Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
LBM MUDI Mesra

Dalil yang membolehkan Peusijuk (tepung tawar)

Peusijuk (tepung tawar) merupakan hal yang telah lumrah dilaksanakan oleh kaum muslimin, tetapi belakangan ini sebagian orang yang menganggap dirinya ahli agama memperdebatkan legalitas peusijuk dalam agama dan memvonis bahwa hal tersebut adalah bid`ah.

Dalil-dalil hadis yang membolehkan peusijuk:
Hadis Rasulullah pada saat rasulullah menikahkan Siti Fatimah dengan Saidina Ali krw, Rasulullah mengambil air dan memercikkan kedada keduanya.

Referensi:
  1. Mu`jam Kabir Tabrani
  2. Jami` Al Hawadis
  3. Shawaiq Muhriqah hal 231 cet. Hakikat kitabevi.
Jami` Al-Hawadis, Jalaluddin As-Sayuthi.
عن أنس بن مالك قال : جاء أبو بكر إلى النبى - صلى الله عليه وسلم - فقعد بين يديه
 فقال : يا رسول الله قد علمت مناصحتى وقدمى فى الإسلام وإنى وإنى ، قال : وما ذاك قال : تزوجنى فاطمة فسكت عنه أو قال : أعرض عنه فرجع أبو بكر إلى عمر فقال : هلكت وأهلكت ، قال : وما ذاك قال : خطبت فاطمة إلى النبى - صلى الله عليه وسلم - فأعرض عنى ، قال : مكانك حتى آتى النبى - صلى الله عليه وسلم - فأطلب مثل الذى طلبت ، فأتى عمر النبى - صلى الله عليه وسلم - فقعد بين يديه فقال : يا رسول الله قد علمت مناصحتى وقدمى فى الإسلام وإنى وإنى ، قال : وما ذاك قال : تزوجنى فاطمة فأعرض عنه ، فرجع عمر إلى أبى بكر فقال : إنه ينتظر أمر الله فيها ، انطلق بنا إلى على حتى نأمره أن يطلب مثل الذى طلبنا ، قال على : فأتيانى وأنا أعالج فسيلا فقالا : ابنة عمك تخطب قال : فنبهانى لأمر ، فقمت أجر ردائى طرفا على عاتقى وطرفا أجره على الأرض حتى أتيت رسول الله - صلى الله عليه وسلم - فقعدت بين يديه فقلت : يا رسول الله قد عرفت قدمى فى الإسلام ومناصحتى وإنى وإنى ، قال : وما ذاك يا على قلت تزوجنى فاطمة قال : وعندك شىء قلت : فرسى وبدنى قال : أعنى درعى قال : أما فرسك فلا بد لك منها ، وأما درعك فبعها ، فبعتها بأربعمائة وثمانين فأتيته بها فوضعتها فى حجره ، فقبض منها قبضة فقال : يا بلال ابغنا بها طيبا ، وأمرهم أن يجزوها ، فجعل لهم سرير شرط بالشرط ووسادة من أدم حشوها ليف وملء البيت كثيبا يعنى رملا وقال لى : إذا أتتك فلا تحدث شيئا حتى آتيك ، فجاءت مع أم أيمن حتى قعدت فى جانب البيت وأنا فى جانب وجاء رسول الله - صلى الله عليه وسلم - فقال : ههنا أخى فقالت أم أيمن أخوك أو أخوك وقد زوجته ابنتك قال : نعم ، فدخل فقال لفاطمة : ائتينى بماء . فقامت إلى قعب فى البيت فجعلت فيه ماء فأتت به ، فأخذه فمح فيه ثم قال لها : قومى ، فنضح بين ثدييها وعلى رأسها وقال : اللهم أعيذها بك وذريتها من الشيطان الرجيم ، وقال لها : أدبرى ، فأدبرت فنضح بين كتفيها ثم قال : اللهم إنى أعيذها بك وذريتها من الشيطان الرجيم ، ثم قال لعلى : ائتينى بماء ، فعلمت الذى يريد فقمت فملأت القعب ماء فأتيته به ، فأخذ منه بفيه ثم مجه فيه ثم صب على رأسى وبين ثديى ثم قال : اللهم إنى أعيذه بك وذريته من الشيطان الرجيم ، ثم قال : أدبر ، فأدبرت فصب بين كتفى وقال : اللهم إنى أعيذه بك وذريته من الشيطان الرجيم ، وقال لى : ادخل بأهلك باسم الله والبركة (جرير) كنز العمال وأخرجه أيضا ابن حبان

Penjabaran:
Pada dasarnya dalam peusijuk yang Rasulullah lakukan adalah hanya memercikkan air sebagaimana dalam hadis, sedangkan peusijuk yang dilakukan pada masa ini yaitu selain memercikkan air yang telah disediakan dalam satu mangkok dengan sedikit dicampuri sedikit garam, jeruk purut, dan ditaruh emas didalamnya, juga mencampakkan beras, padi. Kemudian dipercik menggunakan beberapa tanaman yang telah diikat menjadi satu yang biasanya terdiri dari daun peusijuk, naleung sumbo, bibit pinang, dan beberapa jenis tanaman lainnya.

Semua itu sebenarnya adalah untuk tafaaul[1]. Hal ini tidaklah dilarang dalam Islam. Bahkan dalam bahasa sehari-hari juga banyak yang berbentuk tafaaul . Salah satu contoh tafaaul yang terjadi dalam bahasa arab adalah penamaan tempat yang tidak berpenduduk yang biasanya berbahaya dengan nama mafaazah[2] yang secara bahasa berarti tempat keselamatan. Hal tersebut sebagai doa selamatan bagi orang yang lalu ditempat tersebut supaya selamat. Contoh lainnya adalah kata-kata Mutalahimah (luka menganga yang meyobek daging), sebenarnya arti dari kata Mutalahimah adalah sedaging (rapat) namun dipakai kepada luka terbuka yang berlawanan dengan arti Mutalahimah. Hal ini bertujuan sebagai harapan supaya luka tersebut cepat rapat dan lengket kembali.[3] Sedangkan contoh tafaaul dalam bahasa Aceh adalah kebiasaan orang Aceh adalah memanggil anaknya yang melakukan kesalahan dengan panggilan aneuk metuah (anak yang bertuah) lepah jroeh gata (baik sekali kamu) padahal jelas-jelas anak tersebut barusan melakukan kesalahan. Tetapi malah dipangil dengan panggilan yang baik sebagai doa bagi anak tersebut supaya tidak melakukan kesalahan lagi.

Dalam peusijuk dipergunakan beberapa jenis tanaman, semua maksud dari tanaman tersebut tak lain adalah sebagai tafaul. Beberapa maksud tafaaul dari bahan-bahan yang dipergunakan untuk peusijuk anatara lain:
  1. Daun Sedingin: daun yang bersifat dingin dan aman ketika dimanfaatkan.
  2. Rumput Seumbo: mudah rizki dan kuat manfaatnya.
  3. Daun Pandan: bagus barang yang dituju karena kewangiannya.
  4. Batang Talas: cepat berkembang dan batangnya selalu bermanfaat.
  5. Tunas Pinang: kuat dan lurus ketika dimanfaatkan.
  6. Bunga: selalu wangi dan sangat disenangi.
  7. Inai: kuat manfaat dari segi apapun.
  8. Emas: barang yang dituju sesuatu yang sangat berharga.
  9. Beras & Padi: makanan pokok yang berkembang banyak dan selalu dimanfaatkan.
  10. Garam: sesuatu yang menyedapkan dan memuaskan.
  11. Gula: barang yang dituju agar mendapat kesenangan.
  12. Minyak Wangi: selalu diagungkan.
  13. Kunyit: cepat berkembang serta makmur.
  14. Limau Purut: membawa kebahagiaan.
  15. Kemenyan: disukai Malaikat pembawa rahmat.
  16. Kapas: beban yang berat jadi ringan.
  17. Tepung Tawar/Bedak: semoga dihias dengan kebahagiaan.
  18. Air: semoga selalu dalam hak Allah.
  19. Kaki Ayam: giat mencari rizki yang halal.
  20. Hati Ayam: agar terbolak-balik hati.
Nb: no 1 s/d 7 [tujuh macam tanaman yang tafa_ulnya manzilah Auliya Tujuh]

Selain itu biasanya ketika peusijuk (tepung tawar) ditempelkan sedikit nasi pulut, baik yang ditepung tawari itu harta atau manusia sendiri. Hal ini juga mengandung satu maksud. Nasi pulut yang sifatnya lengket merupakan salah satu rizki yang Allah berikan. Menempelkan nasi tersebut sebagai tafaul untuk supaya datang rizki lainnya.

[1] Tafaul: rajaul khair ma-aal bi ma kana.
[2] Tuhfatul Muhtaj 6 hal 373 cet. Dar Fikr
[3] Hasyiah Al Qalyuby `ala Mahally jilid 4 hal 113 cet. Dar Fikr
Title : Dalil yang membolehkan Peusijuk (tepung tawar)
Description : Peusijuk (tepung tawar) merupakan hal yang telah lumrah dilaksanakan oleh kaum muslimin, tetapi belakangan ini sebagian orang yang mengangg...
Rating : 5
Share artikel ini :
3 komentar untuk:

Dalil yang membolehkan Peusijuk (tepung tawar)

kenapa tidak ada satu dalil yang dari Qur'an?

sebelumnya kami ucapkan terimaksih atas kunjungan saudara.
adapun pertanyaan saudara , mengapa tidk ada dalil dari Ayat Al Quran dalam pembahasan diatas, maka sedikit kami uraikan bahwa hujjah/landasan hukum dalam agama islam ada 4; Al Quran, Al Hadits, qiyas, dan ijmak. ke 4 ini pada hakikatnya kembali kepada 2 yaitu Al Quran dan Al Hadits, dan kedua ini pada hakikatnya juga kembali pada satu yaitu Al Hadits, karena kita mengenal Al Quran melalui Rasulullah.

dalam pembahsan di atas, sudah disebutkan satu hadits Nabi, maka hal ini sudah memadai sebagai landasan hukum. adapun ayat Al Quran tidk secara terang menjelaskan hal ini secara partikulal, namun dlm Al Quran Allah mememrintahkan untuk mengikuti Rasulullah. dan hal ini telah ma`ruf diketahui oleh semua orang sehingga tdk perlu disebutkab lagi ayat yang memerintahkan untuk mengikuti Rasulullah.
was salam

bermanfaat sekali,,,, azin share tgk,,,,,,