Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Jawaban Tentang Puasa Bulan Rajab

Jawaban Tentang Puasa Bulan RajabSaat ini kita sedang berada di bulan Rajab, salah satu bulan haram yang merupakan bulan yang mendapat kemuliaan dalam agama. Dalam bulan Rajab lumrahnya umat Islam memperbanyak ibadat kepada Allah apabalagi dua bulan lagi bulan suci Ramadhan akan segera tiba. Salah satu ibadat yang ramai dilakukan oleh kaum muslim adalah berpuasa. Namun saat ini sebagaimana amalan umat Islam yang lain, oleh sebagian kalangan yang menganggap diri mereka sebagai pengikut ulama terdahulu yang paling benar sering menyebarkan dakwah mereka bahwa puasa Rajab adalah perbuatan bid`ah.
Oleh karena itu kami mengutip sebuah tulisan dari page Abu Mudi yang menjawab tentang masalah kedudukan hukum puasa di bulan Rajab.
Puasa bulan Rajab
Sebelumnya perlu diketahui bahwa puasa sunat dapat dilaksanakan kapan saja kecuali dalam waktu-waktu yang diharamkan untuk berpuasa seperti hari raya dan hari tasyriq.

Imam Nawawi mengatakan dalam syarah Muslim:

في هذه الاحاديث أنه يستحب أن لا يخلى شهرا من صيام وفيها أن صوم النفل غير مختص بزمان معين بل كل السنة صالحة له الا 
رمضان والعيد والتشريق

Dari semua hadits-hadits ini dipahami bahwa disunatkan untuk tidak mengosongkan satu bulan pun dari puasa dan juga dipahami bahwa puasa sunat tidak terkhusus dengan satu waktu tertentu bahkan puasa seluruh setahun patut untuk puasa sunat kecuali bulan Ramadhan, hari raya dan hari tasyriq. (lihat Imam Nawawi, Syarah Muslim jilid 4 hal 295 Kairo, Dar Hadits th1994)

Berkenaan dengan beberapa hadits bulan Rajab, Imam As-Sayuthy pernah di tanyakan sebagaimana tersebut dalam kitab beliau Hawi lil Fatawy :

مسألة : …في في حديث أنس قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم : ( إن في الجنة نهراً يقال له رجب ماؤه أبيض من اللبن وأحلى من العسل من صام يوماً من رجب سقاه الله من ذلك النهر ) ...وحديث ابن عباس قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم : ( من صام من رجب يوما كان كصيام شهر ، ومن صام منه سبعة أيام غلقت عنه أبواب الجحيم السبعة ، ومن صام منه ثمانية أيام فتحت له أبواب الجنة الثمانية ومن صام منه عشرة أيام بدلت سيئاته حسنات ) هل هذه الأحاديث موضوعة … ؟
الجواب : ليست هذه الأحاديث بموضوعة بل هي من قسم الضعيف الذي تجوز روايته في الفضائل أما الحديث الأول فأخرجه أبو الشيخ بن حيان في كتاب الصيام والأصبهاني وابن شاهين كلاهما في الترغيب والبيهقي وغيرهم قال الحافظ إبن حجر : وليس في اسناده من ينظر في حاله سوى منصور بن زائدة الأسدي …
وأما الحديث الثالث فأخرجه البيهقي في فضائل الأوقات وغيره وله طرق وشواهد ضعيفة لا تثبت إلا أنه يرتقي عن كونه موضوعاً

Masalah:
Tentang hadits riwayat Anas Rasulullah berkata: “sesungguhnya di dalam surga ada sebuah sungai yang disebut dengan Rajab, airnya lebih putih dari susu dan lebih manis dari madu. Barangsiapa yang berpausa pada bulan Rajab niscaya Allah akan memberinya minum dari sungai tersebut…

Dan hadist Ibnu Abbas, Rasulullah berkata : “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Rajab sehari niscaya seperti puasa sebulan. Barangsiapa yang berpuasa tujuh dari di bulan Rajab niscaya di kuncikan baginya tujuh pintu neraka Jahim. Barangsiapa berpuasa selama delapan hari niscaya dibukakan baginya delapan pintu surga. Barangsiapa berpuasa dalam bulan Rajab selama sepuluh hari niscaya digantikan keburukannya dengan kebaikan.

Apakah semua hadist ini maudhu`…?
Jawab:
Hadits-hadits ini bukanlah hadist maudhu` tetapi merupakan bahagian dari hadist dhaif yang boleh diriwayatkan pada fadhail a`mal (keutamaan beramal).

Hadist pertama di riwayatkan oleh Abu Syeikh bin Hayyan dalam kitab ash-Shiyam dan diriwayatkan oleh al-Ashbihany dan Ibnu Syahin dalam kitab Targhib dan juga diriwayatkan oleh Imam Baihaqy dan lainya. Imam Ibnu Hajar al-Asqalany berkata tidak ada pada sanadnya perawi yang perlu ditinjau keadaannya selain Manshur bin Zaidah al-Asady.

Adapun hadits yang ketiga maka diriwayatkan oleh Imam Baihaqy dalam kitab Fadhail Auqat dan kitab yang lain. Hadits ini juga memiliki thariq dan syahid (pendukung) yang dhaif yang tidak stubut tetapi jauh dari keadaanya sebagai hadits maudhu` (hadits palsu). (Imam as-Sayuthy, Hawi lil Fatawy jilid 1 hal 339 Beirut, Dar Kutub Ilmiyah th 2000)

Pertanyaan serupa dengan jawaban serupa juga pernah ditanyakan kepada Imam Ibnu Hajar sebagaimana dituliskan dalam kitab Fatawa Kubra Fiqhiyyah jilid 3 hal 86 Cet. Dar Fikr

Imam Baihaqy dalam kitab Fadhail al-Auqat beliau menerangkan beberapa hadits tentang kelebihan bulan Rajab pada bab Fi Fadh Syahr Rajab hal 19 Cet. Dar Kutub Ilmiyah dan juga dalam kitab Syu`ab al-Iman pada Fash Takhsish Syahr Rajab bi zikr)

Dalam satu hadits shahih riwayat Imam Muslim:
حدثنا أبو بكر بن أبى شيبة حدثنا عبد الله بن نمير ح وحدثنا ابن نمير حدثنا أبى حدثنا عثمان بن حكيم الأنصارى قال سألت سعيد بن جبير عن صوم رجب - ونحن يومئذ فى رجب - فقال سمعت ابن عباس - رضى الله عنهما - يقول كان رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يصوم حتى نقول لا يفطر ويفطر حتى نقول لا يصوم.

Telah menceritakan kepada kami Abubakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Numair (dalam riwayat lain), telah menceritakan kepada kami oleh Ibnu Numair, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Utsman bin Hakim al-Anshari ia berkata, saya bertanya kepada Sa’id bin Jubair mengenai puasa Rajab, dan saat itu kami berada di bulan Rajab. Maka ia pun menjawab, saya telah mendengar Ibnu Abbas Ra. Berkata: “Dulu Rasulullah Saw. pernah berpuasa hingga kami berkata bahwa beliau tidak akan berbuka. Dan beliau juga pernah berbuka hingga kami berkata bahwa beliau tidak akan puasa.” (H.R. Imam Muslim)

Hadits ini juga diriwayatkan dari thariq yang lain (lihat Shahih Muslim bab Shiyam Nabi fi Ghair Ramadhan)

Imam Nawawi menerangkan dalam kitab Syarah Shahih Muslim :

قوله ( سألت سعيد بن جبير عن صوم رجب فقال سمعت بن عباس يقول كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يصوم حتى نقول لا يفطر ويفطر حتى نقول لا يصوم ) الظاهر أن مراد سعيد بن جبير بهذا الاستدلال أنه لا نهى عنه ولا ندب فيه لعينه بل له حكم باقي الشهور ولم يثبت في صوم رجب نهى ولا ندب لعينه ولكن أصل الصوم مندوب إليه وفي سنن أبي داود أن رسول الله صلى الله عليه و سلم ندب إلى الصوم من الأشهر الحرم ورجب أحدها والله أعلم

Yang dhahir bahwa maksud sa`id bin jibrin dengan istidlal ini adalah tidak ada larangan tentang puasa Rajab dan tidak ada perintah sunat bagi khusus puasa Rajab tetapi berlaku hukum puasa bulan yang lain dan tidak ada larangan tentang puasa Rajab dan tidak pula perintah sunat secara khusus tetapi asal hukum puasa adalah sunat. Dalam Sunan Abi Daud “Bahwa Rasulullah memerintahkan puasa pada bulan-bulan haram sedangkan bulan Rajab termasuk salah satu bulan haram. (lihat Imam Nawawi, Syarah Muslim jilid 4 hal 295 Kairo, Dar Hadits th1994)

Imam as-Sayuthy dalam Syarah Shahih Muslim setelah mengutip perkataan Imam Nawawi ketika mengomentari hadits sa`id bin jibrin tersebut menuliskan:

قلت وروى البيهقي في شعب الإيمان عن أبي قلابة قال في الجنة قصر لصوام رجب وقال هذا أصح ما ورد في صوم رجب قال وابو قلابة من التابعين ومثله لا يقول ذلك إلا عن بلاغ ممن فوقه عمن يأتيه الوحي

Saya berkata: dan diriwayatkan oleh Imam Baihaqy dalam kitab Syu`ab al-Iman dari Abi Qalabah beliau berkata “dalam surga ada sebuah istana yang disediakan bagi orang berpuasa Rajab. Beliau berkata: Abi Qalabah adalah seorang tabi`in. Orang seperti beliau tidak akan mengatakan hal demikian kecuali diambil dari seseorang di atas beliau yang mengambilnya dari orang yang diberi wahyu (Rasulullah SAW) (lihat Imam Sayuthy Syarah Muslim jilid 3 hal 238, Saudi Arabia, Dar Ibn Affan th 1996)

Dari uraian Imam as-Sayuthy tersebut dapat dipahami bahwa diantara semua hadits tentang kelebihan Rajab secara khusus yang paling shahih hanyalah hadits riwayat Imam Baihaqy tersebut. Walaupun hadits tersebut adalah hadits mauquf kepada Abi Qulabah namun beliau adalah seorang tabi`in. Para tabi`in merupakan generasi yang penuh barakah sebagaimana Rasulullah sebutkan sendiri dalam sebuah hadits. Mereka tidak akan meriwayatkan sebuah hadits kecuali pernah mendengarnya dari orang-orang yang terpercaya yang mengambilnya dari Rasulullah.

Imam Ibnu Hajara al-Haitamy pernah ditanyakan tentang seorang faqih yang memfatwakan dan melarang manusia untuk berpuasa Rajab dan mengatakan bahwa semua hadits tentang puasa Rajab adalah hadits maudhu`. Imam Ibnu Hajar menjawabnya dengan uraian yang panjang yang ditulis dalam kitab Fatawa Kubra Fiqhiyyah jilid 3 hal 53 Cet. Dar Fikr.

kesimpulan dari jawaban Ibnu Hajar adalah:
  1. Perbuatan faqih tersebut melarang manusia untuk berpuasa Rajab merupakan kebodohannya dan berbicara dengan sembarangan dalam syariat serta wajib terhadap penguasa untuk mencegahnya dan bahkan menghukumnya (ta`zir) sehingga ia meninggalkan perbuatannya melarang manusia untuk berpuasa di bulan Rajab.
  2. Berdasarkan dari hadits-hadits Rasulullah, puasa Rajab juga disunatkan karena bulan Rajab termasuk dalam bulan yang diperintahkan untuk berpuasa secara umum dan juga termasuk dalam bulan haram yang diperintah untuk berpuasa sebagaimana disebutkan dalam hadist.
  3. banyak juga hadits yang menerangkan kelebihan puasa Rajab secara khusus seeprti yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqy (dalam kitab Fadhail Auqat dan Syu`ab al-Iman) walaupun hadits tersebut dhaif namun para ulama ijmak bahwasanya hadits dhaif boleh diamalkan pada fadhail a`mal dan puasa Rajab termasuk dalam fadhail a`mal.
  4. Imam Ibnu Hajar al-Haitamy mengakui benar bahwa banyak juga hadits maudhu` yang diriwayatkan tentang kelebihan puasa Rajab, namun para ulama dalam mengatakan sunat berpuasa Rajab bukan beradasarkan hadits tersebut namun berdasarkan hadist sunat berpuasa dalam setiap bulan dan dalam bulan haram dan hadits-hadits dhaif yang masih bisa diamalkan.
  5. Tidak ada orang yang mengingkari kebolehan beramal dengan hadits dhaif pada fadhail a`mal kecuali orang yang jahil dan maghrur (tertipu).
Dalam fatwa tersebut Imam Ibnu Hajar juga mengutip fatwa Imam `Izzuddin bin Abdissalam yang ditanyakan tentang sebagian ahli hadits yang melarang munusia berpuasa pada bulan Rajab dan membesarkan bulan Rajab. Imam Izzuddin menjawab bahwa orang yang melarang puasa Rajab dalah orang yang jahil dengan hukum syara`.

Imam Mawardi dalam kitab beliau Hawy Kabir jilid 3 hal 474 Cet. Dar Kutub Ilmiyah thn 1999:

فصل : ومن ذلك شهر رجب فضل الصيام فيه ، روي عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه سئل : أي الصوم أفضل بعد شهر رمضان ؟ فقال : " شهر الله الأصم " وروي الأصب . قال أبو عبيد : يعني رجبا ؛ لأن الله تعالى يصب فيه الرحمة صبا ، وسمي أصم ؛ لأن الله تعالى حرم فيه القتال ، فلا يسمع فيه سفك دم ، ولا حركة سلاح وروى عكرمة عن ابن عباس أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : " صيام أول يوم من رجب كفارة ثلاث سنين ، وصيام اليوم الثاني كفارة سنتين ، وصيام اليوم الثالث كفارة سنة ثم كل يوم كفارة شهر " .

Fashl; sebagian dari demikian (kelebihan puasa dalam bulan selain Ramadhan) adalah bulan Rajab. Kelebihan puasa dalam bulan Rajab diriwayatkan dari Rasulullah bahwasanya beliau ditanyakan : “apa puasa yang lebih afdhal setelah Ramadhan ? beliau menjawab “bulan Allah Asham. Dalam riwayat yang lain al-Ashab. Abu `Ubaid berkata “maksudnya bulan Rajab”. Karena Allah ta`ala menuangkan rahmat pada bulan Rajab. Dan dinamakan dengan bulan Asham karena Allah ta`ala mengharamkan berperang pada bulan tersebut maka tidak terdengar adanya pertumpahan darah dan gerakan senjata pada bulan tersebut. Ikrimah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah berkata “puasa awal dari bulan Rajab menghapuskan dosa tiga tahun dan puasa hari kedua menghapuskan dosa dua tahun dan puasa hari ketiga menghapuskan dosa setahun dan puasa tiap hari menghapuskan dosa sebulan.

Khusus tentang kelebihan awal malam bulan Rajab Imam Syafii meriwayatkan :

وبلغنا أنه كان يقال إن الدعاء يستجاب في خمس ليال في ليلة الجمعة وليلة الأضحى وليلة الفطر وأول ليلة من رجب وليلة النصف من شعبان

Telah sampai riwayat kepada kami bahwa dikatakan do`a dikabulkan pada lima malam; pada malam jum`at, malam hari raya Adha, malam hari raya fihtri, awal malam bulan Rajab dan malam nisfu Sya`ban (Imam Syafii, al-Umm jilid 1 hal 254 Cet. Dar Fikr th 2009)

Dari uraian panjang diatas dapatlah kita simpulkan:
  1. Tidak ada satu dalilpun yang melarang untuk berpuasa sunat pada bulan Rajab.
  2.  Ada beberapa hadist yang menerangkan kelebihan puasa sunat di bulan Rajab, namun umumnya hadits hadif namun masih boleh diriwayatkan serta diamalkan pada fadhail a`mal (keutamaan beramal)
  3. Kesunnahan puasa dibulanRajab juga masuk dalam sunat berpuasa dalam setiap bulan dan juga sunat berpuasa pada bulan haram
  4. Orang yang melarang manusia untuk berpuasa di bulan Rajab adalah orang yang jahil dan tertipu dalam agama.
Wallhu A`lam bish shawab.
Samalanga, LPI MUDI MESRA
03 Rajab 1434 H/13 Mei 2013

Nash Ibarat kitab Fatawa Kubra Fiqhiyyah jilid 3 hal 53 Cet. Dar Fikr, karangan Imam Ibnu Hajar al-Haitamy

وسئل رضي الله عنه قال في طهارة القلوب لعلام الغيوب شهر رجب شهر الحرث فاتجروا رحمكم الله في رجب فإنه موسم التجارة واعمروا أوقاتكم فيه فهو أوان العمارة روي أنه من صام من رجب سبعة أيام أغلقت عنه أبواب جهنم ومن صام منه عشرة أيام لم يسأل الله شيئا إلا أعطاه وإن في الجنة قصرا الدنيا فيه كمفحص القطاة لا يدخله إلا صوام رجب وقال وهب بن منبه جميع أنهار الجنة تزور زمزم في رجب تعظيما لهذا الشهر قال وقرأت في بعض كتب الله تعالى من استغفر الله تعالى في رجب بالغداة والعشي يرفع يديه ويقول اللهم اغفر لي وارحمني وتب علي سبعين مرة لم تمس النار جلده أبدا ثم قال بعد ذلك بأوراق كثيرة وفي الحديث من فاته ورده فصلاه قبل الظهر فكأنما صلاه في وقته ا هـ وقد ورد علينا جوابكم الشريف في هذه المسألة وهو جواب شاف وقد حصل به النفع لي ولمن سمعه لكن الفقيه الذي ذكرت لكم في السؤال ينهى الناس عن صومه ويقول أحاديث صوم رجب موضوعة وقد قال النووي الحديث الموضوع لا يعمل به وقد اتفق الحفاظ على أنه موضوع اهـ فالمسؤول منكم زجر هذا الناهي حتى يترك النهي ويفتي بالحق واذكروا لنا ما يحضركم من كلام الأئمة أثابكم الله الجنة
فأجاب رضي الله عنه بأني قدمت لكم في ذلك ما فيه كفاية وأما استمرار هذا الفقيه على نهي الناس عن صوم رجب فهو جهل منه وجزاف على هذه الشريعة المطهرة فإن لم يرجع عن ذلك وإلا وجب على حكام الشريعة المطهرة زجره وتعزيره التعزير البليغ المانع له ولأمثاله من المجازفة في دين الله تعالى وكأن هذا الجاهل يغتر بما روي من أن جهنم تسعر من الحول إلى الحول لصوام رجب وما درى هذا الجاهل المغرور أن هذا حديث باطل كذب لا تحل روايته كما ذكره الشيخ أبو عمرو بن الصلاح وناهيك به حفظا للسنة وجلالة في العلوم ويوافقه إفتاء العز بن عبد السلام فإنه سئل عما نقل عن بعض المحدثين من منع صوم رجب وتعظيم حرمته وهل يصح نذر صوم جميعه فقال في جوابه نذر صومه صحيح لازم يتقرب إلى الله تعالى بمثله والذي نهى عن صومه جاهل بمأخذ أحكام الشرع وكيف يكون منهيا عنه مع أن العلماء الذين دونوا الشريعة لم يذكر أحد منهم اندراجه فيما يكره صومه بل يكون صومه قربة إلى الله تعالى لما جاء في الأحاديث الصحيحة من الترغيب في الصوم مثل قوله صلى الله عليه وسلم يقول الله كل عمل ابن آدم له إلا الصوم وقوله صلى الله عليه وسلم لخلوف فم الصائم أطيب عند الله من ريح المسك وقوله إن أفضل الصيام صيام أخي داود كان يصوم يوما ويفطر يوما وكان داود يصوم من غير تقييد بما عدا رجب من الشهور ومن عظم رجب بجهة غير ما كانت الجاهلية يعظمونه به فليس مقتديا بهم وليس كل ما فعلوه منهيا عن فعله إلا إذا نهت الشريعة عنه أو دلت القواعد على تركه ولا يترك الحق لكون أهل الباطل فعلوه والذي ينهى عن صومه جاهل معروف بالجهل ولا يحل لمسلم أن يقلده في دينه إذ لا يجوز التقليد إلا لمن اشتهر بالمعرفة بأحكام الله تعالى وبمآخذها والذي يضاف إليه ذلك بعيد عن معرفة دين الله تعالى فلا يقلد فيه ومن قلده غر بدينه ا هـ جوابه فتأمل كلام هذا الإمام تجده مطابقا لهذا الجاهل الذي ينهى أهل ناحيتكم عن صوم رجب ومنطبقا عليه على أن هذا أحقر من أن يذكر فلا يقصد بمثل كلام ابن عبد السلام لأنه إنما عنى بذلك بعض المنسوبين إلى العلم ممن زل قلمه وطغى فهمه فقصد هو وابن الصلاح الرد عليه وأشار إلى أنه يكفي في فضل صوم رجب ما ورد من الأحاديث الدالة على فضل مطلق الصوم وخصوصه في الأشهر الحرم أي كحديث أبي داود وابن ماجه وغيرهما عن الباهلي أتيت رسول الله صلى الله عليه وسلم فقلت يا رسول الله أنا الرجل الذي أتيتك عام الأول قال فما لي أرى جسمك ناحلا قال يا رسول الله ما أكلت طعاما بالنهار ما أكلته إلا بالليل قال من أمرك أن تعذب نفسك قلت يا رسول الله إني أقوى قال صم شهر الصبر وثلاثة أيام بعده وصم الأشهر الحرم وفي رواية صم شهر الصبر ويوما من كل شهر قال زدني فإن لي قوة قال صم يومين قال زدني فإن لي قوة قال صم ثلاثة أيام بعده وصم من الحرم واترك صم من الحرم واترك وقال بأصبعه الثلاث يضمها ثم يرسلها قال العلماء وإنما أمره بالترك لأنه كان يشق عليه إكثار الصوم كما ذكره في أول الحديث فأما من لا يشق عليه فصوم جميعها فضيلة فتأمل أمره صلى الله عليه وسلم بصوم الأشهر الحرم في الرواية الأولى وبالصوم منها في الرواية الثانية تجده نصا في الأمر بصوم رجب أو بالصوم منه لأنه من الأشهر الحرم بل هو من أفضلها فقول هذا الجاهل إن أحاديث صوم رجب موضوعة إن أراد به ما يشمل الأحاديث الدالة على صومه عموما وخصوصا فكذب منه وبهتان فليتب عن ذلك وإلا عزر عليه التعزير البليغ نعم روي في فضل صومه أحاديث كثيرة موضوعة وأئمتنا وغيرهم لم يعولوا في ندب صومه عليها حاشاهم من ذلك وإنما عولوا على ما قدمته وغيره ومنه ما رواه البيهقي في الشعب عن أنس يرفعه أن في الجنة نهرا يقال له رجب أشد بياضا من اللبن وأحلى من العسل من صام من رجب يوما سقاه الله من ذلك النهر وروي عن عبد الله بن سعيد عن أبيه يرفعه من صام يوما من رجب كان كصيام سنة ومن صام سبعة أيام غلقت عنه أبواب جهنم ومن صام ثمانية أيام فتحت له ثمانية أبواب الجنة ومن صام عشرة أيام لم يسأل الله شيئا إلا أعطاه إياه ومن صام خمسة عشر يوما نادى مناد من السماء قد غفر لك ما سلف فاستأنف العمل وقد بدلت سيئاتك حسنات ومن زاد زاده الله ثم نقل عن شيخه الحاكم أن الحديث الأول موقوف على أبي قلابة وهو من التابعين فمثله لا يقوله إلا عن بلاغ عمن قوله مما يأتيه الوحي ثم روي عن أبي هريرة أن النبي صلى الله عليه وسلم لم يصم بعد رمضان إلا رجب وشعبان ثم قال إسناده ضعيف ا هـ وقد تقرر أن الحديث الضعيف والمرسل والمنقطع والمعضل والموقوف يعمل بها في فضائل الأعمال إجماعا ولا شك أن صوم رجب من فضائل
الأعمال فيكتفى فيه بالأحاديث الضعيفة ونحوها ولا ينكر ذلك إلا جاهل مغرور وروى الأزدي في الضعفاء من حديث السنن من صام ثلاثة أيام من شهر حرام الخميس والجمعة والسبت كتب الله له عبادة سبعمائة عام وللحليمي في صوم رجب كلام محتمل فلا تغتر به فإن الأصحاب على خلاف ما قد يوهمه كلامه والله سبحانه وتعالى أعلم بالصواب

Share artikel ini :
Dapatkan update topik terbaru via email dengan mendaftarkan alamat email anda di form di bawah ini:

Setelah memasukkan email dan klik subscribe, cek email lalu ikuti link verifikasi.

belum ada komentar untuk Jawaban Tentang Puasa Bulan Rajab