Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Cara Memandikan Jenazah Anak Kecil Yang Belum Dikhitan

 Cara Memandikan Jenazah Anak Kecil Yang Belum Dikhitan

Diskripsi Masalah :

Setiap manusia yang meninggal dunia, kewajiban secara kifayah bagi kita yang masih hidup untuk memandikannya dengan membasahi keseluruh bagian anggota tubuh mayat yang zahir. Dan kesucian mayat ini memberi efek hukum tentang boleh atau tidaknya untuk menshalatkan bagi mayat tersebut.

Pertanyaan :

Bagaimana cara memandikan jenazah anak kecil yang belum dikhitan, sementara dibawah kulub kemaluannya terdapat najis ?

Anak kecil yang belum dikhitan tetap dimandikan seperti biasa, najis pada bagian kulub kalau mungkin dibersihkan maka wajib dibersihkan. Sedangkan bila najis tersebut baru bisa dihilangkan dengan cara dikhitan maka tidak dibersihkan. Tetapi langsung disolatkan setelah ditayammumkan sebelumnya. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Imam Ibnu Hajar Alhaitami (Pendapat yang sepatutnya diikuti)

Referensi Kitab Hasyiah Bujairimi Juz 2 hal.267.

وَلَوْ تَنَجَّسَ فَمُهُ وَكَانَ يَلْزَمُهُ طُهْرُهُ وَتَوَقَّفَ عَلَى فَتْحِ أَسْنَانِهِ اتَّجَهَ فَتْحُهَا وَإِنْ عُلِمَ سَبْقُ الْمَاءِ إلَى جَوْفِهِ وَلَا تُكْسَرُ أَسْنَانُهُ لَوْ تَوَقَّفَتْ إزَالَةُ النَّجَاسَةِ عَلَى كَسْرِهَا لِمَا قَالُوهُ فِيمَنْمَاتَ غَيْرَ مَخْتُونٍ وَتَحْتَ قُلْفَتِهِ نَجَاسَةٌ تَوَقَّفَتْ إزَالَتُهَا عَلَى قَطْعِ الْقُلْفَةِ حَيْثُ قَالُوا: لَا تُقْطَعُ، وَيُدْفَنُ بِلَا صَلَاةٍ عَلَيْهِ كَمَا نَقَلَهُ الْمَدَابِغِيُّ عَنْ الَأُجْهُورِيُّ؛ وَعِبَارَتُهُ عَلَى التَّحْرِيرِ: وَيَحْرُمُ خَتْنُهُ وَإِنْ عَصَى بِتَأْخِيرِهِ أَوْ تَعَذَّرَ غَسْلُ مَا تَحْتَ قُلْفَتِهِ كَمَا اقْتَضَاهُ كَلَامُهُمْ، وَعَلَيْهِ فَيُيَمِّمُ عَمَّا تَحْتَهَا، وَمَحِلُّهُ مَا لَمْ يَكُنْ تَحْتَهَا نَجَاسَةٌ تَعَذَّرَ إزَالَتُهَا وَإِلَّا دُفِنَ بِلَا صَلَاةٍ عَلَيْهِ م ر: وَعِنْدَ ابْنِ حَجَرٍ: يُصَلَّى عَلَيْهِ بَعْدَ التَّيَمُّمِ..

"Wajib meyampaikan air hingga di bawah qulfah (kulit kemaluan yang belum dikhitan) yang bernajis, berkatalah fuqaha “jangan dipotong qulfahnya’’
Namun jika ozor dalam menyucikannya maka diganti dengan tayammum
Menurut Ibnu Hajar mayat tersebut mesti dishalatkan setelah ditayamum"

Hasyiahbn I’anah Thalibin juz 2 hal. 109 (Cetakan Haramain).

(قوله: بأنها الخ) الباء سببية متعلقة بتعذر، أي لو تعذر غسل ما تحت القلفة بسبب أنها لا تتقلص، أي لا تنكشف ولا تنفسخ إلا بجرح، يمم عما تحتها. أي وصلى عليه، وإن كان ما تحتها نجسا، للضرورة وهذا ما قاله ابن حجر.
وقال الرملي: إن كان ما تحتها طاهرا ييمم عنه، وإن كان نجسا فلا ييمم، ويدفن بلا صلاة عليه، لأن شرط التيمم إزالة النجاسة، وينبغي تقليد الأول، لأن في دفنه بلا صلاة عدم احترام الميت.


"Jika ozor menyucikan kulit yang dibawah Qulfah kecuali dengan melukainya, maka diganti dengan tayammum kemudian dishalatkan karena zarurah (ibnu hajar).
Pendapat Ini sepatutnya yang diikuti"

Share artikel ini :
Dapatkan update topik terbaru via email dengan mendaftarkan alamat email anda di form di bawah ini:

Setelah memasukkan email dan klik subscribe, cek email lalu ikuti link verifikasi.

1 komentar untuk Cara Memandikan Jenazah Anak Kecil Yang Belum Dikhitan