Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Seputar Lailatul Qadar (Kelebihan, waktu serta tanda-tandanya)

Seputar Lailatul QadarSalah satu topic pembicaraan yang hangat dalam bulan Ramadhan adalah lailatul qadar. Lailatul qadar adalah satu malam yang mulia yang Allah berikan khusus untuk umat Nabi Muhammad yang lebih dikenal dengan kelebihannya sebagai malam yang lebih baik dari seribu malam.

Dinamakan lailatul qadar karena Allah ta`ala pada malam tersebut Allah mendhahirkan semua kadar segala sesuatu yang telah ada dalam azali, baik kadar rizki seseorang, kadar ajal, sakit, bala, musibah, hujan, angin dll hingga tahun depan dan diserahkan kepara empat pemimpin malaikat; Jibril, Mikail, Israfil, dan `izrail (1). Ini adalah pendapat pendapat Ibnu `Abbas yang dipilih mayoritas ulama. (2)

Pada lailatul qadar Allah turunkan al-Quran pada malam ini secara menyeluruh ke satu tempat di langit yang disebut dengan Baitul `Izzah kemudian baru diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad berdasarkan kejadian di bumi.(3)

Kelebihan lailatul qadar

Ada tiga hal yang menjadikan lailatul qadar lebih mulai dari malam lainnya sebagaimana Allah sebutkan dalam surat al-Qadr: (4)

1. Malam yang lebih baik dari seribu bulan ( 83 tahun 3 bulan)
Firman Allah :
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.

Ada beberapa riwayat yang menceritakan perihal diturunkan surat al-Qadar yang berhubungan dengan kelebihan lailatul qadar ini. Menurut satu pendapat, pada masa dahulu seseorang baru dikatakan `abid/ahli ibadah bila ia telah beribadah selama seribu tahun, maka Allah menjadikan bagi umat Nabi Muhammad satu malam pada lailatul qadar lebih baik dari seribu bulan umat terdahulu.

Syeikh Abu Bakar al-Waraq mengatakan bahwa masa kekuasaan Nabi Sulaiman sebagai raja adalah lima ratus tahun, masa kekuasaan Raja Zulkarnain juga lima ratus tahun, maka Allah menjadikan bagi umat Nabi Muhammad beramal satu malam pada lailatul qadar lebih baik dari kekuasaan seribu bulan.

Ibnu Mas`ud menceritakan bahwa Rasulullah menceritakan kepada para shahabat bahwa seorang laki-laki dari Bani Israil yang berperang selama seribu bulan, mendengar cerita tersebut para shahabat merasa kagum, maka Allah menurutkan surat al-Qadar. Maka lailatul qadar lebih baik dari pada seribu bulan bani israil tersebut berperang dijalan Allah.

Berkata Ka`b al-Akhbar : seorang raja Bani Israil yang shaleh, maka Allah wahyukan kepada salah seorang Nabi masa tersebut untuk menanyakan cita-cita raja tersebut, maka raja tersebut mengatakan bahwa ia bercita-cita berjihad dijalan Allah dengan hartanya, anaknya dan jiwa raganya. Maka Allah karuniakan kepadanya seribu anak. Kemudian ia latih anaknya dengan hartanya untuk berperang dijalan Allah, dan anak tersebutpun berjihad selama sebulan dan syahid dijalan Allah. Maka ia latih anak yang lain untuk berjihad yang akhirnya juga syahid setelah berjihad selama sebulan demikianlah satu persatu anaknya syahid dalam waktu seribu bulan. Hingga akhirnya iapun turut berperang dan akhirnya juga syahid. Mendengar kisah ini sebagian shahabat berkata; tidak ada seorang pun yang mampu mendapatkan martabat raja ini. Maka Allah turunkan surat al-Qadar.

Berkata `Ali dan `urwah : Nabi menyebutkan empat orang dari kalangan bani Israil, mereka beribadah kepada Allah selama delapan puluh tahun dan tidak berbuat maksiat kepada sekejap matapun. Mereka adalah Nabi Ayyub, Nabi Zakaria, Khirqil bin al-Ajuz, dan Yusya` bin Nun, mendengar hal tersebut para shahabat merasa takjub. Maka datanglah Malaikat Jibril dan berkata : Ya Muhammad, umatmu merasa kagum atas ibadah mereka selama 80 tahun yang tidak berbuat maksiat kepada Allah sekejab matapun. Maka sungguh telah Allah turunkan atas engkau sesuatu yang lebih baik dari itu. Kemudian malaikat Jibril membaca surat al-Qadar. Maka senanglah Rasulullah SAW. (5)

2. Turun malaikat kebumi
Firman Allah:
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ
Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.

Pada lailatul qadar para malailat turun kebumi, hal ini disebabkan bahwa dahulu para malaikat pernah mempertanyakan penciptaan manusia kepada Allah yang disebutkan oleh para malaikat sebagai makhluk penumpah darah. Manakala kenyataan terjadi sebaliknya maka para malaikat turun untuk memberi salam dan meminta maaf serta memohon keampunan Allah untuk manusia yang lalai.

Ibnu Abbas berkata : berkatalah Nabi SAW; apabila adalah lailatul qadar turunlah para malaikat penghuni siratul muntaha, diantaranya malaikat Jibril. Para malaikat tersebut turun dengan membawa bendera yang pancangkan atas kuburku, Baitul Maqdis, Masjidil Haram, bukit Thursina, mereka tidak meninggalkan orang mukmin dan mukminat kecuali mereka salami kecuali orang yang selalu minum khamar, memakan babi, dan berinai dengan za`faran. (6)

Kalimat ruh dalam ayat tersebut menurut pendapat yang kuat dimaksudkan malaikat jibril. (7) Sebagian ulama mengatakan bahwa pada lailatul qadar datang nur dari langit hingga ke bumi dan semua makhluk sujud termasuk tumbuh-tumbuhan, pohon-pohonan dan air sungai. Sebagian ulama mengatakan bahwa itu adalah nur kayu thuba, pendapat lain mengatakan bahwa itu adalah nur ketaatan, nur rahmat, nur sayap malailat, nur liwaul hamdi, dan ada juga pendapat bahwa itu adalah nur liwaul hamdi. (8)

Makna sujud pepohonan disini tidaklah mesti diartikan ia sujud seperti layaknya sujud manusia, namun ia sujud dengan caranya masing-masing yang berbeda dengan cara sujud manusia. Seperti halnya pohon-pohon yang selalu bertasbih kepada Allah, mereka bertasbih dengan cara mereka sendiri.

3. Kesejahtraan(salam) hingga fajar
Firman Allah:
سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ
Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.

Asy-Sya`by mengatakan: salam tersebut adalah salam malaikat kepada ahli masjid semenjak terbenam matahari hingga terbit fajar. Pendapat lain mengatakan bahwa lailatul qadar adalah malam keselamatan karena pada malam tersebut syaithan tidak dapat berbuat keburukan.

Kapan datangnya Lailatul Qadar

Mengenai kapan datangnya lailatul qadar terjadi khilaf diantara para ulama, bahkan ada yang berpendapat bahwa lailatul qadar bukan hanya berada pada bulan Ramadhan, tetapi hanya saja ia sering berada pada bulan Ramadhan. Sebagian ulama mengatakan bahwa lailatul qadar berada dalam malam yang sama dalam setiap tahun. Menurut satu pendapat ia berada pada malam sepuluh terakhir terutama pada malam ganjil yaitu pada malam 21 ramadhan. Menurut pendapat lainnya lailatul qadar berada pada malam 23, dan ada juga yang mengatakan pada malam 27. Pendapat 27 ini dikuatkan oleh beberapa kalangan dengan dalil bahwa jumlah kalimat dalam surat al-Qadar adalah 30 sama dengan jumlah bulan, kalimat هي tepat berada pada urutan ke 27 dan jumlah huruf kalimat lailatul qadar adalah 9 serta kalimat tersebut disebut dalam surat tersebut sebanyak 3 kali maka 9x3 =27. (9)

Menurut pendapat lain lailatul qadar dapat diketahui dengan melihat awal malam bulan Ramadhan. Ketentuan tersebut yaitu: (10)
  1. Bila awal Ramadhan pada hari ahad atau rabu maka lailatul qadar jatuh pada malam 29.
  2. Bila awal Ramadhan pada hari senin maka lailatul qadar jatuh pada malam 21
  3. Bila awal Ramadhan pada hari selasa atau jum`at maka lailatul qadar jatuh pada malam 27
  4. Bila awal Ramadhan pada hari kamis maka lailatul qadar jatuh pada malam 25
  5. Bila awal Ramadhan pada hari sabtu maka lailatul qadar jatuh pada malam 23
Syeikh Abu Hasan mengatakan bahwa semenjak beliau baligh tidak pernah ketinggalan lailatul qadar berdasarkan ketentuan diatas.

Menurut pendapat yang lain :
  1. Bila awal Ramadhan pada hari jum`at dan senin maka lailatul qadar jatuh pada malam 29.
  2. Bila awal Ramadhan pada hari sabtu dan kamis maka lailatul qadar jatuh pada malam 21
  3. Bila awal Ramadhan pada hari ahad dan rabu maka lailatul qadar jatuh pada malam 27
  4. Bila awal Ramadhan pada hari selasa maka lailatul qadar jatuh pada malam 25

Kesimpulannya sangat banyak khilaf tentang waktu yang pasti kapan datangnya lailatul qadar, sehingga kita tidak menentukan secara pasti kapan sebenarnya dating lailatul qadar. Ini merupakan rahasia Allah supaya manusia menghidupkan seluruh malam ramadhan untuk beribadat. Sebagaimana Allah menyembunyikan ridhanya pada perbuatan ta`at supaya manusia mengerjakan semua perbuatan ta`at, Allah menyembunyikan diqabulnya doa supaya manusia selalu berdoa dengan sungguh-sungguh, Allah menyembunyikan ismul A`dham diantara nama-namaNya supaya manusia memanggilNya dengan seluruh namaNya. Allah menyembunyikan mati supaya manusia merasa takut mati, demikian juga Allah menyembunyikan lailatul qadar supaya manusia beribadah dalam semua malam bulan Ramadhan .(11)

Tanda lailatul qadar

Diantara tanda-tanda lailatul qadar adalah: Pada malam tersebut suasana tampak terang dan hening, tidak ada suara riuh dan anjing yang melonglong, tidak terlalu panas dan tidak pula terlalu dingin keesokan harinya sinar matahari terlihat putih tanpa sinar.(12)

Amalan pada lailatul qadar

Dalam lailatul qadar sangat dianjurkan untuk memperbanyak amal, sekurang-kurangnya adalah berjamaah shalat isya dan shubuh. Dalam satu hadits Rasulullah bersabda:

من صلى المغرب والعشاء في جماعة حتى ينقضي شهر رمضان فقد أخذ من ليلة القدر بحظ وافر

“barangsiapa shalat maghrib dan Isya secara berjamaah sehingga habis bulan Ramadhan maka sungguh ia telah mendapat bagian yang banyak dari lailatul qadar”(H.R. Imam Baihaqy)

Bagi kalangan yang tidak mampu untuk beribadah sepanjang malam hendaknya memperbanyak membaca zikir dan ayat al-quran yang mengandung nilai lebih seperti ayat kursi, akhir surat al-Baqarah, surat al-Zalzalah, al-Kafirun, surat al-Ikhlash, surat Yasin karena semua ayat-tersebut memiliki fadhilah yang besar sebagaimana tersebut dalam beberapa hadits.

Selain itu juga dianjurkan memperbanyak membaca istighfar, tasbih, tahmid, tahlil, shalawat kepada Nabi SAW, dan berdoa untuk diri sendiri dan orang-orang yang kita sayangi baik yang masih hidup ataupun yang telah meninggal.(13)

Disebutkan sebagian ulama : Barang siapa shalat pada malam lailatul qadar shalat sunat empat rakaat, setelah fatihah membaca surat at-Takatsur dan surat al-ikhlash 3 kali maka akan dimudahkan baginya sakratul maut, dan dihilangkan kan azab kubur dan diberikan empat tiang dari nur yang masing-masing diatasnya ada seribu malaikat.(14)

Dalam satu hadits Rasulullah ditanyakan oleh Siti Aisyah:

يا رسول الله إن وافقت ليلة القدر فما أقول ؟ قال :  قولي اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني

Ya Rasulullah jika aku mengetahui lailatul qadar maka apa yang aku baca? Rasulullah menjawab: katakanlah : اللَّهُمَّ إنَّك عَفْوٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُوا عَنِّي
Ya Allah, sesungguhnya engkau maha pemaaf, Engkau mencintai memaafkan maka maafkanlah dosa kami.

والله اعلم بالصواب
  1. Hasyiah Shawy `ala Tafsir Jalalain jilid 4 hal 452 Cet. Haramain
  2. Imam ar-Razi, Tafsir Mafatihul Ghaib, jilid 32 hal 28  cet. Dar Fikr th 1981
  3. Imam Shawy al-Maliky, Hasyiah Shawy `ala Jalalain jilid 4 hal 452 cet. Haramain
  4. `Alaiddin Ali bin Muhammad al-Khazin, Tafsir Khazin surat al-Qadr.
  5. Imam Qurthuby, Tafsir Qurthuby jilid 20 hal 93 cet. Dar Kutub Ilmiyah th 2005
  6.  Imam Qurthuby, Tafsir Qurthuby jilid 20 hal 93 cet. Dar Kutub Ilmiyah th 2005
  7. Imam ar-Razi, Tafsir Mafatihul Ghaib, jilid 32 hal 34 cet. Dar Fikr th 1981
  8. Syeikh Daud al-Fathany, Jam`ul Fawaid hal 114 Cet. Fathani.
  9. Imam Qurthuby, Tafsir Qurthuby jilid 20 hal 89 cet. Dar Kutub Ilmiyah th 2005
  10. Hasyiah I`anatuth Thalibin jilid 2 hal 257 cet. Haramain
  11. Tafsir Mafatihul Ghaib jilid 32 hal  cet. Dar Fikr th 1981
  12. Imam Qurthuby, Tafsir Qurthuby jilid 20 hal 92 cet. Dar Kutub Ilmiyah th 2005, Hasyiah Shawy `ala Jalalain jilid 4 hal 455 Cet. Haramain
  13. Hasyiah Shawy `ala Jalalain jilid 4 hal 455 Cet. Haramain
  14. Syeikh Daud al-Fathany, Jam`ul Fawaid hal 114 Cet. Fathani.
  15. Imam Qurthuby, Tafsir Qurthuby jilid 20 hal 93 cet. Dar Kutub Ilmiyah th 2005

Referensi:
  1. Imam Shawy al-Maliky, Hasyiah Shawy `ala Jalalain Cet. Haramain
  2. Syeikh Daud al-Fathany, Jam`ul Fawaid Cet. Fathani.
  3. Imam Fakhrur Razi, Tafsir Mafatihul Ghaib cet. Dar Fikr th 1981
  4. Sayyid Bakry Syatha, Hasyiah I`anatuth Thalibin cet. Haramain
  5. Imam Qurthuby, Tafsir Qurthuby cet Dar Fikr
Sumber Abu MUDI

Download doa masa kehamilan

doa masa kehamilan
Salah satu postingan di website lbm.mudimesra.com yang terpopuler adalah doa semasa kehamilan yang kami posting di doa ibu hamil dan hal yang di sunatkan ketika melahirkan. Bahkan banyak pula permintaan supaya doa tersebut di terjemahkan dan di tuliskan dalam bahasa indonesianya, namun untuk saat ini kami belum sempat menerjemahkannya dan menuliskannya dalam tulisan latin. Insya Allah akan kami usahakan kedepan. Banyak pihak yang meminta supaya di kirimkan fie doa tersebut dalam format word, Beberapa diantaranya telah kami kirimkan, namun lebih memudahkan maka kami upload file tersebut yang dapat di download oleh siapa saja yang berminat, semoga menjadi doa yang bermanfaat dan Allah berikan anak-anak yang shaleh sebagai penerus generasi Islam kedepan. dan jangan lupa pula doa untuk kami semoga tetap mampu eksis dalam nasyr ilmi dan selalu berada dalam lindungan RahmatNya.

Bagi yang berminat file doa masa kehamilan silahkan DOWLOAD DI SINI.

Melaksanakan shalat sunat taraweh bila shalat wajib ada yang tertinggal

Hukum melaksanakan shalat sunat taraweh bila shalat wajib ada yang tertinggal.Dalam bulan Ramadhan shalat taraweh merupakan shalat sunat yang utama di kerjakan,  salah satu hal yang juga sering di perbincangkan dalam masalah pelaksanan teraweh adalah melaksanakan shalat sunat taraweh sedangkan banyak shalat fardhu yang di tinggalkan yang belum habis di qadha. Ada pihak yang dengan keras mengatakan shalat tersebut tidak sah sehingga pernah terjadi si satu daerah sebagian masyarakat hanya nongkrong duduk-duduk di warung pada saat shalat taraweh dengan alasan mereka tidak ikut shalat taraweh karena haram shalat taraweh karena ada shalat fardhu yang mereka tinggalkan yang belum di qadha.

Pertanyaan
Bagaimanakah sebenarnya kejelasan hukum shalat sunat taraweh sebelum habis mengkadha shalat wajib?

Jawaban:
Sebenarnya masalah ini kembali kepada masalah meninggalkan shalat, apakah wajib di kadha secara segera atau tidak. Rincian hukum orang yang meninggalkan shalat adalah:
  1. Bila di tinggalkan karena adanya ozor maka tidak wajib di kadha dengan segera, tetapi sunat hukumnya untuk segera mengkadhanya. Maka di bolehkan baginya mengerjakan hal-hal lain yang tidak wajib.
  2.  Bila di tinggalkan tanpa ozor maka wajib segera di kadha dengan segera, dan haram menggunakan waktu untuk hal-hal yang lain selain mengkadha shalat fadhu tersebut termasuk juga untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan sunat kecuali untuk keperluan-keperluan yang tidak boleh ditinggalkan seperti makan, minum dll.

Dari rincian tersebut dapat di ketahui hukum melaksanakan shalat sunat bagi orang yang belum habis mengakadha shalat fardhunya. Bila shalat fardhu tersebut di tinggalkan tanpa ozor maka wajib terhadapnya mempergunakan segenap waktu untuk mengkadha shalat tersebut, tidak boleh mengerjakan hal-hal lain walaupun perbuatan tersebut sunat termasuk juga shalat taraweh. Namun demikian shalat sunat yang ia kerjakan tersebut tetap sah.

Adapun kesimpulan yang di ambil oleh sebagian kalangan yang meninggalkan taraweh kemudian duduk-duduk menghabiskan waktu dengan alasan karena mereka tidak boleh melakukan shalat taraweh merupakan kesimpulan yang keliru, karena yang haram bagi mereka bukanlah diri shalat taraweh tetapi yang haram adalah mempergunakan waktu untuk selain mengkadha shalat fardhu yang ia tinggalkan secara sengaja, termasuk juga yang haram adalah perbuatan mereka duduk-duduk nongkrong menghabiskan waktu.

Referensi:

1. Tuhfatul Muhtaj dan Hasyiah Syarwani jilid 1 hal 469 Cet. Dar Fikr

ويجب تقديم ما فات بغير عذر على ما فات بعذر وإن فقد الترتيب؛ لأنه سنة، والبدار واجب ومن ثم وجب تقديمه على الحاضرة إن اتسع وقتها، بل لا يجوز كما هو ظاهر لمن عليه فائتة بغير عذر أن يصرف زمنا لغير قضائها كالتطوع إلا ما يضطر إليه لنحو نوم، أو مؤنة من تلزمه مؤنته، أو لفعل واجب آخر مضيق يخشى فوته 
قوله: كالتطوع) أي: يأثم به مع الصحة خلافا للزركشي كردي

2. Hasyiah Bujairimiy ‘ala Khatib jilid 1 hal 405 Cet. Dar Fikr Cet

ومن غير العذر أن تفوته الصلاة في مرضه فيجب عليه قضاؤها فورا بأن يشتغل جميع الزمن بقضائها ما عدا ما يضطر إليه من أكل وشرب ومؤن ممونه، بل يحرم فعل التطوع ما دامت في ذمته فتجب المبادرة ولو على حاضرة إن اتسع وقتها، بل لا يجوز كما هو ظاهر لمن عليه فوائت بغير عذر أن يصرف زمنا لغير قضائها كالتطوع إلا ما يضطر إليه لنحو نوم أو مئونة أو لفعل واجب مضيق يخشى فوته اهـ تحفة

3. Al-Fiqh ‘ala Mazahibil Arba’ah jilid 1 hal 370 Cet. Dar Hadits thn 2004

قضاء الصلاة المفروضة التي فاتت واجب على الفور سواء فاتت بعذر غير مسقط لها أو فاتت بغير عذر أصلا باتفاق ثلاثة من الأئمة … ولا يجوز تأخير القضاء إلا لعذر كالسعي لتحصيل الرزق وتحصيل العلم الواجب عليه وجوبا عينيا وكالأكل والنوم ولا يرتفع الإثم بمجرد القضاء بل لا بد من التوبة كما لا ترتفع الصلاة بالتوبة بل لا بد من القضاء لأن من شروط التوبة الإقلاع عن الذنب والتائب بدون قضاء غير مقلع عن ذنبه ومما ينافي القضاء فورا الاشتغال بصلاة النوافل على تفصيل في المذاهب…
الشافعية قالوا : يحرم على من عليه فوائت يجب عليه قضاؤها فورا -وقد تقدم ما يجب فيه الفور - أن يشتغل بصلاة التطوع مطلقا سواء كانت راتبة أو غيرها حتى تبرأ ذمته من الفوائت

Baca juga:
Syarat, rukun, sunat, dan  hal yang membatalkan puasa
Shalat Taraweh 20 Rakaat

Penjelasan DR. Syeikh Wahbah Zuhaily tentang sampai hadiah pahala amalan orang hidup bagi orang meninggal

Hadiah PahalaDR. Syeikh Wahbah Zuhaily merupakan seorang ulama besar zaman ini yang banyak melahirkan karya kitab-kitab terutama dalam bidang fiqh, tafsir dan ushul fiqh. Karya-karya beliau banyak di minati oleh berbagai kalangan. Dalam bidang fiqh, beliau lebih memilih mazhab Syafii sebagaimana beliau utarakan sendiri ketika berkunjung ke Banda Aceh tahun yang lalu. Keahlian beliau dalam ilmu fiqih lintas mazhab terlihat dengan banyaknya karya-karya beliau dalam berbagai mazhab yang berbeda. Salah satu karya beliau yang fenomenal adalah kitab Fiqh Islamy wa adillahtuh. Kitab ini telah diterjemahkan dalam bahasa Malaysia dan Inggris.

Syeikh Wahbah Zuhaily tetap berpandangan layaknya ulama-ulama Ahlus sunnah dahulu. Salah satunya adalah dalam hal sampai hadiah pahala amalan orang hidup bagi orang yang meninggal. Berikut ini penjelasan beliau dalam kitab Fiqh Islamy wa Adillatuh jilid 3 hal 2095 Cet. Dar Fikr thn 1997

ثانياً ـ إهداء ثواب الأعمال للميت :
اتفق العلماء على وصول ثواب الدعاء والصدقة والهدي للميت للحديث السابق: «إذا مات الإنسان انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية أو علم يُنتفع به و ولد صالح يدعو له»
وقال جمهور أهل السنة والجماعة : للإنسان أن يجعل ثواب عمله لغيره صلاة أو صوماً أو صدقة أو تلاوة قرآن، بأن يقول: اللهم اجعل ثواب ما أفعل لفلان لما روي أن النبي صلّى الله عليه وسلم «ضحى بكبشين أملحين أحدهما عن نفسه والآخر عن أمته ممن أقر بوحدانية الله تعالى وشهد له بالبلاغ» فإنه جعل تضحية إحدى الشاتين لأمته. ولما روي أن رجلاً سأل النبي صلّى الله عليه وسلم فقال: « كان لي أبوان أبرهما حال حياتهما، فكيف لي ببرهما بعد موتهما فقال له عليه الصلاة والسلام: إن من البر بعد البر: أن تصلي لهما مع صلاتك وأن تصوم لهما مع صيامك» .

وأما قوله تعالى: {وأن ليس للإنسان إلا ما سعى} [النجم:39/53] فيراد به: إلا إذا وهبه له كما حققه الكمال بن الهمام أو أنه ليس له من طريق العدل وله من طريق الفضل ويؤكده مضمون آية أخرى: { والذين آمنوا واتبعتهم ذريتهم بإيمان ألحقنا بهم ذ ريتَهم} [الطور:21/52] .
وأما حديث «إذا مات الإنسان انقطع عمله إلا من ثلاث» فلا يدل على انقطاع عمل غيره. وأما حديث: «لا يصوم أحد عن أحد ولا يصلي أحد عن أحد» فهو في حق الخروج عن العهدة لا في حق الثواب.
وليس في ذلك شيء مما يستبعد عقلاً إذ ليس فيه إلا جعل ما له من الأجر لغيره والله تعالى هو الموصل إليه وهو قادر عليه ولا يختص ذلك بعمل دون عمل.وقال المعتزلة: ليس للإنسان أن يجعل ثواب عمله لغيره ولا يصل إليه ولاينفعه لقوله تعالى: {وأن ليس للإنسان إلا ما سعى وأن سعيه سوف يرى} [النجم:39/53-40] ولأن الثواب هو الجنة وليس في قدرة العبد أن يجعلها لنفسه فضلاً عن غيره.
وقال مالك والشافعي: يجوز جعل ثواب العمل للغير في الصدقة والعبادة المالية وفي الحج ولا يجوز في غيره من الطاعات كالصلاة والصوم وقراءة القرآن وغيره.

Masalah kedua; hadiah pahala amalan bagi mayat.
Sepakat para ulama tentang sampai pahala doa, shadaqah dan hadiah bagi mayat karena hadits: “apabila meninggal manusia, putuslah amalannya kecuali dari tiga, shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mendoakannya”.
Mayoritas ulama Ahlus sunnah berkata: boleh bagi manusia menjadikan pahala amalannya bagi orang lain, baik shalat, puasa, shadaqah atau bacaan al-quran, dengan membaca; “Ya Allah jadikan pahala amalan yang saya kerjakan bagi si fulan. Hal ini berdasarkan hadits Nabi SAW: Rasulullah berqurban dengan dua qurban yang berwarna kelabu, salah satunya untuk diri beliau sendiri dan yang lain untuk umatnya yang mengakui dengan keesaan Allah dan bersaksi dengan risalah. (H.R.Ibnu Majah). Beliau menjadikan salah satu kambing qurban untuk umatnya. Dan juga berdasarkan hadits tentang seorang laki-laki yang bertanya kepada Nabi SAW; saya berbuat baik kepada dua ibu bapak saya ketika kedua masih hidup, bagaimana bagi saya untuk berbuat baik setelah keduanya meninggal? Rasulullah menjawab: sebagian dari kebaikan setelah kebaikan adalah kamu shalat untuk keduanya bersama shalatmu dan kamu berpuasa bagi kedua bersama puasamu.
Sedangkan firman Allah: tiada bagi manusia kecuali hasil usahanya (an-Najmu 39) maka maksudnya adalah; kecuali apabila ia menghibahkan baginya sebagaimana diterangkan oleh Kamal bin Hamam ataupun maksudnya; tidak ada bagi insan kecuali hasil amalannya dengan jalan keadilan Allah, namun bagi manusia (bisa mendapatkan hasil selain amalannya) dari jalan karunia Allah. Hal ini juga dikuatkan dengan ayat 21 ath-Thur.
Adapun hadist: “apabila mati anak adam putuslah amalnya kecuali dari tiga …maka sama sekali tidak menunjuki putus amalan dari selain nya. Sedangkan hadist: “tidak boleh seseorang berpuasa untuk orang lain dan tidak boleh seseorang berpuasa untuk orang lain”, maka hadist ini berlaku pada keluar dari tuntutan kewajiban bukan tentang pahala”.
Hal tersebut bukanlah satu perkara mustahil pada akal, karena ini hanyalah menjadikan pahala miliknya untuk orang lain, sedangkan Allahlah yang menyampaikannya, dan Allah maha kuasa terhadap hal tersebut. Hal tersebut tidak hanya terkhusus pada sebagian amal saja.
Kaum Mu`tazilah berkata: tidak boleh bagi manusia menjadikan pahala amalannya untuk orag lain dan hal tersebut tidak akan sampai dan tidak bermanfaat bagi orang lain tersebut berdasarkan firman Allah an-Najmu 39-40, dan karena pahala itu adalah surga sedangkan hamba tidak mampu menjadikan surge tersebut untuk dirinya sendiri apalagi untuk orang lain.
Berkata Imam Malik dan Imam Syafii; boleh menjadikan pahala amalan untuk orang lain pada shadaqah, ibadah maliah, dan haji, dan tidak boleh pada perbuatan sunat yang lain seperti shalat, puasa, membaca al-quran dll.


Dari penjelasan di atas sangat jelas bahwa menurut Prof. DR. Syeikh Wahbah Zuhaily mayoritas ulama Ahlus sunnah berpendapat bahwa hadiah pahala boleh, hanya kaum mu`tazilah yang berpendapat mutlak tidak boleh. Kita melihat bagaimana beliau menanggapi perbedaan yang tampak antara ayat al-Quran dengan beberapa hadist shahih, beliau tidak langsung memvonis bahwa hadits shahih tersebut adalah hadist dhaif yang sama sekali tidak bisa dijadikan hujjah (sebagaimana yang di utaraan oleh Bapak Aliwari dalam bukunya Hadiah Pahala Amalan Rekayasa)

Adapun pendapat Imam Syafii yang mengatakan bahwa tidak sampai pahala bacaan orang hidup kepada orang meninggal, hanya berlaku apabila bacaan al-quran tersebut bukan di baca di hadapan mayat atau di samping kuburan atau tidak di iringi dengan doa. Para ashhab (pengikut utama) Imam Syafii memahami pendapat Imam Syafii dengan demikian karena ada nash Imam Syafii yang lain yang menyebutkan di sunatkan membaca al-quran ketika berziarah kubur. Imam Nawawi menerangkan dalam kitab Majmuk Syarah Muhazzab jilid 5 hal 311 Cet. Dar Fikr

ويستحب للزائر أن يسلم على المقابر ويدعو لمن يزوره ولجميع أهل المقبرة والأفضل أن يكون السلام والدعاء بما ثبت في الحديث ويستحب أن يقرأ من القرآن ما تيسر ويدعو لهم عقبها نص عليه الشافعي واتفق عليه الأصحاب

Dan disunatkan bagi penziarah untuk mengucapkan salam atas kubur dan berdoa bagi orang yang diziarahi dan ahli maqbarah. Yang lebih utama adalah mengucapkan salam dan berdoa sebagaimana yang tersebut dalam hadits dan disunatkan membaca ayat al-quran semudahnya dan berdoa setelahnya sebagaiman Imam Syafii sebutkan secara jelas dan hal ini disepakati oleh ashshab (pengikut Imam Syafii) 

Dari nash ini maka dapat di pahami bahwa Imam Syafii juga berpendapat bahwa bacaan al-quran di atas kuburan dapat bermanfaat bagi mayat. Karena kalau seandainya pembacaan al-quran di di hadapan mayat juga tidak bermanfaat bagi mayat sama sekali maka tidak mungkin Imam Syafii berpendapat sunat hukumnya bagi penziarah kubur membaca al-quran di samping kubur ketika berziarah. Kemudian para ulama telah ijmak bahwa doa dapat bermanfaat bagi mayat. Ijmak ini di sebutkan oleh mayoritas para ulama seperti Imam Ibnu Katsir dalam tafsir al-Quran al-karim beliau. Termasuk salah satu hal yang boleh di doakan adalah supaya Allah memberikan pahala seumpama pahala bacaan al-quran yang ia baca kepada orang yang meninggal. Karena itu salah satu bentuk pengucapan doanya adalah:
اللهم اجعل مثل ثواب ما قرأته إلى   
Ya Allah berikanlah seumpama pahala bacaanku ini kepada…

Kalaupun dalam pengucapannya tidak di sebutkan lafadh مثل /seumpama, misalnya hanya di baca:

...اللهم اجعل ثواب ما قرأته إلى
Ya Allah berikanlah pahala bacaanku kepada…

maka doa tersebut tetap sah karena dalam maknanya tetap di maksudkan lafadh مثل karena pemakaian kata-kata ثواب ما قرأته (pahala bacaanku) sedangkan maksudnya مثل ثواب ما قرأته (umpama bacaanku) adalah satu hal yang telah masyhur.

DOWNLOAD ARTIKEL INI

donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja