بنت أبي بكر قدمت علي أمي فقلت يا رسول الله قدمت علي أمي وهي مشركة أفأصلها قال نعم صليها متفق عليه مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَتَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ



0 Komentar