Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Perbedaan lafadh الشاذ , النادر dan الضعيف

Didalam kitab Klasik sering kita jumpai ketiga kalimat ini yaitu Syazd, Nadir dan Dhaif. Ketiganya hampir memilki substansi makna yang sama. Namun perlu diketahui  bahwa ketiganya  walaupun hampir memiliki makna ynag berdekatan akan tetapi terdapat perbedaan tersendiri. Berikut adalah perbedaan yang kami kutib dari kitab Syarh Al-Mathlub:

الشاذ هو الذي يكون وقوعه كثيرًا لكن مخالف للقياس

Syadz adalah sesuatu (kalimat) yang banyak di perdapatkan pada kalam akan tetapi sebalik (tidak sesuai) dengan Qias (undang-undang).

النادر هو الذي يكون وقوغه قليلا لكن على القياس

Nadir adalah sesuatu/kalimat yang sedikit di perdapatkan akan tetapi sesuai dengan qias.

الضعيف هو الذي لم يصل حكمه إلى الثبوت

Dhaif adalah sesuatu yang hukumnya tidak sampai kepada sebut. 

Referensi:  Syarah al Mathlub hal 14 


Wajibkah Menyegera Mandi Janabah?

Deskripsi Masalah:

Setiap yang berhadas besar diwajibkan untuk mandi rafa' hadas, hal ini karena salah satu syarat ibadat seperti shalat disyaratkan bersih dari hadas besar dan kecil. Namun karena faktor malas atau lainnya terkadang  seseorang sering memperlambat untuk mandi janabah. Tak jarang pula yang sampai keluar waktu shalat karena keterlambatannya itu.

Pertanyaan:

Bagaimanakah hukum memperlambat mandi junub dan apakah mandi wajib itu harus disegerakan?

Jawaban:

Hukum asal mandi wajib  tidak wajib disegerakan. Namun wajib disegerakan jika waktu shalat sudah sempit, Dalam kondisi ini kewajiban menyegera mandi  itu bukan karena mandinya akan  tetapi karena kewajiban mengerjakan shalat dalam waktunya.

- I'anah at-Thalibin Juz 1 Hal 86 Cet, Darl Fikr 

و) الطهارة (الثانية الغسل) هو لغة سيلان الماء على الشيء وشرعا سيلانه على جميع البدن بالنية ولا يجب فورا وان عصى بسببه) 
بخلاف نجس عصى بسببه  (قوله ولا يجب فورا) اى ولا يجب الغسل على الفور والمراد أصالة فلا يرد ما لو ضاق وقت الصلاة عقب الجنابة او انقطاع الحيض فانه يجب فورا لا لذاته بل لإيقاع الصلاة فى وقتهاv


Anjuran Bersikap Zuhud (Abu Mudi) Simak di Link :


Bolehkah Mengajari Al-Quran Terhadap Anak Non Muslim?

Deskripsi Masalah:

Dalam kehidupan yang serba keberagaman, sosial menjadi salah satu hal yang harus diprioritaskan demi menjaga kerukunan dalam beragama, budaya kunjung mengunjung antara dua orang beda agama pun akrab terjadi.  Tak sebatas orang tua, anak-anak non Muslim pun dalam kesehariannya terkandang sering main kerumah disaat anak muslim sedang belajar Al quran.

Pertanyaan:

Apakah boleh terhadap guru atau orang tua dari anak yang Muslim mengajarkan kepada anak Non Muslim ?

Jawaban:

Berkata Ashab dari Imam As-syafi'i : Jangan ditegah orang kafir untuk mendengar bacaan Al-Quran yang ditegah itu jika mereka menyentuh Al-Quran. Adapun tentang kebolehan mengajari Al Quran kepada mereka terdapat rincian sebagai berikut:

Jika diharapkan anak tersebut masuk islam maka boleh mengajarinya Al-Quran
Jika tidak diharapkan masuk islam maka tidak diperbolehkan mengajarinya.

- Majmu' Syarah Muhazzab Juz 2 Hal 71 Cet, Darl Fikr

قال أصحابنا : لا يمنع الكافر سماع القرآن ، ويمنع مس المصحف ، وهل يجوز تعليمه القرآن؟ ينظر إن لم يرج إسلامه لم يجز ، وإن رجي جاز في أصح الوجهين ، وبه قطع القاضي حسين ، ورجحه البغوي وغيره ، والثاني : لا يجوز ، كما لا يجوز بيعه المصحف وإن رجي إسلامه . قال البغوي : وحيث رآه معاندا لا يجوز تعليمه بحال ، وهل يمنع التعليم؟ فيه وجهان حكاهما المتولي والروياني . هما أصحهما يمنع


Al Quran Qadim atau makhluk?
Simak penjelasan Abu MUDI di Link b

https://www.youtube.com/watch?v=esp3bGTG3aw


donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja