Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Ghibah yang di bolehkan

Ghibah yang di bolehkanDalam kitab al-Ta’rifat, ghibah adalah menyebutkan kepada orang lain sesuatu yang dibencinya sedangkan orang tersebut tidak ada dihadapannya. Namun,bila keburukan tersebut tidak pernah dilakukannya maka itu namanya “ buhtaan” artinya mengatakan keburukan terhadap orang lain sedang ia tidak pernah melakukannya. Namun bila keburukan tersebut dilontarkan langsung dihadapannya maka itu dinamakan “ syatm

الغيبة بكسر الغين أن تذكر أخاك بما يكرهه فإن كان فيه فقد اغتبته وإن لم يكن فيه فقد بهته أي قلت عليه ما   لم يفعله وذكر مساوىء الإنسان في غيبته وهي فيه وإن لم تكن فيه فهي بهتان وإن واجهه فهو شتم  الجرجانى فى التعريفات

Ghibah adalah sebuah perbuatan yang tertcela dan kerap terjadi dalam kehidupan bermasyarakat bahkan siapa saja bisa melakukannya. banyak sekali mafsadah dan kerusakan yang ditimbulkannya, seperti peperangan dan perpecahan antar umat.
Namun, yang jadi masalah bagaimana kalau ghibah itu dilakukan untuk kebaikan atau karena alasan-alasan tertentu. Apakah mendapan legalitas dalam agama untuk melakukannya. Hal ini, tidak jarang menimbulkan tanda tanda tanya di dalam hati mengenai status hukumnya. Berikut ada beberapa model ghibah yang dibolehkan dalam agama, yaitu:

1. Seseorang yang dimintai informasi mengenai keburukan dan kekurangan orang yang hendak dinikahi orang,
ini dibolehkan apabila hanya dengan cara ghibahlah jalan satu-satu satunya untuk mengungkapkan keburukan tersebut. Namun bila masih mungkin dengan hanya mengatakan “ jangan kamu nikahi ia, ia tidak cocok dengan mu” maka tidak boleh menyebutkan keburukanb calon pasangan tersebut bahkan haram hukumnya Misalkan ada seorang dara baro atau linto baro yang bertanya megenai ciri spesifik serta akhlak, perangai dan budi pekerti pasangan yang akan dinikahinya maka terhadap orang yang dimintai keterangan tersebut boleh saja menceritakan keburukan calon suami atau istri tersebut. Bahkan itu termasuk dalam bagian dari nasehat.
Masalah ini persis seperti kejadian Rasulullah ketika Fathimah binti Qis melapor kepada Rasulullah bahwa Abu Jaham dan Mu’awiyah meminangnya, lalu ia bermusyawarah dengan siapa diantara mereka yang terbaik. Lalu Rasulullah menjawab dan mengatakan Abu Jaham dengan Ungkapan

أما أبو جهم فلا يضع العصا عن عاتقه
“Adapun Abu Jaham ia tidak pernah melepaskan tongkat dari pundaknya”

Sebuah ungkapan sindiran atau kianayah bagi orang yang suka memukul atau ada juga yang mengatakan ungkapan bagi orang yang suka bepergian. Lalu rasulullah mengatakan mengenai Mu’awiyah, bahwasanya ia merupakan seorang yang sangat miskin. Lalu Rasulullah menyarankan kepada Fathimah sebaiknya kamu menikah saja dengan Usamah bin Zaid.
Nah, informasi yang diberikan Rasulullah kepada Fathimah mengenai Abu jaham dan Mu’awiyah ini termasuk dalam ghibah yang tidak diharamkan.

2. Ghibah terhadap orang yang berbuat fasek secara terang-terangan,
namun ghibah ini baru dibolehkan dalam agama selama ghibah tersebut tertuju pada hal-hal yang menyebabkannnya fasek serta dengan tujuan supaya bisa menjadi teguran dan pelajaran bagi sifasek, hendaknya ia kembali ke jalan yang tepat dan meniggalkan kefasekannya.

3. Gibah ‘ala wajhi al- Tazallum
Mengunkapkan kepada orang lain bahwa ia dizalimi oleh seseorang. Contohnya, si A berkata “ Si Fulan telah menzalimi saya”, “si fulan telah mencuri harta saya” dan lain- lain. Ungkapan ini terjadi dari seseorang yang dizalimi oleh orang lain kemudian ia membuat laporan kepada orang lain atau pihak ketiga mengenai kesalahan dan keburukan orang yang menzaliminya.

4. Ghibah ‘ala wajhi al-Tahziir
Yaitu menceritakan keburukan seseorang sebuah golongan dengan tujuan supaya orang lain dapat menjauhkan diri dari objek yang dighibah tersebut karena berpotensi akan menyebabkan terjadinya kezaliman dan bahaya sama.

5. Ghibah ‘ala wajhi al-isti’anah
Yaitu komentar terhadap orang lain tidak secara langsung, namun dalam bentuk ungkapan permintaan pertolongan. Contohnya seperti tolong aku si Fulan menzalimi saya. Ini juga merupakan salah satu bentuk ghibah yang dibolehkan dalam agama.

6. Ghibah dikarenakan menyebutkan ciri-ciri seseorang
Ini adalah salah satu ghibah yang kerap terjadi dalam kehiduan kita sehari-hari. Seperti seseorang bertanya “Apakah kamu kenal si A yang kakinya pincang?”.

Mengenai masalah ghibah yang dibolehkan ini para ulama telah menyusunnya dalam sebuah nazam, yaitu :

القدح ليس بغيبة في ستة ۩ متظلم ومعرف ومحذر
ولمظهر فسقا ومستفت ومن ۩ طلب الإعانة فر ازالة المنكر

Baca juga cara taubat dari dosa ghibah

Download kitab Ahsanul kalam fima yata`allaqu bisunnah wal bid`ah min al-Ahkam , أحسن الكلام فيما يتعلق بالسنة و البدعة من أحكام

kitab Ahsanul kalam fima yata`allaqu bisunnah wal bid`ah min al-AhkamKaum wahabi/salafi tidak pernah berhenti mempropagandakan ajaran tabdi` dan takfir mereka. Sebagai golongan khawarij di akhir masa sifat mereka tak jauh berbeda dengan khawrij yang hidup di awal masa Islam, mudahnya membid`ahkan dan mengkafirkan. Mereka akan melakukan berbagai macam upaya untuk meluluskan niat mereka, maka tak heran banyak kitab-kitab para ulama yang mereka tahrif, semuanya ini hanyalah demi mencapai tujuan mereka. Selain itu mereka juga sering mengutip kalam para ulama-ulama besar dengan setengah-setengah untuk mecapai maksud mereka.

Salah satu kasus pengutipan kalam ulama setengah-setengah adalah pengutipan kalam syeikh Muhammad al-Bakhit al-Muthi`y al-Hanafi tentang sejarah maulid, di mana mereka mengutip kalam syekh al-Muthi`I bahwa perayaan maulid pertama kali di lakukan oleh kaum syiah Fathimiyah di Mesir.
Tulisan tentang hal ini telah menyebar luas di internet bahkan beberapa hari yang lalu salah satu dari mereka menulis komentar dalam postingan kami tentang maulid Nabi dengan copi paste dari dunia maya tentang bantahan terhadap dalil perayaan maulid Nabi.

Syeikh Bakhit al-Muthi`i
Syeikh Bakhit al-Muthi`i 
Kami yakini bahwa sang penulis komentar tersebut tidak pernah membaca kitab Ahsanul Kalam tesebut dan juga tidak mengenal siapa Syeikh al-Muthi`i tersebut. Kalau mereka mengetahui siapa syeikh Muhammad Bakhit al-Muthi`I dan juga membaca pemikirian beliau dalam berbagai kitab beliau pasti mereka tidak akan mau mengambil kalam syeikh al-Muthi`i untuk di jadikan sebagai dalil. Hal tersebut karena pengambilan kalam syeikh al-Muthi`i hanya akan menjadi hujjah alaihim bukan lahum.

Maka perlu kami terangkan sedikit profil syeikh al-Muhti`I dan pemikiran beliau. Semoga menjadi pegangan kuat bagi para kawan-kawan aswaja dan membuat kaum wahabi semakin kalang kabut.

Syeikh Muhammad Bakhit al-Muhi`I al-Hanafi di lahirkan di desa Muthi`ah sebuah desa yang masuk dalam wilayah Suyuth pada tahun 1271 H/1856 M. beliau belajar di al-azhar sehingga beliau menjadi seorang fuqaha` di masanya dan di angkat menjadi qadhi  di beberapa daerah dalam beberapa waktu kemudian di angkat menjadi mufti negri Mesir pada tahun 1914 M, beliau wafat tahun 1935 M. beliau banyak meninggalkan murid dii antaranya Sayyid Abdullah Shiddiq al-Ghumary, Syeikh Abdul Wahab Abdul Lathif dll.
Beliau merupakan salah satu ulama yang menentang keras gerakan pembaharuan yang di motori oleh Syeikh Muhammad Abduh. Selain itu beliau juga sangat gencar memperingtatkan umat islam akan bahaya dari pemikiran sesat Ibnu Taimiyah, hal ini terlihat dari salah satu kitab beliau Tadhir Fuad min Dans al-i`tiqad, satu kitab yang beliau karang untuk memperingatkan bahaya pemikiran sesat Ibnu Taimiyah, beliau menyatakan bahwa Ibnu Taimiyah merupakan seorang ahli bid`ah yang gara-gara pemikirannya banyak kalangan yang terjerumus dalam kesesatan. Kalau saja pihak wahabi yang mengutip kalam beliau tentang sejarah maulid tau bagaimana keyakinan syeikh al-Muthi terhadap tokoh idola mereka, Ibnu Taimiyah, pasti mereka akan mencela beliau habis-habisan.
Biografi beliau juga bisa di baca di Dar alifta.org

Kembali ke kitab Ahsanul Kalam. Kitab ini dapat kita katakan sebagai kitab penolak paham tabdi` dan takfir kaum wahabi, di mana banyak amalan yang di anggap bid`ah oleh kaum wahabi tetapi justru di bolehkan oleh Syeikh al-Muthi`idalam kitab tersebut.

Untuk masalah maulid, Syeikh al-Muthi`i memulainya tepat pada halaman 59 dengan menceritakan asal mula perayaan maulid di mesir yang di lakukan oleh kuam Syiah Fathimiyah, kemudian al-Muthi`I menceritakan jalannya perayaan maulid pada masa Syiah berkuasa di Mesir. Kemudian pada halam 63, syeikh al-Muthi`I mulai mengutip pujian Abu Syamah terhadap perayaan maulid pada masa beliau, kemudian di lanjutkan dengan mengutip kalam Imam Suyuthi dalam kitab Husnul maqashid.

Pada halaman 70, syeikh al-Muthi`i mulai mengambil kesimpulan. Kesimpulan beliau sama dengan yang di tuliskan oleh Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dan Imam Sayuthi dan juga ulama-ulama lainnya. Kaum anti maulid yang mengutip kalam beliau, tidak lagi membaca kesimpulan beliau ini, tetapi mereka menutup mata sebagaimana matahati mereka telah tertutup.

Atas dasar inilah, maka kami merasa perlu mengupload kitab Ahsanul kalam, supaya menjadi lampu bagi menerangi tipuan-tipuan dari kaum wahabi sesat.

Kitab Ahsanul kalam fima yata`allaqu bisunnah wal bid`ah min al-Ahkam
bisa didownload DI SINI.

Biografi Syeikh Ibrahim al-Bajuri

Syeikh Ibrahim al-BajuriNama al-Bajuri merupakan nama yang tak asing lagi di kalangan para pelajar Mazhab Syafii. Hal ini karena salah satu kitab fiqih yang menjadi kurikulum menengah adalah Hasyiah al-Bajuri syarah dari Matan Ghayah wa Taqrib. Di Dayah Salafiyah di Aceh khususnya, kitab ini biasanya di pelajari di pada kelas 2. Bagaimana lengkapnya profil Syeikh Ibrahim al-Bajuri ini. Untuk lebih lengkapnya simak di bawah ini.

Nama beliau adalah Burhanuddin Ibrahim al-Bajuri bin Syeikh Muhammad al-Jizawi bin Ahmad. Beliau di lahirkan di desa Bajur dari propinsi al-Munufiya Mesir tepat pada tahun 1198 H/1783 M. Sejak kecil beliau telah hidup dalam kalangan orang shaleh karena orang tua beliau juga merupakan seorang ulama yang alim dan shaleh.

Tahun 1212 H beliau berangkat ke al-Azhar untuk mengambil ilmu dari para syeikh-syeikh di Universitas tertua tersebut. Pada tahun 1213 H/1798 M Perancis telah menduduki Mesir sehingga membuat beliau keluar dari al-Azhar dan tinggal di Jizah selama beberapa tahun, dan akhirnya kembali lagi ke al-Azhar pada tahun 1216 H ( 1801 M ) setelah Perancis keluar dari Mesir.

Diantara guru-guru beliau di al-Azhar adalah :
  1. al-Allamah Syeikh Muhammad al-Amir al-Kabir al-Maliki, beliau seorang ulama terkenal di mesir, seluruh ulama mesir ketika itu mengambil ijazah dan sanad kepada beliau, dari beliau, Syeikh al-Bajuri mendapat ijazah seluruh yang ada dalam kitab tsabat beliau.
  2. al-Allamah Abdullah asy-Syarqawi, beliau merupakan ulama yang alim dan terkenal di Mesir dan di dunia islam, karangannya yang banyak membuat nama beliau meroket di seantero dunia, terlebih lagi beliau mendapat jabatan memimpin al-Azhar dan menjadi Syeikhul Azhar (kedudukan yang tertinggi di al-Azhar ). Di antara karangan beliau yang terkenal dan di pakai di Pesantren adalah Hasyiah Syarqawi `ala Tahrir, Hasyiah Syarqawi `ala Hudhudi dan Hasyiah `ala Hikam.
  3. Syeikh Daud al-Qal`i, beliau merupakan ulama yang bijak dan arif.
  4. Syeikh Muhammad al-Fadhali, beliau seorang ulama al-Azhar yang alim dan sangat mempengaruhi jiwa Syeiikh Ibrahim al-Bajuri.
  5. Syeikh al-Hasan al-Quwisni, beliau adalah seorang ulama yang hebat sehingga di beri tugas untuk menduduki kursi kepemimpinan al-Azhar dan dilantik menjadi Syeikhul azhar pada masanya.Beliau memiliki semangat yang besar dalam belajar dan mengajar. Beliau menghabiskan waktu dari pagi hari hingga waktu isya malam hanya bersama pelajar mengajar mereka dan menulis kitab. Setelah itupun beliau masih menyempatkan untuk membaca al-quran dengan suara beliau yang merdu sehingga banyak orang yang datang untuk mendengarkannya.

Karangan Imam Ibrahim Al-Bajuri

Dalam masa yang begitu muda beliau telah mampu menghasilkan beberapa buah karya yang begitu bernilai, hal ini tentu saja disebabkan kepintaran dan keberkatan ilmu beliau, diantara kitab - kitab yang beliau karang adalah :
  1. asyiyah Ala Risalah Syeikh al-Fadhali, merupakan ulasan dan penjelasan makna " La Ilaha Illa Allah ", kitab ini merupakan kitab yang pertama sekali beliau karang, ketika itu umur beliau sekitar dua puluh empat tahun.
  2. Hasyiyah Tahqiqi al-Maqam `Ala Risalati Kifayati al-`Awam Fima Yajibu Fi Ilmi al-Kalam, kitab ini selesai pada tahun 1223 H.
  3. Fathu al-Qaril al-Majid Syarh Bidayatu al-Murid, selesai di karang pada tahun 1224 H.
  4. Hasyiyah Ala Maulid Musthafa Libni Hajar, selesai pada tahun 1225 H.
  5. Hasyiyah `Ala Mukhtasor as-Sanusi (ummul Barahain) , selesai pada taun 1225 H.
  6. Hasyiyah `Ala Matni as-Sanusiyah fil mantiq, selesai pada tahun1227 H.
  7. Hasyiah `ala Matn Sulama fil mantiq
  8. Hasyiah `ala Syarh Sa`ad lil aqaid an-Nasafiyah
  9. Tuhfatu al-Murid `Ala Syarhi Jauharatu at-Tauhid Li al-Laqqani, selesai pada tahun 1234 H.
  10.  Tuhfatu al-Khairiyah `Ala al-Fawaidu asy-Syansyuriyah Syarah al-Manzhumati ar-Rahabiyyah Fi al-Mawarits, selesai pada tahun 1236 H.
  11. ad-Duraru al-Hisan `Ala Fathi ar-Rahman Fima Yahshilu Bihi al-Islam Wa al-Iman, selesai pada tahun 1238 H.
  12. Hasyiyah `Ala Syarhi Ibni al-Qasim al-Ghazzi `Ala Matni asy-Syuja`i, selesai di tulis pada tahun 1258 hijriyah, kitab ini merupakan kitab yang di pelajari di al-Azhar Syarif dan seluruh pesantren di Nusantara sampai sekarang. Kitab ini beliau tulis di Makkah tepat di hadapan Ka`bah dan sebagiannya di Madinah tepat di samping mimbar Rasulullah dalam masjid Nabawi.
  13. Fathul Qarib Majid `ala Syarh Bidayah Murid fi ilmi Tauhid, selesai beliau karang tahun 1222 H
  14. Manh al-Fattah `ala Dhau’ al-Mishabah fin Nikah
  15. Hasyiah `ala Manhaj, tidak sempat beliau sempurnakan
  16. Hasyiah `ala Mawahib Laduniyah `ala Syamail Muhammadiyah Imam Turmuzi
  17. Tuhfatul Basyar, ta`liqat `ala Maulid Ibnu Hajar al-Haitami
  18. Ta`liqat `ala tafsir al-Kisyaf
  19. Hasyiah `ala Qashidah Burdah
  20. Hasyiah `ala Qashidah Banat Sa`ad bagi Ka`ab bin Zuhair
  21. Hasyiah `ala Matn Samarqandiyah fi ilmi Bayan
  22. Fathul Khabir Lathif fi ilmi Tashrif
  23. Durar Hisan `ala fath Rahman fima Yahshulu bihi Islam wal Iman
  24. Hasyiah `ala maulid ad-dardir
  25. Risalah fi ilmi Tauhid yang kemudian di syarah oleh ulama Nusantara, Syeikh nawawi al-bantani dengan nama kitab beliau Tijan ad-dadari.
  26. Hasyiah `ala Qashidah Burdah lil Bushiry
  27. dll

Menjadi Grand Syeikh Al-Azhar

Setelah Imam al-Bajuri mendapatkan ilmu yang banyak dari para gurunya pada akhirnya beliau diangkat menjadi seorang tenaga pendidik di al-Azhar asy-Syarif, dengan tekun dan keikhlasan beliau memulai kehidupannya dengan mengajar dan belajar, hingga pada akhirnya beliau mendapat posisi yang tinggi di al-Azhar, pada tahun 1263 H/1847 M beliau diangkat menjadi Syeikhul al-Azhar ke Sembilan belas menggantikan Syaikh Ahmad al-Shafti yang telah meninggal. Pada saat itu pemimpin Mesir Abbas I beberapa kali mengikuti pengajian beliau di al-Azhar dan mencium tangan beliau.

Di zaman pemerintahan Said Pasha, Syaikh Ibrahim al-Bajuri jatuh sakit. Beliau kerepotan mengurus al-Azhar. Kemudian beliau mewakilkan urusan administrasi al-Azhar kepada empat orang, yaitu Syaikh Ahmad al-adawi, Syaikh Ismail al-halabi, Syaikh Khalifah al-Fasyni dan Syaikh Musthafa al-Shawi. Empat orang syaikh tersebut kemudian mengangkat seorang ketua yaitu Syaikh Musthafa al-Arusi. Al-Azhar tidak mengangkat Syeikh Al-azhar lain sehingga beliau wafat.

Setelah menebarkan ilmunya kepada generasi selanjutnya, akhirnya Imam Ibrahim al-Bajuri menghembuskan nafas terakhirnya meninggalkan dunia yang fana menghadap Allah s.w.t. dengan tenang dan ridha. beliau meninggal duani pada hari kamis tanggal 28 dzulqa`idah tahun 1276 H bertepatan pada 19 juli 1860 M, beribu pelayat hadir untuk menyalatkan Imam besar Ibrahim al-Bajuri, beliau di shalatkan di Masjid al-Azhar asy-Syarif dan di kuburkan di kawasan Qurafah al-Kubra masyhur dengan sebutan al-Mujawarin.

Pemegang teguh Aqidah Asya`irah

Pada masa hidupnya Syeikh Bajuri mazhab `Asy`ari berkembang begitu pesat, tidak berbeda dengan masa masa pemerintahan Mamalik yang menebarkan manhaj `Asy`ariyyah, begitu juga pada masa al-Ayyubiyyah dari masa pemerintahan Salahuddin al-Ayyubi sampai hilangnya al-Ayyubiyyah dan bertukar menjadi pemerintahan Mamalik.
Mazhab `Asya`irah merupakan mazhab ahlussunnah yang berkembang dari negeri barat didaerah Maroko sampai negeri Indonesia, pada masa Ibrahim al-Bajuri sudah mulai terdengar dan hidup mazhab yang berbeda dari mazhab ahlussunnah Wal Jama`ah, yaitu mazhab Wahabi di bahagian timur negeri Hijaz, ketika itu mereka belum dapat menguasai semenanjung Arab, aqidah mereka sangat bertentangan dengan mazhab Ahlusunnah Wal Jama`ah ang di bawa oleh ulama-ulama terdahulu, mereka berpendapat ulama-ulama Ahlussunnah yang bermanhaj `Asya`irah adalah sesat lagi menyesatkan dan mesti dibasmi habis, tetapi wazhab wahabi ketika itu belum bisa berkembang di sebabkan adanya kekhalifahan Utsmaniyah yang menjaga mazhab ahlussunnah Wal Jama`ah al-`Asya`irah.

Diantara hasil tulisan Imam al-Bajuri yang membicarakan tentang tauhid didalam minhaj al-`Asy`ariyah adalah:
  1. Hasyiyah Kifayatu al-`Awam yang di beri nama Tahqiqul al-Maqam, kitab Kifayatu al-`Awam merupakan karangan guru Imam al-Bajuri yaitu Syeikh Muhammad al-Fadhali, kitab ini di pelajari oleh pelajar-pelajar al-Azhar dan di pondok-pondok pesantren dan dayah-dayah di Nusantara. Kitab ini menjelaskan sifat dua puluh yang wajib bagi Allah, dua puluh sifat yang mustahil bagi Allah, dan satu sifat yang boleh bagi Allah, kemudian di terangkan sifat-sifat yang wajib, mustahil dan boleh bagi para Rasul-Rasul Allah, kitab ini sangat bagus sekali di pelajari bagi pelajar ilmu tauhid tingkat pemula.
  2. al-Fathu al-Qarib Majid Syarah Bidayat al-Murid, kitab ini adalah karangan al-Imam as-Siba`i, didalamnya memuat tauhid aqidah al-`Asya`irah, Imam Ibrahim mencoba mensyarah dan menjelaskan isi kitab ini agar mudah di fahami oleh para pelajar.
  3. Hasyiyah `Ala Matni as-Sanusiyah, kitab Matan as-Sanusiyah di karang oleh Imam Sanusi, seorang ulama mazhab Maliki yang teguh berpegang kepada mazhab Asy`ari dalam aqidah. Beliau mengarang tiga kita tauhid yang terkenal : shughra yang di kenal dengan nama ummul Barahain, wushta (kemudian beliau syarah sendiri) dan kubra. Matan Sanusi yang di syarah oleh Imam Ibrahim al-Bajuri adalah Shughra yang juga banyak di syarah oleh ulama lain, seperti al-Hudhudi (kemudian di beri hasyiah oleh Syeikh Abdullah Syarqawi dan menjadi kitab pelajaran aqidah di Dayah di Aceh setelah mengkhatamkan kitab Syeikh al-Bajuri, Hasyiah Kifayatul Awam). Kitab Matn as-Sanusi ini menjadi bahan pelajaran kelas pemula di berbagai lembaga pendidikan Ahlussunnah Wal Jama`ah, baik di negeri arab maupun di Indonesia, Malaysia dan Tailand.
  4. Tuhfatu al-Murid `Ala Syarah Jauharatu at-Tauhid, kitab ini merupakan Syarah dari matan manzhumah Jauharatu at-Tauhid yang sangat terkenal di kalangan para penuntut ilmu agama, hasil karya Syeikh Ibrahim al-Laqqani, beliau merupakan seorang ahli didalam ilmu hadis dan tauhid, kitab ini memuat sebanyak 144 bait sya`ir, banyak dikalangan ulama yang telah mensyarahkan kitab ini diantaranya Imam al-Bajuri.

Imam al-Bajuri mencoba menumpukan segala kemampuannya dan keahliannya untuk mensyarahkan kitab ini, dengan cara mengulas dan memutuskan mana yang tepat dan rajih dikalangan ulama Ahlussunnah, beliau juga mengisinya dengan dalil naqal dan akal, kemudian beliau juga menyebutkan perbedaan pendapat diantara `Asya`irah dan Maturidiyyah didalam sebahagian permasalahan.

Dari keempat kitab Imam Ibrahim al-Bajuri didalam ilmu tauhid dapat kita simpulkan bahwa beliau seorang ulama `Asya`irah yang kuat dan memiliki peranan dalam mengembangkan mazhab `Asyairah, keahlian beliau bukan saja didalam tauhid bahkan didalam segala disiplin ilmu agama seperti Fiqih, Tafsir, Hadis, Bayan, Mantiq, Fara`idh dan lain-lainnya.

Disebutkan dalam manaqibnya, Syeikh Ibrahim Al-Bajuri adalah seorang ulama yang amat mencintai dzurriyah Rasul SAW. Ia rajin mengunjungi dan berziarah kepada para ahli bait, baik yang masih hidup mau­pun yang sudah wafat. Salah satu bukti kecintaannya itu bisa kita lihat pada ba­gian akhir dari salah satu karyanya, Ha­syiyah ‘Ala Syarh Ibn Qasim. Al-Bajuri menampakkan kecintaannya dan semangatnya bertabarruk dengan ahlul bayt Nabi SAW dan ulama salaf shalih, khususnya Sayyid Ahmad Al-Badawi.
Dalam kitab karyanya tersebut, secara khusus ia menyarankan kepada siapa pun yang mengkhatamkan kitab tersebut itu untuk membacakan hadiah Fatihah bagi Sayyid Ahmad Al-Badawi karena beliau mengkhatamkan penulisan kitab tersebut tepatnya pada hari haul maulid Sayyidi Ahmad al-Badawi.
MUDI Mesjid Raya, Samalanga, 11 February, 2014 M

Rujukan :
1. http://dar-alifta.org/ViewScientist.aspx?ID=37&LangID=1
2. dll

Perayaan Maulid Rasulullah SAW Menurut Imam al-Qasthalani

Maulid Rasulullah SAW
Imam Qasthalani
(851-923 H) adalah seorang ulama hadits yang bermazhab Syafii. Nama lengkap belioau adalah Syihabuddin Abu Hasan Ahmad bin Muhammad bin Abi Bakar bin Abdul Muluk bin Ahmad al-Qashthalani kelahiran kota kairo, Mesir.

Imam Qasthalani banyak meninggalkan karya kitab-kitab berharga antara lain:
  1. Mawahib Laduniyah, kitab tentang sejarah Nabi (4 jilid) yang kemudian di ringkas oleh Syeikh Yusuf an-Nabhani dengan kitab beliau Anwarul Muhammadiyah.
  2. Irsyadus Sari, Syarh Shahih Bukhari 10 jlid
  3. Minhaj al-Ibhaj, Syarh Muslim 8 jilid
  4. Al-is`ad fi Khulashah al-Irsyad Ibn Muqri, fi fiqh
  5. Kitab al-anwar fi Ad`iyah wa al-azkar (doa dan zikir)
  6. Mukhtashar lawami`
  7. Mukhtashar al-Dhau ul Lami` karangan Imam Shakhawi
  8. Ar-Raudh ah-Zahir fi Manaqib Syeikh Abdul Qadir Jailani
  9. Lathaif Isyarah fin Funun al-Qiraah
  10. Masyari` al-Anwar al-Mudhiah fi Syarh Kaukab ad-Durriyah
  11. Yaghdhah Zawil i`tibar fi mau`idhah ahl i`tibar
  12. Maraqit ash-Shalat fi maqashid Shalat
  13. Madarid al-Muram fi maslak ash-Shiyam
  14. Al-u`qud Sunniyah
  15. dll

nah, bagaimana pandangan beliau tentang masalah maulid Rasulullah SAW, selaku beliau sebagai ulama ahli hadits. Berikut kita lihat nash beliau dalam kitab beliau tang terkenal Mawahib laduniyah jilid 1 hal 148 cet. Maktab al-Islami tahun 2004 :

ولا زال أهل الإسلام يحتفلون بشهر مولده عليه الصلاة والسلام، ويعملون الولائم، ويتصدقون في لياليه بأنواع الصدقات، ويظهرون السرور، ويزيدون في المبرات، ويعتنون بقراءة مولده الكريم، ويظهر عليهم من بركاته كل فضل عميم. ومما جرب من خواصه أنه أمان في ذلك العام، وبشرى عاجلة بنيل البغية والمرام، فرحم الله امرأ اتخذ ليالي شهر مولده المبارك أعيادًا، ليكون أشد علة على من في قلبه مرض وأعيى داء.

Senantiasalah umat Islam merayakan maulid pada bulan kelahiran Rasulullah SAW dan mengadakan walimah dan bershadaqah pada malamnya dengan berbagai macam shadaqah dan memperlihatkan perasaan senang dan menambah kebaikan dan mementingkan membaca maulid Nabi yang mulia dan dhahirlah bagi mereka dari barakah maulid tersebut pada setiap tahun. Dan sebagian hal yang terbukti dari keistimewaan maulid adalah mendapatkan keamanan pada tahun tersebut dan mendapat kebahagian dengan hasil cita-cita. Maka semoga Allah memberikan Rahmat kepada orang yang menjadikan malam bulan kelahiran Nabi yang penuh barakah sebagai hari raya supaya menjadi obat yang kuat bagi orang yang memiliki penyakit di hatinya.

Maka sangat jelaslah bahwa Imam al-Qasthalani memuji perayaan maulid dan beliau tidak sedikitpun menyebutnya sebagai suatu acara bid`ah dhalalah, mubazir, sesat dll sebagaimana di vonis oleh kaum-kaum yang merasa diri mereka lebih mengerti sunnah Nabi dari pada ulama-ulama ahli hadits terdahulu.

Maka pegangan kita selaku masyarakat awam (yang bukan mujtahid) adalah kepada para ulama-ulama terpercaya, maka bila mereka memfatwakan bahwa maulid itu boleh dan bahkan merupakan suatu acara yang baik maka kita tidak perlu fatwa-fatwa orang-orang yang keilmuan mereka jauh lebih tertinggal dari para ulama dahulu.

Baca juga artikel lain tentang maulid Nabi:
  1. Dalil perayaan Maulid Nabi
  2. Pandangan Ulama Ahlus sunnah tentang Maulid Nabi
  3. Download kitab-kitab tentang Maulid Nabi

donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja