Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Beberapa hal yang mengkafirkan

Beberapa hal yang mengkafirkan
salah satu prinsip para ulama Ahlus sunnah adalah tidak akan seenaknya mengkafirkan kaum muslim yang lain walaupun berbeda keyakinan dan mengerjakan dosa-dosa besar. Sehingga mereka tidak mengkafirkan kaum Mu`tazillah yang sesat, tidak seperti kaum khawarij (wahaby/salafy sekarang) dengan mudahnya mereka mencap syirik dan kafir kepada golongan yang tidak sepaham dengan mereka.

Namun bukan berarti mereka tidak tegas dalam menyikapi perihal yang menyimpang dari aqidah. Untuk menjaga aqidah ummat maka perlu disebutkan mana saja yang dapat menyebabkan seseorang menjadi kafir/murtad.
Hal-hal yang menyebabkan seorang muslim menjadi kafir adalah semua yang dilakukan secara sengaja yang menunjuki kepada meremehkan agama secara shareh (jelas) baik berupa perkataan atau perbuatan yang dilakukan karena memang berdasarkan keyakinan, karena keras kepala atau hanya sebagai memperolok-olok.[1]

Contoh keyakinan yang dapat menyebabkan kekufuran:

  • Bercita-cita menjadi kafir dalam waktu dekat atau lama.
  • Menolak adanya pencipta alam semesta.
  • Meyakini tiada sifat yang wajib bagi Allah yang telah disepakati seperti qadim, ilmu dll.
  • Mengingkari hari kebangkitan.
  • Mengingkari atau ragu terhadap para Nabi yang telah disepakati kenabiannya.
  • Mengingkari bahwa Saidina Abu Bakar sebagai Shahabat Nabi. Penolakan bahwa Saidina Abu Bakar sebagai Shahabat juga berarti mengingkari Al Quran karena Al quran mengakui beliau sebagai Shahabat Rasulullah.
  • Mengingkari segala sesuatu yang telah sepakat para ulama baik berupa perintah atau larangan seperti; kewajiban shalat lima waktu, kesunnahan shalat sunat rawatib dan shalat hari raya, halal jual beli, nikah, keharaman zina, khamar, homoseks, liwath.
  • Mengingkari atau menambahkan satu huruf dari ayat Al Quran yang telah ijmak para ulama.[2]
  • Bercita-cita supaya Allah menghalalkan sesuatu yang tak pernah Allah halalkan pada satu masapun (seperti zina dan membunuh tanpa hak). Adapun mencita-citakan halal sesuatu yang pernah Allah halalkan (seperti khamar) maka tidak menyebabkan kufur.[3]

Contoh perbuatan yang menyebabkan kufur:

  • Sujud bagi selain Allah secara sukarela dan tidak ada tanda yang menunjuki tidak bermaksud memperolok-olok.[4]
  • Mencampak mashhaf dalam kotoran (baik najis ataupun tidak) tanpa ozor dan tidak ada qarinah (tanda) yang menunjuki bukan bermaksud melecehkan. Sama hukumnya dengan mashaf lembaran yang terdapat tulisan nama Allah dan lembaran ilmu syar`iyah lainnya.[5]
  • Sihir yang mengandung ritual penyembahan kepada selain Allah.[6]

Contoh perkataan yang dapat menyebabkan kekufuran. [7]

  • Mengatakan “aku tidak mau melaksanakannya walaupun hukumnya sunat” karena perkataan demikian menunjuki kepada memperolok-olok.[8]
  • Ridha dengan kufur walupun tidak secara shareh misalnya tidak mau mensyahadatkan orang yang minta disyahadatkan, atau dikatakan terhadap orang yang minta disyahadatkan “bersabarlan sebentar”. contoh lainnya memerintahkan muslim untuk murtad, memerintahkan muslim atau kafir untuk kafir, misalnya dikatakan bagi orang kristen ‘’masuklah ke agama yahudi’’.[9]
  • Menghina, melecehkan, mencela atau mengatakan Nabi sebagai pendusta.
  • Mencela shabahat Abu Bakar dan Umar menurut satu pendapat.
  • Mencela shabat Nabi karena kedudukan mereka sebagai shahabat. [10]
  • Seseorang berkata ‘’seandainya datang Nabi padaku, aku tak akan menerimanya’’.
  • Atau seseorang berkata ‘’seandainya Allah menyiksaku karena aku meninggalkan shalat padahal aku sakit maka Allah telah berbuat dhalim padaku’’ atau seseorang berkata ‘’andaikata para malaikat dan para Nabi atau seluruh kaum muslimin bersaksi bagiku atas sesuatu, maka aku tidak akan mempercayainya’’.[11]
  • Seseorang berkata ‘‘jika sifulan menjadi Nabi maka aku tidak akan beriman’’ atau perkataan ‘’kalau seandainya Nabi benar kita pasti selamat’’ .[12]
  • Seseorang ketika mengawali perbuatan maksiat seperti mabuk dan zina mengucapkan bismillah dengan tujuan memperolok-olok nama Allah .[13]
  • Seseorang berkata ketika diberi satu fatwa hukum ‘’syara` apa ini’’ dengan maksud meremehkan.[14]
Sedangkan mengatakan bahwa ‘’pengajar dari kaum kafir lebih baik dari guru muslim’’ bila dimaksudkan lebih baik secara mutlak maka ia menjadi kafir sedangkan bila dimaksudkan lebih baik dari segi cara mendidiknya atau lainnya ataupun diucapkan secara mutlak tanpa dimaksudkan lebih baik dari segi mana maka tidak mengkafirkan.[15]

[1] Al Malibary, Zainuddin, Fathul Muin jilid 4 hal 123 Cet. Haramain
[2] Imam Ibnu Hajar Al Haitamy, I`lam bi Qawathi` Islam , hal 352 Cet. Maktabah Hakikat kitabevi
[3] Ibid. hal 362
[4] Sayyid Abi Bakry Syatha, Hasyiah i`anatuth Thalibin jilid 4 hal 136. Cet. haramain
[5] Ibid, hal 137
[6] Imam Ibnu Hajar Al Haitamy, I`lam bi Qawathi` Islam hal 349
[7] Al Malibary, Zainuddin, Op sit. jilid 4 hal 123
[8] Imam Ibnu Hajar Al Haitamy, I`lam bi Qawathi` Islam hal 357
[9] Ibid, hal 355
[10] Ibid, hal 352
[11] Ibid, hal 358
[12] Ibid, Hal 359
[13] Ibid, hal 361
[14] Ibid, hal 365
[15] Ibid, hal 363

Puasa sunat bagi istri tanpa izin suami

Puasa sunat bagi istri tanpa izin suami
Bagaimanakah hukum puasa sunat bagi istri tanpa izin dari sang suami?
Jawab:
Bagi istri yang suaminya berada di daerahnya maka haram hukumnya berpuasa sunat tanpa izin atau yakin adanya keridhaan dari suami dengan ketentuan:
1. Istri tersebut berada dalam keadaan boleh berhubungan dengan suami. Sedangkan bila ia berada dalam keadaan tidak boleh berhubungan dengan suami misalnya ia sedangkan ihram maka dibolehkan baginya untuk berpuasa.

2. Puasa sunat yang diharamkan hanyalah puasa sunat yang sering datang waktunya dalam setahun seperti puasa senin kamis. Sedangkan puasa yang jarang seperti puasa Arafah, puasa `Asyura, dll maka dibolehkan
Walaupun hukum puasanya haram namun hukum puasanya tetap dihukumi sah dan terhadap suami dibolehkan berhubungan badan dengan istri nya yang berpuasa tersebut sedangkan yang menaggung dosa adalah istri.

Sedangkan shalat sunat maka dibolehkan bagi istri untuk melaksanakannya tanpa izin dan restu dari suami karena shalat tidak membutuhkan waktu yang lama seperti halnya puasa.
Hal ini berdasarkan hadits Nabi SAW:
لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ رواه البخاري
“tidak halal bagi wanita untuk berpuasa sedangkan suaminya hadir kecuali dengan ada izin darinya”(H.R. Imam Bukhari)

Referensi:
Fathul Mu`in dan Hasyiah I`anatuth Thalibin jilid 2 hal 273 cet. Toha Putra.
ويحرم على الزوجة أن تصوم تطوعا أو قضاء موسعا وزوجها حاضر إلا بإذنه أو علم رضاه
(قوله: ويحرم على الزوجة إلخ) هذا حيث جاز التمتع بها، وإلا كأن قام بالزوج مانع من الوطئ - كإحرام، أو اعتكاف - فلا حرمة، وحيث لم يقع بها مانع - كالرتق والقرن - وإلا فلا حرمة أيضا
ومحل التحريم في الصوم المتكرر في السنة - كالاثنين والخميس - بخلاف صوم يوم عرفة وعاشوراء، لانهما نادران في السنة
ومع الحرمة: ينعقد صومها - كالصلاة في دار مغصوبة - ولزوجها وطؤها، والاثم عليها.............
قوله: إلا بإذنه) أي الزوج. وذلك لخبر الصحيحين: لا يحل للمرأة أن تصوم وزوجها شاهد - أي حاضر - إلا بإذنه


Kadar Air Dua Qullah

Kadar Air Dua QullahBerbicara masalah air merupakan hal yang sangat esensial dalam Hukum Syar"i, di mana air digunakan sebagai salah satu alat untuk bersuci. Air dua qulah atau Qullatain adalah ukuran air yang biasa dijadikan ukuran baku dalam penetapan masalah air,
Hal ini dinyatakan langsung dalam hadist:

إذا بلغ الماء قلتين فانه لا ينجس رواه ابو داود
“Apabila air telah sampai dua qulah maka ia tidak akan bernajis”(H.R Abu Dawud)

أن الماء لا ينجسه شيء إلا ما غلب على ريحه وطعمه ولونه رواه ابن ماجه
“Air tidak akan bernajis dengan sesuatu kecuali bila berobah baunya dan rasanya dan warnanya” (H.R Ibnu Majah)

Menurut Syafi'iyah, air dua qulah dengan ukuran luas/besarnya bak (tempat tampungan air) adalah
1,25 zira' (panjang) x 1,25 zira' (lebar) x 1,25 zira' (tinggi) Fathun Muin, Jilid. I hal. 31; Al Mahalli, Jilid I hal 24 ; Qalyubi Jilid I hal. 24.
Atas dasar ukuran yang demikian, untuk membandingkan ukuran air dua qulah dari perkiraan zira' ke perkiraan centimeter terdapat dua pandangan,
yakni pandangan yang mengatakan ukuran 1 Asbu' = 1,925 cm Fiqh Islam, Wahbah Zuhaili, Jilid II Damaskus, Darul Fikri, 2004, hal. 1343 dan yang kedua pandangan yang mengatakan ukuran 1 Asbu' 2,00 cm.Berdasarkan ukuran Zira‟ 48 cm yang terdapat dalam Fiqh 'ala Mazahibil Arba‟ah, Abdurrahman AlJaziry , Jilid II, hal. 57 (1 Zira‟ = 24 Asbu‟ = 48 cm)

Jika ukuran 1 zira' adalah 24 Asbu'Qalyubi, Jilid I, hal. 260, maka panjang 1 zira' dengan centimeter menurut pandangan pertama adalah 46,2 cm, dan menurut pandangan ke dua adalah 48 cm.
Jadi ukuran 2 qulah menurut masing-masing pandangan di atas adalah:
  1. Air dua qulah menurut pandangan pertama adalah 57, 75 cm x 57,75 cm x 57, 75 cm = 192.599,8 cm. Jika dihitung dalam liter menjadi 192,599 liter, ( karena 1 liter = 1.000 cl) Rangkuman Pengetahuan Umum lengkap, Sugeng HR, Semarang, Aneka Ilmu, 2005, hal. 218.Pandangan ini hampir serupa dengan pendapat Shahib Kitab Maklumat yang menyatakan ukuran dua qulah dengan 190 liter Maklumat Tuhimmuka Haula Asbab Al Ikhtilaf Baina Fuqaha, Muhammad Nuruddin Merbo Banjar Al Makkiy, hal. 98.
  2. Air dua qulah bagi pandangan yang ke dua adalah 60 cm x 60 cm x 60 cm = 216.000 cm atau 216 liter.
Dari dua uraian di atas, pendapat yang ke dua cenderung lebih kuat dari yang pertama. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya literatur yang menetapkan ukuran air dua qulah dengan standar demikian.
Di antaranya kh sirajuddin-abbas, Muhaammad Rifa'Risalah Tuntunan Shalat Lengkap, Muhammad Rifa'i, Semarang, Toha Putera, 2004, hal. 14
Sementara Abdurrahman Al Jaziry yang menetapkan ukuran hasta sebesar 48 cm Fiqh 'ala Mazahibil Arba'ah, Abdurrahman AlJaziry , Jilid II, Istambul, Maktabah Hakikah, 2004, hal. 57, konsekwensinya menetapkan ukuran air dua qullah sesuai dengan patokan yang kedua tersebut.

Air dua qullah dengan ukuran berat adalah 500 rithal Fathun Qarib, jilid.I hal. 36, Fathun Muin, Jilid I, hal. 31, Al Mahalli Jilid I hal. 24.
1 rithal jika dibandingkan dengan ukuran dirham adalah 128 4/7 Dirham, dan jika dibandingkan dengan ukuran gram maka berat satu rithal adalah 432 gram atau 0,432 kg . dan jumlah air 2 qullah dengan kilogram adalah 216 kg,
Perhitungannya 500 Rital x 0,432 kg = 216 kg.

Jadi kesimpulan ukuran air dua qulah dilihat dengan berbagai bentuk ukuran adalah sebagai berikut:
  • 60 cm x 60 cm x 60 cm.
  • 216.000 cm³.
  • 216 liter.
  • 216 kg.
  • 500 Rithal Bagdad.
Miqdar Syar'i:
konsepsi ukuran sukatan
konsepsi ukuran timbangan
konsepsi ukuran panjang

Niat Zikir pada takbir dalam shalat bagi Imam

Niat Zikir pada takbir dalam shalat bagi ImamSalah satu ketentuan bagi seorang imam dan muballigh bila ia mengjiharkan bacaan takbirnya adalah ia harus meniatkan takbir tersebut sebagai zikir saja ataupun sebagai zikir bersama pemberitahuan (i`lam) kepada makmun[1]. Bila hal ini tidak dilakukan akan berakibat fatal yaitu batalnya shalat tersebut.

Pertanyaan:
Apakaha niat zikir pada takbir ihram dan takbir intiqalat bagi imam tersebut diwajibkan pada setiap kali takbir?

Menurut pendapat Syaikhuna Ibnu Ziyad (Syaikhuna dalam Hasyiah Qalyuby), wajib diniatkan pada setiap takbir. Sedangkan menurut Imam Khatib, cukup dipadai dengan takbir yang pertama.

Penjabaran
Shalat merupakan satu ibadah sebagai wadah bagi hamba untuk bermunajah kepada sang pencipta, Allah. Karena itulah dalam shalat segala hubungan dengan selainNya harus terputus. Semua kata-kata dan kalam dalam shalat haruslah kalam yang bermaksud munajah dengan Allah baik itu berupa doa atau zikir. Karena itu semua kalam manusia yang ajnaby dalam shalat dapat membatalkan shalat. Bahkan hal ini juga berlaku pada ayat Al Quran bila dikasadkan memberi penerangan kepada orang lain, misalnya ketika mengetahui ada orang ingin yang masuk maka ia membaca ayat 46 dari surat Al hijr:

ادْخُلُوهَا بِسَلَامٍ آمِنِينَ

"Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman”

Dengan tujuan mempersilahkan orang tersebut untuk masuk. Dengan sebab adanya tujuan ini menjadikan bacaan tersebut keluar dari keadaanya sebagai ayat Al Quran. Sehingga membutuhkan bacaan tersebut harus diniatkan sebagai zikir atau doa. Hal ini juga terjadi pada takbir bagi imam ataupun muballigh. Karena posisinya sebagai imam, terdapat unsur yang dapat memalingkan bacaannya dari bacaan zikir kepada bacaan sebagai pemberitahuan kepada makmun tentang gerakan shalat imam. Ketentuan ini juga berlaku bagi muballigh yang berfungsi sebagai penyambung lidah imam. Maka bila imam dan muballigh ketika bertakbir dalam shalat secara jihar ia tidak meniatkannya sebagai zikir saja atau zikir beserta pemberitahuan kepada jamaah maka shalatnya bathal.[2]

Namun semua ketentuan diatas berlaku bagi orang yang `alim dibidang agama, sedangkan untuk kalangan awam dimaafkan bila ia tidak berniat apa-apa bahkan bila ia meniatkan hal sebagai pemeritahuan kepada para jamaah juga dimaafkan.[3]

Referensi:
Hasyiah Qalyuby jilid 1 hal 189 Cet. Toha Putra
Mughny Muhtaj jilid hal
Tuhfatul Muhtaj dan Hasyiah Syarwany jilid 2  hal 19 Cet. Dar Fikr

Nash Kutub.

Hasyiah Qalyuby jilid 1 hal 189 cet. Toha putra

( ولو نطق بنظم القرآن بقصد التفهيم ك { يا يحيى خذ الكتاب } ) مفهما به من يستأذن في أخذ شيء أن يأخذه ( إن قصد معه ) أي التفهيم ( قراءة لم تبطل ) كما لو قصد القراءة فقط ( وإلا ) بأن قصد التفهيم فقط ( بطلت ) به وإن لم يقصد به شيئا ففي شرح المهذب ظاهر كلام المصنف وغيره أنها تبطل ، لأنه يشبه كلام الآدمي ، فلا يكون قرآنا إلا بالقصد ، وفي الدقائق والتحقيق الجزم بالبطلان ( ولا تبطل بالذكر والدعاء إلا أن يخاطب ) به ( كقوله لعاطس : رحمك الله ) فتبطل به خلاف رحمه الله ، وخطاب الله ورسوله لا يضر كأعلم من أذكار الركوع وغيره ومن التشهد

الشرح

قال شيخنا ، ولا بد من قصد الذكر في كل تكبيرة ، واكتفى العلامة الخطيب بقصد ذلك في جميع الصلاة عند أول تكبيرة

Mughny Muhtaj jilid 1 hal Cet. Dar Kutub Ilmiyah

( إن قصد معه ) أي التفهيم ( قراءة لم تبطل ) لأنه قرآن فصار كما لو قصد القرآن وحده ولأن عليا رضي الله تعالى عنه كان يصلي فدخل رجل من الخوارج فقال : لا حكم إلا لله ورسوله فتلا علي : { فاصبر إن وعد الله حق } ( وإلا ) أبان قصد التفهيم فقط أو لم يقصد شيئا ( بطلت ) به لأنه فيهما بشبه كلام الآدميين فلا يكون قرآنا إلا بالقصد قال في الدقائق  يفهم من قول المنهاج أربع مسائل إحداها : إذا قصد القراءة الثانية : إذا قصد القراءة والإعلام الثالثة : إذا قصد الإعلام فقط الرابعة : أن لا يقصد شيئا ففي الأولى والثانية لا تبطل وفي الثالثة والرابعة تبطل وتفهم الرابعة من قوله وإلا بطلت كما يفهم منه الثالثة وهذه الرابعة لم يذكرها المحرر وهي نفيسة لا يستغنى عن بيانها وسبق مثلها في قول المنهاج وتحل أذكاره لا بقصد قرآن اهـ وسومح في أخذ الأولى والرابعة من كلامه لأنه جعل الكلام فيما لو قصد التفهيم وجعل في ذلك قسمين وهما : قصد القراءة معه وعدم قصدها معه فلا يندرج في ذلك قصد القراءة فقط وعدم قصد شيء أصلا لأن ما قصد فيه التفهيم يستحيل أن يندرج فيه ما لا يقصد فيه التفهيم وهذا التفصيل يجري في الفتح على الإمام بالقرآن والجهر بالتكبير أو التسميع فإنه إن قصد الرد مع القراءة أو القراءة فقط أو قصد التكبير أو التسميع فقط أو مع الإعلام لم تبطل وإلا بطلت وإن كان في كلام بعض المتأخرين ما يوهم خلاف ذلك

Tuhfatul Muhtaj jilid 2 hal 19 Cet. Dar Fikr

( ويسن ) للإمام الجهر بتكبير تحرمه وانتقاله وكذا مبلغ احتيج إليه لكن إن نويا الذكر أو الإسماع وإلا بطلت وغير المبلغ يكره له ذلك لإيذائه غيره وللمصلي مطلقا

( قوله لكن إلخ ) معتمد ع ش وشيخنا ( قوله إن نويا ) أي الإمام والمبلغ وكذا غيرهما بالأولى لو جهر على خلاف السنة ( قوله وإلا بطلت ) يدخل فيه الإطلاق والكلام مفروض في الجهر بالتكبير وقضيته أنه مع عدم الجهر لا ضرر مطلقا لكن إن قصد حينئذ الإعلام فقط إن تصور فينبغي أن يضر سم قال البجيرمي وشيخنا والبطلان بقصد الإعلام فقط أو الإطلاق في حق العالم وأما العامي ولو مخالطا للعلماء فلا يضر قصده الإعلام فقط ولا الإطلاق ا هـ

[1] Hasyiah I`anatuth Thalibinj jilid 1 hal 154 Cet. Haramain, Tuhfatul Muhtaj jilid 2 hal 19 Cet. DarFir
[2] Opcit.
[3] Tuhfatul Muhtaj jilid 2 hal 19 Cet. Dar Fik

Hukum Julo-julo/Arisan

Hukum Julo-julo/Arisan Julo-julo adalah satu satu jenis mu`amalah dimana beberapa orang mengadakan kesepakatan mengumpulkan uang dalam jumlah yang sama dalam jangka waktu tertentu. Dalam jangka waktu pengumpulan tersebut, uang tersebut diberikan kepada para anggota secara bergilir yang biasanya dipilih dengan cara diundi.

Dalam KBBI, julo-julo adalah kegiatan pengumpulan uang atau barang yang sama nilainya untuk diundi di antara orang yg mengumpulkannya untuk menentukan siapa yg memperolehnya.

Pertanyaan:
Bagaimanakah pandangan hukum fiqh terhadap akad julo-julo.

Jawab:
Hukumnya boleh.

Referensi:
Hasyiah Qulyuby jilid 2 hal 321 Cet. Haramain.
فرع : الجمعة المشهورة بين النساء بأن تأخذ امرأة من كل واحدة من جماعة منهن قدرا معينا في كل جمعة أو شهر وتدفعه لواحدة بعد واحدة إلى آخرهن جائزة كما قاله الولي العراقي



donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja