Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Sejarah Kehidupan Abu Ibrahim Lamno (Abu BUDI)

Abu Ibrahim LamnoTgk. H. Ibrahim bin Ishaq atau yang lebih akrab dipanggil dengan ABU BUDI lahir digampong Meukhan Kacamatan Jaya Kabupaten Aceh Barat (sekarang sudah menjadi Aceh Jaya), tepatnya pada bulan muharram 1357 H. bertepatan dengan tahun 1936 M. Beliau merupakan putra pertama dari 6 bersaudara dari pasangan Tgk. Ishaq dengan Hj. Halimah.

Dengan berkat bimbingan dan asuhan kedua orang tua tercinta dan ma’unah Allah SWT. beliau tumbuh menjadi balita yang terbilang lasak, gesik, tangkas, lincah dan selalu ingin bergerak dan tidak pernah diam ada saja yang ingin di perbuatnya, melihat tingkah yang demikian aktif akhirnya mengundang motivasi orang tua untuk menggantikan nama Beliau yang sebelumnya bernama RAZALI dengan nama IBRAHIM. Itulah sebuah nama yang di peruntukkan untuk jasad ABU BUDI yang diberi nama oleh Habib Bruy yang bermukim digampong Teumareum yang boleh dikatakan sangat selektif dalam menyandangkan sebuah nama.

Pendidikan

Abu Ibrahim LamnoHari-hari berlalu yang kadang-kadang diisi dengan tangisan untuk mempersenjatai dirinya dan tanpa terasa ia telah mengakhiri masa balita, pada saat itu pula beliau telah mulai mereguk ilmu agama yang berguru pada Abu Ramli yang kemudian menjadi salah seorang se-sepuh yayasan dayah BUDI pada awal pendiriannya, bahkan putra pertama beliau kini menduduki papan teratas dalam organisasi kepengurusan yayasan Dayah BUDI, yang akrab dipangil dengan sebutan ABA ASNAWI. Pada tahun 1946, tepatnya di awal kemerdekaan, ABU BUDI tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengisi hikmah kemerdekaan. Beliau mulai mengecap ilmu pendidikan pada Sekolah Rakyat (SR) digampong Kuala Daya selama 2 tahun, lalu pindah ke SR Lamno dan sekaligus mondok di Pesantren Bustanul Aidarusiyah di bawah pimpinan Tgk. H. Aidarus yang merupakan salah satu Dayah yang terbilang tua di Aceh. Di usia yang begitu pagi, dalam jiwa beliau sudah terpatri semangat untuk mengaplikasikan, atau menyerap ilmu pendidikan agama dan pendidikan umum secara berseimbangan. Ini mungkin suatu isyarah bahwa beliau cederung berpendapat “ilmu pengetahuan baginya adalah segala-galanya”. Konseb itu di bangun dengan ilmu pengetahuan baginya sudah duluan menjelma dan ilmu pengetahuan dijadikan bagian integral dalam kehidupannya.

Setelah mengakhiri Pendidikan Dasar 4 tahun dikampung halamannya, tepat pada tahun 1949 beliau berangkat hijrah ke Labuhan Haji-Aceh Selatan dan membekali diri di Dayah Darussalam di bawah Pimpinan ABUYA SYECH H. MUHAMMAD WALY AL-KHALIDY. Sosok tubuh yang kecil dengan perawakan tegas serta penuh wibawa yang terkemas dengan alakadar ilmu dan tatakrama serta etika yang mulia kini telah berbaur dan berhadapan dangan orang-orang yang belum pernah beliau kenal, orang-orang yang belum pernah ditegur dan disapa. Begitulah goresan hari-hari pertama beliau berada di Labuhan Haji tercatat mulai awal keberangkatan hingga mengakhiri pendidikan disana ternyata 8 tahun beliau mengantongi ilmu pengetahuan di Labuhan Haji.

Kendatipun sudah berbagai ilmu telah menempati ruang dadanya, namun beliau belum merasa puas/cukup dengan apa yang dimilikinya. Sehingga pada tahun 1959 timbul semangat kepermukaan untuk menggeluti dangan kelezatan ilmunya, seraya membuka dan mentala’ah kitab-kitab gundul yang menjadi seperangkap kitab-kitab pelajaran yang dipelajari pada Lembaga Pendidikan Islam Ma’had ‘Ulum Diniyah Islamiyah (MUDI MESRA) Samalanga yang bertampuk sebagai pimpinan kala itu Tgk. H. Abdul Aziz atau yang lebih terkenal dengan sebutan ABON Samalanga.

Masih bisa dihitung dengan mematahkan jemari untuk mengetahui berapa lama ABU BUDI menimba ilmu di Samalanga, lebih kurang 4 tahun lamanya. Namun walau dalam kurun waktu yang singkat, konon itulah masa mencapai puncak kejayaan ilmunya saat membenahi diri di Pesantren MUDI yang kini menempati peringkat pertama Santri terbanyak di Aceh. Kendatipun sudah berganda tahun Beliau menyelam mencari mutiara ilmu pengetahuan yang berlainan tempat dan suasana, namun semangat yang megerakkan jiwanya untuk memburu ilmu tak kunjung padam, menjelang masa-masa untuk mengakhiri pendidikan di Samalanga Beliau membolak-balikkan pilihan yang berwira-wiri dihadapannya, akhirnya menentukan satu alternatif bahwa Pendidikan Tarbiyah Islamiah dibawah Asuhan Tgk. Zakarya Labaisati yang terletak di Desa Malalo tepatnya ditepi Danau Singkarak Padang Panjang Sumatra Barat sebagai tempat terakhir Beliau membenahi diri sejak tahun 1963 s/d 1967.

Dari uraian tersebut diatas sangat mudah untuk merakalkulasikan berapa lamakah ABU BUDI menyibukkan diri dengan pendidikan Dayah untuk memperkaya ilmunya. Berapa banyak ara melintang, hambatan, tantangan yang menghadangnya, betapa sabar dan tabahnya Beliau dalam menghadapi kepahitan, kesengsaraan dan penderitaan dalam berjuang. Dari berbagai peristiwa yang Beliau alami cenderung terarah untuk membenarkan pendapat yang mengatakan “penderitaan dalam perjuangan merupakan modal demi untuk keberhasilan”. Menurut informasi dari berbagai sumber, beliau terkenal tegas dengan siapa saja dan tak pernah sembunyi-sembunyi dalam memegang prinsip, Beliau tegar menghadapi berbagai tantangan dan cobaan, Beliau juga mempunyai pandangan jauh kedepan, tidak berlebihan Beliau kita katakan berjiwa altraitis dan mempunyai dedikasi yang tinggi, semangat seperti ini patut kita kenang dan kita teladani untuk dapat kita inteprestasikan/aplikasikan dalam hidup dan kehidupan kita sehari-hari.

MENDIRIKAN DAYAH BUDI
Masih dalam tahun yang sama yaitu 1967 Beliau mendirikan dan memimpin Yayasan Dayah Bahrul ‘Ulum Diniyah Islamiyah (BUDI MESJA) sampai akhir hayatnya. Beliau berkeluarga dengan bengawan di Gampongnya yang bernama Hj. Sunainiyah binti Tgk. Ahmad pada tahun 1968 (maaf tanggal dan bulan tidak ditemukan lagi). Kini ABU BUDI tidak sendiri lagi, Beliau adalah pemimpin keluarga yang mesti bertanggung jawab kepada putra-putrinya, naluri kebapakannya mulai tumbuh sejak beliau berumur 20 tahun, bahtera keluarga didayung dengan sangat sederhana, jiwanya damai dan penuh qana’ah (mensyukuri apa adanya) fenomena seperti ini tidak pernah sirna dari jiwanya sampai akhir hayatnya Selama memimpin dayah BUDI, Beliau selalu aktif dalam menjalankan tugas-tugasnya sebagaimana layaknya tangung-jawab seorang pemimpin. Berbagai pengalaman, tenaga dan waktu selalu dimanfa’atkan untuk mencapai tujuan yang mulia, bahkan hampir semua bentuk kepedulian dan loyalitas yang di milikinya, semua yang dituangkan demi kemajuan pendidikan seraya menunjukkan eksitensi yang besar agar tercapai semua program yang menunjang pendidikan di Dayah BUDI.

Beliau adalah figur pemimpin yang aktif, kreatif, kapabel, aseptabel, dan konsten dalam memangku berbagai jabatan, dengan semangat perjuagan dan kegigihan serta kesungguhan Beliau, nama Dayah BUDI melambung tinggi dan tercium kemana-mana, hal ini terbukti dengan sejumlah Santriwan dan Santriwati yang mondok disana, mereka datang dari berbagai pelosok Nusantara, bahkan dari Negara tetangga (MALAYSIA) yang berdomisili di Dayah yang didirikannya.

Dari hari ke-hari ABU BUDI berkiprah sepertinya tidak mengenal lelah dalam menderma-baktikan diri di Dayah BUDI hinga wajar dan pantas saja Dayah BUDI kini bisa tampil beda dengan mengandalkan aset yang di milikinya, tidak berlebihan kalau Dayah BUDI kini memiliki aset yang terbesar di tanah rencong ini, semua potensi yang dimilikinya akan dikontribusikan untuk kepentingan bersama, untuk kepentingan agama dan kesenambungan jalannya roda pendidikan di Dayah yang di pimpinnya. Kerena berulang kali beliau menceritakan dihadapan murid-muridnya Beliau bercita-cita hendaknya Dayah BUDI ini bisa bertahan sampai Nabi Isa AS turun dari langit. Kalimat yang bernada seperti ini diwujudkan dalam wanta-wanti menjelang kepergiannya.

Dalam memimpin Dayah, Abu BUDI tidak hanya fokus pada kualitas pendidikan, tetapi beliau juga memperhatikan perkembangan ekonomis dayah. Beberapa kekayaan/aset Dayah BUDI yang berhasil dihimpunkan selama kepimpinan Beliau adalah :
1. Kebun karet seluas 26 Hektar
2. Kebun rambutan seluas 40 Hektar
3. Tambak udang 2 Hektar
4. 1 (satu) unit Truek roda empat
5. 1 (satu) kilang padi dengan kapisitas 8 (Delapan) Ton per-hari.
6. 100 Hektar lahan tidur, menurut rencana semasa hidup Beliau, akan ditanami kelapa sawit.

Dengan aset yang dimiliki, nama Dayah BUDI melambung tinggi bahkan tepat untuk dicontohi oleh Pesantren-pesantren lain sebagaimana komentar Bapak Syamsudin Mahmud (Gebenur Aceh Kala Itu) di harian serambi Indonesia.

Hal ini terwujud kerja-sama yang baik diantara pimpinan dan bawahan dan kerja keras santriwan maupun santriwati dengan cara bergotong-royong secara aplus-aplusan yang dikeordinir langsung oleh Beliau. Pada suatu kutika pernah Beliau turun tangan langsung ikut membabat semak-belukar bersama murid-muridnya sebagaimana yang diceritakan oleh (Alm) Tgk. Muhammad Badawy selaku bendaharawan BUDI saat itu, keperdulian Beliau terhadab perkembangan Dayah BUDI sangat besar, tidak sedikit tenaganya terkuras untuk kepentigan orang banyak, agama, nusa dan bangsa. Sering sekali nampak ekspresi wajah dengan dahi yang berkerut untuk melahirkan ide dan argumern yang cemerlang, keberadaan Dayah BUDI dari berbagai sisi kehidupan Beliau memang tidak dapat dipisahkan, ibarat uang logam yang tidak dapat dipisahkan antara satu sisi dengan sisi yang lainnya.

MURID ABU BUDI LAMNO

Abu lamno di kenal sebagai ulama yang gigih mencetak kader ulama. Beberapa ulama yang merupakan hasil didikan Abu lamno antara lain:

1. Tgk. H. Asnawi Ramli Pimpinan Dayah BUDI sekarang ini sebagai pengganti Abu Ibrahim Lamno.
2. Tgk. H. Syamaun Risyad Lc. Pimpinan Dayah ‘Ulumudin – Cunda Aceh Utara
3. Drs. Tgk .H. Mukhtar Wahab Pimpinan Dayah Darussa’adah – Teping Raya Pidie
4. Tgk. H. Anwar Pimpinan Dayah Miftahul’Ulum – Tanoh Mirah Aceh Utara
5. Tgk. Hasballah Ali Pimpinan Dayah Darutthalibin – Nisam Aceh Utara
6. Tgk. H. M. Amin Pimpinan Dayah Darul Kamaliyah – Keumala pidie
7. Tgk. H. M . Jamil Ibrahim Pimpinan Dayah Jeumala Amal – Lueng putu pidie
8. Tgk. H. Ramli Pimpinan Dayah Ruhul Islam – Krueng Manee Aceh Utara
9. Tgk. H . Athailah Ishaq Pimpinan Dayah Yayasan Ulee Titie – Siron Aceh Besar
10. Tgk. Sofyan Pimpinan Dayah Babul ’Ulum – Teunom Aceh Barat
11. Tgk. H. Hasboh Isa Pimpinan Dayah Raudhatul Islam – Geudong Aceh Utara
12. Tgk. Amri Ahmad Pimpinan Dayah Ruhul Islam – Tanah Luas Aceh Utara
13. Tgk. Walidin Pimpinan Dayah RUDI – Tanah Luas Aceh Utara
14. Tgk. Sunarni Pimpinan Dayah Nidaul Islam – Lampung Barat
15. Tgk. H. Mustafa Thayib Pimpinan Dayah Al-Azhar – Simpang Mulieng Aceh Utara
16. Tgk. Usman Ishaq Pimpinan Dayah NUDI – Meurah Mulia Aceh Utara
17. Tgk. Mustafa Thayib Pimpinan Dayah Sayed Mustafa – Karang Panjang Jambi
18. Tgk. H. Muhammad Dahlan Pimpinan Dayah Darul Mudaris – Meurah Mulia Aceh Utara
19. Tgk. Syarifudin Ibas Pimpinan Dayah Babul ’Ulum – Samatiga Aceh Barat
20. Tgk. Hilmi Pimpinan Dayah Yayasan Al-Anshar – Krung sabe Aceh Jaya
21. Tgk. Nazaruddin Pimpinan Dayah – Pante Pisang Peusangan Bireuen
22. Tgk. H. Abdurrani Pimpinan Dayah Babul Huda – Aceh Barat
23. Tgk. H. Bukhari Pimpinan Dayah BUDI Muthmainnah – Ulee Kareng Banda Aceh
24. Tgk. Azmi Syah Pimpinan Dayah Nurussalam – Abdya
25. Tgk. Muhammad Yunus Pimpinan Dayah Miftahul Jannah – Wayla Induk
26. Tgk. Abdul Malek Pimpinan Dayah Miftahul ’Ulum – Wayla Barat
27. Tgk. Muslem Pimpinan Dayah Syamsul Fata – Wayla Barat
28. Tgk. Jalaluddin Basyah Pimpinan Dayah Babul Huda – Keluang Aceh Jaya
29. Tgk. Marzuki Pimpinan Dayah MUDI Meska – Kuala Daya Aceh Jaya
30. Tgk. Rahimudin Pimpinan Dayah Darul ‘Amilin – Patek Aceh Jaya
31. Tgk. H. Muslem Pimpinan Dayah Darunnizam – Teunom Aceh Barat
32. Tgk. H. Muhammad Syam Pimpinan Dayah Babul ‘Ulum – Teunom Aceh Jaya
33. Tgk. Zulkifli Ahmad Pimpinan Dayah MUDI – Abdya
34. Tgk. Abdurrazy Pimpinan Dayah Darul Ilham – Labuhan Haji Aceh Selatan
35. Tgk. H. Ibrahim Pimpinan Dayah Darul Yaqin – Banda Sakti
36. Tgk. Abdul Munir Pimpinan Dayah Bahrul’Ulum Al-Waliyah – Nibong
37. Tgk. Burhanuddin Pimpinan Dayah BUDI Malikussaleh – Idi Cut Aceh Timur
38. Tgk. Adnan Pimpinan Dayah Babul ’Ulum – Muara Batu
39. Tgk. H. Abdurrazak Lc. Pimpinan Dayah Daruzzahidin – Lamce Aceh Besar
40. Tgk. Sanusi Pimpinan Dayah Darul Huda – Lhokseumawe
41. Tgk. Jalaluddin Pimpinan Dayah Qiraatul Huda – Sawang Aceh Utara
42. Tgk. Yahya Pimpinan Dayah Subulusalam – Kuta Cane Aceh Tenggara
43. Tgk. Atlibas Dami Pimpinan Dayah DAMI – Simpang Ulim Aceh Timur
44. Tgk. Burhanuddin Pimpinan Dayah Bayanul Huda – Perlak Aceh Timur
45. Tgk. Asnawi Pimpinan Dayah Serambi Mekah – Idi Aceh Timur
46. Tgk. Muhammad Negro Pimpinan Dayah NUDI – Sungai Mas Aceh Barat
47. Tgk. Agustiawan Jamal Pimpinan Dayah Bustanul Muta’Alimin – Aceh Besar
48. Tgk. Ihsan Zulkifli Bukhari Pimpinan Yayasan Dayah Darul ‘Alimin (YADDA) –Aceh Besar,
49. Tgk. Rahmat Sadli Pimpinan Dayah Babarrahmah – Lamblang Trieng Aceh Besar
50. Tgk. Said Khaidir Pimpinan Dayah BUDI Ihsani – Bakauhulu Lb. Haji Aceh Selatan
51. Tgk. A. Razi Pimpinan Dayah Darul Ilham – Sawah Liat Lb. Haji Aceh Selatan
52. Tgk. Ja’far Pimpinan Dayah Sirajul Ibad – Rhot Tengah Meukek Aceh Selatan

PIMPINAN DAN KETUA ORMAS
Disamping Beliau sibuk sebagai Pimpinan Dayah, ABU BUDI juga aktif dalam berorganisasi kemasyarakatan, sosial dan politik, diantaranya : pada tahun 1978 Beliau menjabat ketua BHA (Badan Harta Agama) Kecamatan Jaya dan ketua Inshafuddin Aceh Barat, sedangkan jabatan lain yang masih Beliau pimpin sampai saat ABU menghembus nafas terakhir adalah ketua IPHI (Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia) Kecamatan Jaya, ketua DPC PERTI Aceh Barat dan ketua DPC PPP Aceh Barat.

WAFATNYA ABU BUDI
Tepat pada hari Rabu tanggal 14 Mei 1997 M. bertepatan dengan 7 muharram 1418 H. pukul 23.00 WIB (11 malam) ABU berpulang kerahmatullah dalam usia 61 tahun, yang diduga akibat sesak nafas. Dengan meninggalkan seorang istri yang bernama Hj. Sunainiah binti Tgk. Ahmad juga meninggalkan 2 orang putra dan 2 orang putri. Masing-masing, Tgk. Nabhani 27 tahun, Afifuddin 12 tahun, Chairiati 22 tahun dan Nunul Hidayati 5 tahun. Namun kedua orang putri Beliau juga telah berpulang kerahmatullah saat musibah gempa Tsunami tahun 2004 yang silam.

Pimpinan Dayah BUDI yang juga ketua DPC PPP Aceh Barat tersebut menghembuskan nafas terakhir dirumah kediamannya Gampong Jangeut Kec. Jaya Kab. Aceh Jaya, yang disaksikan oleh Istri, Anak dan Dewan Guru Dayah BUDI.

Lalu langit diatas bumi Teuku Umar yang terbalut mendung hitam saat itu seolah-olah turut berduka dan sedih mengiringi kepergiannya. Komplek Dayah BUDI tempat Beliau mewarisi ilmunya sejak 30 tahun yang lalu larut dalam kepiluan, ribuan masyarakat berdatangan mengucapkan belasungkawa serta irigan do’a buat ABU tercinta.

Abu BUDI LAMNO
Jenazah Abu Ibrahim Lamno
Menjelang detik detik terakhir ajal menjemputnya ABU sempat menitipkan amanah/wasiat kepada keluarga, Dewan Guru dan Santri yang menjenguknya di malam yang runyam itu “ JAGALAH PESANTREN INI BAIK-BAIK” Demikianlah wanta-wanti yang diulang-ulanginya sebagaimana yang di hikayahkan oleh Tgk. Atlibas Dami (Staf Pengajar Dayah BUDI).

Adapun bentuk kegiatan ABU di Dayah yang dapat mencium ajalnya adalah mulai pembukaan pengajian santri yang baru naik kelas III Tsanawiyah dan kelas II ‘Aliah, setelah ABU menyelesaikan tugas yang mulia, ABU pun beranjak pulang kerumah yang terpaut sekitar 100 Meter, begitu tiba di rumah ABU mengeluh sakit sambil mengurut dada, seluruh angota keluarga, Dewan Guru dan Santri cemas, secepatnya mereka mejemput pertologan Mentri dan Dokter terdekat, namun ketika kedua Dokter dan Mentri tiba ternyata ABU telah berpulang kerahmatullah. Demikianlah desir-bisikan Dokter Handoko dan Dr. Sri Wahyuni sebelum meninggalkan rumah duka.

Kubah Maqam Abu Ibrahim Lamno
Maqam Abu Ibrahim Lamno
Berita kepulangan ABU begitu cepat menyebar, gelombang masyarakat tak pernah henti berdatangan walau acara pemakaman selesai pada pukul 16.30WIB (04.30 sore) dihari yang pilu itu, bahkan karena meledaknya masyarakat yang berdatagan shalat jenazah yang dilangsungkan di Mesjid Komplek Dayah BUDI terpaksa digilirkan belasan kali. Gubernur Aceh Syamsudin Mahmud bersama Danrem 012/Teuku Umar, Kapolda, Kajari, Ketua MUI (Alm) H. soefyan Hamzah dan belasan pejabat tingkat I tiba di rumah duka sekitar pukul 15.00 WIB, sedangkan Bupati Kepala Daerah tingkat II Aceh Barat (Alm) Drs. T. H. Rosman, Dandim 0105, Kapolres dan sejumlah pejabat yang lain tiba terlebih dahulu dari rombogan Gebernur. Semua para pejabat Pimpinan Pesantren, ‘Alim Ulama yang larut dalam lembah duka tidak akan kembali sebelum prosesi pemakaman selesai, kemudian dalam geyuran hujan lebat yang seolah-olah turut larut dalam kepiluan ikut mengantar Almarhum ABU BUDI yang diturunkan ketempat peristirahatan terakhir disamping rumahnya sekitar pukul 16;30 WIB.

Keharuan yang dalam menyertai keberangkatan sang tokoh, itulah ABU BUDI. Sosok Ulama yang sederhana, qana’ah, kharisma, teguh pendirian, memiliki pandangan yang luas sarta tidak pernah mengenal lelah dalam menderma-baktikan hidupnya demi kepentigan agama, nusa dan bangsa, selalu istiqamah dalam memegang erat prinsip-prinsip hidup yang diyakini kebenarannya, yang benar dikatakan benar, yang salah dikatakan salah, yang hitam dikatakan hitam dan yang putihpun tetap dikatakan putih

dayah budi mesra pasca tsunami 2004
dayah budi mesra pasca tsunami 2004
Inilah biografi singkat tentang (Alm.) ABU BUDI yang pantas kita jadikan perhatian, panutan dan suri-tauladan bagi kita semua terutama sekali bagi kita semua untuk mengikuti jejak beliau. Semoga Allah melimpahkan barakah ilmu beliau kepada kita semua dan semoga Allah melahirkan ABU BUDI yang lain di bumi Aceh tercinta ini khususnya dan Nusantara ini umumnya.




Share artikel ini :
Dapatkan update topik terbaru via email dengan mendaftarkan alamat email anda di form di bawah ini:

Setelah memasukkan email dan klik subscribe, cek email lalu ikuti link verifikasi.

3 komentar untuk Sejarah Kehidupan Abu Ibrahim Lamno (Abu BUDI)

السلام عليكم
Saya pernah bertemu Alm Abu Lamno di Dayah ALMUNA Aluelhok Peureulak Aceh Timur sekitar th 1995...beliau fasih berbahasa Minang (Padang). Saat itu belaiu mengatakan pernah menuntut Ilmu di Malalo Sumbar.

Abu adalah contoh yang sangat luarbiasa dalam kepemimpinan dan kejujuran dalam menjaga amanah ummat. Beliau memisahkan apa yang menjadi miliknya dan milik pesantren secara cermat.

Abu adalah contoh yang sangat luarbiasa dalam kepemimpinan dan kejujuran dalam menjaga amanah ummat. Beliau memisahkan apa yang menjadi miliknya dan milik pesantren secara cermat.