Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Menelan Dahak Ketika Berpuasa, Batalkah?

Dalam menjalankan ibadah puasa, salah satu hal yang harus kita jaga suapaya puasa kitab tidak batal adalah masuknya sesuatu ke dalam rongga terbuka. Salah satu rongga terbuka tersebut adalah kerongkongan. Satu hal yang sering tertelan dalam puasa adalah dahak. Namun kadang dahak tersebut masih berada dalam kerongkongan, belum keluar ke batasan dhahir atau kadang juga sulit dikeluarkan walaupun sudah berada di luar kerongkongan.

Pertanyaan;
Bagaimana hukumnya menelan dahak ketika berpuasa, apakah bisa membatalkan puasa?

Jawaban;
Dahak ada juga jenis, yaitu Dahak yang turun dari kepala dan dahak yang keluar dari dada.
Rincian hukum kedua jenis dahak ini adalah sama, yaitu;
  1. Dahak tidak sampai pada batasan dhahir pada mulut, dari kepala langsung turun ke kerongkongan, tidak melalui batasan dhahir, atau bila dahak dari dada, masih berada dalam kerongkongan, belum sapai batasan dhahir, ini tidak membatalkan puasa.
  2. Dahak telah sampai pada batasan dhahir dalam mulut, maka bila telah sampai batasan dhahir, adakalanya ia sanggup meludahnya dan adakala tidak sanggup. Bila tidak sanggup dikeluarkan dengan cara meludahnya maka bila turun kembali ke dalam kerongkongan, maka hal tersebut tidak membatalkan puasa. Sedangkan jika mampu dikeluarkan maka wajib di keluarkan dengan cara meludahnya dan dibuang, jika tidak dikeluarkan hingga tertelan maka dapat membatalkan puasa.
Dhabit batasan dhahir yang telah disebutkan oleh para ulama adalah batasan makhraj Ha ( ح ).

Sedangkan hukum menarik/mengeluarkan dahak dari dalam dada adalah boleh dan tidak membatalkan puasa karena dahak ini tidak disamakan dengan muntah. Muntah secara sengaja bisa membatalkan puasa, sedangkan mengeluarkan dahak secara sengaja tidak membatalkan puasa.
Referensi;
Kitab Fiqh Shiyam Syeikh Hasan Hitu, hal 78

ابتلاع النخامة
ومما يؤدى الى الفطر ويجب الاحتراز عنه النخامة سواء أكانت نازلة من الرأس او خارجة من الصدر ولها حالتان :
الحالة الاولى ان لا تصل ألى حد الظاهر من الفم وإنما تنزل من الرأس إلى الحلق دون أن تخرج إلى حد الظاهر من الفم وهذه لا تضر بالاتفاق
والحالة الثانية أن تصل ألى حد الظاهر من الفم وقد ضبطه الفقهاء بكخرج الحاء فإن وصلت حد الظاهر وهو مخرج الحاء فإما أن يقدر على قطعها ومجها وإما أن لا يقدر.
فإن لام يقدر على قطعها ومجها حتى نزلت إلى جوفه لم تضر لعدم تقصيره . وإن قدر على قطعها ومجها إلا أنه إبتلعها فإنه يفطر على ما ذهب إليه الجمهور

Share artikel ini :
Dapatkan update topik terbaru via email dengan mendaftarkan alamat email anda di form di bawah ini:

Setelah memasukkan email dan klik subscribe, cek email lalu ikuti link verifikasi.

5 komentar untuk Menelan Dahak Ketika Berpuasa, Batalkah?

masalah menelan dahak ini memang jadi pertanyaan setiap tahunnya, ilmu agama memang luas ya :)

This comment has been removed by the author.

terimakasih penjelasannya, sangat bermanfaat... :)

baca juga: sholat jamaknya

kalau masuk air ke dlam telinga batal atau tdk puasanya?.

terimakasih telah mengunjungi blog kami dan bertanya kepada kami
jika air masuk dalam telinga dengan unsur sengaja maka batal, namun jika tidak ada unsur sengaja maka tidak batal
lebih dan kurang kami ucapkan terimakasih