Google plus twitter facebook RSS feed Berlangganan
Bahtsul Masail mudi mesra

Pembagian Fi'il Ditinjau Dari Maf'ul-Bihnya (Objek)


Kalimah Fi’il adalah kata yang menunjukkan arti pekerjaan atau peristiwa yang terjadi pada suatu 
masa atau waktu tertentu (lampau, sekarang dan yang akan datang). Hampir seperti pengertian kata kerja dalam bahasa Indonesia, namun ada perbedaan sedikit. 


Contoh:
Bekerjalah اُفْعُــلْ Sedang/ akan bekerja يَفْــعُــلُ Telah bekerja فَــعَــلَ

Fi’il bila ditinjau dari maf’ul bihnya terbagi kepada sembilan:
1. Fi’il yang tidak muta’addi ashlan (pada asal), seperti fi’il yang menunjuki sebuah kejadian.
Ex:
حدث المطر, نبت لنا الزرع

2. Fi’il yang muta’adi kepada satu maf’ul dengan huruf.
Ex: 
غضبت من زيد, مررت عليه
Pembagian ini sama dengan pembagian yang pertama dinamakan dengan fi’il lazim dan qashir, tidak dinamakan dengan fi’il muta’addi pada istilah. Dan kadang-kadang bersambung dengan fi’il lazim beberapa urusan sehinggga ia muta’addi. Dan itu ada sepuluh yang disebutkan dalam kitab tinggi. 

3. Fi’il yang muta’addi kepada satu maf’ul dengan dirinya, seperti fi’il hawas (panca indera).
Ex:
شممته, ابصرته, سمعته

4. Fi’il yang muta’addi kepada satu maf’ul dengan dirinya pada satu kali dan dengan huruf pada kali yang lain.
Ex:
شكرته, شكرت له

5. Fi’il lazim pada satu kali dan muta’addi kepada dua maf’ul dengan dirinya pada kali yang lain.
Ex:
زدته دينارا, زاد الدينار, نقصته شيئا, نقص الشيء

6. Fi’il yang muta’addi kepada dua maf’ul; muta’addi kepada maf’ul yang kedua dengan dirinya pada satu kali dan dengan huruf pada kali yang lain 
Ex:
وزنته الدراهم, وزنت له الدراهم, زوجته هندا او بها

7. Fi’il yang muta’addi kepada dua maf’ul dengan dirinya, yang pertama adalah faa’il pada makna; dan dia adalah bab اعطى dan كسا.

8. Fi’il yang muta’addi kepada dua maf’ul yang mana asal keduanya adalah mubtada dan khabar, dan ini adalah bab ظن.

9. Fi’il yang muta’addi kepada tiga maf’ul, asal dua yang terakhir adalah mubtada dan khabar, dan yang pertama adalah ajnabi; dan dia adalah bab أعلم dan أرى


(Matamimah, Cet haramain, hlm.135) 


Hukum Shalat Makmum Jika Imam Berdehem Dalam Shalat

Deskripsi masalah :

Dalam shalat kita selalu berusaha agar tidak ada hal-hal yang dapat membatalkan shalat, namun kadang-kadang kita belum tahu bahwa kita telah mengerjakan hal yang tidak boleh kita lakukan dalam shalat seperti berdehem.

Pertanyaan : Bagaimanakah status shalat makmum jika imam berdehem dalam shalat ?

Jawaban :

Makmum bisa terus ikut imam yang berdehem jika memang masih mungkin kita tahsin dhan bahwa berdehem imam karena ada ozor.


Referensi : Majmuk Syarah Muhazzab Juz 4 Hal 79 Cet. Dar al-Fikr.

  وأما التنحنح فحاصل المنقول فيه ثلاثة أوجه الصحيح الذى قطع به المصنف والاكثرون ان بان منه حرفان بطلت صلاته والا فلا والثانى لا تبطل وان بان حرفان قال الرافعي وحكى هذا عن نص الشافعي والثالث ان كان فمه مطبقا لم تبطل مطلقا والا فان بان حرفان بطلت والا فلا وبهذا قطع المتولي وحيث ابطلنا بالتنحنح فهو ان كان مختارا بلا حاجة فان كان مغلوبا لم تبطل قطعاولو تعذرت قراءة الفاتحة الا بالتنحنح فيتنحنح ولا يضره لانه معذور وان أمكنته القراءة وتعذر الجهر الا بالتنحنح فليس بعذر علي أصح الوجهين لانه ليس بواجب ولو تنحنح امامه وظهر منه حرفان فوجهان حكاهما القاضى حسين والمتولي والبغوي وغيرهم أحدهما يلزمه مفارقته لانه فعل ما يبطل الصلاة ظاهرا واصحهما ان له الدوام على متابعته لان الاصل بقاء صلاته والظاهر أنه معذور والله اعلم



Hadis-Hadis Tentang Keimanan Orang Tua Rasulullah saw


 
Dewasa ini, ada banyak argumentasi yang  mengatakan dua orang tua nabi Muhammad saw dalam neraka. Semestinya, tuduhan tersebut tidak ditudingkan kepada ayahanda dan ibunda Rasul saw yang terhormat. Karena, itu adalah bentuk arogansi terhadap Rasul. Maka dalam hal ini, kami ingin melanjutkan pemaparan sebelumnya dalam hal membela dua orang tua nabi Muhammad saw dengan argumen yang ilmiah, kuat dan kokoh dalam filter Ahlisunnah Wal Jama’ah yang bahwa dua orang tua nabi Muhammad saw adalah ahli surga.
Adapun dalil-dalil hadis yang menyatakan tentang keimanan orang tua Nabi Muhammad saw sebagai ahli iman :

Hadis Pertama :
وروي ابن مَرْدُوِيَّةِ عن أَنَسٍ رضي الله عنه قال:قَرَأَ رَسُوْلَ الله صَلَّي الله عليه وسلم "لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ فَقَال عَلِي بْن طَالِبٍ رضي الله عنه :يَا رَسُولَ الله مَا مَعْنَى أَنفُسِكُمْ ؟ انا أَنفُسِكُمْ نَسَبًا وصَهْرًا وَحَسَبًا لَيْسَ فِيَّ وَلَا فِي اَبَائِ مِنْ اَدَمَ سِفاَحِ, كُلُّناَ نِكاَحٌ .

Diriwayatkan dari Ibnu Mardiyyah dari Anas ra berkata ia : Rasul saw membaca ( "لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ ") maka Saidina Ali ra bertanya pada Rasulullah saw : Apakah makna dari أَنفُسِكُمْ dalam ayat tersebut wahai Rasulullah saw,lantas rasul menjawab aku keturunanku,kerabatku,leluhurku tidak termasuk dalam dari keturunan hasil zina ,semua dalam keadaan nikah yang sah.

Hadis Kedua :
وَرَوَي الطبرني عَنِ ابْن عَبَاس رضي الله عنهما مرْفُوعًا:مَا وَلَدَني سِفَاحُ الَجاهِلِيَّةِ وَ مَا وَلَدَني اِلَّا نِكَاحٌ كَنكاح اْلاِسَلَامِ
Riwayat dari daraqutni dari Ibnu Abbas hadis secara marfu’ : tidak dilahirkanku dari darah yang jahiliah , dan tidak dilahirkan aku kecuali dalam ikatan nikah Islam.

وَرَوَي البيهاقي, وَابْن عَسَاكِرِ عَن اَنَسٍ رضي الله عنه قال:خَطَبَ النَّبِي صلي الله عليه وسلم فقال اَنَا محمد بْنِ عبد الله بْنِ المطلب بْنِ هَاشِمٍ بْنِ عبد مَنَافٍ بْنِ قُصَي بْنِ كِلَابِ بْنِ مرة بْنِ كَعَبِ بْنِ لُؤَي بْنِ غَالِبِ بْنِ فَهَرِ بْنِ ماَلِكِ بْنِ النِضَر بْنِ كِنَانَةِ بْنِ خريمة بْنِ مدركة بْنِ اِليَاسٍ بْنِ مُضَر بْنِ نِزَارٍ , وَمَا اِفْتَرَقَ النَّاسُ فِرْقَيْنِ اِلاَّ جَعَلَنِي الله فِي خَيْرِهِمَا فَأَخْرَجْتُ مِنْ أَبوي, فَلَم يَصِبنِي شَيٌء مِن عَهْرِ الْجَاهِلِيَّةِ , وخَرَجتُ مِن نِكَاحٍ, وَلَم أَخرُج مِن سِفَاحٍ مِن لَدُنِ اَدَمَ حَتى اِنُتَهَيُت اِلَي أَبِي وأُمِّي فَأَناَ خيرُكُم نفسا و خَيْرُكمْ اَباً

Diriwayatkan oleh Baihaqi dan Ibnu A’sakir dari Anas ra berkata ia : rasulullah saw berkhutbah beliau bersabda : Aku Muhammad bin Abdillah bin Abdil Muthalib bin Hasyim bin Abdil Manaf bin Qusai bin Kilab bin Murah bin Ka’ab bin Luai bin Galib bin Fahar bin Malik bin Nazar bin Kinanah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudzar bin Nizar. Tidaklah terbagi dua kelompok kecuali aku adalah yang terbaik diantaranya maka aku dilahirkan dari orang tuaku dan aku tidak pernah terkena dengan kotoran jahiliyah. Aku dilahirkan dari pernikahan yang sah , dan aku tidak dilahirkan dari Adam hingga sampai kepada Ayahku dan ibuku. Aku adalah sebaik-baik manusia dan aku mempunyai ayah yang terbaik.

Hadis Ketiga :
Dalam Surat A-Syu’ara pada ayat 218-219
الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِ
Allah yang melihat engkau ketika engkau berdiri (untuk salat). Dan melihat perobahan gerak-gerikmu diantara orang-orang yang sujud.
Para mufassir mentafsirkat ayat tersebut di dalam komentarnya

اَنَّ نُوْرَهُ صلي الله عليه وسلم يَتَقَلَّبُ مِنْ سَاجِدٍ اِلَى سَاجِدٍ , اي مِنْ مُصَلٍّ اِلَى مُصَلٍّ
Nur nabi Muhammad saw berpindah dari ahli sujud kepada ahli sujud (ahli iman)

Hadis Keempat :
وَرَوَي اَبُوْ جَعْفَرِ النُّحَاسِ عَنِ ابْنِ عَبَّاٍس رَضَيَ الله عنهما اَنّهُ قَالَ تَقَلَّبَ فِي الظُّهُوْرِ حَتَّي اَخْرَجَ نَبِيَّا.

Diriwayat oleh Abu Ja’far Nuhas diambilkan dari Ibnu Abbas berkata : sesunnguhnya nur nabi Muhammad saw berpindah pada setiap seingga lahirlah beliau.

Hadis Kelima :
عن ابن رضي الله عنهما لَمْ أَزَلْ الله يَنْقَلُنِي مِنْ اَصْلاَبِ طَيَّبَةٍ اِلَى اَرْحَامٍ طًاهِرَة ٍ
Dari Ibnu Abbas ra sesunnguhnya Allah memindahkan nur-ku dari sulbi-sulbi yang yang suci kepada rahim yang suci.
 
Hadis Keenam :
وقوله صلي الله عليه وسلم فَاَنَا خَيَّارٌ مِنْ خَيَّارٍ اِلَي خَيَّارِ . فَاَنَا خَيْرُكُمْ نَفْسًا خَيْرُكُمْ اَبًا
Sabdanya saw Aku adalah orang yang terpilih dari pada yang terpiih dan Aku adalah sebaik-baik manusia dan aku mempunyai sebai-baik ayah (Abdullah).
Hadis ini sangat jelas bahwa beliau mempunyai ayah yang baik, bukan kafir karena orang-orang kafir disebutkan dalam Al-Quran adalah golongan najis disegi I’tiqatnya sebagai mana terdapat dalam surat At-Taubah ayat 28.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَس
Wahai orang-orang yang beriman sesunguhnya orang musyrik adalah najis (Kufur i’tikatnya)

Hadis Ketujuh :
وقوله صلي الله عليه وسلم لَمْ أَزَلْ انْقَلُ مِنْ أَصْلاَبِ الطَّاهِيْرِنَ اِلَى اَرْحَامِ الطَّاهِرَاتِ
Sabda nabi Muhammad saw senantiasa aku berpindah dari segala sulbi yang suci kepada rahim yang suci.



Tanggapan Para Ulama Terhadap Tudingan Ayah Dan Ibu Nabi Muhammad saw Dalam Neraka.
Dalil golongan yang menyatakan orang tua Nabi masuk neraka adalah hadits riwayat Imam Muslim dari Hammad :
أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أَبِي قَالَ فِي النَّارِ فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ فَقَالَ إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ
Artinya : Bahwasanya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah “ Ya, Rasulullah, dimana keberadaan ayahku ?, Rasulullah menjawab : “ dia di neraka” . maka ketika orang tersebut hendak beranjak, rasulullah memanggilnya seraya berkata “ sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka “.
 
Imam Suyuthi menerangkan bahwa Hammad perawi hadis di atas diragukan oleh para ahli hadits dan hanya diriwayatkan oleh Imam Muslim. Padahal banyak riwayat lain yang lebih kuat darinya seperti riwayat Ma’mar dari Anas, al-Baihaqi dari Sa’ad bin Abi Waqosh :
اِنَّ اَعْرَابِيًّا قَالَ لِرَسُوْلِ الله اَيْنَ اَبِي قَالَ فِي النَّارِ قَالَ فَأَيْنَ اَبُوْكَ قَالَ حَيْثُمَا مَرَرْتَ بِقَبْرِ كَافِرٍ فَبَشِّرْهُ بِالنَّارِ
Artinya : Sesungguhnya A’robi berkata kepada Rasulullah SAW''dimana ayahku ? Rasulullah SAW menjawab : “ dia di neraka”, si A’robi pun bertanya kembali'' dimana AyahMu ? Rasulullah pun menawab “ sekiranya kamu melewati kuburan orang kafir, maka berilah kabar dengan neraka'' Riwayat di atas tanpa menyebutkan ayah Nabi di neraka.
Ma’mar dan Baihaqi disepakati oleh ahli hadits lebih kuat dari Hammad, sehingga riwayat Ma’mar dan Baihaqi harus didahulukan dari riwayat Hammad.



Rujukan :
Kitab Sadad ad-Din wa Sidad ad-Dain fi itsbat Najah wa Darajat lil Walidain hal. 104-126
Karya Sayed Muhammad bin Rasul Barzanji
Kitab Minahul Makiyyah Fi Syarhi Hamziyyah hal.102-103
Karya Ibnu Hajar Al-Haitami

Membela Ayah dan Ibu Nabi Muhammad saw

Membela Ayah dan Ibu Nabi Muhammad sawBagi saudaraku seiman dan seagama bahwasanya akhir-akhir ini ada sekelompok yang menamakan dirinya salaf padahal sebenarnya mereka tidak mewakili salaf (tiga kurun yang pertama). Karena hakikatnya ahli kurun yang pertama tidak pernah mengkafirkan sesama Islam apalagi mengkafirkan dua orang tua Nabi Muhammad saw, akan tetapi kelompok ini (pengikut Al-Bani) renan mengkafirkan banyak umat Islam dan bahkan mengatakan dua orang tua nabi Muhammad saw dalam neraka. Nauzubillah.

Maka dalam hal ini sepatutnya kita membela dua orang dengan argumen yang ilmiah yang kuat dan kokoh dalam kaca mata agama kita berlandasan aqidah Ahlisunnah Wal Jama’ah, yang bahwa dua orang tua nabi Muhammad saw adalah ahli surga.
Berikut ini adalah dalil-dalilnya :



Dalil Dalil ayat Al-Quran:
Surat Al-Baqarah ayat 128

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَآ إِنَّكَ أَنتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
Artinya: ya tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-MU,dan anak cucu kami sebagai umat yang berserah diri kepada-MU dan tunjukilah kepada kami cara-cara melakukan ibadah kami dan terimalah taubat kami. Sungguh, engkaulah yang maha penerima taubat lagi maha penyayang.

Surat Ibrahim ayat 37

رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ الصَّلاَةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
Artinya: Ya Tuhan kami sesungguhnya kami telah mendapatkan sebagian keturunan kami di lembah tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya tuhan (jadikan mereka itu) orang yang mendirikan shalat maka jadikanlah hati sebagian dari manusia yang cenderung kepada mereka,dan berikanlah mereka rizki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.

Surat Ibrahim ayat 40 :
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء
Artinya: Ya Tuhanku jadikan aku dan anak cucuku orang yang tetap mendirikan shalat, ya tuhan kami terimalah doa’ku

Surat Al-Hajj ayat 78:

وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ مِّلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمينَ مِن قَبْلُ وَفِي هَذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاء عَلَى النَّاسِ فَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلاكُمْ فَنِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ
Artinya: dan berjihatlah kami di jalan Allah dengan jihat yang sebenar benarnya. Dia tidak memilih kamu dan tidak menjadikan kesukaran kamu di dalam agama ikutlah agama nenek moyangmu Ibrahim as. Dia (Allah) telah menanamkan kamu orang orang musli sejak dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Quran) ini , agar rasul (Muhammad) itu menjadi saksi atas dirimu dan agar kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia.Maka laksanakanlah salat dan tunaikanlah zakat, dan berpegang teguhlah kepada Allah.Dan ialah pelindungmu , dia sebaik-baik pelindung dan penolong.

Penjelasan:
Dalam beberapa ayat di atas dinyatakan bahwa doa nabi Ibrahim kepada seluruh keturunannya dengan lafaz mutakallim maa gairih sehingga ayah dan ibu nabi Muhammad saw adalah termasuk golongan yang menyerahkan diri kepada Allah, menjaga baitullah, pendiri shalat dan ini menunjukkan bahwa ayah dan bunda nabi Muhammad saw tergolong dalam orang-orang beriman.

Rujukan:
Kitab Sadad ad-Din wa Sidad ad-Dain fi itsbat Najah wa Darajat lil Walidain hal. 104-126
Karya Sayed Muhammad bin Rasul Barzanji

Kitab Minahul Makiyyah Fi Syarhi Hamziyyah hal.102-103
Karya Ibnu Hajar Al-Haitami

donasi
donasi

selengkapnyaAMALAN SUNAT

selengkapnyaDownload

selengkapnyaDOA

selengkapnyaAswaja