Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Isim Yang Tidak Menerima Sharaf ( Isim Ghairu Munsharif )

Isim ghairu munsharif (Isim Tegah Sharaf) adalah isim yang tidak menerima tanwin dan tidak menerima jar dengan kasrah, tetapi dijar dengan fathah. Ta'rif-nya (Pengertiannya) menurut kitab Mutammimah Al-jurumiyyah adalah sebagai berikut:

الاسم الذي لاينصرف مافيه علتان من علل تسع او واحدة تقوم مقام العلتين
• Isem tegah sharaf adalah isem yang ada padanya dua ‘illat dari ‘illat yang sembilan atau satu ‘illat yang bertempat pada tempat dua ‘illat. 'ilat disini adalah alasan atau perkara-perkara yang membuat isim tersebut tidak munsharih (tidak bertanwin dan tidak di Jar dengan baris kasrah).
‘Illat sembilan yaitu:
a. Jama’
b. Wazan fi’il
c. ‘Adal
d. Taknist
e. Ma’rifah
f. Murakkab Majazi
g. Alif dan nun ziyadah
h. ‘Ajamiyah
i. Sifat
‘Illat sembilan dihimpun oleh sebuah perkataan syair:

اجمع وزن عادلا انث بمعرفة ركب وزد عجمة فالوصف قد كملا
Syairnya dalam bahas Aceh : “Gata himpon gata timang supaya senang hate gata, gata meukawen ngon yang jroh budi supaya suci hate gata.”

Pembahasan 'Ilat-'Ilat diatas:

1. Jama’
Jama’ syaratnya harus diatas shigaht muntahal jumu’ yaitu shigat مفاعل
Ex:
مساجد, دراهم, غنائم
Atau shighat مفاعيل
Ex:
مصابيح, محاريب
Jama’ adalah ‘illat yang dapat menegah saraf dengan sendirinya dan ia bertempat pada tempat dua ‘illat; dari sisi keadaannya adalah jama’ itu pada posisi satu ‘illat yang kembali kepada makna. Dari sisi keadaannya diatas shighat yang tiada jenis bandingan baginya pada mufrad itu pada posisi ‘illat yang lain yang kembali kepada lafadh.

2. Wazan fi’il
Maksudnya adakala:
a. Isem itu diatas wazan yang dikhususkan untuk fi’il.
Ex:
شمر, ضرب, انطلق
Apabila dijadikan sebuah nama dari demikian contoh di atas.
b. Awal isim terdapat ziyadah fi’il dan isim itu sama dengan fi’il pada wazannya.
Ex:
احمد, يزيد, تغلب, نرجس

3. ‘Adal
‘Adal adalah keluar isim dari shighatnya yang asliyah adakala secara tahqiq; dengan bahawa ditunjuki oleh dalil tidak tegah saraf atas keluarnya isem dari shighatnya yang asliyah kepada shighat yang lain.
Ex:
احاد, موحد, ثناء, مثنى, ثلاث, مثلث, رباع, مربع
Dan seterusnya hingga sepuluh. Maka itu semua di’adalkan dari lafaadh bilangan asal yang diulang-ulangkan.
Maka asal : جاء القوم احاد adalah جاؤا واحد واحد
Dan asal : جاء القوم مثنى adalah جاؤا اثنين اثنين
dan seperti demikian pada contoh semisalnya.
Dan adakala keluar dari shighat aslinya secara tidak tahqiq; dengan bahwa tidak ditunjuki oleh dalil tidak tegah saraf atas adanya ‘adal pada isem itu akan tetapi waktu didapat udah tegah saraf dan tidak ada padanya kecuali ‘illat ‘alamiyah, maka para ulama mentakdirkan padanya ‘adal karena untuk memelihara kaedah dari lobang (kekosongan).
Contoh isem ‘adal yang secara takdir seperti isem alam yang diatas wazan fi’il.
Ex:
عمر, زفر, زحل
Itu semua waktu didengar dari orang arab udah tegah saraf dan tidak ada padanyan ‘illat yang dhahir kecuali ‘alamiyah maka para ulama mentakdirkan padanya ‘illat ‘adal.
عمر di’adal dari عامر, زفر di’adal dari زافر, زحل di’adal dari زاحل

4. Taknist
Taknist terbagi kepada tiga:

a. Taknist dengan alif
Taknist dengan alif tegah saraf secara muthlaq (tidak ada kecualinya) apakah ia isim nakirah atau ma’rifah mufrad atau jama’ atau isim atau mufrad, apakah alif itu alif maqsurah seperti: حبلى, مرضى dan ذكرى atau ia alif mamdudah seperti: اشياء, زكرياء, حمراء, صحراء.
Taknist dengan alif adalah ‘illat yang dapat menegahkan saraf dengan sendirinya dan bertempat pada tempat dua ‘illat. Dari segi dirinya taknist itu adalah ‘illat lafdhi. Dari segi luzum alif dengan sekira-kira tidak sah membuangnya dengan keadaan apapun itu adalah ‘illat ma’nawi.

b. Taknist dengan taa
Taknist dengan taa tegah saraf beserta ‘alamiyah apakah itu ‘alam (nama) bagi muzakkar seperti: طلحة, atau bagi mu’annast seperti: فاطمة.

c. Taknist maknawi
Taknist maknawi seperti taknist dengan taa; tegah saraf beserta ‘alamiyah akan tetapi dengan syarat:
i. Isim itu lebih diatas tiga huruf.
Ex: سعاد
ii. Isim itu tiga huruf tapi berbaris tengah.
Ex: سقر
iii. Isim itu tiga huruf, tidak berbaris tengah, tapi ajamiyah.
Ex: جوز
iv. Isim itu tiga huruf, tidak berbaris tengah, tapi yang dinaqal dari muzakkar ke muannast, sebagaimana seorang perempuan diberi nama dengan nama زيد.

Apabila tidak ada syarat-syarat yang telah tertera diatas seperti: دعد, هند, maka boleh saraf dan tinggal saraf. Tinggal saraf itu lebih bagus.

5. Ma’rifah
Ma’rifah maksudnya ‘alamiyah (Nama Sesuatu). Ia tegah saraf beserta wazan fi’il seperti: احمد, يزيد beserta ‘adal seperti: عمر, زفر beserta taknist, beserta murakkab majazi, dan beserta alif dan nun ziyadah seperti: عثمان dan beserta ‘ajamiyah seperti: ابراهيم.

6. Murakkab
Murakkab maksudnya murakkab majazi yang disudahi dengan selain ويه.
Ex: بعلبك dan حضر موت. Dan tegah saraf hanya beserta ‘alamiyah.

7. Alif dan nun ziyadah
Alif dan nun ziyadah tegah saraf beserta ‘alamiyah seperti: عمران. عثمان dan beserta sifat seperti: سكران.

8. Ajamiyah
Ajamiyah maksudnya kalimat itu dari wadha’ ‘ajamiyah (diciptakan lafal tersebut oleh orang non-Arab/ diluar bahasa Arab) seperti: ابراهيم, اسمعيل, اسحق. Semua nama nabi itu ‘ajamiyah kecuali empat : محمد, صالح, شعيب, هود. Dan disyaratkan pada ‘ajamiyah isim itu adalah ‘alam pada bahasa ‘ajam (sudah dijadikan sebuah nama), karena itu disarafkan lafadh لجام dan seumpamanya. Dan disyaratkan juga lebih atas tiga huruf, karena itu disarafkan lafadh نوح dan لوط.

9. Sifat
Sifat tegah saraf beserta tiga perkara:
a. ‘Adal sebagaimana yang telah terdahulu pada مثنى dan ثلاث
b. Alif dan nun ziyadah dengan syarat sifat itu diatas wazan فعلان dan muannastnya tidak diatas wazan فعلانة
Ex: سكران muannastnya سكرى , dan seumpama ندمان itu menerima saraf karena muannastnya ندمانة jika ia dari kata-kata المنادمة
c. Wazan fi’il dengan syarat diatas wazan افعل dan muannastnya tidak dengan taa seperti: احمر karena muannastnya حمراء. Dan seumpama أرمل menerima saraf karena muannastnya أرملة. Dan boleh mensaraf isim tegah saraf karena munasabah (menyesuaikan kata) seperti qiraah nafi’ سلاسلا وقواريرا قواريرا dan karena dharurah sya’ir.

Referensi : Kitab Kawakibud Dhurriyah Syarah Mutammimah Al-Jurumiyyah Halaman 37-45.

Wallahu 'Alam Bisshawab.

Share artikel ini :
Dapatkan update topik terbaru via email dengan mendaftarkan alamat email anda di form di bawah ini:

Setelah memasukkan email dan klik subscribe, cek email lalu ikuti link verifikasi.

belum ada komentar untuk Isim Yang Tidak Menerima Sharaf ( Isim Ghairu Munsharif )