Yang terbaru

Dalil Merayakan Maulid

karena ada pertanyaan tentang dalil perayaan maulid Nabi saw, maka kami sebutkan beberapa dalil yang disebutkan oleh para ulama tentang perayaan maulid adalah:

1. Merayakan maulid termasuk dalam membesarkan kelahiran para Nabi. Hal yang berkenaan dengan kelahiran Nabi merupakan sesuatu yang memiliki nilai yang lebih, sebagaimana halnya tempat kelahiran para nabi.

Dalam Al quran sendiri juga disebutkan doa sejahtera pada hari kelahiran para Nabi seperti kata Nabi Isa dalam firman Allah surat Maryam ayat 33:
وَالسَّلامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ
“dan kesejahteraan atasku pada hari kelahirannku”.

Maka Rasulullah juga lebih berhak untuk mendapatkan doa sejatera pada hari kelahiran beliau.

Dalam Al Quran, Allah juga tersebut perintah untuk mengingat hari-hari bersejarah, hari dimana Allah menurunkan nikmat yang besar pada hari tersebut, seperti dalam firman Allah surat Ibrahim ayat 5:

وَذَكِّرْهُمْ بِأَيَّامِ اللَّهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآياتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

“dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah, Sesunguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.”

Dan juga dalam surat Al Jatsiyah ayat 14:

قُلْ لِلَّذِينَ آمَنُوا يَغْفِرُوا لِلَّذِينَ لا يَرْجُونَ أَيَّامَ اللَّهِ
“Katakanlah kepada orang-orang yang beriman hendaklah mereka memaafkan orang-orang yang tiada takut hari-hari Allah”

Dalam ayat tersebut Allah menyuruh untuk mengingat hari-hari Allah, secara dhahir hari yang dimaksud adalah hari kesabaran dan penuh syukur dan yang diharapkan dari hari tersebut adalah barakah yang Allah ciptakan pada hari tersebut, karena hari hanyalah satu makhluk Allah yang tidak mampu memberi manfaat dan mudharat.

Dalam surat Yunus ayat 58:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا
Katakanlah: "Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira”

Dalam ayat ini Allah memerintahkan untuk senang dengan nikmat Allah. Maka tiada rahmat dan nikmat yang lebih besar dari pada kelahiran Nabi Muhammad SAW. Beliau sendiri mengatakan:
أنا الرحمة المهداة

Kisah lain yang menunjuki bahwa ditutntut untuk memperingati hari bersejarah adalah kisah Nabi SAW berpuasa pada hari Asyura. Ketika Nabi masuk kota Madinah, beliau mendapati yahudi Madinah berpuasa pada hari Asyura. Ketika mereka ditanyakan tentang hal tersebut mereka menjawab “bahwa pada hari tersebut Allah memberi kemenangan kepada Nabi Musa dan Bani Israil atas firaun, maka kami berpuasa untuk mengangagungkannya” Rasulullah berkata “kami lebih berhak dengan Musa dari pada kamu” kemudian beliau memerintahkan untuk berpuasa pada hari Asyura. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Al Hafidh Ibnu Hajar Al Asqalany menjadikan hadis ini sebagai dalil untuk kebolehan merayakan maulid Nabi.

2. Kisah Suwaibah Aslamiyah yang dimerdekakan oleh Abu Lahab karena kegembiraannya terhadap kelahiran Nabi Muhammad SAW. Setahun setelah Abu lahab meninggal, salah satu saudaraya yang juga merupakan paman Rasulullah, Saidina Abbas bin Abdul Muthallib bermimpi bertemu dengannya dan menanyakan bagaimana keadaan Abu Lahab, ia menjawab “bahwa tidak mendapat kebaikan setelahnya tetapi ia mendapat minuman dari bawah ibu jarinya pada setiap hari senin karena ia memerdekakan Suwaibah Aslamiyah ketika mendengar kabar gembira kelahiran Nabi Muhammad”. Hadis ini tersebut dalam Shaheh Bukhary dengan nomor 4711. kisah ini juga disebutkan oleh Ibnu Kastir dalam kitab beliau Al Bidayah An Nihayah jilid 2 hal 273.

Ini adalah balasan yang Allah berikan terhadap orang yang menjadi musuhNya dan mendapat celaan dalam Al Quran. Apalagi terhadap orang-orang mukmin yang senang terhadap kelahiran baginda Rasulullah SAW.

3. Rasulullah sendiri pernah merayakan hari kelahiran beliau sendiri yaitu dengan berpuasa pada hari senin. Ketika ditanyakan oleh para shahabat beliau menjawab:
فيه ولدت وفيه أُنزل عليَّ
“itu adalah hari kelahiranku dan hari diturunkan wahyu atasku”.(H.R. Muslim)

Hadis ini tersebut dalam kitab Shaheh Muslim jilid 2 hal 819. Hadis ini menjadi landasan yang kuat untuk pelaksanaan maulid walaupun dengan cara yang berbeda bukan dengan berpuasa seperti Rasululah melainkan dengan memyediakan makanan dan berzikir dan bershalawat, namun ada titik temunya yaitu mensyukuri kelahiran Rasulullah saw. Imam As Sayuthy menjadikan hadis ini sebagai landasan dibolehkan melaksanakn maulid Nabi.

4. Rasulullah pernah menyembelih hewan untuk aqiqah untuk beliau sendiri setelah menjadi nabi. Sebelumnya, kakek rasulullah, Abdul Muthalib telah melakukan aqiqah untuk Rasulullah. Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Baihaqy dari Anas bin Malik. Aqiqah tidak dilakukan untuk kedua kalinya maka perbuatan Rasulullah menyembelih hewan tersebut dimaksudkan sebagai memperlihatkan rasa syukur atas nikmat yang Allah berikan yaitu penciptaan beliau yang merupakan rahmat bagi seluruh alam dan sebagai penjelasan syariat kepada umat beliau. Hadis ini oleh Imam As Sayuthy dijadikan sebagai landasan lain dalam perayaan maulid Nabi. Maka juga disyariatkan bagi kita untuk memperlihatkan kesenangan dengan kelahiran Rasulullah yang boleh saja kita lakukan dengan membuat jamuan makanan dan berkumpul berzikir dan bershalawat.

5. Rasulullah memuliakan hari jumat karena hari tersebut adalah hari kelahiran Nabi Adam AS. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh An Nasai dan Abu Daud
إن من أفضل أيامكم يوم الجمعة فيه خلق آدم وفيه قبض وفيه النفخة وفيه الصعقة فأكثروا علي من الصلاة فيه فإن صلاتكم معروضة علي
“bahwasanya sebagian hari yang terbaik bagi kamu adalah hari jum`at,pada hari tersebut di ciptakan Nabi Adam, wafatnya dan pada hari tersebut ditiupnya sangkakala, maka perbanyaklah bershalawat kepadaku pada hari juma`at, karena shalawat kamu didatangkan kepada ku ” (H.R. Abu Daud)

Rasulullah telah memuliakan hari jum`at karena pada hari tersebut Allah menciptakan bapak dari seluruh manusia, Nabi Adam. Maka hal ini juga dapat diqiyaskan kepada merayakan kelahiran Nabi Muhammad.

6. Allah ta`ala menyebutkan kisah-kisah para anbiya didalam Al-quran seperti kisah kelahiran Nabi Yahya, siti Maryam dan Nabi Musa AS. Allah menyebutkan kisah-kisah kelahiran para Nabi tersebut untuk menjadi peneguh hati Rasulullah saw sebagaimana firman Allah surat Hud ayat 120:
وَكُلّاً نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ
“Dan semua kisah dari rasul-rasul kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya kami teguhkan hatimu”

Nah, apabila membacakan kisah para Nabi terdahulu dapat meneguhkan hati Rasulullah maka membacakan kisah kehidupan Rasulullah sebagaimana dilakukan ketika memperingati maulid juga mampu meneguhkan hati kita, bahkan kita lebih membutuhkan peneguh hati ketimbang Rasulullah.

7. Maulid merupakan satu wasilah/perantara untuk berbuat kebaikan dan taat. Dalam perayaan maulid Nabi, dilakukan berbagai macam amalan kebaikan berupa bersadaqah, berzikir, bershalawat dan membaca kisah perjuangan Rasulullah dan para Shahabat. Semua ini merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Semua hal yang perantara bagi perbuatan taat maka hal tersebut juga termasuk taat.

8. Firman Allah dalam surat Yunus ayat 58:
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ
Katakanlah: "Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan".

Dalam ayat tersebut Allah memerintahkan untuk senang terhadap semua karunia dan rahmat Allah, termasuk salah satu rahmaNya yang sangat besar adalah Nabi Muhammad SAW, sebagaimana dalam firman Allah surat Al Anbiya ayat 107:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

Bahkan sebagian ahli tafsir mengatakan kalimat rahmat pada surat Yunus ayat 58 dimaksudkan kepada Nabi Muhammad dengan menjadikan surat Al Anbiya ayat 107 sebagai penafsirnya, sebagaimana terdapat dalam tafsir Durar Al Manstur karangan Imam As Sayuthy, tafsir Al Alusty fi Ruh Al Ma`any dan tafsir Ibnul Jauzy.

Jadi dalam ayat tersebut terdapat perintah untuk terhadap datangnya Rasulullah SAW, kesenangan tersebut dapat diungkapkan dengan berbagai macam cara baik menyediakan makanan kepada orang lain, bersadaqah, berkumpul sambil berzikir dan bershalawat dll.

9. Perayaan maulid bukanlah satu ibadah tauqifiyah sehingga tatacara pelaksaannya hanya dibolehkan sebagaimana yang dilaksanakan oleh Nabi, tapi maulid merupakan satu qurbah (pendekatan kepada Allah) yang boleh. Dikarenakan dalam pelaksanaan maulid mengandung hal-hal yang dapat mendekatkan diri kepada Allah maka maulid itu termasuk dalam satu qurbah.

Referensi:
  1. Imam Jalaluddin As Sayuthy, Hawi Lil Fatawy
  2. Prof.Sayyid Muhammad Alawy Al Hasany, Haul Ihtifal bi Maulid An Nabi Syarif
  3. Habib Ali bin Muhammad Al Hadramy, Tahqiqul Bid`ah
  4. DR. Adullah Kamil, Kalimat Hadiah fi Ihtifal bi Maulidin Nabawy
sumber: http://abu.mudimesra.com

selanjutnya ada satu pertanyaan:
Apakah para imam mazhab, seperti imam Hanafi, Maliki, syafi'i dan Hambali pernah merayakan hari kelahiran nabi?
Jawab.......
1. tidaklah terpaham bahwa setiap perbuatan yg ditinggalkan oleh para Imam Mujtahid yg 4 maka perbuatan tersebut adalah haram, bahkan perbuatan yang ditinggalkan Nabi sendiri belum tentu haram. sesuai dengan sebuah qaedah:
ترك الشيء لا يدل على منعه
"meninggalkan sesuatu tidaklah menunjuki kepada bahwa perbuatan tersebut terlarang"

selain itu ketika Nabi dan dua generasi sesudah beliau (Shahabat dan Tabiin/tabi` tabiin) tidak melakukan sesuatu maka disini masih mengandung beberapa kemungkinan/ihtimal, kenapa ditinggalkan apakah karena haram, atau karena mengagggapnya sebagai sesuatu yg boleh saja, atau karena lebih menutamakan hal lain yg lebih penting atau pun hanya kebetulan saja.

maka at tark /meninggakan satu perbuatan tak dapat dijadikan sebagai satu pijakan hukum, sebagaimana satu qaedah:
ما دخله الاحتمال سقط به الاستدلال
"sesuatau yang masih ada kemungkinan maka tidak adapt dijadikan dalil".

selain itu pelarangan sesuatu hanya dapat diketahui dengan adanya nash yang melarang perbuatan tersebut, bahkan dari perintah sebaliknya tidak juga dapat terpaham langsung kepada haram tapi hanya sampai pada taraf khilaf aula.

kemudian Allah berfirman dlm surat Al Hasyr ayat 7 :
وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
"apa yg didatangkan oleh Rasul maka ambillah dan apa yg dilarangnya maka jauhilah"

tidak ada ayat ataupu hadis yg mengatakan:
وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا تركهُ فَانْتَهُوا
"apa yg didatangkan oleh Rasul maka ambillah, dan apa yg ditinggalkanya maka jauhilah"

2. Pada maulid yang bid`ah hanyalah pada kaifiyat pelaksanaannya bukan diri merayakan maulid itu sendiri , karena inti dari perayaan maulid terkandung dalam beberapa perintah sebagaimana dlm uraian dalil maulid yg ada pada page http://abu.mudimesra.com.

Imam Syafii berkata:
"كل ما له مستند من الشرع فليس ببدعة ولو لم يعمل به السلف"
"setiap perkara yg memiliki sandaran dari syara` maka ia bukanlah bid`ah walaupun tidak dikerjakan salaf/shahabat"

merobah satu kaifiyat amalan kebaikan yg tidak ada pembatasan khusus dari syara` bukanlah satu perbuatan tercela, misalnya kita diperintahkan menuntut ilmu maka pada zaman ini kita membuat berbagai macam sistem pendidikan yang sama sekali tidak dilakukan oleh generasi terdahulu. hal ini bukanlah perbuatan tercela. demikian juga kaifiyah merayakan maulid kita lakukan dengan kaifiyat yg berbeda maka ini bukanlah satu perbuatan terlarang.
Share artikel ini :

79 Komentar untuk "Dalil Merayakan Maulid"

  1. jika kita benar benar cinta kepada Rasulullah SAW, lebih utama memperingati hari kelahiran Rasulullah SAW sebagaimana yg telah jelas dicontohkan oleh Rasulullah SAW sendiri yakni berpuasa pada setiap hari senin. dengan merelakan hari senin itu untuk tidak melakukan kenduri karena kepercayaan masyarakat kita bahwa hari senin adalah hari baik untuk kenduri(entah dari mana dalil dari pendapat ini dan dari mana sumber anjurannya). sementara memperingati setiap setahun sekali alias ultah menyerupai kaum nasrani (Tetapi pada HARI ULANG TAHUN Herodes, menarilah anak Herodes yang perempuan, Herodiaz, ditengah-tengah meraka akan menyukakan hati Herodes. (Injil Matius 14 : 6))bukankah cukup banyak dalil tentang perintah untuk berbeda dengan yahudi dan nasrani dan larangan untuk mengikuti/menyerupai ajaran mereka. alangkah sedihnya jika tatacara memperingati kelahiran rasulullah SAW seperti yg telah beliau contohkan kita abaikan sementara tatacara yg serupa dengan yahudi dan nasrani kita peringati dengan gegap gempita gemerlap glamour kemeriahan tiada tara

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ane setuju dg ente, maulidan itu bid'ah dan bid'ah tidak ada yg hasanah!
      Mencintai Rosulullah bukan dg merayakan hari ultah beliau tp dg meneladani tata cara ibadah n kehidupan beliau, persoalan Rosulullah berpuasa pada hari senin, beliau jg sering berpuasa pada hari kamis, trus kalo memang hari (berpuasa) senin itu dijadikan patokan utk merayakan maulidan kenapa harus menunggu seatahun sekali? Harusnya tiap minggu sekali toh??? (nabiyullah berpuasa sunnah pada setiap hari senin dan kamis)
      Intinya, Rosulullah SAW sendiri tidak pernah melakukan maulidan utk diri sendiri, diikuti jg oleh para sahabat kulafauurrasyidin n ulama2 salaf, lha kenapa kita yg sok pinter (ngaku2 alim) justru menyelisihi beliau??? Aneh...

      Delete
    2. Saudara kami, masalah saudara setuju bahwa maulid itu bid`ah dan tidak ada bid`ah hasanah, sama sekali tidak berpengaruh apa-apa, karena itu hanya pendapat saudara, siapalah saudara?? saudara bukanlah seorang ulama besar sehingga pendapat saudara menjadi sebuah pendapat yang di i`tibar dalam agama ini. Fatwa al-Hafidh Ibnu Hajar al-Asqalani pengarang Fathul Bari dan Imam Suyuthi, Abu Syamah guru Imam Nawawi, al-Iraqi dll sudah sangat jelas membolehkan perayaan maulid. Mereka sangat paham tentang makna hadits Rasulullah SAW, saudara dan panutan saudara yang melarang perayaan maulid tidaklah ada apa-apanya dalam keilmuan agama jika di bandingkan dengan para imam tersebut. Atau memang saudara merasa bahwa para imam-imam tersebut adalah orang jahil di mana keilmuan mereka jauh tertinggal dari ilmu saudara!! Bila demikan anggapan saudara, kami hanya bisa tersenyum melihat saudara ..

      Delete
    3. anonim kalau emg adan berpendapat merayakan maulid itu bidaah

      dan anda mengatakan tidak ada yang namanya bidaah hasanah


      saya hanya ingin menajakn kpd anda .apakah anda mngunakan kendaraan misalkan motor mobil dan sejinis kendaraan moderen sekarang ini

      kalau memang ada berati anda merupakan org3 bidiaah
      jd mulai sekarang anda jgn menguunakan kendaraan moderen lagi itu yg pertama
      yang ke 2 adakah pada masa nabi mengunnakan media online seperti fb atau jejaring sosial lain

      kalau tdk berati anda tidk boleh mengunkan nya lagi


      dan anta tidak boleh mengunakan buku dan pulpen sebg alat tulis
      akan tetapi gunakan peralatan yg di gunakan pada masa dulu


      saya pikir tidak perlu mengunakan dalil2 untuk menjawab semua pertanyaan andaa. sekian dari saya bisa membuat anda berfikir panjang lagi sebelum mengelurakan pendapat



      admin bek that neupike ureung lagenyan

      Delete
  2. Sebelumnya terimakasih atas kehadiran saudara abi maryam.

    saudara tidak teliti dalam memperhatikan beberapa dalil maulid,dan terlalu gegabah dalam menghukuminya. dalam catatan diatas bukan hanya puasa Rasulullah pada hari senin. juga ada beberapa dalil lain seperti Rasulullah pernah menyembelih hewan untuk aqiqah untuk beliau sendiri setelah menjadi nabi. Sebelumnya, kakek rasulullah, Abdul Muthalib telah melakukan aqiqah untuk Rasulullah. Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Baihaqy dari Anas bin Malik.Jadi berdasarkan dalil diatas Rasulullah sendiri tidak mengkhususkan dengan puasa.

    Dalam Khazanah Ilmu Ushul fiqh dikenal Istinbath Ma`na Yu`ammimuh, artinya ketika satu hadits atau ayat tidak menunjuki adanya kekhususan harus dikerjakan sebagaimana dalam hadits maka adakalanya dapat dipahami makna dibalik perbuatan tersebut, Nah inilah yang terjadi disini.

    selanjutnya komentar saudara "kepercayaan masyarakat kita bahwa hari senin adalah hari baik untuk kenduri(entah dari mana dalil dari pendapat ini dan dari mana sumber anjurannya)"
    ini hanyalah salah paham saudara yang hatinya memang sudah membenci maulid, masyarakat lebih menyukai hari senin karena kebetulan dengan hari lahir Nabi, tanpa berlebihan sehingga ada keyakinan bahwa tidak boleh pada hari lain. Hal sesuai dengan fitrah manusia, manusia akan memberi nilai lebih kepada sesuatu yang memiliki perbuhungan dengan sesuatu yang kita sukai.

    selanjutnya kata saudara " sementara memperingati setiap setahun sekali alias ultah menyerupai kaum nasrani (Tetapi pada HARI ULANG TAHUN Herodes, menarilah anak Herodes yang perempuan, Herodiaz, ditengah-tengah meraka akan menyukakan hati Herodes. (Injil Matius 14 : 6))bukankah cukup banyak dalil tentang perintah untuk berbeda dengan yahudi dan nasrani dan larangan untuk mengikuti/menyerupai ajaran mereka."

    sebelumnya kami ingin bertanya kepada saudara serupa dengan kaum kafir yang bagaimana yang dilarang? apakah bila setiap perbuatan yang juga dilakukan oleh kaum Kafir juga berarti dilarang. ketahuilah, dalam agama Yahudi ada satu sekte yahudi ortodok yang mereka mengerjakan ruku` yang sama dengan ruku` kita umat muslim. nah beranikah saudara katakan ruku` dalam shalat ini haram karena menyerupai kaum yahudi?seperti di http://unik.kompasiana.com/2012/08/01/shalat-yahudi-mirip-seperti-muslim/

    kemudian kita perhatikan apakah maulidan yang kita laksanakan benar2 sama dengan kegiatan yahudi? adakah ketika kaum yahudi merayakan kelahiran mereka mereka membaca shalawat kepada Rasulullah SAW, membaca ayat-ayat al_quran, membaca kisah perjuangan Rasulullah? kalau ada demikian itu baru namanya sama.

    ReplyDelete
    Replies
    1. peu di peugah tgk ??
      tasyaboh nyeh nyoe cok neu jok sigoe :

      Kisah lain yang menunjuki bahwa ditutntut untuk memperingati hari bersejarah adalah kisah Nabi SAW berpuasa pada hari Asyura. Ketika Nabi masuk kota Madinah, beliau mendapati yahudi Madinah berpuasa pada hari Asyura. Ketika mereka ditanyakan tentang hal tersebut mereka menjawab “bahwa pada hari tersebut Allah memberi kemenangan kepada Nabi Musa dan Bani Israil atas firaun, maka kami berpuasa untuk mengangagungkannya” Rasulullah berkata “kami lebih berhak dengan Musa dari pada kamu” kemudian beliau memerintahkan untuk berpuasa pada hari Asyura. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Al Hafidh Ibnu Hajar Al Asqalany menjadikan hadis ini sebagai dalil untuk kebolehan merayakan maulid Nabi.,.

      yan ban hy tgk awak nyan hana di baca ata droeneh peugah di wateuh
      nabi geu puasa uroe asyura,.,( ureung nyan di pahami hana secara universal/kaffah)
      peu maksud han geubi tasyaboh .,.

      jadi menye model model ureng nyan pahami
      berarti tanyoe hanjeut ruku' lagei droeneh tanyeng di wateuh dan yang paleng paloe tanyoe hanjeut makan minum karena yahudi lebih awal ada sebelum islam :D
      bagah teuh mate hy hana ta pajoh bu

      (menye na yang hana di teupeu arti neu tulong terjemah siat kadang ureng2 nyan muasai dari donya laen)

      Delete
    2. mereka adalah manusia aneh, di mana mereka menelan mentah2 ucapan syeikh-syeikh mereka dan menutup mata terhadap fatwa ulama-ulama besar sekaliber Imam Ibnu Hajar al-Asqalani!!

      Delete
  3. Biasanya dalil logis yang digunakan untuk membid'ahkan kaum wahabi terhadap ketidakbolehan maulid adalah tasabuh bi'ibadatil kafirin. Saya kira ini tidak tepat, saya setuju dengan admin...bahwa maulid tidak identikan dengan perayaan natal...? dan ketemu dari mana. Saya kira...perayaan maulid tidak sekedar sunah atau tidaknya... namun lebih pada pengenalan aspek historis-sosial atas kelahiran nabi saw. Satu pertanyaan bagi saya... lebih afdhal mana merayakan maulid nabi dengan perayaan hari pahlawan...

    ReplyDelete
  4. dalil ente mental tidak dapat dicerna akal sehat...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang mau melaksanakan MAULID tu gak perlu pake dalil. Cukup pake AKAL dan HATI. Ente punya ibu, anak, isteri, keluarga? Kalau sikap ente kepada mereka lebih mulia ketimbang Nabi ente sudah zhalim kepada Nabi. Di hari tertentu ente sungkem kepada Ibu. Ulang tahun anak dirayakan. Naik jabatan ente syukuri. Tapi kehadiran Rahmat terbesar sikap ente hambar-hambar saja !!! Sok, introspeksi oleh akal dan hati ente, timbang pake 5 indikator indikator Cinta menurut Ibn Qayyim... apakah ente atau mereka yang bermaulid yang lebih mencintai dan memuliakan Rasul Saw. MENJADI PENGIKUT NABI SEJATI TIDAK CUKUP DENGAN MENELADANINYA (Qs. Al-A'raf 157)

      Delete
  5. Betul skali apa yg d ktakan admin, bhwa kta d anjurkan untk mlakukn pryaan maulid nabi. Krn bgaimana kta mengatakan cinta pda nabi klu kta tdk tahu riwayat hdp nabi. Dan dlm pelaksanaan maulid kta d ingatkan/di critakan ttng riwayat hdp nabi.

    ReplyDelete
  6. Initinya, maulid = makan2 :D

    ReplyDelete
  7. Hadits Palsu: “Barangsiapa Mengagungkan Hari Kelahiranku…”Terdapat hadits yang tersebar yang dianggap sebagai dalil untuk merayakan maulid (hari kelahiran) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu hadits,من عظم مولدى كنت شفيعاله يوم القيامة. ومن انفق درحمـا فى مولدى فكانما انفق جبلا من ذهب فى سبيل الله“Barang siapa mengagungkan hari kelahiranku, niscaya aku akan memberi syafaat kepadanya kelak pada hari kiamat, dan barang siapa mendermakan satu dirham di dalam menghormati kelahiranku, maka seakan-akan dia telah mendermakan satu gunung emas di dalam perjuangan fi sabilillah”Mengenai hadits ini, sebuah pertanyaan diajukan kepada Syaikh Prof. Abdullah bin Jibrin rahimahullah. Beliau ditanya, “diantara para mubalig dan khatib ada yang mengatakan di atas mimbar mengenai perayaan maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barang siapa mengagungkan hari kelahiranku, niscaya aku akan memberi syafaat kepadanya kelak pada hari kiamat”. Mereka menganggap ini termasuk hadits dan tidak mengingkari riwayatnya. Apakah hadits ini termasuk hadits Nabi yang shahih? Apakah terdapat di Shahihain (Bukhari-Muslim), kitab sunan atau kitab hadits lainnya?Dijawab oleh Syaikh Ibnu Jibrin menjawab:“Hadits ini tidak shahih, tidak ada dalam riwayat kitab shahih (Shahih Bukhari atau Muslim) atau kitab sunan. Ini adalah hadits dusta (palsu). Perayaan maulid adalah bid’ah yang diingkari. Tidak pernah dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun sahabat beliau

    ReplyDelete
  8. ketika mau masuk kamar mandi ada dalil doa masuk kamar mandi,,bagaimana dengan amalan maulid yang lebih besar dari perkara kamar mandi?

    ReplyDelete
  9. saudara hansep ileumee..Apakah Prof. Abdullah bin Jibrin itu lebih alim dan memahami ilmu syara` ketimbang al-Hafidh Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dan Imam Suyuthy??? Sehingga saudara sangat yakin dengan perkataannya bahwa perayaan maulid wajib di ingkari dan menutup mata dan telinga serta meninggalkan perkataan Imam sebesar Ibnu Hajar al-Asqalani dan Imam Sayuthy.!! masalah hadits tersebut lemah, atau palsu tidaklah berarti perayaan maulid itu haram, dalam masalah lain banyak juga hadits dha`if dan palsu tentang kelebihan satu ibadah namun ibadah tersebut tetap merupakan amalan yang shaheh karena memiliki dalil lain yang kuat...

    ReplyDelete
  10. UNIT PEMBENIHAN IKAN RAKYAT....Tampaknya anda tidak membaca sampai habis tulisan kami...perayaan Maulid bukanlah ibadah tauqifiyah!!! apakah anda mengerti maksud ucapan kami ini??? bila tidak sebaiknya saudara tidak perlu membahasa masalah agama, dari nama akun anda, mungkin anda adalah pakar dalam hal pembenihan ikan, maka jangan coba membicarakan masalah yang bukan dalam ke ahlian anda!!

    ReplyDelete
  11. kemana larinya tukang pembenih ikan???

    ReplyDelete
  12. Adakah tata cara pelaksanaan maulid yang diajarkan oleh salah satu atau keempat imam mazhab? karena keempat ulama mazhab tersebut merupakan rujukan utama kita dalam masalah tata cara ibadah atau fiqh. Adakah kesamaan dalam pelaksanaan maulid di berbagai daerah di indonesia, jika pelaksanaan maulid di berbagai daerah di Indonesia saja berbeda beda apalagi dengan di negara lain tentunya berbeda juga. Lalu tata cara pelaksanaan maulid manakah yang benar?
    Jelaslah bahwa maulid ini adalah perkara ibadah yang baru yg tidak ada tuntunannya yang berpotensi menimbulkan perpecahan, karena tidak adanya kesamaan dalam pelaksanaannya.
    Ingatlah 2 syarat diterimanya ibadah : ikhlas dan sesuai dengan yang dicontohkan rasulullah.
    Sudahkah kita mencontoh ibadah2 yang di lakukan rasulullah atau malah kita beribadah dengan ibadah yang tidak dicontohkan rasulullah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. saudara kami, Maulid bukanlah ibadah tauqifiyah,sehingga boleh saja di lakukan dengan cara yg berbeda, namun intinya masih sama.
      pertanyaan saudara baru tepat bila kami mengatakan bahwa maulid itu ibadah tauqifiyah. sama sekali tidak akan timbul perpecahan karena bukan ibadah tauqifiyah sehingga tidakk akan ada klaim dari satu pihak bahwa tata cara bermaulid yang benar adalah seperti tata cara yg mereka lakukan.

      fakta membuktikan, perayaan maulid sudah berlangsung ratusan tahun dengan cara yang berbeda di setiap daerah. namun adakah perpecahan yang timbul karena hal tersebut?? yang ada hanyalah perpecahan karena adanya golongan yang memvonis maulid sebagai amalan bid`ah dan tidak mempunyai dasar, ini adalah perpecahan yang di timbulkan oleh golongan anti maulid, bukan oleh golongan yang merayakan maulid.

      Delete
  13. ketika anda ingin bertanya kepada lajnah lpi MUDI hendaklah memakai akun asli dgn demikian anda akan terlihat sebagai orng yg punya i"tikad baikdlm mengutarakan pertanyaan mengenai agama islam dgn tujuan baik, klw saya perhatikan akun orng yg bertanya tidak jelas klw tiak bisa kita katakan palsu, ini menunjukkan sipenanya tidak punya niat baik dlm bertanya, kemudian setelah diberi jawaban,sanggahan oleh admin mereka hilang bagai ditelan bumi, saya jadi bertanya apakah mereka mengerti dgn pertanyaan yg mereka kemukakan kpd LPI MUDI, jgn jgn mereka jg tidak mengerti dgn pertanyaan yg ditanyakan ke LPI MUDI, saleum hormat kamoe hamba allah yg fakir tgk safri akbar

    ReplyDelete
  14. Bagi saya orang awam, maulid adalah suatu perbuatan yang mubah. Namun, apabila pada setiap perbuatan mubah mengandung maslahat, maka ia akan berpahala. Contoh: Lari pagi, adalah suatu hal yang mubah, tetapi bila lari pagi itu membawa kemaslahatan bagi akan mendapatkan pahala. Begitu halnya dengan maulid, bila di dalam perayaan maulid ada maslahat mari kita lakukan. Akan tetapi, realiatas dimasyarakat tentu sangat berbeda dengan yang kita diskusikan di sini (khususnya di kampung saya), ketika merayakan maulid mereka bersemangat, tetapi, ketika azan dhuhur, ashar dan seterusnya, hanya Teungku imum, teungku bile, teungku geuchiek dan ureung tuha gampong antara 4- 5 droe. Kemana mereka? padahal wate pajoh bu khanduri, ban saboh gampong troe ureung. :)

    Tidak ada dalil yang secara eksplisit menyebut dibolehkan maulid, dan begitu juga tidak ada dalil yang secara eksplisit menyebut keharaman maulid. Membuat saya berkesimpulan: ya mau maulid silahkan, tetapi jangan lupa dengan ibadah-ibadah yang lain. Karena kalau hanya maulid tanda seseorang mencintai Nabi belum lah tentu. Dan yang mengatakan maulid tidak boleh silahkan, tetapi jangan mencerca orang lain. Karena mencerca orang bukan perangai Nabi.

    ReplyDelete
  15. lon menanatang dayah mudi mesra cuba mita ulama salaf nyang peugoet maulid nabi pasti hantaom saboh seperti abu bakar, umar, utsman, ali bin abi thalib, hasan al basri, umar bin abdul aziz, abu hanifa, imam malik, sufyan bin uyainah, sufyan bin atsauri, imam syafi'i. imam ahmad bin hambal, sheikhul islam ibnu tamiyah, imam bukhari, imam muslim, imam nasa'i, saya menantang ulama dayah mudi mesra pasti tidak kalian dapat semua ulama sunni yang sampai kan membuat maulid..... melainkan yan membuat maulid pertama adalah agama syiah fatamiyah di mesir baca al bidayah wan nihayah karang ibnu katsir

    ReplyDelete
    Replies
    1. bak tantang kon le cot boh teuh, leuh nyan ka hana pangkai, dan rupa jih me`en taqlid bak google manteng langsung yakin tuk yak pegah but gob syirik dan bid`ah....hehehe

      Delete
  16. lon menantang dayah mudi mesra cuba mita ulama salaf nyang peugoet maulid nabi seperti abu bakar, umar, utsman, ali bin abi thalib, hasan al basri, umar bin abdul aziz, abu hanifa, imam malik, sufyan bin uyainah, sufyan bin atsauri, imam syafi'i. imam ahmad bin hambal, sheikhul islam ibnu tamiyah, imam bukhari, imam muslim, imam nasa'i, saya menantang ulama dayah mudi mesra pasti tidak kalian dapakan semua ulama sunni yang membuat maulid nabi pertanyaan siapa mencintai nabi apakah kita sekarang membuat maulid atau ulama salaf/ terdahulu...????? coba jawab..... melainkan yang membuat maulid pertama adalah agama syiah fatamiyah di mesir baca al bidayah wan nihayah karangan ibnu katsir

    terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. saudara, silahkan kami terima tantangannya, namun saudara hanya berani menampakkan wujud dalam profil Anonim, sama sekali tidak ada sifat jantan.

      saudara, kami mengakui bahwa para shahabat tidak pernah merayakan maulid SEBAGAIMANA YANG DI RAYAKAN OLEH UMAT ISLAM SEKARANG, dan mereka juga tidak pernah melarang umat Islam untuk jangan pernah kedepan merayakan maulid Nabi SAW. dan secara umum amalan-amalan maulid Nabi masuk dalam dalil-dalil `am sebagaimana yang telah di fatwakan oleh berbagai ulama besar seperti Imam al-Hafidh Ibnu Hajar al-Asqalani dan Imam Suyuthy.

      Mengenai pernyataan Imam Ibnu Kastri bahwa yang melaksanakan Maulid yang pertama adalah kaum syiah Fathimiyah dalam kitab Bidayah wan Nihayah , saya yakin saudara tidak pernah membacanya tetapi saudara hanya membaca tulisan-tulisan kaum pembenci maulid di internet bahwa Imam Ibnu Kastir menyatakan demikian, kemudian saudara begitu yakin akan kebenarannya sehingga saudara taqlid buta kepada tulisan tersebut dan tidak meyakini kebenaran fatwa Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, Imam Ibnu Hajar al-Haitami, Imam Suyuthy dll bahwa bahwa maulid tersebut adalah boleh dan saudara yakin bahwa fatwa imam-imam tersebut adalah fatwa sesat menyesatkan itulah sikap saudara..
      Silahkan saudara buktikan bahwa dalam Bidayah wan Nihayah memang ada pernyataan bahwa Imam Ibnu Kastir menyatakan bahwa maulid pertama di lakukan oleh kaum Syiah Fathimiyah ..kitab Bidayah wan Nihayah bisa di donwload di website shamela di http://shamela.ws/index.php/book/23708 kitab tersebut dalam format box (format dalam maktabah syamilah) sehingga memudahkan saudara melakukan pencarian..
      kami tunggu...

      Delete
    2. kemudian lagi, saudara menanyatakan fatwa ulama salaf dan saudara contoh kan adalah Ibnu Taimiyah ..
      sangat aneh saudara, Ibnu taimiyah hidup pada tahun 661 - 728 H, bagaimana pengertian salaf dalam pikiran saudara???
      kalau Ibnu Taimiyah di masukkan dalam golongan ulama salaf, maka cukup banyak fatwa para ulama sebelum Ibnu Taimiyah yang membolehkan maulid , seperti fatwa guru Imam Nawawi sendiri Imam Abu Syamah (w. 665 H) dalam kitab beliau dalam kitab beliau Al-Bahits `ala Inkar al-Bida`i wa al-Hawadits.

      Delete
  17. Sebutöi jih tujuan lon nakeuh gét seupaya neupeuji’öh madum buét bidah, syirik atawa Tuléhsan nyoe nakeuh seunambong tantang lon bak droneueh admin mudi mesra ( lon hana keu tepeuè drouneuh peu ureung aceh atawan bukôn aceh) lagee hadist majah ( syair orang aceh ) bandum pubuét na tanggông jaweuéb . lagee syair ureueng zameun dilee geu khuen madum hukom neu puwöe allah ngon rasul, keu peunutöh buet neu puwöe bak qadhi. Hai nyoe sama lagee sama lagee ureueng djinoe geukhuen nakeuh madum hokum neupuwoe bak syiah kuala .
    Sebagaimana tulisan lalu saya saya akan menjawab kesalahan pemahaman tulisan mengenai dalil memboleh kan maulid nabi , sebelum saya menjawab itu …… saya menantang admin mudi mesri untuk menjawab pertanyaan ini ??????
    1. Apakah agama islam sudah sempurna yang di bawah nabi Muhammad SAW ???
    2. Kenapa para sahabat nabi tidak membuat maulid nabi ???? apakah mereka tidak mencintai nabi Muhammad SAW sebagaimana tuduhan agama syi’ah menyatakan semua sahabat ( kecuali 2 orang menurut agama syi’ah )keluar dari islam selepas nabi Muhammad saw wafat ???? Atau kah nabi Muhammad SAW menyembunyikan risalah ibadah maulid nabi kepada sahabat ????
    3. Atau para sahabat nabi Muhammad saw bodoh karena tidak tahu aka ada ibadah maulid nabi??
    4. Kenapa genarasi 1 dan genarasi 2 islam tidak membuat maulid ????? bukahkan mereka lebih mengerti agama islam ketimbang kita nyang hidup di zaman sekarang ?????? mohon admin di jawab pertanyaaan ini ?????
    Hadist nabi , “Sebaik-baik generasi adalah generasiku (yakni aku dan para sahabatku), kemudian yang menyusul selepasnya, kemudian yang menyusul selepasnya.” (Bukhari)
    Sebagaimana kita ketahui bahwa sampai sekarang saya tidak mendapatkan satu kitab dari generasi 1 dan generasi 2 dan generasi 3 islam yang membuat maulid nabi ( maksud saya adalah saya tidak menemukan bahwa ada tulisan dalam kitab ulama yang menyatakan bahwa bahwa umar bin khatab atau hasan al basri, imam abu hanifa, imam malik, sufyan bin uyainah, imam syafie , imam ahmad bin hambal, imam bukhari, imam muslim, imam nasa’i, .ada kah mereka melakukan maulid nabi pada hari ini, bulan ini, tahun, di tempat ini?????? , bukan mereka mereka seorang mutjahid islam (imam abu hanifa, imam malik, imam syafie , imam ahmad bin hambal) seharusnya mereka lebih mengerti tentang islam ketimbang kita di zaman). ini di bawah ini adalah daftar ulama yang hidup berdasarkan generasi……. Coba anda buktikan kepada saya ulama generasi 1 2, 3 yang ada membuat maulid nabi. coba anda sebutkan kepada saya yang mana siapa nama ulama tersebut dan hidup tahun berapa dan tanggal berapa, bulan berapa ulama tersebut buat maulid nabi dan di mana ulama tersebut buat maulid nabi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Allah berfirman dalam surat al-kahfi ayat 104:
      الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

      Pada awalnya ketika kami melihat komentar bapak Muhammad al-Asyi, kami merasa senang karena akan mendapatkan argument baru tentang tidak bolehnya maulid Nabi SAW. Namun baru melihat beberapa kalimat saja sudah bisa di pastikan tulisan tersebut adalah copipaste dari blog-blog lain yang telah kami baca duluan dan bukan tulisan bapak, karena banyak pemakaian huruf o yang tidak di pakai dalam loghat bahasa melayu Aceh. Ketika kita mencoba mengkopi setiap kalimat dalam paragraph komentar bapak dan mencarinya di mesin pencari google maka akan kita dapatkan hasil yang sama persis dengan yang anda tulis di mana dalil tersebut sudah lama kita baca.
      Namun walaupun demikian, kami akan tanggapi dengan tenang saja karena kami lihat anda tidak memahami tulisan yang anda copi paste sendiri.
      Kemudian kalau anda mau berdiskusi dengan santun dan mudah tentu jangan bagaikan orang mabuk copi paste komentarnya terlalu panjang. Coba kita diskusikan satu persatu, kemudian setelah selesai satu masalah kita beranjak ke masalah yang lain.
      Anda tidak dapat menyangkal jawaban kami yang pertama tentang kutipan anda perihal perayaan maulid Nabi pertama kali dilakukan oleh kuam Syiah fathimiyah di Mesir yang anda katakana di sebutkan oleh Imam Ibnu Katsir dalam kitab Bidayah wal Nihayah, karena kemungkinan besar anda memang tidak pernah membaca dan bahkan tidak pernah melihat kitab Ibnu katsir tersebut.
      Maka kami akan menggapinya komentar anda selanjutnya yang merupakan copi paste doing dari blog lain, akan kami tanggapi sedikit:

      Delete
    2. Pertanyaan anda pakah agama Islam sudah sempurna?
      Sebenarnya ini adalah pertanyaan yang tidak perlu di jawab! Semua tau bahwa Allah telah menyempurnakan agama Islam. Namun bukan berarti semua masalah telah tertulis dalam ayat dan hadits secara gamblang, bahkan kalau memang di katakan agama Islam sudah sempurna dan nabi tidak pernah memerintahkan secara jelas perayaan maulid sehingga di simpulkan bahwa maulid itu bid`ah maka demikian juga harus di pahami sebaliknya, yaitu seharusnya Nabi juga menjelaskan secara jelas bahwa maulid itu bid`ah. Hal ini tidak ada dalam hadits Nabi, maka sebagaiman kaum anti maulid memahami keharaman maulid secara mafhum bukan secara shareh bid`ah maka para ulama juga memahami kebolehan maulid dari nash-nash syari secara mafhum. Sifat Nabi adalah jawami` kalim, banyak masalah2 yang masuk dalam kalam Nabi tetapi bukan secara shareh.

      Delete
  18. Coba anda buktikan kepada saya ulama generasi 1 2, 3 yang ada membuat maulid nabi. coba anda sebutkan kepada saya yang mana siapa nama ulama tersebut dan hidup tahun berapa dan tanggal berapa, bulan berapa ulama tersebut buat maulid nabi dan di mana ulama tersebut buat maulid nabi
    1. Khalifah ar-Rasyidin :
    • Abu Bakr Ash-Shiddiq
    • Umar bin Al-Khaththab
    • Utsman bin Affan
    • Ali bin Abi Thalib
    2. Al-Abadillah :
    • Ibnu Umar
    • Ibnu Abbas
    • Ibnu Az-Zubair
    • Ibnu Amr
    • Ibnu Mas’ud
    • Aisyah binti Abubakar
    • Ummu Salamah
    • Zainab bint Jahsy
    • Anas bin Malik
    • Zaid bin Tsabit
    • Abu Hurairah
    • Jabir bin Abdillah
    • Abu Sa’id Al-Khudri
    • Mu’adz bin Jabal
    • Abu Dzarr al-Ghifari
    • Sa’ad bin Abi Waqqash
    • Abu Darda’
    3. Para Tabi’in :
    • Sa’id bin Al-Musayyab wafat 90 H
    • Urwah bin Zubair wafat 99 H
    • Sa’id bin Jubair wafat 95 H
    • Ali bin Al-Husain Zainal Abidin wafat 93 H
    • Muhammad bin Al-Hanafiyah wafat 80 H
    • Ubaidullah bin Abdillah bin Utbah bin Mas’ud wafat 94 H
    • Salim bin Abdullah bin Umar wafat 106 H
    • Al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr Ash Shiddiq
    • Al-Hasan Al-Bashri wafat 110 H
    • Muhammad bin Sirin wafat 110 H
    • Umar bin Abdul Aziz wafat 101 H
    • Nafi’ bin Hurmuz wafat 117 H
    • Muhammad bin Syihab Az-Zuhri wafat 125 H
    • Ikrimah wafat 105 H
    • Asy Sya’by wafat 104 H
    • Ibrahim an-Nakha’iy wafat 96 H
    • Aqamah wafat 62 H
    4. Para Tabi’ut tabi’in :
    • Malik bin Anas wafat 179 H
    • Al-Auza’i wafat 157 H
    • Sufyan bin Said Ats-Tsauri wafat 161 H
    • Sufyan bin Uyainah wafat 193 H
    • Al-Laits bin Sa’ad wafat 175 H
    • Syu’bah ibn A-Hajjaj wafat 160 H
    • Abu Hanifah An-Nu’man wafat 150 H
    5. Atba’ Tabi’it Tabi’in : Setelah para tabi’ut tabi’in:
    • Abdullah bin Al-Mubarak wafat 181 H
    • Waki’ bin Al-Jarrah wafat 197 H
    • Abdurrahman bin Mahdy wafat 198 H
    • Yahya bin Sa’id Al-Qaththan wafat 198 H
    • Imam Syafi’i wafat 204 H
    6. Murid-Murid atba’ Tabi’it Tabi’in :
    • Ahmad bin Hambal wafat 241 H
    • Yahya bin Ma’in wafat 233 H
    • Ali bin Al-Madini wafat 234 H
    • Abu Bakar bin Abi Syaibah Wafat 235 H
    • Ibnu Rahawaih Wafat 238 H
    • Ibnu Qutaibah Wafat 236 H
    7. Kemudian murid-muridnya seperti:
    • Al-Bukhari wafat 256 H
    • Muslim wafat 271 H
    • Ibnu Majah wafat 273 H
    • Abu Hatim wafat 277 H
    • Abu Zur’ah wafat 264 H
    • Abu Dawud : wafat 275 H
    • At-Tirmidzi wafat 279
    • An Nasa’i wafat 234 H
    8. Generasi berikutnya : orang-orang generasi berikutnya yang berjalan di jalan mereka adalah:
    • Ibnu Jarir ath Thabary wafat 310 H
    • Ibnu Khuzaimah wafat 311 H
    • Muhammad Ibn Sa’ad wafat 230 H
    • Ad-Daruquthni wafat 385 H
    • Ath-Thahawi wafat 321 H
    • Al-Ajurri wafat 360 H
    • Ibnu Hibban wafat 342 H
    • Ath Thabarany wafat 360 H
    • Al-Hakim An-Naisaburi wafat 405 H
    • Al-Lalika’i wafat 416 H
    • Al-Baihaqi wafat 458 H
    • Al-Khathib Al-Baghdadi wafat 463 H
    • Ibnu Qudamah Al Maqdisi wafat 620 H
    9. Murid-Murid Mereka :
    • Ibnu Daqiq Al-led wafat 702 H
    • Ibnu Taimiyah wafat 728 H
    • Al-Mizzi wafat 742 H
    • Imam Adz-Dzahabi (wafat 748 H)
    • Imam Ibnul-Qoyyim al-Jauziyyah (wafat 751 H)
    • Ibnu Katsir wafat 774 H
    • Asy-Syathibi wafat 790 H
    • Ibnu Rajab wafat 795 H

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pertanyaan masalah maulid apakah pernah di lakukan oleh shahabat dan tabi`in?
      Inti dari perayaan maulid adalah menganggap penting hari kelahiran Nabi SAW. Hadits Nabi yang menjawab saat di tanyakan mengapa beliau berpuasa pada hari senin karena beliau di lahirkan pada hari tersebut.
      Dari hadits i
      Komentar ke dua, kami rasa tidak perlu kami tanggapi karena sudah terjawab dari jawaban di atas. Para ulama-ulama besar tersebut tidak pernah memfatwakan tidak boleh mengadakan perayaan maulid. Khusus perayaan maulid menurut Ibnu taimiyah, Ibnu katsir Insya Allah akan kami tampilkan kedepan dalam postingan khsusus. Tapi lucunya mengapa anda tidak menerima fatwa ulama sekaliber Abu Syamah yang hidup lebih salaf dari Ibnu Taimiyah.
      ni bisa dipahami bahwa agama memandang penting hari kelahiran Rasulullah. Perayaan maulid tak lebih merupakan mensyukuri nikmat dan rahmatNya. hal ini bukanlah ibadah tauqifiyah sehingga harus sama persis dengan yg di lakukan oleh ulama salaf.

      Delete
  19. Membantah dalil memboleh maulid nabi
    1. Kesalahan pemahaman tentang Kisah Suwaibah Aslamiyah
    Di antara dalil yang digunakan oleh orang-orang yang membolehkan perayaan maulid Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah kisah salah seorang tokoh dalam kesyirikan yakni Abu Lahab. Berikut uraiannya:
    As-Suyuthi berkata dalam Al-Hawy (1/196-197), “Lalu saya melihat Imamul Qurro`, Al-Hafizh Syamsuddin Ibnul Jauzi berkata dalam kitab beliau yang berjudul ‘Urfut Ta’rif bil Maulid Asy-Syarif’ dengan nash sebagai berikut, “Telah diperlihatkan Abu Lahab setelah meningalnya di dalam mimpi. Dikatakan kepadanya, “Bagaimana keadaanmu?”, dia menjawab, “Di dalam Neraka, hanya saja diringankan bagiku (siksaan) setiap malam Senin dan dituangkan di antara dua jariku air sebesar ini -dia berisyarat dengan ujung jarinya- karena saya memerdekakan Tsuwaibah ketika dia memberitahu kabar gembira kepadaku tentang kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam dan karena dia telah menyusuinya.”
    As-Suyuthi berkata, “Jika Abu Lahab yang kafir ini, yang Al-Qur`an telah turun mencelanya, diringankan (siksaannya) di neraka dengan sebab kegembiraan dia dengan malam kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka bagaimana lagi keadaan seorang muslim yang bertauhid dari kalangan ummat Nabi shallallahu alaihi wasallam yang gembira dengan kelahiran beliau dan mengerahkan seluruh kemampuannya dalam mencintai beliau shallallahu alaihi wasallam?!, saya bersumpah bahwa tidak ada balasannya dari Allah Yang Maha Pemurah, kecuali Dia akan memasukkannya berkat keutamaan dari-Nya ke dalam surga-surga yang penuh kenikmatan.”
    Kisah ini juga dipakai berdalil oleh Muhammad bin Alwi Al-Maliki dalam risalahnya Haulal Ihtifal bil Maulid, hal. 8 tatkala dia berkata, “Telah datang dalam Shahih Al-Bukhari bahwa diringankan siksaan Abu lahab setiap hari Senin dengan sebab dia memerdekakan Tsuwaibah ….”.
    Bantahan:
    Penyandaran kisah di atas kepada Imam Al-Bukhari adalah suatu kedustaan yang nyata sebagaimana yang dikatakan oleh Asy-Syaikh At-Tuwaijiri dalam Ar-Raddul Qawi hal. 56. Karena tidak ada dalam riwayat Al-Bukhari sedikitpun yang disebutkan dalam kisah di atas.
    Berikut konteks hadits ini dalam riwayat Imam Al-Bukhari dalam Shahihnya no. 4711 secara mursal dari Urwah bin Az-Zubair -rahimahullah- dia berkata:
    وثُوَيْبَةُ مَوْلَاةٌ لِأَبِي لَهَبٍ كَانَ أَبُو لَهَبٍ أَعْتَقَهَا فَأَرْضَعَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا مَاتَ أَبُو لَهَبٍ أُرِيَهُ بَعْضُ أَهْلِهِ بِشَرِّ حِيبَةٍ قَالَ لَهُ مَاذَا لَقِيتَ قَالَ أَبُو لَهَبٍ لَمْ أَلْقَ بَعْدَكُمْ غَيْرَ أَنِّي سُقِيتُ فِي هَذِهِ بِعَتَاقَتِي ثُوَيْبَةَ
    “Tsuwaibah, dulunya adalah budak perempuan Abu Lahab. Abu Lahab membebaskannya, lalu dia menyusui Nabi shallallahu alaihi wasallam. Tatkala Abu Lahab mati, dia diperlihatkan kepada sebagian keluarganya (dalam mimpi) tentang jeleknya keadaan dia. Dia (keluarganya ini) berkata kepadanya, “Apa yang engkau dapatkan?”, Abu Lahab menjawab, “Saya tidak mendapati setelah kalian kecuali saya diberi minum sebanyak ini (sedikit) karena saya memerdekakan Tsuwaibah”.
    Syubhat ini dibantah dari beberapa sisi:
    1. Hadits tentang diringankannya siksa Abu Lahab ini telah dikaji oleh para ulama dari zaman ke zaman. Akan tetapi tidak ada seorang pun di antara mereka yang menjadikannya sebagai dalil disyari’atkannya perayaan maulid.
    2. Ini adalah hadits mursal sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Hafizh dalam Al-Fath (9/49) karena Urwah adalah seorang tabi’i dan beliau tidak menyebutkan dari siapa dia mendengar kisah ini. Sedangkan hadits mursal adalah termasuk golongan hadits-hadits dhaif (lemah) yang tidak bisa dipakai berdalil.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masalah Kisah Tsuwaibah
      Debat anda terhadap kisah tsuwaibah tersebut tidak sedikitpun lebih dari debatan yang datang dari bin Bazz yang telah di jawab para ulama Ahlus sunnah. Di sini tampaklah anda masih “jioh that tinggai silop”.
      Para ulama anti maulid memang tidak pernah menjadikan kisah tsuwaibah sebagai dalil boleh maulid, tetapi banyak ulama Ahlus sunnah yang menerimanya.
      Tentang hadits tersebut mursal, tampaknya anda tidak memahami ilmu mustalah hadits, bagaimana kedudukan hadits mursal bila di sebutkan dalam kitab shahih? Maka kami rasa ini tidak perlu kami menjawabnya.

      Mengenai tanggal kelahiran Nabi.
      Kami memang tau bahwa untuk tanggal kelahiran Nabi terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama dan ahli sejarah.
      Ibnu Rajab dalam kitab beliau Lathaif ma`arif hal 185 terbitan Dar Ibn Katsir tahun 1999 menyatakan bahwa “ pendapat yang masyhur yang di pegang mayoritas para ulama adalah Nabi dli lahirkan hari senin tanggal 12 Rabiul Awal.
      Kemudian perbedaan pendapat tentang tanggal kelahiran beliau sama sekali tidak berpengaruh kepada hukum perayaan maulid nabi, karena tidak ada dalil bahwa perayaan maulid Nabi harus khusus bertepatan pada hari beliau lahir secara pasti. Tujuan maulid adalah sebagai rasa syukur atas kelahiran beliau, maka nya dalam tradisi Aceh perayaan maulid di rayakan dalam beberapa bulan Rabiul awal, Rabiul Akhir, Jumadil awal dan Jumadil Akhir.

      Tentang sejarah perayaan maulid Nabi, di mana saudara mengutip dari kitab Syeikh Muhammad bakhit al-Muthi`i, Ahsanul Kalam fi ma yata`alluaqu bissunnah wal bid`ah min ahkam. Apakah saudara sudah penah melihat kitab tersebut, kami sarankan supaya anda mendonwload dulu kita tersebut di postingan terbaru kami, dan kemudian silahkan di baca dengan seksama. Modalnya jangan hanya copi paste doang. Maka tulisan anda tentang syiah sebenarnya hanya buang-buang tenaga, karena kami bukan pendukung syiah dan maulid yang kami lakukan tidak sama dengan maulid kaum syiah.

      Delete
  20. 3. Apa yang dinukil oleh As-Suyuthi dari Ibnul Jauzi di atas bahwa Abu Lahab memerdekakan Tsuwaibah karena memberitakan kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam dan karena dia menyusui Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah menyelisihi apa yang telah tetap di kalangan para ulama siroh (sejarah). Karena dalam buku-buku siroh ditegaskan bahwa Abu Lahab memerdekakan Tsuwaibah jauh setelah Tsuwaibah menyusui Nabi shallallahu alaihi wasallam.
    Al-Hafizh Ibnu Abdul Barr -rahimahullah- berkata dalam Al-Isti’ab (1/12) ketika beliau menyebutkan kisah menyusuinya Nabi shallallahu alaihi wasallam kepada Tsuwaibah, “Dan Abu Lahab memerdekakannya setelah Nabi shallallahu alaihi wasallam berhijrah ke Madinah”.
    4. Kegembiraan yang dirasakan oleh Abu Lahab hanyalah kegembiraan yang sifatnya tabi’at manusia biasa karena Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah keponakannya. Sedangkan kegembiraan manusia tidaklah diberikan pahala kecuali bila kegembiraan tersebut muncul karena Allah Ta’ala. Buktinya, setelah Abu Lahab mengetahui kenabian keponakannya, diapun memusuhinya dan melakukan tindakan-tindakan yang kasar padanya. Ini bukti yang kuat menunjukkan bahwa Abu Lahab bukan gembira karena Allah, tapi gembira karena lahirnya seorang keponakan. Gembira seperti ini ada pada setiap orang.
    (Rujukan: Al-Bida’ Al-Hauliyah hal. 165-170, Ar-Raddu ‘ala Syubuhati man Ajazal Ihtifal bil Maulid syubhat keenam dan Al-Hiwar ma’al Maliki Syubhat pertama)

    2. kesalahan pemahaman tentang hadist
    “itu adalah hari kelahiranku dan hari diturunkan wahyu atasku”.(H.R. Muslim)
    1.- Merayakan maulid pada tanggal yang sebenarnya diperselisihkan oleh para ulama. Buktinya ada kaum muslimin yang merayakan maulid pada tanggal 10 Rabiul Awwal. Mayoritas lainnya merayakan pada tanggal 12. Hari kelahiran Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- adalah hari Senin. Dari Abu Qotadah Al Anshori radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallampernah ditanya mengenai puasa pada hari Senin, lantas beliau menjawab,
    ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَىَّ فِيهِ
    “Hari tersebut adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkannya wahyu untukku.” (HR. Muslim no. 1162)
    Sedangkan tahun kelahirannya adalah pada tahun Gajah. Ibnul Qayyim dalamZaadul Ma’ad berkata,
    لا خلاف أنه ولد صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بجوف مكّة ، وأن مولده كان عامَ الفيل .
    “Tidak ada khilaf di antara para ulama bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lahir di kota Mekkah. Dan kelahirannya adalah di tahun gajah.”
    Sedangkan mengenai tanggal dan bulan lahirnya Nabi kita -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, hal ini masih diperselisihkan. Ada pendapat yang mengatakan bahwa beliau lahir tanggal 8 Rabi’ul Awwal, seperti pendapat Ibnu Hazm. Ada pula yang mengatakan tanggal 10 Rabi’ul Awwal. Dan yang masyhur menurut jumhur (mayoritas) ulama adalah pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal. Selain itu ada yang mengatakan, beliau dilahirkan pada bulan Ramadhan, ada pula yang mengatakan pada bulan Shafar. Sedangkan ahli hisab dan falak meneliti bahwa hari Senin, hari lahir beliau bertepatan dengan 9 Rabi’ul Awwal. Dan inilah yang dinilai lebih tepat.
    Jika kita meneliti lebih jauh, ternyata yang pas dengan tanggal 12 Rabi’ul Awwal adalah hari kematian Nabi ¬-shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Meski mengenai kapan beliau meninggal pun masih diperselisihkan tanggalnya. Namun jumhur ulama, beliau meninggal dunia pada tanggal 12 dari bulan Rabi’ul Awwal, dan inilah yang dinilai lebih tepat.[1] Jika demikian, yang mau diperingati pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal apakah kematian beliau?! Wallahul musta’an.
    Perselisihan di atas juga menunjukkan bahwa perayaan mauludan tidaklah begituurgent, karena seandainya itu ingin diperingati, maka seharusnya ada konsensus para ulama yang menetapkan tanggal pasti perayaannya biar umat tidak berselisih sebagaimana jelas untuk Idul Fithri tanggal 1 Syawal dan Idul Adha pada tanggal 10 Dzulhijjah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. debatan ini masih sejalur dengan yang di atas, maka kami padai dengan jawaban di atas, ini hanya terjadi gara-gara tidak memahami ilmu musthalah hadits. jadi tidak perlu kami perpanjang dengan orang yang jahil.

      Delete
    2. Lbm Mudi Mesra..sbaiknya jgn buang2 tnaga dgn ngladenin si copy paste Muhamad al asyi...
      coba liat postingnnya, mirip org kesurupan..

      Delete
  21. 2 SEJARAH MAULID NABI
    Al Maqriziy, seorang pakar sejarah mengatakan, “Para khalifah Fatimiyyun memiliki banyak perayaan sepanjang tahun. Ada perayaan tahun baru, hari ‘Asyura, maulid (hari kelahiran) Nabi, maulid Ali bin Abi Thalib, maulid Hasan dan Husain, maulid Fatimah al Zahra, maulid khalifah yang sedang berkuasa, perayaan malam pertama bulan Rajab, perayaan malam pertengahan bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Sya’ban, perayaan malam pertengahan bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Ramadhan, perayaan malam penutup Ramadhan, perayaan ‘Idul Fithri, perayaan ‘Idul Adha, perayaan ‘Idul Ghadir, perayaan musim dingin dan musim panas, perayaan malam Al Kholij, hari Nauruz (Tahun Baru Persia), hari Al Ghottos, hari Milad (Natal), hari Al Khomisul ‘Adas (3 hari sebelum paskah), dan hari Rukubaat.” (Al Mawa’izh wal I’tibar bi Dzikril Khutoti wal Atsar, 1/490. Dinukil dari Al Maulid, hal. 20 dan Al Bida’ Al Hawliyah, hal. 145-146)
    Asy Syaikh Bakhit Al Muti’iy, mufti negeri Mesir dalam kitabnya Ahsanul Kalam (hal. 44) mengatakan bahwa yang pertama kali mengadakan enam perayaan maulid yaitu: perayaan Maulid (hari kelahiran) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maulid ‘Ali, maulid Fatimah, maulid Al Hasan, maulid Al Husain –radhiyallahu ‘anhum- dan maulid khalifah yang berkuasa saat itu yaitu Al Mu’izh Lidinillah (keturunan ‘Ubaidillah dari dinasti Fatimiyyun) pada tahun 362 H.
    Dan dinasti Fatimiyyun sendiri sebenarnya bukan muslim. Al Qodhi Al Baqillaniy menulis kitab khusus untuk membantah Fatimiyyun yang beliau namakan “Kasyful Asror wa Hatkul Astar (Menyingkap rahasia dan mengoyak tirai)”. Dalam kitab tersebut, beliau membuka kedok Fatimiyyun dengan mengatakan, “Mereka adalah suatu kaum yang menampakkan pemahaman Rafidhah (Syi’ah) dan menyembunyikan kekufuran semata.” Ibnu Taimiyah sampai mengatakan dalam Majmu’ Fatawa-nya, “Bani Fatimiyyun adalah di antara manusia yang paling fasik (banyak bermaksiat) dan paling kufur.”
    Fatimiyyun yang Sebenarnya
    Kebanyakan orang belum mengetahui siapakah Fatimiyyun atau ‘Ubaidiyyun. Seolah-olah Fatimiyyun ini adalah orang-orang sholeh dan punya i’tiqod baik untuk mengagungkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tetapi senyatanya tidak demikian. Banyak ulama menyatakan sesatnya mereka dan berusaha membongkar kesesatan mereka.
    Al Qodhi Al Baqillaniy menulis kitab khusus untuk membantah Fatimiyyun yang beliau namakan “Kasyful Asror wa Hatkul Astar (Menyingkap rahasia dan mengoyak tirai)”. Dalam kitab tersebut, beliau membuka kedok Fatimiyyun dengan mengatakan, “Mereka adalah suatu kaum yang menampakkan pemahaman Rafidhah (Syi’ah) dan menyembunyikan kekufuran semata.”
    Ahmad bin ‘Abdul Halim Al Haroni Ad Dimasqiy mengatakan, “Tidak disangsikan lagi, jika kita melihat pada sejarah kerajaan Fatimiyyun, kebanyakan dari raja (penguasa) mereka adalah orang-orang yang zholim, sering menerjang perkara yang haram, jauh dari melakukan perkara yang wajib, paling semangat dalam menampakkan bid’ah yang menyelisihi Al Kitab dan As Sunnah, dan menjadi pendukung orang munafik dan ahli bid’ah. Perlu diketahui, para ulama telah sepakat bahwa Daulah Bani Umayyah, Bani Al ‘Abbas (‘Abbasiyah) lebih dekat pada ajaran Allah dan Rasul-Nya, lebih berilmu, lebih unggul dalam keimanan daripada Daulah Fatimiyyun. Dua daulah tadi lebih sedikit berbuat bid’ah dan maksiat daripada Daulah Fatimiyyun. Begitu pula khalifah kedua daulah tadi lebih utama daripada Daulah Fatimiyyun.”
    Beliau rahimahullah juga mengatakan, “Bani Fatimiyyun adalah di antara manusia yang paling fasik (banyak bermaksiat) dan paling kufur.” (Majmu’ Fatawa, 35/127)

    ReplyDelete
  22. Bani Fatimiyyun atau ‘Ubaidiyyun juga menyatakan bahwa mereka memiliki nasab (silsilah keturunan) sampai Fatimah. Ini hanyalah suatu kedustaan. Tidak ada satu pun ulama yang menyatakan demikian.
    Ahmad bin ‘Abdul Halim juga mengatakan dalam halaman yang sama, “Sudah diketahui bersama dan tidak bisa disangsikan lagi bahwa siapa yang menganggap mereka di atas keimanan dan ketakwaan atau menganggap mereka memiliki silsilah keturunan sampai Fatimah, sungguh ini adalah suatu anggapan tanpa dasar ilmu sama sekali. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (QS. Al Israa’: 36). Begitu juga Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali orang yang bersaksi pada kebenaran sedangkan mereka mengetahuinya.” (QS. Az Zukhruf: 86). Allah Ta’ala juga mengatakan saudara Yusuf (yang artinya), “Dan kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui.” (QS. Yusuf: 81). Perlu diketahui bahwa tidak ada satu pun ulama yang menyatakan benarnya silsilah keturunan mereka sampai pada Fatimah.”
    Begitu pula Ibnu Khallikan mengatakan, “Para ulama peneliti nasab mengingkari klaim mereka dalam nasab [yang katanya sampai pada Fatimah].” (Wafayatul A’yan, 3/117-118)
    Perhatikanlah pula perkataan Al Maqrizy di atas, begitu banyak perayaan yang dilakukan oleh Fatimiyyun dalam setahun, kurang lebih ada 25 perayaan. Bahkan lebih parah lagi mereka juga mengadakan perayaan hari raya orang Majusi dan Nashrani yaitu hari Nauruz (Tahun Baru Persia), hari Al Ghottos, hari Milad (Natal), dan hari Al Khomisul ‘Adas (perayaan tiga hari selelum Paskah). Ini pertanda bahwa mereka jauh dari Islam. Bahkan perayaan-perayaan maulid yang diadakan oleh Fatimiyyun tadi hanyalah untuk menarik banyak masa supaya mengikuti madzhab mereka. Jika kita menilik aqidah mereka, maka akan nampak bahwa mereka memiliki aqidah yang rusak dan mereka adalah pelopor dakwah Batiniyyah yang sesat.(Lihat Al Bida’ Al Hawliyah, 146, 158)
    ‘Abdullah At Tuwaijiriy mengatakan, “Al Qodhi Abu Bakr Al Baqillaniy dalam kitabnya ‘yang menyingkap rahasia dan mengoyak tirai Bani ‘Ubaidiyyun’, beliau menyebutkan bahwa Bani Fatimiyyun adalah keturunan Majusi. Cara beragama mereka lebih parah dari Yahudi dan Nashrani. Bahkan yang paling ekstrim di antara mereka mengklaim ‘Ali sebagai ilah (Tuhan yang disembah) atau ada sebagian mereka yang mengklaim ‘Ali memiliki kenabian. Sungguh Bani Fatimiyyun ini lebih kufur dari Yahudi dan Nashrani.
    Al Qodhi Abu Ya’la dalam kitabnya Al Mu’tamad menjelaskan panjang lebar mengenai kemunafikan dan kekufuran Bani Fatimiyyun. Begitu pula Abu Hamid Al Ghozali membantah aqidah mereka dalam kitabnya Fadho-ihul Bathiniyyah(Mengungkap kesalahan aliran Batiniyyah).” (Al Bida’ Al Hawliyah, 142-143)
    Inilah sejarah yang kelam dari Maulid Nabi. Namun, kebanyakan orang tidak mengetahui sejarah ini atau mungkin sengaja menyembunyikannya. Dari penjelasan di atas dapat kita tarik kesimpulan:

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tentang sejarah perayaan maulid Nabi, di mana saudara mengutip dari kitab Syeikh Muhammad bakhit al-Muthi`i, Ahsanul Kalam fi ma yata`alluaqu bissunnah wal bid`ah min ahkam. Apakah saudara sudah penah melihat kitab tersebut, kami sarankan supaya anda mendonwload dulu kita tersebut di postingan terbaru kami, di http://lbm.mudimesra.com/2014/02/donwload-kitab-ahsanul-kalam-fima.html

      dan kemudian silahkan di baca dengan seksama. Modalnya jangan hanya copi paste doang. Maka tulisan anda tentang syiah sebenarnya hanya buang-buang tenaga, karena kami bukan pendukung syiah dan maulid yang kami lakukan tidak sama dengan maulid kaum syiah.

      Delete
  23. Inilah sejarah yang kelam dari Maulid Nabi. Namun, kebanyakan orang tidak mengetahui sejarah ini atau mungkin sengaja menyembunyikannya. Dari penjelasan di atas dapat kita tarik kesimpulan:
    Pertama: Maulid Nabi tidak ada asal usulnya sama sekali dari salafush sholeh. Tidak kita temukan pada sahabat atau para tabi’in yang merayakannya, bahkan dari imam madzhab.
    Kedua: Munculnya Maulid Nabi adalah pada masa Daulah Fatimiyyun sekitar abad tiga Hijriyah. Daulah Fatimiyyun sendiri dibinasakan oleh Shalahuddin Al Ayubi pada tahun 546 H.
    Ketiga: Fatimiyyun memiliki banyak penyimpangan dalam masalah aqidah sampai aliran ekstrim di antara mereka mengaku Ali sebagai Tuhan. Fatimiyyun adalah orang-orang yang gemar berbuat bid’ah, maksiat dan jauh dari ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya.
    Keempat: Merayakan Maulid Nabi berarti telah mengikuti Daulah Fatimiyyun yang pertama kali memunculkan perayaan maulid. Dan ini berarti telah ikut-ikutan dalam tradisi orang yang jauh dari Islam, senang berbuat sesuatu yang tidak ada tuntunannya, telah menyerupai di antara orang yang paling fasiq dan paling kufur. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
    ”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”(HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ [1/269] mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus)
    1. maksud perkataan imam syafi’I
    Mengaku bermadzhab Syafi’i, namun anehnya tidak pernah menunjukkan secara tegas kalau Imam Syafi’i memperingati maulid Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.
    Yang ada adalah Imam Syafi’i memerintahkan kita untuk mentaati dan mengikuti ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam walau hal itu tidak disebutkan dalam Al Qur’an Al Karim. Dalam kitab Ar Risalah, Imam Asy Syafi’i berkata,
    وما سن رسول الله فيما ليس لله فيه حكم فبحكم الله سنة
    “Apa yang disunnahkan oleh Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang tidak ada hukumnya dalam Al Qur’an, maka ajaran beliau pun berdasarkan hukum Allah sudah menjadi ajaran bagi kita” (Ar Risalah, hal. 151).
    Jika Imam Syafi’i saja memerintahkan untuk mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka jelas ia tidak mungkin berbuat suatu amalan yang tidak ada tuntunannya, yang tidak pernah diajarkan oleh Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan para sahabatnya. Imam Syafi’i itu dipuji karena kecerdasannya. Sebagaimana perkataan berikut,
    قال أبو عبيد: ما رأيت أحدا أعقل من الشافعي، وكذا قال يونس بن عبدالاعلى، حتى إنه قال: لو جمعت أمة لوسعهم عقله
    “Abu ‘Ubaid berkata: Aku tidaklah pernah melihat seorang pun yang lebih cerdas dari Imam Syafi’i. Begitu pula disebutkan oleh Yunus bin ‘Abdul A’la, sampai-sampai ia berkata, “Jika umat itu dikumpulkan, maka tentu masih hebat kecerdasan Imam Syafi’i” (Siyar A’lamin Nubala karya Imam Adz Dzahabi, 10: 15).
    Adapun perkataan Imam Syafi’i yang dinukil sebagai berikut,
    من جمع لمولد النبى صلى الله عليه وسلم اخوانا وتهياء لهم طعاما وعملا حسانا بعثه الله يوم القيامة مع الصديقين والشهداء والصالحين
    “Barangsiapa yang mengumpulkan orang untuk melaksanakan perayaan Maulid Nabi karena kecintaan pada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- secara berjama’ah dengan menyediakan makanan dan berlaku baik, niscaya Allah bangkitkan di hari kiamat beserta para ahli kebenaran, syuhada dan para shalihin.”
    Yang menukil perkataan di atas tidak menyebutkan sumber rujukannya atau merujuk ke kitab induk Imam Syafi’i.[1] Karena yang kami temukan adalah perkataan tersebut dinisbatkan pada Al Imam Al Yafi Al Yumna sebagaimana dinukil dari kitabRoudhotuth Tholibin,

    ReplyDelete
  24. kitabRoudhotuth Tholibin,
    وقال الامام اليافعي اليمنى: من جمع لمولد النبي (ص) إخوانا وهيأ طعاما وأخلى مكانا وعمل إحسانا وصار سببا لقراءة مولد الرسول بعثه الله يوم القيامة مع الصديقين والشهداء والصالحين ويكون في جنات النعيم.
    “Al Imam Al Yafi Al Yumna berkata: Barangsiapa berkumpul untuk acara Maulid Nabi karena kecintaan pada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dengan berjama’ah dan menyediakan makanan dan tempat, juga berlaku baik, niscaya karena sebab ini, Allah akan bangkitkan di hari kiamat bersama para shiddiqin, syuhada dan para shalihin, dan akan berada di surga yang penuh kenikmatan.” (Roudhotuth Tholibin, 3: 415). Kalau mau menukil perkataan Imam Syafi’i secara langsung, buktikanlah perkataan beliau dari kitab beliau, bukan dari kitab turunan hasil karya ulama lainnya. Kami sangat menanti jawaban jika ada yang bisa menukil tentang anjuran perayaan Maulid dari kitab Imam Syafi’i Al Umm atau dari kitab Ar Risalah.
    Taruhlah kalau Imam Syafi’i mengadakan maulid Nabi, apa itu langsung jadi dalil? Dari mana ini dikatakan jadi dalil? Karena perkataan Imam jika menyelisihi ajaran Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, mana yang mesti didahulukan? Sedangkan para sahabat saja tidak pernah mengekspresikan cinta mereka dengan maulid Nabi, padahal mereka adalah orang yang dekat dengan Nabi. Lantas bagaimana lagi dengan orang di bawah sahabat?
    Imam Syafi’i sendiri berkata,
    إِذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَهُوَ مَذْهَبِي وَإِذَا صَحَّ الْحَدِيْثُ فَاضْرِبُوا بِقَوْلِي الْحَائِطَ
    “Kalau ada hadits shahih, maka itulah madzhabku, dan kalau ada hadits shahih maka campakkanlah pendapatku ke (balik) tembok.” (Siyar A’lamin Nubala, 10: 35)
    Imam Syafi’i menerangkan dalam kitab Ar Risalah dengan membawakan ayat berikut terlebih dahulu,
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
    “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa’: 59). Kata Imam Syafi’i, maksudulil amri dalam ayat tersebut adalah para ulama yang sejalan dengan ajaran Rasulshallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu setelah itu beliau berkata,
    فأموا أن يطيعوا أولى الأمر الذين أمرهم رسول الله , لا طاعة مطلقا بل طاعة مستثناة,فيما لهم وعليهم فقال: فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ يعني إن اختلفتم في شيء
    “Orang beriman diperintahkan untuk mentaati ulil amri (para ulama) namun ketaatan tersebut ketika sejalan dengan ajaran Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Ketataan pada para ulama bukanlah ketaatan secara mutlak, namun ketaatan jika sejalan dengan perintah Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Jadi yang diikuti adalah kebaikan mereka, bukan yang keliru. Karena Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Jika kalian berselisih dalam suatu pendapat, maka kembalikanlah kepada Allah …” Maksud ayat ini adalah ketika kalian berselisih dalam (segala) sesuatu. (Ar Risalah, hal. 145-146).
    Pernyataan Imam Syafi’i di atas berarti bahwa perkataan seorang ulama, kyai, ustadz, atau seorang imam bisa diikuti jika sejalan dengan ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika menyelisihi, maka jelas tidak boleh diikuti.

    ReplyDelete
  25. Taruhlah jika benar perkataan Imam Syafi’i, itu keliru karena menyelisihi dalil. Kekeliruan seorang ulama tidaklah boleh diikuti. Sulaiman At Taimi mengatakan,
    لَوْ أَخَذْتَ بِرُخْصَةِ كُلِّ عَالِمٍ اِجْتَمَعَ فِيْكَ الشَّرُّ كُلُّهُ
    “Seandainya engkau mengambil setiap ketergelinciran ulama, maka pasti akan terkumpul padamu kejelekan.” Setelah mengemukakan perkataan ini, Ibnu ‘Abdil Barr mengatakan, ”Ini adalah ijma’ (kesepakatan) para ulama, saya tidak mengetahui adanya perselisihan dalam hal ini.” (Lihat Kasyful Jaani, Muhammad At Tiijani, hal. 96, Asy Syamilah)
    Kami pun masih belum percaya kalau Imam Syafi’i benar-benar menganjurkan perayaan maulid karena beliau adalah orang yang benar-benar mengikuti sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Imam Syafi’i sendiri berkata,
    كُلُّ حَدِيثٍ عَنِ النَّبِيِّ فَهُوَ قَوْلِي وَإِنْ لَمْ تَسْمَعُوهُ مِنيِّ
    “Setiap hadits yang diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka itulah pendapatku meski kalian tak mendengarnya dariku.” (Tarikh Dimasyq, 51: 389)

    sesungguhnya hidyah cuma allah yang memberikan . semogga allah memberikan kita ampun dan hidayah kepada kita semua

    sekian

    wassalam

    ReplyDelete
    Replies
    1. muhammad al asyi

      mantap..semua tulisan komentar yang antum tuliskan hebat kali, kalo kita copi paste ke google maka akan keluar hasil yang banyak sama persis dengan tulisan antum sampe titik koma nya juga sama...alhasil benar kata admin lbm.mudimesra guru antum adalah syeikh al-googlee, memang benar-benar hebat antum, semoga saja antum bisa bersama dengan si pencipta google kelak nanti..

      Delete
    2. Tentang perkataan Imam Syafii
      Maaf, anda salah sasaran, anda ingin mendebat kami tentang perkataan Imam Syafii tersbeut. Kapan kami mengutipnya? Dalam tulisan kami belum ada kutipan tersebut. Jadi anda hanya over acting yang tidak perlu kami tanggapi. Pihak yang membawa perkataan tersebut tidaklah menjadikannya sebagai dalil utama.

      Masalah membaca al-quran di kuburan, silahkan baca postingan kami di http://lbm.mudimesra.com/2014/01/bacaan-al-quran-bagi-mayat-menurut-imam.html

      Delete
  26. WAhabi Pungoe hana puleh-puleh ek dipeunget le YAhudi..

    ReplyDelete
  27. muhammad al asyi

    apakah anda pernah membaca langsung kitab ahsanul kalam karangan syehk muhammad bukhit muthi'i sehingga anda berani menyatakan demikian,,,,
    jangan lah anda terlalu copas dari mbah google....
    klo mau menantang jangan lah seperti melepaskan angin ribut yang berasal dari lubang panas....!!

    alahai apa kapluk..... i'k golom tepat ipho.. yak kenek petepat masalah nyo...
    yak toh i'k kedeh lam panyot.......

    ReplyDelete
  28. biasa kok.. wahabi emg bgtu.. kasihan hati kita.. :p

    ReplyDelete
  29. lon yak calitra bacut, watee zamuen konflik...... lon na tom ku tanyoeng bak guree bak dayah pakoen geutanyoeng mazheb sayfi'i hantom geutanyoe si uroe pih ta beut kitab al umm atawa kitab risalah ( sabe ta beut kitab bajuri)......padahai sangkira ta buet kitab al umm cukup jai bida antara peukaten buet antar geu peugah lhee imum syafi'i deungon ulama nyang peugah jih mazhab syafi"i...... sibagai conto keu gata padahai lam mazheb syafi'i hanjeuet bayar zaket ngon peng ( pendapat syafi'i tidak boleh bayar zakat dengan uang tetapi dengan hasil perkebunan)......... jeuet neu kalon mantong bak kitab al umm ( sangkira lon peugah beutoi keu ureueng dayah kheun pih tetap salah)....... padahai pendapat mazhab abu hanifah jeut baye zaket ngon peng ( lon tanyoeng bak guree pakon lagee nyan) ...... nyan pat betoi.... ( guree lon bijak cuma geu narit lagee nyoe sangkira ka deh nyang bena maka mita lah nyang bena pasti eunteuk gata neu teupeu soe nyan betoi)...... padahai lam mazhab syafi'i ( lam kitab al umm ) geu tuleh sangat trang . sebagai contoh lon kheuen bak gata bawah sai jih imum syafi'i melarang geu peuget bangunan ateuh kubu tapi mantong cit ureueng nyang mengaku pengikut syafi'i membuat bangunan di atas kubur...... lon teuingat watee konflik nyan teungoh jak beuet teungoh meusu beude watee teungoh teumanyong...... sekian .......

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maff, Bapak Muhammad al-Asyi, kitab Imam Syafii bukan hanya al-Umm, dan pendapat Imam Syafii bukan hanya di al-Umm saja, tetapi juga banyak di riwayatkan oleh murid-murid beliau yang kemudian di tuliskan dalam kitab para ulama sesudahnya. Kitab al-Umm adalah kitab induk dalam Mazhab Syafii, dalam sistem belajar mustahil kita langsung naik ke tingkat tinggi, maka dalam sistem belajar para ulama tetap di mulai bertahap dari kitab yang kecil hingga kitab yang tinggi, para ulama besar seperti Imam Haramain, Imam Ghazaali, Imam Rafii, Imam Nawawi, Imam Ibnu Hajar dll setelah penguasaan mereka tentang qaedah-qaedah Mazhab Syafii mereka menulis kitab kitab fiqh di mana di dalamnya telah lebih di uraikan maksud2 dari nash-nash Imam Syafii termasuk dari kitab al-Umm dan kitab lainnya..

      Untuk masalah pembayaran zakat fithrah dengan uang, ini adalah masalah yang tidak nyambung dengan masalah yg sedang kita diskusikan, dan coba anda sebutkan permasalah nya dalam hal ini..Pemahaman kami tentang zakat fithrah bisa di baca dalam postingan kami di : http://lbm.mudimesra.com/2012/08/diskripsi-masalah.html

      Delete
    2. kemudian masalah membangun bangunan di atas kuburan, nash Imam Syafii ini masih sangat mutlak, para ashhab Mazhab Syafii menyatakan nash tersebut di maksudkan kepada kuburan di tanah wakaf , hukumnya haram membangun bangunan sedangkan di tanah pribadi hukumnya adalah makruh, kecuali perkuburan para Anbiya, Syuhada, dan ulama,

      Delete
  30. bid'ah mungkar maulid nabi muhammad Saw menurut kiyai muhammad hasyim al-asy'ari ( pendiri NU)....... jeuet neu baca mantong lon keu droe lhee gata..... keu bid'ah tahlilan ( samdiyah jeuet neu baca ) kitab mufti besar aceh darussalam nurrudin ar-raniry bak Shirath al-Mustaqim) nyan madum teu gantong droneuh bak gata bak allah lon cuma ku peugah nyang bena. djinoe terserah bak gata madum..... sekian

    mungken hidyah gohlom geu jok lhee allah keu geu tanyoe....... keu maulid nabi muhammad saw jeuet neu baca At-Tanbiihaat Al-Waajibaat hal 10, At-Tanbiihaat Al-Waajibaat hal 39, lihat At-Tanbiihaat hal 39-40)...... bid'ah nya maulid nabi muhammad Saw menurut kiyai muhammad hasyim al-asy'ari ( pendiri NU).......

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maulid menurut KH. Hasyim Asy`ari.
      Dalam komentar terakhir, anda kembali melakukan penipuan atas nama ulama besar. saudara mengatakan bahwa KH. Hasyim Asy`ari melarang perayaan maulid!!
      Kami hanya bisa tersenyum membaca komentar anda. Anda tidak pernah membaca kitab KH. Hasyim Asya`ri.
      Saat ini di tangan kami ada sekumpulan kitab karya KH. Hasyim Asy`ari yang di kumpulkan oleh cucu beliau KH. Ishamuddin Shadiq yang beliau beri nama kitab Irsyadussari fi Jam`I Mushannafat Syeikh Hasyim Asy`ari berisi sebaganyak 10 kitab karangan KH. Hasyim Asy`ari.
      Salah satu kitab beliau yang ada dalam kumpulan kitab tesebut adalah kitab “Tanbihatul Wajibat” yang terletak pada urutan ke 6.
      Tepat pada halaman 8 beliau menceritakan perayaan maulid di satu daerah pada masa beliau. Dimana didalamnya terjadi beberapa kemungkaran seperti terjadi ikhtilath antara laki-laki dan perempuan, sehingga beliau melarang kemungkaran tersebut.
      Tepat pada halaman 10 pada tanbih awal; beliau menyatakan bahwa perayaan maulid yang tidak terjadi hal-hal yang haram tidaklah di larang dan beliau membawakan pendapat para imam-imam besar seperti Abu Syamah, syeikh Nabhani, Ibnu jazary, dan Ibnu Hajar al-Asqalani.
      Selanjutnya bisa di baca tanbih tsani hingga tanbih yang ke 10 pada halaman 38 -46, yang beliau larang adalah perayaan maulid yang bercapur dengan hal-hal yang haram dan keharaman tersebut bukan karena acara maulidnya tetapi karena perbuatan haram tersbeut sebagaiman beliau jelaskan pada halaman 22 pada akhir tanbih ke 3.
      Kalau bercampur dengan maksiat, kami juga melarangnya namun larangan tersebut bukan karena zat maulidnya tetapi karena unsur aridhy yaitu perbuatan maksiat tersebut, sama halnya dengan shalat jamaah yang di sertai dengan hal-hal yang haram, tentu tidak akan ada seorang pun yang mengatakan diri shalat jamaah yan haram.
      Insya Allah, nanti kami akan menuliskan satu artikel khusus tentang maulid menurut KH. Hasyim Asy`ari, dan kami tunggu tanggapan anda!!
      Adapun masalah tahlilan, maka tidak akan kami tanggapi disini, karena biarlah kita membahas satu persatu masalah, jangan sampai jadi intisyar

      Delete
  31. mereka mengira diri mereka berada dalam kebenaran sehingga dengan gagahnya mereka meyerang dan menyalahkan para ulama besar-besar, yang benar hanyalah pendapat mereka saja, seolah-olah bersama mereka ada Rasul yang selalu menunjuki bereka, padahal ilmu mereka me ubee ateuk teit mie ong pih tan (kiasan kepada kecil sekali) ...

    ReplyDelete
  32. hai muhammad al-asyi pungo,,aci kapeugah so gure kah, dayah teh kajak beut sehingga lagenyan surah, ka pakat beut al um dan risalah, meu wate manteng na Abuya Mudawali hana geuseumeubeut kitab nyan,,, meu kitab Matan taqrib sang tan jeut ka surah, alahai apa bangai, aci kapeugah pat kayak beut,, tanyo meununtut na gure, meunye hana kapeugah bek le ka komen keudeh, syok teuh gure kah
    Wahabi atau Bui pungo.

    ReplyDelete
  33. AH JUJUR AJA LAH SOBAT-SOBAT YG BILANG MAULID BI'AH,, Lalu yg rayain ulang Tahun apa juga,, YG RAYAIN TAHUN BARU MASEHI, VALENTINE,
    KENAPA KALIAN MEMPERMASALAHKAN PADA MASALAH YG BAIK..
    DASAR PELIT

    ReplyDelete
    Replies
    1. mereka sangat berani melakukan berbagai penipuan atas nama para ulama besar. dalam komentar terakhir, ia berani membawa nama KH. Hasyim Asy`ari sebagai orang yang melarang maulid. Ketika kita membukan kitab beliau, maka akan kita dapati sebaliknya...Masya Allah..

      Delete
  34. Antara Pendapat Muhammad Hasyim Al-Asy'ari Vs Realita Di Masyarakat ( Mungkin Kah Di Bid’ah Maulid Nabi di buat sesuai standar Muhammad Hasyim Al-Asy'ari walaupun ini menyalahi mazhab ahlul hadit dan mazhab salaf / pedahulu kita / mazhab yang empat)
    semoga hidayah di berikan kepada kita semua

    Dalam riwayat An Nasa’i,
    مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلا مُضِلَّ لَهُ ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلا هَادِيَ لَهُ ، إِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ
    “Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan yang disesatkan oleh Allah tidak ada yang bisa memberi petunjuk padanya. Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di neraka” (HR. An Nasa’i no. 1578, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan An Nasa’i)
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
    أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ ، لَيُرْفَعَنَّ إِلَىَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لأُنَاوِلَهُمُ اخْتُلِجُوا دُونِى فَأَقُولُ أَىْ رَبِّ أَصْحَابِى . يَقُولُ لاَ تَدْرِى مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ
    “Aku akan mendahului kalian di al haudh (telaga). Lalu ditampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, ini adalah umatku’. Allah berfirman, ‘Engkau tidak tahu (bid’ah) yang mereka ada-adakan sepeninggalmu’ “ (HR. Bukhari no. 6576, 7049).

    Dalam riwayat lain dikatakan,
    إِنَّهُمْ مِنِّى . فَيُقَالُ إِنَّكَ لاَ تَدْرِى مَا بَدَّلُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِى
    “(Wahai Rabb), sungguh mereka bagian dari pengikutku. Lalu Allah berfirman, ‘Sungguh engkau tidak tahu bahwa sepeninggalmu mereka telah mengganti ajaranmu”. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Celaka, celaka bagi orang yang telah mengganti ajaranku sesudahku”(HR. Bukhari no. 7050).


    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    إِنَ اللهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ عَنْ كُلِّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعْ بِدْعَتَهُ
    “Sungguh Allah menghalangi taubat dari setiap pelaku bid’ah sampai ia meninggalkan bid’ahnya” (HR. Ath Thabrani dalam Al Ausath no.4334. Dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 54)

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
    مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
    “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bapak Muhammad al-Asyi, kami kembali harus tersenyum membaca komentar bapak. Ingat dari jawaban kami yang pertama, banyak bantahan kami yang tidak dapat saudara sanggah, seperti masalah pernyatan Imam Ibnu Katsir dalam kitab Bidayah wan Nihayah, Syeikh Muhammad Bakhit al-Muthi`I dalam kitab Ahsanul kalam, masalah hadits mursal bila di sebutkan dalam kitab shahih (atau dalam hal ini anda ingin membentuk ilmu mustalah hadits versi sendiri, ya silahkan aja, bentuk syariat islam versi sendiri juga silahkan…)
      Berarti tanggapan anda sekarang hanya pada masalah kitab KH. Hasyiam Asy`ari..
      Sebenarnya komentar anda ini tidak perlu di tanggapi lagi, karena kita sedang diskusi tentang keabsahan perayaan maulid Nabi dan sampai sekarang anda belum mampu membuktikan bahwa ada para ulama salaf yang melarang perayaan maulid, hanya dengan bermodalkan mereka tidak pernah melakukannya maka sama sekali tidak memberi pemahaman bahwa hal tersebut haram..
      Imam Abu Syamah, Imam Subky, Imam Ibnu Katsir, Al-hafidh Ibnu Hajar al-Asqalani, Imam Sayuthy, Imam Ibnu Hajar al-Haitami, Imam Sakhawy, Imam, Syeikh Bakhit al-Muthi`I, Syeikh Yusuf an-Nabhany dll…itu untuk ulama dulu, kalau untuk ulama zaman ini, seperti Syeikh Wahbah Zuhaily, Syeikh Sa`id Ramadhan al-Buthy, Habib Umar, Habib Salim asy-Syathiry, Habib Jifry dll dan juga para ulama Universitas al-Azhar dari dulu sampai sekarang..mereka semua dengan jelas membolehkan perayaan maulid Nabi SAW. Mereka bukanlah ulama yang tidak paham bagaimana maksud hadits Nabi dan pendapat ulama salaf, ketika mereka mengatakan boleh merayakan maulid Nabi dan sama sekali tidak menentang dengan ajaran ulama salaf kemudian datang anda bersama panutan anda seperti bin Bazz, utsaimin, al-bani cs mengatakan bahwa maulid itu tidak boleh dan menentang dengan aqidah ulama salaf, maka umat muslim ini harus mengikuti siapa??? Anda dan panutan Anda tersebut yang kadar keilmuan mereka tak sekadar 0,0001 persen pun bila di bandingkan dengan Imam ibnu Hajar dan Imam Sayuthy…hanya orang2 yang telah Allah kehendaki berada dalam kesesatan lah yang akan mengikuti jalan saudara, seperti orang-orang sesat memilih jalan iblis..

      Delete
  35. Antara Pendapat Muhammad Hasyim Al-Asy'ari Vs Realita Di Masyarakat ( Mungkin Kah Di Bid’ah Maulid Nabi di buat sesuai standar Muhammad Hasyim Al-Asy'ari walaupun ini menyalahi mazhab ahlul hadit dan mazhab salaf / pedahulu kita / mazhab yang empat)
    1. sebagaimana orang yang melakukan ibadah maulid nabi mereka meyakini bahwa ruh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ikut hadir dalam acara maulid mereka (Nur Mustafa (Muhammad) terus berpindah-pindah dari sulbi yang bersih kepada yang sulbi suci nan murni)(kitab Barazanji) hal ini sebuah perbuatan mungkar. Apa beda kita dengan hamzah fanzuri (mengatakan roh itu banyak macam) seorang wujudiyah bagi menyakini. ( ada bisa baca kitab barazanji yang sangat bertentangan dengan hadist sahih
    2. Meyakini disyari’atkannya perayaan maulid.
    3. Berdiri ketika Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-hadir -menurut sangkaan mereka- sebagai bentuk pengagungan dan penghormatan kepada beliau.
    4. Kebanyakan orang-orang yang menyelenggarakan peringatan maulid terjerumus pada perbuatan syirik, yakni ketika mereka mengatakan:
    “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, berilah kami pertolongan dan bantuan.
    Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kami bersandar kepadamu.
    Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, hilangkanlah derita kami.
    Tiadalah derita itu melihatmu, kecuali ia akan lari.”
    Dan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam sendiri bersabda,
    إِذَا سَأَلْتَ فَسْأَلِ اللَّهَ ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ
    “Bila kamu meminta, mintalah kepada Allah dan bila kamu me-mohon pertolongan maka mohonlah pertolongan kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata hadis hasan sahih)
    5. Mereka menyakini bahwa kelahiran nabi Muhammad adalah 12 rabiul awal ( hal ini tidak sesuai dengan sirah nabawiyah yang benar)
    6. Meyakini bahwa Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- keluar dari kuburnya bersama jasad atau hanya ruh beliau- dan menghadiri acara maulid.
    7. mereka menyakini bahwa dengan membuat maulid nabi bisa terhapus dosa yang di yakini oleh orang awam.
    8. ketika dulu di daerah saya banyak orang melakukan maulid nabi tercampur lelaki dan wanita ( sampai hari ini masih terjadi) dan banyak alat musik
    9. Melakukan shalawat nabi yang tidak berdasarkan hadist shahih ( hal ini boleh di buktikan sendiri)
    10. Menyiapkan berbagai jenis makanan disertai keyakinan bahwa masing-masing makanan memiliki makna dan fungsi tersendiri.
    11. Menyembelih untuk selain Allah.
    12. Gara-gara maulid nabi mereka tinggal sunnah nabi Muhammad shalat berjamaah dan Seringkali peringatan maulid itu berlarut hingga tengah malam. Akhirnya mereka, minimal meninggalkan salat Shubuh secara berjamaah, atau malahan tidak melakukan salat Shubuh.
    13. Perbuatan mubadzir dalam makanan dan hias-hiasan. Lagu kasidahan yang disenandungkan oleh suaru biduan wanita disertai musik diputar bahkan di dalam mesjid??!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Komentar bapak:
      Antara Pendapat Muhammad Hasyim Al-Asy'ari Vs Realita Di Masyarakat ( Mungkin Kah Di Bid’ah Maulid Nabi di buat sesuai standar Muhammad Hasyim Al-Asy'ari walaupun ini menyalahi mazhab ahlul hadit dan mazhab salaf / pedahulu kita / mazhab yang empat)

      Ini juga sangat ngawur, abapak belum mampu membuktikan bahwa perayaan maulid Nabi menentang dengan ulama Salaf, dan beranikah anda mengatakan bahwa anda lebih paham tentang ulama salaf dari pada Imam Ibnu Hajar al-Asqalani?? Hayoo ..
      Ke 13 poin realita perayaan maulid yg anda katakanan akan kami tanggapi dengan berikut ini:

      1. Masalah perpindahan ruh Nabi dari sulbi yang suci ke sulbi yang suci lainnya.. di sini tampak sekali anda tidak paham tentang maksud perpindahan ruh dari satu jasad ke jasad yang lain sehingga menyamakan dengan pemahaman wujudiyah..
      Maksud perpindahan ruh di sini adalah perpindahan dalam alam nuthfah, di mana ketika seorang laki-laki menikah dengan seorang perempuan maka nuthfah anaknya akan berpindah ke pada Rahim istrinya, nuthfah tersebut kelak ketika ia besar akan menjadi manusia yang mengandung semua nuthfah anak-anaknya dan cucu-cucunya..jadi maksud perpindahan ruh Nabi dari sulbi yang suci ke sulbi suci lainnya adalah silsilah keturunan kakek nabi hingga sampai Nabi Adam semuanya merupakan sulbi yang suci..untuk lebih jelasnya banyak-banyaklah membaca keterangan para ulama seperti penjelasan Imam ar-Razi dalam kitab Mafatihul Ghaib
      2. Maulid itu adalah mensyukuri nimat dan rahmat Allah, apakah meyakini mensyukuri nikmat Allah itu adalah satu perbuatan dosa? Dan adakah satu dalil saja yang membatasi mensyukuri rahmatNya misalnya nash yang mengatakan bahwa semua nikmat dan rahmat Allah boleh senang dan mensyukurinya kecuali RAHMAT KELAHIRAN NABI SAW….KALAU ADA MAU KAMI BELI MILAYARAN DOLARR..
      3. Ada yang salah dengan berdiri dengan tujuan mengangungkan Nabi, ?? Masya Allah anak ini..

      Delete
    2. 4. Wadu-waduh,,,kini anda dengan sangat yakin menuduh orang syirik, seolah olah ada Rasul di samping anda yang mengatakan ini itu syirik, (ya pasti ada yaitu Iblis) ..mungkin dalam anggapan anda orang mukmin di dunia ini hanya anda dan segelintir orang yang sependapat dengan anda, sedangkan yang lainnya adalah orang musyrik dan kafirr..

      Anda mengatakan salah satu sebab kesyirikan adalah meminta pertolongan kepada Rasulullah SAW, namun ada tiap hari selalu meminta bantu kepada makhluk hidup dan juga kepada benda mati, anda minta bantu kepada dokter ketika anda sakit, anda makan nasi ketika anda lapar, seharusnya anda tidak perlu ke dokter dan makan nasi tapi mintalah bantu sama Allah …
      Kalau Anda membedakan antara makhluk hidup dan orang yang telah mati, berarti anda telah menyekutukan Allah dimana anda meyakini bahwa makhluk hidup itu mampu memberi manfaat kepada manusia, padahal dalam kekuasaan Allah tak terbatas dan tidak ada bedanya antara makhluk hidup dan makhluk mati..
      5. meyakini bahwa kelahiran Nabi pada tanggal 12 Rabiul awal adalah satu kesesatan??? Masya Allah kami hanya bisa geleng2 kepala saja,,,semenjak kapan meyakini satu pendapat para ulama tentang kejadian dalam sejarah dahulu menjadi satu kesesatan?? Kalau demikian maka sesatlah para mayoritas ulama karena Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitab beliau Lathaif ma`arif hal 185 terbitan Dar Ibn Katsir tahun 1999 menyatakan bahwa “ pendapat yang masyhur yang di pegang mayoritas para ulama adalah Nabi dli lahirkan hari senin tanggal 12 Rabiul Awal..kalau memang sesat, biarlah sesat bersama mayoritas ulama, sebab sesat mereka pasti ke surga, sedangkan oaring-oarang yang menganggap kaum muslim lain sebagai pelaku amalam syirik tidak sesat di akhirat kelak yaitu lansung meluncur ke neraka..
      6. Nabi walau telah meninggal tetapi masih bisa bertemu dengan umat-umatnya baik dalam alam mimpi maupun dalam alam jaga, tetapi ini hanya khusus kepada para ulama-ulama shalih saja..namun yang pastinya setiap selawat yang kita baca akan sampai kepada Nabi SAW, dan banyak dalil yang menjelaskan hal ini yang tdk perlu kami paparkan di sini..
      7. Melakukan satu kebaikan bisa saja Allah dengan kemurahanNya menghapuskan dosa hambaNya, dalam merayakan maulid umat Islam telah bershadaqah, membaca shalat dll, banyak dalil yang menyatakan bahwa berbuat kebaikan bisa menghapuskan dosa, namun masalah pasti di hapuskan atau tidak ini adalah hak Allah, dan belum pernah kami temukan orang yang menghadiri maulid mayakini dengan pasti bahwa Allah telah mengampunkan dosa nya secara pasti..
      8. Waduh, anda tidak lebih dari katak di bawah tempurung, ketika di tempat anda terjadi satu kemaksiatan maka anda akan menghukumi bahwa di daerah lain juga demikian..anda belum melihat acara maulid yang kami adakan di dayah kami, santri putra mengadakan maulid di komplek putra dan satri putri di komplek putri, tidak ada bercampur baur laki-laki dan perempuan.. kami pernah tinggal beberapa tahun di Yaman dan Makkah dan telah melihat bagaimana perayaan maulid di sana, tidak ada perayaan maulid seperti dakwaan anda, lihat juga bagaimana perayaan maulid yang di lakukan oleh ulama al-Azhar…begitu sempitnya wawasan anda, dengan ilmu anda yg hanya seluas tempurung kelapa mau mengukur dunia yang luas ini..hehe

      Delete
    3. 9. Kami telah meneliti bahwa shalat-shalat yang ada dalam kitab-kitab shalawat itu punya dasar semua, baik dari hadits Nabi maupun dari para ulama besar..banyak bentuk2 shalat tersebut juga berasal dari Nabi, ilmu anda masih sangat dangkal, seharusnya anda mengatakan tidak tahu bukan mastikan shalat tersebut tidak ada sumbernya..dan tidak ada dalil satupun pembatasan bershalat hanya dengan satu lafadh saja, karena redaksi shalat dalam hadits2 cukup banyak..(silahkan buktikan sendiri kalau anda punya ilmu)
      10. Kami tidak mengerti maksud pernyataan anda, hal ini tidak pernah terjadi di daerah kami..mohon maaf..anda salah sasaran..
      11. Bagaimana maksud menyembelih kepada selain Allah?? Dalam perayaan maulid Nabi, kami menyembelih ayam di rumah kemudian di masak dan di undang beberapa tamu untuk mencicipi makanan tersebut atau makanan tersebut di hidangkan ke tempat perayaan maulid Nabi..di mana yang anda tuduhkan menyembelih untuk selain Allah, maka menyembelih hewan semua jadi terlarang karena semuanya menyembelih untuk di makan baik untuk pribadi atau beramai-ramain…waduh pemikiran gawat nih..
      12. Ooo..kalau memang sampe kejadian demikian maka jangan di salahkan maulid secara umum yang salah hanya di tempat itu saja, dan bukanlah setiap perayaan maulid melazimi kepada tinggal shalat berjamaah..seharusnya anda juga memfatwakan semua pesta itu haram secara mutlak, termasuk pesta perkawinan, pesta khitan, dan semua jenis pesta karena kadang di temukan gara-gara sibuk dengan pesta tersebut tidak sempat shalat jamaah..BERANIKAH ANDA BERFATWA DEMIKIAN, KALAU BERANI MUNGKIN ANDA AKAN MENJADI YANG PERTAMA YANG BERFAWTA DEMIKIAN …
      13. Membagikan makanan kepada saudara termasuk mubazir?? Masya Allah, maka kalau demikian lebih mubazir lagi penyembelihan hewan di hari raya qurban….masalah lagu dalam acara maulid di lahukan oleh biduan wanita, terus terang kami belum pernah melihatnya..kalaupun anda kepada anda harus menghukuminya untuk semua perayaan maulid di dunia ini…inikan tampak ghawur anda..

      Delete
  36. Pertanyaan mungkin kah maulid nabi di buat menurut kriteria standar Muhammad Hasyim Al-Asy'ari walaupun ini menyalahi mazhab ahlul hadit dan mazhab salaf / pedahulu kita / mazhab yang empat)
    Merayakan maulid dengan cara melakukan kemungkaran-kemungkaran di atas merupakan bentuk tidak beradab kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, bahkan merupakan bentuk perendahan dan menyakiti beliau. Orang-orang yang merayakan melakukan hal ini telah terjerumus dalam dosa yang besar yang dekat dengan kekufuran dan dikhawatirkan mereka terken suul khootimah (kematian yang buruk). Kalau mereka melakukan kemungkaran tersebut dengan niat merendahkan Nabi dan menghinanya maka tidak diragukan lagi akan kekufurannya. (Lihat At-Tanbiihaat al-Waajibaat hal 44-45)

    bahaya maulid nabi menurut kiyai muhammad hasyim al-asy'ari ( sebelum membaca ini tolong jawab apakah maulid nabi bias di buat sesuai standar muhammad hasyim al-asy'ari walupun ini menyalahi mazhab ahlul hadist dan mazhab salaf/ pendahulu kita dan mazhab 4)
    (Peringatan-peringatan yang wajib terhadap orang-orang yang merayakan maulid Nabi dengan kemungkaran)
    Berkata Abdulloh bin Umar Radhiyallahu’anhu :
    “Setiap bid’ah adalah kesesatan walaupun dianggap baik oleh manusia. ” (Diriwayatkan oleh Al-Lalikai dalam Syarah Ushul I’tiqod Ahlus Sunnah Wal Jama’ah)
    mereka berdalil dengan perkataan imam syafi’i

    “bid’ah itu ada dua macam, bid’ah terpuji dan bid’ah tercela. bid’ah yang sesuai dengan sunnah, maka itulah bid’ah yang terpuji. sedangkan yang menyalahi sunnah, maka dialah bid’ah yang tercela. (riwayat Abu Nu’aim)

    Meskipun Kiyai Muhammad Hasyim al-Asy'ari membolehkan merayakan maulid Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam akan tetapi beliau meletakkan aturan-aturan dalam perayan maulid tersebut. Beliau sungguh terkejut tatkala melihat orang-orang yang merayakan maulid Nabi telah melakukan kemungkaran-kemungkaran dalam perayaan tersebut, sehingga mendorong beliau untuk menulis risalah ini sebagai bentuk bernahi mungkar. Beliau berkata di awal risalah beliau ini :
    "Pada senin malam tanggal 25 Robi'ul awwal 1355 Hijriyah, sungguh aku telah melihat sebagian dari kalangan para penuntut ilmu di sebagian pondok telah melakukan perkumpulan dengan nama "Perayaan Maulid". Mereka telah menghadirkan alat-alat musik lalu mereka membaca sedikit dari Al-Qur'an dan riwayat-riwayat yang datang tentang awal sirah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan tentang tanda-tanda kebesaran Allah yang terjadi tatkala maulid (kelahiran) Nabi, demikian juga sejarah beliau yang penuh keberkahan setelah itu. Setelah itu merekapun mulai melakukan kemungkaran-kemungkaran seperti saling berkelahi dan saling mendorong yang mereka namakan dengan "Pencak silat" atau "Box", dan memukul-mukul rebana. Semua itu mereka lakukan dihadapan para wanita ajnabiah (bukan mahram mereka-pen) yang dekat posisinya dengan mereka sambil menonton mereka. Dan juga musik dan sandiwara cara kuno, dan juga permainan yang mirip dengan judi, serta bercampurnya (ikhtilatnya) para lelaki dan wanita. Juga nari-nari dan tenggelam dalam permainan dan tertawa, suara yang keras dan teriakan-teriakan di dalam mesjid dan sekitarnya. Maka akupun melarang mereka dan mengingkari perbuatan kemungkaran-kemungkaran tersebut, lalu mereka pun buyar dan pergi"

    ReplyDelete
  37. Setelah itu Kiyai Muhammad Hasyim berkata :
    "Dan tatkala perkaranya sebagaimana yang aku sifatkan dan aku takut perbuatan yang menghinakan ini akan tersebar di banyak tempat, sehingga menjerumuskan orang-orang awam kepada kemaksiatan yang bermacam-macam, dan bisa jadi mengantarkan mereka kepada keluar dari agama Islam, maka aku menulis peringatan-peringatan ini sebagai bentuk nasehat untuk agama dan memberi pengarahan kepada kaum mulsimin. Aku berharap agar Allah menjadikan amalanku ini murni ikhlas untuk wajahNya yang mulia, sesungguhnya Ia adalah pemilik karunia yang besar" (At-Tanbiihaat Al-Waajibaat hal 10)
    Tata Cara Perayaan Maulid :

    Kiyai Muhammad Hasyim Asy'ari rahimahullah menyebutkan tentang tata cara perayaan maulid yang dianjurkan. Beliau berkata ;
    "Dari perkataan para ulama… bahwasanya maulid yang dianjurkan oleh para ulama adalah berkumpulnya orang-orang dan membaca sebagian ayat-ayat al-Qur'an dan riwayat khabar-khabar yang menjelaskan tentang permulaan sejarah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan peristiwa-peristiwa yang terjadi tatkala Nabi dalam kandungan dan kelahirannya, demikian juga setelahnya berupa sejarah/siroh beliau yang penuh keberkahan. Setelah itu diletakkan makanan lalu mereka memakannya lalu buyar. Jika mereka menambahkan dengan memukul rebana sambil memperhatikan kesopanan dan adab maka tidak mengapa" (At-Tanbiihaat Al-Waajibaat hal 10-11)

    Kemungkaran-Kemungkaran dalam Perayaan Maulid yang disebutkan oleh Kiyai Muhammad Hasyim Asy'ari

    Diantara kemungkaran-kemungkaran tersebut adalah :

    Pertama : Bercampurnya (ikhtilath) antara laki-laki dan perempuan

    Kedua : Diadakannya "strik" (semacam sandiwara cara kuno, wallahu a'lam, meskipun hingga saat ini penulis masih belum paham betul akan makna strik, jika ada diantara pembaca yang faham tolong memberi infonya kepada penulis)

    Ketiga : Alat-alat musik, seperti seruling dan yang lainnya. Hanyalah yang dibolehkan adalah rebana

    Keempat : Mubadzir dalam mengeluarkan harta untuk perkara yang berlebih-lebihan dan tidak bermanfaat. (Lihat At-Tanbiihaat Al-Waajibaat 38-39)

    Kelima : Joget atau tarian-tarian

    Keenam : Nyanyian

    Ketujuh : Keasikan bermain sehingga lupa dengan hari kebangkitan. (Lihat At-Tanbiihaat Al-Waajibaat hal 21)

    Kedelapan : Jika tidak terjadi ikhtilat dan para wanita berkumpul sendirian maka ada kemungkaran-kemungkaran juga yang mereka lakukan seperti : Mengangkat suara keras-keras dalam mengucapkan selamat dan juga bergoyang-goyang dalam bernasyid, serta membaca al-Qur'an dan dzikir dengan cara membaca yang keluar dari syariat dan cara yang wajar. (At-Tanbiihaat Al-Waajibaat hal 22)

    ReplyDelete
  38. Demikianlah beberapa kemungkaran yang disebutkan oleh Kiyai Muhammad Hasyim Asy'ari dalam kitabnya tersebut. Setelah itu beliau mengingatkan akan beberapa perkara:

    Pertama : Merayakan maulid dengan cara melakukan kemungkaran-kemungkaran di atas merupakan bentuk tidak beradab kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, bahkan merupakan bentuk perendahan dan menyakiti beliau. Orang-orang yang merayakan melakukan hal ini telah terjerumus dalam dosa yang besar yang dekat dengan kekufuran dan dikhawatirkan mereka terken suul khootimah (kematian yang buruk).

    Kalau mereka melakukan kemungkaran tersebut dengan niat merendahkan Nabi dan menghinanya maka tidak diragukan lagi akan kekufurannya. (Lihat At-Tanbiihaat al-Waajibaat hal 44-45)

    Kedua : Karenanya tidak boleh merayakan maulid yang mengantarkan kepada kemaksiatan. Kiyai Muhammad Hasyim Asy'ari berkata :

    فَاعْلَمْ أَنَّ عَمَلَ الْمَوْلِدِ إِذَا أَدَّى إِلَى مَعْصِيَةٍ رَاجِحَةٍ مِثْلِ الْمُنْكَرَاتِ وَجَبَ تَرْكُهُ وَحَرُمَ فِعْلُهُ

    "Ketahuilah bahwasanya perayaan maulid jika mengantarkan kepada kemaksiatan yang jelas/kuat seperti kemungkaran-kemungkaran maka wajib untuk ditinggalkan dan haram perayaan tersebut" (At-Tanbiihaat Al-Waajibaat hal 19)

    Ketiga : Bahkan tidak boleh membantu terselenggarakannya perayaan maulid yang modelnya seperti ini.

    Kiyai Muhammad Hasyi Asy'ari berkata :

    وَإِنَّمَا كَانَ إِعْطَاءُ الْمَالِ لِأَجْلِهِ حَرَامًا لِأَنَّهُ إِعَانَةٌ عَلَى مَعْصِيَةٍ، وَمَنْ أَعَانَ عَلَى مَعْصِيَةٍ كَانَ شَرِيْكاً فِيْهَا، وَكَذَلِكَ يَحْرُمُ التّفَرَجُّ ُعَلَيْهِ وَالْحُضُوْرُ فِيْهِ لِأَنَّ الْقَاعِدَةَ : أَنَّ كُلَّ مَا كَانَ حَرَامًا يَحْرُمُ التَّفَرُّجُ عَلَيْهِ وَالْحُضُوْرُ فِيْهِ

    "Mengeluarkan uang untuk perayaan maulid (yang bercampur kemungkaran-kemungkaran) menjadi haram dikarenakan hal ini merupakan bentuk membantu pelaksanaan maksiat. Dan barang siapa yang membantu terselenggaranya kemaksiatan maka ia ikut serta di dalamnya. Demikian juga haram untuk menyaksikan dan hadir dalam acara tersebut, karena kaidah menyatakan : "Setiap yang haram maka haram pula menyaksikan dan hadir di dalamnya" (At-Tanbiihaat Al-Waajibaat hal 39)

    Keempat : Kiyai Muhammad Hasyim Asy'ari juga menyatakan bahwa seseorang yang melakukan perayaan maulid dengan melakukan kemungkaran-kemungkaran maka ia sedang bermuhaajaroh (menampakan terang-terangan) dengan kemaksiatan. (lihat At-Tanbiihaat hal 39-40)

    Kelima : Beliau juga menyatakan bahwa orang yang melakukan maulid model demikian telah memiliki sifat orang munafiq. Beliau berkata ;

    وَمِنْهَا أَنَّهُ اتِّصَافٌ بِصِفَةِ النِّفَاقِ وَهِيَ إِظْهَارُ خِلاَفِ مَا فِي الْبَاطِنِ إِذْ ظَاهِرُ حَالِهِ أَنَّهُ يَعْمَلُ الْمَوْلِدَ مَحَبَّةً وَتَكْرِيْمًا لِلرَّسُوْلِ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ وَباَطِنُهُ أَنَّهُ يَجْمَعُ بِهِ الْمَلَاهِي وَيَرْتَكِبُ الْمَعَاصِي

    "Diantara kerusakan-kerusakan maulid model ini adalah pelakunya bersifat dengan sifat kemunafikan, yaitu memperlihatkan apa yang berbeda dengan di dalam hati. Karena lahiriahnya ia melaksanakan maulid karena mencintai dan memuliakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam akan tetapi batinnya ia mengumpulkan perkara-perkara yang melalaikan dan melakukan kemaksiatan-kemaksiatan" (At-Tanbiihaat hal 40)

    Keenam : Wajib bagi seorang alim untuk mengingkari para penuntut ilmu yang melakukan kemungkaran-kemungkaran tersebut. Karena jika didiamkan maka orang awam akan menyangka bahwa cara merayakan maulid dengan kemungkaran-kemungkaran tersebut adalah merupakan bagian dari syari'at. Padahal perkaranya adalah sebaliknya, justru mengantarkan pada penyia-nyiaan syari'at dan meninggalkannya. (lihat At-Tanbiihaat al-Waajibaat hal 40-41).


    wassalam

    ReplyDelete
  39. Mungkin ini kesempatan terakahir saya untuk menjawab
    mungkin ini yang bisa saya sampaikan cuma allah yang memberikan hidayah....... mungkin selanjutnya kalau ada waktu saya menjawab....... semua itu terserah kepada kalian apakah kalian masih membuat maulida nabi ????? sesungguhnya yang memberikan hidayah adalah allah SWT..... cuma Allah yang memberikan hidayah....... saya meminta maaf sekiranya tulisan kurang bagus atau tulisa kurang rapi kebodohan saya dalam hal dunia maya......

    wassallam

    ReplyDelete
    Replies
    1. waduuhh...seolah olah muhammad al asyi ini adalah seorang Nabi, ia begitu yakin sedang memberi dengan hasil copi paste nya, melebihi keyakinannya terhadap fatwa Ibnu Hajar al-Asqalani dll...

      waduh-waduh2,,,kebodohannya bukan dalam masalah dunia maya, tetapi bodoh dalam hal agama,,,weleh-weleh2,,,

      Delete
  40. tulisan yang lalu saya menjelasakan bid'ah mungkar maulid nabi muhammad Saw menurut kiyai muhammad hasyim al-asy'ari( ini kemungkaran dalam maulid nabi muhammad Saw ) yang menjadi pertanyaan apakah Mungkin Kah Bid’ah Maulid Nabi di buat sesuai standar Muhammad Hasyim Al-Asy'ari walaupun ini menyalahi mazhab ahlul hadit dan mazhab salaf / pedahulu kita / mazhab yang empat) ??????? padahal dalam kenyaataan dalam masyarakat sangat berbeda sekali sanggat menyalahi standar Muhammad Hasyim Al-Asy'ari walaupun ini menyalahi mazhab ahlul hadit dan mazhab salaf / pedahulu kita / mazhab yang empat.


    sekian

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untuk 5 komentar anda yang terakhir; sangat lucu dan ngawur anda, mempertanyakan apakah mungkin bisa di temukan perayaan maulid dengan kriteria yang di tuliskan oleh KH. Hasyim Asy`ari ….sudah kami jelaskan dalam poin jawaban kami sebelumnya bagaimana kami di dayah merayakan maulid dan bagaimana perayaan maulid yang kami lihat di beberapa Negara di Timur Tengah..
      Kalaupun dalam perayaan maulid tersebut terjadi hal-hal haram, keharaman tersebut tetap bukan pada zat perayaan maulid, sebagaimana misalnya orang shalat menggunakan pakaian yang ia beli hasil korupsi, ini adalah maskiat tetapi bukan berarti shalatnya tidak sah, dan hal ini merupakan hal yang telah maklum bagi orang yang mengerti ilmu ushul fiqh, akan mampu membedakan antara nahi lizatih dengan li `aridhih..

      Adapun pernyataan Anda ini adalah kesempatan terakhir anda untuk menjawab, yaa karena tidak punya dalil sama sekali, anda hanya taqlid buta kepada tempat anda copi paste tulisan tersebut, di dalam tulsian tersebut banyak penggunaan kata o yang dengan jelas menampakkan bukan tulisan anda, karena dalam lughat Aceh tidak ada pemakaian huruf seperti dalam kata Abdullah..
      Dalil anda juga hanya berdasarkan tuduhan yang di lakukan oleh kaum anti maulid dengan mengatasnamakan nama ulama besar, kami telah memeriksa kitab Bidayah wan Nihayah Ibnu Katsir, kitab Ahsanul kalam Syeikh bakhit al-Muthi`I, sedangkan anda cukup yakin dengan copi paste yang sumbernya tidak bertanggung jawab samasekali..

      Delete
  41. Lbm Mudi Mesra..sbaiknya jgn buang2 tnaga dgn ngladenin si copy paste Muhamad al asyi...
    coba liat postingnnya, mirip org kesurupan..

    ReplyDelete
  42. TOLOK UKUR PARA PENGINGKAR BID'AH HASANAH ITU IBNU TAIMIYAH DAN BIN BASS, BUKAN QUR'AN DAN HADITS, QUR'AN DAN HADITH KEDOK ORG NE DOANG.

    ReplyDelete
  43. Tak elok rasanya berdebat hal yang sedemikian rupa,, sampai kapan pun persoalan ini tidak akan ada habisnya,
    Siapa kita, lihatlah ulama besar terdahulu dalam menyingkapi perbedaan pendapat, mereka ttp bertoleransi.
    Maulid nabi merupakan perkara baru, tiap perkara baru adalah bid'ah. Namun, bid'ah bukanlah hukum, hukum hanya 5 saja ( wajib,haram,sunat,makruh, jais ). Tiap perkara baru kita harus menimbang dengan neraca hukum, masuk dalam katagori mana perkara baru tersebut, contoh, perkara baru dalam masa kekhalifahan abu bakar, ide untuk membukukan al quran, itu merupakan wajib, karena saat itu telah bnyk shbt nabi yg hafal al quran gu2r dlm peperangan,, perkara baru masa khalifah umar, bilangan shalat tarawih, itu sunat, dan ada juga perkara baru yang dlarang oleh nabi kepada sahabat nabi yang berinisiatif untk beribadah tiap saat tanpa hnti dan puasa stiap hari, nabi tdk stju, karena banyak ursn lain yg jga harus dkerjakan. Skrng maulid nabi, banyak manfaat dari maulid itu sendiri, ulma kita juga tdk bdh, mereka lebih tau masuk dlm katagori mana maulid itu,, jadi, bagi siapa yg merayaknnya, alhmdllh dapat pahala dan bagi yg tidak juga tdk berdsa, jempol untuk kalian karena telah berhati hati dlm ursan agma,.
    jadi, alangkah lebih baik kita lebih fokus dalam persoalan umat, seperti aliran sesat, murtad, dan memajukan umat, agar kita tdk ketinggln dengan negri lain.

    ReplyDelete
    Replies
    1. mereka tidak menghargai perbedaan ulama dari yang bukan pihak mereka..

      Delete
  44. Nyan keujeut ulama2 yg membenci maulid nabi han geubri qaramah (keuramat) le ALLAH, ci neukalon pat ulama2 yg benci maulid yg na qaromah.

    ReplyDelete
  45. Assalamuálaikum wr.wb

    Sungguh aliran sempalan berani berkata bahwa bid;ah hasanah tak ada?? maulid adalah bidáh dholalah..maka sesungguhnya bidaáh hasanah telah terjadi pada masa khulafurasyidin ....salaf al shalih memebrikan contoh pada kita untuk membuat bidáh hasanah.. yang bersandar pada alqurán al kariem....termasuk maulid adalah sebuah perbuatan yang tak pernah rasulullah saw lakukan, namun dilakukan setelahnya merupakan bidáh hasanah yang berasal dari alqur;an yang disepakati alim ulama setiap zaman ....lihatlah bida;ah hasanah sudah diperbolehkan dalam masa khalifah yang mulia....


    http://www.lidwa.com/app/

    lihatlah sayyidina umar mencontohkan kebajikan..dengan perdebatan seakan akan bid;ah hasanah tak ada ..pedahal ulamm junjungan kita menganjurkan dengan penuh bijak...

    ReplyDelete
  46. lihatlah hadits no 4603 ..

    ReplyDelete
  47. Assalamu'alaikum wr wb.

    Perbedaan pendapat merupakan rahmat, kata nabi. Namun perdebatannya tak pernah kunjung usai. dari sejak zaman dahulu kala hingga sekarng mungkin bahkan sampai kiamat nanti.

    Sungguh suatu hal yg sangat menyedihkan apabila suatu perdebatan akan menjurus kepada hal-hal yang dapat membangkitkan suasana yg kurang harmonis atau dengan kata lain dapat merusak hubungan persaudaraan.

    Oleh sebab itu, mari sama-sama kita mengoreksi diri kita masing-masing :
    Apakah kita sudah benar dan lurus di mata Allah??
    Apakah kita sudah bersih dan suci dimata Allah??
    Apakah kita sudah benar-benar berilmu di hadapan Allah??

    Kita tidak tau kita ini siapa, Kita tidak tau kita akan kemana, Kita tidak tau kita sudah sampai dimana.

    Maka dari itu sebaiknya kita berpegang pada prinsip masing-masing. mana yg menurut kita benar, maka lakukanlah itu dan jangan sekali-kali menyalahkan orang lain, mana tau kita yang salah.
    Benar atau salah, nanti di hari kiamat masing-masing akan mempertanggungjawabkannya. Kita tidak masuk surga atau neraka gara-gara orang lain melainkan apa yg kita perbuat sendiri di dunia.

    Berdebat atawa diskusi merupakan rahmat apabila berujung pada suatu keputusan yg bermanfaat untuk bersama. Namun akan menjadi petaka apabila berujung pada mudharat.

    allahu Akbar...

    ReplyDelete
  48. Selama satu tuhan dan satu nabi kenapa harus di permasalahkan si?

    ReplyDelete
  49. Perayaan adalah sarana bukan ibadah. Hanya saja bisa bernilai ibadah jika isinya ajaran Nabi Saw.. Lil-wasaail hukmul-maqooshid. Hukum sarana mengikuti hukum tujuan.

    Allahu A'lam.

    ReplyDelete