Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

ABU MUDI: Karamah Para Auliya itu Ada

abu mudiPada tanggal 26 Juni 2015 seorang Doktor yang merupakan Dosen di salah Universitas terkemuka di Aceh menyatakan di SERAMBINEWS bahwa tidak ada Karamah pada para Waliyullah/Orang Shalih.

Pertanyaan:
Apakah benar tidak ada Karamah pada para Waliyullah/Orang Shalih ?

Jawaban:
Tidak benar.
Berikut kami sajikan intisari pengajian Kitab Fatawa Haditsiyah karangan Syekhuna Ibnu Hajar Al-Haitami asuhan Abu Syekh Hasanoel Basri pada bulan Ramadhan Tahun 2014.

Syaikhul Islam Imam Ibnu Hajar al-Haitami di tanyakan apakah karamah aulia memang benar ada?

Syaikhul Islam Imam Ibnu Hajar al-Haitami menjawab:

Karamah aulia adalah benar ada, ini adalah keyakinan ulama Ahlus sunnah wal jamaah yang terdiri dari para fuqaha’, ulama ushul, ulama hadits dan para ulama spesialis ilmu lainnya. Hanya kaum mu’tazilah dan kelompok-kelompok yang mengikuti kesesatan mereka yang tidak mengakui adanya karamah aulia.

Beberapa karamah yang Allah sebutkan dalam al-quran:

  1. Kisah Siti Maryam yang mendapat makanan pada saat beliau dalam kamarnya sebagaimana di ceritakan dalam al-quran surat Ali Imran 37:

    كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

    Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: "Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" Maryam menjawab: "Makanan itu dari sisi Allah." Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.(Q.S. Ali Imran 37)

  2. Kisah Siti Maryam ketika menggoyangkan pohon kurma, seketika itu juga pohon kurma terebut berbuah dan masak dan berguguran buah kurma, padahal saat tersebut bukanlah musim kurma. Hal ini Allah ceritakan dalam al-quran surat Maryam ayat 25:

    فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلَى جِذْعِ النَّخْلَةِ قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا (23) فَنَادَاهَا مِنْ تَحْتِهَا أَلَّا تَحْزَنِي قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا (24) وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا (25)

    Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata: "Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan."(23) Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: "Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.(24) Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. (25) (Q.S. Maryam 23-25)

  3. Kisah Khidir bersama Nabi Musa yang melakukan tiga hal yang ganjil yang di pertanyakan oleh Nabi Musa, yaitu merusak sampan milik orang miskin, membunuh anak anak kecil, dan menegakkan dinding rumah di desa yang penduduknya tidak mau menjamu mereka. Hal ini baru bisa di jadikan sebagai contoh karamah ualia bila berdasarkan pendapat bahwa Khidir bukanlah Nabi tetapi aulia Allah (namun pendapat yang kuat bahwa beliau adalah Nabi) sebagaimana Allah ceritakan dalam al-quran surat al-Kahfi ayat 65 - 82 :

     فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا (65) قَالَ لَهُ مُوسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا (66) قَالَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا (67) وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَى مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا (68) قَالَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا (69) قَالَ فَإِنِ اتَّبَعْتَنِي فَلَا تَسْأَلْنِي عَنْ شَيْءٍ حَتَّى أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا (70) فَانْطَلَقَا حَتَّى إِذَا رَكِبَا فِي السَّفِينَةِ خَرَقَهَا قَالَ أَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ أَهْلَهَا لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا إِمْرًا (71) قَالَ أَلَمْ أَقُلْ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا (72) قَالَ لَا تُؤَاخِذْنِي بِمَا نَسِيتُ وَلَا تُرْهِقْنِي مِنْ أَمْرِي عُسْرًا (73) فَانْطَلَقَا حَتَّى إِذَا لَقِيَا غُلَامًا فَقَتَلَهُ قَالَ أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةً بِغَيْرِ نَفْسٍ لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا نُكْرًا (74) قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا (75) قَالَ إِنْ سَأَلْتُكَ عَنْ شَيْءٍ بَعْدَهَا فَلَا تُصَاحِبْنِي قَدْ بَلَغْتَ مِنْ لَدُنِّي عُذْرًا (76) فَانْطَلَقَا حَتَّى إِذَا أَتَيَا أَهْلَ قَرْيَةٍ اسْتَطْعَمَا أَهْلَهَا فَأَبَوْا أَنْ يُضَيِّفُوهُمَا فَوَجَدَا فِيهَا جِدَارًا يُرِيدُ أَنْ يَنْقَضَّ فَأَقَامَهُ قَالَ لَوْ شِئْتَ لَاتَّخَذْتَ عَلَيْهِ أَجْرًا (77) قَالَ هَذَا فِرَاقُ بَيْنِي وَبَيْنِكَ سَأُنَبِّئُكَ بِتَأْوِيلِ مَا لَمْ تَسْتَطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا (78) أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدْتُ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا (79) وَأَمَّا الْغُلَامُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَا أَنْ يُرْهِقَهُمَا طُغْيَانًا وَكُفْرًا (80) فَأَرَدْنَا أَنْ يُبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِنْهُ زَكَاةً وَأَقْرَبَ رُحْمًا (81) وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ذَلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا (82)

    Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami (65) Musa berkata kepada Khidhir: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?"(66) Dia menjawab: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku.(67) Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?"(68) Musa berkata: "Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun."(69) Dia berkata: "Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu."(70) Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhir melobanginya. Musa berkata: "Mengapa kamu melobangi perahu itu akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?" Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar. (71) Dia (Khidhir) berkata: "Bukankah aku telah berkata: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku."(72) Musa berkata: "Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku."(73) Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhir membunuhnya. Musa berkata: "Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar." (74) Khidhir berkata: "Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?" (75) Musa berkata: "Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku" (76) Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhir menegakkan dinding itu. Musa berkata: "Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu "(77) Khidhir berkata: "Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; kelak akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya (78) Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera (79) Dan adapun anak muda itu, maka keduanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran (80) Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya) (81) Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya."(82).

  4. Kisah Zulqarnain yang membuat benteng dari tembaga untuk membendung kaum Ya’juj dan Ma`juj, sebagaimana Allah ceritakan dalam surat al-Kahfi:

    آتُونِي زُبَرَ الْحَدِيدِ حَتَّى إِذَا سَاوَى بَيْنَ الصَّدَفَيْنِ قَالَ انْفُخُوا حَتَّى إِذَا جَعَلَهُ نَارًا قَالَ آتُونِي أُفْرِغْ عَلَيْهِ قِطْرًا (96) فَمَا اسْطَاعُوا أَنْ يَظْهَرُوهُ وَمَا اسْتَطَاعُوا لَهُ نَقْبًا (97

    Berilah aku potongan-potongan besi." Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulkarnain: "Tiuplah (api itu)." Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: "Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar aku kutuangkan ke atas besi panas itu."(96) Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melobanginya. (97)

  5. Kisah Ashabul kahfi dan anjing yang tidur dalam gua selama 309 tahun sebagaimana Allah ceritakan dalamm surat al-Kahfi ayat 9 – 25.

  6. Kisah Ashif bin Barikha yang memindahkan istana Ratu Balqis dalam sekejap ke tempat Nabi Sulaiman as, sebagaimana Allah ceritakan dalam al-quran surat an-Namlu ayat 40:

    قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ (40

    Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip." Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia." (Q.S. an-Namlu 40)

9 Ramadhan 1435 H
Pengajian Fatawa Hadistiyah Syaikhul Islam Ibnu Hajar al-Haitami ba'da Shubuh di Mesjid Raya Komplek LPI MUDI Mesjid Raya

ٍSyeikh Al-Buthi: Mendoakan Ridha Allah Bagi Khulafaurrasyidin di Celah Shalat Taraweh

Di sebagian daerah dalam shalat taraweh saat setiap empat rakaat mendoakan ridha bagi empat khulafaurrasyidin. Golongan ahli tukang bid’ah [wahabi] sangat anti dengan jenis perbuatan demikian. Namun tidak perlu dihiraukan mereka. Cukuplah bagi kita penjelasan-penjelasan ulama besar Ahlus sunnah wal Jamaah yang mampu memahami al-quran dan hadits dengan lebih luas. Salah satu ulama Ahlus sunnah zaman ini adalah almarhum Syeikh Sa’id Ramadhan al-Buthy. Beliau pernah ditanyakan hukum mendoakan ridha Allah bagi empat shahabat khulafaurrasyidin. Berikut pertanyaan dan jawaban beliau lengkap dengan terjemahannya.
755
 حكم الترضى عن الخلفاؤ بين ركعات التراويح
ما حكم رفع الصوت بالترضى عن الخلفاء الراشدين بين ركعات التراويح؟
لا بأس من الاعتماد على اي وسيلة لضبط الركعات التى صليت من التراويح,ولعل ذكر اسماء الخلفاء الأربعة والترضى عنهم عند اتمام كل اربع ركعات خير الوسائل إلى ذلك والقاعدة تقول للوسائل حكم الغايات فما لا يتحقق الواجب إلا به واجب وما لا يتحقق المندوب إلا به مندوب
استفتاءات الناس للإمام الشهيد البوطى على موقع نسيم الشام ص 128


Pertanyaan No. 755; Hukum mendoakan ridha Allah untuk para khulafaurrasyidin diantara salam shalat taraweh.
Apa hukum meninggikan suara dengan mendoakan ridha Allah untuk para khulafaurrasyidin diantara salam shalat taraweh.
Jawab; Tidak mengapa menyandarkan terhadap apapun untuk mengingat rakaat shalat taraweh yang sudah dikerjakan. Mudah-mudahan penyebutan nama khalifah yang empat dan mendoakan ridha Allah bagi mereka ketika sempurna setiap empat rakaat adalah sebaik-baik jalan untuk demikian. Qaedah menyebutkan bahwa bagi jalan berlaku hukum tujuan. Sesuatu yang tidak bisa wujud wajib kecuali dengannya maka ia juga wajib. Sesuatu yang tidak bisa wujud perbuatan sunat kecuali dengannya maka ia juga sunat.
Istifta` an-Nas li al-Imam asy-Syahid al-Buthi ‘ala Mauqi’ Nasimsyam hal 128

Kesimpulan jawaban Syeikh Buthi adalah, pembacaan doa ridha tersebut hukumnya dibolehkan. Pembacaan taradhdhi itu umumnya dilakukan pada setiap empat rakaat, berfungsi sebagai pengingat rakaat setiap kali mencapai empat rakaat. Sebenarnya boleh saja menjadikan apa saja sebagai pengingat rakaat shalat taraweh. Maka kita lihat dilapangan, masyarakat berbeda-beda bacaan zikir mereka pada setiap empat rakaat, menurut kebiasaan masing-masing daerah. Syeikh Buthy menyatakan bahwa mendoakan ridha Allah bagi empat shahabat pada setiap rakaat shalat taraweh merupakan salah satu jalan terbaik untukk mengingat jumlah rakaat. Penjelasan Syeikh Buthy ini sejalan dengan penjelasan Dar Ifta’ al-Mishriyah bahwa hal ini diserahkan kepada kebiasaan kaum muslimin sendiri. Bagi yang terbiasa membaca taradhdhi disetiap empat rakaat maka silahkan saja dibaca dan bagi yang tidak maka juga boleh untuk tidak membacanya.
Kitab Istifta` an-Nas li al-Imam asy-Syahid al-Buthi merupakan kumpulan jawaban Syeikh Buthi terhadap berbagai pertanyaan yang diajukan kepada beliau melalui website www.naseemalsham.com.

File pdf kitab tersebut bisa didownload di website http://www.naseemalsham.com
http://www.naseemalsham.com atau langsung ke DOWNLOAD

Dar al-Ifta al-Mishriyah: Hukum bershalawat di celah-celah shalat Tarawih

Dar al-Ifta al-Mishriyah
Salah satu hal yang tak henti-hentinya di bid’ahkan dan dicap sesat oleh kaum Wahabi terutama di bulan Ramadhan adalah pembacaan zikir dan shalat di celah shalat tarawih setelah setiap kali salam.

Dar Ifta` Mishriyah, yang merupakan lembaga fatwa yang didirikan oleh Syeikh Ali Jum’ah menjawab tuduhan bid’ah tersebut. Berikut nash tulisan Dar Ifta` al-Mishriyah yang kami kutip dari website resminya beserta terjemahannya yang kami tambahkan;

أجازت دار الإفتاء المصرية أن يقوم المصلون بالذكر بين الركعات في صلاة التراويح في رمضان، مشيرة إلى أنه من المقرر شرعًا أن أمر الذكر والدعاء على السعة. وأضافت الدار في فتوى لها أن التسبيح بخصوصه مستحب عقب الفراغ من الصلاة وعقب قيام الليل؛ فقد أمر الله تعالى به في قوله: ﴿فَإِذَا قَضَيْتُمْ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَاماً وَقُعُوداً وَعَلَى جُنُوبِكُمْ فَإِذَا اطْمَأْنَنتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَاباً مَوْقُوتاً﴾ (النساء 103 )
وأوضحت الفتوى أن النبي صلى الله عليه وآله وسلم كان يذكر الله عقب الوتر ويرفـع به صوته الشريف؛ فقد روى النسائي في سننه بإسناد صحيح: أن النبي صلى الله عليه وآله وسلم كان يقرأ في الوتر بسبح اسم ربك الأعلى وقل يا أيها الكافرون وقل هو الله أحد، فإذا سلّم قال: (سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ) ثلاثَ مرات، زاد عبد الرحمن في حديثه: يرفع بها صوته.
وأشارت الفتوى إلى أنه من جهر بالتسبيح والدعاء فقد أصاب السُّنَّة، ومن أسَرَّ أيضًا فقد أصاب السُّنَّة؛ فالكل فعله رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم، ولا ينبغي أن نحجِّر واسعًا، بل الصواب ترك الناس على سجاياهم؛ فأيما جماعة في مسجد رأت أن تجهر فلها ذلك، وأيما جماعة أخرى تعودت على الإسرار فلها ذلك، والعبرة في ذلك حيث يجد المسلم قلبه، وليس لأحد أن ينكر على أخيه في ذلك ما دام الأمر واسعًا. وأوضحت الفتوى أن الأمر المطلق يستلزم عموم الأشخاص والأحوال والأزمنة والأمكنة؛ فإذا شرع الله تعالى أمرًا على جهة الإطلاق وكان يحتمل في فعله وكيفية أدائه أكثر من وجه، فإنه يؤخذ على إطلاقه وسعته، ولا يصح تقييده بوجه دون وجه إلا بدليل، وإلا كان ذلك بابًا من الابتداع في الدين بتضييق ما وسَّعَه الله ورسوله صلى الله عليه وآله وسلم.
وشددت الفتوى على أنه يجب على المسلمين ألا يجعلوا ذلك مثار فرقة وخلاف بينهم؛ فإنه لا إنكار في مسائل الخلاف، والصواب في ذلك أيضًا ترك الناس على سجاياهم فمن شاء جهر ومن شاء أسر؛ لأن أمر الذكر على السعة، والعبرة فيه حيث يجد المسلم قلبه.
المركز الإعلامي بدار الإفتاء المصرية 13/7/2014م

Artinya; Dar Ifta` Mesir membolehkan jamaah shalat berzikir di antara rakaat shalat taraweh dalam bulan Ramadhan. Dar Ifta` menerangkan bahwa sebagiah hal yang berlaku dalam syara’ adalah bahwa perkara berzikir dan berdoa merupakan perkara yang luas. Dar Ifta` menambahkan dalam fatwanya bahwa tasbih secara khusus disunatkan setelah shalat dan setelah qiyamul lail. Allah telah memerintahkannya dalam firmannya [yang artinya]; Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. kemudian apabila kamu telah merasa aman, Maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman (Q.S. an-Nisa` 103)

Dijelaskan dalam fatwa tersebut bahwa Nabi SAW berzikir kepada Allah setelah shalat witir dan meninggikan suara beliau yang mulia. Diriwayatkan oleh Imam Nasai dalam sunan beliau dengan sanad yang shahih; bahwa Nabi SAW membaca dalam witir سبح اسم ربك الأعلى dan قل يا أيها الكافرون serta قل هو الله أحد . Bila beliau salam beliau membaca سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ sebanyak tiga kali. Abdurrahman dalam hadisnya menambahkan "Nabi meninggikan suaranya". Fatwa juga memberikan isyarat bahwa orang yang menjiharkan tasbih dan doa sungguh ia telah melakukan hal yang sesuai dengan sunnah Nabi, dan orang yang men-sirnya juga sesuai dengan sunnah. Karena semuanya pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Tidak sepatutnya kita melarang satu kelonggaran [yang mendapat legalitas syara'] tetapi yang benar adalah meninggalkannya bagi manusia [kaum muslim] sesuai dengan tab'iat mereka sendiri. Dimana saja jamaah mesjid yang ingin menjiharnya, maka boleh saja mereka melakukannya. Dan mana saja jamaah lain yang telah terbiasa dengan sir maka boleh saja mereka melakukannya. Yang menjadi pegangan dalam hal ini adalah menurut yang ditemukan seorang muslim akan hatinya. Tidak boleh bagi seorangpun mengingkari saudaranya dalam hal demikian selama perkara tersebut merupakan perkara yang longgar. Fatwa juga menerangkan bahwa perintah yang mutlaq melazimi kepada umum setiap manusia, keadaan, waktu dan tempat. Apabila Allah mensyariatkan satu perintah secara mutlaq dan dalam hal mengerjakannya dan tatacara menunaikannya ada kemungkinan lebih dari satu cara, maka perintah tersebut dipahami atas ithlaq dan kelonggarannya. Tidak sah mengaitkannya dengan satu cara saja, tidak boleh dengan cara yang lain kecuali dengan adanya dalil. Jika tidak maka hal demikian [mengaitkan perintah yang umum tanpa dalil] merupakan satu perbuatan bid'ah dalam agama dengan menyempitkan apa yang Allah dan RasulNya telah memberi keluasan.

Fatwa menguatkan bahwa wajib atas kaum muslimin untuk tidak menjadikan hal ini sebagai sumber perpecahan dan perbedaan di antara mereka, karena tidak boleh mengingkari masalah khilafiyah. Yang benar dalam hal ini adalah membiarkan kaum muslim atas tabi'at mereka. Siapa yang ingin jihar, silahkan jihar! dan siapa yang ingin sir, silahkan sir!, karena perkara zikir merupakan hal yang mendapat kelonggaran dan yang menjadi 'tibar (pegangan) dalam hal ini adalah menurut bagaimana yang ditemukan hatinya.

Dar Ifta` Mesir 13-07-2014
Alamat ‘:
http://www.dar-alifta.org

Berikut ini, nash jawaban Dar Ifta` al-Mishriyah menjawab pertanyaan hukum membaca shalawat setelah tiap kali salam dalam shalat tarawih;

كما أن الصلاة والسلام على النبي صلى الله عليه وآله وسلم من أفضل الأعمال قبولا عند الله تعالى، كما أنها تفتح للأعمال أبواب القبول فهي مقبولة أبدًا، وكما أن النبي صلى الله عليه وآله وسلم هو شفيع الخلق فالصلاة عليه شفيع الأعمال، وقد أمر الله تعالى بها أمرًا مطلقًا في قوله سبحانه وتعالى: ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾ [الأحزاب: 56]، والأمر المطلق يقتضي عموم الأمكنة والأزمنة والأشخاص والأحوال، فمن ادعى -بلا دليل- أنها مُحَرَّمةٌ في وقت من الأوقات فقد ضيَّق ما وسَّعه الله تعالى؛ لأنه قيَّد المطلَق وخصَّص العامَّ بلا دليل، وهذا في نفسه نوع من أنواع البدعة المذمومة.

Artinya; Sebagaimana bahwa shalawat dan salam atas Nabi SAW dan keluarganya merupakan yang paling utama amalan yang diterima oleh Allah sebagaimana ia juga merupakan pembuka pintu diterimanya segala amalan, maka ia juga merupakan amalan yang maqbul. Dan sebagaimana bahwa Nabi SAW yang memberikan syafaat bagi makhluk maka shalawat atasnya merupakan syafaat bagi amalan. Allah telah memerintahkan untuk bershalawat dengan perintah yang umum dalam firman-Nya

 إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾ [الأحزاب: 56
[Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya].

Amar yang mutlaq menunjuki kepada umum tempat, waktu, orang dan keadaan. Maka siapa yang mendakwakan dengan tanpa dalil bahwa shalawat di haramkan dalam waktu tertentu [misalnya ketika tarawih] maka ia sungguh telah menyempitkan apa yang Allah telah beri keluasan karena ia telah mengaitkan nash yang muthlaq dan mengtakhsish nash yang umum tanpa adanya dalil. Perbuatan inilah yang sebenarnya merupakan salah satu bagian dari bid'ah yang tercela.

Fatwa No. 2858 Tgl 24-08-2010
Alamat;
http://www.dar-alifta.org

Dapatlah diketahui bahwa Dar Ifta` Mesir tidak menerima pendapat Syeikh Ali Mahfudh  dalam kitabnya Al Ibda` fi Madhaar Al Ibtida` hal 264 yang menyatakan bahwa membaca shalat dalam celah shalat taraweh termasuk bid'ah tercela, sebagaimana di bawa oleh beberapa orang-orang yang selalu mencela pembacaan shalawat tersebut. 

Dari jawaban Dar Ifta tersebut dapatkan kita simpulkan beberapa poin di bawah ini:
  1. Tuntutan membaca shalawat tidak terikat dengan waktu dan tempat
  2. Boleh membaca shalawat dan tasbih setelah tiap kali salam dalam shalat tarawih
  3. Membaca shalawat dan tasbih tersebut boleh saja dilakukan dengan cara sir maupun jihar
  4. Orang yang melarang melakukan tersebut berarti telah menyempitkan hal yang Allah dan RasulNya telah memberikan kelonggaran.
  5. Melarang bershalawat setelah shalat dalam shalat tarawih merupakan perbuatan bid’ah yang tercela
Baca beberapa artikel kami tentang shalat tarawih;
  1. Shalat Taraweh 20 Rakaat
  2. Penjelasan Syeikh Ali Jum'ah Tentang Rakaat Shalat Tarawih
  3. Melaksanakan Shalat Tarawih bila ada shalat Wajib Yang tertinggal
  4. Tata Cara Shalat Tarawih Lengkap



Masuk Air ke dalam Anggota Tubuh di saat Mandi, Apakah Membatalkan Puasa?


Pertanyaan;
Jika di saat mandi air masuk ke dalam rongga tubuh, misalnya telinga atau kerongkongan, apakah bisa membatalkan puasa?

Jawab;
Bila mandi yang diperintahkan oleh syara’ baik mandi wajib atau mandi sunat maka masuk air tanpa sengaja ke dalam rongga tubuh tidaklah membatalkan puasa, sedangkan bila mandi untuk semata-mata menyejukkan badan saja, maka bila masuk air ke dalam rongga badan tanpa sengaja bisa membatalkan puasa.

Perbedaannya, dengan sebab mandi wajib atau sunat tersebut terjadi karena mengerjakan satu perintah syara’, Maka tidak membatalkan puasa. Sedangkan mandi untuk semata-mata membersihkan badan, masuknya air ke dalam rongga tersebut bukan terjadi karena mengerjakan satu hal yang diperintahkan oleh syara’, maka hukumnya membatalkan puasa.

Sedangkan tertelah air karena berlebihan (mubalaghah) dalam melakukan berkumur-kumur (mudhmadhah) dan istinsya` ketika wudhu` juga bisa membatalkan puasa, karena ketika puasa dimakruhkan berlebihan mudhmadhah dan istinsya` ketika wudhu`. Maka tertelah air tersebut bukanlah hal yang terjadi karena mengerjakan hal yang diperintahkan oleh syara`. Demikian juga bisa batal puasanya bila tertelan air dalam melakukan mudhmadhah pada kali ke empat, karena yang disunatkan berkumur-kumur hanya tiga kali dan makruh melakukannya lebih dari tiga.

Namun, walaupun tidak membatalkan puasa pada mandi yang diperintahkan syara’, jika di saat mandi wajib atau mandi sunat tersebut, sebenarnya ia dengan mudah bisa menghindari masuknya air ke dalam rongga, namun ia tidak mengerjakannya, maka seandainya air masuk ke dalam rongga tubuh tetap membatalkan puasa. Dari uraian di atas bisa di pahami kalau tidak membatalkan puasa dengan sebab masuk air ke rongga tubuh pada mandi yang di syariatkan adalah jika tidak sengaja dan sukar memelihara masuk air ke dalam rongga tubuh.

Adapun mandi-mandi yang disunatkan adalah antara lain;
1. Mandi jumat bagi yang pergi jumat
2. Mandi dua hari raya
3. Mandi shalat istisqa`
4. Mandi shalat gerhana matahari dan bulan
5. Mandi orang yang memandikan mayat
6. Mandi kafir setelah masuk Islam
7. Mandi orang gila setelah sembuh
8. Mandi ketika ihram
9. Mandi ketika masuk kota Makkah
10. Mandi untuk wuquf di Arafah
11. Mandi untuk bermalam di Mina
12. Mandi untuk lempar jamarah pada hari tasyriq
13. Mandi untuk thawaf
14. Mandi untuk masuk Kota Madinah
15. Mandi setelah berbekam
16. Mandi setelah memotong kumis
17. Mandi setelah mencukur ‘anah [bulu kemaluan]
18. Mandi karena balegh
19. Mandi untuk menghadiri setiap tempat pertemuan kebaikan
20. Mandi karena berubah bau badan
21. Mandi untuk masuk Mesjid

Nas Kitab Mu’tabarah;

al-Mahally jilid 2 hal 57 Toha Putra

ولو سبق ماء المضمضة أو الاستنشاق إلى جوفه) من باطن أو دماغ (فالمذهب أنه إن بالغ) في ذلك (أفطر) لأنه منهي عن المبالغة. (وإلا) أي وإن لم يبالغ (فلا) يفطر لأنه تولد من مأمور به بغير اختياره،

Artinya; dan jika tertelan air mudhmadhah dan isntinsya` kedalam rongganya yaitu perut atau otak maka menurut pendapat yang kuat jika ia berlebihan dalam melakukannya maka terbuka puasanya, karena ia dilarang melakukannya secara berlebihan, sedangkan jika tidak berlebihan maka tidak terbuka, karena hal tersebut terjadi karena mengerjakan perbuatan yang diperintahkan dengan tanpa keinginannya.

Hasyiah Qalyubi jilid 2 hal 57 Toha Putra
قوله: (لأنه منهي عن المبالغة) ومثله ما تولد من المرة الرابعة. وكذا كل منهي عنه. قوله: (مأمور به) ومنه المبالغة في غسل نجاسة بفمه. وكذا ما لو تولد من غسل جنابة من أذنه، وإن أمكنه إمالة رأسه للمشقة نعم إن علم وصوله منها وأمكنه الاحتراز منه بلا مشقة أفطر به

Artinya; perkataan mushannif [karena ia dilarang berlebihan] dan sama juga hukumnya air yang masuk ke rongga badan yang terjadi pada basuhan ke empat dan setiap hal yang dilarang.

Kata mushannif [diperintahkan dengannya] dan sebagian yang diperintahkan adalah berlebihan dalam membersihkan najis pada mulutnya dan demikian juga yang terjadi karena mandi janabah masuk melalui telinganya, walaupun masih mungkin memiringkan kepadanya. [Tidak batal puasanya] karena adanya kesukaran. Namun bila ia telah yakin akan sampainya air ke dalam rongga dan ia masih memungkinkan menghindarinya tanpa adanya kesukaran, [bila masuk kerongga] bisa membatalkan puasa.

Nihayah Muhtaj jilid 3 hal 170 Dar Kutub Ilmiyah
ولو) (سبق ماء المضمضة أو الاستنشاق إلى جوفه) المعروف أو دماغه (فالمذهب أنه إن بالغ) في ذلك (أفطر) لأن الصائم منهي عنها كما مر في الوضوء (وإلا فلا) يفطر لأنه تولد من مأمور به بغير اختياره بخلاف حالة المبالغة لما مر، (وبخلاف سبق مائهما غير المشروعين كأن جعل الماء في فمه أو أنفه لا لغرض) وبخلاف سبق ماء غسل التبرد والمرة الرابعة من المضمضة أو الاستنشاق لأنه غير مأمور بذلك بل منهي عنه في الرابعة، وخرج بما قررناه (سبق ماء الغسل من حيض أو نفاس أو جنابة أو من غسل مسنون) فلا يفطر به كما أفتى به الوالد - رحمه الله تعالى -، ومنه يؤخذ أنه لو غسل أذنيه في الجنابة ونحوها فسبق الماء إلى جوفه منهما لا يفطر ولا نظر إلى إمكان إمالة الرأس بحيث لا يدخل شيء لعسره، وينبغي كما قاله الأذرعي أنه لو عرف عادته أنه يصل الماء منه إلى جوفه أو دماغه بالانغماس ولا يمكنه التحرز عنه أنه يحرم الانغماس ويفطر قطعا نعم محله إذا تمكن من الغسل لا على تلك الحالة وإلا فلا يفطر فيما يظهر،


Demikianlah sedikit penjelasan tentang hukum masuknya air ke dalam rongga tubut saat mandi di waktu berpuasa. Semoga bermanfaat. Wallahua'lam.

Tata Cara Shalat Tarawih yang Lengkap


Berikut ini kami akan sedikit memaparkan tata-cara Shalat sunat taraawih, secara lengkap. Shalat tarawih adalah dua puluh rakaat dan ditambah sunat witir tiga rakaat menjadi dua puluh tiga, setiap dua rakaat satu kali salam dan tidak sah apabila dilakukan empat rakaat dengan satu kali salam. Adapun caranya sebagai berikut :


امام: صَلاَةَ التَّرَاوِيْحِ رَحِمَكُمُ اللهُ
مأموم: لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلمُلْكُ وَلَهُ اْلحَمْدُ يُحْيِ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ.
امام: اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَّعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
مأموم: اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ
امام: اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَّعَلَى آلِ سَيِّدِنَا وَمَوْلآنَا مُحَمَّدٍ
مأموم: اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ
امام: اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا وَذُخْرِنَاوَمَوْلآنَا مُحَمَّدٍ
مأموم: اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ

Adapun lafadh niatnya sebagai berikut :
1. Untuk Imam

اُصَلِّ سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ امام:ا ِللهِ تَعَالىَ

2. Untuk Makmum :

اُصَلِّ سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مأموم:ا ِللهِ تَعَالىَ

Kemudian setiap kali berdiri Imam membaca dzikir dibawah ini. Sedangkan Makmum juga membaca dzikir setelah dibaca oleh Imam, yaitu :

امام: يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ
مأموم: كُلُّ شَيْئٍ قَائِمٌ بِاللهِ يَا قَوِيُّ يَا مَتِيْنُ - اَللهُ- قَوِ بِاللهِ عَارِفْ بِاللهِ يَا قَوِيُّ اَنْتَ اللهُ

Pada rakaat yang pertama dan kedua (pada salam pertama) Imam membaca ayat di bawah ini :
Rakaat pertama : أَلْهَكُمُ التَّكَاثُرُ
Rakaat kedua : قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ

Selesai salam pertama Imam dan Makmum membaca shalawat ini, yaitu :

امام: فَضْلاً مِنَ اللهِ وَنِعْمَةً
مأموم: وَمَغْفِرَةً وَرَحْمَةً يَا تَوَّابُ يَا وَاسِعَ اْلمَغْفِرَةِ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلمُلْكُ وَلَهُ اْلحَمْدُ يُحْيِ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ
امام: اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَّعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
مأموم: اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ
امام: اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَّعَلَى آلِ سَيِّدِنَا وَمَوْلآنَا مُحَمَّدٍ
مأموم: اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ
امام: اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا وَذُخْرِنَا وَمَوْلآنَا مُحَمَّدٍ
مأموم: اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ

Pada rakaat yang pertama dan kedua (pada salam kedua) Imam membaca ayat di bawah ini :
Rakaat pertama : وَاْلعَصْرِ
Rakaat kedua : قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ

Selesai salam kedua Imam dan Makmum membaca shalawat ini, yaitu :

امام: سُبْحَانَ اْلمَلِكِ اْلمَعْبُوْدِ
مأموم: سُبْحَانَ اْلمَلِكِ اْلمَوْجُوْدِ سُبْحَانَ اْلمَلِكِ اْلحَيِّ الَّذِى لاَ يَنَامُ وَلاَ يَمُوْتُ وَلاَ يَفُوْتُ اَبَدًا سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّنَا وَرَبُّ اْلمَلاَئِكَةِ وَالرُّوْحِ * سُبْحَانَ اللهِ وَاْلحَمْدُ ِللهِ وَلاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ - اَللهُ اَكْبَرُ {×۳} - وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ اِلاَّ بِاللهِ اْلعَلِيِّ اْلعَظِيْمِ
امام: اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَّعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
مأموم: اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ
امام: اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَّعَلَى آلِ سَيِّدِنَا وَمَوْلآنَا مُحَمَّدٍ
مأموم: اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ
امام: اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا وَذُخْرِنَا وَمَوْلآنَا مُحَمَّدٍ
مأموم: اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ


Setiap selesai empat rakaat sembahyang (dua kali salam) Imam membaca doa di bawah ini, yaitu :

امام: اَللَّهُمَّ اِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَاْلجَنَّةَ وَنَعُوْذُبِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ اَللَّهُمَّ اِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيْمٌ حَلِيْمٌ تُحِبُّ اْلعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا وَعَنْ وَالِدِيْنَا وَعَنْ جَمِيْعِ اْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ وَاْلمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
امام: لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ نَبِيُّكُمْ مُحَمَّدٌ صَلُّوْا عَلَيْهِ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
مأموم: اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ

Pada rakaat yang pertama dan kedua (pada salam ke Tiga) Imam membaca ayat di bawah ini :

Rakaat pertama : وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ
Rakaat kedua : قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ

Selesai salam ketiga Imam dan Makmum mengulangi shalawat dibawah ini hingga sempurna, yaitu :
امام: فَضْلاً مِنَ اللهِ وَنِعْمَةً ............
مأموم: وَمَغْفِرَةً وَرَحْمَةً .................

Pada rakaat yang pertama dan kedua (pada salam ke Empat) Imam membaca ayat di bawah ini :
Rakaat pertama : اَلَمْ تَرَ كَيْفَ
Rakaat kedua : قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ

Selesai salam keempat Imam dan Makmum mengulangi shalawat dibawah ini hingga sempurna, yaitu :

امام: سُبْحَانَ اْلمَلِكِ اْلمَعْبُوْدِ ...........
مأموم: سُبْحَانَ اْلمَلِكِ اْلمَوْجُوْدِ .........

Selesai membaca shalawat seperti di atas, Imam menyempurnakan dengan shalawat ini, yaitu :
لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ اَلْخَلِيْفَةُ اْلاُوْلَى سَيِّدُنَا اَبُوْ بَكَرِنِ الصِّدِّيْقُ تَرَاضَوْا عَنْهُ
مأموم: رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَنَفَعَنَا بِهِ فِى الدُّنْيَا وَاْلاَخِرَةِ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Pada rakaat yang pertama dan kedua (pada salam ke Lima) Imam membaca ayat di bawah ini :

Rakaat pertama : ِلاِيْلاَفِ قُرَيْشٍ
Rakaat kedua : قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ

Selesai salam ke lima Imam dan Makmum mengulangi shalawat dibawah ini hingga sempurna, yaitu :


امام: فَضْلاً مِنَ اللهِ وَنِعْمَةً ............
مأموم: وَمَغْفِرَةً وَرَحْمَةً .................

Pada rakaat yang pertama dan kedua (pada salam ke Enam) Imam membaca ayat di bawah ini :

Rakaat pertama : أَرَئَيْتَ الَّذِيْنَ
Rakaat kedua : قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ
Selesai salam ke Enam Imam dan Makmum mengulangi shalawat dibawah ini hingga sempurna, yaitu :

امام: سُبْحَانَ اْلمَلِكِ اْلمَعْبُوْدِ ................
مأموم: سُبْحَانَ اْلمَلِكِ اْلمَوْجُوْدِ .........

Selesai membaca shalawat seperti di atas, Imam menyempurnakan dengan shalawat ini, yaitu :
لاَ اِلَهَ اِلاَّ الله مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ اَلْخَلِيْفَةُ الثَّانِيَةُ اَمِيْرُ اْلمُؤْمِنِيْنَ سَيِّدُنَا عُمَرُ ابْنُ خَطَّابٍ تَرَاضَوْ ا عَنْهُ
مأموم: رَضِيَ الله عَنْهُ وَنَفَعَنَا بِهِ فِى الدُّنْيَا وَاْلاَخِرَةِ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Pada rakaat yang pertama dan kedua (pada salam ke Tujuh) Imam membaca ayat di bawah ini :


Rakaat pertama : إِناَّ أَعْطَيْنَاكَ اْلكَوْثَرَ
Rakaat kedua : قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ
Selesai salam ke Tujuh Imam dan Makmum mengulagi shalawat dibawah ini hingga sempurna, yaitu :

امام: فَضْلاً مِنَ الله وَنِعْمَةً ...........
مأموم: وَمَغْفِرَةً وَرَحْمَةً ..........................

Pada rakaat yang pertama dan kedua (pada salam ke Delapan) Imam membaca ayat di bawah ini :

Rakaat pertama : قُلْ يَااَيُّهَا اْلكَافِرُوْنَ
Rakaat kedua : قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ
Selesai salam ke Delapan Imam dan Makmum mengulangi shalawat dibawah ini hingga sempurna, yaitu :
امام: سُبْحَانَ اْلمَلِكِ اْلمَعْبُوْدِ ..........
مأموم: سُبْحَانَ اْلمَلِكِ اْلمَوْجُوْدِ .........

Selesai membaca shalawat seperti di atas, Imam menyempurnakan dengan shalawat ini, yaitu :

لاَ اِلَهَ اِلاَّ الله مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ الله اَلْخَلِيْفَةُ الثَّالِثَةُ اَمِيْرُ اْلمُؤْمِنِيْنَ سَيِّدُنَا عُثْمَانُ ابْنُ عَفَّانَ تَرَاضَوْا عَنْهُ
مأموم: رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَنَفَعَنَا بِهِ فِى الدُّنْيَا وَاْلاَخِرَةِ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
Kemudian Imam membaca kalimat diterima taubat Nabi Adam as oleh Allah swt, dan sanggamara sakaratul maut (terlepas dari haru-hara ketika sakit mati) dan para Makmum mengikuti apa yang dibaca oleh Imam, yaitu :

لاَ اِلَهَ اِلاَّ اَنْتَ * عَمِلْتُ سُوْءً وَظَلَمْتُ نَفْسِى * فَاغْفِرْلِى يَا خَيْرَ اْلغَافِرِيْنَ
لاَ اِلَهَ اِلاَّ اَنْتَ * عَمِلْتُ سُوْءً وَظَلَمْتُ نَفْسِى * فَارْحَمْنِى يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
لاَ اِلَهَ اِلاَّ اَنْتَ * عَمِلْتُ سُوْءً وَظَلَمْتُ نَفْسِى * فَتُبْ عَلَىَّ اِنَّكَ اَنْتَ التَوَّابُ الرَّحِيْمُ فَانَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلاَّ اَنْتَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ - اَللهُ اَكْبَرُ
لاَ اِلَهَ اِلاَّ الله - اَللهُ وَحْدَهُ
لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ - اَللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ
لاَ اِلَهَ اِلاَّ الله وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ اِلاَّ بِالله اْلعَلِيِّ اْلعَظِيْمِ
لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ قَبْلَ كُلِّ شَيْئٍ
لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ بَعْدَ كُلِّ شَيْئٍ
لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَيَبْقَى رَبُّنَا وَيَفْنَى كُلُّ شَيْئٍ
لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ اْلمَلِكُ اْلجَبَّارُ
لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ اْلمَلِكُ اْلقَهَّارُ
لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ اْلعَزِيْزُ اْلغَفَّارُ
لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ اْلكَبِيْرُ اْلمُتَعَالُ.
لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ مِنَ الله نَرْجُو التَّوْفِيْقَ بِجَاهِ رَسُوْلِ اللهِ وَاَبِى بَكَرِنِ الصِّدِّيْقِ
لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ مِنَ اللهِ نَرْجُو التَّوَّابَ بِجَاهِ رَسُوْلِ اللهِ وَعُمَرَ اِبْنِ خَطَّابٍ
لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ مِنَ اللهِ نَرْجُو اْلغُفْرَانَ بِجَاهِ رَسُوْلِ الله وَعُثْمَانَ اِبْنِ عَفَّانَ
لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ مِنَ الله نَرْجُو الرِّضَا بِجَاهِ رَسُوْلِ اللهِ وَعَلِيِّ اْلمُرْتَضَى
لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ مِنَ اللهِ نَرْجُو اْلقَبُوْلَ بِجَاهِ رَسُوْلِ اللهِ وَفَاطِمَةَ بِنْتِ رَسُوْلِ.

Pada rakaat yang pertama dan kedua (pada salam ke Sembilan) Imam membaca ayat di bawah ini :
Rakaat pertama : إِذَا جَآءَ نَصْرُ اللهِ وَاْلفَتْحُ
Rakaat kedua : قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ
Selesai salam ke Sembilan Imam dan Makmum mengulangi shalawat dibawah ini hingga sempurna, yaitu :

امام: فَضْلاً مِنَ اللهِ وَنِعْمَةً ...........
مأموم: وَمَغْفِرَةً وَرَحْمَةً .................

Pada rakaat yang pertama dan kedua (pada salam ke Sepuluh) Imam membaca ayat di bawah ini, yaitu :

Rakaat pertama : تَبَّتْ يَدَآ اَبِيْ لَهَبٍ وَتَبَّ
Rakaat kedua : قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ


Selesai salam ke Sepuluh Imam dan Makmum mengulagi shalawat dibawah ini hingga sempurna, yaitu :
امام: سُبْحَانَ اْلمَلِكِ اْلمَعْبُوْدِ ..........
مأموم: سُبْحَانَ اْلمَلِكِ اْلمَوْجُوْدِ .........


Selesai membaca shalawat seperti di atas, Imam menyempurnakan dengan shalawat ini, yaitu :

لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ اَلْخَلِيْفَةُ الرَّابِعَةُ اَمِيْرُ اْلمُؤْمِنِيْنَ سَيِّدُنَا عَلِيُّ ابْنُ اَبِىطَالِبٍ تَرَاضَوْا عَنْهُ
مأموم: رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَنَفَعَنَا بِهِ فِى الدُّنْيَا وَاْلاَخِرَةِ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.


Imam membaca shalawat di bawah ini untuk memulai Shalat Witir, yaitu :

اَوْتِرُوْا وَمَجِّدُوْا وَعَظِّمُوْا شَهْرَ الصِّيَامِ رَحِمَكُمُ اللهُ
مأموم: لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلمُلْكُ وَلَهُ اْلحَمْدُ يُحْيِ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ
امام: اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَّعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
مأموم: اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ
امام: اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَّعَلَى آلِ سَيِّدِنَا وَمَوْلآنَا مُحَمَّدٍ
مأموم: اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ
امام: اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا وَذُخْرِنَا وَمَوْلآنَا مُحَمَّدٍ
مأموم: اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ
Peringatan :
Pada ayat قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ diganti dengan ayat إِنَّا أَنْزَلْنَهُ فِى لَيْلَةِ اْلقَدْرِ pada malam ke enam belas serta membaca qunut pada akhir sembahyang witir.

SHALAT SUNAT WITIR

Sembahyang sunat witir jumlahnya 11 rakaat, namun boleh kita kerjakan bagimana yang kita inginkan, kebiasaan dalam bulan ramadhan dikerjakan 3 rakaat dengan dua kali salam. Adapun lafadh niatnya sebagai berikut :

1. Niat untuk Imam :

اُصَلِّ سُنَّةَ مُقَدِّمَةَ اْلوِتْرِ رَكَعَتَيْنِ امام للهِ تَعَالَى
2. Niat untuk Makmum :

اُصَلِّ سُنَّةَ مُقَدِّمَةَ اْلوِتْرِ رَكَعَتَيْنِ مأموم:ا ِللهِ تَعَالَى.
Pada rakaat pertama Imam membaca ayat sebagai berikut; dan boleh ayat-ayat yang lain.

Rakaat pertama : سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ اْلاَعْلَى
Rakaat kedua : قُلْ يَااَيُّهَا اْلكَافِرُوْنَ

Selesai salam dari sembahyang sunat muqaddimah witir dua rakaat, lalu Imam membaca shalawat ini, yaitu :

امام: اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَّعَلَى آلِ سَيِّدِنَا وَمَوْلآنَا مُحَمَّدٍ
مأموم: اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ

Kemudian ditambah satu rakaat lagi, dengan lafadh niatnya sebagai berikut :

1. Niat untuk Imam :

اُصَلِّ سُنَّةَ اْلوِتْرِ رَكَعَةً امام للهِ تَعَالَى


2. Niat untuk Makmum :

اُصَلِّ سُنَّةَ اْلوِتْرِ رَكَعَةً مأموم للهِ تَعَالَى

Adapun ayat-ayat yang dibaca pada satu rakaat tersebut boleh ayat apa saja yang mudah, tetapi kebiasaannya ayat seperti dibawah ini :

1. قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ
2. قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ اْلفَلَقِ
3. قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ

Apabila sembahyangnya telah selesai dan baru Imam membaca dzikir di bawah ini serta para Makmum mengikuti apa yang dibaca oleh Imamnya, yaitu :
سُبْحَانَ اْلمَلِكِ اْلقُدُّوْسِ * سُبْحَانَ اْلمُلْكِ وَاْلمَلَكُوْتِ * سُبْحَانَ ذِى اْلعِزَّةِ وَاْلعَظَمَةِ * وَاْلقُدْرَةِ وَاْلهَيْبَةِ * وَالسُّلْطَانِ وَاْلجَلالِ * وَاْلجَمَالِ وَاْلكَمَالِ * وَالضِّيَاءِ وَلأَلآتِ * وَاْلكِبْرِيَاءِ وَاْلجَبَرُوْتِ * سُبْحَانَ اْلمَلِكِ اْلحَيِّ القَيُّوْمِ * اَلَّذِى لاَ يَنَامُ وَلاَ يَفُوْتُ وَاَبَدًا * سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّنَا وَرَبُّ اْلمَلاَئِكَةِ وَالرُّوْحِ * سُبْحَانَ اللهِ وَاْلحَمْدُ ِللهِ وَلاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ - اَللهُ اَكْبَرُ × ۳ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ اِلاَّ بِاللهِ اْلعَلِيِ اْلعَظِيْمِ .

Kemudian disambung dengan Tasbih di bawah ini, yaitu :
اِلَهِى يَا رَبِّى
سُبْحَانَ اللهِ {×۳۳}- وَبِحَمْدِهِ دَائِمًا قَائِمًا اَبَدًا
اَلْحَمْدُ ِللهِ {×۳۳}- رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ عَلَى كُلِّ حَالٍ وَفِى كُلِّ حَالٍ وَنِعْمَةٍ
اَللهُ اَكْبَرُ {×۳۳}- كَبِيْرًا وَاْلحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَّاَصِيْلاً لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلمُلْكُ وَلَهُ اْلحَمْدُ يُحْيِ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ وَاِلَيْهِ اْلمَصِيْرُ وَلاَ حَوْلاَ وَلاَ قُوَّةَ اِلاَّ بِاللهِ اْلعَلِيِّ اْلعَظِيْمِ. الخ

Dan disudahi dengan Tahlil agar lebih sempurna.

اَفْضَلُ الذِّكْرِ فَاعْلَمْ اَنَّهُ " لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ " {×۱۰۰}

Tahlil ini disempurnakan dengan :

لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَةُ حَقٍّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوْتُ وَبِهَا نُبْعَثُ اِنْشَاءَ اللهُ تَعَالَى بِرَحْمَتِهِ وَكَرَمِهِ مِنَ اْلآمِنِيْنَ .
اِلَهِى أَنْتَ مَقْصُوْدِى وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِى أَعْطِنِى مَحَبَّتَكَ وَمَعْرِفَتَكَ. {×۳}

DOA SELESAI SHALAT TARAAWIH


اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ حَمْدًا يُوَافِى نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ يَا رَبَّنَا لَكَ اْلحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِى لِجَلاَلِ وَجْهِكَ اْلكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلآنَا مُحَمَّدٍ وَّعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ اَللَّهُمَّ اِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَاْلجَنَّةَ وَنَعُوْذُبِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ اَللَّهُمَّ اِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيْمٌ حَلِيْمٌ تُحِبُّ اْلعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا وَعَنْ وَآلِدِيْنَا وَعَنْ جَمِيْعِ اْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ وَاْلمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا بِاْلاِيْمَانِ كَامِلِيْنَ وَلِلْفَراَئِضِ مُئَدِّيْنَ وَعَلَى صَلاَةِ حَافِظِيْنَ وَلِلزَّكَاةِ فَاعِلِيْنَ وَلِمَا عِنْدَكَ طَالِبِيْنَ وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ وَبِاْلهُدَى مُتَمَسِّكِيْنَ وَعَنِ اللَّغْوِى مُعْرِضِيْنَ وَفِى الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ وَفِى اْلآخِرَةِ رَاغِبِيْنَ وَبِاْلقَضَاءِ رَاضِيْنَ وَلِلنَّعْمَاءِ شَاكِرِيْنَ وَعَلَى اْلبَلاَءِ صَابِرِيْنَ وَتَحْتَ لِوَاءِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ سَائِرِيْنَ وَاِلَى اْلحَوْضِ وَارِدِيْنَ وَاِلَى اْلجَنَّةِ دَاخِلِيْنَ وَمِنَ النَّارِ نَاجِيْنَ وَعَلَى سَرِيْرَةِ اْلكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ وَمِنْ حُوْرٍ عِيْنٍ مُتَزَوِّجِيْنَ وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاِسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِّسِيْنَ وَمِنْ طَعَامِ اْلجَنَّةِ آكِلِيْنَ وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُسَفًّى شَارِبِيْنَ بِأَكْوَابٍ وَاَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مِنْ مَعِيْنٍ مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّآلِحِيْنَ وَحَسُنَ اُلآئِكَ رَفِيْقًا ذَلِكَ اْلفَضْلُ مِنَ اللهِ وَكَفَى بِاللهِ وَلِيًّا وَكَفَى بِاللهِ حَسِيْبًا حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ اْلوَكِيْلُ نِعْمَ اْلمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَاِلَيْكَ اْلمَصِيْرُ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ اِلاَّ بِاللهِ اْلعَلِيِّ اْلعَظِيْمِ اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا فِى هَذِهِ اللَّيْلَةِ الشَّهْرِ الشَّرِيْفَةِ اْلمُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَاءِ اْلمَقْبُوْلِيْنَ وَلاَ تَجْعَلْنَا اَللَّهُمَّ مِنَ اْلاَشْقِيَاءِ اْلمَرْدُوْدِيْنَ * اِلَهَنَا وَعاَفِيْنَا وَاعْفُ عَنَّا ×۳ * وَاغْفِرِ اللَّهُمَّ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَلِجَدِّنَا وَلِجَدَّاتِنَا وَلِمَشاَيِخِنَا وِلِمُعَلِّمِيْنَا وَِلأُسْتَاذِنَا وَلِمَنْ عَلَّمْنَهُمْ وَلِسُلْطَانِنَا وَلِسُلْطَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ وَلِذَوِى اْلحُقُوْقِ عَلَيْنَا وَلِمَنْ اَحَبَّ وَاَحْسَنَ اِلَيْنَا وَلِمَنْ هَدَانَا وَهَدَيْنَاهُ اِلَى اْلخَيْرِ وَلِمَنْ وَصَانَا وَوَصَيْنَاهُ بِالدُّعَاءِ وَ لِجَمِيْعِ اْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ وَاْلمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَاكْتُبِ اللَّهُمَّ السَّلاَمَةَ عَلَيْنَا وَعَلَيْهِمْ وَعَلَى عَبِيْدِكَ اْلحُجَّاجِ وَاْلغُزَّاةِ وَالزُّوَّارِ وَاْلمُسَافِرِيْنَ وَاْلمُقِيْمِيْنَ فِى اْلبَرِّ وَ اْلبَحْرِ مِنَ اْلمُسْلِمِيْنَ * وَقِنَا شَرَّ الظَّالِمِيْنَ ×۳ * وَاخْتِمْ لَنَا يَا اللهُ مِنْكَ بِخَيْرٍ يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَوَّابُ الرَّحِيْمُ وَصَلَّى اللهُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَّعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ وَاْلحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلَعَالَمِيْنَ .


Kemudian ditutup dengan membaca doa shalat tarawih yang masyhur seperti doa di atas, dan disempurnakan dengan doa-doa lain, yang biasa dibaca selesai shalat. Dan pada 15 malam terakhir dari bulan ramadhan juga disunatkan untuk membaca doa qunut, sebagaimana membaca qunut subuh, yaitu pada rakat yang ke 3 shalat witir atau pada rakaat terakhir dari 23 rakaat keseluruhan shalat tarawih dan witir. Demikianlah sedikit tata cara shalat tarawih, sebagaimana yang kami kutip dari beberapa kitab fiqh. Semoga bermanfaat. Wallahua’lam.

Download Kitab Ittihaf Ahl al-Islam bi Khushushiyat ash-Shiyam karya Ibnu Hajar al-Haitami

إتحاف أهل الإسلام بخصوصيات الصيام
Salah satu ulama besar dalam Mazhab Syafii adalah Syaikhul Islam Imam Ibnu Hajar al-Haitami  (909-974 H).  Beliau menjadi rujukan utama dalam fiqh Syafi’iyah bersama dengan Imam Ramli (919-1004 H). Imam Ibnu Hajar al-Haitami banyak meninggalkan berbagai kitab yang bermutu dalam berbagai fan ilmu. Dalam bidang fiqh, selain mengarang kitab yang membahas masalah fiqh secara menyeluruh seperti kitab Tuhfatul Muhtaj ‘ala Syarh Minhaj, Fathul Jawad syarh al-Irsyad, beliau juga mengarang kitab fiqh yang membahas satu masalah fiqh secara khusus. Salah satu masalah yang beliau angkat secara khusus dalam karya beliau adalah masalah puasa.
Ittihaf Ahl al-Islam bi Khushushiyat ash-Shiyam, demikianlah nama kitab beliau yang membahas masalah puasa secara khusus. Kitab ini membahas khusus seputar puasa, seperti kelebihan puasa secara mutlaq, puasa Ramadhan, hal yang berkaitan dengan kewajiban puasa, seperti masalah rukyah hilal dan masuknya awal Ramadhan, hal-hal yang membatalkan puasa, adab dan sunnah berpuasa, qadha dan fidiyah puasa dan puasa-puasa sunat. Pada khatimah, Ibnu Hajar al-Haitami menyebutkan beberapa hadits yang berhubungan dengan zakat fithrah dan dua hari raya.
Bagi yang ingin memiliki file pdf kitab tersebut silahkan di download di SINI
kitab ini diringkas oleh Syeikh Abdul Fattah Husain Rawah al-Makky dengan nama kitab beliau ash-Shiyam; Ahkamuhu wa khushushiyatihi wa ahkam muftariqat ukhra

Peran Puasa dalam Ibadah

Salah satu kewajiban kepada setiap manusia di bulan Ramadhan adalah berpuasa, Kelebihan berpuasa sangat banyak, dari sudut pandang yang berbeda-beda, seperti dari sudut pandang medis/sains berpuasa akan menyehatkan badan, karena setelah sebelas bulan penuh perut diisi dengan makanan, maka dengan berpuasa sebulan penuh akan terjadi pembersihan dalam perut, seperti akan memperbaiki sistem pencernaan kita, sehingga sirkulasi makanan dan buang air menjadi lebih lancar, berpuasa juga akan menjadikan peningkatan Limfosit sampai dengan 10 kali lipat dalam tubuh, hal ini memberikan pengaruh yang besar terhadap sistem imunitas tubuh, sehingga puasa justru menghindarkan kita dari berbagai virus dari lingkungan luar/makanan yang tidak baik. Dan masih banyak kelebihan berpuasa dalam sudut pandang Medis. Pada kesempatan ini kami tidak akan membahas hal yang demikian, tapi akan sedikit membahas tentang kelebihan berpuasa dari sudut pandang Ilmu Tasauf, sejauh mana peranan puasa bisa meningkatkan keinginan kita melakukan ibadah, berikut rinciannya:

1. Menyucikan, membersihkan, menerangi dan membuka pintu hati, sehingga bisa menerima ilmu dan kebaikan-kebaikan lainnya dengan ikhlas.
2. Melembutkan dan melemahkan hatimu sehingga engkau akan merasa lezat bermunajah dan beribadah kepada Allah.
3. Dengan menahan lapar, akan menghilangkan rasa cintamu kepada dunia dan menghilangkan sifat takabur dari jiwamu.
4. Hatimu bisa merasakan bagaimana keadaan orang-orang fakir dan miskin yang tidak mempunyai makanan.
5. Memecah dan merobohkan syahwatmu untuk melakukan maksiat, bisikan setan dan mengontrol nafsu amarahmu.
6. Menolak rasa mengantuk dan sanggup menghidupkan malam untuk beribadah
7. Sanggup istiqamah dalam beribadah
8. Menyehatkan badan dan mencegah penyakit sebagaimana sabda rasulullah :
“perut yang penuh dengan makanan itu adalah asal mula segala penyakit dan mengosongkan perut adalah asal dari segala obat”
9. Meringankan belanja dan dan merasa cukup dalam mencari harta.
10. Bisa memberikan sedekah dari harta yang lebih kepada yang membutuhkan, sehingga amalan kebaikan bertambah.

Demikianlah sedikit penjelasan tentang “Peranan puasa” dalam menjalankan ibadah. Semoga bermanfaat. Wallahua’lam.

Sumber:
Kitab Siarus Salikin juz 3 hal. 59-62

Biografi Ibnu Malik, Pengarang Kitab Alfiyyah

peta andalusia
Nama lengkap Ibnu Malik adalah Syeikh Al-Alamah Muhammad Jamaluddin ibnu Abdillah Ibnu Malik al-Thay, lahir di Jayyan (Jaén). Daerah ini sebuah kota kecil di bawah kekuasaan Andalusia (Spanyol), sekarang merupakan salah satu propinsi di Spanyol dengan luas wilayah 422 km² yang masuk dalam wilayah Otonomi Andalusia. Pada saat itu, penduduk negeri ini sangat cinta kepada ilmu, dan mereka berpacu dalam menempuh pendidikan, bahkan berpacu pula dalam mengarang buku-buku ilmiah. Pada masa kecil, Ibnu Malik menuntut ilmu di daerahnya, terutama belajar pada Syaikh Al-Syalaubini (w. 645 H).
Setelah menginjak dewasa, ia berangkat ke Timur untuk menunaikan ibadah haji,dan diteruskan menempuh ilmu di Damaskus. Di Negeri Syam ia belajar ilmu dari beberapa ulama setempat, antara lan:
  1. Al-Sakhawi (w. 643 H).
  2. Syaikh Ibnu Ya’isy al-Halaby (w. 643 H).
  3. Syeikh Hasan bin Shabbah
  4. Syeikh Ibnu Abi Shaqr
  5. Syeikh Ibnu Najaz al-Maushili
  6. Ibnu Hajib
  7. Ibnu Amrun
  8. Muhammad bin ABi Fadhal al-Mursi
Di kota Dasmaskus dan Aleppo (Halab) nama Ibn Malik mulai dikenal dan dikagumi oleh para ilmuan, karena cerdas dan pemikirannya jernih. Ia banyak menampilkan teori-teori nahwiyah yang menggambarkan teori-teori mazhab Andalusia, yang jarang diketahui oleh orang-orang Syiria waktu itu. Teori nahwiyah semacam ini, banyak diikuti oleh murid-muridnya, seperti imam Al-Nawawi, Ibnu al-Athar, Al-Mizzi, Al-Dzahabi, Al-Shairafi, dan Qadli al-Qudlat Ibn Jama’ah. Untuk menguatkan teorinya, sarjana besar kelahiran Eropa ini, senantiasa mengambil saksi (syahid) dari teks-teks Al-Qur’an. Kalau tidak didapatkan, ia menyajikan teks Al-Hadits. Kalau tidak didapatkan lagi, ia mengambil saksi dari sya’ir-sya’ir sastrawan Arab kenamaan. Semua pemikiran yang diproses melalui paradigma ini dituangkan dalam kitab-kitab karangannya, baik berbentuk nazham (syair puitis) atau berbentuk natsar (prosa). Pada umumnya, karangan tokoh ini lebih baik dan lebih indah dari pada tokoh-tokoh pendahulunya.

Ibnu Malik memiliki semangat yang besar dalam mengajarkan ilmu yang telah ia miliki. Ketika ia menghadiri majlisnya yang kadang belum di hadiri oleh murid-muridnya, maka beliau berdiri di jerjak jendela dan berteriak “qiraah, qiraah, Arabiyah, Arabiyah” (maksudnya memanggil siapa saja yang ingin belajar ilmu qiraah atau ilmu arabiyah kepada beliau). Bila ternyata tidak ada yang hadir maka berdoa dan segera pergi dengan berkata “saya tidak tau untuk membebaskan tanggunganku kecuali dengan cara ini, karena kadangkala tidak ada yang tau kalau saya duduk di sini”.

Walaupun Ibnu Malik juga ahli dalam ilmu qiraah, namun tidak di ketahui murid beliau dalam ilmu qiraah. Ibnu Jazri mengatakan “ketika beliau masuk kota Aleppo (Halab) banyak para ulama yang mengambil ilmu arabiyah dari beliau, tetapi saya tidak mengetahui seorangpun yang membaca ilmu qiraah di hadapannya dan saya juga tidak punya sanad ilmu qiraah kepada beliau”. Kemungkinan besar ilmu qiraah beliau ajarkan di selain kota Aleppo.

Di antara murid-murid Ibnu Malik adalah :

  1. Anak beliau sendiri, Muhammad Badaruddin (w. 686 H)
  2. Imam Nawawi
  3. Ibnu Ja’wan
  4. Ibnu Munajjy
  5. al-Yunaini
  6. Baha` bin Nuhas
  7. Syihabuddin asy-Syaghury
  8. Ibnu Abi Fath al-Ba’li
  9. al-Fariqy
  10. Ibnu Hazim al-Azra’i
  11. Ibnu Tamam at-Talli
  12. Majduddin al-Anshari
  13. Ibnu ‘Aththar
  14. ‘Alauddin al-Anshari
  15. Abu Tsana’ al-Halabi
  16. Abu Bakar al-Mizzi
  17. Ibnu Syafi’
  18. Badaruddin bin Jamaah
  19. Ibnu Ghanim
  20. Al-Birzali
  21. Ibnu Harb
  22. ash-Shairafi
  23. dll

Untuk murid beliau Imam Nawawi, sempat beliau abadikan dalam nadham kitab Alfiyah beliau pada bait:
رَجُلٌ مِنَ الْكِرَامِ عِنْدَنَا
“Dan seorang laki-laki mulia di sisi kami”.

Ibnu Malik wafat di Damaskus pada malam Rabu 12 Ramadhan tahun 672 H dalam usia 75 tahun

Kitab alfiyah Ibnu Malik

Salah satu karya Imam Ibnu Malik yang paling tersohor adalah kitab Alfiyah, sebuah nadham terdiri dari 1002 bait yang menjelaskan ilmu nahu sharaf. Kitab ini di pelajari di seluruh dunia sampai saat ini. Kitab alfiyah ini sebenarnya merupakan kitab ringkasan dari kitab nadham karangan beliau sendiri al-Kafiyah al-Syafiyah yang terdiri dari 2757 bait. Karena itu, kitab alfiyah juga di sebut dengan kitab al-Khulashah yang berarti ringkasan.

Di antara ulama, ada yang menghimpun semua tulisannya, ternyata tulisan itu lebih banyak berbentuk nazham. Demikian tulisan Al-Sayuthi dalam kitabnya, Bughyat al-Wu’at. Di antara karangannya adalah Nazhom al-Kafiyah al-Syafiyah yang terdiri dari 2757 bait. Kitab ini menyajikan semua informasi tentang Ilmu Nahwu dan Shorof yang diikuti dengan komentar (syarah). Kemudian kitab ini diringkas menjadi seribu bait, yang kini terkenal dengan nama Alfiyah Ibnu Malik. Kitab ini bisa disebut Al-Khulashah (ringkasan) karena isinya mengutip inti uraian dari Al-Kafiyah, dan bisa juga disebut Alfiyah (ribuan) karena bait syairnya terdiri dari seribu baris. Kitab ini terdiri dari delapan puluh (80) bab, dan setiap bab diisi oleh beberapa bait. Bab yang terpendek diisi oleh dua bait seperti Bab al-Ikhtishash dan bab yang terpanjang adalah Jama’ Taktsir karena diisi empat puluh dua bait. Kitab Alfiyah yang telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa di dunia ini, memiliki posisi yang penting dalam perkembangan Ilmu Nahwu. Berkat kitab ini dan kitab aslinya, nama Ibn Malik menjadi popular, dan pendapatnya banyak dikutip oleh para ulama, termasuk ulama yang mengembangkan ilmu di Timur. Al-Radli, seorang cendekiawan besar ketika menyusun Syarah Al-Kafiyah karya Ibn Hajib, banyaklah mengutip dan mempopulerkan pendapat Ibn Malik. Dengan kata lain, perkembangan nahwu setelah ambruknya beberapa akademisi Abbasiyah di Baghdad, maka para pelajar pada umumnya mengikuti pemikiran Ibnu Malik. Sebelum kerajaan besar di Andalusia runtuh, pelajaran nahwu pada awalnya, tidak banyak diminati oleh masyarakat.

Kitab Alfiyah ini banyak di syarah oleh para ulama. Dalam kitab Kasyf al-Zhunun, Haji Khalifah mengatakan bahwa para ulama penulis Syarah Alfiyah berjumlah lebih dari empat puluh orang. Mereka ada yang menulis dengan panjang lebar, ada yang menulis dengan singkat (mukhtashar), dan ada pula ulama yang tulisannya belum selesai. Ada juga yang memberikan catatan pinggir (hasyiyah) terhadap kitab-kitab syarah Alfiyah.

Di antara syarah-syarah kitab Alfiyah adalah :

  1. Syarah Alfiyah yang ditulis oleh putera Ibn Malik sendiri, Muhammad Badruddin (w.686 H) dengan nama kitab Durratul Mudhi`ah. Ini merupakan syarah kitab Alfiyah yang pertama sekali di tulisa. Syarah ini banyak mengkritik pemikiran nahwiyah yang diuraikan oleh ayahnya, seperti kritik tentang uraian maf’ul mutlaq, tanazu’ dan sifat mutasyabihat. Kritikannya itu aneh tapi putera ini yakin bahwa tulisan ayahnya perlu ditata ulang. Atas dasar itu, Badruddin mengarang bait Alfiyah tandingan dan mengambil syahid dari ayat al-Qur’an. Disitu tampak rasional juga, tetapi hampir semua ilmuan tahu bahwa tidak semua teks al-Qur’an bisa disesuaikan dengan teori-teori nahwiyah yang sudah dianggap baku oleh ulama. Kritikus yang pada masa mudanya bertempat di Ba’labak ini, sangat rasional dan cukup beralasan, hanya saja ia banyak mendukung teori-teori nahwiyah yang syadz Karena itu, penulis-penulis Syarah Alfiyah yang muncul berikutnya, seperti Ibn Hisyam, Ibn Aqil, dan Al-Asymuni, banyak meralat alur pemikiran putra Ibn Malik tadi. Meskipun begitu, Syarah Badrudin ini cukup menarik, sehingga banyak juga ulama besar yang menulis hasyiyah untuknya, seperti karya Ibn Jama’ah (w.819 H), Al-‘Ainy (w.855 H), Zakaria al-Anshariy (w.191 H), Al-Sayuthi (w.911 H), Ibn Qasim al-Abbadi (w.994 H), dan Qadli Taqiyuddin ibn Abdul qadir al-Tamimiy (w.1005 H).
  2. Al-Muradi (w. 749 H) beliau adalah murid Ibnu Hayyan. Beliau menulis dua kitab syarah untuk kitab Tashil al-Fawaid dan Nazham Alfiyah, keduanya karya Ibn Malik. Meskipun syarah ini tidak popular di Indonseia, tetapi pendapat-pendapatnya banyak dikutip oleh ulama lain. Antara lain Al-Damaminy (w. 827 H) seorang sastrawan besar ketika menulis syarah Tashil al-Fawaid menjadikan karya Al-Muradi itu sebagai kitab rujukan. Begitu pula Al-Asymuni ketika menyusun Syarah Alfiyah dan Ibn Hisyam ketika menyusun Al-Mughni banyak mengutip pemikiran al-Muradi yang muridnya Abu Hayyan itu.
  3. Ibnu Hisyam (w.761 H) adalah ahli nahwu raksasa yang karya-karyanya banyak dikagumi oleh ulama berikutnya. Di antara karya itu Syarah Alfiyah yang bernama Audlah al-Masalik yang terkenal dengan sebutan Audlah. Dalam kitab ini ia banyak menyempurnakan definisi suatu istilah yang konsepnya telah disusun oleh Ibn Malik, seperti definisi tentang tamyiz. Ia juga banyak menertibkan kaidah-kaidah yang antara satu sama lain bertemu, seperti kaidah-kaidah dalam Bab Tashrif. Tentu saja, ia tidak hanya terpaku oleh Mazhab Andalusia, tetapi juga mengutip Mazhab Kufah, Bashrah dan semacamnya. Kitab ini cukup menarik, sehingga banyak ulama besar yang menulis hasyiyahnya. Antara lain Hasyiyah Al-Sayuthi, Hasyiyah Ibn Jama’ah, Ha-syiyah Putera Ibn Hisyam sendiri, Hasyiyah Al-Ainiy, Hasyiyah Al-Karkhi, Hasyiyah Al-Sa’di al-Maliki al-Makki, Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid dengan tiga syarahnya terhadap kitab Audhah Masalik dan yang menarik lagi adalah catatan kaki ( ta’liq ) bagi Kitab al-Taudlih yang disusun oleh Khalid ibn Abdullah al-Azhari (w. 905 H) dengan nama at-Tashreh li madhmun at-Taudhih.
  4. Ibnu Aqil (w. 769 H) adalah ulama kelahiran Aleppo dan pernah menjabat sebagai penghulu besar di Mesir. Karya tulisnya banyak, tetapi yang terkenal adalah Syarah Alfiyah. Syarah ini sangat sederhana dan mudah dicerna oleh orang-orang pemula yang ingin mempelajari Alfiyah Ibn Malik . Ia mampu menguraikan bait-bait Alfiyah secara metodologis, sehingga terungkaplah apa yang dimaksudkan oleh Ibn Malik pada umumnya. Syarah Ibnu Aqil merupakan Syarah Alfiyah yang paling banyak beredar dan di pelajari oleh kaum santri di Indonesia. Terhadap syarah ini, ulama berikutnya tampil untuk menulis hasyiyahnya. Antara lain Hasyiyah Ibn al-Mayyit, Hasyiyah Athiyah al-Ajhuri, Hasyiyah al-Syuja’i, dan Hasyiyah Al-Khudlariy.
  5. Al-Asymuni (w. 929 H) bernama Manhaj Salik ila Alfiyah Ibn Malik Syarah ini sangat kaya akan informasi, dan sumber kutipannya sangat bervariasi. Syarah ini dapat dinilai sebagai kitab nahwu yang paling sempurna, karena memasukkan berbagai pendapat mazhab dengan argumentasinya masing-masing. Dalam syarah ini, pendapat para penulis Syarah Alfiyah sebelumnya banyak dikutip dan dianalisa. Antara lain mengulas pendapat Putra Ibn Malik, Al-Muradi, Ibn Aqil, Al-Sayuthi, dan Ibn Hisyam, bahkan dikutip pula komentar Ibn Malik sendiri yang dituangkan dalam Syarah Al-Kafiyah , tetapi tidak dicantumkan dalam Alfiyah . Semua kutipan-kutipan itu diletakkan pada posisi yang tepat dan disajikan secara sistematis, sehingga para pembaca mudah menyelusuri suatu pendapat dari sumber aslinya. Kitab ini memiliki banyak hasyiyah juga, antara lain: Hasyiyah Hasan ibn Ali al-Mudabbighi, Hasyiyah Ahmad ibn Umar al-Asqathi, Hasyiyah al-Hifni, dan Hasyiyah al-Shabban (4 jilid).
  6. asy-Syathibi (w. 790 H) dengan nama kitab beliau Maqashid asy-Syafiyah fi Syarh Khulasah Syafiyah. Merupakan salah satu syarah Alfiyah yang paling besar (6 jilid).
  7. Ibnu Hayyan (w. 745 H), shahib kitab Bahrul Muhid. Beliau sempat semasa dengan Ibnu Malik namun tidak sempat berguru dengan beliau. Beliau berguru dengan murid-murid Ibnu Malik. Kitab beliau bernama Manhaj as-Salik fi al-Kalam ‘ala Alfiyah Ibnu Malik
  8. Al-Makudi (w. 780 H). Beliau mensyarah Alfiyah dua kali, kecil dan besar. Yang di cetak saat ini adalah yang kecil yang di beri hasyiah oleh Ibnu Hamidun
  9. Imam Sayuthi, Bahjatul Wardiyah
  10. Ibnu Thulun
  11. Syarah Al-Harawi
  12. Syarah Ibnu Jazry
  13. Dll

Selain itu ada juga para ulama yang menuliskan i’rab dari nadham alfiyah, seperti kitab Tamrin Thulab karangan Syeik Khalid Azhari (w.905).

Karya lain Ibnu Malik selain kitab Alfiyah antara lain:

  1. Al-Kafiyah asy-Syafiya dan Syarahnya dalam bidang kaidah sharaf
  2. Tashil al-Fawaid wa Takmil al-Maqashid dan Syarahnya dalam bidang kaidah nahwu
  3. Ijaz at-Tashrif fi `ilmi at-Tashrif
  4. Tuhfatu al-Maudud fi al-Maqshur wa al-Mamdud
  5. Lamiyatu al-Af`al
  6. Al-I`tidhad fi adh-dha' wa azh-zha'
  7. Syawahid at-Taudhih limusykilat al-Jami` ash-Shahih, merupakan syarah secara nahwu dari 100 hadits yang ada di Shahih Bukhari

Ibnu Malik dan Ibnu Mu’thi

Ada kisah menarik tentang penyusunan kitan Alfiyah Ibnu Malik. Ketika memulai menulis nadhamnya, saat baru sampai pada nadham :
فائقة ألفية ابن معطي
(Kitab Alfiyah yang aku tulis ini) mengungguli kitab Alfiyah karya Ibnu Mu'thi"

Beliau menambahkan lagi ;

فائقة منها بألف بيت
“mengungguli dari Alfiyah Ibnu Mu’thi dengan seribu bait”.

Sampai pada kalimat ini, Ibnu Malik kehilangan inspirasi untuk melanjutkan nadhamnya. Beliau berusaha melanjutkannya namun hingga sampai beberapa hari belum juga bisa beliau sempurnakan, sampai pada suatu malam beliau mimpi bertemu dengan seseorang : Orang itu bertanya pada beliau :
"Aku dengar kamu mengarang kitab Alfiyah dalam ilmu nahwu" Beliau menjawab : "Iya benar". Orang itu bertanya lagi : "Sampai pada nadham mana engkau menulisnya?"
Ibnu Malik menjawab : "Sampai pada 'fa'iqatan minha bi alfi baiti" orang itu bertanya "Apa yang menyebabkanmu tidak menyempurnakannya?". Beliau menjawab : "Sudah beberapa hari aku tidak bisa melanjutkan menulis nadham". Orang itu berkata lagi : "Apakah kamu ingin menyempurnakannya?" "Tentu" jawab Ibnu Malik. Orang itu berkata :

فَائِقَـةً مِنْهُ بِألْـفِ بَيْتِ ¤ وَالْحَيُّ يَغْلِبُ ألْفَ مَيِّـتِ

“Mengungguli dari Alfiyah Ibnu Mu’thi dengan seribu bait”.
"Dan arang masih hidup bisa mengalahkan seribu orang mati".

Terperangah Ibnu Malik dengan perkataan itu, Ibnu Malik bertanya : "Apakah anda Ibnu Mu'thi?" "Betul" jawab orang itu. Ibnu Malik merasa malu kepada beliau. Keesokan harinya, Ibnu Malik menghapus bait yang tidak sempurna itu, dan menggantinya dengan bait lain yang isinya memuji kehebatan Ibnu Mu'thi yaitu :

وَهْوَ بِسَبْقٍ حَائِزٌ تَفْضِيْلاً ¤ مُسْـتَوْجِبٌ ثَنَائِيَ الْجَمِيْلاَ

“Beliau (Ibnu Mu’thi) lebih memperoleh keutamaan karena lebih awal. Beliau berhak atas sanjunganku yang indah”

وَاللَّهُ يَقْضِي بِهِبَـاتٍ وَافِرَهْ ¤ لِي وَلَهُ فِي دَرَجَاتِ الآخِرَهْ

“Semoga Allah menetapkan karunianya yang luas untukku dan untuk beliau pada derajat-derajat tinggi akhirat.”

Ibnu Mu’thi adalah al-Imam Abu Zakariya Yahya bin Mu’thi al-Zawawy al-Magribi. Lahir di Magribi, menetap dalam masa yang lama di negeri Syam (Syria), kemudian melakukan perjalanan ke Mesir sehingga beliau wafat pada 628 H, umur beliau ketika itu 64 (enam puluh empat) tahun dan dikebumikan dekat kubur Imam Syafi’i di Mesir.

Setelah Alfiyah Ibnu Malik, Imam Sayuthi juga mengarang kitab nadham nahu yang melebihi Alfiyah Ibnu Malik, pada muqaddimahnya beliau berkata :
فائقة ألفية ابن مالك
“(Alfiyah saya ini) mengungguli dari Alfiyah Ibnu Malik”.

Selanjutnya Imam al-Ajhuri al-Maliky juga mengarang nadham nahu yang melebihi nadham Imam Sayuthi dan beliau juga berkata:

فائقة ألفية السيوطي

“(Alfiyah saya ini) mengungguli dari Alfiyah Imam Sayuthi”.

Namun kedua Alfiyah yang terakhir ini ternyata tidak sepopuler Alfiyah Ibnu Malik.

Diambil dari berbagai sumber

Hukum Wanita Ikut MTQ dan Zikir Berjamaah




Assalamualaikum...
 Abu yang mulia, saya adalah perempuan yang sering sekali ikut lomba MTQ, dari dulu saat masih anak-anak dan sampai sekarang sudah beranjak remaja, saya pernah dengar kalau suara perempuan adalah aurat. Hal ini sangat membuat hati saya risau, saya takut kalau bisa jadi fitnah. Abu, Bagaimana sebenarnya hukum wanita ikut Musabaqah Tilawatil Quran atau ikut zikir berjamaah misalnya, seperti yang tengah di galakkan belakangan ini. Atas jawabannya, terimakasih banyak Abu, Semoga Abu panjang umur dan selalu dalam lindungan-Nya.

Aminah Zalfa, A.Timur.
08123000xxxx

Wa’alaikum salam wr.wb....
Hukum bagi wanita yang ikut MTQ, membacakan Al Quran dengan ada penonton yang halal menikah dengannya adalah tidak di Haramkan, namun di Makruhkan. Hukum yang sama juga berlaku bagi Zikir wanita secara berjamaah. Karena menurut pendapat yang kuat suara wanita bukanlah Aurat, maka semata-mata mendengar suara wanita hukumnya tidak haram. Atas dasar pendapat ini maka wanita tidaklah haram memperdengarkan suaranya kepada laki-laki asing, hanya saja Makruh. Dan bila dikhawatirkan terjadi fitnah, maka Haram hukumnya. Sedangkan maksud dari dikhawatirkan terjadinya fitnah adalah jika ia memperdengarkan suaranya, maka akan terjadi maksiat darinya atau orang yang mendengar suaranya, seperti timbul syahwat dari orang yang mendengarnya, khalwat dan sejenisnya. Bila hal ini dikhawatirkan terjadi, maka wajib bagi perempuan tersebut untuk mengecilkan suaranya. Wallahua’lam.

Tuhfahtul muhtaj hal 208 juz 2, (Dar- aL Fikr)

Tiga Perkara yang Mengeraskan Hati

Perkara yang Mengeraskan Hati

Tujuan hidup yang paling utama dan pertama adalah berburu bekal akhirat, untuk mendapatkan bekal akhirat tentunya kita butuh keistiqamahan dalam beribadah dan hubungan yang baik dengan sesama. Modal utama membangun kemampuan seseorang beribadah dan peduli dengan sesama adalah melemahkan hati. Hati yang keras akan memunculkan sifat dan perilaku yang kurang baik dan beratnya menjalankan ibadah.

Hati yang dimiliki setiap insan terkadang ia selembut air, tapi juga terkadang sekeras batu. Lembutnya hati karena taatnya si pemilik hati kepada Swt. Sebaliknya, kerasnya hati karena kedurhakaan si pemilik hati kepada-Nya. Seorang yang lembut hatinya akan mudah menerima kebenaran yang datang dari Rabb-nya, dan mudah menangis saat mengingat dosa kepada Allah, dan segera bertaubat saat ia melanggar batasan Allah Swt. Adapun orang-orang yang keras hatinya, maka hatinya tertutup, susah dalam menerima kebenaran dan akan sangat susah untuk bisa menangis saat mengingat siksaan Allah dan kebesaran-Nya. Lalu, berat rasanya melakukan taubat kepada Allah.

Pada kesempatan kali ini, kami akan sedikit berbagi tentang beberapa perkara yang dapat mnegeraskan hati, sebagaimana yang kami kutip dari kitab Muraqi Ubudiyyah, Halaman 65. Sebahagian Ulama berkata ;” ada tiga perkara yang membuat hati keras, pertama; 

 الضحك من غير عجب
Tertawa tanpa sebab atau banyak tertawa

Tertawa dalam bahasa Arab terbagi tiga, ada yang dikatakan dengan الضحك, قهقهة dan تبسم , tertawa yang diharamkan adalah قهقهة atau biasa disebut dengan tertawa ‘ala setan, yaitu dengan suara yang besar melebi kebiasaan ditambah dengan memukul-mukul diri, sedangkan tertawa الضحك atau biasa dikenal dengan tertawa yang biasa ada pada manusia biasa, ini tidak sampai pada tingkatan diharamkan, tetapi bisa jadi makruh kalau berlebihan dan menjadikan hati keras, dan yang terakhir adalah تبسم , atau biasa disebut senyum, yang ada pada para Rasul, dan ini dibolehkan, bahkan dianjurkan dalam agama.

Tertawa memang bukan hal yang dilarang. Namun jika sering dilakukan dan melewati batas, maka menjadi tercela, bahkan banyak tertawa akan mengeraskan hati. Menjadikan susah masuknya hidayah, tidak tersentuh oleh peringatan-peringatan dari Alqur’an dan Hadis, serta menjauhkan pemiliknya dari Allah Swt. Oleh karena demikianlah, Raulullah Saw melarang banyak tertawa, sebagaimana dalam sebuah hadis :

 أقِلَّ الضَّحِك ، فَإن كَثْرَة الضَّحِكِ تُمِيتُ القَلْبَ

Sedikitkanlah tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati. [ Shahih adabul mufrad : 252 ].

Kebiasaan yang ada pada Rasululah adalah tersenyum, bukan tertawa. Banyak tersenyum adalah hal yang diperintahkan oleh agama. Bahkan senyuman seseorang kepada saudaranya dinilai sebagai sedekah. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda ;

تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ صَدَقَةٌ

Senyummu pada saudaramu adalah shdaqah [ HR. Ahmad ].

Bahkan Rasullulah mengajak umatnya untuk memperbanyak menangis kepada Allah dan sedikit tertawa. Kebiasaan beliau ini juga diikuti oleh para khulafa’ ar rasyidun dan para sahabat lainnya. Sebagaiman yang disebutkan dalam sebuah Hadis;

والذي نَفسِي بِيَدِه لو تَعْلَمُون ما أَعلَمُ ، لضَحِكتُم قَلِيلا ولَبَكَيْتُم كَثيراً

Dan demi jiwaku yang ada dalam kekuasaan-Nya, seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis. [ Adabul mufrad 254 ]

Maka tidak ada jalan lain jika seseorang ingin melemahkan hatinya kecuali dengan meninggalkan banyak tertawa dan memperbanyak tangisan kepada Allah Swt. Dengan demikian, hati akan lemah, ringan dalam melakukan ibadah, dan akan dengan mudah menerima kebenaran. yang kedua :

 والأكل من غير جوع
Makan saat belum lapar atau banyak makan

Di saat seseorang banyak makan, maka dia telah menuruti syahwat perutnya. Orang yang banyak makan akan menjadi malas, mberat badan akan mudah naik dan rentan terkena penyakit. Tidak hanya itu, otakpun menjadi bebal dan sulit diajak berfikir. Karena itulah, disyariatkannya puasa dalam islam, baik yang wajib atau yang sunat. Sehinnga para dokter juga mengatakan kalau penyebab utama datangnya penyakit adalah makan sebelum lapar atau masih kenyang, dan salah satu metode untuk menjaga kesehatan adalah makan di saat lapar dan sedikit. Bahkan Rasulullah Saw:

مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنِهِ بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أَكَلَاتٍ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ

“Tidak ada wadah paling buruk yang diisi manusia selain perutnya, cukuplah seorang anak Adam makan beberapa suap makanan saja yang dapat mengokohkan tulang punggungnya. Jika memang ia harus mengisi perutnya maka hendaknya ia mem-berikan sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga lagi untuk nafasnya". { HR. At-Tirmidzi}

Dan, perkara yang terakhir (yang ke tiga) adalah:

والكلام من غير حاجة

Bicara tanpa keperluan atau berlebihan

Apa hubungan banyak bicara dan hati?. Lisan adalah salah satu perwakilan hati. Islam mengajarkan umatnya untuk bicara yang baik. Jika tidak bisa, maka diam, keimanan seseorang terkait erat dengan sejauh mana seseorang menjaga lisannya. Rasulullah Saw bersabda:

لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ

Tidak akan lurus iman seorang hamba hingga lurus hatinya. Dan tidak akan lurus hatinya hingga lurus lisannya. [ HR. Ahmad ].

Dalam hadist yang lain beliau bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

Barangsiapa yang berimana kepada Allah dan hari kiamat, hendaklah dia berkata benar atau diam,” [HR. Al-Bukhari}

Imam an Nawawi dalam mensyarah hadis ini berkata : “Apabila salah seorang diantara kalian hendak berbicara dan pembicaraan tersebut benar-benar baik dan berpahala, baik membicarakan perkara yang wajib maupun sunnah, maka silakan dia membicarakannya. Jika belum jelas baginya, apakah perkataan tersebut baik dan berpahala atau perkataan itu nampak samar baginya antara haram, makruh dan mubah, maka hendaknya ia tidak mengucapkannya" Oleh karena demikian, perkara-perkarayang hukumnya mubah untuk dikatakan, sangat dianjurkan untuk menahan diri dari mengataknnya, karena ditakutkan bisa terjerumus kepada perkataan yang diharamkan nantinya.

Demikianlah sedikit pembahasan tentang beberapa sebab yang dapat mengeraskan hati, sebenarnya sebab itu tidak hanya tiga perkara di atas, namun ketiga perkara di atas adalah yang paling sering kita temui dalam kehidupan. Semoga bermanfaat. Wallahu’lam.



Nama-nama Anak Setan beserta Tugasnya


Pada postingan terdahulu kami sudah pernah membahas tentang nama-nama setan di langit yang tujuh, pada kesempatan kali ini kami akan sedikit bebrbagi tentang nama-nama anak setan, semoga bermanfaat.

خنزب (khaznab) Tugasnya adalah menggoda, melalaikan dan membuat was-was manusia saat mereka melakukan shalat.

والهان (walhan) Tugasnya adalah membuat manusia was-was saat berwudhuk.

زلنبور(Zalnabur) Tugasnya adalah menggoda manusia di pasar yang sedang berdangang, salah satunya adalah mengajak manusia untuk membeli barang-barang yang tidak di perlukan/berguna.

اعور (A’ur) Tugasnya menggoda manusia untuk berzina dengan tiupan pada kemaluan laki-laki dan pada pinggang perempuan.

وسنان (Wasnan) Tugasnya adalah menggoda manusia agar mengantuk/tertidur saat berbuat kebaikan dan selalu terjaga saat berbuat kejahatan.

تبر (Tabar) Tugasnya adalah menggoda manusia yang sedang ditimpa musibah agar tidak sabar dan tidak ikhlas.

داسم (Dasim) Tugasnya adalah duduk dan makan bersama manusia yang tidak membaca Basmallah.

مطون (Matun) Tugasnya adalah Menggoda manusia untuk saling mengadu domba.

الابيض (Abyad) Tugasnya adalah menggoda Aulia,Waliyullah dan para Nabiyullah.

Demikianlah sembilan nama anak-anak setan yang kami kutip dari kitab Muraqi Ubudiyyah, Halaman 18, Ini merupakan nama-nama anak setan dan tugas-tugasnya menurut satu riwayat. Wallahua’lam.


donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja