Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Perbedaan La Nafi Jinsi Dengan La Nafi Hijaz

La Nafi Jinsi Dengan La Nafi Hijaz

Soal :

La nafi Jinzi adalah La yang beramal seperti amal إن (menasabkan isem dan merafa'kan khabar) sedangkan La nafi Hijaz amalnya seperti amal كان merafa`kan isem dan menasabkan khabar. Nah bagaimanakah perbedaan antara La nafii Jinsi dengan La Nafi Hijaz dari sisi makna? perbedaan antara keduanya merupakan masalah yang masih kabur bagi sebagian para santri.

Jawaban:

Perbedaan antara La nafi jinsi dan La nafi Hijaz dari sisi makna adalah :
La Nafi Jinis menafikan semua semua farad secara tanshish (tanpa ada kemungkinan bukan menafikan secara umum). Pada contoh لا رجلَ فى الدار (tidak ada seorangpun laki-laki dalam rumah), La pada contoh tersebut menunjuki bahwa tidak ada seorangpun laki-laki dalam rumah secara pasti (tanshihsh) dan tidak ada kemungkinan maksudnya menafikan seorang saja bukan semuanya.
Hal ini berbeda dengan La nafi Hijaz. La Nafi Hijaz juga menunjuki kepada nafi secara umum (nafi jinsi) namun dalalahnya kepada nafi secara umum bukan secara pasti (tanshish) tetapi hanya secara dhahir, maksudnya dalalahnya yang lebih kuat adalah menafikan secara umum, namun masih ada kemungkinan maksudnya menafikan satu farad saja. contohnya La rajulu fi ad-dari, maksud yang lebih kuat dari kalam tersebut adalah menafikan adanya laki-laki dalam rumah secara umum, namun masih ada kemungkinan maksudnya adalah menafikan satu orang laki-laki dalam rumah, maka maknanya adalah “tidak ada satu orang laki-laki dalam rumah, tetapi dua orang atau tiga orang yang ada”.

Ada satu pemahaman salah yang berkembang dalam sebagian para santri tentang perbedaan antara La nafi jinsi dengan La nafi Hijaz. Ada pemahaman bahwa La nafi Jinsi adalah menafikan semua farad (umum) sedangkan La nafi Hijaz menafikan sebagian farad. Ini adalah pemahaman yang salah, karena keduanya-duanya menafikan semua farad secara umum, bedanya hanyalah pada masalah apakah nafi umum tersebut secara tanshish (tanpa ada kemungkinan bermakna lain) atau hanya secara dhahir (kemungkinan yang kuat adalah menafikan secara umum tetapi masih ada kemungkinan menafiikan satu farad saja)
Kemungkinan besar, kesalahpahaman ini muncul dalam memahami nash kitab Kawakib Durriyah pada bab La Nafi Jinsi pada matan :

وأما التى لنفي الجنس فهي التى يراد بها نفي جميع الجنس على سبيل التنصيص) بحيث لا يبقى فرد من أفراده

pemahaman salah muncul karena menyangka bahwa kalam بحيث لا يبقى فرد من أفراده (dengan sekira-kira tidak kekal satu farad dari segala farad) merupakan tashwir dari kalimat tanshish padahal yang benar, بحيث لا يبقى فرد من أفراده adalah tashwir dari makna نفي جميع الجنس, hal ini berlaku sama baik nafi secara tanshish atau bukan.

Perbedaan antara La nafi jinsi dengan La nafi Hijaz sebenarnya cukup jelas di terangkan oleh mushannif kitab kawakib pada nash selanjutnya :

فخرج بها العاملة عمل ليس وتسمى لا النافية الحجازية لانها وان نفت الجنس غالبا لكن لا على التنصيص بل على سبيل الاحتمال والظهور

Fatwa Abuya Muda Wali: Khutbah Jumat Dalam Bahasa Indonesia

Fatawa Abuya Muda Wali al-Khalidi
Soal:
Khutbah Jumat dengan bahasa melayu (indonesia) bagaimana hukumnya?

Jawaban :
Lebih dahulu kita memperhatikan nash-nash dan ibarat kitab di bawah ini:
Syarwani (Tuhfah) Juzuk 2 nomor 45 :

قوله: دون ما عداها) يفيد أن كون ما عدا الأركان من توابعها بغير العربية لا يكون مانعا من الموالاة ويجب وفاقا ل م ر أن محله إذا لم يطل الفصل بغير العربي وإلا ضر ومنع الموالاة كالسكوت بين الأركان إذا طال سم على المنهج والقياس عدم الضرر مطلقا ويفرق بينه وبين السكوت بأن في السكوت إعراضا عن الخطبة بالكلية بخلاف غير العربي فإن فيه وعظا في الجملة ع ش (قوله: نعم إن لم يكن إلخ) أي ولم تمض المدة الآتية فتأمله سم

والمراد بالقياس غير العربية فى التوابع إلى العربية وإن طال فلا ضر

قلت : والحق عدم القياس لخصوصية العربية إهـ م ل

قول ع ش ويفرق بينه وبين السكوت إلخ

قلت: وفى القليوبى الجزء الأول نمرة 279 قوله العلم بالوعظ اى مع كون العربية هى الاصل فلا يرد مثل ذلك فى غير العربية 
 قلت : فحصول الفائدة بالوعظ فى الجملة مع الاصل اى العربية وإلا فلا فائدة شرعا فى غير العربية فصح قياسه بالسكوت فالوفاق فى الصحة فى عدم طول الفصل اى دون قدر ركعتين خفيفتين حق وصواب إهـ م ل
محلى (قليوبى) الجزء الأول نمرة 281 ولا يضر الوعظ بين الاركان وإن طال عرفا إلا إن طال بغير العربية كالسكوت الطويل اهـ
قلت : فيضر م ل

Setelah memperhatikan nash-nash di atas maka kami dari majlis ifta` memutuskan sebagai tersebut di bawah ini :
Mestilah segala rukun-rukun khutbah itu di pakai dengan bahasa Arab dan rukun-rukun itu mesti berturut (muwalat) dengan arti tidak boleh di cerai-ceraikan dengan bahasa ajam kalau pidato itu sekadar dari pada masa.
Sebaliknya bila kedapatan khutbah yang menyalahi akan yang tersebut di atas maka khutbahnya itu di hukumi tidak sah sebagai yang tersebut dalam kitab-kitab yang muktabar. Sebaiknya khutbah pada waktu ini di jalankan menurut kaifiyat yang kami nyatakan di bawah ini yaitu mula-mula hendaklah khatib berpidato atau memberi nasehat terlebih dahulu sekadar halnya pidato di muka umum menerangkan nasihat-nasihat yang berguna dengan bahasa apa saja (selain bahasa Arab), sehabis pidato itu barulah khatib melakukan rukun-rukun khutbah sebagaimana mestinya jangan di campur lagi dengan pidato.

Fatawa Abuya Muda Wali, al-Khalidy, Hal 44 cet. Nusantara, Bukit Tinggi
Pertanyaan dari Padang Sumatra Barat

Note. قلت (qultu) dalam nash di atas adalah komentar Abuya Muda Wali. م ل adalah singkatan : Muhammad Wali.

Download Kitab Arba`in Hadits Fi Bayan Zikr Sifat al-Firqah Wahabiyah

Syeikh Muhammad bin Abdurrahim Bakhasy al-Washaby
الاربعين حديثا النبوية فى بيان ذكر صفات الفرقة النجدية الوهابية
Kitab ini di karang seorang oleh ulama Negri Yaman syeikh Muhammad bin Abdurrahim bin Muhammad bin Muhammad Bakhasy al-Washabi, seorang ulama yang mengajar di Universitas Dar Ulum asy-Syar`iyah di Hudaidah, Yaman. Kitab ini berisi 42 hadits yang menceritakan sifat-sifat kaum khawarij yang ternyata sifat-sifat tersebut bisa di temui pada kaum wahabi baik yang bisa di lihat secara terang maupun agak tersembunyi. Ke 42 hadits tersebut lengkap dengan sumbernya kitab rujukannya, namun sebagian besar tanpa uraian dan penjelasan tentang isi hadits tersebut. File kitab ini di kirim kepada kami oleh salah satu pelajar di Negri Yaman. Bagi yang ingin memiliki file pdf kitab tersebut silahkan download di SINI.

Sebab-Sebab Sunat Sujud Sahwi

sebab sunat sujud sahwi
Sujud sahwi arti secara etimologi adalah sunat lupa. Namun sahwi yang di maksud di sini adalah semua cedera dalam shalat baik secara sengaja maupun bukan. Maka sujud sahwi adalah sujud yang di sebabkan oleh adanya sahwi (cedera) dalam shalat tersebut.

Sebab di sunatkan sujud sahwi adalah :

  1. Meyakini tinggal sebagian sunat ab`adh, baik di tinggalkan secara sengaja atau bukan.
  2. Adanya keraguan pada telah melaksanakan sunat ab`adh.
  3. Meyakini telah melakukan satu perbuatan terlarang dalam shalat tanpa sengaja yang kalau di lakukan dengan sengaja bisa membatalkan shalat.
  4. Ragu pada telah mengerjakan satu perbuatan yang terlarang dengan adanya kemungkinan telah menambahkan satu amalan dalam shalat
  5. Memindahkan satu amaliyah qauli kepada tempat lain.

Yang termasuk dalam sunat ab`adh yang sunat melakukan sujud sahwi bila meninggalkannya atau ragu meninggalkannya adalah :
  1. Bacaan tasyahud awal
  2. Duduk tasyahud awal
  3. Qunut
  4. Berdiri pada qunut
  5. Shalawat kepada Rasulullah SAW setelah tasahud awal dan qunut
  6. Shalawat kepada AL Rasulullah setelah tasyahud akhir dan qunut

Bacaan pada sujud sahwi

Pada sujud sahwi dibacakan bacaan seperti pada sujud biasa atau dibaca
سبحان من لاينام ولا يسهو

Tata cara sujud sahwi

Sujud sahwi dilakukan seperti sujud biasa yaitu 2 kali sujud dan disertai duduk antara 2 sujud dan tumakninah serta tetap anggota sebagaimana pada sujud biasanya, dan wajib niat sujud sahwi
Perlu diketahui sujud sahwi dilakukan karena meninggalkan ab'ad baik itu satu ab'ad/dua ab'ad dan seterusnya dan kalau seseorang melakukan sujud sahwi bukan karena 2 hal diatas maka shalatnya akan batal (ini jika dia mengetahui dan sengaja)

Note. Penjelasan lebih rinci tentang sebab-sebab sunat sujud sahwi Insya Allah akan kami terangkan di kesempatan yang lain.

Referensi:

Tuhfatul Muhtaj Jilid 2 Cet. Dar Fikr

Fatwa Abuya Muda Wali : Menyentuh al-quran tanpa wudhuk

Abuya Muda Wali al-Khalidi

Soal:

Menyentuh al-quran dengan tiada air sembahyang itu adalah haram, maka al-quran mana yang di maksud haram sentuh itu apakah al-quran yang tiga puluh juz ini atau yang pada lauh mahfudh tentu tidak bisa kita sentuh karena juah dan kalau al-quran yang kita baca-baca maka berhuruf dan bersuara bukan kalam tuhan karena kalam tuhan tidak berhuruf dan tidak bersuara?

Jawaban:

Yang haram di sentuh itu iyalah quran yang 30 juz ini yang ia adalah kalam Allah ta`ala, artinya kalam lafdhy karena kata sayyidina Aisyah :
القرىن ما بين دفتي المصحف
al-quran adalah yang di antara dua bagian mashhaf.

Jadi lafadh al-quran itu musytarak (pada) syara` :

  1. Maknanya kalam Allah yang berdiri pada zatNya dan yang itulah tidak berhuruf dan tidak bersuara dan itu bukan yang dikehendaki dengan :  لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ  (ayat al-quran surat al-Waqi`ah ayat 79 )
  2. Maknanya kalam lafdhy menurut keterangan kitab Ghayah Wushul dan kitab Jam`ul Jawami` dan yang inilah yang di kehendaki dengan (ayat al-quran) لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ itu.

Adapun لا pada ayat itu nafi dengan makna nahi artinya terjemahnya “tiada” maksunya “jangan” inilah maksud orang ma`ani khabariah lafdhan insya’iyah maknan, dan ini pula yang di maksud fuqaha` khabar bi makna nahi jadi yang di murad (maksud) di sentuh di sini adalah mashhaf al-quran bukan lafadh quran karena lafadh quran tak dapat di sentuh .

Nashnya dalam kitab Syarqawi juzuk 1 nomor 85

قوله بمس وحمل ما هو فيه) أشار بذلك إلى دفع ما يقال أن القرآن يطلق على اللفظ المنزل على سيدنا محمد صلى الله عليه وسلم للإعجاز المتعبد بتلاوته المتحدى باقصر سورة منه وعلى الصفة القديمة القائمة بذاته تعالى ةكل منها لا يمس وحاصل الدفع أن مسه يتحقق بمس اللوح او المصحف الذى هو اى القرآن بمعنى اللفظ او الصفة فيه ولا بد من تقدير فى عبارته لأن المستقر فى اللوح او المصحف هو النقوش لا اللفظ ولا الصفة القديمة والتقدير ما اى مصحف مثلا هو اى داله وهو النقوش فيه اى في ما ولا شك أن النقوش دالة على الألفاظ هذا إن أريد بالقرآن اللفظ وأما إن أريد الصفة القديمة فالمعنى ما هو اى دال مدلوله فيه لأن النقوش دالة على اللفظ والألفاظ دالة على المعانى المدلولة للصفة القديمة أيضا لأن الكتابة تدل على العبارة وهى تدل على ما فى الذهن وهو على ما فى الخارج فكل شيء له وجودات اربع له وجود فى البناء بالكتابة ووجود فى اللسان بالنطق ووجود فى الأذهان بالتصور ووجود فى العيان بالمشاهدة

Fatawa Abuya Muda Wali al-Khalidy Hal 23, Cet. Nusantara Bukit Tinggi
Pertanyaan dari Bilal Mesjid Medan

I`rab kalimat sawaun (سواء)

اعراب لفظ سواء

Nahu sharaf
Soal :

Bagaimanakah i`rab lafadh sawaun / سواء seperti dalam contoh tarkib.
 Contoh : 
سواء تعلق بالفضائل أم بالفواضل

Jawab:


Lafadh سواء boleh disertai dengan hamzah taswiyah seperti dalam ayat سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ . Dan boleh pula tidak disertai dengan hamzah seperti pada contoh : سواء تعلق بالفضائل أم بالفواضل

Ada beberapa wajah i`rab untuk contoh tarkib tersebut:

  1.  سواء menjadi khabar muqaddam (خبر مقدم) fiel sesudahnya pada ta`wil masdar sebagai mubtada muakhhar (مبتدأ مؤخر) taqdirnya : تعلقه بالفضائل وبالفواضل سواء
  2.  سواء menjadi mubtada (مبتدأ) jumlah sesudahnya pada ta`wil masdar menjadi fael sadda ma sadda khabar ( فاعل سد ما سد الخبر ) dari سواء karena lafadh سواء pada makna washaf yaitu مستو .Ini berdasarkan pendapat yang membolehkan beramal washaf tanpa disertai oleh nafi,nahi atau istifham. Maka taqdir kalam diatas adalah مستو تعلقه بالفضائل وبالفواضل
  3.  سواء menjadi khabar (خبر) dari mubtada (مبتدأ) yang telah dibuang sebelum lafadh سواء. Pada jumlah sesudahnya (تعلق بالفضائل) ditaqdirkan إن adat syarath. Jawab syarathya menurut satu pendapat telah dibuang karena dapat dipahami dari jumlah ismiah (jumlah mubtada yang ditaqdirkan dengan سواء yang berfungsi sebagai khabar ). Menurut pendapat yang lain yang menjadi jawab syarat adalah jumlah ismiah tersebut.

Maraji`

1. Hasyiah Bujairimy `ala Manhaj Ath Thulab juz 1 hal 9 cet.Dar Fikr

وسواء خبر مقدم والفعل الذي بعده في تأويل مصدر مبتدأ مؤخر أي : تعلقه بالفضائل وبالفواضل سواء في أن الثناء على كل حمد ويجوز أن يكون سواء مبتدأ وما بعده مرفوع به بناء على عدم اشتراط الاعتماد في إعمال الوصف لأن سواء بمعنى مستو ويجوز أن يكون سواء خبر مبتدأ محذوف وأن أداة الشرط مقدرة والجملة الاسمية دليل الجواب أو هي نفسه على الخلاف والمعنى إن تعلق الثناء بالفضائل أم بالفواضل فالأمران سواء .ا هـ .ع ش على م ر
وهذا أولى لأنه يلزم على الأولين كون أم بمعنى الواو لأن الاستواء لا يكون إلا بين شيئين مع أن أم لأحدهما فيكون في الكلام تقديم وتأخير وحذف

2. Tafsir Fakhrur Razi jilid 2 hal 284 Dar Ihya Turats Arabi

المسألة الثانية : في ارتفاع سواء قولان : أحدهما : أن ارتفاعه على أنه خبر لأن و { ءأَنذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنذِرْهُمْ } في موضع الرفع به على الفاعلية كأنه قيل إن الذين كفروا مستو عليهم إنذارك وعدمه كما تقول : إن زيداً مختصم أخوه وابن عمه.
الثاني : أن تكون أنذرتهم أم لم تنذرهم في موضع الابتداء وسواء خبره مقدماً بمعنى سواء عليهم إنذارك وعدمه والجملة خبر لأن.

Harkat Lam Huruf Jar

Mengapa lam huruf jar ketika masuk pada isem dhamer dibaca dengan Fattah dan ketika masuk pada isem dhahir dibaca dengan Kasrah ?

Jawab:

A. Bila masuk pada isem dhahir dibaca dengan kasrah karena disesuaikan dengan amalnya yaitu menjarkan isem, asal pada jar adalah kasrah.

B. Bila masuk pada isem dhamer dibaca dengan fattah karena dikembalikan kepada asalnya yaitu fattah karena masuk pada isem dhamer sesuai dengan sebuah qaedah:

الضمير يرد الاشياء الى اصولها
“Dhamer mengembalikan sesuatu kepada asalnya”

Asal dari kalimat yang satu huruf adalah fattah, maka pada saat lam huruf jar tersebut masuk pada isem dhamer maka lam tersebut dikembalikan kepada asalnya yaitu fattah.

Referensi:


  1. Kaukabud Ad Dury, Hal 118 cet. Dar Kutub Ilmiyah
  2. Mughny Muhtaj jilid 1 hal 9 cet. Dar Fikr
  3. Nihayah Muhtaj jilid 1 hal 17 Cet. Dar Kutub Ilmiyah.


1. Kaukabud Ad Dury, Hal 118 cet. Dar Kutub Ilmiyah

لام الجر اصلها الفتح وانما كسرت مع الظاهر مناسبة لعملها ويدل على ما ذكرناه فتحها مع المضمر. والضمير يرد الاشياء الى اصله.

2. Mughny Muhtaj jilid 1 hal 9 cet. Dar Fikr

من حق حروف المعاني التي جاءت على حرف واحد أن تبنى على الفتحة التي هي أخت السكون نحو واو العطف وفائه

 3. Nihayah Muhtaj jilid 1 hal 17 Cet. Dar Kutub Ilmiyah.

ومن حق الحروف المفردة أن تفتح

Download Kitab Hasyiah Bajuri `Ala Kifayatul Awam Fi Ilmi Kalam

Download Kitab Kifayatul AwamSalah satu kitab dalam ilmu Aqidah Ahlus sunnah wal Jamaah adalah Kitab Kifayatul Awam karangan ulama al-Azhar Syeikh Muhammad al-Fadhali (w. 1236 H). Kitab ini di beri komentar (hasyiah) oleh murid beliau sendiri Syeikh Ibrahim al-Bajuri, seorang ulama Ahlus sunnah yang sudah tidak asing lagi bagi para pelajar ilmu agama. Kitab karangan ulama besar yang akhirnya di angkat menjadi Grand Syaikhul al-Azhar ini menjadi salah satu kitab rujukan dalam bidang aqidah di seluruh lembaga pendidikan agama di berbagai belahan dunia. Di Dayah di Aceh secara khususnya, kitab ini di kaji tepatnya pada kelas tiga setelah selesai pengkajian terhadap kitab Matan Jauharah Tauhid yang di kaji pada kelas dua. Kitab Kifayatul Awam berisi penjelasan aqidah Ahlus sunnah dalam mazhab Asya`irah, membahas sifat-sifat yang wajib bagi Allah dengan di sertai dalil-dalinya. Namun perlu juga di ketahui bahwa kitab ini merupakan termasuk salah satu kitab yang sangat di benci oleh kaum khawarij wahabi (semoga Allah memelihara kita dari fitnah mereka).
Bagi yang ingin mendownload file pdf kitab ini silahkan di DOWNLOAD  DI SINI  

Fatwa Abuya Muda Wali: Hukum Main dan Nonton Bola

Hukum bermain Bola Kami dan MenontonnyaSoal:
Bagaimanakah hukumnya main bola dan menontonnya?
Jawaban:
Main bola itu kalau dengan tidak meninggalkan sembahyang dan tidak terbuka aurat dan bukan untuk mencari uang dan bukan untuk bertanding yang membawa kerusakan dan tidak pula merusakkan marwah maka kalau seperti yang telah tersebut itu hukumnya adalah harus (boleh) tetapi kalau ada salah satu yang tersebut di atas itu maka hukumnya haram.
Nashnya dalam kitab Syarqawi juzuk 2 nomor 424 :

قوله وبندق) اى يرمى به إلى حفرة ونحوها به والمراد ما يؤكل ويلعب به فى العيد . أما بندق الرصاص والطين فتصح المسابقة عليه ولو بعوض خلافا للمصنف كما سيأتى لأن له نكاية فى الحرب أشد من السهام (قوله وعوم) اى السباحة فى الماء وهو المسمى عند العامة بالمخايطة والشطرنج بفتح وكسر أوله المعجم والمهمل والمثقلة والسيجة والخاتم والوقوف على رجل ومعرفة ما بيده من شفع ووتر ومسابقة بسفن واقدام فكل ذلك جائز بلا عوض لانه يحتاج فى حساب فى بعضه ففيه فر وحيلة وأما ....صلى الله عليه وسلم ركانة على شياة فاجابوا عنها بان الفرض ان يريه شدته ليسلم بدليل انه لما اسلم رد عليه ....وقيل ردها عليه فبل اسلامه وهو ما ذكره فى الخصائص بخلاف الطاب فحرام مطلقا إه

kalau ada dalam permainan bola itu yang munkar seperti membuka aurat atau aurat perempuan sebagaimana yang telah menjadi biasa pada perempuan-perempuan sekarang berbaju bb dan bercampur pula dengan laki-laki, maka hukum menonton itu haram, diambil alasan pada hadits yang di riwayatkan oleh Syaikhani:

اياكم والجلوس بالطرقات قالوا يا رسول الله ما لنا بد من مجالسنا نتحدث فيها قال فإذا ابيتم إلا المجاس فاعطوا لطريق حقه قالوا

Jadi dengan keterangan hadist Syaikhaini ini haramlah menonton bola mutlaq sebagai yang telah biasa terjadi di kota-kota dan di mana-mana tempat lainnya, maka ketahuilah bahwa tempat main bola itu adalah tempat syaithan bertelur.

Fatawa Abuya Muda Walii al-Khalidy Hal 30 Cet.Nusantara, Bukit Tinggi
Pertanyaan dari Bilal Mesjid Medan

Rukun Shalat Yang Kelima: Ruku'

Rukun Shalat Yang Kelima: Ruku'
Para pengunjung setia website lbm.mudimesra.com, kali ini kita akan membahas lebih detil tentang rukun shalat yang kelima, yaitu ruku’.

Ruku’ wajib dilakukan dengan cara meletakkan telapak tangan pada lutut. Tidak boleh hanya meletakkan jari. Ketika melaksankan ruku’, ada beberapa hal yang disunnahkan:
  1. Menyamakan posisi punggung dan leher bagaikan sehelai papan yang rata
  2. Memegang kedua lutut, menegakkan, dan melebarkannya, serta dengan menjarangkan jari-jari tangannya.
  3. Mengucapkan “ سبحان ربي العظيم وبحمده” sebanyak tiga kali. Perlu diketahui bahwa sekurang-kurang tasbih adalah satu kali, walaupun hanya mengucapkan “سبحان الله”, dan sebanyak-banyaknya adalah sebelas kali.
  4. Bagi lelaki disunnahkan melebarkan dua sikunya menjauh dari dua sisi perutnya. Juga disunnahkan mengempiskan perutnya.

Ketika merubah posisi dari berdiri menjadi ruku’, niatnya harus benar-benar melaksanakan ruku’. Sehingga tidak sah ruku’ bagi orang yang berniat melaksanakan sujud tilawah, ketika sampai pada batasan ruku’ ia mengganti sujud tilawahnya menjadi ruku’. Bagi orang tersebut, wajib berdiri kembali dan berniat melaksanakan ruku’.

Dalam pelaksanaan shalat berjama’ah, dimakruhkan bagi imam untuk memperbanyak bacaan tasbih lebih dari tiga kali, tujuannya adalah untuk memberi keringanan bagi ma’mum, kecuali bagi jama’ah mahshuuriin yang ridha dengan panjang nya bacaan imam. Bahkan disunnahkan bagi imam jama’ah mahshuuriin dan orang yang shalat sendirian untuk menambahkan bacaan berikut dalam ruku’nya :

اللهم لك ركعت وبك آمنت ولك أسلمت خشع لك سمعي وبصري ومخي وعظمي وعصبي

Artinya: “ya Allah, bagi-Mu ruku’ ku, dan aku beriman pada-Mu, dan bagi-Mu aku berserah. Pendengaranku, penglihatanku, fikiranku, tulang dan sarafku tunduk pada-Mu”.

Referensi:
Hasyiah I’anah al-thalibin, jld. I, hal. 181 (dar al-fikr)

(و) خامسها: (ركوع بانحناء بحيث تنال راحتاه) وهما ما عدا الاصابع من الكفين، فلا يكفي وصول الاصابع (ركبتيه) لو أراد وضعهما عليهما عند اعتدال الخلقة. هذا أقل الركوع. (وسن) في الركوع (تسوية ظهر وعنق) بأن يمدهما حتى يصيرا كالصفيحة الواحدة، للاتباع. (وأخذ ركبتيه) مع نصبهما وتفريقهما (بكفيه) مع كشفهما وتفرقة أصابعهما تفريقا وسطا (وقول سبحان ربي العظيم وبحمده، ثلاثا) للاتباع. وأقل التسبيح فيه وفي السجود مرة، ولو بنحو سبحان الله، وأكثره إحدى عشرة. ويزيد من مر ندبا: اللهم لك ركعت، وبك آمنت، ولك أسلمت. خشع لك سمعي وبصري ومخي وعظمي وعصبي وشعري وبشري، وما استقلت به قدمي - أي جميع جسدي - لله رب العالمين. ويسن فيه وفي السجود: سبحانك اللهم وبحمدك، اللهم اغفرلي. ولو اقتصر على التسبيح أو الذكر فالتسبيح أفضل، وثلاث تسبيحات مع اللهم لك ركعت إلى آخره أفضل من زيادة التسبيح إلى إحدى عشرة. ويكره الاقتصار على أقل الركوع والمبالغة في خفض الرأس عن الظهر فيه. ويسن لذكر أن يجافي مرفقيه عن جنبيه، وبطنه عن فخذيه، في الركوع والسجود. ولغيره أن يضم فيهما بعضه لبعض.

(تنبيه) يجب أن لا يقصد بالهوي للركوع غيره، فلو هوي لسجود تلاوة فلما بلغ حد الركوع جعله ركوعا لم يكف، بل يلزمه أن ينتصب ثم يركع، كنظيره من الاعتدال والسجود والجلوس بين السجدتين.


2. Mughni muhtaj ila ma’rifati ma’ani al-faadhi al-minhaj, jld. I, hal. 155 (dar al-fikr, Beirut)

( ولا يزيد الإمام ) على التسبيحات الثلاث أي يكره له ذلك تخفيفا على المأمومين ( ويزيد المنفرد ) وإمام قوم محصورين راضين بالتطويل ( اللهم لك ركعت وبك آمنت ولك أسلمت خشع لك سمعي وبصري ومخي وعظمي وعصبي ) رواه مسلم زاد ابن حبان في صحيحه ( وما استقلت به قدمي ) بكسر الميم وسكون الياء وهي مؤنثة قال تعالى { فتزل قدم بعد ثبوتها } فيجوز في استقلت إثبات التاء وحذفها على أنه مفرد ولا يصح هنا التشديد على أنه مثنى لفقدان ألف الرفع

ولفظة مخي مزيدة على المحرر وهي في الشرح والروضة وفيهما وفي المحرر وشعري وبشري بعد عصبي وفي آخره لله رب العالمين



Faedah Puasa Enam Hari Di Bulan Syawal

Puasa Enam Hari Di Bulan Syawal
Salah satu amalan di bulan Syawal yang jangan sampai terlewatkan adalah puasa 6 hari di bulan Syawal.
Kelebihan puasa 6 hari dibulan Syawal setelah berpuasa Ramadhan adalah bagaikan telah berpuasa fardhu setahun. Sebagaimana telah kami terangkan dalam tulisan kami sebelumnya tentang puasa enam hari di bulan syawal.

Tetapi perlu juga di ingatkan bahwa puasa 6 hari yang mendapat fadhilah demikian adalah bagi yang telah menyelasaikan puasa fardhu ramadhan, maka terhadap orang yang masih berutang dengan puasa Ramadhan yang terlebih utama mengqadha puasa ramadhan terlebih dahulu apalagi bila puasa Ramadhan tersebut tertinggal tanpa ada ozor, maka wajib segera mengkadhanya.

beberapa faedah di syariatkan puasa 6 hari di bulan Syawal;

  • Menyempurnakan pahala puasa setahun, sebagaiman penjelasan tulisan sebelumnya.
  • Puasa Syawal setelah Ramadhan dan puasa di bulan Sya’ban sebelum Ramadhan bagaikan shalat sunat Rawatib sesudah dan sebelum shalat. Shalat rawatib qabliyah berfungsi sebagai persiapan untuk memasuki shalat fardhu sedangkan shalat rawatib ba`diyah berfungsi untuk menutupi kekurangan dalam shalat. Maka demikian juga dalam puasa syawal dan puasa bulan Sya’ban. Puasa sunat bulan sya’ban merupakan persiapan untuk memasuki puasa wajib di bulan Ramadhan. Sedangkan puasa sunat di di bulan Syawal untuk menutupi kekurangan-kekurangan yang terjadi dalam puasa Ramadhan.
  • Adanya kemauan untuk berpuasa di bulan syawal merupakan salah satu tanda bahwa Allah menerima puasa Ramadhan kita. Karena bila Allah telah menerima amalan shalih seorang hamba, maka Allah akan memberikan taufiq kepada untuk berbuat ketaatan lain setelahnya. Sebagaimana kata para ulama:

ثواب الحسنة الحسنة بعدها فمن عمل حسنة ثم اتبعها بعد بحسنة كان ذلك علامة على قبول الحسنة الأولى كما أن من عمل حسنة ثم اتبعها بسيئة كان ذلك علامة رد الحسنة وعدم قبولها.
Balasan satu kebaikan adalah (mau mengerjakan) kebaikan setelahnya, maka barangsiapa berbuat baik kemudian mengikutkannya dengan amalan baik lain, maka haltersebut merupakan sebagai tanda di terimanya kebaikan pertama sebagaimana seseorang yang beramal baik kemudian mengikutkannya dengan satu keburukan, hal tersebut merupakan sabagai pertanda bahwa amalan kebaikannya di tolak dan tidak do terima.

  • Dengan berpuasa Ramadhan, Allah memberikan keampunan terhadap dosa-dosa hambaNya. Maka kembali berpuasa di bulan syawal merupakan salah satu bentuk syukur kita kepada Allah terhadap nikmat yang besar yaitu di ampunkan dosa kita. Ketika Rasulullah memperbanyak shalat hingga membengkak kedua tumit beliau. Siti Aisyah bertanya:

أتفعل هذا وقد غفر الله لك ما تقدم من ذنبك وما تأخر؟ فيقول: "أفلا أكون عبدا شكورا".

Megapa engkau berbuat demikian? Padahal Allah sungguh telah mengampunkan dosamu yang lalu dan yang akan datang. Maka Rasulullah menjawab;apakah maka tidak adakah saya termasuk orang yang sangat bersyukur.


  • Dengan berpuasa di bulan syawal, berarti amalan kita di bulan Ramadhan tidak terhenti dengan habisnya bulan Ramadhan tetapi terus berkelanjutan selama kita masih hidup. Kebanyakan manusia merasa senang dengan habisnya bulan Ramadhan karena dalam bulan Ramadhan mereka terasa berat dan bosan berpuasa sebulan penuh. Orang yang beranggapan demikian maka ia tidak akan mau untuk berpuasa di bulan Syawal dengan alasan telah lelah ia berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan. Padahal batasan beramal manusia hanyalah mati. Allah berfirman :

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ...
Sembahlah tuhanMu sehingga datanglah yakin(kematian) .Q.S al-Hijr ayat 99

Karena berbagai kelebihan yang besar dari puasa enam hari di bulan Syawal, maka marilah kita berusaha untuk melaksanakannya. Semoga Allah memberikan taufiq dan hidayah kepada kita semua, Amiin.

Referensi:
Ittihaf Ahl al-Islam bi Khushushiyyati ash-Shiyam, Ibnu Hajar al-Haitami hal 375, Madinah, Maktabah Thayyibah.
Lathaif Ma`arif fi ma li mawasim min al-wadhaif, Ibnu Rajab al-Hanbali, Beirut, Dar Ibn Katsir, hal 393-399 th 1999

Sumber: Abu MUDI dengan sedikit perubahan.

Download mp3 Bab Qadhiyah Kitab Hasyiah Shabban Fil Mantiq

Dayah Najmul Hidayah al-AziziyahSalah satu kitab mantiq syarah Matan Sullam yang cukup populer adalah Hasyiah Shabbah `ala Syarh al-malawi `ala matan Sullam. Kitab ini merupakan komentar (hasyiah) atas Syarah al-Malawi yang merupakan syarah atas matan Sulam Munawraq karangan seorang ulama sufi terkemuka, Syeikh Abdur Rahman al-Akhdari.
Kitab Shabban ini menjadi pelajaran wajib di setiap Pesantren di Aceh khususnya setelah mengkhatamkan kitab Idhahul Mubham. Tak terkecuali di LPI MUDI Mesjid Raya, Samalanga, kitab ini juga dijadikan pelajaran wajib pada kelas 5 (semester 1 Ma`had Aliy) dalam mengkaji ilmu yang memang di kenal sebagai ilmu yang rumit dan sulit.
Bagi yang ingin mendengar rekaman pengajian ilmu mantiq bisa di download dalam link di bawah ini. Namun rekaman pengajian ini hanya satu bab saja yaitu bab Qadhiyah (tidak termasuk `akas dan tanaqudh), halaman 88 s/d 107 Kitab cetakan Haramain. Pengajian Kitab Hasyiah Shabban ‘ala Syarh Malawi fil ilmi Mantiq Bab Qadhiyah ini dengan guru al-Mukarram al-Fadhil Tgk. Tarmizi H. Muhammad Daud al-Yusufi, salah satu guru LPI MUDI Mesjid Raya yang saat ini telah mendirikan Dayah Najmul Hidayah al-Aziziyah yang terletak tidak jauh dari Dayah MUDI sendiri. bertempat di Balee Beuton, Komplek LPI Ma’hadal Ulum Diniyah Isamiyah (MUDI) Mesjid Raya Samalanga, waktu Ba’da Ashar. Pengajian ini berjalan pada tahun 2010, bertepatan setelah khatam kitab Ghayah Wushul `ala Lubb al-ushul karya Syaikhul Islam Zakaria al-Anshari, pengajian ini hanya satu bab saja karena kitab shabban di pilih hanya sebagai pengisi pengajian ba’da ashar sambil menunggu sampainya pesanan kitab al-Mustashfa karangan Imam Ghazali yang rencananya akan di kaji setelah khatam kitab Ghayah Wushul yang akhirnya di khatamkan pada tanggal 30 Juli 2013
Di pilihnya bab qadhiyah karena penjelasan dalam bab ini lebih rumit terutama pada pembahasan qadhiyah muwajjahnya.
Bagi yang ingin mendowloadnya silahkan download di bawah ini:

  1. Halaman 88-90
  2. Halaman 90-94
  3. Halaman 94-96
  4. Halaman 96-97
  5. Halaman 97-98
  6. Halaman 98-99
  7. Halaman 99-102
  8. Halaman 102-104
  9. Halaman 104-105
  10. Halaman 105-107

Download juga pengajian ilmu Mantiq Kitab Syamasiah. Kami mohon maaf karena pengajian tersebut hanya dalam bahasa daerah, Aceh.
Download juga mp3 pengajian kitab Syarhah Syamsiah fi ilmi Mantiq.

Fatwa Abuya Muda Wali : Berfatwa tanpa ahli ilmu alat

Soal :

Bolehkan menyampaikan hukum-hukum syara` kepada umum sedangkan orang yang menyampaikan hukum itu tidak mengetahui ilmu alat seperti nahu, sharaf dan mantiq dll.

Jawaban:

Kalau ilmu syara` yang di sampaikan itu dari kitab arab sedangkan ia tidak (men)dapat fatwa dari alim maka tidak boleh, tetapi kalau yang di sampaikan itu ilmu syara`dari kitab jawi dengan cara telah di pelajari betul-betul dari ahlinya maka boleh menyampaikan sebagai (misalnya) ia telah tamat mengaji kitab Sabilal Muhtadi tetapi kalau di telaah saja dengan tidak berguru maka tidak boleh apalagi kalau tidak alim dalam kitab arab, tidak boleh sekali-kali.

Fatawa Abuya Muda Wali al-Khalidi, Hal 8 Cet. Nusantara Bukit Tinggi
Pertanyaan dari Singkil

Syeikh Abdul Qahir al- Jurjani, Pengarang Kitab Awamil, Pencetus Ilmu Balaghah.

Syeikh Abdul Qahir al-Jurjani, pencetus ilmu balaghah
Kitab Awamil fin nahwi merupakan kitab yang tidak asing lagi bagi para pelajar Ilmu nahwu di Aceh khususnya. Kitab ini menjadi kitab pelajaran wajib bagi para pemula ilmu Nahwu sebelum belajar  kitab Ajurrumiyah. Sipakah pengarang kitab tersebut dan bagaimana manaqib beliau? Berikut ini sedikit tentang sejarah beliau yang kami kutip dari berbagai sumber.
Nama lengkap beliau adalah Abu Bakar Abdul Qahir bin Abdur Rahman bin Muhammad al-Jurjani. Beliau lahir dan menetap di Negri Jurjan, satu daerah yang masuk dalam negri Iran saat ini. Tidak di ketahui kapan tahun kelahiran beliau. Beliau di lahirkan dalam keluarga yang miskin. Beliau belajar kepada para ulama negri kelahirannya sehingga beliau mengungguli para ulama semasa beliau dalam keilmuan beliau. Beliau tidak pernah berangkat ke luar Jurjan untuk menuntut ilmu. Namun walaupun demikian beliau berhasil menguasai berbagai macam ilmu bahkan beliau di kenal sebagai pencetus (wadhi`) ilmu balaghah.

Dalam bidang fiqh beliau bermazhab Syafii, sedangkan dalam bidang aqidah beliau merupakan pengikut Mazhab Asy`ari . Beliau mengambil ilmu nahwu di negri kelahiran beliau dari Abu Husen Muhammad bin Hasan al-Farisi. Bahkan Imam Sayuthi dalam kitab Bughyatul Mu`ah mengatakan bahwa Imam Jurjani tidak mengambil ilmu dari selain Imam Abu Husen al-Farisi. Namun Yaqut al-Hamwa menyebutkan salah satu guru dari imam Jurjani adalah Imam Ali bin Abdul Aziz al-Jurjani (w. 392 H) salah seorang qadhi Negri Jurjan.
Imam al-Anbari setelah menyebutkan nama guru Imam Jurjani, Abi Husen al-Farisi “dan beliau (Imam Jurjani) banyak menghikayah darinya (Abi Husen al-Farisi) karena beliau tidak pernah bertemu seorang guru yang masyhur dalam ilmu arabiyah selain dari pada Imam Abu Husen, karena beliau tidak pernah keluar dari Negri Jurjan dalam menuntut ilmu, Abu Husen al-Farisi datang ke daerah beliau, maka Imam Jurjani membacakan kitab di hadapan beliau.
Maka dari penjelasan Imam al-Anbari dapat di ketahui bahwa beliau juga pernah berguru kepada tokoh yang lain tetapi kemasyhuran guru beliau tersebut tidak setingkat dengan Abu Husen al-Farisi. Dari kata al-Anbari yang mengaitkan dengan ilmu Arabiyah, maka tidak tertutup kemungkinan bahwa beliau juga mengambil disiplin ilmu lain dari guru yang lain.

Pujian ulama

Sebelum mencetuskan ilmu balagah, Imam Abdul Qahir telah di kenal sebagai pakar dalam ilmu nahwu, selain juga pakar dalam ilmu kalam, dan fiqh.
Beliau diakui sebagai ulama yang besar dan berpegah teguh pada agama dan banyak pujian para ulama yang di alamatkan kepada beliau, antara lain :

Ulama yang semasa dengan beliau Abu Hasan al-Bakharzi mengatakan “semua lidah sepakat bahwa beliau adalah panutan, tempat dan masa menjadi indah dengan sebab beliau, ...beliau adalah orang yang tak tertandingi dalam keilmuanmya yang mulia,...”

Imam as-Subky mengatakan “beliau menjadi imam yang masyhur, yang menjadi tujuan dari semua arah, dengan agama yang kuat dan wara` serta sikap yang tenang”.

Murid Abu Suja` Imam as-Silafi mengatakan : beliau adalah seorang yang wara` lagi qana`ah. Pernah masuk pencuri ke rumah beliau, mengambil semua barang yang ia temukan dalam rumah beliau, sedangkan beliau melihatnya dalam keadaan shalat dan tidak membatalkan shalat beliau.

Yahya bin Hamzah Al-`Alawi ( Wafat 749 H) telah menyebut tentang beliau : Sesungguhnya Abdul Qahir orang pertama yang menyusun kaedah di dalam ilmu ini (ilmu balaghah), dan memperjelaskan dalil-dalilnya, menyusun seluk beluk seninya, membuka kelopak ilmu ini dari pada tutupannya, membukakannya selepas ia tertutup dan dan menjadi kabur, dengan dua buah kitab beliau (Dalail Al-I`jaz dan Asrar Al-Balaghah). Dan belum pernah aku melihat keduanya, sedangkan sangat mencintai dan sangat kagum dengan kedua kitab tersebut, kecuali (yang pernah saya temui) hanya kutipan-kutipan para ulama dalam uraian-uraian mereka.

Beliau wafat tahun 471 H, pendapat lain mengatakan tahun 474 H.
Karya-karya beliau antara lain:

  1. Syarh al-Fatihah (1 jilid)
  2. Asrar Balaghah
  3. Dalail al-I`jaz
  4. al-Jumal fin Nahmi
  5. Talkhish, syarah dari kitab beliau al-Jumal
  6. at-Tatimmah fin Nahwi
  7. al-Mughni fi Syarh al-Idhah Abu Ali al-Farisi (30 jilid)
  8. i`Jaz al-Quran kabir (besar) dan shaghir (kecil) keduanya merupakan syarh bagi kitab I`jaz al-Quran karangan Abu Abdullah al-Wasithy.
  9. al-`Umdah fi Tashrif al-af`al
  10.  al-Awamil al-miah fi ilm Nahwi
  11. Tazkirah 
  12. al-Miftah
  13. dll



Kitab Awamil Miah, adalah sebuah kitab nahwu kecil yang di jadikan sebagai kitab pemula bagi pelajar ilmu nahwu (kalau di Aceh di pelajari sebelum mempelajari kitab matan Ajurrumiyah). Kitab ini banyak di syarah oleh ulama lain antara lain:


  1. Ibnu Madas Hisam ad-Din at-Taqani ar-Rumi al-Hanafi
  2. Tashil Nail Amani, karangan ulama Fathani, Thailand, Syeikh Ahmad al-Fathani
  3. Syarh `Awamil miah, karangan Syeikh Khalid al-azhari al-Jarjawi (w. 905 H)
  4. Syarh Awamil karangan Sayyid Syarif Ali bin Muhammad Jurjani (w. 816 H)
  5. Syarh Awamil al-Miah Nahwiyah karangan Syeikh Yahya bin Nushuh
  6. Fawaid al-`itabiyah fi hall al-Awamil miah, karangan Syeikh Muhammad Abi Qasim al-`Atabi
  7. Tahrir al-Aqwal karangan seorang Tgk. di Panton Labu, Aceh Utara
  8. dll

Kitab Awamil miah juga pernah di gubah menjadi nadham oleh Syeikh Muhammad bin Himad

Samalanga, 10 Syawal 1435 H/06-08-2014 M

Sumber:

Thabaqah Syafi`iyah Kubra, as-Subki
Bughyatul Mu`ah, Imam Sayuthy
Nazhah al-Anba` fi Tabaqat al-Adibba’
Al-Maraghi Ahmad Mustafa, Tarikh `Ulum Al-Balaghah
Muqaddimah Syarah Awamil karangan Syeikh Khalid al-azhari al-Jarjawi
Muqaddimah Tahqiq Kitab al-Jumal karagan Syeikh Abdul Qahr al-Jarjani oleh Ali Hairar

Rukun Shalat Yang ke Empat: Membaca Surah Al-fatihah

Rukun Shalat Yang ke Empat: Membaca Surah Al-fatihah
Para pengunjung setia website lbm.mudimesra.com yang dirahmati ALLAH, Sebagai muslim, kita pasti tahu bahwa membaca surah al-fatihah merupakan salah satu rukun shalat yang wajib kita kerjakan. Namun kadang-kadang, ada hal-hal kecil yang belum kita ketahui secara detil tentang rukun shalat yang ke empat ini. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini, kita akan membahas lebih detil tentang rukun shalat yang ke empat ini.

Membaca surah al-fatihah wajib dilakukan dalam shalat apa saja, baik shalat wajib, shalat sunat, shalat yang dilakukan secara jihar (mengeraskan suara), secara sir (mengecilkan suara), salat sambil berdiri atau sambil duduk. Baik dengan menghafalnya, mendengarnya dari orang lain, atau dengan cara melihat Al-Qur’an. Berdasarkan hadits rasulullah dalam shahih bukhari, jld. III, hal. 204 (maktabah syamilah) :


لا صلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكتاب
Artinya: “tidak ada (tidak sah –pen) shalat bagi orang yang tidak membaca surah al-fatihah

Sebelum membaca surat al-fatihah, disunnahkan membaca do’a iftitah. Kesunnahan ini berlaku secara umum, baik bagi orang yang shalat sendirian ataupun secara berjama’ah. Disunnahkan membaca do’a iftitah bagi makmum yang mendapati imam masih dalam posisi berdiri sebelum ruku’ dengan syarat si makmum masih sempat membacanya.

bagi orang yang mengerjakan shalat sendirian dan bagi imam yang mengetahui keridhaan makmum, dalam do’a iftitahnya disunnahkan melebihkan bacaan sebagai berikut:

اللهم أنت الملك لا إله إلا أنت سبحانك وبحمدك أنت ربي وأنا عبدك ظلمت نفسي واعترفت بذنبي فاغفر لي ذنوبي جميعا إنه لا يغفر الذنوب إلا أنت وأهدني لأحسن الأخلاق لا يهديني لأحسنها إلا أنت واصرف عني سيئها لا يصرف عني سيئها إلا أنت لبيك وسعديك والخير كله في يديك والشر ليس إليك أي لا يتقرب به إليك وقيل لا يفرد بالإضافة إليك وقيل لا يصعد وإنما يصعد الكلم الطيب والعمل الصالح وقيل ليس شرا بالنسبة إليك فإنك خلقته لحكمة بالغة وإنما هو شر بالنسبة إلى الخلق أنا بك وإليك تباركت وتعاليت أستغفرك وأتوب إليك
Artinya: “Ya Allah, Engkau adalah Raja. tiada tuhan (yang patut disembah -pen) kecuali Engkau. Maha suci Engkau dan terpujilah Engkau. Engkau adalah Tuhan ku dan aku adalah hamba-Mu. Aku telah mendzalimi diriku sendiri dan aku mengakui dosaku, maka ampunilah dosa-dosaku, semuanya. Tidak ada yang bisa mengampuni dosa kecuali Engkau. Bimbinglah aku untuk menjadi pribadi yang terbaik. Tidak ada yang bisa menjadikan aku sebagai pribadi yang terbaik kecuali Engkau. Jagalah aku dari perbuatan buruk, tidak ada yang dapat menjagaku dari perbuatan buruk kecuali Engkau. Aku memenuhi panggilan-Mu. Seluruh kebaikan berada di tangan-Mu. Dan tidak ada suatu keburukan pun bagi-Mu. Engkau telah menciptakannya dengan hikmah yang besar. Dan hanyasanya, ianya itu merupakan suatu keburukan dalam pandangan makhluq. Aku telah Engkau ciptakan. Dan aku akan kembali kepada-Mu. Engkau maha berkah dan maha tinggi. Aku memho amun dan bertaubat kepada-Mu”.

Dalam membaca surah al-fatihah, ada hal-hal yang wajib diperhatikan dengan seksama agar shalat yang dilakukan sah, mengingat surah al-fatihah merupakan rukun dalam shalat. Hal-hal yang harus diperhatikan adalah: wajib membaca “basmalah”, karena basmalah merupakan salah satu ayat dari surah al-fatihah. wajib memelihara huruf-huruf dan tasydidnya. Adapun jumlah huruf dalam surah al-fatihah adalah 141 huruf ( jika kita membaca kalimat ملك tanpa Alif), dan jumlah tasydid dalam surah al-fatihah adalah 14. Jadi, bila dijumlahkan huruf dalam surah al-fatihah adalah 155 huruf. Karena tasydid borposisi pada tempat dua huruf.

Bagi orang yang tidak bisa membaca surah al-fatihah, misalnya bagi orang yang tidak punya guru atau tidak punya al-qur’an, maka wajib membaca 7 ayat lain dalam satu surat. Jika tidak mampu, maka wajib membaca 7 ayat lain walaupun tidak dalam satu surat. Jika tidak mampu, maka wajib menggantinya dengan 7 zikir. Sebagaimana pendapat kuat yang dinyatakan oleh Imam al-bughawy. Dan disyaratkan huruf-huruf dari ayat atau zikir pengganti al-fatihah tidak boleh kurang dari huruf-huruf yang terdapat dalam surah al-fatihah. Dan jika seseorang tidak mampu membaca ayat atau zikir sebagai pengganti fatihah, maka yang diwajibkan adalah berdiri sekadar lamanya bacaan surah al-fatihah.

Referensi :
1. Nihayah al-muhtaj ila syarh al-minhaj, jld. I, hal. 472 (dar al-fikr, Beirut)

(وَيُسَنُّ بَعْدَ التَّحَرُّمِ) أَيْ عَقِبَهُ وَلَوْ لِلنَّفْلِ (دُعَاءُ الِافْتِتَاحِ) لِمُنْفَرِدٍ وَإِمَامٍ وَمَأْمُومٍ تَمَكَّنَ مِنْهُ بِأَنْ أَدْرَكَ إمَامَهُ فِي الْقِيَامِ دُونَ الِاعْتِدَالِ وَأَمِنَ فَوْتَ الصَّلَاةِ أَوْ الْأَدَاءِ وَقَدْ شَرَعَ فِيهَا وَفِي وَقْتِهَا مَا يَسَعُ جَمِيعَهَا،

2. Mughni muhtaj ila ma’rifati alfadh al-minhaj, jld, I, hal. 155 (Dar al-fikri, Beirut)

ويزيد المنفرد وإمام علم رضا مقتد به اللهم أنت الملك لا إله إلا أنت سبحانك وبحمدك أنت ربي وأنا عبدك ظلمت نفسي واعترفت بذنبي فاغفر لي ذنوبي جميعا إنه لا يغفر الذنوب إلا أنت وأهدني لأحسن الأخلاق لا يهديني لأحسنها إلا أنت واصرف عني سيئها لا يصرف عني سيئها إلا أنت لبيك وسعديك والخير كله في يديك والشر ليس إليك أي لا يتقرب به إليك وقيل لا يفرد بالإضافة إليك وقيل لا يصعد وإنما يصعد الكلم الطيب والعمل الصالح وقيل ليس شرا بالنسبة إليك فإنك خلقته لحكمة بالغة وإنما هو شر بالنسبة إلى الخلق أنا بك وإليك تباركت وتعاليت أستغفرك وأتوب إليك

3. I’anah al-thalibin, jld. I, hal. 162 (dar al-fikr, Beirut)

(و) مع (تشديدات) فيها، وهي أربع عشرة، لان الحرف المشدد بحرفين.فإذا خفف بطل منها حرف.(و) مع (رعاية حروف) فيها، وهي على قراءة ملك - بلا ألف - مائة وواحد وأربعون حرفا، وهي مع تشديداتها مائة وخمسة وخمسون

4. Hasyiah qulyubi wa ‘umayrah, jld. I, hal. 171 (dar al-fikr, Beirut)

(فَإِنْ جَهِلَ الْفَاتِحَةَ) أَيْ لَمْ يَعْرِفْهَا وَقْتَ الصَّلَاةِ بِطَرِيقٍ، أَيْ تَعَذَّرَتْ عَلَيْهِ لِعَدَمِ الْمُعَلِّمِ أَوْ الْمُصْحَفِ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ (فَسَبْعُ آيَاتٍ مُتَوَالِيَةٍ) يَأْتِي بِهَا بَدَلَ الْفَاتِحَةِ الَّتِي هِيَ سَبْعُ آيَاتٍ بِالْبَسْمَلَةِ. (فَإِنْ عَجَزَ) عَنْ الْمُتَوَالِيَةِ فَمُتَفَرِّقَةٌ. قُلْت: الْأَصَحُّ الْمَنْصُوصُ جَوَازُ الْمُتَفَرِّقَةِ مَعَ حِفْظِهِ مُتَوَالِيَةً، وَاَللَّهُ أَعْلَمُ. (فَإِنْ عَجَزَ) عَنْ الْقُرْآنِ (أَتَى بِذِكْرٍ) غَيْرِهِ كَتَسْبِيحٍ وَتَهْلِيلٍ. قَالَ الْبَغَوِيّ: يَجِبُ سَبْعَةُ أَنْوَاعٍ مِنْ الذِّكْرِ، وَقَالَ الْإِمَامُ: لَا. قَالَ فِي الرَّوْضَةِ كَأَصْلِهَا: وَالْأَوَّلُ أَقْرَبُ. (وَلَا يَجُوزُ نَقْصُ حُرُوفِ الْبَدَلِ) مِنْ قُرْآنٍ أَوْ ذِكْرٍ (عَنْ الْفَاتِحَةِ فِي الْأَصَحِّ) وَحُرُوفُهَا مِائَةٌ وَسِتَّةٌ وَخَمْسُونَ حَرْفًا بِقِرَاءَةِ مَالِكٍ بِالْأَلِفِ وَالثَّانِي يَجُوزُ سَبْعُ آيَاتٍ أَوْ سَبْعَةُ أَذْكَارٍ أَقَلُّ مِنْ حُرُوفِ الْفَاتِحَةِ، كَمَا يَجُوزُ صَوْمُ يَوْمٍ قَصِيرٍ قَضَاءً عَنْ يَوْمٍ طَوِيلٍ، وَدَفَعَ بِأَنَّ الصَّوْمَ يَخْتَلِفُ زَمَانُهُ طُولًا وَقِصَرًا فَلَمْ يُعْتَبَرْ فِي قَضَائِهِ مُسَاوَاةً، بِخِلَافِ الْفَاتِحَةِ لَا تَخْتَلِفُ فَاعْتُبِرَ فِي بَدَلِهَا الْمُسَاوَاةُ. (فَإِنْ لَمْ يُحْسِنْ شَيْئًا) مِنْ قُرْآنٍ وَلَا ذِكْرٍ (وَقَفَ قَدْرَ الْفَاتِحَةِ) فِي (ظَنِّهِ) وَلَا يُتَرْجِمُ عَنْهَا بِخِلَافِ التَّكْبِيرِ لِفَوَاتِ الْإِعْجَازِ فِيهَا دُونَهُ.


donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja