Definisi dan Pembagian Ruh

Ulama berbeda pendapat tentang ruh, mayoritas kaum Ahlussunnah wal Jamaah mengatakan, “ lebih baik kita memadai tentang penyebutan dan pembahasan ruh, karena ruh adalah bagian dari rahasia Allah, yang tidak diketahui oleh satupun makhluk Allah”.
Dalam satu riwayat disebutkan, kalau Nabi saw pernah ditanya tentang hakikat ruh, saat itu nabi tidak menjawab, karena tidak ada perintah untuk menjelaskannya. Dalam ayat Al-quran surat Isra’ ayat 85 disebutkan,:” mereka bertanya tentang hakikat ruh, katakan olehmu (muhammad), Ruh adalah urusan Allah swt”. Maka alangkah baiknya jika kita tidak membahas tentang bagaimana hakikat ruh itu sebenarnya, karena menghormati (taadduban) dengan Rasulullah saw.

Dari golongan ulama yang mendefinisikan ruh tersebut, ada sekitar 1000 pendapat tentang hakikat ruh. Jumhur mutakallimun memberi definisi: satu bentuk yang halus yang bercampur dengan badan, seperti bercampur air dengan ranting yang hijau. Dan menurur Ahlussunnah wal jamaah ruh tersebut kekal tidak fana.

Menurut satu kaum minoritas dari ulama Mutakallimin ruh tersebut adalah satu ‘arad yaitu wasaf Hayah (kehidupan), yang dengannya bisa menghidupkan tubuh (jasad) manusia. Sedangkan menurut ulama Sufiyyah dan Falasafah, Ruh tersebut bukan Jisim (yang berbentuk) dan bukan ‘Arad (wasaf tidak berbentuk), tetapi adalah Jauhar yang tidak mengambil tempat, yang berhubungan dengan badan (maksudnya hubungan yang mengatur kehidupan badan), ruh tersebut tidak masuk kedalam badan dan tidak pula keluar.

Pembagian Ruh

Ruh Umat Manusia terbagi kepada 5, yaitu:
  1. Ruh para Anbiya (nabi-nabi Allah):
    Ruh tersebut saat keluar dari tubuh para Anbiya akan jadi seperti Miski dan Kafur, berada dalam surga, makan, bernikmat-nikmat. Pada malam hari akan turun dan masuk ke dalam Qanadil yang digantungkan di bawah Arasy.
  2. Ruh para Syuhada (yang syahid karena Allah):
    jika mereka keluar dari tubuh, Allah akan memasukkan mereka ke dalam rongga satu burung yang hijau, yang berputar-putar di sekeliling sungai-sungai dalam surga.
  3. Ruh orang yang ta’at dari mukminin,
    jika keluar dari tubuh akan berada di taman surga, tidak makan dan tidak bernikmat-nikmat, tetapi hanya melihat ke dalam surga.
  4. Ruh orang yang maksiat dari mukminin,
    jika mereka keluar dari tubuh, mereka akan berada di udara di antara bumi dan langit.
  5. Ruh orang Kafir,
    jika keluar dari tubuh, mereka akan dimasukkan ke dalam rongga burung yang hitam dalam neraka sijjin. Neraka sijjin berada di bawah lapiasan bumi yang ke tujuh. Ruh tersebut bersambung dengan tubuh si kafir, saat di azab ruh, maka akan ikut menyakiti tubuh. Perbandingannya seperti matahari yang ada pada langit ke empat, sedangkan cahayanya tembus ke bumi. Wallahua’alam.

Hasyiyah I’anatuttalibin juzuk 2 halaman 122-123, cet. Darul Fikri.