Hukum membaca al-quran di kuburan

Diskripsi Masalah.

Membaca al-quran di kuburan
Salah satu hal yang lumrah diamalkan oleh kaum Islam Ahlussunnah wal Jamaah adalah membaca al-quran di kuburan. Di Aceh, sudah menjadi tradisi di sebagian daerah ketika ada salah satu keluarga yang meninggal, keluarga membaca al-quran dikuburan sampai beberapa hari. Bahkan tak jarang pula mereka membayar upah kepada orang lain untuk membaca al-quran di kuburan dalam jangka waktu tertentu. Namun, seiring dengan berkembangnya ajaran wahabi salafi, kebolehan pembacaan al-quran dipertanyakan oleh sebagian kalangan.

Pertanyaan

Bagaimanakah hukumnya membaca al-quran di kuburan beserta dalil-dalilnya?

Jawaban;

Membaca al-quran dikuburan hukumnya adalah boleh dan dapat memberi manfaat bagi mayat dalam kuburan. Banyak dalil yang menguatkan hal tersebut.


Dalil membaca al-quran di kuburan.

Membaca al-quran merupakan satu amalan yang memiliki nilai yang tinggi. Allah menurunkan rahmatNya pada tempat di bacakan al-quran. Orang yang berada di sekitar tempat di bacakan al-quran juga ikut akan mendapatkan rahmatNya. Hal ini berlaku secara umum, baik yang berada di sekitar orang yang membaca al-quran itu orang yang masih hidup ataupun orang yang telah meninggal. Banyak dalil-dalil yang membolehkan pembacaan al-quran di kuburan.

Al-Hadist

Banyak hadist yang menjadi dalil disyariatkan membaca al-quran di kuburan, hadist-hadist tersebut walaupun dhaif namun secara keseluruhan menunjuki bahwa pembacaan al-quran di atas kuburan memiliki landasan dalam syara`. Beberapa hadist tersebut antara lain:

1. Hadits riwayat Abu Daud :
اقرأوا على موتاكم
Bacalah atas orang meninggal kamu (H. R. Abu Daud)

2. Hadits riwayat an-Nasa`i, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban :
اقرأوا يس على موتاكم
Bacalah surat Yasin atas orang meninggal kamu (H.R. Nasa`i, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)

3. Hadits riwayat Imam Ahmad:
يس ثلث القرآن لا يقرؤها رجل يريد الله والدار الآخرة إلا غفر له فاقرؤوها على موتاكم
Surat Yasin adalah sepertiga al-quran, tidak membacanya oleh seseorang yang mengharap Allah dan akhirat kecuali di ampunkan baginya, maka bacakanlah surat Yasin atas orang meninggal kamu (H.R. Ahmad)

Sebagian para ulama mentakwilkan kalimat موتاكم dengan makna majazi yaitu orang yang hampir meninggal (muhtadhar) bukan orang yang telah meninggal. Namun tidak tertutup kemungkinan juga untuk dipahami kalimat موتاكم dengan makna hakikat dan majaz artinya selain dimaksudkan makna majaz juga dimaksudkan makna hakikat, sehingga jadilah maksud hadist tersebut: bacalah surat yasin terhadap orang yang hampir meninggal dan orang yang telah meninggal. [1]

4. Hadist Riwayat Imam Baihaqy dan ath-Thabrany:

إذا مات أحدكم فلا تحبسوه وأسرعوا به إلى قبره وليقرأ عند رأسه بفاتحة الكتاب وعند رجليه بخاتمة البقرة فى قبره

Apabila mati salah satu kamu maka janganlah kamu tahan dan bersegeralah kamu dengannya ke kuburnya dan hendaklah dibacakan di samping kepalanya fatihah kitab dan di samping kakinya pada kuburnya dengan penghabisan surat al-Baqarah (H. R. Imam Baihaqy dalam kitab Sya’b al-Iman No. 9294 dan ath-Thabrany dalam Mu’jam Kabir No. 13613)

5. Hadist Abu Muhammad as-Samarqandy dari Saidina Ali ketika menjelaskan kelebihan surat al-Ikhlash: [2]

من مر على المقابر وقرأ قل هو الله احد إحدى عشرة مرة ثم وهب أجره للأموات أعطى من الأجر بعدد الاموات

Barangsiapa yang lalu atas perkuburan dan membaca qul huwa Allahu Ahad sebanyak 11 kali kemudian menghibahkan pahalanya bagi orang meninggal niscaya ia diberikan pahala sejumlah orang yang meninggal.

6. Hadist riwayat Abu Qasim Sa`ad bin Ali az-Zanjani dalam kitab al-Fawaid dari Abi Hurairah: [6]

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من دخل المقابر ثم قرأ فاتحة الكتاب وقل هو الله احد والهاكم التكاثر ثم قال اللهم انى قد جعلت ثواب ما قرأت من كلامك لأهل المقابر من المؤمنين والمؤمنات كانوا شفعاء له إلى الله تعالى

Rasululallah SAW berkata: siapa yang masuk pekuburan kemudian membaca fatihah kitab, qul huwa Allahu Ahad, alhakumut takatsur kemudian berkata “Ya Allah, sungguh saya jadikan pahala bacaan yang saya baca berupa kalamMu bagi kaum mukmin dan mukminat ahli pekuburan niscaya mereka memberi syafaat baginya kepada Allah ta`ala.

7. Diriwayatkan oleh Abdul Aziz dari Anas RA bahwa Rasulullah berkata: [4]

من دخل المقابر فقرأ سورة يس خفف الله عنهم وكان له بعدد من فيها حسنات

Siapa yang masuk pekuburan kemudian membaca surat Yasin niscaya Allah ringankan dari mereka dan adalah baginya kebaikan sejumlah orang meninggal dalam pekuburan tersebut.

Diriwayatkan oleh al-Khalal dalam kitab al-Jami’ dari asy-Sya’bi, beliau berkata: [5]

كانت الأنصار إذا مات لهم الميت اختلفوا إلى قبره يقرأون له الفرآن

Adalah kaum Anshar bila ada dari mereka yang meninggal mereka segera ke kuburnya membacakan al-quran baginya.

Perkataan para ulama.

Imam Syafii berpendapat sunat bagi orang yang berziarah kubur untuk membaca ayat al-quran dan berdoa setelahnya di kuburan sebagaimana penjelasan Imam Nawawi : [6]

ويستحب للزائر أن يسلم على المقابر ويدعو لمن يزوره ولجميع أهل المقبرة والأفضل أن يكون السلام والدعاء بما ثبت في الحديث ويستحب أن يقرأ من القرآن ما تيسر ويدعو لهم عقبها نص عليه الشافعي واتفق عليه الأصحاب

Dan disunatkan bagi penziarah untuk mengucapkan salam atas kubur dan berdoa bagi orang yang diziarahi dan ahli maqbarah. Yang lebih utama adalah mengucapkan salam dan berdoa sebagaimana yang tersebut dalam hadits dan disunatkan membaca ayat al-quran semudahnya dan berdoa setelahnya sebagaiman Imam Syafii sebutkan secara jelas dan hal ini disepakati oleh ashshab (pengikut Imam Syafii)

Selain itu, az-Za`farany, salah satu murid Imam Asy-Syafii, berkata: [7]

سألت الشافعى رحمه الله عن قراءة عند القبر فقال لا بأس به
Saya pernah bertanya kepada Imam Syafii tentang membaca (al-quran) di samping kubur. Beliau menjawab “tidak mengapa”.

Imam Nawawi mengatakan bahwa para ulama berpendapat sunat membaca al-quran di atas kuburan berdasarkan hadist riwayat Imam Muslim :

(مر النبي صلى الله عليه وسلم على قبرين فقال إنهما ليعذبان وما يعذبان في كبير أما أحدهما فكان يمشي بالنميمة وأما الآخر فكان لا يستتر من بوله قال : فدعا بعسيب رطب فشقه باثنين ثم غرس على هذا واحدا وعلى هذا واحدا ثم قال : ( لعله أن يخفف عنهما ما لم ييبسا

Nabi lalu atas dua kubur, Nabi berkata kedua ahli kubur ini di azab. Tidaklah keduanya di azab karena perkara besar. Salah satunya di azab karena berjalan dengan namimah (adu domba) sedangkan yang lain ia tidak memelihara dari kencingnya. Rasulullah segera mencari pelepah kurma yang basah maka di belah menjadi dua kemudian di tanam salah satunya atas salah satu kubur dan yang lain di atas kubur yang lain. Kemudian Nabi berkata: “mudah-mudahan di ringankan azab dari keduanya selama kedua pelepah kurma tersbeut belum kering (H.R. Imam Muslim No. 703 kitab Thaharah)

Dalam hadits tersebut Rasulullah meletakkan pelepah kurma di atas kubur dengan harapan akan diringankan azab penghuninya. Kebanyakan para ulama dan mufassirin berpendapat bahwa diringakan azab tersebut dikarenakan tasbih dari kedua pelepah kurma tersebut, karena pohon kayu akan bertasbih selama ia masih basah. Imam Nawawi melanjutkan: [8]

واستحب العلماء قراءة القرآن عند القبر لهذا الحديث ؛ لأنه إذا كان يرجى التخفيف بتسبيح الجريد فتلاوة القرآن أولى

Dan para ulama berpendapat sunat membaca al-quran di samping kubur berdasarkan hadits ini, karena apabila di harapkan diringankan azab dengan sebab tasbih pelepah kurma maka dengan bacaan al-quran akan lebih utama.

Dalam kitab Raudhah ath-Thalibin Imam Nawawi juga menerangkan: [9]

وسئل القاضي أبو الطيب عن قراءة القرآن في المقابر فقال: الثواب للقارئ، ويكون الميت كالحاضر، ترجى له الرحمة والبركة، فيستحب قراءة القرآن في المقابر لهذا المعنى، وأيضا فالدعاء عقيب القراءة أقرب إلى الإجابة، والدعاء ينفع الميت

Dan ditanyakan Qadhi Abu Thayib tentang membaca al-quran pada kuburan, beliau menjawab pahalanya bagi pembacanya dan si mayat bagaikan orang yang hadir yang diharapkan baginya rahmat dan barakah, maka disunatkan membaca al-quran pada kuburan karena ini makna, lagi pula doa setelah membaca al-quran terlebih dekat untuk dikabulkan sedangkan doa bermanfaat bagi mayat.

Pembacaan al-quran di kuburan merupakan syariat yang diakui oleh para ulama dalam mazhab Syafii dan mazhab lain, sebagaimana keterangan Imam as-Sayuthi [10]

اما القراءة على القبر فجزم بمشرعتها أصحابنا وغيرهم

Adapun membaca (al-quran) di atas kuburan maka hal tersebut diyakini oleh para ashhab (ulama) kita (pengikut mazhab Syafii) dan para ulama yang lain.

Membaca al-quran di kuburan juga diamalkan oleh pendiri mazhab Hanbali, Imam Ahmad bin Hanbal, sebagaimana disbeutkan oleh Imam Qurthuby: [11]

كان الامام احمد بن حنبل رضي الله عنه يقول اذا دخلتم المقابر فاقرؤا فاتحة الكتاب والمعوذتين وقل هو الله احد واجعلوا ثواب ذالك لأهل المقابر فانه يصل إليهم

Adalah Imam Ahmad bin Hanbal Radhiyallahu `anh berkata: apabila kamu masuk perkuburan maka bacakanlah fatihah kitab, al-ma`uzatain (surat an-Nas dan al-Falaq), dan qulhu Allahu Ahad (surat al-Ikhlash) dan jadikanlah pahalanya bagi ahli kubur, karena hal tersebut sampai kepada mereka.

Imam Ahmad bin Hanbal pada mulanya mengingkari sampai pahala dari orang yang masih hidup kepada orang yang meninggal, namun ketika ada sebagian perawi yang terpecaya meriwayatkan bahwa Saidina Umar RA mewasiatkan bahwa apabila beliau telah dikuburkan supaya di bacakan di kepala beliau surat al-Fatihah dan akhir surat al-Baqarah maka Imam Ahmad bin Hanbal segera ruju` dari pendapat beliau tersebut. [12]

Imam Ghazali menceritakan: [13]

روى عن على بن موسى الحداد قال كنت مع أحمد بن حنبل في جنازة ومحمد بن قدامة الجوهرى معنا فلما دفن الميت جاء رجل ضرير يقرأ عند القبر فقال له أحمد يا هذا إن القراءة عند القبر بدعة فلما خرجنا من المقابر قال محمد بن قدامة لأحمد يا ابا عبد الله ما تقول في مبشر بن إسماعيل الحلبي قال ثقه قال هل كتبت عنه شيئا قال نعم قال أخبرني مبشر بن إسماعيل عن عبد الرحمن بن العلاء بن اللجلاج عن أبيه أنه أوصى إذا دفن أن يقرأ عند رأسه فاتحة البقرة وخاتمتها وقال سمعت ابن عمر يوصى بذلك فقال له أحمد فارجع إلى الرجل فقل له يقرأ

Diriwayatkan dari Ali bin Musa al-Haddad, beliau berkata: “saya bersama Imam Ahmad bin Hanbal pada satu janazah, Muhammad bin al-Jauhary juga bersama kami. Ketika dikuburkan mayat datanglah seorang tuna netra membaca fatihah di samping kubur. Imam Ahmad berkata: “hai si ini, membaca (al-quran) di samping kubur adalah bid`ah”. Ketika kami keluar dari kuburan berkatalah Muhammad bin Qudamah berkata bagai Imam Ahmad “hai Aba Abdillah, bagaimana pendapatmu tentang Mubasysyir bin Ismail al-Halaby? Imam Ahmad menjawab “ia seorang yang stiqah/terpecaya”. Imam Ahmad melanjutkan “apakah engkau menulis sesuatu riwayat (hadist) darinya?” Muhammad bin Qudamah menjawab “ya”. Beliau melanjutkan “diriwayatkan akan aku Mubasysyir bin Ismail dari Abdur Rahman bin al-‘Ala`i bin al-Lajlaj dari bapaknya bahw beliau mewasiatkan apabila dikuburkan supaya dibacakan di samping kepalanya permulaan surat al-Baqarah dan akhirnya, beliau berkata saya mendengar Ibnu Umar mewasiatkan demikian. Maka Imam Ahmad pun berkata “kembalilah kepada laki-laki tadi dan katakanlah padanya: bacalah”.


Adapun hadist shahih yang sering dijadikan oleh kalangan wahaby sebagai dalil haram membaca al-quran diatas kuburan :
اجْعَلُوا فِى بُيُوتِكُمْ مِنْ صَلاتِكُمْ، وَلا تَتَّخِذُوهَا قُبُورًا
Jadikanlah shalat kamu dalam rumahmu, jangan kamu jadikan rumahmu sebagai kuburan. (H.R. Imam Bukhari)

Ibnu Bathal memberikan komentar tentang maksud hadits ini: [14]

هذا من التمثيل البديع، وذلك بتشبيهه - صلى الله عليه وسلم - البيت الذى لا يصلى فيه بالقبر الذى لا يمكن الميت فيه عبادة

Ini adalah tamsil badi` yaitu Rasulullah SAW menyerupakan rumah yang tidak dilakukan shalat di dalamnya dengan kubur yang mayat di dalamnya tidak mungkin lagi untuk beribadat.

Dalam hadist ini Rasulullah menyerupakan rumah yang tidak dilakukan shalat di dalamnya dengan kubur. Persamaannya adalah sama-sama penghuninya ahli kubur tidak melakukan ibadat di dalamnya. Maka bukan berarti di larang membaca al-quran di atas kuburan.
-----------------------------------------------------------------------

  1. Imam Ibnu Hajar al-Haitamy, Fatawa Kubra Fiqhiyyah jilid 2 (Beirut: Dar al-Fikr, tt) h. 36
  2. Imam as-Sayuthy, Syarh ash-Shudur…,h. 311
  3. Imam as-Sayuthy, Syarh ash-Shudur…,h. 311
  4. Imam as-Sayuthy, Syarh ash-Shudur…,h. 312
  5. Imam as-Sayuthy, Syarh ash-Shudur…,h. 311
  6. Imam Nawawi, Majmuk Syarah Muhazzab. Jld V, (Beirut, Dar Fikr). hal. 311
  7. Imam as-Sayuthy, Syarh ash-Shudur…,h. 311
  8. Imam Nawawi, Syarah Shahih Muslim jilid II h. 205 Cet. Dar al-Hadits th 2001
  9. Imam Nawawi, Raudhat ath-Thalibin jilid II (Beirut : Maktab al-Islamy) h. 139.
  10. Imam as-Sayuthy, Syarh ash-Shudur (Kairo: Mathba`ah al-Madany 1985 M) h. 311.
  11. Syeikh Abdul Wahab Sya`rany, Mukhtashar Tazkirah al-Qurthuby (Turkey: Maktabah al-Hakikat 2007) h.49
  12. Syeikh Abdul Wahab Sya`rany, Mukhtashar Tazkirah…, h. 49, Imam as-Sayuthy, Syarh ash-Shudur…,h. 311
  13. Imam al-Ghazaly, Ihya ‘Ulumiddin dalam Ittihaf Sadat al-Muttaqin jilid XIV (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah 2005) h. 284
  14. Imam Ibnu Baththal, Syarah Shahih Bukhari, jld. III, (Riyadh, Maktabah Rusyd, 2013), hal. 176

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Ikuti juga:
    https://tulisansulaifi.wordpress.com/2018/01/23/membaca-al-quran-di-kuburan-bolehkah/
    Ini adalah jawaban atas tulisan Anda. Barakallah fiikum

    BalasHapus