Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Hukum memberikan sedekah kepada pengemis

Deskripsi masalah:

Tak bisa dipungkiri bahwa pengemis sudah menjadi pemandangan umum yang menghiasi negeri ini. Dengan alasan ekonomi dan keadaan yang mendesak membuat mereka tak ada pilihan lain untuk hidup selain daripada mengemis. Mereka biasanya mangkal ditempat-tempat yang sering dilalui orang banyak seperti persimpangan kota, SPBU, dipinggir jalan dan tempat-tempat lain yang mereka anggap sangat tepat sebagai ladang untuk meminta-minta. Apalagi selama bulan puasa dan mendekati lebaran banyak para pengemis musiman menjamur disetiap sudut ibukota.

Pertanyaan:

Terlepas dari bagaimana latar belakang kehidupan mereka sehingga kemudian menjadi pengemis, bagaimanakah hukum memberikan uang kepada pengemis tersebut?

Jawaban:

Pada dasarnya, sunat memberikan sedekah kepada setiap orang. Namun, jika kita punya praduga yang kuat bahwa uang tersebut akan dipergunakan pada kemaksiatan maka hukum memberikannya adalah haram.


Referensi:

Tuhfatul muhtaj 6 : 340 cet. Darl fikr


والأصل في جوازها بل ندبها بسائر أنواعها الآتية قبل الإجماع الكتاب، والسنة وورد «تهادوا تحابوا» أي: بالتشديد من المحبة وقيل بالتخفيف من المحاباة وصح «تهادوا فإن الهدية تذهب بالضغائن» وفي رواية «فإن الهدية تذهب وحر الصدر» وهو بفتح المهملتين ما فيه من نحو حقد وغيظ نعم يستثنى من ذلك أرباب الولايات والعمال فإنه يحرم عليهم قبول الهبة والهدية بتفصيله الآتي في القضاء وقد بسطت ذلك في تأليف حافل ويحرم الإهداء
لمن يظن فيه صرفها في معصية

Hasyiyah Syarwani ‘ala Tuhfatil muhtaj 6 : 340 cet. Darl fikr


(قوله: والسنة) كخبر الصحيحين «لا تحقرن جارة لجارتها ولو فرسن شاة» أي ظلفها شرح منهج ومغني قال البجيرمي قوله لا تحقرن بابه ضرب مختار أي: لا تستصغرن هدية لجارتها ع ش



Share artikel ini :
Dapatkan update topik terbaru via email dengan mendaftarkan alamat email anda di form di bawah ini:

Setelah memasukkan email dan klik subscribe, cek email lalu ikuti link verifikasi.

belum ada komentar untuk Hukum memberikan sedekah kepada pengemis