Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Firasat Abon Abdul Aziz Yang Terbukti Kebenarannya

Abon Abdul Aziz yang HAUL beliau akan di peringati esok oleh seluruh murid-murid beliau di komplek LPI MUDI Mesjid Raya. Salah satu karya beliau yang besar adalah ulama-ulama penerus beliau yang gigih mempertahankan Ahlus sunnah. Dari semua murid Abuya Muda Wali al-Khalidy, Abonlah yang paling berhasil dalam hal mendidik kader. Di antara karamah yang Allah berikan kepada Abon adalah banyaknya firasat Abon yang terbukti kebenarannya di kemudian hari. Banyak kisah-kisah yang memperlihatkan kebenaran firasat Abon, terutama denan para murid-muridnya.
Rasulullah pernah mengingatkan akan firasat seorang mukmin.
اتقوا فراسة المؤمن فإنه ينظر بنور الله
Artinya; Takutlah kamu kepada firasat orang mukmin, karena ia melihat dengan nur Allah (H.R. Turmizi)
Di antara kisah-kisah tersebut adalah :

  1. Pada suatu hari datang dua santri baru di Dayah Mudi. Pada saat menghadap Abon, salah satu dari santri baru tersebut dipandang oleh Abon dengan cukup lama, setelah ke dua santri tersebut keluar, ketika di tanyakan hal tersebut, Abon menjawab “esok hari ia akan pergi meninggalkan dayah”. Sedangkan yang seorang lagi akan bertahan di dayah selama beberapa saat. Esok harinya hal ini terbukti, santri yang dipandang oleh Abon tersebut langsung hengkang dari dayah, sedangkan yang satu lagi tetap bertahan sampai beberapa tahun.
  2. Abon pernah ditanyakan oleh salah satu murid mengapa Abon tidak membentuk ikatan alumni sebagaimana dilakukan oleh Abu Tepin Raya pada Dayah beliau, Darus Sa`adah. Abon menjawab: itu tidak perlu saya pikirkan, suatu saat akan dipikirkan oleh mereka sendiri. Hal ini tersebukti, saat ini alumni Mudi telah memiliki satu ikatan organisasi yang tergabung dalam Yayasan al-Aziziyah.
  3. Salah satu murid Abon Abu Manan Alue Lhoek mengeluh kepada Abon tentang anaknya yang paling tua yang memiliki kekurangan mental, bahwa anaknya ini susah untuk diajarkan ilmu agama. Abon mengatakan supaya beliau jangan bersedih karena kelak anak beliau tersebutlah yang akan menjadi tulang punggung keluarga beliau dalam hal nafkah. Hal ini terbukti setelah Abu Manan meninggal dunia sebagaimana yang Abon katakan.
  4. Pada awal-awal Abu Daud Lhok Nibong mendirikan dayah dan belum di datangi para santri sampai beberapa tahun, Abon telah berpesan bahwa Dayah Abu Daud akan maju dan beliau akan kewalahan menyediakan kamar penginapan untuk santri. Saat mendengar perkataan Abon tersebut, Abu Daud Lhok Nibong sempat merasa heran, bagaimana mungkin dayah beliau bisa berkembang seperti itu, padahal sudah beberapa tahun beliau mendirikan dayah, namun belum ada santri yang datang untuk belajar. Namun sekarang perkataan Abon tersebut terbukti kebenarannya. Dayah Daru Huda, Lhok Nibong menjadi dayah salah satu dayah favorit di Aceh yang jumlah santrinya berada pada urutan nomor dua setelah Dayah induknya, MUDI Mesjid Raya.
  5. Pada suatu ketika ada seorang santri Aceh yang baru pulang dari Arab Saudi, ia melakukan silaturrahmi ke beberapa ulama besar Aceh, dan mendapat sambutan hangat dari beberapa ulama di kunjungi, hingga akhirnya sampai ke rumah Abon. Dalam bincang-bincangnya dengan Abon, santri tersebut mengatakan bahwa ia sengaja bergaul dengan kelompok wahabi untuk menarik mereka ke jalan yang benar. Mendengar hal itu Abon dengan segera membantahnya “Pu tapegah di gata! tajak kawee yee, nyan jaloe-jaloe ka lam babah yee hana tathe” (apa kamu katakan, kamu itu ingin memancing ikan hiu, kamu dan kapalmu sudah dalam mulut hiu tapi kamu tidak menyadarinya). Maksud dari ungkapan itu adalah Abon membantah dakwaannya bahwa ia berkawan dengan wahabi demi menarik wahabi ke jalan yang benar, Abon mengatakan bahwa perbuatannya tersebut akan berakibat ia sendiri terjatuh dalam aqidah wahabi tanpa disadarinya. Hal itu terbukti di kemudian hari. Pada saat itu, belum tampak geligat yang berbeda pada diri santri tersebut, ia masih bersikap layaknya lulusan dayah biasa yang menentang pemahaman kaum wahabi. Namun lama kelamaan, sikapnya mulai menampakkan perubahan. Ia mulai menyerang amaliyah yang di jalankan di dayah, seperti berdoa setelah shalat, tahlilan, mencium tangan ulama, qunut dan banyak hal-hal lain. Firasat Abon tersebut tidak meleset sedikitpun. Pada tahun 1995 saat pemerintah Aceh di bawah gubernur Syamsuddin Mahmud membawa para ulama-ulama Aceh keliling dunia, santri tersebut sekamar dengan Abu Mudi, dalam bincang-bincangnya, tanpa sadar ia buka kartu bahwa ia mendapat gaji sekian dari pemerintah Arab saudi untuk menyebarkan paham wahabi di Aceh. Sampai saat ini sikapnya semakin jauh masuk dalam aqidah wahabi, seperti yang Abon katakan.
  6. Abon juga sering memprediksikan keadaan para muridnya kedepan, misalnya ada murid beliau yang beliau katakan bahwa ia akan mengajar ke depan, dan bahkan melebihi murid beliau yang lain yang bahkan memiliki kemampuan lebih. Kenyataan di kemudian hari tidak meleset sedikit dari perkataan Abon.
  7. Abu Mudi menceritakan, Pada awalnya waled Nu (Tgk.Nuruz Zahri, pimpinan pesantren Nurul Aiman, Samalanga) hanya mendirikan panti asuhan bukan sebuah dayah. pada suatu ketika Abon mengatakan kepada bahwa nyak Nu (waled Nu) suatu saat akan mendirikan Dayah. Hal ini terbukti bahwa sekarang ini panti asuhan yang dikelola Waled Nu telah berkembang menjadi satu dayah yang besar yang terletak tidak jauh dari Dayah Mudi Mesra.
  8. Dan masih banyak lagi firasat-firasat almarhum Abon Abdul Aziz yang terbukti kenenarannya.



Kedudukan Imam Ibnu Hajar al-Haitami dan Imam Ramli dalam Mazhab Syafii

Tuhfatul Muhtaj
Syaikhul Islam Imam Ibnu Hajar al-Haitami (909-974 H) dan Imam Syamsuddin Muhammad Ramli (919-1004 H) yang di kenal dengan gelar syafii shaghir (Imam Syafii Kecil), merupakan dua ulama mutaakhirin dalam mazhab Syafii yang menjadi rujukan utama para ulama semasa dan sesudah keduanya sampai sekarang. Para ulama sepakat bahwa hukum yang di sepakati oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami dan Imam Ramli merupakan hukum yang paling kuat. Namun para ulama berbeda pendapat tentang siapa yang lebih di dahulukan bila terjadi perbedaan pendapat antara Imam Ibnu Hajar al-Haitami dengan Imam Ramli.

Ulama Negri Hadharamaut, Syam, Akrad, Daghistan, dan kebanyakan ulama Yaman dan beberapa negri lainnya lebih mendahulukan Imam Ibnu Hajar al-Haitami. Sedangkan ulama Negri Mesir atau mayoritas ulama Mesir dan sebagian ulama Yaman lebih mendahulukan pendapat Imam Ramli bahkan masyhur berita bahwa para ulama Mesir telah berjanji tidak akan berfatwa dengan menyalahi pendapat Imam Ramli. Dalam beberapa hal yang berbeda pendapat dengan Imam Ibnu Hajar al-Haitami, Imam Ramli mengikuti pendapat bapak beliau, Imam Syihabuddin Ramli.

Imam Sya`rani ketika menceritakan riwayat Imam Syihabuddin Ramli menerangkan “Allah ta`ala menjadikan para fuqaha` tetap pada pendapat beliau (Syihab Ramli) baik di timur dan barat, di Mesir, Syam dan Hijaz, mereka tidak menyalahi pendapat Imam Syihab Ramli".
Imam Sulaiman Kurdi menyebutkan “kemungkinan hal ini terjadi sebelum muncul Imam Ibnu Hajar al-Haitami, manakala muncul Imam Ibnu Hajar al-Haitami, para ulama Nengri Syam dan Hijaz tidak menyalahi pendapat Imam Ibnu Hajar”.

Namun ada juga beberapa ulama Mesir yang lebih mendahulukan Imam Ibnu Hajar, bahkan Syeikh Ali Syabramalisi, ulama Mesir yang memberi hasyiah pada kitab Nihayah Muhtaj karangan Imam Ramli, pada mulanya lebih menekuni kitab Tuhfah Imam Ibnu Hajar al-Haitami. Hingga pada satu malam beliau bermimpi bertemu dengan Imam Ramli, beliau berkata “hidupkanlah kalamku ya Ali, Allah akan menghidupkan hatimu” maka semenjak saat itu Imam Ali Syibramalisi menekuni kitab Nihayah Muhtaj sehingga beliau menulis hasyiah atas kitab Nihayah Muhtaj yang terkenal sampai saat ini. Imam Qalyubi yang juga ulama Mesir (yang memberi hasyiah terhadap kitab Syarh al-Mahalli `ala Minhaj Thalibin) pada beberapa tempat juga lebih mengunggulkan pendapat Imam Ibnu Hajar al-Haitami.

Sedangkan ulama Haramain (Makkah dan Madinah) pada mulanya lebih mengunggulkan pendapat Imam Ibnu Hajar al-Haitami. Kemudian datanglah para ulama Negri Mesir ke Haramain. Mereka menerangkan dan mentaqrirkan pendapat mu`tamad imam Ramli dalam majlis pengajaran mereka sehingga mu`tamad Imam Ramli juga masyhur di Makkah dan Madinah, hingga akhirnya para ulama yang menguasai dan memahami kedua pendapat Imam Ibnu Hajar al-Haitami dan Imam Ramli menerima keduanya tanpa mengunggulkan salah satunya.

Kesepakatan Imam Ibnu Hajar dan Imam Ramli memiliki kedudukan yang kuat dalam Mazhab Syafii, bahkan syeikh Sa`id Sunbul al-Makki mengatakan “tidak boleh bagi seorang mufti berfatwa dengan pendapat yang menyalahi pendapat Imam Ibnu Hajar dan Imam Ramli terutama kitab Tuhfah dan Nihayah walaupun sesuai dengan pendapat keduanya dalam kitab yang lain". Beliau mengatakan “sebagian para ulama dari daerah Zamazimah telah memeriksa kalam kitab Tuhfah dan Nihayah, maka beliau mendapati kedua kitab tersebut merupakan sandaran dan pilihan mazhab Syafii”. Pernyataan Syeikh Sai`d Sunbul ini juga di ikuti oleh Syeikh Muhammad Shalih al-Muntafiqy.

Secara umum pada masalah-masalah yang terjadi perbedaan pendapat antara Imam Ibnu Hajar al-Haitami dengan Imam Ramli, pendapat Imam Ramli lebih ringan dari pada pendapat mu`tamad Imam Ibnu Hajar. Beberapa ulama melakukan pengkajian khusus tentang perbedaan antara Imam Ibnu Hajar al-Haitami dengan Imam Ramli dan membukukannya dalam kitab khusus, antara lain kitab Busyra Karim karangan Syikh Sa’id Muhammad Ba’ashan, Itsmidul ainaian fi ba'dh ikhtilaf asy-Syaikhaini karangan karangan Syeikh 'Ali Bashiri yang di cetak bersamaan dengan kitab Bughyatul Mustarsyidin karangan Sayyid Ba'alawi al-Hadhrami, kitab Fathul ‘Ali bi Jam’i Bi Jam’i Khilaf Baina Ibn Hajar wa Ramli karangan Syeikh Umar bin Habib Ahmad Bafaraj Ba’alawi.
Ibnu Hajar, selain dengan kitab Tuhfahnya juga di kenal karena banyak meninggalkan kitab-kitab karangan yang lain dalam berbagai jenis ilmu.

Beberapa kitab Ibnu Hajar dalam ilmu fiqh adalah :
  1. Tuhfatul Muhtaj Syarah Minhaj
  2. al-Imdad Syarah al-Irsyad
  3. Fathul Jawad Syarah al-Irsyad (3 jilid)
  4. Ittihaf ahli al-Islam bi Khushushiyat ash-Shiyam
  5. al-I’lam bi Qawathi’ al-Islam
  6. Idhah al-Ahkam lima Ya`khuzuhu al-‘Ummal wa al-Hukam
  7. al-`i’ab Syarah al-Ubab
  8. Hasyiah ‘ala Idhah Manasik Imam Nawawi
  9. Syarah Mukhtashar ar-Raudh
  10. Syarah Mukhtashar Abi Hasan al-Bakri
  11. Syarah Muqaddimah Bafadhal yang kemudian di beri hasyiah oleh ulama Nusantara, Syeikh Mahfudh Termasi
  12. Minhaj ath-Thalibin fi Mukhtashar al-Muharrar Imam Rafii
  13. Kaff ar-Ri`a` `an Muharramati al-Lahwi was Sima`
  14. Fatawa Kubra Fiqhiyah, sebuah kitab kumpulan fatwa-fatwa beliau. Dalam kitab fatwa tersebut banyak kitab-kitab risalah Ibnu Hajar yang merupakan jawaban-jawaban dari pertanyaan yang datang kepada beliau.

Dari kitab-kitab Imam Ibnu Hajar al-Haitami tersebut, yang lebih di dahulukan adalah Kitab Tuhfah Muhtaj `ala Minhaj Thalibin kemudian kitab al-Imdad, selanjutnya Syarh Bafadhal kemudian kitab Fatawa beliau, kemudian kitab Syarah al-Ubab.

Di Indonesia, ilmu fiqh kedua imam ini berkembang dengan baik. Kitab fiqh yang banyak membawa pandangan Imam Ibnu Hajar al-Haitami yang di ajarkan di pesantren di Indonesia antara lain, Fathul Mu’in yang merupakan karangan murid Ibnu Hajar al-Haitami, Syeikh Zainuddin al-Malibari, Hasyiah Qalyubi 'ala Syarah al-Mahalli. Sedangkan kitab fiqh yang banyak membawa pendapat Imam Ramli yang di ajarkan di pesantran antara lain kitab Hasyiah al-Bajuri karangan Syeikh Ibrahim al-Bajuri, Hasyiah Syarqawi ‘ala Syarah Tahrir karangan Syeikh Abdullah Syarqawi, Kitab Hasyiah Bujairimi karangan Syeikh Sulaiman al-Bujairimi. Sedangkan Hasyiah I'anatuth Thalibin karangan Sayyid bakri Syatha lebih sering membawa pendapat kedua Imam ini ketika terjadi perbedaan di antara keduanya tanpa menguatkan salah satunya.
Imam Ibnu Hajar al-Haitami mengarang kitab Tuhfatul Muhtaj
Semoga Allah memberikan taufiq dan hidayah kepada kita untuk selalu mengikuti jejak-jejak para ulama aswaja. Amiin.

Referensi:

Fawaid Madaniyah, Syeikh Sulaiman Kurdi , Dar Nur Shabah th 2011
Ibnu Hajar al-Haitami, Abdul Mu’izz Abdul Hamid, Kairo th 1981
dll

Gambar Tanaman Dalam Kitab

Ketika kita (santri) belajar tentang masalah zakat tanaman, khususnya kitab Kanz al-Raghibin, karya imam Jalaluddin al-mahally, dalam kitab tersebut banyak disebutkan jenis jenis tanaman, baik yang wajib dizakati atau tidak. Dan kita seringkali merasa bingung dan penasaran karna kita tidak tahu bagaimana bentuk tanaman yang tersebut disitu. kalimat "lihat gambar" yang terdapat dalam kamus idris marbawi ternyata tidak sanggup menghilangkan rasa penasaran kita.....

Oleh karena itulah, kami berinisiatif untuk melengkapi gambar jenis tanaman dalam kitab zakat yang pernah di posting oleh sahabat kita di "MUDI POST" beberapa waktu yang lalu......

Berikut ini, kami tampilkan beberapa gambar jenis tanaman yang disebutkan dalam kitab al-mahally berdasarkan hasil pemeriksaan gambar dengan menggunakan program pencari gambar di google. Walaupun belum lengkap, namun kiranya  bisa bermanfaat... :)

almond/badam, buah tin, chartamus, curcuma, juwawut, kuma-kuma, paria, wijen, zaitun, kacang brul, daun bidara

kelabat, gandum, aprikot, narsis, kacang arab


kacang dan pala




Syeikh Abdur Rahman al-Akhdhari, ulama sufi pengarang kitab nadham

Makam Syeikh al-Akhdhary di Aljazair
Makam Syeikh al-Akhdhary di Aljazair
Salah satu kitab yang menjadi pegangan wajib dalam mempelajari ilmu mantiq adalah Kitab Sulam Munawwaraq yang merupakan kitab berbentuk nadham yang menjadi panduan bagi para pemula ilmu mantiq. Kitab ini di karang oleh Syeikh Abdur Rahman al-Akhdhari.
Ada dua kitab Syeikh Abdur Rahman al-Akhdhari yang di jadikan kitab kurikulum di dayah-dayah di Aceh khususnya dan pesantren di Nusantara umumnya. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini kami akan menyajikan biografi singkat Syeikh Abdur Rahman al-akhdhari yang kami kumpulkan dari beberapa sumber.

Nama lengkap beliau adalah Abu Yazid Abdur Rahman bin Muhammad ash-Shughayyra bin Amir al-Akhdhari. Al-Akhdhari tersebut di nisbahkan kepada Al-Akhdhar, nama satu bukit di Aljazair. Dari pihak ayah, nasab beliau bersambung hingga salah satu shahabat Rasulullah SAW, al-Abbas bin Mirdas bin Abi Amir as-Sulami.

Terjadi perbedaan pendapat para ahli sejarah tentang tahun kelahiran Imam al-Akhdary. Menurut sebagian ahli sejarah beliau lahir di desa Benthious, Zab bagian barat, Aljazair tahun 910 H/1504 M dan wafat tahun 953 H/1546 M, pendapat yang lain mengatakan beliau lahir tahun 918 H/1512 M dan wafat tahun 953 H/1546 M. Namun kalau melihat keterangan beliau sendiri pada akhir kitab Matan Sulam Munawraq, di mana beliau mengatakan selesai mengarang kitab Matan sulam dalam usia 21 pada tahun 941 H maka dapat di simpulkan bahwa beliau lahir sekitar tahun 920 H. Beliau lahir dalam lingkungan keluarga yang berpegang teguh pada syara` dan membenci perbuatan yang menyalahi kitab dan sunnah. Bapak beliau merupakan seorang ulama yang mengarang hasyiah bagi kitab Sayyidi Jalil. Kakek beliau Syeikh Muhammad bin Amir juga seorang ulama tasawuf.

Beliau mengambil ilmu dari ayah beliau sendiri Muhammad ash-Shughayyar dan dari abang kandung beliau sendiri Syeikh Ahmad. Kemudian beliau belajar kepada para ulama lain dari daerah Zab, antara lain Syeikh Shufi Abdur Rahman bin Laqrun, Syeikh Abu Thaiyib, Syiekh Abdul Hadi al-Fathnasi, kemudian melanjutkan belajar beliau ke Propinsi Konstantin, aljazair dan mengambil ilmu dari Syeikh Umar bin Muhammad al-Kumad al-Anshari al-Qusanthy yang masyhur dikenal dengan nama al-Wazan.
Dalam usia muda beliau telah menguasai berbagai macam ilmu dan telah mengajarkan berbagai macam ilmu seperti Falak, Manthiq, Hisab, Balaghah, lughah, Nahwu, Tauhid, Fiqh, Faraidh dan tasawuf. Beliau menghabiskan masa beliau dalam mengajar dan menyebarkan ilmu selain juga menekuni beribadah kepada Allah. Dalam waktu-waktu tertentu beliau berkhalwat dengan memfokuskan diri untuk berzikir dan beribadah kepada Allah.
Beliau juga mengatur waktu untuk menulis kitab dalam berbagai macam disiplin ilmu. Murid-murid Imam al-Akhdhari berdatangan dari berbagai daerah. Beliau mengajarkan kitab-kitab yang beliau karang sendiri di hadapan para pelajar di kota Benthious, kota tempat makam beliau berada.
Selain itu Imam al-Akhdhari di kenal sebagai seorang ulama sufi yang mustajabah doanya. Imam Ahmad Damanhuri dalam syarah beliau atas matan Sulam, Idhah Mubham mengatakan bahwa “guru beliau mengabarkan dari para guru-gurunya bahwa pengarang (Syeikh Abdur Rahman al-Akhdhari) adalah salah seorang pembesar ulama sufi dan mustajabah doa”.
seperti doa beliau pada muqaddimah Matan Sulam, supaya Allah menjadikan kitab beliau tersebut bermanfaat bagi para pelajar dan menjadi jalan untuk memahami kitab-kitab mantiq yang lebih tinggi. Imam Ahmad Damanhuri mengatakan “sungguh Allah telah mengabulkan permiantaan beliau, setiap orang yang membaca kitab beliau ini dengan sungguh-sungguh, Allah bukakan baginya pemahaman dalam ilmu ini (ilmu mantiq) dan sungguh kami telah menyaksikan demikian”.

Kitab-kitab Karya Imam al-Akhdhari

Imam al-Akhdhari memulai menulis semenjak masa usia muda belia, beliau menulis nadham as-Siraj fil Falak dalam usia 17 tahun, nadham azahari al-Mathalib fi Astharlab dalam usia 20 tahun dan nadham Sulam Munawraq dalam usia 21 tahun sebagaimana beliau terangkan sendiri pada akhir nadham Sulam Munawraq. Nadham al-Qudsyah beliau karangan ketika berusia 24 tahun sedangkan nadham Jauhar Maknun beliau karang ketika beliau berusia 30 tahun.
Tulisan karya Imam al-Akhdhari terdiri dari berbagai macam ilmu, beliau memiliki karya tulis sebanyak 20 karangan dan bahkan ada yang mengatakan lebih dari 30 karangan baik yang masih ada saat ini maupun yang sudah tidak di temukan lagi saat ini.
Kebanyakan karya beliau berbentuk nadham atau ringkasan dari matan kitab lain yang lebih besar. Hal ini merupakan upaya beliau untuk mempermudah para pelajar menghafal berbagai macam masalah dalam setiap ilmu. Beliau juga mensyarah sendiri beberapa nadham yang beliau karang. Dalam kitabnya, beliau banyak menekankan kepada pendidikan akhlak, tawasuf bahkan ketika memberikan contoh-contoh tarkib dalam ilmu balaghah dalam kitab Jauhar Maknun berisi tentang ajaran-ajaran tasawuf dan akhlak. Hal ini menunjuki kesufian beliau sehingga terbawa dalam kata-kata beliau yang beliau bawakan sebagai contoh dalam tarkib kalam dalam ilmu balaghah. Ini juga merupakan upaya beliau dalam menanamkan nilai-nilai tasawuf dalam dada para murid beliau.
seperti contoh yang beliau bawakan dalam kitab Jauhar Maknun pada bab Isnad Khabari :
كقولنا لعالم ذي غفلة الذكر مفتاح لباب الحضرة
seperti perkatakan kita bagi orang alim yang lalai, zikir adalah kunci bagi pintu hadhrat.

pada bab Musnad Ileih beliau memberikan contoh:
كـحبذا طريقة الصوفية تهدي إلى المرتبة العلية
seperti “sebaik-baik jalan adalah jalan shufiyah, yang menunjuki jalan yang tinggi

وفصله يفيد قصر المسند عليه كـالصوفي هو المهتدي
fashal musnad ileh memberi faedah qashar musnad atasnya seperti “hanyalah orang shufi yang mendapat petunjuk”.

dll

Contoh-contoh ini memperlihatkan bahwa dalam celah-celah mengajar ilmu alat, beliau juga berusaha menanamkan nilai-nilai akhlak dan tawasuf kepada para murid-muridnya.

Diantara beberapa kitab karangan beliau adalah:
  1. Nadham Risalah fi ilm Hisab terdiri dari 117 bait, kitab ini telah di cetak beberapa kali, antara lain cetakan qahirah tahun 1369 H/1949 M dalam cetakan majmuk Muhimmat al-Mutun.
  2. ad-Durrah al-Baidhah fil Hisab wa al-Faraidh, terdiri dari 500 bait, terdiri dari tiga bagian, bagian pertama tentang maudhu` ilmu hisab, bagian kedua fiqh faraidh dan bagian ketiga cara pembagian tirkah. kitab ini juga telah di cetak beberapa kali antara lain cetakan Qahirah tahun 1309 H/1891 M dan juga pada tahun 1325 H/1907 M dengan di sertai syarahnya. Bagian kedua kitab ini pernah di syarah oleh Syiekh Muhammad Shadiq asy-Syathi, Syeikh Muhammad ad-Darnawi (w. 1199 H).
  3. Matn al-Kahdhari fi al-`ibadah, sebuah risalah dalam bidang fiqh ibadah berdasarkan mazhab Maliky. Kitab ini telah di cetak beberapa cetakan dan pernah di syarah oleh Abdul Lathif bin Musbih al-Murdasi al-Qusanthiny (w. 980 H/1572 M)
  4. Mandhumah al-qudsiyah, terdiri dari 357 bait, beliau karang tahun 944 H/1537 M. Kitab ini menerangkan tentang tasawuf, nasehat dan petunjuk agama dan akhlak. Nadham ini di syarah oleh banyak para ulama, antara lain oleh Syeikh Husen al-Wartalani (w. 1193 H/1778 M) dengan nama al-Kawakib al-`irfaniyah wa asy-Syawariq al-Ansiyah fi Syarh alfadh al-Qudtsiyah
  5. ar-Raihah fi Madh ar-Rasulillah terdiri dari 163 bait yang berisi pujian kepada Rasulullah SAW dan nasehat
  6. Qashidah al-Lamiyah fi Tasawuf wa al-Irsyad ad-Diny
  7. Nadham Jauhar Maknun fi Tsalatsati al-funun (Ma`ani, Bayan dan Badi`) terdiri dari 291 bait. kitab ini merupakan ringkasan dari kitab Talkhish fi Balaghah karangan Khatib Khazwaini sebagaimana beliau terangkan sendiri dalam bait jauhar maknun. Kitab ini sempat beliau beri syarah sendiri dalam satu syarah yang lebih besar dari kitab asalnya, Talkhish Khazwaini. ulama lain yang juga mensyarahnya adalah Syeikh Ibrahim bin Abi `ilaq az-Zabidy, Syeikh Ahmad Mubarakk al-Qusanthini, Ulama lain yang mensyarah kitab ini adalah Syeikh Ahmad Damanhuri, Syeikh al-Azhar ke 10 yang kemudian di beri hasyiah oleh Syeikh Makhluf bin Muhammad al-Badawi yang saat ini banyak di pakai di berbagai lembaga pendidikan di dunia. Kitab Nadham Jauhar Maknun bisa di download di SINI
  8. Matan Sulam Murawnaq fi ilm Mantiq terdiri dari 144 bait. Beliau juga mensyarah nadham ini yang saat ini di cetak pada bagian kedua setelah kitab Idhahul Mubham yang merupakan syarah Seikh Ahmad Damanhuri atas matan Sulam ini. Ulama lain yang ikut mensyarah kitab matan sulam adalah Syeikh Ibrahim al-Bajuri, Syeikh Muhammad al-Inbabi, Syeikh Muhammad at-Tafani, Syeikh Sa`id bin Ibrahim Qadurah, Syeikh al-Banani yang kemudian di beri hasyiah oleh syeikh Muhammad bin Abi Syuaib Bu`isyrin (w. 1364 H), Syeikh Muhammad ad-Dimyati (w. 1178 H), Syeikh Hasan Darwis al-Quwaisuni, juga di syarah oleh Saif Sunnah Syeikh Sa’id Faudah, ulama Jordania saat ini yang gigih mempertahankan aqidah Asyairah wal Maturidiyah. Nadham matan Sulam juga di beri tambahan nadham (tausyih) oleh Syeikh Abdu Salam sehingga jumlah nadhamnya menjadi 440 bait yang kemudian di syarah oleh Syeikh Muhammad Mahfudh bin Syeikh bin Fahaf dengan nama kitab beliau Raf`ul A`lam `ala Sulam al-Akhdhari. Kitab Matan Sulam Munawraq ini pernah di terjemahkan kedalam bahasa Perancis oleh Luciani. J.D. (1851-1932) seorang misionaris perancis dengan nama Le soullam Traite De Logique
  9. Mandhumah as-Siraj fi Ilm al-falak. Kitab ini di syarah oleh beberapa ulama, antara lain; Syeikh Abdul Aziz bin Ahmad bin Muslim al-Farisi, salah satu murid beliau sendiri, Syeikh Sahnun bin Usman al-Maidawi al-Wansyarisi dengan nama Mufid al-Muhtaj fi Syarh Siraj (di cetak tahun 1324 H/1906 M)
  10. Mandhumah Azhar fi Ilm bi al-astharlab sebuah nadham tentang alat ilmu falak astralabe.
  11. al-faraid al-Ghurra` fil Tauhid
  12. ad-Darratul Bagiyah fi Nahwi
  13. dll

Dalam beberapa nadhamnya, Syeikh Abdur Rahman al-Akhdhari meratapi keadaan masa itu yang sudah penuh dengan kejahilan dan kefasikan serta keadaan ilmu yang semakin yang kurang. Dalam nadham Sulam Munawraq beliau mengatakan :
لا سيما فى عاشر القرون ذى الجهل والفساد والفنون
terlebih lagi pada kurun ke sepuluh, yang penuh kebodohan, kerusakan dan kegilaan.

Dalam nadham al-Qudtsiyah beliau juga meratapi keadaan ilmu dan ahli ilmu pada masa itu:

هذا زمان كثرت فيه البدع واضطربت عليه امواج الخداع
وخمست شمس الهدى وافلت من بعد ما قد بزغت وكملت
والدين قد تهدمت اركانه والزور طبق الهوى دخانه

zaman ini adalah zaman yang banyak bid`ah, dan di goncang oleh gelombang tipuan
tertutuplah matahari petunjuk dan ia terbenam, setelah ia terbit dan sempurna
sungguh telah hancurlah tiang agama, asap kefasikan telah menutupi hawa

dan masih banyak nadham-nadham beliau yang menceritakan kerusakan zaman dan masa tersebut serta keadaan ilmu agama yang cahayanya semakin redup.

Sumber: di rangkum dari

  1. Kitab Abdur Rahman al-Akhdhari `Alim ash-Shufi allazi tafawwaqafi `ashrihi karangan Bunuriani ad-Daraji, Aljazair, Cet ke 2 tahun 2009, Bled edition.
  2. Idhahul Mubham fi Syarh Sulam, Syeikh Ahmad Damanhuri, Haramain
  3. Mu`jam al-Muallifin, Umar Ridha Kahalah, Beirut, Dar Ihya at-Turas al-Arabi, tt

Doa Ketika Sujud Tilawah

Doa Sujud Tilawah
Pada tulisan sebelumnya kami telah menerangkan sedikit tentang hal-hal yang berkaitan dengan sujud tilawah minus doa yang di baca ketika sujud tilawah. Sesuai dengan janji kami, bahwa akan kami lanjutnya dengan doa sujud tilawah, maka dalam tulisan ini akan kami tampilkan doa yang bisa di baca ketika kita melakukan sujud tilawah.
Adapun zikir yang di baca ketika sujud tilawah adalah :

  • Tasbih sebagaimana dalam sujud shalat seperti biasa yaitu:


 3 x سبحان ربي الاعلى وبحمده


  • Kemudian membaca:


اَللّهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَلَكَ أَسْلَمْتُ سَجَدَ وَجْهِىَ لِلَّذِى خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ تَبَارَكَ اللهُ أَحْسَنَ الْخَالِقِيْنَ
سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوْح

Ya Allah, hanya bagiMu aku sujud, dan hanya denganMu aku beriman, dan hanya bagiMu aku Islam, sujudlah wajahku bagi yang menciptakannnya dan membentuknya dan membelah pendengarannya dan penglihatannya dengan dayaNya dan kekuatanNya, Maha sucilah Allah sebagus-bagus pencipta.

  • Kemudian ditambah dengan doa :

اللَّهُمَّ اُكْتُبْ لِي بِهَا عِنْدَكَ أَجْرًا وَاجْعَلْهَا لِي عِنْدَكَ ذُخْرًا وَضَعْ عَنِّي بِهَا وِزْرًا وَاقْبَلْهَا مِنِّي كَمَا قَبِلْتَهَا مِنْ عَبْدِكَ دَاوُد صلى الله عليه وسلم

Ya Allah, tuliskankanlahh bagiku dengannya (sujud) pahala di sisiMu, dan jadikanlah ia sebagai simpanan (untuk hari akhirat) bagiku dan kurangilah dosaku dengannya dan terimalah ia dariku sebagaimana Engkau menerimanya dari hambaMu, Nabi Daud ‘Alaihi Salam.
(Doa ini di riwayatkan oleh Imam Turmuzi dan lainnya dengan sanad yang hasan)

Imam Ismail adh-Dharir dalam kitab beliau at-Tafsir meriwayatkan doa yang di pilih oleh Imam Syafii yaitu:

سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنْ كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولا

Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi.(surat al-Isra ayat 108)

Di sunatkan untuk membaca semua zikir-zikir tersebut dan boleh ditambah dengan doa-doa apa saja yang ia kehendaki baik dalam urusan dunia maupun urusan akhirat.

Namun bila di baca sebagiannya saja, pahala tasbih juga hasil, dan bila ia hanya sujud tidak membaca apapun maka ia hanya mendapat pahala sujud tilawah.
Kemudian bila selesai dari sujud maka segera bangun dan mengucapkan salam.

Sumber:

kitab Tibyan fi Adabi Hamalatil Quran karangan Imam Nawawi, hal 212-239 Cet. Dar Salam

Hukum Sujud Tilawah, syarat dan waktunya

Sujud Tilawah
Salah satu hal yang mendapat anjuran yang besar dari pada syara’ ketika membaca al-quran adalah melakukan sujud ketika membaca ayat-ayat sajadah, namun belakangan ini banyak kita jumpai para pembaca al-quran yang tidak melakukan sujud tilawah walaupun hukumnya sunat namun kenapa di lewatkan kesempatan ibadah yang besar. Mungkin karena sedikitnya pengetahuan mereka tentang sujud tilawah, maka karena itu kami pihak lbm mudi mesra akan mengupas seputar sujud tilawah.

Hukum sujud Tilawah

Para ulama sepakat bahwa sujud tilawah merupakan satu yang diperintahkan, para ulama hanya terjadi perbedaan pendapat apakah hukumnya wajib atau sunat.
Mayoritas ulama seperti shahabat Nabi Umar bin Khatab, Ibnu Abbas, Salman al-Farisi, Imran bin Hashin, Imam Malik, Imam Auza’i, Imam Syafii, Imam Ishaq Rawahaih, Abi Tsur, Imam Daud dll sepakat bahwa hukum sujud tilawah adalah sunat. Mereka berpendapat demikian berdasarkan beberapa hadits Nabi yang menceritakan bahwa Nabi kadang sujud ketika membaca ayat sajadah dan kadang-kadang tidak sujud. Sedangkan Abi Hanifah berpendapat bahwa hukum sujud tilawah adalah wajib.

Syarat sujud Tilawah

Hukum sujud tilawah sama dengan shalat sunat, maka semua syarat-syarat dalam shalat juga di berlakukan dalam sujud, yaitu suci dari hadats, najis (baik pakaian, badan dan tempat) dan menghadap kiblat.

Terhadap siapa di sunatkan sujud tilawah?

Sujud tilawah disunatkan terhadap terhadap pembaca al-quran yang dalam keadaan suci dan juga di sunatkan terhadap orang yang menyimak bacaan al-quran dan orang yang mendengarnya baik pembaca ayat tilawah berada dalam keadaan shalat ataupun di luar shalat. Terhadap orang yang menyimak al-quran dan yang mendengarkannya tetap disunatkan sujud tilawah walaupun pembacanya tidak sujud sama sekali. Tuntutan untuk sujud kepada pendengar al-quran ini berlaku walaupun ayat sajadah tersebut di baca oleh anak-anak yang belum baligh, orang berhadats, orang kafir baik laki-laki maupun perempuan.

Sujud tilawah dalam shalat

  • Shalat secara sendirian
    Bila seseorang telah membaca ayat tilawah dalam shalat tetapi tidak ada rencana untuk sujud, kemudian ia pun rukuk dan timbul dalam hatinya niat untuk sujud tilawah maka saat tersebut ia tidak dibenarkan lagi untuk sujud. Bila ia sujud sedangkan ia mengetahui hal tersebut tidak dibenarkan maka shalatnya bisa batal. Kecuali ketika turun untuk rukuk ia belum sampai batasan sekurang-kurang rukuk maka di bolehkan baginya untuk sujud tilawah. Terhadap orang yang sedangkan shalat tidak dibenarkan untuk sujud tilawah bila mendengarkan bacaan ayat sajadah dari orang lain baik dari orang yang sedang shalat maupun orang di luar shalat.
  • Shalat secara berjamaah
    Hukum sujud tilawah bagi imam dalam shalat jamaah sama halnya dengan orang yang shalat sendirian.
    Sedangkan makmum bila imamnya telah sujud tilawah maka ia wajib sujud juga, bila ia tidak sujud dengan sengaja maka shalatnya batal. Sedangkan bila imam tidak sujud maka terhadap makmum tidak boleh sujud tilawah baik karena bacaan ayat sajadah dirinya sendri, imam ataupun bacaan ayat sajadah orang lain dan bila ia sujud maka dapat membatalkan shalatnya. Tetapi walaupun demikian bila imamnya membaca ayat sajadah dan tidak sujud tilawah maka setelah selesai shalat di sunatkan bagi makmum untuk sujud.
    Bila imam sujud sedangkan makmum tidak mengetahuinya sehingga imam telah bangun dari sujudnya maka tidak di benarkan lagi bagi makmum untuk sujud. Demikian juga bila ia sedang turun membungkuk untuk sujud tiba-tiba imam bengun dari sujud maka terhadap makmum tersebut tidak boleh meneruskan turun untuk sujud tetapi langsung bangkit bersama imam.

Waktu sujud tilawah

Waktu sujud tilawah adalah mengiringi pembacaan ayat sajadah, bila tidak segera sujud dan telah berselang waktu yang lama maka tidak di tuntut lagi untuk sujud dan tidak si sunatkan untuk mengkadhanya. Terhadap pembaca atau pendengar ayat sajadah yang sedang berhadats bila ia sempat bersuci setelah mendengar ayat sajadah dalam waktu yang dekat maka di sunatkan baginya untuk sujud tilawah. Dalam mazhab Syafii sujud tilawah tidak di makruhkan dalam waktu yang di makruhkan untuk shalat. Pendapat ini sesuai dengan penadapat mayoritas ulama lain seperti Imam Sya’bi, Hasan Bashri, Salim bin Abdullah, Qasim, Atha’, Ikrimah, Abu Hanifah, dan Imam Malik dalam satu riwayat. Menurut sebagian ulama yang lain seperti Abdullah bin Umar, Sa’id bin Musayyab dan Imam Malik dalam riwayat yang lain menganggap makruh sujud tilawah dalam waktu yang dimakruhkan shalat. Dalam al-quran jumlah ayat sajadah yang pada akhir ayat tersebut di sunatkan melakukan sujud sebanyak 14 tempat. Ini adalah pendapat Imam Syafii dan mayoritas ulama.

Ayat-ayat tersebut adalah:

  1. Akhir surat al-A’raf (ayat 206)
  2. Surat ar-Ra’du ayat 15
  3. Surat an-Nahlu ayat 50
  4. Surat al-Isra ayat 109
  5. Surat Maryam ayat 58
  6. Surat al-Hajj ayat 18
  7. Surat al-Hajj ayat 77
  8. Surat al-Furqan ayat 61
  9. Surat an-Namlu ayat 26
  10. Surat Sajadah ayat 15
  11. Surat Haa mim Sajadah ayat 38
  12. Surat an-Najmu ayat terakhir (ayat 62)
  13. Surat al-Insyiqaq ayat 21
  14. Surat al-‘Alaq ayat terakhir (19)
Adapun ayat sajadah dalam surat Shad ayat 24 tidak termasuk ayat yang di sunatkan untuk sujud tilawah  tetapi masih termasuk dalam ayat yang juga di sunatkan sujud setelahnya, namun bukan sebagai sujud tilawah tetapi sebagai sujud syukur, karena dalam ayat tersebut Allah menceritakan diterimanya taubat Nabi Dawud, maka kita sujud syukur atas diterimanya taubat Nabi Daud tersebut.

 Sedangkan dalam mazhab Hanafi jumlah ayat yang kuat di sunatkan untuk sujud tilawah (‘azaim sujud) juga 14, namun tidak termasuk Surat al-Hajj ayat 77 dan di gantikan dengan surat ash-Shad ayat 24 . Dalam mashhaf yang di cetak zaman ini, biasanya tempat-tempat sujud tilawah tersebut (baik yang kuat disunatkan sujud atau tidak) di tandai dengan tanda tersendiri yang mengisyarahkan untuk sujud seperti tanda seperti di bawah ini:
tanda Sujud Tilawah


Biasanya, di sampingnya juga di tulis sajadah, seperti gambar ini:
tanda Sujud Tilawah



Mengulang-ulang ayat sajadah

Bila seseorang mengulang membaca ayat-ayat sajadah dalam majlis yang berbeda maka di sunatkan untuk sujud sajadah setiap kali bacaan ayat sajadah. Adapun bila ayat sajadah tersebut di baca berulang-ulang dalam satu majlis maka bila ia tidak sujud pada pembacaan pertama maka cukup satu kali sujud untuk semua ayat yang di baca tanpa ada khilaf di antara para ulama. Demikian juga bila pada pembacaan pertama ia langsung sujud tilawah berdasarkan Ibnu Surej dan pendapat ini di pilih oleh shahib kitab ‘Uddah dan Syeikh Nashr al-Maqdisy.

Adapun bila ayat sajadah di ulang dalam shalat, maka bila dalam rakaat yang berbeda maka sama hukumnya dengan ayat sajadah yang di baca dalam majlis yang berbeda, sedangkan bila di ulang dalam rakaat yang sama maka sama hukumnya dengan mengulang ayat sajadah dalam satu majlis.

Sifat sujud

Dalam sujud tilawah, sifat sujudnya sama dengan sifat sujud dalam shalat. Kemudian bila selesai dari sujud dan doanya maka segera bangun dan mengucapkan salam.

Sumber:
Dirangkum dari kitab Tibyan fi Adabi Hamalatil Quran karangan Imam Nawawi, hal 212-239 Cet. Dar Salam
Bersambung...
Doa Sujud Tilawah




Tahlilan Menurut Penjelasan Imam Al-Qurafi Al-Maliky

tahlilanImam al-Qurafi (w. 684 H) merupakan salah satu ulama besar mazhab Maliki. Beliau di kenal banyak meninggalkan kitab-kitab yang di jadikan rujukan oleh berbagai ulama setelah masa beliau. Salah satu kitab beliau adalah anwar al-buruq fi anwai al-furuq. Kitab ini membahas perbedaan antara beberapa qaedah. Pada perbedaan ke 172, beliau membahas panjang lebar tentang amalan yang sampai pahala kepada mayat dan amalan yang tidak bisa sampai dan juga masalah tahlilan.
Beliau memberi judul pembahasan tersebut dengan :
الفرق الثاني والسبعون والمائة بين قاعدة ما يصل إلى الميت وقاعدة ما لا يصل إليه

perbedaan yang ke 172 antara qaedah amalan yang bisa sampai kepada mayat dengan qaedah amalan yang tidak bisa sampai kepada mayat.

Mari kita simak penjelasan Imam al-Qurafi jilid 3 halaman 342 -347 Dar Kutub Ilmiyah 1998

الفرق الثاني والسبعون والمائة بين قاعدة ما يصل إلى الميت وقاعدة ما لا يصل إليه القربات ثلاثة أقسام قسم حجر الله تعالى على عباده في ثوابه ولم يجعل لهم نقله لغيرهم كالإيمان فلو أراد أحد أن يهب قريبه الكافر إيمانه ليدخل الجنة دونه لم يكن له ذلك بل إن كفر الحي هلكا معا أما هبة الثواب مع بقاء الأصل فلا سبيل إليه وقيل الإجماع في الصلاة أيضا وقيل الإجماع فيها وقسم اتفق الناس على أن الله تعالى أذن في نقل ثوابه للميت وهو القربات المالية كالصدقة والعتق وقسم اختلف فيه هل فيه حجر أم لا وهو الصيام والحج وقراءة القرآن فلا يحصل شيء من ذلك للميت عند مالك والشافعي رضي الله عنهما وقال أبو حنيفة وأحمد بن حنبل ثواب القراءة للميت
Perbedaan yang ke 172 antara qaedah amalan yang bisa sampai kepada mayat dengan qaedah amalan yang tidak bisa sampai kepada mayat.
Qurbah terbagi kepada tiga jenis; 
Yang pertama; bagian yang Allah ta'ala telah membatasi atas hambaNya pada pahalanya dan Allah tidak memberikan mereka hak untuk memindahkannya bagi orang lain seperti iman. Maka seandainya ada seorang yang berencana menghibah imannya kepada kerabatnya yang kafir supaya bisa masuk surga tanpa dirinya maka hal tersebut tidak bisa terjadi bahkan jika orang hidup tersebut kufur maka keduanya akan celaka bersama. Adapun hibah pahala dengan kekal asalnya maka hal ini tidak ada jalan sama sekali. Di katakan telah ijmak ulama pada shalat pula. Di katakan bahwa yang ijmak hanya pada shalat.
pembagian yang lain (yang kedua) amalan yang telah sepakat para ulama bahwa Allah ta'ala telah memberkan izin untuk memindahkan pahalanya kepada mayat, yaitu qurbah yang maliyah seperti shadaqah dan memerdekakan budak.
pembagian yang lain (yang ketiga) amalan yang terjadi perbedaan pendapat para ulama, apakah Allah telah membatasinya atau tidak, yaitu puasa, haji, baca al-quran. Maka tidak hasil pahala apapun dari amalan tersebut menurut Imam Malik dan Imam Syafii. Abu Hanifah dan Imam Ahmad bin Hanbal berkata : pahala bacaan bisa sampai kepada mayat.

Dari penjelasan Imam al-Qurafi di atas dapatlah di pahami, bahwa amalan ibadah dari sisi bisa di hadiahkan pahalanya kepada orang lain terbagi tiga:
  1. Ijmak ulama tidak bisa di hadihkan kepada orang lain, seperti keimannan. Iman tidak bisa di hadiahkan kepada orang kafir.
  2. Ijmak ulama bisa di hadiahkan kepada orang lain; yaitu shadaqah, dan memerdekakan budak
  3. Terjadi perbedaan pendapat para ulama, apakah bisa sampai pahalanya kepada orang lain atau tidak; yaitu ibadah haji, puasa, shalat, membaca al-quran dan amalan-amalan yang lain.

Selanjutnya Imam al-Qurafi menerangkan dalil masing-masing kedua belah pihak;

فمالك والشافعي رضي الله عنهما يحتجان بالقياس على الصلاة ونحوها مما هو فعل بدني والأصل في الأفعال البدنية أن لا ينوب أحد فيها عن الآخر ولظاهر قوله تعالى وأن ليس للإنسان إلا ما سعى ولقوله عليه السلام إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث علم ينتفع به وصدقة جارية وولد صالح يدعو له
واحتج أبو حنيفة وابن حنبل بالقياس على الدعاء فإنا أجمعنا على أن الدعاء يصل للميت فكذلك القراءة والكل عمل بدني ولظاهر قوله عليه السلام للسائل صل لهما مع صلاتك وصم لهما مع صومك يعني أبويه
Imam Malik dan Imam Syafii berhujjah dengan qiyas kepada shalat dan amalan lain yang berupa amalan badaniyah. Asal pada amalan badaniyah adalah tidak bisa di gantikan oleh seorangpun, dan juga karena dhahir ayat "bahwa tiada bagi manusia kecuali apa yang mereka usaha" dan karena berdasarkan hadits Nabi "apabila anak Adam meninggal terputuslah amalannya kecuali dari tiga; ilm yang bermanfaat, shadaqah jariyah dan anak yang shaleh yang mendoakannya.
Abu Hanifah dan Imam Ahmad bin Hanbal berhujjah dengan qiyas kepada doa, karena kita sepakat bahwa doa bisa sampai bagi mayat maka demikian juga bacaan al-quran, sedangkan semuanya adalah amalan badaniyah dan juga karena dhahir sabda Nabi SAW bagi seorang yang bertanya kepada beliau "shalatlah kamu bagi keduanya bersama shalatmu dan puasalah kamu bagi keduanya bersama puasamu" maksudnya kedua ibu bapaknya.

Selanjutnya Imam al-Qurafi membawakan jawaban dari golongan pertama terhadap hujjah golongan kedua: 


والجواب عن الأول أن القياس على الدعاء لا يستقيم فإن الدعاء فيه أمران أحدهما متعلقه الذي هو مدلوله نحو المغفرة في قولهم اللهم اغفر له والآخر ثوابه فالأول هو الذي يرجى حصوله للميت ولا يحصل إلا له فإنه لم يدع لنفسه وإنما دعا للميت بالمغفرة والثاني وهو الثواب على الدعاء فهو الداعي فقط وليس للميت من الثواب على الدعاء شيء فالقياس على الدعاء غلط وخروج من باب إلى باب

Dan jawaban untuk hujjah yang pertama adalah; bahwa qiyas kepada doa tidak bisa di benarkan, karena pada dua ada dua perkara, salah satunya adalah muta'alaqnya yang merupakan madlulnya seperti keampunan dalam doa mereka Allahumma ighfirli, sedangkan satu hal yang lain adalah pahala doa. Hal yang pertamalah yang di harapkan akan di dapatkan bagi mayat dan hanya hasil bagi mayat karena ia tidak berdoa untuk dirinya sendiri dan ia berdoa untuk mayat. Hal yang kedua yaitu pahala berdoa maka hanya untuk orang yang berdoa saja, dan mayat tidak mendapatkan pahala apapun dari doanya tersebut. Maka qiyas kepada doa adalah qiyas yang salah dan keluar dari satu bab kepada bab yang lain.

وأما الحديث فإما أن نجعله خاصا بذلك الشخص أو نعارضه بما تقدم من الأدلة ونعضدها بأنها على وفق الأصل فإن الأصل عدم الانتقال ومن الفقهاء من يقول إذا قرئ عند القبر حصل للميت أجر المستمع وهو لا يصح أيضا لانعقاد الإجماع على أن الثواب يتبع الأمر والنهي فما لا أمر فيه ولا نهي لا ثواب فيه بدليل المباحات وأرباب الفترات والموتى انقطع عنهم الأوامر والنواهي وإذا لم يكونوا مأمورين لا يكون لهم ثواب وإن كانوا مستمعين ألا ترى أن البهائم تسمع أصواتنا بالقراءة ولا ثواب لها لعدم الأمر لها بالاستماع فكذلك الموتى
Adapun hadits (yang di jadikan sebagai hujjah oleh golongan pertama) maka adakala kita jadikan hanya khusus ada orang tersebut atau kita anggap adanya kontradiksi dengan dalil-dalil yang telah terdahulu, kemudian kita kuatkan dalil-dalil tersebut karena ia sesuai dengan asal, karena asalnya adalah tidak adanya perpindahan (pahala amalan). Sebagian para fuqaha mengatakan bahwa "apabila di bacakan al-quran di kuburan akan menghasilkan pahala bagi si mayat sebagaimana pahala orang menyimak al-quran". Pendapat ini tidak sah karena telah ijmak ulama bahwa pahala hanya mengikuti perintah dan larangan. Maka apa yang tidak ada perintah dan tidak ada larangan tidak akan ada pahalanya dengan dalil perkara-perkara mubah dan ahli zaman fatarah. Orang yang telah meninggal telah terputus dari mereka perintah dan larangan. Maka apabila mereka sudah tidak di perintahkan maka bagi mereka tidak ada lagi pahala walaupun mereka bisa mendengar, adakah tidak kamu lihat bahwa hewan juga mendengar suara bacaan al-quran namun ia tidak mendapat pahala karena tidak ada perintah bagi mereka untuk mendengarnya maka demikian juga orang yang telah meninggal.

Selanjutnya Imam al-Qurafi memberikan komentar terhadap doa supaya Allah sampaikan pahala dan kegiatan tahlilan yang ternyata sudah populer saat itu.

والذي يتجه أن يقال ولا يقع فيه خلاف أنه يحصل لهم بركة القراءة لا ثوابها كما تحصل لهم بركة الرجل الصالح يدفن عندهم أو يدفنون عنده فإن البركة لا تتوقف على الأمر فإن البهيمة يحصل لها بركة راكبها أو مجاورها وأمر البركات لا ينكر فقد كان رسول الله صلى الله عليه وسلم تحصل بركته للبهائم من الخيل والحمير وغيرهما كما روي أنه ضرب فرسا بسوط فكان لا يسبق بعد ذلك بعد أن كان بطيء الحركة وحماره عليه السلام كان يذهب إلى بيوت أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم يستدعيهم إليه بنطح رأسه الباب وغير ذلك من بركاته عليه السلام كما هو مروي في معجزاته وكراماته عليه السلام وهذه المسألة وإن كانت مختلفا فيها فينبغي للإنسان أن لا يهملها فلعل الحق هو الوصول إلى الموتى فإن هذه أمور مغيبة عنا وليس الخلاف في حكم شرعي إنما هو في أمر واقع هل هو كذلك أم لا
وكذلك التهليل الذي عادة الناس يعملونه اليوم ينبغي أن يعمل ويعتمد في ذلك على فضل الله تعالى وما ييسره ويلتمس فضل الله بكل سبب ممكن ومن الله الجود والإحسان هذا هو اللائق بالعبد
pendapat yang kuat bahwa di katakan tidak ada perbedaan pendapat ulama bahwa bisa hasil bagi mereka barakah pembacaan al-quran bukan pahalanya sebagaimana hasil bagi mereka barakah orang yang shalih yang di kuburkan di sisi mereka atau mereka di kuburkan di samping makam orang shaleh karena barakah tidak tergantung kepada perintah, karena hewan juga bisa mendapatkan barakah penunggangnya atau yang berdekatan dengannya. Masalah perkara barakah tidak dapat di ingkari, sungguh Rasulullah sendiri hasillah barakah beliau kepada hewan-hewan beliau baik kuda maupun keledai dan lainnya sebagaimana di riwayatkan bahwa beliau memukul kuda dengan cambuk maka setelah itu kuda tersebut tidak pernah kalah padahal sebelumnya ia lambat gerak. Keledai Nabi SAW pernah pergi ke rumah para shahabat Rasulullah mengundang mereka kepada Nabi dengan mendorongkan kepalanya ke arah pintu dan kisah-kisah lain dari barakah Rasulullah SAW sebagaimana di riwayatkan dalam mukjizat-mukjizat dan karamahnya.
Masalah ini walaupun ada perbedaan pendapat namun sepatutnya bagi manusia untuk tidak meninggalkannya karena mudah-mudahan yang haq adalah bisa sampai kepada mayat, karena ini adalah masalah ghaib dari kita, dan bukanlah perbedaan pendapat para ulama pada masalah hukum syar'inya tetapi khilaf tersebut hanya pada masalah kajadian sebenarnya, apakah sepertii demikian (bisa sampai pahalanya kepada mayat) ataupun tidak.
Demikian juga tahlilan yang sudah menjadi kebiasaan yang di amalkan manusia pada hari ini. Sepatutnya hal ini di amalkan dan dalam hal ini berpegang kepada karunia Allah dan kemudahanNya dan meminta karuniaNya dengan setiap sebab yang mungkin dan dan hanya dari Allahlah pemberian dan kebaikan. Inilah yang layak bagi hamba.

Kesimpulan dari uraian panjang Imam al-Qurafi yang bermazhab Imam Malik menguatkan pendapat Imam Malik tentang tidak bisa sampai pahala bacaan al-quran bagi mayat. Namun beliau dengan tegas menyatakan bahwa mayat mendapatkan manfaat barakah bacaan al-quran dari orang yang hidup. Beliau juga mengingatkan supaya jangan meninggalkan mengamalkan pembacaan al-quran dan tahlilan untuk orang yang telah meninggal.

Dari uraian tersebut dapat di ambil beberapa kesimpulan:
  1. Masalah sampainya pahala bacaan al-quran kepada mayat merupakan masalah khilafiyah di antara para ulama.
  2. Khilafiyah para ulama tersebut hanya terjadi pada hal sampai pahalanya atau tidak, bukan pada boleh atau tidak boleh (bukan pada haram atau tidak)
  3. Tidak ada perbedaan pendapat ulama bahwa mayat bisa mendapatkan barakah dari bacaan al-quran orang hidup.
  4. Pada masa Imam al-Qurafi, tahlilan sudah lazim di kerjakan oleh Umat Islam
  5. Amalan tahlilan merupakan amalan yang sepatutnya di kerjakan dan jangan di tinggalkan.

Baca juga:
  1. Hukum Tahlilan
  2. Bacaan al-Quran bagi mayat menurut Imam Syafii
  3. Jawaban Syeikh Wahbah Zuhaili tentang Hadiah Pahala
  4. Jawaban Syeikh Ali Jum'ah Tentang Hadiah Pahala
  5. Rekayasa Bapak Aliwari Dalam Buku Hadiah Pahala Amalan Rekayasa
  6. Rekayasa Bapak Aliwari Terhadap Tafsir Ruhul Bayan
  7. Rekayasa Bapak Aliwari Terhadap Tafsir as-Sa'dy


Rukun Shalat Yang Ke Sembilan: Membaca Tasyahud Akhir

duduk tahyat akhirTasyahhud Akhir merupakan rukun shalat yang mesti dibaca ketika duduk tahiyat akhir.

Rasulullah SAW bersabda :
عَنِ ابْنِ عَبّاسٍ أَنّهُ قَالَ: كَانَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم يُعَلّمُنَا التّشَهّدَ كَمَا يُعَلّمُنَا السّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ

Artinya : ” Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, sesungguhnya ia berkata : adalah Rasulullah SAW mengajari Tasyahhud kepada kami sebagaimana beliau mengajari bacaan al-Quran kepada kami”. (H.R. Ibnu Abbas).

Ada beberapa ketentuan dalam membaca Tasyahud Akhir, yaitu:
  1. Bacaaannya mesti terdengar oleh dirinya sendiri.
  2. Bacaan Tasyahud tidak dimaksudkan kepada bacaan lain 
  3. Dibaca secara beriringan, artinya tidak boleh diselangi oleh bacaan yang lain meskipun dengan zikir atau ayat-ayat al-Quran.
  4. Tidak boleh menggantikan huruf-hurufnya, kalimat-kalimatnya serta segala tasydidnya.
  5. Dibaca dalam bahasa Arab.
  6. Tertib, yaitu tidak boleh digantikan urutan-urutan bacaannya jika dapat mengubahkan maknanya.
Bacaan Tasyahud Akhir sekurang-kurangnya yaitu :

اَلتَّحِيَّاتُ لِلَّهِ سَلَامٌ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ سَلَامٌ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُولُ اللَّهِ

Adapun bacaan Tasyahud Akhir secara sempurna adalah :

اَلتَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ, اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ اَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ, اَلسَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحيْنَ أشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ الله

Referensi:
1. Nihayat al-Zain fi Irsyad al-Mubtadin Juz I hal 71
2. Hasyiah al-Syarwany wa Ibn Qasim ‘Ala Syarh Tuhfat al-Muhtaj juz 2 h. 83
3. Syarh Sahih Muslim li al-Nawawi Juz 13 h. 63

Doa setelah Shalat Dhuha

Shalat DhuhaSalah satu amalan yang berfaedah memudahkan rizki adalah rutin melaksanakan shalat sunat dhuha. Tatacara dan kaifiyat sunat dhuha sudah kami terangkan dalam postingan kami sebelumnya. Dalam postingan tersebut, kami belum melampirkan doa yang di baca setelah shalat dhuha dan kami janjikan akan kami posting dalam kesempatan lain.
Maka untuk menyempurnakan tulisan tentang shalat dhuha tersebut, maka inilah salah satu doa yang bisa di amalkan setelah sunat dhuha:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَسَلِّمْ
 يَا اللهُ يَا وَاحِدُ يَا اَحَدُ يَا وَاجِدُ يَا جَوَادُ , اِنْفَحْنَا مِنْكَ بِنَفْحَةِ خَيْرٍ x 3 
فِى كُلِّ لَحْظَةٍ اَبَدَا عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَى نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ

Kemudian di baca asmaul husna di bawah ini dengan mengangkat tangan :

يَا بَاسِط 10 x  

Kemudian mengepal kedua tangan dan membaca doa ini;

اُبْسُطْ عَلَيْنَا الْخَيْرَ وَالرِّزْقَ وَوَفِّقْنَا ِلاِصَابَةِ الصَّوَابِ وَالْحَقِّ وَزَيِّنَّا بِاْلاِخْلاَصِ وَالصِّدْقِ وَاَعِذْنَا مِنْ شَرِّ الْخَلْقِ وَاخْتِمْ لَنَا بِالْحُسْنَى فِى لُطْفٍ وَعَافِيَّةٍ

Kemudian di lanjutkan dengan doa;


اللَّهُمَّ إنَّ الضَّحَاءَ ضَحَاؤُكَ، وَالْبَهَاءَ بَهَاؤُكَ، وَالْجَمَالَ جَمَالُك، وَالْقُوَّةَ قُوَّتُك، وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُك، وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُك
اللَّهُمَّ إنْ كَانَ رِزْقِي وَاَحْبَابِى وَالْمُسْلِمِيْنَ اَبَدًا فِي السَّمَاءِ فَأَنْزِلْهُ، وَإِنْ كَانَ فِي الْأَرْضِ فَأَخْرِجْهُ، وَإِنْ كَانَ بَعِيدًا فَقَرِّبْهُ وَإِنْ كَانَ قَلِيْلاً فكثره وَإِنْ كَانَ مُعَسَّرًا فَيَسِّرْهُ، وَإِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ،
بِحَقِّ ضُحَائِك وَبَهَائِك وَجَمَالِك وَقُوَّتِك وَقُدْرَتِكَ وَسُلْطَانِكَ وَعَظَمَتِكَ وَعِصْمَتِكَ
اللَّهُمَّ آتِنَا فِى كُلِّ حِيْنٍ اَفْضَلَ مَا آتَيْتَ اَوْ تُؤْتِى عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ مَعَ الْعَافِيَّةِ التَّامَّةِ فِى الدَّارَيْنِ
آمِيْنَ

Sumber:
Khulasah Fi Aurad wa ad’iyah waridah wa ma`tsurah, Habib Umar bin Salim bin Hafidh, hal 81

Download Kitab Hukum Gambar Kamera

Kitab Hukum Gambar Kameraالجواب الشافى فى اباحة التصوير الفوتوغرافى- اللشيخ بخيت المطيعى

Salah satu hal yang umum di ketahui oleh umat Islam adalah adanya larangan membuat patung makhluk hidup dalam agama Islam. Patung, lukisan, dan foto adalah hal yang hampir serupa. Namun hukumnya belum tentu sama. Syeikh Muhammad Bakhit al-Muthi pernah di tanyakan oleh Syeikh Ahmad bin Muhammad al-Ghumari tentang bagaimana hukumnya gambar hasil fotografi, apakah boleh atau tidak? Bila di bolehkan, apa perbedaan antara lukisan tangan dengan foto hasil kamera?
Karena itulah beliau mengarang kitab ini, sebagai jawaban dan penjelasan terhadap maslaah tersebut.

الشيخ محمد بخيت المطيعى
Kitab ini di karang oleh Syeikh Muhammad Bakhit al-Muthi’i (1271 H-1354H). Beliau adalah mufti Negri Mesir pada masanya. Ulama bermazhab Hanafi ini sangat gigih mempertahankan aqidah Ahlus sunnah Asya’irah wal Maturidiyah dan meninggalkan banyak karangan dalam bidang fiqh hanafi, tauhid, ushul fiqh dll Sampai sekarang kitab beliau di kenal sebagai turatsnya al-Azhar.
Beliau sangat menetang aqidah Ibnu Taimiyah dan Wahabi. Beliau mengarang muqaddimah bagi kitab Syifaq as-Saqam Imam Subki, sebagai dukungan beliau terhadap sikap Imam Subki yang menolak paham Ibnu Taimiyah. Selain itu beliau juga mengarang kitab yang menolak pendapat Ibnu Taimiyah bahwa talak tiga jatuh satu. Beliau juga sangat anti kepada ide pembaharuan yang di dengungkan oleh Syeikh Muhammad Abduh dan Rasyid Redha. Dalam beberapa tulisan Abuya Muda Wali yang ada dalam buku catatan murid beliau, Abon Abdul Aziz, Abuya Muda Wali juga merujuk kepada kitab-kitab karangan beliau.

Bagi yang ingin memilikinya. Silahkan di download file pdfnya di SINI


Kitab beliau yang lain yang bisa di download antara lain:
  1. Ahsanul Kalam fi ma yata’allaqu bi sunnah wal bid’ah min al-ahkam, Download di sini
  2. Tathhir Fuad min Danas al-I’tikad, muqaddimah bagi kitab Syifaq as-Saqam Imam Subki 4shared, atau di sini 
  3. al-Qaul al-Jamik fi Thalaq al-bida’ wal mutatabi`, bisa di download di sini 
  4. Hasyiah ‘ala Syarh Dardir ‘ala Kharidah fi ilm Kalam. Download &
  5. al-Qaul al-Mufid ‘ala Risalah Wasilah al-‘Abid fi ilmi Tauhid, Download
  6. Irsyadul Ummah Ahkam Hukm baina Ahli Zimmah, Download
  7. Ajwibah Mishriyah , download di sini

donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja