Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Kapan di baca doa berbuka puasa?

kapan di baca doa berbuka puasaAssalam alaikum.
Saya ingin bertanya, sebenarnya doa berbuka puasa kapan di baca apakah sebelum berbuka atau setelah berbuka sebagaimana lazimnya di kerjakan orang banyak. Saya menjadi ragu Karena ada yang mengatakan bahwa doa tersebut di bacaa sebelum berbuka!(pertanyaan via sms lbm)

Jawab:
Doa berbuka puasa di baca mengiringi setelah berbuka puasa. Hal ini sesuai dengan bunyi doa berbuka yang memakai kalimat fiel madhi (افطرت ) yang artinya saya telah berbuka.

Adapun ibarat dalam kitab para ulama menggunakan kalimat dharaf عند فطره namun maksud dari kalimat ini adalah عقب karena sesuai dengan makna doa berbuka.

Referensi :
Mughni Muhtaj jilid 1 hal 638, Beirut, Dar Ma’rifah

و ) يستحب ( أن يقول عند فطره ) أي عقبه كما يؤخذ من قوله ( اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت ) وذلك للاتباع رواه أبو داود مرسلا

Download Kitab Lathaif al-Ma’arif fima li Mawasim al-Ami min al-Wadhaif karangan Ibnu Rajab al-Hanbali. لطائف المعارف فيما لمواسم العام من الوظائف

لطائف المعارف فيما لمواسم العام من الوظائفBeberapa waktu yang lalu, kami menemukan beberapa tulisan yang menyerang kaum muslimin yang beribadah dan memperbanyak amalan pada malam nisfu Sya’ban. Mereka menyatakan bahwa hadits-hadits keutamaan beramal pada malam nisfu Sya’ban adalah hadits dhaif dan maudhu’. Sebagian kalangan mereka mengatakan diantara ulama yang memperingati hal ini adalah Ibnu Rajab al-Hanbali dalan kitab beliau Lathaif al-Ma’arif fima li Mawasim al-Ami min al-Wadhaif.
Namun mereka bersikap curang dalam mengutip satu sumber. Padahal bila kita membuka kitab Ibnu Rajab tersebut, beliau sangat menganjurkan untuk beribadat dan bertaubat pada malam tersebut, hanya saja beliau lebih menguatkan pendapat yang mengatakan bahwa cara menghidupkan malam nisfu Sya’ban adalah dengan sendiri-sendiri bukan dengan berjamaah. Hal ini memang merupakan khilafiyah antara tabi’in negri Syam dan Hijaz. Karena hal ini, maka kami merasa perlu mengupload kitab tersebut, sebagai bahan tambahan untuk membuktikan kebatilan dan kecurangan mereka yang dengan cepat memvonis bid’ah dan sesat amalan kaum muslim yang lain.

untuk fotmat PDF silahkan Download disini

sedangkan untuk format box yang merupakan format kitab dalam Maktabah Syamilah, silahkan download Disini

Kemulian Bulan Sya`ban dan Keutamaan Nisfu Sya`ban Serta Amalan-Amalannya

Kemulian Bulan Sya`ban dan Keutamaan Nisfu Sya`ban Serta Amalan-AmalannyaTidak terasa perputaran waktu dalam tahun hijriah telah memasuki bulan ke delapan. Salah satu bulan yang diagungkan dan mempunyai kelebihan tersendiri dalam kalender Islam, yaitu bulan Sya’ban. Nabi Muhammad SAW bersabda :(1)
شعبان شهرى ورمضان شهر الله وشعبان المطهر ورمضان المكفر .الديلمى عن عائشة)
“Sya’ban adalah bulanku, Ramadhan adalah bulan Allah. Sya’ban adalah bulan yang menyucikan dan Ramadhan adalah bulan penghapusan dosa” (HR. Imam al-Dailami)

Dinamakan dengan Sya’ban dikarenakan dalam bulan itu terpancar bercabang-cabang kebaikan yang banyak bagi bulan Ramadhan. Rasulullah SAW bersabda : (2)

عن أنس قال :قال رسول الله صلى الله عليه وسلم تدرون لم سمي شعبان شعبان لأنه يتشعب فيه لرمضان خير كثير
“Tahukah kalian mengapa bulan Sya’ban dinamakan dengan Sya’ban? Karena dalam bulan Sya’ban bercabang-cabang kebaikan yang banyak bagi bulan Ramadhan”.

Dalam pendapat lain, Ibnu Manzhur mengutip perkataan Tsa’lab yang mengatakan bahwa sebagian ulama berpendapat bulan tersebut dinamakan dengan Sya’ban karena ia sya’ab, artinya zhahir (menonjol) di antara dua bulan, yaitu bulan Rajab dan bulan Ramadhan. (3)

Telah menjadi suatu tradisi ketika memasuki bulan Sya’ban, masyarakat muslim di Indonesia mempersiapkan diri dalam upaya peningkatan amal ibadahnya, seolah-olah bulan Sya’ban menjadi fase pemanasan beribadah untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan. Mulai dari rutinitas puasa sunat semenjak awal Sya’ban hingga pelaksanaan shalat tasbih dan yasinan pada malam pertengahan bulan (nishfu Sya’ban). 

Karena itu, pemahaman kembali pada tradisi yang tidak terlepas dari anjuran agama ini merupakan suatu keniscayaan. Dan, tentu saja menyikapinya pun harus secara arif dan bijaksana.

Dalam tulisan ini, ada beberapa hal yang perlu kita ketahui menyangkut dengan bulan Sya’ban dan rutinitas ibadah yang terdapat di dalamnya. Secara singkat, kami mencoba untuk menguraikannya sebagai berikut :

A. BULAN SYA`BAN DAN KELEBIHANNYA

Bulan Sya’ban mengandung nilai keagungan yang tinggi dalam sistem penanggalan tahun Islam, baik dalam perputaran sejarah maupun esensi nilai ibadah yang terkandung di dalamnya. Indikasinya bisa kita telisik sedikit dari beberapa hal berikut ini : 

1. Dalam bulan Sya’ban (bertepatan hari Selasa pada 15 Sya’ban) Allah SWT memerintahkan perubahan kiblat dari Bait al-Muqaddis ke Ka’bah Baitullah.(4)

2. Dalam bulan Sya’ban Allah SWT menurunkan ayat perintah bershalawat kepada Rasulullah SAW , yaitu :(5)

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَاالَّذِينَ آمَنُواصَلُّواعَلَيْهِ وَسَلِّمُواتَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah SWT dan malaikat-malaikat Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. (QS. al-Ahzab : 56)

3. Bulan Sya’ban adalah bulan dimana Nabi SAW paling banyak melakukan puasa. ‘Aisyah meriwayatkan : (6)

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصوم حتى نقول لا يفطر ويفطر حتى نقول لا يصوم وما رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم استكمل صيام شهر قط إلا رمضان وما رأيته في شهر أكثر منه صياما في شعبان


“Adalah Rasulullah SAW berpuasa sehingga kami mengatakan bahwa beliau tidak berbuka dan beliau berbuka sehingga kami mengatakan bahwa beliau tidak berpuasa. Dan tidak pernah sama sekali saya melihat Rasulullah SAW menyempurnakan puasa sebulan kecuali Ramadhan dan tidak pernah saya melihat beliau lebih banyak berpuasa dalam sebulan yang lebih banyak daripada bulan Sya`ban”. (HR. Imam Muslim)

4. Bulan Sya’ban juga merupakan bulan diangkatnya amal manusia kepada Allah SWT. Nabi SAW bersabda : (7)

عن أسامة بن زيد قال : قلت يا رسول الله إني أراك تصوم في شهر ما لا أراك تصوم في شهر، ما تصوم فيه؟ قال: أي شهر؟ قلت : شعبان قال: شعبان بين رجب وشهر رمضان يغفل الناس عنه، ترفع فيه أعمال العباد، فأحب أن لا يرفع عملي إلا وأنا صائم، قلت : أراك تصوم يوم الاثنين والخميس ولا تدعهما قال: إن أعمال العباد ترفع فيهما فأحب أن لا يرفع عملي إلا وأنا صائم


“Dari Usamah bin Zaid, beliau berkata : Saya berkata : “Ya Rasulullah, saya melihat engkau berpuasa dalam sebulan yang tidak saya lihat engkau berpuasa seperti demikian dalam bulan yang lain”. Rasulullah SAW berkata : “Bulan mana?” Saya berkata : “Bulan Sya`ban”. Rasul SAW menjawab : “Bulan Sya`ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadhan yang banyak di manusia lalai darinya. Dalam bulan Sya`ban di angkat amalan manusia, maka aku cintai tidak di angkatkan amalanku kecuali sedangkan aku dalam keadaan berpuasa”. Saya berkata: “Saya melihat engkau berpusa hari Senin dan Kamis dan tidak engkau tinggalkan keduanya”. Rasul SAW menjawab : “Sesungguhnya amalan hamba di angkat dalam kedua hari tersebut, maka aku cintai tidak di angkatkan amalanku kecuali sedangkan aku dalam keadaan berpuasa”. (HR. Imam al-Baihaqi) 

Dalam hadits ini Rasulullah SAW menerangkan bahwa banyak manusia yang lengah di bulan Sya’ban karena sibuk dan merasa cukup dengan dua bulan mulia yang mengapit bulan Sya’ban, yaitu bulan Rajab dan bulan Ramadhan. Melakukan ibadat pada waktu orang lain lalai, memiliki kelebihan tersendiri sebagaimana di terangkan oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami. (8)

B. KEUTAMAAN NISHFU SYA’BAN DAN AMALAN DI DALAMNYA

Salah satu keistimewaan bulan Sya’ban adalah adanya malam nishfu Sya’ban yang merupakan malam termulia setelah malam Lailatul-Qadar. Sebagian ulama mengatakan bahwa kemulian bulan Rajab terletak pada 10 awalnya, bulan Sya’ban terletak pada 10 yang kedua dan bulan Ramadhan terletak pada 10 yang terakhir.( 9)

Kelompok yang pertama sekali membesarkan malam nishfu Sya’ban dengan rutinitas ibadah yang lebih banyak dibandingkan dengan malam-malam sebelumnya adalah para tabi’in dari negeri Syam seperti Imam Khalid bin Ma`dan, Imam Makhul, Imam Luqman bin ‘Amir dan lainnya. Sebagian dari mereka menghidupkan malam nishfu Sya’ban dengan berjamaah di mesjid dengan memakai pakaian yang bagus. Ketika hal ini menyebar, para ulama berbeda pendapat dalam menanggapinya. Sebagian ulama menerimanya seperti ulama negeri Bashrah dan lainnya, sedangkan sebagian ulama Mekkah seperti Imam ‘Atha` dan Imam Ibnu Abi Malikah serta fuqaha Madinah mengingkarinya. Imam Ishaq Rahawaih berpendapat bahwa hal tersebut bukanlah bid’ah sedangkan Imam Auza’i menganggap makruh menghidupkannya secara berjamaah tetapi tidak makruh secara sendiri.(10)

Malam nishfu sya’ban dapat dikategorikan sebagai salah satu malam yang baik untuk beribadat dan berdoa dikarenakan keumuman dalil dimana setiap malam ada satu saat yang mustajabah doa. Rasulullah SAW bersabda : (11)

عَنْ جَابِرٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ فِي اللَّيْلِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ

Dari Jabir, beliau berkata : “Saya mendengar Rasulullah SAW berkata bahwa dalam setiap malam terdapat satu waktu yang tidak ada hamba muslim berbetulan dengan nya dimana ia meminta kebaikan kepada Allah SWT melainkan Allah SWT mengabulkan permintaannya, dan hal tersebut pada setiap malam”. (HR. Imam Muslim)

Selain itu, banyak juga dalil-dalil khusus yang menunjuki kelebihan malam nishfu Sya’ban walaupun sebagian hadits tersebut dha’if, namun sebagiannya juga dianggap shahih oleh Imam Ibnu Hibban (12) dan sebagian lainnya dikuatkan dengan adanya periwayatan pada thariq-thariq yang lain yang berfungsi sebagai muttabi’ dan syawahid sehingga beberapa hadits tersebut naik derajatnya menjadi hasan. Lagipula, hadits dha’if boleh diamalkan untuk fadhail-a’mal dengan catatan tidak terlalu dha’if. Bahkan Imam al-Ramli mengatakan bahwa Imam al-Nawawi dalam beberapa karangan beliau menceritakan tentang adanya ijma’ ulama tentang kebolehan beramal dengan hadits dha’if pada permasalahan fadhail-a’mal (keutamaan beramal).(13) Selanjutnya, Imam Husain Muhammad ‘Ali Makhlul al-‘Adawy mengatakan bahwa hadits-hadits tentang kelebihan malam nishfu Sya’ban serta kelebihan menghidupkan malam tersebut merupakan hadits yang boleh di amalkan pada fadhail-a’mal. (14)

Diantara dalil-dalil khusus tersebut antara lain : 
1. Hadits riwayat Imam al-Thabrani dan Imam Ibnu Hibban :(15)

يطلع الله إلى جميع خلقه ليلة النصف من شعبان ويغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن (رواه الطبراني وابن حبان في صحيحه

“Allah SWT memandang sekalian makhluk-Nya pada malam nishfu Sya’ban dan Allah SWT mengampuni sekalian makhluknya kecuali yang musyrik dan yang memiliki dendam”. 

2. Hadits riwayat Imam Ibnu Majah :(16)

عن علي عن النبي صلى الله عليه وسلم إذا كان ليلة نصف شعبان فقوموا ليلها وصوموا نهارها فإن الله تعالى ينزل فيها لغروب الشمس إلى السماء الدنيا فيقول: ألا مستغفر فأغفر له ألا مسترزق فأرزقه ألا مبتلي فأعافيه ألا كذا ألا كذا حتى يطلع الفجر

“Apabila tiba malam nishfu Sya’ban maka shalatlah pada malam harinya dan berpuasalah pada siang harinya, karena (rahmat) Allah SWT akan turun ke langit dunia pada saat tersebut sejak terbenam matahari dan Allah SWT berfirman : “Adakah ada orang yang meminta ampun, maka akan Aku ampunkan, adakah yang meminta rezeki, maka akan Ku berikan rezeki untuknya, adakah orang yang terkena musibah maka akan Aku lindungi, adakah sedemikian, adakah sedemikian, hingga terbit fajar”. 

3. Hadits riwayat ‘Aisyah:(17)

عن عائشة رضي الله عنها قالت فقدت النبي صلى الله عليه وسلم فخرجت فإذا هو بالبقيع رافعا رأسه إلى السماء فقال: أكنت تخافين أن يحيف الله عليك ورسوله فقلت يا رسول الله ظننت أنك أتيت بعض نسائك فقال: إن الله تبارك وتعالى ينزل ليلة النصف من شعبان إلى السماء الدنيا فيغفر لأكثر من عدد شعر غنم كلب

“Berkatalah ‘Aisyah :”Saya kehilangan Rasulullah SAW, tiba-tiba beliau berada di Baqi’ sambil mengangkat kepala ke langit”. Beliau berkata: “Apakah engkau takut engkau dizalimi oleh Allah dan Rasul-Nya?” Saya menjawab: “Ya Rasulullah, saya menyangka engkau mendatangi sebagian istri engkau”. Beliau berkata : “Sesungguhnya Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi turun pada malam nishfu Sya’ban ke langit dunia, maka Allah SWT mengampunkannya lebih banyak dari bulu domba Bani Kalab”. (HR. Imam Ahmad)

4. Hadits riwayat Imam al-Baihaqi :(18)

هل تدرين ما في هذه الليلة؟ قالت: ما فيها يا رسول الله؟ فقال: فيها أن يكتب كل مولود من بني آدم في هذه السنة، وفيها أن يكتب كل هالك من بني آدم في هذه السنة، وفيها ترفع أعمالهم، وفيها تنزل أرزاقهم

“Rasululah berkata :”Adakah kamu ketahui kejadian pada malam ini?” ‘Aisyah menjawab :”Apa yang terjadi pada malam ini, ya Rasulullah?” Beliau menjawab :”Pada malam ini dituliskan semua anak yang akan lahir pada tahun ini dari keturunan Adam, pada malam ini dituliskan semua orang yang akan mati pada tahun ini, pada malam ini diangkat amalan manusia dan pada malam ini diturunkan rezeki mereka…”. 

Selanjutnya, para ulama juga berkomentar tentang kelebihan malam nishfu Sya’ban, diantaranya adalah :

1. Riwayat yang menceritakan bahwa ‘Umar bin Abdul Aziz mengirim surat kepada pegawai beliau di Bashrah:(19)

عليك بأربع ليال من السنة فإن الله يفرغ فيهن الرحمة إفراغا أول ليلة من رجب وليلة النصف من شعبان وليلة الفطر وليلة الأضحى

“Lazimkanlah empat malam dalam setahun karena sesungguhnya Allah memenuhi padanya dengan rahmat Nya, yaitu awal malam dari Rajab, malam nishfu Sya’ban, malam ‘idul-fithri, malam ‘idul-adha”. 

2. Imam al-Syafi’i mengatakan:(20)

بلغنا أنه كان يقال إن الدعاء يستجاب في خمس ليال في ليلة الجمعة وليلة الأضحى وليلة الفطر وأول ليلة من رجب وليلة النصف من شعبان

“Telah sampai riwayat kepada kami bahwa dikatakan do`a dikabulkan pada lima malam, yaitu pada malam Jum`at, malam hari raya adha, malam hari raya fithri, awal malam bulan Rajab dan malam nishfu Sya`ban”.

3. Imam al-Taqi al-Subki mengatakan:(21)

أن احياء ليلة النصف من شعبان يكفر ذنوب السنة وليلة جمعة تكفر ذنوب الأسبوع وليلة القدر تكفر ذنوب العمر

“Menghidupkan malam nishfu Sya’ban diampunkan dosa setahun, menghidupkan malam Jum’at diampunkan dosa seminggu dan menghidupkan malam Qadar di ampunkan dosa seumur hidup”.

Dan masih banyak lagi keterangan para ulama tentang kelebihan malam nishfu Sya’ban, bahkan Ibnu Taimiyah sekalipun mengakui kelebihan beramal dan berkumpul untuk beribadat pada malam nishfu Sya’ban walaupun terdapat beberapa hadits maudhu’ tentang hal tersebut. (22)

Nama-Nama Malam Nisf Sya'ban

Dalam menunjuki kemuliaan malam nishfu Sya’ban, para ulama menyebutkan beberapa nama bagi malam tersebut sebagaimana perkataan sebagian ulama:

كثرة الاسماء تدل على شرف المسمى

“Banyak nama menunjuki kemulian zatnya”.

Imam Ahmad bin Isma’il bin Yusuf al-Thaliqani menyebutkan nama-nama malam nishfu Sya’ban hingga mencapai 22 nama, di antaranya : (23)
  1. Lailatul-Barakah artinya malam keberkahan (bertambah).
  2. Lailatul-Qasamah Wa Takdir, karena Allah SWT menunaikan satu urusan yang besar pada malam tersebut.
  3. Lailatul-Takfir (malam penghapusan) karena malam tersebut menghapus dosa.
  4. Lailatul-Ijabah (malam pengabulan doa) karena riwayat dari Ibnu ‘Umar bahwa malam tersebut do’a hamba tidak ditolak oleh Allah SWT.
  5. Lailatul-Hayyat (malam kehidupan) karena hadits riwayat Ishaq bahwa malaikat maut pada malam tersebut tidak mencabut nyawa seseorang antara Maghrib dan ‘Isya karena ia menerima buku amalan dari Allah SWT. Pendapat yang lain mengatakan karena Allah SWT tidak akan mematikan hati orang-orang yang menghidupkan malam tersebut.
  6. Lailatul-‘Idil-Malaikat (malam hari raya malaikat) karena malaikat juga memiliki dua malam hari raya seperti umat Islam memiliki dua hari raya ;‘idul-fithri dan ‘idhul-adha. Kedua hari raya malaikat tersebut adalah malam nishfu Sya’ban dan malam Qadar sebagaimana telah disebutkan oleh Imam ‘Abdullah Thahir bin Muhammad bin Ahmad Al-Haddad dalam kitabnya, ‘Uyun al-Majalis.
  7. Lailatul-Syafa’ah (malam syafaat) karena diriwayatkan dari ‘Aisyah bahwa ketika Rasul SAW shalat pada malam tersebut, turunlah malaikat Jibril dan berkata pada Rasulullah SAW: “Allah SWT telah membebaskan setengah dari ummat engkau dari api neraka”.
  8. Lailatul-Bara-ah (malam kelepasan) karena pada malam tersebut Allah SWT menuliskan kelepasan orang mukmin dari api neraka.
  9. Lailatul-Jaizah (malam ganjaran) karena Allah SWT memerintahkan kepada surga untuk berhias bagi orang beriman sebagai balasan amal mereka.
  10. Lailatul-Nasakh (malan penulisan) karena ada riwayat dari ‘Atha’ bin Yasar yang mengatakan bahwa pada malam nishfu Sya’ban, malaikat maut menuliskan orang yang meninggal dari Sya’ban ini hingga Sya’ban tahun depan.
  11. Lailatul-al-‘Itqi Min al-Nar (malam kemerdekaan dari api neraka) karena pada malam tersebut Allah SWT memerdekakan banyak hamba-Nya dari api neraka.
  12. Lailatul-Rujhan (malam keunggulan).
  13. Lailatu- Ta’zhim (malam keagungan).
  14. Lailatul-Qadar (malam ketentuan).
  15. Lailatul-Ghufran (malam pengampunan).
  16. Lailatul-Rahmat (malam rahmat).
  17. Lailatul-Shak (malam buku catatan).
  18. Dan lain-lain,

Kemudian, dalam hal serangkaian ibadah yang dikerjakan pada malam nishfu Sya’ban, Imam Ibnu Rajab al-Hanbali meriwayatkan : (24)

كان المسلمون إذا دخل شعبان انكبوا على المصاحف فقرؤها وأخرجوا زكاة أموالهم تقوية للضعيف والمسكين على صيام رمضان

“Adalah umat muslim bila memasuki bulan Sya’ban mereka menekuni mushaf (al-Qur`an), mereka membacanya, mengeluarkan zakat harta mereka untuk menguatkan orang-orang yang lemah dan miskin untuk berpuasa dalam bulan Ramadhan”.

قال سلمة بن كهيل: كان يقال شهر شعبان شهر القراء وكان حبيب بن أبي ثابت إذا دخل شعبان قال: هذا شهر القراء

 (25)
“Salmah bin Kuhail berkata :“Bulan Sya’ban disebutkan sebagai bulan qura` (pembaca al-Qur`an) dan adalah Habib bin Abi Tsabit bila masuk bulan Sya’ban beliau berkata :”Ini adalah bulan para pembaca al-Qur`an”. 

كان عمرو بن قيس الملائي إذا دخل شعبان أغلق حانوته وتفرغ لقراءة القرآن
 (26)
“Adalah Amr bin Qais al-Mula-i ketika masuk bulan Sya’ban, ia mengunci pintu tokonya dan mencurahkan waktunya untuk membaca al-Qur`an”.

Imam al-Ramli pernah ditanyakan tentang puasa nishfu Sya`ban dan haditsnya :(27)

 سئل ) عن صوم منتصف شعبان كما رواه ابن ماجه عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال { إذا كانت ليلة النصف من شعبان فقوموا ليلها وصوموا نهارها } هل هو مستحب أو لا وهل الحديث صحيح أو لا وإن كان ضعيفا فمن ضعفه ؟( فأجاب ) بأنه يسن صوم نصف شعبان بل يسن صوم ثالث عشره ورابع عشره وخامس عشره والحديث المذكور يحتج به

“Ditanyakan tentang puasa nishfu Sya`ban sebagaimana diriwayatkan dalam hadits riwayat Ibnu Majah dari Nabi SAW beliau berkata :”Apabila datang malam nishfu Sya`ban maka berdirilah pada malamnya dan berpuasalah pada harinya”. Apakah puasa tersebut sunat atau tidak? Dan apakah hadits tersebut shahih atau tidak? Dan jika dhaif, maka siapa yang mendhaifkannya?” Maka beliau menjawab :”Disunatkan puasa pada nishfu Sya`ban bahkan disunatkan berpuasa hari ke 13, 14, dan 15. Sedangkan hadits tersebut bisa dijadikan hujjah”. 

Imam al-Fasyani berkesimpulan :(28)

والحاصل أن إحياء ليلة النصف مستحب لما ورد فيه من الأحاديث ويكون ذلك بالصلاة بغير تعيين عدد مخصوص وبقراءة القرآن فرادى وبذكر الله تعالى والدعاء والتسبيح والصلاة على النبي صلّى الله عليه وسلّم جماعة وفرادى وبقراءة الأحاديث وسماعه وعقد الدروس والمجالس للتفسير وشرح الأحاديث والكلام على فضائل هذه الليلة وحضور تلك المجالس وسماعها وغير ذلك من العبادات

“Dan kesimpulannya bahwa menghidupkan malam nishfu Sya’ban disunatkan karena adanya beberapa hadits. Menghidupkan malam nishfu Sya’ban dapat dilakukan dengan shalat dengan tiada penentuan bilangan rakaat secara khusus, membaca al-Qur`an secara sendiri, berzikir, berdoa, bertasbih, bershalawat kepada Nabi secara sendiri dan berjamaah, pembacaan hadits, mendengarkannya, mengadakan pengajaran dan majelis bagi tafsir dan penjelasan hadits dan membicarakan kelebihan malam ini, menghadiri dan mendengarkan majlis tersebut dan amalan ibadah yang lain”.

Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa malam nishfu Sya’ban juga merupakan malam penuh rahmat, maka sudah sepatutnya kita bertaubat dan menjauhi kemaksiatan dalam malam tersebut, terlebih lagi ada beberapa riwayat yang menyebutkan pengecualian terhadap beberapa pelaku kemaksiatan yang bertobat sehingga mendapatkan keampunan pada malam tersebut. (29)

Beberapa amalan-amalan shalih yang dapat dilakukan pada malam nishfu Sya’ban sebagaimana di terangkan oleh para ulama-ulama, antara lain :

1. Shalat sunat tasbih
Para ulama menyebutkan bahwa yang lebih utama pada malam nishfu Sya’ban adalah melaksanakan shalat tasbih yang diajarkan Nabi SAW kepada paman beliau Sayyidina ‘Abbas ra. (30)

2. Shalat sunat awwabin
Imam al-Zabidy mengatakan bahwa para ulama khalaf mewarisi rutinitas ibadah pada malam nishfu Sya’ban dari para ulama sebelumnya dengan melaksanakan shalat enam rakaat setelah shalat Maghrib, setiap dua rakaat satu kali salam. Pada tiap rakaat dibaca surat al-Fatihah dan al-Ikhlash sebanyak enam kali. Tiap selesai dari dua rakaat dilanjutkan dengan membaca surat Yasin, kemudian membaca doa nishfu Sya’ban yang masyhur. Pada pembacaan surat Yasin kali pertama, diniatkan supaya Allah SWT memberikan keberkahan umur. Pada kali kedua, meminta keberkahan rezeki, dan pada kali ketiga berdoa agar diberikan husnul-khatimah. (31)

Amalan ini masyhur disebutkan dalam kitab-kitab ulama sufi muta-akhirin, walaupun beliau belum menemukan dalil yang shahih dari hadits untuk amalan tersebut. Namun, amalan tersebut merupakan amalan yang diamalkan oleh para guru-guru Imam al-Zabidi pada masa itu. (32)

Imam Muhammad Zaki Ibrahim memberikan keterangan tentang shalat tersebut :(33)

أمَّا ما تعوده النَّاس من صلاة ست ركعات أحياناً بين المغرب والعشاء ، فقد وردت عدة أحاديث ثابتة في سنية هذه الركعات الست ، فإذا توسل العبد إلى الله بهن في رجاء جلب المنافع ودفع المضار ، فهو متوسل إليه تعالى بعمل صالح لا اعتراض عليه ، كما أنها تكون في الوقت نفسه نوعاً من صلاة الحاجة المتفق على صحتها بين جميع أهل القبلة ، وهي في الأصل تسمى صلاة الأوَّابين

“Adapun perbuatan yang biasa di lakukan manusia berupa shalat enam rakaat pada beberapa waktu di antara Maghrib dan ‘Isya, maka sungguh terdapat beberapa hadits tentang kesunnahan shalat enam rakaat ini. Maka apabila hamba bertawasul kepada Allah SWT dengan shalat tersebut untuk mengharapkan mendapat manfaat dan dijauhkan mudharat, maka tawasul ini adalah tawasul kepada Allah SWT dengan amalan shalih yang tidak ada pertentangan tentangnya. Sebagaimana halnya shalat tersebut merupakan bagian dari shalat hajat dalam waktu tersendiri yang disepakati keshahihannya oleh sekalian ulama. Pada dasarnya, shalat enam rakaat tersebut dinamakan shalat Awwabin”.

3. Membaca surat Yasin sebanyak 3x setelah shalat Maghrib dan berdoa setelahnya
Pada bacaan kali pertama diniatkan supaya Allah SWT memberikan panjang umur beserta diberikan taufik untuk taat. Pada bacaan kali kedua diniatkan supaya dijauhkan dari segala bala dan diberikan rezeki halal yang banyak. Dan pada bacaan kali ketiga diniatkan tidak tergantung hidupnya kepada orang lain dan diberikan husnul-khatimah. Setiap kali selesai membaca surat Yasin dilanjutkan dengan membaca doa nishfu Sya’ban yang masyhur seperti tertera berikut ini : (34)

بسم الله الرحمن الرحيم وصَلَّى الله عَلىَ سَيِّدِنَا محمدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
اَللَّهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ وَلَا يُمَنُّ عَلَيْهِ يَا ذَا اْلجَلَالِ وَاْلِإكْرَامِ يَا ذَا الطَّوْلِ وَلْإِنْعَامِ لَا إِلهِ إِلاَّ أَنْتَ ظَهَرَ اللاَّجِيْنَ، وَجَارَ الْمُسْتَجِيْرِيْنَ، وَأَمَانَ الْخَائِفِيْنَ. اَللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِيْ عِنْدَكَ فِي أُمِّ الْكِتَابِ شَقِيًّا أَوْ مَحرُوْمًا أَوْ مَطْرُوْدًا أَوْ مُقْتَرًّا عَلَيَّ فِي الرِّزْقِ فَامْحُ اللَّهُمَّ بِفَضْلِكَ شَقَاوَتِي وَحِرْمَانِيْ وَطَرْدِيْ وَإِقْتَارَ رِزْقِـيْ، وَأَثْبِتْنِيْ عِنْدَكَ فِي أُمِّ الْكِتَابِ سَعِيْدًا مَرْزُوْقًا مُوَفَّقًا لِلْخَيْرَاتِ، فَإِنَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحقُّ فِي كِتَابِكَ الْمُنَزَّلِ، عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكَ الْمُرْسَلِ، يَمْحُوْ اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ، إِلِهيْ بِالتَّجَلِّي اْلأَعْظَمِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ الْمُكَرَّمِ اَلَّتِي يُفرَقُ فِيْهَا كُلُّ أَمْرٍ حَكِيْمٍ وَيُبْرَمُ. أَسْأَلُكَ أَنْ تَكْشِفَ عَنَّا مِنَ الْبَلَاءِ مَا نَعْلمُ وَمَا لَا نَعْلَمُ، وَمَا أَنْتَ بِهِ أَعْلَمُ، إِنَكَ أَنْتَ الأَعَزُّ الْأَكْرَمُ، وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ  وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ (35)

Imam al-Dairabi dalam kitabnya, al-Mujarrabat, menyebutkan bahwa salah satu keistimewaan surat Yasin adalah barangsiapa membaca surat Yasin sebanyak 3x dengan niat sebagaimana tersebut sebelumnya, kemudian dilanjutkan dengan membaca doa nishfu Sya’ban seperti yang telah tertera tersebut, akan tetapi sebelum membaca doa tersebut, terlebih dahulu membaca doa berikut ini, dimana kumpulan kedua doa ini dibaca sebanyak 10x, maka tercapailah hajatnya :(36)

إِلَهِيْ جُوْدُكَ دَلَّنِيْ عَلَيْكَ، وَإِحْسَانُكَ قَرَّبَنِيْ إِلَيْكَ، أَشْكُوْ إِلَيْكَ مَا لَا يَخْفَى عَلَيْكَ، وَأَسْأَلُكَ مَا لَا يَعْسُرُ عَلَيْكَ، إِذْ عِلْمُكَ بِحَالِيْ يَكْفِيْ عَنْ سُؤَالِيْ، يَا مُفَرِّجَ كَرْبِ الْمَكْرُوْبِيْنَ فَرِّجْ عَنِّيْ مَا أَنَا فِيْهِ، لَا إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّيْ كُنْتُ مِنْ الظَّالِيْمِنِ، فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْناَهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِيْنَ
 (37)
Imam Sayyid Hasan bin Quthb ‘Abdullah bin Ba’alawi al-Haddad menambahkan doa berikut ini setelah pembacaan surat Yasin dengan niat seperti tersebut dan setelah doa nishfu Sya’ban yang masyhur yang telah disebutkan sebelumnya :(38)


اَللّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنْ أَعْظَمِ عِبَادِكَ حَظًّا وَنَصِيْبًا فِي كُلِّ شَيْءٍ قَسَمْتَهُ فِي هذِهِ اللَّيْلَةِ مِنْ نُوْرٍ تَهْدِي بِهِ، أَوْ رَحْمَةٍ تَنْشُرُهَا، أَوْ رِزْقٍ تَبْسُطُهُ، أَوْ فَضْلٍ تَقْسِمُهُ عَلَى عِبَادِكَ الْمُؤْمِنِيْنَ، يَا اللهُ، يَا اللهُ، لَا إِلهَ إِلَّا أَنْتَ. اَللّهُمَّ هَبْ لِي قَلْبًا تَقِيًّا نَقِــيًّا، مِنَ الشِّرْكِ بَرِيًّا، لَا كَافِرًا وَلَا شَقِيًّا، وَقَلْبًا سَلِيْمًا خَاشِعًا ضَارِعًا. اَللّهُمَّ امْلَأْ قَلْبِي بِنُوْرِكَ وَأَنْوَارِ مُشَاهَدَتِكَ، وَجَمَالِكَ وَكَمَالِكَ وَمَحَبَّتِكَ، وَعِصْمَتِكَ وَقُدْرَتِكَ وَعِلْمِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
(39)
Lebih panjangnya, doa tersebut dilanjutkan seperti berikut ini : (40)

إِلَهِي تَعَرَّضَ إِلَيْكَ فِي هذِهِ اللَّيْلَةِ الْمُتَعَرِّضُوْنَ، وَقَصَدَكَ وَأَمَلَ مَعْرُوْفَكَ وَفَضْلَكَ الطَّالِبُوْنَ، وَرَغَبَ إِلَى جُوْدِكَ وَكَرَمِكَ الرَّاغِبُوْن،َ وَلَكَ فِي هذِهِ اللَّيْلَةِ نُفَحَاتٌ، وعَطَايَا وَجَوَائِزُ وَمَوَاهِبُ وَهَبَّاتٌ، تَمُنُّ بِهَا عَلَى مَنْ تَشَاءُ مِنْ عِبَادِكَ وَتَخُصُّ بِهَا مَنْ أَحْبَبْتَهُ مِنْ خَلْقِكَ، وَتَمْــنَعُ وَتَحْرُمُ مَنْ لَمْ تَسْبِق لَهُ الْعِنَايَةُ مِنْكَ، فَأَسْأَلُكَ يَا اللهُ بِأَحَبِّ الأَسْمَاءِ إِلَيْكَ، وَأَكْرَمِ الأَنْبِيَاءِ عَلَيْكَ، أَنْ تَجْعَلَنِي مِمَّنْ سَبَقَتْ لَهُ مِنْكَ العِنَايَةُ، وَاجْعَلْنِي مِنْ أَوْفَرِ عِبَادِكَ وَاجْزُلْ خَلْقَكَ حَظًّا وَنَصِيْبًا وَقَسَمًا وَهِبَةً وَعَطِيَّةً فِي كُلِّ خَيْرٍ تَقْسِمُهُ فِي هذِهِ اللَّيْلَةِ أَوْ فِيْمَا بَعْدَهَا مِنْ نُوْرٍ تَهْدِي أَوْ رَحْمَةٍ تَنْشُرُهَا، أَوْ رِزْقٍ تَبْسُطُهُ أَوْ ضَرٍّ تَكْشِفُهُ أَوْ ذَنْبٍ تَغْفِرُهُ أَوْ شِدَّةٍ تَدْفَعُهَا أَوْ فِتْنَةٍ تَصْرِفُهَا أَوْ بَلَاءٍ تَرْفَعُهُ، أَوْ مُعَافَاةٍ تَمُنُّ بِهَا أَوْ عَدُوٍّ تَكْفِيْهِ فَاكْفِنِي كُلَّ شَرٍّ وَوَفِّقْنِي اَللّهُمَّ لِمَكَارِمِ الأَخْلَاقِ وَارْزُقْنِي العَافِيَةَ وَالبَرَكَةَ وَالسَّعَةَ فِي الأَرْزَاقِ وَسَلِّمْنِي مِنَ الرِّجْزِ وَالشِّرْكِ وَالنِّفَاقِ
اَللّهُمَّ إِنَّ لَكَ نَسَمَاتِ لَطَفٍ إِذَا هَبَّتْ عَلَى مَرِيْضِ غَفْلَةٍ شَفَتْهُ، وَإِنَّ لَكَ نُفَحَاتِ عَطَفٍ إِذَا تَوَجَّهَتْ إِلَى أَسِيْرِ هَوًى أَطْلَقَتْهُ، وَإِنَّ لَكَ عِنَايَاتِ إِذَا لَاحَظَتْ غَرِيْقًا فِي بَحْرِ ضَلَالَةٍ أَنْقَذَتْهُ، وَإِنَّ لَكَ سَعَادَاتِ إِذَا أَخَذَتْ بِيَدِ شَقِيٍّ أَسْعَدَتْهُ، وَإِنَّ لَكَ لَطَائِفَ كَرَمٍ إِذَا ضَاقَتِ الحِيْلَةُ لِمُذْنِبٍ وَسَعَتْهُ، وَإِنَّ لَكَ فَضَائِلَ وَنِعَمًا إِذَا تَحَوَّلَتْ إِلَى فَاسِدٍ أَصْلَحَتْهُ، وَإِنَّ لَكَ نَظَرَاتِ رَحْمَةٍ إِذَا نَظَرَتْ بِهَا إِلَى غَافِلٍ أَيْقَظَتْهُ، فَهَبْ لِيَ اللّهُمَّ مِنْ لُطْفِكَ الْخَفِيِّ نَسَمَةً تَشْفِي مَرْضَ غَفْلَتِي، وَانْفَحْنِي مِنْ عَطْفِكَ الوَفِي نَفْحَةً طَيِّبَةً تُطْلِقُ بِهَا أَسِرِي مِنْ وَثَاقِ شَهْوَتِيْ، وَالْحَظْنِي وَاحْفَظْنِي بِعَيْنِ عِنَايَتِكَ مُلَاحَظَةً تُنْقِذُنِي بِهَا وَتُنْجِيْنِي بِهَا مِنْ بَحْرِ الضَّلاَلَةِ, وَآتِنِي مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، تُبَدِّلُنِي بِهَا سَعَادَةً مِنْ شَقَاوَةٍ وَاسْمَعْ دُعَائِي، وَعَجِّلْ إِجَابَتِي، وَاقْضِ حَاجَتِي وَعَافِنِي، وَهَبْ لِي مِنْ كَرَمِكَ وَجُوْدِكَ الْوَاسِعِ مَا تَرْزُقُنِي بِهِ الْإِنَابَةَ إِلَيْكَ مَعَ صِدْقِ اللُّجَاءِ وَقَبُوْلِ الدُّعَاِء، وَأَهِّلْنِي لِقَرْعِ بَابِكَ لِلدُّعَاءِ يَا جَوَّادُ، حَتَّى يَتَّصِلَ قَلْبِي بِمَا عِنْدَكَ، وَتُبَلِّغَنِي بِهَا إِلَى قَصْدِكَ يَا خَيْرَ مَقْصُوْدٍ، وَأَكْرَمَ مَعْبُوْدٍ اِبْتِهَالِي وَتَضَرُّعِي فِي طَلَبِ مَعُوْنَتِكَ وَأَتَّخِذُكَ يَا إِلهِيْ مَفْزَعًا وَمَلْجَأً أَرْفَعُ إِلَيْكَ حَاجَتِي وَمَطَالِبِي وَشَكَوَايَ، وَأُبْدِي إِلَيْكَ ضَرِّي، وَأُفَوِّضُ إِلَيْكَ أَمْرِي وَمُنَاجَاتِي، وَأَعْتَمِدُ عَلَيْكَ فِي جَمِيْعِ أُمُوْرِي وَحَالَاتِي
اَللَّهُمَّ إِنِّي وَهذِهِ اللَّيْلَةَ خَلْقٌ مِنْ خَلْقِكَ فَلَا تَبْلُنِي فِيْهَا وَلَا بَعْدَهَا بِسُوْءٍ وَلَا مَكْرُوْهٍ، وَلَا تُقَدِّرْ عَلَيَّ فِيْهَا مَعْصِيَّةً وَلَا زِلَّةً، وَلَا تُثْبِتْ عَلَيَّ فِيْهَا ذَنْبًا، وَلَا تَبْلُنِي فِيْهَا إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ، وَلَا تُزَيِّنْ لِي جَرَاءَةً عَلَى مَحَارِمِكَ وَلَا رُكُوْنًا إِلَى مَعْصِيَتِكَ، وَلَا مَيْلاً إِلَى مُخَالَفَتِكَ، وَلَا تَرْكًا لِطَاعَتِكَ، وَلَا اسْتِخْفَافًا بِحَقِّكَ، وَلَا شَكًّا فِي رِزْقِكَ، فَأَسْأَلُكَ اَللّهُمَّ نَظْرَةً مِنْ نَظَرَاتِكَ وَرَحْمَةً مِنْ رَحْمَاتِكَ، وَعَطِيَّةً مِنْ عَطِيَّاتِكَ اللَّطِيْفَةِ، وَارْزُقْنِي مِنْ فَضْلِكَ، وَاكْفِنِي شَرَّ خَلْقِكَ، وَاحْفَظْ عَلَيَّ دِيْنَ الْإِسْلَامِ، وَانْظُرْ إِلَيْنَا بِعَيْنِكَ الَّتِي لَا تَنَامُ، وَآتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
 (3 x )
إِلهِيْ بِالتَّجَلِّي الأَعْظَمِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ الشَّهْرِ الأَكْرَمِ، الَّتِي يُفْرَقُ فِيْهَا كُلُّ أَمْرٍ   حَكِيْمٍ وَيُبْرَمُ، اِكْشِفْ عَنَّا مِنَ الْبَلَاءِ مَا نَعْلَمُ وَمَا لَا نَعْلَمُ، وَاغْفِرْ لَنَا مَا أَنْتَ بِهِ أَعْلَمُ 
 (3 x )
اَللّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُ مِنْ كُلِّ مَا تَعْلَمُ، إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوْبِ. اَللّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَاَ تَعْلَمُ وَمَا لَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا أَعْلَمُ وَمَا لَا أَعْلَمُ. اَللّهُمَّ إِنَّ الْعِلْمَ عِنْدَكَ وَهُوَ عَنَّا مَحْجُوْبٌ، وَلَا نَعْلَمُ أَمْرًا نَخْتَارُهُ لِأَنْفُسِنَا، وَقَدْ فَوَّضْنَا إِلَيْكَ أُمُوْرَنَا، وَرَفَعْنَا إِلَيْكَ حَاجاَتِنَا وَرَجَوْنَاكَ لِفَاقَاتِنَا وَفَقْرِنَا، فَاَرْشِدْنَا يَا اللهُ، وَثَبِّتْنَا وَوَفِّقْنَا إِلَى أَحَبِّ الْأُمُوْرِ إِلَيْكَ وَأَحْمَدِهَا لَدَيْكَ، فَإِنَّكَ تَحْكُمُ بِمَا تَشَاءُ وَتَفْعَلُ مَا تُرِيْدُ، وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظَيْمِ 
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ  وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
(41)
4. Berdoa
Imam al-Wana’i menyebutkan bahwa salah satu doa yang baik untuk dibaca pada malam nishfu Sya’ban adalah doa yang disunatkan dibaca pada malam lailatul-qadar, karena malam nishfu Sya’ban merupakan malam yang utama setelah lailatul-qadar. (42) Doa tersebut adalah:

اَللّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيْمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي، اَللّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ العَفْوَ وَالْعَافِيَةَ وَالْمُعَافَاةَ الدَّائِمَةَ فِي الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَالآخِرَةِ
 (43)
Doa lain yang juga bagus untuk dibaca pada malam nishfu Sya’ban adalah doa Nabi Adam ketika beliau thawaf di Ka’bah setelah diturunkan ke bumi :(44)

اَللّهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ سِرِّي وَعَلاَنِيَتِي فَاقْبَلْ مَعْذِرَتِي، وَتَعْلَمُ حَاجَتِي فَاَعْطِنِي سُؤْلِي وَتَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي ذَنْبِي. اَللّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ إِيْمَانًا يُبَاشِرُ قَلْبِي، وَيَقِيْنًا صَادِقًا حَتَّى أَعْلَمَ أَنَّهُ لَا يَصِيْبُنِي إِلَّا مَا كَتَبْتَ لِي، وَرَضِّنِي بِقَضَائِكَ
 (45)
Setelah Nabi Adam membaca doa ini, Allah SWT mengampunkan kesalahan Nabi Adam dan Allah SWT berfirman bahwa siapa saja keturunan Nabi Adam yang membaca doa ini, maka ia akan diampunkan dosanya dan dihilangkan kesusahannya. (46)

Dalam kitab Safinat al-’Ulum, terdapat doa nishfu Sya’ban yang dibaca oleh Imam ‘Abdul Qadir al-Jailani , yaitu:(47)

اَللّهُمَّ إِذْ أَطْلَعْتَ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شِعْبَانَ عَلَى خَلْقِكَ، فَعِدَّ عَلَيْنَا بِمَنِّكَ وَعِتْقِكَ، وَقَدِّرْ لَنَا مِنْ فَضْلِكَ وَاسِعَ رِزْقِكَ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَقُوْمُ لَكَ فِيْهَا بِبَعْضِ حَقِّكَ. اَللّهُمَّ مَنْ قَضَيْتَ فِيْهَا بِوَفَاتِهِ فَاقْضِ مَعَ ذلِكَ لَهُ رَحْمَتَكَ، وَمَنْ قَدَّرْتَ طَوْلَ حَيَاتِهِ فَاجْعَلْ لَهُ مَعَ ذلِكَ نِعْمَتَكَ، وَبَلِّغْنَا مَا لَا تَبْلُغُ الآمَالُ إِلَيْهِ، يَا خَيْرَ مَنْ وَقَفَتِ الْأَقْدَامُ بَيْنَ يَدَيْهِ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيْدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ خَلْقِهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
 (48)
5. Membaca kalimat tahlil, yaitu :(49)
لَا إِلهَ إَلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ

Sebagian ulama menyebutkan, barangsiapa membaca zikir tersebut sebanyak kandungan hurufnya yaitu 2375, niscaya ia akan aman dari marabahaya pada tahun tersebut. (50)

6. Membaca surat al-Dukhan
Imam al-Saraji menyebutkan bahwa barangsiapa membaca awal surat al-Dukhan hingga ayat ke-8 dari awal bulan Sya’ban hingga 15 Sya’ban sebanyak 30x, kemudian ia berzikir dan bershalawat kepada Nabi SAW dan berdoa dengan apa yang ia kehendaki, niscaya doanya akan dikabulkan dengan segera.(51)

7. Memperbanyak shalawat.(52)

C. PERMASALAHAN SEPUTAR AMALAN LAIN PADA NISHFU SYA’BAN
Amalan lainnya pada malam nishfu Sya’ban adalah shalat sebanyak seratus rakaat, setiap dua rakaat satu kali salam, dan setiap selesai surat al-Fatihah dibaca surat al-Ikhlash 11 kali. Ataupun melakukan shalat sebanyak 11 rakaat. Setiap selesai membaca al-Fatihah, dibaca surat al-Ikhlash 100x. Shalat seperti ini disebutkan oleh Imam al-Ghazali dalam kitabnya, Ihya-u ‘Ulum al-Din.(53) Pernyataan Imam al-Ghazali ini diikuti juga oleh Imam Ibnu Shalah pada akhir fatwanya walaupun fatwa tersebut ditolak oleh Imam al-Subki. (54)

Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa shalat tersebut merupakan bid’ah mungkar dan hadits-haditsnya merupakan hadits maudhu’ sebagaimana diterangkan oleh Imam al-Nawawi (55) dan diikuti pula oleh para ulama lain seperti Imam Ibnu Hajar al-Haitami (56), Imam il-Taqi al-Subki (57) , Imam al-Ramli (58) dan lainnya.

Dalam menyikapi pertentangan antara para ulama besar ini, tidak ada salahnya bila kita bersedia menyimak dan merenungkan perkataan Imam Sulaiman al-Kurdy :(59)

واختلف العلماء فيها، فمنهم من قال لها طرق إذا اجتمعت وصل الحديث إلى حد يعلم به في فضائل الأعمال. ومنهم من حكم على حديثها بالوضع ومنهم النووي وتبعه الشارح في كتبه

“Para ulama berbeda pendapat tentang shalat tersebut, sebagian mereka berpendapat bahwa hadits tersebut memiliki thariq yang bila dikumpulkan, mencapai derajat fadhail-a’mal. Sedangkan sebagian yang lain menghukumi hadist tersebut sebagai hadits maudhu’. Diantara yang berpendapat demikian adalah Imam al-Nawawi dan diikuti oleh pensyarihnya dalam kitab-kitabnya”.


Selanjutnya, salah satu hal yang dilarang dalam bulan Sya’ban adalah berpuasa setelah nishfu Sya’ban (16 Sya’ban hingga seterusnya). Rasulullah SAW bersabda:(60)

إذا انتصف شعبان فلا تصوموا 

“Apabila telah masuk pertengahan nishfu Sya’ban, maka jangan engkau berpuasa”. (HR. Imam Abu Daud)

Pengecualian larangan berpuasa ini hanya berlaku apabila puasa tersebut disambung dengan hari sebelumnya (15 Sya’ban), berpuasa karena adanya sebab yang lain seperti qadha puasa ataupun bertepatan dengan kebiasaannya berpuasa pada hari-hari biasa. penjelasan lebih mendalam silahkan lihat di Hukum Puasa Setelah Nisfu Sya'ban

D. KESIMPULAN
Beranjak dari uraian sebelumnya, dapatlah kita ketahui bahwa menghidupkan malam nishfu Sya’ban dengan serangkaian ibadah yang telah disebutkan sebelumnya -sebagaimana tradisi yang berkembang dalam masyarakat muslim di negeri ini- adalah perilaku dari para ulama terdahulu yang tentu saja tidak bertentangan sama sekali dengan anjuran Syari’at bahkan terdapat keutamaan dan pahala yang besar di dalamnya.

E. PENUTUP
Keistimewaan dan kemuliaan malam nishfu Sya’ban tidak boleh berlalu begitu saja. Karena itu, marilah kita mempergunakan waktu sebaik-baiknya untuk melakukan ibadah sebanyak dan sebaik mungkin, terlebih lagi malam nishfu Sya’ban hanya datang setahun sekali, dimana boleh jadi kita tidak dapat bertemu dengannya lagi di tahun depan sehingga umur kita tidak terlewati dengan sia-sia.

مَن عوّد نفسه فيه بالاجتهاد ، فاز في رمضان بحسن الاعتيادالسيد [محمد بن السيد علوي المالكي الحسني في رسالته شهر شعبان ماذا فيه ]

“Barangsiapa membiasakan diri beribadah di bulan Sya’ban dengan bersungguh-sungguh, maka ia akan memperoleh kemenangan dalam bulan Ramadhan dengan melakukan kebiasaan-kebiasaan baik”. (Sayyid Muhammad bin Sayyid ‘Alwi al-Maliki al-Hasani dalam risalahnya, Fi Syahr Sya’ban Madza Fih).

Demikianlah uraian singkat ini. Semoga bermanfaat.

F. KEPUSTAKAAN
al-Hindi, ‘Alauddin ‘Ali bin Hisam al-Din, Kanz al-‘Umal Fi Sunan al-Aqwal Wa al-Af’al, Juz. 12 cet. V (t.tp: Muassasah al-Risalah, 1981 M).
Ibnu Manzhur, Muhammad bin Mukrim, Lisan al-‘Arab, Juz. I, cet. I (Beirut: Dar Shadir).
al-Qurthubi, Muhammad bin Ahmad, al-Jami’ Li Ahkam al-Qur`an, Q.S al-Baqarah : 142, Juz. II (t.tp: tp, tt).
al-Naisaburi, Muslim bin al-Hujaj, al-Jami’ al-Shahih al-Musamma Shahih Muslim, Juz. III (Beirut: Dar al-Jail dan Dar al-Afaq al-Jadidat, tt).
al-Baihaqi, Abubakar Ahmad bin al-Husain, Sya’b al-Iman, Juz. III, cet. I (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1410 H).
al-Haitami, Ahmad bin Hajar, Ittihaf Ahl al-Islam Bi Khushushiyat al-Shiyam, cet. I (Beirut: al-Muassasah al-Kutub, 1990 M).
al-Fasyani, Ahmad bin Hijazi, Tuhfat al-Ikhwan Fi Qiraat al-Mi`ad Fi Rajab Wa Sya’ban, cet. II (Mesir: al-Kastaliyah, 1297 H).
Ibnu Rajab, Ahmad bin Rajab, Lathaif al-Ma’arif Fi Ma Li al-Mawasim al-‘Am Min al-Wazhaif, cet. V (Beirut: Dar Ibnu Katsir, 1999 M).
al-Ramli, Ahmad bin Hamzah, Fatawa al-Ramli, Juz. IV (Beirut: Dar Fikr, 1983 M).
al-‘Adawi, Husain Muhammad ‘Ali Makhlul, al-Kalimat al-Hasan Fi Fadha-i al-Lailah Nishf Sya’ban, (t.tp: tp, tt).
al-Tamimi, Muhammad bin Hibban, Shahih Ibn Hibban Bi Tartib Ibn Balban, Juz. XII, cet. II (Beirut: Muassasah al-Risalah, 1993 M).
Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid, Sunan Ibn Majah, Juz. I (Beirut: Dar al-Fikr, tt).
al-Hanbal, Ahmad bin Hanbal, Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal, Juz ke-43, cet. II (t.tp: Muassasah al-Risalah. 1999 M).
al-Baihaqi, Abubakar Ahmad bin al-Husain, Fadha-i al-Auqat Li al-Baihaqi, cet. I (Beirut: Dar Kutub al-Ilmiyah, 1997 M).
al-Syafi’i, Muhammad bin Idris, al-Umm, Juz. I, cet. I (Beirut: Dar al-Fikr, 2009).
al-Zabidi, Muhammad bin Muhammad, Ittihaf al-Sadat al-Muttaqin Bi Syarh Ihya-i ‘Ulum al-Din, Juz. III, cet. III (Beirut: Dar al-Fikr, 2005).
Ibnu Taimiyah, Ahmad bin ‘Abd al-Halim, Iqtidha-u al-Sirath al-Mustaqim Li Mukhalafat Ashhab al-Jahim, Juz. II (Riyadh: Maktabah al-Rusyd, tt).
al-Shawi, Ahmad al-Shawi al-Maliki, Hasyiah al-Shawy `Ala Tafsir Jalalain, Juz. IV (Beirut: Dar al-Fikr, tt).
al-Luban, Muhammad bin Muhammad, Baqat al-Raihan Fi Ma Yata’allaq Bi Lailat al-Nishf Min Sya’ban, (t.tp: tp, tt).
Muhammad Zaki Ibrahim, Lailat an-Nishf Min Sya’ban Fi Mizan al-Inshaf al-‘Ilmi Wa Samahah al-Islam, (t.tp: tp, tt).
Abdul Hamid bin Muhammad ‘Ali, Kanz al-Najah Wa al-Surur Fi al-Ad’iyyah Allati Tasyruh al-Shudur, (t.tp: t.p, tt).
al-Zarqani, Muhammad al-Zarqani bin ‘Abd al-Baqi, Syarh al-’Alamah al-Zarqani ‘Ala al-Mawahib al-Laduniyyah Bi al-Mihah al-Muhammadiyyah Li al-‘Alamah al-Qusthalani, Juz. IX (Beirut: Dar Kutub al-Ilmiyah, 1996 M).
al-Haitami, Ahmad bin Hajar, Fatawa Kubra Fiqhiyyah, Juz. II (Beirut: Dar al-Fikr, 1983 M).
al-Nawawi, Yahya bin Syaraf, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, Juz. V (Beirut: Dar Kutub al-Ilmiyah, 2008).
al-Haitami, Ahmad bin Hajar, Tuhfat al-Muhtaj Bi Syarh al-Minhaj, Juz. II (Beirut: Dar al-Fikr, 2009).
al-Ramli, Ahmad bin Hamzah, Nihayat al-Muhtaj Ila Syarh al-Minhaj, juz. II, (Beirut: Dar Kutub al-Ilmiyah, 2003).
Sulaiman al-Kurdy, Hawasyi al-Madaniyyah, Juz. I (t.tp: al-Haramain, tt).
Abu Daud, Sulaiman bin al-Asy’ats, Sunan Abi Daud, Juz. I (Beirut: Dar al-Fikr, tt).
Sayyid Muhammad bin Sayyid ‘Alwi al-Maliki al-Hasani, Fi Syahr Sya’ban Madza Fih, (t.tp: tp, tt) t.hal.


  1. al-Hindi, ‘Alauddin ‘Ali bin Hisam al-Din, Kanz al-‘Umal Fi Sunan al-Aqwal Wa al-Af’al, Juz. 12 cet. V (t.tp: Muassasah al-Risalah, 1981 M) hal. 579.
  2. Ibid, Juz. 8, hal. 591.
  3. Ibnu Manzhur, Muhammad bin Mukrim, Lisan al-‘Arab, Juz. I, cet. I (Beirut: Dar Shadir) hal. 501.
  4. al-Qurthubi, Muhammad bin Ahmad, al-Jami’ Li Ahkam al-Qur`an, Q.S al-Baqarah : 142, Juz. II (t.tp: tp, tt), hal. 144.
  5. al-Zarqani, Ahmad bin Muhammad, Syarh al-Zarqani ‘Ala al-Mawahib al-Laduniyah Bi al-Minah al-Muhammadiyyah, Juz. IX, cet. I (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1996 M) hal. 165.
  6. al-Naisaburi, Muslim bin al-Hujaj, al-Jami’ al-Shahih al-Musamma Shahih Muslim, Juz. III (Beirut: Dar al-Jail dan Dar al-Afaq al-Jadidat, tt) hal. 160.
  7. al-Baihaqi, Abubakar Ahmad bin al-Husain, Sya’b al-Iman, Juz. III, cet. I (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1410 H) hal. 377.
  8. al-Haitami, Ahmad bin Hajar, Ittihaf Ahl al-Islam Bi Khushushiyat al-Shiyam, cet. I (Beirut: al-Muassasah al-Kutub, 1990 M) hal. 360-361.
  9. al-Fasyani, Ahmad bin Hijazi, Tuhfat al-Ikhwan Fi Qiraat al-Mi`ad Fi Rajab Wa Sya’ban, cet. II (Mesir: al-Kastaliyah, 1297 H) hal. 60.
  10. al-Haitami, Ahmad bin Hajar, Ittihaf Ahl..., hal 367.
  11. al-Naisaburi, Muslim bin al-Hujaj, al-Jami’ al-Shahih…, Juz. II, hal. 175.
  12. Ibnu Rajab, Ahmad bin Rajab, Lathaif al-Ma’arif Fi Ma Li al-Mawasim al-‘Am Min al-Wazhaif, cet. V (Beirut: Dar Ibnu Katsir, 1999 M) hal. 261.
  13. al-Ramli, Ahmad bin Hamzah, Fatawa al-Ramli, Juz. IV (Beirut: Dar Fikr, 1983 M) hal 383.
  14. al-‘Adawi, Husain Muhammad ‘Ali Makhlul, al-Kalimat al-Hasan Fi Fadha-i al-Lailah Nishf Sya’ban, (t.tp: tp, tt) hal. 6.
  15. al-Tamimi, Muhammad bin Hibban, Shahih Ibn Hibban Bi Tartib Ibn Balban, Juz. XII, cet. II (Beirut: Muassasah al-Risalah, 1993 M) hal. 481
  16. Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid, Sunan Ibn Majah, Juz. I (Beirut: Dar al-Fikr, tt) hal. 444.
  17. al-Hanbal, Ahmad bin Hanbal, Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal, Juz ke-43, cet. II (t.tp: Muassasah al-Risalah. 1999 M) hal. 146.
  18. al-Baihaqi, Abubakar Ahmad bin al-Husain, Fadha-i al-Auqat Li al-Baihaqi, cet. I (Beirut: Dar Kutub al-Ilmiyah, 1997 M) hal. 32.
  19. al-Haitami, Ahmad bin Hajar, Ittihaf Ahl…, hal 376.
  20. al-Syafi’i, Muhammad bin Idris, al-Umm, Juz. I, cet. I (Beirut: Dar al-Fikr, 2009) hal. 254.
  21. al-Zabidi, Muhammad bin Muhammad, Ittihaf al-Sadat al-Muttaqin Bi Syarh Ihya-I ‘Ulum al-Din, Juz. III, cet. III (Beirut: Dar al-Fikr, 2005) hal. 708.
  22. Ibnu Taimiyah, Ahmad bin ‘Abd al-Halim, Iqtidha-u al-Sirath al-Mustaqim Li Mukhalafat Ashhab al-Jahim, Juz. II (Riyadh: Maktabah al-Rusyd, tt) hal 126.
  23. al-Shawi, Ahmad al-Shawi al-Maliki, Hasyiah al-Shawy `Ala Tafsir Jalalain, Juz. IV (Beirut: Dar al-Fikr, tt) hal. 76 ; al-Fasyani, Ahmad bin Hijazi, Tuhfat al-Ikhwan…, hal 60-62 ; al-Luban, Muhammad bin Muhammad, Baqat al-Raihan Fi Ma Yata’allaq Bi Lailat al-Nishf Min Sya’ban, (t.tp: tp, tt) hal 4-6.
  24. Ibnu Rajab, Ahmad bin Rajab, Lathaif al-Ma’arif…, hal. 258.
  25. Ibid.
  26. Ibid, hal. 259.
  27. al-Ramli, Ahmad bin Hamzah, Fatawa…, Juz. II, hal 89.
  28. al-Fasyani, Ahmad bin Hijazi, Tuhfat al-Ikhwan… hal 65.
  29. Ibnu Rajab, Ahmad bin Rajab, Lathaif al-Ma’arif…, hal. 265.
  30. al-Fasyani, Ahmad bin Hijazi, Tuhfat al-Ikhwan…, hal 66.
  31. al-Zabidi, Muhammad bin Muhammad, Ittihaf al-Sadat…, hal. 708.
  32. Ibid.
  33. Muhammad Zaki Ibrahim, Lailat an-Nishf Min Sya’ban Fi Mizan al-Inshaf al-‘Ilmi Wa Samahah al-Islam, (t.tp: tp, tt) t.hal.
  34. Abdul Hamid bin Muhammad ‘Ali, Kanz al-Najah Wa al-Surur Fi al-Ad’iyyah Allati Tasyruh al-Shudur, (t.tp: t.p, tt) hal. 47-48.
  35. Ibid, hal. 48.
  36. Ibid.
  37. Ibid., hal. 49.
  38. Ibid., hal. 50.
  39. Ibid., hal. 51.
  40. Ibid., hal. 52-54.
  41. Ibid.,
  42. Ibid., hal. 46.
  43. Ibid.
  44. Ibid.
  45. Ibid., hal. 47.
  46. Ibid.
  47. Ibid., hal. 49.
  48. Ibid.
  49. Ibid., hal. 55.
  50. Ibid.
  51. Ibid.
  52. al-Zarqani, Muhammad al-Zarqani bin ‘Abd al-Baqi, Syarh al-’Alamah al-Zarqani ‘Ala al-Mawahib al-Laduniyyah Bi al-Mihah al-Muhammadiyyah Li al-‘Alamah al-Qusthalani, Juz. IX (Beirut: Dar Kutub al-Ilmiyah, 1996 M) hal. 165.
  53. al-Zabidi, Muhammad bin Muhammad, Ittihaf al-Sadat…, hal. 704.
  54. al-Haitami, Ahmad bin Hajar, Fatawa Kubra Fiqhiyyah, Juz. II (Beirut: Dar al-Fikr, 1983 M) hal. 80.
  55. al-Nawawi, Yahya bin Syaraf, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, Juz. V (Beirut: Dar Kutub al-Ilmiyah, 2008) hal. 65.
  56. al-Haitami, Ahmad bin Hajar, Tuhfat al-Muhtaj Bi Syarh al-Minhaj, Juz. II (Beirut: Dar al-Fikr, 2009) hal. 261.
  57. al-Zabidi, Muhammad bin Muhammad, Ittihaf al-Sadat…, hal 707.
  58. al-Ramli, Ahmad bin Hamzah, Nihayat al-Muhtaj Ila Syarh al-Minhaj, juz. II, (Beirut: Dar Kutub al-Ilmiyah, 2003) hal. 124.
  59. Sulaiman al-Kurdy, Hawasyi al-Madaniyyah, Juz. I (t.tp: al-Haramain, tt) hal. 331.
  60. Abu Daud, Sulaiman bin al-Asy’ats, Sunan Abi Daud, Juz. I (Beirut: Dar al-Fikr, tt) hal. 713.
Sumber ABU MUDI

Download kitab Kanz Najah wa Surur Fi Ad’iyyah al-lati Tasyrah ash-Shudur karangan Syeikh Abdul Hamid Qudus.كنز النجاح والسرور في الأدعية التي تشرح الصدور

كنز النجاح والسرور في الأدعية التي تشرح الصدور
Kitab كنز النجاح والسرور في الأدعية التي تشرح الصدور di karang oleh Syeikh Abdul Hamid Qudus, pengarang salah satu kitab ushul fiqh yang lazim di pakai di pesantren di Indonesia yaitu kitab Lathaif Isyarah. kitab ini menerangkan doa-doa yang di amalkan dalam waktu-waktu tertentu, meliputi doa awal tahun, hari Asyura, bulan Shafar, Rabiul Awal, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Zul hijjah, hari Arafah, doa akhir tahun dan zikir-zikir pagi dan petang.

Kitab ini penting di miliki terutama bagi kalangan yang ingin menambah amalan pada hari-hari tertentu seperti pada hari nisfu Sya'ban yang akan datang beberapa hari lagi. Nah bagi yang menginginkan file kitab ini silahkan download di sini dalam format box. Sedangkan untuk format pdf kami belum memiliki koleksinya.
Download kitab disini

Download Kitab Syarah wa Tahlil Hikam Karangan Syeikh Sa'id Ramadhan al-Buthi

Syarah wa Tahlil Syarah Hikam Karya Syeikh Sa'id Ramadhan al-ButhiKita tentu saja tidak bisa melupakan nama seorang ulama besar Sunni Suriah yang syahid beberapa waktu lalu, Syeikh Sa’id Ramadhan al-Buthi. Seorang ulama sunni yang di kenal memiliki kemampuan beliau dalam berargumen melawan argumen filsafat barat dan menangkis serangan kaum sesat seperti wahabi yang suka menyalahkan dan memvonis bid’ah dan sesat umat muslim yang lain terutama kaum Asya’irah. Dua karya Syeikh Buthi Salafiyah Marhalah Zamaniyah Mubarakah La Mazhab Islamy dan kitab Al-La Mazhabiyah Akhthar Bid`Ah Tuhahaddid Asy-Syariah Al-Islamiyah merupakan dua kitab yang paling menampar pemikiran kaum wahabi salafi.

Selain itu Syeikh Buthi juga di kenal sebagai seorang ahli shufi. Salah satu pengajian beliau yang terkenal yang videonya tersebut luas di dunia maya adalah pengajian kitab al-Hikam. Selain mengajarkan kitab Hikam semenjak tahun 1974 beliau juga menulis syarahan sebanyak 5 jilid atas kitab Imam Ibnu ‘Athaillah ini. Menurut K.H. Hasyim Muzadi, kelebihan kitab yang ditulis Syekh Buthi dibanding syarah hikam lainnya, pertama karena beliau memulai Hikam itu dari syariatnya kemudian masuk hakikat. Jarang ada syarah Hikam seperti itu. Biasanya hakikatnya itu saja yang disyarahi. Jadi dari syariat beliau mengungkapkan dalil-dalilnya, baru baru masuk ke hakikat. Yang kedua Syekh Buthi ini memperlengkapi Hikam ini dengan dalil-dalil yang muktabar baik Al-Qur’an maupun hadits nabi, karena hikam sendiri didalamnya tidak ada dalil hanya menyinggung sedikit tentang ayat, tapi belum proporsional pada setiap qaul ada dalilnya.

Bagi yang menginginkan file pdf kitab ini silahkan Download dilink dibawah ini
JILID 1 , JILID 2, JILID 3, JILID 4, JILID 5



Pemutarbalikan Fakta Oleh Penulis Buku "Hadiah Pahala Amalan Rekayasa” terhadap Kitab Tafsir Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Manan

Rekayasa Bapak Aliwari terhadap Nash Kitab Tafsir Sa`dyKami akan kembali menampilkan kesalahan-kesalahan fatal yang di lakukan oleh Bapak Aliwari dalam bukunya Hadiah Pahala Amalan Rekayasa. hal ini kami tampilkan hanya untuk memperlihatkan kepada kalangan yang terpedaya dengan buku tersebut bahwa sang penulis buku tersebut banyak melakukan manipulasi dan pemotongan-pemotongan terhadap nash-nash kitab para ulama demi mendukung pendapatnya. Walau sebenarnya untuk kalangan ilmuan yang bersikap adil ketika membaca buku tersebut akan menemukan keganjilan-keganjilan. Namun karena ada kalangan yang terpengaruh dengan isi buku tersebut dan begitu yakinnya akan kekuatan argument-argumennya maka hal ini perlu kami terangkan lebih lanjut walaupun sebenarnya sudah cukup dengan dua tulisan sebelumnya.

Adanya pihak yang yakin dengan kebenaran buku tersebut terlihat dari salah seorang dosen di Banda Aceh yang memberikan buku tersebut kepada salah satu guru LPI MUDI mesra yang kuliah di sana, ia begitu yakin memberikan buku tersebut dengan anjuran supaya kalangan pesantren membaca-baca buku tersebut. Mungkin ia juga awam terhadap isi buku tersebut, tidak memeriksa kebenarannya dan hanya taqlid buta kepada sang penulisnya, Bapak Aliwari.

Kali ini yang akan kami kaji adalah isi buku tersebut pada halaman 119, di mana Bapak Aliwari membawakan nash kitab Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Manan karangan Mufassir Abdur Rahman bin Nashir as-Sa`di (1307-1376 H), Bapak Aliwari mengutip penjelasan Imam Sa`di ketika menafsirkan ayat 39 surat an-Najmu: (1)

وقد استدل بقوله تعالى: {وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى} من يرى أن القرب لا يفيد إهداؤها للأحياء ولا للأموات قالوا لأن الله قال: {وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ مَا سَعَى} فوصول سعي غيره إليه مناف لذلك،

Namun sangat di sayangkan, Bapak Aliwari hanya mengutip setengahnya dan menutup mata dari nash selanjutnya yang merupakan pendapat Imam Sa`di yang membantah pendapat bahwa ayat ini sebagai dalil bahwa tidak adanya manfaat pahala dari amalan orang lain.

Imam Sa`di melanjutkan:(2)

وفي هذا الاستدلال نظر، فإن الآية إنما تدل على أنه ليس للإنسان إلا ما سعى بنفسه، وهذا حق لا خلاف فيه، وليس فيها ما يدل على أنه لا ينتفع بسعي غيره، إذا أهداه ذلك الغير له، كما أنه ليس للإنسان من المال إلا ما هو في ملكه وتحت يده، ولا يلزم من ذلك، أن لا يملك ما وهبه له الغير من ماله الذي يملكه.

Pengambilan dalil ini perlu di tinjau kembali, karena ayat ini hanya menunjuki bahwa tiada bagi manusia kecuali hasil usahanya, ini merupakan kebenaran yang tidak di perselisihkan, dan tidak ada dalam ayat tersebut yang menunjuki bahwa manusia tidak bisa mengambil manfaat dari amalan orang lain apabila telah di hadiahkan baginya, sebagaimana tidak akan ada bagi manusia harta kecuali harta yang ada dalam milik dan kekuasaannya dan hal ini tidaklah melazimi bahwa ia tidak akan memiliki harta milik orang lain yang di hadiahkan untuknya.

ini adalah gambar isi buku Hadiah Pahala Amalan Rekayasa pada halaman 119:

Jawaban atas Buku Hadiah Pahala Amalan Rekayasa

dan ini adalah scan nash Kitab Tafsir Sa`dy yang selengkapnya :

Hadiah Pahala Amalan Rekayasa

Bapak Aliwari hanya mengambil setengah dari penjelasan Imam Sa`dy, padahal dalam penjelasan yang di kutip Bapak Aliwari, Imam Sa`di bermaksud mengatakan bahwa ada pihak-pihak yang menjadikan ayat ini sebagai dalil tidak adanya hadiah pahala kemudian dalam nash selanjutnya Imam Sa`di membantah pendapat ini. Namun bantahan dari Imam Sa`dy tersebut tidak di kutip oleh Bapak Aliwari. Maka sebenarnya nash Tafsir Imam Sa`dy sendiri menolak mentah-mentah pandangan Bapak Aliwari, namun yang amat di sayangkan Bapak Aliwari berani mengambil setengah nash Tafsir Imam Sa`dy untuk di jadikan penguat pandangannya tentang tidak adanya hadiah pahala.

Satu hal yang membuatkan kami heran, mengapa Bapak Aliwari berani melakukan hal yang demikian, apakah beliau memang tidak melihat nash Imam Sa`dy selanjutnya atau memang sengaja ingin melakukan penipuan terhadap publik demi membenarkan keyakinannya. Wallahu A`lam bish Shawab

Namun ada baiknya juga karena beliau masih hidup, ada pihak yang menanyakan hal ini langsung kepada beliau.
  1. Abdur Rahman bin Nashir as-Sa`di, Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Manan, jilid 7 hal 1738 Cet. Dar ibnu Jauzy th 1422 H
  2. Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Manan, jilid 7 hal 1738

Download kitab Sa`adatud Darain karangan Imam Yusuf an-Nabhani سعادة الدارين فى الصلاة على سيد

Syeikh Yusuf an-NabhanySyeikh Yusuf an-Nabhany banyak meninggalkan karya-karya yang bernilai tinggi. Beliau banyak mengarang kitab yang berkenaan dengan shalawat kepada Rasulullah SAW. Salah satu karya Syeikh Yusuf an-Nahbany yang berkenaan dengan shalawat adalah kitab Sa`adatud Daraian fi Shalah `ala Sayyid al-Kaunain. Kitab ini menerangkan kelebihan shalawat, penambahan lafadh sayyidina, hukum membaca shalawat saja tanpa salam, penyebutan bilangan dalam shalawat, hukum beramal dengan hadits dhaif, tempat-tempat yang di sunatkan bershalawat, dan masalah-masalah yang lain yang berhubungan dengan shalawat. Dalam kitab ini Syeikh Yusuf an-Nabhani juga menuliskan kumpulan-kumpulan shalawat dari ulama-ulama terkemuka.

Bagi yang berminat dengan kitab ini, silahkan donwload file nya dalam format PDF Disini.

Jawaban Syeikh Ismail Utsman Zain Tentang Hukum Kenduri di Rumah Kematian

Hukum Kenduri di rumah kematian
Salah satu hal yang tak hentinya di sesatkan oleh kaum wahaby/salafy adalah kenduri di rumah kematian, padahal masalah ini adalah masalah perdebatan yang sudah lama sekali di jawab oleh ulama-ulama Ahlus sunnah. Diantara ulama-ulama yang menjelaskan hal tersebut adalah Syeikh Ismail Utsman Zain (1352- 1414 H), seorang ulama asal Yaman yang menetap dan mengajar di Madrasah Saulatiyah, Makkah selama 23 tahun. Beliau merupakan seorang ulama yang memiliki nama besar dan di akui keilmuan beliau oleh para ulama-ulama yang lain. Murid-murid beliau tersebur di seluruh penjuru dunia, tak terkecuali di Indonesia, bahkan beliau mengarang satu Risalah, Al-ajwibah as-Sunniyah ‘an As’ilah al-Indonesiyyah yang merupakan jawaban dari beberapa pertanyaan dari muhibbin dari Indonesia.

salah satu yang ditanyakan dalam risalah tersebut adalah hukum kenduri di rumah kematian, kemudian Syeikh Ismail Utsman Zain memberikan uraian jawaban secara ringkas, uraian beliau yang lebih panjang ada dalam kitab beliau yang lain yaitu kitab Raf`ul al-Isykal wa Ibthal al-Mughalah fi Hukm al-Walimah min Ahl al-Mayyit ba’d al-Wafat. Di sini kami akan menampilkan jawaban Syeikh Ismail Zain tentang hukum kenduri di rumah kematian, semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan menjadi pelega bagi hati kaum muslimin yang memberikan kenduri di rumah kematian dari tuduhan-tuduhan kaum salafi wahaby yang gencar-gencarnya membid’ahkan dan menyesatkan kaum muslim yang lain.

السؤال الثالث): ما قولكم في إطعام الطعام تصدقا وضيافة من أهل الميت للمعزين. بعض علمائنا يقول حرام إن كان قبل الدفن، ومحمودا إن كان بعد الدفن. وبعضهم يقول حرام إن كان بحضرة الجنازة أي في مجلس واحد وإلا فلا. وبعضهم يقول حرام مطلقا، لأن أغلب الناس أنهم يطعمون من تركة الميت أو من مالهم ومن بعض تركة الميت.

فالجواب) والله الموفق للصواب: أن الإطعام المذكور تصدقا وضيافة كما ذكر في السؤال من القرب والمسحبات الشرعية، لأن الضيافة من مكارم الأخلاق ومن ثمرات الإيمان. وفي الحديث الصحيح: {فمن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم ضيفه}. والصدقة من أفضل القربات ومن الحسنات التي تنمو بالمضاعفات. قال الله تعالى {مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّئَةُ حَبَّةٍ وَاللّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاء} الآية. وقال تعالى: {وَأَقْرَضُوْا اللهَ قَرْضًا حَسَنًا} الآية. وسواء كانت الصدقة عن الميت فإن ثوابها يصل إليه بالإجماع أو كانت للمتصدق نفسه فهي من أعماله الصالحة التي تكون في كفة حسناته وحيث كانت بنية الميت فيشترط أن تكون من بالغ عاقل جائز التصرفات.

واعلم أن الوليمة من أهل الميت للمعزّين وغيرهم تعتبر من الأعمال الصالحة ومن أنواع البر فهي محمودة شرعًا، ما لم تكن من مال القاصرين. وقد أُلّفتْ في هذا الشأن رسالة مفيدة تسمى "رفع الإشكال وإبطال المغالاة في حكم الوليمة من أهل الميت بعد الوفاة"، فهي وافية بالمقصود حكما ودليلا، رواية ودراية. وحاصلها أن الأصل في الوليمة الإستحباب والإستحسان شرعًا، ولا تخرج عن هذا الأصل إلا لعارض. ولا فرق في ذلك بين كونها قبل الدفن أو بعده كما في الرسالة المذكورة
.
وأما قول السائل: "بعض علمائنا يقول حرام إن كان قبل الدفن ومحمود إن كان بعد الدفن وبعضهم يقول حرام إن كان بحضرة الجنازة أي في مجلس واحد وإلا فلا. وبعضهم يقول حرام مطلقا، لأن أغلب الناس أنهم يطعمون من تركة الميت أو من مالهم ومن بعض تركة الميت". فنقول إن بعض العلماء القائلين بهذا التفصيل والتقسيم وكذلك القائلون بالإطلاق فالجميع ليس لهم على ما يقولونه دليل ولا تعليل، وإنما ذلك مجرد آراء هي عند الإنصاف لا تصدر عن عامي فضلا عن عالم. وأعظم من ذلك قول السائل: "وبعضهم يقول حرام إن كان بحضرة الجنازة أي في مجلس واحد وإلا فلا". فهذا القول من العجائب والغرائب أن يصدر من شخص يقال إنه من العلماء. وقد قال الله تعالى: {وَلاَ تَقُولُواْ لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلاَلٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُواْ عَلَى اللّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللهِ الْكَذِبَ لاَ يُفْلِحُونَ. مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ}. عافانا الله تعالى من ذلك وجنبنا أسباب المهالك.
وأما كون الوليمة أو بعضها من تركة الميت، فإذا كانت برضا الورثة البالغين ومن نصيبهم فلا مانع من ذلك كما قدمنا، لأن التركة بعد وفاة الميت هي ملك الورثة، فلهم أن يطعموا منها أو من غيرها. هذا ما تيسر لي من الجواب باختصار. ومن أراد المزيد فعليه بالرسالة المذكورة آنفا، فإن فيها ما يكفي ويشفي. ونسأل الله تعالى أن يجعلنا ممن يستمعون القول فيتبعون أحسنه، ولا يجعلنا ممن يقفون ما ليس لهم به علم. وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم تسليما كثيرا والحمد لله رب العالمين.


Soal yang ketiga.
Bagaimana pendapatmu tentang memberi makanan dari keluarga mayat untuk bersadaqah dan menjamu bagi orang yang berta`ziah?

Sebagian ulama kita mengatakan haram jika sebelum di kuburkan mayat, dan terpuji (mamduh) jika setelah di kuburkan mayat. Sebagian yang lain mengatakan haram jika di hadapan jenazah maksudnya dalam satu majlis sedangkan bila bukan demikian maka tidak haram. Sebagian ulama yang lain mengatakan haram mutlak karena kebanyakan manusia menyediakan makanan dari harta peninggalan mayat atau dari harta mereka dan sebagian lagi dari harta peninggalan mayat!

Jawab.
Allah yang memberi taufiq kepada kebenaran. Menyediakan makanan tersebut sebagai shadaqah dan menjamu sebagaimana dalam soal merupakan sebagian dari perbuatan qurbah yang perbuatan sunat dalam syara`, karena dhiyafah (menjamukan) termasuk dari akhlak yang mulia dan merupakan kehasilan dari keimanan. Tersebut dalam satu hadits; barangsiapa beriman dengan Allah dan RasulNya maka hendaklah ia memuliakan tamu. Shadaqah termasuk dari seafdhal-afdhal qurbah dan termasuk kebaikan yang dibalas dengan balasan yang berganda. Allah berfirman: Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allahadalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. (Q.S.al-Baqarah ayat 261) dan Allah juga berfirman : … mereka meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik…(Q.S. al-Hadid ayat 18).

Sama hukumnya shadaqah itu untuk mayat(di niatkan pahalanya untuk mayat), maka pahalanya bisa sampai kepada mayat berdasarkan ijmak para ulama atau shadaqah tersebut untuk diri orang bershadaqah maka ini termasuk dalam amalan shalih yang berada dalam neraca kebaikan (kelak di akhirat) Apabila diniatkan untuk si mayat maka disyaratkan harus dilakukan oleh orang yang baligh yang boleh mempergunakan harta (ahli tasharruf)

Ketahuilah bahwa kenduri dari keluarga mayat untuk orang yang ta`ziyah dan yang lain termasuk dalam amalan shalih dan bagian kebaikan maka perbuatan ini terpuji dalam pandangan syara` selama bukan berasal dari harta orang yang kurang (maksudnya harta orang yang tidak memiliki wewenang sendiri dalam menggunakan harta seperti anak-anak, orang gila, safih, dan muflis) dan sungguh saya telah mengarang satu risalah yang berfaedah yang bernama “Raf`ul al-Isykal wa Ibthal al-Mughalah fi Hukm al-Walimah min Ahl al-Mayyit ba’d al-Wafat”. Risalah ini merupakan satu kitab yang memenuhi tujuan baik dalil atau illatnya baik secara riwayat ataupun dirayah.

Kesimpulannya, bahwa asal dalam kenduri adalah sunat dan merupakan perbuatan baik dalam syara` dan tidak akan keluar dari asal ini kecuali karena ada faktor luar (‘aridhy) dan hal ini tidak ada bedanya baik dilaksanakan kenduri tersebut sebelum di tanam mayat ataupun setelahya sebagaimana kami sebutkan dalam risalah tersebut.

Adapun perkataan penanya:
Sebagian ulama kita mengatakan haram jika sebelum di kuburkan mayat, dan terpuji jika setelah di kuburkan mayat. Sebagian yang lain mengatakan haram jika di hadapan jenazah maksudnya dalam satu majlis sedangkan bila bukan demikian maka tidak haram. Sebagian ulama yang lain mengatakan haram mutlak karena kebanyakan manusia menyediakan makanan dari harta peninggalan mayat atau dari harta mereka dan sebagian lagi dari harta peninggalan mayat!

Maka kami menjawab:
Sungguh sebagian kalangan ulama yang mengatakan dengan rincian dan pembagian ini dan juga yang mengatakan secara mutlak maka tidak ada dalil maupun alasan (ta’lil) bagi mereka. Itu semua hanyalah semata-mata pendapat belaka yang sebenarnya bila mau bersikaf adil pendapat seperti demikian tidak akan keluar dari orang awam apalagi orang yang alim.

Dan yang lebih parah lagi adalah pendapat yang mengatakan bahwa haram jika di hadapan jenazah maksudnya dalam satu majlis dan jika bukan di hadapan jenazah maka tidak haram. Pendapat ini adalah pendapat yang aneh dan gharib yang tidak akan keluar dari seseorang yang dikatakan sebagai ulama.

Allah berfirman:
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta "ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka azab yang pedih.(Q.S. an-Nahl ayat 116-117)

Semoga Allah menjaga kita dari hal demikian dan dari sebab-sebab kebinasaan.

Adapun bila seluruh kenduri tersebut atau sebagiannya berasal dari harta peninggalan si mayat maka jika ada ridha dari ahli waris yang telah baligh dan di ambil dari bagian mereka maka tidak ada hal yang menjadi penghalangnya(maksudnya tidak adahal yang menyebabkannya haram) sebagaimana telah kami sebutkan terdahulu, karena harta peninggalan setelah wafat menjadi milik ahli waris, maka mereka boleh saja memberikanya dari harta tersebut atau dari harta yang lain.

Inilah kemudahan bagi kami dalam menjawab dengan ringkas. Barangsiapa yang menginginkan uraian yang lebih maka silahkan melihat Risalah kami yang kami sebutkan barusan, karena disana ada jawaban yang memadai dan menyejukkan.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk dalam golongan orang-orang yang mendengar perkataan dan mengikuti yang paling baik. Dan jangan di jadikan kita termasuk dalam golongan orang yang menahan hal yang sama sekali tidak ada ilmunya bagi mereka.

Dan Rahmat sejahtra atas penghulu kita Sayyidina Muhammad dan keluarga beliau dan shahabat beliau dan sejatra yang banyak. wal hamdulillahi Rabbil Alamin.
Al-ajwibah as-Sunniyah ‘an As’ilah al-Indonesiyyah, Syeikh Ismail Utsman Zain al-Yamani al-Makky

Maka dari uraian panjang Syeikh Ismail Zain tersebut dapatkan kita simpulkan tentang hukum kenduri di rumah kematian.
  1. Boleh bahkan sunat, selama tidak di ambil dari harta peninggalan yang menjadi hak ahli waris yang belum baligh, baik diambil dari harta warisan yang menjadi bagian ahli waris yang telah baligh atau di ambil dari hartanya pribadi ahli waris ataupun hasil dari shadaqah pihak-pihak yang lain
  2. Bila menggunakan harta orang-orang yang belum baligh, antara lain harta ahli peninggalan mayat yang ahli warisnya anak-anak yang belum baligh maka hukumnya haram, hal ini karena orang yang mengelola harta anak-anak tidak boleh menggunakan harta tersebut untuk hal-hal yang tidak membawa keuntungan bagi harta tersebut termasuk tidak boleh digunakan untuk bersadakah.
  3. Hukum melakukan kenduri kematian ini sama saja hukumnya baik dilakukan setelah mayat di kebumikan ataupun sebelumnya.

donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja